Dora Sitanggang


12Tahun 1979. Awalnya adalah sebuah lapo tuak. Bangunannya begitu bersahaja. Dindingnya dari tepas (gedek, kata orang Betawi) dan jendelanya kawat. Bangkunya menempel di meja, keduanya dari kayu bekas. Untuk memberikan kesan bertaplak, permukaan meja dibalut plastik bekas tenda biru. Penerangan di sana memakai lampu petromaks.

Pakter tuak ini berdiri di atas rawa-rawa dekat Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Pelanggannya para supir bus T 55, tukang foto Polaroid (langsung jadi) yang mangkal di TMII serta teman-teman Pak Goldfried Situmeang (alm.), sesama sopir truk. Pak Goldfried adalah suami Bu Dora Sitanggang.Meski sangat apa adanya, lapo yang satu ini senantiasa ramai, terlebih saat jam makan. Daya tariknya adalah masakan lezat Bu Dora.

Bermodalkan keberanian, tahun 1981 Bu Dora mulai melayani permintaan katering untuk acara arisan, ulang tahun dan pesta gereja. Roma Catering itulah merek dagangnya. Ibu dari enam anak—Roma Friscilla Situmeang, Fried Harris Situmeang, Fried Holmes Situmeang, Maria Laura Situmeang, Fried William Situmeang, dan Dorisma Situmeang—ini memperoleh dukungan dari para pelanggannya. St. K.M. Sinaga, pengusaha asuransi yang juga guru huria di gereja HKBP Menteng saat itu termasuk salah seorang pelanggan yang selalu memuji kelezatan masakan Roma Catering. Tak hanya itu, St. K.M. Sinaga juga merekomendasikannya kepada kerabat dan handai tolan yang akan menyelenggarakan pesta.

Keluarga dan kerabat Dora-Goldfried juga mendukung dan mengulurkan tangan. Salah satunya adalah Tulus Humintar Siahaan. Tulus-lah yang mengajari bagaimana cara mendekor ruangan dan menangani pesanan dalam jumlah besar.

Perekonomian orang Batak di Jakarta semakin membaik saja dari tahun ke tahun. Ekornya, pesta-pesta di gedung pun makin banyak. Kalau semula Sabtu saja, belakangan hari lainpun juga. Katering yang melayani pesta Batak dengan sendirinya menggeliat, terutama Roma yang diawaki Bu Dora sekeluarga. Dari mulut ke mulut nama perusahaan jasa boga ini beredar.

Bu Dora yang ramah, santun, tekun dan ulet sangat bersemangat membesarkan Roma Catering. Belajar, berorganisasi dan berjejaring ia lakukan untuk itu. Kursus masak ia ikuti walaupun olahan tangannya sudah dipuji para pelanggan. Ia bergabung dengan dan menjadi anggota Asosiasi Perusahaan Jasaboga Indonesia (APJI). Dengan Lotte Mart (dulu: Makro) ia menjalin kerja sama dalam pengadaan bahan baku.

Meski sudah lebih dari 30 tahun berbisnis makanan, perempuan kelahiran Tarutung, 18 Agustus 1959 ini tidak berhenti mengembangkan usaha. Berpanjikan APJI, Bu Dora mengikuti program studi banding ke Hongkong, Thailand dan Singapura. “Studi banding ini juga sebenarnya kesempatan saya untuk memperkenalkan masakan khas Batak. Supaya masakan Batak bisa go international,” ucap perempuan yang selalu berdandan rapi, tak terkecuali saat berada di dapur, sambil tersenyum.

Roma Catering kini menjadi yang terkemuka di segmennya. Artinya menjadi perusahaan katering makanan Batak terbesar di Jakarta. Kalau sudah nomor wahid di Jakarta berarti nomor satu pula di seluruh jagad raya. Bukankah frekuensi tertinggi pesta Batak akbar adanya di Jakarta? Perusahaan ini sekarang beromzet lebih dari Rp 2 miliar per bulan. Karyawan tetapnya 60, yang lepas puluhan orang. Menjadi lebih istimewa lagi, Roma Catering telah menerima penghargaan dari pelbagai lembaga sebab menggunakan standar hotel dalam seluruh proses mulai dari pengadaan bahan baku, pengolahan, hingga penyajian.

Apa sesungguhnya pendidikan formal Bu Dora, sang arsitek besar yang berada di balik kejayaan Roma Catering? “Ah, saya hanya tamat SMA XIII Tanjung Priok, kok,” ucapnya polos. Selalu juara kelaskah? “Oh, tidak. Semua nilai rapor saya merah, kecuali mata pelajaran agama,” lanjutnya dengan tergelak.*** ditulis, Edward Tigor Siahaan

Sumber: http://www.frenzy-food.com/chitchat/2012/10/012-dora-sitanggang/#sthash.R9nOUREc.dpuf

Iklan

Prof. Dr. R.P. Sidabutar


dr_sidabutar1Nama Lengkap :
Radja Pingkir Sidabutar

Tempat/Tanggal Lahir :
Balige, Toba Samosir, Sumatera Utara, 18 Oktober 1935

Agama :
Kristen Prostestan

Pendidikan Formal :

  1. SD, Balige (1947)
  2. SMP, Jakarta (1951)
  3. SMA, Jakarta (1954)
  4. Fakultas Kedokteran UI, Jakarta (1961)
  5. Pendidikan Spesialisasi Penyakit Dalam FK UI, Jakarta (1965)
  6. Pendidikan Super-Spesialisasi FK UI, Jakarta (1970)

KarirPekerjaan:

  • Asisten Ahli Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran UI/RSCM, Jakarta (1960)
  • Kepala Subbagian Ginjal Hipertensi FK UI/RSCM (1966 — sekarang)
  • Direktur Urusan Pendidikan RS DGI Cikini (1968-1982)
  • Ketua Unit Ginjal FK UI/RSCM (1970)
  • Ketua Tim Transplantasi Ginjal RS DGI Cikini (1977)
  • Koordinator Tim Transplantasi Ginjal FK UI/RSCM (1977)
  • Lektor Kepala, Bagian Penyakit Dalam FK UI/RSCM (1979 — sekarang) Kegiatan lain: Ketua Yayasan Ginjal, Jakarta (1975 — sekarang)
  • Ketua Perhimpunan Nefrologi Indonesia (1975 — sekarang)
  • Anggota International Society of Nephrology (1968 — sekarang)

Alamat Rumah :

Jalan Susilo Raya 8, Jakarta Pusat Telp: 591127

Alamat Kantor :
Subbagian Ginjal Hipertensi FK UI/RSCM Jalan Diponegoro 71, Jakarta Pusat

Siapa Prof. Dr. R.P. Sidabutar?

Prof. Dr. R.P. Sidabutar, di sekolah dulunya tidak terlalu cemerlang. ”Tetapi, justru itulah yang mengharuskan kita menjadi pintar,” kata R.P. Sidabutar, kini seorang dari segelintir ahli penyakit ginjal yang dimiliki Indonesia. Anak sulung dari empat bersaudara ini berkaca mata tipis dengan rambut disisir rapi ke belakang. Sebenarnya, ia tampak berwibawa dalam seragam dokternya. ”Tapi, kata anak saya, saya lebih cocok jadi tukang pangkas,” katanya. Ketua Konsultan Rumah Sakit Cikini ini memang senang bergurau.

Ayahnya, Wismar Sidabutar, pensiunan pegawai Kehakiman di Tapanuli. Tamat SD di Balige, Tapanuli, ia meneruskan sekolah ke Jakarta. Lulus FK-UI, 1961, ia lalu memperdalam subspesialis ginjal dan hipertensi di Universitas Leiden, Negeri Belanda. Di sana ia diangkat anak oleh Prof. De Graaf, seorang sejarawan yang memiliki perhatian besar terhadap Indonesia. Ia kemudian membentuk Subbagian Ginjal dan Hipertensi di RSCM, Jakarta, bahkan menerima sumbangan alat pencuci darah untuk pertama kali di Indonesia.

Tantangan adat dan agama menjadi halangan baginya untuk melakukan pencangkokan ginjal. Baru pada 1977 ia dapat melakukan pencangkokan. Tangannya, dibantu para tenaga ahli bidang lainnya, kini sudah mencangkokkan lebih dari 43 ginjal. Ini membuat dia tambah optimistis. ”Tak lama lagi masyarakat dapat menerima ginjal dari mayat,” kata Sidabutar yakin.

Membagi waktu memang menjadi masalah orang sesibuk Sidabutar. ”Dokter tak sama dengan pegawai kantor, yang waktunya dapat diatur,” ujarnya. Tapi ia mengaku sangat puas bila berhasil menyembuhkan orang lain. Melihat beberapa negara maju kini mengembangkan pemecahan batu ginjal dengan sinar laser, ia belum buru-buru menggunakannya, kendati tertarik. Sampai-sampai tenaga asing yang diundangnya heran, melihat keterbelakangan Indonesia di bidang peralatan mutakhir. ”Kok dalam kondisi begini, kita dapat bekerja dengan baik dan tak kalah dengan mereka,” kata Sidabutar. Memiliki hanya dua ahli ginjal pada 1970, Sidabutar lega jumlah itu kini sudah menjadi 25. dia menikah dengan Roswita boru Simanjuntak, 1965, ia dianugerahi tiga anak yang kini beranjak dewasa. Gemar lari pagi, sepak bola, musik, dan fotografi, sebelum tidur ia biasa membaca buku-buku komputer, astronomi, humor, atau fiksi yang best- seller.

Prof. Radja Pingkir Sidabutar Dokter yang suka berangan-angan

  • Belajar Ginjal Di Negeri Belanda
    Sosok astronom mengkristal dalam angan-angan Prof. Dr. Radja Pingkir Sidabutar. Setelah lulus SMA Kanisius, Jakarta 1954, anak pertama dari empat bersaudara ini, justru berangan-angan menjadi astronom/ahli perbintangan. Bukan menjadi seorang dokter, profesi yang kini digelutinya. Karena itulah, ketika remaja, beliau berniat belajar ilmu perbintangan. “Waktu itu, lulusan ilmu perbintangan masih sangat langka,” kenang Prof. Sidabutar
  • Bukan apa-apa. Pada masa itu, memang Amerika Serikat lagi gencar dengan program antariksawannya. Begitu pula dengan Uni Soviet (CIS). Kedua Negara itu berseteru untuk membuktikan siapa diantara mereka yang berhasil mendaratkan astronotnya ke bulan. Barangkali, berkat informasi inilah yang membuat remaja Sidabutar berniat menjadi astronom. Meskipun sebenarnya pada dasawarsa 1950-an profesi idola anak remaja adalah dokter, guru, dan insinyur.  Ketika Sidabutar Berkonsultasi dengan ibunya, Rustina L.H. br.Siahaan, justru oleh ibunya remaja Sidabutar dianggap terlalu berangan-angan. Karena belum bisa memutuskan pilihannya, Sidabutar kelahiran Balige, Tapanuli 18 Oktober 1935 itu lalu berkonsultasi dengan kepala sekolahnya. “Kata beliau, kalau saya memilih kedokteran, saya pasti berhasil”, kenangnya mengutip kata-kata kepala sekolahnya.  Bersama 600 orang pelamar lainnya, pada tahun 1954, remaja Sidabutar ikut ujian masuk Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK-UI), Jakarta. Anak dari Wismar Sidabutar, pegawai pada Departemen Kehakiman ini termasuk yang lulus. Ketika itu, jumlah kursi sedikit. Kalau ingin dapat tempat duduk waktu kuliah, maka, “Jam setengah lima kita harus sudah di sana”. Ketika itu, suasana kuliah masih enak. Hubungan dosen dan mahasiswa cukup baik. Orang tua tidak perlu terlalu banyak mengeluarkan uang. Jumlah siswa yang ingin melanjutkan ke perguruan tinggi masih sedikit. Banyak sekali tawaran beasiswa dari pemerintah, dengan kewajiban mengikuti ikatan dinas. “Setahun kemudian saya dapat ikatan dinas. Rapel (beasiswa) keluar setiap tahun. Rapel pertama, kita ramai-ramai beli jas”, ujarnya, mengenang masa kuliah dulu.  Setelah lulus FK-UI, 1961, kembali Sidabutar dihadapkan pada pilihan. Dasar pilihan untuk menentukan bidang spesialisasi memang, dokter yang bertubuh pendek ini suka berangan-angan. Akhirnya ia memilih spesialis penyakit dalam. Karena di spesialis ini, “Banyak teori dan penalaran”, ujarnya. Ketika itu, yang paling popular adalah ahli bedah. Tetapi , yang paling diminati, ahli jantung dan ahli paru-paru. “Saya sendiri kemudian memilih mendalami Ilmu Penyakit Dalam, ginjal dan tekanan darah tinggi”.  Setelah mengikuti pendidikan spesialis penyakit dalam selama empat tahun di FK-UI, ia lulus pada tahun 1965. Ketua Perhimpunan Transplantasi Indonesia (PERTRANSI) ini mulai menyenagi masalah ginjal dan darah tinggi. Beliau menjajaki pakar-pakar ginjal dan pakar darah tinggi (hypertensi), rumah sakit tempat pakar-pakar itu bertugas, termasuk perguruan tingginya. Beliau melirik pakar ginjal Australia, Belanda, Inggris, Jerman Barat, Amerika, Jepang dan sebagainya. Setiap ada rekanan yang bertandang ke negeri itu, Sidabutar tidak lupa menitipkan surat untuk disampaikan kepada pakar ginjal di negeri itu. Kepercayaan dirinya untuk mendalami penyakit ginjal semakin kental. Setelah menghadapi banyak kasus di negerinya dan melihat perkembanhan di luar negeri, dan ditambah dukungan oleh Prof.Dr. Utoyo Sukanto salah seorang seniornya semangat Sidabutar pun kembali menyala-nyala. “ Beliau itu sangat terbuka dan dengan gembira menandatangani surat saya (sebagai referensi) yang akan saya kirimkan ke pakar ginjal di luar negeri”.  Bukan hanya melalui surat, Sidabutar pun terbang langsung ke luar negeri. Saat itu ia mendapat kemudahan dan dukungan dari pamannya yang bekerja di Garuda Indonesia. Sudah menjadi kebijakan Garuda, setiap karyawannya mendapat jatah tiket gratis. Sebagai anggota keluarga pamannya, Prof. Sidabutar menggunakan jatah tiket gratis itu untuk bertandang ke luar negeri. Akhirnya, ayah tiga anak, yang menikah dengan Roswita br.Simanjuntak tahun 1964, bisa mengikuti pendidikan singkat tentang ginjal di Universitas Leiden, Belanda. Disana, orang Batak ini dianganggap sebagai adik oleh Prof.J de Graeff, yang punya perhatian besar tentang Indonesia. Prof.J de Graeff adalah putra Gubernur Jendral de Graeff.  Tetapi, secara formal, justru ia mengikuti pendidikan superspesialis (kini spesialis II) ginjal di FK-UI. Yang, menarik, justru ia sendiri yang menandatangani ijazahnya. “ Aneh, tapi begitulah kenyataannya”, tutur Sidabutar. Sebab, “Waktu itu, kalau ada yang bilang saya ahli ginjal, tidak ada yang keberatan”, tambahnya. Namun, ia mesti berjuang agar diakui oleh himpunan profesi. Dan, perjuanan itu tidak terlalu sulit. Kini, orang Batak yang bertubuh pendek itu, bahkan sudah meraih guru besar. Sekarang, ada 50-an ahli ginjal bertebaran di Indonesia.  Ginjal, yang kerap dikenal sebagai buah pinggang, adalah alat tubuh yang berbentuk kacang merah. Jumlahnya dua buah, terletak di rongga belakang perut, sebelah kiri dan kanan tulang belakang. Fungsinya mengeluarkan bahan-bahan beracun dan sampah yang tidak terpakai lagi dan menghisap kembali bahan yang masih diperlukan. Sehingga, buah pinggang memproduksi berbagai hormone. Itulah sebabnya, kalau orang yang menderita gagal ginjal, buah pinggangnya tidak berfungsi lagi, darahnya akan keracunan. Kalau tidak dilakukan pencucian darah, maka pasien akan meninggal.
  • Cangkok Ginjal  Ginjal merupakan organ tubuh yang unik. Dengan hanya satu ginjal, orang masih bisa hidup. Seandainya, kedua ginjal pasien sudah tidak berfungsi lagi sebagai penyaring dan pencuci darah, orang masih bisa bertahan hidup. Seorang ahli Ginjal bisa membantu memulai proses “Hemodialisis” (pencucian darah) atau “dialysis mandiri berkesinambungan”, suatu pencucian melalui rongga perut yang dilakukan sendiri oleh pasien di rumah agar bahan-bahan beracun tidak mendekam di dalam darah. Inilah bedanya dengan ahli hati atau jantung. Kalau jantungnya beberapa menit saja berhenti, bukan mustahil manusia itu bisa menemui ajalnya.  Bukan hanya berkemampuan membantu ‘mencuci darah’ ahli ginjal juga bisa mencangkok ginjal dari donor. Tentu, pencangkokan itu bertujuan untuk menggantikan fungsi ginjal pasien, yang sudah aus.  Setelah bergelut dengan tantangan kekurangan sarana, kendala dari sudut budaya dan agama, tahun 1977 untuk pertama kalinya beliau bersama sejawatnya berhasil mencangkokkan ginjal. Hingga kini, dengan dukungan peralatan yang memadai dan ahli lainnya, anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI) ini telah berhasil mencangkokkan lebih dari 100-an ginjal.  Agar pencangkokkan ginjal dapat berkembang di suatu Negara, maka sumber donor ginjal perlu dimanfaatkan. Untuk dapat mencapai hal ini dibutuhkan dukungan dan partisipasi dari masyarakat. Pandangan dari segi budaya, adat-istiadat dan pandangan agama merupakan kendala utama yang harus mendapat perhatian. Dewasa ini tidak jarang orang ingin menjadi donor, tetapi tujuannya adalah untuk mendapatkan imbalan atas ginjal yang disumbangkannya. Menurut Sidabutar, secara etis, menyumbangkan ginjal secara sukarela kepada yang memerlukan, tentu tidak menjadi masalah. “Yang saya protes, negosiasi jual-beli ginjal. Itu, saya tidak setuju”, kata Prof.Sidabutar.  Masalahnya, menurut Sidabutar, kalau orang normal, pasti ada ”take and give”. Ada budi, pasti ada balasannya. Nah, dalam konteks ini, kata Sidabutar, ada suatu penyumbang gijal yang tidak mau mendapat bayaran. Ia menyumbangkan secara sukarela. Tetapi, suatu ketika, penyumbang ginjal ini kesulitan uang untuk membayar uang sekolah anaknya. Nah, “Saya sebagai orang yang tertolong dan sudah disumbangi ginjal, dan saya punya uang, saya tolong dia. Nah, kalau cara seperti ini menurut saya, bukan jual beli”, tutur Sidabutar. Oleh karena itu, menurut Sidabutar, masalah imbalan ada batasannya. Kalau sejak awal, donor dan penerima ginjal sudah negosiasi tentang imbalannya, maka hal inilah, yang tidak disukainya.
  • Pelayanan Kesehatan  Dokter adalah manusia. Sebagai menusia tentu dokter juga tidak pernah lepas dari kekurangan. Karena itu, dokter perlu terus mengembangkan dirinya. Kalau pengetahuannya terus bertambah, menurut Sidabutar, maka kita semakin sedikit menemukan kasus-kasus malpraktik. Tuntutan masyarakat dewasa ini bukan saja mengenai pelayanan medis yang baik, tetapi juga pelayanan nonmedis yang makin meningkat.  Ada pasien yang memprotes karena diberi handuk putih yang tidak sama tebalnya dengan handuk putih-putih yang tebal-tebal.” tutur Sidabutar. Akibatnya, seringkali para susternya kena semprot pasien. Sebaliknya, ada suster yang balik kesal. Sebab, “Suster merasa sudah memberi handuk putih yang baik,”cerita, Prof.Sidabutar. Nah, pada kondisi ini, timbullah protes dari pasiennya. Bahkan, karena masalah seperti itu, justru pasien menganggap pelayanan medis kurang baik. Masalah yang sebenarnya adalah ukuran atau nama yang berbeda. Padahal menurut Sidabutar, dokter itu dididik tidak hanya untuk orang-orang yang berkantong tebal saja. Tetapi juga untuk pasien-pasien yang berkantong tipis. Soalnya, kita tahu penyakit itu bisa menghinggapi siapa saja. Orang kaya atau orang miskin. Itulah sebabnya, menurut Sidabutar, dokter tidak bisa jadi pengusaha. Sebab, “sejak kita sekolah, kita hanya diajarkan masalah-masalah yang erat kaitannya dengan orang yang menderita,” tuturnya. Kecuali, memang, bagi dokter, yang begitu lulus, tidak menekuni profesi kedokteran.  Dewasa ini, seorang dokter yang baru lulus, diwajibkan mengabdi di puskesmas (Pusat Pelayanan Kesehatan Masyarakat) dalam jangka waktu tertentu. Tujuannya, untuk pemerataan pelayanan kesehatan. “Kalau dilihat dari segi kepentingan nasional, ini suatu hal yang positif. Karena kita mau meratakan dan menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan sampai ke pelosok-pelosok,” tutur Sidabutar.  Namun, kalau ditinjau dari segi individu dokternya, kewajiban itu jelas dianggap bertentangan dengan hak asasi manusia. Tetapi, menurut Sidabutar setiap calon dokter, tentunya sudah mempertimbangkan hal-hal tersebut sebelum memutuskan untuk kuliah di fakultas kedokteran. “Saya rasa, setiap dokter, sebelum dia memilih masuk fakultas kedokteran, sudah mempertimbangkan itu. Dia sudah mencoba menyesuaikan diri, bahwa suatu ketika ia mesti mengorbankan kepentingan dirinya sendiri untuk kepentingan masyarakat” tuturnya.  Tetapi, bagi Sidabutar, bekerja di Puskesmas itu cukup menarik. Bukan hanya tantangan bekerja di Puskesmas atau bukan hanya individu si pasien yang kita lihat, tetapi juga lingkungan masyarakat di sana. Misalnya, kalau kita ingin memberikan nasihat tentang rehabilitasi penderita penyakit, kita harus meninjau aspek lingkungan keluarga, seperti anak, istri, saudara-saudara dan sebagainya. “Kalau membuat pekerjaan di Puskesmas, batasan-batasan dari tindakan kita, mesti melihat kepentingan yang lebih besar, “tutur Sidabutar. Sedangkan, di rumah sakit, “Kita hanya behadapan dengan individu”. < br>< br>| Namun kita juga harus berbangga hati bahwa cukup banyak dokter yang senang bila diterjunkan ke Puskesmas. Sebab, mereka itu berhadapan dengan individu pasiennya.karena kita tidak perlu heran dan berprasangka aneh bahwa masih merasa betah dengan daerah dan masyarakatnya, karena merasa sudah tertarik dengan pekerjaan dan lingkungannya. “Bekerja di Puskesmas itu bukan hanya pengorbanan saja”, tutur Prof. Sidabutar.  Masalah lain dalam pelayanan medis antara lain adalah, menyangkut perubahan pola penyakit. Semula, dikalangan masyarakat Indonesia, banyak di temukan penyakit infeksi yang di sebabkan oleh pelbagai jenis jasad renik. Kini, mulai bermunculan penyakit yang disebabkan oleh perubahan pola konsumsi sebagai akibat tumbuhnya kelas menengah baru. Seperti penyakit kanker, jantung dan sebagainya. Akibatnya, secara bertahap terjadi pergeseran dalam pola pelayanan kesehatan. “Dokter perlu mengadakan penyesuaian untuk menghadapi masyarakat menengah ke atas, yang banyak sekali perbedaan pola penyakitnya dan tuntutannya”, ujar Sidabutar.  Di lain pihak, terjadi perubahan teknologi kedokteran yang demikian cepat. Untuk itu, menurut Sidabutar, kita perlu menyaring dan mengadaptasi dulu setiap teknologi apakah cocok untuk kondisi masyarakat kita. Kalau tidak, “Nanti alat-alat kedokteran itu hanya bisa dimanfaatkan oleh segelintir orang”, tuturnya. Sebab, kini, dengan menggunakan alat-alat canggih dalam pelayanan kesehatan, seringkali mendongkrak biaya pengobatan. Keadaan inilah yang menyebabkan ketika ditemukan gelombang kejut sebagai pemecah batu ginjal, beliau tidak buru-buru menggunakannya.  Selain itu, penggunaan alat-alat kedokteran berteknologi canggih itu memerlukan proses adaptasi yang lama dengan kondisi mesyarakat Indonesia. “Jadi setiap teknologi yang masuk, perlu disaring dan disesuaikan dengan kondisi kita. Harus dilihat prioritasnya demi kepentingan orang banyak. Saya rasa demikian untuk masa mendatang”, Tutur Prof. Sidabutar.
  • Keorganisasian  Di samping menjalankan profesinya, penggemar sepak bola, music, fotografi dan lari pagi ini, benyak menggeluti bidang organisasi baik di tingkat nasional maupun internasional. Prof. Sidabutar tercatat sebagai anggota Ikatan Dokter Indonesia, Persatuan Ahli Penyakit Dalam Indonesia, Perkumpulan Gawat Darurat Indonesia, Perhimpunan Transplantasi Indonesia, Perhimpunan Nefrologi Indonesia dan lain-lain. Pada tingkat internasional, Prof. Sidabutar yang hingga tahun 1991 sudah menulis lebih dar pada 150 makalah ini, antara lain tercatat sebagai anggota International Society of Transplantation, International Society of Hypertension, Asia Society for Transplantation dan International Society of Hypertension.  Selain itu, guru besar yang berambut agak ikal ini berkecimpung juga dalam sejumlah yayasan. Antara lain Yayasan Pengembangan Medik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Yayasan Giatri Indonesia, Yayasan Kesehatan PGI Cikini, Yayasan Medigrow, Yayasan Bina Nefrologi dan Yayasan Ginjal Jakarta.  Bagaimana penilaiannnya terhadap Ikatan Dokter Indonesia (IDI)? Menurut Prof. Sidabutar, IDI belakangan ini sangat progresif, aktif dan berani. IDI tidak hanya menegur ke dalam, memperbaiki ke dalam, mengoreksi ke dalam, tetapi juga melindungi. Selain itu, pemikiran-pemikiran IDI sangat progresif dalam mengantisipasi masalah-masalah yang dihadapi. IDI berani mengemukakan pendapatnya dengan tegar.
  • Sejarah Keluarga  Masa kecil Sidabutar, di habiskan di kota kelahirannya, Balige, Tapanuli. Ketika berumur sebelas tahun, tentara datang memasuki kota itu. Prof. Sidabutar kecil tidak bisa pulang dari sekolah. Bahkan ia mesti ikut naik ke gunung. Selama dua hari dua malam, Sidabutar kecil mesti lari ikut rakyat untuk menghidar dari tentara Belanda. “Teman-teman sekelas tidak bisa pulang ke rumah”.  Setahun setelah ia menamatkan sekolah dasar, pada tahun 1948, melalui Singapura Sidabutar merantau ke Jakarta. Ia sempat tinggal sebentar bersama keluarga di Bogor, lalu pada tahun yang sama, anak pasangan Wismar Sidabutar dan Rustina L.H. br. Siahaan ini masuk SMP Kristen Jakarta. Tentunya, ia pindah dan tinggal lagi di Jakarta bersama orangtuanya. “Rumah orangtua saya dulu seperti asrama. Banyak orang yang numpang tinggal di rumah kami”, katanya.  Ada keanehan ketika beliau sekolah di SMP. “Waktu pertama saya datang, saya tidak pakai sepatu sekolah. Saya ditertawakan karena memakai sepatu tenis. Mereka anggap itu suatu keanehan, karena sepatu tenis dipakai untuk sekolah”, kenang Prof.Sidabutar. “Waktu itu saya tidak mengerti, mengapa saya ditertawakan”, tambahnya. Ternyata, memakai sepatu tenis untuk bersekolah, ketika itu masih dianggap aneh.  Lulus SMP Kristen tahun 1951, terus melanjutkan ke SMA Kanisius di kawasan Menteng Raya, Jakarta. Senagai orang yang berasal dari kampong, Prof. Sidabutar mesti belajar keras, agar bisa beradaptasi dengan teman-temannya yang pintar-pintar. Dan lagipula, prestasi adalah segala-galanya. “Prestasi itu dihargai sekali. Guru-guru akan sangat menghargai kalau kita berprestasi. Iklimnya saat itu adalah iklim berprestasi”, kenang Prof. Sidabutar.  Bukan hanya prestasi di bidang ilmu alam, misalnya, tetapi juga di bidang olahraga dan kesenian. “Saya anggap, selama saya di SMA Kanisius adalah merupakan masa adaptasi yang cukup keras. Saya tidak pernah mengatakan kepada teman-teman bahwa orangtua saya sederhana. Saya belajar dengan keras dan giat berdisiplin”, ujar Prof. Sidabutar. Sikap-sikap inilah, yang kemudian mewarnai dalam kehidupan beliau selanjutnya.  Tiga tahun setelah meraih dokter umum dari Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, pada tahun 1964 beliau menikah dengan Roswita br.Simanjuntak. dari hasil perkawinannya, pasangan ini dikaruniai dua putra dan satu putri. Yaitu, Dr. Hilda Apulana Ruswaty Sidabutar, Basana Mangihutta Sidabutar, S.H. yang ada pada bulan Agustus 1992 baru-baru ini mencapai gelar M.A. di USA, dan Wilmar Josua Sidabutar, S.E. (kini mengikuti pendidikan strata 2 di USA).  Tetapi, di tengah kesibukannya sebagai dokter, guru besar ini seringkali mesti berjanji dulu untuk bertemu dengan anak-anaknya. Kesempatan berkumpul bersama isteri dan anak-anak merupakan hal yang langka baginya. Makan bersama-sama di restoran kadang-kadang hanya terjadi bila berpergian bersama keluar kota atau ke Singapura misalnya. Dalam kesempatan seperti itu anak-anak tidak jarang “menertawai” ayahnya. Karena membanggakan hal yang ada di Singapura, padahal di Jakarta jenis itu banyak. Masalahnya kalau di Jakarta, Sidabutar tidak sempat melepaskan pekerjaan, sehingga tidak melihat apa yang dibanggakannya. “ Di Jakarta beginian banyak, Pak” kata anak-anak.  Di dalam pekerjaan, dokter ini memang berhasil. Bahkan ia mempunyai motto: tiada hari esok untuk menyelesaikan pekerjaan hari ini, sehingga pekerjaan tidak menumpuk . tapi, sayang, guru besar ini suka lupa, misalnya, memberikan ucapan selamat kepada anak-anaknya yang berhasil menempuh pendidikan. “Saya tidak membuat pesta atau perayaan sedikitpun kepada anak-anak saya. Padahal mereka sudah lulus sarjana. Inilah salah satu kelemahan saya”, tuturnya.
  • Suka Berangan-angan  Profil Sidabutar sebagai dokter justru kadang dijadikan anak-anaknya sebagai bahan olok-lokkan. Sidabutar dijuluki “tukang cukur rambut”. Habis, “Kalau saya berpakaian dinas dokter, saya tidak kelihatan seperti dokter, tetapi seperti tukang cukur rambut”, katanya sambil tertawa.  Meskipun Sidabutar sekarang telah menjadi dokter, namun cita-cita masa lalunya untuk menjadi astronom tidak terkubur begitu saja. Sering sebelum tidur, Sidabutar membaca buku-buku astronomi. Sifatnya yang suka berangan-berangan masih terus terpelihara dan dikembangkan. Hal ini terlihat buku computer, humor dan buku-buku fiksi.  Sidabutar juga mengakui berangan-angan untuk masuk surge. “Kalau saya masuk surge, permintaan saya, saya ingin tur ke alam semesta. Kedua, saya ingin menjadi penyanyi paduan suara” tutur Prof. Sidabutar. Kok, Penyanyi?  Bukan apa-apa. Ketika menjadi mahasiswa, saya di FK-UI, Jakarta, remaja Sidabutar pernah bergabung dalam suatu group band. “Saya tidak pernah balajar musik. Tetapi, waktu masih mahasiswa, saya pernah mengikuti grup music band”, katanya. Mereka tampil kalau ada acara-acara di FK-UI. Acaranya biasanya digabung dengan acara ilmiah social.  Tetapi, zaman sekarang, menurut Prof. Sidabutar, kita tidak bisa hidup dengan angan-angan saja. Tetapi bagaimana mewujudkan angan-angan itu menjadi kenyataan. Anggaplah angan-angan itu sebagai pilihan. Nah, menurut Sidabutar, dalam hidup itu jangan hanya bersandarkan pada satu pilihan. Tetapi, banyak pilihan. “Sampai sekarang pun, selalu saya katakan, tidak boleh hanya mempunyai satu pilihan. Tetapi, harus ada yang pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Di samping jadi astronom, dokter adalah pilihan pertama saya, tutur Prof. Sidabutar sembari tersenyum.

sumber:

http://www.pdpersi.co.id/ dan http://www.pdat.co.id/ads/html/R/ads,20030625-62,R.html

Dr. Tommy Sihotang, SH., LLM.


Nama Lengkap
tommyDr. Tommy Sihotang, SH., LLM.
Tempat Tanggal Lahir: Pematang Siantar, Sumatera Utara, 03 Desember 1957

Agama:
Kristen Protestan

Isteri:
Maudy Conny Maningkas (asal Manado yang kemudian diberi boru Nadeak)

Anak:
Myco Obaja Halomoan Sihotang
Christy Pingkan Hasianna Sihotang

Orangtua:

Ayah:
Marsinta Sihotang
Ibu:
Bungaria boru Nadeak

Saudara:
Anak ketujuh dari 13 bersaudara (salah satunya: [alm] Pdt Tohap Sihotang STh)

Pendidikan:
Sarjana Hukum (S.H.) dari Universitas Jayabaya, Jakarta, tahun 1986
Magister Hukum (LL.M.) dari Sheffield University, UK, tahun 1999
Doktor Ilmu Hukum Pidana, Universitas Padjadjaran, Bandung, tahun 2007

Karier:
Asisten Pengacara pada Law Office “Maruli Simorangkir & Associates”
Pendiri Law Office JPRT & Associates
Pendiri Law Offices Tommy Sihotang & Partners

Kegiatan Ilmiah:

  • Pembicara pada Seminar “Prospek Reformasi di Indonesia” di London, oleh Kedubes Indonesia bekerjasama dengan PPI, tahun 1999
  • Peserta Seminar “Churches as the Peace Makers in a Changing World” di Seoul, Korea Selatan, tahun 2003
  • Penceramah mengenai HAM dan “Pertanggungjawaban Komando” di Mabes TNI Cilangkap, di Sesko TNI, Sesko AL, Divkum Mabes Polri, beberapa Korem dan Kodim
  • Anggota Tim Pakar Hukum Departemen Pertahanan Republik Indonesia, tahun 2007 sampai sekarang
  • Pengajar di Fakultas Hukum, Universitas Atmajaya dan Jayabaya Jakarta

Organisasi

  • Dewan Penasehat DPP IKADIN (Ikatan Advokat Indonesia) selama 2 (dua) periode
  • Vice President DPP KAI (Kongres Advokat Indonesia), tahun 2008 sampai sekarang
  • PLT. Presiden DPP KAI (Kongres Advokat Indonesia), tahun 2010 sampai sekarang

Karya Buku:

  1. Ketika Komandan Didakwa Melanggar Hak Asasi Manusia, 2009
  2. Hukum Acara di Pengadilan Hak Asasi Manusia, 2009

Alamat Rumah:
Jalan Bangka XI No. 56 Kemang, Jakarta Selatan
Alamat Kantor:
Jalan Wolter Monginsidi No. 122-124, Jakarta Selatan

“Anak Pedagang Sayur Menjadi Pengacara Hebat”

Tommy bersaksi bahwa kehidupan yang sekarang sedang ia jalani adalah sesuatu yang bahkan tidak pernah ia mimpikan karena semasa kecilnya ia harus hidup dengan biaya pas-pasan. Awal ke Jakarta bersama orangtuanya, mereka harus tidur di kolong jembatan dengan membangun bedeng dari bambu.

“Kalau kami semua bisa makan setiap hari, itu sudah suatu karunia yang luar biasa,” demikian tutur Tommy.

Orangtuanya kemudian memulai usaha dengan berdagang hasil bumi seperti bawang, cabai dan sayur-sayuran. Untuk memenuhi kebutuhan mereka sekeluarga, Tommy dan ibunya setiap pagi harus pergi ke pasar induk Kramat Jati untuk mengambil bahan-bahan dagangan mereka dan dijual. Mereka harus naik sebuah mobil bak kecil setiap jam 4 pagi.

Pada saat itu Ia berpikir bahwa mereka tidak boleh seperti ini terus. Ia harus membuat perubahan dalam kehidupan ekonomi mereka. Setelah lulus SD, Tommy tidak sekolah selama 2 tahun. Ia menjadi makhluk ekonomi yang berjualan es, Koran, permen dan bahkan ia menkadi pemecah batu untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Tinggal di Jakarta dengan 13 orang anak dan dalam kemiskinan, orangtua Tommy tetap menganggap bahwa sekolah adalah hal yang penting. Namun keterbatasan finansial membuat Tommy harus bersabar dan menahan keinginannya yang menggebu-gebu untuk belajar, hingga suatu hari seseorang yang baik hati menawarkannya sekolah.

“Sekolah itu, bapak saya dan mamak saya sudah tidak ngurusin saya, karena saya sudah mulai cari uang sendiri. Saya pikir, saya tidak boleh berdiam diri, saya tidak boleh begini terus. Karena kalau saya ikuti situasi saat itu, paling banter saya seperti bapak saya, punya kedai makanan, warung makan nasi. Masa saya harus seperti itu… hal itu memacu saya, saya harus bangkit,” jelasnya.

Waktu itu, satu pikirannya untuk merubah nasib adalah dengan banyak membaca. Ia kemudian masuk sekolah pelayaran dan berlayar untuk mengumpulkan uang demi bisa melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah.

Pada tahun kedua ia kuliah, ia diajak temannya untuk bekerja di kantor pengacara. Awalnya ia tidak tahu apa itu pengacara. Yang ia tahu bahwa kalau ia bekerja maka ia akan mendapat uang. Ia bekerja di Firma Hukum Maruli Simorangkir dan menjadi asisten pengacara. Tetapi disana ia melakukan semua pekerjaan. Termasuk pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh Office Boy, misalnya bayar tagihan telepon, tagihan listrik, beli Koran sampai menyuguhkan minuman pada tamu. Bahkan sampai membetulkan genteng yang bocor. Ia lakukan semua dengan sukacita. Ia harus bekerja disana sampai jam 5 dan harus ke kampus sepulang kerja. Tanpa ia sadari sebenarnya ia sedang mempelajari praktek hukum yang sebenarnya disana yang tertanam sampai sekarang. Menurut Maruli ia adalah orang yang tekun. Tekun dalam pekerjaan dan sekolah.

“Saya bahkan memilih tidur di kantor. Proses pembentukan itu, ya seperti itu.. Sampai hanya dalam waktu satu tahun saya sudah mahir bagaimana membuat gugatan, bagaimana membuat pembelaan perkara pidana..”

Kerja kerasnya akhirnya membuahkan hasil, pada tahun 1986 ia berhasil mendapat gelar sarjana hukum. Bahkan di tahun 1988 ia mengundurkan diri dan mendirikan firma sendiri yaitu Tommy Sihotang & Partners.

Menjadi kaya adalah pilihan. Menjadi miskin juga adalah pilihan. Setelah ia mengalami masa kecil yang tidak enak. Ia mulai bangkit dan maju untuk memperbaiki keadaan perekonomian. Sejak saat itu ia dipercayakan untuk menangani kasus-kasus besar dan namanya mulai sejajar dengan para pengacara-pengacara besar yang sudah ada. Bahkan pada tahun 2006, Tommy berhasil mendapat gelar doktor di bidang hukum. Menurut Tommy untuk keluar dari kemiskinan, kita harus melakukan suatu terobosan dalam hidup. Dan terobosan itu hanya kita bisa lakukan bersama Tuhan Yesus.

“Saya bisa lewati semua itu, dan saya bisa mendapat buah yang sangat baik dari Tuhan, semua karena kebaikan Tuhan. Saya harus katakan, ‘tanpa Tuhan ngga usah ngomong, karena semua itu ngga ada artinya hidup.’ Tuhan sudah bawa saya ke tempat yang tinggi, itu artinya Tuhan sudah tetapkan saya bekerja di ladang hukum saja. Itu juga pelayanan saya di gereja, yang berhubungan dengan hukum. Pekerjaan saya Tuhan pakai untuk pelayanan bagi orang lain.”

Tommy Sihotang sudah berhasil melewati semua lingkaran kemiskinan yang membelenggunya dan keluarganya. Ia keluar menjadi pemenang. Dan semua itu berkat Tuhan Yesus yang sudah sangat baik dalam hidupnya.

“Jangan pernah putus harapan, karena harapan itu selalu ada. Dia hanya mau kita lakukan tugas dan kewajiban kita dengan benar dan maksimal. Jadi sekali lagi, semua yang saya lakukan, yang saya ucapkan, yang saya peroleh, semua itu untuk hormat dan kemuliaan bagi Tuhan Yesus saja,” ujar Tommy menutup kesaksiannya.

Sumber: http://www.jawaban.com/news/spiritual/detail.php?id_news=090417143557

Junedi Sirait, SH


Biodata

junedi sirait Nama : Junedi Sirait , SH

  • Tempat/Tanggal Lahir             : Pematang Siantar, 6 Mei 1966
  • Pekerjaan                                    : Anggota DPRD Kab. Bogor Periode 2009-2014

Istri:

Mayor CKU (K) Kartini Siringoringo

Anak:

  1. Ananda Christie Angelin
  2. Angela Irena Minarti Anabel

Riwayat Organisasi:

  • Ketua dan Pendiri Lembaga Swadaya Masyarakat Eksaminasi, Penegakan Hukum dan Anti Korupsi (LSM EK-PHAKSI)
  • Ketua dan Pendiri Lembaga Advokasi Demokrat (LEADER)
  • Ketua DPC IKADIN Jakarta Barat
  • Penasehat DPC PERADI Jakarta Barat
  • Ketua Bidang Organisasi DPP IKADIN
  • Sekretaris III DPP Ikatan Pelopor Pembangunan
  • Wkl. Ketua Bidang Hukum & HAM DPC Partai Demokrat Kabupaten. Bogor
  • Departemen Hukum & HAM DPP GKJI
  • Sekjen Yayasan Panca Jati

Riwayat Pekerjaan :

  1. LBH Kosgoro, Jakarta Pusat.
  2. Kantor Hukum HENDRI. S & Associates, Jakarta Pusat.
  3. Kantor Hukum JUNEDI SIRAIT & Rekan, Jakarta Barat
  4. Lembaga Advokasi Demokrat (LEADER), Bogor

 

Alamat:

Perumahan Legenda Wisata Cluster Marcopolo A.18 No.16-17 Ds. Wanaherang, Kec. Gunung Putri Kab. Bogor 16967 : Perumahan Griya Kenari Mas Blok H.3 No.12-13. RT.08 – RW.10 Cileungsi – Bogor 16820

“Legislator Yang Tak Gentar Bicara Benar”

 Namanya sudah tidak asing lagi di dunia Praktisi Hukum. Junedi Sirait, SH, pria kelahiran Pematang Siantar, 6 Mei 1966 memulai karier sebagai praktisi hukum Advokat/Pengacara di era tahun 2007. Namanya melejit ketika membela para Pilot yang berseteru dengan Perusahaan PT Adam Air Skyconnection yang kemudian hari oleh pemerintah mencabut izinnya.

Penjabat Sekretaris Ikatan Advokat Indonesia (IKADIN) Jakarta Barat ini juga pernah memimpin unjuk rasa, sedikitnya 500 Advokat, berorasi di Kejaksaan Agung, DPR-RI dan Istana Presiden. Unjuk rasa itu untuk membela rekan seprofesinya Ali Mazi, SH, mantan Gubernur Kendari, Sulawesi Tenggara, yang dijadikan sebagai tersangka pada saat menjalankan profesinya sebagai Pengacara dalam kasus Hotel Hilton. Hasilnya, Ali Mazi oleh putusan hukum dinyatakan tidak terbukti bersalah, bebas.

Selama menjadi Advokat Junedi juga sangat konsisten menyuarakan agar Advokat bisa disetarakan dengan penegak hukum lainnya seperti Polisi sebagai Penyidik, Jaksa sebagai Penuntut dan Hakim sebagai Pemutus perkara dalam pengadilan. “Bagi saya Advokat sebagai Pembela, sehingga hak immuniteit Advokat dalam menjalankan tugas dan fungsinya sebagai penegak hukum, baik di dalam maupun di luar pengadilan demi hukum harus tetap terjaga dan dilindungi berdasarkan Undang-Undang,” ujar anggota DPRD Kabupaten Bogor Periode 2009-2014, dan Ketua Dewan Kehormatan DPRD Kabupaten Bogor, ini.

Sejak tahun 2009 lalu, Junedi mengantungkan toga profesi kepengacaraanya, untuk lebih konsen, terjun ke ranah politik. Saat itu dia terpilih Legislatif dari Partai Demokrat untuk DPRD Kabupaten Bogor. Kini, dia bertekad untuk kembali mempertahankan kursi Legislatif yang telah dia sandang selama ini. Menjadi Calon Legislatif DPRD Kabupaten Bogor, Daerah Pemilihan 2 (dua) melalui Partai Demokrat dengan Nomor Urut 4. Apa sesungguhnya yang menjadi motif di balik pencalonannya kembali itu? Berikut bincang-bincangnya dengan Hotman J Lumban Gaol, Redaktur Pelaksana Reformata:

Sudah lebih enak jadi Pengacara, dan memiliki karir yang cukup bagus. Apalagi Anda tercatat pernah menjabat sebagai Ketua IKADIN Cabang Jakarta Barat, jabatan yang prestisius. Mengapa banting stir memilih karier di dunia politik?

Sesungguhnya saya terjun ke dunia politik ini bukan dadakan. Sudah jauh-jauh hari saya rencanakan, dengan sangat matang dan tentunya dengan berbagai pertimbangan. Berjubel pengalaman sebagai Advokat, 18 tahun, justru malah mendorong saya untuk memutuskan terjun ke dunia politik. Saya ingat betul saat pertama kali terjun ke dunia politik dan memilih Partai Demokrat sebagai sebagai kendaraan dan sekaligus sebagai rumah politik saya, itu sudah dalam kurun waktu yang cukup lama. Sejak awal berdirinya Partai Demokrat dan waktu itu saya dan teman-teman sudah berperan aktif melakukan tugas dan fungsi kami sebagai Advokat, melakukan Advokasi Hukum di Partai Demokrat. Dimana pada saat itu kami mendapat kepercayaan langsung dari Ketua Umum Partai Demokrat yang pertama, yaitu Bapak Prof. Dr. Budi Santoso.

Saya masih ingat betul tugas pertama yang diberikan kepada saya sekitar tahun 2004 adalah mengamankan DPC Partai Demorat Kabupaten Bogor melalui payung hukum dari manufer-manufer politik yang dilakukan oleh orang-orang yang ingin memanfaatkan situasi dan kondisi pasca-pertama sekali terpilihnya SBY sebagai Presiden RI melalui Partai Demokrat. Tiba-tiba saja banyak orang berbondong-bondong masuk ke Partai Demokrat dengan animo politik yang luar biasa tingginya. Bisa menjadi pejabat partai, baik di pengurusan tingkat Desa hingga Pengurus Dewan Pimpinan Pusat. Dan itu pun dilakukan dengan berbagai manufer yang menghalalkan segala cara demi kepentingan sesaat. Baik itu untuk kepentingan pribadi maupun kelompoknya.

Maka, kalau diingat-ingat waktu itu Partai Demokrat yang bukan apa-apa dan merupakan partai yang tidak pernah diperhitungkan sebelumnya, sama sekali oleh kekuatan lawan, akan tetapi dalam waktu yang sangat singkat Partai Demokrat menjadi idola dan sekaligus primadona Partai Politik yang ada, kalau boleh dibilang “iya kira-kira seperti madu yang sedang dikerumuni oleh semut-semut.”

Terbesit sepertinya Partai Demokrat adalah satu-satunya Rumah Politik bagi Anda….

Sebagai pribadi saya berperan aktif dalam menyalurkan aspirasi politik, dan sekaligus terlibat langsung sebagai pengurus partai politik di Partai Demokrat. Jadi sudah barang tentu hal ini menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi saya dalam berpolitik. Terus terang, pada awalnya di tahun 2004 saat itu saya begitu terobsesi dengan kharisma dan  figur seorang Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan kemudian saya mencoba belajar memahami lebih dalam tentang ajaran fundamental partai yang dibangun oleh SBY dengan rumusan garis ideologi partai yang Nasionalis-Religius.

Artinya, bahwa secara horizontal pusat perhatian partai adalah pada mempertahankan NKRI serta memupuk kecintaan kepada bangsa dan Negara, dan secara vertikal adalah membangun manusia, masyarakat dan Bangsa Indonesia yang dilandasi dengan semangat keagamaan, yakni beriman kepada Tuhan Sang Pencipta. Lalu menyebarluaskan kasih sayang Tuhan dimuka bumi ini. Demikian juga dengan sifat partai yang inklusif, artinya bahwa Partai Demokrat terbuka bagi seluruh warga Negara; tanpa membedakan suka, agama, ras dan golongan, yang berdasarkan Pancasila sebagai Dasar Negara dan Falsafah Bangsa, di mana idealisme sebagai Trilogi Perjuangan Partai yaitu Demokrasi, Kesejahteraan dan Keamanan merupakan tiga hal yang secara sinergis diperjuangkan.

Garis ideologi partai yang Nasionalis-Religius itu mendorong Anda terjun ke politik?

Doktrin partai telah meneguhkan saya sungguh-sungguh memahami, memilih, mengapa saya terjun ke dunia politik dan memilih Partai Demokrat sebagai Rumah Politik saya. Saya pernah menjadi fungsionaris di DPP Partai Demokrat Bidang Politik dan Otonomi Daerah, dan kemudian dipercaya sebagai pengurus harian DPC Partai Demokrat Kabupaten Bogor sebagai Wakil Ketua Bidang Hukum, sesuai dengan keahlian yang saya miliki. Semua itu terjadi tidak dengan begitu saja, tetapi melalui proses dan berdasarkan kepada perjuangan dan komitmen politik yang selama ini saya laksanakan dengan sebaik-baiknya terhadap Partai Demokrat. Secara pribadi saya terus menanamkan niat berbuat sesuatu yang terbaik bagi masyarakat dan daerah tempat tinggal saya (di Perumahan Legenda Wisata Cluster Marcopolo, Ds. Wanaherang, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor).

Sebagai anggota DPRD Kabupaten Bogor periode 2009-2014, boleh diceritakan seperti apa perjalanan karir politik Anda?

Begini, yang pasti saat itu saya diberi amanah oleh Partai Demokrat Kabupaten Bogor untuk menduduki jabatan sebagai Wakil Ketua Fraksi dan sekaligus menjadi Ketua Komisi A yang membidangi Pemerintahan dan Hukum, meliputi Pemerintahan Umum, Ketertiban dan Keamanan, Politik, Hukum dan Perundang-undangan, Humas/Pers, Kepegawaian/Aparatur Daerah, Organisasi Masyarakat, Kependudukan, Pertanahan dan Perizinan. Maka, dalam hal ini sesuai tugas pokok dan fungsi. Saya senantiasa terus berusaha dengan sebaik-baiknya untuk mengemban amanah partai yang telah menugaskan saya untuk bisa memberikan yang terbaik dan berguna bagi masyarakat. Kemudian, seiring perjalanan waktu dan aturan politik di DPRD mengenai pergantian paruh waktu, rotasi kepemimpinan, saya pun kembali dipercaya untuk mengisi jabatan sebagai Ketua Badan Kehormatan Dewan.

Apa saja yang kendala yang dihadapi selama menjadi anggota legislator?

Sebagai Anggota DPRD yang mengemban tugas dan amanah, saya senantiasa fokus untuk bekerja dengan sepenuh hati guna mewakili kepentingan masyarakat secara utuh sesuai tupoksi yang saya miliki. Khususnya kepada para konstituen selaku pemilik hak suara yang telah memutuskan dan memberikan dukungan penuh untuk memilih saya sebagai wakil mereka di parlemen. Lalu, memperjuangkan dan memidiasi setiap persoalan masyarakat yang menyangkut kepada urusan kebijakan pemerintah daerah dan persoalan-persoalan lain yang berhubungan dengan kehidupan warga masyarakat. Tentu hal-hal yang bersentuhan dengan hak-hak masyarakat itu sendiri. Kalau ditanya kendala, masih banyak masyarakat yang hidup di pedesaan yang SDM-nya masih dibawah rata-rata. Sehingga terasa sulit untuk bisa memberikan pemahaman yang lebih mendalam akan kesadaran berpolitik dan kepatuhan terhadap kewajiban sebagai warga Negara.

Kami peroleh informasi dari berbagai kalangan di DPRD dan Pemerintahan Daerah Kabupaten Bogor, Anda dikenal sebagai anggota yang suka berbicara vokal dan lantang, terkesan menantang, bahkan saat Anda menjabat sebagai Ketua Komisi A, juga dijuluki sebagai Komisi Bajak Laut. Bisa Anda jelaskan?

Hahaha…… kalau dibilang terkesan menantang itu sih kurang tepat. Julukan Komisi Bajak Laut sebenarnya hanya istilah yang diberikan teman-teman LSM dan para pewarta, jurnalis. Itu tak lebih karena di masa kepemimpinan saya sebagai Ketua Komisi A kami memang selalu tegas dalam memberikan rekomendasi dan keputusan. Baik itu kepada pihak pemerintah daerah, lembaga vertical, maupun swasta. Sepanjang yang berhubungan dengan kehidupan yang menyangkut permasalahan warga masyarakat, kami selalu memposisikan bahwa hak masyarakat itu jangan pernah terabaikan, kita tak kenal kompromi, dan kita selalu laksanakan dengan sebaik-baiknya dengan mendahulukan kepentingan masyarakat.

Tetapi saya pikir sebagai Wakil Rakyat iya memang sudah seharusnya kita melakukan itu, dalam arti bahwa kita harus ingat tentang tupoksi kita sebagai anggota DPRD yang melaksanakan tiga fungsi, yaitu: Legislasi yaitu bersama eksekutif membuat peraturan daerah. Lalu, Budgeting untuk menetapkan anggaran dengan skala proritas. Dan terakhir memiliki sikap Controlling.

Artinya, melakukan pengawasan terhadap kinerja para eksekutif?

Bagi saya agar tiga fungsi ini bisa berjalan dengan baik, memang selain keberanian juga perlu ketegasan. Itu juga sangat dibutuhkan. Tak kalah penting semua argumentasinya harus terukur, dapat dipertanggung-jawabkan dan harus berjalan by rule, dan justru saya pikir sebagai anggota parlemen kita malah tidak boleh mencla-mencle apalagi cuma bisanya cengengesan, dan tahunya cuma teriak setuju saja saat pelaksanaan rapat-rapat dan hanya ingin mengedepankan kepentingannya semata. Lagi-lagi sebagai Wakil Rakyat, memang sudah semestinya berani dan mampuh berargumentasi yang tentunya harus didasari oleh penguasaan disiplin ilmu yang baik dan penuh tanggung jawab. Jadi jangan hanya asbun, asal bunyi. Karena dalam menjalankan amanat rakyat yang kita wakili itu adalah kepentingan haknya dalam segala bidang, jadi sikap dan tingkah laku kita juga harus mencerminkan seorang pemimpin.

Sebagai Ketua Badan Kehormatan Dewan, bagaimana pandangan Anda, saol badan yang Anda pimpin mandul dan hanya formalitas pemenuhan standard saja, bahkan bila BKD menjalankan fungsinya maka diberi label sebagai fungsi Alat Kelengkapan dengan istilah jeruk makan jeruk?

Saya tidak setuju dengan istilah itu, justru Badan Kehormatan ini sangat dibutuhkan keberadaannya dalam hal melakukan fungsi tugasnya sebagai internal affair dalam memantau, mengevaluasi disiplin, etika dan moral para anggota DPRD dalam rangka menjaga martabat dan kehormatan Lembaga, serta guna meneliti pelanggaran yang dilakukan oknum anggota DPRD terhadap peraturan Tata Tertib dan Kode Etik DPRD serta sumpah janji yang telah diucapkan pada saat pelantikan sebagai anggota dewan. Oleh karenanya, masyarakat jangan sungkan-sungkan untuk menyampaikan pengaduan tentang prilaku para anggota legislatif yang dianggap menyimpang.

Bagi saya, jabatan sebagai Ketua BKD ini adalah merupakan jabatan terhormat yang harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya demi tegaknya sebuah aturan atau regulasi yang ditetapkan di Lembaga DPRD itu sendiri. Untuk membuktikan pernyataan saya ini, ayo silahkan sampaikan pengaduannya dan BKD segera akan melakukan penyelidikan dan verifikasi serta klarifikasi atas pengaduan yang disampaikan tersebut. Saya jamin itu, yang penting pada prinsipnya pengaduan tersebut harus dapat dipertanggung-jawabkan, baik data, fakta dan disertai alat bukti pendukung, jadi jangan hanya sekedar issu yang tak lebih hanya merupakan fitnah untuk menjatuhkan seseorang.

Akhir-akhir ini Partai Demokrat diterpa berita-berita yang tak sedap, bahkan dianggap Partai terkorup. Terkait pencalonan Anda kembali upaya-upaya apa saja yang dilakukan untuk menepis berita-berita tak sedap ini, agar bisa merebut suara masyarakat untuk memberikan dukungannya kepada Anda kembali?

Pertama, saya perlu tegaskan, tidak benar Partai Demokrat itu adalah partai terkorup. Menurut saya, semua itu tak lebih dari permainan kotor politik lawan. Kalau boleh saya mengutip pemberitaan yang baru-baru ini dirilis oleh  sebuah situs resmi berita internet kompasiana.com, yang ditulis oleh Fajar Muhammad Hasan, telah menulis tentang data tingkat korupsi partai-partai peserta Pemilu 2014 adalah sebagai berikut: pertama didominasi oleh PDI Perjuangan dengan jumlah koruptor 84 dengan tingkat persentase 33,7%, kedua Partai Golkar dengan jumlah koruptor sebanyak 60 dengan tingkat persentase 24,1% dan posisi ketiga diduduki oleh PAN dengan jumlah 36 dengan tingkat persentase 14,5%. Ini sinyalemen yang membuktikan ketidakbenaran issu bahwa Partai Demokrat bukan partai terkorup.

Kami menyadari issu-issu seperti itu sengaja dilakukan untuk menghantam Partai Demokrat, karena kita tahu persis bahwa untuk dua periode berturut-turut, Partai Demokrat berhasil dengan gemilang menghantarkan SBY menduduki kursi Presiden RI. Dimana pada pemilu 2014 nanti, tentu SBY tak lagi boleh mencalonkan diri sebagai calon Presiden untuk yang ketiga kalinya sebagaimana amanat konstitusi. Artinya ada peluang yang terbuka lebar bagi partai-partai lain untuk bisa merebut kursi Presiden yang tak lama lagi segera akan ditinggalkan oleh SBY. Ironisnya, beberapa kader Partai Demokrat yang tersandung kasus korupsi malah dijadikan sebagai momen oleh lawan-lawan politik Partai Demokrat sebagai pintu masuk untuk menyerang dan melemahkan Partai Demokrat.

Lalu, apa yang Anda lakukan mengambil hati konsituen?

Oleh karena itu, dengan persoalan-persoalan tersebut maka-mau-tidak-mau sebagai kader Partai Demokrat yang militan, agar bisa terus berkiprah di dunia politik untuk memberi yang terbaik kepada masyarakat, khususnya di Pemerintahan Daerah Kabupaten Bogor maka saya mencoba bekerja dengan metode 4 (empat) AS, yaitu: Kerja Keras, Kerja Cerdas, Kerja Ikhlas dan Kerja Tuntas. Dan yang menjadi modal utama dan sangat berharga adalah mempromosikan diri kepada masyarakat di daerah pemilihan saya atas hasil karya nyata dan kinerja yang sudah dan terus saya lakukan sejak terpilih menjadi anggota dewan hingga sampai saat ini. Pengabdian mana yang terus saya lakukan dengan sebaik-baiknya tanpa ekses, dimana apa yang menjadi aspirasi dan harapan masyarakat akan pembangunan wilayahnya sudah kita serap dan salurkan dengan baik. Dan dalam menyambung tali silaturahmi dengan masyarakat sudah barang tentu saya harus turun ke bawah atau blusukan menemui masyarakat sebagai konstituen pemegang hak suara.

Turun ke bawah, konsolidasi dan sosialisasi, masih ada tantangan yang dihadapi?

Bagi saya tiada hari-hari tanpa konsolidasi dan sosialisasi serta menjelaskan tentang tujuan dan keinginan kenapa saya ingin mencalonkan lagi sebagai calon Legislatif periode 2014 – 2019 kepada mereka dengan gamblang. Jujur saja setiap kunjungan dan sosialisasi yang saya lakukan banyak tantangan yang saya hadapi dan itu bermacam-macam bentuknya, akan tetapi apa yang saya yakini, saya lakukan, biar itu dianggap melawan arus, saya tidak perduli, yang jelas saya berkeinginan ada perubahan yang mendasar khususnya di wilayah Bogor Timur.

Apa lagi SBY itu kan tinggalnya di Dapil saya, jadi saya harus benar-benar bisa membaca sinyalemen atas kebijakan Presiden SBY yang pro rakyat, seperti terus mensosialisasikan dan memantau pengawasan jalannya kebijakan-kebijakan Pro Rakyat, meliputi BOS, PNPM Mandiri, KUR, pemberian bantuan pupuk dan bibit gratis, Raskin, Rutilahu, Jamkesmas, Jampersal, BLSM dan banyak lagi hal-hal lainnya. Termasuk pelaksanaan BPJS dan yang terakhir terus mensosialisasikan pentingnya Undang-Undang No. 6 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Desa. Tapi sebaik apapun yang kita sudah lakukan, ada saja pihak-pihak yang kurang berkenan dan melontarkan kritik yang pedas dengan membabi-buta.

Namun, saya selalu bersikap biasa-biasa saja terhadap kritik, buat saya soalnya sederhana saja. Kritik yang betul akan saya perhatikan, yang lebih ironis lagi tidak jarang saya menjadi korban fitnah. Tetapi bagi saya tidak apa-apa, difitnah begini-begitu biarin saja. Saya masa bodohlah, saya jalan terus. Saya yakin kebenaran akan datang, tidak sekarang nanti ada saatnya kebenaran akan ditegakkan. Bagi saya yang penting jangan pernah berhenti melakukan kebaikan dan kebenaran. Saya ingat betul apa kata Firman Tuhan yang tertulis pada Kitab Kolose 3 ayat 23, yang mengatakan: “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk Manusia.” Itu intinya.

Bila terpilih kembali sebagai anggota dewan, apa yang menjadi obsesi dan komitmen Anda?

Bila Tuhan berkehendak puji Tuhan. Saya tidak ingin yang muluk-muluk. Saya mau semua proses bisa berjalan dengan baik dan benar seturut kehendak-Nya, dan saya akan terus melanjutkan bakti saya dengan terus melanjutkan bekerja dan melakukan apa saja yang bisa saya perbuat, guna kepentingan masyarakat.

Ada closing statement yang ingin Anda sampaikan?

Singkat saja, jangan lupa 9 April 2014 datanglah ke TPS dan gunakanlah hak suara Anda dengan sebaik-baiknya, dan bagi yang berdomisili di Kabupaten Bogor, daerah pemilihan 2 (dua) meliputi Kecamatan Gunung Putri, Cileungsi, Jonggol, Sukamakmur, Cariu dan Tanjung Sari. Mohon Doa dan Dukungannya coblos Nomor urut 4 Junedi Sirait SH, calon Anggota DPRD Kabupaten Bogor dari Partai Demokrat.

 

Agus Rihat P. Manalu, SH


Profil:

AgusNama Lengkap: Agus Rihat P. Manalu

Tempat/ Tanggal Lahir: Bulak Kapal, Bekasi Timur, Bekasi, 11 Agustus 1979.

 Pendidikan

  • Sekolah Dasar dari SD Negeri Duren 02 Bekasi Timur.
  • Sekolah Menegah Pertama (SMP) ST M Monica Bekasi Timur.
  • SMU Negeri 4 Bekasi, Kota Bekasi.
  • Sarjana Hukum (S1) dari Fakutas Hukum Universitas Lampung (Unila).
  • Magister Hukum (S2) dari Fakutas Hukum Universitas Krisnadwipayana (Unkris).

Alamat Kantor:
JL. H.M. Djoyomartono No.20 Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat
Telp: 021 – 9259 7948 FAX. 021 – 881 0387
E-Mail: lbhkasihindonesia@yahoo.com

Masih muda, tetapi beberapa perjuangannya telah dicatat sejumlah kalangan. Itu tak lain, karena perjuangannya membela hak rakyat. Salah perjuangannya bersama tim, adalah pernah menggugat Komisi Pemilihan Umum (KPU). Mereka menggugat mewakili kelas kelompok masyarakat di sejumlah provinsi. Agus dan tim mengajukan gugatan class action terhadap KPU, pada Pemilu 5 April 2004 lalu. “Jelas kita menggugat karena banyak anggota masyarakat di seluruh Indonesia yang tidak bisa menggunakan hak pilih mereka pada, hak politik mereka diabaikan,” ujarnya.

Ternyata, gugatan yang dilayangkan Agus bersama tim menang. Gugatan yang ditujukan kepada Ketua KPU Nazaruddin Sjamsuddin, dikabulkan Pengadilan Negeri Jakarta. Dalam gugatan class action, Agus sebagai penggugat minta agar majelis hakim menyatakan KPU telah melakukan perbuatan melawan hukum. “Gugatan kita diterima, kita menang, tetapi sampai saat ini kita tidak tahu lagi, ujungnya bagaimana. Kasus ini entah bagaimana rimbanya sekarang, tidak jelas,” kenangnya “Tetapi paling tidak, kami sudah melakukan perjuangan untuk rakyat.”

Cita-citanya memperjuangkan keadilan bagi masyarakatnya. Walau masih muda, Agus sudah banyak makan asam garam dunia pergerakan, sejak mahasiswa hingga kemudian terjun menjadi pengacara, pun banyak hal yang telah dilakukan, tentang pendampingan masyarakat terhadap kepastian hukum. Tidak takut membela rakyat tertindas. Lalu siapa sebenarnya anak muda yang punya cita-cita mulia ini? Nama lengkapnya, Agus Rihat P Manalu disingkat ARPM, lahir di Bulak Kapal, Bekasi Timur pada 11 Agustus 1979.

Agus belia mengenyam pendidikan Sekolah Dasar Ngeri di SDN Jaladha Pura Bekasi Timur, SDN Duren 02 Bekasi Timur. Lalu,  dilanjutkan sekolah menengah pertama (SMP) di St. M. Monica Bekasi Timur, dan selanjutnya menyelesaikan sekolah menengah umum (SMU) di SMU Negeri 4 Bekasi. Sejak kecil talentanya sudah terlihat dari kesukaan berbicaran dan membela orang tertindas. Agus lalu melanjutkan sarjana hokum ke Fakultas Hukum Universitas Lampung (UNILA). Waktu mahasiwa dia aktivis mahasiswa  tahun 1998. Diantaranya aktif pada Dewan Mahasiswa Universitas Lampung (DEMA-UNILA) dan Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND). Di kemudian hari setelah makin banyak bergelut di dunia hukum, memperdalam Ilmu Hukum dengan mengikuti pendidikan S2 Magister Hukum di Fakultas Hukum Universitas Krisnadwipayana, Pondok Gede, Jakarta Timur.

Setelah menyandang Sarjana Hukum Agus mengikuti Pendidikan Advokat pada Lemdiklat Advokat IKADIN (2003) dan Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA) PERADI. Tahun 2005, melakukan pembelaan publik dan Advokasi bagi masyarakat yang termarjinalkan/miskin melalui Komite Advokasi Gerakan Rakyat (TEGAR) dan juga tergabung pada Serikat Pengacara Rakyat (SPR). Tahun tahun 2004 hingga tahun 2005 menjabat Direktur pada Lembaga Bantuan Hukum Konsumen (LBH-Konsumen) di Jakarta. Tahun 2008, akhirnya membawanya mendirikan Kantor Hukum ARPM & Co.

Sekarang, dia aktif memberikan penyuluhan hukum, mengadvokasi para masyarakat yang sepantasnya dibantu secara hukum dengan gratis, katanya. “Saya seorang pengacara, ingin memberikan bantuan hukum bagi masyarakat yang tidak mampu. Karena bagi saya melihat masih banyak perlakukan hukum yang tidak sepantasnya diterima oleh masyarakat kalangan bawah.”

Agus sudah mendedikasikan dirinya untuk mengabdi pada masyarakat dengan keahlian di bidang hukum yang dimilikinya; yaitu dengan memberikan konsultasi dan bantuan hukum secara cuma-cuma kepada masyarakat miskin. Termasuk bagi mereka yang tidak mampu, yang terjerat permasalahan hukum dan menjadi korban ketidakadilan. Bahkan, sejak tahun 2009 Agus bersama rekan-rekannya mendirikan Lembaga Bantuan Hukum Kasih Indonesia (LBH KASIH) dan kemudian menjabat Ketua Pos Bantuan Hukum (POSBAKUM) pada Pengadilan Negeri Bekasi Periode 2010-2012 sebagai bentuk pengabdiannya pada masyarakat Kota Bekasi.

Wakil Ketua DPC Hanura Kota Bekasi dan Ketua DPC Gerakan Muda HANURA (GEMA HANURA) Kota Bekasi ini merasa perjuangannya belum maksimal, atas hal itu, dia ingin lebih maksimal mendedikasikan hidupnya pada masyarakat. Kini dia maju menjadi calon legislatif. “Harus berani. Kini waktunya saya mau mendedikasikan hidup saya untuk membantu masyarakat, untuk membawa penerangan tentang hukum. Karena itu saya maju menjadi Caleg DPRD Kota Bekasi Daerah Pemilihan Bekasi, dari Bekasi Timur nomor urut lima dari Partai HANURA,” terangnya.

Mottonya maju menjadi Caleg adalah “maju dengan hati, berdiri dengan nurani.” Dengan visi untuk masyarakat Bekasi Timur untuk mendapatkan kedamaian, kesejahteraan, keadilan dan hak yang sama di hadapan hukum. Seturut dengan hal itu, maju menjadi Caleg dengan misi kelak bisa mengoptimalkan kinerja DPRD Kota dalam Fungsi Legislasi, Fungsi. “Fungsi Pengawasan dan Fungsi Budgeting untuk menghasilkan kebijakan yang pro-rakyat. Juga memberikan bantuan hukum cuma-cuma, gratis bagi masyarakat Kota Bekasi yang tidak mampu khususnya masyarakat Bekasi Timur,” ujarnya lagi.

Komitmen saya, jika saya terpilih nanti bisa mensejahterakan masyarakat Bekasi Timur melalui pengusulan kebijakan yang berisikan hak–hak yang seharusnya didapat, dan adanya kontrol terhadap kebijakan tersebut agar efektif, termasuk memperjuangkan kemajemukan. “Kita harus memperjuangkan pluralisme, bukan hanya gereja yang ditutup baru kita bereaksi. Bahkan banyak rumah ibadah saudara sepupu kita ditutup, kita harus bela,” ujar Sekretaris Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Kota Bekasi, ini.

  • Hotman J. Lumban Gaol