Dakka Hutagalung


 

Karena cinta dia berkarya. Kata Mutiara Cinta, karangan dari Kahlil Gibran (1883-1931) adalah seorang penyair Kristen, seniman dan penulis kelahiran Libanon yang terkenal dengan tulisan-tulisan bertema cintanya yang legendaris, itu. “Hakikat cinta adalah rintihan panjang yang dikeluhkan oleh lautan perasaan kasih sayang. Ia adalah cucuran air mata kesedihan langit pikiran. Ia adalah senyuman ceria kebun-kebun bunga cinta.”

“Hakikat cinta adalah rintihan panjang yang dikeluhkan oleh lautan perasaan kasih sayang. Ia adalah cucuran air mata kesedihan langit pikiran. Ia adalah senyuman ceria kebun-kebun bunga cinta.”

Barangkali, kata “cinta” itulah yang membebat Dakka Hutagalung, 65 tahun, berkarya mengoreskan cinta demi karya-karyanya. Motto hidupnya memang “kasih itu indah” dan cita-citanya ingin meninggal, permohonannya pada Tuhan, kalau diizinkan meninggal di usia 99 tahun. Mengapa? “Agar terus dapat berkarya,” katanya, karena cinta akan mengoreskan lagu-lagu yang menyemangati, yang memberikan peneguhan.

Pria kelahiran Sibaganding Pahae, Tapanuli Utara, 20 Oktober 1948 sudah menciptakan 400-an lebih lagu. Komponis Batak yang telah menciptakan lagu-lagu Batak Toba legendaris, dan beberapa lagu berbahasa Indonesia. Memulai debutnya mengarang lagu di umur 24 tahun. Kini, dia sudah berkecimpung lebih dari 40 tahun di dunia musik.

Buah lagu ciptaanya: terdiri dari pop Batak, Indonesia dan Rohani Batak dan Indonesia lagu hits: Sonata yang indah, Dia dan Dia, Tembang Rindu, Danau Toba, Perahu Cinta, Tabahlah Mama, Sipata, Buni di Ateate, Didia Rokkaphi, Unang Boasa, Didia Jumpang Au, Anakhonhu. Lagu rohani: Ho do Rajahu Togihon Au Tuhan, KepadaMu Ku Bersyukur, Kaulah Rajaku. Di era 80-an, lagu-lagunya seperti Anakkonhu, dipopulerkan Eddy Silitonga dan, Rita Butar-butar, mempopulerkan lagu, Didia Rongkap Hi.

Sementara di organisasi musik, Dakka didaulat menjadi dewan pembina Persatuan Artis Batak Indonesia (PARBI). Juga di Departemen Organisasi Paguyuban Artis Pencipta Lagu dan Penata Musik Rekaman Indonesia (PAPPRI), sekaligus salah satu pendiri dan Dewan Pertimbangan Komisi Nasional Pencipta Lagu Indonesia.

Sebelum menjadi pencipta lagu, Dakka dikenal personil trio. Dia mendirikan group bersama dua temannya, Star Pangaribuan dan Ronald Tobing, lewat Trio Golden Heart. Trio Golden Heart kerapkali menyelipkan lagu-lagu Melayu serta lagu rohani Kristen. Lagu rohani misalnya: “Silang Nabadia.” Kaset C-60 berdurasi enam puluh menit itu, produksi perusahaan rekaman Mini Record. Namun, sayang di tengah perjalanan trio ini mati suri. Dari sana Dakka beranjak menjadi pengarang lagu Batak.

Banyak karangan Dakka yang melegenda diantaranya: Didia Rongkap Hi, Anakkonku, Inang dan ratusan karya Dakka Hutagalung setiap hari dinyanyikan di pesta, kafe, dan acara-acara penting lainnya. Tapi, sama seperti banyak kehidupan pencipta lagu lainnya, kehidupan kesehariannya tak sebanding dengan nama besarnya. Sekitar 40 lagu dari sekitar 400-an lagu ciptaannya yang pernah hits, tetapi tidak juga membawa dampak pada pundi-pundi Dakka. Padahal, di blantika musik nasional, lagu-lagunya, dilantunkan Joy Tobing, Jelita Tobing, Amigos, Dipo Pardede, Maria Pasaribu, Silaen Sisters, Trio Lamtama dan sejumlah pelantun lagu Batak lainnya.

Beberapa karyanya diaransir ulang musisi, Vicky Sianipar dan bahkan musisi nasional. Diantara lagu yang dilantunkan dalam Pagelaran 40 Tahun Dakka Hutagalung Berkarya, beberapa tahun lalu, diantaranya, Soneta Indah pernah dipopulerkan Emilia Contessa, Syair dan Melodi, Didia Rongkap Hi, Anakkonku, Inang, Gereja Bolon, O Tuhan. Itu sebagian kisah lagu-lagu ciptaan Dakka.

 Berkah Dakka

Apakah arti sebuah nama, demikian William Shakespeare pujangga terkenal dari Eropa itu pernah berkata. Iya, apalah arti sebuah nama. Tetapi, nama dalam dunia pesohor amat penting, dan sudah menjadi pembawa berkah tersendiri bagi penyandang nama. Hampir semua pesohor, aktris, nama populer mereka punya sejarah sendiri-sendiri. Contoh saja, Iwan Fals nama aslinya Virgiawan Listant. Oleh ibunya memanggilnya Iwan, sementara Fals karena merasa suaranya fals, yang kemudian digabung menjadi Iwan Fals. Atau, nama Remy Silado, sastrawan yang terkenal itu. Nama itu diambil dari angka 23761, tanggal 23, bulan 7, tahun 76 adalah kisah yang yang meninggalkan sejarah dalam kehidupannya. Nama aslinya: Yapi Panda Abdiel Tambayong, Remy Silado. Memberi nama, selalu karena ada sejarahnya.

Nama Dakka juga diambil dari kenyataan, ketika dia lahir satu jari tangannya bercabang, atau disebut hiperdaktili (hiperdaktili disebut bila jumlah jarinya enam). Dalam bahasa Batak, bercabang diartikan Dakka. Tatkala lahir dalam kondisi hiperdaktili itu, oleh orangtuanya memberi nama, Dakka. Maka jadilah tersemat nama itu, dan membawanya kesohor.

Sebagai senior pengarang lagu Batak, Dakka sendiri meyakini, lagu-lagu Batak disenangi lintas suku di Tanah Air. “Tak jarang, lagu-lagu Batak diperdendangkan dalam ajang-ajang nasional maupun internasional. Jangan anggap remeh lagu Batak. Lagu Batak sudah go internasional,” jelas suami, Irma Sumaya.

Kini, Dakka dengan setia menjalani hari-harinya sebagai seniman, walau pun tidak membawa kemewahan, dia menjalaninya dengan bahagia. Sikap yang dijaganya, idealisme yang harus dijaga dan diperhankan. Independen demi karya-karya yang bukan hanya untuk laku di pasar saja. Tetapi bagaimana karya itu memberikan inspirasi dan pesan, nasihat bagi yang mendengar, demi karya yang abadi.

Sebagai seorang seniman, maestro musik Batak yang telah menciptakan hampir limaratusan lagu, hingga kini Dakka masih tinggal di rumah sewaan. Inilah kenyataan yang ada. Nama beken, tidak jua membawa kehidupan Dakka sepadan dengan nama besarnya. Masih menempati sebuah rumah kontrakan di Tangerang, Banten. Seharusnya tidak hidup dalam keadaan demikian, jika Dakka mendapat royalti dari karya-karyanya. Sepatutnya dia milliuner. Pantas menikmati kemewahan dari karya-karyanya. Seandainya di negeri ini ada kejujuran, dan menghormati hak cipta orang lain.

Namun kenyataan, berpihak kepada para seniman yang telah menorehkan banyak kemanfaatan pada jagat musik Tanah Air, muskil, sepertinya hanya basa-basi. Nyatanya, keberpihakan terhadap seniman, seperti Dakka, nihil adanya. Nasib mereka tetap melarat. Para seniman idealis ini tak dipedulikan oleh industri musik. Padahal, para seniman-seniman seper Dakka inilah yang membuat roda ekonomi, di industri musik berputar.

Tetapi apa yang terjadi? Hasil keuntungan bisnis musik hanya dinikmati segelintir pihak saja. Para pencipta, pengarang miskin. Tetapi pemilik industri musik dan penyanyinya kaya-raya. Mereka, para korporat bisnis musik, dan para seniman tak pernah peduli atas hak royalti para pencipta lagu. Dan, yang paling menyakitkan, sudah didendangkan lagu-lagu mereka, tetapi tidak disebut nama pengarangnya. Nama mereka acapkali dilupakan.

Melihat kenyataan yang ada di industri musik, Dakka merasa miris. “Sepertinya kehidupan tidak adil. Banyak orang yang tidak pernah memeras keringat, kerja keras, menikmati hasil. Melihat kenyataan di lapangan, banyak orang yang memanfaatkan karya-karya kita, menjadi kaya, tetapi pengarangnya miskin. Yang berkarya tidak mendapat apresiasi. Sementara yang menikmati hasil justru para pembajak musik dan pengelola tempat hiburan yang terus mendulang rupiah berkat lagu karya-karya kita,” ujarnya tanpa tendeng aling-aling.

Karena itu, Dakka berharap: para artis, pengelola bar, pengelola cafe-cafe, siaran radio, siaran tv, hotel-hotel dan juga rumah-rumah hiburan yang mengunakan karya-karyanya, menghargai dan memberi royalti atas karyanya itu. Tak disangkal, atas lagu-lagu ciptaan Dakka, telah banyak memberi berkah bagi banyak musisi. “Bandingkan dengan pemain keyboard yang menyanyikan lagunya di pesta, kafe dan tempat-tempat hiburan. Hanya beberapa jam sudah mendapat honor sekian ratus ribu. Beberapa kali show, maka penyanyinya dapat duit jauh lebih banyak dari penciptanya.”

Lalu, bagaimana dia menyikapi hidup dengan bahagia, walau orang lain kaya dari memanfaatkan karyanya, sementara dia tetap melarat? Bagi Dakka, terus berkarya. Ihklas menjali hari-harinya. Berkarya berarti adalah mengarang lagu, mengoreskan cinta, dengan keikhlasan. “Cara yang saya tempuh dengan tetap menggarang, mengoreskan cintanya akan musik. Menghilangkan rasa cemas akan kehidupan. Bagi saya, seni merupakan bagian dari hidup. Karena itu, saya tak akan berhenti mencipta lagu selama saya masih diberi Tuhan kekuatan mencipta lagu, hingga ajal menjemput,” ujarnya.

Bagi Dakka, sekali layar terkembang pantang biduk surut ke pantai. Sekali pilihan sebagai pengarang dia tetapkan. Dia tetap memilih setia, menjadi seniman untuk jalan hidupnya. Dan tidak akan menyesal, walau tidak sebanding rupiah yang dia dapatkan. “Saya tidak menyesal memilih berkarya sebagai pencipta lagu,” ujarnya. “Tetapi jujur, saya heran melihat kondisi sekarang ini banyak seniman instan, baru muncul langsung terkenal. Tidak ada reputasi, tidak ada track record yang dibangun, tetapi langsung terkenal. Tidak melalui proses, sukses luar biasa. Sementara kita sudah lebih 40 tahun berkarya tak mendaapat apresiasi. Tetapi saya tidak pusingkan itu, yang penting saya tetap berkarya. Saya berkarya menggoreskan cinta dan membawa kasih, berkah bagi para penikmat lagu,” ujarnya menyentil.

Mudah-mudahan apa yang sudah dilakukan Dakka, sinyalnya ditangkap para seniman Batak. Jangan hanya memikirkan uang, lupa menjaga nama baik, dan karya yang utama. Dan yang terpenting menghargai karya orang lain. Akhirnya, kita beraharap ada bayak lagi seniman yang melanjutkan jejak dari bang Dakka. Apakah ada dari antara kita, atau Anda barangkali yang mau melanjutkan reputasi yang ditorehkan bang Dakka? Silakan saja! Kita menyabut baik.

Iklan

2 Comments

  1. Ping balik: » Menggores Cinta, Mencipta Kasih Dakka Hutagalung - Persatuan Pencipta Lagu Batak

  2. Saya adalah anak ketiga dari 4 bersaudara yg merupakan anak kandung dari dakka hutagalung dan herni br sitompul.

    Saya sangat setuju atas tulisan anda yang menyatakan bahwa dakka hutagalung adalah seorang maestro pengarang lagu batak yang hebat. AKAN TETAPI mengenai jiwa yang penuh kasih sayang itu adalah salah besar.
    Karena seorang dakka hutagalung telah meninggalkan istri dan empat orang anaknya yang sah secara adat ,hukum dan agama tanpa memberi nafkah apapun semenjak tahun 1999 sampai hari ini.
    Awalnya kehidupan kami baik2 saja walaupun papa sering selingkuh tapi selalu kembali kerumah.

    Semuanya berubah saat SALES GIRL yg bernama irma sumaya seorang JANDA beranak 2 datang ke rumah kami yg katanya ingin mengajak kerjasama di bidang MLM. Bukan kerjasama & keuntungan yg kami dapat malah MALAPETAKA yg kami terima.

    Papa kami direbut, dia meninggalkan rumah dan seluruh tanggung jawabnya sebagai suami dan ayah. Hidup kami hancur, saya dan kakak saya terpaksa berhenti kuliah sedangkan pudan kami putus sekolah kelas 2 SMA.
    Mamaku berjualan nasi uduk untuk menopang kehidupan kami anak-anaknya.
    Dengan berjalannya waktu akhirnya papa MENGHILANG dari kehidupan kami.

    Walaupun sebegitu sakitnya penghianatan papa terhadap kami, Mama selalu berdoa setiap malam memohon papa kembali meskipun hanya tinggal jenazah di peti mati.

    Amang H.J lumbangaol yg terhormat, sy minta maaf jika saya mengkomentari tulisan amang dengan curahan hati seorang anak yg hancur.
    Saya ungkapkan ini agar seluruh dunia mengetahui KEBENARAN kisah kehidupan kami yg telah diterlantarkan oleh MAESTRO BESAR DAKKA HUTAGALUNG.
    kisah ini seluruhnya benar dan bisa saya pertanggung jawabkan semua. No hp saya 0817133859 jika amang ingin mengkonfirmasi semuanya.

    Mauliate
    – Esta Hutagalung –

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s