Rufinus Hotmaulana Hutauruk


Rufinus ok1.JPG.opt300x448o0,0s300x448Profil
RUFINUS HOTMAULANA HUTAURUK, SH, MM, MH
Tempat, Tanggal Lahir: P. Siantar,4 Juni 1954
Domisili: Kota Depok
Pendidikan Terakhir: S3
Riwayat Pendidikan

  •  SMAK Bina Mulia Sumatera Utara, Lulus tahun 1972
  • S1 Hukum, Universitas Indonesia Depok, Lulus tahun 1986
  • S2 Universitas Kristen (UNKRIS), Lulus tahun 1996
  • S2 Hukum, UNPAD, Lulus tahun 2005
  • S3 Hukum, UNPAD, Lulus tahun 2007

Riwayat Organisasi

  • Ketua DPP HANURA tahun 2007-sekarang
  • Anggota DPP GOLKAR tahun 1980-2007
  • Anggota Fungsionaris GOLKAR Sumatera Utara tahun 2003-2007
  • Tim Advokat PDIP Pusat tahun 2003-2004

Riwayat Pekerjaan

  • Dosen Tetap di Universitas Internasional Batam tahun 2011-sekarang
  • Karyawan di PT. Tiga Raksa Jakarta tahun 1974-1976
  • Compradore di PT. Unggul Karya Raya Jakarta tahun 1977-1979
  • Inspektur Pengawas Ketenagakerjaan Departemen Tenaga Kerja Indonesia Jakarta tahun 1981-1989
  • Managing Partner di Law Offices Rufinus Hotmaulana Jakarta tahun 1997-2000
  • Managing Partner di Low Frim Partahi Jakarta tahun 1990-1996
  • Komisaris Utama PT. Mitra Utama Investindo Wisma Koled Jakarta tahun 2004-2006
  • Managing Partner di Law Offices Rufinus Hotmaulana dan partners Jakarta tahun 2000-sekarang
  • Dosen Tetap di Universitas Mahendradatta Bali tahun 2008-sekarang
Iklan

Dr. Tommy Sihotang, SH., LLM.


Nama Lengkap
tommyDr. Tommy Sihotang, SH., LLM.
Tempat Tanggal Lahir: Pematang Siantar, Sumatera Utara, 03 Desember 1957

Agama:
Kristen Protestan

Isteri:
Maudy Conny Maningkas (asal Manado yang kemudian diberi boru Nadeak)

Anak:
Myco Obaja Halomoan Sihotang
Christy Pingkan Hasianna Sihotang

Orangtua:

Ayah:
Marsinta Sihotang
Ibu:
Bungaria boru Nadeak

Saudara:
Anak ketujuh dari 13 bersaudara (salah satunya: [alm] Pdt Tohap Sihotang STh)

Pendidikan:
Sarjana Hukum (S.H.) dari Universitas Jayabaya, Jakarta, tahun 1986
Magister Hukum (LL.M.) dari Sheffield University, UK, tahun 1999
Doktor Ilmu Hukum Pidana, Universitas Padjadjaran, Bandung, tahun 2007

Karier:
Asisten Pengacara pada Law Office “Maruli Simorangkir & Associates”
Pendiri Law Office JPRT & Associates
Pendiri Law Offices Tommy Sihotang & Partners

Kegiatan Ilmiah:

  • Pembicara pada Seminar “Prospek Reformasi di Indonesia” di London, oleh Kedubes Indonesia bekerjasama dengan PPI, tahun 1999
  • Peserta Seminar “Churches as the Peace Makers in a Changing World” di Seoul, Korea Selatan, tahun 2003
  • Penceramah mengenai HAM dan “Pertanggungjawaban Komando” di Mabes TNI Cilangkap, di Sesko TNI, Sesko AL, Divkum Mabes Polri, beberapa Korem dan Kodim
  • Anggota Tim Pakar Hukum Departemen Pertahanan Republik Indonesia, tahun 2007 sampai sekarang
  • Pengajar di Fakultas Hukum, Universitas Atmajaya dan Jayabaya Jakarta

Organisasi

  • Dewan Penasehat DPP IKADIN (Ikatan Advokat Indonesia) selama 2 (dua) periode
  • Vice President DPP KAI (Kongres Advokat Indonesia), tahun 2008 sampai sekarang
  • PLT. Presiden DPP KAI (Kongres Advokat Indonesia), tahun 2010 sampai sekarang

Karya Buku:

  1. Ketika Komandan Didakwa Melanggar Hak Asasi Manusia, 2009
  2. Hukum Acara di Pengadilan Hak Asasi Manusia, 2009

Alamat Rumah:
Jalan Bangka XI No. 56 Kemang, Jakarta Selatan
Alamat Kantor:
Jalan Wolter Monginsidi No. 122-124, Jakarta Selatan

“Anak Pedagang Sayur Menjadi Pengacara Hebat”

Tommy bersaksi bahwa kehidupan yang sekarang sedang ia jalani adalah sesuatu yang bahkan tidak pernah ia mimpikan karena semasa kecilnya ia harus hidup dengan biaya pas-pasan. Awal ke Jakarta bersama orangtuanya, mereka harus tidur di kolong jembatan dengan membangun bedeng dari bambu.

“Kalau kami semua bisa makan setiap hari, itu sudah suatu karunia yang luar biasa,” demikian tutur Tommy.

Orangtuanya kemudian memulai usaha dengan berdagang hasil bumi seperti bawang, cabai dan sayur-sayuran. Untuk memenuhi kebutuhan mereka sekeluarga, Tommy dan ibunya setiap pagi harus pergi ke pasar induk Kramat Jati untuk mengambil bahan-bahan dagangan mereka dan dijual. Mereka harus naik sebuah mobil bak kecil setiap jam 4 pagi.

Pada saat itu Ia berpikir bahwa mereka tidak boleh seperti ini terus. Ia harus membuat perubahan dalam kehidupan ekonomi mereka. Setelah lulus SD, Tommy tidak sekolah selama 2 tahun. Ia menjadi makhluk ekonomi yang berjualan es, Koran, permen dan bahkan ia menkadi pemecah batu untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Tinggal di Jakarta dengan 13 orang anak dan dalam kemiskinan, orangtua Tommy tetap menganggap bahwa sekolah adalah hal yang penting. Namun keterbatasan finansial membuat Tommy harus bersabar dan menahan keinginannya yang menggebu-gebu untuk belajar, hingga suatu hari seseorang yang baik hati menawarkannya sekolah.

“Sekolah itu, bapak saya dan mamak saya sudah tidak ngurusin saya, karena saya sudah mulai cari uang sendiri. Saya pikir, saya tidak boleh berdiam diri, saya tidak boleh begini terus. Karena kalau saya ikuti situasi saat itu, paling banter saya seperti bapak saya, punya kedai makanan, warung makan nasi. Masa saya harus seperti itu… hal itu memacu saya, saya harus bangkit,” jelasnya.

Waktu itu, satu pikirannya untuk merubah nasib adalah dengan banyak membaca. Ia kemudian masuk sekolah pelayaran dan berlayar untuk mengumpulkan uang demi bisa melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah.

Pada tahun kedua ia kuliah, ia diajak temannya untuk bekerja di kantor pengacara. Awalnya ia tidak tahu apa itu pengacara. Yang ia tahu bahwa kalau ia bekerja maka ia akan mendapat uang. Ia bekerja di Firma Hukum Maruli Simorangkir dan menjadi asisten pengacara. Tetapi disana ia melakukan semua pekerjaan. Termasuk pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh Office Boy, misalnya bayar tagihan telepon, tagihan listrik, beli Koran sampai menyuguhkan minuman pada tamu. Bahkan sampai membetulkan genteng yang bocor. Ia lakukan semua dengan sukacita. Ia harus bekerja disana sampai jam 5 dan harus ke kampus sepulang kerja. Tanpa ia sadari sebenarnya ia sedang mempelajari praktek hukum yang sebenarnya disana yang tertanam sampai sekarang. Menurut Maruli ia adalah orang yang tekun. Tekun dalam pekerjaan dan sekolah.

“Saya bahkan memilih tidur di kantor. Proses pembentukan itu, ya seperti itu.. Sampai hanya dalam waktu satu tahun saya sudah mahir bagaimana membuat gugatan, bagaimana membuat pembelaan perkara pidana..”

Kerja kerasnya akhirnya membuahkan hasil, pada tahun 1986 ia berhasil mendapat gelar sarjana hukum. Bahkan di tahun 1988 ia mengundurkan diri dan mendirikan firma sendiri yaitu Tommy Sihotang & Partners.

Menjadi kaya adalah pilihan. Menjadi miskin juga adalah pilihan. Setelah ia mengalami masa kecil yang tidak enak. Ia mulai bangkit dan maju untuk memperbaiki keadaan perekonomian. Sejak saat itu ia dipercayakan untuk menangani kasus-kasus besar dan namanya mulai sejajar dengan para pengacara-pengacara besar yang sudah ada. Bahkan pada tahun 2006, Tommy berhasil mendapat gelar doktor di bidang hukum. Menurut Tommy untuk keluar dari kemiskinan, kita harus melakukan suatu terobosan dalam hidup. Dan terobosan itu hanya kita bisa lakukan bersama Tuhan Yesus.

“Saya bisa lewati semua itu, dan saya bisa mendapat buah yang sangat baik dari Tuhan, semua karena kebaikan Tuhan. Saya harus katakan, ‘tanpa Tuhan ngga usah ngomong, karena semua itu ngga ada artinya hidup.’ Tuhan sudah bawa saya ke tempat yang tinggi, itu artinya Tuhan sudah tetapkan saya bekerja di ladang hukum saja. Itu juga pelayanan saya di gereja, yang berhubungan dengan hukum. Pekerjaan saya Tuhan pakai untuk pelayanan bagi orang lain.”

Tommy Sihotang sudah berhasil melewati semua lingkaran kemiskinan yang membelenggunya dan keluarganya. Ia keluar menjadi pemenang. Dan semua itu berkat Tuhan Yesus yang sudah sangat baik dalam hidupnya.

“Jangan pernah putus harapan, karena harapan itu selalu ada. Dia hanya mau kita lakukan tugas dan kewajiban kita dengan benar dan maksimal. Jadi sekali lagi, semua yang saya lakukan, yang saya ucapkan, yang saya peroleh, semua itu untuk hormat dan kemuliaan bagi Tuhan Yesus saja,” ujar Tommy menutup kesaksiannya.

Sumber: http://www.jawaban.com/news/spiritual/detail.php?id_news=090417143557

Junedi Sirait, SH


Biodata

junedi sirait Nama : Junedi Sirait , SH

  • Tempat/Tanggal Lahir             : Pematang Siantar, 6 Mei 1966
  • Pekerjaan                                    : Anggota DPRD Kab. Bogor Periode 2009-2014

Istri:

Mayor CKU (K) Kartini Siringoringo

Anak:

  1. Ananda Christie Angelin
  2. Angela Irena Minarti Anabel

Riwayat Organisasi:

  • Ketua dan Pendiri Lembaga Swadaya Masyarakat Eksaminasi, Penegakan Hukum dan Anti Korupsi (LSM EK-PHAKSI)
  • Ketua dan Pendiri Lembaga Advokasi Demokrat (LEADER)
  • Ketua DPC IKADIN Jakarta Barat
  • Penasehat DPC PERADI Jakarta Barat
  • Ketua Bidang Organisasi DPP IKADIN
  • Sekretaris III DPP Ikatan Pelopor Pembangunan
  • Wkl. Ketua Bidang Hukum & HAM DPC Partai Demokrat Kabupaten. Bogor
  • Departemen Hukum & HAM DPP GKJI
  • Sekjen Yayasan Panca Jati

Riwayat Pekerjaan :

  1. LBH Kosgoro, Jakarta Pusat.
  2. Kantor Hukum HENDRI. S & Associates, Jakarta Pusat.
  3. Kantor Hukum JUNEDI SIRAIT & Rekan, Jakarta Barat
  4. Lembaga Advokasi Demokrat (LEADER), Bogor

 

Alamat:

Perumahan Legenda Wisata Cluster Marcopolo A.18 No.16-17 Ds. Wanaherang, Kec. Gunung Putri Kab. Bogor 16967 : Perumahan Griya Kenari Mas Blok H.3 No.12-13. RT.08 – RW.10 Cileungsi – Bogor 16820

“Legislator Yang Tak Gentar Bicara Benar”

 Namanya sudah tidak asing lagi di dunia Praktisi Hukum. Junedi Sirait, SH, pria kelahiran Pematang Siantar, 6 Mei 1966 memulai karier sebagai praktisi hukum Advokat/Pengacara di era tahun 2007. Namanya melejit ketika membela para Pilot yang berseteru dengan Perusahaan PT Adam Air Skyconnection yang kemudian hari oleh pemerintah mencabut izinnya.

Penjabat Sekretaris Ikatan Advokat Indonesia (IKADIN) Jakarta Barat ini juga pernah memimpin unjuk rasa, sedikitnya 500 Advokat, berorasi di Kejaksaan Agung, DPR-RI dan Istana Presiden. Unjuk rasa itu untuk membela rekan seprofesinya Ali Mazi, SH, mantan Gubernur Kendari, Sulawesi Tenggara, yang dijadikan sebagai tersangka pada saat menjalankan profesinya sebagai Pengacara dalam kasus Hotel Hilton. Hasilnya, Ali Mazi oleh putusan hukum dinyatakan tidak terbukti bersalah, bebas.

Selama menjadi Advokat Junedi juga sangat konsisten menyuarakan agar Advokat bisa disetarakan dengan penegak hukum lainnya seperti Polisi sebagai Penyidik, Jaksa sebagai Penuntut dan Hakim sebagai Pemutus perkara dalam pengadilan. “Bagi saya Advokat sebagai Pembela, sehingga hak immuniteit Advokat dalam menjalankan tugas dan fungsinya sebagai penegak hukum, baik di dalam maupun di luar pengadilan demi hukum harus tetap terjaga dan dilindungi berdasarkan Undang-Undang,” ujar anggota DPRD Kabupaten Bogor Periode 2009-2014, dan Ketua Dewan Kehormatan DPRD Kabupaten Bogor, ini.

Sejak tahun 2009 lalu, Junedi mengantungkan toga profesi kepengacaraanya, untuk lebih konsen, terjun ke ranah politik. Saat itu dia terpilih Legislatif dari Partai Demokrat untuk DPRD Kabupaten Bogor. Kini, dia bertekad untuk kembali mempertahankan kursi Legislatif yang telah dia sandang selama ini. Menjadi Calon Legislatif DPRD Kabupaten Bogor, Daerah Pemilihan 2 (dua) melalui Partai Demokrat dengan Nomor Urut 4. Apa sesungguhnya yang menjadi motif di balik pencalonannya kembali itu? Berikut bincang-bincangnya dengan Hotman J Lumban Gaol, Redaktur Pelaksana Reformata:

Sudah lebih enak jadi Pengacara, dan memiliki karir yang cukup bagus. Apalagi Anda tercatat pernah menjabat sebagai Ketua IKADIN Cabang Jakarta Barat, jabatan yang prestisius. Mengapa banting stir memilih karier di dunia politik?

Sesungguhnya saya terjun ke dunia politik ini bukan dadakan. Sudah jauh-jauh hari saya rencanakan, dengan sangat matang dan tentunya dengan berbagai pertimbangan. Berjubel pengalaman sebagai Advokat, 18 tahun, justru malah mendorong saya untuk memutuskan terjun ke dunia politik. Saya ingat betul saat pertama kali terjun ke dunia politik dan memilih Partai Demokrat sebagai sebagai kendaraan dan sekaligus sebagai rumah politik saya, itu sudah dalam kurun waktu yang cukup lama. Sejak awal berdirinya Partai Demokrat dan waktu itu saya dan teman-teman sudah berperan aktif melakukan tugas dan fungsi kami sebagai Advokat, melakukan Advokasi Hukum di Partai Demokrat. Dimana pada saat itu kami mendapat kepercayaan langsung dari Ketua Umum Partai Demokrat yang pertama, yaitu Bapak Prof. Dr. Budi Santoso.

Saya masih ingat betul tugas pertama yang diberikan kepada saya sekitar tahun 2004 adalah mengamankan DPC Partai Demorat Kabupaten Bogor melalui payung hukum dari manufer-manufer politik yang dilakukan oleh orang-orang yang ingin memanfaatkan situasi dan kondisi pasca-pertama sekali terpilihnya SBY sebagai Presiden RI melalui Partai Demokrat. Tiba-tiba saja banyak orang berbondong-bondong masuk ke Partai Demokrat dengan animo politik yang luar biasa tingginya. Bisa menjadi pejabat partai, baik di pengurusan tingkat Desa hingga Pengurus Dewan Pimpinan Pusat. Dan itu pun dilakukan dengan berbagai manufer yang menghalalkan segala cara demi kepentingan sesaat. Baik itu untuk kepentingan pribadi maupun kelompoknya.

Maka, kalau diingat-ingat waktu itu Partai Demokrat yang bukan apa-apa dan merupakan partai yang tidak pernah diperhitungkan sebelumnya, sama sekali oleh kekuatan lawan, akan tetapi dalam waktu yang sangat singkat Partai Demokrat menjadi idola dan sekaligus primadona Partai Politik yang ada, kalau boleh dibilang “iya kira-kira seperti madu yang sedang dikerumuni oleh semut-semut.”

Terbesit sepertinya Partai Demokrat adalah satu-satunya Rumah Politik bagi Anda….

Sebagai pribadi saya berperan aktif dalam menyalurkan aspirasi politik, dan sekaligus terlibat langsung sebagai pengurus partai politik di Partai Demokrat. Jadi sudah barang tentu hal ini menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi saya dalam berpolitik. Terus terang, pada awalnya di tahun 2004 saat itu saya begitu terobsesi dengan kharisma dan  figur seorang Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan kemudian saya mencoba belajar memahami lebih dalam tentang ajaran fundamental partai yang dibangun oleh SBY dengan rumusan garis ideologi partai yang Nasionalis-Religius.

Artinya, bahwa secara horizontal pusat perhatian partai adalah pada mempertahankan NKRI serta memupuk kecintaan kepada bangsa dan Negara, dan secara vertikal adalah membangun manusia, masyarakat dan Bangsa Indonesia yang dilandasi dengan semangat keagamaan, yakni beriman kepada Tuhan Sang Pencipta. Lalu menyebarluaskan kasih sayang Tuhan dimuka bumi ini. Demikian juga dengan sifat partai yang inklusif, artinya bahwa Partai Demokrat terbuka bagi seluruh warga Negara; tanpa membedakan suka, agama, ras dan golongan, yang berdasarkan Pancasila sebagai Dasar Negara dan Falsafah Bangsa, di mana idealisme sebagai Trilogi Perjuangan Partai yaitu Demokrasi, Kesejahteraan dan Keamanan merupakan tiga hal yang secara sinergis diperjuangkan.

Garis ideologi partai yang Nasionalis-Religius itu mendorong Anda terjun ke politik?

Doktrin partai telah meneguhkan saya sungguh-sungguh memahami, memilih, mengapa saya terjun ke dunia politik dan memilih Partai Demokrat sebagai Rumah Politik saya. Saya pernah menjadi fungsionaris di DPP Partai Demokrat Bidang Politik dan Otonomi Daerah, dan kemudian dipercaya sebagai pengurus harian DPC Partai Demokrat Kabupaten Bogor sebagai Wakil Ketua Bidang Hukum, sesuai dengan keahlian yang saya miliki. Semua itu terjadi tidak dengan begitu saja, tetapi melalui proses dan berdasarkan kepada perjuangan dan komitmen politik yang selama ini saya laksanakan dengan sebaik-baiknya terhadap Partai Demokrat. Secara pribadi saya terus menanamkan niat berbuat sesuatu yang terbaik bagi masyarakat dan daerah tempat tinggal saya (di Perumahan Legenda Wisata Cluster Marcopolo, Ds. Wanaherang, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor).

Sebagai anggota DPRD Kabupaten Bogor periode 2009-2014, boleh diceritakan seperti apa perjalanan karir politik Anda?

Begini, yang pasti saat itu saya diberi amanah oleh Partai Demokrat Kabupaten Bogor untuk menduduki jabatan sebagai Wakil Ketua Fraksi dan sekaligus menjadi Ketua Komisi A yang membidangi Pemerintahan dan Hukum, meliputi Pemerintahan Umum, Ketertiban dan Keamanan, Politik, Hukum dan Perundang-undangan, Humas/Pers, Kepegawaian/Aparatur Daerah, Organisasi Masyarakat, Kependudukan, Pertanahan dan Perizinan. Maka, dalam hal ini sesuai tugas pokok dan fungsi. Saya senantiasa terus berusaha dengan sebaik-baiknya untuk mengemban amanah partai yang telah menugaskan saya untuk bisa memberikan yang terbaik dan berguna bagi masyarakat. Kemudian, seiring perjalanan waktu dan aturan politik di DPRD mengenai pergantian paruh waktu, rotasi kepemimpinan, saya pun kembali dipercaya untuk mengisi jabatan sebagai Ketua Badan Kehormatan Dewan.

Apa saja yang kendala yang dihadapi selama menjadi anggota legislator?

Sebagai Anggota DPRD yang mengemban tugas dan amanah, saya senantiasa fokus untuk bekerja dengan sepenuh hati guna mewakili kepentingan masyarakat secara utuh sesuai tupoksi yang saya miliki. Khususnya kepada para konstituen selaku pemilik hak suara yang telah memutuskan dan memberikan dukungan penuh untuk memilih saya sebagai wakil mereka di parlemen. Lalu, memperjuangkan dan memidiasi setiap persoalan masyarakat yang menyangkut kepada urusan kebijakan pemerintah daerah dan persoalan-persoalan lain yang berhubungan dengan kehidupan warga masyarakat. Tentu hal-hal yang bersentuhan dengan hak-hak masyarakat itu sendiri. Kalau ditanya kendala, masih banyak masyarakat yang hidup di pedesaan yang SDM-nya masih dibawah rata-rata. Sehingga terasa sulit untuk bisa memberikan pemahaman yang lebih mendalam akan kesadaran berpolitik dan kepatuhan terhadap kewajiban sebagai warga Negara.

Kami peroleh informasi dari berbagai kalangan di DPRD dan Pemerintahan Daerah Kabupaten Bogor, Anda dikenal sebagai anggota yang suka berbicara vokal dan lantang, terkesan menantang, bahkan saat Anda menjabat sebagai Ketua Komisi A, juga dijuluki sebagai Komisi Bajak Laut. Bisa Anda jelaskan?

Hahaha…… kalau dibilang terkesan menantang itu sih kurang tepat. Julukan Komisi Bajak Laut sebenarnya hanya istilah yang diberikan teman-teman LSM dan para pewarta, jurnalis. Itu tak lebih karena di masa kepemimpinan saya sebagai Ketua Komisi A kami memang selalu tegas dalam memberikan rekomendasi dan keputusan. Baik itu kepada pihak pemerintah daerah, lembaga vertical, maupun swasta. Sepanjang yang berhubungan dengan kehidupan yang menyangkut permasalahan warga masyarakat, kami selalu memposisikan bahwa hak masyarakat itu jangan pernah terabaikan, kita tak kenal kompromi, dan kita selalu laksanakan dengan sebaik-baiknya dengan mendahulukan kepentingan masyarakat.

Tetapi saya pikir sebagai Wakil Rakyat iya memang sudah seharusnya kita melakukan itu, dalam arti bahwa kita harus ingat tentang tupoksi kita sebagai anggota DPRD yang melaksanakan tiga fungsi, yaitu: Legislasi yaitu bersama eksekutif membuat peraturan daerah. Lalu, Budgeting untuk menetapkan anggaran dengan skala proritas. Dan terakhir memiliki sikap Controlling.

Artinya, melakukan pengawasan terhadap kinerja para eksekutif?

Bagi saya agar tiga fungsi ini bisa berjalan dengan baik, memang selain keberanian juga perlu ketegasan. Itu juga sangat dibutuhkan. Tak kalah penting semua argumentasinya harus terukur, dapat dipertanggung-jawabkan dan harus berjalan by rule, dan justru saya pikir sebagai anggota parlemen kita malah tidak boleh mencla-mencle apalagi cuma bisanya cengengesan, dan tahunya cuma teriak setuju saja saat pelaksanaan rapat-rapat dan hanya ingin mengedepankan kepentingannya semata. Lagi-lagi sebagai Wakil Rakyat, memang sudah semestinya berani dan mampuh berargumentasi yang tentunya harus didasari oleh penguasaan disiplin ilmu yang baik dan penuh tanggung jawab. Jadi jangan hanya asbun, asal bunyi. Karena dalam menjalankan amanat rakyat yang kita wakili itu adalah kepentingan haknya dalam segala bidang, jadi sikap dan tingkah laku kita juga harus mencerminkan seorang pemimpin.

Sebagai Ketua Badan Kehormatan Dewan, bagaimana pandangan Anda, saol badan yang Anda pimpin mandul dan hanya formalitas pemenuhan standard saja, bahkan bila BKD menjalankan fungsinya maka diberi label sebagai fungsi Alat Kelengkapan dengan istilah jeruk makan jeruk?

Saya tidak setuju dengan istilah itu, justru Badan Kehormatan ini sangat dibutuhkan keberadaannya dalam hal melakukan fungsi tugasnya sebagai internal affair dalam memantau, mengevaluasi disiplin, etika dan moral para anggota DPRD dalam rangka menjaga martabat dan kehormatan Lembaga, serta guna meneliti pelanggaran yang dilakukan oknum anggota DPRD terhadap peraturan Tata Tertib dan Kode Etik DPRD serta sumpah janji yang telah diucapkan pada saat pelantikan sebagai anggota dewan. Oleh karenanya, masyarakat jangan sungkan-sungkan untuk menyampaikan pengaduan tentang prilaku para anggota legislatif yang dianggap menyimpang.

Bagi saya, jabatan sebagai Ketua BKD ini adalah merupakan jabatan terhormat yang harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya demi tegaknya sebuah aturan atau regulasi yang ditetapkan di Lembaga DPRD itu sendiri. Untuk membuktikan pernyataan saya ini, ayo silahkan sampaikan pengaduannya dan BKD segera akan melakukan penyelidikan dan verifikasi serta klarifikasi atas pengaduan yang disampaikan tersebut. Saya jamin itu, yang penting pada prinsipnya pengaduan tersebut harus dapat dipertanggung-jawabkan, baik data, fakta dan disertai alat bukti pendukung, jadi jangan hanya sekedar issu yang tak lebih hanya merupakan fitnah untuk menjatuhkan seseorang.

Akhir-akhir ini Partai Demokrat diterpa berita-berita yang tak sedap, bahkan dianggap Partai terkorup. Terkait pencalonan Anda kembali upaya-upaya apa saja yang dilakukan untuk menepis berita-berita tak sedap ini, agar bisa merebut suara masyarakat untuk memberikan dukungannya kepada Anda kembali?

Pertama, saya perlu tegaskan, tidak benar Partai Demokrat itu adalah partai terkorup. Menurut saya, semua itu tak lebih dari permainan kotor politik lawan. Kalau boleh saya mengutip pemberitaan yang baru-baru ini dirilis oleh  sebuah situs resmi berita internet kompasiana.com, yang ditulis oleh Fajar Muhammad Hasan, telah menulis tentang data tingkat korupsi partai-partai peserta Pemilu 2014 adalah sebagai berikut: pertama didominasi oleh PDI Perjuangan dengan jumlah koruptor 84 dengan tingkat persentase 33,7%, kedua Partai Golkar dengan jumlah koruptor sebanyak 60 dengan tingkat persentase 24,1% dan posisi ketiga diduduki oleh PAN dengan jumlah 36 dengan tingkat persentase 14,5%. Ini sinyalemen yang membuktikan ketidakbenaran issu bahwa Partai Demokrat bukan partai terkorup.

Kami menyadari issu-issu seperti itu sengaja dilakukan untuk menghantam Partai Demokrat, karena kita tahu persis bahwa untuk dua periode berturut-turut, Partai Demokrat berhasil dengan gemilang menghantarkan SBY menduduki kursi Presiden RI. Dimana pada pemilu 2014 nanti, tentu SBY tak lagi boleh mencalonkan diri sebagai calon Presiden untuk yang ketiga kalinya sebagaimana amanat konstitusi. Artinya ada peluang yang terbuka lebar bagi partai-partai lain untuk bisa merebut kursi Presiden yang tak lama lagi segera akan ditinggalkan oleh SBY. Ironisnya, beberapa kader Partai Demokrat yang tersandung kasus korupsi malah dijadikan sebagai momen oleh lawan-lawan politik Partai Demokrat sebagai pintu masuk untuk menyerang dan melemahkan Partai Demokrat.

Lalu, apa yang Anda lakukan mengambil hati konsituen?

Oleh karena itu, dengan persoalan-persoalan tersebut maka-mau-tidak-mau sebagai kader Partai Demokrat yang militan, agar bisa terus berkiprah di dunia politik untuk memberi yang terbaik kepada masyarakat, khususnya di Pemerintahan Daerah Kabupaten Bogor maka saya mencoba bekerja dengan metode 4 (empat) AS, yaitu: Kerja Keras, Kerja Cerdas, Kerja Ikhlas dan Kerja Tuntas. Dan yang menjadi modal utama dan sangat berharga adalah mempromosikan diri kepada masyarakat di daerah pemilihan saya atas hasil karya nyata dan kinerja yang sudah dan terus saya lakukan sejak terpilih menjadi anggota dewan hingga sampai saat ini. Pengabdian mana yang terus saya lakukan dengan sebaik-baiknya tanpa ekses, dimana apa yang menjadi aspirasi dan harapan masyarakat akan pembangunan wilayahnya sudah kita serap dan salurkan dengan baik. Dan dalam menyambung tali silaturahmi dengan masyarakat sudah barang tentu saya harus turun ke bawah atau blusukan menemui masyarakat sebagai konstituen pemegang hak suara.

Turun ke bawah, konsolidasi dan sosialisasi, masih ada tantangan yang dihadapi?

Bagi saya tiada hari-hari tanpa konsolidasi dan sosialisasi serta menjelaskan tentang tujuan dan keinginan kenapa saya ingin mencalonkan lagi sebagai calon Legislatif periode 2014 – 2019 kepada mereka dengan gamblang. Jujur saja setiap kunjungan dan sosialisasi yang saya lakukan banyak tantangan yang saya hadapi dan itu bermacam-macam bentuknya, akan tetapi apa yang saya yakini, saya lakukan, biar itu dianggap melawan arus, saya tidak perduli, yang jelas saya berkeinginan ada perubahan yang mendasar khususnya di wilayah Bogor Timur.

Apa lagi SBY itu kan tinggalnya di Dapil saya, jadi saya harus benar-benar bisa membaca sinyalemen atas kebijakan Presiden SBY yang pro rakyat, seperti terus mensosialisasikan dan memantau pengawasan jalannya kebijakan-kebijakan Pro Rakyat, meliputi BOS, PNPM Mandiri, KUR, pemberian bantuan pupuk dan bibit gratis, Raskin, Rutilahu, Jamkesmas, Jampersal, BLSM dan banyak lagi hal-hal lainnya. Termasuk pelaksanaan BPJS dan yang terakhir terus mensosialisasikan pentingnya Undang-Undang No. 6 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Desa. Tapi sebaik apapun yang kita sudah lakukan, ada saja pihak-pihak yang kurang berkenan dan melontarkan kritik yang pedas dengan membabi-buta.

Namun, saya selalu bersikap biasa-biasa saja terhadap kritik, buat saya soalnya sederhana saja. Kritik yang betul akan saya perhatikan, yang lebih ironis lagi tidak jarang saya menjadi korban fitnah. Tetapi bagi saya tidak apa-apa, difitnah begini-begitu biarin saja. Saya masa bodohlah, saya jalan terus. Saya yakin kebenaran akan datang, tidak sekarang nanti ada saatnya kebenaran akan ditegakkan. Bagi saya yang penting jangan pernah berhenti melakukan kebaikan dan kebenaran. Saya ingat betul apa kata Firman Tuhan yang tertulis pada Kitab Kolose 3 ayat 23, yang mengatakan: “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk Manusia.” Itu intinya.

Bila terpilih kembali sebagai anggota dewan, apa yang menjadi obsesi dan komitmen Anda?

Bila Tuhan berkehendak puji Tuhan. Saya tidak ingin yang muluk-muluk. Saya mau semua proses bisa berjalan dengan baik dan benar seturut kehendak-Nya, dan saya akan terus melanjutkan bakti saya dengan terus melanjutkan bekerja dan melakukan apa saja yang bisa saya perbuat, guna kepentingan masyarakat.

Ada closing statement yang ingin Anda sampaikan?

Singkat saja, jangan lupa 9 April 2014 datanglah ke TPS dan gunakanlah hak suara Anda dengan sebaik-baiknya, dan bagi yang berdomisili di Kabupaten Bogor, daerah pemilihan 2 (dua) meliputi Kecamatan Gunung Putri, Cileungsi, Jonggol, Sukamakmur, Cariu dan Tanjung Sari. Mohon Doa dan Dukungannya coblos Nomor urut 4 Junedi Sirait SH, calon Anggota DPRD Kabupaten Bogor dari Partai Demokrat.

 

Agus Rihat P. Manalu, SH


Profil:

AgusNama Lengkap: Agus Rihat P. Manalu

Tempat/ Tanggal Lahir: Bulak Kapal, Bekasi Timur, Bekasi, 11 Agustus 1979.

 Pendidikan

  • Sekolah Dasar dari SD Negeri Duren 02 Bekasi Timur.
  • Sekolah Menegah Pertama (SMP) ST M Monica Bekasi Timur.
  • SMU Negeri 4 Bekasi, Kota Bekasi.
  • Sarjana Hukum (S1) dari Fakutas Hukum Universitas Lampung (Unila).
  • Magister Hukum (S2) dari Fakutas Hukum Universitas Krisnadwipayana (Unkris).

Alamat Kantor:
JL. H.M. Djoyomartono No.20 Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat
Telp: 021 – 9259 7948 FAX. 021 – 881 0387
E-Mail: lbhkasihindonesia@yahoo.com

Masih muda, tetapi beberapa perjuangannya telah dicatat sejumlah kalangan. Itu tak lain, karena perjuangannya membela hak rakyat. Salah perjuangannya bersama tim, adalah pernah menggugat Komisi Pemilihan Umum (KPU). Mereka menggugat mewakili kelas kelompok masyarakat di sejumlah provinsi. Agus dan tim mengajukan gugatan class action terhadap KPU, pada Pemilu 5 April 2004 lalu. “Jelas kita menggugat karena banyak anggota masyarakat di seluruh Indonesia yang tidak bisa menggunakan hak pilih mereka pada, hak politik mereka diabaikan,” ujarnya.

Ternyata, gugatan yang dilayangkan Agus bersama tim menang. Gugatan yang ditujukan kepada Ketua KPU Nazaruddin Sjamsuddin, dikabulkan Pengadilan Negeri Jakarta. Dalam gugatan class action, Agus sebagai penggugat minta agar majelis hakim menyatakan KPU telah melakukan perbuatan melawan hukum. “Gugatan kita diterima, kita menang, tetapi sampai saat ini kita tidak tahu lagi, ujungnya bagaimana. Kasus ini entah bagaimana rimbanya sekarang, tidak jelas,” kenangnya “Tetapi paling tidak, kami sudah melakukan perjuangan untuk rakyat.”

Cita-citanya memperjuangkan keadilan bagi masyarakatnya. Walau masih muda, Agus sudah banyak makan asam garam dunia pergerakan, sejak mahasiswa hingga kemudian terjun menjadi pengacara, pun banyak hal yang telah dilakukan, tentang pendampingan masyarakat terhadap kepastian hukum. Tidak takut membela rakyat tertindas. Lalu siapa sebenarnya anak muda yang punya cita-cita mulia ini? Nama lengkapnya, Agus Rihat P Manalu disingkat ARPM, lahir di Bulak Kapal, Bekasi Timur pada 11 Agustus 1979.

Agus belia mengenyam pendidikan Sekolah Dasar Ngeri di SDN Jaladha Pura Bekasi Timur, SDN Duren 02 Bekasi Timur. Lalu,  dilanjutkan sekolah menengah pertama (SMP) di St. M. Monica Bekasi Timur, dan selanjutnya menyelesaikan sekolah menengah umum (SMU) di SMU Negeri 4 Bekasi. Sejak kecil talentanya sudah terlihat dari kesukaan berbicaran dan membela orang tertindas. Agus lalu melanjutkan sarjana hokum ke Fakultas Hukum Universitas Lampung (UNILA). Waktu mahasiwa dia aktivis mahasiswa  tahun 1998. Diantaranya aktif pada Dewan Mahasiswa Universitas Lampung (DEMA-UNILA) dan Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND). Di kemudian hari setelah makin banyak bergelut di dunia hukum, memperdalam Ilmu Hukum dengan mengikuti pendidikan S2 Magister Hukum di Fakultas Hukum Universitas Krisnadwipayana, Pondok Gede, Jakarta Timur.

Setelah menyandang Sarjana Hukum Agus mengikuti Pendidikan Advokat pada Lemdiklat Advokat IKADIN (2003) dan Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA) PERADI. Tahun 2005, melakukan pembelaan publik dan Advokasi bagi masyarakat yang termarjinalkan/miskin melalui Komite Advokasi Gerakan Rakyat (TEGAR) dan juga tergabung pada Serikat Pengacara Rakyat (SPR). Tahun tahun 2004 hingga tahun 2005 menjabat Direktur pada Lembaga Bantuan Hukum Konsumen (LBH-Konsumen) di Jakarta. Tahun 2008, akhirnya membawanya mendirikan Kantor Hukum ARPM & Co.

Sekarang, dia aktif memberikan penyuluhan hukum, mengadvokasi para masyarakat yang sepantasnya dibantu secara hukum dengan gratis, katanya. “Saya seorang pengacara, ingin memberikan bantuan hukum bagi masyarakat yang tidak mampu. Karena bagi saya melihat masih banyak perlakukan hukum yang tidak sepantasnya diterima oleh masyarakat kalangan bawah.”

Agus sudah mendedikasikan dirinya untuk mengabdi pada masyarakat dengan keahlian di bidang hukum yang dimilikinya; yaitu dengan memberikan konsultasi dan bantuan hukum secara cuma-cuma kepada masyarakat miskin. Termasuk bagi mereka yang tidak mampu, yang terjerat permasalahan hukum dan menjadi korban ketidakadilan. Bahkan, sejak tahun 2009 Agus bersama rekan-rekannya mendirikan Lembaga Bantuan Hukum Kasih Indonesia (LBH KASIH) dan kemudian menjabat Ketua Pos Bantuan Hukum (POSBAKUM) pada Pengadilan Negeri Bekasi Periode 2010-2012 sebagai bentuk pengabdiannya pada masyarakat Kota Bekasi.

Wakil Ketua DPC Hanura Kota Bekasi dan Ketua DPC Gerakan Muda HANURA (GEMA HANURA) Kota Bekasi ini merasa perjuangannya belum maksimal, atas hal itu, dia ingin lebih maksimal mendedikasikan hidupnya pada masyarakat. Kini dia maju menjadi calon legislatif. “Harus berani. Kini waktunya saya mau mendedikasikan hidup saya untuk membantu masyarakat, untuk membawa penerangan tentang hukum. Karena itu saya maju menjadi Caleg DPRD Kota Bekasi Daerah Pemilihan Bekasi, dari Bekasi Timur nomor urut lima dari Partai HANURA,” terangnya.

Mottonya maju menjadi Caleg adalah “maju dengan hati, berdiri dengan nurani.” Dengan visi untuk masyarakat Bekasi Timur untuk mendapatkan kedamaian, kesejahteraan, keadilan dan hak yang sama di hadapan hukum. Seturut dengan hal itu, maju menjadi Caleg dengan misi kelak bisa mengoptimalkan kinerja DPRD Kota dalam Fungsi Legislasi, Fungsi. “Fungsi Pengawasan dan Fungsi Budgeting untuk menghasilkan kebijakan yang pro-rakyat. Juga memberikan bantuan hukum cuma-cuma, gratis bagi masyarakat Kota Bekasi yang tidak mampu khususnya masyarakat Bekasi Timur,” ujarnya lagi.

Komitmen saya, jika saya terpilih nanti bisa mensejahterakan masyarakat Bekasi Timur melalui pengusulan kebijakan yang berisikan hak–hak yang seharusnya didapat, dan adanya kontrol terhadap kebijakan tersebut agar efektif, termasuk memperjuangkan kemajemukan. “Kita harus memperjuangkan pluralisme, bukan hanya gereja yang ditutup baru kita bereaksi. Bahkan banyak rumah ibadah saudara sepupu kita ditutup, kita harus bela,” ujar Sekretaris Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Kota Bekasi, ini.

  • Hotman J. Lumban Gaol

Otto Hasibuan


ottoKetua Umum Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Advokat Indonesia (DPP Ikadin) periode 2003-2007 yang juga merangkap Kordinator Komite Kerja Advokat Indonesia (KKAI) yang terdiri dari delapan asosiasi advokat, ini punya prinsip menjalani hidup laksana meniti jenjang anak tangga, bertahap dan menerima apa adanya. Dalam wawancara , ia bilang, mencari kepuasan materi, jabatan dan sebagainya sama seperti meminum air laut, semakin diminum akan semakin haus. Anak Siantar yang lahir di Jalan Sutomo Pematang Siantar, tanggal 5 Mei 1955, ini dari sejak Sekolah Dasar sudah aktif dalam kegiatan organisasi. Kisah sukses hidupnya memang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan organisasi. Bahkan boleh diibaratkan, jika ia tidak berorganisasi, sama seperti makan tanpa garam.

Semasa SD, dulu ada namanya PORSEDA (Persatuan Olah Raga Sepeda), ia sudah jadi ketua. Kemudian saat di SMP, di Kabupaten Simalungun, ia sudah mendirikan perkumpulan sepakbola, dalam ukuran dulu suatu klub yang sudah profesional, dalam arti sudah ada tim yang lengkap, ada manajer, kostum lengkap, dan ada yang mendanai. Klub tersebut dinamai Putra Andalas. Dia sendiri sebagai ketua klub dan teman-temannya menjadi anggota. Manejernya seorang polisi dan penasehat adalah Kapolres Simalungun. Jadi kalau mereka bertanding, Polres yang menyediakan mobil atau bis untuk trasportasi. Dulu (kira-kira tahun 1968) suatu klub sepakbola di kota kabupaten itu naik mobil (bis) adalah suatu hal yang luar biasa. Sebab ketika itu di Pematang Siantar (Kabupaten Simalungun) hanya ada satu bis. Bahkan saat itu ia sendiri mengaku belum pernah naik bis (mobil).

Pertandingan (kompetisi) di kabupaten pada waktu itu sudah ada. Pada masa itu mereka merasa sudah tren seperti sekarang ini. Sebab kalau ada pertandingan, mereka diantar dan dijemput naik mobil. Soal pendanaan, ia tidak tahu dari mana. Manajer yang mengurusi. Rupanya manajernya pintar juga. Tanpa sepengetahuan mereka, manajernya justeru meminta dana dari orang tua mereka juga. Sebelumnya, ada cerita yang agak lucu, yang sempat membuat orang tuanya stres karena kaget. Pasalnya, kira-kira jam 10 malam (22.00 WIB), orang tuanya membangunkannya, karena seorang polisi datang ke rumah mencarinya. Orang tuanya kelihatan stres. Barangkali dalam pikiran orang tuanya, ia dipanggil polisi mungkin karena berbuat sesuatu kesalahan atau kejahatan. Rupanya Pak Polisi tadi tidak segera memberitahu maksudnya. Padahal polisi itu hanya ingin memberitahu bahwa besoknya ada perubahan jadual pertandingan, jadi ia disuruh mengumpulkan teman-teman.

Pengalaman dalam klub Putra Andalas yang diketuainya dan dimanejeri seorang polisi ini cukup menyenangkan. Klub ini terbina dengan baik. Sehingga berhasil meraih juara kabupaten, setelah melalui kompetisi yang banyak sejak dari antarklub-klub kecil, kemudian antarkecamatan. Ketika di SMA, dulu ada PPSMA (Pemuda Pemudi Sekolah Menengah Atas) yang kemudian pada tahun 1972 diubah secara nasional oleh Menteri Pendidikan menjadi OSIS. Pada saat perubahan itu, ia terpilih menjadi Ketua OSIS pertama dalam pemilihan yang mirip Pemilu (voting), satu orang murid satu suara.

Setamat dari SMA, masuk ke UGM, ia pun langsung memprakarsai kegiatan organisasi. Awalnya, pada malam inagurasi (acara peresmian atau pelantikan), biasanya tingkat yang lebih tua yang membuat acara tersebut. Tapi waktu itu ia sudah lebih dulu mengorganisir teman-teman yang satu tingkat. Kepada kawan-kawannya dikatakan, “Kita yang punya pesta, kitalah yang bikin.” Setelah melalui perdebatan yang panjang, akhirnya diputuskan, mereka yang bikin malam inagurasi dan ia terpilih menjadi ketuanya. Padahal ia baru masuk (mahasiswa baru). Kemudian ia juga aktif sebagai ketua BKMK. Lalu pada pemilihan senat, ia terpilih menjadi salah satu ketua. Sebenarnya waktu itu ia meraih suara terbanyak.

Selain dalam kegiatan organisasi kemahasiswaan, ia juga aktif di organisasi pemuda gereja N-HKBP. Ia jadi Sekum (sekretaris umum), dulu istilahnya bukan ketua melainkan sekretaria umum. Kegiatannya di organisasi-organisasi itu cukup menggambarkan betapa senang dan menyatunya dia dalam dunia organisasi. Bahkan boleh diibaratkan, jika ia tidak berorganisasi, seperti makan tanpa garam. Kisah hidupnya memang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan organisasi.

Setelah jadi advokat pun ia langsung mendaftar menjadi anggota Peradin (Persatuan Advokat Indonesia). Berberapa waktu kemudian, ia menjadi komisaris dan akhirnya menjadi Sekretaris Peradin. Pada tahun 1985, semua organisasi advokat menjadi wadah tunggal, Peradin dan yang lain-lain dilebur menjadi Ikadin (Ikatan Advokat Indonesia). Di Ikadin, ia memulai dari bawah, mulai dari Wakil Sekretaris Cabang Jakarta (1986), waktu itu wilayah Jakarta masih satu, belum dibagi (Timur, Selatan, Barat, Utara, Pusat). Kemudian menjadi Ketua Cabang Jakarta Barat (1990), terus naik lagi jadi Wakil Sekjen DPP Ikadin (1995), lalu menjadi Pejabat Sekjen DPP, sampai menjadi Sekjen DPP (1992-2002). Sampai akhirnya mencapai puncak menjadi Ketua Umum DPP Ikadin periode 2003-2007. Ia juga aktif sebagai anggota International Bar Association (1985) dan anggota Inter Pacific Bar Association.

Dari jenjang itu, tergambar betapa ia betul-betul menjiwai dunia organisasi advokat ini. Ibarat militer, ia jalani lengkap dengan militansi tinggi mulai dari prajurit sampai jenjang jenderal berbintang empat. Bahkan kini jenderal berbintang lima. Sebab, kini dari 8 (delapan) organisasi advokat, sepakat lagi menunjuknya menjadi koordinator KKAI (Komite Kerja Advokad Indonesia). KKAI ini dibentuk sehubungan dengan undang-undang yang mengharuskan adanya suatu wadah tunggal advokat. Maka sebelum wadah tunggal tersebut terbentuk, tugas atau kegiatan wadah yang dimaksud, harus dilakukan bersama-sama oleh kedelapan organisasi yang ada sekarang. Sampai sekarang organisasi-organisasi advokat ini memang belum bisa bersatu. Masih terjadi silang pendapat, antara lain yang satu mengatakan ‘wadah tunggal’, dan yang lain mengatakan ‘penetrasi’. Maka sepakatlah untuk membuat suatu koordinasi dari yang delapan tadi, namun masing-masing organisasi itu tetap independen.

Tapi dalam melaksanakan kegiatannya, dibentuk KKAI dimana ia ditunjuk sebagai koordinator. Salah satu tugas KKAI adalah dalam hal pengangkatan advokat, sertifikasi advokat. Lebih jelasnya, yang menandatangani kartu agar bisa berpraktek di pengadilan adalah tugas dan kewenangan Kordinator KKAI. Jadi yang mengeluarkan kartu agar seseorang bisa berpraktek di pengadilan adalah KKAI bukan organisasi seperti Ikadin, AAI, dan sebagainya.

Dalam komunitas adat pun ia ikut aktif. Ia memang tidak memasuki tata-adatnya karena menganggap itu bukan dunianya. Tapi musyawarah adat itu, menurutnya, adalah bagian dari organisasi. Sehingga sekarang ia dipercaya komunitas adat marganya menjadi Ketua Marga Hasibuan. Jabatan ketua marga ini pun tidak langsung serta merta dipercayakan kepadanya. Tapi dimulai dari ketua salah satu seksi kemudian jadi sekretaris, jadi Sekjen, lalu jadi ketua umum. Ia memang termasuk orang yang tidak suka melompat-lompat dalam meraih sesuatu. Hal ini bahkan sudah merupakan prinsip hidup baginya. Misalnya, kalau ada tangga, dimana ia sedang berdiri di tangga ketiga, dan di tangga ketujuh ada sesuatu rejeki atau kesempatan (kans), hampir jarang ia langsung melompat ke tangga tujuh walaupun ada sesuatu yang menarik di tangga tujuh tersebut.

Jadi ia cenderung selalu meniti anak tangga, dari tangga satu, dua, tiga ke tangga empat dan seterusnya. Setiap tangga itu pun harus diinjak dulu, apa sudah kuat atau tidak. Kalau sudah kuat, baru ia naik ke tangga berikutnya, begitulah seterusnya. Dalam bayangannya, jika melompat ke tangga tujuh, kalau tidak dapat akan jatuh dan pasti sakitnya bukan main. Jadi ia termasuk orang yang hati-hati dan konservatif, karena ia mempunyai prinsip bahwa kalau Tuhan mau, tidak ada yang mustahil. Ia yakin betul hal itu. Kalau Tuhan mau, sesuatu itu pasti diberikan kepadanya.

Makanya ia katakan: Kelihatannya dalam teori, saya sulit melakukan (lompatan) itu. Bukan saya tidak mungkin lompat. Saya tidak pakai istilah itu. Mungkin suatu saat, bisa saja saya disuruh melompat, tapi itu pasti ada sebabnya. Namun kemungkinan itupun rasanya sulit, karena dalam perjalanan karir saya pun tidak begitu. Baik dalam pencapaian materi maupun karier selalu berjenjang anak tangga. Dan hal itu sudah karakter, barangkali, jelas Otto yang punya hoby main golf dan bercakap-cakap (mengundang teman untuk ngobrol).

Dalam hal berorganisasi, ia tidak pernah berpikir bahwa ikut berorganisasi agar menjadi ketua. Melainkan ia masuk untuk berbuat sebaik mungkin. Itu saja! Kendati setelah tiba waktunya orang kemudian menunjuk dan memilihnya sebagai ketua. Jadi, menurutnya, pasti tiba waktunya kalau kita selalu berusaha berbuat baik. Dalam pikirannya, harus ‘everlasting’ (tahan lama). Sesuatu yang didapat itu harus tahan lama, baik dalam berkawan, kalau bisa abadi, dalam arti, ia tidak suka kontroversi atau konflik. Karena memang hal ini sudah merupakan prinsip atau pandangan hidupnya.

Ia juga belajar dari pengalaman. Seringkali beberapa peluang yang ada, yang oleh orang lain bilang itu tidak peluang, tapi ia katakan itu peluang. Tapi sebaliknya, orang mengatakan sesuatu itu peluang tapi ia melihat tidak. Ia mengaku hal ini tidak mudah dijelaskan, entah kenapa. Umpamanya, ada saja orang yang menerka bahwa arah pikiran dan rencananya jadi politisi. Dalam hati ia mengatakan, terkaan orang itu jauh sekali, namun ia tidak mengatakan ‘tidak’. Makanya ia selalu mengatakan, ‘haruslah kita rajin bersyukur kepada Tuhan, kita harus pintar dan rajin menghitung berkat-berkatNya. Bayangkanlah, untuk matahari terbit besok, kita tidak perlu berdoa. Betapa baiknya Tuhan itu. Apalagi kalau kita berdoa!”

Ia memang seorang yang menjalani kehidupan ini apa adanya dengan tidak pernah berpikiran harus jadi begini, harus jadi begitu. Yang selalu ingin ia lakukan adalah berbuat sebaiknya. Karena, menurutnya, ketika kita targetkan suatu cita-cita ke depan kemudian langkah kita arahkan ke sana, dengan begitu kita nanti jadi terikat, dan ketika ada halangan untuk mencapai ke sana terjadilah konflik. Saya hanya berpikiran, setelah kita berbuat yang terbaik, kita lihatlah hari demi hari, tidak perlu terlampau fokus ke sana. Saya seorang advokat, saya berbuat baik sebagai advokat. Setelah itu, advokat saya masih tetap kecil atau menjadi besar, tidak lagi urusan saya. Namun kalau kita memaksakan target hari ini, ketika ada yang menghalangi itu, akan menjadi repot. Jadi semua ada waktunya. Sudah menjadi keyakinan saya dalam hidup ini, bahwa Tuhan itu agung, tapi itupun kita harus melakukannya dengan jujur.”

Ia pun mengemukakan satu pepatah mengenai hidup dan kepuasan yang sudah merupakan suatu filsafat hidup baginya, yaitu: ‘Kalau kita tidak pernah mengatakan cukup, maka kita tidak akan pernah bahagia’. Mengenai cukup, menurutnya, kitalah yang mengaturnya, kita pula yang membuat ukurannya. Masing-masing takaran orang berbeda. Meskipun orang lain mengatakan bahwa hidup seseorang itu sudah hebat, atau sudah enak, belum tentu orang tersebut merasa hidupnya bahagia. Sebab ukuran dia itu tidak pernah mengatakan cukup.

Ia bilang, mencari kepuasan materi, jabatan dan sebagainya sama seperti meminum air laut, semakin diminum semakin haus. Maka, menurut lulusan sarjana hukum FH-UGM ini, agar kita bisa mengatakan atau merasakan cukup, haruslah bisa bersyukur, apapun yang kita alami. Kalau kita merasakan Tuhan belum buka apa yang kita inginkan jangan kecil hati sebab mungkin belum waktunya. Percayalah, bila waktunya tiba, Tuhan pasti beri, sebelum waktu itu tiba, bersyukurlah dan jalanilah hidup dengan baik. Ia sendiri mengaku selalu menghitung betapa banyaknya yang Tuhan berikan padanya. Sungguh ia hitung tiap hari. Misalnya anak sehat, sekolah dengan baik, tidak melawan, semua pembantu setia, sopir menyetir dengan baik, orang di kantor mau datang bekerja, tidak mengomel, rejeki ada, uang dapat. Ia hitung semua.

Bukan hanya menghitung uangnya saja, tapi semuanya. Kalau sopir misalnya, menyetir ugal-uagalan, kita akan pusing juga, ujarnya. Jadi semua harus disyukuri. Orang mungkin berpikir, bahwa ia mengatakan begitu karena hidupnya sudah enak. Padahal sesungguhnya, ia mulai dari nol, datang ke Jakarta tidak punya apa-apa juga, sama seperti yang lain, mahasiswa biasa, bekerja, jadi pegawai, setelah dapat gaji kemudian buka sendiri dengan pegawai satu orang, kemudian menjadi dua-tiga orang pegawai. Jadi sama seperti naik tangga tadi juga, bukan tiba-tiba ia buka kantor yang besar, tidak. Pada mulanya ia bekerja di kantor pengacara, mulai dari asisten kemudian naik terus hingga bisa membuka kantor sendiri. Kesuksesannya dimulai dengan berbuat baik saja. Itu saja yang saya tahu yaitu berbuat baik, sebab dengan berbuat baik pasti ada gunanya. Apapun kata orang, ada yang bilang berbuat baik itu bodoh, bagi saya itu tidak mempengaruhi, prinsip itu yang tetap saya yakini, katanya.

Satu pengalaman yang tak pernah dilupakannya adalah ketika dia pernah menerima imbalan buah pisang dari kliennya, pada awal dirinya terjun sebagai pengacara. Ketika itu, ia mulai aktif sebagai pengacara saat masih duduk di tingkat empat Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (FH UGM), Yogyakarta. Dia bergabung dengan Biro Bantuan Hukum di kampusnya. Biro Bantuan Hukum itu sangat dekat dengan para pencari keadilan yang kebanyakan wong cilik. Dari situ ia sudah mulai menikmati profesi pengacara itu. Padahal, dulu setamat SMA, ia tidak pernah berpikir menjadi sarjana hukum. Pada awalnya bukan itu cita-cita saya,” katanya. Keinginannya, ketika itu, menjadi insinyur, karena dia dari jurusan Paspal (sekarang IPA) semasa di SMA. Namun, ayahnya menasehatinya (tidak memaksanya) agar memilih jurusan hukum. ”Sudah, satu tahun saya kasih kebebasan buat kamu, kalau boleh, katanya, saya yang tahu kamu, rasanya kau tepatnya menjadi hakim Ya kalau boleh, cobalah,” saran ayahnya. Ia pun merenungkan lalu mengikuti tes masuk UGM dan tamat tahun 1981.

Ia pun pernah studi di Australia, mengikuti Comparative Law Course di University Technology of Sidney. Bahkan sampai saat ini, ia masih punya kerinduan lebih mendalami ilmu hukum itu. Di tengah kesibukannya, baik sebagai advokat yang juga menjadi konsultan pasar modal dan menjadi arbiter, maupun kegiatan organisasi, ia masih berupaya meraih gelar S-3 di UGM. Dari kecil dia memang dikenal sebagai seorang ulet dan rendah hati. Kendati ia mengaku dalam perjalanan hidupnya merasa tidak ada yang istimewa. Biasa-biasa saja. Tapi dia juga tidak pernah merasa bahwa hidupnya terlalu tidak istimewa. Namun suatu hal yang boleh dibilang istimewa manakala menelusuri perjalanan hidupnya ke belakang, bahwa memang Tuhan selalu memberikan yang terbaik kepadanya. Walaupun ia mengaku tidak kaya raya.

Jadi, menurutnya, tidak ada yang secara spesifik sekali yang harus diceritakan dalam perjalanan hidupnya. Kalaupun ada, kalau boleh dibilang spesifik, yaitu kesukaannya berorganisasi sudah ada sejak kecil, mulai dari kelompok-kelompok bermain. Kalau ada teman-teman dua tiga orang, ia suka mengorginisir, seperti, kelompok main bola, ia sudah jadi ketuanya.

Asuhan Orang Tua
Jika ditelururi, perjalanan hidupnya tentu tidaklah terlepas dari proses pengasuhan kedua orang tuanya. Mulai dari rahim ibunya, kelahirannya di rumah toko bernama ‘Sinar Matahari’ yang sekaligus rumah tempat tinggal keluarga di Jalan Sutomo Pematang Siantar. Di situ keluarganya bertetangga dengan warga keturunan Tionghoa. Sehingga dulu ia dan keluarganya bisa bahasa Hok Kian. Ia adalah anak paling bungsu dari sepuluh bersaudara, 6 (enam) laki-laki dan 4 (empat) perempuan. Orang tuanya, ayah Hasibuan dan ibu Boru Siahaan, seorang pengusaha (wiraswasta). Dalam proses pengasuhannya, Sang Ibu adalah pengajar baginya, namun ayahnyalah yang menjadi idolanya. Padahal ayahnya tidak suka beroganisasi. Tapi ia menyebut ayahnya sebagai konsultannya orang-orang yang berorganisasi.

Karena ayahnya memang tidak mau tampil di depan, namun selalu siap jadi tempat bertanya. Sebab pada zamannya, ayahnya cukup dihormati di tengah masyarakat setempat dan di lingkungan keluarganya. Hal ini antara lain lantaran ayahnya termasuk salah seorang yang lebih dulu meninggalkan kampungnya (Toba) merantau ke Sumatera Timur. Namun ayahnya tidak pernah mau muncul jadi tokoh dalam satu organisasi, kumpulan marga atau yang lainnya, walaupun selalu aktif jadi konsulernya. Termasuk kepada anak-anak, ayahnya hanya memberikan nasehat agar dalam hidup ini harus selalu berbuat baik, itu saja. Sang Ayah mengatakan bahwa usaha yang cukup keras dibangun itu bukan semata-mata untuk dia tapi untuk anak-anaknya.

Tapi biarpun ayahnya tidak suka aktif berorganisasi, Sang Ayah tidak melarangnya ikut berorganisasi. Karena memang beliau orang demokrat, beliau membiarkan apapun pilihan anaknya, dan beliau hanya memberikan arahan, misalnya kau ini siapa, apa kemauanmu, dan sebagainya, kata Otto mengenang. Ayahnya juga bukan seorang yang rajin ke gereja tapi tiap hari baca Alkitab. Tidak ada hari tanpa baca Alkitab. Maka ketika ia bersama ayahnya pergi ke Israel, biasanya orang harus dituntun dulu oleh pendeta, tapi malah Sang Ayah yang cerita. Jadi Sang Ayah sudah lebih paham, mengingat apa yang dibaca di Alkitab itu.

Dalam hal adat juga ayahnya tidak menjadi pelaku tapi sebagai tempat bertanya. Bukan soal pelaksanaan adatnya tapi bagaimana menyelesaikan persoalan-persoalan. Sifat ini sedikit-banyak terwariskan kepada Otto. Sama seperti ayahnya, ia juga selalu berupaya mendamaikan orang yang bermasalah. “Memang, sama seperti beliau, saya paling tidak suka dengan konflik. Dimana pun, saya ingin suasananya aman dan damai, bila perlu kita mengalah atau berkorban asal jangan terjadi konflik. Hal itulah yang paling saya wariskan dari Bapak saya,” kata Otto.

Ayahnya memang selalu menanamkan damai itu. Jika diantara kami anaknya waktu kecil ada sedikit koflik, beliau selalu menganjurkan agar kami (salah satu atau kedua-duanya) berkorban dan mengalah agar kami damai, kenang Otto. Mengenai sosok ibunya, yang disebutnya sebagai seorang pengajar yang baik. Ia mengaku belajar banyak dari pengorbanan Sang Ibu, yaitu bagaimanapun susah dan sulitnya hidup tetapi ibunya tetap mendidik dengan baik, bahkan hampir tidak pernah menikmati hidupnya demi kami anak-anaknya. Beliau mengorbankan dirinya tidak begitu enjoy asalkan anak-anaknya bisa enjoy, kenang Otto. Mereka 10 bersaudara, semua menikmati bangku sekolah kecuali satu orang yang tidak mau sekolah, sejak SMP saja sudah lari (cabut) melulu kerjanya.

Selain pengaruh ayah dan ibunya, isteri dan anak-anaknya juga turut menopang perjalanan karirnya. Isterinya seorang ibu rumah tangga, yang juga mempunyai latar belakang pendidikan hukum. Tapi tidak sempat lulus karena ketika tingkat 5, sedang memulai menyusun skripsi, ibu saya sudah sakit. Saya dipesan, selagi beliau sehat agar saya menikah, kata Otto menjelaskan kenapa isterinya tidak menyelesaikan studinya. Tadinya, rencananya setelah menikah kuliah akan diteruskan, soalnya tinggal skripsi saja, tetapi rupanya, situasi menghendaki lain, akhirnya kuliah tidak dilanjutkan hanya menjadi ibu rumah tangga.

Istrinya bernama Normawati Damanik, juga berasal dari Siantar, walaupun kenalnya jauh dari Siantar yakni di Yogya. Karena memang mereka sama-sama sekolah di sana. Isterinya kuliah di Atma Jaya sedangkan dia di Universitas Gajah Mada, dan sama-sama jurusan hukum. Sebenarnya mereka bertetangga di Siantar. Tapi waktu di Siantar mereka belum saling kenal. Jadi jodoh itu tidah jauh rupanya, sudah jauh-jauh melanglangbuana kemana-mana cari jodoh ternyata tetangga juga, ya dekatlah, katanya. Pernikahan mereka dikaruniai 4 (empat) anak. Anak pertama sampai ketiga perempuan dan anak paling bungsu laki-laki. Kini, anak pertama Putri Linardo Hasibuan sudah kuliah jurusan ekonomi di Curtin University, Australia. Anak kedua Lionie Petty Hasibuan masih SMP. Anak ketiga Natalia Octavia Hasibuan serta anak paling bungsu Yakub Putra Hasibuan, masih duduk di SD. Jarak kelahiran anak-anaknya memang agak jauh, ada yang empat tahun dan yang paling dekat tiga tahun.

Dan ternyata, isterinya menjadi pengajar yang baik juga bagi anak-anaknya. Terbukti, anak yang pertama mereka diterima di UGM, tetapi sesudah mendaftar dan mengikuti orientasi, kebetulan merasa tidak cocok. Akhirnya kuliah di Australia.

Ia memberi kebebasan kepada anak-anaknya. Praktis ia tidak pernah menganjurkan anaknya agar terjun ke dunia hukum. Baginya ke manapun pilihan anak-anaknya, boleh saja. Tetapi satu hal yang ia tekankan adalah di bidang apapun harus ‘the best’. Malah kalau tidak sarjana pun tidak apa apa. Kalau mereka punya keahlian itu sudah cukup. Jangan sampai menjadi orang yang cenderung sarjana minded atau gelar minded tapi harus ilmu minded. Jadi ilmunya yang harus dikuasai. Sebab ia melihat, dalam kehidupan yang sukses itu, ternyata bukan dari orang yang bergelar, melainkan orang yang bisa menguasai ilmu atau memperaktekkan ilmunya dengan baik. Jadi gelar tidak menjamin kesuksesan orang, walaupun itu salah satu ukurannya. Jadi bukan gelarnya tapi ilmunya harus dapat, syukur kalau berilmu dan bergelar, jangan bergelar tapi tidak berilmu.
Dr. Otto Hasibuan MM
– Praktisi Hukum

– Ketua Umum DPP PERADI dan IKADIN

(Repro: Suara Pembaruan, Pewawancara: Pandapotan Simorangkir)
Otto Hasibuan SH MM terpilih menjabat Ketua Umum DPP Ikadin periode 2003-2007 dalam Musyawarah Nasional Ikatan Advokat Indonesia (Munas Ikadin) di Semarang, Jawa Tengah, yang berlangsung pada 3-5 April 2003. Banyak hal yang patut dicatat dari Munas ke-3 Ikadin kali ini. Itu tak lain karena pelaksanaan Munas beriringan dengan disetujuinya Undang-Undang tentang Advokat oleh DPR.

Banyak kritik dilontarkan di tengah-tengah Munas. Apalagi dalam soal posisi dan peran advokat sebagai agent of development dalam membangun sistem hukum nasional. Belum lagi soal suara-suara sinis atas keberadaan advokat yang kini dinilai tak lagi berperan sebagai garda terdepan untuk mewujudkan keadilan.

Advokat sebagai profesi lebih berorientasi pada materi, hanya soal kalah-menang dalam berperkara. Ikadin sepertinya perlu meluruskan paradigma ini. Lantas bagaimana kedudukan advokat, khususnya Ikadin, pascalahirnya Undang-Undang tentang Advokat itu? Berikut petikan wawancara Pembaruan dengan Otto Hasibuan SH MM di Semarang seusai Munas.

Profesi advokat secara langsung ikut bertanggung jawab dalam membangun sistem hukum yang kuat. Artinya, sistem hukum nasional yang dapat jadi pijakan. Apa pendapat Anda?

Saya pikir pendapat itu tepat. Itu sebabnya dalam Munas saya utarakan, advokat adalah agent of development. Artinya, advokat mempunyai potensi yang sangat kuat untuk memastikan berjalannya sistem hukum. Oleh karena itu, advokat harus diberdayakan secara optimal sesuai potensinya. Hal inilah yang selama ini belum secara maksimal dilakukan oleh kalangan advokat.

Khusus untuk Ikatan Advokat Indonesia (Ikadin), itulah yang akan dilakukan saat ini. Bagaimana peran advokat kini dan masa mendatang? Itu yang jadi concern. Idealnya, kita harus jeli mencermati tuntutan zaman atas peran advokat. Baik tantangan secara internasional maupun nasional.

Itu sebabnya dalam menyikapi berbagai tantangan Ikadin harus membuat skala prioritas. Paling penting sekarang adalah bagaimana Ikadin membenahi internal organisasinya, meskipun secara eksternal tak boleh ditinggalkan.

Jangan sampai timbul kesan suksesnya advokat hanya ditentukan oleh keberhasilan dalam memenangi perkara yang nilai uangnya besar. Sementara substansi persoalan hukum dan keadilan tidak hanya selesai di situ. Saya melihat justru banyak persoalan-persoalan hukum yang bila dilihat dari nilai ekonomisnya kecil, tetapi mengandung persoalan hukum dan keadilan sangat substansial karena menyangkut rasa keadilan masyarakat.

Parameter ini yang saya lihat sudah bergeser. Ini terjadi karena adanya paradigma berpikir soal sukses tidaknya seorang advokat. Kalau dulu orang terkenal ketika dia membela rakyat kecil yang berhadapan dengan pemerintah, sekarang ini orang terkenal bukan kerena membela rakyat kecil, tetapi karena membela perkara-perkara yang materinya besar. Padahal, bisa jadi perkara yang nilai uangnya besar itu, sesunguhnya hanya mengandung substansi hukum yang sederhana.

Bila paradigma ini tidak diluruskan, maka jangan salahkan bila ada suara sinis yang ditujukan terhadap profesi advokat yang mengatakan, “Maju tak gentar membela yang bayar.” Sinisme ini memang realitas. Oleh karena itu, advokat harus berani mengambil sikap, “Maju tak gentar membela yang benar.”

Mengapa begitu miring orang menilai posisi advokat dalam proses penegakan hukum?

Kondisi itu saya kira wajar-wajar saja di alam reformasi. Ketika sumbatan transparansi terbuka, rakyat semakin jeli melihat sisi-sisi janggal dari proses penegakan hukum. Nah, sasaran yang paling mudah untuk ditembak adalah profesi advokat yang melakukan pembelaan. Katakanlah, misalnya, seorang advokat membela seorang tersangka koruptor. Sering masyarakat menjatuhkan vonis sebelum ada vonis hakim. Belum lagi bila tercium adanya ketimpangan-ketimpangan dalam penegakan hukumnya. Maka, di sinilah perlunya advokat dan organisasi memberikan suatu penjelasan kepada masyarakat perannya itu seperti apa.

Tapi saya juga tak mau muluk-muluk. Kita harus realistis, advokat itu tidak digaji oleh pemerintah. Dia hidup dan mendapat uang dari profesinya. Makanya dia sibuk menangani perkara karena dari situlah dia mendapat hidup. Tapi, tetap harus diingatkan, sebagai advokat, selain harus mencukupi ekonomi dirinya sendiri, sesunguhnya advokat itu mengemban kewajiban profesi untuk menegakkan keadilan dan kebenaran. Apalagi kalau dikatakan advokat sebagai agen pembangunan. Itu sebabnya, Ikadin sebagai organisasai harus mampu mensinergikan aspek visi dan misi organisasi terhadap para advokatnya.

Soal eksternal bagaimana?

Kita mempunyai bidang luar negeri dan kita juga sudah masuk jadi anggota International Bar Association dan kegiatan-kegiatannya selalu kita ikuti.

Tapi, seperti saya utarakan di atas, soal internal harus mendapat skala prioritas. Banyak persoalan hukum dan kenegaraan secara nasional yang sesungguhnya harus disikapi advokat.

Karena itu peningkatan profesionalitas sangat penting. Itu sebabnya, kita butuh legal education.

Tapi saya juga tak mau muluk-muluk, soal pengembangan SDM advokat, Ikadin memang terkendala oleh posisinya. Advokat sering sangat sibuk dengan berbagai pekerjaannya.

Untuk itu saya berpikir, ada satu cara yang dapat ditempuh, yakni Ikadin harus bersinergi dengan kelompok lain seperti akademisi dan tokoh-tokoh pemikir. Ikadin harus memiliki think-tank. Di belakang Ikadin harus ada orang-orang sebagai pemikir, yang objektif sehingga kalau ada masalah-masalah yang terjadi di masyarakat, Ikadin dapat memberikan sumbangsih bagi penyelesaiannya.

Dalam waktu dekat susunan pengurus DPP Ikadin harus terbentuk, bagaimana kira-kira gambarannya?

Pertama yang dibutuhkan di sini adalah orang-orang yang mau bekerja. Punya dedikasi untuk kemajuan organisasi. Itu pasti akan lebih bermanfaat.

Susunan orang-orangnya?

Itu masih perlu dibicarakan dengan para formatur lainnya.

Ikadin sebagai oraganisasi perjuangan, itu seperti apa?

Ini mungkin sejarah yang dibawa dari Peradin. Saya berpendapat, kata “perjuangan” tetap harus dicantumkan dalam Anggaran Dasar (AD) Ikadin. Saya pikir, kalau ini tidak dicantumkan, misi ini akan hilang kekuatannya. Cuma yang jadi soal, yang harus dicermati adalah Ikadin sebagai organisasi profesi. Maka, tentunya dia punya aturan-aturan khusus mengenai hal itu.

Tetapi sebagai organisasi perjuangan Ikadin mesti berjuang. Berjuang untuk mewujudkan keadilan hukum. Tapi harus digarisbawahi, tatkala Ikadin sebagai organisasi profesi harus berjuang, maka perjuangannya bukanlah perjuangan aksi. Seyogianya, sebagai organisasi perjuangan Ikadin mesti membangun sistem hukum.

Jadi, perjuangan Ikadin harus lebih ditekankan pada perjuangan pemikiran. Ini harus disepakati dulu oleh para advokat. Itu sebabnya saya katakan, harapannya Ikadin harus mempunyai think-tank. Jadi, kalau ada persoalan hukum yang terjadi di masyarakat, ada putusan pengadilan yang janggal, think-tank ini memberi masukan untuk mengkritisinya.

Apa sikap anda soal Undang-Undang tentang Advokat?

UU ini sudah ada dan harus dihormati, dan kita taati saja. Namun sebagai advokat, apalagi sebagai pimpinan sebuah organisasi, tidak boleh membiarkan kalau ada hal-hal yang belum pas dalam sebuah UU. Kita ikuti UU itu, tetapi kita kritisi.

Nah, di sinilah peran Ikadin, tidak perlu kita harus ribut, tidak perlu kita ke pengadilan, kita ajukan saja permohonan penyempurnaannya kepada DPR. Tentunya dengan mengajukan argumentasi-argumentasi dengan harapan nantinya, DPR sendiri yang akan mengubahnya. Ini cara baik.

Soal wadah tunggal?

Saya pikir itu sudah ditentukan dalam UU, ya, kita harus bersiap dan menyikapi itu. Persoalannya kan ini masih harus kita bicarakan dengan organisasi lain yang ada.

Soal kode etik?

Saya kira kode etik itu sudah memadai, persoalannya bukan kode etiknya tetapi bagaimana melaksanakannya. Ini kan nantinnya berkaitan dengan akan adanya wadah tunggal dan bagaimana mengatur Dewan Kehormatan (DK) organisasi. Di sini harus dibicarakan, jadi harus ada kesepakatan-kesepakatan dengan kawan-kawan yang lain.

Jika ada pelanggaran kode etik oleh advokat, sering ada pendapat bahwa hal itu tidak diselesaikan secara tuntas. Bagaimana ke depannya?

Memang yang paling penting dalam soal ini, perlu dilakukan penjelasan yang gamblang kepada masyarakat dari organisasi profesi seperti Ikadin atau jika wadah tunggal sudah terbentuk sehingga masyarakat mengetahui bagaimana tata cara penanganan pelanggaran kode etik oleh advokat.

Saya masih melihat masyarakat belum tahu mengenai tata caranya. Jadi kalau kita lihat ada pelanggaran kode etik, dia mengajukan secara salah. Karena prosedurnya salah, maka kemungkinannya tidak ditanggapi. Maka, masyarakat pun menganggap pengaduan tidak ditanggapi. Di sinilah perlu adanya expose kepada masyarakat.

Masalah KKN begaimana Ikadin menyikapinya?

Kita jangan terjebak dengan satu pemikiran. Jangan melihat persoalan KKN-nya saja. Saya katakan ini merupakan perhatian. Itu hanya sebagaian dari perjuangan advokat itu. Proses penegakan hukum tidak hanya di sektor itu saja. Saya kembali kepada apa yang saya katakan tadi bahwa masih banyak persoalan-persoalan kecil – yang secara ekonomis kecil – tetapi secara substansial besar. Nah, ini yang kita lihat. Kalau kita melihat yang besar-besar, terlupakan yang kecil-kecil, saya kira keadilan tidak akan tercapai.

Ke depan tugas kepengurusan cukup berat. Apalagi bila dikaitkan dengan peningkatan kualitas advokat dalam menjawab tantangan baik dalam skala nasional maupun internasional. Apa komentar Anda?

Walaupun wadah tunggal itu terbentuk atau tidak, dengan adanya UU tentang Advokat sudah disyaratkan advokat harus melalui tahapan magang dan yang menguji advokat itu adalah organisasi profesi. Mau tidak mau, organisasi profesi itu membuat satu wadah pendidikan. Ini harus realistis. Saya tidak mau muluk-muluk dulu. Lembaga pendidikan itu boleh dilakukan oleh Ikadin, boleh juga bekerja sama dengan lembaga-lembaga lain yang sudah ada. Sebagai contoh, kita sudah tandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan salah satu universitas di Semarang untuk membuka pendidikan profesi advokat. Ini salah satu cara untuk meningkatkan kualitas advokat.

Advokat adalah profesi mulia. Tapi sering terungkap mafia peradilan melibatkan oknum advokat. Komentar Anda?

Ini buah simalakama, tidak tahu mau menyalahkan siapa. Ada yang mengatakan, jika advokat tidak menawarkan sesuatu, maka hakimnya tidak akan….

Paradigma seperti ini perlu disosialisasikan. Jangan malah seperti di kampung, dimana masih ada orang tua mengatakan kepada anaknya, Anakku, apa lagi gunanya kau sekolah, sedangkan sarjana saja banyak menganggur. Jadi maksudnya, buat apa lagi sekolah sebab yang sekolah banyak yang menganggur. Sebenarnya cara berpikir ini harus dibalik. Si orang tua harusnya berkata, Anakku, rajinlah sekolah, sebab sarjana saja banyak yang menganggur, apalagi kalau tidak sekolah. Kepada anak pertamanya, memang sering dipancing agar mengambil bidang kedokteran atau yang lain. Tetapi anaknya tetap konsisten memilih jurusan ekonomi. Sebelumnya ia tanya anaknya, Kira-kira dalam hidupmu maumu itu seperti apa? Jadi ia tidak tanya langsung mau ke fakultas apa. Kemudian setelah anaknya menjawab, baru ia pikir bahwa pendekatannya lebih tepat dari ekonomi. Karena ia bukan ahli di bidang ekonomi, lalu anaknya dipercayakan kepada temannya seorang doktor ekonomi, salah satu asisten deputi menteri, untuk konsultasi. Setelah bertemu dua jam baru anaknya mengambil pilihan.

Lawrence T.P. Siburian


Nama Lengkap: Lawrence TP. Siburian, SH., MH., LL.M

lawrence

Anggota dari:

  • IBA (International Bar Association)
  • IPBA (Inter Pacific Bar Association)
  • IKADIN (Ikatan Advokat Indonesia)
  • AIPLA (American Intellectual Property Law Association)

Organisasi:

  • Sekretaris Jenderal SOKSI (2010 – 2015)

Lawrence T.P. Siburian adalah lulusan Sarjana Hukum dari Universitas Indonesia – Jakarta (1984). Kemudian beliau memperoleh gelas Magister Hukum dalam bidang Hukum Bisnis dari Program Pasca Sarjana Fakultas Hukum, Universitas Indonesia (2002). Beliau pernah menjadi dosen tamu di beberapa Universitas di Jakarta (1983-1992), untuk Universitas Kristen Indonesia; Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Perbanas, dan Sekolah Ekonomi Jayakarta. Beliau adalah mantan pegawai negeri dari Departemen Dalam Negeri, dan juga mantan anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia.

Lebih jauh, beliau pernah aktif dalam banyak bidang organisasi, baik lingkup nasional maupun internasional. Beliau juga wakil Badan Hukum, Hak Asasi Manusia dan Otonomi Daerah Partai Golongan Karya (Golkar), yang merupakan Partai Politik terbesar di Indonesia.

Beliau dari tahun 1978 sampai dengan tahun 1981, bekerja pada Lembaga Konsultasi Bantuan Hukum). Ketika masih bekerja di LKBH Trisula, yang didukung oleh Law Firm daerah Kanada dari tahun 1980-1981. Dari tahun 1982-1987, beliau bekerja pada Kantor Hukum Juwono & Associates. Kemudian, dari tahun 1988 hingga tahun 1990, beliau bekerja di LKBH di Jakarta. Kemudian, beliau pernah menjadi seorang partner pada Kantor Hukum Partahi & Juan Felix di Jakarta dari tahun 1993 hingga tahun 1997. Pada tahun 1999, beliau memutuskan untuk menjadi seorang partner di Kantor Hukum Lawrence, Maharaja & Partners. Pada akhirnya, beliau membentuk Kantor Hukum Lawrence T.P Siburian & Associates pada tahun 2000. Dia terdaftar sebagai konsultan hukum pasar modal pada Badan Pengawas Pasar Modal.

Lawrence TP Siburian & Associates

Alamat: Jl Bangka III 37 RT 001/02, Pela Mampang, Mampang Prapatan
Kota: Jakarta
Kode Pos: 12720
Phone: 021 71791881 – 021 71792233 – 021 71790173 – 021 71791843
Website: http://www.lawltpsa.com
Fax: 021 71790173

Suhunan Situmorang


Sordam, Kesedihan Yang Tak Terucapkan

Suhunan Situmorang yang lahir di Pangururan, Samosir, 12 Maret 1961, dikenal sebagai penulis “Sordam” yang terbit tahun 2005 oleh Gagas Media. Penulis yang memiliki nama lengkap Suhunan Madja Situmorang adalah sosok yang rendah hati dan ramah bila berkomunikasi, sehingga membuat siapa saja yang baru kenal dengannya merasa diperhatikan. Suhunan yang banyak menulis cerita-cerita pendek tentang liku-liku kehidupan, kebudayaan, dan tentang masyarakat Batak saat ini melejit namanya berkat “Sordam.” Buku setebal 360 halaman ini bukan saja dibaca oleh orang-orang Batak yang mencintai kesusastraan Batak, juga disiimak oleh pembaca di luar etnis Batak.

“Sordam” bercerita tentang liku-liku yang dihadapi oleh sosok pemuda Batak, Paltibonar Nadeak, yang pergi merantau ke Jakarta untuk mengadu nasib. Di kota ini terjadi pergesekan-pergesakan budaya yang dialami oleh Paltibonar Nadeak sebagai perantau. Di dalam ”Sordam,” Suhunan Situmorang juga menyentil tentang pandangan-pandangan masyarakat di Indonesia terhadap orang-orang Batak yang dia anggap sangat klise sekali, seperti orang Batak kasar, bersuara keras, dan hanya bisa bernyanyi dan bermain catur saja.

Keberadaan Paltibonar mulai dipertanyakan pada saat sosok ini tidak bisa dihubungi dan tidak diketahui keberadaannya oleh keluarga besarnya di kampung, terutama oleh ibunya yang sudah tua. Melalui Sordam proses pertemuan keluarga tersebut dilakukan. Sordam adalah alat tiup yang terbuat dari bambu yang ukurannya lebih besar dibandingkan dengan suling (sulim). Alat tiup ini merupakan medium untuk memanggil roh orang mati secara misterius, juga orang hilang dan sebagainya.

Suhunan Situmorang yang beristrikan Hastuti Naenggolan dengan tiga orang anak: Jogy Situmorang, Tesalonika Situmorang, dan Ayu Situmorang. Selain bekerja sebagai praktisi hukum di Nugroho Partnership, dia juga sedang menulis buku keduanya, ”Terang Bulan di Rura Silindung” yang mengambil setting tahun 1970-an. Buku ini direncanakan akan diluncurkan tahun 2009 ini. Untuk mengetahui lebih jauh tentang sosok Suhunan Situmorang,
Grace Siregar (pernah diterbitkan di TAPIAN) mewawancarainya:

GS: Apa yang ingin ito Suhunan angkat melalui ”Sordam”?
SS: Saya ingin menawarkan nilai baru kepada pemuda-pemuda Batak bahwa Budaya Batak kita itu selain kompleks juga sangat kaya dan menarik untuk digali. Selama ini kita dikenal sebagai orang yang keras, kasar, bersuara kuat dan hanya pandai bermain catur dan bernyanyi. Pandangan-pandangan stereotip di permukaan ini saja yang dikenal.

Prilaku sopan santun kita awali dengan kata “satabi,” yang artinya permisi atau meminta izin sebelum berbicara, atau kata yang digunakan untuk memasuki suatu daerah, tak pernah diingat orang. Pada saat kita memulai suatu pembicaraan, atau memasuki daerah lain, dengan mengawalinya dengan kata ”satabi” yang berarti kita menghormati orang tersebut dan masyarakat di daerah yang akan kita masuki itu.

Kita juga memiliki strata sosial yang berlapis-lapis, dari strata bawah, menengah, dan atas, yang mempengaruhi kita secara budaya, alam pikiran dan prilaku. Prilaku tertib kita tunjukkan dengan tidak boleh buang air atau meludah di sembarangan tempat. Kita tidak mengenal kata “maaf,” yang diadopsi kemudian hari dan lebih mengenal kata “anju manganju,” bukan memaafkan, tetapi lebih diartikan sebagai rasa sayang dan perduli. Itulah inti dari filosofi dan harapan para leluhur kita. Para leluhur kita sudah membuat benteng untuk menjaga sikap dan prilaku manusia Batak dengan sejumlah poda (nasihat), patik (ayat tersurat), uhum (hukum), yang bila kita laksanakan secara konsisten, kecil kemungkinan kita melakukan kesalahan.

Batak diharapkan untuk tidak gampang berbuat salah lalu meminta maaf. Perilaku harus terus dijaga. Nah, banyak saudara-saudara kita tidak dibekali dengan filosofi ini. Sebenarnya, budaya “tidak sopan” ini timbul karena rasa kedekatan yang tidak menuntut formalitas. Misalnya, di stasiun-stasiun bus, di pasar-pasar, di kedai-kedai tuak. Kebutuhan dengan bahasa-bahasa yang tidak memerlukan tata krama ini dianggap orang kasar, yang akhirnya dibawa ke rumah, ditiru dan akhirnya muncul di mana-mana.

Stereotip ini juga terjadi pada saya. Pada saat saya memperkenalkan diri saya sebagai Suhunan Situmorang, sebagai seorang pembicara di suatu konferensi, eeh.. beberapa orang langsung bilang “Horas bah, habis beras makan gabah.” Buat saya kejadian ini sangat menyebalkan, rasis, dan saya tidak merasa nyaman dibuatnya. Saya merasa bangsa ini masih bodoh, tidak selektip, malas berpikir, malas membaca, malas menganalisa. Apakah masyarakat Batak akan dikenal dengan mind set seperti itu?

GS : Mengapa Sordam?

SS : Jujur saja, pertanyaan ini tidak habis-habisnya ditanyakan pada saya sampai sekarang. Ada beberapa alasan mengapa Sordam. Pertama, tokoh Paltibonar Nadeak adalah sebagai inspirasi. Saya tidak mau menulis sebuah novel yang akhir ceritanya hidup bahagia seperti film-film yang dibuat di Hollywood, yang akhirnya tidak dikenang sebagai suatu inspirasi, yang dibuat hanya untuk menyenangkan penonton. Karya seni tidak hanya untuk menyenangkan. Padahal hidup kebanyakan tidak berakhir dengan kebahagiaan.

Saya bukan Pujangga Baru. Dalam ”Sordam,” omongan dukun merupakan transisi relegi dan perdukunisme di mana sepupu-sepupu Paltibonar pergi ke dukun. Hal ini menggambarkan bahwa masyarakat kita masih hidup di dunia klenik. Kedua, kita masih hidup antara rasionalisme-relegi-mistisisme. Masyarakat kita masih percaya kepada mistik. Buktinya masih banyak film-film mistik beredar saat ini. Praktek Sordam hampir punah karena dilarang oleh gereja. Tetapi, suka atau tidak suka budaya sordam itu masih ada. Ketiga, Sordam adalah nama yang mistis dan eksotis. Monang Naipospos menyimpulkan bahwa nada proses kelahiran manusia sampai akhir adalah nada-nada hidup yang menjerit-jerit, yang diakhiri dengan kematian dengan suara tangis, itulah nada Sordam. Nada Sordam adalah jeritan jiwa, kesedihan yang tidak terucapkan dengan kata-kata. Kalau kita mendengar itu kita bisa menangis.

GS : Apakah Paltibonar Nadeak adalah Suhunan Situmorang?

SS : Tidak. Dia fiktif. Pribadi seperti Paltibonar Nadeak inilah yang paling saya sukai, pribadi yang ingin saya jumpai dan terus terang saja, jarang ditemukan. Paltibonar adalah pribadi yang maju, terbuka, sensitif, tidak menghakimi, dan juga menyukai seni…. Terima kasih Tuhan saya menyukai seni sehingga saya bisa mengerti tentang manusia. Sosok Paltibonar tidak boleh terlalu pintar tetapi harus membumi, dia harus banyak belajar dan bertanya. Tokoh Tohap Simanungkalit (almarhum), pendiri Serikat Buruh Sejahterah Indonesia (SBSI), adalah sosok yang dikagumi oleh Paltibonar.

GS : Apakah Sordam lokal-nasional-global?
SS : Saya menulis tema-tema etnis yang berbau masa lalu, tetapi yang ada kaitannya dengan masa depan. Saya tidak akan menulis manusia-manusia kosmopolitan seperti penulis-penulis muda yang hanya ingin mengangkat kehidupan modern saja. Saya ingin menulis tema-tema lokal tetapi yang mendunia, seperti yang ditulis oleh penulis-penulis dari India.
Didalam Sordam diangkat juga tentang issue lokal-nasional-global. Misalnya peduli lingkungan, kemanusiaan, dan perdamaian. Selain mengangkat budaya lokal Batak yang mengilhami seluruh isi buku Sordam tersebut, 60% pembaca Sordam adalah non-Batak. Harapan saya dengan membaca Sordam masyarakat di luar Batak mengerti tentang kebatakan kita. Itulah keberhasilan suatu karya. Saya tidak katakan karya itu sastra atau bukan. Yang menentukan Sordam itu berhasil adalah pilihan. Saya mau tulisan saya dibaca habis, bila perlu berkali-kali dibaca!

GS : Bagaimana pengaruh Sordam terhadap masyarakat Batak di luar Sumatera Utara?

SS : Pengaruhnya di luar Sumatera Utara bagus sekali. Justru yang saya sesalkan adalah masyarakat Batak di Sumatera Utara yang pengaruhnya tidak terlalu besar, dikarenakan minat baca masih kurang dan informasi kurang.

GS : Bagaimana keluarga?

SS : Saya memiliki dua sisi kehidupan. Pertama adalah keluarga saya yang harus saya pertanggungjawabkan. Saya bekerja sebagai praktisi hukum yang menikmati budaya. Saya tidak pernah berpikir sebagai seorang sastrawan atau penyair, tetapi saya menyukai dunia sastra dan seni. Sisi satunya lagi adalah saya seorang bapak, suami, supir untuk keluarga saya, sebagai anggota jemaat HKBP, aktif di komunitas lingkungan hidup, teater. Alangkah sayangnya hidup ini dilewatkan dengan satu dua warna saja. Hidup tidak harus diukur dengan materi saja. ***

Grace Siregar, perupa, sekarang tinggal di Eropa