Cahaya D.R. Sinaga, SH, MH


Cahaya D.R. Sinaga, SH, MH, Pendiri/Direktur Radio MS Tri

Menerangi Akademia Lewat Radio

DULU, ada asumsi kehadiran internet akan membangkrutkan media cetak dan radio. Nyatanya tidak, media cetak dan radio akan terus bertahan jika bisa memenuhi kebutuhan segmentasi pasar. Hanya saja, di tengah alam kompetisi yang ketat, khususnya radio harus mampu hidup dengan mengarap segmentasi yang jelas. Salah satu segmentasi pendengar yang jarang digarap adalah kaum kampus. Hal itulah yang ditangkap Cahaya D.R. Sinaga, SH. MH. dengan mendirikan radio MS Tri. “Radio untuk para kaum kampus, dengan menyapa pendengarnya akademia.”

MS Tri adalah unit bisnis dari Universitas Tri Sakti, dibawah payung PT Radio Mediasuara Trisakti. Dialah pendiri radio MS Tri. Dari sejak awal menggodok, membuat proposal ke pihak Universitas Tri Sakti sebagai pemegang saham, hingga menjadi kantor redaksi radio yang siap mengudara. Jadilah Radio Mediasuara Trisakti disingkat MS TRI, digelombang 104,2 FM.

Dari namanya terkesan seperti nama orang Jawa, Cahaya Dwi Rembulan Sinaga. Perempuan kelahiran Medan, 20 April 1962 ini dipanggil Cai. “Kalau kita mengatakan akademi, maka yang kita pikirkan adalah bagaimana memenuhi kebutuhan para kaum kampus, mahasiswa, dosen. Kami amati bahwa para pendengar kami juga tertarik mendengar politik, maka kami sajikan berita politik, tetapi tidak terlalu menukik ke politik. Kami juga bicarakan, terkait lifestyle, pokoknya yang berkaitan dunia kampus,” katanya saat berbincang dengan REFORMATA, Senin (19/9) di kantornya gedung Trisakti, Jakarta Barat.

Berdiri sejak 1995, artinya radio MS Tri ini sudah menyapa pendengarnya 16 tahun. Untuk semua itu, Cahaya merasakan pertolongan Tuhan. Dia mengakui, apa yang diraihnya sekarang bukan semata-mata karena kemampuannya. “Tidak mudah. Saya tahu apa itu proses panjang. Untuk seperti sekarang, menjadikan radio ini bisa bertahan dan eksis, butuh proses panjang, perlu ada stamina. Tetapi stamina tidak berarti apa-apa tanpa pertolongan Tuhan,” ujar jemaat HKBP Petojo, Jakarta Barat, ini. Sekarang, Cahaya bersama 21 staf, 8 penyiar dan satu wartawan lapangan, melayani akademia 22 jam setiap harinya. Dengan segmen pendengar umur 20-35 tahun.

Selain mengelola radio Cahaya juga menjabat Kepala UPT Multimedia Universitas Trisakti. Sebagai pendiri dan direktur, Cahaya tetap terlibat mengelola. “Saya memahami bahwa yang bertanggung-jawab pada semua produk yang disiarkan adalah direktur, untuk itu saya terlibat penuh. Setiap siaran akan terlebih dahulu kami diskusikan. Kami mesti membuat siaran berbobot. Karena kalau ecek-ecek tidak akan didengar,” ujar instruktur penyiar radio ini.

Ketertarikannya dalam hukum dan media membawa Cahaya pada gerakan memperjuangkan undang-undang penyiaran. “Berkecimpung di ranah hukum-media, saya masuk pada gerakan untuk mendukung ada undang-undang penyiaran. Saya ikut dengan tim menyusun undang-undang penyiaran, dan sampai saat ini ikut menjadi konsultan di beberapa radio,” ujar salah satu aktivis di Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI) ini.

“Saya kurang setuju jika ada radio komunitas yang tidak punya izin, lalu merasa menganggap seolah-olah hal itu benar. Frekwensi adalah ranah publik, gelombang ini harus juga dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat. Sekarang ini frekwensi sering dipermainkan,” ujarnya, melihat maraknya radio yang menumpang frekwensi, disebutnya radio gelap.

Kaum akademia

Cahaya juga sangat tertarik dengan isu-isu humanis dan apa saja yang terkait kampus. Bahkan soal kegiatan mahasiswa. “Saya percaya mahasiswa, akademia, itu adalah agen perubahan. Agen perubahan di dalam politik, maupun agen perubahan agama,” ujar peneliti dan penulis beberapa jurnal tentang penyiaran ini.

Pendengarnya memang orang-orang cendikia, alumni dan para mahasiswa. Maka bagi Cahaya “MS Tri mencoba memberitakan yang perlu didengar kaum kampus di Jabodetabek. Kami mencoba menyiarkan berita-berita yang bermamfaat, karena banyak siaran menurut saya hanya memberitakan gaya hidup. Saya sedih kalau ada radio hanya memperdengarkan gaya hidup, kesenangan. Saya kira MS Tri bisa memberikan sesuatu yang lebih berarti bagi pendengarnya, akademia.”

Ketertarikannya mendirikan radio berawal saat mendalami hukum dan media di almamaternya, Universitas Tri Sakti. “Teman saya mendalami hukum pidana dan perdata, saya mendalami hukum-media,” kenangnya. Setelah lulus sarjana hukum, Cahaya memperdalam pendidikan hukumnya dengan kembali kuliah master hukum di Tri Sakti. Sejak tahun 1987, dia sudah berkecimpung di dunia penyiaran, dan membawanya menjadi instruktur hingga menjadi narasumber di berbagai seminar dan pelatihan penyiaran.

Apa yang membuat Cahaya begitu antusias membangun radio? Dia mengaku semangat itu menular dari kedua orangtua. Cahaya dan adik-adiknya dididik sejak kecil untuk rajin belajar. Ayahnya (alm) Martahi Tua Halomoan Sinaga, dan ibunda Adelina boru Napitupulu (saat ini masih aktif melayani sebagai Ketua Ina Hanna, kaum janda, di HKBP Petojo) mendidik Cahaya dengan disiplin dan kesukaan belajar.

“Ayah mantan seorang tentara angkatan darat, ibu seorang bidan, perempuan yang berjuang di jalur kesehatan. Orangtua mengajarkan kami nilai-nilai agar kami sungguh-sungguh disiplin dan belajar. Orangtua sejak kecil terbiasa membacakan cerita untuk kami. Kami terbiasa dengan buku-buku, ketika masih kecil-kecil kami dijadwalkan ke toko buku, ke perpustakaan, ke musem. Kami terbiasa mengadakan lomba puisi dan lomba tulis. Semangat kecintaan pada negara, Ayah selalu meminta kami untuk ikut pramuka. Lalu, kita diajarkan semangat berbagi, apa yang bisa kita bagi dengan orang lain. Baru sekarang saya tahu manfaatnya,” ujar anak pertama dari enam bersaudara ini.

Mapan dan matang dalam hidup membawa Cahaya ke pelayanan. Harus memberi dampak seperti namanya, menjadi cahaya. “Para pendengar kami juga suka dengan masalah sosial, membantu.” Sebagai direktur radio, Cahaya menggabungkan idealisme dan bisnis para pendengar dengan membangun jejaring sosial. Cahaya juga kerap melibatkan para pendengarnya untuk terlibat dalam pelayan. Salah satunya seperti aksi mengalang bantuan dari pendengar untuk membantu tiga sekolah pendidikan anak usia dini (PAUD) di Samosir Sumatera Utara. Itulah yang dia lakukan beberapa waktu lalu. Cahaya lahir di Medan, namun besar di Semarang, tetapi dia sangat peduli pada alam Samosir, kampung halaman ayahnya dari desa Lontung, Kabupaten Samosir.***Hotman J. Lumban Gaol

Iklan

Syech Ali Akbar Marbun


Siapa sesungguhny Syech Ali Akbar Marbun? Dia lahir di desa Siniang Kecamatan Pakkat Kabupaten Humbang Hasundutan, letaknya kira-kira lebih kurang 28 kilo meter dari kota Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah, atau 280 kilo meter dari kota Medan. Dia adalah anak ke 7 dari 8 bersaudara, ayahnya Buyung Marbun dengan ibunya Hj. Chadijah br. Nainggolan (meninggal pada usia + 105 tahun) adalah petani dan orang yang taat beragama Islam.

Pendidikannya dimulai dari Sekolah Dasar, setelah tamat, melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama (SMP). Karena sewaktu belajar di sekolah umum tidak mempelajari ilmu agama, maka setelah tamat dari SMP dia pergi ke Bedagai Sei Rampah untuk belajar Al-Qur’an dan Ilmu Fiqh kepada Khalifah Umar yang terkenal dengan kalimannya di daerah Tanjung Beringin Serdang Badagai. Setelah belajar satu tahun kepada Khalifah Umar, beliau melanjutkan belajarnya kepada Syech Baringin Zainal Abidin seorang Alim dan Keramat dari Sei Senggiling Tebing Tinggi dan Syech Faqih Kayo dibidang Tauhid dan Taswwuf serta mengambil Tarikat Samaniyah selama lebih kurang satu tahun.

Selanjutnya beliau belajar ke Pesantren Musthafawiyah Purba Baru Tapanuli Selatan, salah satu pesantren tertua dan terbesar di Sumatera Utara yang didirikan oleh Syech Musthafa Husain Nasution yang pada waktu itu dipimpin oleh H. Abdullah Musthafa Nasution dan guru besarnya Syech Abdul Halim Lubis yang terkenal dengan sebutan Tuan Naposo.

Sambil belajar di Pesantren Musthafawiyah beliau juga belajar kepada seorang Alim dan Kramat Syech Abdul Wahab di Muara Mais dan Syech Abdul Majid Tambangan Tonga seorang ulama yang terkenal dalam bidang Fiqh, beliau-beliau ini semua belajar di tanah suci Mekkah dan tinggal di Tapanuli Selatan.

Selama belajar di Pesantren Musthafawiyah sewaktu libur Pesantren, beliau pergi ke Propinsi Sumatera Barat tepatnya di kota Bonjol kepada Tuan Syech Muhammad Said seorang Alim dan Keramat dan pengikut Tarikat Naqsyabandiyah.

Setelah belajar di Pesantren Musthafiyah selama 4 tahun, pada tahun 1969 Syech Ali Akbar Marbun menunaikan ibadah Haji ke Mekkah dengan menumpang kapal laut Ambolombo selama 2 minggu.

Setelah menunaikan ibadah haji, beliau tinggal bermukim di Mekkah untuk belajar. Mula – mula belajar di Masjidil Haram, karena pada masa itu Para Ulama terkemuka ramai mengajar di Masjidil Haram. Disanalah beliau belajar kepada Al-Fadhil Al-Alim Sayyid Alawi bin Abbas Al-Maliki Al-Hasani, seorang alim dan terpandang di tanah suci Mekkah dan termasyhur dalam bidang Hadits. Dan juga belajar kepada Sayyid Amin Al Kutbi, Sayyid Al-Arabi, Syech Thaha Yamani, Syech Muhammad Hindi, beliau juga belajar kepada Sayyid Hasan Fad’aq, Syech Muhammad Nur Saif, Syech Thaha As Syaibi, Sayyid Hamid Al-Kaff belajar dirumahnya selama di Mekkah.

Beliau juga belajar pada Madrasah As Saulatiyah, salah satu Madrasah pertama yang didirikan di kota suci Makkah oleh Siti Saulatiyah seorang perempuan kaya dari India.

Setelah belajar + 4 tahun di Saulatiyah, beliau melanjutkan belajar ke Perguruan Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki Al-Hasani sampai pulang ke tanah air. Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki Al Hasani adalah seorang ulama terkenal di mancanegara ini, anak dari Sayyid Alawi Abbas Al-Maliki guru pertama Syech Ali Akbar Marbun. Baru tahun 1978 Syech Ali Akbar Marbun pulang ke Medan dan mendirikan Pesantren Al-Kautsar Al-Akbar.

http://alkautsaralakbar.com/?page_id=4