Prof. Dr. Mangadas Lumban Gaol, M.Si


Data diri

Nama : Prof. Dr. Mangadas Lumban Gaol, M.Si
Tempat Tanggal Lahir: Bakara Marbun, 17 November 1965
Alamat : Perumahan Baumata Blok A. No 4
Pekerjaan : Dosen Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknik (FST) Undana
Jabatan : Dekan FST
Pendidikan : SDN Bakara Marbun tamat 1979
SMPN Bakara tamat 1982
SMAN 5 Medan tamat 1985
S1 Universitas Negeri Medan tamat 1990
S2 Universitas Gaja Mada-Yogyakarta tamat 1996
S3 Curtin University Of Technology-Perth Australia tamat 2002

Istri : Agustinar Marpaung
Anak-anak : Dea Carolina Larasati Lumban Gaol
Bella Cristin Lumban Gaol
Easter Tiur Lumban Gaol
John Curtin Partahi Lumban Gaol

Prof. Dr. Mangadas Lumban Gaol, M.Si

MINIMNYA dokumentasi tentang potensi dan kekayaan flora dan fauna di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menyebabkan tidak banyak orang mengetahui kekayaan alam di bumi Flobamora ini. Padahal, jika semua kekayaan ini bisa didokumentasikan dengan baik, maka pengembangan hayati untuk berbagai kepentingan bisa dilakukan dengan baik.
Prof. Dr. Mangadas Lumban Gaol, M,Si, ahli bidang hayati mengatakan, keanekaragaman hayati meliputi kanekaragaman jenis, varietas, genetik dan ekosistim. Indonesia, termasuk NTT, sangat kaya akan aneka jenis hayato karena wilayah ini berada di daerah Khatulistiwa. Sayangnya data-data lengkap mengenai keanekaragaman hayati belum lengkap. Minimnya data-data tersebut juga berpengaruh pada upaya-upaya pelestarian.Berikut perbicangan petikan Pos Kupang dengan Prof. Mangadas Lumban Gaol.

Saat pidato pengukuhan sebagai guru besar, Anda mengangkat tentang dokumentasi hayati….
Maksudnya begini, kita yang belum mempunyai data- data lengkap tentang keanekaragaman hayati. Karena kanekaragaman hayati menyangkut keanekaragaman jenis, keanekaragaman varietas, genetik dan keanekaragaman ekosistim.

Sementara kita termasuk salah satu negara yang dijuluki mega biodiversity country. Kita sebenarnya dianugerahi Tuhan kekayaan seperti itu, tetapi kita sendiri belum mempunyai data yang akurat tentang itu, khususnya di NTT. Data sangat penting untuk kemajuan ke depan.

Bagaimana kita mengomersialisasi kekayaan yang kita memiliki sementara data saja belum kita miliki? Oleh sebab itu, maka dalam pengukuhan saya sebagai guru besar saya mengatakan bahwa penulisan seperti Flora of Timor, Flora of East Nusa Tenggara sangat penting sekali.

Maksudnya?

Artinya begini, kira-kira flora-flora apa yang kita miliki sekarang, fauna-fauna apa yang kita miliki. Kita belum memiliki buku seperti itu. Untuk negara-negara maju rata-rata sudah punya. Contohnya, Flora of Kupang, inilah dasar kita untuk mengkomersialisasikan itu.

Nah itu tentang keanekaragaman hayati. Tentu banyak yang sepesifikasi daerah, tapi kita belum punya data misalnya spesies endemik di NTT apa. Contoh, katakanlah dari dulu untuk proses di bidang kehutanan misalnya penghijauan, kita kan cenderung menggunakan spesies-spesies alien (spesies luar).

Contoh pinus. Pinus itu kan spesies dari luar karena bantuan luar negeri ke Indonesia sehingga ditanam pinus di Indonesia. Padahal, pinus itu adalah tanaman daerah temporate dan tidak cocok dengan kita. Kita lebih baik menggunakan tanaman lokal kita, yang kita identifikasi mempunyai keunggulan. Jadi kira-kira itu yang pokok. Kita belum memiliki data itu.

Siapa yang punya kompetensi untuk dokumentasi kekayaan hayati?

Untuk kompetensi itu adalah ahli-ahli ekologi, ahli botani. Dan, itu harus difasilitasi pemerintah dan pemerintah harus memberikan perhatian sehingga mereka mempunyai kesempatan dan peluang untuk melakukan itu. Kita mempunyai beberapa seperti orang-orang botani dan ahli ekologi, tetapi yah sampai sekarang kita belum punya. Khususnya kita di NTT belum punya, mungkin ada beberapa daerah sudah ada, misalnya Flora of Kalimantan, tetapi belum begitu bagus.

Beberapa waktu lalu LIPI melakukan penelitian semacam eksepdisi. Kalau saya lihat referensi mereka lebih banyak ke Sulawesi, Papua. Di Papua mereka menemukan beberapa jenis baru semacam kodok. Kenapa NTT tidak menjadi tempat mereka ekspedisi juga. Apa masalahnya?
Mungkin mereka memandang Kalimantan termasuk memiliki keanekaragaman lebih tinggi di Indonesia di banding NTT. Tetapi, bukan berarti NTT tidak perlu, karena yang NTT miliki merupakan spesifik di sini kan. Yang spesifik di NTT tidak sama dengan mereka.

Untuk itu kita perlu tahu juga tentang ini. Mungkin keterbatasan dana sehingga mereka masih berpusat pada daerah-daerah yang dianggap keanekaragamannya jauh lebih tinggi.

Tapi, kita dengan pulau-pulau yang banyak, spesiasi terkait dengan pulau-pulau, kalau pulaunya terisolasi akan terbentuk spesies yang khas untuk daerah tersebut. Jadi, susah. Mungkin kita mempunyai spesies burung yang bernilai tinggi tapi kita tidak memperhatikan itu.

Bahkan mungkin sudah banyak punah karena pengetahuan yang kurang cukup untuk kita.

Apakah referensi kita kurang sehingga para ahli kurang berminat ke sini?
Yah memang kurang, tapi mau tidak mau kita kalau ingin maju maka harus berbuat mulai sekarang. Referensi kita bisa gunakan dari luar. Katakanlah dulu Australia misalnya, bahkan mereka sudah memiliki flora base. Flora base itu artinya sudah bisa diakses dengan menggunakan suatu program komputer tentang flora- flora yang mereka miliki. Karena kita tidak bisa menggunakan referensi lain, karena masing-masing flora berbeda-beda. Kita mungkin masalah perhatian yang kurang dan dana yang kurang.

Harapan saya ke depan, pemerintah di daerah ini memberikan perhatian, mau mendanai. Apakah sekarang pemerintah daerah mendanai untuk kita menyusun buku mengenai Flora of Nusa Tenggara, karena di situ akan ada distribusinya dan pemanfaatannya secara umum.

Karena dari penelitian akan terungkap semua kekayaan yang kita miliki dan selanjutnya ada studi lanjut. Dan, gambaran dasar mengenai kekayaan bisa membuat kita tercengang,,, oh…ini lho kekayaan kita, oh ini flora kita, oh fauna kita.

Dan, dari dokumentasi itu akan diketahui tinkat keterancamanya, mungkin saja sudah banyak yang hilang. Contoh, semakin menurunnya populasi cendana, banyak jenis burung kita kehilangan, karena tidak mempunyai makanan. Oleh sebab itu, kita perlu identifikasi permasalahan lahan dan diperlukan tindakan konservasi yang kita lakukan dari data-data tersebut.

Para pakar mengatakan NTT dalam beberapa tahun lagi jadi gurun. Pendapat Anda?

Yah, bisa terjadi. Karena kalau misalnya tindakan pembakaran hutan, illegal loging berlangsung, kita akan bisa mengarah pada padang gurun. Tapi saya yakin negara akan melakukan langkah-langkah konservasi, rehabillitasi lahan. Bukan hanya itu, kan juga menyangkut sumber daya air.

Contoh, untuk Kota Kupang kita kan bisa prediksi, katakanlah 20 tahun mendatang berapa jumlah penduduk Kota Kupang. Lalu airnya dari mana kita peroleh. Air itu kan terkait dengan tanaman. Nah, untuk negara maju mereka menghutankan suatu kawasan demi menjaga air. Krisis air akan terjadi kalau terus terjadi penebangan hutan.

Apa yang harus dilakukan pemerintah?

Lebih banyak menanam. Setiap pemerintah kabupaten harus bisa memprediksi pertumbuhan penduduk dengan ketersediaan air yang diperlukan. Supaya ada persiapan.

Bila hutan terus berkurang, air juga akan berkurang. Mengatasinya bagaimana?
Dengan cara menjaga hutan dan menghutankan kembali kawasan yang telah rusak. Dan, setiap program harus diprediksi dengan bai. Saya ambil contoh, di Australia ada suatu daerah yang berupaya bagaimana cara meningkatkan debit air. Satu hektar bisa menghasilkan air sekian dan sekian hektar bisa menghasilkan berapa. Sehingga mereka tahu bahwa kalau kebutuhan air mereka sekian, penumbuhan hutan akan mereka lakukan. Semakin banyak tumbuhan semakin banyak air yang tersimpan.

Berarti Di NTT hutan semakin berkurang?
Nah itulah kendalanya. Makanya saya bilang, kalau dari riil total hutan, penghijauan yang dilakukan di NTT semestinya NTT sudah penuh dengan hutan. Tetapi ternyata tindakan reboisasi itu selama ini tidak begitu efektif.

Kenapa tidak efektif?

Tidak efektif itu salah satu dugaan saya karena dilakukan dengan sistem proyek. Menanam tanaman itu kan hidup, mestinya diperlakukan dengan cara yang lain. Kalau dia ditenderkan pada musim kemarau dan ditanam, tidak ada yang hidup. Lebih baik dengan memberdayakan masyarakat untuk menanam pohon. Selama ini, katakanlah bulan September sampai November ditenderkan lalu anakan ditanamkan tidak akan ada yang tumbuh dan semua mati. Karena dia ditanam pada musim yang tidak tepat. Kita harus tanam di awal musim hujan sehingga pada saat musim hujan dia sudah kuat dan tumbuh. Jadi karena sistim proyek itu.

Kira-kira flora apa yang bisa dibanggakan di NTT?

Cendana. Kalau akses di internet sekarang, cendana itu disebut dengan Indian Sandlewood, bukan Timor Sandlewood. Kalau saya baca literatur-literatur, itu dulu kan ditanam di India yang dibawa oleh padagang Malaka ketika datang ke Timur. Mereka bawa bijinya ditanam dan dikembangkan di India, sekarang di kembangkan di Cina dan Australia Barat. Sedangkan di sini tidak, yah akhirnya namanya sekarang Indian Sandlewood, bukan Timor Sandelwood. Padahal, ini merupakan tanaman yang sangat mahal yang harus dikembangkan dan kebanggaan. Bukan hanya dari segi kayunya tetapi juga wisatanya. Contohnya, Kupang ini bisa membuat suatu areal untuk menanam cendana di situ, datang wisatawan melihat cendana dan sebagainya. Kan bisa dibuat semacam hutan kota dengan ciri khas tanaman. Yang saya inginkan untuk hutan Pulau Timor. Kalau hutan Flores kan banyak jenis. Untuk Pulau Timor itu cendana memang menjadi favorit dan jadi perhatian kita.

Berarti harus ada kebijakan yang revolusioner untuk cendana ini….

Harus ada tindakan yang nyata, jangan biasa-biasa saja. Harus mau mengalokasikan anggaran yang besar untuk merehabilitasi cendana. Itu butuh waktu tidak terlalu lama, hanya 15 tahun. Sekarang harga cendana di pasar internasional delapan dollar per kilo.

Cendana ini banyak kegunaannya seperti untuk berbagai jenis parfum, bahan kosmetik dan kebutuhan lainnya. Mungkin juga untuk obat-obatan. Kita harus kembalikan kepada kejayaan cendana. Justru sekarang India, Cina dan Australia mengembangkan cendana. Saya sudah pergi ke pabrik cendana di Australia, di sana langsung ada pabrik, tempat wisata dan hutan cendana dan ada mall khusus untuk hasil cendana. Apa susahnya, misalnya kasih uang Rp 5 miliar untuk merehabilitasi cendana satu tahun? Saya lihat selama ini hanya omong- omong saja dan action-nya tidak ada. Kita bagi semua warga daratan Timor anakan cendana, tunggu 15 tahun lagi, sudah penuh dengan cendana.

Cendana memang semakin berkurang. Apa masalahnya menurut Anda?
Salah satu penyebabnya adalah over ekspoitasi. Selama ini kalau ditelusuri Perda NTT tentang cendana, dari jaman dulu kan hanya menguasai cendana dan tidak pernah cerita tentang menanam cendana. Jadi yang dieksploitasi lebih tinggi dari daya regenerasi. Sekarang ini sudah sulit mencari generasi alami, cendana sekarang di NTT sudah pada taraf hampir bermasalah di reproduksi. Sekarang ini misalnya ambil 100 biji cendana, paling jago temukan 10 yang berkecambah. Ini akibatnya apa karena terjadi imbriding. Imbriding itu mengakibatkan daya produktivitasnya makin rendah akibat populasinya semakin menurun. Populasi semakin menurun akibatnya daya kecambahnya semakin rendah. Yang selama ini terjadi, kita semakin banyak mengeksploitasi sementara upaya menanam kembali tidak ada. Sebenarnya, upaya rehabilitasinya masih mudah.

Tapi, sifat cendana sendiri saat menanam agak manja. Harus ada tumbuhan sebelahnya, dan ini salah satu faktor membuat petani enggan menanam. Apakah demikian?

Tidak. Sebetulnya cendana merupakan tanaman hemiparasit. Dia bisa mengolah makanan sendiri, karena dia dapat berfotosintesis tetapi ada unsur-unsur tertentu harus peroleh dari tanaman lain. Itu yang disebut dengan inang atau host. Tapi, cendana itu punya inang banyak sekali, bisa hidup dengan jeruk, bisa hidup dengan mangga dan tidak ada masalah.

Artinya yang penting ada tanaman lain, karena dia bisa mempunyai inang ke ratusan tumbuhan. Yang penting tanaman inangnya itu tanaman yang bersifat alelopati yang menghasilkan racun, seperti okaliptus, contohnya di Gunung Mutis tidak cocok. Tapi banyak tanaman kita di sini yang cocok sebagai inang tanaman cendana. Kalau dibilang manja juga tidak, dia adalah tanaman yang tahan kering, cuma pertumbuhanya yang relatif lambat. Dan masalah lainnya adalah cendana yang masih muda disenangi hewan-hewan pemakan rumput sehingga
sering dimakan oleh hewan ternak seperti sapi dan kambing. Tapi kalau kita usaha maka tidak ada masalah yang terlalu berat.

Ada pendapat bahwa menanam cendana rugi karena usia produksinya lama.
Mungkin ada benarnya, tapi kan kita juga harus tanam disesuaikan dengan lahan. Kan enaknya cendana tu kan dia bisa ditanam di lahan-lahan yang tidak produktif untuk kegiatan pertanian. Misalnya, untuk sawah atau jagung tidak masalah, dia daunya tidak lebat, bisa juga ditanam sambil berkebun. Oleh sebab itu, di negera- negara maju memberi instrumen artinya ada bantuan, bahkan ada perusahaan yang mengembangkan cendana dengan memberikan kemudahan oleh pemerintah. Istilahnya insentif untuk masyarakat untuk menanam cendana. (alfred dama)

Profesor Doktor Sejak SMP

MENJADI profesor butuh proses panjang dan sulit bagi sebagian orang. Namun, tidak sedikit yang bercita-cita menjadi guru besar, seperti Mangadas Lumban Gaol. Pria yang suka menonton pertandingan tinju ini sudah berkeinginan menjadi seorang profesor sejak masih di SMP.
“Kalau dibilang cita-cita yah mungkin. Saya memang sejak SMP suka menulis nama saya dengan profesor doktor. Mungkin saya punya cita-cita sejak masa itu,” jelasnya.

Cita-cita tidak sekedar cita-cita. Belajar dan kerja keras dilakukannya untuk mencapai gelar tersebut. Dan, kini gelar tersebut bisa disandangnya sejak dikukuhkan menjadi guru besar oleh Rektor Universitas Nusa Cendana (Undana), 12 Februari 2010 lalu.

Pria kelahiran Bakara Marbun-Sumatera Utara, 17 November 1965 ini juga menyukai dunia pertanian. Namun ia memilih untuk menjadi pengajar bidang tumbuh-tumbuhan. “Kan ini masih terkait dengan tanam- tanaman juga, kebetulan saya juga suka pertanian,” jelasnya.

KUPANG/ALFRED DAMA. Pos Kupang Minggu 4 Juli 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s