Sondang Hutagalung


SOndangSondang Hutagalung adalah priak kelahiran Bekasi, Jawa Barat, 12 November 1989. Dia meninggal di Jakarta, 10 Desember 2011 pada umur 22 tahun. Sondang adalah seorang mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Bung Karno, Jakarta yang meninggal karena membakar diri pada Rabu sore 7 Desember 2011 di depan Istana Negara, Jakarta. Kala itu, Sondang menjabat ketua Himpunan Aksi Mahasiswa Marhaenisme untuk Rakyat Indonesia yang aktif dalam kegiatan “Sahabat Munir”. Di mata teman-temannya Sondang adalah aktivis yang sering terlibat dalam upaya advokasi dalam kasus-kasus pelanggaran hak asasi manusia.

Sondang dilahirkan sebagai anak bungsu dari empat bersaudara keluarga Victor Hutagalung dan Dame Sipahutar. Ayahnya bekerja sebagai sopir taksi, sementara ibunya hanyalah penjual sayur. Aksi bakar diri yang dia lakukan di depan Istana Negara itu juga mendapat simpati dari berbagai tokoh. Seminggu setelah kejadian itu, termasuk Megawati Soekarnoputri dalam pidatonya di pembukaan Rakernas PDI Perjuangan menyebut, kematian Sondang Hutagalung merupakan tragedi yang harus diperingati sebagai tamparan keras  atas kesalahan pengelolaan bangsa.

“Beberapa hari lalu kita menyaksikan seorang anak negeri, Sondang Hutagalung membakar diri di hadapan istana sebagai protes atas pengelolaan politik dan pemerintahan, yang jauh dari gambaran ideal generasi muda bangsa,” ujar pada saat pidato pembukaan Rakernas I PDI Perjuangan di Bandung, Senin (12/12/11). Bagi Mega, pesan Sondang dalam aksi bakar diri tersebut jelas tertuju pada kekecewaan terhadap perilaku elit pemerintah. “Sondang telah pergi, tapi pesannya terasa keras menampar telinga kita. Kita tidak membutuhkan teguran keras lainnya, hanya untuk menyadari bahwa ada yang salah dengan pengelolaan bangsa ini,” ujarnya ketika itu.

Mega meminta agar aksi Sondang tersebut menjadi bahan renungan dan mempertanyakan sikap pemerintah atas tragedi tersebut. “Saya minta setiap warga PDI Perjuangan, bahkan setiap anak negeri untuk merenungi tragedi ini. Kita pantas bertanya, apakah pemimpin di negeri ini tidak terbetot hatinya melihat seorang mahasiswa yang karena prinsip dan keyakinannya melakukan tindakan itu? Merinding rasanya bulu kuduk saya sebagai seorang ibu melihat derita anak negeri ini.”.

Dia menambahkan, sebagai pribadi dan pimpinan partai saya menyampaikan duka cita atas kepergian Sondang. Bukan karena dia Sondang, tapi ia adalah gambaran dari generasi muda bangsa, sambil tetap berharap tidak akan ada lagi anak negeri yang kehilangan nyawanya karena prinsip dan keyakinannya, katanya.

Tak ada yang menyangka Sondang akan melakukan aksi nekat, Rabu 7 Desember 2011 lalu. Dari arah Monas, dia tiba berlari mengguyur bensin ke tubuhnya dan menyulut api. Aksi itu dilakukan sekitar pukul 17.30. Sejam sebelumnya, di tempat itu para kepala desa melakukan unjuk rasa. Akibat luka bakar 98 persen di tubuhnya, Sondang akhirnya pergi, Sabtu 10 Desember 2011. Mungkin berbagai diskusi terhadap aksinya itu. Tetapi, sesungguhnya Sondang adalah pahlawan. Walau dikenal sesaat, setelah itu dilupakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s