Pdt. JAU Doloksaribu, MMin


Biodata:

Pdt. JAU Doloksaribu, MMin

Nama Lengkap: Jonggi August Uluan Doloksaribu disingkat  JAU Doloksaribu

Lahir di Porsea, Tobasa,18 Maret 1949

Orangtua:

Bapak Melanchton Doloksaribu

Ibu Heleria boru Sirait

Istri:

Romauli boru Hutajulu (menikah tanggal 4 Juli 1974)

Anak:

Empat Anak (3 laki-laki, satu perempuan)

(1)   Poltak Hasahatan Doloksaribu

(2)   Samuel Doloksaribu

(3)   Simon Joroan Doloksaribu (alm)

(4)   Debora Kristina boru Doloksaribu

Pendidikan:

Tahun 1968, lulus dari Fakultas Theologia Universitas HKBP Nommensen di Pematang Siantar

Tahun 1990, menempuh pendidikan pascasarjana, gelar Master of Ministry dari Trinity Theological College

 

Riwayat Pelayanan:

  • Dimulai vikaris di HKBP Binjai Medan.
  • Pendeta pembantu di HKBP Kemayoran Baru, Jakarta Selatan.
  • Pendeta Persiapan Ressort HKBP Kebayoran Selatan
  • Direktur Departemen Pemuda HKBP Pusat (2 periode)
  • Pendeta Ressort HKBP di Kota Medan
  • Praeses HKBP Medan Aceh, Tahun 1993-1998
  • Praeses HKBP Distrik Tebing Tinggi Deli dan Distrik Tapanuli Selatan, Tahun 1998-2004
  • Praeses HKBP Distrik XXI Jakarta 3, tahun 2004-2008.
  • Sekarang-memimpin jemaat HKBP Maranatha Rawalumbu, Bekasi.

Prestasi:

  • Memenangkan lomba mengarang lagu gereja tingkat dunia United in Mission (UIEM).
  • Pengalih bahasa paling banyak lagu-lagu gereja ke dalam bahasa Batak Toba
  • Pencipta Musik Box Gereja (MBG

Profil Pdt. JAU Doloksaribu, MMin

“Sejak Di Dalam Kandungan Ibu, Saya Sudah Dipanggil”

DSCN0215PERJALANAN hidup setiap orang tidak ada yang sama. Tetapi, pendeta yang satu ini akan mirip dengan perjalanan sang nabi di Alkitab. Semenjak di dalam perut ibunya sudah dinazarkan untuk dipakai Tuhan sebagai alat-Nya. “Sejak didalam kandungan doa ibu kepada Tuhan, agar satu saat nanti saya menjadi pendeta. Katanya, ini juga cerita ibu, sejak kecil masih umur dua tahun saya sudah meniru-niru gaya pendeta berkhotbah dan membaptis ketika bermain bersama anak-anak lainnya. Ibu saya selalu mengatakan itu, kau nanti menjadi pendeta,” kenang pria kelahiran Tobasa,18 Maret 1949 mengawali perbincangan.

Pemilik nama lengkap Jonggi August Uluan Doloksaribu, dikenal dengan nama Pendeta  JAU Doloksaribu. Anak pertama dari 15 bersaudara. “Sebenarnya 15 anak dari 2 ibu. Kami 15 orang kakak beradik. Saya anak pertama. Ibu kandung saya melahirkan 6 anak. Tetapi beliau meninggal, bapak menikah lagi dengan ibu kami yang sekarang boru Pangaribuan, beliau melahirkan 9 anak lagi,” kata pendeta asal Porsea, Tobasa, ini.

Gen sebagai pelayan, naluri aktivis gereja mengalir pekat di darahnya. Ayahnya, bernama Melanchton Doloksaribu bekas tentara Marsuse yang kemudian hari menjadi guru zending. Sementara ibunya Heleria boru Sirait juga dulunya aktivis gereja, pintar  bernyanyi, anggota Paduan Suara Pemuda Gereja (Naposobulung) dan kemudian menjadi guru paduan suara perempuan huria sampai akhir hayatnya. Ompungnya dari pihak ibu Nikanor Sirait, juga seorang bekas agama di sekolah.

Maka, begitu lulus SMA JAU langsung mendaftarkan diri ke Fakultas Theologia Universitas HKBP Nommensen di Pematang Siantar. Hasrat menjadi pendeta yang menjadi cita-citanya sejak kecil, sebagaimana nazar almarhum ibunya. Angkatan tahun 1968 dari Sekolah Tinggi Teologia Nommensen Pematangsiantar, ini, begitu lulus menjadi vikaris, calon pendeta praktek di gereja HKBP Binjai. Tak berselang lama kemudian diutus ke HKBP Simpang Limun, masih di kota yang sama Kota Medan.  Menikah di usia muda. Tergolong muda, umur 25 tahun, JAU mempersunting gadis pilihan ayahnya, Romauli boru Hutajulu. “Istri saya adalah pilihan bapak. Karena istri saya adalah bekas Sidi terbaik bapak saya. Bapak mengatakan itu pada saya. Bapak mengatakan, dialah (Romauli) yang layak mendampingimu (menjadi istri pendeta).”

Dari penikahan pasangan yang diberkati menjadi suami isteri pada tanggal  4 Juli 1974, Tuhan karuniakan empat anak. Tiga laki-laki dan satu perempuan. Anak pertama Poltak Hasahatan Doloksaribu, bekerja dan tinggal di Amerika. Anak kedua, Samuel Doloksaribu menikah dengan menantunya boru Naibaho, dari pernikahan mereka lahir dua anak Piter Kevin, 4 tahun, dan Stephani satu tahun. “Simon Joroan Doloksaribu, anak ketiga. Di umur 29 tahun Simon dipanggil Tuhan kehadapan-Nya. Tiga minggu berselang dia mau melangsungkan pernikahan, Simon dipanggil Tuhan ke pangkuan-Nya pada 3 November 2007.” Si bungsu, satu-satunya perempuan Debora Kristina boru Doloksaribu, belum menikah, “tetapi kalau Tuhan berkehendak tahun depan akan melangsungkan pernikahan.” Saat ini, Debora bekerja sebagai seorang advokat.

Dari vikaris hingga menjelang emeritus JAU menghitung berkat Tuhan, sudah hampir 40 tahun melayani sebagai hamba Tuhan. Suka dan duka silih berganti mengiringi perjalanan ompung dua cucu ini. Dimulai vikaris di HKBP Binjai Medan. Lalu, menjadi pendeta pembantu di HKBP Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Di sana banyak kendala yang dihadapi. Rumah tinggalnya di Jalan Fatmawati, Gang Sawo Atas Gandaria, Kebayoran Selatan. Berkali-kali dilempari orang-orang yang tidak bertanggung-jawab, bahkan mendapat teror. Akibatnya keluarga ini dipindahkan ke HKBP Kebayoran Lama. Dari sana menjadi Pendeta Persiapan Ressort HKBP Kebayoran Selatan.

Dari Kebayoran Selatan, JAU memenuhi panggilan melayani di kantor Pusat HKBP sebagai Direktur Departemen Pemuda HKBP Pusat. Jabatan itu disandangnya dua periode, sepuluh tahun. Masa ephorus, kepimimpinan Ephorus Pdt. G.H.M. Siahaan, dan masa Ephorus Pdt. Dr. S.A.E Nababan, LLD. Di masa kepemimpinan Ephorus S.A.E Nababan-lah, JAU disekolahkan ke Singapura mengikuti pendidikan pasca sarjana, menempuh gelar Master of Ministry di Trinity Theological College. Pulang dari Singapura dia kemudian menerima penempatan sebagai pendeta uluan, memimpin Ressort HKBP di Kota Medan, tepatnya di Jalan Jendral Sudirman No. 17 A, Medan.

Di Rutan Poltabes Medan

Tahun 1992-1998, ketika masa-masa HKBP bergejolak, dia bersama teman-temannya tampil menjadi penentang rezim yang mencoba mengobok-obok gereja. “Masa, militer mengangkat seorang Ephorus puncuk pimpinan tertinggi di HKBP. Hanya dengan SK dari Kodam II Bukit Barisan.” Inilah titik awal krisis yang terjadi di HKBP selama enam tahun. JAU mengobarkan semangat untuk melawan. Mendukung orang yang dijolimi dengan terlibat langsung sebagai gerakan Setia Sampai Akhir (SSA). “Saya memimpin demo karena seorang panglima Kodam II Bukit Barisan, mengangkat ephorus pimpinan tertinggi gereja HKBP melalui SK-nya. Krisis yang dialami HKBP pada waktu itu adalah salah satu wujud Pemerintahan yang otoriter dari rezim Soeharto yang menginterpensi gereja pada waktu itu,” ujarnya menyebut “Masa-masa genting HKBP itu, saat jemaat yang menentang interpensi pemerintah itu mendirikan parlape-lapean semacam tempat ibadah sementara bagi yang melawan pemerintah.”

Pada masa-masa inilah perjalanan hidup pelayanannya yang paling menegangkan. Apa yang dialami HKBP tempo lalu itu menyisakan banyak cerita baginya. Menggerakkan ribuan massa berdemo ke Kodam Bukit Barisan, membawanya diseret ke meja pengadilan yang akhirnya divonis satu setengah tahun penjara. “Saya membacakan eksepsi, surat pembelaan. Saya merasakan pertolongan Tuhan. Saya mendapat sokongan moral dari berbagai pihak. Bantuan hukum dari pengacara Sabam Siburian dan Garuda Nusantara (mantan anggota Komnas HAM), kala itu turut membantu.” (Pengacara, Sabam Siburian [alm], ayahanda dari Lisbert Siburian anggota DPRD Bekasi Kota dari Partai Damai Sejahtera).

Baginya, politik pemerintah terhadap HKBP waktu itu, sama saja seperti yang dilakukan Soeharto terhadap Nahdatul Ulama (NU) ketika dipimpin Gus Dur. JAU, setelah dibebaskan dari penjara, kemudian, tak beberapa lama berselang masih menjadi pendeta resort. Dari sana kemudian menjadi praeses. Tiga periode menjabat Praeses, yaitu: Pelaksana Praeses HKBP Medan Aceh, tahun 1993-1998; di HKBP Distrik Tebing Tinggi Deli dan Distrik Tapanuli Selatan, tahun 1998-2004; dan terakhir Praeses HKBP Distrik XXI Jakarta 3, tahun 2004-2008. Sekarang menjelang emeritus dia tetap terlihat bersemangat memimpin jemaat HKBP Maranatha Rawalumbu, Bekasi.

Dipenjara, tetapi kemudian dibebaskan. Menurutnya, sebagai pendeta sudah biasa. Apalagi dilempar dan ditimpuk batu, itu adalah konsekuensi yang yang harus diterima, katanya. Tahun 2007, masih hangat diingatan media, ketika jemaat HKBP Rajeg, Kotabumi, Tangerang, Banten dilarang beribadah oleh sekelompok massa intoleran. Aksi pelarangan itu bahkan diiringi dengan pelemparan batu ke rumah tempat beribadah. Saat itu, sebagai Praeses HKBP Distrik XXI Jakarta 3 JAU datang untuk memberikan penguatan semangat jemaat HKBP Rajeg. Tak pelak peristiwa itu memakan korban. Sesudah berkhotbah JAU kena timpuk batu, akibatnya pelipis pipinya bocor, darah mengucur. Dia dan beberapa jemaat mengalami luka-luka akibat terkena lemparan batu. Namun, peristiwa itu tak membuatnya undur. “Sebagai pendeta banyak hal yang saya lalui. Suka dan duka. Termasuk saat di HKBP Rajeg itu. Iya, saya dilempar batu. Tetapi tidak harus membuat saya undur.”

Musik box gereja

Tetap semangat dalam  pelayanan walau usianya sudah hampir 65 tahun. Justru dia berharap dirinya semakin dikuatkan dan bersemangat dalam melayani. “Selagi kita bernafas, masih ada waktu melayani.” Lalu, ditanya, apa yang urgen dalam pelayanan di kota saat ini? Sekarang ini, tugas pelayanan di gereja di kota makin berjubel. “Lam godang do angka tantangan namambahen sega moral ni jolma nuaeng on. Boasa songoni? Sekarang ini kita menghadapi Hedonisme. Kita tidak boleh menapikkan pergaulan bebas, narkoba, parjujion, sudena i angka pangalaho na manegai hadirion ni jolma. Karena itu, gereja terus berupaya, bahu-membahu membangun pelayanan untuk mengajak umat kembali kepada Tuhan.”

JAU profil pendeta yang kreatif, selalu proaktif memberdayakan seluruh potensi yang ada di gereja. Dia memiliki jiwa seni, musikalitasnya tinggi. Hal ini sudah menjadi habitusnya, sejak kecil bukan hanya belajar berkhotbah, umur 8 tahun dia sudah terbiasa memainkan musik orgen. Kesukaannya akan musik dibuktikannya dengan banyak mengarang lagu, termasuk lagu koor. Pernah juga dia memenangkan lomba mengarang lagu gereja tingkat dunia United in Mission (UIEM). Di “Buku Ende” kidung jemaat HKBP nama JAU Doloksaribu begitu mudah ditemukan sebagai pengalih bahasa dan mencipta lagu pada kidung pujian itu. Dia termasuk seorang pendeta penerjemah paling banyak lagu-lagu gereja ke dalam bahasa Batak Toba.

Baginya musik gereja harus dikembangkan. Oleh alasan itu, bersama adeknya St Drs Nurdin Doloksaribu, MSi, mereka menggagas Musik Box Gereja (MBG). Semua lagu-lagu gereja direkam di satu laptop, dan kemudian dari sana bisa memandu-mengiringi lagu, tanpa pemain musik. Sekarang ini sudah banyak persekutuan dan gereja-gereja menggunakan MBG ini. Ditanya soal peranannya MBG, turun menghilangkan semangat belajar musik  gereja, karena ada segelintir orang yang menyebut MBG mematikan kreativitas bermusik di gereja. “Jangan langsung kita berpikir negatif, bersikap reaktif. Berpikirlah positif. Justru MBG itu membantu pelayanan. MBG-lah menjadi penuntun pemusik untuk makin pintar. Pemusik yang mampu mengikuti MBG adalah pemusik yang andal, yang tidak mampu mengikuti masih abal-abal,” jawabnya.

MBG menjadi solusi atas kendala pelayanan musik pada setiap kegiatan kebaktian gereja yang ada saat ini. MBG menjadi salah satu solusi. Perangkat laptop yang menggunakan platform linux serta berfungsi khusus mengiringi nyanyian lagu. “MBG merekam lagu-lagu gereja sesuai dengan partitur yang resmi, baik yang dikeluarkan Yamuger atau Terbitan Lembaga Gereja lainnya. Iringan musik MBG disesuaikan dengan karakter lagu dan tema lirik sehingga ada berbagai tipe iringan musik  diantaranya: Orchestra Classic, Orchestra Populer, iringan full band, etnis tradisional.”

Dia menambahkan, MBG adalah temuan yang mestinya kita apresiasi. “MBG dikembangkan oleh tim musik gereja HKBP untuk memenuhi kebutuhan pelayanan musik liturgi gereja, bukan memutus semangat bermusik.” Kini, MBG melakukan perluasan pelayanan ke seluruh denominasi gereja yang ada. Termasuk sudah disosialisasikan di beberapa Distrik HKBP pada tahun Marturia HKBP, tahun 2007 yang lalu dan juga di berbagai gereja denominasi Indonesia, antara lain di Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) dan Gereja Kristen Jawa (GKJ). “Awalnya, hanya sedikit gereja yang mengapresiasi MBG kini sudah semakin banyak gereja yang telah menggunakan MBG,” ujarnya. ***Hotman J. Lumban Gaol, S.Th

3 thoughts on “Pdt. JAU Doloksaribu, MMin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s