Morgan S. L Batu, S.E


unnamed

Kehidupan ini memang seperti misteri, sepertinya kebetulan. Tetapi sesungguhnya tak ada yang kebetulan di jagat ini, semuanya telah diatur oleh sang khalik yaitu Tuhan. “Tugas kita manusia hanya menjalankan peran semaksimal, sebisa mungkin mengembangkan talenta yang diberiNya. Karena memang kita semua diberikan talenta, hanya persoalannya bagaimana kita memanfaatkannya.” Kira-kira itulah yang diamini Morgan Sharif Lumban Batu, Direktur Umum dan Sumber Daya Manusia Perum Perhutani, yang dulu seorang kondektur. Pria kelahiran Desa Pansurbatu, Kecamatan Pollung, Kabupaten Humbang Hasundutan, tahun 1958 ini. Sebelum dipercayakan menjadi direktur, tentunya cerita kehidupannya sebagai anak desa pada umumnya, biasa-biasa saja.

Nama Morgan memang bukan nama Batak, nama itu diperoleh bapaknya dari nama seorang jagoan di film yang pernah ditontonnya. Adapun huruf “S” Sharif adalah nama teman bapaknya, asal dari Minangkabau yang saat itu keduanya sama-sama menjadi kuli pengangkut garam di Sibolga, Tapanuli Tengah. Anak keempat dari sembilan bersaudara ini adalah anak pertama laki-laki. Konon ceritanya, sebelum Morgan lahir, ompungnya (orangtua bapaknya) sempat menyuruh bapaknya untuk menikah lagi, karena belum punya anak laki-laki. Dulu kala masih kental dalam tradisi Batak jika tak memiliki anak laki-laki umumnya keluarga mendorong anak menikah lagi.

Waktu ibunya hendak melahirkan Morgan, bapaknya sengaja tak mau pulang dari tempatnya bekerja. Sebenarnya, hanya ingin menghindari kekecewaan, kalau-kalau yang lahir perempuan lagi. Puji Tuhan yang lahir ternyata laki-laki. Kabar itu pun sampai di telinga bapaknya. Atas berita itu bapaknya pun antusias datang melihat anaknya yang lama dinanti-nanti, baru lahir. Tentu kelahiran Morgan membawa semangat tersendiri, tak saja bagi kedua orangtuanya, tetapi juga pada ompung-nya. Atas cerita itu semua, Morgan kecil diperhatikan begitu khusus, kalau tak disebut dimanjakan. Bapaknya punya harapan besar padanya, karena dia kelak memundak kehormatan keluarga. Sedari kecil bapaknya membimbing dan mengasah mentalnya dengan keras. Sebagai laki-laki terbesar, Morgan selain keras dididik, bapaknya juga mengajarkan tanggung jawab. Termasuk mempersiapkan sekolah yang lebih baik.

Sekolah di kota

Sekolah dasar dilewatkannya di kampung halamannya Dolok Sanggul. Menjelang akil balig, sadar, bahwa kesenjangan mutu pendidikan di kota dan desa berjarak sekali. Morgan pun mengusulkan diri sekolah di kota Medan (Jarak dari Medan ke Dolok Sanggul sekitar 275 km jika melewati Pematang Siantar). “Saya melihat bahwa faktor pendidikan merupakan tolok ukur kemajuan,” ujarnya. Akhirnya, orangtuanya mengijinkannya untuk sekolah di Medan dengan menumpang di rumah kerabat dekat, uda-nya. Namun, konsentrasi sekolahnya pudar, karena sebelum sekolah dia mesti membantu-bantu inang-udanya yang punya klontong. Karena sering kelelahan tak sempat belajar, nilai rata-ratanya jeblok. Karena itu, dia meminta dipindahkan ke Jakarta. Terakhir, dia hanya sampai kelas dua SMA di kota Medan dan melanjutkan ke Jakarta. Ke Jakarta ingin pendidikan yang lebih baik. Bapaknya setuju, hanya saja permohonan untuk dipindahkan itu dibarengi semacam perjanjian. Agar di Jakarta benar-benar menunjukkan hasil, jika lulus sekolah bisa mendaftar ke universitas negeri.

Restu pun diperoleh dari sang bapak. Pendek cerita dia menjalani hidup di Jakarta. Hari-harinya diisi dengan sekolah dan giat belajar. Morgan ikut menumpang hidup di rumah kakak perempuannya di kawasan Rawasari, Jakarta Timur. Studi dilaluinya di satu sekolah daerah Halim Jakarta Timur. Ternyata, tak gampang mengikuti pelajaran di Jakarta yang sebelumnya dilaluinya di Medan. “Cara belajar di kampung dengan Jakarta berbeda jauh.” Morgan tak bisa mendapat nilai bagus.

Impian yang sebelumnya direncanakan harus dijalani berbelok. Nilai yang diperolehnya tak sesuai, semuanya gagal tes di perguruan tinggi negeri. Kabar kegagalan itu pun tenyata sampai juga ke telinga bapaknya. Dua bulan berjalan, sejak pengumuman gagal tes perguruan tinggi tersebut, bapaknya tanpa pemberitahuan datang ke Jakarta. Morgan sendiri tak tahu. Hari itu seperti biasa dia pulang ke rumah kakaknya, sementara bapaknya sudah duduk bersilah dengan raut wajah masem. “Saya tanya bapak, kapan datang pak, saya dijawab ketus.”

unnamed (1)Malam itu, bapaknya bicara: sesuai janji saat sebelum ke Jakarta, “jika kau gagal masuk universitas, maka kau tak boleh lagi mendapat bantuan keluarga, kau harus keluar dari rumah ini.” Kata bapaknya dengan tanpa ragu. Tanpa sempat Morgan mempertanyakan keputusan itu, Morgan disuruh angkat kaki dari rumah kakaknya. Sedih. “Perasaan perih sekali, cara bapak melatih mental.” Tapi Morgan sebagai lelaki harus siap dengan konsekwensi yang sudah disepakati. “Wajah bapak saya waktu itu dingin. Kakak-kakak saya menangis tanpa berani berkata apapun,” kenangnya.

Saat itu, juga Morgan mengemasi pakaian dan beberapa buku dimasukkan ke dalam kardus mie instan. Dengan perasaan terpukul, Morgan pergi menenteng kardus menyusuri malam. Tujuannya satu, menumpang hidup sementara pada kerabat satu kampung, bermarga Simorangkir, yang tinggal di daerah Kuningan, Jakarta Selatan. “Istrinya boru Lumban Batu semarga dengan saya. Pekerjaannya sopir metromini yang menyusuri trayek Kebunjeruk-Tanah Abang.” Malam itu semuanya diceritakan pada keluarga Simorangkir, dan diakhir ceritanya Morgan meminta agar dia diikutkan jadi kondektur. Tetapi, dengan satu kesepakatan, di hari  tertentu diberikan libur untuk mengikuti kursus.

Sementara urusan bagi hasil tak dia pikirkan. Baginya, bisa makan, menumpang tidur, dan bisa mengikuti bimbingan belajar masuk perguruan tinggi, sudah cukup rasanya. Cita-cita untuk menggapai sekolah yang tinggi tak surut. Kehidupan terminal yang riuh dan keras di Jakarta pun mulai dilakoninya. Di suatu malam, selesai mencuci metromini, dia tidur di pol. Sejak menjadi kondektur hal ini biasa dilakoninya, karena jarak pol dan rumah kerabatnya jauh. Sesaat hendak memejamkan mata, datang adik pemilik metromini meminta agar Morgan untuk membelikan rokok.

“Permintaan ini tentu saya tolak. Alasan saya semua penghasilannya hari itu dibawa pulang oleh lae Simorangkir. Alasan tersebut tak diterima adik pemilik metromini, malah jadi menampar saya berkali-kali,” ceritanya mengenang. Maklum Morgan muda walau berperawakan kecil dan kurus ketika itu, tetapi sebagai laki-laki tak terima perlakuan tersebut. Dia bersiasat membalas dendam, mencari dukungan dan mendatangi udanya di bilangan Cibinong, Bogor. Setelah Morgan menceritakan semuanya, keduanya kemudian menyusun rencana. Namun, dua hari kemudian, pikiran yang semula balas dendam urung dilakukan. Udanya memikirkan nasib keluarga Simorangkir bila mereka berdua melampiaskan dendam. Atas alasan itu, niat itu diurungkan.

Inilah hidup, seperti misteri. Baru beberapa hari berselang Morgan mendapat perlakukan yang tak pantas, kini berubah menjadi kebahagiaan. Tak jadi balas dendam, saat itu yang dipikirkannya adalah bagaimana mencari kerja dengan ijazah SMA, tak lagi menjadi kondektur. Seperti kebetulan, dia datang ke kantor Depnaker. Disana dia menyaksikan sekumpulan orang lagi memperhatikan papan pengumuman. Ternyata, orang banyak itu sedang melihat pengumuman tes pegawai negeri sipil (PNS). Morgan baru teringat, setelah lulus SMA beberapa bulan sebelumnya, dia sempat melamar ke Kementerian Keuangan. Lalu, Morgan pun membuka dompetnya mencari fomulir tanda nomor penyerahan berkas lamaran. Kertasnya sudah lapuk, tetapi tulisannya masih bisa terbaca walau sudah kabur. Dan ternyata, namanya termasuk yang lulus.

Sukacita yang tak terkira itu pun dia beritahu pada kakaknya. Oleh kakaknya menyampaikan kepada bapaknya. Atas diterima jadi PNS, oleh kakaknya mengundang seluruh keluarga dekat Lumban Batu menggelar syukuran. Saat diawal-awal di terima departemen ini, Morgan menyebut salah satu yang berjasa di awal karirnya, Ir Humuntar Lumban Gaol. “Waktu itu beliau sudah menjadi pejabat, saat saya diterima di Departemen Keuangan. Ada keluarga yang kenal beliau menceritakan tentang saya, lalu saya dipanggil ke kantornya. Beliau waktu itu menulis catatan kecil untuk saya sampaikan pada seorang temannya,” kenang Morgan. Tentu bukan nepotisme, tetapi dulu cara demikian mujarab.

Setelah diterima menjadi PNS, Morgan memanfaatkan waktu sembari kuliah Universitas Krisnadwipayana di Jalan KH Mas Mansyur Tanah Abang, Jakarta Pusat, sebelum pindah tahun 1979 pindah ke kampus yang terletak di Jalan Jatiwaringin, Jakarta Timur sekarang ini. Tanpa harus meninggalkan pekerjaan, kuliah malam. Cita-cita jurusan ekonomi sebagai jalan karier yang mulai ditatanya.

Sikap memotivasi

Dia meniti karir dari level yang paling bawah. Berbagai tugas pernah diterimanya selama mengabdi di Kementerian Keuangan yang kemudian dialihkan ke Kementerian BUMN. Karirnya pun terus menanjak hingga menduduki posisi Asisten Deputi Bidang Usaha Industri Primer I Kementerian BUMN. Beberapa jabatan komisaris BUMN pernah diembannya, termasuk pernah menjadi komisaris di PT Kertas Kraft Aceh (KKA) dan PT Perkebun (PTPN) V Riau. Sejak tahun 2012, Morgan dipercayakan menjabat Direktur Keuangan Perum Perhutani. Dan, tahun 2015 dipercayakan menjadi Direktur Sumber Daya Manusia. Sebuah jabatan karier prestisius bagi seorang anak desa. Jabatan yang penuh tantangan, karena mesti terus mengembangkan potensi, sumber daya manusia yang ada di Perum Perhutani.

Sementara untuk mengembangkan diri, dia terus mengasah diri lewat membaca dan membangun relasi. Dia terus mengupgrade diri. Sadar bahwa tak mungkin pencapaian langsung dapat melejit tanpa gigih dan belajar terus-menerus. Sebagai seorang pemimpin di perusahaan negara, dia juga telaten membangun hubungan relasi dengan tokoh-tokoh nasional. Termasuk, misalnya, ketika Dahlan Iskan menjadi Menteri BUMN, Morgan selalu belajar pada para seniornya. Namun, di balik itu semua dia tak lupa membantu banyak orang. Sikapnya memotivasi. Sebagai seorang yang sudah menikmati pencapaian mesti membagikan, mentransfer pengalaman pada orang-orang muda. Sikap memotivasi itu, termasuk mendatang ke sekolah-sekolah di kampung halamananya.  Memotivasi para pelajar, upayanya untuk memberikan semangat bagi mereka agar tekun dalam menggapai cita-cita.

Morgan berharap agar kelak makin banyak lagi putra-putri Humbang Hasundutan yang termotivasi untuk menjadi salah satu pemangku kepentingan di negeri ini. Selain memberikan pendidikan dan motivasi terhadap pelajar, dia juga tak lupa memberikan bantuan ke sekolah berupa peralatan pendukung pendidikan seperti LCD proyektor, dan buku-buku. Selain itu, juga dia juga menyantuni, memberi beasiswa bagi pelajar setingkat SLTA terbaik dari Humbang Hasundutan.

Lalu, apa yang mesti dimiliki untuk bisa eksis berkarier dimanapun? Sarannya, sebagai seorang yang menata karier mesti memiliki kredibiltas. “Kredibilitas adalah atribut yang susah diperoleh. Dan itu adalah kualitas manusia yang harus terus dikembangkan. Ini diperoleh menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun. Tetapi, ini bisa hilang dengan sekejap kalau tak dipelihara. Seorang pengikut bisa memaafkan ketidaktepatan janji pemimpin, salah omong, keseleo lidah, tindakan yang kurang hati-hati atau beberapa kesalahan penting,” sembari menambahkan. “Akan tetapi, akan tiba saatnya ketika batas kesabaran seorang pengikut apabila ketidak-konsistenan berlangsung terus-menerus. Disitu pemimpin kehilangan kredibilitas, dan amat susah untuk mendapatkannya kembali,” ujar jemaat Gereja Santo Yakobus, Paroki Kelapa Gading, Jakarta Utara ini.

Tak ada yang mengira bahwa Morgan semula hanyalah seorang anak desa, pernah menjadi kondektur. Dan, sekarang menjadi direkur sebagai pengemban potensi Sumber Daya Manusia di Perum Perhutani. Semua tahu bahwa pada bidang SDM seluruh kemampuan atau potensi perusahaan dapat diberdayakan. Sesuatu tugas yang tak gampang, tetapi karena kasih Tuhan semuanya indah pada waktunya, dan baik diembannya. “Tak ada impian yang tak akan terwujud jika kita menggandalkan Tuhan. Mari syukuri hidup ini,” katanya takzim. Sebagaimana kutipan di facebooknya: “Pergi ke pasar membeli bubur. Bubur dibeli untuk sarapan. Jika kita banyak bersyukur, rejeki akan ditambah Tuhan.” Hojot Marluga

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s