Pdt. Ev. Renatus Siburian


AWAN gelap yang menggelayut di atas Kota Pematang Siantar. Alam juga masygul, turut pilu merasakan berpulang kepangkuan Bapa di sorga, seorang penginjil besar ephorus sekaligus pendiri Gereja Pentakosta Indonesia. Gereja yang didirikannya sendiri hanya dari desa kecil, yang kemudian bertumbuh menjadi sinode besar hingga ada di kota-kota besar di Indonesia. Hari itu, hari Sabtu, 20 Juni 1987 dia menghembuskan nafas terakhir. Selesai sudahlah tugasnya di dunia, yang telah mengabdikan dan menunaikan tugasnya sebagai pembawa berita Injil.

Selama di dunia mungkin Tuhan melihat hidupnya berkeluget-keluget menyebarkan Injil. Jalan yang sudah ditempuhnya sungguh panjang. Hari itu, persis di umur 72 tahun. Tuhan memanggilnya untuk beristirahat tenang dari jerih lelah selama ini. Berita meninggalnya sang evangelis itu, dengan cepat menyebar bukan saja di sekitar Kota Pematang Siantar-Sumatera Utara (sebagai pusat dari gereja yang dirintisnya). Tetapi berita itu juga sampai ke berbagai penjuru wilayah di Indonesia. Suasana tangis, haru, sedu, susah hati perasaan mereka, para pelayat bercampur baur atas berita meninggalnya sang penginjil. Ditangisi karena karyanya dan tugas panggilannya, sebagai jalan mulia membawa jiwa-jiwa mengenal Kristus. Dari berbagai penjuru hadir memberikan penghormatan terakhir.

Bukan hanya pejabat daerah yang hadir, tetapi juga para tokoh-tokoh. Baik tokoh gereja dari berbagai aras nasional datang, dan tokoh politik nasional. Karena memang selain tokoh gereja, dia juga pendiri organisasi masyarakat Organisasi Karyawan Umat Pentakosta Indonesia yang disingkat OKUPI, pendukung Golongan Karya. Sebagai seorang tokoh gereja juga, pada masanya ikut memberi andil pada kemajuan gereja di Indonesia, utamanya di Sumatera Utara. Maka, tak mengherankan jika yang hadir, kala itu, diperkirakan berbondong puluhan ribu orang datang untuk melayat, berbelasungkawa. Mereka datang dari berbagai penjuru, untuk memberikan penghormatan terakhir kepada yang mereka sebut, sang evangelis, pendeta, guru, ompung, sahabat, tokoh gereja.

Berbagai panggilan disematkan padanya. Terutama para rekan dan orang-orang yang pernah mendengarkan khotbah-khotbahnya. Juga, orang-orang yang pernah berinteraksi langsung dengannya. Jasatnya sebelum dikubur, terlebih dahulu disemayamkan selama empat hari tiga malam. Pernyataan turut berbelasungkawa ditandai juga banyaknya karangan bunga dari berbagai pihak. Iringan doa penghormatan terakhir mengingatkan puluhan ribu orang pada sosok hamba Tuhan yang semasa hidupnya telah dibentuk bagai bejana, dan kemudian dipakai Tuhan menjadi penyambung kabar kesukaan, pemberita Injil.

Wajar tangisan, haru dan simpatik dari para pelayat. Bukti yang mengungkap kadar dampak yang pernah diberinya semasa hidup. Namun, walau jasatnya kembali ke tanah, semangat dan pikiran-pikirannya tentang penginjilan tetap kuat berpengaruh hingga kini, hinggap sampai ke liang sanubari para sidang jemaat Gereja Pentakosta Indonesia. Dia yang dikenal sebagai sosok pribadi yang konsisten.

Seorang yang berani mempertahankan apa yang menjadi keyakinannya akan pentingnya menjangkau jiwa-jika bagi Tuhan-Nya. Terkadang, karena saking kuatnya mempertahankan pendapat dia sering disebut si guru dok, atau parhata sada. Dia yang dikenal seorang yang memengang teguh prinsip, pendirian, diktum hidup. Atas kematiannya “tokoh apostolik,” membangkitkan kembali ingatan pada kisah hidupnya di masa lalu.

“Parmahan” dari “Sipenggeng” Mengenang sang perintis Gereja Pentakosta Indonesia yang dimulainya di sebuah kampung, mengingat muasalnya. Tersebutlah satu hamparan alam yang maha indah. Desa yang tak pernah terlihat di peta itu, persis berada di atas bukit di bibir Danau Toba desa bernama Sipenggeng, di Kecamatan Paranginan, Kabupaten Humbang Hasundutan, Provinsi Sumatera Utara. Di alam Paranginan, rupa-rupa kebun kopi, keminyan dan hamparan ladang, sawah yang luas membuat wilayah ini menjadi kampung yang amat indah dipandang mata. Siasat para penghuninya menyingkapi kehidupan, mangula dengan menggarap tanah yang subur nan indah.

Hari-hari membawa wilayah ini dikenal sebagai kampung yang amat ramah dan tenang. Kecamatan Paranginan, sebelumnya hanya satu desa kecil. Sebagaimana umumnya di wilayah Humbang-Batak Toba, dari empat ratusan marga yang ada, masing-masing memiliki asal muasal yang disebut Bona Pasogit. Paranginan asal Bona Pasogit dari marga Siburian.

Siburian sendiri sebagaimana bagian marga yang lain berasal dari toga, group marga Simatupang punya anak tiga: Togatorop, Sianturi dan Siburian. Legendanya, awalnya, Toga Simatupang membuka kawasan perkampungan baru di daerah Kecamatan Muara di Kabupaten Tapanuli Utara, yaitu Desa Simatupang. Sementara anaknya yang paling bungsu, Siburian, katanya setelah banyak keturunannya bermigrasi ke Paranginan.

Di sana Siburian mendirikan perkampungan baru, setelah beberapa generasi menyebar hingga berbagai daerah ke penjuru wilayah. Paranginan tepatnya di huta Sipenggeng itulah lahir seorang bayi bernama Renatus Siburian pada 19 Oktober 1914. Dia dilahirkan dalam suasana tradisi dan alam budaya Batak yang terjaga ketat. Sebagaimana orang Batak punya sundut garis, atau nomor tingkatan dari garis keturunan marga. Renatus sendiri keturunan Siburian nomor ke-14, dari keturunan Siburian-Sihonongan. Itu berarti ayahnya nomor 13, anaknya nomor 15.

Renatus kakak-beradik tujuh orang, dia anak keenam dari pasangan Daniel Siburian dan istrinya boru Ompusunggu. Ayah Renatus adalah seorang Sintua, majelis gereja di HKBP Paranginan. Kakak tertuanya bernama Bileam, cerita sebenarnya bernama William, tetapi karena pengucapan yang salah jadi dipanggil Bileam, jadilah Bileam. Anak kedua adalah seorang perempuan bernama Naimasti, di kemudian hari dari cucu Naimasti inilah kelak orang yang pertama kali mendirikan Gereja Pentakosta Indonesia di wilayah Jakarta, bernama Sintua Mangasi Purba.

Anak ketiga ialah Pendeta Lukas Siburian, pendiri Gereja Pentakosta Jalan Lingga, Pematang Siantar. Anak keempat perempuan bernama Tiolina boru Siburian menikah dengan Pendeta J Rajagukguk, pendeta yang mendirikan Gereja Pentakosta Indonesia di Sumatera Timur, mereka digelari Ompu ni-Hannaria. Sebelum Renatus, anak kelima bernama Sapakua Siburian. Baru, anak keenam evangelis Renatus Siburian.

Anak ketujuh Nyonya Simamora boru Siburian. Di masa penjajahan Belanda dia dilahirkan. Di umur kanak-kanak dia sudah menunjukkan talenta sebagai orang hebat, cepat belajar, cepat berbicara. Sering disebut gartip, masih belia sudah pintar ngoceh. Walau lahir dan besar di sebuah desa yang jauh dari kota. Renatus tetap menunjukkan semangat belajar. Tak heran, kemampuan intelektualnya terasah dengan baik. Hal itu tidak lepas dari sekolah yang melecutnya sebagai anak didik yang lumayan bagus waktu itu.

Meski hanya status kampung, tetapi masa itu kampungnya sudah menjadi desa tergolong maju, memiliki seolah berpengantar bahasa luar. Maju selangkah di depan di banding dengan desa-desa lain di sekitarnya, karena di desa itu ada sekolah Elementary School (ES), berpengantar bahasa Inggris. Mengapa disebut ES? Sekolah dasar (disingkat SD; bahasa Inggris: Elementary School) adalah jenjang paling dasar pada pendidikan formal di Indonesia. Sekolah Dasar ditempuh dalam waktu 6 tahun, mulai dari kelas 1 sampai kelas 6.

Saat ini murid kelas 6 diwajibkan mengikuti Ujian Nasional (dahulu Ebtanas) yang mempengaruhi kelulusan siswa. Pada masa penjajahan Belanda, sekolah menengah tingkat atas disebut sebagai Europeesche Lagere School (ELS). Setelahnya, pada masa penjajahan Jepang, disebut dengan Sekolah Rakyat (SR). Setelah Indonesia merdeka, SR berubah menjadi Sekolah Dasar (SD) pada tanggal 13 Maret 1946. Disebut ES sebab memang sekolah ini berpengantar berbahasa Inggris.

Renatus menempuh pendidikan formalnya dari Tahun 1921 hingga Tahun 1930. Di sekolah ES Paranginan itu, guru-guru umumnya, lulusan dari Singapura. Pada masa itu hanya ada dua sekolah yang berpengantar bahasa Inggris. Satu sekolah di Paranginan dan satu lagi di Sigumpulon, Kecamatan Pahae. Sementara yang lain, waktu itu sekolah Hollandsch Inlandsch School setara sekolah dasar, berbahasa Belanda.

Lulus dari ES tersebut, Renatus kemudian melanjutkan ke pendidikan yang setara SMP sekolah Methodis English School selama tiga tahun. Sekolah ini tidak sampai tamat. Tetapi masa itu pendidikan sampai ke tingkat itu pun sudah tergolong tinggi. Masa bocah dilewatinya sebagai penggembala kerbau, parmahan. Berpetualang di hamparan alam yang sejuk, alam yang mempesona demikian indah untuk menggiring kerbaunya sudah biasa dia lakukan. Sebagai seorang gembala, cara nomaden di alam, mencari wilayah rumput hijau untuk peliharaannya.

Bergaul di alam bebas, mengasah hati dirinya kemudian hari muda sensitif dan peka terhadap keadaan. Selain aktif bergaul dengan sebantarannya, Renatus bahkan bergaul di atas umurnya. Pintar bergaul. Tetapi jangan dicoba- coba, berbuat iseng. Renatus kecil tidak mau menjadi bahan olok-olokan sepantaranya, dan memang sosoknya juga tidak suka berbuat iseng. Maka, kalau ada anak di atas umurnya memukul, berbuat iseng padanya. Renatus akan melawan, membalas memukul, tetapi dengan sigap lari untuk menghindar dari kejaran. Pembawaannya selalu riang. Dia dikenal anak yang selalu antusias. Pengalaman bergaul dengan teman- teman sebayanya, membawanya pada asah jiwa. Semasa kecil, di kampung pun Renatus selalu membagun persahabatan, termasuk pernah bergaul dengan Melanchton Siregar, walau hanya beberapa kali berjumpa.

Melancthon berasal dari Desa Pearung, di Paranginan juga. Meskipun usia mereka terpaut umur dua tahun, Renatus lebih muda dua tahun dari Melancthon, tetapi mereka bisa berbincang-bincang tanpa ada jarak, jurang pemisah. Hal itu bisa saja, karena Melancthon Siregar sendiri anak dari boru Siburian, dan juga menikah dengan boru Siburian, marga Renatus. Melancthon dikemudian hari adalah pemimpin perang gerilya di Tapanuli. Ada kesamaan pada keduanya. Pada awalnya keduanya meniti karier dari profesi guru, sebelum menemukan muara hidupnya. Sebagaimana Renatus, Melancthon juga seorang guru dulunya, sebelum kemudian menjadi politisi. Di kemudian hari Melancthon, politisi nasional ini dinilai berjasa dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Melancthon sendiri turut berperan dalam pembangunan demokrasi, politik, dan pendidikan nasional. Sementara Renatus sendiri juga pernah menjadi Guru Agama, sebelum menetapkan hati, menjadi penginjil. Kembali ke cerita huta Sipenggeng dan Renatus. Di desa itu, Renatus muda selain marmahan, juga selalu mengikuti tontonan opera. Masa itu, tontonan operalah tontonan yang paling mewah. Opera itu juga sebagai media penyebar semangat pejuangan melawan penindasan Belanda. Di opera itu juga sering ditampilkan cerita “margurilya” ditampilkan cerita perjuang seorang keluarga muda. Si suami berangkat bertempur melawan penjajah, bergerilya, harus mengusi.

Sementara si istri tinggal bersama putrinya bernama si “Butet” sambil mendendangkan lagu “Butet, di pagusian do amang, ale butet….” Pertunjukkan opera itu tanpa disadari juga memberikan semangat berkobar untuk berjuang, melawan penjajahan. Beranjak dari sering menonton, Renatus kemudian belajar memotori acara opera. Awalnya dimulai sebagai agen, penjual karcis untuk menonton. Dari sana dia banyak belajar mengelola, memanajemeni acara. Jiwa kemandirian itu amat kuat, walau masih remaja, kala itu dia bukan hanya menjadi agen menjual tiket.

Renatus juga memberanikan diri sebagai promotor acara, mengundang para pelakon opera itu untuk pentas di Paranginan. Bahkan, konon Renatus pernah mengundang Opera Batak, group Tilhang Gultom waktu itu untuk mengelar pertunjukkan. Dia sendiri mengajak anak-anak sebantarannya untuk menyokong suksesnya acara. Sementara yang masih kanak-kanak disuruhnya untuk manortor, menari membantu semaraknya pertunjukkan. Saat anak-anak menari-nari itu, semua penonton memberikan uang kepada anak-penari. Lalu uang tersebut dikumpulkannya, kemudian membayarkan honor para pelakon opera.

Sementara pendukung acara, anak-anak tadi dibaginya sepantasnya. Jiwa kemandiriannya, mengorganisir dan mempengaruhi orang sudah terlihat. Sebagai anak muda yang selalu cepat belajar. Selain itu, dari kebiasaan menonton-mensponsori acara-cara opera, Renatus diam-diam mengamati para pemain musiknya. Dari mengamati dan mulai mencoba yang kemudian terlatih. Bisa memiliki kemampuan bermusik, bahkan berteater bak aktor berakting.

Soal musik, musikalitasnya memuncak dengan menguasai hampir seluruh alat musik masa itu; dari gitar melodi, harmonika, suling. Selain itu, Renatus pintar main akordion, alat musik sejenis organ yang sering dia mainkan. Akordion sendiri adalah musik yang biasa digunakan masyarakat Melayu Deli. Akordion ini relatif kecil dan dimainkannya dengan cara digantungkan di badan. Lihai memainkan akordion, Renatus sebagai si pemusik memainkan tombol-tombol akor dengan jari-jari tangan kiri.

Sedangkan jari-jari tangan kanannya memainkan melodi lagu yang dibawakan. Dia sudah pada tingkat pemain yang sudah terlatih, sebab dapat berganti-ganti tangan. Renatus memiliki kesukaan mendengar, lalu mengamati setelah itu dipikirkan lagi. Segalanya, mendengar lalu mengamati. Itu sebab tatkala mendengar pemberita Injil, ketika dimulainya di Palembang mendengar khotbah Pendeta Siwi. Itu menghujam dalam pada loh hatinya. Apa yang didengarnya tentang akan akhir zaman, bahwa ujung dunia sebentar lagi akan berakhir.

Dipikirkannya dengan merenungkan hal itu. Dia makin tersentuh, dari mendengar dan kemudian membaca Injil. Dari kebiasaan merenungkan Firman Tuhan yang dia dengar, Renatus bertumbuh secara rohani, spiritnya menjadi seorang yang meneguhkan diri sebagai seorang pembelajar. Dari fase-fase itu, Renatus mulai mendeskripsikan panggilan melayani, memberitakan Firman Tuhan hingga maranatha terus bergelora.

Dari mendengar, kemudian mempelajari lalu mempraktekkannya, lalu terus-menerus hingga ke tahap mampu membuat orang yang mendengarnya merasa seolah-olah berada di tempat yang disampaikannya. Dari mendengar, dan membaca terus menerus, konsisten membaca Firman Tuhan, mengubah kelakuan dan tindakannya menjadi orang yang berubah total. Bertobat meninggalkan jalan yang salah, yang selama ini dia nikmati. Dari yang dulunya tidak terpikir menjadi penginjil. Panggilan itu terus tergiang-giang.

“Yesus Kristus telah membawa keselamatan, mari kita bergegas memperbaiki diri. Memperbaiki kelakuan kita. Sebab sebentar lagi Tuhan datang menjemput kita.” Pertemuan dengan pendeta Siwi membawanya pada pertobatan, menetapkan diri menerima panggilan menjadi penginjil. “Saya merenungkan Firman Tuhan Matius duapuluh depan ayat sembilanbelas sampai duapuluh yang menyuruh umatnya untuk memberitakan Injil.”

Ayat itu, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Rohkudus dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Ku-perintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Ayat itu memberikannya semacam gairah baru untuk mewujudkan panggilan melayani. Doa sungguh-sungguh, sejak itu membuat keputusan—komitmen menjadi penginjil, meminta Tuhan memberinya kekuatan untuk menjadi penginjil. Sejak itu, Renatus tekun membaca Alkitab, lalu makin biasa dan mampu menarasikan tokoh- tokoh Alkitab dengan baik.

Di kemudian hari, setelah lulusan dari sekolah Alkitab pun setelah menjadi seorang evangelis, dia makin bening bercerita, makin sistimatis menceritakan isi Alkitab. Termasuk cerita-cerita dan kisah-kisah yang baru dia baca, bisa lagi diceritakannya kembali dengan baik. Juga, oleh karena belajar teater di kampungnya, melatih dirinya olah vocal yang dikemudian hari setelah menjadi penginjil, maka biasa mengekpresikan, memainkan tokoh antagonis maupun protagonisnya di Alkitab. Itulah Renatus, parmahan di masa kanak-kanak, yang di kemudian hari menjadi gembala bagi banyak sidang jemaat Gereja Pentakosta Indonesia. Ditulis, Hotman J Lumban Gaol, editor buku.

Pdt. Ev. Renatus Siburian (1914-1987), Pendiri Gereja Pentakosta Indonesia (GPI)

Pelopor Gerakan Pentakosta di Tanah Batak

1-Halaman-1 GERAKAN Pentakosta dimulai sekitar tahun 1901. Gerakan ini diakui berasal pada waktu Agnes Ozman, menerima karunia berbahasa roh, glossolalia. Awalnya dilatari persekutuan doa di Sekolah Alkitab Bethel di Topeka, Kansas, oleh Parham, seorang pendeta yang berlatar belakang Metodis, merumuskan ajaran bahwa bahasa roh adalah bukti alkitabiah dari baptisan Roh Kudus. Gerakan Pentakosta yang dimulai di Amerika Serikat ini, telah juga merambah ke seluruh penjuru. Termasuk ke Indonesia.

Di Tanah Batak berdiri Gereja Pentakosta Indonesia (GPI) lahir dari pergulatan seorang guru agama, Renatus Siburian. Siapakah Renatus Siburian? Dia adalah seorang pendeta, penginjil, dan pendiri GPI. Pria kelahiran 19 Oktober 1914 di Kecamatan Paranginan, Kabupaten Humbang-Hasundutan, Provinsi Sumatera Utara. Meninggal di umur 72 tahun, tepatnya 20 Juni 1987. Di awal-awal mendirikan gereja, dia banyak mengalami keruwetan, cobaan hidup.

Tetapi semuanya dilaluinya dengan penyerahan diri total pada Tuhan-Nya. Dalam melayani, baginya, perjuangan salib selalu memberikan kekuatan dan jalan keluar. Dalam tugasnya sebagai penginjil pernah dia tidak melihat anaknya meninggal, sebanyak tiga kali, sebab kesibukannya untuk mengemban tugas yang dipikulkannya.

Renatus berfundamen pada Alkitab, orang yang berpendirian yang teguh. Bagi dia perlu menekankan pengalaman rohani pribadi. Baginya, punya pandangan terhadap dunia. Meskipun baginya sangat memperhatikan keyakinan yang benar, tetapi juga menekankan perasaan yang benar, dan dan tindakan yang benar. “Penalaran dihargai sebagai bukti kebenaran yang sahih, tetapi orang-orang Pentakosta tidak membatasi kebenaran hanya pada ranah nalar.”

Prinsip Renatus, bahwa Roh Kudus mengajar kita melalui Alkitab bahwa caranya adalah terus melayani. Bagi Renatus, peranan karunia-karunia Roh Kudus. Dia menekankan keyakinan akan peranan Roh Kudus dan karunia-karunia Roh Kudus di dalam kehidupan sehari-hari orang yang dimuridkan.

Dianggap tak lazim

Pergulatan iman dan pergulatan teologi, Pendeta Renatus Siburian menenguhkan dirinya merintis GPI. Hinaan dan segala macam hambatan tidak pernah menghalanginya untuk menyebarkan Injil. Bahkan, dia dituduh menyebarkan agama baru yaitu; agama Siburian.

Semula Renatus berpikir tak ada perlu membuka organisasi agama, yang penting adalah menyapaikan kabar baik, menginjil. Namun, apa yang terjadi, pergolakan batin melihat orang-orang yang telah ditobatkan, yang telah dibaptis jumlahnya sudah ribuan orang. Tidak mempunyai tempat peribadahan yang tetap. Akhirnya Renatus mendirikan Gereja Pentakosta Indonesia. Di mulai kampungnya, dari sana berkembang pesat.

Tahun 1942, Renatus mendirikan organisasi keagamaan yang dinamakan Gereja Pentakosta Tanah Batak Tapanuli. Ini dimungkinkan karena pada waktu itu adalah peralihan pemerintahan Belanda ke pemerintahan Jepang. Jiwa patriotismenya dia implementasikan pada semangat dalam kehidupan terus berjuang. Kemerdekaan bagi Renatus sangat mendalam sekali.

Pergulatan teologi Renatus, di awal-awal mendirikan GPI, dia dianggap menyebarkan ajaran lain. Sebab dia mengadakan parpunguan, kebaktian di rumah-rumah. Oleh masyarakat ketika itu, mencap GPI menolak ritual dan budaya Batak. Bahwa adat bagi Renatus lebih merintangi untuk kusuk berdoa. Itu sebabnya pengucilan itu terjadi pada Renatus dan terhadap anggota jemaatnya. Karena mereka dianggap manusia aneh, beribadah dengan tepuk tangan, berdoa dengan suara yang kuat, dan lebih mementingkan pekerjaan Tuhan.

Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) yang dipimpinnya, yang unik bahwa setelah KKR yang selalu diadakan di luar rumah misalnya di halaman, di lapangan terbuka dan di pasar-pasar umum. Dan sering pula diadakan tanya jawab tentang ajaran Pentakosta dan tentang isi Alkitab. Juga baptisan massal selalu diadakan di tempat terbuka, di sungai, di kolam maka tak jarang disaksikan oleh banyak orang.

Murid Patterson

Renatus menempuh pendidikan formal; Tahun 1921-1930 dari Sekolah Inggris. Tahun 1936  dia tamat dari Sekolah Alkitab Jalan Embong Malang, Surabaya. Guru yang paling membuatnya untuk teguh melayani adalah Pendeta W. Patterson. Setelah lulus dia menginjil dan membuka gereja di Berastagi, tetapi mendapat halangan dari Pemerintah Belanda karena besleit atau izin untuk menginjil belum juga keluar. Belakangan diketahui, terkait izin dari Gubernur Jenderal, Belanda, tidak diberi karena Renatus dicap sebagai nasionalis.

Sebelumnya menjadi pendeta adalah seorang guru agama, tahun 1939. Ruang penginjilannya selalu ditekan Belanda, maka Pendeta Siburian pindah ke satu kota kecil bernama Kisaran, dan bekerja sebagai guru agama di gereja Huria Christian Batak (HCB) satu gereja beraliran Protestan. Dengan demikian dia dapat melakukan kegiatan penginjilannya di sekitar daerah itu dengan gerakan Roh Kudus di daerah Asahan dan Labuhanbatu. Bahkan pada saat itu banyak orang yang dibaptis, termasuk beberapa anggota gereja HCB tadi.

Tahun 1941, karena merasa gerakan penginjilannya terbatas di daerah tersebut lebih sebagai guru agama HCB, maka dia menuju kota Balige di Tapanuli Utara, dan mulai mengadakan gerakan penginjilan di daerah tersebut. Kini, GPI berkembang dan menyebar di Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Papua.  Dari satu gereja yang didirikan di Paranginan, sekarang sudah ribuan gereja. Sekarang GPI punya sinode sendiri yang berjumlah 1117 gereja di hampir semua provinsi di Indonesia, bahkan dalam perkembangan selanjutnya, GPI telah mengembangkan misinya ke luar negeri.

ditulis, Hotman J Lumban Gaol

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s