Prof. Dr. Tapi Omas Ihromi


Prof. Dr. Tapi Omas Ihromi

Tapi Imhroni Simatupang-editDi bidang antopologi, nama Prof. Dr. Tapi Omas Ihromi bukanlah nama asing. Adek dari TB Simatupang itu adalah seorang akademisi juga, hingga menjadi Guru Besar bidang Ilmu Hukum Universitas Indonesia (UI). Tak banyak yang tahu, Bu Ihromi juga ikut membidani lahirnya Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UI. Dia juga pengagas Kajian Wanita Universitas Indonesia yang dikenal luas di tanah air sebagai antropolog dengan kekhususan pada bidang Antropologi Hukum. Sebagai ahli hukum, Tapi Omas tidak ingin berhenti di situ, karena menurutnya, banyak pertanyaan yang tidak bisa dijawab ketika melihat bagaimana hukum bersentuhan dengan masyarakat. Itu sebabnya ia merambah bidang Antropologi Hukum.

Perempuan kelahiran Pematangsiantar, 2 April 1930 ini, dikenal sangat kuat minatnya pada isu-isu gender, terutama isu perempuan di Indonesia. Bu Ihromi, demikian semua orang  memanggilnya. Jauh sebelum dilahirkannya Kajian Wanita UI pada 1990. Para sahabatnya, seperti, Prof. Dr. Saparinah Sadli dan salah seorang muridnya, Prof. Dr. Sulistyowati Irianto, menyebutnya sebagai The Mother of Indonesian Feminist Studies.

Minat besarnya pada isu perempuan di Indonesia telah ditunjukkan sejaknya mengajar di Fakultas Hukum setelah lulus, tahun 1958. Dan kemudian berhasil mendapatkan gelar doktor dalam bidang antropologi hukum pada 1978, dengan menulis disertasi diberi judul Adat Perkawinan Toraja Sa’dan dan Tempatnya dalam Hukum Positif Masa Kini.

Sebagai seorang pakar hukum adat, Bu Ihromi memang aktif membela kepelbagaian adat-istiadat di Indonesia. Dia melihat, bahwa penyeragaman hukum di Indonesia, seperti yang dilakukan oleh pemerintah Orde Baru, hanya akan menimbulkan masalah di masyarakat.

Karya fenomenalnya antara lain: Bianglala Hukum: hukum dan antropologi, hukum dan integrasi bangsa, hukum dan kedudukan wanita, antropologi hukum dan polisi, wanita dan kesadaran hukum (1986), Kajian Wanita dalam Pembangunan (1995) dan Penghapusan diskriminasi terhadap wanita, sebagai ko-editor bersama Sulistyowati Irianto dan Achie Sudiarti Luhulima (2000).

Guru sejati

Kariernya dia mulai menjadi guru taman kanak-kanak, sampai berkarir puncak sebagai ”mahaguru” di tingkat Universitas Indonesia. Tahun 1979, kiprah sebagi perempuan menggas terwujudnya  Kelompok Studi Wanita di FISIP UI bersama dengan Dr. Mely G. Tan dan rekan lainnya. Dia juga pencetus, sekaligus pengajar mata kuliah ”Wanita dan Pembangunan” di FISIP UI. Barulah kemudian pada 1990, bersama Saparinah Sadli atau Bu Sap, ia mendirikan Program Studi Kajian Wanita di tingkat magister UI.

Ibu dari dua orang anak perempuan, dan nenek empat orang cucu ini.  Istri dari Prof. Dr. Ihromi, pendeta, teolog, pakar Perjanjian Lama dan bahasa Ibrani Indonesia. Sejak meninggalnya sang suami, dan anak keduanya Ade,  Bu Ihromi memang hampir tidak pernah aktif kembali di ranah publik. Baik sebagai dosen, peneliti atau aktifis. Rasa syukur keluarga juga tercermin dalam keluarganya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s