Pdt. Robinson Butarbutar, D.Th.


Pdt. Robinson Butarbutar, D.Th.

“Hamba yang Tak Berhenti Memberi dari Kemiskinannya”IMG_7108bhMenjadi pendeta tak saja hanya butuh dedikasi, waktu, dan pendidikan yang mumpuni. Tetapi, juga berkarakter imam dan bersikap hamba sebagai pelayan yang memberi diri sepenuh kepadaNya, demikian awal perbincangan dengan Robinson Butarbutar. Lelaki kelahiran, 1 Januari 1961 di Bah Jambi, Kabupaten Simalungun. Putra dari Bapak J Butarbutar dan Ibu T boru Pardede. Masa kecil hingga akil balig dilaluinya dengan berbagai keruwetan hidup.

Sekolah dasar hingga SMP dilewatinya di Bah Jambi, sementara Pendidikan Guru Agama di Pematangsiantar. Lalu, menamatkan Sarjana Muda Teologi, tahun 1985, dilanjutkan Sarjana Teologi, tahun 1987 di STT-HKBP Pematangsiantar. Kemudian, Master of Arts dalam bidang Penafsiran Alkitab tahun 1990 di London Bible College, Inggris, dan Doktor Teologi tahun 1999 di Trinity Theological College, Singapura, dengan Tyndale House Cambridge, Inggris sebagai tempat penelitian lanjut.

Kehidupan di masa kecil membebat mentalnya. Setiap hari berjalan kaki berkilo-kilo meter, sesekali naik sepeda ke Nagojor untuk mengarap sawah di satu lahan milik orang tuanya dan di Afdeling lima yang disewa orangtuanya. Di sela-sela membantu orangtua di sawah, dia sedari kecil juga sudah biasa ke gereja untuk mengikuti Sekolah Minggu.

Selain itu, ia selalu mengikuti pengajaran seolah minggu di HKBP Bah Jambi. “Saya selalu memperhadapkan keyakinan iman saya sebagai anak petani. Saya sering berdoa di sawah, memohon agar Tuhan menjagai padi kami dari serangan hama, dari serangan tikus, dan dari serangan burung. Tak selalu doa saya kelihatan terjawab,” akunya.

Bahkan, pernah ketika melihat suatu pagi, bahwa padi yang siap dipanen, habis dimakan hama wereng. “Habis dibabat tikus, dan ludes dimakan ribuan burung,” ujar suami Srimiaty Rayani Simatupang MHum (Putri dari Bapak W Simatupang dan Ibu D boru Panggabean), dan ayah dari Martin, Melanchthon Bonifacio, dan Emely Katharina, mengenang masa kecilnya.

Apakah dia kecewa? Nyatanya, dia terus merasakan pemeliharaan Tuhan. Sebagai seorang teolog, makin mempelajari firman Tuhan dia menyadari kuasa Tuhan itu bisa dirasakan melalui doa. Hal itu makin kuat sesudah dia belajar di Sekolah Tinggi Teologi HKBP. Tak ada yang kebetulan, pembimbing rohaninya adalah Pdt Dr. David Leslie Baker yang kemudian memintanya membantu mengajar mahasiswa Pendidikan Agama Kristen di STT-HKBP di bidang Pengetahuan Isi Alkitab.

“Otomatis saya mesti belajar sungguh-sungguh. Beliau juga meminta saya memeriksa latihan-latihan bahasa Ibrani mahasiswa tingkat satu dan dua, ketika saya sudah menjadi mahasiswa senior, membantu dia mengedit hasil-hasil kuliah kami di bidang penafsiran surat Korintus dan Kejadian untuk diolah menjadi bahan Penelaahan Alkitab yang kemudian diterbitkan oleh Badan Penerbit Kristen  Jakarta. Buku ini sering dipakai oleh warga Kristen di jemaat-jemaat di Indonesia sampai saat ini,” ujar penulis buku Paul and Conflict Resolution yang diterbitkan oleh Paternoster Press, Inggris pada tahun 2007 itu.

Mahasiswa kritis

Dia merasakan, pembinaan rohani yang diterimanya dari Dr. Baker maupun hubungan yang dekat dengan keluarganya, istimewa dalam hal membentuk sikap iman maupun pengetahuan teologisnya, sangatlah bermanfaat di dalam hidupnya kemudian hari. Dia, sampai pada pemahaman bahwa kejahatan marak karena orang baik tak aktif berperan memperjuangkan yang baik. Dari Dr. Baker dia terus merasakan pembinaan rohani. Hubungannya dengan beliaulah  yang menyebabkan dia selalu membiasakan diri membaca Alkitab dan berdoa secara sungguh-sungguh. Hal itu bukan saja ketika mahasiswa, bahkan, sampai sekarang menjadi habitusnya. Bahwa hubungan pribadi itu harus terus terjalan pada Sang Sumber hidup, katanya.

Tetapi, ketika kejahatan di benaknya terlihat, dia selalu mengkritisinya. Masih bening diingatannya, saat menjadi Anggota Senat Mahasiswa, mengadakan perlawanan terhadap proses pemilihan Rektor STT-HKBP yang dilakukan ketika pejabat rektor, Dr. W. Sihite melaksanakan perjalanan dinas di luar negeri. Pada pemilihan itu Dr. S.M Siahaan terpilih dan disetujui oleh Ephorus HKBP GHM Siahaan. Tindakan ini baginya dan rekan-rekan sesama senat mahasiswa sebagai tak demokratis.

Karena itu, sebagai senat mahasiswa dia mengadakan protes. Akibatnya ia mendapat sanksi. Namun, dari pengalaman itu dia memetik hikmat. Dosennya Pdt TOB Simaremare MTh, dosen bidang praktika, ketika itu menasihatinya dan mengatakan bahwa sikap kritis dapat disampaikan dengan sopan, tanpa harus berteriak-teriak apalagi merusak.

“Nasihat inilah yang terus saya ingat. Termasuk ketika saya menjalankan tugas saya sebagai Ketua Badan Pertimbangan Mahasiswa (BPM) pada tahun terakhir, badan tertinggi di aktivitas mahasiswa, yang berfungsi menjembatani suara mahasiswa dengan suara para pengajar,” kenangnya.

Jebolan Cambridge

PendetaSejak mahasiswa kemampuan akademiknya di atas rata-rata sudah pekat terlihat. Saat menyelesaikan kuliah, menghadapi meja hijau, mempertanggung-jawabkan skripsinya tentang Rencana Allah menurut Roma 9-11. Salah satu pengujianya Dr. S.A.E. Nababan merasa terkesan dengan hasil ujian meja hijau dan hasil menyeluruh studinya yang sangat memuaskan. “Beliau bertanya kepada saya apa rencana saya setelah wisuda. Saya mengatakan, bahwa atas saran Dr. D.L. Baker saya sudah mempersiapkan untuk berangkat ke Inggris untuk mengikuti studi Master of Arts di bidang Hermeneutika.”

Hidup, belajar dan bergaul bersama orang percaya di Cambridge merupakan satu tahapan hidup yang berharga baginya, karena di Cambridge dia melihat dan mengalami bagaimana orang-orang percaya yang setia mengikut Kristus mencoba dengan sungguh-sungguh melihat relevansi iman orang percaya di dalam masyarakat sekuler yang intelektual.

“Di Cambridge, kota universitas terkenal, berkumpul dan belajar para mahasiswa dan para ahli dari berbagai negara untuk mencari jawab terhadap hal-hal yang masih belum mendapat jawaban yang pasti dari sisi ilmu pengetahuan. Tetapi, di Cambridge juga ditemukan orang-orang Kristen yang setia mengikut Kristus dalam masyarakat intelektual.”

Di Cambridge juga dia mencermati tingkat kemampuan berfikir secara objektif dari generasi muda usia sekolah, yang sudah mampu melihat satu masalah dari berbagai sudut pandang, dan sudah mampu memilih argumentasi mana yang paling kuat dari semuanya dalam mencari jawab terbaik terhadap masalah yang ada.

“Tentu ini terjadi karena sistim pendidikan yang dipakai bukanlah sistim banking, di mana peserta didik menelan begitu saja apa pun yang disampaikan oleh nara sumber, para guru, melainkan sistim hadap masalah, sistim demokratis, sistim partisipatif, sistim interaktif, di mana pengetahuan dari peserta didik dihargai dengan serius oleh pendidik, dan sistim kekerasan tak lagi dipakai oleh pendidik terhadap para peserta didik. Saya sangat terkejut melihat keadaan itu, dan memimpikan bahwa kelak di Indonesia, sistim yang sama harus segera diperkenalkan dan ditumbuh kembangkan.”

Alih-alih di Camrbidge juga dia menemukan kesukaan rakyat naik sepeda dari rumah ke tempat kerja atau ke kota, ke kampus dan ke tempat lainnya, bukan karena usaha menghemat uang parkir, melainkan untuk membantu usaha menjaga kesehatan tubuh dan jiwa.

Keramahtamahan orang percaya di sana juga sangat menggerakkan hati. Pernah Sekretaris Jenderal HKBP, Pdt OPT Simorangkir datang berkunjung ke Cambridge untuk menguatkan saya. Ia diterima sebagai tamu bekas Kepala Sekolah, dan tinggal di rumahnya selama satu minggu. Demikian berusahanya sang tuan rumah membantunya berbahasa Inggris sehingga sebelum pulang beliau menyebutkan begini: “Hari pertama dan kedua saya tak mengerti apa yang teman itu katakan kepada saya. Tetapi, setelah seminggu saya sudah dapat memahami dengan baik. Kalau saya tinggal bersama dia selama dua tiga minggu, saya akan menguasai bahasa Inggris dengan baik.”

Selesai kuliah di Inggris Oktober 1990, ia ditempatkan di HKBP Lumbanbaringin, Sipoholon, Tapanuli Utara dan pada bulan Januari 1992 dia menerima penugasan baru dari pimpinan HKBP, yaitu menjadi staff kantor pusat untuk bidang oikumene. Penugasannya yang baru untuk memberi kesempatan kepada Kepala Biro Oikumene waktu itu, yaitu Pdt Plaston Simanjuntak MMin untuk studi lanjut program Doktor of Ministry di Amerilka. “Sewaktu tugas di Pearaja Tarutung, saya tinggal di rumah sewa, mula-mula di Jalan Sisingamangaraja, kemudian di Siwalu Ompu, dan terakhir di Pardangguran.”

Memberi dari kemiskinan

Ketika bertugas di Biro Oikumene HKBP, tanda-tanda konflik besar di antara HKBP dengan pejabat pemerintah terjadi, berawal dari adanya ketidak harmonisan hubungan di antara Ephorus Dr. Nababan dengan Sekretaris Jenderal Pdt OPT Simorangkir.  Konflik itu kemudian dicoba diatasi di dalam sinode godang HKBP bulan Desember 1992 di Sipoholon, tetapi tak berhasil.

“Saya sendiri, yang belum lama bertugas di Pearaja, harus mengambil keputusan saya sendiri. Sebelum mengambil keputusan, saya tentu berdoa selama beberapa jam di kantor saya. Ada beberapa pertimbangkan waktu itu, yaitu: Pertama, meminta cuti, dan mempertimbangkan masuk kembali setelah konflik selesai. Pilihan ini memang paling aman. Tetapi pilihan ini berarti bahwa saya lari dari masalah, tak menghadapi masalah dengan segala resiko. Saya sudah bersekolah untuk HKBP. Dengan cuti, berarti saya berhenti memenuhi visi HKBP yang sebelumnya memberangkatkan saya sekolah.” 

Akhirnya, pemerintah ikut masuk pada pusaran konflik internal di tubuh HKBP. Beberapa orang yang setia menolak campur tangan pemerintah pun ditangkapi dan dianiaya. Termasuk dirinya juga ditangkap dan ditahan bahkan, mendapat berbagai tamparan dan tendangan yang tak pantas dilakukan terhadap pendeta. Setelah dibebaskan ia ke Jakarta. Di Jakarta kemudian dia bisa bergabung dengan teman-teman pendeta bersama Dr. SAE Nababan. Kemudian ia menerima pentahbisan kependetaan 9 Mei 1993 di HKBP Tangerang Kota.  Tiga tahun kemudian ia diberangkatkan mengikuti program studi S3 di Singapura, diselesaikannya kurang dari tiga tahun.

Mengingat bahwa selama studi doktor tiga tahun dia tak pernah mengadakan libur. “Setelah wisuda saya diminta Ephorus Pdt Dr. JR Hutauruk (Ephorus HKBP 1998-2004) untuk memimpin Biro Oikumene HKBP, yang dikenal sebagai Ephorus yang mengusahakan perdamaian, menyembuhkan luka-luka batin, menjembatani rekonsiliasi di tubuh HKBP. “Beliau meminta saya langsung menunaikan tugas sebagai Kepala Biro Oikumene HKBP, menggantikan Pdt BTP Purba, mantan Praeses yang beralih  tugas menjadi direktur Sekolah Guru Huria HKBP di Seminarium Sipohon.

Tugas utama saya adalah membangun kembali hubungan HKBP dengan mitra-mitra oikumenisnya di dalam dan di luar negeri, teristimewa karena selama krisis HKBP (1993-1998) dan sesudahnya (1998-1999) hubungan itu tak berlangsung baik. Banyak persekutuan gerakan oikumene yang memihak kepada kelompok yang ditekan pemerintah. Ada satu dua yang masih berhubungan dengan pihak yang didukung pemerintah. Tetapi, pada umumnya peran HKBP di dalam gerakan itu tak semaksimal seperti sebelum konflik dimulai.

“Saya diminta mengerjakan hal itu selama satu tahun, karena setelah itu ephorus berjanji akan mengijinkan saya mengajar di STT-HKBP, sebagaimana saya minta ketika melapor setelah selesai studi.”

Selama satu tahun dia bekerja siang malam untuk membangun hubungan itu, yang keberhasilannya ditandai dengan kesediaan beberapa pimpinan gerakan oikumene internasional mengunjungi HKBP secara khusus, yaitu Sekretaris Jenderal Dewan Gereja Sedunia, Pdt Dr. Konrad Raiser, Sekretaris Jenderal Dewan Gereja Lutheran Sedunia (LWF) Pdt Dr. Ishmael Noko, dan Ketua Gereja-gereja Protestan di Jerman, Praeses Manfred Koch bersama beberapa Bishop lainnya seperti Bishop  Koppe.   Pembangunan kembali hubungan itu penting karena “HKBP merupakan gereja protestan terbesar di Asia Tenggara, yang kontribusinya di dalam gerakan oikumene sangat diharapkan.” Keberhasilan itu tercapai karena dia bekerja pagi-pagi buta dengan menggunakan komunikasi internet, yang pada waktu itu hanya bisa lancar ketika tak ada orang lain yang memakai jalur telepon di Tarutung dan khususnya di Pearaja.

Sebagai pendeta berjubel pengetahuannya tentang Alkitab terkhusus Perjanjian Baru, Robinson kemudian didaulat menjadi dosen Perjanjian Baru. Mengajar Perjanjian Baru di Universitas Silliman, Dumaguete, Philipina (2000-2002). Pada waktu itu, Ephorus Hutauruk menerima permintaan dari United Evangelical Mission (UEM) agar mengirimnya menjadi tenaga pengajar di bidang Perjanjian Baru di Silliman University, Dumaguete, Negros Oriental Philippines, yang bersama gereja protestan terbesar di Philipina (UCCP) meminta bantuan UEM untuk mengirimkan  tenaga itu, karena dosen Perjanjian Baru di sana ditugaskan untuk menjalani studi doktor.

Permintaan UEM ini disambut baik oleh Ephorus Hutauruk yang kemudian memintanya untuk mengajar di Philippina. “Ephorus Hutauruk mengatakan begini kepada saya. Saya tahu kerinduanmu untuk mengajar di STT-HKBP. Saya juga tahu bahwa kepersonaliaan kita masih miskin. Tetapi, dari kemiskinan personel kita di bidang pengajaran Perjanjian Baru, kita harus mulai memberanikan diri membantu misi UEM yang meminta tenaga kita untuk bekerja di Philipina. Kita harus berani meniru jemaat-jemaat di Makedonia di dalam Perjanjian Baru, yang memberi dari kemiskinannya,” kenangnya.

Sejak itu, dia berjanji dalam dirinya tidak akan menolak SK pimpinan. “Saya akan mengikuti keputusan pimpinan HKBP di dalam hal tempat tugas pelayanan saya. Karena itu, saya melaksanakan setiap keputusan pimpinan saya. Dan saya menyetujui berangkat ke Philipina, tetapi dengan pemahaman bahwa saya hanya mengajar di sana selama satu periode, tiga tahun, dan setelahnya kembali ke HKBP untuk mengajar di STT-HKBP.”

Akhirnya, dia kemudian ke Philipina. “Saya berhubungan secara intensif dengan Joerg Spitzer, Kepala Biro Personalia UEM di Wuppertal dan dengan Bishop Erme Camba, Dekan Fakultas Teologi di Dumaguete Philipina, untuk membicarakan pengaturan ketibaan, perubahan di kampus, dan uraian tugas mengajar dan persiapan-persiapan pengajaran itu sendiri. Saya tak punya banyak waktu untuk berbuat hal lain kecuali mempersiapkan materi-materi kuliah saya. Kami tinggal di bekas rumah Dekan yang jaraknya hanya dua ratus meter dari kampus Divinity School.”

Namun kemudian, sebelum tugas di Philippina berakhir, Ephorus Hutauruk menugaskan saya  bekerja di Wuppertal, Jerman (2002-2003). Hidup dan bekerja selama satu tahun di Wuppertal berlalu dengan cepat sekali, karena dia sejak awal sampai akhir masa tugas semangat, sibuk. “Saya bekerja mulai pukul tujuh pagi, karena teman saya di kantor, Pdt Peter Demberger juga bekerja seawal itu. Dia sudah kembali ke rumah pukul dua sore, dan kadang kala bekerja dari rumahnya. Kerjasama kami cukup baik, dan beliau merasa bersyukur karena berkat kehadiran saya tak ada sesuatu pekerjaan pun yang tertinggal untuk gereja-gereja Asia. Beliau melihat ketelitian saya bekerja, dan kerajinan saya meneliti kasus-kasus di Archiv UEM sebelum melakukan tindakan.”

Memimpin UEM Asia

Robinson menyadari bahwa keberhasilan pelayanannya bukan karena kepintaran dan kekuatannya semata-mata. Sebab dia sadar, bahwa jika menjiwai panggilan sebagai pelayan, niscaya diberiNya kekuatan. Dia telah juga punya reputasi memimpin kantor UEM Regional Asia (2003-2008) yang sebelumnya dipimpin Pdt Ruth Quiocho, seorang temannya dari Philipina. Sebelumnya kantor itu di Philipina. Tetapi kemudian oleh keputusan Council UEM kantor itu dipindahkan ke Medan, Indonesia karena lebih banyak anggota UEM berada di Indonesia.

“Hal yang paling utama saya kerjakan ketika memulai tugas di Medan adalah memindahkan kantor ke kantor Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia wilayah Sumut (PGI-WSU) yang saat itu sedang dipimpin oleh Pdt Dr. Langsung Sitorus.”

Regional Asia UEM dilayani oleh tiga staf eksekutif, yaitu dari Philippina, dari jerman dan saya. Saya memimpin tim ini dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi, mengintegrasikan program-program bersama UEM di regional Asia, yang berbentuk kunjungan, seminar, konsultasi, lokakarya, dan pelatihan-pelatihan untuk hal-hal yang oleh sidang raya UEM sebagai kebutuhan prioritas bagi gereja-gereja anggotanya.

Robinson.jpgProgram-program di Asia beraneka, seperti keadilan gender, hak-hak anak, keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan, evangelisasi, kepemimpinan khususnya di kalangan pemuda, HIV dan AIDS dan pendidikan edukasi pastoral. Tugas Butarbar waktu itu juga dalah mengorganisir rapat-rapat UEM di Asia, termasuk sidang saya regional Asia, rapat Council Asia dan Sidang RAya VEM, serta membantu mengorganisir program-program internasional UEM (Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan, Evangelisasi dan HIV/AIDS) yang diadakan di Asia. Ia juga mewakili staff UEM di Asia menghadiri rapat-rapat internasional UEM di lua Asia, yaiatu di Eropah dan Afrika.

Dia melakukan tugas ini dengan baik. Melalui pelaksanaan tugas ini, dia mengenal sekujur gereja-gereja, anggota UEM di Asia. “Saya juga berhasil menjalin hubungan yang sangat dekat dengan gereja-gereja anggota UEM yang berkantor pusat di Sumatera Utara yang memiliki pergumulan sendiri. Secara khusus, gereja-gereja ini berhasil mengembangkan sendiri program-program menyangkut hak-hak perempuan, hak-hak anak, penanganan HIV-AIDS dan KPKC.”

Misalnya, dia contohkan, HKBP telah memiliki komite HIV dan AIDS yang bekerja efektif. Gereja-gereja berkantor pusat di Pematangsiantar berhasil mendirikan Pondok Kasih, di mana penanganan HIV dan AIDS dilakukan dengan baik. GKPS mendirikan Crisis Centre untuk korban kekerasan di kalangan perempuan. GBKP terus dengan giat mengadakan, hal sama dengan memiliki rumah perlindungan. –

Satu tahun sebelum tugasnya berakhir di Asia, ia kemudian dipromosikan oleh Council UEM yang baru, yaitu memimpin Departemen Internasional untuk Pelatihan dan Pemberdayaan para pemimpin gereja-gereja anggota UEM, para pemuda dan perempuan melalui pelatihan dan beasiswa maupun pertukaran pemuda. Itu sebabnya ia harus pindah ke Jerman pada awal Januari 2009 ke Wuppertal Jerman. Dari sana ia mengorganisir pelatihan lebih dari seribu orang pemimpin gereja-gereja di Asia, Afrika dan Eropah. Tugas itu memberi kesempatan padanya untuk mengunjungi gereja-gereja di Rwanda, Kongo, Bostwana, Namibia, Tansania dan Kamerun selama kurun waktu hampir lima tahun (2009-2013). Ia kembali ke Indonesia akhir Agustus 2013.

Membawa Visi HKBP

Sejak September 2013, dia dipercayakan mengajar Studi Perjanjian Baru di STT-HKBP Pematangsiantar oleh Ephorus HKBP Pdt Willem TP Simarmata MA. Pada Rapat Pendeta HKBP di FKIP Pematangsiantar ia diusulkan menjadi salah seorang calon Ketua Rapat Pendeta. Namun ia mengundurkan diri.  Pengetahuannya yang luas di bidang teologi mendorong Ephorus HKBP mempercayakan tugas tambahan kepadanya, yaitu memimpin Komisi Teologi HKBP sejak Februari 2014. Teman-temannya para Doktor Teologi Bapak juga melihat komitmennya membangun teologi yang reformis. Mereka memberi kepercayaan padanya memimpin Forum Teolog Batak sejak Februari 2015.  Forum ini beranggotakan para teolog bergelar Doktor Teologi.

Sejak awal 2014, ia kembali didorong oleh para pendeta muda dan senior untuk mempertimbangkan kesediaan mencalonkan diri menjadi calon Ephorus HKBP. Ia tidak langsung menerima dorongan itu, melainkan membawanya di dalam doa selama 10 bulan pada tahun 2015 untuk bertanya pada Tuhan. Akhirnya pada bulan Februai 2016, didorong oleh panggilan Tuhan dan kecintaannya pada HKBP, ia pun mendeklarasikan diri bersedia mempersembahkan diri untuk dipilih di sinode Agung HKBP sebagai Ephorus pada Sinode Agung ke-63 HKBP di Seminarium Sipholon pada tanggal 12-18 September 2016. Ia bertekad merealisasikan visi HKBP menjadi berkat bagi dunia. Bersamanya Pdt. Daniel Taruli Asi Harahap M.Th, mencalonkan diri sebagai Sekretaris Jenderal HKBP.

Selain itu, muncul juga nama Pdt. Roida Situmorang D. Min disiapkan menjadi Kepala Departemen Koinonia, kemudian Pdt. Marolop Sinaga M.Th tetap menjadi Kepala Departemen Marturia. Sementara, Pdt. Dr. Hulman Sinaga sebagai calon Kepala Departemen Diakonia. “Tim ini jika terpilih akan membawa visi HKBP yang sudah ada, Menjadi Berkat Bagi Dunia. Sudah cukup bagi kita selama ini memikirkan diri sendiri,” katanya. Hotman J. Lumban Gaol (Hojot Marluga)

Pdt. Drs. J. Manurung, S.Th


“Membantu Sesama Manusia Menghadapi Bencana Alam”

J Manurung-2“Cobalah tetap konsisten melayani, dengan penuh kesungguhan dan kegigihan, dengan iman dan kekuatan berpengharapan. Sembari ada hati peduli untuk sesama. Maka niscaya kita akan bisa menemukan kekuatan panggilan kita sebagai hamba Tuhan.” Kira-kira itulah yang dipahami, J Manurung, 73 tahun, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Sinode Gereja Pentakosta Indonesia (GPI) dalam melayani. Walau sudah sepuh, semangatnya terlihat antusias kalau sudah berkata tentang pelayanan. Termasuk saat berkhotbah dan berdoa, kata-katanya selalu berkobar-kobar.

Pria kelahiran Parapat, Simalungun 13 November 1941 ini. Memulai pelayanannya sebagai menjadi guru agama, pegawai negeri. Sebenarnya, dulu keinginanya untuk masuk ke fakultas hukum ingin jadi pengacara. Tetapi, karena harapan kedua orangtuanya, Gr W Manurung dan T boru Ambarita ingin anaknya menjadi guru. Tidak menikung, dia tetap menimba ilmu keguruan tetapi menemukan kesukaannya menjadi pendeta. Cerita menjadi pendeta? Awalnya, J Manurung menimba ilmu, kuliah di IKIP Medan, Sumatera Utara (sekarang Universitas Negeri Medan, disingkat UNIMED).

“Orangtua saya sangat kagum dengan Soekarno. Berharap untuk anaknya kelak menjadi seorang guru,” ujarnya anak kedua dari enam bersaudara (tiga laki-laki dan tiga perempuan). Maka jadilah dia kuliah di IKIP, sembari aktif di gereja. Bertepatan orang yang mengajaknya aktif di gereja adalah seorang pendeta muda, Pdt M T Simangunsong. “Saya diajak pendeta Simagunsong ini. Di sana saya mengalami lahir baru. Sejak itu ada perubahan yang sangat dalam diri saya.” Perubahan yang draktis itu terlihat dari keseriusannya membaca dan mendalami Alkitab. “Saya menyadari kalau Alkitab adalah pernyataan Allah tentang diri-Nya, maka jelas kalau menghiraukan Alkitab sama saja mengabaikan Allah sendiri.”

Di gereja itu pula dia sering bertemu dengan Pdt Ev Renatus Siburian, pendiri Gereja Pentakosta Indonesia. “Beliau sering datang ke Medan. Aktif di gereja Simangunsong, dari sana saya makin kenal beliau (Renatus Siburian).” Disana pula dia kemudian menemukan gadis tambatan hatinya yang di kemudian hari menjadi istrinya, Bertha boru Rajagukguk. Putri dari hamba Tuhan GPI, Pendeta J Rajagukguk dan istrinya Tiolina boru Siburian, yang ternyata adik dari Renatus Siburian sendiri.

Pendek cerita, begitu lulus, J Manurung tetap saja menjadi mengajar. Namun, dunia pelayanan tidak ditinggalkan. Dia makin aktif memberitakan Injil. “Di awal-awal merintih pelayanan di gereja penuh kegetiran. Saya masih ingat bagaimana pahit getirnya hidup ketika memulai pelayanan. Saya masih ingat betul ketika GPI dirintis. Saat itu Indonesia masih mengalami kesulitan ekonomi yang amat berat. Di mana-mana terjadi kesusahan. Dan itu merata di seluruh penjuru, termasuk di kampung-kampung,” kenangnya.

Sebagai seorang pendeta,  Pdt. Drs. J. Manurung benar-benar memahami panggilan dan menjalankan kesehariannya sebagai hamba Tuhan. Di kemudian hari dia pindah ke Pematang Siantar, sembagi menjadi guru agama. Guru agama di Pematang Siantar, lalu mengembalakan jemaat di Lubuk Pakam. Dia banyak menghabiskan lebih banyak waktu untuk membedah firman Tuhan, dan membaca buku-buku acuan untuk mendalami apa yang hendak dibagikan kepada jemaaat. “Untuk bahan berkhotbah. Saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk meneliti dan mempelajari Alkitab. Merangkum hasil pembelajaran dan kemudian dibagikan untuk jemaat.”

Menjadi guru sekaligus pendeta diawal-awal dilakoninya, ternyata ada saja koleganya sesama guru tidak setuju J Manurung merangkap dua profesi. “Ada saja yang prostes, karena  saya menjalakan dua profesi. Kepala Sekolah pernah beberapa kali didatangi orang-orang yang kurang simpati dengan saya. Mereka yang tidak setuju, bilang, karena bisa mengajar sambil menjadi pendeta,” kenangnya. Namun, kepala sekolahnya arif dan bijaksana menjawab. “Kalau Anda bisa seperti dia, ngga apa-apa, saya berikan ruang.”

Lucunya, J Manurung tidak hanya mengajar di satu sekolah, tetapi lima lembaga sekolah. Hal itu dilakoninya untuk membutuhi keluarga, istri dan dua anaknya. Dan menjujung keduanya agar bisa kuliah sampai sarjana.

Maka tentu dibutuhkan kemampuan membagi waktu. Melayani di gereja sudah tentu bukan perkara gampang. Harus pintar membagi waktu. Padahal, masa itu untuk mengantar dia ke sekolah dan melayani dia hanya naik vespa butut. Tetapi menjadi pendeta, pergi memberitakan Injil tidak pernah undur semangatnya.

“Waktu itu tidak ada gaji pendeta. Paling kalau memberitakan firman hanya diberikan makan oleh jemaat. Kalau tidak, yang diberikan hasil tani. Namun, saya tetap bersemangat, tumpahkan seluruh pengabdian untuk pelayanan firman Tuhan,” tambah ayah dua anak. Anak pertama Pdt Ir. Douglas Manurung MBA menikah dengan Ernika boru Sitorus yang telah dianugerahi tiga putera. Anak kedua Tunas J Manurung SE, seorang entrepreneur, menikah denganVera boru Siahaan SE.

Tantangan pendeta

Kehidupan ekonomi yang susah kerap kali menguji keseriusan pelayanannya. Tantangan ingin meninggalkan kependetaan pernah dia rasakan. Ketika itu, di satu waktu J Manurung bertemu dengan sahabat lama. Sahabat ketika mahasiswa. “Marganya Marpaung. Dia sudah sukses, menjadi Kepala Dinas Pariwisata Provinsis Sumatera Utara kala itu. Pada pertemuan itu dia meminta saya untuk menjadi kepala bidang museum, sebenarnya untuk mengangkat ekonomi saya.” Tetapi ajakkan itu dia tolak baik-baik. Sampai suatu waktu Kepala Dinas Pariwisata itu datang menemui kepala sekolahnya, di mana J Manurung mengajar. Mempertanyakan apakah tidak diberikan izin temannya untuk ditempatkan menjadi kepala bidang?

“Teman saya itu rupanya datang ke Pematang Siantar menemui kepala sekolah. Mempertanyakan apakah tidak diperbolehkan atau tidak diberikan rekomendasi untuk saya.” “Saya tidak mau, merasa bahwa panggilan menjadi guru sekaligus menjadi pendeta itu lebih mulia. Dengan halus saya menjelaskan bahwa saya sudah lebih betah menjadi pelayan dan guru saja.”

Sekarang dia sudah pensiun sebagai pegawai negeri, tetapi mengajar sebagai habitusnya tetap saja merekah. Kini, dia menjadi dosen di STT Renatus, Pematang Siantar. “Saya harus mendalami manajemen sebagai suatu proses kegiatan. Mengelola dan mengatur segala sesuatu untuk membantu ketua umum menjalankan roda organisasi. Baik yang berhubungan langsung maupun tidak langsung dengan kegiatan pimpinan,” ujar Sekretaris Jenderal Gereja Pentakosta Indonesia, ini.

Di dalam pelayanannya, J Manurung selalu menyeimbangkan teori dan praktek pada pelayanan. Sebagai Sekjen, dia tahu betul perannya sebagai sekretaris organisasi pada sinode GPI. “Kita tidak boleh hanya menyampaikan khotbah, tetapi tidak melakukannya. Bagi dia, khotbah juga harus mendarat menjadi tindakan dalam penyelenggaraan pelayanan. Sebagai manusia kita harus peduli. Saya menyadari jalan hidup, kita manusia harus saling peduli. Karena itu, semampu saya akan membantu orang yang bisa dibantu. Contoh sederhana, di rumah kami ada anak-anak yang bersekolah yang kami bantu.” Jelas, pemikirannya membantu bukan untuk mendapat berkah. Tetapi itu menjadi keharusan kita. “Tuhan Allah selalu mengajarkan manusia untuk saling membantu dalam kehidupan.”

Sebagai Pengurus Gereja Pentakosta Indonesia, dia juga selalu aktif membawa peran dari GPI. Salah satu contohnya, ketika Gunung Sinabung meletus. Banyak pengungsi yang butuh uluran tangan. GPI sebagai sinode yang berada di Sumatera Utara memberikan sumbangan. Dia mewakili Ketua/Pendeta Umum Gereja Pentakosta Indonesia, Rev Dr MH Siburian, waktu itu, menyerahkan bantuan untuk pengungsi Sinabung di tiga titik.

“Bantuan ini sebagai bentuk kepedulian sesama manusia menghadapi bencana alam. Di samping itu, kami ingin memberikan kata-kata penghibur. Yesus Kristus tetap menyertai kita. Meski dalam keadaan musibah bencana alam, kesusahan dan kesulitan lainnya. Yang penting kita berserah dan mendekatkan diri. Pasti Yesus Kristus  campur tangan kepada kita dan ada mukzijat,” ujarnya.

Hotman J Lumban Gaol

 

 

J R Hutauruk


Pdt. Dr. J.R. Hutauruk (Mantan Ephorus HKBP 1998-2004)

ephorus-skipperNama lengkapanya Pdt. Dr. Jubil Raplan Hutauruk lahir tepat ketika HKBP merayakan jubileum 75 tahun, 7 Oktober 1936 di Tigadolok, Simalungun, sebagai putra dari Guru Jetro Hutauruk yang waktu itu melayani sebagai guru jemaat di HKBP Tigadolok, Distrik Sumatera Timur. Beliau mendapat pendidikan teologi di Fakultas Teologi Universitas HKBP Nommensen (1956-1961) setelah sebelumnya dididik di Seminarium Sipoholon. Teman-teman seangkatannya di Fakultas Teologi termasuk Pdt. Dr. PWT Simanjuntak (Ephorus 1992-1998), Pdt. Dr. S.M. Siahaan (Sekretaris Jenderal HKBP 1992-1998).
Setelah menyelesaikan sarjana teologi, Ompui ditempatkan ke HKBP Ressort Sibolga I sebagai calon pendeta (1961-1962) kemudian menjadi asisten dosen di Fakultas Teologi Universitas HKBP Nommensen (1962-1963).

Setelah ditahbiskan menjadi pendeta, Beliau berangkat studi master teologi ke Universitas Hamburg, Jerman dan kembali tahun 1968. Tesisnya mengenai “kaitan gereja, bangsa, dan misi dalam pemikiran F. Fabri, W. Loehe, dan J. Bunsen dan pengaruhnya dalam sejarah awal HKBP”. Sekembalinya dari Jerman, Beliau menjadi dosen Seminarium Sipoholon dan pada tahun 1970 hingga 1973 menjadi Direktur Seminarium itu. Pada tahun 1973 beliau kembali ke Hamburg untuk studi tingkat doktor. Gelar doktor diraihnya tahun 1979 dengan disertasi mengenai “kemandirian gereja Batak”.

Sekembalinya dari Jerman, untuk beberapa waktu Pdt. DR. JR Hutauruk bertugas di Bagian Arsip Kantor Pusat HKBP Pearaja Tarutung sebelum pada tahun 1980 pindah ke STT HKBP dan menjadi Wakil Rektor STT HKBP sejak tahun 1981 hingga 1986. STT HKBP merupakan tempat pelayanan Beliau yang paling lama yakni 17 tahun (1980-1997). Pada Sinode Godang Sitimewa di Medan tahun 1993, Beliau terpilih sebagai Ketua Rapat Pendeta HKBP sambil tetap melayani di STT HKBP. Kemudian pada tahun 1997-1998 Beliau melayani sebagai Pendeta Ressort HKBP Tebet, Jakarta sebelum terpilih sebagai Pejabat Ephorus dalam Sinode Godang HKBP 26 Oktober 1998.

Sebagai Pejabat Ephorus Beliau ditugaskan untuk mengadakan Sinode Godang menetapkan kepemimpinan HKBP yang definitif. Di antara tugas-tugas itu Ompui memfokuskan usaha-usahanya untuk mewujudkan rekonsiliasi HKBP yang sejak tahun 1992 mengalami kemelut dan dualisme kepemimpinan. Tugas berat itu berhasil diselesaikan dalam empat bulan sebab pada 18-20 Desember 1998, HKBP menyelenggarakan Sinode Godang di Pematangsiantar. Ompui kemudian terpilih sebagai Ephorus untuk periode 1998-2004 dan menjadi Ephorus HKBP yang ke-12.

Selama periode kepemimpinannya, Ompui berusaha memulihkan pelayanan HKBP yang sempat terkendala akibat konflik 1992. Periode kepemimpinan dapat disebut sebagai periode rekonsiliatif di mana segenap energi HKBP difokuskan untuk menjalin simpul-simpul persekutuan yang sempat putus akibat konflik itu, menabur kembali benih-benih kesatuan di segala aras mulai dari huria, ressort, distrik hingga hatopan (pusat), menata ulang organisasi pelayanan HKBP, dan sebagainya. Penataan dalam Pada periode kepemimpinan Ompui pula HKBP menetapkan Aturan Peraturan HKBP 2002 yang memberlakukan sistem perubahan Aturan Peraturan melalui metode amandemen di mana perubahan tidak lagi dibatasi hanya sekali dalam sepuluh tahun sesuai dengan kebutuhan HKBP sendiri. Aturan Peraturan 2002 ditetapkan Pada Sinode Godang 2002 dan diberlakukan mulai 2004.

Selain Aturan dan Peraturan Baru, selama kepemimpinan Ompui, HKBP membentuk distrik-distrik baru yakni DistrikXIX Jakarta-2, Distrik XX Kepulauan Riau, Distrik XXI Jakarta-3, Distrik XXII Riau, Distrik XXIII Langkat, Distik XIV Tanah Jawa, dan Distrik XV Jambi. Distrik-distrik itu ditetapkan pada Sinode Godang 2002. Sedangkan Distrik XV Labuhan Batu ditetapkan pada Sinode Godang 2004. Sebagai Ephorus, Ompui juga aktif dalam persekutuan oikumene di aras nasional dan internasional. Beliau merupakan Anggota Dewan LWF sekaligus Anggota Komisi Studi dan Teologi LWF (2003-2020), dan anggota Majelis Pertimbangan PGI (2005-2010).

Sebagai seorang akademisi Ompui rajin menulis mengenai sejarah gereja, khususnya HKBP. Hingga masa emeritusnya, puluhan artikel dan buku telah dihasilkannya antara lain Tuhan Menyertai Umat-Nya : Sejarah 125 Tahun HKBP (1986), Kemandirian Gereja (1991), Menata Rumah Allah (2008), Sejarah pelayanan Diakonia di Tanah Batak (2009), Pandita G. van Asselt (2009), dan lain-lain. Ompui menikah dengan Dumaris Simorangkir dan dikarunia lima orang anak. Salah seorang di antaranya, Sadrak Sabam, mengikuti jejaknya dan saat ini melayani sebagai calon pendeta di HKBP Ressort Cawang, Distrik XIX Jakarta.

Dia dikenal pendeta yang sederhana. Semasa menjabata sebagai Ephorus JR Hutauruk paling tidak dikenal dengan sebagai tokoh yang membawa HKBP pada rekonsiliasi tahun 1998. Lalu, semasa menjabat Ephorus mempunyai program Dana Abadi yang dialokasikan, bunga dari dana tersebut untuk bisa pensiunan pendeta. Selain itu, dia juga dikenal dengan Ephorus yang mengulirakan semangat keterbukaan, inklusif terhadap HKBP.

Pdt. Drs. Pilian Panjaitan, M.Div


 

Pdt. Drs. Pilian Panjaitan, M.Div

panjaitanPdt. Pilian Panjaitan, dilahirkan di Sibide Kec. Pintupohan Tobasa Sumatera Utara pada tanggal 27 September 1955. Pilian adalah putra kedua (dari enam bersaudara: 2 Perempuan, 4 laki-laki) dari St.Tanda Dolok Panjaitan (+) dan Besti br. Situmorang (+). Ayahnya, adalah uluan huria HKBP Sibide sejak tahun 1967 – 2001.

Sejak SD, Pendeta yang agak pendiam, murah senyum dan gemar bernyanyi ini, sudah jatuh cinta dengan firman Tuhan yang tertulis dalam Alkitab, dan menjadi  buku yang paling digemari.  Salah satu kisah Alkitab yang dibaca berulang-ulang adalah Kitab Daniel, khususnya kisah Sadrakh, Mesakh, dan Abednego yang dimasukkan ke dalam dapur api, serta  kisah Daniel yang dimasukkan ke dalam gua singa. Apa pun ancaman yang bisa membahayakan bahkan merenggut nyawa hamba-hamba Tuhan tersebut, mereka tidak takut dan tidak bergeming sedikit pun demi mempertahankan imannya kepada Tuhan.

Pendeta Pilian, adalah pendeta yang tidak pernah berhenti untuk belajar. Di sela-sela kesibukan dan kegiatannya melayani, beliau memanfaatkan peluang yang ada untuk belajar. Tujuannya, adalah agar dapat hadir menjadi pelayan Tuhan yang lebih baik. Di samping pendidikan formal, beliau juga aktif mengikuti pendidikan non formal bahkan terus belajar secara otodidak. Inilah riwayat pendidikan formal yang pernah diikuti oleh pendeta Pilian Panjaitan.

Apa pun ancaman yang bisa membahayakan bahkan merenggut nyawa hamba-hamba Tuhan tersebut, mereka tidak takut dan tidak bergeming sedikit pun demi mempertahankan imannya kepada Tuhan

Riwayat Pendidikan

  1. 1961-1968            :  SD di Sibide, Kabupaten Toba Samosir
  2. 1968-1971            :  SMP Narumonda
  3. 1971-1974            :  SGH (Sekolah Guru Huria) HKBP di Seminarium Sipoholon
  4. 1975-1976            :  Persamaan SMA di SMA II Medan
  5. 1978-1981            :  IKIP Medan, Sarjana Muda  Seni Musik
  6. 1983-1988            :  USU Medan, Sarjana (S1) Perpustakaan
  7. 1989-1992            :  Program M.Div. STT HKBP Pematang Siantar

Riwayat Pelayanan

  1. 1975-1976    :     Menjalani masa Praktek Guru Huria di HKBP Sei Agul
  2. 1976             :     Ditahbiskan menjadi Guru Huria di HKBP Simanungkalit Sipoholon
  3. 1976-198      :     Guru Huria di HKBP Sei Agul, distrik X Medan-Aceh  (Guru Huria Penuh Waktu yang pertama di HKBP Sei Agul). Melayani bersama pendeta Resort: Pdt. T.M. manullang (+);  Pdt. Andreas Panjaitan (+) dan Pdt. M.V. Simanjuntak dan Bibelvrow br. Sihotang.
  4. 1981-1989    :     Guru Huria HKBP Sudirman Medan, Distrik X Medan-Aceh. Dipimpin oleh Pendeta Resort: Pdt. Alboin Simanungkalit, kemudian  Pdt. B.Pardamean Sihombing (+). Bersama empat orang pendeta: Pdt. K. Simaibang, Pdt. TR. Sidabutar, Pdt. Udut Simanjuntak, Pdt. Mori AP. Sihombing, MTh. Dua orang Bibelvrow: Biv. Br. Sinaga dan Biv. Tiarasi Silitonga kemudian digantikan oleh Biv. S.L. br. Nainggolan. Dua orang diakones: Diak. H. Br. Siringoringo dan Diak. Riris  Br. Ompusunggu.
  5. 1989-1990    :     Wakil Kepala Perpustakaan STT HKBP Pematang Siantar
  6. 1993-1994    :     Menjalani masa Praktek Pendeta sebagai Staf Khusus Ephorus HKBP di Kantor Pusat HKBP Pearaja Tarutung
  7. 1984             :     Ditahbiskan menjadi Pendeta HKBP di HKBP Sibolga Kota
  8. 1994-1998    :     Staf Khusus Ephorus HKBP di Kantor Pusat HKBP Pearaja Tarutung
  9. 1998-2004    :     Pendeta HKBP Resort Jawa Tengah Semarang, bersama Pdt. Ridoi Batubara, STh  kemudian Pdt. Rolina Br. Boangmanalu, STh. Dan Guru Huria Sabungan, HKBP Kertanegara: Gr. Saudagara Siagian, digantikan Gr. Juri siahaan, dan Gr. B. Lumbantobing. Guru Huria Pagaran: HKBP Semarang Barat: Gr. Jannus Sitorus (sekarang pendeta Persiapan Resort  Sukarame Distrik Riau) digantikan Gr. Pangihutan Sitompul (sekarang pendeta diperbantukan di HKBP Maduma Resort Agape Pangkalan Kerinci, Riau). Selama melayani di HKBP resort Jateng, terpilih menjadi Parhalado Distrik 18 Jabartengdiy masa bakti 1998 – 2004
  10. 2004-2008    :     Pendeta HKBP Resort Pondok Gede Bekasi, Distrik 19 Jakarta 2. Melayani bersama Pdt.Riama  Br. Butarbutar, STh kemudian digantikan Pdt. Tigor Siburian,STh (+) dan di Huria Pagaran (HKBP Getsemane Jatimulia Bekasi Timur) Pdt. Gokma Simanungkalit,STh digantikan Pdt. Maruli Lumbantobing,STh kemudian Pdt. Erwin Marbun,STh. Terpilih menjadi anggota MPSD Distrik 19 Jakarta 2, masa bakti 2004-2008.
  11. 2008-sekarang    : Pendeta HKBP Resort Kramat Jati, distrik 19 Jakarta 2. Di Sabungan, melayani bersama Pdt. Jones Panggabean, SmTh (+); Pdt. Bikwai Simanjuntak, MTh; Pdt. Daniel Napitupulu, M.Min; Pdt. Risen Parhusip,STh, dan Pdt. Ponitus Siregar, M.Div. dan di Huira Pagaran (HKBP Gedong) bersama Pdt. Josua Butarbutar, STh digantikan Pdt. Ati Malem Hutauruk, STh. Terpilih menjadi anggota MPSD Distrik 19 Jakarta 2, masa bakti 2008-2012.

Riwayat Pelayanan Oikumenis

1998-2003       : Sekum Persekutuan Gereja-gereja Semarang (PGIS)

2003-2004       : Sekum PGIW Jawa Tengah

Riwayat Keluarga

Menikah          : 13 Oktober 1975 di Sibide

Nama istri        : Ruslan br. Sitorus, SPd

Tuhan telah mengaruniakan empat orang anak dan semuanya sudah menikah, dua laki-laki dan dua perempuan dan empat orang pahompu.

1.       Easter Pebriani Eucharistia Panjaitan, SE/ Dumoli Sirait, MM – Cikunir Bekasi

2.       Pustaha Juliandre Athrahasis Panjaitan, STp/Wina D. br. Harianja, SPi – Chandra Pondok Gede Bekasi

3.       Tombak Henry Rudi Parulian Panjaitan, ST/Devi H. Br. Sitorus, ST – Kramat jati Jakarta

4.       Mary Lou Panjaitan, SPi/Oscar Gultom, SE – Kiwi Pasar Rebo Jakarta.

Pilian menjalani kehidupan dan pengabdian pelayanannya dengan berpegang teguh kepada ayat Sidinya yang tertulis dalam 2 Raja 6: 16, “Jangan takut, sebab lebih banyak yang  menyertai kita daripada yang menyertai mereka.” Mengaminkan kebenaran firman Tuhan, Pilian menjalani hari-hari kehidupan dengan motto, “Di sini senang di sana senang, di mana-mana hatiku senang.” Selama tugas pelayanannya sampai sekarang, baik sebagai Guru Huria maupun sebagai Pendeta, tidak pernah konflik dengan Pimpinan maupun dengan rekan kerja sesama pelayan penuh waktu, juga dengan Parhalado maupun dengan jemaat.

Rev. DR. M.H Siburian, M.Min


“Di Dalam Tuhan Ada Jawaban Kehidupan”

Ketua (1)SEMUA insan tentunya akan berbeda-beda dalam memaknai hidup. Ada selalu mempertanyakan apa yang terjadi dalam kehidupan. Ada yang pandai menjawab pertanyaan, tetapi belum tentu pandai mempertanyakan apa yang terjadi di dalam mengarungi keberimanan. Nalar manusia tidak akan mampu membahas Tuhan, tetapi banyak hal, fenomena yang terjadi bisa tersingkap oleh pengetahunan dunia, sains. Meski hal ini masih terus merupakan pembahasan dan perdebatan panjang, belum pernah ada titik temunya. Tetapi bagi Pria kelahiran Pematang Siantar, 14 Juli 1952, Rev DR Maradu Hasudungan Siburian MMin mengatakan, sains memang tidak bisa menjawab semua hal, tetapi paling tidak bisa menolong kita menjawab beberapa hal.

Ketua Sinode Gereja Pentakosta Indonesia, penyuka buku-buku fisika ini sendari dulu telah membaca buku-buku fisika. Hampir semua buku fisika dikoleksinya, termasuk buku-buku pakar fisikawan Stephen Hawking. “Karena itu, gereja harus tampil mengambil peran. Buku  Stephen Hawking berjudul Grand Design. Buku tersebut misalnya memancing keributan terutama di sisi para ahli agama. Hal ini disebabkan karena penjelasan dari buku tersebut mengatakan alam semesta ini tercipta hampir tanpa membutuhkan keterlibatan Tuhan.”

Walau tergolong kalimat yang sarkas, tetapi baginya, dari sana kita bisa beranjak mengerti, menjelaskan kepada umat tentang fenomena-fenomena yang terjadi. Bagi Rian, begitu nama panggilan di masa muda, para ahli agama dan para teolog tetap pada keyakinannya bahwa semesta dan kehidupan ini jelas ciptaan Tuhan. Akan tetapi mereka tidak bisa membuktikan secara bukti-bukti seperti yang dibutuhkan oleh para ilmuwan.

“Bagi saya, gereja harus juga ikut untuk mengambil posisi terhadap hal itu. Sains bukan dasar dari semuanya. Tetapi, paling tidak orang-orang Kristen, anak-anak Tuhan harus mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada di masyarakat. Masalah kloning misalnya, gereja mesti mempunyai pemikiran, agar umat tidak diombang-ambingkan. Sebab di dalam Tuhan ada jawaban terhadap fenomena kehidupan,” ujar suami dari Hernawati boru Sitompul.

Ayah dari empat anak, tiga putri dan satu putra diantaranya; Rut Debora boru Siburian, Evelina boru Siburian, Pranata Okto Siburian dan Melisa Renata boru Siburian. Tiga anaknya sudah menikah, tinggal Melisa belum menikah, saat ini menyelesaikan jejang sarjana di Fakultas Kedokteran di Medan. Tetapi baru putri kedua yang memberinya dua cucu. Ompung dua cucu ini, melihat semua fenomena di dunia pasti ada jalan solusi.  Lalu, bagaimanan kita mencari jawabannya?  “Gereja harus peka terhadap tanda-tanda zaman. Sebagaimana dalam Firman Tuhan Allah: Sesungguhnya Aku meletakkan sebagai dasar di Sion sebuah batu, batu yang teruji, sebuah baju penjuru yang mahal, suatu dasar yang teguh.”FOTO KEL PAK KETUA

“Siapa yang percaya tidak akan gelisah? Bahwa banyak para ahli yang dapat memprediksi atau menunjukkan optimisme tentang pemecahan ekonomi, sosial, politik dan ilmu pengetahuan. Namun, ada satu hal yang tidak dijawab para ahli yakni kuasa Tuhan, atas permasalahan yang terjadi. Tidak menjelaskan bahwa firman menegaskan bahwa kita tidak perlu ragu karena Allah yang akan berikan solusi,” tambahnya lagi.

 Khotbah eksak

Dia juga adalah salah seeorang Majelis Pertimbangan Rohani di Persekutuan Gereja-gereja Pentakosta Indonesia (PGPI). Baginya, bahwa setiap orang memiliki persoalan sendiri. Namun, kita harus membuat keputusan yang benar dengan mengikut sikap Yesus. “Allah yang berikan solusi adalah Allah yang kekal. Jawaban yang diberikan juga absolut yakni keselamatan. Sebab dibawah kolong langit ini tidak ada nama yang lain yang diberikan kepada manusia yang oleh-Nya kita dapat diselamatkan.” Tambahnya “Tuhan itu tidak terbatas, sedangkan pengetahuan manusia itu terbatas sehingga tidak mungkin sesuatu yang terbatas akan dapat mengetahui yang tidak terbatas. Itulah kuasa Tuhan yang bersifat absolut. Manusia akan dapat berinteraksi dengan Tuhan hanya dengan melalui iman.”

Sebagai penyuka buku-buku eksak, buku-buku sains yang dilahapnya memberikan bekal dalam menyampaikan renungan Firman Tuhan, dan kerap menyelipkan cerita tantang sains. Mengapa tertarik tentang sains, bidang fisika? Katanya lagi, alam bersifat matematis dan sangat eksak. Rotasi bumi harian selalu memuat perhitungan matematis yang sangat akurat dan tepat, tak mungkin meleset. “Bagi saya mempelajari fisika kita mengenal eksak. Mempelajari eksak merupakan langkah awal untuk memasuki dunia ilmiah. Dunia untuk memahami rahasia alam. Jadi untuk memahami kehidupan dan segala yang berkaitan di dalamnya tidak terlepas dari ilmu fisika.”

Entah mengapa di pemahaman fisika itu kita bisa menemukan makna. Sebenarnya alamiah, fisika berkaitan alam, sains dan ilmu tentang alam dalam makna yang luas. “Mempelajari gejala alam yang tidak hidup atau materi dalam lingkup ruang dan waktu.  Dia dalam fisika merupakan sifat yang ada dalam semua sistem materi yang ada, seperti hukum kekekalan energi. Intinya sebenarnya bagimana kaitannya dengan kehidupan kita sekarang.”

Dia menambahkan, sebenarnya saya tidak ahli fisika, tetapi banyak membaca buku-buku fisika. “Fisika sering disebut sebagai ilmu paling mendasar, elementer karena setiap ilmu alam lainnya selalu mempelajari jenis sistem materi tertentu yang mematuhi hukum fisika. Misalnya, kimia adalah ilmu tentang molekul dan zat kimia yang dibentuknya. Sifat suatu zat kimia ditentukan oleh sifat molekul yang membentuknya, yang dapat dijelaskan oleh ilmu fisika,” tambahnya.

Sebagai suluh

Sebagai pemimpin, dia menyadari sebagai pemberi jalan, penyuluh. Sebagai suluh hanya sebagi penuluh, tidak hanya sebagai pendidik, tetapi mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi oranglain di dalam melakukan fungsi kepemimpinan. Sebagai Ketua Gereja Pentakosta Indonesia berpusat di Pematang Siantar, Sumatera Utara yang sidang, atau gerejanya ada di berbagai wilayah di Indonesia. Perlu mutiplikasi dalam memimpin.

“Prinsip multiplikasi, cara dengan memperbanyak calon hamba Tuhan, guru dan sintua. Gereja harus terus bertumbuh, maka untuk bertumbuh harus ada eksplan. Mereka itu harus diberikan pemahaman doktrin yang benar agar tidak terkontaminasi ajaran-ajaran yang bengkok,” ujar anak dari pendiri Gereja Pentakosta Indonesia Pdt Ev Renatus Siburian ini.

Lalu, apa yang dilakukan memimpin gereja? Menurutnya, kepemimpinan untuk memberdayakan semua tim, atau orang-orang yang dipimpinnya mencapai potensi tertingginya. “Dengan kata lain, ada kaderisasi dan regenerasi pemimpin. Pada level ini, seorang pemimpin tidak lagi berfokus kepada dirinya, tetapi bagaimana dia berupaya supaya kepemimpinan berjalan dengan baik.”

Baginya, memimpin juga harus berdasarkan karakter dan integritas. “Pemimpin  harus memberikan perubahan bagi yang dipimpin. Seorang pemimpin yang seumur hidupnya mengembangkan oranglain serta organisasi-organisasi memberikan dampak yang sedemikian luar biasa untuk waktu yang sedemikian lama. Sehingga orang-orang mengikutinya. Bila kita mencapainya, itulah kepemimpinan yang berdampak,” ujarnya.

ditulis, Hotman J. Lumban Gaol

 

Pdt. JAU Doloksaribu, MMin


Biodata:

Pdt. JAU Doloksaribu, MMin

Nama Lengkap: Jonggi August Uluan Doloksaribu disingkat  JAU Doloksaribu

Lahir di Porsea, Tobasa,18 Maret 1949

Orangtua:

Bapak Melanchton Doloksaribu

Ibu Heleria boru Sirait

Istri:

Romauli boru Hutajulu (menikah tanggal 4 Juli 1974)

Anak:

Empat Anak (3 laki-laki, satu perempuan)

(1)   Poltak Hasahatan Doloksaribu

(2)   Samuel Doloksaribu

(3)   Simon Joroan Doloksaribu (alm)

(4)   Debora Kristina boru Doloksaribu

Pendidikan:

Tahun 1968, lulus dari Fakultas Theologia Universitas HKBP Nommensen di Pematang Siantar

Tahun 1990, menempuh pendidikan pascasarjana, gelar Master of Ministry dari Trinity Theological College

 

Riwayat Pelayanan:

  • Dimulai vikaris di HKBP Binjai Medan.
  • Pendeta pembantu di HKBP Kemayoran Baru, Jakarta Selatan.
  • Pendeta Persiapan Ressort HKBP Kebayoran Selatan
  • Direktur Departemen Pemuda HKBP Pusat (2 periode)
  • Pendeta Ressort HKBP di Kota Medan
  • Praeses HKBP Medan Aceh, Tahun 1993-1998
  • Praeses HKBP Distrik Tebing Tinggi Deli dan Distrik Tapanuli Selatan, Tahun 1998-2004
  • Praeses HKBP Distrik XXI Jakarta 3, tahun 2004-2008.
  • Sekarang-memimpin jemaat HKBP Maranatha Rawalumbu, Bekasi.

Prestasi:

  • Memenangkan lomba mengarang lagu gereja tingkat dunia United in Mission (UIEM).
  • Pengalih bahasa paling banyak lagu-lagu gereja ke dalam bahasa Batak Toba
  • Pencipta Musik Box Gereja (MBG

Profil Pdt. JAU Doloksaribu, MMin

“Sejak Di Dalam Kandungan Ibu, Saya Sudah Dipanggil”

DSCN0215PERJALANAN hidup setiap orang tidak ada yang sama. Tetapi, pendeta yang satu ini akan mirip dengan perjalanan sang nabi di Alkitab. Semenjak di dalam perut ibunya sudah dinazarkan untuk dipakai Tuhan sebagai alat-Nya. “Sejak didalam kandungan doa ibu kepada Tuhan, agar satu saat nanti saya menjadi pendeta. Katanya, ini juga cerita ibu, sejak kecil masih umur dua tahun saya sudah meniru-niru gaya pendeta berkhotbah dan membaptis ketika bermain bersama anak-anak lainnya. Ibu saya selalu mengatakan itu, kau nanti menjadi pendeta,” kenang pria kelahiran Tobasa,18 Maret 1949 mengawali perbincangan.

Pemilik nama lengkap Jonggi August Uluan Doloksaribu, dikenal dengan nama Pendeta  JAU Doloksaribu. Anak pertama dari 15 bersaudara. “Sebenarnya 15 anak dari 2 ibu. Kami 15 orang kakak beradik. Saya anak pertama. Ibu kandung saya melahirkan 6 anak. Tetapi beliau meninggal, bapak menikah lagi dengan ibu kami yang sekarang boru Pangaribuan, beliau melahirkan 9 anak lagi,” kata pendeta asal Porsea, Tobasa, ini.

Gen sebagai pelayan, naluri aktivis gereja mengalir pekat di darahnya. Ayahnya, bernama Melanchton Doloksaribu bekas tentara Marsuse yang kemudian hari menjadi guru zending. Sementara ibunya Heleria boru Sirait juga dulunya aktivis gereja, pintar  bernyanyi, anggota Paduan Suara Pemuda Gereja (Naposobulung) dan kemudian menjadi guru paduan suara perempuan huria sampai akhir hayatnya. Ompungnya dari pihak ibu Nikanor Sirait, juga seorang bekas agama di sekolah.

Maka, begitu lulus SMA JAU langsung mendaftarkan diri ke Fakultas Theologia Universitas HKBP Nommensen di Pematang Siantar. Hasrat menjadi pendeta yang menjadi cita-citanya sejak kecil, sebagaimana nazar almarhum ibunya. Angkatan tahun 1968 dari Sekolah Tinggi Teologia Nommensen Pematangsiantar, ini, begitu lulus menjadi vikaris, calon pendeta praktek di gereja HKBP Binjai. Tak berselang lama kemudian diutus ke HKBP Simpang Limun, masih di kota yang sama Kota Medan.  Menikah di usia muda. Tergolong muda, umur 25 tahun, JAU mempersunting gadis pilihan ayahnya, Romauli boru Hutajulu. “Istri saya adalah pilihan bapak. Karena istri saya adalah bekas Sidi terbaik bapak saya. Bapak mengatakan itu pada saya. Bapak mengatakan, dialah (Romauli) yang layak mendampingimu (menjadi istri pendeta).”

Dari penikahan pasangan yang diberkati menjadi suami isteri pada tanggal  4 Juli 1974, Tuhan karuniakan empat anak. Tiga laki-laki dan satu perempuan. Anak pertama Poltak Hasahatan Doloksaribu, bekerja dan tinggal di Amerika. Anak kedua, Samuel Doloksaribu menikah dengan menantunya boru Naibaho, dari pernikahan mereka lahir dua anak Piter Kevin, 4 tahun, dan Stephani satu tahun. “Simon Joroan Doloksaribu, anak ketiga. Di umur 29 tahun Simon dipanggil Tuhan kehadapan-Nya. Tiga minggu berselang dia mau melangsungkan pernikahan, Simon dipanggil Tuhan ke pangkuan-Nya pada 3 November 2007.” Si bungsu, satu-satunya perempuan Debora Kristina boru Doloksaribu, belum menikah, “tetapi kalau Tuhan berkehendak tahun depan akan melangsungkan pernikahan.” Saat ini, Debora bekerja sebagai seorang advokat.

Dari vikaris hingga menjelang emeritus JAU menghitung berkat Tuhan, sudah hampir 40 tahun melayani sebagai hamba Tuhan. Suka dan duka silih berganti mengiringi perjalanan ompung dua cucu ini. Dimulai vikaris di HKBP Binjai Medan. Lalu, menjadi pendeta pembantu di HKBP Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Di sana banyak kendala yang dihadapi. Rumah tinggalnya di Jalan Fatmawati, Gang Sawo Atas Gandaria, Kebayoran Selatan. Berkali-kali dilempari orang-orang yang tidak bertanggung-jawab, bahkan mendapat teror. Akibatnya keluarga ini dipindahkan ke HKBP Kebayoran Lama. Dari sana menjadi Pendeta Persiapan Ressort HKBP Kebayoran Selatan.

Dari Kebayoran Selatan, JAU memenuhi panggilan melayani di kantor Pusat HKBP sebagai Direktur Departemen Pemuda HKBP Pusat. Jabatan itu disandangnya dua periode, sepuluh tahun. Masa ephorus, kepimimpinan Ephorus Pdt. G.H.M. Siahaan, dan masa Ephorus Pdt. Dr. S.A.E Nababan, LLD. Di masa kepemimpinan Ephorus S.A.E Nababan-lah, JAU disekolahkan ke Singapura mengikuti pendidikan pasca sarjana, menempuh gelar Master of Ministry di Trinity Theological College. Pulang dari Singapura dia kemudian menerima penempatan sebagai pendeta uluan, memimpin Ressort HKBP di Kota Medan, tepatnya di Jalan Jendral Sudirman No. 17 A, Medan.

Di Rutan Poltabes Medan

Tahun 1992-1998, ketika masa-masa HKBP bergejolak, dia bersama teman-temannya tampil menjadi penentang rezim yang mencoba mengobok-obok gereja. “Masa, militer mengangkat seorang Ephorus puncuk pimpinan tertinggi di HKBP. Hanya dengan SK dari Kodam II Bukit Barisan.” Inilah titik awal krisis yang terjadi di HKBP selama enam tahun. JAU mengobarkan semangat untuk melawan. Mendukung orang yang dijolimi dengan terlibat langsung sebagai gerakan Setia Sampai Akhir (SSA). “Saya memimpin demo karena seorang panglima Kodam II Bukit Barisan, mengangkat ephorus pimpinan tertinggi gereja HKBP melalui SK-nya. Krisis yang dialami HKBP pada waktu itu adalah salah satu wujud Pemerintahan yang otoriter dari rezim Soeharto yang menginterpensi gereja pada waktu itu,” ujarnya menyebut “Masa-masa genting HKBP itu, saat jemaat yang menentang interpensi pemerintah itu mendirikan parlape-lapean semacam tempat ibadah sementara bagi yang melawan pemerintah.”

Pada masa-masa inilah perjalanan hidup pelayanannya yang paling menegangkan. Apa yang dialami HKBP tempo lalu itu menyisakan banyak cerita baginya. Menggerakkan ribuan massa berdemo ke Kodam Bukit Barisan, membawanya diseret ke meja pengadilan yang akhirnya divonis satu setengah tahun penjara. “Saya membacakan eksepsi, surat pembelaan. Saya merasakan pertolongan Tuhan. Saya mendapat sokongan moral dari berbagai pihak. Bantuan hukum dari pengacara Sabam Siburian dan Garuda Nusantara (mantan anggota Komnas HAM), kala itu turut membantu.” (Pengacara, Sabam Siburian [alm], ayahanda dari Lisbert Siburian anggota DPRD Bekasi Kota dari Partai Damai Sejahtera).

Baginya, politik pemerintah terhadap HKBP waktu itu, sama saja seperti yang dilakukan Soeharto terhadap Nahdatul Ulama (NU) ketika dipimpin Gus Dur. JAU, setelah dibebaskan dari penjara, kemudian, tak beberapa lama berselang masih menjadi pendeta resort. Dari sana kemudian menjadi praeses. Tiga periode menjabat Praeses, yaitu: Pelaksana Praeses HKBP Medan Aceh, tahun 1993-1998; di HKBP Distrik Tebing Tinggi Deli dan Distrik Tapanuli Selatan, tahun 1998-2004; dan terakhir Praeses HKBP Distrik XXI Jakarta 3, tahun 2004-2008. Sekarang menjelang emeritus dia tetap terlihat bersemangat memimpin jemaat HKBP Maranatha Rawalumbu, Bekasi.

Dipenjara, tetapi kemudian dibebaskan. Menurutnya, sebagai pendeta sudah biasa. Apalagi dilempar dan ditimpuk batu, itu adalah konsekuensi yang yang harus diterima, katanya. Tahun 2007, masih hangat diingatan media, ketika jemaat HKBP Rajeg, Kotabumi, Tangerang, Banten dilarang beribadah oleh sekelompok massa intoleran. Aksi pelarangan itu bahkan diiringi dengan pelemparan batu ke rumah tempat beribadah. Saat itu, sebagai Praeses HKBP Distrik XXI Jakarta 3 JAU datang untuk memberikan penguatan semangat jemaat HKBP Rajeg. Tak pelak peristiwa itu memakan korban. Sesudah berkhotbah JAU kena timpuk batu, akibatnya pelipis pipinya bocor, darah mengucur. Dia dan beberapa jemaat mengalami luka-luka akibat terkena lemparan batu. Namun, peristiwa itu tak membuatnya undur. “Sebagai pendeta banyak hal yang saya lalui. Suka dan duka. Termasuk saat di HKBP Rajeg itu. Iya, saya dilempar batu. Tetapi tidak harus membuat saya undur.”

Musik box gereja

Tetap semangat dalam  pelayanan walau usianya sudah hampir 65 tahun. Justru dia berharap dirinya semakin dikuatkan dan bersemangat dalam melayani. “Selagi kita bernafas, masih ada waktu melayani.” Lalu, ditanya, apa yang urgen dalam pelayanan di kota saat ini? Sekarang ini, tugas pelayanan di gereja di kota makin berjubel. “Lam godang do angka tantangan namambahen sega moral ni jolma nuaeng on. Boasa songoni? Sekarang ini kita menghadapi Hedonisme. Kita tidak boleh menapikkan pergaulan bebas, narkoba, parjujion, sudena i angka pangalaho na manegai hadirion ni jolma. Karena itu, gereja terus berupaya, bahu-membahu membangun pelayanan untuk mengajak umat kembali kepada Tuhan.”

JAU profil pendeta yang kreatif, selalu proaktif memberdayakan seluruh potensi yang ada di gereja. Dia memiliki jiwa seni, musikalitasnya tinggi. Hal ini sudah menjadi habitusnya, sejak kecil bukan hanya belajar berkhotbah, umur 8 tahun dia sudah terbiasa memainkan musik orgen. Kesukaannya akan musik dibuktikannya dengan banyak mengarang lagu, termasuk lagu koor. Pernah juga dia memenangkan lomba mengarang lagu gereja tingkat dunia United in Mission (UIEM). Di “Buku Ende” kidung jemaat HKBP nama JAU Doloksaribu begitu mudah ditemukan sebagai pengalih bahasa dan mencipta lagu pada kidung pujian itu. Dia termasuk seorang pendeta penerjemah paling banyak lagu-lagu gereja ke dalam bahasa Batak Toba.

Baginya musik gereja harus dikembangkan. Oleh alasan itu, bersama adeknya St Drs Nurdin Doloksaribu, MSi, mereka menggagas Musik Box Gereja (MBG). Semua lagu-lagu gereja direkam di satu laptop, dan kemudian dari sana bisa memandu-mengiringi lagu, tanpa pemain musik. Sekarang ini sudah banyak persekutuan dan gereja-gereja menggunakan MBG ini. Ditanya soal peranannya MBG, turun menghilangkan semangat belajar musik  gereja, karena ada segelintir orang yang menyebut MBG mematikan kreativitas bermusik di gereja. “Jangan langsung kita berpikir negatif, bersikap reaktif. Berpikirlah positif. Justru MBG itu membantu pelayanan. MBG-lah menjadi penuntun pemusik untuk makin pintar. Pemusik yang mampu mengikuti MBG adalah pemusik yang andal, yang tidak mampu mengikuti masih abal-abal,” jawabnya.

MBG menjadi solusi atas kendala pelayanan musik pada setiap kegiatan kebaktian gereja yang ada saat ini. MBG menjadi salah satu solusi. Perangkat laptop yang menggunakan platform linux serta berfungsi khusus mengiringi nyanyian lagu. “MBG merekam lagu-lagu gereja sesuai dengan partitur yang resmi, baik yang dikeluarkan Yamuger atau Terbitan Lembaga Gereja lainnya. Iringan musik MBG disesuaikan dengan karakter lagu dan tema lirik sehingga ada berbagai tipe iringan musik  diantaranya: Orchestra Classic, Orchestra Populer, iringan full band, etnis tradisional.”

Dia menambahkan, MBG adalah temuan yang mestinya kita apresiasi. “MBG dikembangkan oleh tim musik gereja HKBP untuk memenuhi kebutuhan pelayanan musik liturgi gereja, bukan memutus semangat bermusik.” Kini, MBG melakukan perluasan pelayanan ke seluruh denominasi gereja yang ada. Termasuk sudah disosialisasikan di beberapa Distrik HKBP pada tahun Marturia HKBP, tahun 2007 yang lalu dan juga di berbagai gereja denominasi Indonesia, antara lain di Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) dan Gereja Kristen Jawa (GKJ). “Awalnya, hanya sedikit gereja yang mengapresiasi MBG kini sudah semakin banyak gereja yang telah menggunakan MBG,” ujarnya. ***Hotman J. Lumban Gaol, S.Th

Pdt. Ev. Renatus Siburian


AWAN gelap yang menggelayut di atas Kota Pematang Siantar. Alam juga masygul, turut pilu merasakan berpulang kepangkuan Bapa di sorga, seorang penginjil besar ephorus sekaligus pendiri Gereja Pentakosta Indonesia. Gereja yang didirikannya sendiri hanya dari desa kecil, yang kemudian bertumbuh menjadi sinode besar hingga ada di kota-kota besar di Indonesia. Hari itu, hari Sabtu, 20 Juni 1987 dia menghembuskan nafas terakhir. Selesai sudahlah tugasnya di dunia, yang telah mengabdikan dan menunaikan tugasnya sebagai pembawa berita Injil.

Selama di dunia mungkin Tuhan melihat hidupnya berkeluget-keluget menyebarkan Injil. Jalan yang sudah ditempuhnya sungguh panjang. Hari itu, persis di umur 72 tahun. Tuhan memanggilnya untuk beristirahat tenang dari jerih lelah selama ini. Berita meninggalnya sang evangelis itu, dengan cepat menyebar bukan saja di sekitar Kota Pematang Siantar-Sumatera Utara (sebagai pusat dari gereja yang dirintisnya). Tetapi berita itu juga sampai ke berbagai penjuru wilayah di Indonesia. Suasana tangis, haru, sedu, susah hati perasaan mereka, para pelayat bercampur baur atas berita meninggalnya sang penginjil. Ditangisi karena karyanya dan tugas panggilannya, sebagai jalan mulia membawa jiwa-jiwa mengenal Kristus. Dari berbagai penjuru hadir memberikan penghormatan terakhir.

Bukan hanya pejabat daerah yang hadir, tetapi juga para tokoh-tokoh. Baik tokoh gereja dari berbagai aras nasional datang, dan tokoh politik nasional. Karena memang selain tokoh gereja, dia juga pendiri organisasi masyarakat Organisasi Karyawan Umat Pentakosta Indonesia yang disingkat OKUPI, pendukung Golongan Karya. Sebagai seorang tokoh gereja juga, pada masanya ikut memberi andil pada kemajuan gereja di Indonesia, utamanya di Sumatera Utara. Maka, tak mengherankan jika yang hadir, kala itu, diperkirakan berbondong puluhan ribu orang datang untuk melayat, berbelasungkawa. Mereka datang dari berbagai penjuru, untuk memberikan penghormatan terakhir kepada yang mereka sebut, sang evangelis, pendeta, guru, ompung, sahabat, tokoh gereja.

Berbagai panggilan disematkan padanya. Terutama para rekan dan orang-orang yang pernah mendengarkan khotbah-khotbahnya. Juga, orang-orang yang pernah berinteraksi langsung dengannya. Jasatnya sebelum dikubur, terlebih dahulu disemayamkan selama empat hari tiga malam. Pernyataan turut berbelasungkawa ditandai juga banyaknya karangan bunga dari berbagai pihak. Iringan doa penghormatan terakhir mengingatkan puluhan ribu orang pada sosok hamba Tuhan yang semasa hidupnya telah dibentuk bagai bejana, dan kemudian dipakai Tuhan menjadi penyambung kabar kesukaan, pemberita Injil.

Wajar tangisan, haru dan simpatik dari para pelayat. Bukti yang mengungkap kadar dampak yang pernah diberinya semasa hidup. Namun, walau jasatnya kembali ke tanah, semangat dan pikiran-pikirannya tentang penginjilan tetap kuat berpengaruh hingga kini, hinggap sampai ke liang sanubari para sidang jemaat Gereja Pentakosta Indonesia. Dia yang dikenal sebagai sosok pribadi yang konsisten.

Seorang yang berani mempertahankan apa yang menjadi keyakinannya akan pentingnya menjangkau jiwa-jika bagi Tuhan-Nya. Terkadang, karena saking kuatnya mempertahankan pendapat dia sering disebut si guru dok, atau parhata sada. Dia yang dikenal seorang yang memengang teguh prinsip, pendirian, diktum hidup. Atas kematiannya “tokoh apostolik,” membangkitkan kembali ingatan pada kisah hidupnya di masa lalu.

“Parmahan” dari “Sipenggeng” Mengenang sang perintis Gereja Pentakosta Indonesia yang dimulainya di sebuah kampung, mengingat muasalnya. Tersebutlah satu hamparan alam yang maha indah. Desa yang tak pernah terlihat di peta itu, persis berada di atas bukit di bibir Danau Toba desa bernama Sipenggeng, di Kecamatan Paranginan, Kabupaten Humbang Hasundutan, Provinsi Sumatera Utara. Di alam Paranginan, rupa-rupa kebun kopi, keminyan dan hamparan ladang, sawah yang luas membuat wilayah ini menjadi kampung yang amat indah dipandang mata. Siasat para penghuninya menyingkapi kehidupan, mangula dengan menggarap tanah yang subur nan indah.

Hari-hari membawa wilayah ini dikenal sebagai kampung yang amat ramah dan tenang. Kecamatan Paranginan, sebelumnya hanya satu desa kecil. Sebagaimana umumnya di wilayah Humbang-Batak Toba, dari empat ratusan marga yang ada, masing-masing memiliki asal muasal yang disebut Bona Pasogit. Paranginan asal Bona Pasogit dari marga Siburian.

Siburian sendiri sebagaimana bagian marga yang lain berasal dari toga, group marga Simatupang punya anak tiga: Togatorop, Sianturi dan Siburian. Legendanya, awalnya, Toga Simatupang membuka kawasan perkampungan baru di daerah Kecamatan Muara di Kabupaten Tapanuli Utara, yaitu Desa Simatupang. Sementara anaknya yang paling bungsu, Siburian, katanya setelah banyak keturunannya bermigrasi ke Paranginan.

Di sana Siburian mendirikan perkampungan baru, setelah beberapa generasi menyebar hingga berbagai daerah ke penjuru wilayah. Paranginan tepatnya di huta Sipenggeng itulah lahir seorang bayi bernama Renatus Siburian pada 19 Oktober 1914. Dia dilahirkan dalam suasana tradisi dan alam budaya Batak yang terjaga ketat. Sebagaimana orang Batak punya sundut garis, atau nomor tingkatan dari garis keturunan marga. Renatus sendiri keturunan Siburian nomor ke-14, dari keturunan Siburian-Sihonongan. Itu berarti ayahnya nomor 13, anaknya nomor 15.

Renatus kakak-beradik tujuh orang, dia anak keenam dari pasangan Daniel Siburian dan istrinya boru Ompusunggu. Ayah Renatus adalah seorang Sintua, majelis gereja di HKBP Paranginan. Kakak tertuanya bernama Bileam, cerita sebenarnya bernama William, tetapi karena pengucapan yang salah jadi dipanggil Bileam, jadilah Bileam. Anak kedua adalah seorang perempuan bernama Naimasti, di kemudian hari dari cucu Naimasti inilah kelak orang yang pertama kali mendirikan Gereja Pentakosta Indonesia di wilayah Jakarta, bernama Sintua Mangasi Purba.

Anak ketiga ialah Pendeta Lukas Siburian, pendiri Gereja Pentakosta Jalan Lingga, Pematang Siantar. Anak keempat perempuan bernama Tiolina boru Siburian menikah dengan Pendeta J Rajagukguk, pendeta yang mendirikan Gereja Pentakosta Indonesia di Sumatera Timur, mereka digelari Ompu ni-Hannaria. Sebelum Renatus, anak kelima bernama Sapakua Siburian. Baru, anak keenam evangelis Renatus Siburian.

Anak ketujuh Nyonya Simamora boru Siburian. Di masa penjajahan Belanda dia dilahirkan. Di umur kanak-kanak dia sudah menunjukkan talenta sebagai orang hebat, cepat belajar, cepat berbicara. Sering disebut gartip, masih belia sudah pintar ngoceh. Walau lahir dan besar di sebuah desa yang jauh dari kota. Renatus tetap menunjukkan semangat belajar. Tak heran, kemampuan intelektualnya terasah dengan baik. Hal itu tidak lepas dari sekolah yang melecutnya sebagai anak didik yang lumayan bagus waktu itu.

Meski hanya status kampung, tetapi masa itu kampungnya sudah menjadi desa tergolong maju, memiliki seolah berpengantar bahasa luar. Maju selangkah di depan di banding dengan desa-desa lain di sekitarnya, karena di desa itu ada sekolah Elementary School (ES), berpengantar bahasa Inggris. Mengapa disebut ES? Sekolah dasar (disingkat SD; bahasa Inggris: Elementary School) adalah jenjang paling dasar pada pendidikan formal di Indonesia. Sekolah Dasar ditempuh dalam waktu 6 tahun, mulai dari kelas 1 sampai kelas 6.

Saat ini murid kelas 6 diwajibkan mengikuti Ujian Nasional (dahulu Ebtanas) yang mempengaruhi kelulusan siswa. Pada masa penjajahan Belanda, sekolah menengah tingkat atas disebut sebagai Europeesche Lagere School (ELS). Setelahnya, pada masa penjajahan Jepang, disebut dengan Sekolah Rakyat (SR). Setelah Indonesia merdeka, SR berubah menjadi Sekolah Dasar (SD) pada tanggal 13 Maret 1946. Disebut ES sebab memang sekolah ini berpengantar berbahasa Inggris.

Renatus menempuh pendidikan formalnya dari Tahun 1921 hingga Tahun 1930. Di sekolah ES Paranginan itu, guru-guru umumnya, lulusan dari Singapura. Pada masa itu hanya ada dua sekolah yang berpengantar bahasa Inggris. Satu sekolah di Paranginan dan satu lagi di Sigumpulon, Kecamatan Pahae. Sementara yang lain, waktu itu sekolah Hollandsch Inlandsch School setara sekolah dasar, berbahasa Belanda.

Lulus dari ES tersebut, Renatus kemudian melanjutkan ke pendidikan yang setara SMP sekolah Methodis English School selama tiga tahun. Sekolah ini tidak sampai tamat. Tetapi masa itu pendidikan sampai ke tingkat itu pun sudah tergolong tinggi. Masa bocah dilewatinya sebagai penggembala kerbau, parmahan. Berpetualang di hamparan alam yang sejuk, alam yang mempesona demikian indah untuk menggiring kerbaunya sudah biasa dia lakukan. Sebagai seorang gembala, cara nomaden di alam, mencari wilayah rumput hijau untuk peliharaannya.

Bergaul di alam bebas, mengasah hati dirinya kemudian hari muda sensitif dan peka terhadap keadaan. Selain aktif bergaul dengan sebantarannya, Renatus bahkan bergaul di atas umurnya. Pintar bergaul. Tetapi jangan dicoba- coba, berbuat iseng. Renatus kecil tidak mau menjadi bahan olok-olokan sepantaranya, dan memang sosoknya juga tidak suka berbuat iseng. Maka, kalau ada anak di atas umurnya memukul, berbuat iseng padanya. Renatus akan melawan, membalas memukul, tetapi dengan sigap lari untuk menghindar dari kejaran. Pembawaannya selalu riang. Dia dikenal anak yang selalu antusias. Pengalaman bergaul dengan teman- teman sebayanya, membawanya pada asah jiwa. Semasa kecil, di kampung pun Renatus selalu membagun persahabatan, termasuk pernah bergaul dengan Melanchton Siregar, walau hanya beberapa kali berjumpa.

Melancthon berasal dari Desa Pearung, di Paranginan juga. Meskipun usia mereka terpaut umur dua tahun, Renatus lebih muda dua tahun dari Melancthon, tetapi mereka bisa berbincang-bincang tanpa ada jarak, jurang pemisah. Hal itu bisa saja, karena Melancthon Siregar sendiri anak dari boru Siburian, dan juga menikah dengan boru Siburian, marga Renatus. Melancthon dikemudian hari adalah pemimpin perang gerilya di Tapanuli. Ada kesamaan pada keduanya. Pada awalnya keduanya meniti karier dari profesi guru, sebelum menemukan muara hidupnya. Sebagaimana Renatus, Melancthon juga seorang guru dulunya, sebelum kemudian menjadi politisi. Di kemudian hari Melancthon, politisi nasional ini dinilai berjasa dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Melancthon sendiri turut berperan dalam pembangunan demokrasi, politik, dan pendidikan nasional. Sementara Renatus sendiri juga pernah menjadi Guru Agama, sebelum menetapkan hati, menjadi penginjil. Kembali ke cerita huta Sipenggeng dan Renatus. Di desa itu, Renatus muda selain marmahan, juga selalu mengikuti tontonan opera. Masa itu, tontonan operalah tontonan yang paling mewah. Opera itu juga sebagai media penyebar semangat pejuangan melawan penindasan Belanda. Di opera itu juga sering ditampilkan cerita “margurilya” ditampilkan cerita perjuang seorang keluarga muda. Si suami berangkat bertempur melawan penjajah, bergerilya, harus mengusi.

Sementara si istri tinggal bersama putrinya bernama si “Butet” sambil mendendangkan lagu “Butet, di pagusian do amang, ale butet….” Pertunjukkan opera itu tanpa disadari juga memberikan semangat berkobar untuk berjuang, melawan penjajahan. Beranjak dari sering menonton, Renatus kemudian belajar memotori acara opera. Awalnya dimulai sebagai agen, penjual karcis untuk menonton. Dari sana dia banyak belajar mengelola, memanajemeni acara. Jiwa kemandirian itu amat kuat, walau masih remaja, kala itu dia bukan hanya menjadi agen menjual tiket.

Renatus juga memberanikan diri sebagai promotor acara, mengundang para pelakon opera itu untuk pentas di Paranginan. Bahkan, konon Renatus pernah mengundang Opera Batak, group Tilhang Gultom waktu itu untuk mengelar pertunjukkan. Dia sendiri mengajak anak-anak sebantarannya untuk menyokong suksesnya acara. Sementara yang masih kanak-kanak disuruhnya untuk manortor, menari membantu semaraknya pertunjukkan. Saat anak-anak menari-nari itu, semua penonton memberikan uang kepada anak-penari. Lalu uang tersebut dikumpulkannya, kemudian membayarkan honor para pelakon opera.

Sementara pendukung acara, anak-anak tadi dibaginya sepantasnya. Jiwa kemandiriannya, mengorganisir dan mempengaruhi orang sudah terlihat. Sebagai anak muda yang selalu cepat belajar. Selain itu, dari kebiasaan menonton-mensponsori acara-cara opera, Renatus diam-diam mengamati para pemain musiknya. Dari mengamati dan mulai mencoba yang kemudian terlatih. Bisa memiliki kemampuan bermusik, bahkan berteater bak aktor berakting.

Soal musik, musikalitasnya memuncak dengan menguasai hampir seluruh alat musik masa itu; dari gitar melodi, harmonika, suling. Selain itu, Renatus pintar main akordion, alat musik sejenis organ yang sering dia mainkan. Akordion sendiri adalah musik yang biasa digunakan masyarakat Melayu Deli. Akordion ini relatif kecil dan dimainkannya dengan cara digantungkan di badan. Lihai memainkan akordion, Renatus sebagai si pemusik memainkan tombol-tombol akor dengan jari-jari tangan kiri.

Sedangkan jari-jari tangan kanannya memainkan melodi lagu yang dibawakan. Dia sudah pada tingkat pemain yang sudah terlatih, sebab dapat berganti-ganti tangan. Renatus memiliki kesukaan mendengar, lalu mengamati setelah itu dipikirkan lagi. Segalanya, mendengar lalu mengamati. Itu sebab tatkala mendengar pemberita Injil, ketika dimulainya di Palembang mendengar khotbah Pendeta Siwi. Itu menghujam dalam pada loh hatinya. Apa yang didengarnya tentang akan akhir zaman, bahwa ujung dunia sebentar lagi akan berakhir.

Dipikirkannya dengan merenungkan hal itu. Dia makin tersentuh, dari mendengar dan kemudian membaca Injil. Dari kebiasaan merenungkan Firman Tuhan yang dia dengar, Renatus bertumbuh secara rohani, spiritnya menjadi seorang yang meneguhkan diri sebagai seorang pembelajar. Dari fase-fase itu, Renatus mulai mendeskripsikan panggilan melayani, memberitakan Firman Tuhan hingga maranatha terus bergelora.

Dari mendengar, kemudian mempelajari lalu mempraktekkannya, lalu terus-menerus hingga ke tahap mampu membuat orang yang mendengarnya merasa seolah-olah berada di tempat yang disampaikannya. Dari mendengar, dan membaca terus menerus, konsisten membaca Firman Tuhan, mengubah kelakuan dan tindakannya menjadi orang yang berubah total. Bertobat meninggalkan jalan yang salah, yang selama ini dia nikmati. Dari yang dulunya tidak terpikir menjadi penginjil. Panggilan itu terus tergiang-giang.

“Yesus Kristus telah membawa keselamatan, mari kita bergegas memperbaiki diri. Memperbaiki kelakuan kita. Sebab sebentar lagi Tuhan datang menjemput kita.” Pertemuan dengan pendeta Siwi membawanya pada pertobatan, menetapkan diri menerima panggilan menjadi penginjil. “Saya merenungkan Firman Tuhan Matius duapuluh depan ayat sembilanbelas sampai duapuluh yang menyuruh umatnya untuk memberitakan Injil.”

Ayat itu, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Rohkudus dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Ku-perintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Ayat itu memberikannya semacam gairah baru untuk mewujudkan panggilan melayani. Doa sungguh-sungguh, sejak itu membuat keputusan—komitmen menjadi penginjil, meminta Tuhan memberinya kekuatan untuk menjadi penginjil. Sejak itu, Renatus tekun membaca Alkitab, lalu makin biasa dan mampu menarasikan tokoh- tokoh Alkitab dengan baik.

Di kemudian hari, setelah lulusan dari sekolah Alkitab pun setelah menjadi seorang evangelis, dia makin bening bercerita, makin sistimatis menceritakan isi Alkitab. Termasuk cerita-cerita dan kisah-kisah yang baru dia baca, bisa lagi diceritakannya kembali dengan baik. Juga, oleh karena belajar teater di kampungnya, melatih dirinya olah vocal yang dikemudian hari setelah menjadi penginjil, maka biasa mengekpresikan, memainkan tokoh antagonis maupun protagonisnya di Alkitab. Itulah Renatus, parmahan di masa kanak-kanak, yang di kemudian hari menjadi gembala bagi banyak sidang jemaat Gereja Pentakosta Indonesia. Ditulis, Hotman J Lumban Gaol, editor buku.

Pdt. Ev. Renatus Siburian (1914-1987), Pendiri Gereja Pentakosta Indonesia (GPI)

Pelopor Gerakan Pentakosta di Tanah Batak

1-Halaman-1 GERAKAN Pentakosta dimulai sekitar tahun 1901. Gerakan ini diakui berasal pada waktu Agnes Ozman, menerima karunia berbahasa roh, glossolalia. Awalnya dilatari persekutuan doa di Sekolah Alkitab Bethel di Topeka, Kansas, oleh Parham, seorang pendeta yang berlatar belakang Metodis, merumuskan ajaran bahwa bahasa roh adalah bukti alkitabiah dari baptisan Roh Kudus. Gerakan Pentakosta yang dimulai di Amerika Serikat ini, telah juga merambah ke seluruh penjuru. Termasuk ke Indonesia.

Di Tanah Batak berdiri Gereja Pentakosta Indonesia (GPI) lahir dari pergulatan seorang guru agama, Renatus Siburian. Siapakah Renatus Siburian? Dia adalah seorang pendeta, penginjil, dan pendiri GPI. Pria kelahiran 19 Oktober 1914 di Kecamatan Paranginan, Kabupaten Humbang-Hasundutan, Provinsi Sumatera Utara. Meninggal di umur 72 tahun, tepatnya 20 Juni 1987. Di awal-awal mendirikan gereja, dia banyak mengalami keruwetan, cobaan hidup.

Tetapi semuanya dilaluinya dengan penyerahan diri total pada Tuhan-Nya. Dalam melayani, baginya, perjuangan salib selalu memberikan kekuatan dan jalan keluar. Dalam tugasnya sebagai penginjil pernah dia tidak melihat anaknya meninggal, sebanyak tiga kali, sebab kesibukannya untuk mengemban tugas yang dipikulkannya.

Renatus berfundamen pada Alkitab, orang yang berpendirian yang teguh. Bagi dia perlu menekankan pengalaman rohani pribadi. Baginya, punya pandangan terhadap dunia. Meskipun baginya sangat memperhatikan keyakinan yang benar, tetapi juga menekankan perasaan yang benar, dan dan tindakan yang benar. “Penalaran dihargai sebagai bukti kebenaran yang sahih, tetapi orang-orang Pentakosta tidak membatasi kebenaran hanya pada ranah nalar.”

Prinsip Renatus, bahwa Roh Kudus mengajar kita melalui Alkitab bahwa caranya adalah terus melayani. Bagi Renatus, peranan karunia-karunia Roh Kudus. Dia menekankan keyakinan akan peranan Roh Kudus dan karunia-karunia Roh Kudus di dalam kehidupan sehari-hari orang yang dimuridkan.

Dianggap tak lazim

Pergulatan iman dan pergulatan teologi, Pendeta Renatus Siburian menenguhkan dirinya merintis GPI. Hinaan dan segala macam hambatan tidak pernah menghalanginya untuk menyebarkan Injil. Bahkan, dia dituduh menyebarkan agama baru yaitu; agama Siburian.

Semula Renatus berpikir tak ada perlu membuka organisasi agama, yang penting adalah menyapaikan kabar baik, menginjil. Namun, apa yang terjadi, pergolakan batin melihat orang-orang yang telah ditobatkan, yang telah dibaptis jumlahnya sudah ribuan orang. Tidak mempunyai tempat peribadahan yang tetap. Akhirnya Renatus mendirikan Gereja Pentakosta Indonesia. Di mulai kampungnya, dari sana berkembang pesat.

Tahun 1942, Renatus mendirikan organisasi keagamaan yang dinamakan Gereja Pentakosta Tanah Batak Tapanuli. Ini dimungkinkan karena pada waktu itu adalah peralihan pemerintahan Belanda ke pemerintahan Jepang. Jiwa patriotismenya dia implementasikan pada semangat dalam kehidupan terus berjuang. Kemerdekaan bagi Renatus sangat mendalam sekali.

Pergulatan teologi Renatus, di awal-awal mendirikan GPI, dia dianggap menyebarkan ajaran lain. Sebab dia mengadakan parpunguan, kebaktian di rumah-rumah. Oleh masyarakat ketika itu, mencap GPI menolak ritual dan budaya Batak. Bahwa adat bagi Renatus lebih merintangi untuk kusuk berdoa. Itu sebabnya pengucilan itu terjadi pada Renatus dan terhadap anggota jemaatnya. Karena mereka dianggap manusia aneh, beribadah dengan tepuk tangan, berdoa dengan suara yang kuat, dan lebih mementingkan pekerjaan Tuhan.

Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) yang dipimpinnya, yang unik bahwa setelah KKR yang selalu diadakan di luar rumah misalnya di halaman, di lapangan terbuka dan di pasar-pasar umum. Dan sering pula diadakan tanya jawab tentang ajaran Pentakosta dan tentang isi Alkitab. Juga baptisan massal selalu diadakan di tempat terbuka, di sungai, di kolam maka tak jarang disaksikan oleh banyak orang.

Murid Patterson

Renatus menempuh pendidikan formal; Tahun 1921-1930 dari Sekolah Inggris. Tahun 1936  dia tamat dari Sekolah Alkitab Jalan Embong Malang, Surabaya. Guru yang paling membuatnya untuk teguh melayani adalah Pendeta W. Patterson. Setelah lulus dia menginjil dan membuka gereja di Berastagi, tetapi mendapat halangan dari Pemerintah Belanda karena besleit atau izin untuk menginjil belum juga keluar. Belakangan diketahui, terkait izin dari Gubernur Jenderal, Belanda, tidak diberi karena Renatus dicap sebagai nasionalis.

Sebelumnya menjadi pendeta adalah seorang guru agama, tahun 1939. Ruang penginjilannya selalu ditekan Belanda, maka Pendeta Siburian pindah ke satu kota kecil bernama Kisaran, dan bekerja sebagai guru agama di gereja Huria Christian Batak (HCB) satu gereja beraliran Protestan. Dengan demikian dia dapat melakukan kegiatan penginjilannya di sekitar daerah itu dengan gerakan Roh Kudus di daerah Asahan dan Labuhanbatu. Bahkan pada saat itu banyak orang yang dibaptis, termasuk beberapa anggota gereja HCB tadi.

Tahun 1941, karena merasa gerakan penginjilannya terbatas di daerah tersebut lebih sebagai guru agama HCB, maka dia menuju kota Balige di Tapanuli Utara, dan mulai mengadakan gerakan penginjilan di daerah tersebut. Kini, GPI berkembang dan menyebar di Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Papua.  Dari satu gereja yang didirikan di Paranginan, sekarang sudah ribuan gereja. Sekarang GPI punya sinode sendiri yang berjumlah 1117 gereja di hampir semua provinsi di Indonesia, bahkan dalam perkembangan selanjutnya, GPI telah mengembangkan misinya ke luar negeri.

ditulis, Hotman J Lumban Gaol