Sutan Manahara Hutagalung


BukuPada medio Maret lalu, Sabtu, 23 Maret 2013 bertempat di Balai Rasa Sayang, Hotel Polonia, telah berlangsung memperingati tujuh tahun meninggalnya Pendeta Prof. Sutan Manahara Hutagalung, Ph.D. Sutan lahir di Sosor Topiaek, Hutagalung, Tapanuli Utara, 20 Agustus 1921.

Putra dari St. Elieser Hutagalung dan Lena br. Simorangkir. Sejal usia sekolah, SUtan, di zaman penjajahan menjalani pendidikan mulai dari Holland Inlandsche School/HIS (setingkat SD) di Sigompulon, Tapanuli Utara, kemudian Meer Uitgebreid Lager Onderwijs/MULO (setingkat SMP) di Tarutung dan Pematangsiantar, dan melanjutkan ke Algemeene Middelbare School/AMS (setingkat SMA). Begitu lulus sempat bekerja sebagai opsiner dan Kepala Bagian Keamanan di Penjara Istimewa Seumur Hidup di Sragen, Jawa Tengah, mengikuti Kursus Sekolah Menengah Tinggi Kehakiman bagian Kepenjaraan di Jakarta dan kemudian hari diangkat menjadi Kepala Penjara Klaten, Jawa Tengah.

Peristiwa-peristiwa penting pada episode ini jua yang Tuhan pakai untuk kemudian menghantarnya membuatkan yekad menjadi pendeta. Akhirnya, tahun 1949, di usia 28 tahun, Sutan melanjutkan kuliah ke STT Jakarta. Kuliah diselesaikan dalam tempo 4 tahun sebagai lulusan terbaik. Karena lulusan terbia dia mendapat beasiswa untuk program Master of Teology (MTh) dan Doctor of Philosophy (Ph.D) di Divinity School of Theology, Yale University, Amerika Serikat. Pada 1955, dia meraih gelar Magister Teologi, dan tahun 1958 meraih gelar doktor teologia. Doktor teologi kedua di Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) setelah Dr. Andar Lumbantobing yang lulus dari Jerman pada 1957.

Sekembali ke Indonesia, Sutan melayani di gereja HKBP sebagai dosen di STT Nomensen dan pendeta diperbantukan di Distrik Sumatera Timur. Selain menjadi Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan (FKIP) Nommensen Pematangsiantar yang turut dibidaninya pada 1962. Namun, konflik besar di dalam tubuh HKBP berujung pada lahirnya GKPI pada 30 Agustus 1964. Dr. Andar Lumbantobing menjadi Bishop pertama, sementara Sutan Hutagalung menjadi Sekretaris Jenderal pertama. Jabatan tersebut dia jalankan selama dua periode 1966-1977 dan 1983-1988.

Acara peringatan yang cukup sederhana tersebut dihadiri oleh sekitar 200 undangan dari kalangan pendeta, akademisi, kerabat dan para sahabat. Dari kalangan akademisi, hadir juga dari berbagai pendeta internominasi. Setelah kebaktian selesai, diadakan peluncuran dan bedah buku berisi khotbah dan pemikiran almarhum semasa hidup, yang selama ini tersimpan di kamar kerjanya di Jalan Panyabungan 37, Pematangsiantar. Bagaimana gagasan buku ini diterbitkan? Gagasan tersebut disambut baik oleh keluarga, namun karena berbagai kendala rencana tersebut baru dapat mulai direalisir dua tahun kemudian setelah menantu Dr. Sutan, Jhon Silalahi, bertemu kembali dengan teman sejak masa kecilnya, Jansen Sinamo, yang telah menjadi seorang guru etos kondang sekaligus penulis dan editor dari penerbit Institut Darma Mahardika.

Terbitnya gagasan pemikiran Dr. Sutan Hutagalung, dua buku berjudul “Pemberian adalah Panggilan” yang berisi khotbah dan sejarah GKPI serta “Dari Judas ke Tugu ke Kemiskinan” yang berisi aneka ragam ceramah yang pernah disampaikan di pelbagai kesempatan dan artikel-artikel yang pernah diterbitkan di media cetak. Peringatan itu, diawali dengan kebaktian. Selanjutnya diikuti peluncuran dua buku tersebut. Secara simbolis, penerbit diwakili Jansen Sinamo kepada istri almarhum Juliana br. Hutabarat, menyerahkan buku. Lalu, acara dimulai dengan bedah buku. Bedah buku yang dimoderasi langsung oleh Jansen Sinamo.

Bertindak sebagai pembicara adalah Pdt. Patut Sipahutar (Bishop GKPI) dan Pdt. Dr. Raplan Hutauruk (Ephorus Emeritus HKBP). Beberapa poin penting yang disampaikan Pdt. Dr. Raplan Hutauruk. Dipenutupan catatan bedah buku Raplan menyatakan; “Bahwa pesan etis Dr. Sutan telah disampaikan secara kritis, kreatif dan mengalir dari satu khotbah ke khotbah yang lain, dari satu kiasan ke kiasan yang lain, yaitu tentang manusia dan lingkungannya. Dr. Sutan tidak mengenal wilayah abu-abu, yang hitam adalah hitam dan yang putih adalah putih.”

ditulis, Hotman J. Lumban Gaol

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s