Prof. Dr. Frieda Mangunsong Siahaan, M.Ed.


Foto FM(2)
Dr. Frieda Mangunsong Siahaan, M.Ed. adalah Pengajar pada bidang Psikologi Pendidikan, yang memiliki kepakaran dalam bidang Pendidikan Khusus (Special Education).
Minatnya pada bidang Psikologi dan Perempuan membuat beliau menulis disertasi yang berjudul “Faktor intrapersonal, interpersonal, dan kultural pendukung efektivitas kepemimpinan perempuan pengusaha dari empat kelompok etnis di Indonesia” untuk memperoleh gelar Doktor dalam Bidang Psikologi.
Pengalaman beliau yang banyak dalam menangani kasus-kasus yang berkaitan dengan bencana di Indonesia membuat beliau sempat memegang jabatan sebagai Ketua Pusat Krisis Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Saat ini beliau menjadi Koordinator Program Magister Kekhususan Psikologi Bencana (Disaster Psychology).

Pengembangan Fungsi Otak untuk Memaksimalkan Potensi Anak (artikel)

Oleh: Prof.Dr. Frieda Mangunsong-Siahaan, M.Ed, Psikolog (Universitas Indonesia-Fakultas Psikologi)

OTAK: “Raksasa di dalam Tubuh Manusia”

Tahukah Anda berapa banyak sel otak pada bayi yang baru lahir? 1.000.000.000.000! Sel otak, atau yang biasa disebut dengan neuron, jumlahnya dapat mencapai 166x lipat jumlah penduduk bumi pada pergantian abad ke-21. Bila kita merangkai sel otak tersebut membentuk barisan, panjangnya akan menyamai jarak perjalanan pulang pergi ke bulan (Buzan, 2005). Meski dari segi ukuran sel otak sangat kecil, namun pengaruhnya luar biasa besar pada pertumbuhan dan perkembangan manusia.

Otak adalah pusat segala tingkah laku, pikiran, dan perasaan kita; tidak ada organ tubuh lain yang melebihi pentingnya fungsi otak. Perkembangan otak menentukan seberapa banyak yang dapat kita pelajari. ”Belajar” tidak hanya berkaitan dengan kegiatan membaca, menulis, berhitung ataupun mata ajar seperti IPA dan IPS, tetapi juga belajar berbagai hal di kehidupan sehari-hari: belajar berjalan, bicara, menghafal lagu, menggunakan eskalator, menggunting, memasak, naik sepeda, memahami peta, membeli karcis bioskop, main ayunan, menggunakan mesin foto kopi, hingga pembelajaran kompleks seperti mengenali emosi, moral akan perilaku baik-buruk, cara bicara yang sopan, cara berteman, cara mengatasi konflik, cara mengambil keputusan, manajemen waktu, dan sebagainya.

Setiap sel otak memiliki ratusan hingga ribuan cabang yang berisi ribuan dendrit, titik penyambung antara sel otak yang satu dengan yang lain. Masing-masing dendrit mengandung zat kimia yang menjadi pembawa pesan atau informasi (Buzan, 2005; Jensen 2008).

Setiap kali melihat, mendengar, mengingat, merasa, atau melakukan sesuatu, sebuah gelombang elektromagnetis menggetarkan sel otak dan memicu zat kimia di dalam dendrit untuk menyeberangi jarak sinaptik (axon) hingga memicu zat kimia di dalam dendrit lainnya. Proses ini berlangsung terus menerus dari satu sel otak ke sel otak lainnya, membentuk jejak-jejak ingatan. Bila ada sel otak yang tidak pernah diaktifkan dan tidak terhubung, maka ia akan melemah dan mati (Buzan, 2005; Jensen, 2008).

TIGA DIMENSI OTAK

Seringkali kita dengar pernyataan bahwa otak terdiri dari belahan kiri dan kanan, namun sebenarnya otak kita jauh lebih kompleks daripada itu. Otak terdiri dari tiga dimensi belahan otak: Kerja otak kiri yang lebih terkesan serius dan otak kanan yang lebih terkesan santai menyebabkan sistem pendidikan maupun orang tua cenderung mengarahkan anak ke ”kiri”. Hal ini menjadikan perkembangan otak tidak seimbang, dan membuat anak hanya menggunakan separuh kemampuan mereka (Buzan, 2005). Bayangkan saja jika Anda diminta untuk berlari, namun satu tangan dan kaki Anda diikat, apa yang terjadi?  Kemampuan belajar justru lebih baik bila kedua belahan otak kiri-kanan bekerjasama dan terintegrasi. Bila tidak seimbang, sulit membedakan kiri-kanan, keliru membaca huruf, kurang kreatif dan sulit menyampaikan ide tulisan, sulit berbicara depan umum (Demuth, 2011).

Belahan otak bagian depan (frontal korteks, bagian depan neokorteks), terkait dengan prosesberpikir rasional, pengarah perilaku (fungsi eksekutif), dan pengambilan keputusan; sedangkan otak bagian belakang (batang otak)  terkait dengan respon pertahanan diri. Ketika kita takut, gugup, dan stres, energi ditarik ke bagian belakang otak dan otot-otot di punggung tangan dan kaki agar bersiap untuk berespon mempertahankan atau melarikan diri (Dennison & Dennison, 2010). Bila dua belahan ini tidak seimbang: kurang semangat untuk belajar, kurang fleksibel, cepat bingung, tegang, sulit konsentrasi, sulit menyesuaikan diri dengan hal baru, dan tidak paham materi (Demuth, 2011).

Belahan otak bagian atas (neokorteks, meliputi belahan otak kiri dan kanan) adalah tempat aktivitas kognitif, sedangkan otak tengah-bawah (sistem limbik) terkait dengan penyimpanan memori dan pengaturan emosi. Sistem limbiklah yang berperan untuk menghubungkan antara pengalaman baru dan masa lalu, dan mengkaitkan pengalaman dengan emosi (positif atau negatif). Jika ada situasi yang dianggap mengancam, sistem limbik memberi sinyal pada batang otak untuk mengaktifkan respon pertahanan diri (Dennison & Dennison, 2010). Bilabelahan ini tidak seimbang: kurang percaya diri, kurang terorganisasi, mengabaikan perasaan, penilaian negatif (Demuth, 2011).

CARA OTAK BEKERJA DAN MEMBENTUK PEMBELAJARAN

 Asosiasi

Jumlah sel otak pada manusia tidak bertambah sejak lahir, yang bertambah adalah jumlah interkoneksi antar sel otak tersebut(Buzan, 2005). Bayangkan bagaimana  ‘semrawut’nya otak kita saat dewasa, bila dalam 2 tahun saja terjadi interkoneksi yang sangat banyak (lihat gambar). Namun ‘kesemwarutan’ tersebut yang mencerminkan perkembangan otak manusia.

Pembelajaran dapat mengubah bentuk otak secara fisik. Ketika otak menerima stimulus dalam bentuk apa pun, proses komunikasi dari sel ke sel diaktifkan (Jensen, 2006).Semakin terkoneksi, semakin besar pemaknaan yang diperoleh dari pembelajaran. Jumlah interkoneksi inilah yang menentukan seberapa cerdas anak Anda, bukan ukuran besarnya otak maupun jumlah sel otak yang ada (Buzan, 2005).

Otak adalah perpustakaan yang sangat lengkap dan sangat besar! Informasi yang tersimpan di dalamnya tak terhingga, mulai dari hal sederhana seperti bentuk pensil, tekstur pasir, warna laut, nama hari, arah matahari terbit, suara kucing, rasa garam, hingga hal kompleks seperti siklus air, fakta perang dunia, prosedur membuat email, dan sebagainya. Buzan (2005) menyatakan bahwa ketika belajar, anak akan membuat kaitan dan hubungan antara begitu banyak hal yang berbeda: sendok berkaitan dengan makanan-ke-mulut dan rasa, mainan berbulu lembut terhubung dengan rasa nyaman, warna hitam berhubungan dengan emosi sedih, tangga berhubungan peningkatan prestasi, dan seterusnya secara tidak terbatas. Asosiasi antar hal ada yang umum, dan ada pula yang unik tergantung pengalaman hidup tiap individu.

Anak dapat mengembangkan asosiasi yang kuat, memori yang kuat, dan logika yang teratur berdasarkan pengetahuan yang ada di ”perpustakaan” miliknya. Semakin banyak basis data yang ada, semakin banyak asosiasi yang mungkin dibuat.

 Otak Memilih Informasi yang Penting

Kapan ulang tahun Anda? Berapa nomor telepon rumah? Siapa nama lengkap dokter anak Anda? Bagaimana cara membuat bubur bayi? Kapan ulang tahun Pak RT? Berapa nomor telepon layanan pelanggan TV Kabel?Siapa pencipta jejaring sosial  facebook? Bagaimana cara membuat kertas daur ulang?Jika Anda diminta menjawab, manakah hal-hal yang lebih Anda ingat? Kecenderungannya adalah empat pertanyaan pertama.

Otak merekam semua informasi sensoris yang masuk ke otak, namun tidak semuanya kita ingat. Kuat lemahnya interkoneksi antar sel otak ditentukan oleh penting atau tidaknya stimulus (informasi, materi belajar).Semakin baru dan menantang(sampai pada tahap tertentu), akan semakin baik otak mengaktivasi jalur barunya. Jika stimulus dianggap tidak penting, maka informasi akan mendapat prioritas rendah dan hanya akan menyisakan jejak yang lemah. Jika otak merasakan sesuatu yang cukup penting untuk ditempatkan dalam memori jangka panjang, maka potensi memori pun terjadi (Jensen, 2008). Seorang psikolog Jerman, Von Restorff (dalam Buzan, 2005) menemukan bahwa dengan tujuan mempertahankan hidup, otak manusia dirancang untuk memberi perhatian dan mengingat hal-hal yang berbeda dan menonjol dibandingkan keadaan yang biasa-biasa saja.

Pengalaman Sensoris sebagai Dasar Belajar

Otak kita menggunakan metode pemrosesan-majemuk untuk belajar, ia mengakses informasi dari beragam indera. Ketika kita mendengar kata mobil, misalnya, semua pengalaman inderawi akan dengan segera terakses: bentuk mobil, suara mesin mobil, tekstur cat, bau parfum mobil, rasa di badan saat mengendarai mobil, bayangan sensasi ketika ada mobil melintas dengan cepat di depan kita, dan emosi yang terkait dengan pengalaman naik mobil, positif maupun negatif.  Pengalaman sensoris adalah dasar belajar. Semakin banyak indera yang terlibat dalam mempelajari sesuatu, semakin kuat asosiasi dan memori yang terbentuk (Jensen, 2008). Bayangkan bagaimana Anda belajar tentang kota tempat tinggal Anda. Apakah Anda mempelajarinya dari buku petunjuk? Atau dengan menyelusuri jalan-jalannya, mengunjungi tempat-tempat yang menarik, mencicipi makanan, mencoba tradisi, dan berinteraksi dengan penduduk?

Efek Kontekstual dalam Belajar

Seringkali kita berusaha mengingat sesuatu berdasarkan keberadaan hal tersebut di lingkungan (Buzan, 2005). Misalnya, ketika kita berada di ruang duduk dan teringat untuk mengambil sesuatu di kamar tidur, namun sesampainya di sana kita lupa apa yang ingin diambil, biasanya kita akan langsung ingat saat kembali ke ruang duduk. Atau saat kita berusaha mengingat dimana kita meletakkan suatu barang seperti hp, umumnya kita mencoba membayangkan runtutan aktivitas yang kita lakukan sepanjang hari untuk mengingat kapan dan dimana kita menggunakan hp tersebut.

Pembelajaran yang mengharuskan orang untuk berada dalam kondisi tertentu (bahagia, sedih, stres, relaks) akan paling mudah diingat dalam kondisi yang sama (Jensen, 2008). Banyak kejadian dimana anak tidak dapat menjawab soal padahal mereka tahu sudah membacanya, namun setelah keluar dari ruangan jawaban itu muncul di kepala mereka. Lupa saat ujian dapat disebabkan perbedaan kondisi, ketika belajar santai dan menjadi tegang saat di ruang ujian. Contoh lainnya, bila ketika menerima suatu informasi baru saat makan cokelat, maka akan lebih banyak yang teringat jika di saat Anda memerlukan inormasi itu Anda makan cokelat juga.

Efek pertama dan terakhir

Anak lebih mudah ingat kejadian ’pertama’ (pertama kali naik pesawat terbang, pertama kali pergi ke Bali, pertama kali menyukai lawan jenis, pertama kali sekolah, pertama kali menerima penghargaan, dsb) atau kejadian ’terakhir’ (terakhir kali bertemu kakek, terakhir kali boleh makan burger, terakhir kali menonton bioskop, dsb) (Buzan, 2005).

 Efek latihan

Begitu banyak informasi yang masuk, tidak semua diproses dalam satu waktu dan tidak semua disimpan. Informasi yang masuk ke dalam otak ada yang tidak diproses, ada yang diproses dan disimpanhanya di dalam penyimpanan sementara, dan ada yang disimpan di penyimpanan permanen. Memori tidak hanya dalam bentuk fakta-fakta pengetahuan, namun dapat juga dalam bentuk cara kita melakukan sesuatu.

Pada saat kita menerima informasi baru, atau melakukan suatu hal baru, perlu usaha keras untuk membentuk hubungan antara satu sel otak dengan sel lainnya. Jika hal tersebut kemudian terus menerus, koneksi semakin kuat dan cepat yang pada akhirnya dapat kita akses secara otomatis. Pikirkan ketika Anda berjalan, memakai baju, melakukan perkalian 1 (satu) digit, menyebut nama bulan,mengingat jalan dari rumah ke sekolah anak Anda. Dapat dipastikan Anda membutuhkan konsentrasi dan upaya pada awalnya, namun sekarang dapat Anda lakukan tanpa berpikir. Menurut Buzan (2005), alasan mengapa banyak orang dewasa menyatakan memori mereka menurun saat mereka menua bukanlah karena memori itu sendiri melemah, melainkan karena tidak diterapkannya latihan atau pengulangan ingatan.

Bahan Bakar Otak

Terdapat tiga bahan bakar utama otak, yaitu air, oksigen, dan nutrisi. Sistem tubuh kita bersifat elektris. Transmisi elektrik antara berbagai sistem saraf lah yang menggerakkan kita. Air esensial untuk transmisi tersebut dan mempertahankan potensi elektris dalam tubuh. Sebaliknya, alkohol, kafein dalam kopi atau teh, dan cokelat dapat membuat tubuh dehidrasi. Kekurangan air dapat meningkatkan hormon kortisol (hormon stress) dan menjadikan anak mudah berespon terhadap hal-hal kecil secara berlebihan (Jensen, 2008). Oksigen juga perlu untuk pembelajaran, karena mengurai makanan untuk kemudian melepaskan energi yang diperlukan tubuh/pikiran untuk berfungsi. Nutrisi berperan penting pula, yang berarti tersedianya zat yang sehat untuk sistem tubuh dan saraf agar bekerja optimal (Hannaford, 2005).

Stres Penghambat Belajar

Ketika anak dalam keadaan senang, santai, dan tertawa, akan memicu produksi hormon dan neurotransmitter yang penting bagi kesiagaan dan memori. Meskipun stres dalamtingkat tertentu diperlukan untuk membantu fokus dan dorongan bekerja, namun dalam jumlah yang berlebihan tidaklah baik. Stres tinggi akan menghasilkan hormon kortisol berlebih, yang berakibat pada munculnya perasaan putus asa dan terhambatnya akses ke bagian otak yang menyimpan ingatan. Dalam jangka panjang, stres dapat menghancurkan neuron yang berhubugan dengan memori.pembelajaran (Jensen, 2008).

Kedekatan anak dengan orang tua sejak dini mempengaruhi pekembangan otak. Anak yang tidak mendapat rasa aman dan nyaman, akan terus menerus berada pada modus pertahanan diri dan terhambat proses belajarnya. Anak yang diabaikan atau memiliki pengalaman kekerasan sulit konsentrasi dan tidak mampu kontrol emosi, karena stres kronis menghambat perkembangan frontal lobes, sistem limbik, dan hipocampus (Wright, 1997). Kesemua bagian tersebut berperan penting dalam proses belajar anak.

 Musik Memudahkan Anak Belajar

Musik dapat memberikan pengaruh terhadap fungsi kognitif. Ketika mendengarkan musik, mood anak dapat berubah, yang kemudian mempengaruhi kesiapan dan kenyamanan belajar. Dalam sebuah studi tentang kemampuan membaca pada anak usia 4-5 tahun di Kanada, ditemukan bahwa keterampilan musikal berhubungan signifikan dengan phonological awareness dan perkembangan kemampuan membaca (Johansson, 2006).Musik bermanfaat pula untuk menstimulasi keterampilan berbicara, meningkatkan perbendaharaan kata, dan sebagai perantara transmisi informasi sadar dan tidak sadar. Musik akan membawa tidak hanya sekedar perasaan. melodi juga dapat bertindak sebagai sarana bagi kata-kata. Ritme dan variasi nada-nada dapat menjadi pembawa sinyal setiap pembelajaran baru. Anak mudah sekali menghafal lagu, karena ada melodinya. Musik menciptakan hubungan memori antara konsep dan kondisi, yang membuat proses mengingat lebih mudah (Webbs, 1990 dalam Jensen, 2008).

OPTIMALISASI POTENSI ANAK: ”Ikuti Cara Kerja Otak”

Setelah tahu bagaimana otak bekerja dan membentuk pembelajaran, perlu diketahui pula bagaimana cara yang dapat dilakukan orang tua untuk membantu optimalisasi potensi anak.

             Jangan bosan menjawab pertanyaan anak dan penuhi kebutuhan otak anak Anda akan informasi dengan menyediakan berbagai sarana eksplorasi dan stimulasi: bacakan cerita, diskusi film, putar video, cari artikel di internet, permainan interaktif, ajak jalan-jalan, eksperimen, dan sebagainya.

 Sediakan pengalaman baru secara teratur sepanjang kehidupan: kunjungi tempat baru, lakukan aktivitas rekreasi baru, eksperimen baru, cicipi makanan baru, cari ide baru, bertemu orang baru. Hal ini akan memicu rasa ingin tahu dan kesenangan anak terhadap proses belajar (Buzan, 2005).

 Rangsang sebanyak mungkin indera ketika belajar: penglihatan, pendengaran, sentuhan, pengecapan, dan penciuman.

 Sambungkan pelajaran baru dengan apa yang sudah anak ketahui.

 Buatlah agar apa yang dipelajari anak terasa penting dengan mengkaitkan terhadap kehidupan kesehariannya, entah itu belajar perkalian, strategi kelola emosi, cara makan yang benar, berenang, cara naik angkutan, belajar sistem pencernaan, dan sebagainya.

 Dalam memberikan instruksi pada anak, sebaiknya jangan beruntun melainkan bertahap, dan pastikan tidak ada banyak informasi dalam satu kali instruksi.

 Perbanyak bergerak dan kegiatan outdoor. Olahraga dan senam otak (brain gym) memiliki manfaat yang sangat baik untuk mengaktifkan seluruh belahan otak (Demuth, 2011; Hannaford, 2005). Luangkan waktu 2-5 menit sebelum dan di tengah-tengah sesi belajar untuk mengaktifkan kesiapannya, dengan sesi peregangan singkat, jalan cepat, dan gerakan lintas-lateral (Jensen, 2008). Umumnya rentang konsentrasi anak adalah usia x 5 menit.

 Ajarkan anak strategi untuk meningkatkan memori seperti jembatan keledai atau mnemonic.

 Upayakan agar anak minum banyak air secara teratur, lebih banyak kesempatan menghirup udara segar, serta mengkonsumsi makanan yang variatif dan bergizi (Demuth, 2011). Salmon, telur, dan daging tanpa lemak mengandung lesitin yang dapat meningkatkan level kolin, zat yang berperan penting dalam pembentukan memori (Jensen, 2008).

 Gunakan lagu-lagu familiar dan ubah kata-katanya menjadi hal yang Anda ingin anak pelajari (Jensen, 2008).

 Hati-hati dengan sinyal elektromagnetis berlebihan dari HP, komputer, atau alat elektronik lainnya(Demuth, 2011).

 Pastikan anak mengalami suatu proses pembelajaran yang positif, berikan rasa keberhasilan pada anak (Buzan, 2005). Upayakan agar anak belajar dalam suasana yang menyenangkan dan tidak membuat stres. Biarkan anak bermain, serta berikan umpan balik positif dan apresiasi kepada anak.

 Referensi:

Buzan, Tony. (2005). Brain Child: Cara Pintar Membuat Anak Jadi Pintar.Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama

Demuth, Elisabeth. (2011). Pengenalan Brain Gym. Yayasan Kinesiologi Indonesia. Materi disampaikan pada saat pelatihan brain gym.

Dennison, Paul & Dennison, Gail. (2010). Brain Gym Teacher’s Edition: Simple Activities for Whole Brain Learning. USA: Hearts at Play, Inc

Hannaford, Carla. (2005). Why Learning Is Not All In Your Head. Utah: Great River Books

Jensen, Eric. (2008). Brain-based Learning: Pembelajaran Berbasis Kemampuan Otak. Yogyakarta: Pustaka Belajar

Johansson, Barbro. (2006). Music and Brain Plasticity. European Review, Vol. 14, No. 1, 49–64

Wright, Karen. (1997). Babies, Bonds, and Brains. Discover.

Keterangan: Tulisan ini sebelumnya sudah dipublikasi di buku Anak Berhati Hamba: 40 Tahun Yayasan Doulos, yang kebetulan penyuntingya pengelola weblog ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s