Saut Poltak Tambunan


sautBAHWA SAYA BUKAN PENYAIR, itu sudah berulang kali jadi sumber pertengkaran kreatif dengan sobat-sahabat. Sebut saja Kurniawan Junaedhie, Heryus Saputro, Acep Zamzam Noor, Hanna Fransisca, Shinta Miranda, Nona G Muchtar, Iwan Soekri dan entah siapa lagi. Mereka ‘memfitnah’ dan ‘menggunjing’ saya menjadi penyair dan akibatnya kepala saya membesar dengan cuping hidung melebar kembang-kempis. Meski saya sudah tegaskan bahwa saya hanya bertamu sejenak di beranda rumah puisi teman-teman penyair. Hanya itu.

Selebihnya, tentu saja saya berterima kasih pada sahabat-sahabat itu, termasuk  Rina Eklesia yang belakangan kusetiai membaca puisi ‘rindu’-nya. Lalu Rukmi Wisnu Wardani, Deknong Kemalawati, Dimas Arika Mihardja,  Soni Farid Maulana, Teman-teman Alumni Ubud Festival, Erry Amanda, Erny Susanty, banyak sekali. Belum lagi teman-teman di Komunitas Reboan – Bulungan dan Himpunan Pengarang Indonesia AKSARA.

Sejujurnya, saya hanya rajin dan suka memotret – merekam peristiwa sepanjang jalan hidup saya dengan puisi. Itu sebabnya dalam buku ini bisa ditemukan ‘seolah puisi’ tentang Tuhan, cinta, dendam, benci, geram,  korupsi bahkan mungkin harga cabai keriting.

Menerbitkan antologi karya sendiri dihadapkan pada kesiapan membuka diri. Seperti menyuguhkan donat yang berlubang di tengahnya (dahulu gemblong). Makin besar lubang itu, makin leluasa orang  lain meneropong kita. Begitulah antologi. Karena itu, kesulitan terbesar dalam menyusun buku ini adalah, bagaimana menyamarkan lubang teropong itu dengan puisi lain. Beberapa puisi pendek saya taruh di bagian belakang.

Agustus adalah bulan kontemplasi bagi saya. Hampir selalu saya tandai dengan menerbitkan novel. Pernah sekali, Agustus 2012, saya menulis puisi setiap hari hingga tanggal 28. Bertepatan dengan hari ulang tahun saya.  Kali ini, empat buku saya menandai perjalanan 40 tahun bersastra, 1973 – 2013, ‘Si TUMOING Manggorga Ari Sogot (novel berbahasa Batak), Don’t Go, Jonggi (Kumpulan Cerpen berbahasa Inggris), MetamorHORAS (Novel berbahasa Indonesia), lalu kumpulan puisi ‘MASIH, Meski Bukan yang Dulu’ (Bahasa Indonesia dan bahasa Batak)

MASA KANAK-KANAK

Hingga remaja saya lewatkan di Balige, sebuah kota kecil di tepi Danau Toba. Saya bersyukur pernah bertumbuh di sekitar danau ini, kendati baru menyadari keindahannya justru setelah tidak lagi tinggal di sana. Ketika masih anak-anak saya sering bermain sendirian dengan khayal yang bebas membangun tualang sendiri. Saya bisa seharian menikmati perburuan lalat di belakang rumah kami. Berlagak jadi seorang pemburu, memakai sepatu ‘karet’ lengkap dengan topi dan senjata segenggam karet gelang. Saya jepret lalat dengan karet gelang tetapi tidak sampai mati lalu saya letakkan ke tengah kerumunan semut. Tentu saja lalat luka itu kalah. Tetapi saya bisa berjam-jam di panas terik menikmati pertarungan lalat dan semut itu. Saya juga bisa asyik sendiri mengadu dan membentur-benturkan tutup lampu bekas dengan benda lainnya sambil membayangkan  ayam aduan.

Di bangku SMP puisi pertama saya tercipta setelah menyaksikan teman sekolah – anak perempuan, menangis meraung-raung ketika ayahnya meninggal. Puisi kedua lahir setelah menyaksikan seorang ibu menarik jala di pinggir danau Toba sambil mengendong anak balita di punggungnya. Puisi-puisi berikut saya tulis di buku catatan pelajaran, lalu hilang begitu saja.

Di kota saya tak ada penerbit, tidak ada majalah dinding. Surat kabar yang sampai ke kota ini hanya Mimbar Umum atau Waspada terbitan Medan. Perpustakaan juga tidak ada. Ironisnya, sejak awal merdeka, kota ini  dikenal sebagai kota pelajar sebab di kota-kota sekitarnya maksimal hanya ada sampai SMP. Sedangkan di kota ini SMA ada 3, ada STM, SMEP/SMEA, Sekolah Guru Atas (SGA), SGPD (Sekolah Guru Pendidikan Djasmani), bahkan SKP (Sekolah Kepandaian Putri). Anak-anak dari kota sekitarnya harus indekos di kota ini kalau ingin sekolah lebih tinggi.

Saya senang cerita. Cerita dalam bentuk buku sangat langka, kecuali komik/cergam yang dimuat bersambung di koran Mimbar Umum. Saya masih ingat Arsul Tumenggung dengan cerbernya yang sering dibicarakan di lapo (kedai kopi). Ingat cergam karya Taguan Hardjo, Zam Nuldyn, Djas dll. Juga cergam tentang pelaut perempuan Kapten Yani yang bekerja sama dengan Kapten Ralfo melawan penjahat Professor Bohorok, pencipta sinar yang bisa memotong semua benda di sekitarnya, termasuk pilar beton (bayangkan, ketika itu belum ada Laser). Saya juga ingat komik Laela Majenun, Panglima Denai, Jaka Lasak, Sekali Tepuk Tujuh Nyawa, Abu Nawas, Si Hidung Sakti, beberapa legenda serta sejarah kepahlawanan. Ada cergam terjemahan, seperti Morina, Batas Firdaus, ‘Pejuang Wanita dari Aljazair’ – judulnya mungkin ‘Jamilah’.

Semua itu memperkaya imajinasi saya. Sayangnya orang tua saya, terutama Omak, sangat tidak suka anak-anaknya membaca buku cerita. Sehingga saya harus mencuri-curi waktu. Celaka benar kalau sampai kepergok. Saya lupa dari mana dulu dapat pinjaman buku-buku cerita Karl May dengan Old Shutterhand-nya. Ketika melihat komik Panglima Nayan dan si Nasib di toko buku, saya benar-benar nekad mencuri uang orang tua  untuk membelinya. (Saya baru dapat kesempatan membaca banyak buku justru setelah bekerja di Dep Keuangan.)

Di kota kami ketika itu, merokok bagi anak sekolah adalah dosa besar.  Jangan sampai ketahuan orang tua. Maka untuk belajar menikmati ‘dosa besar’ ini, kami sering bolos dari sekolah lalu naik ke gunung. Anak-anak perempuan sering ikut bolos, menikmati pemandangan ke arah cermin raksasa Danau Toba dan kota Balige di tepiannya. Beberapa kali membolos ramai-ramai, ada juga teman perempuan yang baik pada saya. Tapi saya  sama sekali tidak tertarik lebih dari sekedar sesekali meminta pendapatnya mengenai puisi-puisi saya. Mereka bilang bagus.

Siregar Tukang Pangkas, ah, saya tidak akan lupa orang ini. Di pasar Balige, ada seseorang yang terkenal sebagai Siregar Tukang Pangkas. Ada dua hal yang membuatnya fenomenal.  Pertama, tarifnya paling murah tetapi kerjanya tidak rapi. Rambut kepala orang terkadang tampak seperti dipapas bagaikan bukit Dolok Tolong dengan hutan pinus yang bertangga-tangga. Kedua, selagi dia ‘memapas’ kepala  orang, mulutnya tidak henti-hentinya membual tentang Bung Karno. Ia bilang adik-adik isterinya (paribannya) bekerja di Istana Negara Jakarta. Isterinya memang perempuan (boru) Jawa.

Murah dan tidak perlu rapi betul, karena itu pelanggannya kebanyakan anak-anak. Biasanya dia letakkan sebilah papan penyangga di tangan kursi kerjanya dan di situlah anak-anak didudukkan agar lebih tinggi. Saat kelas 2 SMP, Siregar Tukang Pangkas ini memberi saya peristiwa luar biasa. Saya  didudukkannya di kursi kerja tanpa papan penyangga.

Bah! Saya terkejut! Bangga benar hingga rasanya hidung saya mekar. Bagi saya, inilah kali pertama merasa diperlakukan bukan sebagai anak-anak. Dan, Siregar Tukang Pangkas ini yang pertama melakukannya! Apalagi kemudian ia menggunakan pisau cukur untuk merapikan rambut di pelipis dan tengkuk saya. Biasanya untuk memangkas anak-anak ia tidak menggunakan pisau cukur, cukup gunting dan alat pangkasnya yang terasa dingin jika menyentuh tengkuk saya. (Malamnya saya bikin puisi: ‘menurunkan aku ke alas kursimu, melambung-lambungkan rasaku ke atap balairung’).

Ada konsekuensinya. Sebab kemudian ia berbisik di telinga saya: “Bulan depan tarifmu beda, ya!” Pulang ke rumah, saya teriak ‘melapor’ ke dapur: “Mak!  Aku tadi duduk tidak diganjal lagi pakai papan!” Omak cuma melengos: “Ya, ya, cepatlah. Kau angkat dulu air dari sumur sebelah!  Piring belum kau cuci! Sudah itu kau tumbuk daun singkong itu!”

Saya anak ke-empat dari 12 bersaudara, 10 laki-laki + 2 perempuan. Apalagi orang tua cuma pedagang yang sedang bingung karena usaha tokonya surut. Tentu saja Omak ini tidak punya waktu untuk menyimak ‘laporan’ seperti itu. Benar saja, bulan-bulan berikutnya Omak marah-marah karena saya merengek minta bayaran uang pangkas dengan tarif dewasa.

Di kemudian hari saya berkali-kali dilantik jadi pejabat, bahkan pernah oleh Menteri pada level jabatan cukup tinggi. Tetapi didudukkan pertama kali sebagai orang dewasa walau hanya di kursi tukang pangkas rambut murahan, tidak akan pernah saya  lupakan.

Sejak didaulat sebagai ‘bukan anak-anak’ di kursi Siregar Tukang Pangkas itu, saya mulai sok dewasa. Saya mulai menulis puisi cinta tapi tidak tahu harus kirimkan ke siapa. Konyolnya, terkadang saya harus memaksakan imajinasi saya untuk jatuh cinta pada seseorang, hanya supaya cocok dengan puisi saya.

Sekali waktu di SMA, ketika malam-malam belajar bersama di rumah teman, saya pamerkan surat cinta karanganku. Teman-teman lantas ramai-ramai menyalinnya. Dua hari kemudian Atik – adik perempuan teman sekelas mendapat titipan dua surat yang bunyinya sama persis dari dua pengirim yang berbeda.  Kepada Atik memang sering saya pamer puisi-puisi saya, sehingga ia langsung bisa menebak surat cinta itu karangan saya. Jadinya bubar semua! (Ha ha ha! Kami berdua tertawa habis.)

Kelas 2 SMA, akhirnya ada juga teman gadis yang saya kirimi surat cinta. Saya serahkan sendiri karena tidak ingin orang lain tahu. Entah kaget atau malu, ia segera menjawab lewat sesobek kertas yang diserahkan langsung pada saya di depan pintu kelasnya, dengan coretan 2 patah kata saja: “Sudah terlambat!”

Saya sedih. Bukan hanya karena ‘sudah terlambat’, tetapi juga karena surat cinta karangan saya ternyata tidak cukup ampuh untuk gadis itu. Ya, sudah, saya masih bisa bersyukur karena tidak satu pun teman yang tahu soal ini.  Hanya saya dan gadis itu.  Berikutnya saya masih akrab dengannya. Tetapi kelak, ada seseorang mantan kakak kelas yang bilang saya jadi pengarang karena patah hati. Astaga, sok tahu benar itu orang!

Saya lulus SMA akhir tahun 1970. Tidak pernah terbayang akan menjadi apa, apalagi pengarang. Bapak mulai sakit dan usaha dagangan Omak  benar-benar tenggelam.  Tahun 1971 saya menganggur. Hanya membantu nenek mengurusi usaha penggilingan padi dan menjadi kusir pedatinya. Rasanya saya sudah gila. Jarang mandi. Sepasang celana dan jaket jean mulai dari baru sampai kumal, jarang dicuci karena terus menerus saya pakai. Bayangkan baunya!

Pagi sampai menjelang tengah hari saya memancing di Danau Toba, kadang malam hari juga. Tidak penting dapat ikan apa, karena saya  justru sibuk melamun. Sesekali saya mengisap rokok lintingan ganja yang beli bebas di warung dan harganya setara rokok ketengan Union yang kala itu paling murah. Untung saya masih tercatat sebagai striker klub sepak bola di kota itu dan harus berlatih dua kali seminggu, sehingga fisik saya masih terjaga baik.

Enam bulan menganggur – hanya membantu nenek, adalah masa yang paling menyiksa dalam hidup saya. Tradisi di kota ini, setiap lulusan SLTA harus berangkat ke kota besar, entah untuk kuliah atau jadi apa. Terbayang semua semua teman sudah ke Medan dan Jakarta. Terbayang mereka tertawa ceria di kampus. Sedang saya tersuruk-suruk jadi kusir pedati nenekku. Frustrasi! Depresi berat!

Di kemudian hari, saya mensyukuri masa enam bulan itu sebagai proses yang dipakai Tuhan untuk mengubah saya. Dengan mesin tik kakek saya, terciptalah cerpen pertamaku bulan Maret 1971: Catatan Harian.

Tanggal 23 Juni 1971 usai Pemilu saya ke Jakarta. Tiga hari kemudian naik kereta api Senja sendirian ke Surabaya. Saya dititipkan ke family Bapak di Surabaya. Janjinya mau dicarikan pekerjaan. Tapi saya cuma jadi pengangguran di sana. Beberapa puisi saya ciptakan di sini, hanya untuk disimpan sendiri.

Sia-sia saya menunggu pekerjaan di Surabaya, akhir 1971 saya ke Jakarta. Nenek (yang sangat menyayangi saya) kirim uang untuk kuliah di Akademi Dinas Perdagangan, sementara abang saya kemudian menyuruh Saya ikut tes penerimaan PNS Departemen Keuangan. Ternyata lulus!

Saya mulai kerja di Dep Keuangan Desember 1972 dan berhenti kuliah pagi di Akademi Dinas Perdagangan. Saya ditempatkan di bagian yang banyak bengongnya. Untung ada mesin tik. Bah! Ini blessing in disguise! Tahun 1973 cerpen Catatan Harian saya rewrite dan dimuat di majalah Varia. Dua cerpen berikutnya menyusul dan dimuat tanpa koreksi sedikit pun! Hoi, Mak! Bangganya! Sayang honornya tidak pernah dibayar. Bagian keuangannya mangkir terus setiap kali saya datang.

Tidak apa-apa, sebab cerpen-cerpen saya berikutnya bertebaran di majalah Flamboyan, Vista, Keluarga, Kartini, Detektip Romantika dll.

Tahun 1974 saya kembali ke bangku kuliah akuntansi di Akademi. Tahun 1975-1977 saya mulai menulis novel. Agak tersendat sebab saya belum pernah lihat seperti apa bentuk naskah novel. Pikir saya, kalau Ashadi Siregar dan Marga T bisa, kenapa saya tidak?

Novel pertama Bukan Salahmu, Ronald  selesai tahun 1977, dimuat bersambung di majalah Kartini. Saya pilih majalah Kartini karena dekat dari kantorku yang berhadapan dengan terminal Lapangan Banteng. Hanya sekali naik oplet ‘Robur’ jurusan Kemayoran. Cerber ini kemudian diterbitkan dalam bentuk novel oleh Cypress dan diminta untuk difilmkan.

Semula saya menggunakan nama samaran pengarang: Boenapolt.  Dalam novel pertama saya gunakan juga nama samaran ini. Suatu siang – ketika novel itu akan dimuat sebagai cerita bersambung di majalah Kartini,  saya ketemu Motinggo Busye. Ia mengejek habis-habisan: “Anak muda macam apa kau? Masa’ pakai nama samaran? Jangan ikut-ikutan jadi pengecut!”

Aduh! Bisa ketemu pengarang terkenal Motinggo Busye saja sudah luar biasa untuk saya. Tiba-tiba ia menuding saya pengecut. Saya merasa ditantang. Maka cepat-cepat  saya ganti dengan nama asli. Bahkan ditambah dengan nama ‘Saut’ yang sebenarnya hanya ada dalam surat babtis. Dalam KTP nama Saut tidak ada. Huh, biar sekalian dia tahu saya bukan pengecut!

Apa yang terjadi ketika pada bulan berikutnya ketemu? Ia tertawa terbahak-bahak: ”Baru kali aku sukses ngibulin orang Batak!”

Ternyata saya tertipu. Saya baru sadar kalau Motinggo Busye itu pun nama samaran. Aslinya Mohammad Dating Bustomi. Tapi sudahlah, nama Saut Poltak Tambunan sudah terlanjur di-launching. Walaupun terasa ‘tidak nge-trend dan  tidak nge-pop’, nama ini saya teruskan saja. Saut Poltak itu artinya Jadilah Terbit/Purnama.  Sama dengan Sido Muncul dalam bahasa Jawa.

Suatu ketika Bapak kirim surat berikut fotonya sedang terbaring di rumah sakit. Tangannya  mengacungkan novel saya ‘Bali Connection’ yang difilmkan tahun 1979. Ia memakai baju barong yang saya beli di Bali ketika ikut shooting film itu. Dalam surat itu ia memberi saya gelar Novelis. Saya menangis membacanya.

Selanjutnya saya ingin lengkapi kebanggaan Bapak. Tapi bagaimana? Saya ingat tulisan tangan Bapak bagus. Sangat indah. Bapak pernah bilang bahwa sejak pulpen Pelikan-nya hilang akhir tahun 60-an, ia tidak pernah lagi  punya pulpen bagus.  Saya bergegas ke Toko Buku Gunung Agung. Sebagian honor tulisan saya habiskan untuk sepasang Parker yang termahal ketika itu. Saya kirim ke Bapak.

Tahun 1979 saya menikah. Tahun-tahun berikutnya adalah tahun-tahun amat sibuk. Saya harus menjaga baik-baik ‘meja kerja’ saya di Departemen Keuangan, sambil lanjut kuliah di Fak Ekonomi, menulis cerpen, novel dan artikel rubrik tetap di beberapa majalah Kartini Grup Ditambah lagi menjadi editor pada Departemen Penerbitan Buku. Bahkan sempat tiga tahun menjadi dosen di Akademi Sekretaris Managemen Indonesia (ASMI) dan Akademi Maritim di Pulo Mas Jakarta.

Saya sadar, saya tidak mungkin lakukan semua ini bersamaan. Saya  harus seperti orang ‘berjalan kaki’. Ketika kaki kiri melangkah, kaki kanan harus diam. Begitu sebaliknya. Mustahil saya  bisa melompat terus menerus dengan dua kaki bersamaan. Ada kalanya karier di kantor tersendat karena  asyik menulis. Sebaliknya, ketika saya  dapat promosi jabatan di kantor, menulis terpaksa ditunda.  Terlebih jika harus bertugas bertahun-tahun di luar Jakarta. Di Cirebon, Bandar Lampung, Pacitan, Denpasar, Pontianak, Jogyakarta.

Dengan ‘berjalan kaki’ yang saya maksud, sampai sekarang sudah menulis  lebih dari 50  novel/novelette dan sebagian di antaranya sudah diangkat ke film/sinetron.  Ada pula yang suah diangkat ke layar lebar, diangkat lagi ke sinetron, lalu dibuatkan lagi menjadi film TV atau FTV (Hatiku Bukan Pualam dan Dia Ingin Anaknya Mati). Sebagian novelnya best seller dan cetak ulang. Ada yang sampai 6-8 kali cetak ulang.  Puluhan dari ratusan cerpen saya  terbit  dalam 5 buku kumpulan cerpen : Rinai Cinta Seorang Sahabat, Lanteung, Jangan Pergi Jonggi, Sengkarut Meja Makan, Mangongkal Holi (bahasa Batak), Don’t Go, Jonggi (bahasa Inggris).

Tahun 1981 saya ikut memprakarsai terbentuknya Himpunan Pengarang Indonesia ‘AKSARA’ dan Yayasan Pengarang AKSARA  yang masih eksis hingga kini. Tahun 2009 memprakarsai pembentukan Komunitas Sastra KEDAILALANG di Jakarta Timur yang setiap pertengahan bulan menyelenggarakan pentas dan diskusi sastra.

Saya aktif menyelenggarakan workshop penulisan kreatif di kampus dan di berbagai komunitas seni,  di Medan, Bandung, Jogyakarta dan berbagai tempat di Jakarta, dengan buku modul ”Kiat Sukses Mengarang Novel’ yang saya tulis  sendiri.

Quo Vadis Bahasa Batak?

Menyikapi ‘warning’ dari Kemdikbud bahwa sebahagian besar bahasa daerah akan punah, pada tahun 2012 saya  menulis kumpulan cerita pendek berbahasa Batak (Toba), “Mangongkal Holi” dan novel anak-anak dengan setting perjuangan di masa Agresi I, “Mandera Na Metmet” (dua bahasa, Batak – Indonesia). Buku inilah sastra modern pertama berbahasa Batak (Toba), setidaknya dalam 50 tahun terakhir.

Belakangan cerita-cerita saya sarat dengan nuansa kearifan lokal, untuk itu saya mendirikan penerbitan Selasar Pena Talenta. Diundang sebagai pembicara dalam UWRF 2011 (Ubud Writers & Readers Festival). Untuk UWRF tahun 2012 menjadi senior kurator.

Mensyukuri 40 tahun konsisten bergiat di dunia sastra, saya menerbitkan 4 buku sekaligus. Di antaranya Kumpulan Puisi ’Masih’ ini, novel ’MetamorHORAS’ (bahasa Indonesia),’Tumoing –  Manggorga Ari Sogot’ (novel berbahasa Batak) dan ”Don’t Go, Jonggi’ (kumpulan cerpen berbahasa Inggeris).

Saya pernah menjadi dosen Akuntansi dan Ekonomi pada Akademi Sekretaris Managemen Indonesia dan Akademi Maritim Indonesia di Jakarta. Tahun 2008 menjadi co-writer dan editor untuk buku laris marketing managemen berjudul Launching.

Sebagai mantan PNS, meski sudah pernah menduduki berbagai jabatan, saya bersyukur bahwa raihan prestasi saya yang tertinggi adalah:  pensiun dan kembali menulis.

Beberapa karya SPT yang terbaru:

       Kumpulan cerpen                          Novel

     dalam bahasa Inggris            dalam bahasa Batak

              2013                                    2103

  

  Novel Bahasa Indonesia             Novel dua bahasa

              2013                     Batak dan Indonesia, 2012

       Kumpulan cerpen                       Kumpulan cerpen

      Dalam bahasa Batak              Dalam bahasa Indonesia

                2012                                        2011

One thought on “Saut Poltak Tambunan

  1. Pak,andai kata bisa di ucapkan saya ingin jadi seperti bapak yang terus maju,dengan banyak tantangan bapak terus mendrobraknya hingga hancur.
    Saya sangat suka semua puisi,karangan,dan cerpen terutama yang berjudul ‘kampungku di kaki bukit’
    Saya adalah siswa dari sman 1 balige.
    Mudah2an saya dapat berjuang seperti bapak,tetapi saya yakin akan jadi seperti bapak!!!
    HORAS……..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s