Hendrik Dikson Sirait


Aktivis Pergerakan Hendrik Dikson Sirait:

“Kedua Kuping dan Tangan Saya Disetrum, Tubuh Saya Disunduti Rokok”

Oleh: Hotman J. Lumban Gaol

HendrikHendrik Dikson Sirait namanya, tapi ia biasa dipanggil “Iblis”. Lajang kelahiran Jakarta, 5 Januari 1972 ini  dulunya bercita-cita ingin menjadi jurnalis, setelah menamatkan studinya. Tetapi hal itu urung, karena dunia pergerakan lebih menyeretnya menjadi aktivis pro-demokrasi, khususnya di Front Aksi Mahasiswa Indonesia (FAMI). Lebih dari 20 tahun lalu, Hendrik bersama teman-temannya sesama kelompok di pergerakan mengusung spanduk “Seret Presiden ke Sidang Istimewa MPR.” Padahal saat itu Soeharto masih kokoh di puncak kekuasaan.

Banyak pengalaman getir dalam kehidupan alumnus FISIP Universitas Nasional ini, khususnya saat diculik di tahun 1996. Saat itu dia mendapat perlakukan yang menyakitkan. Berikut bincang-bincang Reformata dengan mantan Kordinator Advokasi Pijar Indonesia dan aktivis Aliansi Demokrasi Rakyat (Aldera) ini.

Boleh ceritakan pengalaman di pergerakan mahasiswa, dulu?

Saya aktif sejak tahun 1991 di pergerakan mahasiswa, dalam gerakan di kampus. Saya sesungguhnya aktivis dari GMNI, tetapi karena kurang puas terhadap keadaan, masuk dalam kelompok-kelompok pergerakan. Waktu itu kita melihat keadaan makin runyam. Kepedulian terhadap persoalan realitas sosial dan politik yang masih sangat tidak mencerminkan keadilan dan tidak demokratis. Lalu saya bergabung dengan Aldera. Tujuan kami waktu itu adalah untuk memperjuangkan reformasi, sebagai jalan menuju demokratisasi di Indonesia. Aldera melakukan demo ke DPR. Lalu saya juga terlibat untuk mengadvokasi masyarakat, misalnya terhadap petani Rancamaya, Jatiwangi dan lain-lain. Juga mengkoordinir penyelenggaraan diskusi, seminar dan forum-forum sejenisnya. Pendeknya, reformasi politik dan gerakan anti-Soeharto.

 Apa yang berbeda dulu dibanding sekarang terkait orang-orang pergerakan?

Kalau dulu lawan kita jelas, hanya Soeharto dan kroninya. Sekarang kroni-kroni Soeharto sudah bermetamorfosa, mengambil wajah lain. Tak mengherankan yang dulu kawan sekarang bisa menjadi lawan.

Tanggapan Anda terhadap teman-teman sesama aktivis di Aldera yang mengkhianati perjuangan –masuk pada lingkungan kekuasaan partai politik?

Saya kira itu hak mereka. Ada orang seperti sifat Yudas. Bagi orang yang menggadaikan idealismenya, bagi saya itu amat naif. Rakyat pasti tahu orang-orang seperti itu, entahkarena tawaran apa bisa mengkhianati nuraninya.

Mengingat masifnya anti-demokrasi, apa yang dikerjakan pergerakan pro-demokrasi waktu itu?

Jelas adalah sistem politik yang demokratis, dimana masing-masing lembaga kekuasaan mempunyai pembatasan dan pemisahan yang tegas, yang tidak memungkinkan terjadinya dominasi. Namun, kelemahan dari kelompok pro-demokrasi adalah kurang bersuara, maka kelompok anti-demokrasi itulah yang sepertinya lebih kuat.

Pengalaman pahit ketika Anda diculik, tolong ceritakan…

Sebenarnya saya sudah malas menceritakan hal itu. Saya pernah beberapa kali ditangkap. Ditangkap karena menolak pencalonan Soeharto sebagai presiden. Karena demo penolakan itu, tahun 1993, saya dipenjara selama 10 bulan bersama dengan 20 aktivis lainnya. Saya dan teman-teman dibebaskan karena ada saksi ahli, Sabam Sirait, menjelaskan soal demo mahasiswa. Tetapi, yang paling menyakitkan adalah penculikan 1 Agustus 1996. Saya diculik oleh aparat intelijen Badan Koordinasi dan Pemantapan Stabilitas Nasional Tingkat Daerah (Bakorstanasda) seusai menghadiri sidang gugatan Megawati Soekarnoputri pada tanggal 1 Agustus di Pengadilan Negeri, Jalan Gajahmada, Jakarta Pusat. Penculikan itu, ketika saya sedang menunggu bis, saya memang melihat beberapa orang yang mencurigakan berdiri di samping kanan dan kiri saya. Secara tiba-tiba langsung meninju wajah saya.

Lalu dari Gajahmada dibawa kemana?

Saya dibawa ke salah satu gedung di sekitar lokasi kejadian. Tak berapa lama, datang mobil menjemput. Di dalam mobil itu saya ditengkurapkan. Muka saya ditutup dengan tas, sehingga saya tidak bisa melihat keluar. Setiba di markas mereka, wajah saya ditutup dengan kaos saya sendiri, mungkin supaya tidak mengenali lokasi markas mereka. Saya lalu dimasukkan ke dalam sel. Kurang lebih sepuluh menit kemudian, saya dipanggil dan dibawa ke sebuah ruangan yang belakangan dipakai sebagai  tempat penginterogasian. Begitu saya berada di ruangan sudah menunggu lima orang aparat intelijen. Tanpa bertanya kelima orang itu langsung menghajar saya secara membabi-buta. Saya disuruh menanggalkan seluruh pakaian saya, kecuali celana dalam. Dan selama di sana, saya hanya menggunakan celana dalam. Pada saat itu, saya sempat membaca mesin tik mereka yang bertuliskan Inteldam Jaya. Barulah saya sadar, ternyata saya berada di Bakorstanasda.

Apa yang Anda lakukan sehingga menjadi korban, diculik?

Saya sempat berteriak. Saya juga tanyakan itu, apa salah saya? Tetapi dua orang lagi kawan si pemukul langsung mengeroyok saya. Saya diculik sebagai Koordinator Divisi Aksi Biro Advokasi. Dibebaskan pada tanggal 26 Agustus 1996, setelah ditahan 25 hari.

Apa yang ditanyakan pada Anda?

Saya diinterogasi. Pada intinya, selama dua hari penginterogasian itu saya dipaksa untuk mengakui bahwa sayalah dalang sekaligus pelaku pengrusakan dan pembakaran seluruh gedung-gedung dan kendaraan pada Peristiwa 27 Juli. Saya pun dipaksa mengaku sebagai yang mengomandoi massa untuk melawan aparat keamanan, meski sebenarnya saya punya alibi kuat yang menunjukkan bahwa saya tidak ada di sana. Selain itu saya juga dipaksa mengaku sebagai anggota Partai Rakyat Demokratik (PRD). Lebih parah lagi, saya dipaksa mengaku berencana melakukan pemboman terhadap sejumlah gedung di Jakarta. Saya juga dipaksa mengakui bahwa motivasi saya melakukan semua itu karena saya ingin menjadi menteri dalam negeri. Sungguh keji tuduhan mereka. Karena penyiksaan itu, saya pun terpaksa mengiyakan.

Selain pemukulan, perlakukan apa lagi yang Anda terima?

Kedua kuping dan tangan saya disetrum. Tubuh saya disunduti rokok, dipukuli dan ditendang selama penginterogasian. Terhadap semua itu, sedikit pun saya tidak mendendam terhadap mereka yang telah menganiaya saya. Karena saya yakin, mereka pun tidak mengerti apa yang mereka lakukan. Sebalum saya dibebaskan, pada tanggal 6 Agustus 1996, saya dipindahkan ke Kepolisian Daerah Metro Jakarta Raya. Di sana saya mendapat perlakuan yang jauh berbeda. Saya akui, aparat polisi lebih proporsional dan sangat persuasif dalam penanganan kasus politik. Tidak ada kekerasan terhadap saya selama di sana. Bahkan, mereka prihatin menyaksikan bekas-bekas luka dan mendengarkan cerita siksaan terhadap saya. Akhirnya saya dibebaskan, meski secara bersyarat, yaitu harus wajib lapor ke Polda Metro Jaya dua kali seminggu.

Kami dengar Anda saat ini baru mendirikan perhimpunan baru?

Oh, itu Front Aksi Mahasiswa Indonesia (FAMI). Kami dirikan bukan sekedar ingin mengenang peristiwa 20 tahun lalu saja. Sebenarnya ini warning atas kekhawatiran merebaknya kembali gejala Soehartoisme.

Maksudnya bahaya Orde Baru?

Soal pemikiran Soeharto yang kelihatannya bangkit kembali. Mulai dari penyebaran kaos, lalu stiker. Bahkan, dimanifes dalam bentuk museum Soeharto, ketika anak-anak sekolah berkunjung ke museum. Ada kaos-kaos bertuliskan: “Enak jamanku toh?” Tentu saya marah ketika ada yang memakai kaos itu. Karena yang memakai kebanyakan generasi muda yang tidak mengerti apa yang terjadi pada masa Orde Baru. Kita bisa melihat dari partai-partai yang sepertinya mengusung demokrasi, padahal sesungguhnya adalah kekuatan lama yang bersemayam.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s