Prof. Dr. Victor Purba, SH, LLM, MSc


Prof. Dr. Victor Purba, SH, LLM, MSc bukan seorang yang tersohor, bak seorang artis. Tetapi, perannya sangat besar dalam Pengembangan Korporasi di Indonesia, ahli hukum ekonomi. Kemampuan akademiknya tak pernah diragukan lagi, hanya saja jarang terpublikasi. Termasuk membangun kampung halamannya. Pria kelahiran Aek Lung, Dolok Sanggul ini adalah seorang pedagogi sejati, guru besar hukum di Fakultas Hukum Universitas Indonesia.

Dia adalah salah satu inisiator dari berdirinya Kabupaten Humbang Hasundutan. Pemikirannya bahwa pendidikan membawakan orang tercerahkan, jikalau sudah tercerahkan maka banyak inisiatif yang bisa dilakukan. Saat proses pendirian Kabupaten Humbang Hasundutan, tatkala rapat dengan tokoh-tokoh Dolok Sanggul dia mengatakan, bahwa pembangunan utama Kabupaten seutuhnya harus melalui pendidikan. Jangan melupakan peranan pendidikan untuk memulai pembangunan. Tentu yang dia maksud bukan hanya memiliki gelar akademik. Sebagaimana kata dasar pendidikan adalah kata didik. Didik berarti memelihara dan memberi latihan tentang akhlak dan kecerdasan pikiran.

Sedangkan, pendidikan memiliki arti proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan. Jadi, bukan hanya memiliki jenjang gelar akademik semata. Karena itu, dia selalu berpesan agar meningkatkan mutu pendidikan di Humbang Hasundutan, bahkan dia berjanji saat itu siap mendatangkan para profesor untuk memberikan pendidikan di Humbang Hasundutan. Termasuk tatkala dirinya terpilih sebagai seorang panelis dalam debat kandidat pilkada Humbang Hasundutan tahun 2005, dia selalu menekankan kepada para kandidat bahwa faktor pendidikan sebagai  salah satu misi terpenting dalam kemajuan pembangunan  Humbang Hasundutan.

Pemikirannya bernas, sebagai ahli di bidang hukum ekonomi, dia selalu mengajak menanggapi  kemajuan global  tanpa meninggalkan budaya. Tentu, bagaimana menata karakteristik, kemampuan intelektual lewat kesesuaian     pekerjaan. Lalu, didukung langka-langkah yang optimal untuk menggapai nilai, kesetiaan dan perilaku yang konsisten. Kekonsistenannya terlihat, jauh sebelum booming perantau membangun perpustakaan, dia bersama dengan RM Purba telah membangun perpustakaan di desanya, perpustakaan di SD Aek Lung, Dolok Sanggul. Dia berharap perpustakaan itu dimanfaatkan semaksimal mungkin, dan berpesan kepada anak-anak dari kampungnya agar suka membaca.

Bahkan, di awal-awal mendirikan perpustakaan tersebut, dia menekankan setiap anak yang bisa menulis satu paragraf dari setiap buku yang dibacanya akan mendapat hadiah, apalagi jika bisa merangkai tulisan atau membuat cerpen akan mendapat hadiah lebih. Hanya sayang semangat yang membara itu tak disambut dengan baik, perpustakaan ini tak terdengar lagi rimbanya, dan sampai hari tak pernah terdengar lagi seorang tokoh sekaliber Prof. Dr. Victor Purba SH, LLM Msc, atau seorang penulis yang menggeluti dunia perbukuan seperti harapannya dari kampungnya.

Padahal, Victor sudah berusaha untuk memotivasi anak-anak disana agar menulis. Tentu, untuk semangatnya itu, maka setiap liburan paskah dia pulang ke kampungnya bersama keluarga. Saat itu, selain dosen Fakultas Hukum UI dia duduk sebagai legal adviser perusahaan perkebunan milik orang Eropa di Sumatera Utara. Maka setiap pulang ke Aek Lung dia mendapat fasilitas kendaraan, dan yang membuat di mudah pulang ke Dolok Sanggul untuk memotivasi anak-anak agar gemar membaca buku.

Kecedikiaannya diapresiasi kalangan nasional, salah satu misalnya, dirinya tercatat sebagai nasasumber pada seminar nasional Penegakan Hukum. Seminar ini adalah seminar pembangunan hukum Nasional VIII yang diselenggarakan Badan Pembinanan Hukum Nasional Departemen Kehakimanan dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia di Kuta, Bali, 14 – 18 Juli 2003. Dia didaulat sebagai narasumber, membicarakan Pengembangan Berbagai Bentuk Koporasi kepada pelaku ekonomi di Indonesia.

Semasa hidupnya telah mencoba memberikan yang terbaik, dan meninggalkan makna yang terdalam, menggoreskan karya. Namun, pada Kamis 2 Agustus 2007, dia dipanggil keharibanNya. Tentu, bukan hanya keluarga besar Purba yang kehilangan, segenap civitas akademika Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI) juga berduka karena kehilangan salah satu guru besar terbaiknya. Prof Dr Victor Purba SH LLM MSc, pakar hukum ekonomi. Almarhum berpulang di Rumah Sakit Kanker Dharmais oleh karena penyakit kanker paru. (Hojot Marluga/diolah dari berbagai sumber)

Iklan

Pirmian Tua Dalam Sihombing


papiPirmian Tua Dalam Sihombing, yang dalam / komunitasnya lebih dikenal dengan n ama Pe t e d e, lahir di tongan-dalan (tengah jalan) kawasan Pahae, Tapanuli Utara, pada tanggal 26 Februari 1936, dari pasangan orangtuanya, Pendeta Albert Sihombing-Lumbantoruan dan Orem bom Hutabarat, ketika orangtuanya itu sedang dalam perjalanan mcnuju rumah sakit bersalin di Tarutung. la menikah dengan Mintha Vluhon Parotua Boru Hutabarat dan beroleh anugerah empat putri dan satu putra, yakni Tridecy, Ikatri, Ingrid, Octavianus dan Maritez, beserta tujuh orang cucu.
.
Selepas dari S.R.di Muara, dekat Bakkara, pendidikan formalnya diteruskan pada SMP/B HKBP di Seminari-Sipoholon, tamat tahun 1953; lalu SMEA Negeri di Jakarta (1957). Dia mendapat gelar Sarjana Muda Pendidikan-Ekonomi dari FKIP Universitas Padjadjaran (1961) dan Sarjana Pendidikan-Ekonomi dari FKIP-U.I. (1964). Terakhir ia menggondol gelar M.Sc. in Commerce (major in Banking & Finance) pada Institute of Graduate Studies, Far Eastern University, Manila (1972).
.
Pendidikan non-formalnya cukup beragam, baik di luar maupun di dalam negeri. Di antara puluhan workshop dan training bergengsi yang pernah diikutinya, antara lain adalah Management Executive Course (1972) dan Management Development Program (1973), kedua-duanya di Manila. Kemudian Orientation to the U.S. Industry (1982) dan Manager of Research and Analysis Course (1985), di Amerika Serikat; serta Market Research & Analysis Workshop di Hong Kong (1994); ketiga program tcrakhir diselenggarakan oleh The International Trade Administration, U.S. Department of Commerce.
.
Karirnya berwarna-warni; menapaki beberapa jalur yang dapat dikatakan ber-jauhan satu sama lain. Mengikuti jejak ayah dan ketiga orang abangnya, ia mulai bekerja sebagai guru pada Kursus Dagang Pertengahan (KDP) Negeri di Bandung (1957-1961). Menjadi kepala sekolah pada Kursus Karyawan Pertengahan (KKP) Negeri, Jakarta (1962-1964). Kemudian alih-lapangan kerja menjadi planter, Asisten Tingkat-I, naik mcnjadi Deputy Manager pada perkebunan Rambung Sialang dan Turangie, Perusahaan Perkebunan Negara (PPN) “Dwikora I” di Sumatra (1964-1969). Mclakukan alih-lapangan kerja lagi, menjadi staf-lokal (Asisten Atase Penerangan dan Kebudayaan) KBRI Manila (1970-1972).
.
Beralih lapangan kerja untuk ketiga kalinya, ia menjadi Staff-Consultant pada Sycip Gorres-Velayo (SGV) Philippines (1972-1973); kembali ke tanahair unluk menjadi Senior Consultant pada PT. SGV-Utomo, Jakarta (1973-1980). Dalam bidang profesi ini ia mendalami dan mendisain sistem dan prosedur adiministrasi keuangan bagi banyak organisasi dan perusahaan. Terakhir setelah lagi-lagi beralih lapangan kerja, ia menjadi Manager of Research and Analysis (MRA) pada U.S. Business Center di Jakarta, dari 1980 sampai mendapat hak pensiun-penuh pada tahun 1998.
.
Pengabdiannya yang bersifat paroh-waktu ialah mengajar pada beberapa lembaga pendidikan tinggi, seperti Instruktur luar-biasa pada Sekolah Calon Perwira (Secapa) Infantri, Pusat Pendidikan Infantri, Bandung pada Angkatan ke-IV dan V, 1959-1961; Akademi Arsitektur Pertamanan (AKAP), Akademi Maritim Indonesia (AMI) dan Akademi Sekretaris & Manajemen Indonesia (ASMI) di Jakarta (1963-1964). Kemudian sebagai Visiting Lecturer pada Asian Center, University of the Philippines, Quezon City, Pilipina, 1971-1972; dan dosen senior yang membimbing ratusan mahasiswanya mempersiapkan skripsi, pada Fakultas Ekonomi, Universitas Kristen Indonesia, Jakarta, 1979-1990.
.
Pengabdiannya di lingkungan Gereja dimulai dari keanggotaan Board of Elders (penatua) pada Grace Lutheran Church, Pasay City, Pilipina (1970-1973). Kemudian dia menjadi sintua (penatua) HKBP Kebayoran Lama dari 1978-2001; di antaranya sclama 15 tahun (1987-2001) melayani sebagai guru-jemaatnya. Menjadi sinodist tetap resort itu, 1984-1992, sampaikemudianterpilihjadi anggota Majelis Pusat HKBP pada periode 1992-1998. Dalam kapasitasnya sebagai anggota Majelis Pusat, ia mendapat tugas pelayanan sebagai Ketua Dewan Keuangan Umum (DKU) HKBP pada periode itu, merangkap Pembina (Paniroi) Dewan Zending. Sejak tahun 2001 ia turut mengabdi sebagai dosen senior pada STT Apostolos, dalam mata-kuliah Manajemen Gereja dan Misi. .
.
Kegiatan menulis sudah sangat menarik minatnya sejak muda, antara lain menulis puisi, cerpen dan esei. Beberapa artikelnya yang bersifat human interest dan budaya, antara lain dimuat dalam Harian Sinar Indonesia Baru, Sinar Harapan, Majalah Bona Ni Pinasa, dan beberapa lainnya. Pelayanannyayang cukup lama di Ladang Tuhan, sepertinya membuat tu!is-menulis di bidang gerejani juga menjadi “profesinya” yang kedua. Di antara banyak tulisannya adalah dua makalah komprehensif berjudul The Balak People Before the Coming of Christianity dan The Development ofBatak “Lutheran Church “, yang disampaikannya sendiri kepada para peserta Sinode Tahunan Lutheran Pastors of the Philippines (LCP) pada tanggal 4 dan 5 Mei 1973 di Baguio City, Pilipina.

Dia adalah penulis-utama untuk “Bunga Rampai” pengenangan kepada salah seorang tokoh kontemporer dalam sejarah HKBP, berjudul Pelayanan Kontemporer Dalam Masyarakat Majemuk; Pengabdian Ephorus Emeritus Ds. Dr. Tunggul Sihombing. Buku lain yang ditulisnya adalah Bertumbuh Dalam Kasih Karunia Kristus. la menulis puluhan ceramah/makalah dalam bidang pembinaan pemuda Gereja serta adiminstrasi keuangan-Gereja. Salah satu di antara banyak tulisannya adalah yang bersifat “gagas-terobosan” berjudul Sentralisasi Penggajian Pelayan Tetap HKBP, dengan usulan pembentukan Dana Abadi HKBP. Makalah itu disajikan pada Musyawarah Sintua HKBP Seluruh Indonesia (1995) dan Musyawarah Pendeta HKBP Seluruh Indonesia (1996), kedua-duanya terselenggara di Jakarta. Makalah ini kemudian dimuat sebagai tulisan bersambung dalam Immanuel, majalah bulanan HKBP.

Sejatinya dia bukan seorang yang berlatar-belakang pendidikan persejarahan. Namun pengalamannya yang panjang dan luas, dan keberadaannya di tengah-tengah keluarga-besar para pelayan Tuhan yang sudah mengabdi sejak masa keperintisan, sangat memancing minatnya, dan telah mengisi pengetahuan dan cakrawalanya yang luas tentang missiologi, baik di dalam negeri maupun di seantero jagat.

J R Hutauruk


Pdt. Dr. J.R. Hutauruk (Mantan Ephorus HKBP 1998-2004)

ephorus-skipperNama lengkapanya Pdt. Dr. Jubil Raplan Hutauruk lahir tepat ketika HKBP merayakan jubileum 75 tahun, 7 Oktober 1936 di Tigadolok, Simalungun, sebagai putra dari Guru Jetro Hutauruk yang waktu itu melayani sebagai guru jemaat di HKBP Tigadolok, Distrik Sumatera Timur. Beliau mendapat pendidikan teologi di Fakultas Teologi Universitas HKBP Nommensen (1956-1961) setelah sebelumnya dididik di Seminarium Sipoholon. Teman-teman seangkatannya di Fakultas Teologi termasuk Pdt. Dr. PWT Simanjuntak (Ephorus 1992-1998), Pdt. Dr. S.M. Siahaan (Sekretaris Jenderal HKBP 1992-1998).
Setelah menyelesaikan sarjana teologi, Ompui ditempatkan ke HKBP Ressort Sibolga I sebagai calon pendeta (1961-1962) kemudian menjadi asisten dosen di Fakultas Teologi Universitas HKBP Nommensen (1962-1963).

Setelah ditahbiskan menjadi pendeta, Beliau berangkat studi master teologi ke Universitas Hamburg, Jerman dan kembali tahun 1968. Tesisnya mengenai “kaitan gereja, bangsa, dan misi dalam pemikiran F. Fabri, W. Loehe, dan J. Bunsen dan pengaruhnya dalam sejarah awal HKBP”. Sekembalinya dari Jerman, Beliau menjadi dosen Seminarium Sipoholon dan pada tahun 1970 hingga 1973 menjadi Direktur Seminarium itu. Pada tahun 1973 beliau kembali ke Hamburg untuk studi tingkat doktor. Gelar doktor diraihnya tahun 1979 dengan disertasi mengenai “kemandirian gereja Batak”.

Sekembalinya dari Jerman, untuk beberapa waktu Pdt. DR. JR Hutauruk bertugas di Bagian Arsip Kantor Pusat HKBP Pearaja Tarutung sebelum pada tahun 1980 pindah ke STT HKBP dan menjadi Wakil Rektor STT HKBP sejak tahun 1981 hingga 1986. STT HKBP merupakan tempat pelayanan Beliau yang paling lama yakni 17 tahun (1980-1997). Pada Sinode Godang Sitimewa di Medan tahun 1993, Beliau terpilih sebagai Ketua Rapat Pendeta HKBP sambil tetap melayani di STT HKBP. Kemudian pada tahun 1997-1998 Beliau melayani sebagai Pendeta Ressort HKBP Tebet, Jakarta sebelum terpilih sebagai Pejabat Ephorus dalam Sinode Godang HKBP 26 Oktober 1998.

Sebagai Pejabat Ephorus Beliau ditugaskan untuk mengadakan Sinode Godang menetapkan kepemimpinan HKBP yang definitif. Di antara tugas-tugas itu Ompui memfokuskan usaha-usahanya untuk mewujudkan rekonsiliasi HKBP yang sejak tahun 1992 mengalami kemelut dan dualisme kepemimpinan. Tugas berat itu berhasil diselesaikan dalam empat bulan sebab pada 18-20 Desember 1998, HKBP menyelenggarakan Sinode Godang di Pematangsiantar. Ompui kemudian terpilih sebagai Ephorus untuk periode 1998-2004 dan menjadi Ephorus HKBP yang ke-12.

Selama periode kepemimpinannya, Ompui berusaha memulihkan pelayanan HKBP yang sempat terkendala akibat konflik 1992. Periode kepemimpinan dapat disebut sebagai periode rekonsiliatif di mana segenap energi HKBP difokuskan untuk menjalin simpul-simpul persekutuan yang sempat putus akibat konflik itu, menabur kembali benih-benih kesatuan di segala aras mulai dari huria, ressort, distrik hingga hatopan (pusat), menata ulang organisasi pelayanan HKBP, dan sebagainya. Penataan dalam Pada periode kepemimpinan Ompui pula HKBP menetapkan Aturan Peraturan HKBP 2002 yang memberlakukan sistem perubahan Aturan Peraturan melalui metode amandemen di mana perubahan tidak lagi dibatasi hanya sekali dalam sepuluh tahun sesuai dengan kebutuhan HKBP sendiri. Aturan Peraturan 2002 ditetapkan Pada Sinode Godang 2002 dan diberlakukan mulai 2004.

Selain Aturan dan Peraturan Baru, selama kepemimpinan Ompui, HKBP membentuk distrik-distrik baru yakni DistrikXIX Jakarta-2, Distrik XX Kepulauan Riau, Distrik XXI Jakarta-3, Distrik XXII Riau, Distrik XXIII Langkat, Distik XIV Tanah Jawa, dan Distrik XV Jambi. Distrik-distrik itu ditetapkan pada Sinode Godang 2002. Sedangkan Distrik XV Labuhan Batu ditetapkan pada Sinode Godang 2004. Sebagai Ephorus, Ompui juga aktif dalam persekutuan oikumene di aras nasional dan internasional. Beliau merupakan Anggota Dewan LWF sekaligus Anggota Komisi Studi dan Teologi LWF (2003-2020), dan anggota Majelis Pertimbangan PGI (2005-2010).

Sebagai seorang akademisi Ompui rajin menulis mengenai sejarah gereja, khususnya HKBP. Hingga masa emeritusnya, puluhan artikel dan buku telah dihasilkannya antara lain Tuhan Menyertai Umat-Nya : Sejarah 125 Tahun HKBP (1986), Kemandirian Gereja (1991), Menata Rumah Allah (2008), Sejarah pelayanan Diakonia di Tanah Batak (2009), Pandita G. van Asselt (2009), dan lain-lain. Ompui menikah dengan Dumaris Simorangkir dan dikarunia lima orang anak. Salah seorang di antaranya, Sadrak Sabam, mengikuti jejaknya dan saat ini melayani sebagai calon pendeta di HKBP Ressort Cawang, Distrik XIX Jakarta.

Dia dikenal pendeta yang sederhana. Semasa menjabata sebagai Ephorus JR Hutauruk paling tidak dikenal dengan sebagai tokoh yang membawa HKBP pada rekonsiliasi tahun 1998. Lalu, semasa menjabat Ephorus mempunyai program Dana Abadi yang dialokasikan, bunga dari dana tersebut untuk bisa pensiunan pendeta. Selain itu, dia juga dikenal dengan Ephorus yang mengulirakan semangat keterbukaan, inklusif terhadap HKBP.

WTP Simarmata (Ephorus HKBP)


Pendeta Bermoto: Pembaharuan, Perdamaian, Pemberdayaan

Pendeta WTP Simarmata terpilih menjadi Ephorus Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) dalam Sinode Godang di Seminarium Sipoholon, Tapanuli Utara, Kamis 13 September 2012. Pendeta WTP Simarmata, yang bernama lengkap Willem Tumpal Pandapotan Simarmata terpilih menjadi pemimpin baru, ephorus HKBP kurun waktu 2012-2016.

Maka sekarang; Pimpinan HKBP terpilih periode 2012-2016 Pdt. WTP. Simarmata, MA (Ephorus), Pdt. Mori A.P. Sihombing, M.Th (Sekjend), Pdt. Marolop P. Sinaga, M.Th ( Kadep Marturia), Pdt. Welman Tampubolon, S.Th (Kadep Koinonia), Pdt. Drs. Bihelman DF. Sidabutar, S.Th ( Kadep Diakonia).

Pada Sinode Godang yang baru saja berlalu WTP Simarmata berhasil memperoleh suara terbanyak yakni 697 suara. Dia menyisihkan empat kandidat lainnya; Pendeta Binsar Nainggolan sebanyak 383 suara, Pendeta Ramlan Hutahaean 175 suara. Lalu, Pendeta Nelson Siregar hanya berhasil meraup 68 suara. Sementara Pendeta David Sibuea memperoleh suara, 25 suara.

Terpilihnya pendeta WTP Simarmata bukanlah mengagetkan, karena sejak semula diprediksi menjadi, candidat yang lebih unggul. Pengalamannya di bidang gerejawi berjubel. Hal itu juga bisa juga karena dua periode menjadi Sekretaris Jenderal HKBP, dan pernah menadi Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) se- Sumatera Utara.

Kariernya dimulai Tapanuli. Ditahbiskan menjadi Pendeta pada tanggal 23 Oktober 1983 di HKBP Padang Sidempuan oleh Ompui Ephorus HKBP Pendeta GHM Siahaan didampingi Sekjen HKBP Pdt. PM. Sihombing, MTh. Sejak itu namanya menjadi Pdt. Willem TP. Simarmata yang disapa menjadi Amang Pendeta Simarmata.

Pengalamannya berjubel. Sejak mahasiswa sudah terlibat di organisasi kampus di GMKI. Dia mengerti betul bahwa hidup harus ada keseimbangan. Menyeimbangkan antara IQ EQ dan SQ. Baginya IQ, bukanlah menjadi patokan utama dalam kesuksesan setiap umat manusia, tetapi keseimbangan antara ketiganya itu sangat penting.

Mendengunkan keberagaman

Banyak pemikirannya yang dibutuhkan masyarakat saat ini. Soal semangat keberagaman hari ini. Sejak dulu WTP menyadari bahwa agama harus memberi solusi, bukan menjadi pembawa ketidak-nyamanan. Karena sering kali, kata WTP, agama-agama terbawa arus kepentingan kelompok tertentu, sehingga tidak memberikan kontribusi kepada rekonsiliasi. Malah menjadi sumber konflik. “Ini yang harus dihindari secara serius agar agama tidak terseret kepada posisi diperalat untuk kepentingan tertentu,” katanya.

Bagi WTP Simarmata, agama tidak hanya berbicara soal hubungan antara Allah dan manusia, tetapi juga soal hubungan antara manusia, bahkan dengan seluruh ciptaan Allah. Karenanya, agama pun menjadi panduan bagi umat manusia bagaimana ber-Tuhan dan bermasyarakat. “Bagaimana kita memperlakukan sesama adalah gambaran dari bagaimana kita berkomunikasi dengan Tuhan. Karenanya agama tidak boleh dipaksakan untuk dianut oleh orang lain.”

Tambahnya lagi, alih-alih, prinsipnya tidak ada satu pun agama di dunia ini yang mendukung ketidakadilan yang terjadi di antara umat manusia. Tidak ada satu agama pun yang memberi rekomendasi bagi para penganutnya untuk menggunakan kekuasaan yang dimiliki atau menyalahgunakan potensi yang dimiliki dalam sebuah masyarakat.

Dia menjelaskan, lebih jauh lagi bahwa tidak ada satu agama pun yang dalam ajarannya melegitimasi kesenjangan sosial. “Kerusuhan dan ketidakadilan dll. Semua agama mengajarkan hal-hal yang membawa kesehjateraan bagi umat manusia. Karenanya memang semua agama harus mampu saling merangkul, apalagi di tengah masyarakat majemuk seperti bangsa dan Negara Indonesia,” jelasnya.

Suami Lersiany Purba ini melihat, bukankah ketidakadilan itu adalah juga akibat tindakan orang yang beragama? “Bukankah penyelewengan jabatan, korupsi dan penipuan itu adalah dilakukan oleh orang yang beragama pula? Bukankah yang miskin dan yang kaya itu adalah orang beragama? Lalu pertanyaan pun muncul: Apa hubungan agama dengan kenyataan semacam itu, atau Bagaimana orang yang beragama melihat dan mencermati kenyataan semacam itu? Katanya setengah bertanya.

Karenanya, kata ephorus baru HKBP ini, kepedulian agama atas persoalan-persoalan kemanusiaan menjadi agenda utama setiap pemikiran dan tindakan yang dikembangkan oleh agama. Kondisi-kondisi kemanusiaan seperti keadilan, keprihatinan, keutuhan masyarakat, kedamaian, kebersamaan dan kesejukan menjadi tugas utama agama untuk dihadirkan ditengah-tengah masyarakat, dikalangan pengusaha, birokrat, penguasa, konglomerat, politisi dan juga rakyat biasa yang sekali pun berbeda agama.

“Kehidupan seperti itulah seharusnya nampak di dalam kehidupan orang yang beragama, yaitu damai dan rukun. Persoalan yang sering dihadapi adalah: Mengapa penganut sering melakukan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran agamanya? Di sinilah pentingnya memberi perhatian kepada ajaran agama itu sendiri,” ujar pendeta yang bermoto pembaharuan, perdamaian, pemberdayaan, ini.***Hotman J Lumban Gaol, diolah dari berbagai sumber

BIODATA

Pdt WTP Simarmata, MA

Nama Lengkap: Willem Tumpal Pandapotan Simarmata

Tempat/Tgl Lahir : Samosir, 4 Juli 1954

Tempat/ Tanggal. Ditahbiskan : Padangsidempuan, 23 Oktober 1983

Jabatan : Ephorus HKBP periode (2012-2016)

KELUARGA

I s t r i

Nama Lengkap : H. Lersiany Purba

Tempat/Tgl. Lahir : Haranggaol, 5 Mei 1955

Alamat : Pematangsiantar

Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

Anak: Jumlah-5 orang

Nenny Ika Putri Simarmata, 23 tahun, Sarjana (Bekerja )

Amy Dewi Putri Simarmata, 21 tahun, Mahasiswi

Rotua Riny Putri Simarmata, 18 tahun, Mahasiswi

Aida Nunut Putri Simarmata, 12 tahun, Pelajar

Joel Rony Putra Simarmata, 10 tahun, Pelajar

 PENDIDIKAN

Pendidikan Formal:

Tahun 1962-1967 lulus dari SD Negeri 1 Simarmata

Tahun 1968-1970 lulus dari SMP Negeri 2 Pangururan

Tahun 1970-1973 SMA Kampus FKIP Univ. HKBP Nommensen Pematangsiantar

Tahun 1974-1980 lulus dari Fakultas Teologi STT HKBP Pematangsiantar

Tahun 1987-1990 lulus dari Universitas Silliman ( MA )Filipina

Tahun 1993-1994 Hanil University ( Diploma in Mission and Theology ) Korea Selatan

 Pekerjaan/Pelayanan:

Tahun 1981-1982 Pendeta Praktek di HKBP Simanungkalit

Tahun 1983-1985 Pendeta HKBP PT. Perkebunan VI Ajamu Ressort Aek Nabara

Tahun 1985-1987 Sekhus Sekretaris Jenderal HKBP

Tahun 1991-1992 Dosen Sekolah Pendeta HKBP

Tahun 1992-1998 Direktur Departemen Pendidikan HKBP

Tahun 1995-1997 Pendamping Praeses HKBP Distrik V Sumatera Timur

Tahun 1998 Pelaksana Praeses HKBP Distrik VI Dairi

Tahun 1998 Pendeta HKBP Ressort Batam

Tahun 1998-2004 dan 2004-2008 Sekretaris Jenderal HKBP

Pengalaman Pekerjaan Paruh Waktu

Tahun 1979-1980 Asisten dosen Filsafat Agama di Fakultas Hukum, Sekolah Tinggi Hukum, Yayasan Nasional Indonesia di Pematangsiantar, Sumatera Utara.

Tahun 1983-1985 Guru agama dan Seni Suara di SMP Yapendak PT. Perkebunan VI Ajamu, Labuhan Batu

Tahun 1991-1992 Dosen LPTK/ STAKPN Tarutung

Tahun 1993 Dosen Pendidikan Diakones HKBP Tarutung

Tahun 1995-1998 Dosen Sekolah Bibelvrow dan STT HKBP Pematangsiantar

Pelatihan

Tahun 1978 Kongres/ Konperensi Nasional GMKI di Makassar GMKI

Tahun 1978 Konperensi Nasional PERSETIA

Tahun 1980 Konperensi Nasional GMKI di Jakarta

Tahun 1994 Asia Youth Consultation

Tahun 1994 Asia Mission Conference

Tahun 1995 Sidang raya CCA-URM CCA

Tahun 1995 Asian people Forum CCA

Tahun 1995 Sidang Raya PGI di Jayapura PGI

Tahun 1996 Konperensi Nasional GMKI Ujungpandang

Tahun 1996 Sidang raya UEM di Bielefeld, Germany

Tahun 1996 Christian- Moslem Consultation di Bielefeld, Germany

Tahun 1999 Partnership Consultation di Singapore

Tahun 2000 Sidang raya PGI di Palangkaraya PGI

Tahun 2002 Pra Sidang Raya LWF Asia di Medan LWF

Tahun 2002 Seminar tentang Gereja Masa Depan, Bielefeld, Germany

Tahun 2003 Konsultasi Persekutuan Gereja-Gereja Sedunia di Jakarta WCC

Tahun 2003 Sidang Raya LWF, Winnipeg, Kanada

Tahun 2004 Asia Consultation on Global Christian Forum di Hongkong

Tahun 2004 Global Mission Consultation di Adelaide, Australia

Tahun 2004 Sidang Raya UEM, Manila, Filipina UEM

Tahun 2004 Asian Leader International Conference di Bangkok, Thailand

Tahun 2004 Asian Lutheran Church Leader Conference di Kuala Lumpur, Malaysia LWF

Tahun 2005 Sidang Raya CCA di Chiang Mai, Thailand CCA

Tahun 2005 The Planning Monitoring Evaluation Training di Salatiga UEM Regional Asia

Tahun 2005 Mission Conference di Bogor UEM Regional Asia

Tahun 2005 HKBP Jerman Partnership Consultation di Sumatera Utara

Pengalaman Organisasi

Tahun 1976-1979 Sekretaris Senat-Senat Mahasiswa STT HKBP Pematangsiantar

Tahun 1977-1978 Sekretaris Cabang-Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia Cabang Pematangsiantar (GMKI Cab. P.Siantar)

Tahun 1978-1980 Ketua Cabang-Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia Cabang Pematangsiantar (GMKI Cab. P.Siantar

Tahun 1979-1981 Wakil Ketua-Komite Nasional Pemuda Indonesia Cabang Pematangsiantar (KNPI Cab. P.Siantar)

Tahun 1989-1990-Presiden-Senat Mahasiswa Pasca Sarjana Silliman university, Filipina

Tahun 1998Ketua United in Mission, Batam

Tahun 1999-2004- Anggota Badan Pengurus Lembaga Komunikasi Sejahtera (LKS) , Pematangsiantar

Tahun 1999-2004 Anggota Majelis Pekerja Lengkap (MPL) Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI).

Tahun 1999 Ketua Yayasan-Yayasan Perguruan HKBP Pematangsiantar

Tahun 2000-2005 Anggota Komisi Ecumenical Formation in Justice, Gender and Youth Empowerment Gereja-gereja Asia di Hongkong

Tahun 2001-sekarang Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia Wilayah Sumatera Utara

Tahun 2004 ketua Umum Alliance Religion Conservation di Sumatera Utara

Tahun 2005 Yayasan Tanggul Bencana, Indonesa

Prof Dr. Harun Nasution, PhD


Prof Dr. Harun Nasution, PhD

Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ke-6
Masa jabatan
1973 – 1984

Informasi pribadi
Lahir 1 Januari 1919
Harun Nasution (lahir di Pematangsiantar, Sumatera Utara tahun 1919 – wafat di Jakarta tanggal 18 September 1998) adalah seorang filsuf Muslim Indonesia.
Harun Nasution bersekolah di HIS (Hollandsche Indlansche School) dan lulus pada tahun 1934. Pada tahun 1937, lulus dari Moderne Islamietische Kweekschool. Ia melanjutkan pendidikan di Ahliyah Universitas Al-Azhar pada tahun 1940. Dan pada tahun 1952, meraih gelar sarjana muda di American University of Cairo.
[sunting]Karier

Harun Nasution menjadi pegawai Deplu RI di Brussels dan Kairo pada tahun 1953-1960. Dia meraih gelar doktor di Universitas McGill di Kanada pada tahun 1968. Selanjutnya, pada 1969 menjadi rektor di IAIN Syarif Hidayatullah dan UNJ. Pada tahun 1973, menjabat sebagai rektor IAIN Syarif Hidayatullah.
Harun Nasution wafat pada tanggal 18 September 1998 di Jakarta
[sunting]Pemikiran Harun Nasution

Harun Nasution dikenal sebagai tokoh yang memuji aliran Muktazilah (rasionalis), yang berdasar pada peran akal dalam kehidupan beragama. Dalam ceramahnya, Harun selalu menekankan agar kaum Muslim Indonesia berpikir secara rasional.
Harun Nasution juga dikenal sebagai tokoh yang berpikiran terbuka. Ketika ramai dibicarakan tentang hubungan antar agama pada tahun 1975, Harun Nasution dikenal sebagai tokoh yang berpikiran luwes lalu mengusulkan pembentukan wadah musyawarah antar agama, yang bertujuan untuk menghilangkan rasa saling curiga.

Karya-karya

Disamping sebagai seorang pengajar, Harun Nasution juga dikenal sebagai penulis.
Beberapa buku yang pernah ditulis oleh Harun Nasution antara lain :
Akal dan Wahyu dalam Islam (1981)
Filsafat Agama (1973)
Islam Rasional (1995)
Sejarah Pemikiran dan Gerakan (1975)
islam ditinjau dari berbagai aspeknya
teologi islam

Faisal H Basri Batubara


Nama:
Faisal H Basri Batubara
Lahir:
Bandung, 6 November 1959
Agama:
Islam
Profesi:
Dosen FE-UI
Isteri:
Syafitrie
Anak:
1. Anwar Ibrahim Basri Batubara
2. Siti Nabila Azuraa Basri Batubara
3. Muhammad Attar Basri Batubara
Ayah:
Hasan Basri Batubara
Ibu:
Saidah

Pendidikan:
– Sarjana Ekonomi, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) (1985)
– Master of Arts (M.A.) dalam bidang ekonomi, Vanderbilt University, Nashville, Tennessee, Amerika (1988)

Karir:
1. 1981-sekarang: Pengajar pada Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia untuk mata kuliah Ekonomi Politik, Ekonomi Internasional, Ekonomi Pembangunan, Sejarah Pemikiran Ekonomi
2.1988-sekarang: Pengajar pada Program Magister Akuntansi (Maksi), Program Magister Manajemen (MM), Program Magister Perencanaan dan Kebijakan Pembangunan (MPKP), Program Pascasarjana Universitas Indonesia untuk mata kuliah Analisis Lingkungan Bisnis, Perdagangan Internasional, Keuangan Internasional, dan Makroekonomi untuk Manajer, Ekonomi Regulasi, Ekonomi Politik, dan Etika Perencanaan
3. 1997-sekarang: Editorial Board, Jurnal Bisnis & Ekonomi Politik (Quarterly Journal of the Indonesian Economy), diterbitkan oleh Institute for Development of Economics and Finance (Indef)
4. 1999-2003: Ketua, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Perbanas Jakarta
5. 1995-2000: Expert (dan Pendiri), Instutute for Development of Economics & Finance (Indef)
6. 1999-2000: Redaktur Ahli Koran Mingguan “Metro”
7. 1999-2000: Dewan Pengarah Jurnal Otonomi, diterbitkan oleh Yayasan Pariba
8. 2000: Anggota Tim Asistensi Ekuin Presiden RI
9. 1995-1999: Tenaga Ahli pada proyek di lingkungan Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral, Direktorat Jenderal Pertambangan Umum, Departemen Pertambangan dan Energi
10. 1981-1998: Peneliti pada Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat FEUI
11. 1987-1998: Pengajar pada Program Extension FEUI untuk mata kuliah Perekonomian Indonesia, Teori Makroekonomi, Metode Penelitian, Ekonomi Internasional, dan Organisasi Industri
12. 1991-1998: Sekretaris Program pada Pusat Antar Universitas bidang Ekonomi, Universitas Indonesia
13. 1991-1998: Pengajar pada Fakultas Ilmu-ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia untuk mata kuliah Pengantar Ekonomi-Politik Hubungan Internasional; dan Jepang & Negara-negara Industri Baru, dan Ekonomi Politik Internasional
14. 1992-1998: Anggota Redaksi Jurnal Ekonomi Indonesia, diterbitkan oleh Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI)
15. 1995-1998: Ketua Jurusan ESP (Ekonomi dan Studi Pembangunan) FEUI
16. 1995-1998: Pengajar pada Program Pascasarjana Universitas Indonesia, bidang studi Ekonomi, untuk mata kuliah Strategi dan Kebijakan Pembangunan; dan Program Studi Kajian Wanita; dan Program Studi Khusus Hubungan Internasional
17. 1995-1998: Guest Editor pada NIPPON (Seri Publikasi Monograf Pusat Studi Jepang Universitas Indonesia)
18. 1996-1998: Anggota Dewan Redaksi Majalah Kajian Ekonomi-Bisnis “Media Eksekutif”, Program Extension Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
19. 1997-1998: Research Associate dan Koordinator Penelitian Bidang Ekonomi dalam rangka kerja sama penelitian antara Pusat Studi Jepang Universitas Indonesia dengan University of Tokyo
20. 1993-1997: Koordinator Bidang Ekonomi, Panitia Kerja Sama Kebahasaan Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia (Mabbim)
21. 1993-1995: Kepala Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LPEM-FEUI)
22. 1994-1995: Pakar Ekonomi pada P3I DPR-RI
23. 1991-1993: Wakil Kepala Bidang Penelitian LPEM-FEUI
24. 1989-1990: Koordinator Bidang Ekonomi pada PAU-Ek-UI
25. 1990: Pengajar pada Sekolah Tinggi Ekonomi, Keuangan dan Perbankan Indonesia (STEKPI) untuk mata kuliah Pengantar Makroekonomi
26. 1985-1987: Anggota Tim “Perkembangan Perekonomian Dunia” pada Asisten II Menteri Koordinator Bidang EKUIN

Kegiatan Lain:
• American Economist Association (AEA), anggota
• Society for International Development (SID), anggota
• Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI): 1996-2000 sebagai Pembantu Ketua Bidang III
• Komite Pemantau Korupsi Nasional (KONSTAN) – National Corruption Watch (NCW), sejak peresmian pada 6 April 2000 sebagai Ketua Dewan Etik.
• Partai Amanat Nasional (PAN): Pendiri; periode 1998-2000 sebagai Sekretaris Jenderal; 2000-01 sebagai Ketua yang membawahi bidang Penelitian dan Pengembangan. Bea Siswa / Penghargaan
• Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1981.
• Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan-Proyek Pengembangan Pusat Fasilitas Bersama antar Universitas/IUC (Bank Dunia XVII), 1987-88.
• Dosen Teladan III Universitas Indonesia, 1996.

Penghargaan:
Dosen Teladan III Universitas Indonesia (1996)
– Penghargan “Pejuang Anti Korupsi 2003,” diberikan oleh Masyarakat Profesional Madani (MPM), Gedung Joang 45, Jakarta, 15 Januari 2004
– “FEUI Award 2005” untuk kategori prestasi, komitmen dan dedikasi dalam bidang sosial kemasyarakatan, Depok, 17 September 2005

Alamat Kantor :
– STIE Perbanas, Jalan Perbanas, Karet Kuningan, Setiabudi, Jakarta 12940 Telepon (021) 5252533, 5222501-04, 5228460 Faksimile 5228460

– Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), Gedung Depperindag Lt.12, Jalan Gatot Subroto Kav. 52-53, Jakarta

Alamat Rumah:
Jalan Bambu Indah 49 RT 009/RW 03, Kalisari, Pasar Rebo, Jakarta 13790 Telepon (021) 87707322 Faksimile (021) 8728949 HP 0811-902-466

Sumber:
FaisalBasri.com

Prof. Dr. Mangadas Lumban Gaol, M.Si


Data diri

Nama : Prof. Dr. Mangadas Lumban Gaol, M.Si
Tempat Tanggal Lahir: Bakara Marbun, 17 November 1965
Alamat : Perumahan Baumata Blok A. No 4
Pekerjaan : Dosen Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknik (FST) Undana
Jabatan : Dekan FST
Pendidikan : SDN Bakara Marbun tamat 1979
SMPN Bakara tamat 1982
SMAN 5 Medan tamat 1985
S1 Universitas Negeri Medan tamat 1990
S2 Universitas Gaja Mada-Yogyakarta tamat 1996
S3 Curtin University Of Technology-Perth Australia tamat 2002

Istri : Agustinar Marpaung
Anak-anak : Dea Carolina Larasati Lumban Gaol
Bella Cristin Lumban Gaol
Easter Tiur Lumban Gaol
John Curtin Partahi Lumban Gaol

Prof. Dr. Mangadas Lumban Gaol, M.Si

MINIMNYA dokumentasi tentang potensi dan kekayaan flora dan fauna di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menyebabkan tidak banyak orang mengetahui kekayaan alam di bumi Flobamora ini. Padahal, jika semua kekayaan ini bisa didokumentasikan dengan baik, maka pengembangan hayati untuk berbagai kepentingan bisa dilakukan dengan baik.
Prof. Dr. Mangadas Lumban Gaol, M,Si, ahli bidang hayati mengatakan, keanekaragaman hayati meliputi kanekaragaman jenis, varietas, genetik dan ekosistim. Indonesia, termasuk NTT, sangat kaya akan aneka jenis hayato karena wilayah ini berada di daerah Khatulistiwa. Sayangnya data-data lengkap mengenai keanekaragaman hayati belum lengkap. Minimnya data-data tersebut juga berpengaruh pada upaya-upaya pelestarian.Berikut perbicangan petikan Pos Kupang dengan Prof. Mangadas Lumban Gaol.

Saat pidato pengukuhan sebagai guru besar, Anda mengangkat tentang dokumentasi hayati….
Maksudnya begini, kita yang belum mempunyai data- data lengkap tentang keanekaragaman hayati. Karena kanekaragaman hayati menyangkut keanekaragaman jenis, keanekaragaman varietas, genetik dan keanekaragaman ekosistim.

Sementara kita termasuk salah satu negara yang dijuluki mega biodiversity country. Kita sebenarnya dianugerahi Tuhan kekayaan seperti itu, tetapi kita sendiri belum mempunyai data yang akurat tentang itu, khususnya di NTT. Data sangat penting untuk kemajuan ke depan.

Bagaimana kita mengomersialisasi kekayaan yang kita memiliki sementara data saja belum kita miliki? Oleh sebab itu, maka dalam pengukuhan saya sebagai guru besar saya mengatakan bahwa penulisan seperti Flora of Timor, Flora of East Nusa Tenggara sangat penting sekali.

Maksudnya?

Artinya begini, kira-kira flora-flora apa yang kita miliki sekarang, fauna-fauna apa yang kita miliki. Kita belum memiliki buku seperti itu. Untuk negara-negara maju rata-rata sudah punya. Contohnya, Flora of Kupang, inilah dasar kita untuk mengkomersialisasikan itu.

Nah itu tentang keanekaragaman hayati. Tentu banyak yang sepesifikasi daerah, tapi kita belum punya data misalnya spesies endemik di NTT apa. Contoh, katakanlah dari dulu untuk proses di bidang kehutanan misalnya penghijauan, kita kan cenderung menggunakan spesies-spesies alien (spesies luar).

Contoh pinus. Pinus itu kan spesies dari luar karena bantuan luar negeri ke Indonesia sehingga ditanam pinus di Indonesia. Padahal, pinus itu adalah tanaman daerah temporate dan tidak cocok dengan kita. Kita lebih baik menggunakan tanaman lokal kita, yang kita identifikasi mempunyai keunggulan. Jadi kira-kira itu yang pokok. Kita belum memiliki data itu.

Siapa yang punya kompetensi untuk dokumentasi kekayaan hayati?

Untuk kompetensi itu adalah ahli-ahli ekologi, ahli botani. Dan, itu harus difasilitasi pemerintah dan pemerintah harus memberikan perhatian sehingga mereka mempunyai kesempatan dan peluang untuk melakukan itu. Kita mempunyai beberapa seperti orang-orang botani dan ahli ekologi, tetapi yah sampai sekarang kita belum punya. Khususnya kita di NTT belum punya, mungkin ada beberapa daerah sudah ada, misalnya Flora of Kalimantan, tetapi belum begitu bagus.

Beberapa waktu lalu LIPI melakukan penelitian semacam eksepdisi. Kalau saya lihat referensi mereka lebih banyak ke Sulawesi, Papua. Di Papua mereka menemukan beberapa jenis baru semacam kodok. Kenapa NTT tidak menjadi tempat mereka ekspedisi juga. Apa masalahnya?
Mungkin mereka memandang Kalimantan termasuk memiliki keanekaragaman lebih tinggi di Indonesia di banding NTT. Tetapi, bukan berarti NTT tidak perlu, karena yang NTT miliki merupakan spesifik di sini kan. Yang spesifik di NTT tidak sama dengan mereka.

Untuk itu kita perlu tahu juga tentang ini. Mungkin keterbatasan dana sehingga mereka masih berpusat pada daerah-daerah yang dianggap keanekaragamannya jauh lebih tinggi.

Tapi, kita dengan pulau-pulau yang banyak, spesiasi terkait dengan pulau-pulau, kalau pulaunya terisolasi akan terbentuk spesies yang khas untuk daerah tersebut. Jadi, susah. Mungkin kita mempunyai spesies burung yang bernilai tinggi tapi kita tidak memperhatikan itu.

Bahkan mungkin sudah banyak punah karena pengetahuan yang kurang cukup untuk kita.

Apakah referensi kita kurang sehingga para ahli kurang berminat ke sini?
Yah memang kurang, tapi mau tidak mau kita kalau ingin maju maka harus berbuat mulai sekarang. Referensi kita bisa gunakan dari luar. Katakanlah dulu Australia misalnya, bahkan mereka sudah memiliki flora base. Flora base itu artinya sudah bisa diakses dengan menggunakan suatu program komputer tentang flora- flora yang mereka miliki. Karena kita tidak bisa menggunakan referensi lain, karena masing-masing flora berbeda-beda. Kita mungkin masalah perhatian yang kurang dan dana yang kurang.

Harapan saya ke depan, pemerintah di daerah ini memberikan perhatian, mau mendanai. Apakah sekarang pemerintah daerah mendanai untuk kita menyusun buku mengenai Flora of Nusa Tenggara, karena di situ akan ada distribusinya dan pemanfaatannya secara umum.

Karena dari penelitian akan terungkap semua kekayaan yang kita miliki dan selanjutnya ada studi lanjut. Dan, gambaran dasar mengenai kekayaan bisa membuat kita tercengang,,, oh…ini lho kekayaan kita, oh ini flora kita, oh fauna kita.

Dan, dari dokumentasi itu akan diketahui tinkat keterancamanya, mungkin saja sudah banyak yang hilang. Contoh, semakin menurunnya populasi cendana, banyak jenis burung kita kehilangan, karena tidak mempunyai makanan. Oleh sebab itu, kita perlu identifikasi permasalahan lahan dan diperlukan tindakan konservasi yang kita lakukan dari data-data tersebut.

Para pakar mengatakan NTT dalam beberapa tahun lagi jadi gurun. Pendapat Anda?

Yah, bisa terjadi. Karena kalau misalnya tindakan pembakaran hutan, illegal loging berlangsung, kita akan bisa mengarah pada padang gurun. Tapi saya yakin negara akan melakukan langkah-langkah konservasi, rehabillitasi lahan. Bukan hanya itu, kan juga menyangkut sumber daya air.

Contoh, untuk Kota Kupang kita kan bisa prediksi, katakanlah 20 tahun mendatang berapa jumlah penduduk Kota Kupang. Lalu airnya dari mana kita peroleh. Air itu kan terkait dengan tanaman. Nah, untuk negara maju mereka menghutankan suatu kawasan demi menjaga air. Krisis air akan terjadi kalau terus terjadi penebangan hutan.

Apa yang harus dilakukan pemerintah?

Lebih banyak menanam. Setiap pemerintah kabupaten harus bisa memprediksi pertumbuhan penduduk dengan ketersediaan air yang diperlukan. Supaya ada persiapan.

Bila hutan terus berkurang, air juga akan berkurang. Mengatasinya bagaimana?
Dengan cara menjaga hutan dan menghutankan kembali kawasan yang telah rusak. Dan, setiap program harus diprediksi dengan bai. Saya ambil contoh, di Australia ada suatu daerah yang berupaya bagaimana cara meningkatkan debit air. Satu hektar bisa menghasilkan air sekian dan sekian hektar bisa menghasilkan berapa. Sehingga mereka tahu bahwa kalau kebutuhan air mereka sekian, penumbuhan hutan akan mereka lakukan. Semakin banyak tumbuhan semakin banyak air yang tersimpan.

Berarti Di NTT hutan semakin berkurang?
Nah itulah kendalanya. Makanya saya bilang, kalau dari riil total hutan, penghijauan yang dilakukan di NTT semestinya NTT sudah penuh dengan hutan. Tetapi ternyata tindakan reboisasi itu selama ini tidak begitu efektif.

Kenapa tidak efektif?

Tidak efektif itu salah satu dugaan saya karena dilakukan dengan sistem proyek. Menanam tanaman itu kan hidup, mestinya diperlakukan dengan cara yang lain. Kalau dia ditenderkan pada musim kemarau dan ditanam, tidak ada yang hidup. Lebih baik dengan memberdayakan masyarakat untuk menanam pohon. Selama ini, katakanlah bulan September sampai November ditenderkan lalu anakan ditanamkan tidak akan ada yang tumbuh dan semua mati. Karena dia ditanam pada musim yang tidak tepat. Kita harus tanam di awal musim hujan sehingga pada saat musim hujan dia sudah kuat dan tumbuh. Jadi karena sistim proyek itu.

Kira-kira flora apa yang bisa dibanggakan di NTT?

Cendana. Kalau akses di internet sekarang, cendana itu disebut dengan Indian Sandlewood, bukan Timor Sandlewood. Kalau saya baca literatur-literatur, itu dulu kan ditanam di India yang dibawa oleh padagang Malaka ketika datang ke Timur. Mereka bawa bijinya ditanam dan dikembangkan di India, sekarang di kembangkan di Cina dan Australia Barat. Sedangkan di sini tidak, yah akhirnya namanya sekarang Indian Sandlewood, bukan Timor Sandelwood. Padahal, ini merupakan tanaman yang sangat mahal yang harus dikembangkan dan kebanggaan. Bukan hanya dari segi kayunya tetapi juga wisatanya. Contohnya, Kupang ini bisa membuat suatu areal untuk menanam cendana di situ, datang wisatawan melihat cendana dan sebagainya. Kan bisa dibuat semacam hutan kota dengan ciri khas tanaman. Yang saya inginkan untuk hutan Pulau Timor. Kalau hutan Flores kan banyak jenis. Untuk Pulau Timor itu cendana memang menjadi favorit dan jadi perhatian kita.

Berarti harus ada kebijakan yang revolusioner untuk cendana ini….

Harus ada tindakan yang nyata, jangan biasa-biasa saja. Harus mau mengalokasikan anggaran yang besar untuk merehabilitasi cendana. Itu butuh waktu tidak terlalu lama, hanya 15 tahun. Sekarang harga cendana di pasar internasional delapan dollar per kilo.

Cendana ini banyak kegunaannya seperti untuk berbagai jenis parfum, bahan kosmetik dan kebutuhan lainnya. Mungkin juga untuk obat-obatan. Kita harus kembalikan kepada kejayaan cendana. Justru sekarang India, Cina dan Australia mengembangkan cendana. Saya sudah pergi ke pabrik cendana di Australia, di sana langsung ada pabrik, tempat wisata dan hutan cendana dan ada mall khusus untuk hasil cendana. Apa susahnya, misalnya kasih uang Rp 5 miliar untuk merehabilitasi cendana satu tahun? Saya lihat selama ini hanya omong- omong saja dan action-nya tidak ada. Kita bagi semua warga daratan Timor anakan cendana, tunggu 15 tahun lagi, sudah penuh dengan cendana.

Cendana memang semakin berkurang. Apa masalahnya menurut Anda?
Salah satu penyebabnya adalah over ekspoitasi. Selama ini kalau ditelusuri Perda NTT tentang cendana, dari jaman dulu kan hanya menguasai cendana dan tidak pernah cerita tentang menanam cendana. Jadi yang dieksploitasi lebih tinggi dari daya regenerasi. Sekarang ini sudah sulit mencari generasi alami, cendana sekarang di NTT sudah pada taraf hampir bermasalah di reproduksi. Sekarang ini misalnya ambil 100 biji cendana, paling jago temukan 10 yang berkecambah. Ini akibatnya apa karena terjadi imbriding. Imbriding itu mengakibatkan daya produktivitasnya makin rendah akibat populasinya semakin menurun. Populasi semakin menurun akibatnya daya kecambahnya semakin rendah. Yang selama ini terjadi, kita semakin banyak mengeksploitasi sementara upaya menanam kembali tidak ada. Sebenarnya, upaya rehabilitasinya masih mudah.

Tapi, sifat cendana sendiri saat menanam agak manja. Harus ada tumbuhan sebelahnya, dan ini salah satu faktor membuat petani enggan menanam. Apakah demikian?

Tidak. Sebetulnya cendana merupakan tanaman hemiparasit. Dia bisa mengolah makanan sendiri, karena dia dapat berfotosintesis tetapi ada unsur-unsur tertentu harus peroleh dari tanaman lain. Itu yang disebut dengan inang atau host. Tapi, cendana itu punya inang banyak sekali, bisa hidup dengan jeruk, bisa hidup dengan mangga dan tidak ada masalah.

Artinya yang penting ada tanaman lain, karena dia bisa mempunyai inang ke ratusan tumbuhan. Yang penting tanaman inangnya itu tanaman yang bersifat alelopati yang menghasilkan racun, seperti okaliptus, contohnya di Gunung Mutis tidak cocok. Tapi banyak tanaman kita di sini yang cocok sebagai inang tanaman cendana. Kalau dibilang manja juga tidak, dia adalah tanaman yang tahan kering, cuma pertumbuhanya yang relatif lambat. Dan masalah lainnya adalah cendana yang masih muda disenangi hewan-hewan pemakan rumput sehingga
sering dimakan oleh hewan ternak seperti sapi dan kambing. Tapi kalau kita usaha maka tidak ada masalah yang terlalu berat.

Ada pendapat bahwa menanam cendana rugi karena usia produksinya lama.
Mungkin ada benarnya, tapi kan kita juga harus tanam disesuaikan dengan lahan. Kan enaknya cendana tu kan dia bisa ditanam di lahan-lahan yang tidak produktif untuk kegiatan pertanian. Misalnya, untuk sawah atau jagung tidak masalah, dia daunya tidak lebat, bisa juga ditanam sambil berkebun. Oleh sebab itu, di negera- negara maju memberi instrumen artinya ada bantuan, bahkan ada perusahaan yang mengembangkan cendana dengan memberikan kemudahan oleh pemerintah. Istilahnya insentif untuk masyarakat untuk menanam cendana. (alfred dama)

Profesor Doktor Sejak SMP

MENJADI profesor butuh proses panjang dan sulit bagi sebagian orang. Namun, tidak sedikit yang bercita-cita menjadi guru besar, seperti Mangadas Lumban Gaol. Pria yang suka menonton pertandingan tinju ini sudah berkeinginan menjadi seorang profesor sejak masih di SMP.
“Kalau dibilang cita-cita yah mungkin. Saya memang sejak SMP suka menulis nama saya dengan profesor doktor. Mungkin saya punya cita-cita sejak masa itu,” jelasnya.

Cita-cita tidak sekedar cita-cita. Belajar dan kerja keras dilakukannya untuk mencapai gelar tersebut. Dan, kini gelar tersebut bisa disandangnya sejak dikukuhkan menjadi guru besar oleh Rektor Universitas Nusa Cendana (Undana), 12 Februari 2010 lalu.

Pria kelahiran Bakara Marbun-Sumatera Utara, 17 November 1965 ini juga menyukai dunia pertanian. Namun ia memilih untuk menjadi pengajar bidang tumbuh-tumbuhan. “Kan ini masih terkait dengan tanam- tanaman juga, kebetulan saya juga suka pertanian,” jelasnya.

KUPANG/ALFRED DAMA. Pos Kupang Minggu 4 Juli 2010