Pirmian Tua Dalam Sihombing


papiPirmian Tua Dalam Sihombing, yang dalam / komunitasnya lebih dikenal dengan n ama Pe t e d e, lahir di tongan-dalan (tengah jalan) kawasan Pahae, Tapanuli Utara, pada tanggal 26 Februari 1936, dari pasangan orangtuanya, Pendeta Albert Sihombing-Lumbantoruan dan Orem bom Hutabarat, ketika orangtuanya itu sedang dalam perjalanan mcnuju rumah sakit bersalin di Tarutung. la menikah dengan Mintha Vluhon Parotua Boru Hutabarat dan beroleh anugerah empat putri dan satu putra, yakni Tridecy, Ikatri, Ingrid, Octavianus dan Maritez, beserta tujuh orang cucu.
.
Selepas dari S.R.di Muara, dekat Bakkara, pendidikan formalnya diteruskan pada SMP/B HKBP di Seminari-Sipoholon, tamat tahun 1953; lalu SMEA Negeri di Jakarta (1957). Dia mendapat gelar Sarjana Muda Pendidikan-Ekonomi dari FKIP Universitas Padjadjaran (1961) dan Sarjana Pendidikan-Ekonomi dari FKIP-U.I. (1964). Terakhir ia menggondol gelar M.Sc. in Commerce (major in Banking & Finance) pada Institute of Graduate Studies, Far Eastern University, Manila (1972).
.
Pendidikan non-formalnya cukup beragam, baik di luar maupun di dalam negeri. Di antara puluhan workshop dan training bergengsi yang pernah diikutinya, antara lain adalah Management Executive Course (1972) dan Management Development Program (1973), kedua-duanya di Manila. Kemudian Orientation to the U.S. Industry (1982) dan Manager of Research and Analysis Course (1985), di Amerika Serikat; serta Market Research & Analysis Workshop di Hong Kong (1994); ketiga program tcrakhir diselenggarakan oleh The International Trade Administration, U.S. Department of Commerce.
.
Karirnya berwarna-warni; menapaki beberapa jalur yang dapat dikatakan ber-jauhan satu sama lain. Mengikuti jejak ayah dan ketiga orang abangnya, ia mulai bekerja sebagai guru pada Kursus Dagang Pertengahan (KDP) Negeri di Bandung (1957-1961). Menjadi kepala sekolah pada Kursus Karyawan Pertengahan (KKP) Negeri, Jakarta (1962-1964). Kemudian alih-lapangan kerja menjadi planter, Asisten Tingkat-I, naik mcnjadi Deputy Manager pada perkebunan Rambung Sialang dan Turangie, Perusahaan Perkebunan Negara (PPN) “Dwikora I” di Sumatra (1964-1969). Mclakukan alih-lapangan kerja lagi, menjadi staf-lokal (Asisten Atase Penerangan dan Kebudayaan) KBRI Manila (1970-1972).
.
Beralih lapangan kerja untuk ketiga kalinya, ia menjadi Staff-Consultant pada Sycip Gorres-Velayo (SGV) Philippines (1972-1973); kembali ke tanahair unluk menjadi Senior Consultant pada PT. SGV-Utomo, Jakarta (1973-1980). Dalam bidang profesi ini ia mendalami dan mendisain sistem dan prosedur adiministrasi keuangan bagi banyak organisasi dan perusahaan. Terakhir setelah lagi-lagi beralih lapangan kerja, ia menjadi Manager of Research and Analysis (MRA) pada U.S. Business Center di Jakarta, dari 1980 sampai mendapat hak pensiun-penuh pada tahun 1998.
.
Pengabdiannya yang bersifat paroh-waktu ialah mengajar pada beberapa lembaga pendidikan tinggi, seperti Instruktur luar-biasa pada Sekolah Calon Perwira (Secapa) Infantri, Pusat Pendidikan Infantri, Bandung pada Angkatan ke-IV dan V, 1959-1961; Akademi Arsitektur Pertamanan (AKAP), Akademi Maritim Indonesia (AMI) dan Akademi Sekretaris & Manajemen Indonesia (ASMI) di Jakarta (1963-1964). Kemudian sebagai Visiting Lecturer pada Asian Center, University of the Philippines, Quezon City, Pilipina, 1971-1972; dan dosen senior yang membimbing ratusan mahasiswanya mempersiapkan skripsi, pada Fakultas Ekonomi, Universitas Kristen Indonesia, Jakarta, 1979-1990.
.
Pengabdiannya di lingkungan Gereja dimulai dari keanggotaan Board of Elders (penatua) pada Grace Lutheran Church, Pasay City, Pilipina (1970-1973). Kemudian dia menjadi sintua (penatua) HKBP Kebayoran Lama dari 1978-2001; di antaranya sclama 15 tahun (1987-2001) melayani sebagai guru-jemaatnya. Menjadi sinodist tetap resort itu, 1984-1992, sampaikemudianterpilihjadi anggota Majelis Pusat HKBP pada periode 1992-1998. Dalam kapasitasnya sebagai anggota Majelis Pusat, ia mendapat tugas pelayanan sebagai Ketua Dewan Keuangan Umum (DKU) HKBP pada periode itu, merangkap Pembina (Paniroi) Dewan Zending. Sejak tahun 2001 ia turut mengabdi sebagai dosen senior pada STT Apostolos, dalam mata-kuliah Manajemen Gereja dan Misi. .
.
Kegiatan menulis sudah sangat menarik minatnya sejak muda, antara lain menulis puisi, cerpen dan esei. Beberapa artikelnya yang bersifat human interest dan budaya, antara lain dimuat dalam Harian Sinar Indonesia Baru, Sinar Harapan, Majalah Bona Ni Pinasa, dan beberapa lainnya. Pelayanannyayang cukup lama di Ladang Tuhan, sepertinya membuat tu!is-menulis di bidang gerejani juga menjadi “profesinya” yang kedua. Di antara banyak tulisannya adalah dua makalah komprehensif berjudul The Balak People Before the Coming of Christianity dan The Development ofBatak “Lutheran Church “, yang disampaikannya sendiri kepada para peserta Sinode Tahunan Lutheran Pastors of the Philippines (LCP) pada tanggal 4 dan 5 Mei 1973 di Baguio City, Pilipina.

Dia adalah penulis-utama untuk “Bunga Rampai” pengenangan kepada salah seorang tokoh kontemporer dalam sejarah HKBP, berjudul Pelayanan Kontemporer Dalam Masyarakat Majemuk; Pengabdian Ephorus Emeritus Ds. Dr. Tunggul Sihombing. Buku lain yang ditulisnya adalah Bertumbuh Dalam Kasih Karunia Kristus. la menulis puluhan ceramah/makalah dalam bidang pembinaan pemuda Gereja serta adiminstrasi keuangan-Gereja. Salah satu di antara banyak tulisannya adalah yang bersifat “gagas-terobosan” berjudul Sentralisasi Penggajian Pelayan Tetap HKBP, dengan usulan pembentukan Dana Abadi HKBP. Makalah itu disajikan pada Musyawarah Sintua HKBP Seluruh Indonesia (1995) dan Musyawarah Pendeta HKBP Seluruh Indonesia (1996), kedua-duanya terselenggara di Jakarta. Makalah ini kemudian dimuat sebagai tulisan bersambung dalam Immanuel, majalah bulanan HKBP.

Sejatinya dia bukan seorang yang berlatar-belakang pendidikan persejarahan. Namun pengalamannya yang panjang dan luas, dan keberadaannya di tengah-tengah keluarga-besar para pelayan Tuhan yang sudah mengabdi sejak masa keperintisan, sangat memancing minatnya, dan telah mengisi pengetahuan dan cakrawalanya yang luas tentang missiologi, baik di dalam negeri maupun di seantero jagat.

Iklan

Hokky Situngkir


Anak Seorang Pendeta

Hokky Situngkir termasuk salah satu di dalamnya. Ini adalah sebuah penghargaan yang akan diberikan kepada tokoh-tokoh pemikir yang berjasa didalam bidangnya masing-masing & merupakan pemberian Award yg ke-9 kalinya. Utk thn ini penghargaan diberikan kepada 6 tokoh yakni bidang Sains, Kedokteran, Teknologi, Sosial, Sastra, dan bidang khusus ilmuwan berprestasi.

Dia lahir di Pematangsiantar Sumatera Utara, 7 Februari 1978. Selama ini merupakan peneliti Surya Research International. Berbagai area penelitian interdisipliner mulai dari studi artificial societies and social simulations, memetics and cultural studies, dynamical system analysis, neural network and statistical modeling, dan financial analysis.

Adapun ke-6 tokoh yang akan mendapatkan penghargaan Achmad Bakrie tersebut adalah: Adrian B. Lapian (Alm) (Pemikiran Sosial), Nh Dini (Kesusastraan), Satyanegara (kedokteran), Jatna Supriatna (Sains), F.G Winarto (Teknologi), Hokky Situngkir ( Hadiah Khusus untuk Ilmuan Muda Berprestasi). Atas prestasi ini Hokky Situngkir akan mendapatkan Tropi, piagam dan uang tunai sebesar Rp. 250 juta.

Dia juga merupakan salah seorang pendiri dan ketua departemen Computational Sociology di Bandung Fe Institute, organisasi penelitian kompleksitas pertama di Indonesia. Ketika masih berstatus mahasiswa ITB merupakan anggota Majelis Permusyawaratan Mahasiswa di Himpunan Mahasiswa Elektroteknik, Tim Materi Orientasi Studi Keluarga Mahasiswa ITB, Kepala Divisi Dana Tim Beasiswa KM ITB, dan Kepala Divisi Budaya Unit Kesenian Sumatera Utara ITB.

Dam  puluhan publikasi penelitiannya telah diterbitkan di berbagai tempat baik dalam skala nasional maupun internasional seperti Journal of Social Complexity, Physica A, Journal of Peace and Conflict Resolution, dan Journal of Literary Complexity Studies. Hokky Situngkir aktif pula dalam maintenance web tutorial Sosiologi Komputasional berbahasa Indonesia di http://compsoc.bandungfe.net  dan situs kartogram Indonesia http://compsoc.bandungfe.net/kartografi-indonesia.

Dia juga aktif dalam berbagai pertemuan ilmiah berskala nasional dan internasional seperti Conference of Application of Physics in Financial Analysis, International Conference on World of Heterogenous and Interacting Agents, Complexity in Cultural and Literary Studies, World New Economic Window, dan International Conference in Computational Intelligence in Economics and Finance. Saat ini Hokky Situngkir juga menjabat sebagai presiden di Bandung Fe Institute dan seorang research fellow di Surya Research International.

Pekerjaan:
Pendiri dan Peneliti di Bandung Fe Institute
Research Fellow di Surya Research International
Pendiri Indonesia Budaya Inisiatif Nusantara
Editor Anggota Journal of Kompleksitas Sosial

Bidang Minat
Teori sosiologis, Cultural Studies, Masyarakat Buatan, Sosial-dinamis psikologi, Ilmu Perilaku, Agen Berbasis Pemrograman, Filsafat Ilmu, Komputasi Keuangan.

 

Alamat:
Department of Computational Sociology
Bandung Fe Institute
Jl. Sarimadu No. 175, Sarijadi Blok 24
Bandung, Jawa Barat, Indonesia, 40164
ph./fax: +62 22 82025586
JAWA BARAT – INDONESIA
e-mail: hs@compsoc.bandungfe.net
hokkysitungkir@gmail.com

Midian Sirait, Prof


Midian Sirait: Penyelamat Danau Toba dan Andaliman

Midian Sirait

Orang sukses beragam. Ada orang sukses karena orangtuanya sudah terlebih dahulu membuka jalan, maka ia pun sukses. Ada orang sukses karena sengaja merekayasa, atau korupsi, dan menghalalkan segala cara demi sebuah ambisi. Tetapi, tidak banyak orang sukses yang memulai pendakiannya dari bawah, merangkak, dan mencapai puncak. Dan, tidak banyak orang meraih sukses sebagaimana Professor Midian Sirait, 82 tahun, menunjukkannya.
Memulai kariernya sebagai guru sekolah rakyat di satu desa terpecil di Porsea hingga kemudian menjadi guru besar satu universitas bergengsi di negeri ini. Memulai usaha sebagai tukang hingga akhirnya memiliki pabrik obat. Atas jasa-jasanya, pemerintah Indonesia telah menganugerahkan berbagai penghargaan, di antaranya: Pertama, Bintang Gerilya dari Presiden RI. Kedua, Perang Kemerdekaan I dan II. Ketiga, Satya Lencana Penegak.
Midian lahir di Lumban Sirait, 12 November 1928, saat baru sebulan pemuda Indonesia memaklumatkan “Sumpah Pemuda” dalam suasana keadaan sebuah bangsa yang sedang bergolak. Rumah dari Ompung Midian dan Ompung Sabam Sirait (tokoh PDI Perjuangan) berhadap-hadapan, sebagaimana layaknya di sebuah huta di Tanah Batak.
Dalam suasana penjajahan, ketika berumur tujuh tahun, Midian mau masuk sekolah Belanda. Sayang, sekolah itu tidak menerima anak-anak pribumi. Di sekolah Belanda itu yang diterima itu adalah anak-anak amtenar, anak pendeta dan anak-anak pedagang yang sudah tinggi blastingnya, pajaknya. Namun, penolakan itu tidak mengurungkan niatnya bersekolah. Oleh ayahnya dia didaftarkan ke sekolah Volksschool, yang pengantarnya menggunakan berbahasa Batak. Ayahnya, Immanuel Sirait, kemudian mempelopori berdirinya sekolah di Porsea. Sang ayah mengundang semua yang punya toko di Porsea dan kepala negeri dari marga Narasaon, yaitu Manurung, Sirait, Butarbutar, dan Sitorus. Mereka sepakat mendirikan yayasan pendidikan Mangarera namanya. Mangarera adalah nama dari nenek-moyang keempat marga tersebut.
Lulus dari sekolah tukang, setingkat sekolah menengah pertama, dia melanjutkan pendidikan guru bawah di Porsea. Setelah lulus, Midian kemudian menjadi guru pembantu di sekolah itu. Salah seorang muridnya adalah Tunggul Sirait, adik kandungnya sendiri, yang di kemudian hari menjadi rektor Universitas Kristen Indonesia.
Setelah kemerdekaan, katub menuju kemajuan yang selama ini tertutup baginya, sekarang terbuka lebar. Cita-citanya adalah pekerjaan yang mulia: menjadi guru, sekalipun itu berarti dia harus meninggalkan Bona Pasogit.
Dia memulai karier dari yang paling bawah sekali, pada awal kemerdekan Indonesia, tahun 1945. Ketika itu dia bekerja sebagai ahli pertukangan kayu. Pada waktu masih di Porsea Midian juga turut memikul senjata melawan penjajah Belanda. Setelah Indonesia merdeka, Midian mangaratto atau merantau ke Jakarta.
Di Jakarta, di samping menjadi guru, Midian juga pemimpi usaha majalah pendidikan “Ganeça,” lambang ilmu pengetahuan dan dewa pengetahuan. Majalah tersebut dirikannya bersama dua temannya. Untuk mencari iklan, Midian harus berjalan kaki dari Guntur ke Glodok, yang jaraknya sekitar sepuluh kilo. Tetapi, akhirnya majalah ini tutup karena kurangnya tanggapan masyarakat.
Pemuda asal Lumban Sirait ini kemudian memulai karier baru sebagai pengatur obat di Pabrik Obat Manggarai, milik Departemen Kesehatan. Dia kemudian ditempatkan sebagai asisten apoteker pada Fakultas Ilmu Pasti Alam di Bandung sebagai bagian dari Universitas Indonesia ketika itu. Kesempatan itu tidak disia-siakannya. Dia bekerja sambil mengikuti kuliah farmasi. Tahun 1956, setelah telah lulus sarjana muda apoteker, Midian muda diangkat menjadi asisten dosen.
Menyaksikan negeri Napoleon

”Sambil saya pegawai sambil saya kuliah, dan saya mulai aktif di GMKI,” ujar Midian mengenang keterlibatannya dalam Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia. Organisasi mahasiswa Kristen ini menurut dia banyak memberikan pelajaran berharga sepanjang kariernya. Termasuk tawaran beasiswa yang dia terima untuk belajar di Jerman. Tak berlama-lama, Midian langsung menerimanya. Informasi itu dia dapat dari Sabam Siagian, rekannya sesama aktivis GMKI. Kebetulan Sabam Siagian, menerima undangan dari Gerakan Mahasiswa Kristen Jerman, yang menyatakan ada kesempatan yang disediakan untuk dua orang dengan kriteria sarjana muda. Pas untuk Midian. Tetapi, dia harus menanggung sendiri ongkos perjalanan ke negara tersebut.
Sudah sejak lama Midian bercita-cita untuk melihat negara-negara maju di Eropa. Dia terpukau dengan biografi Napoleon, dan dia ingin menyaksikan Perancis. Namun cita-cita itu tidak segampang yang diperkirakan untuk menjangkaunya. Midian harus membayar tiket sendiri. Tidak ada rotan akar pun jadi, kira-kira demikianlah Midian menyingkap apa yang dia hadapi. Midian kemudian menjual motornya, ditambah gaji dari perusahaan dimana dia bekerja.
Di Jerman, Midian mencapai gelar doktor, gelar yang tak pernah terlintas di benaknya. Dan yang paling membahagiakan bagi Midian di Jerman, dia mendapatkan jodoh gadis Jerman, Ellen, yang kemudian hari berganti nama menjadi Kunze boru Situmorang. Jodoh tidak memakukan kaki Midian di Jerman, tetapi malah mendorongnya untuk kembali ke Indonesia. Sesampainya di Indonesia, dia melapor ke ITB, kampus yang pernah memberikan kesempatan baginya sebagai asisten dosen.
Sebelum bertolak ke Jerman, Midian adalah staf ITB. Berangkat ke negeri Schiller itu dia menggunakan hak cuti di luar tanggungan negara. Pada saat kembali ke kampus yang membesarkannya, pada tahun 1965, dia menemukan suasana yang menggairahkan. Sedang berlangsung pemilihan rektor baru. Para mahasiswa mendekati Midian untuk mencalonkannya sebagai pembantu rektor bidang kemahasiswaan, yang dijabatnya tahun 1965-1969. Tahun 1968- 1978 dia pun dipercayakan menjadi anggota DPRGR- DPR RI dan MPR. Jabatan penting ini diperkirakan ada hubungannya dengan pertemuannya sebagai ketua perhimpinan mahasiswa Indonesia di Jerman dengan Presiden Soeharto yang sedang berkunjung ke negara itu.
Kariernya terus menanjak. Tahun 1978, dia dipercayakan pemerintah menjadi anggota BP 7 untuk menyusun Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila yang dikenal dengan P4. Dan, yang tak kalah penting dalam kariernya adalah jabatannya sebagai Direktur Jenderal Pengaasan Obat dan Makanan, Departemen Kesehatan (1978-1988). Midian pensiun sebagai Guru Besar ITB tahun 1993.
Sejarahnya di bidang pendidikan tidak hanya mencatat dia pernah mendirikan sekolah setingkat SMP di Manggarai, karena Midian adalah juga salah seorang pendiri Universitas Maranatha, Bandung.
Menurut pengakuannya, dia juga terlibat membidani lahirnya Komite Nasional Pemuda Indonesia, 23 Juli 1973, dan duduk sebagai Ketua Dewan Pembina. “Saya mulai ikut berpolitik di Eropa, banyak datang pimpinan-pimpinan angkatan darat. Jenderal D.I Panjaitan, atase militer di Jerman, adalah penghubung kami. Saat itu, saya menjadi ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia, PPI, organisasi ini berpolitik. Karena atase militer datang, maka kita mulai berhubungan dengan militer di Indonesia, tetapi di bawah pengetahuan Soekarno. Lalu saya masuk di dalam forum anti-Komunis, karena sikap itulah yang memberikan ruang berpolitik bagi saya,” katanya menguraikan.
Di bidang politik, Midian tidak hanya dikenal sebagai salah satu pendiri Golkar. Menurut Midian, Golkar adalah gabungan dari 250 organisasi. Ketua umumnya adalah militer dengan pangkat letnan jenderal, sementara sekretaris jenderalnya selalu dijabat oleh seseorang yang berpangkat mayor jenderal. ”Sebenarnya Golkar itu tentara. Tapi, kami sengaja masuk untuk memberikan arah politik, jangan terus tentara lagi-lagi menjadi pimpinan Golkar. Memang suatu waktu jangan militer lagi yang jadi ketua. Setelah itu saya kenal Ali Murtopo. Dan dia lihat pikiran kami baik dan harus berada di Golkar. Kemudian disusunlah doktrin Golkar, semacam ideologinya Golkar. Yang paling pokok, saya pula ikut merumuskannya. Sasaran kegiatan Golkar adalah terbentuknya masyarakat kekaryaan yang berdasarkan Pancasila. Jadi kalau tidak ada seperti itu, perjuangan politiknya hambar, pragmatis.”

Andaliman
Sejak reformasi, dia melihat partai yang selama ini dia perjuangkan sudah makin moleng, miring. Setelah Golkar tidak lagi jelas arahnya, dia pun keluar dari dengan diam-diam. Dan dia melihat perlunya mendirikan partai yang berasaskan nilai-nilai Kristiani. Maka, Midian bersama teman-temannya mendirikan Partai Demokrasi Kasih Bangsa, yang dideklarasikan 5 Agustus 1998. “Saya bilang ke Akbar, saya akan bentuk partai tanpa menghapus Golkar dari hati saya,” kenangnya.
Semula, niatnya mendirikan PDKB adalah bagaimana orang Protestan dengan Katolik bisa bersatu dalam satu partai. Lalu, tampuk ketua umum jatuh ke Manase Malo. Midian kemudian mengundang para cedikiawan Kristen. Sedari awal tidak terbetik di pikirannya untuk memimpin partai PDKB. ”Karena saya sudah tahu, jangan orang Batak lagi, mesti orang dari timur, tetapi Batak yang memberikan peranan.” katanya. Pada pemilihan umum 1999 PDKB memperoleh lima kursi di DPR, salah satu adalah adiknya, Tunggul Sirait.
Saat menjadi pembatu rektor ITB, Midian mengusulkan kepada pemerintah agar tumbuh-tumbuhan, rempah-rempah, yang sarat dengan obat itu terus dijaga kelestariannya. Oleh karena itu, Midian mengusulkan salah seorang mahasiswanya untuk melakukan penelitian mengenai mamfaat andaliman yang dalam bahasa ilmiahnya disebut zanthoxylum acanthopodium DC.
Andaliman tumbuh di dataran Tiongkok, India, Burma, Thailand, Siam, Tibet, dan daerah-daerah subtropis Himalaya. Sementara di Tanah Batak sendiri andaliman sudah sejak lama digunakan sebagai bumbu masak. Andaliman adalah bumbu utama dalam makanan “naniura,” masakan yang dimatangkan dengan cara pengasaman selama 24 jam. Kombinasi antara andaliman dengan asam memberikan rasa dan aroma yang menyengat. Apabila dicicipi akan menggetarkan lidah.
”Sejak dulu saya tertarik pada rempah dari Bona Pagogit. Di ITB saya yang pilih mahasiswa untuk membuat skripsi tentang andaliman. Karena tanaman ini jarang di dunia. Dia tumbuh di daratan dengan ketinggian 1000 meter lebih, seperti di daerah Siborong-borong dan Humbang-Hasundutan. Tanaman ini sudah mulai habis. Dia hanya tumbuh liar. Maka, saking tertariknya saya, saya minta mahasiswa untuk menjadikannya bahan sebagai bahan penelitian,” ujar matan guru besar ITB itu.
Midian ketika itu menunjuk mahasiswanya, Maruap Siahaan, seorang mahasiswa jurusan Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung. Maka, jadilah sikripsi berjudul Pemeriksaan Minyak Atsiri dan Isolasi Senyawa Getir dari Buah Andaliman. Dan pembimbing utama sendiri tak-lain-tak-bukan adalah Professor Dr. Midian Sirait.

Melawan Indorayon
Karena cintaanya pada Danau Toba, dia ikut mendirikan Yayasan Perhimpunan Pecinta Danau Toba, dan menjadi ketuanya yang pertama. Semula dia tidak keberatan dengan pembangunan pabrik bubur kayu Indorayon di Porsea. Tetapi, dampak yang ditimbulkannya sampai-sampai ayah-ibunya misir (pindah) ke Parapat, hanya untuk menghindari bau busuk dari pabrik itu. Selain itu, banyak masyarakat Porsea pindah, saking baunya limbah Indorayon. Oleh karena itu, masyarakat melancarkan demonstrasi saban hari untuk menuntut penutupan Indorayan.
Pabrik itu, selain telah merusak tanaman warga, juga merusak Danau Toba. Melihat itu, Midian kemudian berkonsultasi dengan Sarwono, menteri lingkungan hidup ketika itu. Kemudian Sarwono bilang akan mendatangkan konsultan dari Amerika Serikat untuk meneliti apa yang terjadi di Porsea.
”Lalu, kemudian diadakan rapat di Laguboti, diadakan horja untuk meminta menteri Lingkungan Hidup untuk menguji kualitas, termasuk kualitas udara. Penelitian itu disetujui oleh Indorayon. Datanglah dari Amerika Serkiat tim yang terdiri dari delapan orang. Kedatangan tim ini dibiayai oleh Indorayon. Ternyata, penelitian cara Amerika ini agak beda. Mereka konsultan, tapi yang bayar Indorayon, bukan pemerintah. Jadi begitu selesai, mereka tidak berikan laporannya pada saya. Saya di situ sebagai penasihat.”
Midian bercerita lebih lanjut: ”Nggak ada laporannya, Sarwono pun katanya tidak dikasi laporan. Menurut undang-undang Amerika Serikat, siapa yang membayar untuk consulting, maka dia yang terima laporan. Kita dikibulin. Lalu, saya mengundurkan diri, karena masyarakat sudah serahkan kepercayaannya kepada saya. Lalu saya buat surat ke Habibie, teman saya ketika di Jerman. Saat itu dia sudah menjadi Presiden. Tak lama kemudian, saya dipanggil presiden sebagai ketua yayasan pecinta danau toba. Saya didampingi ketua penasihat yayasan, yaitu Jenderal Maraden Panggabean. Kami meminta Habibie untuk menutup Indorayon. Ditambah juga penjelasan Sintong Panjaitan, yang ketika itu sebagai asisten khusus presiden, bahwa dampak yang diberikan Indorayan sudah sedemikian parah,” ujar Midian.
Kemudian? ”Habibie perintahkan (Indorayon) untuk ditutup. Saya bilang kepada orang Indorayon pindahkan saja pabrik ke daerah yang sepi penduduk. Zaman Abdurahman Wahid, beliau juga bilang, kalau sudah ditutup ya ditutup saja. Kemudian masa pemerintahan Megawati, Menteri Tenaga Kerja, Jacob Nuwawea, ketika itu didatangi Indorayon. Ada orang yang dibiayai oleh Indorayon, untuk menemui Jacob Nuwawea dengan alasan ’masyarakat butuh pekerjaan, Indorayon menyerap tenaga kerja’ Ini kan hanya ulah beberapa orang saja. Katanya Indorayon sudah punya teknologi baru, padahal tidak ada.”
Gejalanya yang diderita penduduk biasanya muntah-muntah. Penduduk tak keberatan pabrik tetap beroperasi asal tidak menyebar racun. Indorayon beroperasi lagi berdasarkan izin dari Jacob Nuwawea. Sebagai kader PDI Perjuangan, Jacob kemudian lapor ke partainya itu. Di lapangan, Indorayon memang sudah tidak menyebarkan bau lagi. ”Karena rumah saya persis di situ. Sekarang penduduk sudah lebih tenang, tidak lagi bau, karena rayon tidak diproduksi lagi, hanya pulp. Dan pabrik itu mengganti namanya menjadi Toba Pulp Lestari,” kata Midian.
Timbullah bencana. Caustic soda tumpah di kampung Lumban Lobu, yang berasal dari Indorayon. Sungai di situ tercemar. Tim peneliti dari Amerika Serikat, didatangkan untuk memastikan ada tidaknya kimia berbahaya dalam tumpahan itu. Tetapi, hasil penelitiannya tak pernah diumumkan. Hanya dibekap di laci Indorayon.
Di masa tuanya, Midian Sirait masih terus bekerja, sesekali membantu perusahaan obat yang didirikannya bersama anaknya, Poltak Michael M Sirait. Barangkali, tak banyak yang tahu tentang keterlibatannya dalam penyelamatan Danau Toba, yang dirusak oleh gelombang kapital yang menjarah dan merusak danau kedua terbesar di dunia itu. Perjuangannya untuk mensucikan Porsea, dari mana air Danau Toba melintas mengikuti lekak-liku Sungai Asahan sebelum tumpah ke Selat Malaka, akan tetap dikenang. Midian, yang di usia senjanya harus menjalani cuci darah dua kali seminggu akan tetap menjadi ilham bagi orang Batak dalam perjuangan mereka untuk mempertahankan tanah kelahiran mereka. ***Hotman J Lumban Gaol

ket: sudah pernah dimuat di majalah TAPIAn edisi Mei 2010

Chairuddin Panusunan Lubis


Nama:
Prof. Chairuddin Panusunan Lubis, DTM&H.Sp.A(K)

Prof. Chairuddin Panusunan Lubis


Lahir:
Kuala Tungkal, Jambi, 18 Maret 1945
Agama:
Islam
Postur:
TB 173 cm BB 74 kg
Pendidikan:
Fakultas Kedokteran USU 1974
Program spesialis anak tahun 1980
Pekerjaan:
Rektor USU
Dosen parasitologi di FMIPA USU, waktu itu masih FIPIA
Asisten ilmu kesehatan anak (1976-80)
Sekretaris Pendidikan Mahasiswa Bagian Ilmu Kesehatan Anak di FK USU (1976-79)
Sekretaris Program Pendidikan Spesialis Anak (1980-83),
Kepala Subbag Penyakit Infeksi (1980-90),
Kepala Bagian Ilmu Kesehatan Anak (1983-86),
Kepala Unit Pelaksana Fungsional di RSU Pirngadi (1983-91),
Sekretaris Tim Koordinator Pelaksana Program Pendidikan Dokter Spesialis (1990-92),
Ketua Jurusan Ilmu Kedokteran Anak (sejak 1990) dan
Perwakilan Corsorsiium Health Sciences
Organisasi:
Pengurus Bridge Cabang Sumut,
Ketua IDAI Sumut dan Aceh.
Penghargaan:
Penerima Medica Award 1992 bidang penelitian
Prof. Chairuddin Panusunan Lubis, DTM&H.Sp.A(K)
Si Abang nan Lembut, Jujur dan Tegas

Ada tiga prinsip yang dipegang dokter yang setiap hari memeriksa ratusan anak-anak ini dalam memimpin USU. Ketiga prinsip itu ialah lemah-lembut, jujur dan tegas. Rektor Universitas Sumatera Utara yang selalu menyebut mahasiswa sebagai “adik-adik” ini masih terbiasa disapa dengan kata “abang” oleh junior dan adik-adiknya itu.

Tahun 1995 merupakan tahun emas bagi bangsa Indonesia. Begitu pula bagi Chairuddin Panusunan Lubis yang dilantik Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI menjadi Rektor USU akhir tahun 1995 itu. Tapi, dokter spesialis anak yang berpraktek di Jl Abdullah Lubis ini sedikit lebih tua dari Republik Indonesia, karena ia lahir pada tanggal 18 Maret 1945, di Kuala Tungkal, Jambi.

Dari nama lengkapnya yang terdapat kata Panusunan (dalam bahasa Indonesia maksudnya adalah pemimpin, pengatur, penata, atau penyusun), orang yang mengerti tradisi dan budaya Tapanuli segera memahami bahwa Chairuddin kecil kelak diharapkan menjadi orang yang mampu mengurus hal-hal penting bagi masyarakatnya. Doa yang tersirat dalam nama lengkapnya itu kemudian menjadi kenyataan. Pria berperawakan tinggi 173cm dan berat 74kg yang ketika mahasiswa dikenal “jagoan” bola pimpong dan bridge ini adalah mantan aktivis organisasi kemahasiswaan.

Ketika namanya muncul sebagai kandidat Rektor, banyak yang belum tahun bahwa dosen yang pada usia 42 tahun sudah berpangkat Pembina Utama Muda (IV/C) dan menjadi Guru Besar pada usia 45 tahun ini punya segudang pengalaman memimpin. Agaknya, karena pria yang ketika masih mahasiswa ini sudah terbiasa dengan “penderitaan” tergolong low profile, maka tak banyak yang tahu bahwa perjalanan hidupnya seperti namanya yang memakai kata Panusunan

Sejak mahasiswa, putra pensiunan perwira menengah ini sudah biasa memimpin, menyusun dan melaksanakan rencana kerja, baik dalam skala akademik maupun organisasi. Ketika masih duduk di akhir tingkat tiga, Prof. Chairuddin sudah mendapat kepercayaan sebagai asisten parasitologi di almamaternya, Fakultas Kedokteran USU. Kemudian oleh teman-temannya di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat FK USU, pada tahun 1970-72 dia diberi mandat sebagai Ketua Umum. Belum diwisuda sebagai dokter umum, tahun 1973-74 Chairuddin ditugaskan sebagai dosen parasitologi di FMIPA USU, waktu itu masih FIPIA. Lulus dokter umum tahun 1974.

Selang dua tahun setelah dilantik sebagai dokter umum, disamping menjadi asisten ilmu kesehatan anak (1976-80), dokter yang tamat program spesialis anak tahun 1980 ini sudah diserahi tugas sebagai Sekretaris Pendidikan Mahasiswa Bagian Ilmu Kesehatan Anak di FK USU (1976-79). Seterusnya menjadi Sekretaris Program Pendidikan Spesialis Anak (1980-83), Kepala Subbag Penyakit Infeksi (1980-90), Kepala Bagian Ilmu Kesehatan Anak (1983-86), Kepala Unit Pelaksana Fungsional di RSU Pirngadi (1983-91), Sekretaris Tim Koordinator Pelaksana Program Pendidikan Dokter Spesialis (1990-92), Ketua Jurusan Ilmu Kedokteran Anak (sejak 1990) dan Perwakilan Corsorsiium Health Sciences

Dalam profesi dan kegiatan sosial lainnya bintang sepakbola “Lansia” (baca: lanjut usia) USU ini, pernah dan masih menduduki sejumlah posisi kunci. Sekadar menyebut dua contoh: Salah seorang Ketua Tim Operasi Kembar Siam, Pengurus Bridge Cabang Sumut, dan Ketua IDAI Sumut dan Aceh. Penerima Medica Award 1992 bidang penelitian ini juga menerima banyak penghargaan. Misalnya, dari lembaga kemahasiswaan. Atas jasa-jasa yang diberikannya secara ikhlas untuk menjungjung tinggi almamater USU, pada tahun 1974, Dewan Mahasiswa USU memberinya penghargaan dan ucapan terima kasih. Sedangkan karya ilmiahnya, tercatat ada 47 judul, ini baru untuk kategori sebagai penulis utama saja

Dalam sebuah acara santai di Hotel Tor Sibohi, Tapanuli Selatan (SUMUT), baru-baru ini, di sela-sela alunan suara dr. Baren Ratur Sembiring, Prof.Chairuddin mengatakan, ada tiga prinsip yang dipegang dokter yang setiap hari memeriksa ratusan anak-anak ini dalam memimpin USU. Ketiga prinsip itu ialah lemah-lembut, jujur dan tegas. Ketika saya tanya lagi di sela-sela acara temu ilmiah IDI Cabang Tapanuli Selatan bulan Agustus 1995 lalu, Rektor yang selalu menyebut mahasiswa sebagai “adik-adik” dan masih terbiasa disapa dengan kata “abang” oleh junior dan adik-adiknya ini mengulanginya, “lemah-lembut, jujur dan tegas”

*** Tokoh Indonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia), dari web site http://www.usu.ac.id

Parakitri Tahi Simbolon


Parakitri Tahi Simbolon (lahir di Rianiate, Pulau Samosir, 28 Desember 1947), adalah seorang esais, sosiolog, cerpenis, novelis, wartawan/eks redaktur senior KOMPAS, pengelola Pusat Informasi dan Litbang Kompas, dan pendiri penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG).

Lulus dari SMA Katholik Budi Mulia Pematangsiantar, dia sempat setahun penuh belajar di Seminari Menengah Pematangsiantar untuk memuaskan minatnya menjadi pastor. Kemudian dia melanjutkan studi di Jurusan Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta (1967-1972).

Pada tahun 1974-1975 dia mendapatkan beasiswa kerja sama Indonesia-Prancis untuk belajar di Institut International d’Administration Publique (IIAP), Paris. Laporan penelitiannya, Les Aides de Developpement et La Haute Volta, penelitian lapangan mengenai bantuan luar negeri untuk pembangunan ekonomi di Burkina Faso, ketika itu bernama Volta Hulu (La Haute-Volta), Afrika Barat, mengakhiri studinya di IIAP.

Sejak Februari 1976, sepulangnya dari Prancis, dia bergabung dengan harian Kompas dan mulai menulis kolom-kolomnya yang dikenal sebagai Cucu Wisnusarman (1979-1984), yang telah dibukukan dan diterbitkan oleh PT Grafindo Mukti (1993) dan penerbit Nalar (2005). Tahun 1986-1990, dengan dibiayai oleh harian Kompas, dia memperoleh kesempatan untuk melanjutkan studi di Vrije Universiteit, Amsterdam. Pada 5 Februari 1991, dia mempertahankan disertasinya mengenai etnisitas dan perdagangan besar di kota metropolitan Jakarta. Karena etnisitas adalah produk sejarah, maka dia merunut gejala itu dari tahun 1619, sejak Jakarta bernama Batavia. Kegemarannya akan sejarahlah yang mendorongnya melahirkan buku Menjadi Indonesia pada 1995, buku pertama dari tiga buku yang direncanakan Kompas mengenai proses kebangsaan Indonesia.

Hobi menulisnya telah menghasilkan banyak karya, tak hanya berupa artikel maupun buku, dia juga pernah menulis skenario film. Salah satu skenario filmnya, yaitu Gadis Penakluk berhasil memenangkan Piala Citra dalam Festival Film Indonesia (FFI) pada 1981. Tahun 1982, skenario filmnya, Topaz Sang Guru yang disadur dari naskah drama Marcel Pagnol, Topaze, mendapat nominasi untuk aktor terbaik Piala Citra FFI. Dia pun melakukan beberapa penelitian pendahuluan, antara lain mengenai proses awal “Orde Baru”. Sebagian hasil penelitian tersebut diterbitkan sebagai artikel dalam Prisma, Desember 1977. Artikel tersebut, Di Balik Mitos Angkatan ‘66, kemudian dimuat dalam buku kumpulan artikel pilihan Prisma, yaitu Analisa Kekuatan Politik di Indonesia (LP3ES, 1985).

Karya-karyanya antara lain adalah novel Ibu, pemenang sayembara mengarang cerita anak-anak muda UNESCO dan Ikapi (1969), juara dua sayembara majalah Sastra (1969) lewat cerpen Seekor Ikan Gabus, dan novel Si Bongkok (1981) yang meraih hadiah kedua dalam sayembara mengarang novel Gramedia Kompas. Selain itu buku-bukunya adalah Kusni Kasdut (Gramedia, 1981), Politik Kerakyatan saduran dalam bentuk cergam dari The Discourses on Livy (Italian: Discorsi sopra la prima deca di Tito Livio) karya Niccolò Machiavelli (KPG, 1997), buku pegangan wartawan Vademekum Wartawan: Reportase Dasar (KPG, 1997), Matinya Ilmu Ekonomi 1, saduran dalam bentuk cergam dari The Death of Economics karya Paul Ormerod (KPG, 1997), Pesona Bahasa Nusantara Menjelang Abad ke-21 (KPG, 1999), kumpulan cerpen Tawanan (PBK, 2003), terjemahan Batas Nalar: Rasionalitas dan Perilaku Manusia (KPG, 2004).

Saat ini dia tengah menerjemahkan buku The Power of Prophecy: Prince Dipanagara and The End of An Old Older in Java 1785-1855 karya Peter Carey. Sebuah buku tentang sejarah perjalanan kepahlawanan Pangeran Diponegoro.

Dia melanjutkan studi di Jurusan Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta dari 1967 sampai 1972. Karena situasi politik saat itu, dia mengurungkan niat menjadi dosen di sana.

Di luar rencana, dia mencoba melamar kerja di Departemen Luar Negeri di Jakarta dan dinyatakan lulus. Beberapa waktu kemudian dia mendapat bea siswa kerja sama Indonesia-Prancis untuk belajar di Institut International d’Administration Publique (IIAP), Paris (1974-1975). Laporan penelitiannya, Les Aides de Developpement et La Haute Volta, penelitian lapangan mengenai bantuan luar negeri untuk pembangunan ekonomi di Burkina Faso, ketika itu bernama Volta Hulu (La Haute-Volta), sekarang Burkina Faso, Afrika Barat, mengakhiri studinya di IIAP.

Sepulang dari Prancis, sejak Februari 1976, dia bergabung dengan harian Kompas. Di sinilah dia menulis kolom-kolomnya yang dikenal sebagai Cucu Wisnusarman, yang telah dibukukan dan diterbitkan oleh PT. Grafindo Mukti (1993) dan penerbit Nalar (2005). Tahun 1986-1990, dia dibiayai oleh harian Kompas untuk studi di Vrije Universiteit te Amsterdam dan pada 5 Februari 1991, dia mempertahankan disertasinya mengenai etnisitas dan perdagangan besar di kota metropolitan Jakarta. Karena etnisitas adalah produk sejarah, maka dia harus meruntut gejala itu dari tahun 1619, sejak Jakarta bernama Batavia. Kegemarannya akan sejarahlah yang mendorongnya melahirkan buku Menjadi Indonesia pada tahun 1995, buku pertama dari tiga buku yang direncanakan Kompas mengenai proses kebangsaan Indonesia.

Hobi menulisnya telah menghasilkan banyak karya, tak hanya berupa artikel maupun buku, dia juga pernah menulis skenario film. Salah satu skenario filmnya, yaitu Gadis Penakluk berhasil memenangkan Piala Citra dalam Festival Film Indonesia (FFI) pada tahun 1981. Di tahun 1982, skenario filmnya, Topaz Sang Guru yang disadur dari naskah drama Marcel Pagnol, Topaze, mendapat nominasi untuk aktor terbaik Piala Citra FFI. Dia pun melakukan beberapa penelitian pendahuluan, antara lain mengenai proses awal “Orde Baru”. Sebagian hasil penelitian tersebut diterbitkan sebagai artikel dalam Prisma, Desember 1977. Artikel tersebut Di Balik Mitos Angkatan ‘66, kemudian dimuat dalam buku kumpulan artikel pilihan Prisma, yaitu Analisa Kekuatan Politik di Indonesia (Jakarta: LP3ES, 1985), hlm. 149-163.

Karya-karyanya yang memenangi sejumlah sayembara antara lain adalah novel Ibu (1969), pemenang sayembara mengarang cerita anak-anak muda UNESCO dan Ikapi, juara dua sayembara majalah Sastra (1969) lewat cerpen Seekor Ikan Gabus, dan novel Si Bongkok (1981) meraih hadiah kedua dalam sayembara mengarang novel Gramedia Kompas. Selain itu buku-bukunya yang lain adalah Kusni Kasdut (Gramedia, 1981), buku pegangan wartawan Vademakum Wartawan (KPG, 1997), Pesona Bahasa Nusantara Menjelang Abad ke-21 (KPG, 1999), kumpulan cerpen Tawanan (PBK, 2003), terjemahan Batas Nalar: Rasionalitas dan Perilaku Manusia (KPG, 2004).

Saat ini dia tengah menyelesaikan buku The Power of Prophecy Prince Dipanagara and The End of An Old Older in Java 1785-1855 karya Peter Carey. Sebuah buku tentang sejarah perjalanan kepahlawanan Pangeran Diponegoro.

Parakitri T. Simbolon adalah pendiri Kepustakaan Populer Gramedia (KPG).

Sebenarnya ada seorang cendekiawan Batak Toba yg cukup bagus menguasai sejarah, filosofi, dan faktor-faktor yg mempengaruhi perubahan sosial dan pergeseran nilai-nilai anutan masyarakat Batak. Namanya Parakitri T Simbolon, seorang esais, cerpenis, novelis, wartawan/eks redaktur senior Kompas, ahli filsafat dan ilmu-ilmu sosial, yg sekarang memimpin kelompok penerbitan Kompas Gramedia (KPG). Untuk keperluan studi doktoralnya di Belanda, ia bertahun-tahun melakukan riset dan penelusuran tulisan-tulisan lak-lak dan pendapat para penulis asing, misionaris, pejabat pemerintah Hindia Belanda, dll, menyangkut alam dan manusia Batak, yg dituangkan dlm buku maupun kertas kerja (report, makalah, dll). Ia menguasai aksara dan bahasa Batak dng sempurna–membuat saya malu, yg terlanjur dicap paham budaya Batak hanya lewat sebuah novel sederhana berjudul SORDAM, yg kebetulan ber-setting alam dan bertokoh manusia Batak Toba.

sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Parakitri_T._Simbolon

Pantur Silaban


PANTUR SILABAN – Dari Snellius ke EinsteinPantur Silaban
SEKALI peristiwa di awal dasawarsa lima puluhan. Seorang murid SMP di Sidikalang terpana pada keterangan guru ilmu alamnya. “Sinar yang masuk dari udara ke dalam air selalu dibelokkan.” Laki-laki remaja itu pun bertanya: mengapa? Tak ada jawaban memadai.
Hukum Snellius mengenai pembiasan itu merupakan pintu masuk bagi Pantur Silaban mencintai fisika. Karena tak ada jawaban jitu dari sang guru, ia pun bernazar akan menggeledah rahasia alam melalui studi fisika di kemudian hari.
Dalam perjalanan ruang-waktu, minat Pantur melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi setelah lulus SMA ikut pula bergerak. Selain mendalami fisika, ia berhasrat pula mempelajari teologi. Meninggalkan Sumatera selepas sekolah lanjutan atas, pria kelahiran Sidikalang, 11 November 1937 itu mampir di Jakarta membekali diri mengikuti ujian saringan masuk sekolah tinggi teologi. “Anehnya, saya sakit selama di Jakarta mempersiapkan diri masuk ke sana,” katanya. Perjalanan diteruskan ke Bandung. Tujuannya satu: kuliah fisika di ITB. Dia diterima di sana.
Waktu pilih Fisika, tak ada masalah dengan orangtua?
“Ayah saya yang pedagang dan buta huruf hanya mengatakan, Kamu terserah pilih apa“. Kami hanya bisa membantu menyekolahkan. Saran saya ambil bidang yang kamu suka.’ Tak disuruh pilih yang menghasilkan uang sekian,” kata Pantur mengenai kebebasan yang ia peroleh dari ayahnya, Israel Silaban, memilih jurusan.

Orangtua Pantur, pasangan Israel Silaban dan Regina br. Lumbantoruan, adalah pedagang yang berhasil. Pendek cerita, keluarga ini tergolong berada di lingkungan Sidikalang dan sekitarnya.
Dalam tempo enam setengah tahun, waktu optimal pada zaman itu merampungkan kuliah tingkat sarjana, Pantur lulus pada tahun 1964 dan berhak menyandang gelar doktorandus dalam fisika. Ia langsung diterima sebagai anggota staf pengajar Fisika ITB.
Selama kuliah kecenderungannya pada bidang tertentu dalam fisika mulai terbentuk. Pantur amat menggandrungi matematika murni dan mata kuliah yang tergolong dalam kelompok fisika teori, seperti mekanika klasik lanjut, teori medan elektromagnetik, mekanika kuantum, dan teori relativitas Einstein. Maka, ketika datang kesempatan studi lanjut di Amerika Serikat pada tahun 1967, tujuannya sudah jelas. “I go there just for the General Relativity Theory, no other things,” katanya. “Itu yang ada di benak saya waktu itu.”
Siapakah fisikawan yang paling tepat menuntunnya belajar Relativitas Umum Einstein di tingkat doktor? Dan di perguruan tinggi manakah fisikawan-fisikawan itu bermarkas di Amerika Serikat?
Albert Einstein (1879-1955) pada saat itu sudah 12 tahun di alam baka. Tapi, semasa hidupnya ia salah satu pendiri sekolah –semacam fakultas—yang menjadi tempat khusus mempelajari teori gravitasi dan Relativitas Umum Einstein. Sekolah itu berada di bawah Universitas Syracuse, New York dan termasyhur sebagai pusat studi gravitasi dan Relativitas Unum yang pertama dan terkemuka di dunia, bahkan sampai saat ini. Di sana mengajar teman-teman dan murid-murid dekat Einstein, antara lain Peter Gabriel Bergmann. Dia fisikawan pertama yang menulis buku daras tentang Relativitas Umum Einstein.
Karya Bergmann itu, Introduction to the Theory of Relativity, mendapat tempat khusus di kalangan fisikawan teoretis dengan spesialisasi teori gravitasi atau Relativitas Umum. Selain dianggap sebagai salah satu buku babon tentang relativitas, kitab inilah satu-satunya tempat di mana Einstein pernah menulis kata pengantar.
Pantur diterima di sekolah itu. Tentang pentingnya kedudukan sekolah gravitasi Universitas Syracuse itu, Dr. Clifford M. Will dari Universitas Washington di St. Louis seperti dikutip The New York Times (23 Oktober 2002) ketika menurunkan obituari atas Peter G. Bergmann menulis sebagai berikut: “Pada masa-masa akhir 1940an Syracuse adalah tempat yang tepat untuk bekerja dalam Relativitas Umum karena tak ada tempat lain di dunia yang melakukannya.”
Untung baginya sebab Bergmann bersedia menjadi ko-pembimbing untuk disertasinya. Dengan demikian, Pantur merupakan fisikawan Indonesia yang berguru langsung kepada murid dan kolega Einstein dalam Relativitas Umum. Ia merupakan satu dari 32 mahasiswa dari seluruh dunia yang mempelajari Relativitas Umum di Syracuse dengan Bergmann sebagai pembimbing atau ko-pembimbing dalam kurun tahun 1947-1982. Tak salah kalau orang menyebutnya sebagai cucu murid Einstein.
Adapun pembimbing utamanya lebih muda dari Bergmann, tapi juga raksasa dalam Relativitas Umum. Dialah Joshua N. Goldberg. Nama-nama itu terasa Yahudi. Universitas Syracuse memang didominasi oleh orang-orang Yahudi, baik dosen maupun mahasiswanya. Sekali waktu dalam sebuah kuliah, Pantur menggambarkan almamaternya itu dengan lelucon segar yang tentu saja didasarkan pada fakta: “Hanya ada dua jenis manusia yang diterima di Syracuse. Yang pertama Yahudi, yang kedua adalah orang pintar. You tahu, saya bukan Yahudi.”
Di Syracuse selain mendalami fisika teoretis, Pantur juga menyerap etos belajar dan etos kerja orang-orang Yahudi di sana. Meski inteligensi mereka relatif tinggi-tinggi, mahasiswa-mahasiswa Yahudi menghabiskan sebagian besar waktu mereka di luar kuliah untuk belajar, belajar, dan belajar. Demikian pula dosen-dosennya. Lampu kamar kerja dosen di sana masih benderang sampai pukul sembilan malam. Kerja keras semacam itu plus otak cemerlang barangkali yang menjelaskan betapa orang-orang berdarah Yahudi menempati jumlah terbanyak dalam daftar peraih Nobel Fisika.
Pantur menyerap pola belajar dan pola kerja seperti itu selama kuliah di sana. Tapi, sekali waktu Pantur ada keperluan pulang lebih lekas ke tempat tinggalnya. Tak enak baginya ketahuan pulang lebih awal. “Akhirnya saya terapkan kelihaian yang khas Indonesia,” katanya sambil tersenyum. “Saya biarkan lampu kamar kerja saya menyala, sementara saya pulang ke tempat tinggal saya.”
Tentu perbuatan ini tak berulang. Sebab bila terulang, niscaya Pantur akan kesulitan memenuhi ajakan Goldberg dan Bergmann ikut dalam upaya mendamaikan Teori Medan Kuantum dan Relativitas Umum demi menemukan Teori Kuantum Gravitasi, teori yang diimpikan semua fisikawan teoretis sedunia, yang memerlukan ketekunan bagi disertasinya. Berbulan-bulan menguantisasi Relativitas Umum supaya akur dengan Medan Kuantum; Pantur, Goldberg, dan Bergmann gagal membidani Teori Kuantum Gravitasi. Fisikawan-fisikawan di Institute for Advanced Studies di Princeton mengingatkan mereka bahwa proyek itu adalah pekerjaan kolektif dalam skala besar yang membutuhkan waktu 25 tahun.
Alih-alih berkeras mendapatkan kuantum gravitasi, akhirnya Pantur mengikuti saran Goldberg. Dengan saran itu, ia pun mengalihkan topik untuk disertasinya: mengamputasi prinsip Relativitas Umum dengan menggunakan Grup Poincare untuk menemukan kuantitas fisis yang kekal dalam radiasi gravitasi. Temuan ini mengukuhkan keberpihakannya kepada Dentuman Besar (Big Bang) sebagai model pembentukan Alam Semesta ketimbang model-model lain.
Pekerjaan itu selesai pada tahun 1971 dan mengukuhkan Pantur Silaban sebagai Ph.D. dengan disertasi berjudul Null Tetrad Formulation of the Equations of Motion in General Relativity. Garis-garis besar mengenai apa yang dicapai dalam disertasinya ini tercantum dalam Dissertation Abstracts International, Volume: 32-10, Seksi: B, halaman: 5963 .
Tiga tahun kemudian Joshua Goldberg—yang banyak menghasilkan risalah penting fisika yang dimuat di jurnal utama seperti Physical Review D, Journal of Mathematical Physics, Journal of Geom. Physics—merujuk pekerjaan Pantur ini dalam risalahnya, Conservation Equations and Equations of Motion in the Null Formalism, yang diterbitkan General Relativity and Gravitation, Volume 5, halaman 183-200. Karya lain yang menjadi rujukan dalam risalah ini adalah dari dua orang mahafisikawan dunia, Hermann Bondi dan Roger Penrose. Jadi, dapatlah ditebak tempat Pantur dalam Relativitas Umum.
Setahun setelah menyelesaikan disertasinya, Pantur kembali di Bandung pada tahun 1972 dan mengajar di Jurusan Fisika ITB. Orang pertama Indonesia yang mendapat doktor dalam Relativitas Umum itu adalah orang Sumatera pertama—tidak sekadar orang Batak pertama—yang mendapat Ph.D. dalam fisika. Sebuah risetnya setelah disertasi ini dimuat di Journal of General Relativity and Gravitation. Sekian makalahnya mengenai teori gravitasi dan fisika partikel elementer dimuat di berbagai prosidings dalam dan luar negeri. Ya, sebagai seorang fisikawan teoretis, Pantur juga menggumuli fisika partikel elementer.
Beberapa kali diundang sebagai pembicara di International Centre for Theoretical Physics (ICTP) yang didirikan fisikawan Pakistan pemenang Nobel Fisika, Abdus Salam, Pantur selalu mencermati indikasi akan keberhasilan ditemukannya Teori Kuantum Gravitasi. Katanya suatu kali dalam sebuah kolokium di Jurusan Fisika ITB, “Dengan menganggap partikel sebagai titik, upaya menguantumkan Relativitas Umum berhadapan dengan singularitas yang tak bisa dihilangkan.” Itu sebabnya ketika teori string—yakni teori fisika yang menganggap partikel sebagai seutas string, bukan titik sebagaimana diasumsikan sejak zaman Democritus (460-370 SM)—menghangat pada pertengahan 1980an hingga awal 1990an, Pantur menggumulinya dan bekerja untuk mendapatkan Teori Kuantum Gravitasi.
“Timbul pula masalah yang tak kalah besarnya,” katanya. “Kita berhadapan dengan perumusan grup simetri yang parameternya sampai 496. Waduh, payah ini.”
Singkat kata, baik dengan memandang partikel terkecil sebagai titik maupun sebagai seutas tali (string), Teori Kuantum Gravitasi yang didamba-dambakan itu masih saja belum berhasil ditemukan. “Jadi, sebetulnya masih banyak proyek dalam fisika teori,” kata Pantur.
Peran sentral Pantur membangun komunitas fisika teori di Indonesia, yang antara lain beranggotakan fisikawan Hans Jacobus Wospakrik (almarhum) yang adalah muridnya semasa S-1, tidak diragukan lagi. “Sulit membayangkan kehadiran fisika teori di Indonesia tanpa Pak Silaban,” kata Triyanta, mantan ketua Departmen Fisika ITB, yang adalah muridnya dan menyelesaikan Ph.D. dari Universitas Tasmania, Australia dalam fisika teoretis.
Sebagai seorang dosen, Pantur adalah komunikator ulung. Ia hadir di kelas dengan membawa kapur saja sebab, “Setiap kali masuk kelas, seorang dosen harus siap dengan bahan yang akan ia ajarkan, sesulit apa pun kuliah yang ia berikan. Tapi, itu tidak menjamin bahwa setiap pertanyaan mahasiswa bisa kita jawab.” Selalu saja ada ilustrasi-ilustrasi yang mudah dikenang dalam kuliahnya untuk memudahkan mahasiswa menangkap konsep fisika yang rumit-rumit. Yang juga tak pernah ketinggalan dalam setiap kuliahnya adalah humor-humor yang segar dan tampaknya autentik. “Beberapa fisikawan di Maryland pernah menghitung temperatur surga dan neraka dengan menggunakan statistik Boltzman, Bose-Einstein, dan Fermi Dirac,” katanya dalam sebuah kuliah. “Ternyata suhu neraka sedikit lebih rendah daripada suhu surga. Itu sebabnya orang lebih banyak berbuat jahat karena neraka ternyata lebih sejuk.”
Karena referensi dalam bahasa Indonesia untuk fisika teori sangat minim, Pantur Silaban pada tahun 1979 menerbitkan buku daras Teori Grup dalam Fisika. Kemudian ia menerbitkan buku Tensor dan Simetri. Pertengahan 1980an, bekerja sama dengan Penerbit Erlangga, dia menerjemahkan banyak buku daras teknologi mesin, elektroteknik, dan matematika yang dipakai perguruan-perguruan tinggi terbaik dunia.
Pantur Silaban dikukuhkan sebagai guru besar ITB dalam fisika teoretis pada Januari 1995. Ia memasuki masa pensiun per 11 November 2002. Tapi, ketua Jurusan Fisika waktu itu, Pepen Arifin, mempertahankannya untuk terus mengajar. “Kalau Jurusan kekurangan ruang kerja, saya sediakan kamar saya untuk beliau,” kata Freddy P. Zen, ketua Kelompok Bidang Keahlian Fisika Teori ITB memperkuat tawaran Pepen Arifin.
Sebagai penghormatan kepada Pantur yang telah memasuki masa pensiun, murid-muridnya mengadakan Seminar Sehari A Tribute to Prof. P. Silaban pada 20 Februari 2003 di ruang kuliah bersejarah Jurusan Fisika ITB, Ruang 1201. Di sana hadir civitas academica dari Jurusan Fisika dan jurusan-jurusan lain di ITB yang mengenal Pantur dengan baik. Beberapa komentar yang terungkap dalam seminar itu antara lain berasal dari guru besar Matematika ITB, M. Ansjar, dan guru besar Fisika ITB, The Houw Liong.
“Bila suasana akademis di ITB dan Indonesia memadai, bukan tak mungkin Pak Silaban menghasilkan kontribusi yang sangat berarti dalam fisika,” kata M. Ansjar sebagaimana dibacakan Freddy P. Zen.
“Yang selalu saya ingat dari Pak Silaban adalah pernyataannya bahwa segala sesuatu, termasuk ruang dan waktu, akan berakhir,” kata The Houw Liong. “Yang tidak berakhir adalah hukum alam.”
Rektor ITB ketika itu, Kusmayanto Kadiman, dan Ketua Departemen Fisika saat itu, Pepen Arifin, pada 30 Agutus 2004 mendaulat Pantur Silaban menggelar kuliah umum populer Umur Alam Semesta di sebuah ruang kuliah Fisika ITB. Seperti dilaporkan Kompas keesokan harinya, ceramah itu dihadiri sekitar 300 orang dari berbagai kalangan, termasuk mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Luhut Panjaitan, geologiman M.T. Zen, Presiden Direktur ESQ Ary Ginanjar Agustian, beberapa orang dari kalangan agamawan, dan beberapa guru SMA.
Dengan mendasarkan perhitungan umur Alam Semesta pada Teori Dentuman Besar, Pantur waktu itu dikutip Kompas mengatakan, “Alam masih miliaran tahun, silakan terus berinvestasi.”
Rupanya laporan surat kabar itu menarik perhatian sebuah keluarga Batak. Tak lama sesudah itu, bertepatan dengan lepas sidi salah satu anaknya, Edward Nababan yang sehari-hari bekerja sebagai salah satu petinggi Perusahaan Jawatan Kereta Api mengundang Pantur Silaban menggelar ceramah fisika di rumahnya di bilangan Jatibening, Jakarta Timur.
Yang menarik, acara yang dimulai sore itu—sebab lepas sidi diadakan di Bandung, lalu keluarga ini langsung menuju Jakarta—diawali dengan ceramah fisika. Inti perayaan lepas sidi bagi putri keluarga Nababan itu adalah ceramah Pantur. Acara adat hanya penyerahan tudu-tudu sipanganon dan dengke, itu pun dilaksanakan setelah acara inti berakhir. Hadir antara lain mantan Eforus HKBP S.A.E. Nababan, aktivis organisasi nonpemerintah abang-beradik Indera Nababan dan Asmara Nababan, Panda Nababan, dan Hotasi Nababan yang sekarang presiden direktur PT Merpati Nusantara Airlines.
TATAP menjumpai fisikawan teoretis ini untuk sebuah wawancara pertengahan Januari lalu di ruang kerjanya di Fisika ITB yang masih seperti dulu: papan tulis penuh dengan relasi-relasi matematis fenomena alam. Suami dari Rugun br. Lumbantoruan, ayah dari empat putri ini—Anna, Ruth, Sarah, dan Mary— serta mertua dari tiga menantu dan kakek empat cucu ini rupanya baru saja kembali dari wisata ke Israel.
“Menantu saya yang orang Swiss itu yang membiayai perjalanan kami,” katanya sambil menjelaskan sedang mempersiapkan buku kuliah untuk beberapa perguruan tinggi di Australia yang tertarik dengan kuliah yang pernah ia berikan di Melbourne beberapa waktu lalu: teori medan kuantum yang diselusuri dari teori Newton. “Rupanya mereka tertarik dengan pendekatan saya ini,” katanya.
Bagaimana minat orang Batak menjadi fisikawan sekarang ini?
Beberapa murid pintar SMA dari kalangan Batak rupanya pernah datang kepadanya ingin belajar serius fisika. “Penghalang mereka jutru orangtua mereka sendiri,” kata Pantur. “Kalau lulus, kamu mau makan apa. Paling jadi guru. Begitu ancaman orangtua mereka. Dari situ kelihatan, profesi guru dilecehkan, padahal yang menentukan maju-tidaknya sebuah bangsa adalah guru.”
Selama orang Batak masih kukuh dengan hamoraon dalam segitiga hasangapon, hamoraon, hagabeon, menurut Pantur Silaban, sulit mengharapkan orang Batak menonjol dalam ilmu-ilmu murni, seperti fisika dan biologi molekuler, dua bidang sains yang masing-masing merupakan primadona ilmu dalam abad 20 dan abad 21.
Menjelang kami berpisah, dalam sesi memotret, Pantur menganjurkan supaya dia dipotret bersama mobil Toyota-Corollla keluaran 1984 itu. “Ini mobil saya yang pertama dan terakhir, tidak akan pernah saya ganti,” kata Pantur seraya mengingatkan bahwa “Einstein selama hidupnya tidak pernah punya mobil.”*
Penulis : P. HASUDUNGAN SIRAIT & NABISUK NAIPOSPOS
Sumber : Majalah TATAP edisi V, Jan-Feb 2008

http://www.silaban.net/2008/03/04/pantur-silaban-dari-snellius-ke-einstein/