Dirman Pardosi


Menginjak usia satu abad, AJB Bumiputera 1912 terus bertransformasi. Targetnya, dalam lima tahun ke depan AJB Bumiputera 1912 harus menjadi perusahaan asuransi jiwa terbesar kedua di Indonesia dari sisi market share. Lantas, apa strateginya untuk mencapai target itu? Wartawan KONTAN Fransiska Firlana dan Titis Nurdiana mewawancarai Direktur Utama AJB Bumiputera Dirman Pardosi, di kantornya, Jumat (17/2) lalu.

Bulan Februari 2012, Asuransi Jiwa Bersama Bumiputera 1912 (AJB Bumiputera) genap berusia satu abad. Tahun ini menjadi bagian dari tonggak sejarah perjalanan AJB Bumiputera sebagai perusahaan asuransi jiwa di Indonesia yang masih bertahan.
Pada kesempatan ini, kami berupaya untuk bertransformasi. Mulai dengan mengubah logo perusahaan, AJB Bumiputera Indonesia mencoba mengikuti perkembangan zaman. Dengan logo baru, kami ingin menularkan semangat baru Bumiputera kepada masyarakat.
Kami tidak bisa memungkiri bahwa selama ini ada kesan bahwa Bumiputera itu oldies. Namun, justru adanya kesan itulah kami menjadi semakin sadar bahwa memasuki abad kedua kami harus melakukan transformasi. Ini bukan transformasi yang biasa, melainkan bersifat metamorfosis. Dari yang terkesan oldies, Bumiputera mencoba melakukan pembaharuan, yaitu modernisasi Bumiputera.

Transformasi yang kami lakukan mulai dengan berganti logo, meluncurkan produk baru, dan menambah sistem layanan nasabah. Perubahan logo menjadi poin awal kami menuju perubahan. Namun, mengubah logo tidak ada artinya apa-apa bila tidak disertai perubahan paradigma berpikir.

Dengan strategi itu, kami berharap target kami menjadi perusahaan asuransi jiwa terbesar kedua di Tanah Air dari sisi market share dalam kurun waktu lima tahun ke depan bisa tercapai. Saat ini, dari sisi market share, kami baru menduduki posisi nomor lima.
Dari sisi produk, manajemen Bumiputera sudah mulai meluncurkan aneka produk baru dalam bentuk asuransi tambahan seperti critical illness dan surgical benefit. Selain itu, kami juga menyediakan produk-produk asuransi syariah.

Tahun ini juga kami memastikan sudah bisa melakukan penjualan produk unitlink. Setahu kami, pihak regulator telah memberikan lampu hijau. Terkait teknologi pendukung untuk produk ini, kami juga sudah siap. Kami sudah menggandeng dua perusahaan manajemen investasi.

Untuk sementara, penjualan unitlink ini akan kami konsentrasikan di kota-kota besar. Dari 30.000 agen yang kami miliki, baru sebagian yang kami latih untuk memasarkan produk ini. Meski nasabah kami sudah jutaan saat ini, dalam memasarkan produk unitlink, kami tidak akan fokus pada nasabah lama, melainkan harus menggaet nasabah baru. Kebun yang sudah ada biarkan terus dipelihara dan berkembang, tapi juga harus mencari area kebun baru supaya panenan lebih besar.

AJB Bumiputera tidak mau memasang target kontribusi unitlink terhadap total bisnis perusahaan dalam jangka panjang. Biarlah kita lihat bagaimana pasar menyerap produk ini dengan sendiri.

Namun, perkiraan kami, tahun ini, sumbangsih unitlink mungkin sekitar 10%. Kami tidak mau jor-joran pasang target tahun ini sebab fokus kami masih dalam upaya edukasi kepada masyarakat bahwa AJB Bumiputera saat ini sudah punya produk unitlink.
Untuk mendukung bisnis unitlink, kami tetap akan melakukan pelepasan aset perusahaan yang tidak masuk dalam bisnis inti, seperti aset properti. Di masa lalu, aset properti inilah yang menyelamatkan Bumiputera dalam berbagai krisis yang dihadapi.
Nah, kondisi sekarang sudah tidak cocok lagi. Jadi, kami harus mentransfer aset properti itu ke financial asset. Apalagi jika bicara produk modern seperti unitlink, yang menuntut back up yang sama antara kewajiban dengan underlying asset. Kami harus membesarkan sisi finansial.

Meski kami siap untuk melepas aset properti, bukan berarti kami asal lepas atau asal ada yang mau. Kami tetap melakukan perhitungan. Aset kami di properti kurang lebih ada senilai Rp 1,5 triliun. Aset properti Bumiputera antara lain rumah dinas, hotel, dan kantor-kantor.
Sementara itu, dalam transformasi dalam bidang pelayanan nasabah, Bumiputera melakukan transformasi teknologi dalam sistem pembayaran premi. Tujuannya untuk memberikan kemudahan kepada nasabah. Dengan teknologi yang sekarang, nasabah bisa melakukan transaksi lewat bank, SMS gateway, ada call center. Kami juga melakukan pembaruan website dengan desain yang lebih elegan.

Berbagi motivasi
Segala inisiatif yang kami realisasikan ini, tentunya, sebagai jalur kami untuk mengubah wujud Bumiputera, dari kesan oldies menjadi modern. Namun, apa yang kami lakukan ini semata-mata untuk meningkatkan kualitas pelayanan Bumiputera kepada nasabah. Kami menyadari, dalam mewujudkan mimpi itu, kami membutuhkan proses yang tidak sebentar.

Sejatinya, bukan itu saja transformasi yang akan kami lakukan. Kami sudah menyusun strategi jangka panjang Bumiputera demi mewujudkan diri sebagai perusahaan asuransi nasional yang mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
Saya pribadi yakin, meskipun perusahaan joint venture semakin banyak, kami akan mampu bertahan. Selama kami mampu menunjukkan diri sebagai perusahaan asuransi yang kuat dengan kualitas produk dan layanan yang sama atau lebih bagus dari perusahaan asing, tentu, masyakarat akan memilih produk dalam negeri, seperti produk yang kami tawarkan. Kami akan membuktikan hal itu.

Dengan layanan baru yang kami luncurkan serta produk-produk baru, tahun ini, Bumiputera berharap bisa merangkul 1,5 juta nasabah. Target premi Rp 7 triliun atau naik sekitar 30% dibandingkan dengan perolehan premi tahun lalu yang sebesar Rp 5,5 triliun.
Tentu saja, apa yang kami rencanakan ini tidak akan berjalan mulus bila tidak didukung oleh seluruh keluarga besar Bumiputera. Untuk mewujudkan mimpi-mimpi besar Bumiputera, kami selaku direksi terus berupaya melakukan sosialisasi pada karyawan dan keluarga besar kami.

Dirman PardosiKami mencoba menggugah semua karyawan untuk mempunyai semangat bekerja untuk kepentingan masyarakat banyak. Kami berupaya menanamkan nilai-nilai positif kepada karyawan dalam mendukung pengembangan Bumiputera. Kami mencoba membentuk pola pikir karyawan dalam semangat memiliki Bumiputera.

Membentuk pola pikir dan menyatukan semangat itu tidaklah mudah. Ada 3.000 karyawan Bumiputera, tentu tidak semua bersimpati terhadap mimpi-mimpi transformasi Bumiputera. Namun, demi perusahaan ini, motivasi dan sosialisasi semangat tersebut tidak boleh berhenti begitu saja. Tak perlu melalui pemaksaan, cukup dengan kelembutan.
Untuk berbagi motivasi dan sosialisasi pada karyawan, setiap Senin, saya selalu tidak lupa berbagi note pada karyawan melalui e-mail. Isi setiap note beragam, mulai bertema cinta sampai kebohongan. Sosialisasi seputar logo baru serta makna yang terkadung di dalamnya pun saya bagi melalui note. Sampai akhirnya, pada peringatan 100 tahun Bumiputera, note tersebut dibukukan dengan judul: Bentang Cinta Sepanjang Waktu, Sebuah Kumpulan Notes from CEO.

Iklan

Hendrik Dikson Sirait


Aktivis Pergerakan Hendrik Dikson Sirait:

“Kedua Kuping dan Tangan Saya Disetrum, Tubuh Saya Disunduti Rokok”

Oleh: Hotman J. Lumban Gaol

HendrikHendrik Dikson Sirait namanya, tapi ia biasa dipanggil “Iblis”. Lajang kelahiran Jakarta, 5 Januari 1972 ini  dulunya bercita-cita ingin menjadi jurnalis, setelah menamatkan studinya. Tetapi hal itu urung, karena dunia pergerakan lebih menyeretnya menjadi aktivis pro-demokrasi, khususnya di Front Aksi Mahasiswa Indonesia (FAMI). Lebih dari 20 tahun lalu, Hendrik bersama teman-temannya sesama kelompok di pergerakan mengusung spanduk “Seret Presiden ke Sidang Istimewa MPR.” Padahal saat itu Soeharto masih kokoh di puncak kekuasaan.

Banyak pengalaman getir dalam kehidupan alumnus FISIP Universitas Nasional ini, khususnya saat diculik di tahun 1996. Saat itu dia mendapat perlakukan yang menyakitkan. Berikut bincang-bincang Reformata dengan mantan Kordinator Advokasi Pijar Indonesia dan aktivis Aliansi Demokrasi Rakyat (Aldera) ini.

Boleh ceritakan pengalaman di pergerakan mahasiswa, dulu?

Saya aktif sejak tahun 1991 di pergerakan mahasiswa, dalam gerakan di kampus. Saya sesungguhnya aktivis dari GMNI, tetapi karena kurang puas terhadap keadaan, masuk dalam kelompok-kelompok pergerakan. Waktu itu kita melihat keadaan makin runyam. Kepedulian terhadap persoalan realitas sosial dan politik yang masih sangat tidak mencerminkan keadilan dan tidak demokratis. Lalu saya bergabung dengan Aldera. Tujuan kami waktu itu adalah untuk memperjuangkan reformasi, sebagai jalan menuju demokratisasi di Indonesia. Aldera melakukan demo ke DPR. Lalu saya juga terlibat untuk mengadvokasi masyarakat, misalnya terhadap petani Rancamaya, Jatiwangi dan lain-lain. Juga mengkoordinir penyelenggaraan diskusi, seminar dan forum-forum sejenisnya. Pendeknya, reformasi politik dan gerakan anti-Soeharto.

 Apa yang berbeda dulu dibanding sekarang terkait orang-orang pergerakan?

Kalau dulu lawan kita jelas, hanya Soeharto dan kroninya. Sekarang kroni-kroni Soeharto sudah bermetamorfosa, mengambil wajah lain. Tak mengherankan yang dulu kawan sekarang bisa menjadi lawan.

Tanggapan Anda terhadap teman-teman sesama aktivis di Aldera yang mengkhianati perjuangan –masuk pada lingkungan kekuasaan partai politik?

Saya kira itu hak mereka. Ada orang seperti sifat Yudas. Bagi orang yang menggadaikan idealismenya, bagi saya itu amat naif. Rakyat pasti tahu orang-orang seperti itu, entahkarena tawaran apa bisa mengkhianati nuraninya.

Mengingat masifnya anti-demokrasi, apa yang dikerjakan pergerakan pro-demokrasi waktu itu?

Jelas adalah sistem politik yang demokratis, dimana masing-masing lembaga kekuasaan mempunyai pembatasan dan pemisahan yang tegas, yang tidak memungkinkan terjadinya dominasi. Namun, kelemahan dari kelompok pro-demokrasi adalah kurang bersuara, maka kelompok anti-demokrasi itulah yang sepertinya lebih kuat.

Pengalaman pahit ketika Anda diculik, tolong ceritakan…

Sebenarnya saya sudah malas menceritakan hal itu. Saya pernah beberapa kali ditangkap. Ditangkap karena menolak pencalonan Soeharto sebagai presiden. Karena demo penolakan itu, tahun 1993, saya dipenjara selama 10 bulan bersama dengan 20 aktivis lainnya. Saya dan teman-teman dibebaskan karena ada saksi ahli, Sabam Sirait, menjelaskan soal demo mahasiswa. Tetapi, yang paling menyakitkan adalah penculikan 1 Agustus 1996. Saya diculik oleh aparat intelijen Badan Koordinasi dan Pemantapan Stabilitas Nasional Tingkat Daerah (Bakorstanasda) seusai menghadiri sidang gugatan Megawati Soekarnoputri pada tanggal 1 Agustus di Pengadilan Negeri, Jalan Gajahmada, Jakarta Pusat. Penculikan itu, ketika saya sedang menunggu bis, saya memang melihat beberapa orang yang mencurigakan berdiri di samping kanan dan kiri saya. Secara tiba-tiba langsung meninju wajah saya.

Lalu dari Gajahmada dibawa kemana?

Saya dibawa ke salah satu gedung di sekitar lokasi kejadian. Tak berapa lama, datang mobil menjemput. Di dalam mobil itu saya ditengkurapkan. Muka saya ditutup dengan tas, sehingga saya tidak bisa melihat keluar. Setiba di markas mereka, wajah saya ditutup dengan kaos saya sendiri, mungkin supaya tidak mengenali lokasi markas mereka. Saya lalu dimasukkan ke dalam sel. Kurang lebih sepuluh menit kemudian, saya dipanggil dan dibawa ke sebuah ruangan yang belakangan dipakai sebagai  tempat penginterogasian. Begitu saya berada di ruangan sudah menunggu lima orang aparat intelijen. Tanpa bertanya kelima orang itu langsung menghajar saya secara membabi-buta. Saya disuruh menanggalkan seluruh pakaian saya, kecuali celana dalam. Dan selama di sana, saya hanya menggunakan celana dalam. Pada saat itu, saya sempat membaca mesin tik mereka yang bertuliskan Inteldam Jaya. Barulah saya sadar, ternyata saya berada di Bakorstanasda.

Apa yang Anda lakukan sehingga menjadi korban, diculik?

Saya sempat berteriak. Saya juga tanyakan itu, apa salah saya? Tetapi dua orang lagi kawan si pemukul langsung mengeroyok saya. Saya diculik sebagai Koordinator Divisi Aksi Biro Advokasi. Dibebaskan pada tanggal 26 Agustus 1996, setelah ditahan 25 hari.

Apa yang ditanyakan pada Anda?

Saya diinterogasi. Pada intinya, selama dua hari penginterogasian itu saya dipaksa untuk mengakui bahwa sayalah dalang sekaligus pelaku pengrusakan dan pembakaran seluruh gedung-gedung dan kendaraan pada Peristiwa 27 Juli. Saya pun dipaksa mengaku sebagai yang mengomandoi massa untuk melawan aparat keamanan, meski sebenarnya saya punya alibi kuat yang menunjukkan bahwa saya tidak ada di sana. Selain itu saya juga dipaksa mengaku sebagai anggota Partai Rakyat Demokratik (PRD). Lebih parah lagi, saya dipaksa mengaku berencana melakukan pemboman terhadap sejumlah gedung di Jakarta. Saya juga dipaksa mengakui bahwa motivasi saya melakukan semua itu karena saya ingin menjadi menteri dalam negeri. Sungguh keji tuduhan mereka. Karena penyiksaan itu, saya pun terpaksa mengiyakan.

Selain pemukulan, perlakukan apa lagi yang Anda terima?

Kedua kuping dan tangan saya disetrum. Tubuh saya disunduti rokok, dipukuli dan ditendang selama penginterogasian. Terhadap semua itu, sedikit pun saya tidak mendendam terhadap mereka yang telah menganiaya saya. Karena saya yakin, mereka pun tidak mengerti apa yang mereka lakukan. Sebalum saya dibebaskan, pada tanggal 6 Agustus 1996, saya dipindahkan ke Kepolisian Daerah Metro Jakarta Raya. Di sana saya mendapat perlakuan yang jauh berbeda. Saya akui, aparat polisi lebih proporsional dan sangat persuasif dalam penanganan kasus politik. Tidak ada kekerasan terhadap saya selama di sana. Bahkan, mereka prihatin menyaksikan bekas-bekas luka dan mendengarkan cerita siksaan terhadap saya. Akhirnya saya dibebaskan, meski secara bersyarat, yaitu harus wajib lapor ke Polda Metro Jaya dua kali seminggu.

Kami dengar Anda saat ini baru mendirikan perhimpunan baru?

Oh, itu Front Aksi Mahasiswa Indonesia (FAMI). Kami dirikan bukan sekedar ingin mengenang peristiwa 20 tahun lalu saja. Sebenarnya ini warning atas kekhawatiran merebaknya kembali gejala Soehartoisme.

Maksudnya bahaya Orde Baru?

Soal pemikiran Soeharto yang kelihatannya bangkit kembali. Mulai dari penyebaran kaos, lalu stiker. Bahkan, dimanifes dalam bentuk museum Soeharto, ketika anak-anak sekolah berkunjung ke museum. Ada kaos-kaos bertuliskan: “Enak jamanku toh?” Tentu saya marah ketika ada yang memakai kaos itu. Karena yang memakai kebanyakan generasi muda yang tidak mengerti apa yang terjadi pada masa Orde Baru. Kita bisa melihat dari partai-partai yang sepertinya mengusung demokrasi, padahal sesungguhnya adalah kekuatan lama yang bersemayam.

 

Franky Sibarani


f7b86fe3bdea07909cdd4a921c0a3160_a

Franky Sibarani adalah seorang pengusaha Indonesia. Pada 27 November 2014, ia ditunjuk oleh Presiden Joko Widodo untuk menjabat sebagai Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

Sekjen Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) di kantor Asosiasi Pengusaja Indonesia (APINDO)

Education

1984 – 1988 Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor

Working Experience
1989 – 1999 Operational Senior Manager, Astra Agro Niaga Group
1999 – 2000 Director, Bedugul Corporation
2000 – 2002 Deputy Business Development Director, Inter Sarana Globalindo Group
2002 – 2004 General Manager, PT. Bumi Mekar Tani
2004 – 2008 Corporate Secretary Head Division, Garudafood Group
2008 – Present Chief of Corporate Affairs Division, PT. Tudung

Organizational Experience
1986 – 1988 Staff Khusus Bidang Pengembangan Pemuda Petani – Himpunan Kerukunan Tani Indonesia
1986 – 1988 Ketua II Bidang Pengembangan Organisasi Ikatan Mahasiswa Teknik Pertanian Indonesia
1988 Penerima Beasiswa Program Pemuda Asean – Menteri Pemuda dan Olah Raga RI
2004 – Present Ketua Bidang Regulasi Gabungan Pengusaha Makanan & Minuman Indonesia
2004 – Present Wakil Ketua Komite Tetap Pengembangan Pasar Pangan & Agribisnis – KADIN
2005 – Present Anggota Dewan Kesehatan & Keselamatan Kerja Nasional – APINDO
2006 – Present Wakil Sekretaris Umum APINDO
2007 – Present Sekretaris Jenderal Pusat Informasi Produk Industri Makanan & Minuman

Marsiaman Saragih


images (1)Profil
MARSIAMAN SARAGIH
Tempat, Tanggal Lahir: PEMATANG SIANTAR, 15 MARET 1952
Domisili: JAKARTA TIMUR
Pendidikan Terakhir: S1
PENDIDIKAN

  • FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS INDONESIA DI JAKARTA, 1983
  • SMA ADIDARMA DI BANDA ACEH, 1972
  • SMP PERSIT KCK DI BANDA ACEH, 1969
  • SR NEGRI XI DI PEATANG SIANTAR

Riwayat Organisasi

  • GMNI FAKULTAS HUKUM UI, 1978
  • PDI PERJUANGAN, TAHUN 1999 S/D SEKARANG

Riwayat Pekerjaan

  • PT Astra Honda Motor SENIOR MANAGER 2007
  • Wiraswasta

Rufinus Hotmaulana Hutauruk


Rufinus ok1.JPG.opt300x448o0,0s300x448Profil
RUFINUS HOTMAULANA HUTAURUK, SH, MM, MH
Tempat, Tanggal Lahir: P. Siantar,4 Juni 1954
Domisili: Kota Depok
Pendidikan Terakhir: S3
Riwayat Pendidikan

  •  SMAK Bina Mulia Sumatera Utara, Lulus tahun 1972
  • S1 Hukum, Universitas Indonesia Depok, Lulus tahun 1986
  • S2 Universitas Kristen (UNKRIS), Lulus tahun 1996
  • S2 Hukum, UNPAD, Lulus tahun 2005
  • S3 Hukum, UNPAD, Lulus tahun 2007

Riwayat Organisasi

  • Ketua DPP HANURA tahun 2007-sekarang
  • Anggota DPP GOLKAR tahun 1980-2007
  • Anggota Fungsionaris GOLKAR Sumatera Utara tahun 2003-2007
  • Tim Advokat PDIP Pusat tahun 2003-2004

Riwayat Pekerjaan

  • Dosen Tetap di Universitas Internasional Batam tahun 2011-sekarang
  • Karyawan di PT. Tiga Raksa Jakarta tahun 1974-1976
  • Compradore di PT. Unggul Karya Raya Jakarta tahun 1977-1979
  • Inspektur Pengawas Ketenagakerjaan Departemen Tenaga Kerja Indonesia Jakarta tahun 1981-1989
  • Managing Partner di Law Offices Rufinus Hotmaulana Jakarta tahun 1997-2000
  • Managing Partner di Low Frim Partahi Jakarta tahun 1990-1996
  • Komisaris Utama PT. Mitra Utama Investindo Wisma Koled Jakarta tahun 2004-2006
  • Managing Partner di Law Offices Rufinus Hotmaulana dan partners Jakarta tahun 2000-sekarang
  • Dosen Tetap di Universitas Mahendradatta Bali tahun 2008-sekarang

Pdt. Drs. J. Manurung, S.Th


“Membantu Sesama Manusia Menghadapi Bencana Alam”

J Manurung-2“Cobalah tetap konsisten melayani, dengan penuh kesungguhan dan kegigihan, dengan iman dan kekuatan berpengharapan. Sembari ada hati peduli untuk sesama. Maka niscaya kita akan bisa menemukan kekuatan panggilan kita sebagai hamba Tuhan.” Kira-kira itulah yang dipahami, J Manurung, 73 tahun, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Sinode Gereja Pentakosta Indonesia (GPI) dalam melayani. Walau sudah sepuh, semangatnya terlihat antusias kalau sudah berkata tentang pelayanan. Termasuk saat berkhotbah dan berdoa, kata-katanya selalu berkobar-kobar.

Pria kelahiran Parapat, Simalungun 13 November 1941 ini. Memulai pelayanannya sebagai menjadi guru agama, pegawai negeri. Sebenarnya, dulu keinginanya untuk masuk ke fakultas hukum ingin jadi pengacara. Tetapi, karena harapan kedua orangtuanya, Gr W Manurung dan T boru Ambarita ingin anaknya menjadi guru. Tidak menikung, dia tetap menimba ilmu keguruan tetapi menemukan kesukaannya menjadi pendeta. Cerita menjadi pendeta? Awalnya, J Manurung menimba ilmu, kuliah di IKIP Medan, Sumatera Utara (sekarang Universitas Negeri Medan, disingkat UNIMED).

“Orangtua saya sangat kagum dengan Soekarno. Berharap untuk anaknya kelak menjadi seorang guru,” ujarnya anak kedua dari enam bersaudara (tiga laki-laki dan tiga perempuan). Maka jadilah dia kuliah di IKIP, sembari aktif di gereja. Bertepatan orang yang mengajaknya aktif di gereja adalah seorang pendeta muda, Pdt M T Simangunsong. “Saya diajak pendeta Simagunsong ini. Di sana saya mengalami lahir baru. Sejak itu ada perubahan yang sangat dalam diri saya.” Perubahan yang draktis itu terlihat dari keseriusannya membaca dan mendalami Alkitab. “Saya menyadari kalau Alkitab adalah pernyataan Allah tentang diri-Nya, maka jelas kalau menghiraukan Alkitab sama saja mengabaikan Allah sendiri.”

Di gereja itu pula dia sering bertemu dengan Pdt Ev Renatus Siburian, pendiri Gereja Pentakosta Indonesia. “Beliau sering datang ke Medan. Aktif di gereja Simangunsong, dari sana saya makin kenal beliau (Renatus Siburian).” Disana pula dia kemudian menemukan gadis tambatan hatinya yang di kemudian hari menjadi istrinya, Bertha boru Rajagukguk. Putri dari hamba Tuhan GPI, Pendeta J Rajagukguk dan istrinya Tiolina boru Siburian, yang ternyata adik dari Renatus Siburian sendiri.

Pendek cerita, begitu lulus, J Manurung tetap saja menjadi mengajar. Namun, dunia pelayanan tidak ditinggalkan. Dia makin aktif memberitakan Injil. “Di awal-awal merintih pelayanan di gereja penuh kegetiran. Saya masih ingat bagaimana pahit getirnya hidup ketika memulai pelayanan. Saya masih ingat betul ketika GPI dirintis. Saat itu Indonesia masih mengalami kesulitan ekonomi yang amat berat. Di mana-mana terjadi kesusahan. Dan itu merata di seluruh penjuru, termasuk di kampung-kampung,” kenangnya.

Sebagai seorang pendeta,  Pdt. Drs. J. Manurung benar-benar memahami panggilan dan menjalankan kesehariannya sebagai hamba Tuhan. Di kemudian hari dia pindah ke Pematang Siantar, sembagi menjadi guru agama. Guru agama di Pematang Siantar, lalu mengembalakan jemaat di Lubuk Pakam. Dia banyak menghabiskan lebih banyak waktu untuk membedah firman Tuhan, dan membaca buku-buku acuan untuk mendalami apa yang hendak dibagikan kepada jemaaat. “Untuk bahan berkhotbah. Saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk meneliti dan mempelajari Alkitab. Merangkum hasil pembelajaran dan kemudian dibagikan untuk jemaat.”

Menjadi guru sekaligus pendeta diawal-awal dilakoninya, ternyata ada saja koleganya sesama guru tidak setuju J Manurung merangkap dua profesi. “Ada saja yang prostes, karena  saya menjalakan dua profesi. Kepala Sekolah pernah beberapa kali didatangi orang-orang yang kurang simpati dengan saya. Mereka yang tidak setuju, bilang, karena bisa mengajar sambil menjadi pendeta,” kenangnya. Namun, kepala sekolahnya arif dan bijaksana menjawab. “Kalau Anda bisa seperti dia, ngga apa-apa, saya berikan ruang.”

Lucunya, J Manurung tidak hanya mengajar di satu sekolah, tetapi lima lembaga sekolah. Hal itu dilakoninya untuk membutuhi keluarga, istri dan dua anaknya. Dan menjujung keduanya agar bisa kuliah sampai sarjana.

Maka tentu dibutuhkan kemampuan membagi waktu. Melayani di gereja sudah tentu bukan perkara gampang. Harus pintar membagi waktu. Padahal, masa itu untuk mengantar dia ke sekolah dan melayani dia hanya naik vespa butut. Tetapi menjadi pendeta, pergi memberitakan Injil tidak pernah undur semangatnya.

“Waktu itu tidak ada gaji pendeta. Paling kalau memberitakan firman hanya diberikan makan oleh jemaat. Kalau tidak, yang diberikan hasil tani. Namun, saya tetap bersemangat, tumpahkan seluruh pengabdian untuk pelayanan firman Tuhan,” tambah ayah dua anak. Anak pertama Pdt Ir. Douglas Manurung MBA menikah dengan Ernika boru Sitorus yang telah dianugerahi tiga putera. Anak kedua Tunas J Manurung SE, seorang entrepreneur, menikah denganVera boru Siahaan SE.

Tantangan pendeta

Kehidupan ekonomi yang susah kerap kali menguji keseriusan pelayanannya. Tantangan ingin meninggalkan kependetaan pernah dia rasakan. Ketika itu, di satu waktu J Manurung bertemu dengan sahabat lama. Sahabat ketika mahasiswa. “Marganya Marpaung. Dia sudah sukses, menjadi Kepala Dinas Pariwisata Provinsis Sumatera Utara kala itu. Pada pertemuan itu dia meminta saya untuk menjadi kepala bidang museum, sebenarnya untuk mengangkat ekonomi saya.” Tetapi ajakkan itu dia tolak baik-baik. Sampai suatu waktu Kepala Dinas Pariwisata itu datang menemui kepala sekolahnya, di mana J Manurung mengajar. Mempertanyakan apakah tidak diberikan izin temannya untuk ditempatkan menjadi kepala bidang?

“Teman saya itu rupanya datang ke Pematang Siantar menemui kepala sekolah. Mempertanyakan apakah tidak diperbolehkan atau tidak diberikan rekomendasi untuk saya.” “Saya tidak mau, merasa bahwa panggilan menjadi guru sekaligus menjadi pendeta itu lebih mulia. Dengan halus saya menjelaskan bahwa saya sudah lebih betah menjadi pelayan dan guru saja.”

Sekarang dia sudah pensiun sebagai pegawai negeri, tetapi mengajar sebagai habitusnya tetap saja merekah. Kini, dia menjadi dosen di STT Renatus, Pematang Siantar. “Saya harus mendalami manajemen sebagai suatu proses kegiatan. Mengelola dan mengatur segala sesuatu untuk membantu ketua umum menjalankan roda organisasi. Baik yang berhubungan langsung maupun tidak langsung dengan kegiatan pimpinan,” ujar Sekretaris Jenderal Gereja Pentakosta Indonesia, ini.

Di dalam pelayanannya, J Manurung selalu menyeimbangkan teori dan praktek pada pelayanan. Sebagai Sekjen, dia tahu betul perannya sebagai sekretaris organisasi pada sinode GPI. “Kita tidak boleh hanya menyampaikan khotbah, tetapi tidak melakukannya. Bagi dia, khotbah juga harus mendarat menjadi tindakan dalam penyelenggaraan pelayanan. Sebagai manusia kita harus peduli. Saya menyadari jalan hidup, kita manusia harus saling peduli. Karena itu, semampu saya akan membantu orang yang bisa dibantu. Contoh sederhana, di rumah kami ada anak-anak yang bersekolah yang kami bantu.” Jelas, pemikirannya membantu bukan untuk mendapat berkah. Tetapi itu menjadi keharusan kita. “Tuhan Allah selalu mengajarkan manusia untuk saling membantu dalam kehidupan.”

Sebagai Pengurus Gereja Pentakosta Indonesia, dia juga selalu aktif membawa peran dari GPI. Salah satu contohnya, ketika Gunung Sinabung meletus. Banyak pengungsi yang butuh uluran tangan. GPI sebagai sinode yang berada di Sumatera Utara memberikan sumbangan. Dia mewakili Ketua/Pendeta Umum Gereja Pentakosta Indonesia, Rev Dr MH Siburian, waktu itu, menyerahkan bantuan untuk pengungsi Sinabung di tiga titik.

“Bantuan ini sebagai bentuk kepedulian sesama manusia menghadapi bencana alam. Di samping itu, kami ingin memberikan kata-kata penghibur. Yesus Kristus tetap menyertai kita. Meski dalam keadaan musibah bencana alam, kesusahan dan kesulitan lainnya. Yang penting kita berserah dan mendekatkan diri. Pasti Yesus Kristus  campur tangan kepada kita dan ada mukzijat,” ujarnya.

Hotman J Lumban Gaol