Leo Nababan


Biodata

Nama Lengkap:

Leo Nababan

Panggilan:

Leo

Tempat/tanggal lahir:

Sei Rampai, Deli Serdang, Sumatera Utara, 30 Oktober 1962

Nama Ayah :

Gr Sihol Nababan

Nama Ibu :

L. Simanjuntak

Nama istri:

dr. Fabiola Alvisia Latu Batara

Anak: 3

Agama:

Kristen Protestan (Jemaat HKBP Jalan Jambu, Menteng, Jakarta Pusat)

Pekerjaan Sekarang:

Staf Khusus Menteri Koordinator Kesejahteran Sosial

Pendidikan:

SD Negeri Kampung Jeruk, Deli Serdang, Sumatera Utara  lulus tahun 1975

SMP Negeri III Medan, Sumatera Utara lulus  tahun 1979

SMA Negeri V Medan, Sumatera Utara lulus 1982

Sarjana Nutrisi dan Makanan Ternak, Universitas Dipanegoro (Undip), Semarang lulus tahun 1992

Pendidikan noformal:

Tahun 2006 : KRA – XXXIX LEMHANNAS RI

Pengalaman Bekerja:

Staf Direksi PT Hunamas Putra Interbuana (Gold Exploration) tahun 1984-1986,  di Jakarta tahun 1986-1988

Asisten Direksi PT Hunamas Putra Interbuana Jakarta tahun 1989-1990

Asisten Direksi Huna Group Pusat di Jakarta, 1990-1992

Kepala Cabang Huna Group di Manado, 1997-1999

Anggota Majelis Permusyarwaratan Rakyat-Republik Indonesia (MPR-RI), mengantikan KH Zainuddin MZ, tahun 1997-1999

Staf Khusus Menteri Negara Pemuda dan Olahraga, tahun 2004-2005

Direktur Humas PT Adamsky Connection (ADAM AIR) di Jakarta 2005

Komisaris Utama PT Karya Waluya Bhakti tahun 2005-sekarang

Komisaris Siwani Makmur.Tbk di Jakarta 2005-sekarang

Staf Khusus Ketua DPR-RI Agung Laksono tahun 1999-2004

Direktur PT Kusiba Karya tahun 2000-sekarang

Direktur PT Anugerah Bahari Semesta

Pengalaman Organisasi:

Sejak SD hingga SMA terbiasa ikut organisasi sekolah, OSIS. Sementara sejak mahasiswa juga aktif di organisasi kampus, termasuk Gerekan Mahasiswak Kristen Indonesia (GMKI).

Wakil Sekjen DPP Partai Golkar

Pengurus DPP Partai Golkar

Ketua DPP AMPI

Wakil Sekjen PPK Kosgoro 1957

Ketua Kelembangaan dan Oraganisasi, Dewan Pegurus Badan Kerjasama Sosial Usah Pembinaan, Warga Tama (DP Bersama-Organisasi Payung LSM Anti Narkoba),

Wakil Ketua Bidang Industri &Transportasi Dewan Pengurus Pusat,

Organisasi Persatuan Insinyur Indonesia (PII)

Wakil Bendahara Umum Badan Pengurus Pusat (BPP) Asosiasi Rekanan Pengadaan Barang dan Distributor Indonesia (ARDIN)

Sekretaris Dewan Beras Nasional

Mantan Sekjen DPP Gema Kosgoro

Mantan Sekretaris IKA UNDIP DKI Jakarta

Mantan Instruktur Kader Pusat DPP Golkar

Mantan Anggota Satgas Pemuda DPP Golkar

Mantan Koorprov BAPPILU se-Sumatera Utara DPP Partai Golkar

Mantan Ketua Umum Alumni Penataran P4 Pola 144 jam-Angkatan ke-32 Tingkat Nasional

Mantan Dewan Pengarah Forum KARSINAL Mahasis DPP Golkar

Mantan Asisten Posko Dapur Pimpinan FKP-MPR RI 1997-2002

Mantan Pengurus Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI)

Penghargaan:

Tahun 1994: Terbaik 1 (Pertama) Penataran Kewaspadaan Nasional (TARPADNAS) Pemuda Tingkat Nasional

Tahun 1995: Terbaik 10 (Sepuluh) Penataran P4 Pemuda Tingkat NasionalTahun 1997 : Terbaik 1 (Pertama) Internasional Standard Learning System (Effectiv Communication and Interpersonal Relation Skill)

Pengkaderan:

Penataran P4 Pola Pendukung 25 jam di IPB Bogor tahun 1983

FORTA KOSGORO Tingkat Jawa Tengah di Semarang di Kabupaten Batang tahun 1989

Istruktur FORTA Tingkat  Nasional Kosgoro 1993, Pengkaderan Tingkat Utama DPP-AMPI tahun 1993

Penataran Kewaspadaan Nasional (TARPADNAS) Oleh Kantor Kemnterian Pemuda dan Olahraga RI-HAMKAM 1994

Penataran Penyegaran Kader (Instruktur) DPP Golkar 1994

Karsinal Pemuda DPP Golkar 1995

Penataran P4 Oleh BP7 Pusat Pola 144 Jam Tingkat Nasional tahun 1995

Handcraff Wordshop For Your in Bangkok 1995

Internasional Standar Learning and Interpersonal Relations Skill tahun 1997

Program Drugs Abuse Presenvention (JICA) di Jepang tahun 1999

Pengalaman Luar Negeri:

Anggota Delegari Pemuda Indonesia dalam pertemuan Handicraff Workshop For Asean Youth di Bangkok (Thailand) tahun 1995

Anggota Delegasi pada Konggres Menteri-Menteri Pemuda se-dunia di Portugal tahun 1998

Peserta Traning Couse “Drug Abuse Prevention” JICA, Jepang tahun 1999, Pendaping Pertemuan Anggota Parlemen se-Asia Pasific di Holang Bay-Vietnam tahun 2005

Pendamping Pertemuan Anggota Parlemen Internasional UNO (IPU) tahun 2005

Mendampingi Ketua DPR-RI, Kunjungan kerja ke Manila, Iran, Turki, UEN (Dubai) tahun 2005

Peserta Study Srategic Luar Negeri KRA-XXXIX Lemhannas ke India, tahun 2006.

 Alamat : Jl. Kayu Manis, Matraman – Jakarta Timur 13130

Biodata dibuat Hotman J Lumban Gaol alias Hojot Marluga

Menyongsong Jubileum 150 Tahun HKBP: “Peneguhan Iman Kristiani dan Jati Diri Bangso Batak yang Berbudaya”

Oleh Ir. Leo Nababan

Sejarah mencatat bahwa sebelum Kekristenan menjamah Tanah Batak, para nenek moyang kita hidup dalam agama Animisme dan dinamisme dengan ritual penyembahan berhala hasipelebeguon. Sungguh suatu kehidupan yang diliputi kegelapan ditambah sering terjadinya permusuhan antar kampung dalam rangka memperoleh status kehormatan “hasangapon” dan kekuasaan atas sumberdaya ekonomi khususnya tanah “hamoraon”. Konflik itu tak jarang mengandalkan kekuatan magis “hadatuon” yang kerap berakibat pada pembunuhan dan terjadi saling balas dendam secara turun-temurun.
Meskipun pada awal proses Kekristenan di Tanah Batak penuh dengan tantangan dan pergumulan, namun yang pasti bahwa Kekristenan telah membawa Tanah Batak menuju terang. Kita patut berterimakasih kepada para Penginjil dimana lewat tugas panggilan misionarisnya membebaskan Tanah Batak dari kegelapan. Adalah Ompui Ingwer Ludwig Nommensen sebagai Misionaris legendaris Tanah Batak, melalui panggilan hidupnya yang lahir pada tanggal 6 Februari 1834 di Nordstrand, Distrik Holstein, Jerman, menjalankan panggilan hidupnya sebagai Penginjil di Tanah Batak sampai Tuhan memanggilnya di Sigumpar Toba Samosir pada tanggal 23 Mei 1918.
Meskipun bukan sebagai Misionaris pertama di Tanah Batak, metode dan pembawaan misi Ompui IL Nomensen di Tanah Batak lebih diterima oleh orang Batak dibanding Misionaris-misionaris sebelumnya. Terkait dengan hal ini, penulis mencoba menyimpulkan bahwa ada dua pendekatan yang diterapkan oleh Ompui dalam menjalankan misinya sehingga lebih cepat dipahami dan diterima oleh orang Batak waktu itu. Pertama, Ompui IL Nommensen menggunakan pendekatan humanis yakni upaya perbaikan taraf hidup orang Batak waktu itu.
Ketika penulis berkunjung ke tanah kelahiran Ompui IL Nommensen di Nordstrand Jerman, betapa kagumnya penulis melihat model perkampungan di kampung halaman Ompu i yang memiliki prototype yang mirip dengan perkampungan Batak “Bona Pasogit”. Satu hal yang paling berkesan adalah model kompleks gedung gereja di Nordstrand yang memiliki areal/pekarangan untuk tempat becocok tanam, gedung sekolah, gedung pelayanan kesehatan dan areal untuk peternakan.
Mungkin penulis berfikir bahwa model yang demikianlah yang ditransfer Ompu i ke Tanah Batak. Misi-misi Kekristenan yang dijalankan Ompu i di Tanah Batak tidak serta-merta hanya melakukan pewartaan Injil an sich, namun juga disertai dengan misi-misi Kemanusiaan. Hal ini dapat kita lihat dari pembagunan Gereja di Huta Dame dengan areal yang disediakan untuk aktivitas kemanusiaan atau yang dikenal dengan pargodungan.
Mengenai tempat bersekolah, bangunan sekolah-sekolah di areal Kompleks Gereja di Nordstrad telah mengispirasi Cendekia Jerman waktu itu yakni Hubber Alles yang mempropagandakan betapa ilmu pengetahuan yang diperoleh anak-anak di bangku sekolah berperan besar dalam membangun peradaban manusia Jerman yang waktu itu telah maju dan unggul di kawasan Eropa. Prinsip inilah yang kemudian hari disalah pahami yang memunculkan paham rasialisme Jerman khususnya di era Hitler berkuasa. Terlepas dari itu, kegiatan belajar-mengajar di sekolah yang terdapat di Pargodungan Gereja sebagai buah karya penggembalaan Ompui IL Nommensen di Tanah Batak telah menginspirasi seniman besar Nahum Situmorang dalam menciptakan lagu monumentalnya “Anakhon hi do hamoraon di au.” Berkat upaya Ompui Nommensen yang menekankan pentingnya pendidikan dan membangun sekolah-sekolah di Pargodungan Gereja membangkitkan orang Batak dengan jerih payah untuk menyekolahkan anak-anaknya.
Dari gambaran diatas dapat kita pahami bahwa Gereja dan Pargodungan memiliki fungsi yang teramat signifikan dalam membentuk Iman Kristen dan meningkatkan taraf hidup Suku Batak dimana Gereja menjadi sentral Revolusi Iman lewat persekutuan dan pewartaan Injil, sementara pargodungan menjadi sentral perubahan taraf hidup dimana disana terjadi aktivitas transfer pengetahuan lewat sekolah, pelayanan kesehatan, pembelajaran bercocok tanam dan beternak serta pengasahan keterampilan.
Pendekatan kedua yang diterapkan Ompu i dalam pewartaan Injil di Tanah Batak adalah menggunakan pendekatan Budaya dan Tradisi. Sebelum melakukan pewartaan Injil, Ompu i mencoba memahami hakekat karakter, tradisi dan budaya Orang Batak waktu itu dengan terlebih dahulu mempelajari Bahasa Batak Toba. Model seperti ini kurang lebih hampir sama dengan penyebaran Agama Islam di Pulau Jawa oleh para Wali Songo. Dalam konteks ini upaya pewartaan Injil yang dilakukan Ompui i tidak menimbulkan penghilangan atau penghapusan nilai-nilai budaya dan tradisi Batak namun yang cenderung terlihat adalah bahwa nilai-nilai Agama dan kebudayaan saling membutuhkan dimana prinsip ajaran ke-Kristen-an diinternalisasikan lewat tradisi dan budaya. Tentu dalam hal ini ada upaya yang dilakukan untuk perbaikan nilai-nilai Budaya Batak yang bertentangan dengan prinsip ke-Kristen-an.
Begitulah cara Tuhan membawa orang Batak keluar dari kegelapan menuju terang lewat hambanya yang setia mewartakan Kerajaan Surgawi sampai ke ujung dunia. Saat ini, menjadi penting untuk membahas dua pertanyaan dan sekaligus menjadi bahan refleksi khususnya menjelang peringatan Jubileum 150 Tahun Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) dan sekaligus juga momentum peringatan pewartaan Injil di Tanah Batak. Pertama, apakah sesungguhnya Tanah Batak sudah menerima Injil keselamatan itu? Kedua, bagaimana kita menghubungkan Injil dan Budaya Batak ditengah gempuran budaya global saat ini? Kedua persoalan inilah yang menjadi pergumulan penulis saat ini yang kerap memunculkan keresahan.

KATA KUNCI: Dari 3H Menjadi 5H
Seiring dengan pesatnya kemajuan zaman, budaya global kecenderungan mengarahkan eksistensi manusia untuk pemenuhan dan pemuasan aspek materialistis saja. Orang Batak juga sepertinya terikut-ikut dalam arus ini yang ditandai dengan penguatan falsafah ‘3 H’ yakni Hamoraon (kekayaan), Hagabeon (keturunan/generasi) dan Hasangapon (kehormatan). Eksistensi manusia dapat dikatakan sempurna apabila memiliki ketiga unsur H ini. Prinsip 3 H inilah yang kerap menjadi motivasi utama orang Batak dalam perjalanan hidupnya. Target pencapaian/pemenuhan 3 H kerap telah menyebabkan orang Batak ‘menghalalkan’ segala cara. Persaingan yang muncul dalam upaya pencapaian 3 H ini juga kerap memunculkan sikap HOTEL (Hosom, Teal, Elat, Late) antar sesama orang Batak.
Oleh sebab itulah falsafat ‘3 H’ inilah yang tanpa kita sadari menjadi tantangan dan godaan bagi orang Batak dalam peneguhan Iman Kekristenannya saat ini. Dalam konteks ini bukannya penulis bermaksud menyatakan bahwa prinsip ‘3 H’ itu tidak penting. Sebagai manusia biasa, penulis menyatakan bahwa falsafah ‘3 H’ itu tetap penting namun bukan yang terpenting dalam motivasi hidup. Sudah saatnya kita merubah falsafah ‘3 H’ menjadi falsafah ‘5 H’ dengan mereposisi prinsip ‘3 H’ tersebut diurutan terbelakang dengan demikian urutan falsafahnya menjadi: 1) Haporseaon (Iman Kepercayaan), 2) Hadameon (Kasih), 3) Hamoraon (Kekayaan), 4) Hagabeon (Keturunan/generasi) dan 5) Hasangapon (kehormatan). Falsafah nomor 1 dan 2 terletak dalam dimensi vertikal dan falsafah 3, 4 dan 5 terletak dalam dimensi horizontal, suatu penggambaran dan pemaknaan Salib Kristus.
Ditengah-tengah kondisi yang memperlihatkan terjadinya Krisis Iman dan degradasi nilai-nilai Budaya dan Adat Istiadat Batak, HKBP yang akan menyongsong 150 tahun Jubileum terpanggil untuk lebih meneguhkan jati dirinya sebagai Gereja yang bertubuhkan Kristus, hidup dalam penggembalaan semua bangsa khususnya orang Batak yang berjati diri dalam Budaya dan Adat Istiadat Batak. Selamat Menyongsong Jubileum 150 Tahun HKBP.

Wawancara

Ir. Leo Nababan, Staf Khusus Menko Kesra

“Terkutuklah Orang yang Mengandalkan Tim Sukses”

Sinode Godang hajatan besar bagi Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). Sinode Godang digelar mengemban tugas, mempertimbangkan dan menerima laporan pimpinan HKBP sebelumnnya, menetapkan rencana strategis HKBP. Puncaknya memilih pemimpin baru, Ephorus, Sekretaris Jenderal, tiga orang Kepala Departemen dan 24 orang Praeses.

Acara ini akan dilaksanakan pada 10-16 September 2012 di Seminarium Sipoholon. Sinode dengan tema “Gabe jolma na tang jala matoras situtu mangihuthon hagogok ni rimpas ni Kristus” yang diambil dari Efesus 4:13b. Sebelum di Sinode Godang terlebih dahulu digelar rapat di tingkat huria mulai Maret – April 2012. Di ressort digelar Mei, Juni 2012, dan kemudian di Distrik, dilaksanakan 24 – 26 Juli 2012.

Banyak harapan yang digantungkan pada Sinode Godang nanti. Bagi jemaat HKBP Sinode Godang ini memberikan sebening cahaya untuk menerangi jalan HKBP ke depan. Salah satunya Ir Leo Nababan, Staf Khusus Menko Kesra berharap Sinode Godang ini menghasilkan hasil yang terbaik.

Bagi politisi Golkar ini, kita sering tidak menyadari, “Tanpa-sadar dan sengaja selama ini Sinode Godang HKBP telah berlangsung sangat hiruk-pikuk, dan hampir tidak berbeda dengan pertemuan-pertemuan organisasi massa atau partai politik. Kalau ada acara deklaras  untuk calon ephorus. Ini sudah lari dari habit aslinya,” ujar lulusan terbaik Penataran Kewaspadaan Nasional (Tarpadas) Pemuda Tingkat Nasional dan lulusan Lemhannas Republik Indonesia, tahun 2006, angkatan KRA – XXXIX Lemhannas RI, ini.

Pria kelahiran Sei Rampah, Sumatera Utara, 30 Oktober 1962 adalah anak dari seorang guru huria HKBP, Gr Sihol Nababan. Dia mengaku sangat mencintai HKBP, dan selalu mengatakan ahu anak ini HKBP do. “Ahu boras ni HKBP do. Saya amat cinta pada HKBP. Harapan saya pada Sinode nanti, kita berharap terpilih pemimpin yang diurapi Tuhan. Bukan pemimpin yang mendapatkan jabatan dengan cara-cara politik,” ujar bapak tiga anak, yang berjemaat di HKBP Jalan Jambu, Menteng ini.

Demikian petikan wawancara Hotman J Lumban Gaol (pendiri Situs Ensiklopedia Tokoh Batak) denga Ir Leo Nababan:

Sinode Godang masih beberapa bulan lagi, tetapi jauh sebelumnya sudah ada beberapa calon yang mendeklarasikan diri dan membentuk tim sukses untuk mencalonkan menjadi ephorus?

Saya kira, kalau ada tim sukses untuk mencalonkan pimpinan gereja, ini akan berbahaya. Kita harus beberkan hal seperti ini. Ini penyimpangan iman. Ini menjadi ancaman ke depan kalau sudah kita buat gereja seperti partai politik. Karena bagaimana pun hal ini sudah melanggar dari habitusnya.

Momentum dalam sinode godang ini harus kita gelar dengan baik dan benar, menjaukan politik, tanpa harus ada hiruk pikuk politik di sana. Sebagai seorang warga jemaah HKBP, saya berharap ada perubahan yang baru, tradisi yang baru, paradigma yang baru untuk pemimpin HKBP yang akan datang. Diantaranya, ada perubahan dan aturan-peraturan yang baru. Dalam arti berpikirnya koseptual integral. Peraturan yang selama ini menghambat kepemimpinan di HKBP, harus dibongkar habis. Diperbaharui.

Apa yang harus dibongkar?

Tohonan ephorus itu memang tahta suci. Tetapi fungsi dan strategis dari jabatan ephorus harus diawasi. Salah satunya adalah lembaga pengawas perlu ada. Sampai sekarang ini tidak ada lembaga yang mengawasi di struktur HKBP.

Bagaimana  ekpektasi Anda terhadap Sinode Godang?

Lagi-lagi saya sudah katakan, pada Sinode Godang kali ini, yang akan datang kita berharap banyak. Ini adalah momentum untuk terus membenahi HKBP. Sinode Godang HKBP banyak mengemban tugas untuk mempertimbangkan dan menerima laporan pimpinan HKBP, menetapkan rencana strategis HKBP, menetapkan sikap umum HKBP memilih Ephorus, Sekjend, Kepala Departemen dan Praeses.

Lalu, tentang adanya tim sukses dalam pemilihan ephorus kali ini?

Terus terang saya dihubungi beberapa orang. Saya diminta jadi tim sukses. Saya menjawab tegas, menolak. Saya tidak mau terlibat dalam hal ini. Karena ini wilayah yang harus kita hormat, sakral. Jangan buat ruang yang sakral menjadi abu-abu. Ini bukan partai politik. Okelah, kalau saya dilibatkan mendukung tim sukses dari satu calon ketua partai, tidak masalah. Tetapi ini memilih pemimpin umat, hati-hati. Jangan main-main. Jangan sampai ini digelar seperti pemilihan partai. Kita belajar dari Katolik, bagaimana mereka memilih pemimpin mereka, Paus. Para kardinal terlebih dahulu diberikan tempat untuk berdoa masing-masing. Saya tidak bermaksud seperti itu, yang saya mau katakan adalah betapa sakral pemilihan puncuk pimpinan gereja yang terbesar di Asia Tenggara.

Jadi, kalau ada tim sukses untuk mendukung calon ephorus itu euforia politik?

Ini bukan masalah perasaan nyaman atau perasaan gembira yang berlebihan mendukung salah satu calon. Saya dengan tegas katakan, kalau ada orang yang membantu tim sukses untuk mencalokan ephorus saya katakan hati-hati. Terkutuklah orang yang mengadalkan manusia. Terkutuklah orang yang mengandalkan tim sukses. Kalau dalam ranah politik misalnya, saya terlibat itu betul. Tetapi kalau di gereja juga berpolitik untuk mencari jabatan, itu amat naif. Sekali lagi itu jabatan yang sakral, yang tidak sembarang untuk dipilih.

Maka, saya dengan tegas katakan, jangan coba-coba bermain politik dalam pemilihan ephorus. Sekali kita mengunakan politik di gereja, rusaklah kita. Dan bagi para calon, saya kira para calon terlebih dahulu berdoa pada Tuhan. Lalu mengaca diri, apakah mereka sanggup dan mampu mengemban tanggung-jawab itu. Karena dengan demikian mereka akan memberi petunjuk oelh Tuhan. Karena itu, saya mengimbau seluruh peserta Sinode Godang yang memilih pemimpin HKBP kelak, jangan pilih orang yang sudah membuat tim sukses. Pilihlah orang yang tidak memiliki tim sukses.

 

Ini himbauan….

Ini himbauan. Saya mengimbau para politisi Batak yang berjemaat di HKBP jangan coba-coba ikut menjadi salah satu pendukung, atau tim sukses dari satu calon. Saya menghimbau, yang pengusaha-pengusaha juga jangan coba-coba melakukan ikut tim sukses. Saya kira ini penting dingatkan agar mereka jangan memberikan dukungan. Agar jangan Tuhan mengutuk kita. Sekali lagi, gereja bukan partai politik. Kalau ada target-target politik jangan pakai gereja dong. Ini berbahaya, sangat berbahaya. Kita harus belajar dari masa lalu.

Anda mengusulkan ada lembaga yang mengurusi atau mengawasi. Seperti apa maksudnya?

Sebenarnya dulu sudah pernah hal ini dilontarkan pada Sinode Godang sebelumnya, tetapi ini tidak pernah direalisasikan. Apa pentingnya dewan pegawas? Tidak boleh lagi ada kesewengan-wenangan, karena ada lembaga yang mengawasi. Jadi tidak semua-muanya dilakukan ephorus. Hal ini baik ke depan diterapkan di HKBP. Kalau kita contoh, NU memiliki dewan Mustasyar (Penasihat), Syuriyah (Pimpinan tertinggi), Tanfidziyah (Pelaksana Harian). Tetapi tidak persis begitu.

Usulan saya, Sinode Godang harus melibatkan seluruh jemaat dari seluruh latar profesi, jender dan pendidikan. Baik muda dan tua. Saya kira, memang benar HKBP hanya organisasi keagamaan, tetapi juga sekaligus lembaga yang memikirkan pendidikan dan sosial. Maka ada Koinonia, Marturia, Diakonia.

Apa kerinduan Anda terhadap HKBP ke depan?

Saya amat mencintai HKBP. Terus terang saya dibesarkan oleh HKBP. Bapak saya adalah dulu seorang guru huria dari HKBP. Saya tidak mungkin lepas dari HKBP. Bagi saya, HKBP bukan hanya miliki para hamba Tuhan, pendeta, parhalado, tetapi seluruh stakeholder dari jemaat HKBP.

Mereka tentu harus dilibatkan. Karena itu seluruhnya harus dilibatkan. Bila penting dikasih ruang meminta pendapat dari mahasiswa, pengusaha, pendidik, politisi, kaum-ibu-ibu, naposo, dan sekolah minggu. Artinya mereka didengar pendapatnya. Bila penting, diberikan ruang untuk seminar khusus mendengarkan pendapat seluruh elemen, yang ada di HKBP sebelum dilangsungkan Sinode Godang.

Karena bagi saya, HKBP adalah Batak. Kalau HKBP sudah rusak orang Batak juga akan rusak. Jangan sampai Nommesen kedua datang ke Tanah Batak. Unang dipolitiki parhurian, sotung sega negara on. Kalau mau berpolitik masuk saja ke partai politik. Jangan berpolitik di gereja.

Apa yang harus diperankan HKBP di Tanah Batak?

Saya kira kehadiran HKBP banyak hal yang bisa dilakukan. Misalnya, sekiranya HKBP terlibat aktif dalam mengusung Provinsi Tapanuli, hal itu akan jadi. Tetapi belum terlambat untuk memperjuangkan Provinsi Tapanuli. HKBP harus terlibat aktif.

Harapan terakhir?

Kita menghendaki agar seluruh HKBP termasuk Pimpinan HKBP sungguh-sungguh dapat melaksanakan tugas panggilan yang dipercayakan Tuhan Yesus Kristus, Raja Gereja, melalui keputusan-keputusan Sinode Godang. HKBP saat ini butuh pendeta yang berani dan rela menerima resiko. Yang sungguh sungguh memegang teguh konfessi HKBP.

Pertama, Manjamitahon Barita na Uli i di tongatonga ni Huria, di portibi on, dohot tu nasa na tinompa. Kedua, Mangaradoti ulaon sakramen na dua i, i ma Pandidion na Badia dohot Parpadanan na badia. Marmahani ruas ni Huria i. Mamatamatai sude panggulmiton ni Huria i. Mangajarhon dohot mangaramoti poda na polin. Padalanhon ruhut parmahanion dohot paminsangon, huhut mangalo poda haliluon. Padalan ulaon asi ni roha. Paluahon halak sian ragam ni hapogoson dohot haotoon. Mangaradoti ulaon pembangunan na marojahan di hasintongan dohot hatigoran, jala na manjungjung hinaarga ni jolma songon gambaran ni Debata, sebagai Imago Dei.

Terkahir, saya berharap momentum ini juga untuk menyatukan pendapat mengajukan I L Nommensen sebagai pahlawan nasional (Nommensen menjadi ephorus pertama pada 1881 hingga akhir hayatnya. Ia digantikan oleh Pendeta Valentine Kessel pada 6 Februari 1904. Ketika Nommensen genap berusia 70, Universitas Bonn menganugerahinya gelar Doktor Honoris Causa). Karena beliaulah (Nommensen) Tanah Batak melek terhadap kemajuan. Ia pelopor perubahan di Tanah Batak. Bagi saya Nomennsenlah pahlawan sejati orang Batak.***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s