Ir. Texin Sirait


Ir. Texin Sirait, MM, pendiri PT Prakarsa Enviro Indonesia (Prakindo)

“Bisnis Pengelola Limbah, Ingin Menjadi Saluran Berkat”

foto Profil_Texin SiraitAir adalah sumber kehidupan. Dengan air semua makhluk bisa hidup. Namun, peradaban yang maju nyatanya tidak diimbangi dengan pelestarian lingkungan, menjaga jaga kebersihan air. Rusaknya hutan karena pengundulan pohon resapan air. Belum lagi limbah industri yang mengandung kimia dibuang begitu saja ke sungai, sehingga sungai-sungai tercemar. Ditambah pembuangan sampah di saluran air. Tak heran, akumulasi kerusakan itu membuat erosi dan banjir.

“Dulu, puluhan tahun sungai-sungai masih bening, jernih airnya.  Air mineral itu sesuatu yang mewah. Sekarang, di kota misalanya masyarakat umumnya menggunkan air mineral. Tidak berani lagi masyarakat mengunakan air ledeng atau sungai untuk dimasak,” ujar Ir Texin Sirait, pengusaha yang berbasis pemeliharaan lingkungan, ini. Perusahaannya memproduksi alat untuk mengelola limbah menjadi air yang tidak merusak, hingga menjadi air yang bisa dikonsumsi. Skalanya bisa perumahan atu satu wilayah.

Belajar dari pengamatan pentingnya air yang bersih itu, untuk hajat hidup manusia, Texin tergerak mendirikan perusahaan pengelolaan air. “Intinya, kita punya visi meningkatkan kualitas manusia dengan mengelola limbah untuk lingkungan yang lebih baik,” ujar Texin.

“Saya ingin bermakna bagi orang lain. Saya punya harapan, ingin menjadi saluran berkat bagisebanyak orang. Ide awalnya, bahwa komitmen kami untuk membangun kimitraan yang sinergis dengan seluruh holder,” ujarnya sembari menambahkan “Menjalankan bisnis yang mampu bersaing dan aktif membangun lingkungan, utamanya dalam bidang pengelolaan air bersih.”

Pria kelahiran Tanah Jawa, Simalungun, Sumatera Utara pada 15 Mei 1957, adalah lulusan Institut Teknologi Bandung pada tahun 1984, jurusan teknik kimia. Kemudian menempuh pascasarjana, Magister Manajemen dari Institut Pengembangan Pengusaha Indonesia di Major Manajemen Keuangan, tahun 1996. Insyniur dari teknik kimia ini, memulai karir sebagai dosen tamu di Institut Nasional Sains dan Teknologi ISTN, Bandung.

Satu tahun menjadi dosen, lalu mulai menjejakkan kaki, bekerja di sebuah perusahaan minyak dan gas. Tahun 1985, tepatnya di bulan, Texin diterima menjadi Insinyur lapangan Johnson di Schlumberger Flopetrol Balikpapan. Bosan dengan tantangan yang ada. “Hidup pada zone nyaman juga tidak baik. Gaji besar, tetap tidak ada makna yang kita serap, dan lagi lingkungan yang tidak mendukung. Saya keluar dari perusahaan,” Texin member alasan. Pada 1994, Texin Sirait bergabung dengan salah satu perusahaan swasta nasional yang dipercaya untuk bisnis lingkungan.

Texin terus mengekplor kemampuannya, di tahun itu juga, dia menemukan salah satu teknologi pengolahan air limbah dari Kanada. Kemudian, dia memodifikasi mesin tersebut yang diberi label Rotating Kontraktor Biologi (RBC). Sambil bekerja Texin tidak lupa mengembangkan diri. Terus menaiki anak tangga, membuat kehidupannya dinamis.

Sepertinya sudah jalan hidupnya, sepanjang kariernya, sebelum mendirikan perusahaan sendiri Texin selalu bekerja dijalur berbasis sanitasi, limbah dan pengelolaan lingkungan. Memulai karir di bidang pemasaran dengan Sales Engineer di Diversey Kimia, telah menjadikannya ahli dalam salah satu perusahaan konsultan PT Ciprocon. Tak puas hanya di situ, Texin kemudian kembali untuk mengejar karir di bidang pemasaran di Drew Chemical Ameroid. Dari sana kemudian bergabung ke PT Guna Elektro.

Tahun 2001, seiring perkembangan PT Guna Elektro, Texin membangun kemitraan dengan ITB dan Drew Ameroid. Dari sana dia bergabung dengan PT Kastraco Teknik, sampai akhirnya pada tahun 2002 memutuskan untuk mendirikan perusahaan sendiri, PT Prakarsa Enviro Indonesia  (Prakindo) bersama-sama rekan-rekannya semasa di PT Guna Elektro.

Melihat perkembangan perusahaan Prakindo, Texin Sirait kemudian memutuskan untuk menyerah jabatannya di PT Kastraco Teknik, dan lebih konsentrasi mengembangkan PT Prakarsa Enviro Indonesia yang dia dirikan. Diawalnya Texin memimpin langsung perusahaan ini. Seiring berjalannya waktu dia kemudian memberikan tampuk komando pada Ir Luhut Tunggul Sianturi sebagai Direktur Utama.

“Sampai sekarang sekarang ini, sejak berdiri tetap menunjukkan kenaikan, termasuk dulu hanya beberapa orang, kini sudah puluhan orang. Sebenarnya perusahaan ini mempekerjaan 500 orang karyawan. Ketika itu ada proyek tahunan di Pekanbaru,” ujar Luhut saat mendampingi Texin.

Sudah menjadi cerita umum, setiap usaha yang dibangun selalu ada kurva pluktuatif. Naik turunnya perusahaan menjadi motivasi bagi Texin untuk maju terus. “Tak ada jalan mulus menuju puncak gunung, selalu terjal dan berkerikil. Tidak jalan mulus menuju keberhasilan,” ujar Texin memotivasi. Pernah, satu waktu pesanan yang meningkat, tetapi sulit terpenuhi karena modal yang terbatas.

Tetapi itu hanyalah kenangan yang menjadi cerita yang menyenangkan, kalau mengingat getirnya membangun perusahannya hingga bisa eksis seperti sekarang ini.  Kegetiran itu sudah dilalui. Permintaan pengolahan limbah pun terus meningkat,” kata Texin. Dia masih ingat saat memulai perusahaan ini, menggandeng rekannya satu almamater Tiasning Agus Setiani, Eko Yulianto, Luhut Tunggul Sianturi untuk mengembangkan bisnis pengolahan air limbah.

Jatuh bangun dalam meniti usaha merupakan hal yang biasa, tetapi banyak yang baru sekali jatuh dan tidak bisa bangkit lagi. Tapi Texin dan timnya tidak demikian. Jatuh, bangkit lagi. “Sedikit orang yang mampu bangkit meski berkali-kali jatuh dalam membangun usahanya. Kita sempat juga kewalahan untuk menggaji karyawan, tetapi sekarang sudah menunjukkan tanda-tanda kemajuan,” ujarnya berbagi, pentingnya semangat bertahan.

Sukses seimbang

Permintaan pengolahan limbah makin tinggi. Bahkan sebagian tidak bisa dicaver karena saking banyak order untuk membuat alat pengelolaan air, produk yang diproduksi perusahan Texin. Namun, seiring waktu perusahaannya makin berkembang, dari hasilnya, pada 2003, bisa didirikan gedung sendiri diberi nama Graha Prakindo, Villa Galaxi, Bekasi.

Permintaan pun semakin tinggi dan membutuhkan modal usaha yang besar. Beruntung pada 2005, Texin mengenal PT Astra Mitra Ventura (AMV), anak usaha Astra grup yang memberi pinjaman kepada pelaku UKM. Pinjaman pertama sebesar  50 juta rupiah hingga menyentuh batas maksimal plafon kredit 15 miliar rupiah.

Menurut Texin, perkenalan dengan perusahaan AMV juga merupakan tangan Tuhan, yang dia maksud, ketika dirinya tengah bertahan keras dalam persaingan di bisnis pengolahan limbah ini. “Perusahannya bisa berkembang pesat karena pendampingan dari AMV. Saat ini sudah ada lima anak usaha Prakindo. Di antaranya, PT Prakarsa Etsa Utama sebagai anak perusahaan yang mendukung kegiatan bisnis PT Prakindo khususnya dalam karya fabrikasi baja dan pengadaan panel kontrol.”

Sudah banyak makan asam-garam, pengalaman mengelola usaha membuatnya makin lawas dan paripurna. Sukses baginya harus seimbang. Sukses membangun bisnis, sukses juga di keluarga. Sukses juga di bidang rohani. Ayah satu anak ini mengerti atas sukses yang seimbang. Sebelumnya Texin, adalah majelis di GKI Agus Salim, Bekasi. “Sekarang tidak lagi majelis, istri yang majelis. Karena di GKI majelis itu ada periodenya. Kami sepakat dengan keluarga,” terangnya.

Alih-alih  mendirikan perusahaan sendiri juga karena dulu, ketika masih majelis, sering kali kalau mau rapat saya harus mengajukan izin. “Berkali-kali perasaan makin tidak enak kalau mint izin ke gereja. Salah satu alasan saya mendirikan perusahaan untuk menjadi saluran berkat. Tetapi soal kebebasan waktu, kita harus permisi kalau mau rapat di gereja,” Texin memberi alasan.

Membangun perusahaan ini juga, kata Texin, karena terbetik makna kata compeni. “Compeni sebenarnya dari bahasa Latin yang artinya mengumpulkan roti untuk makan bersama-sama. Perusahaan ini juga didasarkan pemikiran itu, berusaha bersama-sama dan makan bersama-sama,” ujarnya tertegun.

Maka, alasan itu, Texin bersama istrinya Rumanti Yuliasih,  dan Heru Indriyatno mendirikan PT. Prakarsa Enviro Indonesia (Prakindo) pada 21 Juni 2002. Kegiatan perusahaan awalnya dijalankan di rumah, Pondok Pekayon Indah, Galaxi, Bekasi. Kamar rumahnya disulap menjadi ruang kerja yang disekat dengan kain, komputer bekas dan peralatan kantor bekas dipakai karena keterbatasan modal, ketika itu.

Keseimbangan hidup dipahaminya berbagai dan melayani. Dia adalah Ketua Yayasan Dian Kencana Indonesia yang menaungi Sekolah Tinggi Teologia Elohim, Malang, Jawa Timur. Sekolah ini tempatnya menunjukkan komitmen pelayannya. “Semua mahasiswa berasal dari desa-desa. Jadi mereka tidak punya dana. Praktis yayasanlah yang membiaya dari proses kuliah hingga kebutuhan sehari-hari mahasiswa. Saat ini mahasiswanya ada sekitar 60 orang,” kata Texin. ***Hotman J. Lumban Gaol

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s