Arsip Kategori: Entrepreneur-Pengusaha

Budi P. Sinambela



Sejak Lembaga Adat Budaya Batak (LABB) berdiri 5 Desember 2018, tahun lalu, terus berupaya mewujudkan visinya Mewujudkan Bangso Batak Yang Bernas Teratas. Ketua Umum LABB Budi Parlindungan Sinambela demikianlah nama lengkap pria kelahiran Jakarta, 8 Mei 1964, terus mengajak seluruh pengurus untuk benar-benar bisa mewujudkan masyarakat Batak terus naik level. Putra pertama dua bersaudara dari pasangan Prof. DR. K.PT. Sinambela Kusumonagoro dengan Damaris boru Tampubolon menyadari betul, bahwa kehadiran LABB sangat penting dan strategis dalam mengembangkan pelayanan pada masyarakat Batak di kota maupun di kampung halaman.

Walau lahir dan besar di Jakarta, Budi merasakan suasana batin sebagai orang Batak tulen, yang otentik peduli pada budaya. Betapa tidak pesan dari bapaknya, Prof. DR. K.PT. Sinambela Kusumonagoro sejak kecil dirinya secara alamiah dituntun agar agar menjadi orang yang peduli dan memperhatikan budaya Batak. Ditanya apa yang membuat dirinya yang lahir dan besar di Jakarta begitu peduli budaya Batak? Nun jauh sebelum bapaknya mendirikan Universitas Mpu Tantular, sejak awal sudah menunjukkan kepeduliannya pada masyarakat Batak. “Kebetulan saya suka sejarah, suka kebudayaan dan saya selalu menikmati hal itu. Tentu itu semua bahwa jika memang ada kesempatan untuk memberi warna untuk budaya dan masyarakat Batak, mengapa tidak?” Demikian alasannya.

Karenanya, sebagai Ketua Umum LABB Budi berharap lembaga ini kelak menjadi lembaga yang sangat dibutuhkan dan konsen memberikan perhatian pada kaum muda Batak. “Lembaga ini harus menjadi wadah pemersatu untuk masyarakat Batak. Selain sebagai ketua LABB, saya sebagai Ketua Yayasan Budi Murni Jakarta yang menaungi Universitas Mpu Tantular dan sekolah-sekolah umum SD sampai SMK dengan tulus memberikan fasilitas yang bisa diberikan yayasan untuk membangun masyarakat Batak,” jelasnya lagi.

Ditanya, bagaimana suasana batinnya sebagai orang yang lahir dan besar di Jakarta begitu peduli budaya Batak? “Iya, itu tadi bagaimana kita menghargai budaya kita. Jika saya ke kampung halaman, saya kagum dengan alam yang begitu indah diberikan Tuhan kepada orang Batak. Artinya, bukankah itu kesempatan untuk kita mengucap syukur kepada Tuhan bahwa alam di tanah Batak itu sungguh indah. Maka benarlah pemerintah pusat memberikan perhatian besar untuk kemajuan pariwisata di tanah Batak,” ujarnya lagi.

Walau sesungguhnya tak pernah spesifik pesan ayahnya kepada dirinya, dia menangkap kerinduan ayahnya untuk memberikan kepedulian pada budaya Batak. “Dari tata laku yang diteladankan bapak tersirat agar kami anak-anaknya juga memperhatikan orang Batak,” ujar abang dari Santo Mulia Parulian Sinambela, ini. Dia menambahkan, bapaknya adalah sosok yang peduli, selalu berupaya agar kami anak-anaknya hidup secara lebih baik dari waktu ke waktu. Karena itu, sejak kecil di mana pun bapak berkerja, termasuk ketika bekerja di Hotel Indonesia saya diajak ke kantornya,” kenangnya.

Perhatian bapaknya, Prof. DR. K.PT. Sinambela Kusumonagoro pada budaya dan masyarakat Batak memang tak kepalang. Itu sebabnya bagi Budi sendiri, selalu mengingat pesan bapaknya yang selalu menekankan agar menghormati leluhur. “Kita mesti menyadari jika kita ada sampai saat ini tak lepas dari peran dan pembuka jalan, dari leluhur hingga ke  orangtua kandung yang menghadirkan kita ke dunia,” menjelaskan betapa pentingnya kesadaran dan mengetahui asal-usul.

Bekerja sambil belajar

Apa yang dilakukan Budi sebagai orang yang diberikan limpahan tanggung-jawab besar untuk mengurusi legacy bapaknya. Bapaknya memang seorang entrepreneur sejati. Baginya, bapaknya adalah guru dalam bisnis dan sebagai panutan hidup. Wawasannya dalam berbisnis selalu mengarahkan pada pengembangan usaha agar lebih maju dan lebih maju lagi. Tak heran Budi merasakan bahwa kehebatan bapaknya diakuinya dalam hal pengembangan bisnis luar biasa.

“Bapak selalu mengajarkan learning by doing, dalam arti belajarlah ketika dia memberi kesempatan pada kami untuk mengerjakan sesuatu. Cara-cara pengajaran yang seperti ini tetap bapak terapkan kepada kami,” tambah seorang pengusaha. Artinya, Budi memetik ajaran dari bapaknya, bahwa belajar dengan melakukan mesti beriringan. “Kita melakukan sesuatu yang belum kita ketahui sebelumnya dan karena kita melakukannya kita jadi tahu, itu yang disebut learning by doing.”

Budi menambahkan, bapaknya sebagai inspirator selalu menekankan kiat dalam kerja, yaitu proses pembelajaran, belajar sembari melakukannya. “Baik secara ide maupun secara etos kerja, bapak adalah panutan dalam berbisnis. Dia adalah orang yang sangat memegang arti sebuah prinsip. Karena itu, kalau dia sudah memutuskan sesuatu bisnisnya tak akan goyah lagi. Itulah prinsip yang selalu diajarkan bapak kepada saya adalah kalau kerja harus bagus dan harus tepat waktu. Saya belajar banyak tentang arti sebuah nilai kehidupan,” ujarnya, menerangkan ajaran yang diberi bapaknya.

Tak kehilangan esensi hidup

Bagi Budi, wujud kepedulian mengangkat harkat martabat masyarakat Batak tentu dengan mengangkat kualitas sumber daya manusia yang unggul. Sudah tentu, keunggulan sumber daya manusia itu didapat dan tersemai dari lembaga-lembaga pendidikan. Lembaga pendidikan yang mesti melahirkan orang-orang yang unggul oleh karena tercerahkan dari pendidikan. Karena itu pemberian beasiswa kepada mahasiswa yang berprestasi, bagi keluarga ekonomi lemah, keluarga yang tak mampu membiaya kuliah.

“Satu contoh wujud dari kepedulian, apa yang kami lakukan adalah jika ada mahasiswa dari keluarga Batak ingin kuliah benar-benar tak bisa memberi beasiswa kuliah, kami dari pihak yayasan bersedia untuk itu, paling tidak meringankan dengan bentuk beasiswa. Sudah tentu ini membantu dan memberikan kemudahan bagi mereka yang ingin kuliah,” ujar suami dari Dewi Christina boru Sitorus dan ayah empat putra; Brian Dapat Mangatur Sinambela, Maximilian Hosea Roger Sinambela, Darryl Ezra Rockywik Sinambela dan Humphrey Jaya Ruydith Sinambela.

“Dunia yang kita tinggali terus bergerak. Inilah dinamika yang terjadi. Kita tak hadir di ruang hampa, tetapi dalam kondisi dunia yang terus bergerak. Yang tak bergerak akan tertinggal. Kenyataan, kita ada dan bergerak di dunia yang terus dinamis bergerak. Karenanya, setiap kita dituntut mengambil peran untuk tetap berinteraksi di realitas dunia yang bergerak dengan kompleks dan majemuk ini. Dengan sikap adaptif di setiap keadaan, membuat kita mandiri dan bisa survival dalam setiap situasi yang ada. Maka, tak kalah kesulitan menyengat, teruslah belajar untuk eksis di keadaan dunia bergerak.”

Saat ditanya pendapatnya bagaimana beradaptasi dengan lingkungan saat ini? Pesan saya kita tak boleh lupa jatidiri kita sebagai orang Batak, bahwa kita sekali lagi ingat pesan nenek moyang dan selalu ingat leluhur kita. Karena itu, kita tonjolkan yang baik. “Bagi saya jika seorang manusia makin tinggi pendidikannya sudah tentu akan makin lebih mencari jati dirinya. Saya sangat percaya makin sukses seseorang dia akan semakin mencari asal usulnya. Karena manusia yang tercerahkan tak akan mau kehilangan esensi hidupnya,” ujar Direktur PT Mulya Jaya ini.

Dirinya selalu merendah. Dia mengingat keteladanan yang ditunjukkan sikap Raja dari Sisingamaraja XII dari marga Sinambela. “Saya mengikuti di marga kami tak boleh ada yang sombong. Pengalaman saya sebagai keturunan Sinambela, saya lihat dalam keturunan kami tak boleh sombong, kalau sombong akan cepat-cepat terjatuh. Saya melihat kalau ada yang sombong akan cepat terjatuh. Saya takut sekali, kalau melihat di marga kami Sinambela ada yang sombong saya melihat akan terjatuh,” jelasnya lagi. Dan memang, jika dihubungkan dalam kehidupan ini, bahwa soal merendahkan hati itu sangat penting dan kiat untuk bisa eksis di kehidupan. Lalu, pesannya bagi anak-anak muda Batak juga harus militan terhadap budaya Batak. Jangan tercerabut dari akar budaya, agar tak kehilangan makna di kehidupan. (Hojot Marluga)

Dr. Ir. Mombang Sihite, MM


Dr. Ir. Mombang Sihite, MM,  Presiden Direktur PT Azbil Berca Indonesia

Memacu Generasi Muda Berdaya Juang Di Era Revolusi Industri 4.0

Bersikap antusias, bersemangat dan disiplin hal itulah yang terlihat tatkala berjumpa dengan Dr. Ir Mombang Sihite MM, Presiden Direktur PT Azbil Berca Indonesia, ini. Berkarakter positif dan berdisiplin menurutnya adalah kunci utama menjadikan seseorang sukses. Soal berdisiplin sudah sejak dulu didapatnya dari kedua orangtuanya; Waldemar Juragan Sihite dan Ibunda Nursia boru Manalu.

Ayah dan ibunya yang sudah almarhum, dulu selalu menasihatkan agar kehidupannya bisa berdampak bagi orang lain, perlu ada kepedulian. Anak bungsu dari sembilan bersaudara ini melewati masa kecil hingga remaja di Kota Dolok Sanggul, Kabupaten Humbang Hasundutan. Studi SMA sempat satu semester dilaluinya di SMA Negeri 1 Dolok Sanggul. Namun, tahun 1982, hijrah ke Jakarta melanjutkan studi di SMA 54 Jatinegara Jakarta. Namun, kepindahannya ke kota Jakarta sempat mengganggu studinya dan sempat nilainya amburadul.

“Nilai saya jeblok. Saya merasakan ketidaksetaraan pendidikan antara Jakarta dan di Dolok Sanggul. Hal itu membuat saya harus bekerja keras untuk mengejar ketertinggalan studi,” ujarnya mengenang masa lalunya itu. Syukur, akhirnya dia bisa menyesuaikan diri dengan pendidikan di Jakarta. Luarbiasanya dia pun lulus dengan nilai bagus.

Selulus SMA, dia memilih program Politeknik Universitas Indonesia oleh karena ingin berkerja di dunia industri. Selulus diploma Politeknik, dia melamar ke PT Berca Indonesia.  “Setelah lulus kuliah dari Politeknik saya diterima di PT Berca Indonesia pada tahun 1990. Saya langsung ditempatkan sebagai jabatan fungsional sebagai site manager dan jabatan structural engineer. Pekerjaan itu membutuhkan kemampuan dalam memahami sistim otomatisasi industri, sangat jauh berbeda dengan otomatisasi dasar,” jelasnya.

Puji syukur dia bisa menyesuaikan diri, bekerja sembari belajar. Hal yang dia syukuri, misalnya ketika di Politeknik, selain ilmu yang didapat juga kemampuan mengelola waktu. Mengapa? Oleh karena sistem perkuliahan yang ketat dalam pengelolaan waktu, perkuliahan yang sangat padat, dan sistem paket, bukan SKS dan banyaknya tugas-tugas LAB dan Workshop membuatnya terbiasa dengan kedisplinan. Tentulah sebagai mahasiswa, jika tak bisa berdisiplin niscaya bisa mengikuti irama yang ada di kampus. “Belum lagi sistem Drop Out yang selalu diberlakukan setiap semester. Karenanya, saya harus bekerja keras untuk memenuhi standar kelulusan saya.”

Akumulasi dari pelatihan mental, jejak rekam dari latihan di masa kecilnya, dididik bekerja keras dan dilanjutkan dengan sistem pendidikan di Politeknik menuntutnya berdisiplin. Hal itu semua sangat membantu pembentukan karakternya di kemudian hari. Jelaslah, jikalau tak disiplin, bagaimana dia bisa mengerjakan bejibun pekerjaan; jadi CEO, konsultan di green building, konsutan manajemen, dosen di beberapa kampus, melayani di gereja dan masih aktif di puluhan organisasi sosial lainnya.

Di perusahaan, menurutnya, karena bukan hanya kemampuan engineering yang dituntut, tapi juga kemampuan manajemen dalam mengelola project untuk memenuhi kewajiban dalam pencapaian target. Termasuk pengelolaan anggaran sehemat mungkin, pengerjaan engineering sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan. Multi assignment project atau mengelola beberapa proyek sekaligus secara bersamaan sudah menjadi santapan hariannya.

Tentu, hal itu membuatnya merasa harus melanjutkan pendidikan guna meningkatkan kemampuan untuk bisa makin memahami manajemen dan teknik elektro lanjutan. Maka, jadilah dia kuliah sambil bekerja untuk mengambil gelar sarjana. Di tengah ketatnya waktu, sebagai kepala keluarga dia harus pintar mengelola waktu. Dia  kuliah di Universitas Jayabaya. Bertepatan saat itu Fakultas Tekniknya membuka Program Eksekutif, kuliah Sabtu-Minggu. Dia pun bisa belajar di akhir pekan tanpa mengganggu aktifitas pekerjaan di kantor, tetapi tentu mengurangi kuantitas waktu berjumpa dengan anggota keluarga. Syukur, kuliah lanjutan ini dia selesai hanya dua tahun.

Seiring perjalanan waktu, karir dan tanggung-jawabnya meningkat dan bertambah, bukan lagi hanya sebagai engineering manager, tetapi diberi tanggung jawab mengelola puluhan project baru. Selain itu, dia juga ikut melakukan pemasaran untuk mendapatkan order dari customer lama dan customer baru. “Dari pengalaman itu makin banyak network dan relationship saya dengan customer, dan kepercayaan dari customer juga meningkat, market share juga meningkat dan nilai equity perusahaan juga meningkat karena kemampuan untuk membangun reputasi perusahaan,” ujarnya.

Menurutnya, dalam mengembangkan perusahaan, satu hal yang tak boleh luput adalah membangun reputasi perusahaan dengan menuju service level customer satisfaction menjadi kunci dasar untuk mendapatkan customer loyalty dan akan menghasilkan customer retention yang sarat dengan indirect marketing positive of mouth. “Itu menjadi fundamental operasional dan service perusahaan kami,” terangnya. Peluang makin terbuka lebar, hal itu dijawabnya untuk kembali menimba ilmu, magister manajemen.

“Peluang itu harus saya sesuaikan dengan peningkatan keilmuan saya, tanpa harus mengganggu pekerjaan saya. Maka saya melanjutkan pendidikan di Universitas Pancasila program Pasca Sarjana, Marketing Manajemen di Kampus Jalan Borobudur Jakarta Pusat setiap sore dan saya memilih Kampus Universitas Pancasila karena dekat dengan kantor saya, bisa ditempuh hanya 10 menit.”

Tuhan begitu baik dalam kehidupan Mombang. Seiring waktu dan pertambahan jejang pendidikan yang disandangnya, dan makin mumpuni pengalamannya dengan mengikuti beragam pendidikan non formal, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Maka, perusahaan pun memberi tanggung- jawab dan jabatan baru. Karier terus menaik.

“Sejalan dengan pertumbuhan kinerja perusahaan, dari engineering manager meningkat menjadi General Manager setelah tanggung-jawab saya tidak hanya untuk engineering saja, tapi juga marketing dan beberapa tahun kemudian saya dipromosikan menjadi Direktur Divisi bisnis.” Perusahaannya terus bertumbuh, produk portofolio dikembangkan, area pasar yang digarap terus bertambah dan bisnis portofolio juga dibuka sehingga jumlah karyawan pun harus ditambah.

Awal tahun 2012 lalu, perusahaan Share holder dari Azbil Corporation Jepang dan Berca Indonesia sebagai pemegang saham  menilai kesetian dan reputasinya di perusahaan, maka dirinya diberi tanggung-jawab lebih besar, memimpin perusahaan sebagai Presiden Direktur. Hal ini menjadi sejarah pertama bagi Azbil Corporation Jepang memilih pimpinan cabang perusahaannya dari non-Japanese, seorang Putra Batak yang beragama Kristen pula.

Jabatan itu melecutnya untuk terus menambah pengetahuan dengan studi kembali, dia mengambil strata Doktoral. Maka filosofinya dalam berlajar, terus belajar, selagi masih ada waktu. “Kepercayaan ini sangat berat buat saya dan mengingat usia saya pada waktu itu tepat 45 tahun. Kepercayaan ini harus saya wujudnyatakan dengan terus meningkatkan kapasitas saya dalam kemampuan saya dalam manajemen, sehingga mendorong saya mengambil program Doktor,” ujar lulusan Doktor Universitas Padjadjaran, Bandung ini.

“Perkuliahan saya di Universitas Padjadjaran Bandung di program Doktor ilmu ekonomi dan bisnis dapat saya selesaikan selama tiga tahun, dengan predikat lulus cumlaude dengan IP 3.98. Nilai keilmuan kedoktoran saya adalah bagaimana membangun strategi bisnis yang berkelanjutan,” jelasnya lagi. Dalam penelitian disertasinya, Mombang menyebut, dalam membangun bisnis berkelanjutan, membutuhkan reputasi perusahaan yang memiliki nilai equitas dan nilai emotional, didukung kegiatan inovasi dan pengembangan produk portofolio, dan memiliki nilai keunggulan bersaing yang sesuai dengan kebutuhan pasar.

Hasil disertasi ini membuatnya semakin percaya diri, dan merasakan ilmu ini tak berhenti pada dirinya atau perusahaan yang dipimpinnya, tetapi harus diteruskan kepada generasi muda bangsa Indonesia, supaya setiap perusahaan besar atau perusahaan sedang menengah punya visi untuk membangun kinerja bisnis yang berkelanjutan.

“Membangun bisnis yang berkelanjutan membutuhkan komitmen pimpinan yang berjiwa kharismatik. Tak hanya berorientasi pendek menengah, tapi juga berorientasi panjang, karena perlu ada biaya yang harus dikeluarkan dalam membangun reputasi perusahaan sebagai investasi dalam membangun masa depan perusahaan, seperti pembangunan sumber daya manusia yang unggul sebagai asset perusahaan yang sulit ditiru pesaing,” jelasnya lagi.

Era Revolusi Industri 4.0

 

Di era ini setiap personal dituntut memiliki disiplin, punya atitude bagus dan memiliki pengetahuan. Masa di mana bermunculan banyak sekali inovasi-inovasi yang tak terlihat, tak disadari oleh organisasi mapan sehingga mengganggu jalannya aktivitas tatanan sistem lama, bahkan menghancurkan sistem lama tersebut.

Mombang melihat lain dan menekankan, untuk bisa eksis di era disruptif ini, seseorang mesti meninggalkan zona nyaman; dan harus kembali lincah dan gesit berkejaran dengan waktu. Selain itu fokus dan konstan pada tujuan agar persisten. Menurutnya, itulah yang membentuk mental seseorang menjadi smart.

“Di era Revolusi Industri 4.0 ini kita bertransformasi untuk memperbaiki diri. Jangan sibuk mengkritik orang lain lupa memperbaiki diri. Sebab orang yang tak menguasai teknologi dan mampu berselancar di era ini akan tertinggal.” Dia mencontohkan, budaya yang dibangun korporasi di Jepang, mereka maju dan sukses karena mereka memahami keadaan, mereka disipilin untuk terus berinovasi.

“Kita mesti mampu menghadapi tantangan pada zamannya di era Revolusi Industri 4.0 dan tak bisa menghindari tuntutan yang memaksa untuk lebih kreatif, inovatif, serta selalu melakukan pengembangan kompetensi yang dimiliki, disesuaikan dengan kebutuhan zaman. Sebab di era Revolusi Industri 4.0 memunculkan tantangan baru, di antaranya, adanya perubahan perilaku pada generasi dalam konteks pembelajaran, hal itu diakibatkan oleh potensi distrupsi yang cukup tinggi pada setiap individu, kondisi dimana seseorang menjadi sulit memahami isu, sampai tak terverifikasi. Oleh karenanya, di era Revolusi Industri 4.0, setiap kita dituntut adaptif perubahan.”

Menurutnya, orang-orang yang sukses ke depan adalah orang-orang bukan saja menguasai teknologi, tetapi menguasai data, sebagaimana pernah dikatakan Jack Ma, perlu menguasai data berbasis pada mutu dan pasar. Maka tepatlah premis yang menyebut, siapa yang tak mampu beradaptasi dengan zaman akan tersingkir. Sebaliknya yang mampu beradaptasi, berselancar di atasnya yang survival.

Bagi Mombang mesti ada strategi dalam memacu pertumbuhan. Bahwa jelas, krisis ekonomi membuat semua langkah pendekatan tersebut terhenti untuk sementara waktu, tetapi orang yang selalu adaptif terhadap perubahan akan senantiasa optimistis akan perubahan, bahkan akan memacu daya juangnya dalam setiap perubahan. Masalahnya, adalah kegagalan untuk beradaptasi.

Karenanya, dia menghimbau, satu lagi pelajaran penting yang bisa kita petik dari runtuhnya kerajaan bisnis seperti Yahoo! Misalnya, adalah: jangan terlena dengan kesuksesan yang telah diraih. Masalahnya, bagi perusahaan-perusahaan yang sudah terlanjur besar, virus yang menggerogoti penyakit lembam seperti ini bukan merupakan sesuatu yang langka. Krisis ekonomi membuat semua langkah pendekatan tersebut terhenti untuk sementara waktu, tetapi orang yang selalu adaptif terhadap perubahan akan senantiasa optimistis akan perubahan, bahkan akan memacu daya juang dalam setiap perubahan, dan untuk bisa sinambung (sustainable) dalam jangka panjang.

Di era pembangunan ekonomi kreatif seperti ini, menurutnya, generasi muda dengan pemanfaatan teknologi digital seperti e-marketing dan e-commerce untuk melahirkan pengusaha ekonomi kreatif generasi muda. Nyatanya memang banyak perusahaan besar kolap oleh karena tak siap dan tak mampu mempersiapkan diri, yang menaik justru usaha-usaha yang dirintis generasi muda berbasis teknologi informasi. Padahal, prediksi datangnya era digital ini bukan tiba-tiba muncul.

Mombang juga aktif menulis gagasan dan pemikirannya. Termasuk tulisannya mengamati fenomena yang terjadi di masyarakat. Disinilah, menurutnya faktor kepemimpinan yang kuat dan visioner itu perlu ada. Dia mencontohkan misalnya, dalam tulisannya di kompasiana.com menyebut, perusahaan Fujifilm asal Jepang itu bisa konstan berjalan, berhasil menyelamatkan diri dari distrupsi dengan mentransformasi Fujifilm lewat inisiatif-inisiatif inovasi serta diversifikasinya, dari perusahaan fotografi menjadi korporasi sains yang multi-industri.

Peduli tanah Batak

Pria kelahiran Kota Dolok Sanggul, 6 Oktober 1966 ini beruntung ditopang keluarga. Sebagai sosok yang mobilitasnya tinggi, peran istrinya Linda Boru Marpaung, sokongan semangat dari ketiga anaknya;  Naudita Olivia Sihite, Darrell Matthews Hatoguan Sihite dan Nathania Isabella Ulibasa Sihite yang membuatnya terus antusias bergerak untuk memberi setitik arti di kehidupan. Di masa hidupnya, ingin mengabdi untuk kemaslahatan, terutama demi kemajuan kampung halamannya di tanah Batak.

Tentu, dia juga mengotokritik penerapan acara adat yang terlalu berlebih, mewah dan boros. “Banyak acara adat terlalu lama dan melelahkan, oleh karena banyak tambahan di luar esensi adat. Selain itu, bersifat eksklusif, kurang membuka pintu bagi anggota di luar suku Batak. Luncunya, apa yang diterapkan tak mudah dipahami dan diwariskan kepada generasi muda.”

Karenanya, dia memberi kritikal terhadap acara adat, agar perlu penjelasan konkrit titik-titik yang disorot sehingga generasi muda paham, bukan gagal paham terhadap kritik ini. Baginya, adat adalah identitas yang harus dijaga, tetapi harus bersifat komparatif, sehingga keunikannya mempunyai nilai kebanggaan. Sebab tuntutan globalisasi tak mungkin dinafikan. Maka perlu efektifitas dan efisiensi dan setiap ada peluang perbaikan untuk mengarah efisiensi, maka akan dilakukan perbaikan secara berkelanjutan. Tentu, ada sebagai identitas tak kehilangan maknanya, karena tuntutan efisiensi dan efektifitas.

Atas perhatiannya untuk kampung halaman, dia pun sudi memberi diri bagi tanah Batak. Atas dasar ingin pengabdian lebih luas, dia mencalonkan diri, maju menjadi Calon Legislatif di DPR RI dari daerah pemilihan Suamatera Utara II. “Saya tak mencari jabatan atau pekerjaan. Murni pengabdian untuk kemajuan masyarakat di kawasan Danau Toba.”

Tak membuat janji-janji palsu untuk kampanye. Murni mengajak masyarakat untuk tercerahkan. Menurutnya, orang sudah bosan dengan tataran teori, visi-misi, yang dibutuhkan sekarang bagaimana mengaplikasikan dalam tindakan, dari gagasan dan pikiran. “Rakyat sudah bosan dengan visi-misi. Sudah bosan dengan janji-janji kampanye, sudah tak waktunya kasih-kasih sembako, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana mensubsidi pendidikan. Bahwa ke depan semangat pendidikan kita harus berubah.”

Dia melihat sekarang tak banyak lagi cendikia orang Batak dibanding etnis lain di Indonesia, padahal dulu orang Batak dikenal dengan taraf pendidikan yang mumpuni. Namun yang terjadi sekarang terlihat justru ketidakmampuan orang Batak mempertahankan kualitas pendidikan di masa lalu itu, malah cenderung melemah.

Karenanya, dia bergairah untuk menenguhkan kembali spirit, daya juang Batak untuk terus-menerus dapat ditumbuhkembangkan. “Sejujurnya, sejak dulu mental Batak dulu adalah pejuang. Orang Batak perantau daya juangnya tinggi. Siang kerja, malam bekerja. Hanya sekarang semangat juang mereka makin tergerus,” ujarnya prihatin.

Oleh karenanya, dia mengajak ada transformasi, sebagaimana slogan pemerintah Presiden Joko Widodo, revolusi mental. Maka baginya perlu juga ada semacam revolusi mental bagi orang Batak. Dia mengkritisi juga, filosofi Batak yang selama ini cenderung mengutamakan kekayaan. “Seolah-olah orang kaya itulah yang utama. Tetapi gereja juga berperan atas hal ini, hanya mengapresiasi orang yang kaya materi.”

Lalu, bagaimana memperbaiki itu? Menurutnya, yang pertama adalah mentrasformasi keluarga. “Keluarga harus ditransformasikan. Ketika keluarga tak bisa menjadi pondasi kita berpijak, membangun mental, maka susahlah untuk membangun sikap karakter tadi. Seseorang anak bisa teguh dalam daya juang tentu karena meniru keluarga. Ketika keluarga anggota keluarganya, saling menopang, sinergi terjadi.”

Hal senada dia lakukan sebagai kepala keluarga, Mombang konsisten dengan ungkapannya itu, walau harus memimpin perusahaan besar, dan di tengah-tengah kesibukan itu, masih juga memberi perhatian tugas di gereja, mengajar di beberapa kampus dan memberi perhatian ke beberapa organisasi yang juga memintanya membantu. Tetapi komunikasi dengan keluarga harus terus dibangun. Menurutnya yang penting kualitas komunikasinya, bukan kuantitas waktu berjumpa.

Lagi-lagi, ke depan, dia rindu kapasitas dan kapabilitas masyarakat Batak, terutama generasi muda makin maju pendidikan akademik dan karakternya. Karenanya, sebelum sampai ke tataran itu, dia mendorong adanya pendidikan budi pekerti, terutama karakter sejak usia dini dalam pendidikan dasar dan lanjutan itu dalam rumah, dalam keluarga.

“Intinya keluarga dan komunikasi terbangun dengan baik, agar saling memahami. Saya terapkan itu dalam rumah. Tatkala di rumah misalnya, saya ingatkan anak-anak, bahwa tugas mereka sekolah. Maka belajar itu yang nomor satu. Sementara jika kuantitas waktu dalam berjumpa dengan anggota keluarga memang sulit, saya menjelaskan dengan komunikasi. Yang penting sebenarnya kualitas berjumpa bersama dengan anggota keluarga; komunikasi suami istri bersama anak-anak dimaksimalkan. Semuanya harus terlayani dengan baik. Karena waktu yang lain harus dibagi,” ujar calon penatua di HKBP Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, ini.

Potensi Danau Toba

Sebagai putra Batak, kelahiran Dolok Sanggul, Kabupaten Humbang Hasundutan, Mombang melihat lain potensi pariwisata di lingkungan Danau Toba yang dikelilingi tujuh kabupaten, yang sekarang masuk zona Otorita Danau Toba. Baginya, keindahan alam Danau Toba tak kalah menariknya dibanding daerah lain di tanah air.

Masalahnya, selama ini jarang wisatawan melihat pemandangan Danau Toba oleh kurangnya pelayanan yang baik. Oleh karenanya, menurutnya, keindahan alam Danau Toba juga mesti ditransformasi menjadi salah satu destinasi unggul pariwisata di Sumatera Utara, khususnya di tanah Batak, dengan terlebih dahulu mentransformasikan mindset ramah untuk wisatawan.

Baginya, hal ini tentu bukan hanya impian tetapi harus diwujudkan. Benar-benar menjadi tujuan wisata unggulan di Indonesia. Betapa tidak, Danau Toba memiliki resources, sumber daya yang sarat dengan keunggulan komparatif yang tak dimiliki daerah lain. Selain itu, menurutnya, keindahan alam Danau Toba juga memiliki wisata situs-situs sejarah yang ada di hampir semua Kabupaten di kawasan Danau Toba; seperti sejarah berupa Istana Raja Sisingamagaraja di Bakkara, atau makam I.L Nommesen di Sigumpar, dan di wilayah seperti Samosir.

Maka keunggulan komparatif seperti ini mesti dikelola dengan baik sehingga ke depan kawasan Danau Toba sebagai tujuan wisata bisa memberi benefit bagi pemerintah daerah khususnya di kawasan ini. Hal itu bisa terjadi jika masyarakat juga bertransformasi menjadi masyarakat yang singap dan adaptif, ramah, tetapi identitas otentiknya tetap terpampang. Mombang memprediksi, ke depan pariwisata Danau Toba tumbuh menjadi tujuan wisata, bukan saja di Indonesia, tetapi di mancanegara. Karenanya, dia menghimbau, melihat terusnya pertumbuhan dan perkembangan menuju hal itu, masyarakat Batak juga harus siap secara mental, karena itu mesti menyiapkan diri.

“Saya berkerinduan ke depan kiranya tercipta  di era generasi mendatang, ada putra-putri Batak khususnya dari Tapanuli Raya bersaing di kancah Internasional, hal ini adalah kebanggan kita nantinya dan itu termasuk kerinduan pendahulu kita dan kita harus dorong itu untuk maju,” jelasnya, sembari menambahkan, kerinduannya dalam mengembangkan Danau Toba, dan mendirikan Universitas atau Politeknik di wilayah Tapanuli Raya.

“Saya terlahir dan berhasil dari dunia pendidikan, dan saat ini saya masih aktif di salah satu perguruan tinggi luar negeri. Pendidikan itu sangat penting, dan itu semua sudah kita tuangkan dalam rencana kita ke depan bagaimana caranya nanti ketika kita terpilih harus ada politeknik di wilayah kita, biar jangkauan pendidikan itu dekat dengan daerah kita, dan itu nanti termasuk dalam program kita, selain pengembangan pariwisata Danau Toba,” tandasnya.

Dosen Pascasarjana FEB Universitas Pancasila dan Universitas Mpu Tantular ini, juga menekankan pembangunan sarana infrastuktur menjadi kunci penting di dalam membuka isolasi daerah yang berpeluang menjadi destinasi pariwisata dunia ke depan. Selain itu, dia menyarankan, Pemerintah Daerah (Pemda) mesti juga adaptif terhadap perkembangan yang ada.

Bahkan, menurutnya, perlu membentuk team khusus untuk melakukan berbagai kajian-kajian seperti percepatan pembangunan destinasi pariwisata, termasuk mengundang investor untuk membangun fasilitas pendukung pariwisata. Oleh karena itu, perlu peningkatan pembangunan ekonomi masyarakat, dengan menggali potensi industri yang dapat menunjang pariwisata, dan memberikan fasilitas kemudahan dalam berinvestasi, melindungi masyarakat dari dominasi investor asing.

Menjadi inspirasi

Sebagaimana di atas sudah dikisahkan, menceritakan kisah  kehidupanya, sejak kecil sudah didik orangtua menjadi anak yang mandiri dan berbagai untuk sesama. “Masa kecil saya, saya sudah berdagang. Sejak kecil sudah kehilangan masa kecil. Semasa SD setiap pulang sekolah saya sudah dipercaya untuk menjaga toko. SMP saya sudah terbiasa disuruh untuk membuat cek mundur, yang tanda tangan kakak saya, karena sudah memiliki rekening di bank,” kisahnya.

Selain akar kedisiplinan ditanamkan dari keluarga, dia banyak belajar dengan budaya Jepang melatih dan menerapkan disiplin sejak masa kanak-kanak. Beruntung dia dididik dengan disiplin dari orangtua yang berjiwa wirausahawan mandiri. “Sebelum berangkat sekolah sudah harus buka toko, dan paling cepat tidur pukul sembilan malam. Itu masih kanak-kakak. Artinya, disiplin itu sudah ditanamkan oleh orangtua sejak kecil. Ketika waktu belajar pun tak ada waktu khusus, tetapi belajar sambil jaga toko. Demikian juga tatkala makan, tak ada waktu khusus, sambil makan jaga toko,” tambahnya lagi. Inilah yang membentuk karakternya. Sedari kecil sudah terlatih, maka ketika merantau pun karakter disiplin itu ditanamkan dalam sanubarinya.

Baginya, kesuksesan sesungguhnya tatkala hidupnya bermanfaat untuk orang lain. Itu sebabnya dalam kamus hidupnya, selagi hidup mengusahakan yang terbaik bagi sesama, paling tidak bisa menjadi pemberi semangat, dan menginspirasi generasi muda untuk jangan sekptis terhadap keadaan. Dia menyakini, bahwa Tuhan memberi kita masing-masing potensi, masalahnya bagaimana memunculkan potensi yang dimiliki itu untuk mampu memberi pembaharuan. Akhirnya, kerinduannya ke depan, generasi muda bangsa ini makin terus melaju, bisa berkontribusi dan berkompetisi di era ini. Tak hanya sekedar penikmat, menikmati kemajuan,  tetapi mampu memacu diri dan punya daya juang di era yang distrutif ini. (Hojot Marluga)

 

Biodata:

Nama Lengkap: Dr. Ir. Mombang Sihite, MM

Tempat/Tanggal Lahir Dolok Sanggul, Humbahas 06 Oktober 1966

Nama Bapak

Waldemar Juragan Sihite (+)

Nama Ibu

Kandung Nursia Manalu (+)

Nama Istri:

Herlina Lindawati Marpaung

Anak

  1. Naudita Olivia Sihite
  2. Darrell Matthews Hatoguan Sihite
  3. Nathania Isabella Ulibasa Sihite

Pendikan:

D3 Politeknik Universitas Indonesia Teknik Elektro, tahun 1986-1989

S1 Universitas Jayabaya Fakultas Teknik Elektro, tahun 2002-2004

S2 Universitas Pancasila Marketing Manajemen, tahun 2006 – 2009

S3 Universitas Padjadjaran Manajemen Stratejik, tahun 2014- 2017

 

Pengalaman Pekerjaan:

Tahun 2012 – Sekarang President Director PT. Azbil Berca Indonesia

Tahun 2009-2011 Director PT Azbil Berca Indonesia

Tahun 2003-2008 General Manager PT. Yamatake Berca Indonesia

Tahun 2001-2002 Senior Manager PT Yamatake Berca Indonesia

Tahun 1998-2000 Engineering Manager PT Yamatake Berca Indonesia

Tahun 1996-1997 Project Coordinator PT Yamatake Berca Indonesia

Tahun 1993-1998 Project Manager PT Berca Indonesia

Tahun 1990-1993 Project Engineer PT Berca Indonesia

Karya Ilmiah yang telah diterbitkan:

No Judul Tahun Penerbit
1 The Competitive Strategy in Green Building for Indonesia Stakeholder’s 2015 International Journal of Innovation and Technology – IJIMT
2 Business Performance Sustainability :A case of Industry of Building Automation Industry in Indonesia 2016 International Journal of Economics, Commerce and Management-United Kingdom
3 Gain Competitive through Reputation 2016 South East Asia Journal of Contemporary Business, Economics and Law
4 Corporate Sustainability Performance on Service Industry: A study of factors that Encourages Competitive Advantage for Industry Performance 2017 Sedang proses ke Scopus oleh Medwell Journal Scientific research publishing company
5 Competitive Advantage: Mediator of Diversification and Performance 2017 Sedang proses ke Scopus

Oleh 2nd Annual Applied Science and Engineering Conference – AASEC

6 Company’s Innovation and Cooperative Advantage as Sustainability Economic Support 2017 Sedang proses ke Scopus

Oleh the 1st International Conference on Research of Educational Administration and Management – ICREAM

 

 

Pdt. Dr. Darwin Lumban Tobing


IMG_5203

Terpilihnya menjadi ephorus HKBP, Pdt. Dr. Darwin Lumbantobing sebagai  ephorus ke-16 membawa optimisme baru pada HKBP. Terpilih dalam Sinode Godang HKBP ke-62 di Seminarium Sipoholon sebagai ephorus periode 2016-2020. Sebelum menjadi ephorus, dia adalah Ketua Rapat Pendeta (KRP) HKBP. Malang melintang di dunia pendidik teologia. Selain itu, dia dikenal luas di kalangan umat Kristen dan sesama pendeta karena jabatannya ketika itu, Ketua STT HKBP Nommensen, Pematang Siantar (di Sumatera Utara ada 50 Sinode berpusat dari 326 Sinode yang terdaftar di Ditjen Bimas Kristen Prostestan). Pria kelahiran Kampung Rawang, Kisaran, pada 22 Agustus 1956.

Saat diwawancara, mengingat sejarah HKBP yang begitu panjang dan menjadi salah satu sinode terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara. Tentu terus berbenah, termasuk masalah-masalah penempatan pendeta. Dia berharap ke depan persoalan penempatan tugas pendeta tak menjadi permasalahan. “Ke depan biro Personalia mesti berdayaguna,” ujar peraih gelar doktoral dari LSTC Chicago, USA, tahun 1999 ini.

Bapak dari empat putera dan puteri lulusan pascasarjana dari universitas negeri, dan suami dari Mantasia br Siahaan rindu di masa kepemimpinan HKBP makin hari makin baik. Salah satu ephorus HKBP yang tergolong produktif menulis. Palin tidak dia sudah menulis tujuh belas buku, buku yang terakhir bertajuk HKBP do HKBP, HKBP Is HKBP.

Judul itu menurutnya bukan buah pikirannya, tetapi penyataan dari ephorus HKBP putra Batak kedua Pdt Dr Justin Sihombing yang saat memberi pernyataan dalam satu hajatan besar Lutheran World Federation (LWF). Kata-kaka itu terlontar ketika ditanya para anggota LWF tentang jati diri HKBP. Lalu, oleh Ompui Justin Sihombing ketika itu menyebut HKBP adalah HKBP yang berarti HKBP walau sebagai Lutheran ada jati diri orisinil. Hanya saja menurutnya, pernyataan itu selama ini tak dijelaskan dan dijabarkan. Karena itulah, dalam buku tersebut dia menjelaskan itu secara detail kerinduannya untuk HKBP.

“Buku itu berisikan ulasan teologis mencari dan menemukan makna teologis di balik ungkapan tersebut,” ujarnya kepada penulis, saat berjumpa dengannya, beberapa minggu sebelum pemilihan ephorus. Dalam buku tersebut memang terlihat kematangan berpikir teologisnya sebagai pendeta yang menggeluti dunia pendidikan teologia. “Kondisi jemaat sekarang sangat membutuhkan pelayanan yang benar-benar dapat menyentuh dan memberi solusi terhadap pergumulan warga jemaat,” tambah mantan rektor STT Pematang Siantar, itu.

Dipanggil di Dumai

Sebenarnya Darwin dulu berniat bekerja di perusahaan minyak. Tetapi, panggilan menjadi hamba Tuhan membawanya menjadi masuk sekolah teologia. Begitu lulus sekolah teologia, menjadi pendeta yang terus menghidupi jiwa pelayanan. Puncak karier pelayanannya sebelum menjadi ephorus, Ketua STT HKBP Siantar dan merangkap sebagai Ketua Rapot Pandita HKBP. Keduanya jabatan prestisius di HKBP. Ditanya mengapa bisa dipercaya jabatan itu? Baginya, itu semata-mata privilese dari Tuhan. Sesungguhnya jika menegok ke belakang, jalan hidupnya berliku. Dia dilahirkan di Kisaran. Namun saat remaja, oleh kakak iparnya (lae) mengajak ke Dumai. Iparnya bekerja di Caltex saat itu.

Maka pendidikan SMP dilaluinya di Dumai. Begitu lulus SMP di Dumai hendak melanjutkan ke tingkat atas SLTA. Oleh keluarga disarankan mendaftarkan ke STM HKBP. “Saat itu memang STM HKBP terkenal. Semua lulusannya diterima di Caltex dan Pertamina,” ujarnya. Maka dia pun mengikuti test. Tetapi, lucunya dia tak lulus test STM HKBP. “Saya kira itulah satu-satunya cerita saya gagal,” ujar terbahak-bahak. Tak diterima di STM HKBP, dia kemudian mendaftarakan diri ke SMA Campus dekat dengan STT Nommensen, Pematang Siantar. “Saya merasa bahwa ketika meninggalkan Dumai disitulah saya dipanggil Tuhan,” kenangnya. Maka, begitu lulus SMA dia mengikuti kata hatinya, terpanggil menjadi sekolah pendeta di STT Nommensen, Pematang Siantar.

Ditanya tentang visi-misinya, kerinduannya HKBP menjadi berkat? “Sudah ada dalam aturan peraturan HKBP yaitu menjadi berkat bagi dunia. Bagaimana menerapkan visi itu. Oleh karena itu, saya melihat untuk mengembangkan HKBP ada empat bidang, pertama, bagaimana menjawab secara konkrit tantangan yang muncul dari internal, karena banyak persoalan-persoalan yang harus dituntaskan. Apa yang sudah dicapai pada periode sebelumya kita hargai, pertahankan bahkan tingkatkan. Namun apabila masih ada peluang yang baru untuk meningkatkan pelayanan, maka akan kita formulasi sedemikian rupa.

Kedua, HKBP harus menjadi berkat bagi gereja lain. Gereja-gereja  oikumene di Asia Tenggara, HKBP selalu disandingkan dengan gereja terbesar, untuk itu harus bisa menjawab melalui program konkrit bukan melalui kata-kata. Ketiga, harus menjadi berkat bagi agama-agama lain. Kepelbagaian agama tak mungkin kita abaikan. Namun harus dihargai dan dicari bagaimana agar bisa saling merangkul untuk melaksanakan kehidupan spritualitas yang lebih baik kedepannya. Dan akhirnya, gereja harus menjadi berkat bagi negara, bangsa bahkan dunia. “HKBP tidak hanya sebagai penerima berkat saja tetapi harus menjadi saluran berkat. Dimulai dari berkat bagi internal, gereja tetangga, agama lain, negara, bangsa dan dunia ini,” terangnya.

Tak lupa juga mensikronisasikan pelayanan bidang marturia, diakonia dan koinonia. Artinya, bagaimana HKBP benar-benar menjadi berkat bagi dunia sungguh menjadi kerinduannya. “Berkat yang kita maksud adalah berkat dalam hal yang kecil dan lebih luas lagi dalam semua lapisan kehidupan. Intinya yang kita lakukan adalah bagaimana merevitalisasi berbagai hal yang ada di HKBP. Direvitaliasi agar lebih berdaya guna, bedampak guna untuk jemaat dan bangsa dan masyarakat.”

Lalu, bagaimana aturan peratuan HKBP ke depan? “Sesungguhnya sudah ditetapkan di Sinode Godang di Sipoholon, Nopember 1951, bahkan sejak tahun 1881. Sejak berdiri dikelola para missionaris sudah ada tata gereja yang baik. Tetapi, tentu perubahan zaman kita tak boleh napikan, mesti ada adaptasi untuk perbaikan yang lebih baik. Waktu itu sudah ada tata gereja disusun berdasarkan kebutuhan HKBP waktu itu. Bahwa pada tata gereja yang dibuat di sana memang juga tercantum kata untuk setiap sekali 10 tahun diperbaharui.

Menurutnya, kalau beracu hal itu, HKBP selalu mereaktualisasi diri bahwa sekali dalam sepuluh tahun ada pembaharuan tata gereja. Namun sejak tahun 2002 terjadi perubahan tata gereja yang menyiratkan bahwa amandemen terhadap tata gereja bisa dilakukan setiap tahun.” Tak lagi dalam setiap sepuluh tahun, asal oleh karena kebutuhannya. Namun perubahan terjadi tahun 2014 lalu, bahwa tata gereja tak boleh lagi diamandemen setiap sekali dalam sepuluh tahun. Padahal, ada saja hal-hal yang butuh diubah secepatnya. Misalnya, masalah calon pareses dua orang dalam satu distrik.

Mutasi pendeta

Lalu, ditanya tentang banyak yang menyebut bahwa mutasi di HKBP selalu saja ada yang meninggalkan riak-riak. Tak selalu berjalan mulus. Apa yang membuat demikian? “Sudah tentu memang setiap gereja memiliki sistim atau tata gereja masing-masing. Termasuk di dalamnya sistim mekanisme muatasi. Umumnya ada dua cara yang dilakukan sistim sending pastor dan calling pastor.” Menurutnya, sending pastor berarti mengutus pendeta dari pelayanan yang lama ke pelayanan yang baru. Artinya, otoritas dari pimpinan gereja melihat dengan analisa dan berbagai pertimbangan menempatkan seseorang untuk dilayani di satu tempat. Umumnya hal itu dilakukan oleh gereja sinodal dan episkopal. Sementara calling pastor kebalikan dari sending pastor.

Penggantian dari seorang pelayan atau pendeta dilakukan oleh analisa dari jemaat yang diwakili majelis jemaat. Majelis jemaatlah yang memanggil atau meminta pelayanan pendeta. Prosesnya tentu setelah majelis sepakat untuk meminta satu pendeta, maka mengajukan nama tersebut pada pimpinan gereja. Tentu, jika jemaat yang memilih seorang pelayan, maka pendeta yang mereka pilih adalah pendeta yang terbaik. Padahal, kenyataannya tak selalu demikian, karena memang tak ada yang sempurna. Calling pastor biasanya mengikuti presbyterial dan kongresional.

Maka, apabila dalam satu tata gereja hal ini dilaksanakan, calling pastor dan sending pastor sudah tentu selalu membawa riak-riak baru. “Jika kedua sistim yang demikian dijalankan bersama-sama, lama kelamaan bisa mengundang konflik. Karena pendeta satu merasa tak dihargai, atau yang satu merasa didiskriminasi,” jelasnya. Oleh karena itu, tambahnya. “Sebaiknya memilih menetapkan satu dari dua sistim tadi, sistim pemutasian. Sistim sending pastor yang lebih tepat untuk HKBP.”

Menurutnya, selain karena sistim episkopal dan senodal lebih cocok untuk HKBP. Oleh karena itu, HKBP mesti konsisten dan konsekuen menjalankan sistim sending pastor. Di samping selain karena secara struktural hirarkis yang sinodal dan episcopal itu, kehidupan masyarakat Batak tetap menganut pola pikir totalitarian, paternalistik dan sangat menghormati pigur primus interpares. “Ketokohan figuratif dibutuhkan sebagai tokoh yang mempersatu. Namun, tentu yang lebih utama pigur yang menjadi teladan, yang paling utama prilaku, tindakan dan perbuatannya yang harus benar-benar menunjukkan sebagai tokoh dan pigur pemersatu.”

“Calon pendeta HKBP baik yang baru maupun yang akan dimutasikan harus terlebih dahulu mengenal tempat pelayanannya. Agar nanti, jangan, setelah ditempatkan di sana pendeta tak tahu atau barangkali jemaat menolak. Ini perlu diantisipasi agar tak ada lagi pembangkangan terhadap SK pimpinan,” ujarnya. Lalu, sebagai ephorus apa kerinduanya untuk HKBP ke depan? “Saya kira perlu dijadikan HKBP sebagai kampung ke dua,” ujarnya. (Hojot Marluga)

Jonro I. Munthe, S.Sos


Memotivasi Tokoh-tokoh Kristiani Melalui NARWASTU

Bernama lengkap Jonro Inranto Munthe. Pria Batak kelahiran Dolok Sanggul, Sumatera Utara, 6 April 1973 di kalangan gereja dan tokoh gereja sosok yang kenal konsisten memberitakan berita Nasrani. Pemimpin Umum dan Pemimpin Redaksi Majalah Kristiani NARWASTU dan salah satu pendiri Persekutuan Wartawan Media Kristiani Indonesia (PERWAMKI). Jonro I. Munthe, S.Sos yang, selama ini dikenal sosok jurnalis Kristiani yang aktif, dinamis, cerdas dan berprestasi.

Tak hanya jurnalis, ia kerap diundang sebagai moderator dan pembicara di berbagai diskusi dan seminar. Ia tak hanya diundang oleh gereja atau ormas Kristiani untuk memberikan pemikiran-pemikirannya seputar ilmu jurnalistik, tapi juga soal keadaan sosial, gereja, kemasyarakatan dan politik. Lulusan Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta, yang pernah dipercaya sebagai salah satu Ketua DPP Partai Demokrasi Kasih Bangsa (PDKB) ini sejak mahasiswa pun kerap diminta tampil di acara debat mahasiswa dan diskusi.

Selain itu, mantan Ketua Litbang DPP PROJUSTISIA (Persekutuan Oikoumene Jurnalis Kristiani Indonesia) ini tak jarang tampil jadi narasumber di Radio Pelita Kasih (RPK) 96,30 FM untuk topik-topik seputar gereja, sosial dan politik. Mantan Ketua Umum Pemuda Katolik dan Wakil Sekjen DPP Partai Hanura, Natalis Situmorang pernah mengatakan, tak bisa dipungkiri, Jonro Munthe adalah salah satu tokoh muda Kristiani yang patut diperhitungkan karena kiprahnya di media.

Pasalnya, kata Natalis, Jonro pula yang pertama kali menggagas pemberian award (penghargaan) setiap akhir tahun terhadap tokoh-tokoh Kristiani yang berkarya di tengah gereja, masyarakat dan bangsa. Pemberian award itu sudah ia lakukan di majalah yang dipimpinnya sejak 1999 lalu.

Setiap majalahnya menggelar acara ibadah Natal dan tahun baru, jangan heran kalau banyak tokoh dari berbagai latar belakang atau politisi Kristen hadir. Soalnya, majalah yang dipimpinnya memang cukup populer di kalangan warga gereja. Tak heran, kalau ia diidentikkan sebagai ikon media Kristiani, khususnya NARWASTU. Selain itu, majalahnya kerap mengadakan diskusi bersama tokoh-tokoh Kristiani. Diskusi itu digelar Forum Diskusi Daniel Indonesia (FDDI), yang di dalamnya ada penasihat Majalah NARWASTU berlatar belakang pemimpin gereja, politisi, pengacara, pengusaha, mantan anggota DPR dan jenderal purnawirawan.

Jonro mengatakan, melalui diskusi FDDI yang mereka adakan ia berharap para tokoh muda punya semangat untuk memikirkan persoalan masyarakat dan kebangsaan. “Melalui diskusi FDDI kami ingin mengajak sahabat-sahabat kaum muda peduli pada persoalan gereja, masyarakat dan bangsa ini. FDDI terbentuk pada awal 2010 setelah melihat banyak caleg muda Kristen yang rontok, lalu tidak tahu berbuat apa lagi. Akhirnya kita ajak mereka berdiskusi bersama tokoh-tokoh senior untuk memberikan motivasi dan bekal,” terangnya.

Tokoh seperti Jakob Tobing, Sabam Sirait, Pdt. A.A. Yewangoe. Dr. J. Kristiadi, Dr. Tjipta Lesmana, Maruarar Sirait, Basuki Tjahaya Purnama (Ahok), Martin Hutabarat, Gregorius Seto Harianto, Jakobus Mayong Padang, Prof. Irzan Tanjung dan Jhonny Nelson Simanjuntak sudah pernah diundang bicara di FDDI. ”Kita undang tokoh-tokoh senior yang kita anggap bisa memberi bekal dan bisa memberikan motivasi kepada kami kaum muda lewat sebuah diskusi interaktif,” papar Jonro yang masih berkeinginan menambah bekal ilmu, yakni ingin kuliah ilmu hukum dan memperdalam pengetahuan bahasa Inggris.

Lantaran dikenal “jurnalis plus” pada akhir 2009 lalu, Jonro mendapat predikat atau award  dari Majelis Pers Indonesia (MPI) sebagai “Jurnalis Muda Motivator” yang diterimanya di Gedung Dewan Pers, Jakarta. Ayah tiga anak ini sejak mahasiswa sudah aktif dalam dunia jurnalistik. Di samping itu, saat mahasiswa suami dari Faridawati Rajagukguk ini giat melatih olahraga beladiri di kampusnya. Sejumlah prestasi diraihnya, ia pernah mengikuti kejuaraan silat antarmahasiswa se-ASEAN, dan pada Oktober 1993 berhasil meraih medali emas di kejuaraan silat antarmaster se-Jabodetabek. Ia pun pernah meraih juara II dalam sanyembara penulisan artikel Kristiani pada 1997 yang diadakan majalah Kabar Baik.

Semasa mahasiswa Jonro yang beribadah di Gereja GPIB Harapan Indah, Kota Bekasi, Jawa Barat, pernah menjadi kolumnis di Majalah Bona Ni Pinasa, media orang Sumut terbesar yang terbit di Jakarta. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di sejumlah media nasional, termasuk tabloid Mutiara, yang kini tak terbit lagi. Lantaran tulisannya yang dimuat di Mutiara pernah mengkritik penguasa kala itu yang memihak pada PDI Soerjadi pada Juli 1996 lalu, ia pun dipanggil petinggi kampusnya agar jangan “melawan arus”, karena saat itu kekuasan Orde Baru sangat represif.  Gara-gara tulisannya yang kritis tentang isu tukang santet yang dimuat di Bona Ni Pinasa pada 1996 lalu, ia sampai didatangi sejumlah pemuka adat dari sebuah kampung di Tapanuli Utara ke Jakarta untuk meminta klarifikasi.

 “Sebagai jurnalis Kristen kita harus terus menyuarakan kabar baik. Kabar baik adalah suara kenabian, keadilan, kebenaran dan kesejahteraan,” ujar pria yang sudah menulis tiga buku ini. Bagi Jonro, hidup ini harus bermakna bagi sesama. “Meskipun kita sibuk berkarier, tapi persoalan kemasyarakatan, gereja dan bangsa perlu kita bahas untuk dicari solusinya. Sekecil apapun peran yang kita lakukan, itu perlu untuk kebaikan sesama. Hidup ini, kata Yesus, harus bermakna. Melalui media Kristiani pun kita punya peran yang tidak kecil untuk membangun masyarakat dan bangsa ini,” ujar Sekretaris Umum Keluarga Besar Perhimpunan Ompu Solonggahon Munthe, Boru dan Bere se-Jabodetabek.

Menurut Jonro, sejak tamat SMP pada 1988 ia sudah hobi menulis. Lalu pada 1992 saat mulai kuliah tulisan-tulisannya mulai dimuat di beberapa media, dan honorariumnya bisa membantu uang kuliahnya. Pada 1994 ia ditawari Pak Tom Gultom (almarhum), pimpinan Majalah Bona Ni Pinasa untuk bergabung, tapi ia memilih bekerja part time, karena ia masih kuliah. Tahun 1996 ia  magang di tabloid Mutiara yang dipimpin Pak Moxa Nadeak (almarhum), tokoh pers yang cukup vokal. “Saya banyak belajar dari Pak Moxa selama magang,” ujarnya.

Tahun 1997 saat masih mahasiswa ia sudah bergabung di Majalah NARWASTU, karena diajak Dr. Victor Silaen (almarhum), kini dosen Universitas Pelita Harapan, yang saat itu pemimpin redaksinya. Tapi karena ada dinamika sampai dua kali karena persoalan manajemen, maka kepemimpinan di media ini berubah, tapi tetap NARWASTU punya ciri khas sendiri sebagai media Kristiani alternatif. Artinya, media ini tidak hanya berbicara tentang doa, khotbah pendeta atau doktrin-doktrin Alkitab.

“Tapi, kami pun membahas fenomena yang ada itu dari sudut atau nilai-nilai Kristiani, baik itu masalah politik, sosial, hukum, budaya, pendidikan, teknologi maupun lingkungan hidup,” tukas Jonro Munthe yang pernah juga menerbitkan media komunikasi internal di Keluarga Besar Punguan Ompu Banua Munthe, Boru, Bere dan Ibebere se-Jabodetabek, dan disebarluaskan pada keluarga Munthe yang ada di berbagai kota di Tanah Air. Media komunikasi berupa buletin bernama Bona Ni Onan itu dimaksudkan sebagai media berkomunikasi, dan sajiannya seputar informasi berita keluarga, tulisan kesehatan, kerohanian, pengetahuan adat dan budaya serta pengenalan bahasa batak plus umpasanya beserta maknanya.

“Saya masih harus banyak belajar untuk memimpin media cetak seperti Majalah NARWASTU. Terus terang, saya kagum dengan perjuangan Goenawan Muhammad yang mendirikan Tempo, Surya Paloh yang bisa membesarkan Media Indonesia dan Metro TV, Jacob Utama yang membesarkan Kompas. Mereka bisa jadi sumber inspirasi untuk membangun media. Mereka sudah mengalami pahit getirnya membangun media,” tukas Jonro yang pernah diundang Kantor Kementerian Polhukam RI pada 2011 berbicara di dalam sebuah diskusi terbatas mengenai eksistensi media Kristen di dalam perannya untuk ikut serta membangun gereja, masyarakat dan bangsa.

Bahkan, Asisten Deputi VII Menkopolhukam RI Brigjen TNI Harsanto Adi bersama Kepala Bidang Humas Kementerian Polhukam dan Kepala Bidang Media Cetak Kementerian Polhukam pada awal 2013 lalu mendatangi kantor NARWASTU guna mengajak majalah yang dipimpinnya bekerjasama untuk mengadakan sebuah acara diskusi bersama media-media berbasis agama. Dan hingga kini Jonro tak berhenti menggelar diskusi yang mempertemukan tokoh-tokoh Kristiani.

Dan kini bersama tokoh-tokoh Kristiani pilihan NARWASTU yang tergabung di FORKOM NARWASTU (Forum Komunikasi Tokoh-tokoh Kristiani Pilihan NARWASTU), yang di dalamnya ada jenderal purnawirawan, advokat/pengacara senior, akademisi, mantan anggota DPR-RI, profesional, pengusaha, pimpinan ormas, pimpinan parpol, anggota dewan, pemuka masyarakat dan pimpinan sinode, ia tak pernah lelah menggelar diskusi untuk menyikapi persoalan di tengah negeri ini. Misalnya, mereka sudah menyikapi bahaya narkoba, bahaya korupsi, terorisme dan persoalan kebangsaan.

Hasil diskusi itu, tak hanya dibahas atau dirumuskan solusinya bersama tokoh-tokoh, namun juga dipublikasikan di Majalah NARWASTU, media-media Kristiani lainnya, bahkan didiskusikan di radio rohani. Kemudian diharapkan hasil diskusi itu dibaca para tokoh bangsa, eksekutif, legislatif, yudikatif, ormas agama, dan media massa agar diketahui dan bisa ditindaklanjuti demi kesejahteraan dan kedamaian di tengah masyarakat dan bangsa.

Baginya, hidup ini sarat dengan pergumulan dan tantangan, dan orang Kristen punya panggilan juga untuk memberikan sesuatu yang bermanfaat untuk bangsa dan negara ini, sesuai dengan tugas panggilannya. Orang Kristen mesti bisa menjaga garam” mencegah pembusukan, dan menjadi terang: menerangi kegelapan. Di situlah manusia itu berarti dan bisa menjadi berkat bagi sesama.

 

 

Pdt. Daniel T.A. Harahap, M.Th


 

Berjuang untuk Kesejahteraan Pelayan HKBP

Pdt. Daniel T.A. Harahap, M.ThNama lengkapnya Daniel Taruli Asi Harahap, nama tentu penuh arti. Bisa diartikan: kebagian belas kasih. Umumnya jemaat Gereja HKBP memanggilnya, amang (bapak) DTA. Tentu, ada juga menyapanya Dani. Pria kelahiran Sei Merah, Medan, pada 26 Agustus 1963 ini adalah anak kelima dari enam bersaudara.

Masa kecilnya dilewatkannya penuh kebahagiaan. “Usia empat tahun saya punya pesawat mainan KLM yang digerakkan oleh batere, kelap-kelip lampu dan bunyi raungannya membanggakan sekali. Saya juga punya banyak mainan mobil-mobilan besi. Saya sering dibelikan blok-blok kayu. Ulang tahunku pernah dirayakan di restoran Tiptop, yang masa itu tempat sisa-sisa Belanda dan Tionghoa kaya Medan berkumpul. Itu masa-masa sangat indah,” kenangnya memulai perbincangan.

Sejak kecil selalu fokus pada kesukaannya. “Saya lebih suka main sendiri atau bersama saudara-saudaraku di rumah, membuat kapal-kapalan dan pesawat-pesawat kertas, kereta kelos benang yang bisa jalan mendaki, telepon kotak korek api, dan atau paling sering kulakukan mengumpulkan belalang, kotak-kotak rokok bekas, mengacak-acak sarang semut, memancing undur-undur di debu atau ikan gobi di parit pake seutas benang. Kadang aku bermain jual-jualan dan masak-masakan dengan anak-anak perempuan. Kadang aku sendirian saja mengumpulkan biji-biji flamboyan,” tambahnya.

Ayahnya bernama Aminuddin Harahap, dulunya seorang staf asosiasi perusahaan perkebunan di Medan. Sedangkan ibunya, Sereuli boru Hutabarat adalah perempuan yang teguh pendirian. Karakter ibundanya, berkebalikan dengan ayahnya. “Ibu seorang perempuan tangguh kelahiran Tebing Tinggi, daerah Deli. Saat perang berkecamuk ibu yang bermarga asal lembah Silindung ikut mengungsi. Tetapi ibu dibesarkan di daerah Toba Holbung, persisnya di Lumban Bagasan, Kecamatan Laguboti,” jelasnya.

Alih-alih berbeda dengan ayahnya, ibunya suka “berkelahi” dan bertengkar terang-terangan, berjuang, apalagi jika menyangkut hak dan kebenaran. “Ya, berbeda dengan kami-kami orang Batak dari Selatan, ibu tak akan segan-segan menuntut haknya, namun sebaliknya dia sangat jujur. Bahkan, baginya kejujuran adalah segalanya, melebihi pentingnya ritus doa. Jauh mengalahkan ambisi pemilikan materi,” paparnya.

 

Sosok Batak Sejati

Menurutnya, dari ibu yang mengajarkan menjadi Batak yang sejati, termasuk mengajarkan soal prinsip. Dalam soal adat Batak, ibunya boru Hutabarat jelas-jelas punya pendirian, logika dan nurani. Bagi ibunya, adat bukan sekadar soal kebiasaan apalagi latah-latahan. Adat adalah prinsip berhubungan dengan sesama berdasarkan hormat, kejujuran, dan rasa sayang.

Itulah yang membuat dia sering membangkang atas hal-hal yang dianggapnya tak benar dalam kebatakan. “Ibu akan marah jika ephorus atau pendeta mau diulosi. Baginya, itu penghinaan. Ulos tak pernah datang dari bawah alasannya. Ikan mas harus dibungkus apik dalam tandok dan dijunjung di kepala, bukan dibiarkan telanjang dipamer-pamerkan,” tambah Daniel.

dta-hojot-2.JPGBeranjak dewasa, tahun 1982, dia ke Jakarta dan bermukim di daerah Pulomas, Jakarta Timur. Di Pulomas itulah, menurutnya, dia bisa berbahasa Batak. Sebab di Medan tak bisa, walau lahir di Medan tak lincah berbahasa Batak. “Maklumlah di Medan waktu itu, jarang ada orang berbahasa Batak. Saya bisa mengerti namun tak mampu lancar mengungkapkan. Tentu saya sangat iri kepada kemampuan kawan-kawanku di Pulomas bisa berbahasa Batak,” terang pendeta yang dikenal gaul ini.

Sejak ke Jakarta untuk kuliah di STT Jakarta, di Pulomas dia sering mendengar naposo bulung (pemuda) HKBP Pulomas berbahasa Batak, dia kemudian malu hati. Dan sejak itu berniat ingin belajar bahasa Batak. Pulomas yang kerap diidentikkan kampung orang Batak. Di sanalah dia belajar bahasa Batak hingga lulus dari STT Jakarta. “Sejak di Pulomas saya benar-benar belajar bahasa Batak. Apalagi setelah mengikuti vikaris dan kemudian ditahbiskan dan ditempatkan menjadi pelayan di Sibolga Julu. Mau tidak mau saya mesti belajar bahasa Batak,” cetusnya.

 

Anak Tukik

Pdt. Daniel menyebut dirinya bak anak tukik yang belajar menggapai lautan di kehidupan. Maksudnya, dia menetapkan diri menjadi manusia pembelajar di universitas kehidupan. Dia seorang pendeta pembelajar. Termasuk ketika internet baru hadir di negeri ini, dia sudah getol belajar dan berselancar di media sosial di awal-awal Friendster, sebuah situs permainan sosial.

Tatkala belum ada pendeta HKBP yang memiliki blog pribadi, dia sudah terlebih dahulu aktif membuat renungan di weblognya. Dalam bukunya Anak Penyu Menggapai Langit mengisahkan perjalanan hidupnya sebagai seorang pendeta yang membayangkan dirinya seperti penyu, merayap dengan berkeluget-keluget di pasir putih pantai, berusaha sampai ke lautan kehidupan. Tak ada yang menyangkal bahwa penyu merupakan makhluk menarik. Bayi penyu (tukik) keluar dari telur dan berebut menuju laut, itu filosofis.

“Penyu begitu mungil dan ringkih, apalagi dibandingkan dengan samudera dan angkasa luas, namun dia terus berjuang mengerahkan segala daya dan memelihara harapan. Ombak menjemput, si anak penyu pun berlari terus berenang dan menyelam, kadang di atas kadang di bawah. Kehidupan yang naik-turun, fluktuatif. Ada suka dan duka. Namun di balik itu semua ada senyum dan ada harapan,” terangnya.

Sebenarnya, buku itu lebih tepat disebut buku autobiografi yang tentu dibumbui dengan nilai-nilai moral. Lagi-lagi di dalam buku ini juga terlihat kecintaannya terhadap HKBP. Kalau bicara HKBP dia dengan getol mengatakan, darahnya dari nenek-moyangnya adalah militan sebagai HKBP. Dari keturunan nenek-moyangnya Harahap, amang (bapak) mangulahi dari bapaknya, lima generasi di atasnya adalah orang pertama yang masuk menjadi Kristen.

Kini, sebagai pendeta yang hampir 30 tahun melayani senantiasa enerjik, kreatif dan berpikir bebas. Nun  sebelum menetapkan hati kuliah di STT Jakarta, lama di benaknya berpikir untuk menetapkan diri menjadi pendeta. Namun, menjadi pendeta itu juga menyelayut dalam pikirannya, dua alasannya karena terpikir jika menjadi pendeta itu akan memasung kebebasannya, dan satu lagi dia takut miskin.

Karena itu, semalam-malaman dia berdoa apa maksud Tuhan atas itu semua. Hal itu jelas beralasan, sebab dia juga diterima kuliah di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI), Jakarta, ketika itu. Lalu, saat permenungan itu dia berkali-kali membuka Alkitab yang terbuka pertama adalah ucapan Yesus yang mengatakan, “Ikutlah Aku.” Kutipan Firman Tuhan itu tiga kali dia temukan.

Dia memahami bahwa maksud Yesus menyuruhnya untuk mengikutiNya. Tetapi ketika dia memutuskan mengikuti Yesus, sekolah di STT, dia menghadapi pergumulan, ujian berat. Ayah tercinta sakit keras. Sempat dia bertanya pada Tuhan, apakah demikian mengikuti Yesus? Dia lalu pahami, jikalau kita menjadi pengikut Kristus (Nasrani) itu enak, sudah tentu titah untuk bersukacita senantiasa rasa-rasa tak perlu.  Ketika kita sudah memasrahkan hidup kita kepadaNya, kita diuji. Pertanyaan itu terjawab dengan banyaknya pengalaman pergumulan yang mesti dijalani.

 

Pembaharu HKBP

Oleh proses pergolakan batin itu, kemudian dia meneguhkan hati atas panggilan Tuhan dan dididik di sekolah teologia Jakarta. Awalnya, baginya ragu menjadi pendeta karena takut miskin. Mengapa? Nyatanya memang, betapa banyak pendeta yang dia saksikan saat emeritasi, menjalani masa pensiun, tak memiliki tempat tinggal. “Saya miris melihat jika di umur 65 tahun setelah pensiun, pendeta belum punya rumah,” ujar lulusan S1 dan S2 dari STT Jakarta ini.

Tentu, ada begitu banyak persoalan yang dihadapi gereja HKBP yang sifatnya sangat kompleks dan kait-mengait, dan sebagian kronis karena dibiarkan terjadi bertahun-tahun. Namun, bila disederhanakan ada dua persoalan. Pertama, persoalan kerohanian atau spiritual, mental dan moral warga khususnya pelayan HKBP. Kedua, persoalan sistem organisasi dan manajemen HKBP.

Persoalan pertama yang menyangkut kerohanian atau spiritual itu membutuhkan seorang pemimpin puncak atau Ephorus HKBP yang benar-benar sanggup menjadi bapak rohani atau teladan. Sementara persoalan kedua yang menyangkut sistem membutuhkan seorang Sekretaris Jenderal HKBP yang cakap di bidang manajerial dan mampu menegakkan aturan, serta para kepala departemen yang juga cakap memimpin program pelayanannya.

Menurutnya, semestinya gereja mengatur jaminan kesejahteraan sosial bagi pendeta. Salah satu permasalahan yang mesti diselesaikan adalah kesejahteran pendeta, berupa perawatan kesehatan, jaminan hari tua dan jaminan kematian. Tahapan sentralisasi penggajian pendeta saja masih belum merata. Inilah pergumulan gereja sejak lama. Itu sebabnya, pendeta yang sudah nyaman melayani di kota, jika dimutasi berbagai alasan dibuat. Tentu, pendeta itu manusia biasa yang mesti membutuhi keluarga. Paling tidak harapannya pendeta, anak-anaknya bisa sekolah sampai sarjana. “Saya kira, ini harus diselesaikan pusat,” ujarnya.

Menurutnya, ada dua hal yang harus dibangun dalam internal HKBP, yaitu membangun Bapak Rohani dengan menunjukkan figur-figur teladan HKBP di masa lalu, sehingga bisa menjawab tantangan zaman di era globalisasi. Kemudian menjalankan sistem yang sudah ada dengan mengedepankan Bapak Rohani sebagai tokoh sentral. Juga sistem kesejahteraan pendeta, sistem pensiun, kesejahteraan, remunisasi, sudah ada dalam sistem tinggal menjalankannya di bawah kepemimpinan Bapak Rohani.

Atas kerinduan pembaharuan ada di HKBP, dia bersedia mempersembahkan hidup melayani Tuhan di HKBP, khususnya di bidang pembenahan organisasi dan administrasi. “Saya punya rekam jejak bahwa saya mampu mengerjakannya. Saya sudah dua periode anggota MPS. Saya kontributor utama Pedoman Penatalayanan HKBP yang ditetapkan 2010. Saya anggota Tim Renstra 2012-2016. Saya dipercaya sebagai sekretaris Aturan Peraturan HKBP 2002 sesudah amandemen kedua yang memiliki tekanan transparansi dan akuntabilitas,” ujarnya lagi.

Kini, sebagai Kepala Badan Litbang HKBP dia bersama timnya sudah membangun sistem database HKBP yang benar-benar modern dan berbasis web atau online. “Bukan hanya wacana. Semua itu tentu merupakan bekal dan modal yang sangat baik untuk menjadi sekretaris jenderal. Jika sinodisten percaya pilihlah saya. Jika tidak, saya ikhlas. Semua calon adalah saudara dan sahabat,” ujarnya.

Selain itu, masih banyak pelayanan khotbah pendeta tak bisa memberikan kepuasan dahaga jemaat. Memang perlu pembaharuan khotbah dan ibadah. Warga jemaat sangat membutuhkan khotbah yang bernas dari pelayan terutama pendeta HKBP. Warga jemaat juga sangat membutuhkan ibadah yang benar-benar khidmat karena dilayankan dengan penuh kesungguhan dan kepenuhan hati.

Jika dia terpilih menjadi Sekjen HKBP, maka dia akan mendorong dan memfasilitasi agar semua pendeta HKBP selalu menyediakan khotbah yang bernas bagi jemaat. “Saya akan memberikan perhatian khusus kepada pelatihan-pelatihan khotbah, penyediaan buku panduan, dan sermon-sermon pendeta. Warga jemaat kita tak boleh lagi dibiarkan kehausan dan kelaparan secara spiritual sehingga pergi ke gereja lain memuaskan jiwanya,” tukasnya.

Lalu, ditanya apa yang urgen lagi untuk memajukan HKBP? Pembaharuan Sekolah Minggu. “Semua pendeta dan pelayan agar benar-benar memprioritas Sekolah Minggu. Saya akan mendorong agar Distrik membuat secara serius panduan sekolah minggu yang kontekstual dan relevan dengan kondisi di daerahnya, juga menyelenggarakan kursus-kursus pelatihan menjadi guru Sekolah Minggu. Saya juga akan meminta para pimpinan jemaat mengalokasikan anggaran yang signifikan untuk Sekolah Minggu, menyediakan ruangan terbaik yang dimiliki gereja untuk anak-anak itu juga alat peraga yang mereka butuhkan. Saya akan bekerja keras mencari cara agar setiap gereja HKBP memiliki perpustakaan anak SM agar anak-anak HKBP sejak dini diperkaya dengan pengetahuan dan wawasan,” terang pria yang ditahbiskan jadi pendeta pada 4 Agustus 1991 di HKBP Tanjung Balai Asahan, Sumut, itu.

dta-hojot-4Selain itu, menurutnya, HKBP sebagai gereja terbesar di Asia Tenggara mesti serius memprogramkan dana pensiun guna menjamin kesinambungan belanja gaji para pendeta, guru jemaat, bibelvrouw, diakones, evangelis dan pegawai non tahbisan. “Kami berharap seluruh pelayan partohonan itu, ketika pesiun paling tidak bisa memiliki rumah pribadi. Bagi saya, tujuan dana pensiun ini untuk menjamin kesinambungan,” ujar ayah dari Jessica boru Harahap, Regina boru Harahap dan William Harahap ini.

Lalu, bagaimana soal aturan peraturan dan sistem organisasi? Jelas, perlu revisi secara menyeluruh.  Jika jemaat dan parhalado HKBP memberikan kepercayaan kepadanya sebagai Sekjen HKBP. Maka, salah satu hal yang mesti diperjuangkan adalah hak-hak pelayan. Bagi dia, pelayan berhak memperoleh penghidupan yang layak agar pelayan fokus melayani jemaatNya. Sudah tentu dia setuju dengan pendeta berkreasi, berinovasi, mengembangkan bakat dan minat, memperoleh kehidupan keluarga yang layak. Misalnya, jika pendeta menulis buku. Hal yang lain yang dirindukannya para pelayan memperolah jaminan sosial.

“Saya miris melihat pendeta setelah emeritasi belum memiliki rumah tinggal. Lalu, juga keluarga dari pendeta yang meninggal menjalankan tugas, selama ini belum mendapat perhatian serius dari pusat,” ujar suami dari Dr. Martha Saulina Siregar, Sp.KK ini. Pembaharuan itu mesti dapat mendorong HKBP benar-benar berfungsi sebagai gereja dan bukan organisasi masyarakat belaka.

Selanjutnya, sistem organisasi HKBP harus benar-benar diefektifkan dan diefisienkan agar dapat bergerak lincah dan sigap melakukan tugas panggilannya. Kecintaan pada HKBP rindu terus ada perubahan. Tentu, perubahan diawali dari cara berpikir, proses mengembangkan kearifan budaya diterangi firman Tuhan. Hojot Marluga

Sati Nasution


 

IskadarSati Nasution: Pendiri Perguruan Tano Bato

“Tinggal ma ho jolo ale

Anta piga taon ngada uboto

Muda uida ho mulak muse

Ulang be nian sai maoto

Lao ita marsarak

Marsipaingot dope au dio

Ulang lupa paingot danak

Manjalai bisuk na peto

Bait puisi di atas adalah puisi dari seorang pioneer pendidikan dari tanah Batak. Dialah Willem Iskander dengan nama lahir‎ ‎Sati Nasution, sedangkan gelarnya adalah Sutan Iskandar. Dia putra Nasution keturunan dari Sutan Diaru, dari generasi ke-11 marga Nasution di Mandailing. Dia lahir pada tahun1840, di Pidoli Lombang, Panyabungan Kota, Mandailing Natal, sekarang dikenal Madina.

Dia dikenal sebagai penulis, pujangga bahasa yang menyair banyak puisi, terutama untuk menggugah pendidikan dan cinta kampung halaman. Panggilannya tak hanya bersastra kemudian maujud menjadi pendidik, melawan virus kebodohan kaumnya. Di kemudian hari menjadi dia disebut salah satu tokoh perintis pendidikan Indonesia, walau hanya mendirikan Perguruan Tano Bato untuk calon guru, di Mandailing Natal.

Usia remaja yang terbilang muda, 13 tahun, dia hanya mengecap sekolah rendah selama kurang lebih dua tahun di Panyabungan. Menurut Basyral Hamidy Harahap seorang peneliti dan penulis memoar tentang Sati Nasution ini menyebut, kemungkinan besar dia merupakan guru paling muda dalam sejarah dunia pendidikan Indonesia. Asumsinya, sudah mulai aktif mengajar pada usia 15 tahun. Artinya, selulus pendidikan rendah itu dia sudah mendarma-baktikan hidupnya pada pendidikan.

Usia semuda itu, dia telah juga merambah kerja birokrasi bekerja sebagai sekretaris kantor pusat pemerintahan Mandailing-Angkola. Ada pencapaiannya itu, Alexander Philippus Godon, Asisten Residen Mandailing Angkola, pada masa itu kembali ke Negeri Belanda sekitar Pebruari 1857, dan membawa Sati turut serta untuk meneruskan pelajarannya pada salah satu sekolah guru di Belanda. Di Belanda dia banyak belajar tentang esensi pendidikan. Tak hanya itu, dia kemudian menemukan ketenangan batinnya, pengikut Kristus, dan menetapkan diri menjadi seorang Kristen.

Kemudian, ijazah guru bantu diperolehnya pada bulan Oktober 1860, sempat kembali ke Mandailing untuk memulihkan fisiknya yang sakit. Dua tahun kepulanganya  dari Belanda, tepat bulan Oktober 1862, dia mendirikan perguruan untuk guru di Tano Bato, sekarang di Kecamatan Panyabungan Selatan. Sekolah itu dia pimpin langsung, namun kurang lebih selama 12 tahun kemudian perguruaan itu pemidahannya ke kota Padang Sidempuan.

Masih menurut Basyral Hamidy Harahap, sejak Willem Iskander menerima beslit bertanggal 5 Maret 1862, yang mengizinkannya mendirikan Kweekschool di Mandailing, dia bergegas dan menetapkannya sebagai guru pada Kweekschool Tanobato. Walau perjuangannya sangat berat. Waktu itu, sedikit sekali orang yang mau menyekolahkan anaknya di sekolah guru itu.

Alasannya, selain belum booming orang sekolah, sekelumit terlihat lulusan guru tak punya kesempatan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak, kalau tak disebut kata. Oleh pesimisme itu dijawabnya dengan sikap arif, diatasinya dengan sika bertekun, yang pada akhirnya kelangkaan murid itu pun dapat diatasinya.

Selanjutnya, pada September 1863, Gubernur Van den Bosche datang dari Padang melakukan inspeksi ke sekolah ini, di mana waktu itu bahwa pusat gubernur untuk daerah Sumatera berada di Padang. Gubernur kemudian melaporkan kunjungannya kepada Gubernur Jenderal dalam suratnya tanggal 13 September 1863. Ia menyatakan, kekagumannya terhadap kepiawaian Willem Iskander. Kesannya ia tulis dengan kata-kata; “zeer ontwikkeld, hoogst ijverig,” artinya sangat cerdik, terpelajar, dan sangat rajin dan tekun.

Kemudian Van der Chijs diutus untuk menyaksikan perguruan Taon Bato. Selama di Tanobato Van der Chijs menyaksikan penyelenggaraan pendidikan di sekolah guru ini. Bahkan, mengagumi kebolehan Willem Iskander mengajarkan konsep-konsep ilmu pengetahuan dalam bahasa Mandailing dan bahasa Melayu. Sekalin itu, Van der Chijs juga kagum atas  kemampuan berbahasa Belanda para murid Willem Iskander.

Tulis Van der Chjis: “Cara Willem Iskander mengajarkan dasar-dasar fisika dalam bahasa Mandailing dengan metode sendiri, memakai alat peraga lokal yang dikenal baik oleh murid-muridnya.” Tulisan laporan tahunan pendidikan bumiputera tentang kekagumannya terhadap tiga kemampuan murid-murid di perguruan Tano Bato, bidang matematika, bahasa Melayu dan bahasa Belanda.

Memang, sebagai pendiri perguruan dia mencerahkan pikiran para murid, bahwa kemampuan berbahasa Melayu dan bahasa Belanda, adalah kunci gerbang ilmu pengetahuan. Maka, bahasa Batak Mandailing diajarkan ala kadarnya. Sementara Bahasa Belanda diajarkannya empat kali seminggu. Ada banyak prediksi bahwa salah satu kemampuan berbahasa itulah yang mengantar para murid-muridnya banyak menjadi pengarang, penerjemah dan penyadur.

Selain itu, konsep dari Willem Iskander melaksanakan ujian akhir, dimulai pada bulan Juni 1871. “Ujian dimulai dengan menyuruh murid-murid menulis esai, dilanjutkan dengan pertanyaan tentang ilmu alam, lembaga-lembaga pemerintahan Hindia Belanda. Kemampuan berbahasa Belanda dan bahasa Melayu diuji dengan cara membaca dan berbicara dalam kedua bahasa itu. Dan, ujian berhitung dilakukan dengan menjawab soal-soal dengan menulis pada batu tulis dan papan tulis.”

Pada 25 September 1860, Willem Iskander berjumpa dengan Eduard Douwes Dekker, alias Multatuli. Keduanya kemudian menjalin hubungan yang era, hangat sekali. Murtatuli kerap mengkritik pemerintahan Belanda atas jajahan, yang kemudian menganjalnya pada tuntutan di sidang pengadilan. Hadir dalam sidang itu Duymaer van Twist mantan Gubernur Jenderal yang memecat Eduard Douwes Dekker dari jabatan Asisten Residen Lebak. Ada 65 orang yang hadir di dalam sidang ini, 62 anggota, ketua Tweede Kamer, Reenen dan dua menteri, bahkan Menteri Urusan Jajahan J.J. Rochussen dan Menteri Keuangan Van Hall.

Hingga kemudian di tahun 1871, Van der Chijs mendekritkan pembaruan sekolah guru bumiputera. Ia membuat sejumlah syarat yang harus dipenuhi setiap sekolah guru bumiputera. Dekrit itu berkaitan dengan gagasan-gagasan Willem Iskander. Tiga syarat penting ialah pertama, sekolah guru harus menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Kedua, guru sekolah guru harus mampu menulis buku pelajaran, dan ketiga, bahasa daerah harus dikembangkan sesuai kaidah-kaidah bahasa.

Namun kemudian oleh usulan Willem itulah membuka pintu bagi anak-anak pribumi untuk diterima beasiswa di Belanda. Kemudian 4 orang dari tanah jajahan Hindia Belada diberangkatkan untuk menjadi beasiswa, salah satunya Willim sendiri. Tahun 1873, telah diketahui hanya tiga orang guru muda yang berangkat ke Negeri Belanda bersama Willem Iskander. Mereka adalah Banas Lubis murid Willem Iskander di sekolah guru Tanobato, Raden Mas Surono dari Kweekschool Surakarta, dan Mas Ardi Sasmita guru sekolah rendah di Majalengka lulusan Kweekschool Bandung.

Namun proyek beasiswa itu gagal. Tiga orang calon guru itu meninggal pada tahun 1875. Banas Lubis dan Ardi Sasmita meninggal di Amsterdam karena kesehatan mereka menurun disebabkan berbagai hal, antara lain rindu tanah air, cuaca buruk, dan masalah lain-lain yang menyebabkan mereka bertiga stres berat. Ketika Raden Mas Surono jatuh sakit, pemerintah mengambil keputusan untuk memulangkannya ke Tanah Air. Ada harapan Raden Mas Surono akan sembuh dalam perjalanan. Tetapi, takdir menentukan lain. Raden Mas Surono meninggal dalam pelayaran ke Tanah Air. Nakhoda dan kelasi melarungkan jenazah Raden Mas Surono ke laut.

Oleh kematian tiga sahabatnya itu, memukul perasaan Willem. Cita-citanya yang luhur untuk mencerdaskan bangsa melalui pendidikan, ternyata gagal. Dalam keadaan berduka itu, Godon memberikan nasihat kepada Willem untuklah menikah. “Kehadiran seorang isteri pastilah akan meringankan beban pikiran, karena ada teman berbagi duka,” katanya.

Atas nasihati itu, Willem pun menikah dengan Maria Christina Jacoba Winter. Pada tanggal 27 Januari 1876 keduanya diberkati di gereja di Amsterdam. Hanya saja, jalan Tuhan berbeda dengan rencana manusia. Pernikahannya tak berumur panjang, Willem kemudian dipanggil Bapa di sorga, wafat tanggal 8 Mei 1876, kemudian dimakamkan di Zorgvlied Begraafplaats, Amsterdam. Sementara istrinya, Maria Jacoba Christina Iskander-Winter tetap setia menjanda, hingga kemudian di usia 69 tahun, Maria mengalami sakit Witte Kruis. Dan wafat 25 April 1920. Jasadnya dimakamkan di pekuburan Nieuwe Oosterbegraafplaats, Amsterdam. (Hojot Marluga)

Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=tCN_-DMSd20

 

Sondang Hutagalung


SOndangSondang Hutagalung adalah priak kelahiran Bekasi, Jawa Barat, 12 November 1989. Dia meninggal di Jakarta, 10 Desember 2011 pada umur 22 tahun. Sondang adalah seorang mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Bung Karno, Jakarta yang meninggal karena membakar diri pada Rabu sore 7 Desember 2011 di depan Istana Negara, Jakarta. Kala itu, Sondang menjabat ketua Himpunan Aksi Mahasiswa Marhaenisme untuk Rakyat Indonesia yang aktif dalam kegiatan “Sahabat Munir”. Di mata teman-temannya Sondang adalah aktivis yang sering terlibat dalam upaya advokasi dalam kasus-kasus pelanggaran hak asasi manusia.

Sondang dilahirkan sebagai anak bungsu dari empat bersaudara keluarga Victor Hutagalung dan Dame Sipahutar. Ayahnya bekerja sebagai sopir taksi, sementara ibunya hanyalah penjual sayur. Aksi bakar diri yang dia lakukan di depan Istana Negara itu juga mendapat simpati dari berbagai tokoh. Seminggu setelah kejadian itu, termasuk Megawati Soekarnoputri dalam pidatonya di pembukaan Rakernas PDI Perjuangan menyebut, kematian Sondang Hutagalung merupakan tragedi yang harus diperingati sebagai tamparan keras  atas kesalahan pengelolaan bangsa.

“Beberapa hari lalu kita menyaksikan seorang anak negeri, Sondang Hutagalung membakar diri di hadapan istana sebagai protes atas pengelolaan politik dan pemerintahan, yang jauh dari gambaran ideal generasi muda bangsa,” ujar pada saat pidato pembukaan Rakernas I PDI Perjuangan di Bandung, Senin (12/12/11). Bagi Mega, pesan Sondang dalam aksi bakar diri tersebut jelas tertuju pada kekecewaan terhadap perilaku elit pemerintah. “Sondang telah pergi, tapi pesannya terasa keras menampar telinga kita. Kita tidak membutuhkan teguran keras lainnya, hanya untuk menyadari bahwa ada yang salah dengan pengelolaan bangsa ini,” ujarnya ketika itu.

Mega meminta agar aksi Sondang tersebut menjadi bahan renungan dan mempertanyakan sikap pemerintah atas tragedi tersebut. “Saya minta setiap warga PDI Perjuangan, bahkan setiap anak negeri untuk merenungi tragedi ini. Kita pantas bertanya, apakah pemimpin di negeri ini tidak terbetot hatinya melihat seorang mahasiswa yang karena prinsip dan keyakinannya melakukan tindakan itu? Merinding rasanya bulu kuduk saya sebagai seorang ibu melihat derita anak negeri ini.”.

Dia menambahkan, sebagai pribadi dan pimpinan partai saya menyampaikan duka cita atas kepergian Sondang. Bukan karena dia Sondang, tapi ia adalah gambaran dari generasi muda bangsa, sambil tetap berharap tidak akan ada lagi anak negeri yang kehilangan nyawanya karena prinsip dan keyakinannya, katanya.

Tak ada yang menyangka Sondang akan melakukan aksi nekat, Rabu 7 Desember 2011 lalu. Dari arah Monas, dia tiba berlari mengguyur bensin ke tubuhnya dan menyulut api. Aksi itu dilakukan sekitar pukul 17.30. Sejam sebelumnya, di tempat itu para kepala desa melakukan unjuk rasa. Akibat luka bakar 98 persen di tubuhnya, Sondang akhirnya pergi, Sabtu 10 Desember 2011. Mungkin berbagai diskusi terhadap aksinya itu. Tetapi, sesungguhnya Sondang adalah pahlawan. Walau dikenal sesaat, setelah itu dilupakan.

Johny Pardede


Ev Johny Pardede

“Dulu Terjerembab Lumpur Dosa, Kini Termotivasi Amanat Agung”

Jhonny Pardede_CoverKemajuan peradaban ternyata tak menjamin keadaan dunia makin baik. Nyatanya, keadaan dunia malah semakin mencekam. Bahkan, keadaannya makin mencekam. Situasi itu diperparah dengan harga-harga barang bertambah, ketakutan dan ketidakpastian melanda seluruh jagat raya ini. Apalagi amat sering terjadi fluktuasi ekonomi. Tentu, jika tanpa berpegangan erat dengan firman Tuhan, seseorang bisa makin terperosok makin dalam terjerembab. “Hanya orang yang menyerahkan hidup total pada Tuhanlah tak takut menghadapi badai, kondisi yang sulit seperti sekarang ini. Hanya orang-orang yang dipanggil dan diurapilah yang dapat menang mengatasi keadaan sulit. Karena itu, kita harus bertobat dan menjadi pemberita firman Tuhan,” ujar Ev Johny Pardede.

Ajakan itu kerap kali disampaikannya, baik di acara KKR, acara seminar dan kebaktian-kebaktian gerejawi yang dipimpinnya. Asal ada kesempatan menyampaikan  firman Tuhan, Jhony pasti menyampaikan prinsip-prinsip  dan kiat-kiat agar orang percaya dapat menang atas situasi yang sulit. Bahkan, di dalam khotbahnya, Jhony juga amat sering mengisahkan kesaksian hidupnya. Pengalamannya sebagai pengusaha  sebelum dan sesudah bertobat. “Saya dulu adalah pengusaha yang hanya memikirkan dunia ini. Saya melakukan dosa. Tetapi itu sebelum mengenal anugerah Tuhan,” kenangnya. Namun, lika-liku kehidupan pribadi yang panjang, penuh onak menghacurkan hidupnya membawanya pada pertobatan.

Sejak bertobat, Jhony terpesona dengan ajakan untuk pergi (Matius 28:19-20) “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Dia menambahkan, kita terkadang suka menggembar-gemborkan Amanat Agung, tanpa pemahaman yang dalam bahkan tak berusaha sebagaimana pesan yang dimaksud, dituntut dari Amanat Agung.

Siapakah Jhony? Johny Pardede, lahir di Medan, 24 April 1954. Anak ketujuh dari sembilan bersaudara dari pasangan orangtua (ibu) Hermina Napitupulu dan (ayah) Tumpal Dorianus Pardede, yang dikenal dengan nama TD Pardede. Almarhum ayahnya adalah seorang pengusaha di masa pemerintahan Soekarno, hingga kemudian menjadi Menteri Berdikari. Sebagai pengusaha, bahkan, pernah menjadi salah satu pengusaha terkaya di Indonesia pada era-nya.

Jhony sendiri mengikuti jejak sang ayah menjadi pengusaha. Dimulai dari mengasuh club bola, dulu dikenal sebagai pemilik club bola Harimau Tapanuli. Memang, sejak dia bertobat dan menjadi penginjil, Jhony tak lagi mengembangkan club bola itu. Hanya menjadi pengusaha tetap dikembangkan. Maka, walau sudah lama meninggalkan dunia bola, jika ditanya soal bola, mengapa persepakbolaan di Indonesia tak maju-maju?

Jawabannya, pengurusnya harus bertobat. “Jika konsep yang diterapkan sekarang masih dilakukan, jelasnya persepakbolaan di Indonesia tak akan maju. Mesti harus ada perubahan total. Pertobatan total agar persepakbolaan Indonesia maju,” ujarnya. Menurutnya, jika pengurus persepakbolaan tak loyal, dia pesimis sepakbola Indonesia, niscaya maju.

Sebagai anak pengusaha  Batak yang kaya raya, dari kecil sampai SMP Jhony tinggal di Jerman. Sudah terbiasa hidup nyaman. Bahkan menghambur-hamburkan uang untuk kesenangan sesat. Tentulah, tingkah lakunya banyak dipengaruhi kehidupan bebas di Jerman, sehingga ketika kembali ke Indonesia kebiasaan itu menjadi semakin tak karuan, kalau tidak disebut makin jahat. Tetapi, puji Tuhan, oleh cara Tuhan dia kemudian bertobat dan dipanggil menjadi pemberi firman Tuhan oleh kematian sang ayah. Kematian ayahnya pada 18 November 1991, yang sebelumnya didahului ibunya, meninggal 20 Mei 1982. Membuat hatinya hancur berkeping-keping.

Kematian orangtuanya, terutama ayahnya membuat Jhony bertobat. Di akhir tahun 1991, momentum yang membuat dia meninggalkan hidup yang penuh kemunafikan. Yang dulu nyaman hanya memikirkan dirinya, kini memikirkan sorga. Sejak menetapkan diri menjadi pemberita firman Tuhan, dia senantiasa antusias membagikan kabar kesukaan. Jhony di mana pun, kapanpun  ia berada. Bahkan, setiap hari melayani dan menyampaikan Firman Tuhan, hingga ke seluruh penjuru dunia.

Alih-alih sebagai anak dari latar belakang anak yang kaya raya, dulu dia telah menikmati semua kesenangan dunia sampai akhirnya ayahnya meninggal dunia dia bertobat. “Beliau memberi pesan kepada anak-anaknya bahwa sepertiga harta dari keluarga haruslah dipakai untuk pekerjaan Tuhan,” ujarnya. Mengingat pesan dari almarhum ayahandanya, Jhony memetiknya menjadi peringatan untuk menjadi evangelis.

Akhirnya, melalui pesan tersebut, Johny Pardede dipanggil Tuhan dari hidup yang pada untuk menginjili ke seluruh Negara tentang pentingnya hidup bersama Tuhan Yesus. Tentu, tak otomatis seluruh keputusannya untuk menjadi penginjil, berhasil. Dia dengan rendah hari memberi dirinya dibebat seperti bejana tanah liat, dibentuk berkali-kali hingga kemudian tentang melayaniNya seperti sekarang ini.

 

Aktif di FGBMFI

Kini, Jhony tak saja hanya melayani kaum awam, tetapi juga melayani para bisnisman. Iya, itu tadi dimana pun ada kesempatan dia selalu mengajak para bisnisman, bahkan rekan-rekan hamba Tuhan dengan hati yang damai janganlah lagi benih dosa, tetapi berubah oleh pembaharuan budi.

Sejak menyerahkan hidupnya pada tuntunan Tuhan, Jhony terus telaten memberitakan Injil. Sebagai pengusaha, tetap memprioritaskan pelayanan Firman Tuhan. Oleh pelayanannya tentu banyak diapresiasi hamba Tuhan, dan para bisnisman. Tak heran dia sering didaulat untuk menjadi pembicara. Salah satu contoh misalnya, Acara Couple Dinner Gabungan yang diadakan pada hari Jumat 12 juni 2015 bertempat di resto Hongkong Garden, Padang Galak, Sanur Bali. Jhoni didaulat menjadi salah satu pembicara. Acara tersebut tentu berlangsung dengan baik dan sukses.

“Semua yang hadir sangat bersuka cita, dan mereka semua turut memuji Tuhan,” tambahnya mengingat acara FGBMFI itu. Sebagai pembicara, lagi-lagi kesaksian hidupnya yang luar biasa dan sangat memberkati semua bisnisman yang hadir. Bahkan, saat altar call banyak yang maju ke depan untuk didoakan, bahkan menerima Tuhan Yesus sebagai Juruslamat. “Mereka didoakan untuk mendapat jamahan dan lawatan Tuhan, didoakan untuk kesembuhan dan kelepasan. Luar biasa Roh Kudus melawat mereka,” ujarnya.

Inilah hidup, perjalanan hidup setiap orang siapa yang tahu. Jhony telah menyaksikannya, dulu lama hidup dalam kebinasaan, terjerembab dalam lumpur dosa. Tetapi, kini, Tuhan mengangkatnya bahkan, dipercayakan menyampaikan Amanat Agung, sebagai hamba Tuhan. Bahkan, yang dulu dia mengggap kekayaan adalah yang terpenting, kini menemukan yang lebih penting, memikul beban, memberitakan firman Tuhan sebagai yang termulia.

Hotman J Lumban Gaol (Hojot Marluga)

 

Luhut Pangaribuan


LUHUT Pangaribuan dikenal luas sebagai seorang advokat ketika kerap muncul dalam wawancara di televisi dalam kapasitas sebagai penasihat hukum Presiden Abdurrahman Wahid. Bicaranya lancar dan jernih, tutur katanya halus tapi di sana-sini masih terdeteksi timbre Batak, pikirannya runtut dan strategis, terasa segudang referensi hukum menancap di benaknya.

LUHUT Pangaribuan dikenal luas sebagai seorang advokat ketika kerap muncul dalam wawancara di televisi dalam kapasitas sebagai penasihat hukum Presiden Abdurrahman Wahid. Bicaranya lancar dan jernih, tutur katanya halus tapi di sana-sini masih terdeteksi timbre Batak, pikirannya runtut dan strategis, terasa segudang referensi hukum menancap di benaknya.

Namun, di kalangan pembaca surat kabar, nama ini sudah terbaca sejak pertengahan tahun 1982 ketika membela tertuduh dalam sidang orangtua memakan anaknya di Pengadilan Negeri Jakarta Barat. Intensitas pemberitaan di surat-surat kabar yang menyertakan perannya sebagai pembela meningkat sejak pertengahan dasawarsa 1980-an ketika ia jadi pembela dalam perkara Tanjungpriok dan pemboman BCA. Yang ia bela sejak itu banyak dari kaum papa yang berhadapan dengan negara dan kekerasannya; juga politikus, aktivis, dan mahasiswa yang oleh rezim Orde Baru dianggap sebagai pembangkang. Advokat Lembaga Bantuan Hukum Jakarta ini kemudian sering dikutip pers sebagai otoritas dalam bidang hukum maupun dalam gerakan memperjuangkan masyarakat sipil. Pada tahun 1992 ia diundang ke New York untuk menerima Anugerah Hak-hak Asasi Manusia dari Lawyer Committee for Human Rights. Waktu itu ia duduk semeja dengan Bianca Jagger, mantan istri penyanyi rok Mick Jagger. Selama 18 tahun ia bekerja di LBH Jakarta dan, karena itu, ia lebih dikenal sebagai seorang advokat aktivis. Tahun 1997 ia meninggalkan LBH kemudian membuka Kantor Pengacara LMPP dan menjadi advokat individual. Keluarga Luhut Marihot Parulian Pangaribuan adalah “keluarga Fakultas Hukum UI”. Ia bersama istri dan ketiga anaknya semua kuliah di Fakultas Hukum UI. Istrinya Rosa Agustina T. Sopearno bahkan dosen di sana. Ia menerima P. Hasudungan Sirait dan Nabisuk Naipospos dari TATAP di kantornya di bilangan Kuningan, Jakarta untuk sebuah wawancara akhir Oktober lalu. Berikut nukilannya. Mengapa anda menjadi advokat? Saya sebenarnya nggak mau jadi advokat. Ketika masih SMA, saya justru ingin menjadi hakim sebab bapak saya seorang panitera. Dia panitera, bisa berbahasa Belanda, dan sekelas dengan Midian Sirait di SD berbahasa Belanda di Narumonda. Panitera adalah amtenar, pegawai negeri, dulu sangat terhormat, sekarang saja dianggap hanya sebagai jurutulis semata. Dalam konteks Balige dulu, menjadi amtenar adalah sebuah kebanggaan sebab kontras dengan orang kebanyakan yang adalah petani. Saya bangga sebagai anak seorang panitera dan ingin lebih tinggi dari bapak saya. Sebagai anak seorang panitera, saya sesekali pergi ke pengadilan menyaksikan sidang. Saya lihat di pengadilan, hakim itu berwibawa. Dia masuk, semua pada berdiri. Dia ngomong, semua harus diam dan minta izin kepadanya bila hendak berbicara. Jadi, itulah yang pertama: saya ingin jadi hakim. Keinginan yang kedua, saya mau jadi seniman, tepatnya pelukis, sebab saya suka melukis. Ingin masuk ASRI Yogya. Cuma, dalam masyarakat Batak, menjadi pelukis itu aib dan tak jelas. Pedagang saja aib, kok. Yang benar adalah amtenar. Akhirnya saya masuk Fakultas Hukum karena mau jadi hakim. Saya diterima kuliah di Fakultas Hukum UI pada tahun 1975. Kemudian masuk LBH dan tak pernah jadi hakim? Tunggu dulu, cerita tentang melamar jadi hakim belakangan. Diterima di UI, saya tinggal di Asrama UI di Pegangsaan Timur, kuliah di kampus Rawamangun. Setiap hari sebelum naik bemo menuju Rawamangun, saya jalan kaki dulu dari asrama ke samping RSCM, persimpangan Jalan Kimia dan Jalan Diponegoro. Di depannya persis gedung LBH. Waktu itu LBH masih berusia enam tahun. Pemberitaan mengenai LBH di surat kabar sedang gencar-gencarnya. Di dalamnya ada semangat, ada cita-cita. LBH sedang naik daun. Saya bilang di dalam hati, saya mau kerja di LBH. Ini yang kemudian merangsang saya jadi advokat. Tapi, bukan advokat di luar LBH, melainkan advokat di dalam LBH. Begitu lulus dari UI tahun 1981, saya diterima di LBH dan ketemu Adnan Buyung Nasution. Nggak ada proses. Dua tahun sebelumnya saya memang sudah jadi asisten advokat, yang berhubungan dengan LBH. Waktu itu YLBHI baru terbentuk, sementara LBH sudah berusia lebih dari sepuluh tahun. Nah, saya diterima menjadi sekretaris eksekutif Dewan Pengurus YLBHI selama tiga bulan. Waktu itu pengurusnya Bang Buyung, Ali Sadikin, dan Princen. Anda diterima tanpa tes? Lazimkah saat itu? Untuk jadi sekretaris eksekutif Dewan Pengurus YLBHI, saya diterima tidak melalui tes. Untuk jadi pembela umum, saya kemudian tes. Saya bilang ke Bang Buyung, “Bakat saya jadi advokat, bukan jadi sekretaris atau menangani manajemen.” “Maksudmu apa?” kata Bang Buyung. Saya jawab, “Mau tes.” Dia bilang, “Ya, teslah.” Saya lulus. Mulailah jadi pembela umum LBH. Kapan melamar jadi hakim? Ketika testing jadi hakim, saya sudah beberapa bulan bekerja di LBH. Tes pertama, yaitu tes tertulis, di Senayan. Lulus. Nggak pernah ngomong kepada siapa pun untuk dibantu lulus. Jadi, memang ada sekian persen yang lulus murni. Waktu itu sudah punya nama? Belum, wong baru lulus. Ini akhir 1981. Belum siapa-siapalah, orang kebanyakanlah. Terus tes wawancara. Saya kebagian jam 3. Saat itu, sebagai pembela umum LBH, saya menangani kasus pembunuhan di Penjara Cipinang dengan pesta narkoba. Kasus ini terkenal. Mungkin saya ceritakan dulu kasus ini sebelum menjawab anda tentang melamar jadi hakim. Saya ditugaskan membela dan pergi ke Cipinang. Saya tanya [pelakunya], centeng dari Jawa Timur. Panggilannya si Macan. Saya tanya, “Kenapa kamu berkelahi?” Itulah, Pak, pesta. “Pesta apa?” Pesta narkoba. Ada yang mau bebas. “Lo, di sini, ada narkoba?” Ya, Pak. “Apa?” Heroin. “Yang benar, kamu. Kamu bisa beli?” Bisa. Lalu, saya minta duit kepada Tuty Hutagalung, bendahara LBH waktu itu. “Mbak Tuty, saya mau duit, mau beli narkoba.” Dia kasih. Saya berpikir lagi, kalau saya beli di sana, keluar dari sana ketahuan, bisa-bisa dianggap narkoba itu saya bawa dari luar. Gimana caranya? Saya bawalah wartawan Pos Kota, Terbit, dan Sinar Pagi. Berempat kami menemui si Macan. Ketemu si Macan, saya bilang, “Mana barangnya?” Dia kasih. Wartawan melihat dan besoknya dimuat di koran. Dipecat itu orang-orang penjara. Nah, saat tes wawancara untuk jadi hakim, saya datang sekitar pukul 3.30. Terlambat setengah jam. “Lo, sudah terlambat!” kata pewawancara. Mungkin dia berpikir, mau masuk jadi hakim, tes datang terlambat. Ditanya, “Kenapa terlambat?” Mulai pintar ngarang. Saya bilang, “Maaf, Pak, soalnya ini darurat.” Daruratnya apa? “Tadi saya bawa heroin.” Bingung lagi mereka. Saya bilang, “Menurut UU, kalau saya pegang heroin, itu menyimpan. Saya harus serahkan kepada Kapolda.” Padahal, saya menyerahkan heroin itu kepada polisi saja, bukan Kapolda. Mereka tertarik. Itulah jadinya topik wawancara. Setelah kisah heroin itu, mereka bertanya, “Kamu sudah jadi pengacara, untuk apa lagi melamar jadi hakim?” Saya bilang, “Beda, Pak! Kalau jadi hakim, saya bisa membuat hukum. Kalau jadi pengacara, saya nggak bisa membuat hukum. Kalau ingin perubahan, kita harus jadi hakim supaya bisa membuat hukum.” Itulah singkatnya. Pendeknya, saya menguasai pembicaraan. Setelah panjang lebar ngomong, salah satu pewawancara yang psikolog minta saya menggambar pohon. Yang saya ingat, di dalam formulir pendaftaran ada gambar beringin. Saya gambar saja itu, lengkap dan bagus, apalagi saya pintar gambar. Saya tahu kemudian dari seorang petugas, salah satu penguji bilang, “Dari pagi kita mewawancarai, ini yang cocok jadi hakim.” Jadi, saya sudah lulus begitu keluar dari ruang wawancara dan saya tidak pernah berkomunikasi dengan siapa pun untuk bisa lulus. Sampai dapat SK dua tahun kemudian, tepatnya tahun 1983, saya tidak pernah pergi ke Departemen Kehakiman. SK itu diantar oleh pegawai ke asrama sebab saya masih tinggal di asrama. Dalam SK itu, saya ditempatkan di Pontianak. Tapi, saya nggak pernah pergi sebab sudah sangat menjiwai pekerjaan di LBH. Tahun 1986 saya dipanggil oleh Departemen Kehakiman, mau dikenakan PP 30 karena tidak menjalankan tugas. Direktur Teknis Peradilan, Bu Halimah, bilang, “Kenapa saudara tidak pergi? Ada laporan dari ketua Pengadilan Tinggi.” Saya jawab tidak keberatan ditempatkan di Pontianak. Tapi, saya tidak ada rumah di sana, tidak punya uang, sementara saya punya istri dan satu orang anak. Gaji saya menurut SK cuma Rp 28.200. Tidak diberi ongkos, rumah tak dikasih, dan air di sana katanya beli. Di sana kan rawa-rawa. Akhirnya tak jadi hakim? Setelah bekerja di LBH, saya berpikir jadi hakim itu nggak mungkin, deh. Dari gaji, saya tidak mungkin hidup. Bagaimana bisa dengan Rp 28.200 menghidupi istri, anak, bahkan diri sendiri? Dari dulu saya sudah berpikir, mungkin tertanam di bawah sadar, ya, kalau kita menerima pekerjaan, terima segala risikonya. Artinya, kalau gajimu sedikit, terimalah segitu. Saya bilang saya tidak mungkin hidup dengan gaji segitu, ya, saya tidak terima pekerjaan itu. Saya ingat tulisan Satjipto Rahardjo yang intinya menyarankan supaya psikolog menciptakan modul-modul tes untuk penerimaan pegawai negeri yang dapat menyaring mereka yang bersedia hidup sederhana. Ada cita-cita jadi hakim, tapi dengan pertimbangan harus menerima risiko hidup sederhana, saya tidak ambil itu. Kemudian saya jadi advokat. Saya menjalaninya dengan sungguh-sungguh. Saya mulai dengan asisten advokat tahun 1979, kemudian diterima resmi tahun 1981 di LBH, sampai kemudian semua kedudukan yang ada di LBH pernah saya jabat, kecuali jadi ketua YLBHI. Seluruhnya 18 tahun ketika saya meninggalkan LBH dan YLBHI pada tahun 1997. Terakhir saya direktur LBH. Akhirnya, di ujung itulah muncul PBHI. Mengapa muncul PBHI? Masing-masing punya alasan. Hendardi, Mulyana, dan saya dapat dukungan dari Mochtar Lubis meski Mulyana kembali ke YLBHI. Saya jadi ketua majelis nasional untuk PBHI selama dua periode. Selama 18 tahun di LBH, kasus apa yang paling menarik menurut anda yang pernah anda tangani? Saya pernah baca di beberapa media, dan diulangi oleh seorang pejabat DKI, bahwa Ali Sadikin mengatakan, “Kalau ditanya siapa advokat yang terhebat di dunia, saya jawab itu Luhut Pangaribuan.” Saya kaget. Artinya, saya punya banyak kesempatan di LBH dan saya berusaha maksimal dengan segala talenta yang ada pada saya membuat kasus itu mendapat perhatian orang banyak sehingga bisa diselesaikan. Secara kategoris kasus-kasus itu menyangkut politik Islam, mahasiswa, sampai yang individual. Salah satu kasus sehubungan dengan politik Islam adalah perkara Tanjungpriok. Coba tanya A.M. Fatwa. Saya cukup lama menangani kasus Tanjungpriok. Yang menemukan seluruh tersangka pertama kali itu adalah saya, di daerah Kelapadua. Ada tahanan politik di situ. Saya bertemu dengan semua tokoh itu. Beberapa kali kesempatan saya diminta jadi jurubicara Keluarga Amir Biki untuk berbicara dengan wartawan, terutama wartawan asing, karena saya begitu intens menangani kasusnya. Kasus menarik lain yang saya tangani adalah H.R. Darsono dan Bang Buyung dalam contempt of court. Yang paling seru waktu menangani Fatwa. Saya mau berkelahi benaran dengan hakim, juga dengan jaksa Bob Nasution. Bob berteriak waktu Fatwa mau dibawa, “Siapa yang menghalang-halangi, saya katakan ini melawan UU.” Saya bilang, “Atas nama hak asasi manusia, saya bawa dia karena sakit ke Rumah Sakit Islam.” Ada tarik-menarik. Tapi sekarang, kalau saya ketemu dengan Bob Nasution, cium pipi saya dia itu. Kira-kira sebulan yang lalulah. Fatwa akhirnya bisa saya bawa ke RS Islam sebab dia pingsan. Memang sandiwara, maksud saya dibuat. Yang tahu sandiwara itu dulu kami bertiga saja: Fatwa, istrinya, dan saya. Dari mulai mencari obat supaya dia mencret sampai kemudian supaya dapat keterangan dokter. Advokat lain tidak tahu. Saat itu tarik-menarik waktu, sebentar lagi Fatwa bebas demi hukum. Yang namanya pledoi cuma sehari. Tiba-tiba ia mencret, pingsan, dibawa ke klinik pengadilan. Kebetulan ada dokter Bariah di sana sedang menangani kasus pembunuhan. Hampir ketahuan sandiwara ini ketika dr. Bariah membuka matanya kemudian menyenternya. Fatwa melawan waktu matanya dibuka. Berarti, nggak pingsan. Untung dia tanggap waktu saya bilang, “Jangan, Pak!” Akhirnya dia bisa masuk RS Islam, dibawa dengan ambulans. Baik Abdul Hakim Garuda Nusantara maupun Denny Kailimang tidak tahu ini. Saya ngomong begini karena Fatwa sudah membukanya waktu peluncuran bukunya di Hotel Shangrila. Imam Prasodjo mengatakan waktu itu: kalau begitu, kurang nilai perjuangan Fatwa ini. Mengapa anda mau menciptakan sandiwara itu? Waktu itu saya melihat perkara ini perkara jadi-jadian, perkara politik. Kedua, ada peluang mencari bebas demi hukum. Dia tahanan dan waktu itu sudah ada KUHAP. Kasus menarik lain? Kasus si Macan di LP Cipinang yang tadi saya ceritakan. Dari situ orang percaya bahwa kejahatan dan pelanggaran hukum yang paling banyak terjadi berlangsung di LP. Mulyana bilang, “Kalian advokat itu berhenti di pintu penjara, padahal di penjara begitu banyak persoalan hukum.” Kemudian kasus yang menyangkut tokoh-tokoh mahasiswa: Budiman Sudjatmiko dan PRD (termasuk Romo Sandyawan), mahasiswa ITB yang dipecat Rudini seperti M. Fadjroel Rachman dan Syahganda Nainggolan, lalu Bonar Tigor Naipospos di Yogya. Selama 18 tahun di LBH dan YLBHI sepertinya anda tak pernah berhenti? Dalam 18 tahun itu saya nonstop. Anak saya tiga. Satu pun saya tak ikut menunggui istri waktu kelahiran mereka. Waktu itu saya di Manado, kemudian di Bogor dalam kasus Johnny Sembiring. Pikiran kami dulu di YLBHI: kalau kami nggak bekerja, dunia Indonesia itu seolah-olah berhenti. Lalu, mengapa anda berhenti dari LBH dan YLBHI, kemudian jadi advokat individual? Tidak terasa, ketika bekerja di YLBHI, ternyata sampai tahun 1997 saya masih menumpang di rumah mertua. Ada cerita yang lucu, mungkin mukjizat dalam kaca mata rohani. Waktu membela Romo Sandyawan, anak saya yang pertama diterima di SMP Kanisius. Perlu uang empat juta rupiah. Saya nggak punya duit. Dari mana? Gaji saya di YLBHI tak sampai satu juta. Bahkan, ketika saya keluar dari YLBHI tahun 1997 gaji saya Rp 900 ribu sekian, tak sampai Rp 1 juta. Istri saya dosen di UI. Nggak ada uang segitu. Nah, kami rapat di Driyarkara dalam rangka membela Romo Sandyawan. Hadir Gubernur Serikat Yesus, Pastor Danu. Dari balik pintu dia memanggil saya dan kasih duit. Saya tanya, “Untuk apa?” Tarik-tarikan, akhirnya duit pindah ke tangan saya. Jumlahnya Rp 4 juta. Itu yang saya pakai mendaftar anak saya di Kanisius. Dari pastor ke pastor. Ini mukjizat. Saya kira mereka tidak ada komunikasi. Kemudian saya sakit, batu di empedu, operasi di Cikini, tapi tidak sukses dalam arti, malah kemudian penyumbatan semakin banyak. Akhirnya dokter bilang harus direparasi. Ada yang mengusulkan ke Belanda, tapi saya tidak punya duit. Di situlah saya mulai merenung. Saya mulai kesulitan uang untuk berobat di rumah sakit, kesulitan membiayai sekolah anak yang sudah mulai besar-besar. Di sini pun datang mukjizat. Saya tertolong hanya karena satu omongan dari Sidney Jones. Dia bilang, “Luhut, kau coba pergi ke Kedutaan Belanda karena waktu Gus Dur berobat ke Australia, dia dapat bantuan dari Kedutaan Australia. Mungkin kedutaan punya dana untuk itu.” Saya disarankan ke Kedutaan Belanda. Waktu itu sekretaris politiknya saya kenal. Saya telepon mau ketemu dengannya dan cerita mengenai kesehatan saya. Dia bilang, nggak ada dana di Kedutaan, “Tapi tiket bisa saya kasih.” Jadi sudah dapat dua tiket KLM untuk saya dan istri. Dia bilang akan coba kirim saya ke Den Haag. Terus kemudian ada pendeta di sana yang mau menolong. Rupanya kawan-kawan NGO sudah mengabarkan. Begitu saya sampai di Belanda, pendeta ini menjaminkan depositonya untuk pengobatan saya. Saya tak kenal pendeta ini, tak pernah ketemu. Jadi ini berkat omongan Sidney Jones. Selama 18 tahun, apa strategi anda sebagai advokat? Saya nggak tahu, ya. Mungkin ada talenta dan punya motivasi. Saya kira banyak kasus yang saya tangani yang mendorong lahirnya Undang-Undang tentang legal standing. Dulu saya lawyer Walhi untuk menggugat Indorayon. Ketika itu Bupati J.P. Silitonga dan mantan Dubes Indonesia untuk Australia August Marpaung mau berkelahi tentang hutan lindung. Legal standingnya diterima, di mana-mana dikutip, itu yang kemudian menjadi substansi dalam Undang-Undang tentang Lingkungan Hidup. Selalu ada kreasi-kreasi, termasuk juga waktu saya mendampingi Bang Buyung dan Yap Thiam Hien dalam kasus contempt of court. Mungkin sudah ada motivasi, ada talenta, kemudian ada kesempatan. Kebetulan di LBH itu, bantuan hukum itu ada aspek politiknya. Tidak hanya teknis saja apa yang disebut dengan konsep bantuan hukum struktural. Jadi, kami tak hanya menyembuhkan penyakitnya, tapi juga sebab musbabnya. Itu sebabnya jadi serba keras. Kami tidak hanya menyerang—kalau perkara itu antara jaksa dan advokat—tapi juga siapa yang membuat perkara ini. Kasus-kasus politik lebih banyak dan pemerintah yang membuat perkara ini. Jadi, kami berhadap-hadapan dengan pemerintah. Makanya ada di antara orang-orang LBH yang lebih radikal ditahan. Bang Buyung, Princen, dan Yap pernah ditahan. Saya termasuk penganut Suardi Tasrif: advokat walau melawan jangan sampai ada alasan untuk menahannya. Kalaupun melawan-lawan, saya tak pernah ditangkap. Menurut anda, model pengacara seperti apa yang cocok di negeri ini? Sebenarnya model advokat dengan bantuan hukum di LBH itu mungkin yang cocok. Pertanyaannya, apakah advokat seperti itu bisa bertahan hidup secara individu. Saya terus terang lebih suka bekerja di LBH dibandingkan dengan pekerjaan saya sekarang sebagai advokat individual karena, sebagai advokat individual, saya lebih terbatas. Sementara itu, sebagai advokat bantuan hukum itu tidak terbatas dalam arti, kita memikirkan hukum atau kebaikan hukum di Republik ini. Kenapa? Karena hanya dengan pendekatan yang lugas, terus terang, dan langsung itu kemudian yang bisa mengubah [keadaan] ke arah yang lebih baik. Masalahnya, sebagai personal, sebagai individu, saya harus hidup. Menjelang keluar dari LBH sepuluh tahun lalu, saya bilang kepada The Jakarta Post dalam wawancara, ternyata orang tidak bisa hidup hanya berdasarkan idealisme sebab dengan idealisme, saya sudah membuktikan tidak bisa membeli obat, membayar rumah sakit, tidak bisa melunasi uang sekolah anak saya. Oleh karena itu, saya harus mencari uang, kemudian saya ada di kantor ini. Tapi, sebagai pembawa perubahan, advokat individual itu sangat terbatas karena dibatasi oleh kepentingan klien. Kami tak boleh mengatakan jangan peduli dengan kepentingan klien, jangan didikte, hukum dong yang terutama. Itu tidak feasible, itu nonsense. Bahwa setiap orang punya kepentingan, itu sah. Bahwa kepentingannya itu dispute, itu soal yang kedua. Mungkin di situlah kami perlahan-lahan, tapi karena perlahan-lahan itulah perubahan jadi lambat. Kepentingan klien itu sah-sah saja. Tidak berarti kami dengan sendirinya pegawai si klien. Ada keseimbanganlah di sana, tapi ini yang membuat jadi lambat. Yang diperlukan langsung, kami bikin jadi tak langsung. Ada nggak ukuran sejauh mana kepentingan klien dibela seorang advokat? Memang ada kode etik advokat. Kode etik itu lebih ke tataran etika, sanksinya abstrak. Lebih pada kesadaran yang bersangkutan. Memang dikatakan semakin tinggi kode etik suatu profesi, semakin mulialah profesi itu. Walaupun ada nonsense-nya. Berkaca dari situ, advokat kurang memperhatikan kode etik karena kode etik mengatakan harus mendahulukan kepentingan hukum, kepentingan masyarakat, tidak menangani perkara yang tidak ada dasarnya. Posisi advokat di Indonesia dalam kaitan dengan penegak hukum lain—hakim, jaksa—bagaimana? Formil dalam Undang-Undang Advokat dikatakan bahwa advokat sekarang penegak hukum walaupun menurut saya, secara konseptual itu tidak pas. Yang namanya menegakkan hukum itu to enforce the law. Advokat tidak enforce the law sebab bila enforce the law, dia harus memiliki alat-alat kekerasan seperti senjata, pentungan, borgol, dan penjara. Advokat tak punya itu. Yang punya itu adalah polisi atau negara. Lagi pula, sistem peradilan kita juga tidak memberi tempat yang memadai bagi pengacara. Cara bekerja hukum di negeri ini masih didominasi negara; polisi, jaksa, dan hakim masih mendominasi. Dalam banyak hal, menurut saya, advokat itu masih ornamen. Karena strukturnya begitu, maka tak banyak sebenarnya yang bisa langsung dilakukan oleh advokat. Hakim kita sangat monopoli. Di Amerika hakim pasif. Di sini hakim aktif. Aktif tidak hanya bertanya di pengadilan, tapi juga menentukan kesalahan dan hukuman. Di AS yang menentukan adalah juri, yang berasal dari masyarakat. Di pengadilan kita, hakim bisa bilang, “Jaksa cukup ya, jangan bertanya lagi”; “Advokat sudah cukup, ya, jangan bertanya lagi.” Posisi advokat di Amerika apakah lebih leluasa? Ya, sebab di sana untuk menemukan keadilan, dua yang merasa benar itu diadu, ya seperti cerita Salomo dan bayi di dalam Alkitab. Untuk mengetahui anak siapa yang diperebutkan masing-masing, Salomo mengadu kedua ibu yang masing-masing mendaku bahwa bayi itu anaknya. Singkatnya, konsep mereka [Amerika], kebenaran itu muncul dari percikan, dari tubrukan, seperti api. Di Indonesia: berunding, modelnya seminar, seperti musyawarah untuk mufakat. Jadi, peran advokat di Amerika besar. Kalau kita lihat sejarah, advokat itu diadakan karena perkembangan hak-hak asasi manusia. Kalau tak ada advokat, nanti dikritik. Tapi dalam arti struktur, masih belum ada tempat sebenarnya bagi advokat. Di sana sudah merupakan bagian. Posisi organisasi advokat sendiri, dari Peradin sampai yang sekarang ini, bagaimana? Yang pernah dicatat berperan cukup lumayan dalam konstelasi pembangunan hukum di Republik ini adalah Peradin. Yang masih saya ingat, kontribusi Peradin yang pertama adalah ketika membela orang-orang PKI yang sudah dianggap manusia tidak berguna. Mereka [Peradin] bersuara lantang sehingga kemanusiaan orang itu terangkat: bagaimanapun perbedaan politik, mereka manusia di hadapan hukum. Kontribusi kedua ialah mendorong hak-hak asasi manusia menjadi substansi [peraturan perundang-undangan] di Republik ini. Ide tentang Mahkamah Konstitusi datang dari Peradin. Saya ingat persis: di awal 1980-an, waktu MPR bersidang, Peradin yang dimintai pendapat memasukkan ide Mahkamah Konstitusi. Juga ide-ide tentang hak-hak asasi manusia di dalam KUHAP berasal dari Peradin. Setelah itu, yang ada adalah kesibukan mengurus diri sendiri. Muncul Ikadin, muncul AAI, masing-masing belum terkonsolidasi, muncul Peradi. Yang pasti, organisasi-organisasi itu masih dalam proses konsolidasi, belum ada yang substansial mereka gagasi. Artinya, advokat itu belum terkonsolidasi dalam satu organisasi yang melakukan suatu gerakan nyata dalam perubahan hukum di Republik ini. Belum! Harus dalam satu wadahkah advokat itu? Bukan itu yang saya maksud, tapi mereka terkonsolidasi dalam satu organisasi masing-masing sebab sekarang malah diperlukan organisasi advokat berdasarkan spesialiasi, misalnya yang menyangkut hukum pasar modal, hak atas kekayaan intelektual, dan sebagainya. Baik. Apakah anda melihat korelasi kemahiran orang Batak bicara dengan profesi advokat yang mereka pilih? Itu harus dicek. Saya tak tahu apakah itu kesan atau fakta. Dugaan saya itu adalah kesan, seolah-olah Batak mendominasi profesi advokat. Apakah betul? Coba lihat persentasenya. Cukup banyak. Di daftar AAI DKI hampir 20 persen Batak? OK, tapi nanti harus dilihat periodisasinya. Saya kira ada hubungannya dengan bagaimana praktik-praktik diskriminasi dalam masyarakat kita sekarang ini, lo. Ini ada kaitannya dengan politik kontemporer di Indonesia sekarang. Ketika memasuki wilayah-wilayah publik sekarang ini, kita ditanya, “Kamu datang dari mana?” Maka, keterbatasan masuk wilayah publik menyebabkan orang memilih masuk wilayah privat. Jadi, ada hubungannya saya kira, ketika belakangan ini hampir tersumbat pintu memasuki wilayah-wilayah publik, pilihan menjadi tidak banyak. Dari segi jumlah, saya amat-amati bahwa kesempatan yang semakin rendah untuk memasuki wilayah publik memaksa kita mencari alternatif di wilayah privat. Seperti yang dialami orang Cina—mungkin ini bisa jadi blessing in disguise untuk kita—mengapa masyarakat Cina bisa menguasai ekonomi Indonesia ini. Menurut saya, faktor yang terbesar adalah karena kita mendiskriminasi orang Cina. Dulu tak bisa terbayang Cina jadi menteri. Belakangan ada. Pernahkah kita membayangkan kepala sekolah, Kapolsek, lurah itu Cina? Buat kita hal itu aneh karena pikiran kita sudah terjajah. Jadi, yang terbuka buat dia adalah sektor privat. Ia meninggikan entrepreneurship-nya sehingga dia mahir di sana. Nah, dalam situasi negara semakin memberi kesempatan kepada swasta, dia semakin mendominasi karena dia sudah punya sejarah panjang. Justru orang Batak tidak mendukung ke arah partikelir ini. Saya punya pengalaman untuk menjelaskannya. Ketika saya SD di Balige, setiap sore jam 3 ada orang Cina menjual bakpao naik sepeda. Waktu kecil saya melihat makanan itu enak sekali, tapi saya tak punya duit. Bapak saya pegawai negeri. Tak ada uang jajan. Makan hanya boleh di rumah. Hari Minggu uang diberikan untuk kolekte, maka saya rajin ke gereja walau pas kolekte saya kabur supaya uang itu bisa dipakai untuk jajan. Entah dari mana gagasan ini datang. Saya bilang kepada Li Kiung, tukang bakpao itu, “Kalau saya bantu jual bakpao, saya dapat apa?” Kamu mau? Kalau kamu jual tiga, dapat satu. Karena tak mau sendiri berjualan, saya ajak tetangga, keponakan Midian Sirait itu. Kami berjualan mula-mula tanpa sepengetahuan orangtua, hingga suatu kali ketahuan oleh bapak teman saya itu. “Kamu jadi partiga-tiga,ya?” Partiga-tiga itu aib rupanya. Rendah. Sekolah kamu tinggalkan. Jangan ikutin dia itu. Saya kebetulan tak ketahuan orangtua saja. Sekolah dan amtenar itu terhormat. Saya kira itu umum pada masyarakat Batak. Saya tidak melihat ada budaya Batak yang potensial membuat dia mahir berprofesi sebagai advokat. Barangkali betul bahwa orang Batak selalu bicara, tapi yang namanya advokat tidak sekadar bicara, tapi drafting juga. Harus hati-hati mengambil kesimpulan bahwa ada budaya orang Batak yang mendukung keberhasilannya menjadi advokat. Hipotesa bisa, tapi belum tentu bisa jadi teori. Tapi, dari dulu Fakultas Hukum favorit bagi orang Batak. Cukup banyak orang Batak di jurusan itu? Ya, mereka jadi hakim, jadi jaksa, bukan advokat. Saya kira masih hipotesa budaya Batak berpotensi jadi advokat sebab advokat itu lebih entreprenuer, lebih mandiri, sementara kita masih amtenar. Bagaimana dengan kemahiran marhata? Itu kalau anda batasi advokat dalam urusan litigasi saja, tapi advokat itu drafting juga, bukan ngomong tok, tidak hanya di pengadilan. Secara umum bagaimana anda melihat advokat Batak. Ada yang khas? Saya nggak tahu apakah ini khas. Yang pasti, sama juga seperti yang lain, saya malah—kalau kita berbicara uang dalam hukum—curiga budaya uang ini ikut berpengaruh. Ini misalnya dengan pinggan panungkunan. Dulu pinggan itu berisi sirih, sekarang duit. Kalau itu dipraktikkan di pengadilan, salah lagi ‘kan? Uang do na mangatur sude hukum on. Jadi saya nggak tahu, mungkin budaya dalam arti negatif. Nggak tahu. Anda kelihatannya jauh dari kelompok pengacara Batak itu? Kimianya lain saya kira, tapi saya juga say hello kepada mereka. Mungkin ada segi-segi yang membedakan. Yang pasti soal background. Saya 18 tahun penuh dengan ideologi, perjuangan, dan lagu-lagu kebangsaan. Mereka itu kan branded, merek-merek terkenal. Mereka sudah bicara Versace dan sebagainya, saya masih dengan lagu kebangsaan. Jadi agak beda. Kalau saya melihat Otto Hasibuan dulu selagi saya masih di LBH, mobilnya Honda Civic, saya masih dengan lagu “Maju tak Gentar”. Sekarang tentu sudah bukan itu lagi mobilnya Advokat sering dikaitkan dengan mafia peradilan. Seperti apa situasinya? Orang mungkin akan langsung cenderung pada oknum, mentalitas yang rendah. Saya melihatnya karena kemacetan sistem. Sistem peradilan kita sudah cukup lama macet. Otomatis: di mana ada kemacaten, di situ ada jasa. Sederhana saja, macet lalulintas Jakarta , ada polisi cepek. So simple situasinya. Nggak tahu nanti dari yang anda wawancara, di antara advokat ada yang bilang apakah saya salah dengan cerita ini. Seorang advokat mengatakan tentang para penegak hukum lain: mereka bergaji kurang, saya tambahi gajinya; mereka bahagia, anak mereka bahagia. Apa yang salah? Tentu saja dia ngotot bisa obyektif. Itu nonsense. Nggak mungkin bisa obyektif. Saya kebetulan ikut beberapa tim untuk perancangan Undang-Undang. Di antara anggota tim itu ada pejabat tinggi. Salah satu menceritakan pengalamannya ketemu dengan seorang advokat. “Bang, ini ada perkara. Ada duitnya. Kita bagi dua saja; buat abang separo, buat saya separo.” Itu dia bilang. Di mana obyektifnya begitu? Nonsense. Saya tidak melihat hal ini sebagai imoralitas, tapi lebih sebagai kemacetan sistem. Sistem kita sendiri sudah tidak mampu membaca—kalau diumpamakan sebagai software—instruksi, apa yang dia lakukan. Itu yang terjadi sekarang. Saya ada contoh ketika menjadi anggota tim seleksi untuk Komisi Yudisial. Ada seorang bekas Kapolda, saya kira, ditanya. “Pak, gaji anda berapa?” Disebutkanlah sebab semua sudah tahu berapa sebenarnya gajinya. “Olahraga Bapak apa?” Golf. “Sudah berapa tahun?” Sudah 20 tahun. “Lo, bapak gaji segini kok bisa main golf.” Dibayarin orang. Makanya, banyak hakim agung main golf. Duitnya dari mana? Ya, seperti Kapolda tadi: dibayarin. Pertanyaan saya, “Emangnya ada yang gratis? Dua puluh tahun dibayari golf, emang ada yang gratis?” Begitulah. Maksud saya banyak yang kontradiktif dan tak ada satu kebijakan atau pemikiran ke arah pembenahan itu. Kalau sidak-sidak, itu nonsense. Nah, keadan hari ini macet dan tidak ada yang menyadari, apalagi memikirkan bagaimana supaya tidak macet. Apa menurut anda obat untuk kemacetan ini? Tentu saya tidak berpretensi punya jawaban yang sudah jadi. Paling tidak, saya menyadarinya, bisa menjelaskan bahwa kemacetan memang sudah terjadi. Sederhana saja: coba ambil satu putusan di pengadilan. Baca apa yang dikatakan jaksa dalam rekuisitor, dakwaan, pleidoi; apa berita acara polisi; apa yang ada di berita acara pengadilan! Nggak nyambung itu! Diktum-diktumnya tidak nyambung dengan apa yang dibicarakan. Ada pengalaman saya ketika jadi asisten advokat semasa mahasiswa dulu. Saya membuat pleidoi dan, menurut saya, itu pleidoi terbaik di dunia. Saya dengan serius mengikutinya di Pengadilan Negeri Jakarta Timur. Perkaranya sumir sehingga langsung diputuskan seketika itu juga. Terus hakim baca putusan: “Menimbang pleidoi dari penasihat hukum yang pada pokoknya meminta supaya membebaskan terdakwa…” Padahal, saya tidak bilang membebaskan terdakwa dalam pleidoi itu. Nggak nyambung ‘kan? Begitulah saya kira keadaannya. Lalu, saya baca puluhan putusan Mahkamah Agung. Itu copy-paste. Pertimbangannya copy-paste. Nah, itulah sebabnya tidak ada yurispudensi tetap. Masih ngutip Regentschapsgerecht gitu. Tak ada dikutip menurut Mahkamah Agung Republik Indonesia, padahal sudah 62 tahun merdeka. Macetnya sistem hukum atau sistem peradilan membuat banyak jasa ekstra. Itulah yang kita sebut sebagai mafia peradilan. Semakin pintar dia menunjukkan jalan (seperti di Puncak kalau macet jalur Jakarta-Bandung atau sebaliknya), semakin dipilih dia sebagai penunjuk jalan. Tapi, jangan lupa, dengan menggunakan jasa seperti itu, anda bisa tembus betulan, bisa juga tersesat. Probosutedjo tersesat. Orang yang menawarkan jasa nggak bisa disalahkan. Belakangan ini muncul kritik dari kawan-kawan yang berlatar aktivis dalam posisi anda sebagai pembela Newmont. Bagaimana anda mengklarifikasi itu? Saya juga mendengarkan itu dan ingin berdialog dengan mereka. Saya kan masuk di tengah jalan. Sebelum masuk, saya tidak tahu banyak. Ada dua hal yang saya lakukan. Pertama, saya tanya sahabat saya yang bernama Mas Achmad Santosa. “Ota, saya diminta Newmont untuk ikut. Apa saran dan informasi yang boleh saya tahu?” Dia bilang bahwa dia tak punya lagi informasi karena tidak terlibat langsung. “Itu kan profesional biasa saja,” katanya, walaupun belakangan saya tidak tahu apakah dia termasuk yang mengkritik saya. Yang kedua, saya pergi ke Teluk Buyat. Paling tidak, menurut mata telanjang saya, saya tidak melihat seperti yang dituduhkan. Saya kemudian bertanya apakah LSM tidak tunduk pada cek dan ricek atau introspeksi. Apakah yang mereka katakan sudah pasti benar? Berhadap-hadapan seperti ini sejarahnya, sih, sudah panjang. Ketika di LBH pun, saya selalu berposisi begitu. Itu sebabnya hubungan saya dengan aktivis di LBH tetap baik-baik saja walau tidak mesra sebab walaupun saya NGO, saya harus tanya dong profesionalitasnya. Tidak berarti pengusaha pasti salah, orang miskin selalu benar. Belum tentu. Itu sebabnya bila pejalan kaki atau pengendara motor ditabrak mobil, pasti pengendara mobil yang salah. Setuju nggak dengan stereotipe ini? Nggak dong. Motor bisa salah, pejalan kaki bisa salah. Kita bisa salah. Ada kecenderungan itu. Yang terakhir ini ada sidang perdata sebab Newmont digugat lagi setelah putusan pidana. Ada pemeriksaan tempat ke Teluk Buyat. Tadinya hakim yang berkeinginan. Saya bilang [kami] setuju. Sebab apa? Yang menjadi barang bukti utama adalah Teluk Buyat. Lalu, kawan-kawan LSM mengatakan bahwa ia tercemar dan rusak. Nah, Teluk Buyat masih ada di sana, mari kita pergi ke sana dan kita lihat. Mereka menolak. Mereka bilang tidak relevan lagi sebab limbahnya tidak lagi dibuang di situ. Gimana ini? Mustinya dia bilang, “OK, kita bawa ke laboratorium.” Kami juga usulkan ini. Apa kesimpulan yang bisa diambil dari sini? Sebagai advokat aktivis, anda cukup bisa mengerti nggak jalan pikiran kawan-kawan dengan sikap seperti itu? Saya kurang bisa melihat karena begini. Di LBH itu kan ada litigasi dan nonlitigasi. Yang di litigasi melihat segi teknis dan aspek profesionalitasnya. Yang di nonlitigasi pada pokoknya berpihaklah: yang namanya tambang itu kurang ajar, pencoleng semua, perusak lingkungan. Saya tidak dalam posisi begitu. Di tambang mungkin ada perusak lingkungan, ada pencoleng, tapi mungkin ada juga yang baik sebab advokat pun ada yang pencoleng, ada pencuri, ada juga saya kira yang baik. Pertanyaan saya, apakah NGO itu semua orang baik? Beda dengan manusia yang lain? Saya tidak tahu. Saya kira sama juga dengan manusia lain bahwa di NGO ada pencoleng, ada juga yang baik. Posisi saya yang begini bukan sekarang saja. Waktu di LBH pun saya begitu. Makanya saya katakan hubungan saya dengan aktivis itu baik-baik saja, tapi tidak mesra. Anda terusik dengan sikap mereka? Media termasuk yang bersikap seperti para aktivis itu. Dinamika saja sih, menurut saya. Artinya, buat saya hal itu sebagai balancing dalam membela. Saya tentu butuh orang yang mengingatkan saya sebab saya bisa juga khilaf dalam perjalanan itu. Tapi, tidak berarti mereka pasti benar, lalu saya ikut mereka. Lalu, ada juga sebutan—tapi, susah sebenarnya mengatakan ini—anda sekarang sudah kaya. Sekaya apa sebenarnya? Saya kira dari dulu saya kaya, ha-ha-ha. Yang namanya kaya itu subyektif. Tinggal bagaimana anda mendefinisikan apa yang anda nikmati. Kita sekarang minum kopi [sambil wawancara]. Nah, minum kopi seperti ini bagi saya hanya bagian orang kaya, ha-ha-ha. Kita memang mau mendapatkan uang supaya dengan uang itu, kita bisa hidup. Tapi, uang bukan merupakan tujuan, melainkan sarana. Kita perlu hidup layak. Memang dibandingkan dengan waktu di LBH, tentu saya sekarang jauh lebih layak. Dulu gaji saya yang terakhir di LBH tidak sampai Rp 1 juta, sekarang bergantung pada negosiasi [dengan klien]. Ada tugas begini. Ya, saya katakan kalau bertugas begini, golom-golomnya mesti sekian. Kayak pendeta juga, ha-ha-ha. Ya, itu saja. Dibandingkan dengan pengacara lain, kalau soal yang begitu, saya nggak ada apa-apanya. Sebagai implikasi dari satu sistem, memang betul bahwa kemungkinan advokat mempunyai uang lebih dibandingkan dengan sarjana hukum yang ada di birokrasi jauh lebih besar. Karena apa? Karena advokat bekerja berdasarkan konsensual dan—tentu—ada nasib-nasibannya. Saya cerita sedikit. Sekarang saya ketua dewan kehormatan Ikadin dan anggota kehormatan di Peradi. Begitu UU Advokat lahir—di situ diatur soal fee advokat yang disebutkan “secara wajar”—saya memimpin rapat di Hotel Indonesia. “Saudara-saudara, saya mau bicara soal fee. Saya mengusulkan kita membuat standar, seperti dokter melakukannya buat praktek mereka, supaya ada kepastian. [Tarif] dokter kan ada standarnya. Dokter umum sekian, dokter spesialis sekian.” Saya dimaki-maki semua orang. Kata mereka, “Nggak relevan itu!” Dan ini dulu bagian yang paling susah ketika mau jadi advokat. Waktu saya mau keluar dari LBH, salah satu yang terpikir ialah bagaimana cara minta duit menentukan jasa itunya. Saya keliling-keliling. Saya dengarkan Hotma Sitompul, saya dengarkan Surya Nataatmadja, mungkin juga Otto Hasibuan sebab saya nggak punya ide tentang ini. Saya berpikir sedehana saja: perihal ini nggak diajarkan di Fakultas Hukum. Di buku pun tak ada. Sekali waktu saya ketemu Hotma. Saya tanya, “Lae, gimana sih caranya?” Hotma menjawab, “Wah, saya juga nggak tahu. Tapi, bukan menentukan berapa itu yang mengagetkan saya.” Dia membuka laci dan mengeluarkan cek yang nilainya sangat besar, tidak pernah saya bayangkan ada cek sebesar itu. Sepuluh atau satu miliar [rupiah]. “Ini Lae,” kata Hotma. “Ketika ditanya berapa, tiba-tiba datang saja angka itu. Nah, yang mengagetkan saya, kok klien mau.” Sampai sekarang, kata Hotma, dia begitu saat menentukan berapa. Katanya dia berdoa dulu setiap pagi. [Ha-ha-ha.] Pelajaran kedua dari Hotma. “Jadi, Lae, kamu jangan menggerutu sama Tuhan. Periksa dulu doamu, sudah benar atau belum.” Maksudnya apa? “Mobilnya apa, Lae?” Saya nggak punya mobil. Itu mobil LBH. “Ya, sudah, kau periksa doamu. Kalau kau berdoa, ‘Tuhan, tolong saya diberikan kendaraan’. Banyak kan kendaraan? Masak kau tugaskan Tuhan mencari kendaraan apa yang pas.” Mesti bagaimana, dong? “Kau bilang sama Tuhan, ‘Tuhan, saya mau Mercedez Benz seri S 500 warna hitam.’ Ya, begitu.” Dengan B sekian, ha-ha-ha… Ya, betul. Spesifik, katanya. Jadi, saya dengarkan mereka waktu berkeliling-keliling untuk mengetahui bagaimana cara menentukan jasa. Pengalaman Hotma dan advokat lain dalam menentukan [harga itu] memperlihatkan bagaimana kemungkinan advokat secara umum memang bisa mendapatkan lebih. Itu sebabnya sekarang advokat menjadi cita-cita semua sarjana hukum yang ada di mana-mana. Sekarang ini advokat adalah puncak karier sebagaimana halnya: Kapolri, ketua Mahkamah Agung, jaksa agung, jenderal. Siapa advokat ideal di Indonesia, selain Yap Thiam Hien? [Lama berpikir] Nggak ketemu itu. Kelebihan Yap apa? Ya, dia itu nyaris sempurna. Tentu tak ada manusia yang sempurna. Pertama, dia nggak pernah berbohong. Kedua, dia nggak pernah sesen pun ambil uang. Rumahnya di Jalan Mawardi, yang ia beli tahun 1950-an, nggak ada apa-apanya dibandingkan dengan rumah kebanyakan advokat lain. Nggak ada apa-apanya! Makanya, saya ditraktir oleh dia dulu dengan bubur ayam dan gudeg di warung pinggir jalan. Dia wajar apa adanya. Bagaimana dengan Suardi Tasrif? Dia bilang ke saya, “Saudara Luhut, kalau jadi advokat yang sukses, anda harus main golf.” Kenapa, Pak? “Karena di lapangan golf putusan-putusan diambil. Kalau anda nggak main golf, anda di luar putusan.” Sampai sekarang saya masih berpikir sebab saya belum main golf. Saya nggak tahu benar apa nggak itu. Jadi, saya tak menyebut Pak Suardi Tasrif sebagai advokat ideal karena dia menasihati saya main golf. (selesai) Tulisan ini termuat pada Majalah TATAP edisi 03 November-Desember 2007. Bila tertarik ingin memilikinya, tersedia paket eksklusif Majalah TATAP (7 edisi) seharga Rp200 ribu plus bonus buku Dampak Operasi PT Inti Indorayon Utama terhadap Lingkungan Danau Toba, editor Jansen Sinamo. Call 021 480 1514 untuk info dan pemesanan. Stok terbatas.

Morgan S. L Batu, S.E


unnamed

Kehidupan ini memang seperti misteri, sepertinya kebetulan. Tetapi sesungguhnya tak ada yang kebetulan di jagat ini, semuanya telah diatur oleh sang khalik yaitu Tuhan. “Tugas kita manusia hanya menjalankan peran semaksimal, sebisa mungkin mengembangkan talenta yang diberiNya. Karena memang kita semua diberikan talenta, hanya persoalannya bagaimana kita memanfaatkannya.” Kira-kira itulah yang diamini Morgan Sharif Lumban Batu, Direktur Umum dan Sumber Daya Manusia Perum Perhutani, yang dulu seorang kondektur. Pria kelahiran Desa Pansurbatu, Kecamatan Pollung, Kabupaten Humbang Hasundutan, tahun 1958 ini. Sebelum dipercayakan menjadi direktur, tentunya cerita kehidupannya sebagai anak desa pada umumnya, biasa-biasa saja.

Nama Morgan memang bukan nama Batak, nama itu diperoleh bapaknya dari nama seorang jagoan di film yang pernah ditontonnya. Adapun huruf “S” Sharif adalah nama teman bapaknya, asal dari Minangkabau yang saat itu keduanya sama-sama menjadi kuli pengangkut garam di Sibolga, Tapanuli Tengah. Anak keempat dari sembilan bersaudara ini adalah anak pertama laki-laki. Konon ceritanya, sebelum Morgan lahir, ompungnya (orangtua bapaknya) sempat menyuruh bapaknya untuk menikah lagi, karena belum punya anak laki-laki. Dulu kala masih kental dalam tradisi Batak jika tak memiliki anak laki-laki umumnya keluarga mendorong anak menikah lagi.

Waktu ibunya hendak melahirkan Morgan, bapaknya sengaja tak mau pulang dari tempatnya bekerja. Sebenarnya, hanya ingin menghindari kekecewaan, kalau-kalau yang lahir perempuan lagi. Puji Tuhan yang lahir ternyata laki-laki. Kabar itu pun sampai di telinga bapaknya. Atas berita itu bapaknya pun antusias datang melihat anaknya yang lama dinanti-nanti, baru lahir. Tentu kelahiran Morgan membawa semangat tersendiri, tak saja bagi kedua orangtuanya, tetapi juga pada ompung-nya. Atas cerita itu semua, Morgan kecil diperhatikan begitu khusus, kalau tak disebut dimanjakan. Bapaknya punya harapan besar padanya, karena dia kelak memundak kehormatan keluarga. Sedari kecil bapaknya membimbing dan mengasah mentalnya dengan keras. Sebagai laki-laki terbesar, Morgan selain keras dididik, bapaknya juga mengajarkan tanggung jawab. Termasuk mempersiapkan sekolah yang lebih baik.

Sekolah di kota

Sekolah dasar dilewatkannya di kampung halamannya Dolok Sanggul. Menjelang akil balig, sadar, bahwa kesenjangan mutu pendidikan di kota dan desa berjarak sekali. Morgan pun mengusulkan diri sekolah di kota Medan (Jarak dari Medan ke Dolok Sanggul sekitar 275 km jika melewati Pematang Siantar). “Saya melihat bahwa faktor pendidikan merupakan tolok ukur kemajuan,” ujarnya. Akhirnya, orangtuanya mengijinkannya untuk sekolah di Medan dengan menumpang di rumah kerabat dekat, uda-nya. Namun, konsentrasi sekolahnya pudar, karena sebelum sekolah dia mesti membantu-bantu inang-udanya yang punya klontong. Karena sering kelelahan tak sempat belajar, nilai rata-ratanya jeblok. Karena itu, dia meminta dipindahkan ke Jakarta. Terakhir, dia hanya sampai kelas dua SMA di kota Medan dan melanjutkan ke Jakarta. Ke Jakarta ingin pendidikan yang lebih baik. Bapaknya setuju, hanya saja permohonan untuk dipindahkan itu dibarengi semacam perjanjian. Agar di Jakarta benar-benar menunjukkan hasil, jika lulus sekolah bisa mendaftar ke universitas negeri.

Restu pun diperoleh dari sang bapak. Pendek cerita dia menjalani hidup di Jakarta. Hari-harinya diisi dengan sekolah dan giat belajar. Morgan ikut menumpang hidup di rumah kakak perempuannya di kawasan Rawasari, Jakarta Timur. Studi dilaluinya di satu sekolah daerah Halim Jakarta Timur. Ternyata, tak gampang mengikuti pelajaran di Jakarta yang sebelumnya dilaluinya di Medan. “Cara belajar di kampung dengan Jakarta berbeda jauh.” Morgan tak bisa mendapat nilai bagus.

Impian yang sebelumnya direncanakan harus dijalani berbelok. Nilai yang diperolehnya tak sesuai, semuanya gagal tes di perguruan tinggi negeri. Kabar kegagalan itu pun tenyata sampai juga ke telinga bapaknya. Dua bulan berjalan, sejak pengumuman gagal tes perguruan tinggi tersebut, bapaknya tanpa pemberitahuan datang ke Jakarta. Morgan sendiri tak tahu. Hari itu seperti biasa dia pulang ke rumah kakaknya, sementara bapaknya sudah duduk bersilah dengan raut wajah masem. “Saya tanya bapak, kapan datang pak, saya dijawab ketus.”

unnamed (1)Malam itu, bapaknya bicara: sesuai janji saat sebelum ke Jakarta, “jika kau gagal masuk universitas, maka kau tak boleh lagi mendapat bantuan keluarga, kau harus keluar dari rumah ini.” Kata bapaknya dengan tanpa ragu. Tanpa sempat Morgan mempertanyakan keputusan itu, Morgan disuruh angkat kaki dari rumah kakaknya. Sedih. “Perasaan perih sekali, cara bapak melatih mental.” Tapi Morgan sebagai lelaki harus siap dengan konsekwensi yang sudah disepakati. “Wajah bapak saya waktu itu dingin. Kakak-kakak saya menangis tanpa berani berkata apapun,” kenangnya.

Saat itu, juga Morgan mengemasi pakaian dan beberapa buku dimasukkan ke dalam kardus mie instan. Dengan perasaan terpukul, Morgan pergi menenteng kardus menyusuri malam. Tujuannya satu, menumpang hidup sementara pada kerabat satu kampung, bermarga Simorangkir, yang tinggal di daerah Kuningan, Jakarta Selatan. “Istrinya boru Lumban Batu semarga dengan saya. Pekerjaannya sopir metromini yang menyusuri trayek Kebunjeruk-Tanah Abang.” Malam itu semuanya diceritakan pada keluarga Simorangkir, dan diakhir ceritanya Morgan meminta agar dia diikutkan jadi kondektur. Tetapi, dengan satu kesepakatan, di hari  tertentu diberikan libur untuk mengikuti kursus.

Sementara urusan bagi hasil tak dia pikirkan. Baginya, bisa makan, menumpang tidur, dan bisa mengikuti bimbingan belajar masuk perguruan tinggi, sudah cukup rasanya. Cita-cita untuk menggapai sekolah yang tinggi tak surut. Kehidupan terminal yang riuh dan keras di Jakarta pun mulai dilakoninya. Di suatu malam, selesai mencuci metromini, dia tidur di pol. Sejak menjadi kondektur hal ini biasa dilakoninya, karena jarak pol dan rumah kerabatnya jauh. Sesaat hendak memejamkan mata, datang adik pemilik metromini meminta agar Morgan untuk membelikan rokok.

“Permintaan ini tentu saya tolak. Alasan saya semua penghasilannya hari itu dibawa pulang oleh lae Simorangkir. Alasan tersebut tak diterima adik pemilik metromini, malah jadi menampar saya berkali-kali,” ceritanya mengenang. Maklum Morgan muda walau berperawakan kecil dan kurus ketika itu, tetapi sebagai laki-laki tak terima perlakuan tersebut. Dia bersiasat membalas dendam, mencari dukungan dan mendatangi udanya di bilangan Cibinong, Bogor. Setelah Morgan menceritakan semuanya, keduanya kemudian menyusun rencana. Namun, dua hari kemudian, pikiran yang semula balas dendam urung dilakukan. Udanya memikirkan nasib keluarga Simorangkir bila mereka berdua melampiaskan dendam. Atas alasan itu, niat itu diurungkan.

Inilah hidup, seperti misteri. Baru beberapa hari berselang Morgan mendapat perlakukan yang tak pantas, kini berubah menjadi kebahagiaan. Tak jadi balas dendam, saat itu yang dipikirkannya adalah bagaimana mencari kerja dengan ijazah SMA, tak lagi menjadi kondektur. Seperti kebetulan, dia datang ke kantor Depnaker. Disana dia menyaksikan sekumpulan orang lagi memperhatikan papan pengumuman. Ternyata, orang banyak itu sedang melihat pengumuman tes pegawai negeri sipil (PNS). Morgan baru teringat, setelah lulus SMA beberapa bulan sebelumnya, dia sempat melamar ke Kementerian Keuangan. Lalu, Morgan pun membuka dompetnya mencari fomulir tanda nomor penyerahan berkas lamaran. Kertasnya sudah lapuk, tetapi tulisannya masih bisa terbaca walau sudah kabur. Dan ternyata, namanya termasuk yang lulus.

Sukacita yang tak terkira itu pun dia beritahu pada kakaknya. Oleh kakaknya menyampaikan kepada bapaknya. Atas diterima jadi PNS, oleh kakaknya mengundang seluruh keluarga dekat Lumban Batu menggelar syukuran. Saat diawal-awal di terima departemen ini, Morgan menyebut salah satu yang berjasa di awal karirnya, Ir Humuntar Lumban Gaol. “Waktu itu beliau sudah menjadi pejabat, saat saya diterima di Departemen Keuangan. Ada keluarga yang kenal beliau menceritakan tentang saya, lalu saya dipanggil ke kantornya. Beliau waktu itu menulis catatan kecil untuk saya sampaikan pada seorang temannya,” kenang Morgan. Tentu bukan nepotisme, tetapi dulu cara demikian mujarab.

Setelah diterima menjadi PNS, Morgan memanfaatkan waktu sembari kuliah Universitas Krisnadwipayana di Jalan KH Mas Mansyur Tanah Abang, Jakarta Pusat, sebelum pindah tahun 1979 pindah ke kampus yang terletak di Jalan Jatiwaringin, Jakarta Timur sekarang ini. Tanpa harus meninggalkan pekerjaan, kuliah malam. Cita-cita jurusan ekonomi sebagai jalan karier yang mulai ditatanya.

Sikap memotivasi

Dia meniti karir dari level yang paling bawah. Berbagai tugas pernah diterimanya selama mengabdi di Kementerian Keuangan yang kemudian dialihkan ke Kementerian BUMN. Karirnya pun terus menanjak hingga menduduki posisi Asisten Deputi Bidang Usaha Industri Primer I Kementerian BUMN. Beberapa jabatan komisaris BUMN pernah diembannya, termasuk pernah menjadi komisaris di PT Kertas Kraft Aceh (KKA) dan PT Perkebun (PTPN) V Riau. Sejak tahun 2012, Morgan dipercayakan menjabat Direktur Keuangan Perum Perhutani. Dan, tahun 2015 dipercayakan menjadi Direktur Sumber Daya Manusia. Sebuah jabatan karier prestisius bagi seorang anak desa. Jabatan yang penuh tantangan, karena mesti terus mengembangkan potensi, sumber daya manusia yang ada di Perum Perhutani.

Sementara untuk mengembangkan diri, dia terus mengasah diri lewat membaca dan membangun relasi. Dia terus mengupgrade diri. Sadar bahwa tak mungkin pencapaian langsung dapat melejit tanpa gigih dan belajar terus-menerus. Sebagai seorang pemimpin di perusahaan negara, dia juga telaten membangun hubungan relasi dengan tokoh-tokoh nasional. Termasuk, misalnya, ketika Dahlan Iskan menjadi Menteri BUMN, Morgan selalu belajar pada para seniornya. Namun, di balik itu semua dia tak lupa membantu banyak orang. Sikapnya memotivasi. Sebagai seorang yang sudah menikmati pencapaian mesti membagikan, mentransfer pengalaman pada orang-orang muda. Sikap memotivasi itu, termasuk mendatang ke sekolah-sekolah di kampung halamananya.  Memotivasi para pelajar, upayanya untuk memberikan semangat bagi mereka agar tekun dalam menggapai cita-cita.

Morgan berharap agar kelak makin banyak lagi putra-putri Humbang Hasundutan yang termotivasi untuk menjadi salah satu pemangku kepentingan di negeri ini. Selain memberikan pendidikan dan motivasi terhadap pelajar, dia juga tak lupa memberikan bantuan ke sekolah berupa peralatan pendukung pendidikan seperti LCD proyektor, dan buku-buku. Selain itu, juga dia juga menyantuni, memberi beasiswa bagi pelajar setingkat SLTA terbaik dari Humbang Hasundutan.

Lalu, apa yang mesti dimiliki untuk bisa eksis berkarier dimanapun? Sarannya, sebagai seorang yang menata karier mesti memiliki kredibiltas. “Kredibilitas adalah atribut yang susah diperoleh. Dan itu adalah kualitas manusia yang harus terus dikembangkan. Ini diperoleh menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun. Tetapi, ini bisa hilang dengan sekejap kalau tak dipelihara. Seorang pengikut bisa memaafkan ketidaktepatan janji pemimpin, salah omong, keseleo lidah, tindakan yang kurang hati-hati atau beberapa kesalahan penting,” sembari menambahkan. “Akan tetapi, akan tiba saatnya ketika batas kesabaran seorang pengikut apabila ketidak-konsistenan berlangsung terus-menerus. Disitu pemimpin kehilangan kredibilitas, dan amat susah untuk mendapatkannya kembali,” ujar jemaat Gereja Santo Yakobus, Paroki Kelapa Gading, Jakarta Utara ini.

Tak ada yang mengira bahwa Morgan semula hanyalah seorang anak desa, pernah menjadi kondektur. Dan, sekarang menjadi direkur sebagai pengemban potensi Sumber Daya Manusia di Perum Perhutani. Semua tahu bahwa pada bidang SDM seluruh kemampuan atau potensi perusahaan dapat diberdayakan. Sesuatu tugas yang tak gampang, tetapi karena kasih Tuhan semuanya indah pada waktunya, dan baik diembannya. “Tak ada impian yang tak akan terwujud jika kita menggandalkan Tuhan. Mari syukuri hidup ini,” katanya takzim. Sebagaimana kutipan di facebooknya: “Pergi ke pasar membeli bubur. Bubur dibeli untuk sarapan. Jika kita banyak bersyukur, rejeki akan ditambah Tuhan.” Hojot Marluga

Kamaruddin Simanjuntak SH


Kamaruddin SimajuntakNama:

Kamaruddin Simanjuntak SH

Tempat/tgl lahir: Siborong-borong, 21 Mei 1974

Pendidikan:

SMAN I Siborong-borong, tahun 1992

Fakultas Hukum Univesitas Kristen Indonesia, tahun 2000

Pendiri: kantor pengacara “Victoria” Law Firm
 Simanjuntak SH

Tempat/tgl lahir: Siborong-borong, 21 Mei 1974

Pendidikan:

SMAN I Siborong-borong, tahun 1992

Fakultas Hukum Univesitas Kristen Indonesia, tahun 2000

Pendiri: kantor pengacara “Victoria” Law Firm

Hidup di dunia terlalu singkat. Itulah sebabnya orang bijaksana mengerti bahwa kesempatan tak disiasiakan. Mengisinya dengan sabaik-baiknya, apa yang terbaik dalam profesi yang sedang digeluti. Dalam hal ini ingin menjadi pengacara terbaik. Itulah yang dianut Kamaruddin Simanjutak seorang pengacara yang menyadari hidup adalah anugerah. “Karena itu selagi diberikan kesempatan harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.” Ajakannya, “Marilah kita isi dan sikapi dengan perbuatan-perbuatan yang baik, benar dan berguna bagi diri sendiri maupun bagi sesama kita. Dan jangan sampai usia kita hari demi hari berlalu begitu saja, tanpa kita isi dengan hal-hal yang positif.”

Menurutnya, banyak orang, tanpa terasa sudah tua, kehidupannya masih kosong. “Miskin dan menderita, karena masa mudanya tidak dimamfaatkan waktu yang ada dengan kegiatan yang bermamfaat dan positif. Tak bekerja keras dan tidak menabung atau tidak memiliki investasi. Akhirnya tiba pada penyesalan di hari tuanya, namun perlu kita sadari bahwa menyesal tua, adalah tiada arti!”

Satu-satunya cara untuk meraih sukses, tambahnya adalah dengan beriman. Berdoa dan berpengharapan senantiasa kepada Tuhan Yesus, berpikir positif, memiliki cita-cita dan tujuan hidup yang jelas, bergaul di lingkungan yang baik dan positif, ditambah belajar dan bekerja keras sepanjang masa. Pasti hasilnya sangat baik dan diberkati. Sukses adalah tercapainya cita-cita yang kita mimpikan melalui tata cara yang sudah kita tetapkan. Sukses di waktu sekarang selalu ditentukan oleh apa yang sudah kita lakukan dan mimpikan di waktu lampau. Sukses di masa depan bergantung pada bagaimana persiapan dan mimpi kita hari ini untuk masa depan, katanya.

Kalau kita sudah menetapkan bahwa kita ingin hidup seperti apa, lalu dengan beriman dan berdoa senantiasa kepada Tuhan, lalu berpengharapan, berpikir positif, memiliki cita-cita dan tujuan hidup yang jelas, bergaul di lingkungan yang baik dan positif, ditambah belajar dari orang-orang yang sudah berhasil dan bekerja keras sepanjang waktu dan fokus untuk mencapai tujuan hidup kita. Maka kita pasti akan meraih impian kita dan itulah yang namanya sukses tersebut, ujar Kamaruddin.

Pemahaman akan makna hidup terbangun oleh perjalanan hidupnya yang panjang. Dia sebelum menjadi advokat dulunya seorang bisnisman. Tetapi, di satu masa bisnisnya bangkrut. Dia tidak berlama-lama menangis keadaannya. Dari sana dia bangkit, beranjak makin gencar mempelajari hukum. Apalagi waktu disuasana dia masih aktif di bisnis Kamaruddin banyak bertemu dengan sarjana-sarjana hukum di Klender, Jakarta Timur.

Padahal dulu semenjak tamat dari SMAN I Siborong-borong tahun 1992, Kamaruddin tak pernah berpikir menjadi pengacara. Malah dia membulatkan tekad merantau ke Jakarta untuk mengadu nasib. Berbekal kenekatan, iman, dan doa orang tua begitu sampai di Jakarta. Kamaruddin karena tidak punya uang untuk kos dan tidak ingin menyusahkan saudara. Kamaruddin terpaksa harus tinggal di bawah kolong jembatan di daerah Klender, Jakarta Timur.

Selama tiga bulan hidup Kamaruddin bak gelandangan, kerja serabutan sekedar untuk bertahan hidup. Dengan berbekal ijasah SMA Kamaruddin kemudian mencoba melamar kerja di perusahaan. Tahun 1993 dia diterima bekerja sebagai Customer Service di sebuah restoran. Dari sana sempat membangun bisnis. Tetapi tak berapa lama, karena pasang surut dunia bisnisnya, Kamaruddin kemudian menikung, mengambil jalan lain menjadi pengacara. Lalu kuliah di Fakultas Hukum Univesitas Kristen Indonesia di tahun 2000. Dia tempuh hanya 3,5 tahun. Lulus kuliah, tahun 2004, lalu membuka kantor pengacara sendiri yaitu “Victoria” Law Firm. Victoria artinya kemenangan. Nama itu juga diambil dari nama putrinya. Sebagai pendiri kantor pengacara, dia banyak menangani berbagai kasus besarpun ditanganinya. Dengan bekal pergaulan dan wawasan yang luas dia dipercaya menangani kasus-kasus besar.

Kamaruddin selalu lantang dan tegas untuk mengatakan pendapatnya dalam membela kliennya. Sebagai seorang pengacara dia membongkar habis kasus-kasus diantaranya dirinya pernah membongkar korupsi tahun 2007 yang menyebut pertama kali jangan tebang pilih kasus korupsi di DPR Komisi V dan Menteri Perhubungan. Membongkar kasus korupsi di tubuh partai Demokrat tahun 2011 yang akhirnya menyeret Anas Urbaningrum, Nazaruddin, Angelina Sondakh. Satu perkara lain yang banyak disorot media nasional adalah kala Kamaruddin menangani kasus Rosalina Manullang, tahun 2011. Dia dipercaya Rosalina Manulang menjadi kuasa hukumnya untuk kasus mega skandal korupsi yang berhubungan dengan Muhamad Nazarudin, mantan Bendahara Umum Partai Demokrat itu.

Konon banyak yang menyebut dari menangani perkara Rosalina, nama Kamaruddin kemudian melambung bak meteor. Menjadi pusat berita selama beberapa bulan. Kini kiprahnya di dunia kepengacaraan Indonesia namanya pun kini makin diperhitungkan. Pria kelahiran Siborong-borong, 21 Mei 1974 adalah jemaat di HKBP Kebun Jeruk. Suami dari Joanita Meroline Wenji ini, telah Tuhan karuniai lima orang puteri. Dengan bekal integritas, kompetensi di bidang hukum, idealisme, kerja keras dan iman kepada Kristus. Sebagai seorang Kristen, dia ingin menjadi teladan dan saksi Kristus di bidang profesinya hukum yang digeluti putra dari Midian Simanjuntak dan Nurmaya Pardede.

Memperjuangkan klien

Kamaruddin sejak menekuni karir di dunia pengacara, sudah hampir ratusan perkara ditangani. Dan berbagai latar belakang orang yang dibelanya amat beragam. Sebagai seorang advokat Kamaruddin banyak membantu kliennya. Salah satu adalah penyanyi Daniel Sahuleka. Sebagai pengacara untuk menyelesaikan kasusnya dengan tiga record label besar di Indonesia. “Kita senang banyak yang suka dan menyanyikan lagu-lagu Daniel, tapi tentu semua ini ada aturannya. Kalau ingin mengedarkan, tentunya harus izin dahulu dengan penciptanya,” ujarnya. Johnny Maukar selaku manager Daniel Sahuleka di Indonesia menjelaskan, pelanggaran hukum yang dilakukan Sony Music misalnya adalah mengedarkan lagu ciptaan Daniel berjudul Don’t Sleep Away The Night yang dinyanyikan ulang oleh Glenn Fredly dalam bentuk CD. Namun setelah dilakukan mediasi, Sony Music akhirnya bersedia menarik kembali CD yang sudah beredar tersebut.

“Masalahnya waktu itu memang sudah selesai. Tapi di tahun 2012, Sony mengedarkan kembali lagu itu dalam bentuk iTunes tanpa izin dan tanpa memberi royalti sepeser pun.” Upaya mediasi juga sudah dilakukan sebanyak tiga kali. Namun, hal itu tak juga membuahkan hasil. Akhirnya Kamaruddin mensomasi. “Langkah pertama yang akan kami lakukan tentunya meminta keterangan dan memberikan somasi. Bila tidak juga menemukan solusi, kami akan mengajukan tuntutan hukum, baik melalui gugatan perdata ke Pengadilan Niaga di Jakarta, maupun tuntutan pidana ke kepolisian,” jelas Kamaruddin.

Ditanya satu hal yang membuat Kamaruddin selalu terusik adalah soal carut-marutnya penegakkan hukum kita. Baginya, sebagai warga bangsa yang menjadi bagian penegakkan hukum, Kamaruddin senantiasa mengutamakan hukum sebagai landasan dalam seluruh aktivitas negara dan masyarakat. “Hukum belumlah menjadi panglima. Masih jauh panggang dari api. Diistilahkan tajam ke bawah tumpul ke atas, itulah gambarkan kondisi penegakan hukum di Indonesia. Hukum yang seharusnya menjadi alat pembaharuan masyarakat, nyatanya penegakan hukum masih morat-marit dan carut marut.” Sebagai pengacara Kamaruddin sangat membenci ketidakadilan. Karena itu, kerap kali dia memberikan pencerahan lewat media sosial. Salah satunya dengan cara menulis di facebook pendapatnya soal-soal yang terkait dengan penegakan hukum.

Hotman J. Lumban Gaol

Saor Siagian, SH, MH



Pengacara Pembela Kaum Tertindas

Saor Siagian-1Melayani itu tidak harus menjadi pendeta. Saor menyadari, panggilannya bukan naik ke atas mimbar. Namun melayani di tempat dimana Tuhan tempatkan kita mengabdi. Dia menyadari bahwa menjadi pengacara itu juga bagian pelayanan. Sebagai pengacara, membela kaum marginal adalah hal yang dianggapnya sebagai kehormatan, apalagi membela mereka yang tertindas.

Pria kelahiran di Pematang Siantar, 9 Mei 1962. Ketika Lulus SMA melanjutkan pendidikan di Fakultas Hukum dari Universitas Kristen Indonesia ini adalahnya lebih tertarik menjadi motivator. Itu sebabnya dia sempat bekerja di Legal Consultant dan Dale Carnegie Training Jakarta, sebelum membuka kantor pengacara sendiri. Suami Mery Sibarani dan ayah tiga anak, dua putri dan satu putra, Bunga Meisa Siagian, Maria Grace Delima Siagian, dan Paulus Reinhard Siagian.

Dia telah banyak membela Gereja yang ditindas, termasuk Gereja HKBP Pondok Timur, Bekasi. Walah dia bukan jemaat HKBP, tetap bergereja di POUK, Kemang Pratama, Bekasi. Orang juga tidak lupa akan perjuangannya pada HKBP Filadelfia. Saor melihat, kekerasan yang dilakukan barisan massa intoleran ini adalah menghadang Jemaat HKBP Filadelfia yang hendak menuju lokasi ibadah di Jalan Jejalen Jaya, Tambun, Bekasi untuk melakukan ibadah malam Natal, sesuatu yang mengiris hatinya.  “Betapa ada manusia tidak memberi hati bagi orang lain.”

Menurutnya, penghadangan oleh massa intoleran yang juga melakukan pelemparan kepada Pendeta Palti Panjaitan dan Jemaat HKBP Filadelfia, yaitu melempar telur busuk, kotoran hewan, batu, tanah; menyiram air jengkol yang sudah busuk dan air comberan. Ini ironis, malah polisi membiarkan terjadinya aksi kekerasan massa intoleran tersebut,” ujarnya ketika itu. Saor kukuh membela laum tertindas. Bukan hanya gereja yang dibelanya. Dia juga menjadi Kuasa hukum jemaat Ahmadiyah. Ketika Ahmadiyah dimarginalkan, sebagai pengacara dia meminta perlindungan dan tindakan hukum bagi kliennya.

Membela kaum tertindas

Bagi aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) ini, bahwa kebebasan adalah hak asasi yang mesti dilindungi pemerintah, termasuk kebebasan beragama.  Itu sebabnya, tahun 2005 sudah ada Ratifikasi Kovenan Internasional Hak-Hak Sipil dan Politik atau International Covenan on Civil and Political Rights (ICCPR) Jo Pasal 18 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (Universal Declaration of Human Rights).

“Konsitusi kita sudah jelas, mengatur dan melindungi hal kebebasan untuk memilih dan tidak memilih agama sekalipun,” ujarnya. Dia menambahkan, karena itu di Kristen Protestan misalnya, ada aras atau sinode. Ada 300-an lebih sinode yang terdaftar di Departemen Agama. Bolehkah kita sebut mereka ini semua sama? Tidak kan! Atau beranikah kita mengatakan, bahwa sinode ini yang paling suci ini atau itu? Yang penting mari kita saling menghargai.

Soal kebebasan beragama itu seksi sekali. Tetapi, saya salah satu orang yang sangat keberatan jika isu-isu agama dijadikan menjadi komoditi. Apalagi dipolitisasi. Memang kita bisa melihat masih ada tipe orang yang kurang percaya diri memimpin, jika tanpa menggunakan isu-isu agama baru percaya diri.” Tetapi bagi saya itu adalah cara pandang yang sangat primitif. Inilah ketidakdewasaan dalam berpolitik. Masih menggunakan cara-cara kuno, menjual isu-isu agama. Padahal, kalau ingat apa yang disampaikan visi oleh founding father bahwa kita harus menghargai dan memberikan ruang kebebasan menganut dan tidak menganut agama.

Karena itu, bagi Saor, negara membutuhkan pemimpin yang punya empati pada rakyat, yang jujur pada rakyat. “Sesungguhnya walau kita sudah merdeka, tetapi cara berpikir kita belum merdeka. Proses berpikir kita masih sempit. Misalnya, cara berpikir kita yang terjajah itu masih melihat misalnya, harus mayoritas layak menjadi pemimpin nasional. Sementara  minoritas tak bisa memimpin.” Menurutnya, jangan kita mendefinisikan kewibawaan pemimpin hanya dari fisik saja. Kalau itu masih terus kita anut, saya pikir kita masih terjebak cara berpikir peodal, katanya.

Membela KPK

Atas dimarginalkan, Saor juga tampil menjadi kuasa hukum Bambang Widjajanto ini, masyarakat yang menjadi tersangka oleh polisi bisa menolak panggilan dan mengulur proses hukum dengan mengajukan praperadilan penetapan tersangka. Sebagai pengacara, dia menyarankan agar tim hukum Komisi Pemberantasan Korupsi segera mengajukan peninjauan kembali ke Mahkamah Agung. Saor menilai penyidik Bareskrim Mabes Polri percaya diri menetapkan kliennya sebagai tersangka. Menurutnya, saat penangkapan kliennya, penyidik tak mencantumkan ayat yang disangkakan.

“Ini yang menarik, pasal pertama yang dalam hitungan tidak dalam seminggu, Pak BW dipanggil dengan Pasal 242 juncto 55 (KUHP). Tapi panggilan kedua, kemudian pasalnya diubah,” kata Saor. Berubah-ubahnya pasal yang disangkakan terhadap BW, menurut Saor, kian mengentalkan perkara yang disangkakan terhadap kliennya dipaksakan.

“Kriminalisasi terjadi karena perbuatan yang ditudingkan saat BW tengah menjalankan profesinya sebagai advokat yang dilindungi UU Advokat.” Sekali lagi, menurut Saor, penetapan BW sebagai tersangka menunjukkan penyidik tidak mentaati dan menghargai profesi dan UU Advokat. “Penyidik polisi betul-betul tidak menghargai advokat melakukan pekerjaannya. Padahal undang-undang terang benderang, sedang melakukan perlindungan dan rahasia-rahasia dengan kliennya,” ujar Saor.

Saat dicegah, dua pengacara BW Chatrine dan Nur Syahbani Katjasungkana sudah di dalam ruang pemeriksaan. Sementara Saor Siagian, kuasa hukum BW lainnya, mempertanyakan dasar hukum pembatasan jumlah kuasa hukum yang boleh mendampingi BW. Tak satu pun penyidik bisa menjawab pertanyaan Saor. Sebaliknya, mereka menyarankan kuasa hukum menghadap ke Kasubdit VI Kombes Daniel Bolly Tifaona.

Dialog dengan Kasubdit Daniel ternyata tidak membuahkan. Saor tetap diminta keluar dari ruangan. BW hanya boleh didampingi dua pengacara. Sementara BW tetap duduk dan menyatakan menyerahkan semua hal kepada Kuasa Hukum. Sebagai pengacara, disinilah keberanian Saor, dia tetap menolak pembatasan jumlah pengacara yang boleh mendamping kliennya. “Soalnya tindakan itu tak berdasarkan hukum,” Dia menambahkan “Sejak kapan perintah Kasubdit sama dengan aturan yang tercantum dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana?” Kombes Daniel kesal, lalu keluar dari ruang pemeriksaan dan memerintahkan Provos yang berjaga untuk mengusir Saor. “Provos tarik orang ini keluar!”

Dua Provos langsung mengampiri Saor Siagian untuk menyeretnya keluar ruangan. Tapi tindakan itu dicegah kuasa hukum BW lainnya. Mereka mengatakan, bila Kombes Daniel meneruskan tindakan itu berarti dia telah melakukan perbuatan melawan hukum dan melanggar undang-undang. Akhirnya, Saor pun dapat mendampingi pemeriksaan BW. Sementara Kuasa Hukum lainnya terpaksa harus keluar ruangan.

Saor Siagian-3Pilihan yang dipilih Saor, bukan tanpa resiko. Untuk mewujudkan harapan, Saor menyadarinya tidak mudah, memerlukan perjuangan dan pengorbanan. Selama ini, dia menyadari profesinya sebagai pengacara yang konsisten membela kaum tertindas, untuk mendapatkan kepastian dan keadilan hukum, termasuk komunitas yang ditindas itulah yang dibelanya.

Ditulis HOJOT MARLUGA

Marihad Simon Simbolon


Parna RayaNama Lengkap: Marihad Simon Simbolon

Agama: Katolik

Pendiri: Parna Raya Group

Organisasi

Ketua penasihat Punguan Simbolon dohot Boruna Se-Indonesia [PSBI] (2012 – 2017)

Pendiri/Pemilik:

PT Parna Raya

PT Kaltim Parna Industri (KPI)

PT Surya Parna Niaga

Hotel: Sari Pan Pacific Hotel

Yayasan:

Yayasan Buana Parnaraya (bidang pendidikan)

Kantor Pengelola:

Jl. Tipar Cakung Raya 8, Cilincing, Jakarta Utara, Indonesia 14140

Kantor Pusat
Menara Imperium
Jl HR Rasuna Said Kav 1 Menara Imperium Lt 12 Suite A
Guntur, Setia Budi
Jakarta Selatan 12980 DKI Jakarta

Pengusaha Batak, Marihad Simon Simbolon (penasihat Punguan Simbolon dohot Boruna Se-Indonesia pada kepengurusan PSBI (2012 – 2017) adalah pendiri beberapa perusahaan. Parna Raya Group dia dirikan sejak tahun 1960. Awalnya hanya dari perusahaan keluarga, dengan bisnis truk tunggal. Mengangkut barang dari kapal di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Indonesia. Berlahan PT Parna Raya sejak berdiri terus menaik, terus tumbuh dari bisnis angkutan truk kecil untuk armada yang sangat substansial hingga bertumbuh besar dari 125 unit semi trailer dan tronton. Seiring waktu, perusahaaan ini melirik bisnis lain. Saat ada kesempatan muncul untuk memperluas ke bisnis transportasi laut, tongkang.

Oleh karena itu, Marihad menginvestasikan uangnya membeli kapal laut untuk mengangkut kantong semen secara massal, pupuk urea. Dan komoditas lainnya yang dihasilkan oleh perusahaan milik Negara. Selanjutnya, pertengahan 1980 peluang juga muncul dalam perdagangan komoditas. Marihad kemudian berkelana ke perdagangan komoditas termasuk pupuk kimia, pinus kayu pulp, garam bermutu tinggi dengan bekerjasama dengan industri Australia dan lain-lain.

Pertengahan tahun 1990, sebuah kesempatan dan keputusan brilian memungkinkan Marihad untuk mencoba berbisnis di gas. Niatnya untuk mengamankan pembelian gas bumi, walau belakangan tersandung kasus korupsi. Dari bisnis ini lahirlah pabrik ammonia. Satu-satunya pabrik swasta mlik pribadi dan freehold terletak di Bontang, Kalimantan Timur, Indonesia. Dia melihat kesempatan, meramalkan masa depan yang cerah dalam pasokan gas dan masuk ke bisnis berbasis industri, sebagai lawan bisnis perdagangan. Pabrik Amoniak kemudian dibangun dan PT Kaltim Parna Industri didirikan sebagai joint-venture dengan perusahaan Mitsubishi Corporation dan PT. Dana Pensiun Yayasan Pupuk Kaltim, dengan kapasitas produksi per tahunnya lebih dari 500.000 metrik ton amonia anhidrat.

Perusahaan ini juga menggarap perkembunan Amonia. Amonia tanaman ditugaskan dan berhasil memulai produksi komersial pada awal 2002 Sebagian besar amonia yang dihasilkan diekspor ke bagian lain baik di Timur Selatan dan Asia Timur Jauh. Sejak itu, perusahaan ini berkembang pesat dan didirikan beberapa perusahaan yang bernaung dalam Parna Raya Grup. Kini perusahaan Parna Raya menjalankan berbagai jenis usaha, mulai dari investasi, jalur pipa transportasi gas, pasokan gas alam, dan perkebunan kelapa sawit.

Kekayaan Marihad berkembang seiring dengan kepemilikannya di hotel bintang empat. Hotel yang dikenal sebagai Sari Pan Pacific Hotel. Hotel ini berlokasi di pusata bisnis di Jalan M H Thamrin, pusat ibukota Indonesia, Jakarta. Sudah lebih dari 30 tahun telah dikelola oleh Pan Pacific Hotels and Resorts, kini berbasis di Singapura. Group Parna Raya dikenal memiliki komitmen untuk melanjutkan pertumbuhan dan dengan semangat yang tinggi dan antusias. Kini, Parna Raya Group, melalui PT Parna Raya bersama dengan anak perusahaan dan berafiliasi  dengan memperluas sayap, dan terus menangkap peluang lain di industri berbasis sumber daya, seperti batubara dan sumber energi.

Di balik kesuksesan Parna Raya Group adalah peran dari Marihad, seorang lelaki hebat dan tangguh yang sering dipanggil Pak Sim, beliau memulai usaha ini dari sebuah truk dan berkembang menjadi perusahan besar yang membawahi banya perusahan mulai dari transportasi laut, darat, energi, perkebunan sawit, migas, perhotelan logistik dan lain lain.

Di bidang pendidikan, Marihad juga meliriknya. Dengan mendirikan Yayasan Buana Parnaraya mendirikan STMIK. Sekolah tinggi ini diharapakan menjadi menjadi Sekolah Tinggi yang unggul dan Terkemuka dibidang Teknologi Informasi tingkat Nasional. Oleh sebab itu, lembaga ini mengusung pendidikan berbasis Teknologi Informasi yang bermutu tinggi dan menghasilkan lulusan yang profesional, disiplin, jujur.

ditulis, Hojot Marluga

Marsiaman Saragih


images (1)Profil
MARSIAMAN SARAGIH
Tempat, Tanggal Lahir: PEMATANG SIANTAR, 15 MARET 1952
Domisili: JAKARTA TIMUR
Pendidikan Terakhir: S1
PENDIDIKAN

  • FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS INDONESIA DI JAKARTA, 1983
  • SMA ADIDARMA DI BANDA ACEH, 1972
  • SMP PERSIT KCK DI BANDA ACEH, 1969
  • SR NEGRI XI DI PEATANG SIANTAR

Riwayat Organisasi

  • GMNI FAKULTAS HUKUM UI, 1978
  • PDI PERJUANGAN, TAHUN 1999 S/D SEKARANG

Riwayat Pekerjaan

  • PT Astra Honda Motor SENIOR MANAGER 2007
  • Wiraswasta

Afriyani Silitonga


Franky-1Perempuan muda beprestasi ini, punya komitmen untuk memperjuangkan kesejahteraan rakyat, itulah yang menjadi cita-cita Afriyani Silitonga terjun ke politik. Afriyani awalnya seorang entreprenur, sebagai pemilik rumah lulur Frangipani. Tetapi tetap aktif dalam gerakan pemuda gereja. Dia juga aktif bersama Bekasi Youth Ministry melakukan pelayanan. Termasuk aktif beribadah mendukung GKI Yasmin dan HKBP Filadelpia di Depan Istana Presiden. Sebelum menikah hingga kini, dia juga aktif menjadi pelatih koor. Sekarang ini, sudah 9 tahun, pelatih koor Naposobulung di HKBP Setia Mekar, Bekasi, Jawa Barat.

Perempuan kelahiran 24 April 1979. Menikah dengan Frenki Tampubolon S.Si Teol, MM dan diberi karunia 1 orang putra Divo Aurelius yang kini berusia 6 tahun.  Berlatar belakang pendidikan Sarjana Bahasa Perancis, dan beberapa pelatihan nonformal nasional dan internasional dalam meningkatkan profesionalisme kerja, Public Relation, Marketing dan Etos Kerja.

Telah berkarya lebih dari 10 tahun di bidang Personal Asisstant, Marketing dan Komunikasi di beberapa Industri Multinasional and Internasional.Meniti karir di mulai dari seorang staff Marketing hingga diberada diposisi Marketing dan Communication Manager karena memiliki dedikasi dan tingkat kejujuran yang tinggi. Peningkatan jenjang karir ini pun didukung oleh kemampuan bahasa asing yang aktif yaitu Bahasa Inggris dan Perancis.

Disela-sela kesibukan pekerjaannya, dia secara sukarela membantu kegiatan-kegiatan sosial masyarakat dalam pertemuan internasional. Menjadi moderator maupun pembawa acara. Salah satunya adalah menjadi pembawa acara dalam memperingati 50 tahun konferensi Asia Afrika yang diselenggarakan oleh ICRP (Indonesia Conference in Religion and Peace) bekerja sama dengan Kementrian Luar Negeri dihadiri oleh perwakilan negara-negara Asia dan Afrika penutur bahasa Perancis.

Afriyani memiliki musikalitas tinggi. Sejak kecil dia rajin mengikuti kelompok musik dan paduan suara baik di sekolah  maupun di komunitas Gereja. Ketika bersekolah di SDN Duren 07 – Perumnas 3 dia aktif sebagai penabuh kendang dan Sinden untuk group kesenian karawitan di sekolah tersebut. Dan selama di bangku SMA penghargaan di bidang tarik suara kerap diperoleh agar mendapatkan beasiswa penuh dari sekolah. Berlanjut di bangku kuliah Jurusan Bahasa Perancis Universitas Negeri Jakarta beliau aktif dalam kelompok tari tradisional yang tergabung dalam organisasi mahasiswa ketika itu. Karena itu juga dia seringkali diundang untuk mempersembahkan tarian-tarian tradisional Betawi, Sunda dan Aceh dalam jamuan internasional di beberapa kedutaan Asing di Jakarta.

franky-2Saat ini, Afriyani Silitonga aktif sebagai pengurus inti BIPARTIT diperusahaan tempatnya bekerja sebuah perusahaan Logistic joint venture Indonesia dan Swedia yang berpusat di Dubai, UAE. Sebagai pengurus harian yang harus selalu siap menampung segala keluhan karyawan dan pengusaha dalam menangani permasalahan perusahaan. Berkat pengetahuan berkomunikasi dan memiliki etos kerja yang baik, dia wajib menjadi jembatan bagi kedua pihak dalam mencari “win win solution” dan menjadi motivator bagi rekan-rekan sekerja maupun teman-temannya yang lain agar memiliki etos kerja yang baik sesuai dengan norma-norma sesuai tradisi dan budaya Indonesia.

Berkat dorongan dan restu dari suami tercinta yang selama ini aktif memperjuangkan kemajemukan, keadilan sosial dan toleransi melalui lembaga sosial masyarakat, serta pengembangan karakter pemuda di Tanah Air, Afriyani Silitonga menerima pinangan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) untuk memenangkan kursi legislatif di DPRD KOTA Bekasi dari Daerah Pemilihan I Kecamatan Bekasi Timur yang melingkupi 4 kelurahan yaitu Bekasi Jaya, Duren Jaya, Aren Jaya dan Margahayu.

Mengap terjun menjadi politisi? “Saya terjun menjadi politisi, karena ingin memperjuangkan aspirasi kaum muda dan perempuan. Selama ini, saya melihat tidak banyak orang yang konsen di bidang ini. Saya juga berkomitmen memperjuangkan kemajemukan di Kota Bekasi Kota Patriot terwujud. Tentu melalui restu dari orangtua maka peluang untuk membangun pemuda yang memiliki karakter unggul, beretika, memiliki semangat belajar tinggi, berbudaya dan berjiwa patriot akan diwujudkan di Kota Bekasi,” ujarnya.

franky-3Bagi saya, tambahnya, panggilan untuk membangun masyarakat Kota Bekasi, kota yang telah memberikan 30 tahun lebih pijakan hidup menghantar pada kesimpulan saatnya Kota Bekasi Hebat. Ya, Hebat dalam segala hal terutama menjunjung tinggi Patriotisme Pancasila.

Saat ini, dia bersama suami aktif dalam sebuah organisasi sosial masyarakat bernama Komunitas Berbagi Hidup. Mereka bentuk sejak tahun 2007 sampai saat ini. Organisasi ini fokus dalam memperjuangkan hak-hak perempuan, anak-anak dan pemuda terutama memperjuangkan stigma dan diskriminasi bagi mereka-mereka yang terpapar HIV-AIDS.

franky-4Pengalamannya mengikuti diskusi dan pelatihan internasional di beberapa negara-negara maju di Asia, Australia dan Eropa menjadi bekal kecintaannya atas Tanah Air Indonesia yang sebenarnya memiliki potensi yang lebih baik dan lebih kaya jika dikelola dengan cerdas, beretika dan mendahulukan kepentingan umum dengan semangat pada semangat kaum perempuan yang kuat untuk mencetak kaum muda yang unggul dimulai dari rumah tangga, komunitas RT,RW, Kelurahan, Kecamatan hingga Kota Bekasi demi  mewujudkan Indonesia Hebat. “Jika saya terpilih nanti menjadi wakil rakyat di Kota Bekasi. Saya berkomitmen. Saya akan memperjuangkan kemajemukan bangsa. Fokus saya pada pemuda dan perempuan,” ujarnya mantab.

TD. Pardede


imagesiNama lengkap                      : DR. Tumpal Dorianus Pardede

Tempat, tanggal lahir          : Balige, Tapanuli Utara, 16 Oktober 1916

Istri                                          : Hermina boru Napitupulu

 

Anak-anak 

  1. Sariaty boru Pardede
  2. Emmy boru Pardede
  3. Drs. Rudolf Pardede
  4. Anny boru Pardede
  5. Mery boru Pardede
  6. Hisar Pardede
  7. Johny Pardede
  8. Reny boru Pardede
  9. DR. Surya Indriyany boru Pardede

Jabatan/Pekerjaan 

  • Ketua Board of Director T.D. Pardede Holding Company
  • 1954: Wakil Ketua Majelis Industri Indonesia
  • 1955: Ketua Gabungan Perajutan Sumatera Utara
  • 1956: Wakil Ketua I Majelis Perniagaan dan Perusahaan
  • 1957: Ketua IV Dewan Ekonomi Indonesia Pusat di Jakarta
  • 1960: Anggota Majelis Pusat HKBP
  • 1962: Ketua Dewan Keuangan Umum HKBP
  • 1962: Ketua Dewan Pimpinan Yayasan Universitas HKBP Nomense
  • 1963: Anggota Dewan Penyantun Universitas Sumatera Utara
  • 1964: Penasehat Menteri Perindustrian Rakyat
  • 1964: Anggota Badan Pekerja Lengkap Dewan Gereja Indonesia
  • 1965: Menteri diperbantukan kepada MENKO DEPERINDRA urusan berdikaro
  • 1966: Ketua Umum BAMUNAS Pusat
  • 1966 – 1979 : Rektor Universitas HKBP Nomensen
  • 1971: Anggota DPR/MPR melalui Pemilu
  • 1972: Ketua Pelaksana Panitia Konferensi Executive Gereja Luther Sedunia
  • 1972: Ketua Umum Konsultasi Pendidikan Theologia Sumatera/Indonesia
  • 1975: Ketua Badan Team Nasional PSSI
  • 1979: Ketua Umum Yayasan Universitas Darma Agung, Medan
  • 1982: Ketua Harian Pengurus sepakbola Galatama/PSSI

Penghargaan atas jasa, karya, dan pemikiran

  1. 1958                                       : Satyalencana Peristiwa Perang Kemerdekaan Kesatu dari Menteri Pertahanan
  2. 1958                                       : Satyalencana Peristiwa Perang Kemerdekaan Kedua dari Menteri Pertahanan
  3. 1958                                       : Tanda jasa Pahlawan dari Presiden/Panglima Tertinggi Angkatan Perang Republik Indonesia
  4. 1964                                       : Satyalencana Wira Dharma dari Menteri Koordinator Kompartemen Pertahanan/Keamanan Kepala Staf Angkatan Bersenjata
  5. 1964                                       : Ahli Tekstil oleh Ikatan Ahli Tekstil Seluruh Indonesia
  6. 1965                                       : Bachelor of Science in Textile Management oleh Akademi Tekstil T.D. Pardede Foundation Medan
  7. 1965                                       : Ahli Ekonomi oleh Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara
  8. 1967                                       : Doctor Honoris Causa dalam Ilmu Perekonomian oleh Takushoku University, Jepang
  9. 1970                                       : Satyalencana Penegak dari Menteri Pertahanan Keamanan
  10. 1972                                       : Satyalencana Pembangunan dari Presiden Republik Indonesia

Group Pertekstilan TD. Pardede

  1. PT. Pertekstilan TD. Pardede, Pemintalan dan Perajutan
  2. PT. Hisar Sakti, Pabrik selimut dan handuk
  3. PT. Surya Sakti, distributor
  4. PT. J. Surya Sakti, Fishery and Cold Storage
  5. PT. J. Surya Aceh, Fishery and Cold Storage
  6. PT. J. Surya Sumatera, Fishery and Cold Storage
  7. PT. J. Surya Sakti
  8. Perkebunan Sukaramai, Membang Muda
  9. Perkebunan Aek Boru, Parapat
  10. Bank Surya Nusantara Medan
  11. Bank Surya Nusantara Cabang Pematang Siantar
  12. Hotel Danau Toba International Medan
  13. Pardede International Hotel Medan
  14. Hotel Danau Toba Medan
  15. Hotel Danau Toba International Prapat
  16. Pardede International Hotel Jakarta
  17. Hotel Danau Toba International, Tebing Tinggi
  18. Toba Tour and Travel Service
  19. Laundry and Dry Cleaning, Medan

Group TD. Pardede Foundation

  1. Rumah Sakit Umum Herna, Medan
  2. Rumah Sakit Pertekstilan, Medan
  3. Gereja HKBP, Binjai
  4. SD, SMP, SMA – TDFF
  5. Universitas Darma Agung
  6. Persatuan Sepak bola Pardedetex – Galatama
  7. Persatuan Sepak bola HDTI (anggota Bond PSMS – Medan)
  8. Persatuan Sepak bola TDPHC (anggota Bond PSDS – Deli Serdang)

Nahum Situmorang


nahumensiklopediatokohbatak-Nahum Situmorang lahir di Sipirok pada tanggal 14 Februari 1908, putra dari Guru Kilian Situmorang, sebagai anak ke-5 dari 8 bersaudara. Kariernya sebagai penyanyi dimulai sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Pendidikannya yang terakhir adalah sekolah guru Kweekschool di Lembang, Bandung, lulusan tahun 1928. Nahum turut dalam barisan Perintis Kemerdekaan sebagai anggota Kongres Pemuda pada tahun 1928 dan mengikuti sayembara untuk menciptakan lagu kebangsaan. Sayembara ini dimenangkan oleh WR Supratman, sementara Nahum mendapatkan tempat kedua.

Nahum mulai bekerja pada tahun 1929 pada sekolah partikelir Bataksche Studiefonds di Sibolga hingga tahun 1932. Tahun 1932 kemudian pindah ke Tarutung untuk bergabung dengan abangnya Guru Sophar Situmorang dan mendirikan HIS-Partikelir Instituut Voor Westers Lager Onderwijs yang berlangsung hingga kedatangan Jepang pada tahun 1942.
Tahun 1942-1949

Seumur hidupnya Nahum tidak pernah bekerja sebagai pegawai pemerintah penjajah Belanda. Semasa mudanya ia telah berkali-kali memenangkan sayembara lagu-lagu, antara lain Sumatera Keroncong Concours di Medan (1936) dan waktu itu rombongan Nahum Situmorang dipimpin oleh [Raja Buntal Sinambela], putra Sisingamangaraja XII.
Pada tahun 1942-1945, Nahum membuka restoran dan menjadi pemusik Jepang Sendenhan Hondohan. Dari tahun 1945-1949, ia menjadi pedagang permata dan emas, dalam pada itu berkarya menciptakan lagu-lagu perjuangan.

Pada tahun 1949, Nahum pindah ke Medan dan menjadi broker mobil sambil tetap meneruskan karirnya sebagai penyanyi dan pencipta lagu. Keistimewaan nahum yang dikagumi adalah bahwa dia sanggup menciptakan beserta syair-syairnya dan sekaligus menyanyikannya. Ia juga dapat memimpin band-nya sendiri serta sanggup memainkan berbagai instrumen musik. Ia bahkan dapat mencipta lagu saat berada di tengah-tengah orang banyak.

Tahun 1950-1960 merupakan kurun waktu dimana Nahum paling produktif mencipta lagu. Pada tahun 1960, Nahum dan rombongan berkunjung ke Jakarta untuk mengadakan beberapa pertunjukan dan mendapat sambutan yang meriah dari masyarakat dan menerima pujian dari pejabat-pejabat pemerintah serta orang-orang asing (anggota kedutaan) yang turut menyaksikan pertunjukannya. Surat-surat penghargaan dari organisasi kebudayaan, masyarakat dan dari pemerintah telah berkali-kali ia peroleh. Terakhir Nahum memperoleh penghargaan Anugerah Seni dari pemerintah Indonesia pada tanggal 17-08-1969.
Akhir hayat

Pada akhir tahun 1966 Nahum jatuh sakit dan dirawat di RSUP Medan selama hampir 3 tahun hingga akhirnya menghembuskan nafasnya yang terakhir pada tanggal 20 Oktober 1969.

Karya-karya

Selama hidupnya Nahum telah menciptakan sebanyak kurang lebih 120 lagu, dan sampai akhir hayatnya dia tetap tidak kawin. Beberapa karyanya:
Alusi Ahu
Anakhonhi Do Hasangapon Di Ahu
Ansideng Ansidoding
Beha Pandundung Bulung
Da Na Tiniptip Sanggar
Dengke Julung Julung
Dijou Ahu Mulak Tu Rura Silindung
Ee Dang Maila Ho
Ketabo-Ketabo
Lissoi
Marhappy-Happy Tung So Boi
Malala Rohangki
Marombus Ombus
Nahinali Bangkudu
Nasonang Do Hita Nadua
Nunga Lao Nunga Lao
O Tao Toba
Pulo Samosir
Sai Gabe Ma Ho
Sai Tudia Ho Marhuta
Sega Na Ma Ho Sitogol
Tumba Goreng
Utte Malau

Beha ma Ho Doli songon buruk-buruk ni rere ….

Oleh: Suhunan Situmorang

SUDAH 40 tahun ia wafat, namun namanya kian sering disebut-sebut. Lagu-lagu gubahannya pun tiada putus disenandungkan; menghibur orang-orang, menafkahi pekerja dunia malam, mengalirkan keuntungan bagi pengusaha hiburan dan industri rekaman. Tapi, orang-orang, khususnya etnis Batak dan yang familiar dengan lagu Batak, segelintir saja yang tahu siapa dia sesungguhnya. Ironisnya lagi banyak yang tak sadar bahwa sejumlah lagu yang selama ini begitu akrab di telinga mereka, lahir dari rahim kreativitas lelaki yang hingga ajalnya tiba tetap melajang itu.

Apa boleh buat, selain catatan atas diri Nahum sendiri yang memang minim, ia terlahir dan berada di tengah sebuah bangsa yang amat rendah tingkat pengapresiasian atas suatu karya cipta; yang hanya suka menikmati karya orang lain tanpa mau tahu siapa penciptanya, selain enggan memberi penghargaan pada orang-orang kreatif yang telah memperkaya khazanah karsa dan rasa.

Nahum pun menjadi sosok yang melegenda namun tak pernah tuntas diketahui asal-usulnya. Sulit menemukan sumber yang sahih untuk menerangkan seperti apakah dulu proses kreatifnya, peristiwa atau pengalaman pahit apa saja yang memengaruhi kelahiran lagu-lagu ciptaannya, seberapa besar andilnya menumbuhkan semangat kemerdekaan manusia Indonesia dari kuasa penjajah, dan jasanya yang tak sedikit untuk menyingkap tirai keterbelakangan manusia Batak di masa silam. Ia adalah pejuang yang dibengkalaikan bangsa dan negerinya, terutama sukunya sendiri. Seseorang yang sesungguhnya berjasa besar mencerdaskan orang-orang sekaumnya namun tak dianggap penting peranannya oleh para penguasa di bumi leluhurnya.

Nahum sendiri mungkin tak pernah berharap jadi pahlawan yang akan terus dipuja hingga dirinya tak lagi berjiwa. Pula tak pernah membayangkan bahwa namanya akan tetap hidup hingga zaman memasuki era millenia. Boleh jadi pula tak pernah bisa sempurna ia pahami perjalanan hidupnya hingga usianya benar-benar sirna. Ia hanya mengikuti alur hati dan pikirannya saat melintasi episode-episode kehidupan dirinya yang dipenuhi romantika yang melekat dalam diri para pelakon gaya hidup avonturisme. Tak mustahil pula ia sering bertanya mengapa terlahir sebagai insan penggubah dan pelantun nada dengan tuntutan jiwa harus sering berkelana, bukan seperti saudara-saudara kandungnya yang “hidup normal” sebagaimana umumnya orang-orang di zamannya.

Meski aliran musik yang diusungnya beraneka ragam dan tak seluruhnya bernuansa etnik Batak dan bahkan banyak yang mengadopsi aliran musik Barat macam waltz, bossa, folk, jazz, rumba, tembang-tembang gubahannya begitu subtil dan melodius. Lirik-liriknya pun tak murahan karena menggunakan kosa kata Batak klasik bercitarasa tinggi, kaya metafora, dan karena cukup baik menguasai filosofi dan nilai-nilai anutan masyarakat Batak, mampu menyisipkan nasehat dan harapan tanpa terkesan didaktis.

Ia begitu romantik tapi tak lalu terjebak di kubangan chauvinis, juga seseorang yang melankolis namun menghindari kecengengan bila jiwa dicambuki cinta. Ia melantunkan kegetiran hidup dengan tak meratap-ratap yang akhirnya malah memercikkan rasa muak, sebagaimana kecenderungan lagu-lagu pop Batak belakangan. Ia gamblang meluapkan luka hati akibat cinta yang dilarang namun tak jadi terjebak dalam sikap sarkastis.
***
NAHUM memang bukan cuma penyanyi dan penulis lagu, tetapi juga penyair yang kaya kata dengan balutan estetika yang penuh makna. Lelaki pengelana ini, kata beberapa saksi mata, dalam keseharian senang tampil parlente, senantiasa berpakaian resik dan modis dengan sisiran rambut yang terus mengikuti gaya yang tengah ditawarkan zaman. Anak kelima dari delapan bersaudara ini lahir di Sipirok, Tapanuli Selatan, 14 Februari 1908. Orangtuanya termasuk kalangan terpandang karena ayahnya, Kilian Situmorang, bekerja sebagai guru di sebuah sekolah berbahasa Melayu, di tengah mayoritas penduduk yang kala itu masih buta huruf.

Kilian sendiri berasal dari Desa Urat, Samosir, sebuah kampung di tepi Danau Toba dan jamak diketahui sebagai kampungnya para keturunan Ompu Tuan Situmorang. (Situmorang Pande, Situmorang Nahor, Situmorang Suhutnihuta, Situmorang Siringoringo, Sitohang Uruk, Sitohang Tongatonga, Sitohang Toruan). Kilian merantau ke wilayah Tapanuli Selatan demi mengejar kemajuan yang kian menguak gerbang peradaban manusia Batak Toba yang begitu lama tertutup dengan splendid-isolation-nya.

Sebagaimana harapannya pada anak-anaknya yang lain, Kilian pun menginginkan Nahum menjadi pegawai pemerintah kolonial. Harapannya itu tak tercapai meski Nahum sangat memenuhi syarat. Ia lebih senang menjadi manusia bebas tanpa terikat, bahkan di kala usianya masih remaja pun sudah berlayar ke Pulau Jawa, suatu hal yang tak terbayangkan bagi umumnya manusia Batak masa itu. Bukan karena kemampuan orangtuanya, melainkan karena dibawa satu pendeta yang bertugas di Sipirok dan kemudian kembali ke Depok, Jawa Barat, setamatnya dari HIS, Tarutung. Di Jakarta ia sekolah di Kweekschool Gunung Sahari dan kemudian meneruskan pendidikan ke Lembang, Bandung, lulus tahun 1928. Selain sekolah umum, ia memperdalam seni musik, terutama saat bersekolah di Lembang.

Ia turut bergabung dengan kalangan pemuda berpendidikan tinggi yang masa itu diterpa kegelisahan yang hebat untuk melepaskan bangsa dari cengkeraman kuasa kolonial. Mereka kerap berkumpul di bilangan Kramat Raya dan pada saat itulah ia berkenalan dan kemudian menjadi pesaing Wage Rudolf Supratman ketika mengikuti lomba penulisan lagu kebangsaan. Supratman memenangi lomba tersebut dengan lagu ciptaannya Indonesia Raya, Nahum diganjar juara dua.

Sayang sekali, lagu yang diperlombakan Nahum itu tak terdokumentasikan dan hingga kini belum ditemukan. Kabarnya, saat itu ia amat kecewa karena merasa lagu ciptaannyalah yang paling layak menang sebab selain unsur orisinalitas, durasinya pun lebih pendek ketimbang Indonesia Raya. (Unsur orisinalitas lagu Indonesia Raya sempat dipersoalkan, namun kemudian menguap begitu saja karena dianggap sensitif). Lelaki muda yang tengah digelontori idealisme dan cita-cita menjadi seniman musik yang mendunia ini pun memilih pulang ke Sumatera Utara, persisnya ke wilayah Keresidenan Tapanuli yang berpusat di Sibolga. Di kota pantai barat Sumatera itulah ia jalani pekerjaan guru di sebuah sekolah partikelir H.I.S Bataksche Studiefonds, 1929-1932.
***
TAHUN 1932 itu pula ia hengkang ke Tarutung karena memenuhi ajakan abang kandungnya, Sopar Situmorang (juga berprofesi pendidik), untuk mendirikan sekolah partikelir bernama Instituut Voor Westers Lager Onderwijs. Pemerintah Hindia Belanda coba menghalangi karena saat itu ada peraturan melarang pembukaan sekolah bila dikelola partikelir. Nyatanya Nahum dan Sopar tetap bertahan dan mengajarkan pengetahun umum macam sejarah dunia, geografi, aljabar, selain musik, kepada murid-murid mereka. Sekolah swasta ini bertahan hingga 1942 karena tentara Dai Nippon kemudian mengambilalih kekuasaan Hindia Belanda, lalu menutupnya.

Sebelum sekolah tersebut ditutup Jepang, ia sudah wara-wiri ke Medan untuk menyalurkan bakat sekaligus mengaktualisasikan dirinya yang acap gelisah. Antara lain, bersama Raja Buntal, putra Sisingamangaraja XII, ia dirikan orkes musik ‘Sumatera Keroncong Concours’ dan pada tahun 1936 memenangkan lomba cipta lagu bernuansa keroncong di Medan. Hingga Hindia Belanda dan Jepang hengkang, ia tak pernah mau jadi pegawai mereka. Nahum memang nasionalis tulen dan karenanya memilih bergiat di ranah partikelir ketimbang mengabdi pada penjajah, selain pada dasarnya (mungkin karena seniman) tak menghendaki segala bentuk aturan yang mengekang kebebasannya berekspresi.

Tapi kala itu, mengandalkan kesenimanan belaka untuk menopang kebutuhan hidup taklah memadai, apalagi Nahum senang bergaul dan nongkrong di kedai-kedai tuak hingga larut malam. Tanpa diminta akan ia petik gitarnya dan bernyanyi hingga puas dan dari situlah bermunculan lagu-lagu karangannya. Dan ia bagaikan magnet, kedai-kedai tuak akan dipenuhi pengunjung yang bukan hanya etnis Batak. Orang-orang seperti tersihir mendengar alunan suaranya. Ia memiliki satu keistimewaan karena bisa menggubah lagu secara spontan di tengah keramaian dan tanpa dicatat. (Inilah salah satu penyebab mengapa lagu-lagunya hanya bisa dikumpulkan 120, sementara dugaan karibnya seperti alm. Jan Sinambela, jumlahnya mendekati 200 lagu).

Jenuh berkelana dari satu kedai ke kedai tuak lainnya, dalam kurun waktu 1942-1945, ia coba berwirausaha dengan membuka restoran masakan Jepang bernama Sendehan Hondohan, seraya merangkap penyanyi untuk menghibur tamu-tamu yang datang untuk bersantap. Sepeninggal Jepang karena kemerdekaan RI, restoran yang dikelolanya bangkrut. Ia kemudian berkelana dari satu kota ke kota lain sebagai pedagang permata sembari mencipta lagu-lagu bertema perjuangan dan pop Batak. Masa-masa itu pula ia kembali memasuki dunia manusia Batak dengan berbagai puak yang menghuni Sidempuan, Sipirok, Sibolga, Tarutung, Siborongborong, Dolok Sanggul, Sidikalang, Balige, Parapat, Pematang Siantar, Berastagi, dan Kabanjahe.

Tahun 1949, Nahum kembali menetap di Medan untuk menggeluti usaha broker jual-beli mobil dan tetap bernyanyi serta mencipta lagu, juga kembali melakoni kesenangannya bernyanyi di kedai-kedai tuak. Sesekali ia tampil mengisi acara musik di RRI bersama kelompok band yang ia bentuk (Nahum bisa memainkan piano, biola, bas betot, terompet, perkusi, selain gitar). Periode 1950-1960, menurut kawan-kawan dan kerabatnya, adalah masa-masa Nahum paling produktif mencipta lagu dan tampil total sebagai seniman penghibur. Tahun 1960, misalnya, ia dan rombongan musiknya tur ke Jakarta. Setahun lebih mereka bernyanyi, mulai dari istana presiden, mengisi acara-acara instansi pemerintah, diundang kedubes-kedubes asing, live di RRI, hingga muncul di kalangan komunitas Batak. Pada saat tur ini pula ia manfaatkan untuk merekam lagu-lagu ciptaannya dalam bentuk piringan hitam di perusahaan milik negara, Lokananta.
***
SAMPAI usianya berujung, ia tetap melajang. Kerap disebut-sebut, ia didera patah hati yang amat parah dan tak terpulihkan pada seorang perempuan bermarga Tobing, yang kabarnya berasal dari kalangan terpandang. Orangtua perempuan itu tak merestui Nahum yang “cuma” seniman menikahi anak gadis mereka. Cinta Nahum rupanya bukan jenis cinta sembarangan yang mudah digantikan wanita lain. Ternyata, berpisah dengan kekasihnya, benar-benar membuat Nahum bagaikan layang-layang yang putus tali di angkasa; terbang ke sana ke mari tanpa kendali. Ia tetap meratapi kepergian kekasihnya yang sudah menikah dengan pria lain. Sejumlah lagu kepedihan dan dahsyatnya terjangan cinta, berhamburan dari jiwanya yang merana.

Demikian pun Nahum tak hanya menulis sekaligus mendendangkan lagu-lagu bertema cinta. Dari 120 lagu ciptaannya yang mampu diingat para pewaris karyanya, mengangkat beragam tema: kecintaan pada alam, kerinduan pada kampung halaman, nasehat, filosofi, sejarah marga, dan sisi-sisi kehidupan manusia Batak yang unik dan khas. Dan, kendati pada tahun 30-an isu dan pengaturan atas hak cipta suatu karya lagu/musik belum dikenal di Indonesia, Nahum sudah menunjukkan itikad baik ketika mengakui lagu Serenade Toscelli yang ia ubah liriknya ke dalam Bahasa Batak menjadi Ro ho Saonari, sebagai lagu ciptaan komponis Italia.

Nahum pun terkenal memiliki daya imajinasi serta empati yang luarbiasa. Tanpa pernah mengalami atau menjadi seseorang seperti yang ia senandungkan dalam berbagai lagu ciptaannya, ia bisa menulis lagu yang seolah-olah dirinya sendiri pernah atau tengah mengalaminya. Salah stau contoh adalah lagu Anakhonhi do Hamoraon di Au (Anakkulah kekayaanku yang Terutama). Lagu bernada riang itu seolah suara seorang ibu yang siap berlelah-lelah demi nafkah dan pendidikan anaknya hingga tak mempedulikan kebutuhan dirinya. Lagu tersebut akhirnya telah dijadikan semacam hymne oleh kaum ibu Batak, yang rela mati-matian berjuang demi anak. Ketika menulis lagu itu Nahum layaknya seorang ibu.

Kemampuannya berempati itu, bagi saya, masih tetap tanda tanya, karena ia lahir dan besar di lingkungan keluarga yang relatif mapan karena ayahnya seorang amtenar yang tak akrab dengan kesusahan sebagaimana dirasakan umumnya orang-orang yang masa itu, sekadar memenuhi kebutuhan sehari-hari pun terbilang sulit. Ia pun tak pernah berumahtangga (apalagi memiliki anak) hingga mestinya tak begitu familiar dengan keluh-kesah khas orangtua Batak yang harus marhoi-hoi (susah-payah) memenuhi keperluan anak.

Juga ketika ia menulis lagu Modom ma Damang Unsok, laksana suara lirih seorang ibu yang sedih karena ditinggal pergi suami namun tetap meluapkan cintanya pada anak lelakinya yang masih kecil hingga seekor nyamuk pun takkan ia perkenankan menggigit tubuh si anak. Ia pun menulis lagu Boasa Ingkon Saonari Ho Hutanda yang menggambarkan susahnya hati karena jatuh cinta lagi pada perempuan yang datang belakangan sementara ia sudah terikat perkawinan, seolah-olah pernah mengalaminya.

Kesimpulan saya, selain memiliki daya imajinasi yang tinggi, Nahum memang punya empati yang amat dalam atas diri dan kemelut orang lain. Dalam lagu Beha Pandundung Bulung, misalnya, ia begitu imajinatif dan estetis mengungkapkan perasaan rindu pada seseorang yang dikasihi, entah siapa. Simak saja liriknya: Beha pandundung bulung da inang, da songonon dumaol-daol/Beha pasombu lungun da inang, da songon on padao-dao/Hansit jala ngotngot do namarsirang, arian nang bodari sai tangis inang/Beha roham di au haholongan, pasombuonmu au ito lungun-lungunan. Ia lukiskan perasaan rindu itu begitu sublim, indah, namun tetap menyisipkan nada-nada kesedihan.

Mengentak pula lagunya (yang dugaan saya dibuat untuk dirinya sendiri) berjudul Nahinali Bangkudu. Lirik lagu itu tak saja menggambarkan ironi, pun tragedi bagi sang lelaki yang akan mati dengan status lajang. Dengan pengunaan metafora yang mencekam, Nahum meratapi pria itu (dirinya sendiri?) begitu tajam dan menusuk kalbu: Atik parsombaonan dapot dope da pinele, behama ho doli songon buruk-burukni rere. Ironis sekaligus tragis.
Dan Nahum tak saja pandai menulis lagu yang iramanya berorientasi ke musik Barat, pun piawai mengayun sanubari lewat komposisi-komposisi berciri etnik dengan unsur andung (ratap) yang amat pekat. Perhatikanlah lagu Huandung ma Damang, Bulu Sihabuluan, Assideng-assidoli, Manuk ni Silangge, dan yang lain, begitu pekat unsur uning-uningan-nya.

Akhirnya kesan kita memang, dari 120 lagu ciptaannya yang mampu dikumpulkan para pewarisnya, tak ubahnya kumpulan 120 kisah tentang manusia Batak, alam Tano Batak, berikut romantika kehidupan. Ia tak hanya piawai menggambarkan suasana hati namun mampu merekam aspek sosio-antropologis masyarakat (Batak) yang pernah disinggahinya dengan menawan. Lagu Ketabo-ketabo, misalnya, menceritakan suasana riang kaum muda Angkola-Sipirok saat musim salak di Sidempuan, sementara Lissoi-lissoi yang kesohor itu merekam suasana di lapo tuak dan kita seakan hadir di sana.

Demikian halnya tembang Rura Silindung dan Dijou Au Mulak tu Rura Silingdung, begitu kental melukiskan lanskap daerah orang Tarutung itu, hingga saya sendiri, misalnya, selalu ingin kembali bersua dengan kota kecil yang dibelah Sungai Aeksigeaon dan hamparan petak-petak sawah dengan padi yang menguning itu bila mendengar kedua lagu tersebut. Nahum pun melampiaskan kekagumannya pada Danau Toba melalui O Tao Toba. Mendengar lagu ini, kita seperti berdiri di ketinggian Huta Ginjang-Humbang, atau Tongging, atau Menara Panatapan Tele, menyaksikan pesona danau biru nan luas itu. Kadang memang ia hiperbolik, contohnya dalam lagu Pulo Samosir, disebutnya pulau buatan itu memiliki tanah yang subur dan makmur sementara kenyataannya tak demikian.
***
SAYA termasuk beruntung karena semasih bocah, 1969, beberapa bulan sebelum kematiannya, menyaksikannya bernyanyi di Pangururan bersama VG Solu Bolon. Saya belum tahu betul siapa Nahum Situmorang dan menurut saya saat itu show mereka begitu monoton dan kurang menggigit karena tanpa disertai instrumen band. Ia tampil parlente dengan kemeja dan celana warna putih, walau terlihat sudah tua. Rupanya ia sudah digerogoti penyakit (kalau tak salah lever) namun tetap memaksakan diri bernyanyi ke beberapa kota kecil di tepi Danau Toba hingga kemudian meninggal dunia di usia 62 tahun.

Lewat karya-karyanya, seniman-seniman Batak telah ia antarkan melanglang ke manca negara, macam Gordon Tobing, Trio The Kings, Amores, Trio Lasidos, dan yang lain. Lewat lagu-lagu gubahannya pula banyak orang telah dan masih terus diberinya nafkah dan keuntungan. Sejak remaja telah ia kontribusikan bakat dan mendedikasikan dirinya untuk negara dan Bangso Batak. Lebih dari patut sebenarnya bila mereka yang pernah berkuasa di seantero wilayah Tano Batak memberi penghargaan yang layak bagi dirinya, katakanlah menyediakan sebuah kubur di Samosir yang bisa dijadikan monumen untuk mengenang dirinya.

Kini sisa jasad Nahum masih tertimbun di komplek pekuburan Jalan Gajah Mada, Medan. Keinginannya dikembalikan ke tanah leluhurnya melalui lagu Pulo Samosir, masih tetap sebatas impian. Ia tinggalkan bumi ini pada 20 Oktober 1969 setelah sakit-sakitan tiga tahunan dan bolak-balik dirawat di RS Pirngadi. Piagam Tanda Penghormatan dari Presiden SBY diganjar untuknya pada 10 Agustus 2006, melengkapi Piagam Anugerah Seni yang diberikan Menteri P&K, Mashuri, 17 Agustus 1969.

Para pewaris karya ciptanya yang sudah ditetapkan hakim PN Medan, 1969, sudah lama berkeinginan memindahkan jasadnya dan membuat museum kecil di Desa Urat, Samosir, sebagaimana keinginan Nahum. Diharapkan, para penggemarnya bisa berziarah seraya mendengar rekaman suaranya dan menyaksikan goresan lagu-lagu gubahannya. Rencana tersebut tak lanjut disebabkan faktor biaya dan (sungguh disesalkan) di antara para pewaris yang sah itu, yakni keturunan abang dan adik Nahum, terjadi perpecahan lantaran persoalan pengumpulan royalti.
***
PERTENGAHAN 2007, sekelompok pewaris yang diketuai Tagor Situmorang (salah seorang keponakan kandung Nahum, Ketua Yayasan Pewaris Nahum Situmorang) meminta Monang Sianipar, pengusaha kargo dan ayah musisi Viky Sianipar, sebagai ketua peringatan 100 Tahun Nahum Situmorang berupa pagelaran konser musik besar-besaran di Jakarta dan Medan, Februari 2008. Kemudian mereka minta pula saya, entah pertimbangan apa, jadi ketua pemindahan kerangka dan pembangunan Museum Nahum Situmorang di Desa Urat. Saya dan Monang tentu antusias menerima tawaran tersebut, namun setelah belakangan tahu di antara para pewaris ternyata ada perselisihan, saya sarankan agar mereka terlebih dahulu melakukan rekonsiliasi karena proyek semacam itu bukan sesuatu yang bisa disembarangkan dalam hukum adat Batak.

Di tengah proses penyiapan proposal, tiba-tiba saya dengar ada seorang dongan sabutuha (teman satu marga) yang belum lama berprofesi pengacara, mendirikan satu yayasan pengelola karya cipta Nahum Situmorang. Dirangkulnya kubu yang berselisih dengan kelompok Tagor (juga keponakan kandung Nahum) dan sejak itulah beruntun “kejadian hukum” yang hingga kini belum terselesaikan dan akhirnya menyeret-nyeret pedangdut Inul Daratista karena tuduhan tak membayar royalti yang diputar di karaoke-karaoke Inul Vista.

Saya pun lantas menghentikan langkah, semata-mata karena merasa tak elok bila dianggap turut meributkan royalti atas karya cipta seseorang yang sudah wafat dan sangat berjasa bagi Bangso Batak, selain seseorang yang amat saya kagumi. Konser batal, pemindahan kerangka dan pembangunan museum Nahum terbengkalai.

Tentu saja saya kecewa, seraya menyesali minimnya apresiasi dari para penguasa di wilayah eks Keresidenan Tapanuli terhadap Nahum, yang tak juga menunjukkan gelagat akan melakukan sesuatu untuk menghormati jasa-jasa beliau sebagai salah satu tokoh pencerahan Bangso Batak. Alangkah miskinnya ternyata penghormatan para bupati, khususnya Pemkab Tapanuli Utara, Tobasa, Samosir, terhadap seniman cum pendidik yang legendaris itu. Tetapi yang lebih saya sesali adalah kisruh akibat munculnya klaim-klaim sebagai pewaris yang absah atas karya cipta Nahum hingga keinginan mewujudkan impiannya (yang sebetulnya sederhana) agar dikubur di bumi Samosir, semakin tak pasti.

Saya tak tahu bagaimana perasaan mereka yang berseteru sengit hingga jadi santapan infoteinmen menyangkut klaim hak cipta karya Nahum itu manakala mendengar penggalan lirik lagu Pulo Samosir ini: Molo marujungma muse ngolukku sai ingotma/Anggo bangkeku disi tanomonmu/Disi udeanku, sarihonma. (Bila hidupku sudah berakhir, ingatlah/Makamkanlah jasadku di sana/Sediakanlah kuburanku di sana). Demikianpun, saya tetap berharap gagasan memindahkan jasad Sang Guru ke bumi Samosir berikut pembangunan museum kecil untuk menghormatinya akan terwujud suatu saat, entah siapapun pelaksananya. ***

Sihar Sitorus


Profil Singkat Sihar Sitorus

Nama Dr Sihar Pangihutan Hamonangan Sitorus Pane, BSBA, MBA Tempat/Tgl Lahir Jakarta 13 Juli 1968

Istri:Patricia Ferrari Juanita Siahaan

Anak: Gabariel Sitorus Pane, Gamaliel Sitorus Pane

Pendidikan

SD Jakarta, lulus 1981

SMP Jakarta, lulus 1984

SMA Jakarta, lulus 1987

Bachelor of Science in Businees Administration University of Arizona, Tucson, AZ, USA, 1991

Master of Businees Administration Creighton University Ohama, NE, USA, 1993

Program Diploma Busnees Economic, Strathclyde University, Glasgow, 1998

Doctor of Businees Adminitration, Manchester Businees School, Manchester, UK, 2005

Pengalaman Pekerjaan

PT Freeport Indonesia, 1993-1995

PT Bursa Efek Jakarta, 1995-1997

Entrepreneur, 1997-sekarang

Direktur Lembaga Peduli Hutan Indonesia, 2008-sekarang

Pengusaha yang Peduli Persepakbolaan dan Kesejahteraan Rakyat Indonesia

Namanya tak asing di mata pencinta sepakbola di negeri ini. Ganteng, intelektual, berjiwa filantropis, murah senyum dan ramah. Itulah kesan pertama saat berjumpa dengan Sihar Sitorus. Berjumpa dengan pria energik dan supel ini membuat lawan bicaranya enggan berlalu dari hadapannya tatkala berbincang dengan lawan bicaranya. Itulah Sihar dalam membangun komunikasi. “Cakap berbicara dan telaten juga mendengar. Hebat secara akademis dan sarat pengalaman sebagi pegusaha, sekaligus punya kepedulian sosial.”

Alih-alih membuat apa pun yang ditanyakan padanya, selalu dijawabnya dengan menarik. Pria kelahiran Jakarta, tanggal 12 Juli 1968, pernah menjadi ketua umum  salah satu Tim Indonesia yang dikenal di era keemasan PSMS Medan. Kecintaanya terhadap sepakbola-lah yang membuatnya sudi menggelontorkan dana besar demi tim yang dia cintai sejak kecil. Selain itu, dia mendirikan tiga klub yakni Medan Chiefs Deli Serdang dan Pro Titan, dan Nusaina Fans Club (FC). FC tersebut karena keprihatinanya juga terhadap persepakbolaan negeri ini. Keseriusannya pada sepakbola dibuktikannya dengan menggelontorkan dana besar tadi, dan fokus.

Termasuk saat membangun PSMS Medan agar tetap ikut berlaga di Indonesia Super League (ISL), tak sedikit dana yang dia keluarkan. Maka, kalau ditanya berapa orang pengusaha Indonesia yang memberikan perhatiannya pada persepakbolaan? Tentu tidak banyak orang. Hanya hitungan jari. Sihar-lah salah satunya. Dialah pengusaha yang cinta kemajuan persepakbolaan Indonesia. Nama lengkapnya adalah: Sihar Pangihutan Hamonangan Sitorus. Sihar dalam bahasa Batak diartikan, terang, pembawa terang. Pangihutan diartikan orang yang patut diikuti, itu artinya pemimpin.

Lalu, Hamongan diartikan, winner atau orang yang selalu menang. Margarnya Sitorus. Orang yang baru kenal dia terkesan sosok pendiam. Padahal, kalau dia bicara akan selalu asik diajak diskusi, apalagi soal bola. Pokoknya, mantan anggota komite eksekutif (Exco) PSSI ini punya ide-ide cemerlang, yang sangat tepat soal persepakbolaan Indonesia. Bagi Sihar, sebagai pemilik beberapa klub ini sangat peduli dalam pengembangan bakat anak-anak muda negeri ini. “Bakat dari anak muda Indonesia harus terus digarap,” katanya. Kecintaannya pada sepakbola, tidak hanya berteori tetapi mengaplikasikan langsung di lapangan.

Bergerak, konsisten pada tujuan “demi kemajuan bangsa.” Baginya, bakat dan dunia pemuda harus disentuh. Bagaimana menghubungkan dunia bisnis dengan dunia kreatif? “Bakat muda akan ditemukan tokoh-tokoh kreatif dengan para insan yang tertarik terjun di industri apa saja. Memancing kelahiran ide-ide yang baru, tapi juga mencari berbagai inovasi yang diharapkan mampu merevitalisasi menjadi industri sekaligus,” ujarnya.

Spirit entrepreneur

Menjadi entrepreneur adalah salah satu keinginannya sejak dulu. Bagi Sihar lebih banyak orang menjadi entrepreneur malah meningkatkan jumlah dan kualitas kesejahteraan masyarakat. “Entrepreneur meningkatkan kemajuan bangsa dan negara. Karena itu perlu daya saing suatu Negara, sangat dipengaruhi oleh jumlah dan kualitas entrepreneur anak-anak bangsa itu sendiri.” Sebagai seorang entrepreneur dia peka akan bakat. Feeling begitu kental mengetahui bakat para pemain bola.

Hal ini terbukti saat dia masih menjadi pemilik PSMS Medan. Salah satu contohnya, dia mengintrusikan  kepada pelatih PSMS Medan, waktu itu, untuk selalu menempatkan Oktovianus Maniani sebagai starter di setiap laga yang dilakoni PSMS Medan, baik Home maupun Away. Hasilnya? Terbukti mujarab. Sekarang, Oktovianus tumbuh menjadi seorang pemain sepak bola yang terkenal dan luarbiasa hebat. Itu semata-mata karena Sihar melihat ada talenta di diri Oktovianus.

Sihar adalah sosok orang yang peduli, bukti konkret pengembangan pemain bola muda di Indonesia. “Bakat-bakat muda ini dapat dimaksimalkan sebagai generasi penerus. Yang penting bukan berapa skornya. Tapi, bagaimana mengambil manfaat dari laga melawan tim yang punya nama besar dan berpengalaman tampil di level elite, ujar Pendiri dan Direktur Utama PT Togos Gopas, ini. Pelajaraan selanjutnya, menurutnya adalah masih gugupnya para pemain dalam mengantisipasi umpan silang dan bola rebound.

“Ini penyakit mayoritas klub-klub Indonesia, bahkan timnas. Para pemain Indonesia sering panik saat menghadapi pemain yang memiliki postur tinggi besar dan kesulitan mengantisipasinya saat ditekan lewat umpan silang.” “Permainan kolektif dan butuh kesepahaman satu sama lain. Mental dan psikologi para pemain sangat menentukan di lapangan. Para pemain kita sebenarnya punya keberanian, tinggal mentalnya saja harus terus dipupuk,” ujar Doctor of Businees Adminitration, Manchester Businees School, Manchester, UK, 2005, itu.

Lalu bagaimana melakukan tekanan saat kehilangan bola dan memanfaatkan kelemahan lawan? Bagi Sihar, bermain bola itu tak cukup hanya bermodal skill individu. Soal daya bertarung adalah soal mental dan beban psikologis ketika berhadapan dengan pemain dan klub yang punya nama besar. Pemain Indonesia mayoritas bertubuh mungil, tapi secara skill sebenarnya cukup menjanjikan, katanya.

Tim Ahli Jokowi-JK

Selain bidang usaha, dan terlibat penuh dalam pengembangan persepakbolaan, dia juga terlibat dalam politik. Sekali lagi, atas kerinduan untuk Indonesia Hebat. Sihar mau terjun mengurusi persepakbolaan dan juga ikut terjun di bidang politik semata-mata karena kepedulian. Keterlibatannya dalam politik bukanlah hal baru, dia bukan pendatang baru di bidang politik. Sebelumnya dia merupakan tokoh dari partai Partai Peduli Rakyat Nasional (PPRN). Partai yang didirikan ayahnya, Darius Lungguk Sitorus, pengusaha nasional.

Baginya, setiap orang yang ingin terjun di bidang apa pun, harus jelas maksud dan tujuannya. Begitu juga ketika Sihar mengembangkan sepak bola, menjadi pengusaha dan memasuki politik, dia jelas mempunyai tujuan untuk memperjuangkan Indonesia makin maju. “Indonesia sudah 69 tahun merdeka, dan reformasi sudah 15 tahun, namun msyarakat masih dihadapkan dengan berbagai persoalan mendasar.

Kemiskinan masih menjadi masalah besar di Indonesia. Meski pemerintah mengklaim berhasil menurunkan angka kemiskinan. Faktanya penderitaan rakyat malah semakin menjadi,” ujarnya. Itu sebab, Sihar mengerti harus terlibat dalam mengawal kebijakan dengan masuk ke pentas politik. Sebenarnya, di tahun 2009 Sihar mencalonkan diri menjadi anggota legislatif dari partai PPRN.

Suaranya berjubel, dia sebenarnya terpilih menjadi anggota DPR-RI dari daerah pemilihan Sumatera Utara II. Tetapi, karena partainya tidak lolos PT di KPU akhirnya harus menerima tidak duduk di kursi anggota dewan. Di Pemilu 2014 lalu, Sihar dipercaya menjadi Juru Kampanye Nasional. Sihar ditunjuk Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri sebagai salah satu dari 120 tokoh-tokoh PDI Perjuangan. Demikian juga pemilihan presiden (Pilres) kali ini, mantan Anggota Komite Eksekutif (Exco) Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) itu, dinilai layak menjadi juru kampanye yang bisa mendulang suara untuk kemenangan Joko Widodo-Jusuf Kalla.

Sihar dipercaya menjadi tim sukses. Sebagai tim kampanye Jokowi-JK di Badan Pemenangan Pemilu Presiden yang terdaftar di KPU, Sihar menjadi Tim Ahli bersama-sama: Sukardi Rinakit, Andreas Pareira, Arie Sumarmo, Arief Budimanta, Ady Prasetyono, Heri Achmadi, Ida Fauziah, M Prakosa, Muhtosim Arief, Musdah Mulia, Pataniari Siahaan, Rizal Sukma, Syaifullah Mashum, Sakti Wahyu Trenggono, dan Silverius Sonny. Sebagai anggota tim kampanye nasional Jokowi-Jusuf Kalla (JK) dia dan tim terus mengupayakan kampanye seluas-luasnya pada masyarakat. Dan terus mengamati perkembangan kampaye Jokowi-JK baik di media maupun secara langsung. Apa kekurangan dan apa kelebihan. Termasuk saat debat kandidat presiden kemarin misalnya, Sihar menilai dalam debat kedua antarcapres dimenangkan oleh Jokowi.

Menurutnya, skor debat adalah 4-2. “Skornya 4-2 untuk Jokowi. Saya lihat ada 4 poin penting yang sangat mendasar dari Jokowi untuk mengurus negara ini,” ujarnya. Dia menilai, pemaparan 4 poin tersebut salah satunya adalah Jokowi melihat pembangunan manusia yang penting dan luas. Sihar menambahkan, dalam hal ini ada perubahan cara pandang dari Jokowi untuk menyelesaikan masalah-malah mendasar di negeri ini sehingga tidak ada lagi pengalokasian anggaran yang tidak tepat.

“Sikap Jokowi dalam memfasilitasi seluruh elemen di bangsa ini cukup bagus. Jokowi memberikan fasilitas untuk mempermudah dan meningkatkan produktifitas, tambahnya “Jokowi saat memaparkan visi-misinya lebih mengutamakan ekonomi kerakyatan untuk menyejahterakan bangsa ini. Di mana Sumber Daya Manusia (SDM) akan terus ditingkatkan untuk membentuk ekonomi mandiri,” ujarnya.*** ditulis, Hotman J Lumban Gaol (Hojot Marluga)

Syech Ali Akbar Marbun


Siapa sesungguhny Syech Ali Akbar Marbun? Dia lahir di desa Siniang Kecamatan Pakkat Kabupaten Humbang Hasundutan, letaknya kira-kira lebih kurang 28 kilo meter dari kota Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah, atau 280 kilo meter dari kota Medan. Dia adalah anak ke 7 dari 8 bersaudara, ayahnya Buyung Marbun dengan ibunya Hj. Chadijah br. Nainggolan (meninggal pada usia + 105 tahun) adalah petani dan orang yang taat beragama Islam.

Pendidikannya dimulai dari Sekolah Dasar, setelah tamat, melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama (SMP). Karena sewaktu belajar di sekolah umum tidak mempelajari ilmu agama, maka setelah tamat dari SMP dia pergi ke Bedagai Sei Rampah untuk belajar Al-Qur’an dan Ilmu Fiqh kepada Khalifah Umar yang terkenal dengan kalimannya di daerah Tanjung Beringin Serdang Badagai. Setelah belajar satu tahun kepada Khalifah Umar, beliau melanjutkan belajarnya kepada Syech Baringin Zainal Abidin seorang Alim dan Keramat dari Sei Senggiling Tebing Tinggi dan Syech Faqih Kayo dibidang Tauhid dan Taswwuf serta mengambil Tarikat Samaniyah selama lebih kurang satu tahun.

Selanjutnya beliau belajar ke Pesantren Musthafawiyah Purba Baru Tapanuli Selatan, salah satu pesantren tertua dan terbesar di Sumatera Utara yang didirikan oleh Syech Musthafa Husain Nasution yang pada waktu itu dipimpin oleh H. Abdullah Musthafa Nasution dan guru besarnya Syech Abdul Halim Lubis yang terkenal dengan sebutan Tuan Naposo.

Sambil belajar di Pesantren Musthafawiyah beliau juga belajar kepada seorang Alim dan Kramat Syech Abdul Wahab di Muara Mais dan Syech Abdul Majid Tambangan Tonga seorang ulama yang terkenal dalam bidang Fiqh, beliau-beliau ini semua belajar di tanah suci Mekkah dan tinggal di Tapanuli Selatan.

Selama belajar di Pesantren Musthafawiyah sewaktu libur Pesantren, beliau pergi ke Propinsi Sumatera Barat tepatnya di kota Bonjol kepada Tuan Syech Muhammad Said seorang Alim dan Keramat dan pengikut Tarikat Naqsyabandiyah.

Setelah belajar di Pesantren Musthafiyah selama 4 tahun, pada tahun 1969 Syech Ali Akbar Marbun menunaikan ibadah Haji ke Mekkah dengan menumpang kapal laut Ambolombo selama 2 minggu.

Setelah menunaikan ibadah haji, beliau tinggal bermukim di Mekkah untuk belajar. Mula – mula belajar di Masjidil Haram, karena pada masa itu Para Ulama terkemuka ramai mengajar di Masjidil Haram. Disanalah beliau belajar kepada Al-Fadhil Al-Alim Sayyid Alawi bin Abbas Al-Maliki Al-Hasani, seorang alim dan terpandang di tanah suci Mekkah dan termasyhur dalam bidang Hadits. Dan juga belajar kepada Sayyid Amin Al Kutbi, Sayyid Al-Arabi, Syech Thaha Yamani, Syech Muhammad Hindi, beliau juga belajar kepada Sayyid Hasan Fad’aq, Syech Muhammad Nur Saif, Syech Thaha As Syaibi, Sayyid Hamid Al-Kaff belajar dirumahnya selama di Mekkah.

Beliau juga belajar pada Madrasah As Saulatiyah, salah satu Madrasah pertama yang didirikan di kota suci Makkah oleh Siti Saulatiyah seorang perempuan kaya dari India.

Setelah belajar + 4 tahun di Saulatiyah, beliau melanjutkan belajar ke Perguruan Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki Al-Hasani sampai pulang ke tanah air. Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki Al Hasani adalah seorang ulama terkenal di mancanegara ini, anak dari Sayyid Alawi Abbas Al-Maliki guru pertama Syech Ali Akbar Marbun. Baru tahun 1978 Syech Ali Akbar Marbun pulang ke Medan dan mendirikan Pesantren Al-Kautsar Al-Akbar.

http://alkautsaralakbar.com/?page_id=4

Maddin Sihombing


Biodata Bupati Humbang-Hasundutan

1. Nama Lengkap Drs. MADDIN SIHOMBING, M.Si
2 Tanggal Lahir 06 MEI 1946
3 Umur 65 TAHUN
4 Tempat Lahir
Desa PARULOHAN
Kecamatan LINTONGNIHUTA
Kabupaten TAPANULI UTARA
Provinsi SUMATERA UTARA
5 Jenis Kelamin LAKI-LAKI
6 Agama KRISTEN PROTESTAN
7 Status Perkawinan KAWIN
8 Alamat Rumah RUMAH DINAS BUPATI PEMKAB HUMBANG HASUNDUTAN
9 Alamat Kantor KANTOR BUPATI HUMBANG HASUNDUTAN

II. PENDIDIKAN

1 DI DALAM NEGERI
Formal: SR LINTONGNIHUTA
SLTP JAKARTA
SMA BOGOR
SARJANA (UNIV JAKARTA)
MAGISTER (UNPAD) DI BANDUNG
Kursus/Pelatihan SEPADYA
SESPANAS

2 DI LUAR NEGERI
Formal –
Kursus/Pelatihan TRAININGA DI BIDANG PERTAMBANGAN (NATTENDED A MINERAL RESOURCE MANAGEMENT INFORMATION EXCHANGE PROGRAMME CONDUCTED)
TRAINING DI BIDANG LINGKUNGAN DAN PERTAMBANGAN (THE MINING AND ENVIRONMENTAL MANAGEMENT TEACHING AND TRAINING FIELD TRIP CANADA)

III. RIWAYAT PEKERJAAN
1 STAF PADA SEKSI INFORMASI INDUSTRI DAN PERTAMBANGAN DITJEN PUOD DEPDAGRI
2 PJ. KASI INFORMASI INDUSTRI DAN PERTAMBANGAN DITJEN PUOD DEPDAGRI
3 KASI PERTANIAN DAN PERTAMBANGAN DITJEN PUOD DEPDAGRI
4 KASI HUBUNGAN KERJA SAMA DITJEN PUOD DEPDAGRI
5 PJ. KASUBDIT BINA PEMERINTAHAN UMUM DEPDAGRI
6 KASUBDIT BINA OTDA BIDANG II DEPDAGRI
7 KASUBDIT BINA OTDA LINGKUNGAN PERTANIAN DAN INDUSTRI DEPDAGRI
8 KABAG PERENCANAAN SEKRETARIAT DITJEN PUOD DEPDAGRI
9 KASUBDIT BINA PENYERTAAN MODAL DAERAH DIREKTORAT KEUANGAN DAERAH DEPDAGRI
10 SEKRETARIS DAERAH TINGKAT II KAB. DAIRI
11 SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN DAIRI
12 BUPATI KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN

IV. PENGALAMAN JABATAN
1 PJ. KASI INFORMASI INDUSTRI DAN PERTAMBANGAN DITJEN PUOD DEPDAGRI
2 KASI PERTANIAN DAN PERTAMBANGAN DITJEN PUOD DEPDAGRI
3 KASI HUBUNGAN KERJA SAMA DITJEN PUOD DEPDAGRI
4 PJ. KASUBDIT BINA PEMERINTAHAN UMUM DEPDAGRI
5 KASUBDIT BINA OTDA BIDANG II DEPDAGRI
6 KASUBDIT BINA OTDA LINGKUNGAN PERTANIAN DAN INDUSTRI DEPDAGRI
7 KABAG PERENCANAAN SEKRETARIAT DITJEN PUOD DEPDAGRI
8 KASUBDIT BINA PENYERTAAN MODAL DAERAH DIREKTORAT KEUANGAN DAERAH DEPDAGRI
9 SEKRETARIS DAERAH TINGKAT II KAB. DAIRI
10 SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN DAIRI
11 KETUA DPC KORPRI KABUPATEN DAIRI
12 BUPATI KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN

V. TANDA JASA/PENGHARGAAN
1 SATYA LENCANA KARYA 20 TAHUN
2 PIAGAM PEMBINA PENATARAN TINGKAT INSTANSI PUSAT DEPDAGRI TYPE A
3 PIAGAM PENGHARGAAN PADA RAPAT KOORDINASI DAN DISIPLIN KERJA APARATUR NEGARA
4 PIAGAM PENGHARGAAN DALAM SEMINAR GONDOK DAN KRETIK ENDEMIK NASIONAL II
5 PIAGAM PENGHARGAAN PADA LOKAKARYA NASIONAL PROSPEK PENGEMBANGAN SEKTOR PERUSAHAAN KECIL DALAM PELITA V”
6 PIAGAM PENGHARGAAN PADA SEMINAR LOKAKARYA PENGEMBANGAN DAN PENGALAMAN PENYELENGGARAAN PERCONTOHAN OTD TINGKAT II
7 PIAGAM PENGHARGAAN PADA LOKA-KARYA I PERSIAPAN DAN IMPLEMENTASI UU NO. 22 TAHUN 1999 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH
8 PIAGAM PENGHARGAAN PADA SEMINAR OTDA PERWUJUDAN OTDA DALAM RANGKA MEMANTAPKAN PEMERINTAH DAERAH MENYONGSONG ERA GLOBALISASI DAN ABAD 21
9 PIAGAM PENGHARGAAN PADA SEMINAR SEHARI AIR BAWAH TANAH PERANAN KONSERVASI AIR TANAH DALAM MENUNJANG PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN NASIONAL DAN DALAM RANGKA OTONOMI DAERAH
10 PIAGAM PENGHARGAAN PADA SOSIALISASI PP PENDUKUNG PELAKSANAAN OTDA
11 PIAGAM PENGHARGAAN PADA SEMINAR STRATEGI PEMBINAAN LUMBUNG PANGAN MASYARAKAT UNTUK MENCAPAI KETAHANAN DAN KEAMANAN PANGAN MASYARAKAT
12 PIAGAM PENGHARGAAN SEBAGAI PENGURUS KORPRI DEPDAGRI
13 PIAGAM PENGHARGAAN PADA PENATARAN PEDOMAN PENGHAYATAN DAN PENGAMALAN PANCASILA BAGI PEJABAT ESELON III DI LINGKUNGAN DEPDAGRI
14 PIAGAM PENGHARGAAN PADA PENATARAN KEWASPADAAN NASIONAL ANGKATAN KE-XX
15 PIAGAM PENGHARGAAN PADA SEMINAR NASIONAL RENCANA REVISI UU OTDA
16 CERTIFY HAS ATTENDED A MINERAL RESOURCE MANAGEMENT INFORMATION EXCHANGE PROGRAMME CONDUCTED
17 CERTIFY HAS SUCCESFULLY COMPLETED THE MINING AND ENVIRONMENTAL MANAGEMENT TEACHING AND TRAINING FIELD TRIP CANADA

VI SIMPOSIUM/LOKAKARYA/SEMINAR
1 DALAM NEGERI PENATARAN PEDOMAN PENGHAYATAN DAN PENGAMALAN PANCASILA BAGI PEJABAT ESELON III DI LINGKUNGAN DEPDAGRI
PENATARAN KEWASPADAAN NASIONAL ANGKATAN KE-XX
PENATARAN TINGKAT INSTANSI PUSAT DEPDAGRI TYPE A
RAPAT KOORDINASI DAN DISIPLIN KERJA APARATUR NEGARA
SEMINAR GONDOK DAN KRETIK ENDEMIK NASIONAL II
LOKAKARYA NASIONAL PROSPEK PENGEMBANGAN SEKTOR PERUSAHAAN KECIL DALAM PELITA V
SEMINAR LOKAKARYA PENGEMBANGAN DAN PENGALAMAN PENYELENGGARAAN PERCONTOHAN
OTD TINGKAT II
LOKAKARYA I PERSIAPAN DAN IMPLEMENTASI UU NO. 22 TAHUN 1999 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH
SEMINAR OTDA PERWUJUDAN OTDA DALAM RANGKA MEMANTAPKAN PEMERIN-TAH DAERAH MENYONGSONG ERA GLOBALISASI DAN ABAD 21
SEMINAR SEHARI AIR BAWAH TANAH PERANAN KONSERVASI AIR TANAH DALAM MENUNJANG PEMBANGUNAN BERKELAN-JUTAN NASIONAL DAN DALAM RANGKA OTONOMI DAERAH
SOSIALISASI PP PENDUKUNG PELAKSA-NAAN OTDA
SEMINAR STRATEGI PEMBINAAN LUMBUNG PANGAN MASYARAKAT UNTUK MENCAPAI KETAHANAN DAN KEAMANAN PANGAN MASYARAKAT
SEMINAR NASIONAL RENCANA REVISI UU OTDA
2 LUAR NEGERI –

VII KETERANGAN KELUARGA

1 Nama Istri ANNY ROSMA NAPITUPULU, BA
Tanggal Lahir 20 FEBRUARI APRIL 1949
Tempat Lahir BALIGE
Agama KRITEN PROTESTAN
Tanggal menikah 23 MARET 1974
Pekerjaan PENSIUN PNS
2 Nama Anak GENESIS PARSADAAN SIHOMBING
Jenis Kelamin LAKI-LAKI
Tanggal Lahir 29 JUNI 1988
Tempat Lahir JAKARTA
Agama KRITEN PROTESTAN
Pekerjaan PELAJAR

VIII KETERANGAN ORGANISASI

1 Semasa mengikuti Pendidikan
SLTA ORGANISASI SISWA (OSIS)
Pendidikan Tinggi DEWAN MAHASISWA UNIV. JAKARTA
2 Sesudah mengikuti Pendidikan KORPRI DEPDAGRI
KORPRI KABUPATEN DAIRI
3 Keanggotaan dalam Organisasi Politik –
Keanggotaan dalam Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) –