Sati Nasution


 

IskadarSati Nasution: Pendiri Perguruan Tano Bato

“Tinggal ma ho jolo ale

Anta piga taon ngada uboto

Muda uida ho mulak muse

Ulang be nian sai maoto

Lao ita marsarak

Marsipaingot dope au dio

Ulang lupa paingot danak

Manjalai bisuk na peto

Bait puisi di atas adalah puisi dari seorang pioneer pendidikan dari tanah Batak. Dialah Willem Iskander dengan nama lahir‎ ‎Sati Nasution, sedangkan gelarnya adalah Sutan Iskandar. Dia putra Nasution keturunan dari Sutan Diaru, dari generasi ke-11 marga Nasution di Mandailing. Dia lahir pada tahun1840, di Pidoli Lombang, Panyabungan Kota, Mandailing Natal, sekarang dikenal Madina.

Dia dikenal sebagai penulis, pujangga bahasa yang menyair banyak puisi, terutama untuk menggugah pendidikan dan cinta kampung halaman. Panggilannya tak hanya bersastra kemudian maujud menjadi pendidik, melawan virus kebodohan kaumnya. Di kemudian hari menjadi dia disebut salah satu tokoh perintis pendidikan Indonesia, walau hanya mendirikan Perguruan Tano Bato untuk calon guru, di Mandailing Natal.

Usia remaja yang terbilang muda, 13 tahun, dia hanya mengecap sekolah rendah selama kurang lebih dua tahun di Panyabungan. Menurut Basyral Hamidy Harahap seorang peneliti dan penulis memoar tentang Sati Nasution ini menyebut, kemungkinan besar dia merupakan guru paling muda dalam sejarah dunia pendidikan Indonesia. Asumsinya, sudah mulai aktif mengajar pada usia 15 tahun. Artinya, selulus pendidikan rendah itu dia sudah mendarma-baktikan hidupnya pada pendidikan.

Usia semuda itu, dia telah juga merambah kerja birokrasi bekerja sebagai sekretaris kantor pusat pemerintahan Mandailing-Angkola. Ada pencapaiannya itu, Alexander Philippus Godon, Asisten Residen Mandailing Angkola, pada masa itu kembali ke Negeri Belanda sekitar Pebruari 1857, dan membawa Sati turut serta untuk meneruskan pelajarannya pada salah satu sekolah guru di Belanda. Di Belanda dia banyak belajar tentang esensi pendidikan. Tak hanya itu, dia kemudian menemukan ketenangan batinnya, pengikut Kristus, dan menetapkan diri menjadi seorang Kristen.

Kemudian, ijazah guru bantu diperolehnya pada bulan Oktober 1860, sempat kembali ke Mandailing untuk memulihkan fisiknya yang sakit. Dua tahun kepulanganya  dari Belanda, tepat bulan Oktober 1862, dia mendirikan perguruan untuk guru di Tano Bato, sekarang di Kecamatan Panyabungan Selatan. Sekolah itu dia pimpin langsung, namun kurang lebih selama 12 tahun kemudian perguruaan itu pemidahannya ke kota Padang Sidempuan.

Masih menurut Basyral Hamidy Harahap, sejak Willem Iskander menerima beslit bertanggal 5 Maret 1862, yang mengizinkannya mendirikan Kweekschool di Mandailing, dia bergegas dan menetapkannya sebagai guru pada Kweekschool Tanobato. Walau perjuangannya sangat berat. Waktu itu, sedikit sekali orang yang mau menyekolahkan anaknya di sekolah guru itu.

Alasannya, selain belum booming orang sekolah, sekelumit terlihat lulusan guru tak punya kesempatan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak, kalau tak disebut kata. Oleh pesimisme itu dijawabnya dengan sikap arif, diatasinya dengan sika bertekun, yang pada akhirnya kelangkaan murid itu pun dapat diatasinya.

Selanjutnya, pada September 1863, Gubernur Van den Bosche datang dari Padang melakukan inspeksi ke sekolah ini, di mana waktu itu bahwa pusat gubernur untuk daerah Sumatera berada di Padang. Gubernur kemudian melaporkan kunjungannya kepada Gubernur Jenderal dalam suratnya tanggal 13 September 1863. Ia menyatakan, kekagumannya terhadap kepiawaian Willem Iskander. Kesannya ia tulis dengan kata-kata; “zeer ontwikkeld, hoogst ijverig,” artinya sangat cerdik, terpelajar, dan sangat rajin dan tekun.

Kemudian Van der Chijs diutus untuk menyaksikan perguruan Taon Bato. Selama di Tanobato Van der Chijs menyaksikan penyelenggaraan pendidikan di sekolah guru ini. Bahkan, mengagumi kebolehan Willem Iskander mengajarkan konsep-konsep ilmu pengetahuan dalam bahasa Mandailing dan bahasa Melayu. Sekalin itu, Van der Chijs juga kagum atas  kemampuan berbahasa Belanda para murid Willem Iskander.

Tulis Van der Chjis: “Cara Willem Iskander mengajarkan dasar-dasar fisika dalam bahasa Mandailing dengan metode sendiri, memakai alat peraga lokal yang dikenal baik oleh murid-muridnya.” Tulisan laporan tahunan pendidikan bumiputera tentang kekagumannya terhadap tiga kemampuan murid-murid di perguruan Tano Bato, bidang matematika, bahasa Melayu dan bahasa Belanda.

Memang, sebagai pendiri perguruan dia mencerahkan pikiran para murid, bahwa kemampuan berbahasa Melayu dan bahasa Belanda, adalah kunci gerbang ilmu pengetahuan. Maka, bahasa Batak Mandailing diajarkan ala kadarnya. Sementara Bahasa Belanda diajarkannya empat kali seminggu. Ada banyak prediksi bahwa salah satu kemampuan berbahasa itulah yang mengantar para murid-muridnya banyak menjadi pengarang, penerjemah dan penyadur.

Selain itu, konsep dari Willem Iskander melaksanakan ujian akhir, dimulai pada bulan Juni 1871. “Ujian dimulai dengan menyuruh murid-murid menulis esai, dilanjutkan dengan pertanyaan tentang ilmu alam, lembaga-lembaga pemerintahan Hindia Belanda. Kemampuan berbahasa Belanda dan bahasa Melayu diuji dengan cara membaca dan berbicara dalam kedua bahasa itu. Dan, ujian berhitung dilakukan dengan menjawab soal-soal dengan menulis pada batu tulis dan papan tulis.”

Pada 25 September 1860, Willem Iskander berjumpa dengan Eduard Douwes Dekker, alias Multatuli. Keduanya kemudian menjalin hubungan yang era, hangat sekali. Murtatuli kerap mengkritik pemerintahan Belanda atas jajahan, yang kemudian menganjalnya pada tuntutan di sidang pengadilan. Hadir dalam sidang itu Duymaer van Twist mantan Gubernur Jenderal yang memecat Eduard Douwes Dekker dari jabatan Asisten Residen Lebak. Ada 65 orang yang hadir di dalam sidang ini, 62 anggota, ketua Tweede Kamer, Reenen dan dua menteri, bahkan Menteri Urusan Jajahan J.J. Rochussen dan Menteri Keuangan Van Hall.

Hingga kemudian di tahun 1871, Van der Chijs mendekritkan pembaruan sekolah guru bumiputera. Ia membuat sejumlah syarat yang harus dipenuhi setiap sekolah guru bumiputera. Dekrit itu berkaitan dengan gagasan-gagasan Willem Iskander. Tiga syarat penting ialah pertama, sekolah guru harus menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Kedua, guru sekolah guru harus mampu menulis buku pelajaran, dan ketiga, bahasa daerah harus dikembangkan sesuai kaidah-kaidah bahasa.

Namun kemudian oleh usulan Willem itulah membuka pintu bagi anak-anak pribumi untuk diterima beasiswa di Belanda. Kemudian 4 orang dari tanah jajahan Hindia Belada diberangkatkan untuk menjadi beasiswa, salah satunya Willim sendiri. Tahun 1873, telah diketahui hanya tiga orang guru muda yang berangkat ke Negeri Belanda bersama Willem Iskander. Mereka adalah Banas Lubis murid Willem Iskander di sekolah guru Tanobato, Raden Mas Surono dari Kweekschool Surakarta, dan Mas Ardi Sasmita guru sekolah rendah di Majalengka lulusan Kweekschool Bandung.

Namun proyek beasiswa itu gagal. Tiga orang calon guru itu meninggal pada tahun 1875. Banas Lubis dan Ardi Sasmita meninggal di Amsterdam karena kesehatan mereka menurun disebabkan berbagai hal, antara lain rindu tanah air, cuaca buruk, dan masalah lain-lain yang menyebabkan mereka bertiga stres berat. Ketika Raden Mas Surono jatuh sakit, pemerintah mengambil keputusan untuk memulangkannya ke Tanah Air. Ada harapan Raden Mas Surono akan sembuh dalam perjalanan. Tetapi, takdir menentukan lain. Raden Mas Surono meninggal dalam pelayaran ke Tanah Air. Nakhoda dan kelasi melarungkan jenazah Raden Mas Surono ke laut.

Oleh kematian tiga sahabatnya itu, memukul perasaan Willem. Cita-citanya yang luhur untuk mencerdaskan bangsa melalui pendidikan, ternyata gagal. Dalam keadaan berduka itu, Godon memberikan nasihat kepada Willem untuklah menikah. “Kehadiran seorang isteri pastilah akan meringankan beban pikiran, karena ada teman berbagi duka,” katanya.

Atas nasihati itu, Willem pun menikah dengan Maria Christina Jacoba Winter. Pada tanggal 27 Januari 1876 keduanya diberkati di gereja di Amsterdam. Hanya saja, jalan Tuhan berbeda dengan rencana manusia. Pernikahannya tak berumur panjang, Willem kemudian dipanggil Bapa di sorga, wafat tanggal 8 Mei 1876, kemudian dimakamkan di Zorgvlied Begraafplaats, Amsterdam. Sementara istrinya, Maria Jacoba Christina Iskander-Winter tetap setia menjanda, hingga kemudian di usia 69 tahun, Maria mengalami sakit Witte Kruis. Dan wafat 25 April 1920. Jasadnya dimakamkan di pekuburan Nieuwe Oosterbegraafplaats, Amsterdam. (Hojot Marluga)

Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=tCN_-DMSd20

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s