Jack Marpaung


Jack Marpaung Jack Marpaung-3“Di Kamar 13 Hutobus Dosaki” Oleh: Hotman J. Lumban Gaol Namanya pernah menghiasi pentas hiburan nasional dengan grup musiknya, Trio Lasidos. Di jagat tarik suara, Jack Marpaung tidak asing lagi. Dia memang bukan Jack Brown aktor film-film romantis itu. Jack punya talenta beryanyi. Suaranya yang melengking, karangannya berjubel. Jack, cukup dikagumi di musik Batak, tak heran banyak pengemarnya. Ciri khasnya memang susah dilupakan. Salah satu lagunya yang terkenal itu: Kamar 13. Sebuah lagu yang berkisah tentang pengalaman dipenjara. Sesungguhnya syair itu memiliki makna, cerita sungguhan. Dulu, anak Siantar ini memiliki masa lalu yang kelam. Sebelum namanya terkenal. Jack pernah terjerembab pada kubangan dosa narkoba dan minuman keras. Dunia hiburan yang melambungkan namanya, tetapi dunia itu juga membawanya ke jurang kehidupan terlarang. Sesungguhnya kehidupan yang keras dia jalani oleh karena sikap orangtuanya yang kurang mengerti mendidik anak. Ayahnya seorang tentara, mendidiknya terlalu keras. “Orangtua saya keras. Sewaktu kita masih kecil kalau rumah kotor, bapak marah. Dia ambil sapu, saya disuruh duduk langsung dihajar. Itu saya alami berulang-ulang. Saya tidak nyaman di rumah, saya lalu mencari kenyamanan di luar,” ujarnya, mengingat masa lalunya itu. Itu sebabnya saya tidak pernah betah di rumah, kata Jack. “Sejak kecil hingga remaja saya tidak betah tinggal di rumah. Saya memilih hidup di jalanan bersama teman-temannya. Ganja menjadi pelarian hidup saya ketika itu. Perkelahian adalah pelampiasan emosi. Hal itu terus berlanjut hingga dewasa. Saya kemudian memilih meninggalkan rumah, dan hidup di terminal. Bergaul dengan para preman-preman membuat saya semakin keras. Bahkan pada aparat pun tidak takut.” Kekasaran Jack makin menjadi-jadi. Satu waktu, tatkala bermain dengan teman-temannya. “Satu waktu, saya kalah main gundu, saya pukul orang itu. Lalu, ada orang mengadu ke ibu saya. Ibu saya ambil sapu, saya dihajar sampai sapu itu patah. Habis itu baru bapak saya ganti pukul saya,” kenang Jack. Sejak itu, Jack mengisi kehidupannya di terminal. Terminal menempanya menjadi laki-laki keras, tak jarang berkelahi, itu kerap kali membuat Jack dan temannya berurusan dengan aparat. Satu waktu, ada temannya tertakap polisi karena berkelahi. Teman Jack dipukuli polisi. Tak terima perlakukan itu, Jack kemudian dia datang sambil menghunuskan golok ke arah polisi. “Saya kejar polisi dengan golok. Polisi lalu mengambil pistol dan menembak saya,” ujar Jack. Perut Jack terkena timah panas, akibatnya dia tidak sadar diri. Sukurlah dia lolos dari maut. Meskipun demikian, lolos dari maut tetapi Jack tidak lolos dari jerat hukum, dan akhirnya dibui. Walau sudah beberapa lama mendekam di penjara orangtuanya tidak pernah melihat Jack. “Orangtua saya sudah tidak peduli lagi. Walau sudah dipenjara tidak pernah besuk saya sama sekali. Saya sudah dianggap tidak berharga lagi,” tambahnya lagi. Bebas dari bui membuat Jack dan teman-temannya jera. Dan kemudian melihat jalan lain untuk kehidupan. Jack bersama teman-temannya mencoba mengubah jalan hidup dengan mengejar impian untuk menjadi penyanyi di Jakarta. Sesampainya di ibukota itu, harapan mengubah nasib ternyata jauh panggang dari api. Jakarta bukan seperti yang diharapkan. Di Terminal Grogol, Jack memulai hidupnya di Jakarta, mencoba menaklukan ibu kota. “Ketika itu harapan kami Jakarta menjanjikan. Namun, begitu sampai Jakarta, saya ingin pulang. Rasanya tidak seperti yang saya bayangkan,” kenangnya. “Hidup gelandangan pun kita jalani. Bahkan, hampir terjerumus melakukan tindak kejahatan. Saya naik bus, lalu saya melihat ada uang di kantong orang. Kalau saya ambil pasti bisa, tetapi saya terbayang kembali janji kepada orangtuaku. Saya langsung turun dari bis itu supaya jangan tergoda dan melakukan hal itu,” ujarnya lagi. Tak tahan hidup di terminal. Jack dan teman-temanya mengubah perutukkan nasib. Jack bersama teman-temannya, kemudian mencoba menawarkan jasa menghibur lewat suara ke hotel-hotel. Ternyata itu pun bukanlah sesuatu yang mudah. Penolakan demi penolakan mereka alami.“Berkali-kali kami ditolak sebelum diterima menjadi pengisi acara di cafe-cafe hotel. Satu tahun baru dapat pekerjaan di Hotel Borobudur. Sejak saat itulah berdatangan undangan mengisi acara. Semenjak itu juga mereka bentuk Trio Lasidos [Trio Lasidos personilnya Hilman Padang, Bunthora Situmorang dan Jack sendiri. Trio ini digandrungi anak muda di tahun 80]. Ketika meniti karir sebagai penyanyi dari satu hotel ke hotel. Jack bertemu dengan seorang perempuan cantik yang memikat hatinya, bernama Anita, yang kemudian hari menjadi pendamping hidupnya. Dan untuk menikahi Anita pun bukan proses yang mudah, karena ayah mertuanya menolak punya menantu seorang penyanyi. Tetapi, bukan pemuda Siantar namanya kalau tidak nekat, akhirnya, Jack dan Anita nekat kawin lari. Sejak berkeluarga Jack pun mulai makin bersinar. Tawaran kepada Trio Lasidos untuk rekaman pun makin padat. “Kaset saya meledak, saya mulai sombong. Mulai sudah merasa hebat. Show dari satu daerah ke daerah lain, kadang-kadang satu bulan di daerah, dan kita ngga pernah pikirkan istri dan anak.” Tidak hanya melupakan keluarganya, Jack pun mulai terlena dengan popularitas dan hidup dalam pesta pora. Minuman keras dan narkoba menjadikan Jack semakin lupa diri. Pulang pagi dalam keadaan mabuk menjadi bagian dari kesehariannya. Percecokan suami-istri kerap kali terjadi. Bahkan, bahtera rumah tangganya di ambang kehancuran. Walaupun sudah berkali-kali diingatkan istri agar Jack jangan lagi mabuk. Dia tetap saja mabuk-mabukan. Beruntunglah Jack punya istri yang sabar dan tabah menghadapi kelakuan Jack. Istrinya menjadi tiang doa. Sang istri tak jemu-jemunya berdoa, dan istinya tetap bertahan, walau Jack sudah memintai cerai saja. Karena tidak ingin melihat Jack hancur, istrinya selalu berdoa. Saat pulang dalam keadaan mabuk, tanpa setahu Jack, sang istri selalu mendoakannya. Itu berlanjut terus hingga doa istrinya dijawab Tuhan. Satu waktu, tahun 1987, berita Jack tertangkap polisi. “Berita saya ditangkap polisi karena membawa ganja 100 kilo di Jakarta sudah, beritanya gempar. Karena berita itu, anak saya [Dewi Marpaung-artis] telepon ke saya sambil menangis. Papa dipenjara iya? nggak, saya lagi di hotel, kata saya. Di sini sudah tersebar berita bapa disebut dipenjara.” Inilah kehidupan seperti roda pedati, yang kadang di atas kadang di bawah. Saat Jack kembali ke Jakarta dia menemukan sebuah kenyataan yang pahit, semua shownya telah dibatalkan, bahkan semua karangannya tidak dipakai produser. Kejadian  itu, membuat Jack bersolo karir. Sesuatu yang tidak pernah dia pikirkan sebelumnya. Waktu itu, tidak ada pemasukan sama sekali, cerita Jack. Istrinya kemudian membantunya berbisnis. Namun malang, seperti sudah jatuh dari tangga tertimpa pula pula. Bisnis itu bangkut karena mitranya menipu. Akibatnya hutang pun melilit keluarga Jack dan memaksa Jack harus menjual mobil dan rumah. Sejak saat itulah Jack memutuskan bertobat. Lagu Di Kamar 13 Hutobus Dosaki…. [di kamar 13 ini kutebus, kujalani hukumanku] menemukan maknanya, kata lain bertobat. Berlahan Jack melepaskan keterikatan dengan narkoba. Hubungannya dengan Tuhan pulih. Hubungannya dengan istrinya kembali bersemi. Sejak itu pertobatan itu, dia bersama istri dan anak-anaknya semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. “Sekarang saya sudah meninggalkan hidup yang pana. Sekarang hidup ini saya sukuri. Saya menikmatinya. Damai sejahtera, sukacita yang belum pernah saya rasakan sebelumnya, saya rasakan sekarang. Berjalan bersama Yesus benar-benar mengubah jalan hidup saya,” ujarnya.  

Iklan

Bunthora Situmorang


Kali ini saya ingin mencoba melihat/membahas sisi lain dari sebuah lagu yang tercipta dari seorang penulis lagu. Seni memang adalah satu sifat yang universal, rata-rata seorang seniman/wati(harusnya aku harus sering menulis seperti ini:-)) mempunyai sifat yang halus dan berbeda dengan sifat sifat yang ada pada manusia biasa, pada umumnya:-(.

Jika kita mendengar sebuah lagu, baik notasi dan aliran syair yang terkandung didalamnya, biasanya kita hanya terpaku pada pengertian syair dan lekukan nada-nada yang diciptakan oleh penulis lagu itu sendiri, seolah lagu tersebut tak ada niatan yang hendak disampaikan.

Namun ini ada info, setelah diadakan sedikit pencarian informasi, ternyata banyak lagu terutama syairnya adalah berupa sindiran kepada pemerintah, kawan, lawan (mungkin dalam bahasa sastra indonesia disebut satire).

Satire ini terdiri dari 2 bentuk, bentuk yang pertama adalah secara langsung, itu berupa sindiran kepada pihak pemerintah yang dianggap tidak memihak kepada rakyat dan langsung menyampaikannya dengan kalimat yang telak. Kemudian yang kedua adalah berupa tidak langsung (kiasan), seolah-olah syair itu tidak ditujukan untuk menyindir seseorang namun setelah ditelaah ternyata kandungan sindiran ada didalamnya, dan biasanya bentuk sindiran (kiasan) inipun terbagi dalam beberapa bentuk.

Dalam dunia seni lagu batak hal ini juga sangat terlihat jelas. Perbincangan tentang hal ini pernah ramai dalam lingkungan artis dan pencipta lagu batak itu sendiri, beberapa diantaranya seolah berlomba untuk saling membuat syair syair yang menyampaikan isi hati penulis kepada pihak lain, dan yang tidak kalah serunya adalah “lawan” tersebut berada dalam lingkungan sendiri yakni artis/pencipta lagu batak, seru!!.
Lebih menarik lagi adalah bahwa sindiran (satire) dalam syairnya disampaikan secara halus dan tidak akan tampak pada orang orang biasa yang tidak mengerti arah tujuan dari si pencipta itu sendiri.

Nama nama pencipta lagu batak yang menurut kami sering mempunyai makna ganda dalam lagu lagu ciptaannya, sebut saja : Dakka Hutagalung, Bunthora Situmorang, Tigor Gipsy Marpaung, Jack Marpaung, Mangara Manik, William Naibaho, Rober Marbun, Yamin Panjaitan, dan masih ada nama lainnya.

Nah, to the point!, bukan suatu rahasia umum lagi bahwa dalam dunia artis batak kita mengenal sosok artis/penyanyi batak yang namanya Trio Lasidos. Kebetulan dua dari personilnya adalah yang sangat produktif dan aktif untuk mencipta lagu, yakni Bunthora Situmorang dan Jack Marpaung.
Juga mungkin sebahagian besar diluar artis batak telah mengetahui bahwa kefakuuman Trio Lasidos tidak memproduksi lagu batak dari tahun 80an oleh karena terjadinya suatu kesalah fahaman diantara kedua belah pihak ini, untunglah baru baru ini ada orang batak (D.L. Sitorus) yang memfasilitasi agar diantara mereka terjadi rekonsiliasi, bisa rukun dan bergabung lagi dalam bendera Trio Lasidos.

Saya memulainya sedikit demi sedikit,
Jika diantara kita masih ingat lagu “Dewi” karya cipta Bunthora Situmorang, kira kira syairnya begini : “Anggo hatam tu au ito, natua tua mi do namamaksa ho, asa oloan mu tu tinodo nai mangido maaf ho tu au”, (Kalau kau mengatakan bahwa orangtua mu yang memaksamu untuk dijodohkan kepada orang pilihannya dan engkau datang minta maaf padaku).

Disini jelas kita akan terpaku terhadap kalimat, bahwa pengertiannya adalah yang sebenarnya tentang kepiluan seorang lelaki yang ditinggal oleh pacarnya.
Namun Bunthora memulai dengan kata sindiran halus. Pada saat itu ada suatu perseteruan antara dia dengan Jack Marpaung atas ketidak selerasan hubungan mereka secara group Lasidos, muncul dugaan pada saat itu Jack Marpaung membelot ingin mencari popularitas yang lebih dibanding dirinya. Dahulu dia sudah mulai mencari partner untuk bernyanyi dalam album batak tanpa sepengetahuan Bunthora, dalam dunia artis batak perlakuan seperti ini sangat tidak lazim, dari saat itu bahwa Jack Marpaung lah yang memulainya terjadinya seringnya pergantian personil dalam suatu group trio batak, hingga terbawa sampai sekarang ini.

Yang lebih tanpak adalah dalam Reff. lagu tersebut : “O Ale Dewi hasian, tung so pola au sega bahenon mu, alai pargabuson mi do hasian nasai hutangisi”, (Oh Dewi kasih ku, saya tak akan menderita karena perbuatanmu tapi yang selalu kusesali adalah kebohongan mu), mengapa saya berani mengatakan dalam lagu ini adalah sindiran kepada Jack Marpaung?. Anak tertua dari Jack Marpaung adalah Dewi Marpaung, jika saya Bunthora karena saya tidak sedang sreg dengan Jack, saya tidak akan membuat lagu seperti ini membuat nama anak teman didalamnya jika tidak ada unsur lain. Dan itu pernah ditanyakan beberapa orang terhadap Bunthora, tetapi dengan sopan dan halus Artis Batak senior yang sangat dihargai ini menjawab dengan diplomasi batak yang santun, namun sesekali dia mengakuinya terhadap teman dekatnya.

Sebenarnya banyak lagu Bunthora yang sedikit dan banyak menyinggung perseteruan mereka pada saat itu, dan umumnya lagu tersebut dikenal masyarakat banyak. Tapi saya akan ambil contoh lain yang bisa dipercaya kebenarannya, kenapa??, karena yah… percaya deh!.

Pernah mendengar judul lagu “Dang Lepelmu Au Ito??” lagu ini dibawakan pertama kali oleh Simanjuntak Stars dan sepertinya Bunthora tidak puas, dia kembali menyanyikan lagu ini bersama group “optional”nya pada saat itu bernama 3 Bintang, bersama Joel Simorangkir dan Charles Simbolon.
Syairnya kira-kira begini : “Alani hapogoson hu do, asa so hutariashon holong hi tu ho, husadari diri hi, hurimangi lakka hi…. Dang lepelmu au ito”, (oleh karena kemiskinan ku itulah penyebab saya tidak menyampaikan rasa cintaku padamu, aku menganggap bahwa aku bukan levelmu). Jika kita selidiki syair lagu ini, adalah seolah olah bahwa seorang pria akan merasa berkecil hati oleh karena kemiskinan yang membuat dia tidak mampu mengucapkan rasa cintanya kepada seorang wanita.

Kembali Bunthora memulainya dengan halus, untuk menyampaikan bahwa dia sudah merasa berlapang dada selama ini yang membuatnya tidak menyampaikan seluruh gundau hatinya kepada Jack. Tapi sebenarnya ada yang perlu disampaikannya kepada Jack, yaitu bahwa dia bukan “lawan” yang setimpal buat Bunthora (khusus arti Dang Lepel ini sengaja dibuat terbalik untuk menekankan apa yang ada dalam hatinya). Bahwa dirinya lebih mempunyai keistimewaan yang dapat diandalkan:-).

Dalam Reff lagu tersebut : “Hape parsatokkinan do ito tu au holong mi, marsapata ma ito holong hi dibahen ho, alai so jadi mandele au ito, hutanda do ito dirikki dang lepel mu au ito”, (Tapi hanya sekejap cintamu padaku, tapi kaulah yang menanggung akibatnya, saya cukup mengenal diriku, kau bukan level ku). Kembali pengulangan kalimat bahwa Engkau bukan Level saya.

Pernah sekali seseorang bertanya bahwa syair lagu “Dang Lepelmu Au Ito” itu adalah ungkapan bahwa pihak lain lebih tinggi dari kita, dengan demikian bahwa Bunthora itu berada dibawah lepel Jack Marpaung?, buru buru Bunthora dengan nada yang lain menjelaskan, oh.. bukan, coba jangan baca semua syairnya.. tapi hanya menyebut “Dang Lepelmu Au” apa kesannya?, disitu pengertian yang saya ambil, katanya!.

Tidak lengkap jika saya hanya menunjukkan lagu lagu ciptaan Bunthora Situmorang yang menyerang atau membuat sindiran terhadap Jack Marpaung, tetapi hal sebaliknya juga banyak berseliweran di lagu batak, lagu ciptaan Jack Marpaung banyak yang mengandung sindiran sebagai balasan terhadap lagu Bunthora.

Tapi ada baiknya saya lanjutkan kemudian hari:-)

sumber: http://lagubatak.wordpress.com/tag/bunthora-situmorang/

Hotasi Nababan


BIODATA

NAMA : Hotasi Nababan
TEMPAT/TGL LAHIR: Manila, 7 Mei 1965

PENDIDIKAN:

• MS Technology Policy, Massachusetts Inst. of Tech. (1993)

• MS Civil Engineering, Massachusetts Inst. of Tech. (1991)

• Engineer, Civil Engineering, ITB, Bandung. (1988)

KARIER:

• President Director, PT. Merpati Nusantara Airlines (2002 – Sekarang)

• CEO, PT. GE Lokomotif Indonesia (2001 – 2002)

• Country Manager GE Energy Services Indonesia (1999 – 2000)

• Senior Account Manager, GE Energy Services (1998 – 1999)

• Bus. Development Manager, GE Power Systems, South Pacific (1998)

• Senior Account Manager, GE Power Systems (1996-1997)

• Business Development Manager, GE Indonesia.(1995-1996)

• Vice Chair, Restructuring Team, PT. Garuda Indonesia (1994-1995)

• Corporate Strategy Manager, PT. Garuda Indonesia (1994-1995)

• Economic Planning Manager, PT. Garuda Indonesia (1993-1994)

• Project Manager, MBA Program UI-MIT-Garuda (1993-1995)

• Research Associate, MWRA, Boston (1990 – 19 92)

• Facilitator, GE’s Change Acceleration Process and 6-Sigma Quality (1995–Sekarang)

• Lecturer, MM-UI: Marketing Strategy, Corporate Finance (1993 – 1995)

• MIT Educational Councilor for Indonesia (1993-Sekarang)

PENGHARGAAN:

• Indonesian Best Marketing Executive, Peugeot Business Award (1997)

• Asian Student Excellence, Run Run Shaw Scholarship, MIT (1990/1991)

• Student Award, American Ass. of Cost Engineers, Boston (1991)

ORGANISASI:

• President, MIT Alumni, Indonesia Chapter (2000)

• Vice President, Project Management Institute, Indonesia (1996-1998)

• Facilitator, Solidarity Professional for Reform (SPUR) (1998)

• President, Indonesian Economic Roundtable, Boston (1992/1993)

• President, Association of Indonesian Students, MIT (1990/1991)

• Chairman, Assoc. of Civil Eng. Student (HMS) ITB (1987/1988)

Faisal H Basri Batubara


Nama:
Faisal H Basri Batubara
Lahir:
Bandung, 6 November 1959
Agama:
Islam
Profesi:
Dosen FE-UI
Isteri:
Syafitrie
Anak:
1. Anwar Ibrahim Basri Batubara
2. Siti Nabila Azuraa Basri Batubara
3. Muhammad Attar Basri Batubara
Ayah:
Hasan Basri Batubara
Ibu:
Saidah

Pendidikan:
– Sarjana Ekonomi, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) (1985)
– Master of Arts (M.A.) dalam bidang ekonomi, Vanderbilt University, Nashville, Tennessee, Amerika (1988)

Karir:
1. 1981-sekarang: Pengajar pada Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia untuk mata kuliah Ekonomi Politik, Ekonomi Internasional, Ekonomi Pembangunan, Sejarah Pemikiran Ekonomi
2.1988-sekarang: Pengajar pada Program Magister Akuntansi (Maksi), Program Magister Manajemen (MM), Program Magister Perencanaan dan Kebijakan Pembangunan (MPKP), Program Pascasarjana Universitas Indonesia untuk mata kuliah Analisis Lingkungan Bisnis, Perdagangan Internasional, Keuangan Internasional, dan Makroekonomi untuk Manajer, Ekonomi Regulasi, Ekonomi Politik, dan Etika Perencanaan
3. 1997-sekarang: Editorial Board, Jurnal Bisnis & Ekonomi Politik (Quarterly Journal of the Indonesian Economy), diterbitkan oleh Institute for Development of Economics and Finance (Indef)
4. 1999-2003: Ketua, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Perbanas Jakarta
5. 1995-2000: Expert (dan Pendiri), Instutute for Development of Economics & Finance (Indef)
6. 1999-2000: Redaktur Ahli Koran Mingguan “Metro”
7. 1999-2000: Dewan Pengarah Jurnal Otonomi, diterbitkan oleh Yayasan Pariba
8. 2000: Anggota Tim Asistensi Ekuin Presiden RI
9. 1995-1999: Tenaga Ahli pada proyek di lingkungan Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral, Direktorat Jenderal Pertambangan Umum, Departemen Pertambangan dan Energi
10. 1981-1998: Peneliti pada Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat FEUI
11. 1987-1998: Pengajar pada Program Extension FEUI untuk mata kuliah Perekonomian Indonesia, Teori Makroekonomi, Metode Penelitian, Ekonomi Internasional, dan Organisasi Industri
12. 1991-1998: Sekretaris Program pada Pusat Antar Universitas bidang Ekonomi, Universitas Indonesia
13. 1991-1998: Pengajar pada Fakultas Ilmu-ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia untuk mata kuliah Pengantar Ekonomi-Politik Hubungan Internasional; dan Jepang & Negara-negara Industri Baru, dan Ekonomi Politik Internasional
14. 1992-1998: Anggota Redaksi Jurnal Ekonomi Indonesia, diterbitkan oleh Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI)
15. 1995-1998: Ketua Jurusan ESP (Ekonomi dan Studi Pembangunan) FEUI
16. 1995-1998: Pengajar pada Program Pascasarjana Universitas Indonesia, bidang studi Ekonomi, untuk mata kuliah Strategi dan Kebijakan Pembangunan; dan Program Studi Kajian Wanita; dan Program Studi Khusus Hubungan Internasional
17. 1995-1998: Guest Editor pada NIPPON (Seri Publikasi Monograf Pusat Studi Jepang Universitas Indonesia)
18. 1996-1998: Anggota Dewan Redaksi Majalah Kajian Ekonomi-Bisnis “Media Eksekutif”, Program Extension Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
19. 1997-1998: Research Associate dan Koordinator Penelitian Bidang Ekonomi dalam rangka kerja sama penelitian antara Pusat Studi Jepang Universitas Indonesia dengan University of Tokyo
20. 1993-1997: Koordinator Bidang Ekonomi, Panitia Kerja Sama Kebahasaan Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia (Mabbim)
21. 1993-1995: Kepala Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LPEM-FEUI)
22. 1994-1995: Pakar Ekonomi pada P3I DPR-RI
23. 1991-1993: Wakil Kepala Bidang Penelitian LPEM-FEUI
24. 1989-1990: Koordinator Bidang Ekonomi pada PAU-Ek-UI
25. 1990: Pengajar pada Sekolah Tinggi Ekonomi, Keuangan dan Perbankan Indonesia (STEKPI) untuk mata kuliah Pengantar Makroekonomi
26. 1985-1987: Anggota Tim “Perkembangan Perekonomian Dunia” pada Asisten II Menteri Koordinator Bidang EKUIN

Kegiatan Lain:
• American Economist Association (AEA), anggota
• Society for International Development (SID), anggota
• Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI): 1996-2000 sebagai Pembantu Ketua Bidang III
• Komite Pemantau Korupsi Nasional (KONSTAN) – National Corruption Watch (NCW), sejak peresmian pada 6 April 2000 sebagai Ketua Dewan Etik.
• Partai Amanat Nasional (PAN): Pendiri; periode 1998-2000 sebagai Sekretaris Jenderal; 2000-01 sebagai Ketua yang membawahi bidang Penelitian dan Pengembangan. Bea Siswa / Penghargaan
• Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1981.
• Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan-Proyek Pengembangan Pusat Fasilitas Bersama antar Universitas/IUC (Bank Dunia XVII), 1987-88.
• Dosen Teladan III Universitas Indonesia, 1996.

Penghargaan:
Dosen Teladan III Universitas Indonesia (1996)
– Penghargan “Pejuang Anti Korupsi 2003,” diberikan oleh Masyarakat Profesional Madani (MPM), Gedung Joang 45, Jakarta, 15 Januari 2004
– “FEUI Award 2005” untuk kategori prestasi, komitmen dan dedikasi dalam bidang sosial kemasyarakatan, Depok, 17 September 2005

Alamat Kantor :
– STIE Perbanas, Jalan Perbanas, Karet Kuningan, Setiabudi, Jakarta 12940 Telepon (021) 5252533, 5222501-04, 5228460 Faksimile 5228460

– Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), Gedung Depperindag Lt.12, Jalan Gatot Subroto Kav. 52-53, Jakarta

Alamat Rumah:
Jalan Bambu Indah 49 RT 009/RW 03, Kalisari, Pasar Rebo, Jakarta 13790 Telepon (021) 87707322 Faksimile (021) 8728949 HP 0811-902-466

Sumber:
FaisalBasri.com

Prof. Dr. Mangadas Lumban Gaol, M.Si


Data diri

Nama : Prof. Dr. Mangadas Lumban Gaol, M.Si
Tempat Tanggal Lahir: Bakara Marbun, 17 November 1965
Alamat : Perumahan Baumata Blok A. No 4
Pekerjaan : Dosen Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknik (FST) Undana
Jabatan : Dekan FST
Pendidikan : SDN Bakara Marbun tamat 1979
SMPN Bakara tamat 1982
SMAN 5 Medan tamat 1985
S1 Universitas Negeri Medan tamat 1990
S2 Universitas Gaja Mada-Yogyakarta tamat 1996
S3 Curtin University Of Technology-Perth Australia tamat 2002

Istri : Agustinar Marpaung
Anak-anak : Dea Carolina Larasati Lumban Gaol
Bella Cristin Lumban Gaol
Easter Tiur Lumban Gaol
John Curtin Partahi Lumban Gaol

Prof. Dr. Mangadas Lumban Gaol, M.Si

MINIMNYA dokumentasi tentang potensi dan kekayaan flora dan fauna di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menyebabkan tidak banyak orang mengetahui kekayaan alam di bumi Flobamora ini. Padahal, jika semua kekayaan ini bisa didokumentasikan dengan baik, maka pengembangan hayati untuk berbagai kepentingan bisa dilakukan dengan baik.
Prof. Dr. Mangadas Lumban Gaol, M,Si, ahli bidang hayati mengatakan, keanekaragaman hayati meliputi kanekaragaman jenis, varietas, genetik dan ekosistim. Indonesia, termasuk NTT, sangat kaya akan aneka jenis hayato karena wilayah ini berada di daerah Khatulistiwa. Sayangnya data-data lengkap mengenai keanekaragaman hayati belum lengkap. Minimnya data-data tersebut juga berpengaruh pada upaya-upaya pelestarian.Berikut perbicangan petikan Pos Kupang dengan Prof. Mangadas Lumban Gaol.

Saat pidato pengukuhan sebagai guru besar, Anda mengangkat tentang dokumentasi hayati….
Maksudnya begini, kita yang belum mempunyai data- data lengkap tentang keanekaragaman hayati. Karena kanekaragaman hayati menyangkut keanekaragaman jenis, keanekaragaman varietas, genetik dan keanekaragaman ekosistim.

Sementara kita termasuk salah satu negara yang dijuluki mega biodiversity country. Kita sebenarnya dianugerahi Tuhan kekayaan seperti itu, tetapi kita sendiri belum mempunyai data yang akurat tentang itu, khususnya di NTT. Data sangat penting untuk kemajuan ke depan.

Bagaimana kita mengomersialisasi kekayaan yang kita memiliki sementara data saja belum kita miliki? Oleh sebab itu, maka dalam pengukuhan saya sebagai guru besar saya mengatakan bahwa penulisan seperti Flora of Timor, Flora of East Nusa Tenggara sangat penting sekali.

Maksudnya?

Artinya begini, kira-kira flora-flora apa yang kita miliki sekarang, fauna-fauna apa yang kita miliki. Kita belum memiliki buku seperti itu. Untuk negara-negara maju rata-rata sudah punya. Contohnya, Flora of Kupang, inilah dasar kita untuk mengkomersialisasikan itu.

Nah itu tentang keanekaragaman hayati. Tentu banyak yang sepesifikasi daerah, tapi kita belum punya data misalnya spesies endemik di NTT apa. Contoh, katakanlah dari dulu untuk proses di bidang kehutanan misalnya penghijauan, kita kan cenderung menggunakan spesies-spesies alien (spesies luar).

Contoh pinus. Pinus itu kan spesies dari luar karena bantuan luar negeri ke Indonesia sehingga ditanam pinus di Indonesia. Padahal, pinus itu adalah tanaman daerah temporate dan tidak cocok dengan kita. Kita lebih baik menggunakan tanaman lokal kita, yang kita identifikasi mempunyai keunggulan. Jadi kira-kira itu yang pokok. Kita belum memiliki data itu.

Siapa yang punya kompetensi untuk dokumentasi kekayaan hayati?

Untuk kompetensi itu adalah ahli-ahli ekologi, ahli botani. Dan, itu harus difasilitasi pemerintah dan pemerintah harus memberikan perhatian sehingga mereka mempunyai kesempatan dan peluang untuk melakukan itu. Kita mempunyai beberapa seperti orang-orang botani dan ahli ekologi, tetapi yah sampai sekarang kita belum punya. Khususnya kita di NTT belum punya, mungkin ada beberapa daerah sudah ada, misalnya Flora of Kalimantan, tetapi belum begitu bagus.

Beberapa waktu lalu LIPI melakukan penelitian semacam eksepdisi. Kalau saya lihat referensi mereka lebih banyak ke Sulawesi, Papua. Di Papua mereka menemukan beberapa jenis baru semacam kodok. Kenapa NTT tidak menjadi tempat mereka ekspedisi juga. Apa masalahnya?
Mungkin mereka memandang Kalimantan termasuk memiliki keanekaragaman lebih tinggi di Indonesia di banding NTT. Tetapi, bukan berarti NTT tidak perlu, karena yang NTT miliki merupakan spesifik di sini kan. Yang spesifik di NTT tidak sama dengan mereka.

Untuk itu kita perlu tahu juga tentang ini. Mungkin keterbatasan dana sehingga mereka masih berpusat pada daerah-daerah yang dianggap keanekaragamannya jauh lebih tinggi.

Tapi, kita dengan pulau-pulau yang banyak, spesiasi terkait dengan pulau-pulau, kalau pulaunya terisolasi akan terbentuk spesies yang khas untuk daerah tersebut. Jadi, susah. Mungkin kita mempunyai spesies burung yang bernilai tinggi tapi kita tidak memperhatikan itu.

Bahkan mungkin sudah banyak punah karena pengetahuan yang kurang cukup untuk kita.

Apakah referensi kita kurang sehingga para ahli kurang berminat ke sini?
Yah memang kurang, tapi mau tidak mau kita kalau ingin maju maka harus berbuat mulai sekarang. Referensi kita bisa gunakan dari luar. Katakanlah dulu Australia misalnya, bahkan mereka sudah memiliki flora base. Flora base itu artinya sudah bisa diakses dengan menggunakan suatu program komputer tentang flora- flora yang mereka miliki. Karena kita tidak bisa menggunakan referensi lain, karena masing-masing flora berbeda-beda. Kita mungkin masalah perhatian yang kurang dan dana yang kurang.

Harapan saya ke depan, pemerintah di daerah ini memberikan perhatian, mau mendanai. Apakah sekarang pemerintah daerah mendanai untuk kita menyusun buku mengenai Flora of Nusa Tenggara, karena di situ akan ada distribusinya dan pemanfaatannya secara umum.

Karena dari penelitian akan terungkap semua kekayaan yang kita miliki dan selanjutnya ada studi lanjut. Dan, gambaran dasar mengenai kekayaan bisa membuat kita tercengang,,, oh…ini lho kekayaan kita, oh ini flora kita, oh fauna kita.

Dan, dari dokumentasi itu akan diketahui tinkat keterancamanya, mungkin saja sudah banyak yang hilang. Contoh, semakin menurunnya populasi cendana, banyak jenis burung kita kehilangan, karena tidak mempunyai makanan. Oleh sebab itu, kita perlu identifikasi permasalahan lahan dan diperlukan tindakan konservasi yang kita lakukan dari data-data tersebut.

Para pakar mengatakan NTT dalam beberapa tahun lagi jadi gurun. Pendapat Anda?

Yah, bisa terjadi. Karena kalau misalnya tindakan pembakaran hutan, illegal loging berlangsung, kita akan bisa mengarah pada padang gurun. Tapi saya yakin negara akan melakukan langkah-langkah konservasi, rehabillitasi lahan. Bukan hanya itu, kan juga menyangkut sumber daya air.

Contoh, untuk Kota Kupang kita kan bisa prediksi, katakanlah 20 tahun mendatang berapa jumlah penduduk Kota Kupang. Lalu airnya dari mana kita peroleh. Air itu kan terkait dengan tanaman. Nah, untuk negara maju mereka menghutankan suatu kawasan demi menjaga air. Krisis air akan terjadi kalau terus terjadi penebangan hutan.

Apa yang harus dilakukan pemerintah?

Lebih banyak menanam. Setiap pemerintah kabupaten harus bisa memprediksi pertumbuhan penduduk dengan ketersediaan air yang diperlukan. Supaya ada persiapan.

Bila hutan terus berkurang, air juga akan berkurang. Mengatasinya bagaimana?
Dengan cara menjaga hutan dan menghutankan kembali kawasan yang telah rusak. Dan, setiap program harus diprediksi dengan bai. Saya ambil contoh, di Australia ada suatu daerah yang berupaya bagaimana cara meningkatkan debit air. Satu hektar bisa menghasilkan air sekian dan sekian hektar bisa menghasilkan berapa. Sehingga mereka tahu bahwa kalau kebutuhan air mereka sekian, penumbuhan hutan akan mereka lakukan. Semakin banyak tumbuhan semakin banyak air yang tersimpan.

Berarti Di NTT hutan semakin berkurang?
Nah itulah kendalanya. Makanya saya bilang, kalau dari riil total hutan, penghijauan yang dilakukan di NTT semestinya NTT sudah penuh dengan hutan. Tetapi ternyata tindakan reboisasi itu selama ini tidak begitu efektif.

Kenapa tidak efektif?

Tidak efektif itu salah satu dugaan saya karena dilakukan dengan sistem proyek. Menanam tanaman itu kan hidup, mestinya diperlakukan dengan cara yang lain. Kalau dia ditenderkan pada musim kemarau dan ditanam, tidak ada yang hidup. Lebih baik dengan memberdayakan masyarakat untuk menanam pohon. Selama ini, katakanlah bulan September sampai November ditenderkan lalu anakan ditanamkan tidak akan ada yang tumbuh dan semua mati. Karena dia ditanam pada musim yang tidak tepat. Kita harus tanam di awal musim hujan sehingga pada saat musim hujan dia sudah kuat dan tumbuh. Jadi karena sistim proyek itu.

Kira-kira flora apa yang bisa dibanggakan di NTT?

Cendana. Kalau akses di internet sekarang, cendana itu disebut dengan Indian Sandlewood, bukan Timor Sandlewood. Kalau saya baca literatur-literatur, itu dulu kan ditanam di India yang dibawa oleh padagang Malaka ketika datang ke Timur. Mereka bawa bijinya ditanam dan dikembangkan di India, sekarang di kembangkan di Cina dan Australia Barat. Sedangkan di sini tidak, yah akhirnya namanya sekarang Indian Sandlewood, bukan Timor Sandelwood. Padahal, ini merupakan tanaman yang sangat mahal yang harus dikembangkan dan kebanggaan. Bukan hanya dari segi kayunya tetapi juga wisatanya. Contohnya, Kupang ini bisa membuat suatu areal untuk menanam cendana di situ, datang wisatawan melihat cendana dan sebagainya. Kan bisa dibuat semacam hutan kota dengan ciri khas tanaman. Yang saya inginkan untuk hutan Pulau Timor. Kalau hutan Flores kan banyak jenis. Untuk Pulau Timor itu cendana memang menjadi favorit dan jadi perhatian kita.

Berarti harus ada kebijakan yang revolusioner untuk cendana ini….

Harus ada tindakan yang nyata, jangan biasa-biasa saja. Harus mau mengalokasikan anggaran yang besar untuk merehabilitasi cendana. Itu butuh waktu tidak terlalu lama, hanya 15 tahun. Sekarang harga cendana di pasar internasional delapan dollar per kilo.

Cendana ini banyak kegunaannya seperti untuk berbagai jenis parfum, bahan kosmetik dan kebutuhan lainnya. Mungkin juga untuk obat-obatan. Kita harus kembalikan kepada kejayaan cendana. Justru sekarang India, Cina dan Australia mengembangkan cendana. Saya sudah pergi ke pabrik cendana di Australia, di sana langsung ada pabrik, tempat wisata dan hutan cendana dan ada mall khusus untuk hasil cendana. Apa susahnya, misalnya kasih uang Rp 5 miliar untuk merehabilitasi cendana satu tahun? Saya lihat selama ini hanya omong- omong saja dan action-nya tidak ada. Kita bagi semua warga daratan Timor anakan cendana, tunggu 15 tahun lagi, sudah penuh dengan cendana.

Cendana memang semakin berkurang. Apa masalahnya menurut Anda?
Salah satu penyebabnya adalah over ekspoitasi. Selama ini kalau ditelusuri Perda NTT tentang cendana, dari jaman dulu kan hanya menguasai cendana dan tidak pernah cerita tentang menanam cendana. Jadi yang dieksploitasi lebih tinggi dari daya regenerasi. Sekarang ini sudah sulit mencari generasi alami, cendana sekarang di NTT sudah pada taraf hampir bermasalah di reproduksi. Sekarang ini misalnya ambil 100 biji cendana, paling jago temukan 10 yang berkecambah. Ini akibatnya apa karena terjadi imbriding. Imbriding itu mengakibatkan daya produktivitasnya makin rendah akibat populasinya semakin menurun. Populasi semakin menurun akibatnya daya kecambahnya semakin rendah. Yang selama ini terjadi, kita semakin banyak mengeksploitasi sementara upaya menanam kembali tidak ada. Sebenarnya, upaya rehabilitasinya masih mudah.

Tapi, sifat cendana sendiri saat menanam agak manja. Harus ada tumbuhan sebelahnya, dan ini salah satu faktor membuat petani enggan menanam. Apakah demikian?

Tidak. Sebetulnya cendana merupakan tanaman hemiparasit. Dia bisa mengolah makanan sendiri, karena dia dapat berfotosintesis tetapi ada unsur-unsur tertentu harus peroleh dari tanaman lain. Itu yang disebut dengan inang atau host. Tapi, cendana itu punya inang banyak sekali, bisa hidup dengan jeruk, bisa hidup dengan mangga dan tidak ada masalah.

Artinya yang penting ada tanaman lain, karena dia bisa mempunyai inang ke ratusan tumbuhan. Yang penting tanaman inangnya itu tanaman yang bersifat alelopati yang menghasilkan racun, seperti okaliptus, contohnya di Gunung Mutis tidak cocok. Tapi banyak tanaman kita di sini yang cocok sebagai inang tanaman cendana. Kalau dibilang manja juga tidak, dia adalah tanaman yang tahan kering, cuma pertumbuhanya yang relatif lambat. Dan masalah lainnya adalah cendana yang masih muda disenangi hewan-hewan pemakan rumput sehingga
sering dimakan oleh hewan ternak seperti sapi dan kambing. Tapi kalau kita usaha maka tidak ada masalah yang terlalu berat.

Ada pendapat bahwa menanam cendana rugi karena usia produksinya lama.
Mungkin ada benarnya, tapi kan kita juga harus tanam disesuaikan dengan lahan. Kan enaknya cendana tu kan dia bisa ditanam di lahan-lahan yang tidak produktif untuk kegiatan pertanian. Misalnya, untuk sawah atau jagung tidak masalah, dia daunya tidak lebat, bisa juga ditanam sambil berkebun. Oleh sebab itu, di negera- negara maju memberi instrumen artinya ada bantuan, bahkan ada perusahaan yang mengembangkan cendana dengan memberikan kemudahan oleh pemerintah. Istilahnya insentif untuk masyarakat untuk menanam cendana. (alfred dama)

Profesor Doktor Sejak SMP

MENJADI profesor butuh proses panjang dan sulit bagi sebagian orang. Namun, tidak sedikit yang bercita-cita menjadi guru besar, seperti Mangadas Lumban Gaol. Pria yang suka menonton pertandingan tinju ini sudah berkeinginan menjadi seorang profesor sejak masih di SMP.
“Kalau dibilang cita-cita yah mungkin. Saya memang sejak SMP suka menulis nama saya dengan profesor doktor. Mungkin saya punya cita-cita sejak masa itu,” jelasnya.

Cita-cita tidak sekedar cita-cita. Belajar dan kerja keras dilakukannya untuk mencapai gelar tersebut. Dan, kini gelar tersebut bisa disandangnya sejak dikukuhkan menjadi guru besar oleh Rektor Universitas Nusa Cendana (Undana), 12 Februari 2010 lalu.

Pria kelahiran Bakara Marbun-Sumatera Utara, 17 November 1965 ini juga menyukai dunia pertanian. Namun ia memilih untuk menjadi pengajar bidang tumbuh-tumbuhan. “Kan ini masih terkait dengan tanam- tanaman juga, kebetulan saya juga suka pertanian,” jelasnya.

KUPANG/ALFRED DAMA. Pos Kupang Minggu 4 Juli 2010

Hasoloan Aritonang Ompusunggu


Untuk seorang editor buku idealis

Oleh: Lajessca Hatebe

Hidup tanpa buku,
ibarat bayi tanpa ibu,
tanpa susu,
tanpa suluh.

UJAR-UJAR INI sekitar pertengahan tahun 80-an, sering sekali mampir ke telingaku. Saat itu aku masih seorang remaja beranjak dewasa yang lagi getol-getolnya membentuk sejatinya identitas diri. Hidup tanpa kiriman dari orang tua di kampung sana, yang sebenarnya sangat mampu mengirimiku uang. Tapi karena beda persepsi tentang masa depan, kuputuskan tidak lagi dikirimi uang. Aku memang telah ingkar “berbuat” pada bapakku yang ingin, aku sebagai anak tertua laki-laki, tidak meninggalkan bangku kuliah di fakultas ekonomi, yang telah dua tahun aku jalani. Tapi, hatiku berkata lain. Kepadaku, Tuhan tidak kasih talenta menjadi seorang ekonom. Aku lebih menyukai seni, terutama seni tulis menulis.

Yang membuat aku harus mengambil keputusan meninggalkan bangku kuliah, karena saat dosen mengajar di depan kelas, aku malah sibuk menulis cerpen. Aku pikir, untuk apa buang-buang duit kalo ternyata aku tidak punya antensi sama sekali. Dan aku harus terima risikonya. Hubunganku dengan bapak jadi kurang harmonis.

Hidup senin-kemis tahun itu di Jakarta memang tidaklah separah sekarang. Makan di warteg masih murah. Bisa ngutang lagi kalau kita bisa ambil hati pemilik warteg. Waktu itu tekadku, harus bisa nunjukin ke among dan inong (bapak-ibu), kalau aku tidak salah langkah. Ini masalah talenta dari Yang Maha Kuasa. Harga mati!

Aku akhirnya terdampar di satu komunitas “Perpena” – Persekutuan Penulis Nasional, salah satu komunitas penulis-penulis Kristen yang “menggelandang”, di bawah asuhan penerbit YK Bina Kasih. Keikutsertaanku memang secara tidak sengaja. Hanya karena jasa seorang bapak jemaat gereja tempat aku aktif sebagai pemuda gereja, yang memperkenalkan aku kepada bapak H.A. Oppusunggu, direktur penerbit itu. Maka, sejak bergabung dengan komunitas penulis itu, aku menjadi sering mendengar ujar-ujar seperti di atas. Hampir disetiap pertemuan, Pak Oppu, begitu kami selalu memanggilnya, tak pernah absen menyebut ujar-ujar itu. Tadinya aku kurang peduli karena yang ada di otakku saat itu, gimana aku bisa menjadi seorang penulis terkenal… (kisah tentang aktivitas di Perpena ini tidak mungkin kutulis di sini karena sangat panjang cerita menariknya).

11 Agustus 2007.
Seminggu sebelum tanggal di atas. Pulang kerja sudah agak malam. Di atas meja ruang nonton tv, rumah kost, aku menemukan ada surat untukku. Ternyata undangan untuk menghadiri A Tribute to H.A. Oppusunggu. Sejenak aku tercenung. Di benakku terlintas masa suka-duka saat aktif di Perpena sekitar pertengahan tahun 80-an. Satu persatu wajah orang yang dulu begitu lekat di otakku berkelebat. Benni E Matindas, Yance Langkay, Bapak Alfred Simanjuntak, Alm. GMA. Nainggolan, Inge, Donald Korompis,… waduh siapa lagi, ya? Oh, Bapak M.S. Hutagalung, dulu dosen Sastra Indonesia di UI… Yeah, masih banyak nama yang sudah hilang dari ingatan… (Sayangnya, aku cuma bertemu dengan bapak M.S. Hutagalung).

Kuhela nafas agak berat. Di manakah mereka itu sekarang? Apakah mereka juga diundang? Betapa indah bertemu kembali. Tentu saja akan seru saling tukar cerita, atau mungkin juga membina satu kerjasama baru? Rasanya terlalu lama aku menunggu seminggu lagi untuk tanggal tersebut di atas.

Penuh harap bertemu mereka, sepagi itu aku bergegas turun di Gondangdia, tempat gedung pertemuan itu. Sebelumnya, aku mengajak bapak Benni (yang ini, seorang tua yang begitu sayang padaku. Dulu aktif sebagai pelaksana produksi di Focus, yang memproduksi Pepesan Kosong di TPI. Nama panjangnya Benni R Hamid). Beliau ini selalu rindu untuk melayani di bidang visual walau usia udah kepala 6. Aku sering mengajak beliau, siapa tahu bisa kuperkenalkan pada orang yang mau kerja sama dengannya.

Aku call pak Benni ke HP-nya. Ternyata dia sudah berada di halaman gedung. Aku segera menemuinya. Di depan dan lobby gedung kulihat sudah banyak orang. Rapi pula semuanya. Aku sempat risih, karena pakaianku nyentrik seniman, lengkap dengan tas sandang. Seorang bapak yang di saku kemejanya terselip bunga anggrek, pertanda dia panitia hajatan, menyapa aku dan pak Benni. Bapak ini menawarkan kami untuk snack pagi dulu. Tapi kutolak dengan halus. Malah aku yang balik bertanya; “Pak, sebenarnya acara ini dalam rangka apa, ya?”

“Oh, hanya semacam ucapan syukur terima kasih pada pak Oppusunggu yang sudah mengabdi 45 tahun di Bina Kasih. Sekalian peluncuran bukunya,” sahut si bapak antusias.

“Pak Oppu sudah pensiun?” tanyaku penasaran. Betapa kaget dan tidak percayanya aku ketika si bapak itu mengatakan kalau pak Oppu sudah 2 kali terserang stroke. Yang terakhir malah sampai membuat “Lelaki Pintar itu…” lumpuh dan tidak mampu lagi berbicara. Dan… selang beberapa saat, mobil yang membawa pak Oppu tiba. Sungguh aku terdiam kaku melihat beliau begitu kurus dengan wajah pucat dan tak berdaya digendong ke atas kursi roda. Untuk menjumpainya hatiku tidak tega saking sedihnya. Si bapak kembali menerangkan kalau pak Oppu memang masih bisa mengenali orang. Tapi, aku tak sampai hati mendekatinya… Hanya doa yang bisa kupanjatkan.

Lelaki pintar itu…
Kini terlihat hanya seonggok tubuh rapuh. Ke manakah terbangnya kegalakannya, kebaikan hatinya, ketegasan prinsipnya, dan kepintarannya sebagai seorang editor handal dan pemikir keras untuk menerbitkan buku-buku berkwalitas? Di manakah sekarang antusiasme-nya untuk menciptakan komunikator-komunikator handal? Di manakah saat ini kegigihannya menerbitkan bacaan anak-anak, yang ringan tapi mudah dipahami?

Aku selalu mengingat ucapan beliau: “Tulislah cerita untuk anak-anak, bukan cerita tentang anak-anak. Tulislah naskah ilmiah yang informatif untuk anak-anak, bukan untuk anak-anak yang ilmuwan.” Maksud beliau, seorang penulis cerita, atau artikel untuk anak-anak harus piawai berkomunikasi dengan anak-anak dalam bahasa anak-anak, sesuai dengan daya cerna atau daya nalar anak-anak.

Ucapan beliau ini baru aku sadari setelah puluhan tahun kemudian, di mana televisi swasta begitu pesat berkembang dengan segala atribut acaranya. Mayoritas tayangan untuk anak di televisi tidak seperti yang pak Oppu katakan dulu. Yang terjadi malah cerita dewasa yang dimainkan oleh anak-anak + remaja, yang ungkapan-ungkapannya juga begitu dewasa. Kusadari ucapan pak Oppu ini, sebenarnya agar pertumbuhan anak-anak berjalan normal sesuai tingkat intelektual mereka. Tidak dipaksakan menjadi anak-anak yang dewasa, sehingga mereka terkontaminasi oleh prilaku orang dewasa dan sangat tidak mendidik.

Lelaki pintar itu…
Siapa di kalangan anak-anak sekolah minggu (mungkin sekarang mereka ini sudah malah punya anak) yang tidak hafal nama H.A. Oppusunggu, yang banyak menulis, membuat, menterjemahkan komik dan cerita-cerita Alkitab? Siapa yang tak kenal H.A. Oppusunggu, lelaki pintar itu… di kalangan penerbit, khususnya penerbit Kristen?

Lelaki yang kini tak berdaya oleh stroke dan diabetes yang merenggut kepintarannya itu, hanya menatap kosong, entah apa yang berkecamuk di pikirannya. Lelaki yang dulu kurang kusukai, tapi sekaligus guru yang kuhormati dan selalu kurindu ketegasan-ketegasan bicaranya, hanya mampu kutatap dari jauh. Terlalu banyak ilmu editor buku dan tulis menulis yang kudapat dari beliau.

Panas terik dalam bisu kulewati bersama pak Benni melintasi jalan Cikini Raya. Kutatap buku yang baru diluncurkan tadi, seukuran kwuarto dengan tulisan warna coklat “Melayankan Injil Melalui Media”, dengan latar sampul warna putih. Lalu gambar sketsa H.A. Oppusunggu menghiasi sampul itu, lengkap oretan tanda tangannya. Di sketsa itu tampak senyum khas beliau dengan kaca mata sebagai salah satu ciri khasnya.

Lelaki pintar itu…
Kini tidak lagi punya apa-apa. Hanya seonggok tubuh rapuh yang tak mampu lagi menggoreskan pulpen warnanya ke atas naskah yang dieditnya. Aku tersadar… Manusia sehebat (setidaknya menurut pandanganku), H.A. Oppusunggu yang punya banyak akses ke luar negeri dan dikagumi, ternyata tak selamanya kokoh. Aku tersadar… Manusia ternyata tidak punya kekuatan apa-apa bila uzur telah datang. Bila saatnya tiba, semua kekuatan, kekayaan, kepopuleran dan kepintaran kita cuma sebatas kenangan.

Tulisan ini aku buat, selain untuk menghormati guruku, H.A. Oppusunggu, yang kini tak berdaya, juga sebagai gambaran kepada kita semua, bahwa semasih kita bisa berbuat amal baik, janganlah pernah menunda. Rendahkanlah hatimu ketika kau disanjung tinggi. Janganlah mencari kekayaan, tapi jadilah kaya…

Lelaki pintar itu…
Bernama asli, Hasoloan Aritonang Oppusunggu. Lahir 10 Mei 1937 di Pematang Siantar, Sumatera Utara. Berasal dari keluarga Kristen sederhana. Anak ke-3 dan satu-satunya laki-laki dari lima bersaudara. Zaman pemberontakan PRRI, sekitar tahun 1950-an, ia dipenjara karena termasuk orang yang kritis terhadap pemerintah. Pernah bekerja sebagai anggota redaksi sebuah surat kabar nasional di Pekanbaru. Sejak SMP, lelaki “siantarman” ini sudah menulis artikel ke koran. Salah satu judul artikelnya “Hartawan Rakus” – yang mungkin karena landasan inilah kehidupan pak Oppu selalu terlihat sederhana dan bersahaja.

Doaku bersamamu selalu. Ajar-ajarmu takkan tertinggal mati. Walau tubuhmu saat ini tak lagi dalam kuasamu, tapi buah karyamu tak lekang ditelan masa. Ujar-ujarmu, “Hidup tanpa buku, ibarat bayi tanpa ibu, tanpa susu, tanpa suluh,” adalah pemikiran yang patut diamini setiap orang.

Sahala Panggabean


Membangun Nasari Untuk Kesejahteraan Rakyat

Koperasi sejak dulu disanjung oleh pemerintah. Koperasi selalu menekankan membantu masyarakat. Menurut Undang-undang No. 25 tahun 1992 Pasal 4 dijelaskan bahwa fungsi dan peran koperasi sebagai berikut: Membangun dan mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosialnya. Berperan serta secara aktif dalam upaya mempertinggi kualitas kehidupan manusia dan masyarakat.

Memperkokoh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan dan ketahanan perekonomian nasional dengan koperasi sebagai soko gurunya. Berusaha untuk mewujudkan dan mengembangkan perekonomian nasional, yang merupakan usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan dan demokrasi ekonomi.
Mengembangkan kreativitas dan membangun jiwa berorganisasi bagi para pelajar bangsa.

Semangat di atas terpatri di dada Sahala Panggabeaan, saat mendirikan koperasi simpan pinjam NASARI tahun 1998. Menjelang 12 tahun Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Nasari pada Agustus 2010, Sahala Panggabean MBA, Ketua KSP Nasari mendapat penghargaan tanda kehormatan Satya Lancana Pembangunan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Penghargaan itu diberikan oleh Presiden pada puncak HUT ke 63 Hari Koperasi tingkat nasional yang dipusatkan di Surabaya, beberapa hari lalu.

Sahala Panggabean menerima Satya Lancana karena dinilai berhasil mengembangkan koperasi dan UKM di wilayah Jawa Tengah. Di samping itu aktif menggerakkan rekan koperasi untuk usaha kecil dan menengah dan mendorong masyarakat untuk aktif berkoperasi serta mendorong peningkatan swadaya koperasi.
Penghargaan yang diberikan Presiden itu merupakan bentuk perhatian dan kepercayaan pemerintah kepada gerakan koperasi agar tetap tumbuh dan mampu bersaing dengan lembaga keuangan lainnya.

Sahala Panggabean menyatakan bersyukur kepada Tuhan dan menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya bagi pemerintah Indonesia yang telah memberikan dukungan dan perhatian penuh terhadap kehidupan koperasi. “Komitmen Presiden untuk bersama-sama seluruh insan perkoperasian memajukan gerak langkah koperasi merupakan angin segar bagi kami untuk terus membangun koperasi Indonesia di masa mendatang,” kata Sahala kepada KR, di Yogya, belum lama ini.

Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Nasari terus menjalin kerjasama. Dengan PT Pos Indonesia misalnya, kerjasama untuk memfasilitasi  debitur atau nasabah melakukan transaksi secara online di 3.500 kantor pos di seluruh Indonesia. Nasari membuka diri untuk bekerja sama dengan pihak swasta dan instansi pemerintah. Dengan catatan tidak bertentangan dengan prinsip etika bisnis dan sesuai dengan jiwa perkoperasian.

Bagi Sahala Panggabean, sebagai pendiri sekaligus Ketua KSP Nasari, mengatakan tujuan dari kerjasama itu bertujuan pada tiga aspek. Pertama, alternatif bagi debitur atau anggota sebagai sarana penyimpangan dana yang kompetitif, fleksibel, dan berteknologi tinggi. Kedua, untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam kegiatan koperasi. Ketiga, meningkatkan eksistensi dan kompetensi koperasi dalam kancah perekonomian bangsa Indonesia.

Menurut Sahala, kerjasama dengan PT Pos Indonesia, merupakan terobosan di dunia perkoperasian, karena sebelumnya Nasari hanya melayani anggotanya yang terdiri dari pensiunan PNS dan TNI Polri. Penandatanganan dilaksanakan 23 Desember 2009 di Kantor Pusat KSP Nasari Semarang, Jawa Tengah disaksikan Menteri Negara Koperasi dan UKM Sjarifuddin Hasan. Jangkauan layanan yang diberikan mencakup seluruh wilayah Indonesia.

Sahala menyampaikan aspirasinya agar pemerintah segera merealisasi pembentukan Lembaga Penjamin Simpanan Koperasi Jasa Keuangan (LPS-KJK) untuk mempertajam pengembangan layanan koperasi simpan pinjam dengan fungsinya seperti lembaga penjamin simpanan perbankan.

Membagi bingkisan

Selain itu, Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Nasari juga akan membagikan bingkisan Lebaran bagi para anggota dan calon anggota, yang saat ini berjumlah lebih dari 100.000 pensiunan yang tersebar di 336 kabupaten/kota se-Indonesia.

Ketua KSP Nasari, Sahala Panggabean mengatakan, pemberian bingkisan merupakan bentuk ucapan terima kasih pada anggota dan calon anggota, sehingga KSP Nasari dapat berkembang pesat. Tercatat, total aset per 30 Juni 2012 mencapai Rp 957 miliar, dengan tingkat NPL 0,08%.

KSP Nasari yang berdiri pada 1998 telah memiliki kantor layanan di Semarang. Sekarang sudar tersebar di berbagai daerah: Pati, Tegal, Madiun, Surabaya, Malang, Jember, Medan, Tasikmalaya, Bandung, Cirebon, Yogyakarta, Siantar, Solo, Sibolga, Tarutung, Lhokseumawe, Bogor, Karawang, Jakarta, Pontianak, Makassar, Kupang, Denpasar, dan Manado.

KSP Nasari memberikan layanan kepada pensiunan PNS, TNI dan Polri baik layanan jasa pinjaman maupun simpanan dengan sistem jemput bola dan online. Selain itu, koperasi simpan pinjam yang berkantor pusat di Semarang ini pernah mendapat penghargaan Microfinance Award 2011 untuk kategori jaringan operasi, sistem informasi dan laporan keuangan, serta pertumbuhan aset dan perkembangan struktur sesuai lembaga intermediasi.