Betty Julinar Sitorus


Betty Julinar Sitorus

Betty SitorusSosok Perempuan Pejuang Pembangunan Gereja

Wahid Institut sejak tahun 2009 menunjukkan peningkatan terhadap kekerasan agama. Kasus pelanggar, penutupan rumah ibadah malah juga sering dilakukan aparat negara. Tak jauh-jauh, Satpol PP, yang beberapa waktu lalu membongkar paksa pembongkaran gereja HKBP Setu. “Banyak kasus penutupan ibadah dilakukan atas tekanan massa terhadap pemerintah daerah. Olehnya kita harus cerdas, kita harus berarti melawan segala ketidakadilan,” ujar Betty Sitorus.

Sosok perempuan di balik pendirian gereja HKBP Cinere, ini. Tatkala HKBP Cinere membangun, mendapat tekanan dari pemerintah kota Depok. Sebagaimana awalnya, HKBP Cinere, Pangkalan Jati yang berdiri pada tahun 1980. Pada awal berdirinya, jemaatnya berjumlah kurang lebih 11 kepala keluarga, yang tinggal di Kompleks Hankam, Kompleks TNI AL Pangkalan Jati dan Perumahan BPK Gandul. Kebaktian hari minggu pada mulanya diselengarakan di rumah salah seorang keluarga. Tetapi, ketika hendak membangun gedung gereja proses izinnya berbelit-belit. Lama sekali dikeluarkan. Yang lucu setelah surat IMB juga keluar malah dilarang dibangun.

Lalu, alasan pencabutan IMB oleh walikota waktu itu? Adalah karena masih dalam masa tenang pemilihan walikota. Sebenarnya berawal dari tanggal 27 Maret 2009, Walikota Depok Nur Mahmudi Ismail menyatakan mencabut IMB Tempat Ibadah atas nama HKBP Pangakalan Jati Gandul yang beralamat di Jalan Puri Pesanggarahan IV Kav NT-24 Kelurahan Cinere Kecamatan Limo, Kota Depok, Jawa Barat. Padahal, sebelumnya HKBP telah mendapatkan IMB yang diterbitkan Pemerintah Kabupaten Bogor dengan Nomor 453.2/229/TKB/1998 tanggal 13 Juni 1998.

Betty mengatakan, dasar pencabutan IMB melanggar konsitusi. Bagi Betty, itu bukan alasan. “Kita harus berani berjuang untuk melawan kesemena-menaan apara terhadap gereja.” Hakikat yang kita mau tunjukkan adalah bahwa perempuan bukan makhluk yang lebih lemah? Bagi dia, semangat untuk tetap tabah dalam berjuang mendirikan dan memenuhi semua prasyarat yang dibutuhkan, itu perlu. Karena itu dia tak jengah, bersama jemaat lain terutama perempuan bergerak dengan inisiatif melakukan pendekatan terhadap semua warga. Sebelumnya, Gereja HKBP Cinere, yang berada di Jalan Bandung, Perumahan Cinere Indah, diawal-awalnya mendapat penolakan. Sesungguhnya bukan dari warga perumahan, tetapi di luar perumahan. “Kita heran, malah ketika kita bertemu dengan lurah dan camat kita temukan bahwa warga yang demo itu bukan dari wilayah Cinere.”

Penutupan gereja ini sempat menjadi berita nasional, karena diberitakan oleh media nasional. Ketika sang walikota mencabut izin, Betty dan timnya sebagai panitia pembangunan membawa ke pengadilan dan menang di tingkat PTUN, Bandung. “Bagi kami, jemaat Gereja HKBP Cinere, ini merupakan awal yang bagus, meskipun para oknum yang tidak setuju juga tidak kalah ngotot ingin mengajukan banding. Kami pantang menyerah dan terus akan memperjuangkan keadilan sampai titik darah penghabisan,” tegas ibu tiga anak, ini.

Perempuan kelahiran Pemalang Siantar, 11 Juli 1954. Bernama lengkap Betty Julinar Sitorus. Namun pendidikan yang ditempuhnya tahun 1959 hingga 1960 TK Katolik-Salatiga, Jawa Tengah. Pendidikan Sekolah Dasar Kristen Paulus, Bandung. Juga Sekolah Menengah Pertama Kristen I Bahureksa, Bandung. Sekolah menengah atas di sekolah Kristen Dago, Bandung. Sekolah Menengah Atas PSKD I, Jakarta Pusat. Sementara sarjana dia raih dua disiplin ilmu. Pertama, 1974 hingga 1975 menempuh pendidikan di Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia, Jakarta. Dilanjutkan tahun 1976- 1982 mengambil S1 jurusan Antropologi Universitas Indonesia, Jakarta.

Betty terus mengasah diri dengan mengikuti berbagai pelatihan dan seminar diantaranya; pernah mengikuti traning Rahasia Sejarah Penebusan Yang Tersembunyi, Juli 2011. DI tahun yang sama mengikuti seminar dari Haggai Institut. Tahun 2012, dia mengikuti Confreence Universal Peace Federation (UPF) di Thailand selama 3 hari. Anggota dari Ambasador for Peace Interreligious  and Internasional Federation for World Peace. Selain itu dia juga pernah menikuti Organizing Commitee for Peace on Inovative Approach to Peace Leadership dan Good Governance yang berkerja sama dengan UPF dan Departemen Agama.

“Awalnya kita dilarang membangun padahal sudah mendapat izin. Sebagai ketua panitia, saya yang langsung menyurati dan mendatangi kantor walikota. Dua kali kita surati tetapi tidak diberikan kesempatan bertemu, malah setelah surat kedua itu. IMB dicabut. Bagi kami ini penghinaan, ini benar-benar tidak masuk akal,” jelas Ketua I Panitia Pembanguna HKBP Cinere, ini.

“Kami membuat tim doa. Lalu, kami awali dari tiga perempuan memulai mendatangi warga perihal permohonan tandatangan warga. Hampir semua merespon menandatangan, karena kita dengan baik-baik menjelasakan kita mendirikan gereja. Memang ada yang tidak banyak,” ujarnya. Dia masih ingat penjagaan ketat aparat tersebut dikarenakan ada aksi massa terhadap pembangunan Gereja HKBP Cinere.

Awal keterpanggilannya menjadi panitia pembangunan, tatkala keluarganya pindah dari Rawamangun ke Cinere. Gereja yang sekarang berdiri hanya sepelemparan batu dari rumahnya. “Awalnya, sejak baru pindah dari Rawamangun, saya melihat dari rumah saya, di tanah yang sekarang gereja berdiri. Dan, memang setelah dilihat di peta perumahan nama gereja itu sudah ada di master plan perumahan. Saya sudah melihat penglihatan, kelak akan berdiri gereja di sana. Awalnya merasa terpanggil?”

Terjun pelayanan

Memulai karier menjadi Pemimpin Redaksi “Bulletin IKA” Antropologi Universitas  Indonesia. Pernah menjadi assisten dosen untuk mata kuliah Antropologi. Sembari pengurus Pengurus PKK Kelurahan, di Rawamangun. Karena pasih berbahasa inggris membawanya menjadi pengajar Pengajar di Lembaga Pendidikan Bahasa Inggris untuk anak-anak tingkat SD dan SMP. Pengalaman kerjannya bukan hanya itu, dia juga Ikut serta dalam Pameran “The International Furniture dan Handy Craft Exhibition, yang diadakan yang diadakan di Messe Frankfurt, Jerman dan ke Ambiente Frankfurt, Jerman.

Keterlibatannya di dalam oraganisasi membawanya pada pengenalan terhadap pentingnya kepedulian itu ditumbuhkan. Keterlibatannya dalam pelayanan sosial sudah dimulainya sejak muda. “Saya suka berbagi, ikut organisasi. Karena itu di sanalah kita banyak bertemu dan share dan berbagai dengan orang lain,” katanya lagi. Keterlibatannya dari pelayanan di zending HKBP Resort, Jakarta Selatan. Kemudian, dia juga ikut membantu dan mendidik anak-anak yatim piatu Yayasan Pintu Elok di daerah Pamulang, Serpong, Tangerang Selatan. Juga di Perempuan Untuk Perdamaian sebagai anggota.

Tak hanya itu, dia juga menjadi aktivis adalah kerinduannya. Karena itu, dia juga terlibat di Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan TNI Angkatan 45 (FKPP TNI Angkatan 45). Kompleks Siliwangi, Jakarta. Di organisasi ini dia bertindak sebagai pengurus. Lalu juga ikut juga berkecimpung di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Komunitas Si Jabrik Kayu Manis, Jakarta. “LSM ini menangani anak-anak dari keluarga ekonomi lemah. Bertindak sebagai Pelatih dan Kontributor materi pendidikan.”

Sejak lulusan dari antropologi Universitas Indonesia ini, selain di dunia sosial, dia juga juga tetapi aktif melayani di alumninya, aktif di angkatan Kekerabatan Antropologi di Universitas Indonesia (IKA-UI). Di Yayasan Forum Kajian Antropologi Indonesia (FKAI).  Selain itu, aktivis Sosial dalam Gereja HKBP Ressort, Jakarta Selatan sejak tahun 2002 hingga sekarang ini. Betty, juga aktif memberikan konsultan untuk penyembuhan penyakit Kanker. Pelayanan ini sudah dia kerjakan sejak tahun 2005 hingga sekarang.

Di gereja Betty melayani sebagai penetua HKBP, Pangkalan Jati, Cinere, Jakarta Selatan, sejak tahun 2004 hingga sekarang. Di gereja, selain menjadi penatua, dia adalah Wakil Ketua I Panitia Pembangunan Gereja HKBP Cinere, sejak tahun 2007 hingga sekarang. Dan pernah menjadi ketua Panitia Penyelenggara, pada Februari 2011 lalu saar pementasan “Drama Musikal” HKBP Cinere di Taman Ismail Marzuki (TIM) Cikini, Jakarta Pusat. “Orang-orang yang berjuang untuk satu cita-cita, apapun itu, termasuk dalam mendirikan rumah ibadah harus ada orang yang mau berkorban. Berani mengorbankan kehidupannya untuk cita-cita mulia,” ujar anggota Forum Komunikasi Kristiani (FKK) Cinere, ini.

ditulis, Hotman J. Lumban Gaol

Iklan

6 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s