Pdt. Dr. Darwin Lumban Tobing


IMG_5203

Terpilihnya menjadi ephorus HKBP, Pdt. Dr. Darwin Lumbantobing sebagai  ephorus ke-16 membawa optimisme baru pada HKBP. Terpilih dalam Sinode Godang HKBP ke-62 di Seminarium Sipoholon sebagai ephorus periode 2016-2020. Sebelum menjadi ephorus, dia adalah Ketua Rapat Pendeta (KRP) HKBP. Malang melintang di dunia pendidik teologia. Selain itu, dia dikenal luas di kalangan umat Kristen dan sesama pendeta karena jabatannya ketika itu, Ketua STT HKBP Nommensen, Pematang Siantar (di Sumatera Utara ada 50 Sinode berpusat dari 326 Sinode yang terdaftar di Ditjen Bimas Kristen Prostestan). Pria kelahiran Kampung Rawang, Kisaran, pada 22 Agustus 1956.

Saat diwawancara, mengingat sejarah HKBP yang begitu panjang dan menjadi salah satu sinode terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara. Tentu terus berbenah, termasuk masalah-masalah penempatan pendeta. Dia berharap ke depan persoalan penempatan tugas pendeta tak menjadi permasalahan. “Ke depan biro Personalia mesti berdayaguna,” ujar peraih gelar doktoral dari LSTC Chicago, USA, tahun 1999 ini.

Bapak dari empat putera dan puteri lulusan pascasarjana dari universitas negeri, dan suami dari Mantasia br Siahaan rindu di masa kepemimpinan HKBP makin hari makin baik. Salah satu ephorus HKBP yang tergolong produktif menulis. Palin tidak dia sudah menulis tujuh belas buku, buku yang terakhir bertajuk HKBP do HKBP, HKBP Is HKBP.

Judul itu menurutnya bukan buah pikirannya, tetapi penyataan dari ephorus HKBP putra Batak kedua Pdt Dr Justin Sihombing yang saat memberi pernyataan dalam satu hajatan besar Lutheran World Federation (LWF). Kata-kaka itu terlontar ketika ditanya para anggota LWF tentang jati diri HKBP. Lalu, oleh Ompui Justin Sihombing ketika itu menyebut HKBP adalah HKBP yang berarti HKBP walau sebagai Lutheran ada jati diri orisinil. Hanya saja menurutnya, pernyataan itu selama ini tak dijelaskan dan dijabarkan. Karena itulah, dalam buku tersebut dia menjelaskan itu secara detail kerinduannya untuk HKBP.

“Buku itu berisikan ulasan teologis mencari dan menemukan makna teologis di balik ungkapan tersebut,” ujarnya kepada penulis, saat berjumpa dengannya, beberapa minggu sebelum pemilihan ephorus. Dalam buku tersebut memang terlihat kematangan berpikir teologisnya sebagai pendeta yang menggeluti dunia pendidikan teologia. “Kondisi jemaat sekarang sangat membutuhkan pelayanan yang benar-benar dapat menyentuh dan memberi solusi terhadap pergumulan warga jemaat,” tambah mantan rektor STT Pematang Siantar, itu.

Dipanggil di Dumai

Sebenarnya Darwin dulu berniat bekerja di perusahaan minyak. Tetapi, panggilan menjadi hamba Tuhan membawanya menjadi masuk sekolah teologia. Begitu lulus sekolah teologia, menjadi pendeta yang terus menghidupi jiwa pelayanan. Puncak karier pelayanannya sebelum menjadi ephorus, Ketua STT HKBP Siantar dan merangkap sebagai Ketua Rapot Pandita HKBP. Keduanya jabatan prestisius di HKBP. Ditanya mengapa bisa dipercaya jabatan itu? Baginya, itu semata-mata privilese dari Tuhan. Sesungguhnya jika menegok ke belakang, jalan hidupnya berliku. Dia dilahirkan di Kisaran. Namun saat remaja, oleh kakak iparnya (lae) mengajak ke Dumai. Iparnya bekerja di Caltex saat itu.

Maka pendidikan SMP dilaluinya di Dumai. Begitu lulus SMP di Dumai hendak melanjutkan ke tingkat atas SLTA. Oleh keluarga disarankan mendaftarkan ke STM HKBP. “Saat itu memang STM HKBP terkenal. Semua lulusannya diterima di Caltex dan Pertamina,” ujarnya. Maka dia pun mengikuti test. Tetapi, lucunya dia tak lulus test STM HKBP. “Saya kira itulah satu-satunya cerita saya gagal,” ujar terbahak-bahak. Tak diterima di STM HKBP, dia kemudian mendaftarakan diri ke SMA Campus dekat dengan STT Nommensen, Pematang Siantar. “Saya merasa bahwa ketika meninggalkan Dumai disitulah saya dipanggil Tuhan,” kenangnya. Maka, begitu lulus SMA dia mengikuti kata hatinya, terpanggil menjadi sekolah pendeta di STT Nommensen, Pematang Siantar.

Ditanya tentang visi-misinya, kerinduannya HKBP menjadi berkat? “Sudah ada dalam aturan peraturan HKBP yaitu menjadi berkat bagi dunia. Bagaimana menerapkan visi itu. Oleh karena itu, saya melihat untuk mengembangkan HKBP ada empat bidang, pertama, bagaimana menjawab secara konkrit tantangan yang muncul dari internal, karena banyak persoalan-persoalan yang harus dituntaskan. Apa yang sudah dicapai pada periode sebelumya kita hargai, pertahankan bahkan tingkatkan. Namun apabila masih ada peluang yang baru untuk meningkatkan pelayanan, maka akan kita formulasi sedemikian rupa.

Kedua, HKBP harus menjadi berkat bagi gereja lain. Gereja-gereja  oikumene di Asia Tenggara, HKBP selalu disandingkan dengan gereja terbesar, untuk itu harus bisa menjawab melalui program konkrit bukan melalui kata-kata. Ketiga, harus menjadi berkat bagi agama-agama lain. Kepelbagaian agama tak mungkin kita abaikan. Namun harus dihargai dan dicari bagaimana agar bisa saling merangkul untuk melaksanakan kehidupan spritualitas yang lebih baik kedepannya. Dan akhirnya, gereja harus menjadi berkat bagi negara, bangsa bahkan dunia. “HKBP tidak hanya sebagai penerima berkat saja tetapi harus menjadi saluran berkat. Dimulai dari berkat bagi internal, gereja tetangga, agama lain, negara, bangsa dan dunia ini,” terangnya.

Tak lupa juga mensikronisasikan pelayanan bidang marturia, diakonia dan koinonia. Artinya, bagaimana HKBP benar-benar menjadi berkat bagi dunia sungguh menjadi kerinduannya. “Berkat yang kita maksud adalah berkat dalam hal yang kecil dan lebih luas lagi dalam semua lapisan kehidupan. Intinya yang kita lakukan adalah bagaimana merevitalisasi berbagai hal yang ada di HKBP. Direvitaliasi agar lebih berdaya guna, bedampak guna untuk jemaat dan bangsa dan masyarakat.”

Lalu, bagaimana aturan peratuan HKBP ke depan? “Sesungguhnya sudah ditetapkan di Sinode Godang di Sipoholon, Nopember 1951, bahkan sejak tahun 1881. Sejak berdiri dikelola para missionaris sudah ada tata gereja yang baik. Tetapi, tentu perubahan zaman kita tak boleh napikan, mesti ada adaptasi untuk perbaikan yang lebih baik. Waktu itu sudah ada tata gereja disusun berdasarkan kebutuhan HKBP waktu itu. Bahwa pada tata gereja yang dibuat di sana memang juga tercantum kata untuk setiap sekali 10 tahun diperbaharui.

Menurutnya, kalau beracu hal itu, HKBP selalu mereaktualisasi diri bahwa sekali dalam sepuluh tahun ada pembaharuan tata gereja. Namun sejak tahun 2002 terjadi perubahan tata gereja yang menyiratkan bahwa amandemen terhadap tata gereja bisa dilakukan setiap tahun.” Tak lagi dalam setiap sepuluh tahun, asal oleh karena kebutuhannya. Namun perubahan terjadi tahun 2014 lalu, bahwa tata gereja tak boleh lagi diamandemen setiap sekali dalam sepuluh tahun. Padahal, ada saja hal-hal yang butuh diubah secepatnya. Misalnya, masalah calon pareses dua orang dalam satu distrik.

Mutasi pendeta

Lalu, ditanya tentang banyak yang menyebut bahwa mutasi di HKBP selalu saja ada yang meninggalkan riak-riak. Tak selalu berjalan mulus. Apa yang membuat demikian? “Sudah tentu memang setiap gereja memiliki sistim atau tata gereja masing-masing. Termasuk di dalamnya sistim mekanisme muatasi. Umumnya ada dua cara yang dilakukan sistim sending pastor dan calling pastor.” Menurutnya, sending pastor berarti mengutus pendeta dari pelayanan yang lama ke pelayanan yang baru. Artinya, otoritas dari pimpinan gereja melihat dengan analisa dan berbagai pertimbangan menempatkan seseorang untuk dilayani di satu tempat. Umumnya hal itu dilakukan oleh gereja sinodal dan episkopal. Sementara calling pastor kebalikan dari sending pastor.

Penggantian dari seorang pelayan atau pendeta dilakukan oleh analisa dari jemaat yang diwakili majelis jemaat. Majelis jemaatlah yang memanggil atau meminta pelayanan pendeta. Prosesnya tentu setelah majelis sepakat untuk meminta satu pendeta, maka mengajukan nama tersebut pada pimpinan gereja. Tentu, jika jemaat yang memilih seorang pelayan, maka pendeta yang mereka pilih adalah pendeta yang terbaik. Padahal, kenyataannya tak selalu demikian, karena memang tak ada yang sempurna. Calling pastor biasanya mengikuti presbyterial dan kongresional.

Maka, apabila dalam satu tata gereja hal ini dilaksanakan, calling pastor dan sending pastor sudah tentu selalu membawa riak-riak baru. “Jika kedua sistim yang demikian dijalankan bersama-sama, lama kelamaan bisa mengundang konflik. Karena pendeta satu merasa tak dihargai, atau yang satu merasa didiskriminasi,” jelasnya. Oleh karena itu, tambahnya. “Sebaiknya memilih menetapkan satu dari dua sistim tadi, sistim pemutasian. Sistim sending pastor yang lebih tepat untuk HKBP.”

Menurutnya, selain karena sistim episkopal dan senodal lebih cocok untuk HKBP. Oleh karena itu, HKBP mesti konsisten dan konsekuen menjalankan sistim sending pastor. Di samping selain karena secara struktural hirarkis yang sinodal dan episcopal itu, kehidupan masyarakat Batak tetap menganut pola pikir totalitarian, paternalistik dan sangat menghormati pigur primus interpares. “Ketokohan figuratif dibutuhkan sebagai tokoh yang mempersatu. Namun, tentu yang lebih utama pigur yang menjadi teladan, yang paling utama prilaku, tindakan dan perbuatannya yang harus benar-benar menunjukkan sebagai tokoh dan pigur pemersatu.”

“Calon pendeta HKBP baik yang baru maupun yang akan dimutasikan harus terlebih dahulu mengenal tempat pelayanannya. Agar nanti, jangan, setelah ditempatkan di sana pendeta tak tahu atau barangkali jemaat menolak. Ini perlu diantisipasi agar tak ada lagi pembangkangan terhadap SK pimpinan,” ujarnya. Lalu, sebagai ephorus apa kerinduanya untuk HKBP ke depan? “Saya kira perlu dijadikan HKBP sebagai kampung ke dua,” ujarnya. (Hojot Marluga)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s