Hendrik Dikson Sirait


Aktivis Pergerakan Hendrik Dikson Sirait:

“Kedua Kuping dan Tangan Saya Disetrum, Tubuh Saya Disunduti Rokok”

Oleh: Hotman J. Lumban Gaol

HendrikHendrik Dikson Sirait namanya, tapi ia biasa dipanggil “Iblis”. Lajang kelahiran Jakarta, 5 Januari 1972 ini  dulunya bercita-cita ingin menjadi jurnalis, setelah menamatkan studinya. Tetapi hal itu urung, karena dunia pergerakan lebih menyeretnya menjadi aktivis pro-demokrasi, khususnya di Front Aksi Mahasiswa Indonesia (FAMI). Lebih dari 20 tahun lalu, Hendrik bersama teman-temannya sesama kelompok di pergerakan mengusung spanduk “Seret Presiden ke Sidang Istimewa MPR.” Padahal saat itu Soeharto masih kokoh di puncak kekuasaan.

Banyak pengalaman getir dalam kehidupan alumnus FISIP Universitas Nasional ini, khususnya saat diculik di tahun 1996. Saat itu dia mendapat perlakukan yang menyakitkan. Berikut bincang-bincang Reformata dengan mantan Kordinator Advokasi Pijar Indonesia dan aktivis Aliansi Demokrasi Rakyat (Aldera) ini.

Boleh ceritakan pengalaman di pergerakan mahasiswa, dulu?

Saya aktif sejak tahun 1991 di pergerakan mahasiswa, dalam gerakan di kampus. Saya sesungguhnya aktivis dari GMNI, tetapi karena kurang puas terhadap keadaan, masuk dalam kelompok-kelompok pergerakan. Waktu itu kita melihat keadaan makin runyam. Kepedulian terhadap persoalan realitas sosial dan politik yang masih sangat tidak mencerminkan keadilan dan tidak demokratis. Lalu saya bergabung dengan Aldera. Tujuan kami waktu itu adalah untuk memperjuangkan reformasi, sebagai jalan menuju demokratisasi di Indonesia. Aldera melakukan demo ke DPR. Lalu saya juga terlibat untuk mengadvokasi masyarakat, misalnya terhadap petani Rancamaya, Jatiwangi dan lain-lain. Juga mengkoordinir penyelenggaraan diskusi, seminar dan forum-forum sejenisnya. Pendeknya, reformasi politik dan gerakan anti-Soeharto.

 Apa yang berbeda dulu dibanding sekarang terkait orang-orang pergerakan?

Kalau dulu lawan kita jelas, hanya Soeharto dan kroninya. Sekarang kroni-kroni Soeharto sudah bermetamorfosa, mengambil wajah lain. Tak mengherankan yang dulu kawan sekarang bisa menjadi lawan.

Tanggapan Anda terhadap teman-teman sesama aktivis di Aldera yang mengkhianati perjuangan –masuk pada lingkungan kekuasaan partai politik?

Saya kira itu hak mereka. Ada orang seperti sifat Yudas. Bagi orang yang menggadaikan idealismenya, bagi saya itu amat naif. Rakyat pasti tahu orang-orang seperti itu, entahkarena tawaran apa bisa mengkhianati nuraninya.

Mengingat masifnya anti-demokrasi, apa yang dikerjakan pergerakan pro-demokrasi waktu itu?

Jelas adalah sistem politik yang demokratis, dimana masing-masing lembaga kekuasaan mempunyai pembatasan dan pemisahan yang tegas, yang tidak memungkinkan terjadinya dominasi. Namun, kelemahan dari kelompok pro-demokrasi adalah kurang bersuara, maka kelompok anti-demokrasi itulah yang sepertinya lebih kuat.

Pengalaman pahit ketika Anda diculik, tolong ceritakan…

Sebenarnya saya sudah malas menceritakan hal itu. Saya pernah beberapa kali ditangkap. Ditangkap karena menolak pencalonan Soeharto sebagai presiden. Karena demo penolakan itu, tahun 1993, saya dipenjara selama 10 bulan bersama dengan 20 aktivis lainnya. Saya dan teman-teman dibebaskan karena ada saksi ahli, Sabam Sirait, menjelaskan soal demo mahasiswa. Tetapi, yang paling menyakitkan adalah penculikan 1 Agustus 1996. Saya diculik oleh aparat intelijen Badan Koordinasi dan Pemantapan Stabilitas Nasional Tingkat Daerah (Bakorstanasda) seusai menghadiri sidang gugatan Megawati Soekarnoputri pada tanggal 1 Agustus di Pengadilan Negeri, Jalan Gajahmada, Jakarta Pusat. Penculikan itu, ketika saya sedang menunggu bis, saya memang melihat beberapa orang yang mencurigakan berdiri di samping kanan dan kiri saya. Secara tiba-tiba langsung meninju wajah saya.

Lalu dari Gajahmada dibawa kemana?

Saya dibawa ke salah satu gedung di sekitar lokasi kejadian. Tak berapa lama, datang mobil menjemput. Di dalam mobil itu saya ditengkurapkan. Muka saya ditutup dengan tas, sehingga saya tidak bisa melihat keluar. Setiba di markas mereka, wajah saya ditutup dengan kaos saya sendiri, mungkin supaya tidak mengenali lokasi markas mereka. Saya lalu dimasukkan ke dalam sel. Kurang lebih sepuluh menit kemudian, saya dipanggil dan dibawa ke sebuah ruangan yang belakangan dipakai sebagai  tempat penginterogasian. Begitu saya berada di ruangan sudah menunggu lima orang aparat intelijen. Tanpa bertanya kelima orang itu langsung menghajar saya secara membabi-buta. Saya disuruh menanggalkan seluruh pakaian saya, kecuali celana dalam. Dan selama di sana, saya hanya menggunakan celana dalam. Pada saat itu, saya sempat membaca mesin tik mereka yang bertuliskan Inteldam Jaya. Barulah saya sadar, ternyata saya berada di Bakorstanasda.

Apa yang Anda lakukan sehingga menjadi korban, diculik?

Saya sempat berteriak. Saya juga tanyakan itu, apa salah saya? Tetapi dua orang lagi kawan si pemukul langsung mengeroyok saya. Saya diculik sebagai Koordinator Divisi Aksi Biro Advokasi. Dibebaskan pada tanggal 26 Agustus 1996, setelah ditahan 25 hari.

Apa yang ditanyakan pada Anda?

Saya diinterogasi. Pada intinya, selama dua hari penginterogasian itu saya dipaksa untuk mengakui bahwa sayalah dalang sekaligus pelaku pengrusakan dan pembakaran seluruh gedung-gedung dan kendaraan pada Peristiwa 27 Juli. Saya pun dipaksa mengaku sebagai yang mengomandoi massa untuk melawan aparat keamanan, meski sebenarnya saya punya alibi kuat yang menunjukkan bahwa saya tidak ada di sana. Selain itu saya juga dipaksa mengaku sebagai anggota Partai Rakyat Demokratik (PRD). Lebih parah lagi, saya dipaksa mengaku berencana melakukan pemboman terhadap sejumlah gedung di Jakarta. Saya juga dipaksa mengakui bahwa motivasi saya melakukan semua itu karena saya ingin menjadi menteri dalam negeri. Sungguh keji tuduhan mereka. Karena penyiksaan itu, saya pun terpaksa mengiyakan.

Selain pemukulan, perlakukan apa lagi yang Anda terima?

Kedua kuping dan tangan saya disetrum. Tubuh saya disunduti rokok, dipukuli dan ditendang selama penginterogasian. Terhadap semua itu, sedikit pun saya tidak mendendam terhadap mereka yang telah menganiaya saya. Karena saya yakin, mereka pun tidak mengerti apa yang mereka lakukan. Sebalum saya dibebaskan, pada tanggal 6 Agustus 1996, saya dipindahkan ke Kepolisian Daerah Metro Jakarta Raya. Di sana saya mendapat perlakuan yang jauh berbeda. Saya akui, aparat polisi lebih proporsional dan sangat persuasif dalam penanganan kasus politik. Tidak ada kekerasan terhadap saya selama di sana. Bahkan, mereka prihatin menyaksikan bekas-bekas luka dan mendengarkan cerita siksaan terhadap saya. Akhirnya saya dibebaskan, meski secara bersyarat, yaitu harus wajib lapor ke Polda Metro Jaya dua kali seminggu.

Kami dengar Anda saat ini baru mendirikan perhimpunan baru?

Oh, itu Front Aksi Mahasiswa Indonesia (FAMI). Kami dirikan bukan sekedar ingin mengenang peristiwa 20 tahun lalu saja. Sebenarnya ini warning atas kekhawatiran merebaknya kembali gejala Soehartoisme.

Maksudnya bahaya Orde Baru?

Soal pemikiran Soeharto yang kelihatannya bangkit kembali. Mulai dari penyebaran kaos, lalu stiker. Bahkan, dimanifes dalam bentuk museum Soeharto, ketika anak-anak sekolah berkunjung ke museum. Ada kaos-kaos bertuliskan: “Enak jamanku toh?” Tentu saya marah ketika ada yang memakai kaos itu. Karena yang memakai kebanyakan generasi muda yang tidak mengerti apa yang terjadi pada masa Orde Baru. Kita bisa melihat dari partai-partai yang sepertinya mengusung demokrasi, padahal sesungguhnya adalah kekuatan lama yang bersemayam.

 

Afriyani Silitonga


Franky-1Perempuan muda beprestasi ini, punya komitmen untuk memperjuangkan kesejahteraan rakyat, itulah yang menjadi cita-cita Afriyani Silitonga terjun ke politik. Afriyani awalnya seorang entreprenur, sebagai pemilik rumah lulur Frangipani. Tetapi tetap aktif dalam gerakan pemuda gereja. Dia juga aktif bersama Bekasi Youth Ministry melakukan pelayanan. Termasuk aktif beribadah mendukung GKI Yasmin dan HKBP Filadelpia di Depan Istana Presiden. Sebelum menikah hingga kini, dia juga aktif menjadi pelatih koor. Sekarang ini, sudah 9 tahun, pelatih koor Naposobulung di HKBP Setia Mekar, Bekasi, Jawa Barat.

Perempuan kelahiran 24 April 1979. Menikah dengan Frenki Tampubolon S.Si Teol, MM dan diberi karunia 1 orang putra Divo Aurelius yang kini berusia 6 tahun.  Berlatar belakang pendidikan Sarjana Bahasa Perancis, dan beberapa pelatihan nonformal nasional dan internasional dalam meningkatkan profesionalisme kerja, Public Relation, Marketing dan Etos Kerja.

Telah berkarya lebih dari 10 tahun di bidang Personal Asisstant, Marketing dan Komunikasi di beberapa Industri Multinasional and Internasional.Meniti karir di mulai dari seorang staff Marketing hingga diberada diposisi Marketing dan Communication Manager karena memiliki dedikasi dan tingkat kejujuran yang tinggi. Peningkatan jenjang karir ini pun didukung oleh kemampuan bahasa asing yang aktif yaitu Bahasa Inggris dan Perancis.

Disela-sela kesibukan pekerjaannya, dia secara sukarela membantu kegiatan-kegiatan sosial masyarakat dalam pertemuan internasional. Menjadi moderator maupun pembawa acara. Salah satunya adalah menjadi pembawa acara dalam memperingati 50 tahun konferensi Asia Afrika yang diselenggarakan oleh ICRP (Indonesia Conference in Religion and Peace) bekerja sama dengan Kementrian Luar Negeri dihadiri oleh perwakilan negara-negara Asia dan Afrika penutur bahasa Perancis.

Afriyani memiliki musikalitas tinggi. Sejak kecil dia rajin mengikuti kelompok musik dan paduan suara baik di sekolah  maupun di komunitas Gereja. Ketika bersekolah di SDN Duren 07 – Perumnas 3 dia aktif sebagai penabuh kendang dan Sinden untuk group kesenian karawitan di sekolah tersebut. Dan selama di bangku SMA penghargaan di bidang tarik suara kerap diperoleh agar mendapatkan beasiswa penuh dari sekolah. Berlanjut di bangku kuliah Jurusan Bahasa Perancis Universitas Negeri Jakarta beliau aktif dalam kelompok tari tradisional yang tergabung dalam organisasi mahasiswa ketika itu. Karena itu juga dia seringkali diundang untuk mempersembahkan tarian-tarian tradisional Betawi, Sunda dan Aceh dalam jamuan internasional di beberapa kedutaan Asing di Jakarta.

franky-2Saat ini, Afriyani Silitonga aktif sebagai pengurus inti BIPARTIT diperusahaan tempatnya bekerja sebuah perusahaan Logistic joint venture Indonesia dan Swedia yang berpusat di Dubai, UAE. Sebagai pengurus harian yang harus selalu siap menampung segala keluhan karyawan dan pengusaha dalam menangani permasalahan perusahaan. Berkat pengetahuan berkomunikasi dan memiliki etos kerja yang baik, dia wajib menjadi jembatan bagi kedua pihak dalam mencari “win win solution” dan menjadi motivator bagi rekan-rekan sekerja maupun teman-temannya yang lain agar memiliki etos kerja yang baik sesuai dengan norma-norma sesuai tradisi dan budaya Indonesia.

Berkat dorongan dan restu dari suami tercinta yang selama ini aktif memperjuangkan kemajemukan, keadilan sosial dan toleransi melalui lembaga sosial masyarakat, serta pengembangan karakter pemuda di Tanah Air, Afriyani Silitonga menerima pinangan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) untuk memenangkan kursi legislatif di DPRD KOTA Bekasi dari Daerah Pemilihan I Kecamatan Bekasi Timur yang melingkupi 4 kelurahan yaitu Bekasi Jaya, Duren Jaya, Aren Jaya dan Margahayu.

Mengap terjun menjadi politisi? “Saya terjun menjadi politisi, karena ingin memperjuangkan aspirasi kaum muda dan perempuan. Selama ini, saya melihat tidak banyak orang yang konsen di bidang ini. Saya juga berkomitmen memperjuangkan kemajemukan di Kota Bekasi Kota Patriot terwujud. Tentu melalui restu dari orangtua maka peluang untuk membangun pemuda yang memiliki karakter unggul, beretika, memiliki semangat belajar tinggi, berbudaya dan berjiwa patriot akan diwujudkan di Kota Bekasi,” ujarnya.

franky-3Bagi saya, tambahnya, panggilan untuk membangun masyarakat Kota Bekasi, kota yang telah memberikan 30 tahun lebih pijakan hidup menghantar pada kesimpulan saatnya Kota Bekasi Hebat. Ya, Hebat dalam segala hal terutama menjunjung tinggi Patriotisme Pancasila.

Saat ini, dia bersama suami aktif dalam sebuah organisasi sosial masyarakat bernama Komunitas Berbagi Hidup. Mereka bentuk sejak tahun 2007 sampai saat ini. Organisasi ini fokus dalam memperjuangkan hak-hak perempuan, anak-anak dan pemuda terutama memperjuangkan stigma dan diskriminasi bagi mereka-mereka yang terpapar HIV-AIDS.

franky-4Pengalamannya mengikuti diskusi dan pelatihan internasional di beberapa negara-negara maju di Asia, Australia dan Eropa menjadi bekal kecintaannya atas Tanah Air Indonesia yang sebenarnya memiliki potensi yang lebih baik dan lebih kaya jika dikelola dengan cerdas, beretika dan mendahulukan kepentingan umum dengan semangat pada semangat kaum perempuan yang kuat untuk mencetak kaum muda yang unggul dimulai dari rumah tangga, komunitas RT,RW, Kelurahan, Kecamatan hingga Kota Bekasi demi  mewujudkan Indonesia Hebat. “Jika saya terpilih nanti menjadi wakil rakyat di Kota Bekasi. Saya berkomitmen. Saya akan memperjuangkan kemajemukan bangsa. Fokus saya pada pemuda dan perempuan,” ujarnya mantab.

Saur Tumiur Situmorang


DSCN0053

Saur Tumiur Situmorang

Perempuan kelahiran Medan, 25 Desember 1960 adalah anggota Komisioner Komnas Perempuan. Dia menyelesaikan pendidikan dari Sekolah Dasar Negeri 100, Sekolah Menengah Pertama Negeri VII, dan Sekolah Menengah Atas Negeri V, semuanya di kota kelahirannya. Kemudian tahun 1980 melanjutkan pendidikan ke Fakultas Hukum, Universitas 17 Agustus 1945, Semarang. Tahun 1997 mendalami Community Development dengan mengambil program masteral di College of Social Work and Community Development di University of the Philippine, Diliman, Quezon City, Philippine. Mengikuti Human Rights Training di Oxford University, Inggris pada tahun 2000.

Bekerja bersama kelompok masyarakat yang dimarjinalkan oleh sistem pembangunan khususnya komunitas petani di Sumatera Utara sejak 1988 saat dia mulai bergabung dengan KSPPM (Kelompok Studi dan Pengembangan Prakarsa Masyarakat) sebagai staff Hukum dan Kemasyarakatan , seterusnya menjadi Direktur Program KSPPM satu periode, dan sebagai sekretaris pelaksana selama 2 periode.

Ikut mendirikan beberapa Ornop di Sumatera Utara, antara lain, BAKUMSU (Bantuan Hukum dan Advokasi Hak-Hak Rakyat Sumatera Utara), dan Petrasa (Pengembangan Ekonomi dan Teknologi Rakyat Selaras Alam). Pernah menjadi pengurus di beberapa jaringan Ornop, antara lain:

Jaringan Kerja Lembaga Pelayanan Kristen Indonesia (JK-LPK); Kelompok Kerja Indonesia untuk Penanggulangan Kemiskinan Struktural (KIKIS); International NGO Forum for Indonesian Development (INFID); dan Board of Indonesian Organic Certification (BioCert); Aktif menulis di buletin Prakarsa, menulis buku Arti dan Fungsi Tanah Bagi masyarakat Batak bersama Dr. Bungaran Antonius Simanjuntak, dan beberapa tulisan yang dimuat di buku terbitan Bakumsu dan KSPPM.

Lembaga Agama Cenderung Melindungi Institusinya!

LEMBAGA pendidikan dan institusi agama seharusnya menjadi mercusuar pene-gakan hak perempuan. “Pelecehan seksual menjadi ironi besar bagi lembaga-lembaga itu,” kata Saur Tumiur Situmorang SH., M.Sc., komisioner HAM Perempuan, yang sejak 1988 bergabung dengan KSPPM (Kelompok Studi Pengem-bangan Prakarsa Masyarakat) Siborong-borong, Sumatera Utara untuk isu petani dan masyarakat adat dan kemudian menjadi Sekretaris Eksekutif CREDO (Center for Organization and Democracy Development) ini.

Berikut bincang-bincang dengan Komisioner bidang pemantauan Komnas HAM Perempuan seputar pelecehan seksual yang dilakukan oleh oknum pendeta yang juga dosen di sebuah sekolah Alkitab khusus putri yang berlokasi di Laguboti, Tobasa, Sumatera Utara.

Bagaimana Komnas HAM perempuan melihat dugaan pelecehan seksual oknum pendeta itu?
Sebetulnya di tahun 2008, ada juga kasus dari gereja yang bersangkutan masuk ke mari, yaitu mengenai sangkaan pelecehan seksual yang dilakukan pendeta terhadap pegawainya. Cuma kami sangat prihatin karena pucuk pimpinan gereja itu tidak memberikan kepastian terhadap penyelesaian kasus itu. Sampai sekarang hak korban masih terkatung-katung. Seharusnya institusi gereja memberikan penyelesaian yang menghargai hak-hak korban.

Untuk kasus mahasiswi Alkitab belum lama ini?
Secara tertulis, kasus itu memang belum sampai ke Komnas Perempuan. Hanya ada teman yang ikut mendam-pingi kelompok itu menelpon, kemudian secara substantif kita meminta mereka menyampaikannya secara tertulis. Sampai sekarang belum, jadi asumsi kita, mereka mau menyelesaikan dulu secara internal. Namun karena sudah disampaikan ke kita, kita sudah bicarakan di Komnas Perempuan. Kebijakan kita, tetap kita melihat bahwa kasus itu harus diselesaikan, baik secara hukum maupun oleh lembaga gereja sebagai institusi. Juga supaya ada semacam tim untuk trauma healing pada korban.

Bagaimana Anda sen-diri melihat kasus itu?
Terus terang saya juga prihatin. Kemudian saya juga turut salut kepada para korban yang berani membuka kasus itu. Saya pikir, kejadian serupa banyak terjadi, tidak hanya di gereja itu, termasuk kasus Anand Khrisna yang disangkakan seperti itu, tapi sedikit korban yang bersuara. Jadi saya kira ini adalah langkah awal untuk melakukan advokasi secara nasional, bagaimana institusi agama dan institusi pendidikan memberikan perha-tian pada pencegahan dari tindakan serupa yaitu kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan.

Bagaimana penyelesaian kasus yang melibatkan pejabat agama selama ini?
Setidaknya yang kami alami, lembaga agama ini cenderung melindungi institusinya. Takut kalau ini terbongkar, seolah-olah ini merupakan aib institusi begitu. Mereka tidak melihatnya sebagai kesempatan untuk refleksi. Ini proteksi bagi si pelaku. Kalaupun ada penyelesaian, biasanya terjadi penyelesaian diam-diam, barangkali dengan dimutasikan. Saya lihat untuk kasus Aceh, ya penyelesaiannya hanya sekadar mutasi, tanpa ada pengakuan bahwa telah terjadi kasus tersebut. Itu yang membuat kita berpikir untuk mendorong lembaga-lembaga di institusi agama untuk membuat mekanisme bagaimana mengatasi masalah ini dan pemulihan bila sudah terjadi, dan bagaimana agar hal itu tidak terjadi. Agar ada mekanisme untuk mahasiswa, umatnya atau rekan kerjanya.

Karena yang melakukan itu pendeta, banyak pihak yang meragukan kesaksian korban. Mereka dianggap menipu?
Bagi kami, keterangan korban adalah kebenaran. Untuk mengecek itu benar atau salah itu bukan tugas kami, tapi tugas polisi. Tugas kami melindungi korban. Kalau pimpinan gereja mengatakan itu, itu yang saya katakan, mereka begitu proteksi terhadap institusinya, sehingga tidak membuka mata dan hati mereka bahwa pendeta atau pastor itu adalah manusia yang mungkin bisa saja jatuh. Yang terjadi itu kan kekerasan terhadap perempuan dalam relasi kekuasaan. Ada posisi tidak seimbang antara dosen dengan mahasiswa, sehingga mungkin saja si mahasiswa itu respek berlebihan terhadap dosen.

Mengapa lembaga agama itu bisa mengambil peran yang sebaliknya dari kodratnya?
Itu karena ada relasi kekuasaan. Pendeta dikultuskan. Orang melihat pendeta itu seolah melihat wakil Tuhan. Apa pun tindakannya, diasumsikan pasti kasih. Dalam keseharian saya juga mengkritisi teman-teman pen-deta, bagaimana agar mereka tidak menyalahgunakan keper-cayaan jemaat atau umat.

Memang ada kalanya ketika umat itu mempercayai gembalanya, percaya pendeta atau pastornya, dia yakin sebagai totalitas. Ketika itu, kadang ada sesuatu yang menjadi tidak rasional. Dia selalu tunduk saja, sampai dia sadar ada sesuatu yang tidak sewajarnya. Ketika itu terjadi, belum tentu dia punya keberanian untuk mengungkapkan. Jadi butuh satu keberanian yang luar biasa bagi jemaat atau umat yang menjadi korban untuk membuka persoalan ini.

Karena terbangun image bahwa pemimpin gereja atau ulama itu adalah kultus kudus, sehingga orang yang menjadi korban itu dianggap sebagai memberikan informasi yang bohong, fitnah dan lain-lain. Orang mengatakan, pendeta itu sangat baik, tidak mungkin dia melakukan itu. ditulis, Paul Makugoru.

Sumber: Reformata.com

Betty Julinar Sitorus


Betty Julinar Sitorus

Betty SitorusSosok Perempuan Pejuang Pembangunan Gereja

Wahid Institut sejak tahun 2009 menunjukkan peningkatan terhadap kekerasan agama. Kasus pelanggar, penutupan rumah ibadah malah juga sering dilakukan aparat negara. Tak jauh-jauh, Satpol PP, yang beberapa waktu lalu membongkar paksa pembongkaran gereja HKBP Setu. “Banyak kasus penutupan ibadah dilakukan atas tekanan massa terhadap pemerintah daerah. Olehnya kita harus cerdas, kita harus berarti melawan segala ketidakadilan,” ujar Betty Sitorus.

Sosok perempuan di balik pendirian gereja HKBP Cinere, ini. Tatkala HKBP Cinere membangun, mendapat tekanan dari pemerintah kota Depok. Sebagaimana awalnya, HKBP Cinere, Pangkalan Jati yang berdiri pada tahun 1980. Pada awal berdirinya, jemaatnya berjumlah kurang lebih 11 kepala keluarga, yang tinggal di Kompleks Hankam, Kompleks TNI AL Pangkalan Jati dan Perumahan BPK Gandul. Kebaktian hari minggu pada mulanya diselengarakan di rumah salah seorang keluarga. Tetapi, ketika hendak membangun gedung gereja proses izinnya berbelit-belit. Lama sekali dikeluarkan. Yang lucu setelah surat IMB juga keluar malah dilarang dibangun.

Lalu, alasan pencabutan IMB oleh walikota waktu itu? Adalah karena masih dalam masa tenang pemilihan walikota. Sebenarnya berawal dari tanggal 27 Maret 2009, Walikota Depok Nur Mahmudi Ismail menyatakan mencabut IMB Tempat Ibadah atas nama HKBP Pangakalan Jati Gandul yang beralamat di Jalan Puri Pesanggarahan IV Kav NT-24 Kelurahan Cinere Kecamatan Limo, Kota Depok, Jawa Barat. Padahal, sebelumnya HKBP telah mendapatkan IMB yang diterbitkan Pemerintah Kabupaten Bogor dengan Nomor 453.2/229/TKB/1998 tanggal 13 Juni 1998.

Betty mengatakan, dasar pencabutan IMB melanggar konsitusi. Bagi Betty, itu bukan alasan. “Kita harus berani berjuang untuk melawan kesemena-menaan apara terhadap gereja.” Hakikat yang kita mau tunjukkan adalah bahwa perempuan bukan makhluk yang lebih lemah? Bagi dia, semangat untuk tetap tabah dalam berjuang mendirikan dan memenuhi semua prasyarat yang dibutuhkan, itu perlu. Karena itu dia tak jengah, bersama jemaat lain terutama perempuan bergerak dengan inisiatif melakukan pendekatan terhadap semua warga. Sebelumnya, Gereja HKBP Cinere, yang berada di Jalan Bandung, Perumahan Cinere Indah, diawal-awalnya mendapat penolakan. Sesungguhnya bukan dari warga perumahan, tetapi di luar perumahan. “Kita heran, malah ketika kita bertemu dengan lurah dan camat kita temukan bahwa warga yang demo itu bukan dari wilayah Cinere.”

Penutupan gereja ini sempat menjadi berita nasional, karena diberitakan oleh media nasional. Ketika sang walikota mencabut izin, Betty dan timnya sebagai panitia pembangunan membawa ke pengadilan dan menang di tingkat PTUN, Bandung. “Bagi kami, jemaat Gereja HKBP Cinere, ini merupakan awal yang bagus, meskipun para oknum yang tidak setuju juga tidak kalah ngotot ingin mengajukan banding. Kami pantang menyerah dan terus akan memperjuangkan keadilan sampai titik darah penghabisan,” tegas ibu tiga anak, ini.

Perempuan kelahiran Pemalang Siantar, 11 Juli 1954. Bernama lengkap Betty Julinar Sitorus. Namun pendidikan yang ditempuhnya tahun 1959 hingga 1960 TK Katolik-Salatiga, Jawa Tengah. Pendidikan Sekolah Dasar Kristen Paulus, Bandung. Juga Sekolah Menengah Pertama Kristen I Bahureksa, Bandung. Sekolah menengah atas di sekolah Kristen Dago, Bandung. Sekolah Menengah Atas PSKD I, Jakarta Pusat. Sementara sarjana dia raih dua disiplin ilmu. Pertama, 1974 hingga 1975 menempuh pendidikan di Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia, Jakarta. Dilanjutkan tahun 1976- 1982 mengambil S1 jurusan Antropologi Universitas Indonesia, Jakarta.

Betty terus mengasah diri dengan mengikuti berbagai pelatihan dan seminar diantaranya; pernah mengikuti traning Rahasia Sejarah Penebusan Yang Tersembunyi, Juli 2011. DI tahun yang sama mengikuti seminar dari Haggai Institut. Tahun 2012, dia mengikuti Confreence Universal Peace Federation (UPF) di Thailand selama 3 hari. Anggota dari Ambasador for Peace Interreligious  and Internasional Federation for World Peace. Selain itu dia juga pernah menikuti Organizing Commitee for Peace on Inovative Approach to Peace Leadership dan Good Governance yang berkerja sama dengan UPF dan Departemen Agama.

“Awalnya kita dilarang membangun padahal sudah mendapat izin. Sebagai ketua panitia, saya yang langsung menyurati dan mendatangi kantor walikota. Dua kali kita surati tetapi tidak diberikan kesempatan bertemu, malah setelah surat kedua itu. IMB dicabut. Bagi kami ini penghinaan, ini benar-benar tidak masuk akal,” jelas Ketua I Panitia Pembanguna HKBP Cinere, ini.

“Kami membuat tim doa. Lalu, kami awali dari tiga perempuan memulai mendatangi warga perihal permohonan tandatangan warga. Hampir semua merespon menandatangan, karena kita dengan baik-baik menjelasakan kita mendirikan gereja. Memang ada yang tidak banyak,” ujarnya. Dia masih ingat penjagaan ketat aparat tersebut dikarenakan ada aksi massa terhadap pembangunan Gereja HKBP Cinere.

Awal keterpanggilannya menjadi panitia pembangunan, tatkala keluarganya pindah dari Rawamangun ke Cinere. Gereja yang sekarang berdiri hanya sepelemparan batu dari rumahnya. “Awalnya, sejak baru pindah dari Rawamangun, saya melihat dari rumah saya, di tanah yang sekarang gereja berdiri. Dan, memang setelah dilihat di peta perumahan nama gereja itu sudah ada di master plan perumahan. Saya sudah melihat penglihatan, kelak akan berdiri gereja di sana. Awalnya merasa terpanggil?”

Terjun pelayanan

Memulai karier menjadi Pemimpin Redaksi “Bulletin IKA” Antropologi Universitas  Indonesia. Pernah menjadi assisten dosen untuk mata kuliah Antropologi. Sembari pengurus Pengurus PKK Kelurahan, di Rawamangun. Karena pasih berbahasa inggris membawanya menjadi pengajar Pengajar di Lembaga Pendidikan Bahasa Inggris untuk anak-anak tingkat SD dan SMP. Pengalaman kerjannya bukan hanya itu, dia juga Ikut serta dalam Pameran “The International Furniture dan Handy Craft Exhibition, yang diadakan yang diadakan di Messe Frankfurt, Jerman dan ke Ambiente Frankfurt, Jerman.

Keterlibatannya di dalam oraganisasi membawanya pada pengenalan terhadap pentingnya kepedulian itu ditumbuhkan. Keterlibatannya dalam pelayanan sosial sudah dimulainya sejak muda. “Saya suka berbagi, ikut organisasi. Karena itu di sanalah kita banyak bertemu dan share dan berbagai dengan orang lain,” katanya lagi. Keterlibatannya dari pelayanan di zending HKBP Resort, Jakarta Selatan. Kemudian, dia juga ikut membantu dan mendidik anak-anak yatim piatu Yayasan Pintu Elok di daerah Pamulang, Serpong, Tangerang Selatan. Juga di Perempuan Untuk Perdamaian sebagai anggota.

Tak hanya itu, dia juga menjadi aktivis adalah kerinduannya. Karena itu, dia juga terlibat di Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan TNI Angkatan 45 (FKPP TNI Angkatan 45). Kompleks Siliwangi, Jakarta. Di organisasi ini dia bertindak sebagai pengurus. Lalu juga ikut juga berkecimpung di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Komunitas Si Jabrik Kayu Manis, Jakarta. “LSM ini menangani anak-anak dari keluarga ekonomi lemah. Bertindak sebagai Pelatih dan Kontributor materi pendidikan.”

Sejak lulusan dari antropologi Universitas Indonesia ini, selain di dunia sosial, dia juga juga tetapi aktif melayani di alumninya, aktif di angkatan Kekerabatan Antropologi di Universitas Indonesia (IKA-UI). Di Yayasan Forum Kajian Antropologi Indonesia (FKAI).  Selain itu, aktivis Sosial dalam Gereja HKBP Ressort, Jakarta Selatan sejak tahun 2002 hingga sekarang ini. Betty, juga aktif memberikan konsultan untuk penyembuhan penyakit Kanker. Pelayanan ini sudah dia kerjakan sejak tahun 2005 hingga sekarang.

Di gereja Betty melayani sebagai penetua HKBP, Pangkalan Jati, Cinere, Jakarta Selatan, sejak tahun 2004 hingga sekarang. Di gereja, selain menjadi penatua, dia adalah Wakil Ketua I Panitia Pembangunan Gereja HKBP Cinere, sejak tahun 2007 hingga sekarang. Dan pernah menjadi ketua Panitia Penyelenggara, pada Februari 2011 lalu saar pementasan “Drama Musikal” HKBP Cinere di Taman Ismail Marzuki (TIM) Cikini, Jakarta Pusat. “Orang-orang yang berjuang untuk satu cita-cita, apapun itu, termasuk dalam mendirikan rumah ibadah harus ada orang yang mau berkorban. Berani mengorbankan kehidupannya untuk cita-cita mulia,” ujar anggota Forum Komunikasi Kristiani (FKK) Cinere, ini.

ditulis, Hotman J. Lumban Gaol

Martin Manurung


Martin lahir di Jakarta, Indonesia, pada tanggal 31 Mei 1978. Saat ini, ia tinggal di Jakarta dan bekerja sebagai Direktur Utama PT Sekurindo Gada Patria. Perusahaan ini menyediakan konsultasi untuk berbagai perusahaan, baik nasional maupun internasional, pada pengelolaan risiko dan kelangsungan bisnis di tengah perubahan konstan sosio-politik-ekonomi lingkungan Indonesia.

Setelah menghabiskan masa kecilnya sebagai penyanyi, ia mendapat gelar sarjana di bidang ekonomi dari Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia, jurusan Ekonomi Uang dan Perbankan. Selama waktunya di universitas, ia aktif sebagai aktivis mahasiswa dan berada di garis depan gerakan yang mengakhiri kediktatoran Suharto pada tahun 1998. Sementara menjadi seorang aktivis mahasiswa, Fakultas Ekonomi memilih dia sebagai salah satu dari tiga mahasiswa berprestasi tahun 2000. Selama 1998-2001, ia juga mengajar Pengantar Ekonomi, Mikro dan Ekonomi Mikro, Ekonomi Indonesia, di Universitas.

Pada tahun 2005, ia memperoleh Penghargaan Chevening Inggris dan memperoleh gelar Master dari School of Development Studies, University of East Anglia, di Norwich, Inggris, pada tahun 2007. Sekolah, sekarang dijuluki sebagai “School of International Development,” diakui sebagai salah satu sekolah pengembangan penelitian terkemuka di Inggris, dan juga di Eropa.

Dalam politik, ia adalah Ketua Relawan Perjuangan Demokrasi (REPDEM / Relawan Perjuangan Demokrasi), sebuah organisasi massa di bawah Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan (Partai Demokrasi Indonesia – Perjuangan) dari 2007 sampai 2010.

Pada 1 Februari 2010, Martin bersama dengan 44 orang yang berasal dari berbagai latar belakang menyatakan Demokrat Nasional. Massa-organisasi secara luas diakui sebagai memiliki “Restorasi Indonesia” (Restore Indonesia) sebagai tag line-perjuangan mereka untuk membuat pekerjaan demokrasi Indonesia untuk kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial berdasarkan nilai awal yang ditetapkan oleh pendiri negara itu. Para inisiator nasional organisasi adalah Surya Paloh, pemilik TV nasional besar stasiun berita (Metro TV) dan surat kabar (Media Indonesia), dan Sultan Yogyakarta, Hamengku Buwono X.

Pada tanggal 14 Juli 2011, Martin dilantik sebagai Ketua Umum Garda Pemuda Nasdem (Nasional Demokrat Organisasi Pemuda itu). Dalam organisasi ini, ia terpilih bersama dengan 185 anggota Dewan Garda Pemuda Nasdem Tengah, dan Surya Paloh duduk sebagai Ketua Dewan Penasihat Pusat.

Ia juga telah terlibat dalam gerakan sosial-demokratis sejak masa mudanya yang awal. Dia adalah pendiri Progresif Tenggara Muda Asia (YPSEA), sebuah organisasi regional terdiri dari gerakan pemuda progresif di Asia Tenggara. Pada tahun 2009, ia juga terpilih sebagai anggota Komite Pengarah Jaringan Sosial-Demokrasi di Asia, sekelompok partai politik; pre-party formasi, dan politisi progresif, ulama dan aktivis di wilayah yang berbagi nilai-nilai demokrasi sosial dan perspektif. Sejak 2010 ia juga terlibat sebagai anggota dewan redaksi dua Sosial-Demokrat Jurnal, yaitu Jurnal Demokrasi Sosial di Asia dan Indonesia Sosial-Demokrasi Journal.

Terlepas dari politik-ekonomi kegiatan di atas, ia juga Direktur Eksekutif Institute for Democracy Kesejahteraan, non-profit dan organisasi non-pemerintah yang berbasis di Jakarta yang bertujuan untuk mengubah sosial-demokrasi ide, khususnya yang berkaitan dengan demokrasi, kesejahteraan dan keadilan sosial, untuk menjadi kebijakan negara.

Kolom-nya sering muncul di koran-koran utama di Indonesia, yang meliputi Kompas, Jakarta Post, Jurnal Nasional, Suara Pembaruan, Sinar Harapan, dan harian BATAK POS. Dia juga telah diwawancarai di berbagai media internasional.

Saleh Partaonan Daulay


Dr Saleh Partaonan Daulay, M.Ag., M.Hum, MA.

Lahir: Sibuhuan, Sumatera Utara

Kewarganegaraan: Indonesia

Pernikahan Status: Menikah

Pasangan: Wirdah Rahmi, S.Pt, M.Si

Anak-anak: 1. Kaysa Arivia Daulay (8 Tahun)

2. Reis Ali Ehsan Daulay (3 Tahun)

Alamat: Komplek Bangun Lestari, Jl. Purnawarman No 69E, RT / RW 04/02

Email: salehpd@gmail.com atau salehpd@salehdaulay.com

PENDIDIKAN

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Doktor Sarjana Pemikiran Islam (2007)

Colorado State University – USA

Master of Arts (2009)

Universitas Indonesia

Master of Humanity (2002)

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta-Indonesia (2000)

MA dalam Sejarah dan Peradaban Islam

Universitas Sumatera Utara, Medan-Indonesia

BA dalam Bahasa Arab dan Sastra (1997)

BAHASA

Berbicara bahasa Inggris dan Arab.

Pengalaman Bekerja

Negara Lembaga Kajian Islam (IAIN) Raden Fatah, Palembang-Indonesia

Dosen, 2000-2009

Maarif Institute for Culture and Humanity

Direktur Penelitian dan Pengembangan

Madinatul Ilmi Islamic College, Depok-Indonesia

Dean, 2005-2007

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta-Indonesia

Dosen, 2004-Sekarang

PENGHARGAAN dan BEASISWA

Internasional Presiden Fellows, Colorado State University, 2007-2008

Phi Kappa Phi Awards, Colorado State University, 2008.

Indonesia Departemen Pendidikan Beasiswa, 2000-2002.

Indonesia Departemen Beasiswa Agama, 1998-2000.

Supersemar Yayasan Beasiswa, 1994-1997.

Universitas Sumatera Utara Beasiswa, 1993-1994.

ORGANISASI PENGALAMAN

Dewan Nasional Pemuda Muhammadiyah (Pemuda Muhammadiyah) 2010-2014

Ketua Umum (Ketua UMUM)

Dewan Nasional Majelis Ulama Indonesia (MUI), 2010-2015

Ketua Komisi Hubungan Internasional dan Kerjasama

Nasional Dewan Muhammadiyah, Indonesia, 2010-2015

Wakil Ketua Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia

Nasional Dewan Asosiasi Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), 2010-2015

Wakil Sekretaris Dewan Keahlian

Nasional Dewan Muhammadiyah, Indonesia, 2005-2010

Sekretaris Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia

Nasional Dewan Asosiasi Cendekiawan Muslim Indonesia, 2005-2010

Departemen Promosi dan Advokasi Hak Asasi Manusia

Dewan Nasional Pemuda Muhammadiyah, 2006-2010

Wakil Ketua

Dewan Nasional Pemuda Muhammadiyah, 2005-2006

Sekretaris

Dewan Nasional Pemuda Muhammadiyah, 2002-2005

Urusan Internasional

Nasional Dewan Mahasiswa Muhammadiyah Association, 1998-2002

Departemen Penelitian dan Pendidikan

Kabupaten Dewan Mahasiswa Muhammadiyah Association, Medan, 1995-1997

Wakil Ketua

Komisariat Dewan Mahasiswa Muhammadiyah Association, USU-Medan, 1994-1996.

Ketua

PENGALAMAN INTERNASIONAL

Australia (2006)

Diundang oleh Don Dustan Yayasan sebagai Wakil LSM Indonesia untuk dialog tentang G-20

Norwegia (2007)

Di Indonesia Delegasi: “Pertemuan 6 Norwegia-Indonesia Bilateral Dialog HAM pada isu Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan.”

Amerika Serikat (2007-2010)

Disponsori oleh Yayasan Toyota sebagai penerima Beasiswa Program Beasiswa Internasional untuk belajar di Colorado State University.

Turki (2011)

Diundang oleh Koalisi Palestina gratis untuk menghadiri Konferensi Internasional tentang Kebebasan Paletine.

Thailand (2011)

Diundang oleh AMAN Foundation untuk menghadiri Konferensi Internasional tentang Islam dan Keadilan

Malaysia (2011)

Diundang oleh ISWAMI untuk menghadiri dialog tentang “Orang untuk Diplomasi People”

Iran (2011)

Diundang oleh Ayatollah Ali Tazkiri untuk menghadiri dialog tentang Islam Ikhwanul Antara Indonesia dan Iran.

Norwegia (2012)

Di Indonesia Delegasi: “Pertemuan-10 Norwegia-Indonesia Bilateral Dialog HAM pada isu Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan.”

Swiss (2012)

Ketua Delegasi Indonesia untuk menghadiri “Satu World Summit muda”.

Malaysia (2012)

Diundang oleh Jaringan Melayu Malaysia untuk menandatangani Nota Kesepahaman antara Pemuda Muhammadiyah dan JMM

Saudi Arabia (2012)

Diundang oleh Raja Abdullah bin Abdul Aziz untuk melakukan ibadah haji (Haji).

PUBLIKASI

Penulis Buku

Kloning * Menurut Pandangan Islam (Kloning dalam Perspektif Islam). Bandung: Teraju, 2005

Editor Buku

Menggugah Nurani Bangsa (Inspiring Nurani Bangsa). Jakarta: Maarif Institute for Culture and Humanity, 2005

Cermin Untuk * Semua: Refleksi 70 Tahun Ahmad Syafii Maarif (The Mirror untuk Semua: Refleksi 70 Tahun Ahmad Syafii Maarif). Jakarta: Maarif Institute for Culture and Humanity, 2005.

Muhammadiyah Dan Politik Islam Inklusif (Muhammadiyah dan Inklusivitas Islam Politik). Jakarta: Maarif Institute for Culture and Humanity, 2005.

Bab dalam Buku

“Membumikan Islam Melalui Mazhab SIBOR: Refleksi Kritis Terhadap Fundamentalisme Dan Liberalisme Islam.” Tri Kompetensi Dasar. Ed. Ikhwan Syah Nasution. Jakarta: DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, 2007.

Jurnal Artikel

“Merajut Harmonisasi Filsafat, Sains, & Agama.” Skolastik, Vol. 1. No 1, September-Desember 2006.

“Dinamika Hukum Keluarga di Dunia Islam (ANALISIS Deskriptif Terhadap Hukum Keluarga di Beberapa Negara Islam).” Analitica Islamica, Vol. 6 Nomor 1, Mei 2004, Medan.

“Posisi Perempuan di Tengah otonomisasi Daerah di Indonesia: Respon Terhadap Pemberlakuan Kritis syariat Islam.” MIQAT, Vol XXVII, No 1 Januari 2003, Medan.

“Integrasi Antara Ilmu Ekonomi Dan Fiqh mu’amalat: Menelusuri Landasan epistemologis Ilmu Ekonomi Islam.” Nurani, Vol. 4. Nomor 1, Juni 2003, Palembang.

“Perkembangan Politik-Agama Sekte dan Pengaruhnya Terhadap Penulisan Sejarah: Sebuah Kasus Siffin.” Tamaddun, Vol. 2. Nomor 2, Juli 2002, Palembang.

“Muhammad Ali Pasya Dan Modernisasi Lembaga Pendidikan di Mesir.” Conciencia Vol 1. Nomor 2, Desember 2002, Palembang.

“Manusia Kloning dalam Islam: Sebuah Analisis Etika dan yurisprudensi.” Jauhar Vol. 2. Nomor 2, Desember 2001, Jakarta.

“Mempertimbangkan kembali Konvergensi dari Filsafat Hukum Islam dengan Ilmu Pengetahuan Lainnya.” Jauhar, Vol. 2. Nomor 1, Juni 2001, Jakarta.

PENELITIAN KEGIATAN

“Gender, Ketidakadilan Sosial, dan Islam: The Penerimaan Perempuan Indonesia pada Kompilasi Hukum Islam Indonesia.” Lembaga Kajian Agama Dan jender, 2004. (Pelaporan dalam bahasa Indonesia).

“Hipokrates Pernikahan: Sebuah Studi Kritis tentang Perkawinan Antar Agama di Jakarta.” Lembaga Kajian Agama Dan jender, 2003. (Pelaporan dalam bahasa Indonesia).

“Aspek Politik Sastra Melayu: Studi Kasus Kitab Taj al-Salatin.” Lembaga Penelitian IAIN Raden Fatah Palembang, 2001. (Pelaporan dalam bahasa Indonesia).

KONFERENSI, SEMINAR, WORKSHOP DAN PARTISIPASI SEJAK 2003

Seminar: “Otak dan Agama: Temuan terbaru & prospek masa depan.” Departemen Filsafat, Colorado State University, 3 Oktober 2008.

Seminar: Eddy Kuliah 2008 tentang “Tiga Besar Bangs:. Materi-Energi, Hidup, dan Pikiran” Departemen Filsafat, Colorado State University, 18 September 2008.

Konferensi dan Pertemuan Tahunan ke-5 Masyarakat Filsafat Lingkungan: Mei 27-30, 2008 “Tren Masa Depan dalam Filsafat Lingkungan.”.

Konferensi: “Perang, Pembangunan dan Keadilan Global.” Departemen Filsafat, Colorado State University, 11-13 April, 2008.

Seminar: Eddy Kuliah 2007 tentang Departemen Filsafat, Colorado State University, 26 September 2007 “Ateisme dan Evolution.”.

Di Indonesia Delegasi: “. Pertemuan 6 Norwegia-Indonesia Dialog Hak Asasi Manusia Bilateral tentang isu Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan” Oslo, 23-25 ​​April, 2007.

Workshop: “. Peran Mahkamah Konstitusi dalam Meningkatkan Kesadaran Konstitusi antara Anggota Muhammadiyah” Mahkamah Konstitusi dalam Kerjasama dengan Badan Nasional Muhammadiyah, Jakarta, 13-15 April, 2007.

Workshop: “Studi Kritis tentang Anti-Pornografi Hukum.” Nasional Partai Amanat, 20 April 2006.

Seminar: “Mempertimbangkan kembali Urgensi Komisi Yudisial untuk Masyarakat Muslim.” Komisi Yudisial Indonesia dalam Kerjasama dengan Badan Nasional Muhammadiyah, Jakarta, 8 Maret 2006.

Workshop: “Perkembangan Hukum Keluarga Islam di Beberapa Negara Islam.” Indonesia Departemen Agama Affais, Jakarta, 15-20 Maret 2005.

Seminar: “Counter Legal Draft Kompilasi dari Indonesia Hukum Islam.” Lembaga Kajian Agama Dan jender, Jakarta, 15 Desember 2004.

Seminar: “Agama dan Ilmu Pengetahuan Alam.” Pusat Studi Agama dan Lintas Budaya Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Juli 20-24, 2004.

Workshop: “Pengajaran Agama dan Sains.” CRCS dan Universitas Andalas, Padang, Agustus 27-30, 2003.

Konferensi Nasional: “Kloning Manusia dalam Perspektif Islam.” Indonesian Ulama Council, Jakarta, tanggal 24 April 2003.

Konferensi Internasional: “. Agama dan Sains di Dunia Post-kolonial” Pusat Studi Agama dan Lintas Budaya Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Januari 2-5, 2003.

Sahat Sinaga


Membangun Gereja, Memberdayakan Pemuda Gereja

Sahat Sinaga (Sekretaris Jenderal Partai Damai Sejahtera)

oleh; Hotman J Lumban Gaol

Sebuah nats firman Tuhan menyatakan “didiklah kaum muda, maka di hari tuanya dia akan menjadi baik.” Pemuda memang harapan gereja, sebab pemuda adalah bunga-bunga gereja. Sahat Sinaga kelahiran Bandung, 2 Oktober 1965 ini, tahu benar betapa signifikannya peranan pemuda gereja. Sahat merasakan betul, sejak kecil dia dididik orangtuanya dengan ketat “hidup bergaul dengan gereja.” Dia amat berharap pemuda gereja mau berperan aktif, tidak hanya terkungkung pada seremonial gereja saja.

“Saya melihat pemuda mempunyai peran yang signifikan dalam membangun bangsa. Pemuda itu harus kreatif dan punya motivasi yang tinggi. Hanya saja sekarang, bahwa pemuda-pemuda yang datang ke gereja hanya memberikan kebutuhan rohani, kebaktian, pendalaman Alkitab dan ujung-ujung hanya latihan koor,” ujar Sekretaris Resort Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI) Resort Bekasi dan Penatua di GKPI Jemaat Bekasi.

“Saya tidak percaya kata orang yang mengatakan gereja hanya memberikan masalah rohani. Yang saya rasakan gereja memberikan bekal untuk saya terjun dalam pekerjaan,” ujarnya.

Baginya, gereja memang harus menjadi pijakkan pemuda. “Jika pemuda berasal dari gereja akan lebih kuat dan lebih militan. Tapi sering kali aktivis yang menanamkan nilai-nilai Kristen itu seringkalai tidak memikirkan gereja. Gereja tidak lagi menjadi pijakkan mereka dalm melakukan berbagai aktivis.”

Bagi Sahat, setiap hal harus dilihat dengan jernih, termasuk memikirkan sisi baik dari setiap mengkritisi kebijakan, misalnya saat DPR disorot soal ingin membangun gedung baru. Bagi Sahat, itu baik. “Kondisi gedung yang baik juga perlu. Rakyat bukan mengeluhkan kualitas gedung, tetapi justru kualitas kinerja dan keputusan yang dihasilkan anggota DPR,” ujar Sekretaris Jenderal Partai Damai Sejahtera, ini.

Kembali ke soal pemuda gereja, Sahat melihat, sebenarnya tidak salah gereja memikirkan hal rohani saja, hanya saja dalam hidup ini kita tidak hanya memikirkan masalah rohani. Pemuda harus aktif dalam mengusung nilai-nilai kebangsaan, dan itu bisa dorongan dari gereja. Dan, tidak meluluh hanya memikirkan kelompoknya,” tambahnya mantan Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (DPP-GAMKI) dan Anggota Majelis Pemuda Indonesia.
Lalu, apa yang harus dilakukan gereja? “Gereja berperan memberikan pencerahan pengertian tentang masalah-masalah yang dihadapi warga gereja. Misalnya, juga kala korupsi meraja-lela, gereja harus memberikan pengertian dan moral agar jemaatnya, terutama pemuda tidak terjebak dalam korupsi,” tambahnya.

Bagi Sahat, gereja juga harus berhasil mengajarkan bahwa menyembah Tuhan, hidup dengan Tuhan itu adalah tujuh hari. Ada presepsi yang salah bersama Tuhan itu hanya hari minggu. Sedangkan hari yang lainnya tidak hidup bersama Tuhan. “Yang paling berbahaya sekarang adalah bergereja tidak memberikan dampak apa-apa pada kehidupan itu sendiri. Harus dipikirkan berdampak kedepannya, karena yang paling berbahaya lagi orang hanya mencari kenyamanan di gereja. Bagi saya gereja harus mengambil peran untuk memberi ruang bagi pemuda berkembang.”

Dia memilih hidup menjadi notaris, tetapi kepeduliannya pada pemuda gereja membawanya menjadi aktivis pemuda. Rencana Tuhan lebih indah; walau lahir dan besar di Bandung tetapi kecintaanya pada orang Batak dan itu juga yang membawanya menjadi Ketua Pemuda Sinaga Se Bandung, Jawa Barat. Dan berbagai jabatan pemuda dia sandang. Tentu kemampuan ornisasinya dimulai sejak muda, sejak menjadi pengurus OSIS di SMA 64 Bandung.

“Bagi saya pemuda itu harus berjiwa nasional, dan inilah yang harus ditularkan pada pemuda. Karena saat ini banyak orang berambisi, mencari nama dengan memamfaatkan pemuda,” ujarnya.

Di tengah-tengah kesibukkannya sebagai aktivis pemuda Sahat juga menjalankan usaha notaris & PPAT di Kota Bekasi dan Ketua Kompartemen Organisasi Dewan Pengurus Pusat Real Estat Indonesia, dan juga pengurus Ikatan Notaris Indonesia (INI) Kota Bekasi.

Biodata

Nama : Sahat Sinaga, SH., MKn.
Tempat/Tanggal Lahir : Bandung, 2 Oktober 1965
Agama : Kristen Protestan
Pekerjaan : Notaris & PPAT
Alamat Kantor : Jalan Raya Pekayon Jaya No. 51 Bekasi
E-mail : sahat-sinaga@centrin.net.id

Data Keluarga:

Nama Istri : Dra. Rita Sitorus
Pekerjaan Istri : Pegawai Negeri Sipil
Nama Anak : 1. Anastasia MRH Sinaga
2. Anugerah Joshua Sinaga
3. Anandersah Jeremia O Sinaga
Saudara Kandung : DR. Budiman Sinaga, SH, MH.
Orang Tua Kandung : Ayah : Penatua S A Sinaga (Alm)
Ibu : B boru Sirait
Mertua : Ayah : St. Th. Sitorus (Alm)
Ibu : S boru Siahaan

Riwayat Pendidikan Formal:

* Sekolah Dasar Negeri (SDN) Sosial1 Cimahi
* Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Cimahi
* Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 4 Bandung
* Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) Bandung
* Program Spesialis Notariat dan Pertanahan Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI) Jakarta
* Program Magister Kenotariatan FH-UI, Jakarta (Lulus 2007)

Riwayat Pendidikan Nonformal:

1. Pendidikan Politik Bagi Generasi Muda Tingkat Propinsi Jawa Barat.
2. Penataran P4 120 jam di Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR), Bandung
3. Lokakarya Kepemimpinan UNPAR, Bandung.
4. Karya Latihan Bantuan Hukum, LBH Bandung
5. Latihan Kepemimpinan Yayasan Binadarma-Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga.
6. Program Pendidikan Terapan Hukum dan Administrasi Perpajakan, oleh Universitas Pancasila dan Direktorat Jenderal Pajak Departemen Keuangan RI, Jakarta
7. Lokarya Perpajakan Bangun Cipta Group, Jakarta
8. Pendidikan Hukum Bisnis, STIH IBLAM, Jakarta
9. Seminar Undang-undang Dokumen, Hotman Paris law Education Center, Jakarta
10. Seminar Undang-undang Kepailitan, Hotman Paris Law Education Center, Jakarta
11. Pendidikan Pimpinan (inhouse training) PT. Bangun Tjipta Pratama, Jakarta
12. Seminar Undang-undang Pokok Agraria Universitas Trisakti, Jakarta
13. Seminar Undang-undang Fiducia, ILUNI FH UNPAR Se-Jabotabek, Jakarta
14. Seminar Undang-undang Perlindungan Konsumen, ILUNI FH Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) Se-Jabotabek.
15. Program Pengembangan Eksekutif “Managing People” Lembaga Manajemen PPM, Jakarta
16. Lokakarya “Optimalisasi Peranan Hukum Dalam Restrukturisasi Penyelesaian Hutang Perusahaan “, Komisi Hukum Nasional RI.
17. Up Grading – Refreshing Course, Ikatan Notaris Indonesia (INI), Januari ‘2005
18. Pendidikan Koperasi bagi Notaris – Bandung
19. Pendidikan Notaris Pasar Modal – Jakarta
20. Rapat Kerja Terbatas Dewan Ketahanan Nasional – Bali 2006 dan Batam Juni 2007

Riwayat Pekerjaan:

* Asisten Pengacara pada Kantor Hukum Bob M. Neels & Rekan di Cimahi, Jawa Barat.
* Pengacara pada Kantor Hukum Ronggur Hutagalung, SH & Ass di Bandung, Jawa Barat
* Manajer Perijinan, Hukum & Personalia di PT Bangun Tjipta Pratama, Jakarta
* Notaris dan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) di Kota Bekasi

Riwayat Organisasi:

1. Wakil Koordinator Departemen Penerangan OSIS SMAN 4 Bandung
2. Koordinator Departemen Penerangan OSIS SMAN 4 Bandung
3. Sekretaris Badan Pertimbangan Mahasiswa (BPM) Fakultas Hukum UNPAR Bandung.
4. Sekretaris Badan Pengurus Cabang Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (BPC-GMKI) Cabang Bandung.
5. Ketua Umum Naposo Bulung “Sinaga“ Bandung Raya
6. Ketua Bidang Pertanahan Dewan Pengurus Daerah Real Estat Indonesia (DPP-REI) DKI Jakarta.
7. Sekretaris Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (DPP-GAMKI).
8. Pengurus Dewan Pimpinan Pusat Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPP-KNPI).
9. Departemen Pertanahan Dewan Pengurus Pusat Real Estat Indonesia (DPP-REI).
10. Anggota Tim Forum Komunikasi Perencanaan Legislasi Nasional BPHN, Departemen Kehakiman.
11. Ketua Rukun Tetangga (RT) 06/35 Kelurahan Bojong Rawalumbu, Bekasi
12. Pengurus Ikatan Alumni Fakultas Hukum UNPAR Se-Jabotabek
13. Kompartemen Hukum, Perundangan-undangan dan Perijinan Dewan Pengurus Pusat Real Estat Indonesia (DPP-REI).
14. Sekretaris Resort Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI) Resort Bekasi dan Penatua di GKPI Jemaat Bekasi.
15. Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (DPP-GAMKI)
16. Sekretaris Lembaga Bantuan Hukum (LAKUM) Dewan Pengurus Pusat Real Estat Indonesia (DPP-REI).
17. Anggota Majelis Pemuda Indonesia.
18. Pengurus Ikatan Notaris Indonesia (INI) Cabang Kota Bekasi.
19. Pengurus Ikatan Pejabat Pembuat Akta Tanah (IPPAT) Cabang kota Bekasi.
20. Kompartemen Pertanahan Dewan Pengurus Pusat Real Estat Indonesia (DPP-REI).
21. Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Partai Damai Sejahtera ( DPP – PDS)
22. Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga Dewan Pimpinan Pusat Partai Damai Sejahtera (DPP – PDS)
23. Ketua Bidang Hubungan Antar Daerah Pengurus Pusat Ikatan Alumni Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR – Bandung)
24. Ketua Bidang Organisi, Keanggotaan dan Kaderisasi (OKK) Dewan Pimpinan Pusat Partai Damai Sejahtera (DPP-PDS)
25. Ketua Majelis Pertimbangan Organisasi (MPO) Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (DPP-GAMKI) 2007-2010
26. Ketua I Dewan Pengurus Nasional (DPN) Asosiasi Olahraga TASPONY INDONESIA ( ASTASI).
27. Ketua Kompartemen Organisasi Dewan Pengurus Pusat Real Estat Indonesia (DPP-REI) 2007 – 2010
28. Ketua Yayasan OASI
29. Pengurus Punguan Pomparan Toga Sinaga & Borunan (PPTSB) Se-Jakarta Raya
30. Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Ikatan Alumni Universitas Parahyangan (UNPAR) Bandung periode 2010-2013
31. Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Partai Damai Sejahtera (PDS) periode 2010-2015

Publikasi

1. Majalah Mahasiswa Fakultas Hukum UNPAR, Bandung
2. Harian ‘ GALA ’, Bandung
3. Harian ‘ Media Indonesia’ , Jakarta
4. Majalah ‘ Info Real Estat DPD REI DKI’ , Jakarta
5. Majalah ‘Suara GKPI’, dalam beberapa edisi
6. Jurnal REI (Wawancara)
7. Kantor berita Antara (Wawancara)
8. RRI Pro 3 FM (Talk Show)
9. Hartline FM Talk Show Jelang Pemilu 2004 – 2 episode
10. Radio Pelita Kasih
11. Harian Sinar Indonesia Baru (SIB) (Wawancara)
12. Radio Pelita Kasih (Talk Show)
13. Majalah “Oikumene” PGI
14. Majalah “Peace”
15. Majalah “Bahana”
16. Majalah “Reformata”
17. Majalah “Narwastu”
18. Tabloid “Victorius”
19. Majalah “Explo”
20. Majalah “Horas”
21. Koran BATAKPOS
21. Buku “Jual Beli Tanah dan Pencatatan Peralihan Hak” , Pustaka Sutra Sept’ 2007

Aktivitas Lain-Lain
1. Ketua Panitia Study Tour SMP Negeri 1, Cimahi
2. Koordinator Diskusi Ilmiah Pekan Keluarga FH-UNPAR, Bandung.
3. Ketua Panitia HUT Ke 15 PT. Bangun Tjipta Pratama,1996.
4. Ketua Panitia HUT ke 15 GKPI Jemaat Bekasi, 1999.
5. Ketua Panitia Seminar UU Fiducia ILUNI FH-UNPAR Se-Jabotabek

 

BERITA:

MedanBisnis – Tarutung. Hingga hari terakhir, Sabtu (6/7), sembilan pasangan bakal calon bupati (Bacabup) dan bakal calon wakil bupati (bacawabup) mendaftar ke KPU Tapanuli Utara (Taput), di Tarutung. Dari pasangan itu, satu pasangan dari jalur independen dan delapan dari partai politik.
Pada, Sabtu (6/7), ada lima pasangan usungan Parpol mendaftar yakni Drs Sanggam Hutagalung MM–Sahat Sinaga “SAHATA” yang diusung PKB, PDS dan PPRN. Lalu, Nikson Nababan–Mauliate Simorangir.

Kemudian pasangan Sanggam Hutapea–Martinus Hutasoit, disusul pasangan Pinondang Simanjuntak–Ampuan Situmeang. Terakhir Bangkit P Silaban–Davit Hutabarat.

Sebelumnya, Senin (1/7), mendaftar pasangan Saur Lumbantobing SE – Manerep Manalu SH “SAURMA” didukung Demokrat, Golkar, PKPB, Barnas dan PAN. Lalu, Ratna E Lumbantobing–Rever Harianja didukung 14 parpol. 

Jumat (5/7), pasangan Banjir Simanjuntak – Maruhum Situmeang. Serta Rabu (3/7), pasangan perseorangan/independen Margan Sibarani – Sutan Nababan.

“Setelah pendaftaran berakhir, ada tenggang waktu/tahapan Pilkada bagi pihak KPUD untuk melakukan verifikasi keabsahan dukungan Parpol. Tentunya, berdasarkan ketentuan dari peraturan pemerintah serta berkas kelengkapan persyaratan dari masing-masing kandidat,” jelas Ketua KPUD Taput Lamtangon Manalu SSi MSP menjelaskan, pasangan calon Bacabup/Bacawabup, bahwasanya.(ck – 07)

Sumber: http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2013/07/08/39094/sembilan_pasangan_cabub_taput_daftar_ke_kpud/#.UlZV7VBpmP4