Suhunan Situmorang


Sordam, Kesedihan Yang Tak Terucapkan

Suhunan Situmorang yang lahir di Pangururan, Samosir, 12 Maret 1961, dikenal sebagai penulis “Sordam” yang terbit tahun 2005 oleh Gagas Media. Penulis yang memiliki nama lengkap Suhunan Madja Situmorang adalah sosok yang rendah hati dan ramah bila berkomunikasi, sehingga membuat siapa saja yang baru kenal dengannya merasa diperhatikan. Suhunan yang banyak menulis cerita-cerita pendek tentang liku-liku kehidupan, kebudayaan, dan tentang masyarakat Batak saat ini melejit namanya berkat “Sordam.” Buku setebal 360 halaman ini bukan saja dibaca oleh orang-orang Batak yang mencintai kesusastraan Batak, juga disiimak oleh pembaca di luar etnis Batak.

“Sordam” bercerita tentang liku-liku yang dihadapi oleh sosok pemuda Batak, Paltibonar Nadeak, yang pergi merantau ke Jakarta untuk mengadu nasib. Di kota ini terjadi pergesekan-pergesakan budaya yang dialami oleh Paltibonar Nadeak sebagai perantau. Di dalam ”Sordam,” Suhunan Situmorang juga menyentil tentang pandangan-pandangan masyarakat di Indonesia terhadap orang-orang Batak yang dia anggap sangat klise sekali, seperti orang Batak kasar, bersuara keras, dan hanya bisa bernyanyi dan bermain catur saja.

Keberadaan Paltibonar mulai dipertanyakan pada saat sosok ini tidak bisa dihubungi dan tidak diketahui keberadaannya oleh keluarga besarnya di kampung, terutama oleh ibunya yang sudah tua. Melalui Sordam proses pertemuan keluarga tersebut dilakukan. Sordam adalah alat tiup yang terbuat dari bambu yang ukurannya lebih besar dibandingkan dengan suling (sulim). Alat tiup ini merupakan medium untuk memanggil roh orang mati secara misterius, juga orang hilang dan sebagainya.

Suhunan Situmorang yang beristrikan Hastuti Naenggolan dengan tiga orang anak: Jogy Situmorang, Tesalonika Situmorang, dan Ayu Situmorang. Selain bekerja sebagai praktisi hukum di Nugroho Partnership, dia juga sedang menulis buku keduanya, ”Terang Bulan di Rura Silindung” yang mengambil setting tahun 1970-an. Buku ini direncanakan akan diluncurkan tahun 2009 ini. Untuk mengetahui lebih jauh tentang sosok Suhunan Situmorang,
Grace Siregar (pernah diterbitkan di TAPIAN) mewawancarainya:

GS: Apa yang ingin ito Suhunan angkat melalui ”Sordam”?
SS: Saya ingin menawarkan nilai baru kepada pemuda-pemuda Batak bahwa Budaya Batak kita itu selain kompleks juga sangat kaya dan menarik untuk digali. Selama ini kita dikenal sebagai orang yang keras, kasar, bersuara kuat dan hanya pandai bermain catur dan bernyanyi. Pandangan-pandangan stereotip di permukaan ini saja yang dikenal.

Prilaku sopan santun kita awali dengan kata “satabi,” yang artinya permisi atau meminta izin sebelum berbicara, atau kata yang digunakan untuk memasuki suatu daerah, tak pernah diingat orang. Pada saat kita memulai suatu pembicaraan, atau memasuki daerah lain, dengan mengawalinya dengan kata ”satabi” yang berarti kita menghormati orang tersebut dan masyarakat di daerah yang akan kita masuki itu.

Kita juga memiliki strata sosial yang berlapis-lapis, dari strata bawah, menengah, dan atas, yang mempengaruhi kita secara budaya, alam pikiran dan prilaku. Prilaku tertib kita tunjukkan dengan tidak boleh buang air atau meludah di sembarangan tempat. Kita tidak mengenal kata “maaf,” yang diadopsi kemudian hari dan lebih mengenal kata “anju manganju,” bukan memaafkan, tetapi lebih diartikan sebagai rasa sayang dan perduli. Itulah inti dari filosofi dan harapan para leluhur kita. Para leluhur kita sudah membuat benteng untuk menjaga sikap dan prilaku manusia Batak dengan sejumlah poda (nasihat), patik (ayat tersurat), uhum (hukum), yang bila kita laksanakan secara konsisten, kecil kemungkinan kita melakukan kesalahan.

Batak diharapkan untuk tidak gampang berbuat salah lalu meminta maaf. Perilaku harus terus dijaga. Nah, banyak saudara-saudara kita tidak dibekali dengan filosofi ini. Sebenarnya, budaya “tidak sopan” ini timbul karena rasa kedekatan yang tidak menuntut formalitas. Misalnya, di stasiun-stasiun bus, di pasar-pasar, di kedai-kedai tuak. Kebutuhan dengan bahasa-bahasa yang tidak memerlukan tata krama ini dianggap orang kasar, yang akhirnya dibawa ke rumah, ditiru dan akhirnya muncul di mana-mana.

Stereotip ini juga terjadi pada saya. Pada saat saya memperkenalkan diri saya sebagai Suhunan Situmorang, sebagai seorang pembicara di suatu konferensi, eeh.. beberapa orang langsung bilang “Horas bah, habis beras makan gabah.” Buat saya kejadian ini sangat menyebalkan, rasis, dan saya tidak merasa nyaman dibuatnya. Saya merasa bangsa ini masih bodoh, tidak selektip, malas berpikir, malas membaca, malas menganalisa. Apakah masyarakat Batak akan dikenal dengan mind set seperti itu?

GS : Mengapa Sordam?

SS : Jujur saja, pertanyaan ini tidak habis-habisnya ditanyakan pada saya sampai sekarang. Ada beberapa alasan mengapa Sordam. Pertama, tokoh Paltibonar Nadeak adalah sebagai inspirasi. Saya tidak mau menulis sebuah novel yang akhir ceritanya hidup bahagia seperti film-film yang dibuat di Hollywood, yang akhirnya tidak dikenang sebagai suatu inspirasi, yang dibuat hanya untuk menyenangkan penonton. Karya seni tidak hanya untuk menyenangkan. Padahal hidup kebanyakan tidak berakhir dengan kebahagiaan.

Saya bukan Pujangga Baru. Dalam ”Sordam,” omongan dukun merupakan transisi relegi dan perdukunisme di mana sepupu-sepupu Paltibonar pergi ke dukun. Hal ini menggambarkan bahwa masyarakat kita masih hidup di dunia klenik. Kedua, kita masih hidup antara rasionalisme-relegi-mistisisme. Masyarakat kita masih percaya kepada mistik. Buktinya masih banyak film-film mistik beredar saat ini. Praktek Sordam hampir punah karena dilarang oleh gereja. Tetapi, suka atau tidak suka budaya sordam itu masih ada. Ketiga, Sordam adalah nama yang mistis dan eksotis. Monang Naipospos menyimpulkan bahwa nada proses kelahiran manusia sampai akhir adalah nada-nada hidup yang menjerit-jerit, yang diakhiri dengan kematian dengan suara tangis, itulah nada Sordam. Nada Sordam adalah jeritan jiwa, kesedihan yang tidak terucapkan dengan kata-kata. Kalau kita mendengar itu kita bisa menangis.

GS : Apakah Paltibonar Nadeak adalah Suhunan Situmorang?

SS : Tidak. Dia fiktif. Pribadi seperti Paltibonar Nadeak inilah yang paling saya sukai, pribadi yang ingin saya jumpai dan terus terang saja, jarang ditemukan. Paltibonar adalah pribadi yang maju, terbuka, sensitif, tidak menghakimi, dan juga menyukai seni…. Terima kasih Tuhan saya menyukai seni sehingga saya bisa mengerti tentang manusia. Sosok Paltibonar tidak boleh terlalu pintar tetapi harus membumi, dia harus banyak belajar dan bertanya. Tokoh Tohap Simanungkalit (almarhum), pendiri Serikat Buruh Sejahterah Indonesia (SBSI), adalah sosok yang dikagumi oleh Paltibonar.

GS : Apakah Sordam lokal-nasional-global?
SS : Saya menulis tema-tema etnis yang berbau masa lalu, tetapi yang ada kaitannya dengan masa depan. Saya tidak akan menulis manusia-manusia kosmopolitan seperti penulis-penulis muda yang hanya ingin mengangkat kehidupan modern saja. Saya ingin menulis tema-tema lokal tetapi yang mendunia, seperti yang ditulis oleh penulis-penulis dari India.
Didalam Sordam diangkat juga tentang issue lokal-nasional-global. Misalnya peduli lingkungan, kemanusiaan, dan perdamaian. Selain mengangkat budaya lokal Batak yang mengilhami seluruh isi buku Sordam tersebut, 60% pembaca Sordam adalah non-Batak. Harapan saya dengan membaca Sordam masyarakat di luar Batak mengerti tentang kebatakan kita. Itulah keberhasilan suatu karya. Saya tidak katakan karya itu sastra atau bukan. Yang menentukan Sordam itu berhasil adalah pilihan. Saya mau tulisan saya dibaca habis, bila perlu berkali-kali dibaca!

GS : Bagaimana pengaruh Sordam terhadap masyarakat Batak di luar Sumatera Utara?

SS : Pengaruhnya di luar Sumatera Utara bagus sekali. Justru yang saya sesalkan adalah masyarakat Batak di Sumatera Utara yang pengaruhnya tidak terlalu besar, dikarenakan minat baca masih kurang dan informasi kurang.

GS : Bagaimana keluarga?

SS : Saya memiliki dua sisi kehidupan. Pertama adalah keluarga saya yang harus saya pertanggungjawabkan. Saya bekerja sebagai praktisi hukum yang menikmati budaya. Saya tidak pernah berpikir sebagai seorang sastrawan atau penyair, tetapi saya menyukai dunia sastra dan seni. Sisi satunya lagi adalah saya seorang bapak, suami, supir untuk keluarga saya, sebagai anggota jemaat HKBP, aktif di komunitas lingkungan hidup, teater. Alangkah sayangnya hidup ini dilewatkan dengan satu dua warna saja. Hidup tidak harus diukur dengan materi saja. ***

Grace Siregar, perupa, sekarang tinggal di Eropa

Iklan

3 Comments

  1. I just like the helpful info you supply on your articles.
    I’ll bookmark your weblog and test once more right here regularly. I am somewhat certain I’ll
    be informed many new stuff proper here! Good luck
    for the next!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s