Dr. Maruli Siahaan, SH, MH


maruli-siahaan-medansatu

Profil Lengkap

Nama Lengkap: AKBP Dr Maruli Siahaan, SH, MH

Lahir: Siborong-borong, 3 April 1961

Orangtua:

Istri:

Betty boru Simanjuntak

Anak:

  • Lettu (Inf) Jimson Andre Siahaan (27)
  • Lettu TNI Dedy Surya Putra Siahaan (26)/menantu Raramita Prapanca ANR Boru Simanjuntak
  • Triboy Alfin Siahaan (23)
  • Ferry Christanto Siahaan (19)

Pendidikan Formal:

  • Tahun 1987 gelar Sarjana Hukum  (S1) dari Fakultas Hukum Universitas Darma Agung (UDA), Medan
  • Tahun 2008 gelar Master Hukum (S2) dari Universitas Jaya Baya, Jakarta
  • Tahun 2014  gelar Doktor S3) bidang Administrasi Publik diraih dari Universitas Brawijaya, Malang

Karier:

  • Tahun 1982 masuk Bintara Polri dan merintis karir pada bidang Diskomlek Poldasu (6 tahun)
  • Tahun 1983 Dikjurba Komlek Bandung
  • Tahun 1986 Dikjurba Serse Bogor
  • Tahun 1988 bertugas di Polsek Deli Tua (6 bulan)
  • Tahun 1988 bertugas di Polsek Medan Baru (6 bulan)
  • Tahun 1989 Resum Poltabes Medan Sekitarnya (6 bulan)
  • Tahun 1990 Vice Control (VC) Poltabes Medan (8 bulan)
  • Tahun 1991 Sekolah Secapa Sukabumi angkatan ke-19
  • Tahun 1992 Kasubnit VC Poltabes Medan
  • Tahun 1993 Pjs Kanit VC Poltabes Medan
  • Tahun 1994 Perwira Dasar Serse
  • Tahun 1994 – 2000 Kanit VC Poltabes Medan.
  • Tahun 1998 Perwira Lanjutan Serse.
  • Tahun 2000 Kapolsek Teladan
  • Tahun 2001 Kapolsek Medan Baru
  • Tahun 2002 Pjs Kasat Reskrim Poltabes Medan
  • Tahun 2003 – 2005 Kasat Reskrim Poltabes Medan
  • Tahun 2005 – 2006 Kaur Min Korwas Bareskrim Mabes Polri
  • Tahun 2006 BKO ke Poso Polda Sulsel (4 bulan)
  • Awal 2007 Lemdiklat Bareskrim Polri (5 bulan)
  • Pertengahan 2007 pindah ke Polda NTT (Kabag Bindiklat)
  • Akhir 2007 Kasat I Direktorat Reserse Polda NTT
  • Tahun 2008 pindah ke Polda Jatim (Kanit Dit Narkoba)
  • Tahun 2009 meraih pangkat AKBP dan bertugas di Bidkum Polda Jatim
  • Tahun 2010 – 2014 Kasubdit Tipiter Krimsus Polda Jatim
  • Bulan Juni 2015-sekarang Wakil Direktur Krimsus Polda Sumut

Penghargaan:

Tahun 2003 menerima Satya Lencana Kesetiaan 8 tahun dari Kapolri

Tahun 2004 menerima Satya Lencana Kesetiaan 16 tahun dari Kapolri

Adagium menyebutkan, sebaik-baik seseorang adalah diri yang paling bermanfaat bagi orang lain. Bermanfaat untuk sesama, tentu kerinduan seluruh insan, hanya saja tak semua mau dan mampu mewujudkannya. Hanya orang-orang yang ihklaslah yang mampu menjalani dan mewujudkannya. Dampaknya sebagaimana filosofi di kehidupan “Apa yang ditabur itulah yang dituai. Kebaikan yang dilakukan akan kembali untuk kebaikan diri.” Rasanya, filosofi itulah yang dianut dan dijalani AKBP Dr Maruli Siahaan SH MH, 55 tahun.

Wakil Direktur Krimsus Polda Sumatera Utara ini, di tengah-tengah kesibukan menunaikan tugas negara, dia tak pernah melupakan tanggung jawabnya sebagai seorang ayah, bahkan bermanfaat untuk orang lain. “Saya selalu menomorsatukan keluarga dan tugas. Tak pernah menomorduakan keduanya apalagi mengabaikan. Lebih dari itu, kita berusaha membantu oranglain.” Baginya itu semua bisa disiasati dengan memprioritaskan yang utama.

Sebagai pejabat polisi di Polda Sumut, tugasnya tak boleh dilakoni setengah hati. “Meniti karier dan memberhasilkan anak adalah keseimbangan.” Dirinya bukan tipe orang yang memotivasi orang lain, sebelum memiliki contoh yang kokoh di keluarganya. Semangatnya menjadi teladan menjadi seorang pembelajar diperlihatkannya dengan antusias menjadi polisi yang haus ilmu. Maruli tak puas hanya menjadi sarjana, bahkan studi ke tingkat doktoral juga digapainya.

“Soal mendidikan anak-anaknya dengan disiplin, gigih, tekun dan keteladan itu pendting.” Maruli dikarunia Tuhan empat putra dari pernikahannya dengan istri terkasih, Betty boru Simanjuntak. Sendari kecil, keempat anaknya dididik dengan disiplin dengan nilai-nilai agama dan budaya. “Sebagai seorang Kristen dan seorang Batak yang otentik. Tentu, sebagai ayah saya menyadari peran ayah, tetapi itu juga diperkukuh didikan dari istri,” ujarnya memuji istrinya, sebagai seorang perempuan yang berhasil mendidikan buah hatinya. “Istri saya ibu yang lembut, tetapi tegas jikalau sudah mengajari anak. Bahkan akan terlihat cerewet.”

Empat jagoan

Dalam tuntutan tugas berdinas, dia mengaku tetap konsisten menanyakan keadaan dan keberadaan keempat anaknya, meski hanya melalui handphone, perhatiannya untuk anaknya tak pernah lupa dilakukan. Baginya, membesarkan anak tak cukup dengan menyekolahkan dan memberinya kebutuhan fisik saja, tetapi juga bagaimana membangun sikap mental, karakter budi baik. Menurutnya, komunikasi dengan anak secara intensif diperlukan agar memahami hubungan perasaan. “Agar jangan nanti setelah besar lulus sekolah, sulit bagi orangtua mengajaknya bicara. Malah bertanya-tanya, mengapa komunikasi dengan anak makin sulit dilakukan? Padahal orangtua selama ini tak membangun komunikasi dengan baik.”

Dia menambahkan, “Jadi, yang saya lakukan hanyalah mendampingi ibunya, istri yang lebih banyak membimbing keempatnya. Sementara untuk memantu aktivitas mereka? “Saya mengkordinasikan silang, mencek keberadaan mereka. Misalnya si adik bertanya abangnya, dan abangnya menanyakan keberadaan adiknya. Disana terjadi komunikasi dan kesalingpedulian antara kakak dan adik.”

Lalu, bagaimana mereka ketika remaja, menjelang akil balig. Sebab kerap di masa itulah anak kerap perlu pembimbingan lebih? “Masa remaja mereka diberikan kebebasan bertumbuh. Tentu dikontrol. Namun sifat mengontrolnya berkomunikasi. Contoh lain, soal proses belajar di rumah, anak-anaknya harus saling mengingatkan untuk belajar mandiri. Jika ingin ada extra belajar, misalnya bahasa Inggris harus dileskan, iya kita leskan,” ujar penerima dua kali Satya Lencana Kesetiaan dari Kapolri ini.

Satu rahasia yang dilakukannya menjadikan dirinya sahabat anak-anaknya. “Saya selalu menempatkan anak-anak ini menjadi teman. Mereka itu adalah teman-teman saya. Misalnya, kita orangtua harus juga jeli untuk mengembangkan sikap mental anak-anak kita. Jangan kita tanya anak kita mereka bilang lagi belajar. Padahal, kita juga tak perhatian bahwa mereka bukannya belajar tetapi malah bermain di kamar. Kalau merasa teman akan terbuka.”

Selanjutnya, setelah anak-anaknya lulus ditingkat sekolah menengah atas, Maruli sebagai ayah mengarahkan keempatnya menemukan passion, panggilan jiwanya untuk masa depan masing-masing. “Saya tanya mereka, kalau sudah di SMU. Apa cita-citamu nak? Saya tak paksakan mereka untuk menjadi angkatan, tentara atau polisi. Tetapi, entah mengapa sejak anak pertama ikut akademi perwira, ketiga adiknya juga mengikut,” ujarnya. Tentu, untuk pilihan itu, sebagai ayah dirinya tak memaksa. Merekalah yang membuat pilihan. Sebagai orangtua yang telah banyak makan asam garam di kehidupan, Maruli hanya memberi arahan apa-apa yang perlu disiapkan untuk persiapan mengikuti pendidikan di Akmil atau Akpol.

Tentu, selain latihan fisik dan mental juga pendidikan yang mumpuni di pengetahuan umum dan sains. Maka, begitu anak pertama ingin melanjutkan ke Akmil, dilakukan cek fisik. Apa-apa yang kurang bekal untuk dimiliki untuk mempersiapkan diri melamar. Tentu kalau ditemukan kekurangan masalah dalam fisik, maka perlu digembleng, Maruli menyuruh orang untuk pengemblengan fisik anaknya. Begitu seterusnya. Pun anaknya nomor dua sendiri agak berbeda, karena dia sendiri yang langsung melamar.

Anak ketiga masuk ke Akpol dan keempat masuk ke Akmil Angkatan Laut. Anak bungsunya malah sebelumnya sudah mendaftar, lalu kalah, masuk ke Universitas Sumatera Utara, kemudian tahun depannya mendaftar lagi. Sebagai ayah tentu dia dan istri merasakan kebanggaan tersendiri. Tak berhenti bersyukur dan memberi nasihat dan selalu memotivasi anak-anaknya agar mereka jangan menyiayikan kesempatan pendidikan yang mereka terima. “Saya selalu katakan, saya sendiri tidak diterima di pendidikan perwira. Kalian diterima di pendidikan akademi perwira, maka kalian harus jadi lebih baik dari bapak. Harapan bapak kalian kelak bisa jadi jenderal,” harapnya.

Saat ini, putera sulungnya Lettu (Inf) Jimson Andre Siahaan (27) baru selesai menjalankan misi militer di Sudan dan bertugas di Poso. Sementara, adiknya Lettu TNI Dedy Surya Putra Siahaan (26) bertugas sebagai Kasub Provoost Wirasaba (TNI AU). Putera ketiganya Triboy Alfin Siahaan (23) lulus Taruna Akpol, serta dijadwalkan menyandang pangkat Inspektur Polisi Dua (Ipda) pada akhir Juli 2016 akhir. Sementara, anak sibungsu Ferry Christanto Siahaan (19), masih mengikuti pendidikan di Akmil Angkatan Laut (AAL).

Selain itu, tatkala keras pesannya adalah, sikap hormat pada yang lebih tua. “Tunjukkan sikapmu yang baik. Rendah hati. Jangan kalian kalau sudah lulus perwira, lalu ketika ketemu kopral di lapangan, kalian tak hormat. Hormatilah oranglain dari umurnya, bukan dari pangkat atau gelar pendidikannya,” demikian nasihat kepada keempatnya. Kini, kemana pun keempat anaknya bertugas, pesan bapaknya selalu tergiang-giang. “Menghormati oranglain bukan dari pangkat atau titelnya.” Maruli menyadari betul makna ungkaoan Batak Anakkon Ki Do Hamoraon di Ahu. Anak sebagai kekayaan baginya. “Berkat Tuhan melengkapi saya dan isteri dengan pencapaian yang anak- anak kami dapat,” ujarnya.

Keempatnya didik bukan karena pemaksaan darinya, mereka menjadi perwira. Tetapi, sebagai orangtua selalu dengan sabar mendidik keempat jagoaanya dengan kasih dan keteladan. “Sejak kecil kami didik mereka dengan kasih. Mengajarkan teladan sebagai orangtua. Kami tak mendidik mereka dengan uang dan kemewahan. Kami mendidik mental dan sikap dalam menjalani hidup,” tambahnya.

Kini, anak kedua sudah menikah. Pada pernikahan anaknya itu terlihatlah kecedikiaannya membangun relasi, termasuk pada seniornya hadir di perhelatan itu.  Saat itu, hadir Kapolri Jenderal Pol Badrodin Haiti pada pernikahan anaknya Lettu Pom Deddy Surya Putra Siahaan S.St. Han, putra keduanya yang dilangsungkan, di Gereja HKBP Sei Agul, Sabtu (19/12/16) dan resepsi pernikahan di Hotel Tiara.

Tak hanya Kapolri, resepsi itu juga dihadiri puluhan jenderal, teman-teman dekatnya seperti mantan Kapolri Timor Pradopo, Komjen Pol Sopjan Jacoeb, Kapoldasu Irjen Pol Ngadino, Komjen Pol Ismerda Lebang, Irjen Pol Wagner Damanik, Irjen Pol Primanto, Mayjend TNI Fransen Siahaan dan beberapa jenderal dan para purnawirawan lainnya. Selain itu, sejumlah pejabat juga turut hadiri antara lain anggota DPR RI Trimedia Panjaitan, Gubsu HT Erry Nuradi. Hal ini menandakan bahwa Maruli lekat di hati banyak orang. Itu juga sebab banyak harapan dari tokoh dan komunitas Sumatera Utara memintanya mencalokan diri menjadi gubernur.

Setiap melangkah berdoa

Modalnya, setiap langkah didahulukan dengan doa. Dia tahu benar kuasa doa. Masih bening dalam benak pria kelahiran Sibrorongborong 3 April 1961 ini, kerap diajarkan kedua orangtuanya; Marden Siahaan dan N br Sihombing (keduanya sudah almarhum) untuk rajin ke gereja dan membaca firman, dan tak jemu-jemunya berdoa, kenang anak keenam dari sembilan bersaudara itu.

Masa-masa kecil penuh kenangan dilaluinya di daerah itu. “Saya sekolah di SD Lobu Siregar dan ST Siborongborong. Orangtua saya hanyalah petani,” kenangnya. “Jadi seluruhnya hanyalah karena anugerah Tuhan.” Dari anak-anak hingga remaja dilaluinya di tempat kelahiran. Tahun 1979, Maruli baru hijrah ke Kota Medan dengan melanjutkan jenjang pendidikan ke sekolah kejuruan STM Negeri II, lulus sekolah dirinya menguji peruntungan. Lalu mendaftar masuk ke Sekolah Calon Bintara (Secaba) Polri. Tuhan mengabulkan doanya, dia lulus dan tahun 1982 mulai berkarir di kepolisian dengan atribut dibahunya, bengkok kuning satu, pangkat Sersan Dua (Serda).

Dia menambahkan, sebagai seorang Kristen menyadari betul kekuatan doa. “Tak ada pekerjaan saya mulai jika tak didahului doa. Kita tentu bekerja dengan kerja keras, tetapi kerja keras kita tak berhasil jika tak ada doa di sana. Doa adalah kekuatan kita. Tanpa doa kita tak kuat menjalani pekerjaan kita. Saya selalu juga ajarkan itu kepada keluarga, kepada anak.”

Bertandang ke kantornya, akan terlihat spirit itu. Di atas mejanya tersusun buku-buku rohani. Maruli mengakui membaca buku-buku rohani itu tentu mengajarkannya betapa buku itu membebat pikirannya untuk terus bertumbuh. Ritmenya; bangun pagi berdoa dulu, saya sendiri sesampainya di kantor tak pernah mengerjakan pekerjaan di kantor sebelum terlebih dahulu berdoa. “Minimanl sepuluh menit pertama itu yang saya lalukan adalah berdoa terlebih dahulu. Demikian juga sebelum sampai di rumah juga pulang dari kanor juga saya berdoa.”

Dan tak lupa untuk membaca dan merenungkan firman Tuhan. Selain itu, untuk menjaga pikiran tetap bening adalah selalu menyempatkan ke toko buku untuk melihat buku-buku yang bisa memberikan bekal rohani untuk mentalnya. Sebagai pemimpin tentu dia butuh banyak pemahaman yang lebih segar tentang iman Kristen.

Ompu Roganda

“Saya melihat betapa perlu menjaga hubungan persaudaran dan kekeluargaan. Di dalam keluarga besar saya juga saya terapkan hal ini. Harus menjadi pembawa damai. Juru damai. Saya menyaksikan banyak keluarga hancur karena tak menjaga hubungan persaudaraan. Banyak hubungan persaudaran karena merebut harta warisan. Kami dalam keluarga besar menerapkan bahwa hubungan keluarga besar itu harus saling membantu. Saya sebagai aktif  di kepolisian, tentu beberapa keluarga anak abang dan dari anak kakak saya, tentu membuka jalan untuk mereka mengabdi di kepolisian.”

Keluarga besar Ompu Roganda ini didorong untuk selalu mengutamakan pendidikan. “Saya sendiri sebagai seorang polisi tak berhenti belajar. Malah sekarang anak-anaknya dan seluruh anak abang kakaknya sudah pada mandiri. Bahkan, beberapa mereka beruntung bisa mendapat beasiswa dari luar negeri,” harapnya. “Tetapi lebih dari itu, hubungan keluarga ini dibangun dari militansi saling memperhatikan.”

Lalu bagaimana caranya? “Misalnya, kami dengan keluarga selalu membangun komunikasi. Jarak tak menghalangi komunikasi. Misalnya, ada group Whatshaap, disana kami saling menyapa, memberi kabar dan saling berbagi dan menguatkan. Kemudian, pada setiap tahun di bulan Desember, kami mengadakan Natal keluarga yang digilir. Misalnya, kalau saya yang menjadi tuan rumah, maka seluruh keluarga besar dari keturunan orangtua Ompu Roganda, baik cucu-cucunya hadir di rumah saya. Di sana kami selain mengadakan kebaktian juga saling menyapa. Dan itu diadakan bergilir setiap tahunnya.”

Saat ini, mereka sudah tersebar di berbagai wilayah, termasuk di Papua. Maruli selalu konsisten dengan belajar pada sosok Ompu Roganda, kedua orangtuanya. “Sosok orangtua yang bersahaja. Ayah seorang petani, demikian juga ibu. Tetapi walau pun ibunya buta huruf, namun jika menghitung duit jago sekali,” ujarnya tertawa. “Ayah seorang petani, demikian juga ibu. Tetapi ketauladan mereka sebagai orangtua adalah sosok memiliki daya juang untuk kemajuan anak-anaknya. Semangatnya untuk memberangkatkan sekolah, tak kepalang besarnya. Walau cita-citanya sebenarnya tak terlalu tinggi, bagaimana anak-anaknya bisa sekolah sampai SMA.”

Ompu Roganda ini yang dalam bahasa Batak diartikan nenek yang kedatangan berkah. “Manakala ada keluarga yang kesulitan untuk membiayai uang sekolah, apalagi keluarga itu sudah meminta bantuan dari dirinya, maka orangtua ini akan dengan rela meminjamkan padinya, beberapa kaleng untuk meringankan beban tentangga atau kelaurga yang meminjam,” kenangnya. “Saya terbiasa melihat orangtua meminjamkan padi pada keluarga di kampung jika ada yang membutuhkan bantuannya oleh kesulitan keuangan. Orangtua tak hanya memikirkan dirinya dan anak-anaknya, tetapi orang lain juga. Barangkali itulah yang membuat keluarga besar kita diberkati Tuhan,” akunya.

Maruli meniru kebaikan yang diterapkan orangtuanya. Sesungguhnya, tak hanya keluarga besar saja yang diperhatikan olehnya. Termasuk peduli pada kampung halaman. Di kampungnya Balembalo, Lobu Siregar, Kabupaten Tapanuli Utara, dia juga telah berbuat. “Kami sudah gelar beberapa kali acara. Termasuk reuni SD di Lobu Siregar. Termasuk memberi beasiswa dan menyumbang komputer.”

Membekali generasi Siahaan

Kepedulian, perhatian dan sikap suka menolongnya selama ini tak akan pernah pudar dari batinnya. Selain perhatiannya terhadap kampung halaman, juga perhatian untuk marganya, Siahaan. Maruli selalu mengingatkan generasi muda Siahaan sebagai penerus harus terus berjibaku menjadi generasi yang handal.

Dia selalu memberikan kesempatan untuk saudara-saudara semarganya. “Saya selalu memberikan kesempatan untuk saudara-saudara saya Siahaan untuk memberikan semacam contoh keluarga. Tentu, bukan membangga-banggakan tetapi menggambarkan untuk saudara saya Siahaan betapa perlu juga orangtua itu menjadi teladan.”

“Sebisa mungkin saya selalu aktif di pegurusan Siahaan. Setiap ada pertemuan, saya selalu katakan bahwa apa pun yang kami bicarakan untuk marga ke depan tak boleh melupakan generasi muda,” ujar Ketua Umum Panitia Ziarah Nasional. Tahun lalu, dalam rangka Ziarah Nasional Parsadaan Pomparan Somba Debata (PPSD) Boru bere dan Ibebere se-Indonesia yang akan berlangsung di Dolok Na Jagar Kecamatan Balige, Kabupaten Toba Samosir pada 8-9 Agustus 2015. AKBP Dr Maruli Siahaan SH MH, didaulat menjadi ketua umum Panitia Ziarah Nasional. Menurutnya, Ziarah Nasional PPSD ini merupakan wujud rasa hormat kepada para orangtua dan leluhur marga Siahaan yang telah mewariskan keteladanan dan berbagai prinsip kebajikan.

Kegiatan lain diwarnai dengan menggelar bakti sosial berupa pembagian kaos ziarah nasional dan pemberian bibit serta penanaman pohon yang pada puncak acara pada 9 Agustus 2015 diawali dengan acara kebaktian. Sebagai ketua panitia juga dia tak lupa mengundang Tulang Lubis dan boru: Rajagukguk dan Siburian. Puncak acara manortor dan pemberian ulos serta pemberian bantuan dana kepada pelajar berprestasi beasiswa keturunan Pomparan Somba Debata.

Maruli menambahkan, yang paling penting dari ziarah ini adalah memberikan edukasi dan pembinaan terhadap generasi muda Somba Debata Siahaan. “Ziarah ini adalah wadah menjalin tali kasih persaudaraan sesama keturunan dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan saat itu hadir dari luar negeri.”

Takkala menarik, Ziarah Nasional itu juga diresmikan situs, Sopo Panisioan Somba Debata. Dilanjutkan seminar sehari dengan narasumber para pejabat dan intelektual dari marga Siahaan di antaranya; Prof Dr Hotman Siahaan Guru Besar di Departemen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga.

Bahkan, Mayjend TNI Fransen Siahaan, berkarier di Komando Strategis Cadangan Angkatan Darat (Kostrad) Pangdam XVII Cendrawasih-Papua, Dr Ir Bisuk Siahaan, tokoh dibalik proyek Asahan, Dr Nommy HT Siahaan SH MH, Ketua Pengadilan Tinggi Jawa Tengah dan Utama Siahaan, seorang motivator, Managing Partner of Kernel Resources. Seminar sehari itu diharapkan bisa meningkatkan sumber daya manusia (SDM) generasi muda Siahaan tentang paradaton, kewirausahaan (entrepreneur), perekonomian dan bahaya Narkoba.

Dirinya telah banyak berbuat. Bukan hanya untuk dirinya tetapi juga untuk oranglain. Tetapi sampai sekarang tak berhenti mengabdi. Harapannya ke depan jika Tuhan masih memberikan kesempatan, dirinya ingin mengabdi lebih besar lagi untuk masyarakat. “Saya selalu berdoa kepada Tuhan agar diberi kesehatan, keharmonisan keluarga serta kebijakan menjalankan pengabdian tugas untuk masyarakat lebih luas lagi.”

Ditanya apa rahasianya menjankan itu semuanya? “Saya hanya belajar menyenangi pekerjaan,” ujarnya antusias. Baginya, jika kita menyukai pekerjaan yang kita kerjakan, tentu akan mudah melaksanakannya. Pesannya untuk itu, bersikaplah menyukai dan menikmati pekerjaan. “Jangan pernah menunda apa yang bisa dikerjakan hari ini untuk dikerjakan besok. Dan kerjakan tugas dengan mengandalkan Tuhan, lakukan dengan maksimal. Niscaya akan berhasil,” ujarnya memberi rahasia.

Iklan

IMG_5203

Terpilihnya menjadi ephorus HKBP, Pdt. Dr. Darwin Lumbantobing sebagai  ephorus ke-16 membawa optimisme baru pada HKBP. Terpilih dalam Sinode Godang HKBP ke-62 di Seminarium Sipoholon sebagai ephorus periode 2016-2020. Sebelum menjadi ephorus, dia adalah Ketua Rapat Pendeta (KRP) HKBP. Malang melintang di dunia pendidik teologia. Selain itu, dia dikenal luas di kalangan umat Kristen dan sesama pendeta karena jabatannya ketika itu, Ketua STT HKBP Nommensen, Pematang Siantar (di Sumatera Utara ada 50 Sinode berpusat dari 326 Sinode yang terdaftar di Ditjen Bimas Kristen Prostestan). Pria kelahiran Kampung Rawang, Kisaran, pada 22 Agustus 1956.

Saat diwawancara, mengingat sejarah HKBP yang begitu panjang dan menjadi salah satu sinode terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara. Tentu terus berbenah, termasuk masalah-masalah penempatan pendeta. Dia berharap ke depan persoalan penempatan tugas pendeta tak menjadi permasalahan. “Ke depan biro Personalia mesti berdayaguna,” ujar peraih gelar doktoral dari LSTC Chicago, USA, tahun 1999 ini.

Bapak dari empat putera dan puteri lulusan pascasarjana dari universitas negeri, dan suami dari Mantasia br Siahaan rindu di masa kepemimpinan HKBP makin hari makin baik. Salah satu ephorus HKBP yang tergolong produktif menulis. Palin tidak dia sudah menulis tujuh belas buku, buku yang terakhir bertajuk HKBP do HKBP, HKBP Is HKBP.

Judul itu menurutnya bukan buah pikirannya, tetapi penyataan dari ephorus HKBP putra Batak kedua Pdt Dr Justin Sihombing yang saat memberi pernyataan dalam satu hajatan besar Lutheran World Federation (LWF). Kata-kaka itu terlontar ketika ditanya para anggota LWF tentang jati diri HKBP. Lalu, oleh Ompui Justin Sihombing ketika itu menyebut HKBP adalah HKBP yang berarti HKBP walau sebagai Lutheran ada jati diri orisinil. Hanya saja menurutnya, pernyataan itu selama ini tak dijelaskan dan dijabarkan. Karena itulah, dalam buku tersebut dia menjelaskan itu secara detail kerinduannya untuk HKBP.

“Buku itu berisikan ulasan teologis mencari dan menemukan makna teologis di balik ungkapan tersebut,” ujarnya kepada penulis, saat berjumpa dengannya, beberapa minggu sebelum pemilihan ephorus. Dalam buku tersebut memang terlihat kematangan berpikir teologisnya sebagai pendeta yang menggeluti dunia pendidikan teologia. “Kondisi jemaat sekarang sangat membutuhkan pelayanan yang benar-benar dapat menyentuh dan memberi solusi terhadap pergumulan warga jemaat,” tambah mantan rektor STT Pematang Siantar, itu.

Dipanggil di Dumai

Sebenarnya Darwin dulu berniat bekerja di perusahaan minyak. Tetapi, panggilan menjadi hamba Tuhan membawanya menjadi masuk sekolah teologia. Begitu lulus sekolah teologia, menjadi pendeta yang terus menghidupi jiwa pelayanan. Puncak karier pelayanannya sebelum menjadi ephorus, Ketua STT HKBP Siantar dan merangkap sebagai Ketua Rapot Pandita HKBP. Keduanya jabatan prestisius di HKBP. Ditanya mengapa bisa dipercaya jabatan itu? Baginya, itu semata-mata privilese dari Tuhan. Sesungguhnya jika menegok ke belakang, jalan hidupnya berliku. Dia dilahirkan di Kisaran. Namun saat remaja, oleh kakak iparnya (lae) mengajak ke Dumai. Iparnya bekerja di Caltex saat itu.

Maka pendidikan SMP dilaluinya di Dumai. Begitu lulus SMP di Dumai hendak melanjutkan ke tingkat atas SLTA. Oleh keluarga disarankan mendaftarkan ke STM HKBP. “Saat itu memang STM HKBP terkenal. Semua lulusannya diterima di Caltex dan Pertamina,” ujarnya. Maka dia pun mengikuti test. Tetapi, lucunya dia tak lulus test STM HKBP. “Saya kira itulah satu-satunya cerita saya gagal,” ujar terbahak-bahak. Tak diterima di STM HKBP, dia kemudian mendaftarakan diri ke SMA Campus dekat dengan STT Nommensen, Pematang Siantar. “Saya merasa bahwa ketika meninggalkan Dumai disitulah saya dipanggil Tuhan,” kenangnya. Maka, begitu lulus SMA dia mengikuti kata hatinya, terpanggil menjadi sekolah pendeta di STT Nommensen, Pematang Siantar.

Ditanya tentang visi-misinya, kerinduannya HKBP menjadi berkat? “Sudah ada dalam aturan peraturan HKBP yaitu menjadi berkat bagi dunia. Bagaimana menerapkan visi itu. Oleh karena itu, saya melihat untuk mengembangkan HKBP ada empat bidang, pertama, bagaimana menjawab secara konkrit tantangan yang muncul dari internal, karena banyak persoalan-persoalan yang harus dituntaskan. Apa yang sudah dicapai pada periode sebelumya kita hargai, pertahankan bahkan tingkatkan. Namun apabila masih ada peluang yang baru untuk meningkatkan pelayanan, maka akan kita formulasi sedemikian rupa.

Kedua, HKBP harus menjadi berkat bagi gereja lain. Gereja-gereja  oikumene di Asia Tenggara, HKBP selalu disandingkan dengan gereja terbesar, untuk itu harus bisa menjawab melalui program konkrit bukan melalui kata-kata. Ketiga, harus menjadi berkat bagi agama-agama lain. Kepelbagaian agama tak mungkin kita abaikan. Namun harus dihargai dan dicari bagaimana agar bisa saling merangkul untuk melaksanakan kehidupan spritualitas yang lebih baik kedepannya. Dan akhirnya, gereja harus menjadi berkat bagi negara, bangsa bahkan dunia. “HKBP tidak hanya sebagai penerima berkat saja tetapi harus menjadi saluran berkat. Dimulai dari berkat bagi internal, gereja tetangga, agama lain, negara, bangsa dan dunia ini,” terangnya.

Tak lupa juga mensikronisasikan pelayanan bidang marturia, diakonia dan koinonia. Artinya, bagaimana HKBP benar-benar menjadi berkat bagi dunia sungguh menjadi kerinduannya. “Berkat yang kita maksud adalah berkat dalam hal yang kecil dan lebih luas lagi dalam semua lapisan kehidupan. Intinya yang kita lakukan adalah bagaimana merevitalisasi berbagai hal yang ada di HKBP. Direvitaliasi agar lebih berdaya guna, bedampak guna untuk jemaat dan bangsa dan masyarakat.”

Lalu, bagaimana aturan peratuan HKBP ke depan? “Sesungguhnya sudah ditetapkan di Sinode Godang di Sipoholon, Nopember 1951, bahkan sejak tahun 1881. Sejak berdiri dikelola para missionaris sudah ada tata gereja yang baik. Tetapi, tentu perubahan zaman kita tak boleh napikan, mesti ada adaptasi untuk perbaikan yang lebih baik. Waktu itu sudah ada tata gereja disusun berdasarkan kebutuhan HKBP waktu itu. Bahwa pada tata gereja yang dibuat di sana memang juga tercantum kata untuk setiap sekali 10 tahun diperbaharui.

Menurutnya, kalau beracu hal itu, HKBP selalu mereaktualisasi diri bahwa sekali dalam sepuluh tahun ada pembaharuan tata gereja. Namun sejak tahun 2002 terjadi perubahan tata gereja yang menyiratkan bahwa amandemen terhadap tata gereja bisa dilakukan setiap tahun.” Tak lagi dalam setiap sepuluh tahun, asal oleh karena kebutuhannya. Namun perubahan terjadi tahun 2014 lalu, bahwa tata gereja tak boleh lagi diamandemen setiap sekali dalam sepuluh tahun. Padahal, ada saja hal-hal yang butuh diubah secepatnya. Misalnya, masalah calon pareses dua orang dalam satu distrik.

Mutasi pendeta

Lalu, ditanya tentang banyak yang menyebut bahwa mutasi di HKBP selalu saja ada yang meninggalkan riak-riak. Tak selalu berjalan mulus. Apa yang membuat demikian? “Sudah tentu memang setiap gereja memiliki sistim atau tata gereja masing-masing. Termasuk di dalamnya sistim mekanisme muatasi. Umumnya ada dua cara yang dilakukan sistim sending pastor dan calling pastor.” Menurutnya, sending pastor berarti mengutus pendeta dari pelayanan yang lama ke pelayanan yang baru. Artinya, otoritas dari pimpinan gereja melihat dengan analisa dan berbagai pertimbangan menempatkan seseorang untuk dilayani di satu tempat. Umumnya hal itu dilakukan oleh gereja sinodal dan episkopal. Sementara calling pastor kebalikan dari sending pastor.

Penggantian dari seorang pelayan atau pendeta dilakukan oleh analisa dari jemaat yang diwakili majelis jemaat. Majelis jemaatlah yang memanggil atau meminta pelayanan pendeta. Prosesnya tentu setelah majelis sepakat untuk meminta satu pendeta, maka mengajukan nama tersebut pada pimpinan gereja. Tentu, jika jemaat yang memilih seorang pelayan, maka pendeta yang mereka pilih adalah pendeta yang terbaik. Padahal, kenyataannya tak selalu demikian, karena memang tak ada yang sempurna. Calling pastor biasanya mengikuti presbyterial dan kongresional.

Maka, apabila dalam satu tata gereja hal ini dilaksanakan, calling pastor dan sending pastor sudah tentu selalu membawa riak-riak baru. “Jika kedua sistim yang demikian dijalankan bersama-sama, lama kelamaan bisa mengundang konflik. Karena pendeta satu merasa tak dihargai, atau yang satu merasa didiskriminasi,” jelasnya. Oleh karena itu, tambahnya. “Sebaiknya memilih menetapkan satu dari dua sistim tadi, sistim pemutasian. Sistim sending pastor yang lebih tepat untuk HKBP.”

Menurutnya, selain karena sistim episkopal dan senodal lebih cocok untuk HKBP. Oleh karena itu, HKBP mesti konsisten dan konsekuen menjalankan sistim sending pastor. Di samping selain karena secara struktural hirarkis yang sinodal dan episcopal itu, kehidupan masyarakat Batak tetap menganut pola pikir totalitarian, paternalistik dan sangat menghormati pigur primus interpares. “Ketokohan figuratif dibutuhkan sebagai tokoh yang mempersatu. Namun, tentu yang lebih utama pigur yang menjadi teladan, yang paling utama prilaku, tindakan dan perbuatannya yang harus benar-benar menunjukkan sebagai tokoh dan pigur pemersatu.”

“Calon pendeta HKBP baik yang baru maupun yang akan dimutasikan harus terlebih dahulu mengenal tempat pelayanannya. Agar nanti, jangan, setelah ditempatkan di sana pendeta tak tahu atau barangkali jemaat menolak. Ini perlu diantisipasi agar tak ada lagi pembangkangan terhadap SK pimpinan,” ujarnya. Lalu, sebagai ephorus apa kerinduanya untuk HKBP ke depan? “Saya kira perlu dijadikan HKBP sebagai kampung ke dua,” ujarnya. (Hojot Marluga)

Jonro I. Munthe, S.Sos


Memotivasi Tokoh-tokoh Kristiani Melalui NARWASTU

indexBernama lengkap Jonro Inranto Munthe. Pria Batak kelahiran Dolok Sanggul, Sumatera Utara, 6 April 1973 di kalangan gereja dan tokoh gereja sosok yang kenal konsisten memberitakan berita Nasrani. Pemimpin Umum dan Pemimpin Redaksi Majalah Kristiani NARWASTU dan salah satu pendiri Persekutuan Wartawan Media Kristiani Indonesia (PERWAMKI). Jonro I. Munthe, S.Sos yang, selama ini dikenal sosok jurnalis Kristiani yang aktif, dinamis, cerdas dan berprestasi.

Tak hanya jurnalis, ia kerap diundang sebagai moderator dan pembicara di berbagai diskusi dan seminar. Ia tak hanya diundang oleh gereja atau ormas Kristiani untuk memberikan pemikiran-pemikirannya seputar ilmu jurnalistik, tapi juga soal keadaan sosial, gereja, kemasyarakatan dan politik. Lulusan Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta, yang pernah dipercaya sebagai salah satu Ketua DPP Partai Demokrasi Kasih Bangsa (PDKB) ini sejak mahasiswa pun kerap diminta tampil di acara debat mahasiswa dan diskusi.

Selain itu, mantan Ketua Litbang DPP PROJUSTISIA (Persekutuan Oikoumene Jurnalis Kristiani Indonesia) ini tak jarang tampil jadi narasumber di Radio Pelita Kasih (RPK) 96,30 FM untuk topik-topik seputar gereja, sosial dan politik. Mantan Ketua Umum Pemuda Katolik dan Wakil Sekjen DPP Partai Hanura, Natalis Situmorang pernah mengatakan, tak bisa dipungkiri, Jonro Munthe adalah salah satu tokoh muda Kristiani yang patut diperhitungkan karena kiprahnya di media.

Pasalnya, kata Natalis, Jonro pula yang pertama kali menggagas pemberian award (penghargaan) setiap akhir tahun terhadap tokoh-tokoh Kristiani yang berkarya di tengah gereja, masyarakat dan bangsa. Pemberian award itu sudah ia lakukan di majalah yang dipimpinnya sejak 1999 lalu.

Setiap majalahnya menggelar acara ibadah Natal dan tahun baru, jangan heran kalau banyak tokoh dari berbagai latar belakang atau politisi Kristen hadir. Soalnya, majalah yang dipimpinnya memang cukup populer di kalangan warga gereja. Tak heran, kalau ia diidentikkan sebagai ikon media Kristiani, khususnya NARWASTU. Selain itu, majalahnya kerap mengadakan diskusi bersama tokoh-tokoh Kristiani. Diskusi itu digelar Forum Diskusi Daniel Indonesia (FDDI), yang di dalamnya ada penasihat Majalah NARWASTU berlatar belakang pemimpin gereja, politisi, pengacara, pengusaha, mantan anggota DPR dan jenderal purnawirawan.

Jonro mengatakan, melalui diskusi FDDI yang mereka adakan ia berharap para tokoh muda punya semangat untuk memikirkan persoalan masyarakat dan kebangsaan. “Melalui diskusi FDDI kami ingin mengajak sahabat-sahabat kaum muda peduli pada persoalan gereja, masyarakat dan bangsa ini. FDDI terbentuk pada awal 2010 setelah melihat banyak caleg muda Kristen yang rontok, lalu tidak tahu berbuat apa lagi. Akhirnya kita ajak mereka berdiskusi bersama tokoh-tokoh senior untuk memberikan motivasi dan bekal,” terangnya.

Tokoh seperti Jakob Tobing, Sabam Sirait, Pdt. A.A. Yewangoe. Dr. J. Kristiadi, Dr. Tjipta Lesmana, Maruarar Sirait, Basuki Tjahaya Purnama (Ahok), Martin Hutabarat, Gregorius Seto Harianto, Jakobus Mayong Padang, Prof. Irzan Tanjung dan Jhonny Nelson Simanjuntak sudah pernah diundang bicara di FDDI. ”Kita undang tokoh-tokoh senior yang kita anggap bisa memberi bekal dan bisa memberikan motivasi kepada kami kaum muda lewat sebuah diskusi interaktif,” papar Jonro yang masih berkeinginan menambah bekal ilmu, yakni ingin kuliah ilmu hukum dan memperdalam pengetahuan bahasa Inggris.

Lantaran dikenal “jurnalis plus” pada akhir 2009 lalu, Jonro mendapat predikat atau award  dari Majelis Pers Indonesia (MPI) sebagai “Jurnalis Muda Motivator” yang diterimanya di Gedung Dewan Pers, Jakarta. Ayah tiga anak ini sejak mahasiswa sudah aktif dalam dunia jurnalistik. Di samping itu, saat mahasiswa suami dari Faridawati Rajagukguk ini giat melatih olahraga beladiri di kampusnya. Sejumlah prestasi diraihnya, ia pernah mengikuti kejuaraan silat antarmahasiswa se-ASEAN, dan pada Oktober 1993 berhasil meraih medali emas di kejuaraan silat antarmaster se-Jabodetabek. Ia pun pernah meraih juara II dalam sanyembara penulisan artikel Kristiani pada 1997 yang diadakan majalah Kabar Baik.

Semasa mahasiswa Jonro yang beribadah di Gereja GPIB Harapan Indah, Kota Bekasi, Jawa Barat, pernah menjadi kolumnis di Majalah Bona Ni Pinasa, media orang Sumut terbesar yang terbit di Jakarta. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di sejumlah media nasional, termasuk tabloid Mutiara, yang kini tak terbit lagi. Lantaran tulisannya yang dimuat di Mutiara pernah mengkritik penguasa kala itu yang memihak pada PDI Soerjadi pada Juli 1996 lalu, ia pun dipanggil petinggi kampusnya agar jangan “melawan arus”, karena saat itu kekuasan Orde Baru sangat represif.  Gara-gara tulisannya yang kritis tentang isu tukang santet yang dimuat di Bona Ni Pinasa pada 1996 lalu, ia sampai didatangi sejumlah pemuka adat dari sebuah kampung di Tapanuli Utara ke Jakarta untuk meminta klarifikasi.

 “Sebagai jurnalis Kristen kita harus terus menyuarakan kabar baik. Kabar baik adalah suara kenabian, keadilan, kebenaran dan kesejahteraan,” ujar pria yang sudah menulis tiga buku ini. Bagi Jonro, hidup ini harus bermakna bagi sesama. “Meskipun kita sibuk berkarier, tapi persoalan kemasyarakatan, gereja dan bangsa perlu kita bahas untuk dicari solusinya. Sekecil apapun peran yang kita lakukan, itu perlu untuk kebaikan sesama. Hidup ini, kata Yesus, harus bermakna. Melalui media Kristiani pun kita punya peran yang tidak kecil untuk membangun masyarakat dan bangsa ini,” ujar Sekretaris Umum Keluarga Besar Perhimpunan Ompu Solonggahon Munthe, Boru dan Bere se-Jabodetabek.

Menurut Jonro, sejak tamat SMP pada 1988 ia sudah hobi menulis. Lalu pada 1992 saat mulai kuliah tulisan-tulisannya mulai dimuat di beberapa media, dan honorariumnya bisa membantu uang kuliahnya. Pada 1994 ia ditawari Pak Tom Gultom (almarhum), pimpinan Majalah Bona Ni Pinasa untuk bergabung, tapi ia memilih bekerja part time, karena ia masih kuliah. Tahun 1996 ia  magang di tabloid Mutiara yang dipimpin Pak Moxa Nadeak (almarhum), tokoh pers yang cukup vokal. “Saya banyak belajar dari Pak Moxa selama magang,” ujarnya.

Tahun 1997 saat masih mahasiswa ia sudah bergabung di Majalah NARWASTU, karena diajak Dr. Victor Silaen (almarhum), kini dosen Universitas Pelita Harapan, yang saat itu pemimpin redaksinya. Tapi karena ada dinamika sampai dua kali karena persoalan manajemen, maka kepemimpinan di media ini berubah, tapi tetap NARWASTU punya ciri khas sendiri sebagai media Kristiani alternatif. Artinya, media ini tidak hanya berbicara tentang doa, khotbah pendeta atau doktrin-doktrin Alkitab.

“Tapi, kami pun membahas fenomena yang ada itu dari sudut atau nilai-nilai Kristiani, baik itu masalah politik, sosial, hukum, budaya, pendidikan, teknologi maupun lingkungan hidup,” tukas Jonro Munthe yang pernah juga menerbitkan media komunikasi internal di Keluarga Besar Punguan Ompu Banua Munthe, Boru, Bere dan Ibebere se-Jabodetabek, dan disebarluaskan pada keluarga Munthe yang ada di berbagai kota di Tanah Air. Media komunikasi berupa buletin bernama Bona Ni Onan itu dimaksudkan sebagai media berkomunikasi, dan sajiannya seputar informasi berita keluarga, tulisan kesehatan, kerohanian, pengetahuan adat dan budaya serta pengenalan bahasa batak plus umpasanya beserta maknanya.

“Saya masih harus banyak belajar untuk memimpin media cetak seperti Majalah NARWASTU. Terus terang, saya kagum dengan perjuangan Goenawan Muhammad yang mendirikan Tempo, Surya Paloh yang bisa membesarkan Media Indonesia dan Metro TV, Jacob Utama yang membesarkan Kompas. Mereka bisa jadi sumber inspirasi untuk membangun media. Mereka sudah mengalami pahit getirnya membangun media,” tukas Jonro yang pernah diundang Kantor Kementerian Polhukam RI pada 2011 berbicara di dalam sebuah diskusi terbatas mengenai eksistensi media Kristen di dalam perannya untuk ikut serta membangun gereja, masyarakat dan bangsa.

Bahkan, Asisten Deputi VII Menkopolhukam RI Brigjen TNI Harsanto Adi bersama Kepala Bidang Humas Kementerian Polhukam dan Kepala Bidang Media Cetak Kementerian Polhukam pada awal 2013 lalu mendatangi kantor NARWASTU guna mengajak majalah yang dipimpinnya bekerjasama untuk mengadakan sebuah acara diskusi bersama media-media berbasis agama. Dan hingga kini Jonro tak berhenti menggelar diskusi yang mempertemukan tokoh-tokoh Kristiani.

Dan kini bersama tokoh-tokoh Kristiani pilihan NARWASTU yang tergabung di FORKOM NARWASTU (Forum Komunikasi Tokoh-tokoh Kristiani Pilihan NARWASTU), yang di dalamnya ada jenderal purnawirawan, advokat/pengacara senior, akademisi, mantan anggota DPR-RI, profesional, pengusaha, pimpinan ormas, pimpinan parpol, anggota dewan, pemuka masyarakat dan pimpinan sinode, ia tak pernah lelah menggelar diskusi untuk menyikapi persoalan di tengah negeri ini. Misalnya, mereka sudah menyikapi bahaya narkoba, bahaya korupsi, terorisme dan persoalan kebangsaan.

Hasil diskusi itu, tak hanya dibahas atau dirumuskan solusinya bersama tokoh-tokoh, namun juga dipublikasikan di Majalah NARWASTU, media-media Kristiani lainnya, bahkan didiskusikan di radio rohani. Kemudian diharapkan hasil diskusi itu dibaca para tokoh bangsa, eksekutif, legislatif, yudikatif, ormas agama, dan media massa agar diketahui dan bisa ditindaklanjuti demi kesejahteraan dan kedamaian di tengah masyarakat dan bangsa.

Baginya, hidup ini sarat dengan pergumulan dan tantangan, dan orang Kristen punya panggilan juga untuk memberikan sesuatu yang bermanfaat untuk bangsa dan negara ini, sesuai dengan tugas panggilannya. Orang Kristen mesti bisa menjaga garam” mencegah pembusukan, dan menjadi terang: menerangi kegelapan. Di situlah manusia itu berarti dan bisa menjadi berkat bagi sesama.