Pdt. Drs. J. Manurung, S.Th


“Membantu Sesama Manusia Menghadapi Bencana Alam”

J Manurung-2“Cobalah tetap konsisten melayani, dengan penuh kesungguhan dan kegigihan, dengan iman dan kekuatan berpengharapan. Sembari ada hati peduli untuk sesama. Maka niscaya kita akan bisa menemukan kekuatan panggilan kita sebagai hamba Tuhan.” Kira-kira itulah yang dipahami, J Manurung, 73 tahun, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Sinode Gereja Pentakosta Indonesia (GPI) dalam melayani. Walau sudah sepuh, semangatnya terlihat antusias kalau sudah berkata tentang pelayanan. Termasuk saat berkhotbah dan berdoa, kata-katanya selalu berkobar-kobar.

Pria kelahiran Parapat, Simalungun 13 November 1941 ini. Memulai pelayanannya sebagai menjadi guru agama, pegawai negeri. Sebenarnya, dulu keinginanya untuk masuk ke fakultas hukum ingin jadi pengacara. Tetapi, karena harapan kedua orangtuanya, Gr W Manurung dan T boru Ambarita ingin anaknya menjadi guru. Tidak menikung, dia tetap menimba ilmu keguruan tetapi menemukan kesukaannya menjadi pendeta. Cerita menjadi pendeta? Awalnya, J Manurung menimba ilmu, kuliah di IKIP Medan, Sumatera Utara (sekarang Universitas Negeri Medan, disingkat UNIMED).

“Orangtua saya sangat kagum dengan Soekarno. Berharap untuk anaknya kelak menjadi seorang guru,” ujarnya anak kedua dari enam bersaudara (tiga laki-laki dan tiga perempuan). Maka jadilah dia kuliah di IKIP, sembari aktif di gereja. Bertepatan orang yang mengajaknya aktif di gereja adalah seorang pendeta muda, Pdt M T Simangunsong. “Saya diajak pendeta Simagunsong ini. Di sana saya mengalami lahir baru. Sejak itu ada perubahan yang sangat dalam diri saya.” Perubahan yang draktis itu terlihat dari keseriusannya membaca dan mendalami Alkitab. “Saya menyadari kalau Alkitab adalah pernyataan Allah tentang diri-Nya, maka jelas kalau menghiraukan Alkitab sama saja mengabaikan Allah sendiri.”

Di gereja itu pula dia sering bertemu dengan Pdt Ev Renatus Siburian, pendiri Gereja Pentakosta Indonesia. “Beliau sering datang ke Medan. Aktif di gereja Simangunsong, dari sana saya makin kenal beliau (Renatus Siburian).” Disana pula dia kemudian menemukan gadis tambatan hatinya yang di kemudian hari menjadi istrinya, Bertha boru Rajagukguk. Putri dari hamba Tuhan GPI, Pendeta J Rajagukguk dan istrinya Tiolina boru Siburian, yang ternyata adik dari Renatus Siburian sendiri.

Pendek cerita, begitu lulus, J Manurung tetap saja menjadi mengajar. Namun, dunia pelayanan tidak ditinggalkan. Dia makin aktif memberitakan Injil. “Di awal-awal merintih pelayanan di gereja penuh kegetiran. Saya masih ingat bagaimana pahit getirnya hidup ketika memulai pelayanan. Saya masih ingat betul ketika GPI dirintis. Saat itu Indonesia masih mengalami kesulitan ekonomi yang amat berat. Di mana-mana terjadi kesusahan. Dan itu merata di seluruh penjuru, termasuk di kampung-kampung,” kenangnya.

Sebagai seorang pendeta,  Pdt. Drs. J. Manurung benar-benar memahami panggilan dan menjalankan kesehariannya sebagai hamba Tuhan. Di kemudian hari dia pindah ke Pematang Siantar, sembagi menjadi guru agama. Guru agama di Pematang Siantar, lalu mengembalakan jemaat di Lubuk Pakam. Dia banyak menghabiskan lebih banyak waktu untuk membedah firman Tuhan, dan membaca buku-buku acuan untuk mendalami apa yang hendak dibagikan kepada jemaaat. “Untuk bahan berkhotbah. Saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk meneliti dan mempelajari Alkitab. Merangkum hasil pembelajaran dan kemudian dibagikan untuk jemaat.”

Menjadi guru sekaligus pendeta diawal-awal dilakoninya, ternyata ada saja koleganya sesama guru tidak setuju J Manurung merangkap dua profesi. “Ada saja yang prostes, karena  saya menjalakan dua profesi. Kepala Sekolah pernah beberapa kali didatangi orang-orang yang kurang simpati dengan saya. Mereka yang tidak setuju, bilang, karena bisa mengajar sambil menjadi pendeta,” kenangnya. Namun, kepala sekolahnya arif dan bijaksana menjawab. “Kalau Anda bisa seperti dia, ngga apa-apa, saya berikan ruang.”

Lucunya, J Manurung tidak hanya mengajar di satu sekolah, tetapi lima lembaga sekolah. Hal itu dilakoninya untuk membutuhi keluarga, istri dan dua anaknya. Dan menjujung keduanya agar bisa kuliah sampai sarjana.

Maka tentu dibutuhkan kemampuan membagi waktu. Melayani di gereja sudah tentu bukan perkara gampang. Harus pintar membagi waktu. Padahal, masa itu untuk mengantar dia ke sekolah dan melayani dia hanya naik vespa butut. Tetapi menjadi pendeta, pergi memberitakan Injil tidak pernah undur semangatnya.

“Waktu itu tidak ada gaji pendeta. Paling kalau memberitakan firman hanya diberikan makan oleh jemaat. Kalau tidak, yang diberikan hasil tani. Namun, saya tetap bersemangat, tumpahkan seluruh pengabdian untuk pelayanan firman Tuhan,” tambah ayah dua anak. Anak pertama Pdt Ir. Douglas Manurung MBA menikah dengan Ernika boru Sitorus yang telah dianugerahi tiga putera. Anak kedua Tunas J Manurung SE, seorang entrepreneur, menikah denganVera boru Siahaan SE.

Tantangan pendeta

Kehidupan ekonomi yang susah kerap kali menguji keseriusan pelayanannya. Tantangan ingin meninggalkan kependetaan pernah dia rasakan. Ketika itu, di satu waktu J Manurung bertemu dengan sahabat lama. Sahabat ketika mahasiswa. “Marganya Marpaung. Dia sudah sukses, menjadi Kepala Dinas Pariwisata Provinsis Sumatera Utara kala itu. Pada pertemuan itu dia meminta saya untuk menjadi kepala bidang museum, sebenarnya untuk mengangkat ekonomi saya.” Tetapi ajakkan itu dia tolak baik-baik. Sampai suatu waktu Kepala Dinas Pariwisata itu datang menemui kepala sekolahnya, di mana J Manurung mengajar. Mempertanyakan apakah tidak diberikan izin temannya untuk ditempatkan menjadi kepala bidang?

“Teman saya itu rupanya datang ke Pematang Siantar menemui kepala sekolah. Mempertanyakan apakah tidak diperbolehkan atau tidak diberikan rekomendasi untuk saya.” “Saya tidak mau, merasa bahwa panggilan menjadi guru sekaligus menjadi pendeta itu lebih mulia. Dengan halus saya menjelaskan bahwa saya sudah lebih betah menjadi pelayan dan guru saja.”

Sekarang dia sudah pensiun sebagai pegawai negeri, tetapi mengajar sebagai habitusnya tetap saja merekah. Kini, dia menjadi dosen di STT Renatus, Pematang Siantar. “Saya harus mendalami manajemen sebagai suatu proses kegiatan. Mengelola dan mengatur segala sesuatu untuk membantu ketua umum menjalankan roda organisasi. Baik yang berhubungan langsung maupun tidak langsung dengan kegiatan pimpinan,” ujar Sekretaris Jenderal Gereja Pentakosta Indonesia, ini.

Di dalam pelayanannya, J Manurung selalu menyeimbangkan teori dan praktek pada pelayanan. Sebagai Sekjen, dia tahu betul perannya sebagai sekretaris organisasi pada sinode GPI. “Kita tidak boleh hanya menyampaikan khotbah, tetapi tidak melakukannya. Bagi dia, khotbah juga harus mendarat menjadi tindakan dalam penyelenggaraan pelayanan. Sebagai manusia kita harus peduli. Saya menyadari jalan hidup, kita manusia harus saling peduli. Karena itu, semampu saya akan membantu orang yang bisa dibantu. Contoh sederhana, di rumah kami ada anak-anak yang bersekolah yang kami bantu.” Jelas, pemikirannya membantu bukan untuk mendapat berkah. Tetapi itu menjadi keharusan kita. “Tuhan Allah selalu mengajarkan manusia untuk saling membantu dalam kehidupan.”

Sebagai Pengurus Gereja Pentakosta Indonesia, dia juga selalu aktif membawa peran dari GPI. Salah satu contohnya, ketika Gunung Sinabung meletus. Banyak pengungsi yang butuh uluran tangan. GPI sebagai sinode yang berada di Sumatera Utara memberikan sumbangan. Dia mewakili Ketua/Pendeta Umum Gereja Pentakosta Indonesia, Rev Dr MH Siburian, waktu itu, menyerahkan bantuan untuk pengungsi Sinabung di tiga titik.

“Bantuan ini sebagai bentuk kepedulian sesama manusia menghadapi bencana alam. Di samping itu, kami ingin memberikan kata-kata penghibur. Yesus Kristus tetap menyertai kita. Meski dalam keadaan musibah bencana alam, kesusahan dan kesulitan lainnya. Yang penting kita berserah dan mendekatkan diri. Pasti Yesus Kristus  campur tangan kepada kita dan ada mukzijat,” ujarnya.

Hotman J Lumban Gaol

 

 

One thought on “Pdt. Drs. J. Manurung, S.Th

  1. Hurang ganjang otik nai Bapa marcerita, songon dia bapa asa gabe sekjen, jala boasa dang dipaboa bapa na bapa ketua pembantu umum korwil t.tinggi, gembala sidang di gpi.sidang.t.tinggi {merangkap tolu jabatan} SEKJEN,KETUA KOORDINATOR PEMBANTU UMUM WIL.TEBING TINGGI, GEMBALA SIDANG GPI.SIDANG.TEBING.TINGGI.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s