Dr. Tommy Sihotang, SH., LLM.


Nama Lengkap
tommyDr. Tommy Sihotang, SH., LLM.
Tempat Tanggal Lahir: Pematang Siantar, Sumatera Utara, 03 Desember 1957

Agama:
Kristen Protestan

Isteri:
Maudy Conny Maningkas (asal Manado yang kemudian diberi boru Nadeak)

Anak:
Myco Obaja Halomoan Sihotang
Christy Pingkan Hasianna Sihotang

Orangtua:

Ayah:
Marsinta Sihotang
Ibu:
Bungaria boru Nadeak

Saudara:
Anak ketujuh dari 13 bersaudara (salah satunya: [alm] Pdt Tohap Sihotang STh)

Pendidikan:
Sarjana Hukum (S.H.) dari Universitas Jayabaya, Jakarta, tahun 1986
Magister Hukum (LL.M.) dari Sheffield University, UK, tahun 1999
Doktor Ilmu Hukum Pidana, Universitas Padjadjaran, Bandung, tahun 2007

Karier:
Asisten Pengacara pada Law Office “Maruli Simorangkir & Associates”
Pendiri Law Office JPRT & Associates
Pendiri Law Offices Tommy Sihotang & Partners

Kegiatan Ilmiah:

  • Pembicara pada Seminar “Prospek Reformasi di Indonesia” di London, oleh Kedubes Indonesia bekerjasama dengan PPI, tahun 1999
  • Peserta Seminar “Churches as the Peace Makers in a Changing World” di Seoul, Korea Selatan, tahun 2003
  • Penceramah mengenai HAM dan “Pertanggungjawaban Komando” di Mabes TNI Cilangkap, di Sesko TNI, Sesko AL, Divkum Mabes Polri, beberapa Korem dan Kodim
  • Anggota Tim Pakar Hukum Departemen Pertahanan Republik Indonesia, tahun 2007 sampai sekarang
  • Pengajar di Fakultas Hukum, Universitas Atmajaya dan Jayabaya Jakarta

Organisasi

  • Dewan Penasehat DPP IKADIN (Ikatan Advokat Indonesia) selama 2 (dua) periode
  • Vice President DPP KAI (Kongres Advokat Indonesia), tahun 2008 sampai sekarang
  • PLT. Presiden DPP KAI (Kongres Advokat Indonesia), tahun 2010 sampai sekarang

Karya Buku:

  1. Ketika Komandan Didakwa Melanggar Hak Asasi Manusia, 2009
  2. Hukum Acara di Pengadilan Hak Asasi Manusia, 2009

Alamat Rumah:
Jalan Bangka XI No. 56 Kemang, Jakarta Selatan
Alamat Kantor:
Jalan Wolter Monginsidi No. 122-124, Jakarta Selatan

“Anak Pedagang Sayur Menjadi Pengacara Hebat”

Tommy bersaksi bahwa kehidupan yang sekarang sedang ia jalani adalah sesuatu yang bahkan tidak pernah ia mimpikan karena semasa kecilnya ia harus hidup dengan biaya pas-pasan. Awal ke Jakarta bersama orangtuanya, mereka harus tidur di kolong jembatan dengan membangun bedeng dari bambu.

“Kalau kami semua bisa makan setiap hari, itu sudah suatu karunia yang luar biasa,” demikian tutur Tommy.

Orangtuanya kemudian memulai usaha dengan berdagang hasil bumi seperti bawang, cabai dan sayur-sayuran. Untuk memenuhi kebutuhan mereka sekeluarga, Tommy dan ibunya setiap pagi harus pergi ke pasar induk Kramat Jati untuk mengambil bahan-bahan dagangan mereka dan dijual. Mereka harus naik sebuah mobil bak kecil setiap jam 4 pagi.

Pada saat itu Ia berpikir bahwa mereka tidak boleh seperti ini terus. Ia harus membuat perubahan dalam kehidupan ekonomi mereka. Setelah lulus SD, Tommy tidak sekolah selama 2 tahun. Ia menjadi makhluk ekonomi yang berjualan es, Koran, permen dan bahkan ia menkadi pemecah batu untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Tinggal di Jakarta dengan 13 orang anak dan dalam kemiskinan, orangtua Tommy tetap menganggap bahwa sekolah adalah hal yang penting. Namun keterbatasan finansial membuat Tommy harus bersabar dan menahan keinginannya yang menggebu-gebu untuk belajar, hingga suatu hari seseorang yang baik hati menawarkannya sekolah.

“Sekolah itu, bapak saya dan mamak saya sudah tidak ngurusin saya, karena saya sudah mulai cari uang sendiri. Saya pikir, saya tidak boleh berdiam diri, saya tidak boleh begini terus. Karena kalau saya ikuti situasi saat itu, paling banter saya seperti bapak saya, punya kedai makanan, warung makan nasi. Masa saya harus seperti itu… hal itu memacu saya, saya harus bangkit,” jelasnya.

Waktu itu, satu pikirannya untuk merubah nasib adalah dengan banyak membaca. Ia kemudian masuk sekolah pelayaran dan berlayar untuk mengumpulkan uang demi bisa melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah.

Pada tahun kedua ia kuliah, ia diajak temannya untuk bekerja di kantor pengacara. Awalnya ia tidak tahu apa itu pengacara. Yang ia tahu bahwa kalau ia bekerja maka ia akan mendapat uang. Ia bekerja di Firma Hukum Maruli Simorangkir dan menjadi asisten pengacara. Tetapi disana ia melakukan semua pekerjaan. Termasuk pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh Office Boy, misalnya bayar tagihan telepon, tagihan listrik, beli Koran sampai menyuguhkan minuman pada tamu. Bahkan sampai membetulkan genteng yang bocor. Ia lakukan semua dengan sukacita. Ia harus bekerja disana sampai jam 5 dan harus ke kampus sepulang kerja. Tanpa ia sadari sebenarnya ia sedang mempelajari praktek hukum yang sebenarnya disana yang tertanam sampai sekarang. Menurut Maruli ia adalah orang yang tekun. Tekun dalam pekerjaan dan sekolah.

“Saya bahkan memilih tidur di kantor. Proses pembentukan itu, ya seperti itu.. Sampai hanya dalam waktu satu tahun saya sudah mahir bagaimana membuat gugatan, bagaimana membuat pembelaan perkara pidana..”

Kerja kerasnya akhirnya membuahkan hasil, pada tahun 1986 ia berhasil mendapat gelar sarjana hukum. Bahkan di tahun 1988 ia mengundurkan diri dan mendirikan firma sendiri yaitu Tommy Sihotang & Partners.

Menjadi kaya adalah pilihan. Menjadi miskin juga adalah pilihan. Setelah ia mengalami masa kecil yang tidak enak. Ia mulai bangkit dan maju untuk memperbaiki keadaan perekonomian. Sejak saat itu ia dipercayakan untuk menangani kasus-kasus besar dan namanya mulai sejajar dengan para pengacara-pengacara besar yang sudah ada. Bahkan pada tahun 2006, Tommy berhasil mendapat gelar doktor di bidang hukum. Menurut Tommy untuk keluar dari kemiskinan, kita harus melakukan suatu terobosan dalam hidup. Dan terobosan itu hanya kita bisa lakukan bersama Tuhan Yesus.

“Saya bisa lewati semua itu, dan saya bisa mendapat buah yang sangat baik dari Tuhan, semua karena kebaikan Tuhan. Saya harus katakan, ‘tanpa Tuhan ngga usah ngomong, karena semua itu ngga ada artinya hidup.’ Tuhan sudah bawa saya ke tempat yang tinggi, itu artinya Tuhan sudah tetapkan saya bekerja di ladang hukum saja. Itu juga pelayanan saya di gereja, yang berhubungan dengan hukum. Pekerjaan saya Tuhan pakai untuk pelayanan bagi orang lain.”

Tommy Sihotang sudah berhasil melewati semua lingkaran kemiskinan yang membelenggunya dan keluarganya. Ia keluar menjadi pemenang. Dan semua itu berkat Tuhan Yesus yang sudah sangat baik dalam hidupnya.

“Jangan pernah putus harapan, karena harapan itu selalu ada. Dia hanya mau kita lakukan tugas dan kewajiban kita dengan benar dan maksimal. Jadi sekali lagi, semua yang saya lakukan, yang saya ucapkan, yang saya peroleh, semua itu untuk hormat dan kemuliaan bagi Tuhan Yesus saja,” ujar Tommy menutup kesaksiannya.

Sumber: http://www.jawaban.com/news/spiritual/detail.php?id_news=090417143557

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s