Pdt. Robinson Butarbutar, D.Th.


Pdt. Robinson Butarbutar, D.Th.

“Hamba yang Tak Berhenti Memberi dari Kemiskinannya”IMG_7108bhMenjadi pendeta tak saja hanya butuh dedikasi, waktu, dan pendidikan yang mumpuni. Tetapi, juga berkarakter imam dan bersikap hamba sebagai pelayan yang memberi diri sepenuh kepadaNya, demikian awal perbincangan dengan Robinson Butarbutar. Lelaki kelahiran, 1 Januari 1961 di Bah Jambi, Kabupaten Simalungun. Putra dari Bapak J Butarbutar dan Ibu T boru Pardede. Masa kecil hingga akil balig dilaluinya dengan berbagai keruwetan hidup.

Sekolah dasar hingga SMP dilewatinya di Bah Jambi, sementara Pendidikan Guru Agama di Pematangsiantar. Lalu, menamatkan Sarjana Muda Teologi, tahun 1985, dilanjutkan Sarjana Teologi, tahun 1987 di STT-HKBP Pematangsiantar. Kemudian, Master of Arts dalam bidang Penafsiran Alkitab tahun 1990 di London Bible College, Inggris, dan Doktor Teologi tahun 1999 di Trinity Theological College, Singapura, dengan Tyndale House Cambridge, Inggris sebagai tempat penelitian lanjut.

Kehidupan di masa kecil membebat mentalnya. Setiap hari berjalan kaki berkilo-kilo meter, sesekali naik sepeda ke Nagojor untuk mengarap sawah di satu lahan milik orang tuanya dan di Afdeling lima yang disewa orangtuanya. Di sela-sela membantu orangtua di sawah, dia sedari kecil juga sudah biasa ke gereja untuk mengikuti Sekolah Minggu.

Selain itu, ia selalu mengikuti pengajaran seolah minggu di HKBP Bah Jambi. “Saya selalu memperhadapkan keyakinan iman saya sebagai anak petani. Saya sering berdoa di sawah, memohon agar Tuhan menjagai padi kami dari serangan hama, dari serangan tikus, dan dari serangan burung. Tak selalu doa saya kelihatan terjawab,” akunya.

Bahkan, pernah ketika melihat suatu pagi, bahwa padi yang siap dipanen, habis dimakan hama wereng. “Habis dibabat tikus, dan ludes dimakan ribuan burung,” ujar suami Srimiaty Rayani Simatupang MHum (Putri dari Bapak W Simatupang dan Ibu D boru Panggabean), dan ayah dari Martin, Melanchthon Bonifacio, dan Emely Katharina, mengenang masa kecilnya.

Apakah dia kecewa? Nyatanya, dia terus merasakan pemeliharaan Tuhan. Sebagai seorang teolog, makin mempelajari firman Tuhan dia menyadari kuasa Tuhan itu bisa dirasakan melalui doa. Hal itu makin kuat sesudah dia belajar di Sekolah Tinggi Teologi HKBP. Tak ada yang kebetulan, pembimbing rohaninya adalah Pdt Dr. David Leslie Baker yang kemudian memintanya membantu mengajar mahasiswa Pendidikan Agama Kristen di STT-HKBP di bidang Pengetahuan Isi Alkitab.

“Otomatis saya mesti belajar sungguh-sungguh. Beliau juga meminta saya memeriksa latihan-latihan bahasa Ibrani mahasiswa tingkat satu dan dua, ketika saya sudah menjadi mahasiswa senior, membantu dia mengedit hasil-hasil kuliah kami di bidang penafsiran surat Korintus dan Kejadian untuk diolah menjadi bahan Penelaahan Alkitab yang kemudian diterbitkan oleh Badan Penerbit Kristen  Jakarta. Buku ini sering dipakai oleh warga Kristen di jemaat-jemaat di Indonesia sampai saat ini,” ujar penulis buku Paul and Conflict Resolution yang diterbitkan oleh Paternoster Press, Inggris pada tahun 2007 itu.

Mahasiswa kritis

Dia merasakan, pembinaan rohani yang diterimanya dari Dr. Baker maupun hubungan yang dekat dengan keluarganya, istimewa dalam hal membentuk sikap iman maupun pengetahuan teologisnya, sangatlah bermanfaat di dalam hidupnya kemudian hari. Dia, sampai pada pemahaman bahwa kejahatan marak karena orang baik tak aktif berperan memperjuangkan yang baik. Dari Dr. Baker dia terus merasakan pembinaan rohani. Hubungannya dengan beliaulah  yang menyebabkan dia selalu membiasakan diri membaca Alkitab dan berdoa secara sungguh-sungguh. Hal itu bukan saja ketika mahasiswa, bahkan, sampai sekarang menjadi habitusnya. Bahwa hubungan pribadi itu harus terus terjalan pada Sang Sumber hidup, katanya.

Tetapi, ketika kejahatan di benaknya terlihat, dia selalu mengkritisinya. Masih bening diingatannya, saat menjadi Anggota Senat Mahasiswa, mengadakan perlawanan terhadap proses pemilihan Rektor STT-HKBP yang dilakukan ketika pejabat rektor, Dr. W. Sihite melaksanakan perjalanan dinas di luar negeri. Pada pemilihan itu Dr. S.M Siahaan terpilih dan disetujui oleh Ephorus HKBP GHM Siahaan. Tindakan ini baginya dan rekan-rekan sesama senat mahasiswa sebagai tak demokratis.

Karena itu, sebagai senat mahasiswa dia mengadakan protes. Akibatnya ia mendapat sanksi. Namun, dari pengalaman itu dia memetik hikmat. Dosennya Pdt TOB Simaremare MTh, dosen bidang praktika, ketika itu menasihatinya dan mengatakan bahwa sikap kritis dapat disampaikan dengan sopan, tanpa harus berteriak-teriak apalagi merusak.

“Nasihat inilah yang terus saya ingat. Termasuk ketika saya menjalankan tugas saya sebagai Ketua Badan Pertimbangan Mahasiswa (BPM) pada tahun terakhir, badan tertinggi di aktivitas mahasiswa, yang berfungsi menjembatani suara mahasiswa dengan suara para pengajar,” kenangnya.

Jebolan Cambridge

PendetaSejak mahasiswa kemampuan akademiknya di atas rata-rata sudah pekat terlihat. Saat menyelesaikan kuliah, menghadapi meja hijau, mempertanggung-jawabkan skripsinya tentang Rencana Allah menurut Roma 9-11. Salah satu pengujianya Dr. S.A.E. Nababan merasa terkesan dengan hasil ujian meja hijau dan hasil menyeluruh studinya yang sangat memuaskan. “Beliau bertanya kepada saya apa rencana saya setelah wisuda. Saya mengatakan, bahwa atas saran Dr. D.L. Baker saya sudah mempersiapkan untuk berangkat ke Inggris untuk mengikuti studi Master of Arts di bidang Hermeneutika.”

Hidup, belajar dan bergaul bersama orang percaya di Cambridge merupakan satu tahapan hidup yang berharga baginya, karena di Cambridge dia melihat dan mengalami bagaimana orang-orang percaya yang setia mengikut Kristus mencoba dengan sungguh-sungguh melihat relevansi iman orang percaya di dalam masyarakat sekuler yang intelektual.

“Di Cambridge, kota universitas terkenal, berkumpul dan belajar para mahasiswa dan para ahli dari berbagai negara untuk mencari jawab terhadap hal-hal yang masih belum mendapat jawaban yang pasti dari sisi ilmu pengetahuan. Tetapi, di Cambridge juga ditemukan orang-orang Kristen yang setia mengikut Kristus dalam masyarakat intelektual.”

Di Cambridge juga dia mencermati tingkat kemampuan berfikir secara objektif dari generasi muda usia sekolah, yang sudah mampu melihat satu masalah dari berbagai sudut pandang, dan sudah mampu memilih argumentasi mana yang paling kuat dari semuanya dalam mencari jawab terbaik terhadap masalah yang ada.

“Tentu ini terjadi karena sistim pendidikan yang dipakai bukanlah sistim banking, di mana peserta didik menelan begitu saja apa pun yang disampaikan oleh nara sumber, para guru, melainkan sistim hadap masalah, sistim demokratis, sistim partisipatif, sistim interaktif, di mana pengetahuan dari peserta didik dihargai dengan serius oleh pendidik, dan sistim kekerasan tak lagi dipakai oleh pendidik terhadap para peserta didik. Saya sangat terkejut melihat keadaan itu, dan memimpikan bahwa kelak di Indonesia, sistim yang sama harus segera diperkenalkan dan ditumbuh kembangkan.”

Alih-alih di Camrbidge juga dia menemukan kesukaan rakyat naik sepeda dari rumah ke tempat kerja atau ke kota, ke kampus dan ke tempat lainnya, bukan karena usaha menghemat uang parkir, melainkan untuk membantu usaha menjaga kesehatan tubuh dan jiwa.

Keramahtamahan orang percaya di sana juga sangat menggerakkan hati. Pernah Sekretaris Jenderal HKBP, Pdt OPT Simorangkir datang berkunjung ke Cambridge untuk menguatkan saya. Ia diterima sebagai tamu bekas Kepala Sekolah, dan tinggal di rumahnya selama satu minggu. Demikian berusahanya sang tuan rumah membantunya berbahasa Inggris sehingga sebelum pulang beliau menyebutkan begini: “Hari pertama dan kedua saya tak mengerti apa yang teman itu katakan kepada saya. Tetapi, setelah seminggu saya sudah dapat memahami dengan baik. Kalau saya tinggal bersama dia selama dua tiga minggu, saya akan menguasai bahasa Inggris dengan baik.”

Selesai kuliah di Inggris Oktober 1990, ia ditempatkan di HKBP Lumbanbaringin, Sipoholon, Tapanuli Utara dan pada bulan Januari 1992 dia menerima penugasan baru dari pimpinan HKBP, yaitu menjadi staff kantor pusat untuk bidang oikumene. Penugasannya yang baru untuk memberi kesempatan kepada Kepala Biro Oikumene waktu itu, yaitu Pdt Plaston Simanjuntak MMin untuk studi lanjut program Doktor of Ministry di Amerilka. “Sewaktu tugas di Pearaja Tarutung, saya tinggal di rumah sewa, mula-mula di Jalan Sisingamangaraja, kemudian di Siwalu Ompu, dan terakhir di Pardangguran.”

Memberi dari kemiskinan

Ketika bertugas di Biro Oikumene HKBP, tanda-tanda konflik besar di antara HKBP dengan pejabat pemerintah terjadi, berawal dari adanya ketidak harmonisan hubungan di antara Ephorus Dr. Nababan dengan Sekretaris Jenderal Pdt OPT Simorangkir.  Konflik itu kemudian dicoba diatasi di dalam sinode godang HKBP bulan Desember 1992 di Sipoholon, tetapi tak berhasil.

“Saya sendiri, yang belum lama bertugas di Pearaja, harus mengambil keputusan saya sendiri. Sebelum mengambil keputusan, saya tentu berdoa selama beberapa jam di kantor saya. Ada beberapa pertimbangkan waktu itu, yaitu: Pertama, meminta cuti, dan mempertimbangkan masuk kembali setelah konflik selesai. Pilihan ini memang paling aman. Tetapi pilihan ini berarti bahwa saya lari dari masalah, tak menghadapi masalah dengan segala resiko. Saya sudah bersekolah untuk HKBP. Dengan cuti, berarti saya berhenti memenuhi visi HKBP yang sebelumnya memberangkatkan saya sekolah.” 

Akhirnya, pemerintah ikut masuk pada pusaran konflik internal di tubuh HKBP. Beberapa orang yang setia menolak campur tangan pemerintah pun ditangkapi dan dianiaya. Termasuk dirinya juga ditangkap dan ditahan bahkan, mendapat berbagai tamparan dan tendangan yang tak pantas dilakukan terhadap pendeta. Setelah dibebaskan ia ke Jakarta. Di Jakarta kemudian dia bisa bergabung dengan teman-teman pendeta bersama Dr. SAE Nababan. Kemudian ia menerima pentahbisan kependetaan 9 Mei 1993 di HKBP Tangerang Kota.  Tiga tahun kemudian ia diberangkatkan mengikuti program studi S3 di Singapura, diselesaikannya kurang dari tiga tahun.

Mengingat bahwa selama studi doktor tiga tahun dia tak pernah mengadakan libur. “Setelah wisuda saya diminta Ephorus Pdt Dr. JR Hutauruk (Ephorus HKBP 1998-2004) untuk memimpin Biro Oikumene HKBP, yang dikenal sebagai Ephorus yang mengusahakan perdamaian, menyembuhkan luka-luka batin, menjembatani rekonsiliasi di tubuh HKBP. “Beliau meminta saya langsung menunaikan tugas sebagai Kepala Biro Oikumene HKBP, menggantikan Pdt BTP Purba, mantan Praeses yang beralih  tugas menjadi direktur Sekolah Guru Huria HKBP di Seminarium Sipohon.

Tugas utama saya adalah membangun kembali hubungan HKBP dengan mitra-mitra oikumenisnya di dalam dan di luar negeri, teristimewa karena selama krisis HKBP (1993-1998) dan sesudahnya (1998-1999) hubungan itu tak berlangsung baik. Banyak persekutuan gerakan oikumene yang memihak kepada kelompok yang ditekan pemerintah. Ada satu dua yang masih berhubungan dengan pihak yang didukung pemerintah. Tetapi, pada umumnya peran HKBP di dalam gerakan itu tak semaksimal seperti sebelum konflik dimulai.

“Saya diminta mengerjakan hal itu selama satu tahun, karena setelah itu ephorus berjanji akan mengijinkan saya mengajar di STT-HKBP, sebagaimana saya minta ketika melapor setelah selesai studi.”

Selama satu tahun dia bekerja siang malam untuk membangun hubungan itu, yang keberhasilannya ditandai dengan kesediaan beberapa pimpinan gerakan oikumene internasional mengunjungi HKBP secara khusus, yaitu Sekretaris Jenderal Dewan Gereja Sedunia, Pdt Dr. Konrad Raiser, Sekretaris Jenderal Dewan Gereja Lutheran Sedunia (LWF) Pdt Dr. Ishmael Noko, dan Ketua Gereja-gereja Protestan di Jerman, Praeses Manfred Koch bersama beberapa Bishop lainnya seperti Bishop  Koppe.   Pembangunan kembali hubungan itu penting karena “HKBP merupakan gereja protestan terbesar di Asia Tenggara, yang kontribusinya di dalam gerakan oikumene sangat diharapkan.” Keberhasilan itu tercapai karena dia bekerja pagi-pagi buta dengan menggunakan komunikasi internet, yang pada waktu itu hanya bisa lancar ketika tak ada orang lain yang memakai jalur telepon di Tarutung dan khususnya di Pearaja.

Sebagai pendeta berjubel pengetahuannya tentang Alkitab terkhusus Perjanjian Baru, Robinson kemudian didaulat menjadi dosen Perjanjian Baru. Mengajar Perjanjian Baru di Universitas Silliman, Dumaguete, Philipina (2000-2002). Pada waktu itu, Ephorus Hutauruk menerima permintaan dari United Evangelical Mission (UEM) agar mengirimnya menjadi tenaga pengajar di bidang Perjanjian Baru di Silliman University, Dumaguete, Negros Oriental Philippines, yang bersama gereja protestan terbesar di Philipina (UCCP) meminta bantuan UEM untuk mengirimkan  tenaga itu, karena dosen Perjanjian Baru di sana ditugaskan untuk menjalani studi doktor.

Permintaan UEM ini disambut baik oleh Ephorus Hutauruk yang kemudian memintanya untuk mengajar di Philippina. “Ephorus Hutauruk mengatakan begini kepada saya. Saya tahu kerinduanmu untuk mengajar di STT-HKBP. Saya juga tahu bahwa kepersonaliaan kita masih miskin. Tetapi, dari kemiskinan personel kita di bidang pengajaran Perjanjian Baru, kita harus mulai memberanikan diri membantu misi UEM yang meminta tenaga kita untuk bekerja di Philipina. Kita harus berani meniru jemaat-jemaat di Makedonia di dalam Perjanjian Baru, yang memberi dari kemiskinannya,” kenangnya.

Sejak itu, dia berjanji dalam dirinya tidak akan menolak SK pimpinan. “Saya akan mengikuti keputusan pimpinan HKBP di dalam hal tempat tugas pelayanan saya. Karena itu, saya melaksanakan setiap keputusan pimpinan saya. Dan saya menyetujui berangkat ke Philipina, tetapi dengan pemahaman bahwa saya hanya mengajar di sana selama satu periode, tiga tahun, dan setelahnya kembali ke HKBP untuk mengajar di STT-HKBP.”

Akhirnya, dia kemudian ke Philipina. “Saya berhubungan secara intensif dengan Joerg Spitzer, Kepala Biro Personalia UEM di Wuppertal dan dengan Bishop Erme Camba, Dekan Fakultas Teologi di Dumaguete Philipina, untuk membicarakan pengaturan ketibaan, perubahan di kampus, dan uraian tugas mengajar dan persiapan-persiapan pengajaran itu sendiri. Saya tak punya banyak waktu untuk berbuat hal lain kecuali mempersiapkan materi-materi kuliah saya. Kami tinggal di bekas rumah Dekan yang jaraknya hanya dua ratus meter dari kampus Divinity School.”

Namun kemudian, sebelum tugas di Philippina berakhir, Ephorus Hutauruk menugaskan saya  bekerja di Wuppertal, Jerman (2002-2003). Hidup dan bekerja selama satu tahun di Wuppertal berlalu dengan cepat sekali, karena dia sejak awal sampai akhir masa tugas semangat, sibuk. “Saya bekerja mulai pukul tujuh pagi, karena teman saya di kantor, Pdt Peter Demberger juga bekerja seawal itu. Dia sudah kembali ke rumah pukul dua sore, dan kadang kala bekerja dari rumahnya. Kerjasama kami cukup baik, dan beliau merasa bersyukur karena berkat kehadiran saya tak ada sesuatu pekerjaan pun yang tertinggal untuk gereja-gereja Asia. Beliau melihat ketelitian saya bekerja, dan kerajinan saya meneliti kasus-kasus di Archiv UEM sebelum melakukan tindakan.”

Memimpin UEM Asia

Robinson menyadari bahwa keberhasilan pelayanannya bukan karena kepintaran dan kekuatannya semata-mata. Sebab dia sadar, bahwa jika menjiwai panggilan sebagai pelayan, niscaya diberiNya kekuatan. Dia telah juga punya reputasi memimpin kantor UEM Regional Asia (2003-2008) yang sebelumnya dipimpin Pdt Ruth Quiocho, seorang temannya dari Philipina. Sebelumnya kantor itu di Philipina. Tetapi kemudian oleh keputusan Council UEM kantor itu dipindahkan ke Medan, Indonesia karena lebih banyak anggota UEM berada di Indonesia.

“Hal yang paling utama saya kerjakan ketika memulai tugas di Medan adalah memindahkan kantor ke kantor Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia wilayah Sumut (PGI-WSU) yang saat itu sedang dipimpin oleh Pdt Dr. Langsung Sitorus.”

Regional Asia UEM dilayani oleh tiga staf eksekutif, yaitu dari Philippina, dari jerman dan saya. Saya memimpin tim ini dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi, mengintegrasikan program-program bersama UEM di regional Asia, yang berbentuk kunjungan, seminar, konsultasi, lokakarya, dan pelatihan-pelatihan untuk hal-hal yang oleh sidang raya UEM sebagai kebutuhan prioritas bagi gereja-gereja anggotanya.

Robinson.jpgProgram-program di Asia beraneka, seperti keadilan gender, hak-hak anak, keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan, evangelisasi, kepemimpinan khususnya di kalangan pemuda, HIV dan AIDS dan pendidikan edukasi pastoral. Tugas Butarbar waktu itu juga dalah mengorganisir rapat-rapat UEM di Asia, termasuk sidang saya regional Asia, rapat Council Asia dan Sidang RAya VEM, serta membantu mengorganisir program-program internasional UEM (Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan, Evangelisasi dan HIV/AIDS) yang diadakan di Asia. Ia juga mewakili staff UEM di Asia menghadiri rapat-rapat internasional UEM di lua Asia, yaiatu di Eropah dan Afrika.

Dia melakukan tugas ini dengan baik. Melalui pelaksanaan tugas ini, dia mengenal sekujur gereja-gereja, anggota UEM di Asia. “Saya juga berhasil menjalin hubungan yang sangat dekat dengan gereja-gereja anggota UEM yang berkantor pusat di Sumatera Utara yang memiliki pergumulan sendiri. Secara khusus, gereja-gereja ini berhasil mengembangkan sendiri program-program menyangkut hak-hak perempuan, hak-hak anak, penanganan HIV-AIDS dan KPKC.”

Misalnya, dia contohkan, HKBP telah memiliki komite HIV dan AIDS yang bekerja efektif. Gereja-gereja berkantor pusat di Pematangsiantar berhasil mendirikan Pondok Kasih, di mana penanganan HIV dan AIDS dilakukan dengan baik. GKPS mendirikan Crisis Centre untuk korban kekerasan di kalangan perempuan. GBKP terus dengan giat mengadakan, hal sama dengan memiliki rumah perlindungan. –

Satu tahun sebelum tugasnya berakhir di Asia, ia kemudian dipromosikan oleh Council UEM yang baru, yaitu memimpin Departemen Internasional untuk Pelatihan dan Pemberdayaan para pemimpin gereja-gereja anggota UEM, para pemuda dan perempuan melalui pelatihan dan beasiswa maupun pertukaran pemuda. Itu sebabnya ia harus pindah ke Jerman pada awal Januari 2009 ke Wuppertal Jerman. Dari sana ia mengorganisir pelatihan lebih dari seribu orang pemimpin gereja-gereja di Asia, Afrika dan Eropah. Tugas itu memberi kesempatan padanya untuk mengunjungi gereja-gereja di Rwanda, Kongo, Bostwana, Namibia, Tansania dan Kamerun selama kurun waktu hampir lima tahun (2009-2013). Ia kembali ke Indonesia akhir Agustus 2013.

Membawa Visi HKBP

Sejak September 2013, dia dipercayakan mengajar Studi Perjanjian Baru di STT-HKBP Pematangsiantar oleh Ephorus HKBP Pdt Willem TP Simarmata MA. Pada Rapat Pendeta HKBP di FKIP Pematangsiantar ia diusulkan menjadi salah seorang calon Ketua Rapat Pendeta. Namun ia mengundurkan diri.  Pengetahuannya yang luas di bidang teologi mendorong Ephorus HKBP mempercayakan tugas tambahan kepadanya, yaitu memimpin Komisi Teologi HKBP sejak Februari 2014. Teman-temannya para Doktor Teologi Bapak juga melihat komitmennya membangun teologi yang reformis. Mereka memberi kepercayaan padanya memimpin Forum Teolog Batak sejak Februari 2015.  Forum ini beranggotakan para teolog bergelar Doktor Teologi.

Sejak awal 2014, ia kembali didorong oleh para pendeta muda dan senior untuk mempertimbangkan kesediaan mencalonkan diri menjadi calon Ephorus HKBP. Ia tidak langsung menerima dorongan itu, melainkan membawanya di dalam doa selama 10 bulan pada tahun 2015 untuk bertanya pada Tuhan. Akhirnya pada bulan Februai 2016, didorong oleh panggilan Tuhan dan kecintaannya pada HKBP, ia pun mendeklarasikan diri bersedia mempersembahkan diri untuk dipilih di sinode Agung HKBP sebagai Ephorus pada Sinode Agung ke-63 HKBP di Seminarium Sipholon pada tanggal 12-18 September 2016. Ia bertekad merealisasikan visi HKBP menjadi berkat bagi dunia. Bersamanya Pdt. Daniel Taruli Asi Harahap M.Th, mencalonkan diri sebagai Sekretaris Jenderal HKBP.

Selain itu, muncul juga nama Pdt. Roida Situmorang D. Min disiapkan menjadi Kepala Departemen Koinonia, kemudian Pdt. Marolop Sinaga M.Th tetap menjadi Kepala Departemen Marturia. Sementara, Pdt. Dr. Hulman Sinaga sebagai calon Kepala Departemen Diakonia. “Tim ini jika terpilih akan membawa visi HKBP yang sudah ada, Menjadi Berkat Bagi Dunia. Sudah cukup bagi kita selama ini memikirkan diri sendiri,” katanya. Hotman J. Lumban Gaol (Hojot Marluga)

3 thoughts on “Pdt. Robinson Butarbutar, D.Th.

  1. Dari promosi yg sdr. Hojot Marluga tulis. Blm ada sy temukan, ke ahlian beliau (butar2) dlm management. Sementara keahlian itu yg sangat dibutuhkan oleh seorang ephorus HKBP. Ephorus selama ini biasa2 saja blm ada yg reformis thdp
    1. Organisasi HKBP
    2. Pola pelayanan yg monoton. Sehingga banyak domba yg merumput di ladang lain.
    3. Blm ada kurikilum utk:
    a) Sekolah Minggu
    b) Sidih
    c) Remaja
    d) NHKBP
    dll.
    HKBP membutuhkan pemimpin yg berani melakukan reformasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s