Jonro I. Munthe, S.Sos


Memotivasi Tokoh-tokoh Kristiani Melalui NARWASTU

indexBernama lengkap Jonro Inranto Munthe. Pria Batak kelahiran Dolok Sanggul, Sumatera Utara, 6 April 1973 di kalangan gereja dan tokoh gereja sosok yang kenal konsisten memberitakan berita Nasrani. Pemimpin Umum dan Pemimpin Redaksi Majalah Kristiani NARWASTU dan salah satu pendiri Persekutuan Wartawan Media Kristiani Indonesia (PERWAMKI). Jonro I. Munthe, S.Sos yang, selama ini dikenal sosok jurnalis Kristiani yang aktif, dinamis, cerdas dan berprestasi.

Tak hanya jurnalis, ia kerap diundang sebagai moderator dan pembicara di berbagai diskusi dan seminar. Ia tak hanya diundang oleh gereja atau ormas Kristiani untuk memberikan pemikiran-pemikirannya seputar ilmu jurnalistik, tapi juga soal keadaan sosial, gereja, kemasyarakatan dan politik. Lulusan Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta, yang pernah dipercaya sebagai salah satu Ketua DPP Partai Demokrasi Kasih Bangsa (PDKB) ini sejak mahasiswa pun kerap diminta tampil di acara debat mahasiswa dan diskusi.

Selain itu, mantan Ketua Litbang DPP PROJUSTISIA (Persekutuan Oikoumene Jurnalis Kristiani Indonesia) ini tak jarang tampil jadi narasumber di Radio Pelita Kasih (RPK) 96,30 FM untuk topik-topik seputar gereja, sosial dan politik. Mantan Ketua Umum Pemuda Katolik dan Wakil Sekjen DPP Partai Hanura, Natalis Situmorang pernah mengatakan, tak bisa dipungkiri, Jonro Munthe adalah salah satu tokoh muda Kristiani yang patut diperhitungkan karena kiprahnya di media.

Pasalnya, kata Natalis, Jonro pula yang pertama kali menggagas pemberian award (penghargaan) setiap akhir tahun terhadap tokoh-tokoh Kristiani yang berkarya di tengah gereja, masyarakat dan bangsa. Pemberian award itu sudah ia lakukan di majalah yang dipimpinnya sejak 1999 lalu.

Setiap majalahnya menggelar acara ibadah Natal dan tahun baru, jangan heran kalau banyak tokoh dari berbagai latar belakang atau politisi Kristen hadir. Soalnya, majalah yang dipimpinnya memang cukup populer di kalangan warga gereja. Tak heran, kalau ia diidentikkan sebagai ikon media Kristiani, khususnya NARWASTU. Selain itu, majalahnya kerap mengadakan diskusi bersama tokoh-tokoh Kristiani. Diskusi itu digelar Forum Diskusi Daniel Indonesia (FDDI), yang di dalamnya ada penasihat Majalah NARWASTU berlatar belakang pemimpin gereja, politisi, pengacara, pengusaha, mantan anggota DPR dan jenderal purnawirawan.

Jonro mengatakan, melalui diskusi FDDI yang mereka adakan ia berharap para tokoh muda punya semangat untuk memikirkan persoalan masyarakat dan kebangsaan. “Melalui diskusi FDDI kami ingin mengajak sahabat-sahabat kaum muda peduli pada persoalan gereja, masyarakat dan bangsa ini. FDDI terbentuk pada awal 2010 setelah melihat banyak caleg muda Kristen yang rontok, lalu tidak tahu berbuat apa lagi. Akhirnya kita ajak mereka berdiskusi bersama tokoh-tokoh senior untuk memberikan motivasi dan bekal,” terangnya.

Tokoh seperti Jakob Tobing, Sabam Sirait, Pdt. A.A. Yewangoe. Dr. J. Kristiadi, Dr. Tjipta Lesmana, Maruarar Sirait, Basuki Tjahaya Purnama (Ahok), Martin Hutabarat, Gregorius Seto Harianto, Jakobus Mayong Padang, Prof. Irzan Tanjung dan Jhonny Nelson Simanjuntak sudah pernah diundang bicara di FDDI. ”Kita undang tokoh-tokoh senior yang kita anggap bisa memberi bekal dan bisa memberikan motivasi kepada kami kaum muda lewat sebuah diskusi interaktif,” papar Jonro yang masih berkeinginan menambah bekal ilmu, yakni ingin kuliah ilmu hukum dan memperdalam pengetahuan bahasa Inggris.

Lantaran dikenal “jurnalis plus” pada akhir 2009 lalu, Jonro mendapat predikat atau award  dari Majelis Pers Indonesia (MPI) sebagai “Jurnalis Muda Motivator” yang diterimanya di Gedung Dewan Pers, Jakarta. Ayah tiga anak ini sejak mahasiswa sudah aktif dalam dunia jurnalistik. Di samping itu, saat mahasiswa suami dari Faridawati Rajagukguk ini giat melatih olahraga beladiri di kampusnya. Sejumlah prestasi diraihnya, ia pernah mengikuti kejuaraan silat antarmahasiswa se-ASEAN, dan pada Oktober 1993 berhasil meraih medali emas di kejuaraan silat antarmaster se-Jabodetabek. Ia pun pernah meraih juara II dalam sanyembara penulisan artikel Kristiani pada 1997 yang diadakan majalah Kabar Baik.

Semasa mahasiswa Jonro yang beribadah di Gereja GPIB Harapan Indah, Kota Bekasi, Jawa Barat, pernah menjadi kolumnis di Majalah Bona Ni Pinasa, media orang Sumut terbesar yang terbit di Jakarta. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di sejumlah media nasional, termasuk tabloid Mutiara, yang kini tak terbit lagi. Lantaran tulisannya yang dimuat di Mutiara pernah mengkritik penguasa kala itu yang memihak pada PDI Soerjadi pada Juli 1996 lalu, ia pun dipanggil petinggi kampusnya agar jangan “melawan arus”, karena saat itu kekuasan Orde Baru sangat represif.  Gara-gara tulisannya yang kritis tentang isu tukang santet yang dimuat di Bona Ni Pinasa pada 1996 lalu, ia sampai didatangi sejumlah pemuka adat dari sebuah kampung di Tapanuli Utara ke Jakarta untuk meminta klarifikasi.

 “Sebagai jurnalis Kristen kita harus terus menyuarakan kabar baik. Kabar baik adalah suara kenabian, keadilan, kebenaran dan kesejahteraan,” ujar pria yang sudah menulis tiga buku ini. Bagi Jonro, hidup ini harus bermakna bagi sesama. “Meskipun kita sibuk berkarier, tapi persoalan kemasyarakatan, gereja dan bangsa perlu kita bahas untuk dicari solusinya. Sekecil apapun peran yang kita lakukan, itu perlu untuk kebaikan sesama. Hidup ini, kata Yesus, harus bermakna. Melalui media Kristiani pun kita punya peran yang tidak kecil untuk membangun masyarakat dan bangsa ini,” ujar Sekretaris Umum Keluarga Besar Perhimpunan Ompu Solonggahon Munthe, Boru dan Bere se-Jabodetabek.

Menurut Jonro, sejak tamat SMP pada 1988 ia sudah hobi menulis. Lalu pada 1992 saat mulai kuliah tulisan-tulisannya mulai dimuat di beberapa media, dan honorariumnya bisa membantu uang kuliahnya. Pada 1994 ia ditawari Pak Tom Gultom (almarhum), pimpinan Majalah Bona Ni Pinasa untuk bergabung, tapi ia memilih bekerja part time, karena ia masih kuliah. Tahun 1996 ia  magang di tabloid Mutiara yang dipimpin Pak Moxa Nadeak (almarhum), tokoh pers yang cukup vokal. “Saya banyak belajar dari Pak Moxa selama magang,” ujarnya.

Tahun 1997 saat masih mahasiswa ia sudah bergabung di Majalah NARWASTU, karena diajak Dr. Victor Silaen (almarhum), kini dosen Universitas Pelita Harapan, yang saat itu pemimpin redaksinya. Tapi karena ada dinamika sampai dua kali karena persoalan manajemen, maka kepemimpinan di media ini berubah, tapi tetap NARWASTU punya ciri khas sendiri sebagai media Kristiani alternatif. Artinya, media ini tidak hanya berbicara tentang doa, khotbah pendeta atau doktrin-doktrin Alkitab.

“Tapi, kami pun membahas fenomena yang ada itu dari sudut atau nilai-nilai Kristiani, baik itu masalah politik, sosial, hukum, budaya, pendidikan, teknologi maupun lingkungan hidup,” tukas Jonro Munthe yang pernah juga menerbitkan media komunikasi internal di Keluarga Besar Punguan Ompu Banua Munthe, Boru, Bere dan Ibebere se-Jabodetabek, dan disebarluaskan pada keluarga Munthe yang ada di berbagai kota di Tanah Air. Media komunikasi berupa buletin bernama Bona Ni Onan itu dimaksudkan sebagai media berkomunikasi, dan sajiannya seputar informasi berita keluarga, tulisan kesehatan, kerohanian, pengetahuan adat dan budaya serta pengenalan bahasa batak plus umpasanya beserta maknanya.

“Saya masih harus banyak belajar untuk memimpin media cetak seperti Majalah NARWASTU. Terus terang, saya kagum dengan perjuangan Goenawan Muhammad yang mendirikan Tempo, Surya Paloh yang bisa membesarkan Media Indonesia dan Metro TV, Jacob Utama yang membesarkan Kompas. Mereka bisa jadi sumber inspirasi untuk membangun media. Mereka sudah mengalami pahit getirnya membangun media,” tukas Jonro yang pernah diundang Kantor Kementerian Polhukam RI pada 2011 berbicara di dalam sebuah diskusi terbatas mengenai eksistensi media Kristen di dalam perannya untuk ikut serta membangun gereja, masyarakat dan bangsa.

Bahkan, Asisten Deputi VII Menkopolhukam RI Brigjen TNI Harsanto Adi bersama Kepala Bidang Humas Kementerian Polhukam dan Kepala Bidang Media Cetak Kementerian Polhukam pada awal 2013 lalu mendatangi kantor NARWASTU guna mengajak majalah yang dipimpinnya bekerjasama untuk mengadakan sebuah acara diskusi bersama media-media berbasis agama. Dan hingga kini Jonro tak berhenti menggelar diskusi yang mempertemukan tokoh-tokoh Kristiani.

Dan kini bersama tokoh-tokoh Kristiani pilihan NARWASTU yang tergabung di FORKOM NARWASTU (Forum Komunikasi Tokoh-tokoh Kristiani Pilihan NARWASTU), yang di dalamnya ada jenderal purnawirawan, advokat/pengacara senior, akademisi, mantan anggota DPR-RI, profesional, pengusaha, pimpinan ormas, pimpinan parpol, anggota dewan, pemuka masyarakat dan pimpinan sinode, ia tak pernah lelah menggelar diskusi untuk menyikapi persoalan di tengah negeri ini. Misalnya, mereka sudah menyikapi bahaya narkoba, bahaya korupsi, terorisme dan persoalan kebangsaan.

Hasil diskusi itu, tak hanya dibahas atau dirumuskan solusinya bersama tokoh-tokoh, namun juga dipublikasikan di Majalah NARWASTU, media-media Kristiani lainnya, bahkan didiskusikan di radio rohani. Kemudian diharapkan hasil diskusi itu dibaca para tokoh bangsa, eksekutif, legislatif, yudikatif, ormas agama, dan media massa agar diketahui dan bisa ditindaklanjuti demi kesejahteraan dan kedamaian di tengah masyarakat dan bangsa.

Baginya, hidup ini sarat dengan pergumulan dan tantangan, dan orang Kristen punya panggilan juga untuk memberikan sesuatu yang bermanfaat untuk bangsa dan negara ini, sesuai dengan tugas panggilannya. Orang Kristen mesti bisa menjaga garam” mencegah pembusukan, dan menjadi terang: menerangi kegelapan. Di situlah manusia itu berarti dan bisa menjadi berkat bagi sesama.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s