Kamaruddin Simanjuntak SH


Kamaruddin SimajuntakNama:

Kamaruddin Simanjuntak SH

Tempat/tgl lahir: Siborong-borong, 21 Mei 1974

Pendidikan:

SMAN I Siborong-borong, tahun 1992

Fakultas Hukum Univesitas Kristen Indonesia, tahun 2000

Pendiri: kantor pengacara “Victoria” Law Firm
 Simanjuntak SH

Tempat/tgl lahir: Siborong-borong, 21 Mei 1974

Pendidikan:

SMAN I Siborong-borong, tahun 1992

Fakultas Hukum Univesitas Kristen Indonesia, tahun 2000

Pendiri: kantor pengacara “Victoria” Law Firm

Hidup di dunia terlalu singkat. Itulah sebabnya orang bijaksana mengerti bahwa kesempatan tak disiasiakan. Mengisinya dengan sabaik-baiknya, apa yang terbaik dalam profesi yang sedang digeluti. Dalam hal ini ingin menjadi pengacara terbaik. Itulah yang dianut Kamaruddin Simanjutak seorang pengacara yang menyadari hidup adalah anugerah. “Karena itu selagi diberikan kesempatan harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.” Ajakannya, “Marilah kita isi dan sikapi dengan perbuatan-perbuatan yang baik, benar dan berguna bagi diri sendiri maupun bagi sesama kita. Dan jangan sampai usia kita hari demi hari berlalu begitu saja, tanpa kita isi dengan hal-hal yang positif.”

Menurutnya, banyak orang, tanpa terasa sudah tua, kehidupannya masih kosong. “Miskin dan menderita, karena masa mudanya tidak dimamfaatkan waktu yang ada dengan kegiatan yang bermamfaat dan positif. Tak bekerja keras dan tidak menabung atau tidak memiliki investasi. Akhirnya tiba pada penyesalan di hari tuanya, namun perlu kita sadari bahwa menyesal tua, adalah tiada arti!”

Satu-satunya cara untuk meraih sukses, tambahnya adalah dengan beriman. Berdoa dan berpengharapan senantiasa kepada Tuhan Yesus, berpikir positif, memiliki cita-cita dan tujuan hidup yang jelas, bergaul di lingkungan yang baik dan positif, ditambah belajar dan bekerja keras sepanjang masa. Pasti hasilnya sangat baik dan diberkati. Sukses adalah tercapainya cita-cita yang kita mimpikan melalui tata cara yang sudah kita tetapkan. Sukses di waktu sekarang selalu ditentukan oleh apa yang sudah kita lakukan dan mimpikan di waktu lampau. Sukses di masa depan bergantung pada bagaimana persiapan dan mimpi kita hari ini untuk masa depan, katanya.

Kalau kita sudah menetapkan bahwa kita ingin hidup seperti apa, lalu dengan beriman dan berdoa senantiasa kepada Tuhan, lalu berpengharapan, berpikir positif, memiliki cita-cita dan tujuan hidup yang jelas, bergaul di lingkungan yang baik dan positif, ditambah belajar dari orang-orang yang sudah berhasil dan bekerja keras sepanjang waktu dan fokus untuk mencapai tujuan hidup kita. Maka kita pasti akan meraih impian kita dan itulah yang namanya sukses tersebut, ujar Kamaruddin.

Pemahaman akan makna hidup terbangun oleh perjalanan hidupnya yang panjang. Dia sebelum menjadi advokat dulunya seorang bisnisman. Tetapi, di satu masa bisnisnya bangkrut. Dia tidak berlama-lama menangis keadaannya. Dari sana dia bangkit, beranjak makin gencar mempelajari hukum. Apalagi waktu disuasana dia masih aktif di bisnis Kamaruddin banyak bertemu dengan sarjana-sarjana hukum di Klender, Jakarta Timur.

Padahal dulu semenjak tamat dari SMAN I Siborong-borong tahun 1992, Kamaruddin tak pernah berpikir menjadi pengacara. Malah dia membulatkan tekad merantau ke Jakarta untuk mengadu nasib. Berbekal kenekatan, iman, dan doa orang tua begitu sampai di Jakarta. Kamaruddin karena tidak punya uang untuk kos dan tidak ingin menyusahkan saudara. Kamaruddin terpaksa harus tinggal di bawah kolong jembatan di daerah Klender, Jakarta Timur.

Selama tiga bulan hidup Kamaruddin bak gelandangan, kerja serabutan sekedar untuk bertahan hidup. Dengan berbekal ijasah SMA Kamaruddin kemudian mencoba melamar kerja di perusahaan. Tahun 1993 dia diterima bekerja sebagai Customer Service di sebuah restoran. Dari sana sempat membangun bisnis. Tetapi tak berapa lama, karena pasang surut dunia bisnisnya, Kamaruddin kemudian menikung, mengambil jalan lain menjadi pengacara. Lalu kuliah di Fakultas Hukum Univesitas Kristen Indonesia di tahun 2000. Dia tempuh hanya 3,5 tahun. Lulus kuliah, tahun 2004, lalu membuka kantor pengacara sendiri yaitu “Victoria” Law Firm. Victoria artinya kemenangan. Nama itu juga diambil dari nama putrinya. Sebagai pendiri kantor pengacara, dia banyak menangani berbagai kasus besarpun ditanganinya. Dengan bekal pergaulan dan wawasan yang luas dia dipercaya menangani kasus-kasus besar.

Kamaruddin selalu lantang dan tegas untuk mengatakan pendapatnya dalam membela kliennya. Sebagai seorang pengacara dia membongkar habis kasus-kasus diantaranya dirinya pernah membongkar korupsi tahun 2007 yang menyebut pertama kali jangan tebang pilih kasus korupsi di DPR Komisi V dan Menteri Perhubungan. Membongkar kasus korupsi di tubuh partai Demokrat tahun 2011 yang akhirnya menyeret Anas Urbaningrum, Nazaruddin, Angelina Sondakh. Satu perkara lain yang banyak disorot media nasional adalah kala Kamaruddin menangani kasus Rosalina Manullang, tahun 2011. Dia dipercaya Rosalina Manulang menjadi kuasa hukumnya untuk kasus mega skandal korupsi yang berhubungan dengan Muhamad Nazarudin, mantan Bendahara Umum Partai Demokrat itu.

Konon banyak yang menyebut dari menangani perkara Rosalina, nama Kamaruddin kemudian melambung bak meteor. Menjadi pusat berita selama beberapa bulan. Kini kiprahnya di dunia kepengacaraan Indonesia namanya pun kini makin diperhitungkan. Pria kelahiran Siborong-borong, 21 Mei 1974 adalah jemaat di HKBP Kebun Jeruk. Suami dari Joanita Meroline Wenji ini, telah Tuhan karuniai lima orang puteri. Dengan bekal integritas, kompetensi di bidang hukum, idealisme, kerja keras dan iman kepada Kristus. Sebagai seorang Kristen, dia ingin menjadi teladan dan saksi Kristus di bidang profesinya hukum yang digeluti putra dari Midian Simanjuntak dan Nurmaya Pardede.

Memperjuangkan klien

Kamaruddin sejak menekuni karir di dunia pengacara, sudah hampir ratusan perkara ditangani. Dan berbagai latar belakang orang yang dibelanya amat beragam. Sebagai seorang advokat Kamaruddin banyak membantu kliennya. Salah satu adalah penyanyi Daniel Sahuleka. Sebagai pengacara untuk menyelesaikan kasusnya dengan tiga record label besar di Indonesia. “Kita senang banyak yang suka dan menyanyikan lagu-lagu Daniel, tapi tentu semua ini ada aturannya. Kalau ingin mengedarkan, tentunya harus izin dahulu dengan penciptanya,” ujarnya. Johnny Maukar selaku manager Daniel Sahuleka di Indonesia menjelaskan, pelanggaran hukum yang dilakukan Sony Music misalnya adalah mengedarkan lagu ciptaan Daniel berjudul Don’t Sleep Away The Night yang dinyanyikan ulang oleh Glenn Fredly dalam bentuk CD. Namun setelah dilakukan mediasi, Sony Music akhirnya bersedia menarik kembali CD yang sudah beredar tersebut.

“Masalahnya waktu itu memang sudah selesai. Tapi di tahun 2012, Sony mengedarkan kembali lagu itu dalam bentuk iTunes tanpa izin dan tanpa memberi royalti sepeser pun.” Upaya mediasi juga sudah dilakukan sebanyak tiga kali. Namun, hal itu tak juga membuahkan hasil. Akhirnya Kamaruddin mensomasi. “Langkah pertama yang akan kami lakukan tentunya meminta keterangan dan memberikan somasi. Bila tidak juga menemukan solusi, kami akan mengajukan tuntutan hukum, baik melalui gugatan perdata ke Pengadilan Niaga di Jakarta, maupun tuntutan pidana ke kepolisian,” jelas Kamaruddin.

Ditanya satu hal yang membuat Kamaruddin selalu terusik adalah soal carut-marutnya penegakkan hukum kita. Baginya, sebagai warga bangsa yang menjadi bagian penegakkan hukum, Kamaruddin senantiasa mengutamakan hukum sebagai landasan dalam seluruh aktivitas negara dan masyarakat. “Hukum belumlah menjadi panglima. Masih jauh panggang dari api. Diistilahkan tajam ke bawah tumpul ke atas, itulah gambarkan kondisi penegakan hukum di Indonesia. Hukum yang seharusnya menjadi alat pembaharuan masyarakat, nyatanya penegakan hukum masih morat-marit dan carut marut.” Sebagai pengacara Kamaruddin sangat membenci ketidakadilan. Karena itu, kerap kali dia memberikan pencerahan lewat media sosial. Salah satunya dengan cara menulis di facebook pendapatnya soal-soal yang terkait dengan penegakan hukum.

Hotman J. Lumban Gaol

Iklan

Saor Siagian, SH, MH



Pengacara Pembela Kaum Tertindas

Saor Siagian-1Melayani itu tidak harus menjadi pendeta. Saor menyadari, panggilannya bukan naik ke atas mimbar. Namun melayani di tempat dimana Tuhan tempatkan kita mengabdi. Dia menyadari bahwa menjadi pengacara itu juga bagian pelayanan. Sebagai pengacara, membela kaum marginal adalah hal yang dianggapnya sebagai kehormatan, apalagi membela mereka yang tertindas.

Pria kelahiran di Pematang Siantar, 9 Mei 1962. Ketika Lulus SMA melanjutkan pendidikan di Fakultas Hukum dari Universitas Kristen Indonesia ini adalahnya lebih tertarik menjadi motivator. Itu sebabnya dia sempat bekerja di Legal Consultant dan Dale Carnegie Training Jakarta, sebelum membuka kantor pengacara sendiri. Suami Mery Sibarani dan ayah tiga anak, dua putri dan satu putra, Bunga Meisa Siagian, Maria Grace Delima Siagian, dan Paulus Reinhard Siagian.

Dia telah banyak membela Gereja yang ditindas, termasuk Gereja HKBP Pondok Timur, Bekasi. Walah dia bukan jemaat HKBP, tetap bergereja di POUK, Kemang Pratama, Bekasi. Orang juga tidak lupa akan perjuangannya pada HKBP Filadelfia. Saor melihat, kekerasan yang dilakukan barisan massa intoleran ini adalah menghadang Jemaat HKBP Filadelfia yang hendak menuju lokasi ibadah di Jalan Jejalen Jaya, Tambun, Bekasi untuk melakukan ibadah malam Natal, sesuatu yang mengiris hatinya.  “Betapa ada manusia tidak memberi hati bagi orang lain.”

Menurutnya, penghadangan oleh massa intoleran yang juga melakukan pelemparan kepada Pendeta Palti Panjaitan dan Jemaat HKBP Filadelfia, yaitu melempar telur busuk, kotoran hewan, batu, tanah; menyiram air jengkol yang sudah busuk dan air comberan. Ini ironis, malah polisi membiarkan terjadinya aksi kekerasan massa intoleran tersebut,” ujarnya ketika itu. Saor kukuh membela laum tertindas. Bukan hanya gereja yang dibelanya. Dia juga menjadi Kuasa hukum jemaat Ahmadiyah. Ketika Ahmadiyah dimarginalkan, sebagai pengacara dia meminta perlindungan dan tindakan hukum bagi kliennya.

Membela kaum tertindas

Bagi aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) ini, bahwa kebebasan adalah hak asasi yang mesti dilindungi pemerintah, termasuk kebebasan beragama.  Itu sebabnya, tahun 2005 sudah ada Ratifikasi Kovenan Internasional Hak-Hak Sipil dan Politik atau International Covenan on Civil and Political Rights (ICCPR) Jo Pasal 18 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (Universal Declaration of Human Rights).

“Konsitusi kita sudah jelas, mengatur dan melindungi hal kebebasan untuk memilih dan tidak memilih agama sekalipun,” ujarnya. Dia menambahkan, karena itu di Kristen Protestan misalnya, ada aras atau sinode. Ada 300-an lebih sinode yang terdaftar di Departemen Agama. Bolehkah kita sebut mereka ini semua sama? Tidak kan! Atau beranikah kita mengatakan, bahwa sinode ini yang paling suci ini atau itu? Yang penting mari kita saling menghargai.

Soal kebebasan beragama itu seksi sekali. Tetapi, saya salah satu orang yang sangat keberatan jika isu-isu agama dijadikan menjadi komoditi. Apalagi dipolitisasi. Memang kita bisa melihat masih ada tipe orang yang kurang percaya diri memimpin, jika tanpa menggunakan isu-isu agama baru percaya diri.” Tetapi bagi saya itu adalah cara pandang yang sangat primitif. Inilah ketidakdewasaan dalam berpolitik. Masih menggunakan cara-cara kuno, menjual isu-isu agama. Padahal, kalau ingat apa yang disampaikan visi oleh founding father bahwa kita harus menghargai dan memberikan ruang kebebasan menganut dan tidak menganut agama.

Karena itu, bagi Saor, negara membutuhkan pemimpin yang punya empati pada rakyat, yang jujur pada rakyat. “Sesungguhnya walau kita sudah merdeka, tetapi cara berpikir kita belum merdeka. Proses berpikir kita masih sempit. Misalnya, cara berpikir kita yang terjajah itu masih melihat misalnya, harus mayoritas layak menjadi pemimpin nasional. Sementara  minoritas tak bisa memimpin.” Menurutnya, jangan kita mendefinisikan kewibawaan pemimpin hanya dari fisik saja. Kalau itu masih terus kita anut, saya pikir kita masih terjebak cara berpikir peodal, katanya.

Membela KPK

Atas dimarginalkan, Saor juga tampil menjadi kuasa hukum Bambang Widjajanto ini, masyarakat yang menjadi tersangka oleh polisi bisa menolak panggilan dan mengulur proses hukum dengan mengajukan praperadilan penetapan tersangka. Sebagai pengacara, dia menyarankan agar tim hukum Komisi Pemberantasan Korupsi segera mengajukan peninjauan kembali ke Mahkamah Agung. Saor menilai penyidik Bareskrim Mabes Polri percaya diri menetapkan kliennya sebagai tersangka. Menurutnya, saat penangkapan kliennya, penyidik tak mencantumkan ayat yang disangkakan.

“Ini yang menarik, pasal pertama yang dalam hitungan tidak dalam seminggu, Pak BW dipanggil dengan Pasal 242 juncto 55 (KUHP). Tapi panggilan kedua, kemudian pasalnya diubah,” kata Saor. Berubah-ubahnya pasal yang disangkakan terhadap BW, menurut Saor, kian mengentalkan perkara yang disangkakan terhadap kliennya dipaksakan.

“Kriminalisasi terjadi karena perbuatan yang ditudingkan saat BW tengah menjalankan profesinya sebagai advokat yang dilindungi UU Advokat.” Sekali lagi, menurut Saor, penetapan BW sebagai tersangka menunjukkan penyidik tidak mentaati dan menghargai profesi dan UU Advokat. “Penyidik polisi betul-betul tidak menghargai advokat melakukan pekerjaannya. Padahal undang-undang terang benderang, sedang melakukan perlindungan dan rahasia-rahasia dengan kliennya,” ujar Saor.

Saat dicegah, dua pengacara BW Chatrine dan Nur Syahbani Katjasungkana sudah di dalam ruang pemeriksaan. Sementara Saor Siagian, kuasa hukum BW lainnya, mempertanyakan dasar hukum pembatasan jumlah kuasa hukum yang boleh mendampingi BW. Tak satu pun penyidik bisa menjawab pertanyaan Saor. Sebaliknya, mereka menyarankan kuasa hukum menghadap ke Kasubdit VI Kombes Daniel Bolly Tifaona.

Dialog dengan Kasubdit Daniel ternyata tidak membuahkan. Saor tetap diminta keluar dari ruangan. BW hanya boleh didampingi dua pengacara. Sementara BW tetap duduk dan menyatakan menyerahkan semua hal kepada Kuasa Hukum. Sebagai pengacara, disinilah keberanian Saor, dia tetap menolak pembatasan jumlah pengacara yang boleh mendamping kliennya. “Soalnya tindakan itu tak berdasarkan hukum,” Dia menambahkan “Sejak kapan perintah Kasubdit sama dengan aturan yang tercantum dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana?” Kombes Daniel kesal, lalu keluar dari ruang pemeriksaan dan memerintahkan Provos yang berjaga untuk mengusir Saor. “Provos tarik orang ini keluar!”

Dua Provos langsung mengampiri Saor Siagian untuk menyeretnya keluar ruangan. Tapi tindakan itu dicegah kuasa hukum BW lainnya. Mereka mengatakan, bila Kombes Daniel meneruskan tindakan itu berarti dia telah melakukan perbuatan melawan hukum dan melanggar undang-undang. Akhirnya, Saor pun dapat mendampingi pemeriksaan BW. Sementara Kuasa Hukum lainnya terpaksa harus keluar ruangan.

Saor Siagian-3Pilihan yang dipilih Saor, bukan tanpa resiko. Untuk mewujudkan harapan, Saor menyadarinya tidak mudah, memerlukan perjuangan dan pengorbanan. Selama ini, dia menyadari profesinya sebagai pengacara yang konsisten membela kaum tertindas, untuk mendapatkan kepastian dan keadilan hukum, termasuk komunitas yang ditindas itulah yang dibelanya.

Ditulis HOJOT MARLUGA