Pdt. Daniel T.A. Harahap, M.Th


 

Berjuang untuk Kesejahteraan Pelayan HKBP

Pdt. Daniel T.A. Harahap, M.ThNama lengkapnya Daniel Taruli Asi Harahap, nama tentu penuh arti. Bisa diartikan: kebagian belas kasih. Umumnya jemaat Gereja HKBP memanggilnya, amang (bapak) DTA. Tentu, ada juga menyapanya Dani. Pria kelahiran Sei Merah, Medan, pada 26 Agustus 1963 ini adalah anak kelima dari enam bersaudara.

Masa kecilnya dilewatkannya penuh kebahagiaan. “Usia empat tahun saya punya pesawat mainan KLM yang digerakkan oleh batere, kelap-kelip lampu dan bunyi raungannya membanggakan sekali. Saya juga punya banyak mainan mobil-mobilan besi. Saya sering dibelikan blok-blok kayu. Ulang tahunku pernah dirayakan di restoran Tiptop, yang masa itu tempat sisa-sisa Belanda dan Tionghoa kaya Medan berkumpul. Itu masa-masa sangat indah,” kenangnya memulai perbincangan.

Sejak kecil selalu fokus pada kesukaannya. “Saya lebih suka main sendiri atau bersama saudara-saudaraku di rumah, membuat kapal-kapalan dan pesawat-pesawat kertas, kereta kelos benang yang bisa jalan mendaki, telepon kotak korek api, dan atau paling sering kulakukan mengumpulkan belalang, kotak-kotak rokok bekas, mengacak-acak sarang semut, memancing undur-undur di debu atau ikan gobi di parit pake seutas benang. Kadang aku bermain jual-jualan dan masak-masakan dengan anak-anak perempuan. Kadang aku sendirian saja mengumpulkan biji-biji flamboyan,” tambahnya.

Ayahnya bernama Aminuddin Harahap, dulunya seorang staf asosiasi perusahaan perkebunan di Medan. Sedangkan ibunya, Sereuli boru Hutabarat adalah perempuan yang teguh pendirian. Karakter ibundanya, berkebalikan dengan ayahnya. “Ibu seorang perempuan tangguh kelahiran Tebing Tinggi, daerah Deli. Saat perang berkecamuk ibu yang bermarga asal lembah Silindung ikut mengungsi. Tetapi ibu dibesarkan di daerah Toba Holbung, persisnya di Lumban Bagasan, Kecamatan Laguboti,” jelasnya.

Alih-alih berbeda dengan ayahnya, ibunya suka “berkelahi” dan bertengkar terang-terangan, berjuang, apalagi jika menyangkut hak dan kebenaran. “Ya, berbeda dengan kami-kami orang Batak dari Selatan, ibu tak akan segan-segan menuntut haknya, namun sebaliknya dia sangat jujur. Bahkan, baginya kejujuran adalah segalanya, melebihi pentingnya ritus doa. Jauh mengalahkan ambisi pemilikan materi,” paparnya.

 

Sosok Batak Sejati

Menurutnya, dari ibu yang mengajarkan menjadi Batak yang sejati, termasuk mengajarkan soal prinsip. Dalam soal adat Batak, ibunya boru Hutabarat jelas-jelas punya pendirian, logika dan nurani. Bagi ibunya, adat bukan sekadar soal kebiasaan apalagi latah-latahan. Adat adalah prinsip berhubungan dengan sesama berdasarkan hormat, kejujuran, dan rasa sayang.

Itulah yang membuat dia sering membangkang atas hal-hal yang dianggapnya tak benar dalam kebatakan. “Ibu akan marah jika ephorus atau pendeta mau diulosi. Baginya, itu penghinaan. Ulos tak pernah datang dari bawah alasannya. Ikan mas harus dibungkus apik dalam tandok dan dijunjung di kepala, bukan dibiarkan telanjang dipamer-pamerkan,” tambah Daniel.

dta-hojot-2.JPGBeranjak dewasa, tahun 1982, dia ke Jakarta dan bermukim di daerah Pulomas, Jakarta Timur. Di Pulomas itulah, menurutnya, dia bisa berbahasa Batak. Sebab di Medan tak bisa, walau lahir di Medan tak lincah berbahasa Batak. “Maklumlah di Medan waktu itu, jarang ada orang berbahasa Batak. Saya bisa mengerti namun tak mampu lancar mengungkapkan. Tentu saya sangat iri kepada kemampuan kawan-kawanku di Pulomas bisa berbahasa Batak,” terang pendeta yang dikenal gaul ini.

Sejak ke Jakarta untuk kuliah di STT Jakarta, di Pulomas dia sering mendengar naposo bulung (pemuda) HKBP Pulomas berbahasa Batak, dia kemudian malu hati. Dan sejak itu berniat ingin belajar bahasa Batak. Pulomas yang kerap diidentikkan kampung orang Batak. Di sanalah dia belajar bahasa Batak hingga lulus dari STT Jakarta. “Sejak di Pulomas saya benar-benar belajar bahasa Batak. Apalagi setelah mengikuti vikaris dan kemudian ditahbiskan dan ditempatkan menjadi pelayan di Sibolga Julu. Mau tidak mau saya mesti belajar bahasa Batak,” cetusnya.

 

Anak Tukik

Pdt. Daniel menyebut dirinya bak anak tukik yang belajar menggapai lautan di kehidupan. Maksudnya, dia menetapkan diri menjadi manusia pembelajar di universitas kehidupan. Dia seorang pendeta pembelajar. Termasuk ketika internet baru hadir di negeri ini, dia sudah getol belajar dan berselancar di media sosial di awal-awal Friendster, sebuah situs permainan sosial.

Tatkala belum ada pendeta HKBP yang memiliki blog pribadi, dia sudah terlebih dahulu aktif membuat renungan di weblognya. Dalam bukunya Anak Penyu Menggapai Langit mengisahkan perjalanan hidupnya sebagai seorang pendeta yang membayangkan dirinya seperti penyu, merayap dengan berkeluget-keluget di pasir putih pantai, berusaha sampai ke lautan kehidupan. Tak ada yang menyangkal bahwa penyu merupakan makhluk menarik. Bayi penyu (tukik) keluar dari telur dan berebut menuju laut, itu filosofis.

“Penyu begitu mungil dan ringkih, apalagi dibandingkan dengan samudera dan angkasa luas, namun dia terus berjuang mengerahkan segala daya dan memelihara harapan. Ombak menjemput, si anak penyu pun berlari terus berenang dan menyelam, kadang di atas kadang di bawah. Kehidupan yang naik-turun, fluktuatif. Ada suka dan duka. Namun di balik itu semua ada senyum dan ada harapan,” terangnya.

Sebenarnya, buku itu lebih tepat disebut buku autobiografi yang tentu dibumbui dengan nilai-nilai moral. Lagi-lagi di dalam buku ini juga terlihat kecintaannya terhadap HKBP. Kalau bicara HKBP dia dengan getol mengatakan, darahnya dari nenek-moyangnya adalah militan sebagai HKBP. Dari keturunan nenek-moyangnya Harahap, amang (bapak) mangulahi dari bapaknya, lima generasi di atasnya adalah orang pertama yang masuk menjadi Kristen.

Kini, sebagai pendeta yang hampir 30 tahun melayani senantiasa enerjik, kreatif dan berpikir bebas. Nun  sebelum menetapkan hati kuliah di STT Jakarta, lama di benaknya berpikir untuk menetapkan diri menjadi pendeta. Namun, menjadi pendeta itu juga menyelayut dalam pikirannya, dua alasannya karena terpikir jika menjadi pendeta itu akan memasung kebebasannya, dan satu lagi dia takut miskin.

Karena itu, semalam-malaman dia berdoa apa maksud Tuhan atas itu semua. Hal itu jelas beralasan, sebab dia juga diterima kuliah di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI), Jakarta, ketika itu. Lalu, saat permenungan itu dia berkali-kali membuka Alkitab yang terbuka pertama adalah ucapan Yesus yang mengatakan, “Ikutlah Aku.” Kutipan Firman Tuhan itu tiga kali dia temukan.

Dia memahami bahwa maksud Yesus menyuruhnya untuk mengikutiNya. Tetapi ketika dia memutuskan mengikuti Yesus, sekolah di STT, dia menghadapi pergumulan, ujian berat. Ayah tercinta sakit keras. Sempat dia bertanya pada Tuhan, apakah demikian mengikuti Yesus? Dia lalu pahami, jikalau kita menjadi pengikut Kristus (Nasrani) itu enak, sudah tentu titah untuk bersukacita senantiasa rasa-rasa tak perlu.  Ketika kita sudah memasrahkan hidup kita kepadaNya, kita diuji. Pertanyaan itu terjawab dengan banyaknya pengalaman pergumulan yang mesti dijalani.

 

Pembaharu HKBP

Oleh proses pergolakan batin itu, kemudian dia meneguhkan hati atas panggilan Tuhan dan dididik di sekolah teologia Jakarta. Awalnya, baginya ragu menjadi pendeta karena takut miskin. Mengapa? Nyatanya memang, betapa banyak pendeta yang dia saksikan saat emeritasi, menjalani masa pensiun, tak memiliki tempat tinggal. “Saya miris melihat jika di umur 65 tahun setelah pensiun, pendeta belum punya rumah,” ujar lulusan S1 dan S2 dari STT Jakarta ini.

Tentu, ada begitu banyak persoalan yang dihadapi gereja HKBP yang sifatnya sangat kompleks dan kait-mengait, dan sebagian kronis karena dibiarkan terjadi bertahun-tahun. Namun, bila disederhanakan ada dua persoalan. Pertama, persoalan kerohanian atau spiritual, mental dan moral warga khususnya pelayan HKBP. Kedua, persoalan sistem organisasi dan manajemen HKBP.

Persoalan pertama yang menyangkut kerohanian atau spiritual itu membutuhkan seorang pemimpin puncak atau Ephorus HKBP yang benar-benar sanggup menjadi bapak rohani atau teladan. Sementara persoalan kedua yang menyangkut sistem membutuhkan seorang Sekretaris Jenderal HKBP yang cakap di bidang manajerial dan mampu menegakkan aturan, serta para kepala departemen yang juga cakap memimpin program pelayanannya.

Menurutnya, semestinya gereja mengatur jaminan kesejahteraan sosial bagi pendeta. Salah satu permasalahan yang mesti diselesaikan adalah kesejahteran pendeta, berupa perawatan kesehatan, jaminan hari tua dan jaminan kematian. Tahapan sentralisasi penggajian pendeta saja masih belum merata. Inilah pergumulan gereja sejak lama. Itu sebabnya, pendeta yang sudah nyaman melayani di kota, jika dimutasi berbagai alasan dibuat. Tentu, pendeta itu manusia biasa yang mesti membutuhi keluarga. Paling tidak harapannya pendeta, anak-anaknya bisa sekolah sampai sarjana. “Saya kira, ini harus diselesaikan pusat,” ujarnya.

Menurutnya, ada dua hal yang harus dibangun dalam internal HKBP, yaitu membangun Bapak Rohani dengan menunjukkan figur-figur teladan HKBP di masa lalu, sehingga bisa menjawab tantangan zaman di era globalisasi. Kemudian menjalankan sistem yang sudah ada dengan mengedepankan Bapak Rohani sebagai tokoh sentral. Juga sistem kesejahteraan pendeta, sistem pensiun, kesejahteraan, remunisasi, sudah ada dalam sistem tinggal menjalankannya di bawah kepemimpinan Bapak Rohani.

Atas kerinduan pembaharuan ada di HKBP, dia bersedia mempersembahkan hidup melayani Tuhan di HKBP, khususnya di bidang pembenahan organisasi dan administrasi. “Saya punya rekam jejak bahwa saya mampu mengerjakannya. Saya sudah dua periode anggota MPS. Saya kontributor utama Pedoman Penatalayanan HKBP yang ditetapkan 2010. Saya anggota Tim Renstra 2012-2016. Saya dipercaya sebagai sekretaris Aturan Peraturan HKBP 2002 sesudah amandemen kedua yang memiliki tekanan transparansi dan akuntabilitas,” ujarnya lagi.

Kini, sebagai Kepala Badan Litbang HKBP dia bersama timnya sudah membangun sistem database HKBP yang benar-benar modern dan berbasis web atau online. “Bukan hanya wacana. Semua itu tentu merupakan bekal dan modal yang sangat baik untuk menjadi sekretaris jenderal. Jika sinodisten percaya pilihlah saya. Jika tidak, saya ikhlas. Semua calon adalah saudara dan sahabat,” ujarnya.

Selain itu, masih banyak pelayanan khotbah pendeta tak bisa memberikan kepuasan dahaga jemaat. Memang perlu pembaharuan khotbah dan ibadah. Warga jemaat sangat membutuhkan khotbah yang bernas dari pelayan terutama pendeta HKBP. Warga jemaat juga sangat membutuhkan ibadah yang benar-benar khidmat karena dilayankan dengan penuh kesungguhan dan kepenuhan hati.

Jika dia terpilih menjadi Sekjen HKBP, maka dia akan mendorong dan memfasilitasi agar semua pendeta HKBP selalu menyediakan khotbah yang bernas bagi jemaat. “Saya akan memberikan perhatian khusus kepada pelatihan-pelatihan khotbah, penyediaan buku panduan, dan sermon-sermon pendeta. Warga jemaat kita tak boleh lagi dibiarkan kehausan dan kelaparan secara spiritual sehingga pergi ke gereja lain memuaskan jiwanya,” tukasnya.

Lalu, ditanya apa yang urgen lagi untuk memajukan HKBP? Pembaharuan Sekolah Minggu. “Semua pendeta dan pelayan agar benar-benar memprioritas Sekolah Minggu. Saya akan mendorong agar Distrik membuat secara serius panduan sekolah minggu yang kontekstual dan relevan dengan kondisi di daerahnya, juga menyelenggarakan kursus-kursus pelatihan menjadi guru Sekolah Minggu. Saya juga akan meminta para pimpinan jemaat mengalokasikan anggaran yang signifikan untuk Sekolah Minggu, menyediakan ruangan terbaik yang dimiliki gereja untuk anak-anak itu juga alat peraga yang mereka butuhkan. Saya akan bekerja keras mencari cara agar setiap gereja HKBP memiliki perpustakaan anak SM agar anak-anak HKBP sejak dini diperkaya dengan pengetahuan dan wawasan,” terang pria yang ditahbiskan jadi pendeta pada 4 Agustus 1991 di HKBP Tanjung Balai Asahan, Sumut, itu.

dta-hojot-4Selain itu, menurutnya, HKBP sebagai gereja terbesar di Asia Tenggara mesti serius memprogramkan dana pensiun guna menjamin kesinambungan belanja gaji para pendeta, guru jemaat, bibelvrouw, diakones, evangelis dan pegawai non tahbisan. “Kami berharap seluruh pelayan partohonan itu, ketika pesiun paling tidak bisa memiliki rumah pribadi. Bagi saya, tujuan dana pensiun ini untuk menjamin kesinambungan,” ujar ayah dari Jessica boru Harahap, Regina boru Harahap dan William Harahap ini.

Lalu, bagaimana soal aturan peraturan dan sistem organisasi? Jelas, perlu revisi secara menyeluruh.  Jika jemaat dan parhalado HKBP memberikan kepercayaan kepadanya sebagai Sekjen HKBP. Maka, salah satu hal yang mesti diperjuangkan adalah hak-hak pelayan. Bagi dia, pelayan berhak memperoleh penghidupan yang layak agar pelayan fokus melayani jemaatNya. Sudah tentu dia setuju dengan pendeta berkreasi, berinovasi, mengembangkan bakat dan minat, memperoleh kehidupan keluarga yang layak. Misalnya, jika pendeta menulis buku. Hal yang lain yang dirindukannya para pelayan memperolah jaminan sosial.

“Saya miris melihat pendeta setelah emeritasi belum memiliki rumah tinggal. Lalu, juga keluarga dari pendeta yang meninggal menjalankan tugas, selama ini belum mendapat perhatian serius dari pusat,” ujar suami dari Dr. Martha Saulina Siregar, Sp.KK ini. Pembaharuan itu mesti dapat mendorong HKBP benar-benar berfungsi sebagai gereja dan bukan organisasi masyarakat belaka.

Selanjutnya, sistem organisasi HKBP harus benar-benar diefektifkan dan diefisienkan agar dapat bergerak lincah dan sigap melakukan tugas panggilannya. Kecintaan pada HKBP rindu terus ada perubahan. Tentu, perubahan diawali dari cara berpikir, proses mengembangkan kearifan budaya diterangi firman Tuhan. Hojot Marluga

Iklan

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s