Ranto Manik


Biodata
Ranto Manik
Lahir : Dolok Panribuan, 31 Desember 1948
Istri : Rosina Sijabat (63)
Anak :
– Rugun Manik (40)
– Rihon Manik (38)
– Rudi Manik (alm)
– Riwan Manik (31)
– Romsi Manik (29)
– Ramlin Manik (26)
– Roarman Manik (25)
– Rowatan Manik (22)
Pekerjaan : Petani

Cegah Rentenir, Sebar Koperasi Kredit

OLEH KHAERUDIN
Menjadi petani kecil bisa jadi merupakan pilihan yang sulit. Penghasilannya tak sebanding dengan apa yang ditanam. Itulah sebabnya petani kecil seperti Ranto Manik tak pernah membayangkan bisa menyekolahkan anaknya ke perguruan tinggi dan sukses. Seperti petak kecil lainnya di Indonesia, modal awal Ranto hanyalah cangkul dan sepetak tanah warisan.

Ranto menggantungkan hidupnya pada lahan subur yang mengelilingi Danau Toba. Petani yang tergabung dalam kelompok tani binaan Dinas Pendidikan Kabupaten Simalungun ini juga beternak babi.
Dua tahun lalu, seorang penyuluh, Osman Simbolon, datang ke kampung Ranto di Nagori Siatasan, Tiga Dolok, Kecamatan Dolok Panribuan, Simalungun. Dia mengenalkan Credit Union, sebagai lembaga yang bisa menolong petani dari kesulitan permodalan. Credit Union alias CU sering diindonesiakan menjadi koperasi kredit.

“Waktu itu kami kesulitan untuk biaya bertani dan menyekolahkan anak. Malah banyak yang jadi korban rentenir. Saya waktu itu diajak Osman bergabung ke CU Cinta Mulia di Pematang Siantar,” kenang Ranto.
Sebelum menjadi anggota CU, dia dan banyak warga desa lainnya sering terjerat rentenir , utang untuk modal bertani dan menutup biaya sekolah anak. “Tahulah kalau pinjam ke rentenir ini tak pernah ada ujungnya,” kata Ranto.

Sebagaimana halnya orang yang ingin bergabung menjadi anggota CU, Ranto terlebih dahulu mengikuti pendidikan dasar perkoperasian selama sehari. dari desanya yang berjarak sekitar 20 kilometer dari Pematang Siantar, Sumatera Utara, dia berangkat untuk ikut pendidikan dasar. Rupanya, ide pendidikan dasar CU Cinta Mulia , Peatang Siantar, bahwa petani harus bisa memodali dirinya sendiri, memotivasi Ranto.

sepulang dari pendidikan, disinggahinya kedai di desanya. Saat itu Ranto melihat ada kesempatan mengajak orang berkoperasi di kedai itu. Ranto merasa, mereka yang datang ke kedai nasibnya serupa dengan dia. Mereka tak punya modal untuk mengembangkan areal pertaniannya dan kesulitan menghidupi keluarga.”Saya terangkan, di CU ada tolong-menolong, ada bantu-membantu. Kita bisa menolong si A atau si B karena semuanya mengumpulkan bantuan,” kata Ranto.

Tetangga desa yang pertama bisa diajak berkoperasi awalnya hanya smebilan orang. Kebetulan, dari sembilan orang itu salah satu diantaranya mengajak anaknya menjadi anggota CU. “Anaknya waktu itu berani meminjam Rp 40 juta untuk beli mobil angkutan bekas, dan rupanya berhasil. Dari situ orang-orang desa mulai bertanya-tanya bagaimana caranya bisa mendapatkan pinjaman dari CU,” kata Ranto.

Dia mengakui, pada tahap awal mengajak masuk CU, daya tariknya adalah mereka bisa mendapatkan pinjaman dengan bunga menurun ssesuai saldo utang, dan kebebasan kapan melunasi utangnya tanpa harus mengikuti jangka waktu pinjaman. “Mereka tertarik karena boleh meminjam dengan persyaratan mudah,” katanya.

Memodali diri
Ranto mengatakan, hal tersulit adalah mendidik orang agar mau berdisiplin memodali dirinya sendiri secara swadaya. CU bisa meminjamkan dana kepada anggotanya, tetapi dana yang dipinjam haruslah berasal dari setoran wajib anggota. Waktu itu, saya banyak dicibir enggak benar itu koperasi. Dulu, kan ada warga kami yang jadi guru dan anggota KPN (koperasi pegawai negeri). Mereka mau menyetor simpanan wajib, tetapi pas mau menarik simpanannya, pengurus KPN-nya malah kabur,” kata Ranto.

Ia dengan tekun menjelaskan bahwa CU tidak seperti koperasi-koperasi umumnya. Di CU ada pendidikan dasar untuk anggota agar nantinya mereka berswadaya memodali diri sendiri. “kalau orang mau meminjam, tetapi simpanan wajibnya tak rutin disetor, jadi pertimbangan juga oleh CU untuk menolak permohonan pinjamannya. Sebaliknya, mereka yang rutin menyetor simpanan wajib, bisa dengan mudah mendapatkan pinjaman,” kata Ranto.

Rupanya, Ranto mantap. CU bisa menjadi jalan keluar bagi petani di pedesaan yang sering terjerat rentenir. Apalagi yang daerahnya sulit dijangkau lembaga ekonomi seperti bank. Maka, dia pun tak sekadar mengajak petani di kedai tuak di desanya. Dia mulai datangi petani di desa-desa sekitar.

“Awalnya hanya di desa sekitar nagori Siatasan. Belakangan, saya malah pergi membawa kabar baik soal CU ke petani di kecamatan lain, seperti Girsang dan Jorlang Hataran,” ungkapnya.

Akibatnya, lanjut Ranto, dia kerap dimarahi istrinya. “CU Cinta Mulia tak pernah membayar saya, tetapi saya mau datang ke desa-desa yang jauh untuk mengajak petani menjadi anggota koperasi. Saya cuma bilang ke istri, ini pekerjaan yang baik, pasti Tuhan nanti membalasnya,” kisah Ranto.

Untuk menghindari marah istrinya, Ranto bekerja lebih giat. Jika sebelum menjadi penyuluh CU ke desa-desa, dia ke ladang pukul 06.00 hingga pukul 15.00.

Setelah menjadi aktivis CU, Ranto ke ladang pukul 05.00 dan baru pulang setelah matahari hampir tenggelam. “Ya, saya harus cari ganti waktuyang hilang, karena ke desa-desa mengajak orang masuk CU,” ujarnya.
Setelah genap 150 orang yang diajak Ranto menjadi anggota CU, pengurus CU Cinta Mulia menjadikannya sebagai komisioner di daerahnya. Tugas komisioner antara lain merekomendasikan seseorang berhak mendapatkan pinjaman atau tidak. Ada sedikti upah untuk pekerjaan ini.

Posisi sebagai komisioner bertahan hingga sekarang, meski saat ini sudah ribuan orang yang diajak Ranto masuk menjadi anggota CU. banyak di antara mereka nasibnya berubah.

Di Nagori Siatasan, ada seorang bekas calo angkutan umum yang kini memiliki warung. Dengan warung yang dia usahakan dari pinjaman CU, kini dia tak lagi pas-pas-an menghidupi keluarganya. “Warungnya salah satu yang paling ramai dikunjungi warga tiap sore. Padahal dulu dia hanya calo angkutan umum,” kata Ranto.

Ada juga petani penderes buah nira, yang kini tak lagi hanya mengontrak satu atau dua pohon, tetapi berkat pinjaman CU sudah bisa mengontrak satu kebun pohon nira hingga setahun. Petani tak lagi kesulitan bertani karena tak ada modal. Mereka pun terbebas dari rentenir.

“Yang paling drastis, petani anggota CU lahannya sudah bertambah. Mereka biasa mengajukan pinjaman untuk memperluas lahan pertanian. Apalagi tanah di sini masih mudah didapatkan kalau memang ada modalnya,” kata Ranto.
Tentu Ranto paling merasakan perubahan. Empat anaknya yang terakhir, semua lulus dari bangku perguruan tinggi. “Ada yang jadi guru di Solo, Jawa Tengah, jadi jaksa di Aceh, dan jadi polisi di Bukittinggi, Sumatera Barat. Sisanya berdagang di Jakarta,” ujar Ranto.

Dikutip dari KOMPAS, SENIN, 18 APRIL 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s