Saut Situmorang


oleh Zamakhsyari Abrar – wartaone

saut situmorangJakarta – Saut Situmorang, nama penyair ini, dalam beberapa tahun belakangan mencuat namanya dalam panggung sastra negeri ini. Lewat kritik-kritiknya yang tajam dan keras, ia menyerang Goenawan Mohamad dan kawan-kawan atas apa yang disebutnya sebagai politik sastra Teater Utan Kayu.

Bersama dengan penyair Wowok Hesti Prabowo, sastrawan yang lahir di Tebing Tinggi, Sumatra Utara, pada 29 Juni 1966, ini lalu menerbitkan jurnal Boemipoetra, sebuah jurnal yang terbit dwibulanan, wadah tempat mereka untuk menulis dan mengekspresikan tulisan untuk “menyerang” politik sastra Goenawan cs.

Terkait banyaknya reaksi yang kaget ketika membaca Boemipoetra, Saut menilainya hal itu wajar-wajar saja. Menurut pria berambut gimbal ini, selama pemerintahan Orde Baru, seniman kita memang tidak terbiasa berpolitik dalam kesenian.

Apa dan bagaimana Boemipoetra? Bagaimana tanggapan Saut terhadap pernyataan Goenawan yang beberapa waktu sebelumnya menyebut Boemipoetra tak lebih dari coret-coretan di toilet? Berikut petikan perbincangan WartaOne.com dengan Saut di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (9/7).

WartaOne (WO): Salah satu pemicu berdirinya Boemipoetra adalah karena sakit hati penyair Wowok Hesti Prabowo yang gagal masuk dalam pemilihan anggota Dewan Kesenian Jakarta pada 2006?

Saut Situmorang (SS): Seandainya pun itu benar, tak apa-apa toh. Karena kita tahu Dewan Kesenian Jakarta yang kemudian terbentuk, itu kan Dewan Kesenian Goenawan Mohammad. Mulai dari ketuanya yang namanya Marco K itu (Marco Kusumawijaya), sampai ke dalam bidang-bidang dalam Dewan Kesenian Jakarta. Misalnya sastra, di situ ada Ayu Utami, Nukila Amal, dan di situ juga ada yang kusebut antek-antek Goenawan Mohamad atau TUK, Zen Hae. Dan (kelompok Goenawan) itu juga ada di teater dan film.

Jadi Dewan Kesenian Jakarta yang kemudian terbentuk itu, semua orang bisa melihat bahwa jelas sekali itu Dewan Kesenian Jakarta versi Teater Utan Kayu. Kita tahu permainan Goenawan Mohamad di Akademi Jakarta mempengaruhi anggota-anggota lain supaya mereka itu terpilih. Dan bukan hanya Wowok saja itu yang ketendang keluar dari pemilihan itu, ada juga Ahmadun Y. Herfanda, dan juga Radhar Panca Dahana.

Jadi kalau misalnya itu dibuat semacam ejekan bahwa Wowok akhirnya memulai jurnal Boemipoetra karena sakit hati itu, ya ndak apa-apa. Itu wajar saja, sebab itu sebuah perlawanan terhadap manipulasi yang terjadi pada pemilihan anggota Dewan Kesenian Jakarta pada periode tersebut. Sebuah perlawanan yang konkret karena melahirkan jurnal Boemipoetra, yang kau tahu efeknya ya, sekarang Boemipoetra sudah terbit sekitar dua tahunlah.

WO: Boemipoetra mencoba menandingi wacana kebudayaan Goenawan Mohamad cs. Goenawan cs menurut saya menguasai wacana kebudayaan Indonesia, misalnya sastra, teater dan agama. Boemipoetra apa yang ditawarkan untuk menandingi mereka? Saya kok melihat Boemipoetra tidak menawarkan apa-apa?

SS: Aku sangat tidak setuju dengan pendapat itu bahwa kami tidak menawarkan apa-apa. Sekarang kita bicarakan apa yang kau bilang dominasi wacana kebudayaan Goenawan. Itu buktinya mana? Kalau Goenawan menguasai wacana teater, maksudnya apa? Kalau hanya sekadar mengerti teater, semua orang mengerti teater, mengerti sastra, semua orang mengerti sastra. Tapi kalau kau bilang menguasai wacana, maksudnya apa pernah dia menulis kritik sastra dan teater? Tidak pernah. Banyak orang seperti kau mengenal Goenawan Mohamad karena ia itu menjadi mitos dari catatan pinggirnya di Tempo. Mayoritas hanya mengenalnya dari catatan pinggirnya tadi. Sebagian besar mereka juga adalam pembaca Tempo, majalah kelas menengah ke atas. Bahasa catatan pinggir itu bahasa kelas menengah. Kalau kau benar-benar mau membahas catatan pinggir, itu enggak ada yang dibicarakan oleh Goenawan. Dia itu cuma bermain-main dalam retorika yang berbudi indah. Silahkan kau baca, tidak ada yang dibicarakan. Ia mengelak membicarakan isu yang merupakan judul dari setiap catatan pinggirnya. Ia bermain-main dalam retorika bahasa yang kosong.

Jadi kalau kau bilang Goenawan Mohamad itu menguasai macam-macam itu, begini aja, silahkan saja Goenawan Mohamad itu diskusi dengan Saut Situmorang dari Boemipoetra, topik apa aja, untuk membuktikan (pernyataan) itu. Karena justru mitos besar yang kosong inilah salah satu tujuan (berdirinya) Boemipoetra. Jadi pembaca itu disadarkan. Sebab kalau kalian baca tulisan, apalagi tulisan seperti Goenawan Mohamad, kalian tidak bisa membaca seperti membaca berita di koran. Karena kita berbicara soal politik retorika. Kebanyakan pembaca kita bacaannya paling-paling majalah Tempo, atau Kompas. Itu tidak cukup. Kalau Anda mau bergerak di dunia baca-membaca, apalagi seperti Goenawan yang dengan sadar mempermainkan retorika, enggak cukup. Bacaan harus lebih canggih lagi man.

WO: Wacana agama, misalnya, kelompok Teater Utan Kayu memiliki Ulil Abshar-Abdalla cs dengan JIL-nya?

SS: Kau salah. Kalau kau melihat komposisi redaksi Boemipoetra, itu macam-macam. Wowok itu orang buruh, saya Marxist, Kusprihyanto Namma itu Islam. Anda boleh ngomong macam-macam tentang Islam dengan Kusprihyanto. JIL itu apa? JIL itu labelnya aja yang Islam. Kalau kau mengerti apa yang disebut dengan Islam liberal, kau akan kaget bahwa itu adalah sebuah proyek besar disebut orientalisme, terutama oleh Amerika Serikat untuk mengacaukan Islam. Tokoh-tokohnya seperti Bernard Lewis dan lain-lain, orang yang mengaku Islam tapi menghina Islam. Jadi kalau berbicara JIL, Anda tak bisa melihat apa yang mereka omongkan. Anda harus tahu mereka berasal dari mana. Nah bacalah (buku) Edwar W. Said (Orientalisme), Anda akan tahu apa itu Islam liberal.

WO: Bukankah gejala kelompok seperti ini bukan gejala baru dalam sastra Indonesia. Di luar juga seperti itu?

SS: Ya, makanya. Itulah harus ada counter. Jadi kenapa ada Boemipoetra, seolah-olah dianggap anomali, aneh. Karena orang kita itu selama 32 tahun pemerintahan Orde Baru, selama itu berkuasa Horison-Manikebu. Orang Indonesia itu sudah terlalu biasa untuk tidak berpolitik dalam kesenian. Jadi kalau melihat munculnya fenomena Boemipoetra yang menentang Goenawan Mohamad dengan Teater Utan Kayunya dalam perspektif sastra secara luas, bukan hanya karya ya, baik politik karya, politik kanonisasi sastra, informasi tentang sastra di dalam maupun luar negeri, orang pada kaget karena belum pernah terjadi sebelumnya (dalam sejarah sastra Indonesia). Banyak sekali polemik-polemik STA (Sutan Takdir Alisyahbana) dengan lawan-lawannya termasuk yang terakhir itu perdebatan sastra kontekstual, itu hanya membicarakan karya. Belum membicarakan sebuah isu. Sosiologi sastra, politik sastra, bukan semacam itu.

Nah ini sesuatu hal yang baru yang dibawa oleh jurnal Boemipoetra. Kalau Anda ingin tahu tentang perspektif yang lebih luas tentang perlawanan Boemipoetra terhadap Goenawan Mohamad dan TUKnya, saya baru menerbitkan kumpulan esei saya judulnya Politik Sastra.

Dalam buku itu, jelas sekali yang kami tawarkan, sesuatu yang selama ini dikoar-koarkan oleh GM yaitu pluralisme. Baik pluralisme dalam berpikir, pluralisme dalam berkarya. Mereka kan tidak. Lihat saja seleksi pengarang. Yang mereka undang, yang sama gaya menulisnya dengan mereka. Pernahkah mereka mengundang dalam acara bienale sastra itu pengarang Islam seperti Helvy Tiana Rosa? Atau pengarang yang mewakili suara buruh. Banyak sekali kan. Tidak hanya Wowok. Pernah gak? Kan enggak. Tapi yang diundang hanya pengarang-pengarang yang mengangkat cerita seks, sesuatu yang abstrak yang tidak ada dalam persoalan kehidupan sehari-hari. Berarti mereka itu menyeragamkan topik, menyeragamkan style of writing. Di sisi lain mereka berkoar-koar soal pluralisme dan macam-macam. Mereka tidak plural sama sekali. Mereka antipluralisme. Seperti Jaringan Islam Liberal. Kenapa rupanya kalau ada FPI (Front Pembela Islam), dan kelompok fundamentalis? Anda kan plural, Anda kan liberal, liberal itu kan plural. Siapa aja silahkan, atheis juga silahkan. Tapi kan tidak.

WO: Jadi yang diomongkan tak sesuai dengan perbuatan?

SS: Terbukti kan? Anda yang berseberangan ide, ideologi, style dengan mereka, dikucilkan. Buktinya Boemipoetra tidak setuju dengan mereka. Harus terima dong, kan mereka plural. Kalau mereka hanya menerima orang yang setuju dengan mereka, itu bukan plural. Itu seragam. Itu fasis namanya.

WO: Yang menonjol dari jurnal Boemipoetra adalah bencinya itu?

SS: Ya, kita harus benci waktu kita melawan sesuatu, bukan sayang, karena kalau sayang itu kan munafik. Kita benci dengan segala sesuatu yang mereka presentasikan. Seperti yang saya bilang tadi. Di Islam itu ada JIL, di sastra itu ada TUK, di dunia kesenian mereka itu ada Salihara. Ya, kita benci itu karena (mereka) tidak konsisten. Itulah politik kesenian.

Jadi pretensi orang selama ini bahaslah karya. Coba kita lihat. Selama ada sastra Indonesia, tidak ada kritik sastra. Coba sekarang bahas karya, GM tidak mampu. Apalagi Sitok (Srengenge), Nirwan Dewanto, tidak mampu apa-apa itu. Jadi mereka itu berpolitik sastra. Semuanya itu berpolitik sastra.

WO: Saya pernah mewawancarai Sapardi Djoko Damono terkait tidak adanya kritik sastra seperti yang dikeluhkan oleh Bang Saut. Menurut Sapardi, hal itu tidak benar. Banyak kritik sastra diproduksi dalam bentuk tesis dan disertasi.

SS: Itu tugas kuliah, bukan kritik sastra. Hahaha… Kalau benar kritik sastra, mereka kritikus dong yang menulisnya. Tapi gak kan? Itu tugas supaya dapat gelar sarjana. Beda. Kritik sastra itu sebuah profesi, seperti kau wartawan, tukang becak dan tukang bajaj. Kalau profesi itu ada karir, mulai dari bawah. Kritik sastra itu karir. Dan Sapardi juga bukan kritikus sastra. Dia gak ngerti apa-apa. Sapardi gak bisa bahas karya, baca aja semua kumpulan tulisan dia. Gak ada. (Tulisan) dia itu seperti opini Kompas aja. Opini itu lain, itu bukan kritik. Kritik itu kau menganalisis sesuatu, kau punya sebuah hipotesis, lalu kau buktikan. Kau bahas. Tidak bisa sekadar, oh temanya begini, tokohnya begini, dan mereka berantem. Itu namanya menceritakan kembali. Mengkritik bukan menceritakan kembali, tapi menganalisis cerita yang kau ceritakan kembali.

WO: Jadi problemnya sumber daya manusia?

SS: Sumber daya manusia kita sangat parah. terutama di dunia seni. tidak ada kritikus seni, baik teater, sastra. Tidak ada itu. tapi memang ini berangkat dari pendidikan yang anjlok itu. Kau lihat misalnya. Berani tidak mahasiswa mendebat dosennya di kelas? Pasti habis dia. Ini persoalannya di sini, kita memang diadakan untuk tidak kritis, kalau sistem pendidikan seperti ini di mana debat antara mahasiswa dan dosen, murid dan gurunya tidak diperbolehkan sama sekali, bagaimana akan ada kritik seni atau kritik kebudayaan? Itu awalnya, pendidikan kita diciptakan oleh Soeharto seperti itu untuk menurut. Siswa kerjanya sekolah, sks, lulus, mudah-mudahan dapat kerjaan, kemudian kawin mati.

WO: Saya sepakat dengan hal itu.

SS: Ya, gak akan mungkin ada satu elemen dari kebudayaan yang anjlok aja. Ini semua, struktural. Jadi kalau misal ada kerusakan ekonomi, di dunia politik partai, gak ada di situ aja. Itu gak akan terjadi kalau gak didukung oleh unsur-unsur lain, dalam berpikir, dalam cara orang beragama, bersekolah. Itu mendukung sistem ini.

WO: GM menganggap Boemipoetra cuma coret-coretan di toilet? Tanggapan Anda?

SS: Sama aja. Kami mengggap semua tulisannya juga cuma coret-coretan toilet di terminal bis umum. Gak apa-apa. Tapi persoalannya ketika dia ngomong begitu, apa pernah dia buktikan? Apa pernah dia kasih alasan? Kan gak pernah kan.

WO: Anda pernah menyamakan jurnal Boemipoetra dengan manifesto kaum Dada dan Surealisme Prancis? Apa itu tidak berlebihan?

SS: Lho, sekarang Anda sudah pernah baca manifesto kaum Dada dan Surealisme tersebut? Belum. Kalau belum, sulit saya menjelaskannya. Coba Anda baca manifesto mereka, seperti apa bahasa mereka? Itu majalah kecil juga, mereka juga menyebutnya jurnal. Nanti kalau saya jelaskan, Anda anggap pembelaan lagi.

WO: Jadi konkretnya seperti apa agenda kebudayaan jurnal Boemipoetra?

SS: Pertama pluralisme. Selama ini Utan Kayu mengklaim dirinya pluralis. Nah, kami itu mengkritik itu. Mereka itu sebenarnya antipluralis. Kedua, kita antiideologi Goenawan cs bahwa seks adalah satu-satunya standar estetika kesenian Indonesia. Orang kan bisa menulis tentang Islam, makanan, kan gak apa-apa dong. Mengapa harus seks yang dianggap paling hot? Semua oke, persoalannya bagaimana kau menuliskannya. Dan ketiga, kita antifunding asing. Kalau mereka sudah masuk, kacau dunia kesenian. Contohnya ya Teater Utan Kayu itu.

sumber;http://boemipoetra.wordpress.com/

Duaman M Pandjaitan


SELAIN penasihat Harian Umum BATAKPOS, Duaman M Pandjaitan adalah pengusaha sukses yang bergerak di bidang perminyakan. Ia rela meninggalkan pekerjaan di pemerintahan atau perusahaan swasta demi mendirikan usaha perminyakan (pengeboran minyak).

Pekerjaan ini menuntutnya untuk bepergian ke daerah-daerah terpencil sekalipun. Satu hal yang menarik bagi Duaman, setiap kali berkunjung ke daerah-daerah, dia selalu bertemu orang Batak. Termasuk saat mengunjungi Bengkalis, di pesisir Sumatera yang ditempuh dengan menggunakan perahu motor selama berjam-jam.

Saat itu, perahu motor yang ditumpanginya kehabisan bahan bakar. Setelah berjam-jam menelusuri pinggiran Bengkalis, akhirnya mereka melihat perahu. Setelah mencari-cari siapa pemiliknya ternyata pemiliknya orang Batak. “Saya tidak menyangka orang Batak ternyata ada di mana saja,” katanya melepas senyum.

Duaman yang seorang pengusaha minyak ini ternyata lebih dikenal sebagai pengamat budaya Batak. Rasa cintanya pada budaya Batak terlihat jelas saat ia mengasuh rubrik budaya Dalihan Na Tolu di harian BATAKPOS. Selain itu Duaman sebagai pembicara dalam seminar atau dalam acara-acara masyarakat Batak.

Oktober lalu, Duaman masih sempat tampil sebagai pembicara di Kalimantan, Batam dan daerah lain menyangkut masalah habatahon (kebatakan) Lebih dari itu, dia juga seorang aktivis dan cukup terkenal dalam berbagai kegiatan gereja. Ia juga mendirikan tabloid Horas yang kini berubah menjadi Majalah Horas. Dan tentu saja sebagai penasihat di harian BATAKPOS.

Banyak filosofi yang selalu dipaparkan Duaman kepada siapapun yang menjadi lawan bicaranya. Salah satunya adalah, jangan buat perdebatan atau pertengkaran menjadi permusuhan dan ini selalu dikatakannya kepada karyawan BATAKPOS. Sebagai aktivis gereja, ketika menolong seseorang, dia mengatakan, kalau tangan kanan memberi, jangan sampai diketahui oleh tangan kiri. Itu selalu diterapkan dalam hidupnya.

Semua karyawan BATAKPOS pasti akrab dengan Duaman. Mulai dari OB (office boy) hingga pemilik BATAKPOS. Karena dia memang terkenal ramah dan mudah tertawa. Tak salah kalau dia adalah sosok yang sangat mengayomi. Di bidang sosial, Duaman Pandjaitan juga tak pernah ketinggalan. Ia pernah terpilih sebagai Ketua Umum Panjaitan Se-Jabodetabek. Jabatan ini di Panjaitan termasuk salah satu jabatan yang terpandang karena kelompok marga ini sudah terkenal, selain komunitasnya banyak, kelompok marga ini juga banyak yang berhasil.

Tidak hanya itu saja, dia juga termasuk salah satu pendukung berbagai punguan (perkumpulan) dalam masyarakat Batak di antaranya, Ketua Dewan Penasehat Kerukunan Masyarakat Batak dan fungsionaris di Marsirarion. Salah satu yang cukup menonjol dari Duaman Panjaitan adalah, bersama dengan terman-temannya berjuang dan berani mereformasi bagian-bagian dari adat masyarakat Batak tanpa mengurangi makna dari adat tersebut. Salah satunya adalah pengurangan pemberian ulos.

Yang pertama melakukan ini adalah marga Panjaitan yang tadinya pemberian ulos bisa sampai puluhan, di marga ini yang berlaku hanya 11 saja. Dan ini sudah banyak diikuti oleh marga-marga lain masyarakat Batak terutama yang ada di perantauan.

 Eben Ezer Siadari


Eben Ezer Siadari memulai karier sebagai wartawan ekonomi dan bisnis dua dekade lalu, sebelum menjadi penulis independen (freelance writer) purnawaktu, dengan fokus sebagai co-writer otobiografi, biografi, memoar serta menangani penulisan buku profil perusahaan dan laporan tahunan korporasi. Lahir di Sarimatondang 27 Juli 1966, kini ia dan keluarga tinggal di Ciputat, Tangerang, Banten.

Karier jurnalistiknya dimulai di majalah Warta Ekonomitempat dimana ia kemudian menjadi managing editor, sebelum menjadi pemimpin redaksi MajalahWartaBisnis, BisnisKita dan Majalah DUIT!. Sebagai wartawan ia telah menulis ratusan laporan jurnalistik, mewawancarai berbagai tokoh birokrat, pengusaha, akademisi hingga entrepreneur menengah dan kecil.

Sebagai penulis dan editor ia telah menulis, menyunting dan menyumbang tulisan pada lebih dari 10 buku, antara lain The Ciputra Way, Praktik Terbaik Menjadi Entrepreneur Sejati (Elexmedia Komputindo, 2006), Teologi Kerja Modern dan Etos Kerja Kristiani(Institut Darma Mahardika, 2011), Mansen Purba SH, Guru Saya Marsimalungun (Bina Budaya Simalungun, 2008), The Power of Values in the Uncertain Business World, Refleksi Seorang CEO, Herris B. Simanjuntak(Gramedia, 2004) To See the Unseen, Kisah Di Balik Damai di Aceh (Penerbit H2I, 2008),  OTB Sitanggang, Sang Pelopor (Penerbit Suara Harapan Bangsa, 2011),Dari Pulau Buru Ke Cipinang, Sebuah Sejarah Kecil(Penerbit Rajut dan Rayyana Komunikasindo, 2011),Gede Prama Meninggalkan Keangkuhan, Bersahabatkan Keberhasilan, Menuju Kejernihan (Gramedia Pustaka Utama, 2006) On Becoming the Winner Generation(Penerbit Lintas Berita, 2008), dan beberapa buku lainnya. Ia juga merupakan associate editor untuk buku karya Jansen Sinamo sebelumnya, 8 Etos Kerja Bisnisdan 8 Etos Keguruan, keduanya diterbitkan Institut Darma Mahardika (2009 dan 2010).
Pengetahuan dan wawasan kepenulisan dan penyuntingan ia dapatkan selama mengikuti pendidikan di Advanced Course for Practical Journalism, Thomson Foundation, Cardiff, Wales atas beasiswa Pemerintah Inggris pada tahun 1994. Alumni Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran Bandung (1990) ini juga adalah peserta International Visitor Program (IVP) angkatan 1997 di Washington, AS, yang diselenggarakan oleh United States for Information Agency (USIA), Amerika Serikat.

Hasoloan Aritonang Ompusunggu


Untuk seorang editor buku idealis

Oleh: Lajessca Hatebe

Hidup tanpa buku,
ibarat bayi tanpa ibu,
tanpa susu,
tanpa suluh.

UJAR-UJAR INI sekitar pertengahan tahun 80-an, sering sekali mampir ke telingaku. Saat itu aku masih seorang remaja beranjak dewasa yang lagi getol-getolnya membentuk sejatinya identitas diri. Hidup tanpa kiriman dari orang tua di kampung sana, yang sebenarnya sangat mampu mengirimiku uang. Tapi karena beda persepsi tentang masa depan, kuputuskan tidak lagi dikirimi uang. Aku memang telah ingkar “berbuat” pada bapakku yang ingin, aku sebagai anak tertua laki-laki, tidak meninggalkan bangku kuliah di fakultas ekonomi, yang telah dua tahun aku jalani. Tapi, hatiku berkata lain. Kepadaku, Tuhan tidak kasih talenta menjadi seorang ekonom. Aku lebih menyukai seni, terutama seni tulis menulis.

Yang membuat aku harus mengambil keputusan meninggalkan bangku kuliah, karena saat dosen mengajar di depan kelas, aku malah sibuk menulis cerpen. Aku pikir, untuk apa buang-buang duit kalo ternyata aku tidak punya antensi sama sekali. Dan aku harus terima risikonya. Hubunganku dengan bapak jadi kurang harmonis.

Hidup senin-kemis tahun itu di Jakarta memang tidaklah separah sekarang. Makan di warteg masih murah. Bisa ngutang lagi kalau kita bisa ambil hati pemilik warteg. Waktu itu tekadku, harus bisa nunjukin ke among dan inong (bapak-ibu), kalau aku tidak salah langkah. Ini masalah talenta dari Yang Maha Kuasa. Harga mati!

Aku akhirnya terdampar di satu komunitas “Perpena” – Persekutuan Penulis Nasional, salah satu komunitas penulis-penulis Kristen yang “menggelandang”, di bawah asuhan penerbit YK Bina Kasih. Keikutsertaanku memang secara tidak sengaja. Hanya karena jasa seorang bapak jemaat gereja tempat aku aktif sebagai pemuda gereja, yang memperkenalkan aku kepada bapak H.A. Oppusunggu, direktur penerbit itu. Maka, sejak bergabung dengan komunitas penulis itu, aku menjadi sering mendengar ujar-ujar seperti di atas. Hampir disetiap pertemuan, Pak Oppu, begitu kami selalu memanggilnya, tak pernah absen menyebut ujar-ujar itu. Tadinya aku kurang peduli karena yang ada di otakku saat itu, gimana aku bisa menjadi seorang penulis terkenal… (kisah tentang aktivitas di Perpena ini tidak mungkin kutulis di sini karena sangat panjang cerita menariknya).

11 Agustus 2007.
Seminggu sebelum tanggal di atas. Pulang kerja sudah agak malam. Di atas meja ruang nonton tv, rumah kost, aku menemukan ada surat untukku. Ternyata undangan untuk menghadiri A Tribute to H.A. Oppusunggu. Sejenak aku tercenung. Di benakku terlintas masa suka-duka saat aktif di Perpena sekitar pertengahan tahun 80-an. Satu persatu wajah orang yang dulu begitu lekat di otakku berkelebat. Benni E Matindas, Yance Langkay, Bapak Alfred Simanjuntak, Alm. GMA. Nainggolan, Inge, Donald Korompis,… waduh siapa lagi, ya? Oh, Bapak M.S. Hutagalung, dulu dosen Sastra Indonesia di UI… Yeah, masih banyak nama yang sudah hilang dari ingatan… (Sayangnya, aku cuma bertemu dengan bapak M.S. Hutagalung).

Kuhela nafas agak berat. Di manakah mereka itu sekarang? Apakah mereka juga diundang? Betapa indah bertemu kembali. Tentu saja akan seru saling tukar cerita, atau mungkin juga membina satu kerjasama baru? Rasanya terlalu lama aku menunggu seminggu lagi untuk tanggal tersebut di atas.

Penuh harap bertemu mereka, sepagi itu aku bergegas turun di Gondangdia, tempat gedung pertemuan itu. Sebelumnya, aku mengajak bapak Benni (yang ini, seorang tua yang begitu sayang padaku. Dulu aktif sebagai pelaksana produksi di Focus, yang memproduksi Pepesan Kosong di TPI. Nama panjangnya Benni R Hamid). Beliau ini selalu rindu untuk melayani di bidang visual walau usia udah kepala 6. Aku sering mengajak beliau, siapa tahu bisa kuperkenalkan pada orang yang mau kerja sama dengannya.

Aku call pak Benni ke HP-nya. Ternyata dia sudah berada di halaman gedung. Aku segera menemuinya. Di depan dan lobby gedung kulihat sudah banyak orang. Rapi pula semuanya. Aku sempat risih, karena pakaianku nyentrik seniman, lengkap dengan tas sandang. Seorang bapak yang di saku kemejanya terselip bunga anggrek, pertanda dia panitia hajatan, menyapa aku dan pak Benni. Bapak ini menawarkan kami untuk snack pagi dulu. Tapi kutolak dengan halus. Malah aku yang balik bertanya; “Pak, sebenarnya acara ini dalam rangka apa, ya?”

“Oh, hanya semacam ucapan syukur terima kasih pada pak Oppusunggu yang sudah mengabdi 45 tahun di Bina Kasih. Sekalian peluncuran bukunya,” sahut si bapak antusias.

“Pak Oppu sudah pensiun?” tanyaku penasaran. Betapa kaget dan tidak percayanya aku ketika si bapak itu mengatakan kalau pak Oppu sudah 2 kali terserang stroke. Yang terakhir malah sampai membuat “Lelaki Pintar itu…” lumpuh dan tidak mampu lagi berbicara. Dan… selang beberapa saat, mobil yang membawa pak Oppu tiba. Sungguh aku terdiam kaku melihat beliau begitu kurus dengan wajah pucat dan tak berdaya digendong ke atas kursi roda. Untuk menjumpainya hatiku tidak tega saking sedihnya. Si bapak kembali menerangkan kalau pak Oppu memang masih bisa mengenali orang. Tapi, aku tak sampai hati mendekatinya… Hanya doa yang bisa kupanjatkan.

Lelaki pintar itu…
Kini terlihat hanya seonggok tubuh rapuh. Ke manakah terbangnya kegalakannya, kebaikan hatinya, ketegasan prinsipnya, dan kepintarannya sebagai seorang editor handal dan pemikir keras untuk menerbitkan buku-buku berkwalitas? Di manakah sekarang antusiasme-nya untuk menciptakan komunikator-komunikator handal? Di manakah saat ini kegigihannya menerbitkan bacaan anak-anak, yang ringan tapi mudah dipahami?

Aku selalu mengingat ucapan beliau: “Tulislah cerita untuk anak-anak, bukan cerita tentang anak-anak. Tulislah naskah ilmiah yang informatif untuk anak-anak, bukan untuk anak-anak yang ilmuwan.” Maksud beliau, seorang penulis cerita, atau artikel untuk anak-anak harus piawai berkomunikasi dengan anak-anak dalam bahasa anak-anak, sesuai dengan daya cerna atau daya nalar anak-anak.

Ucapan beliau ini baru aku sadari setelah puluhan tahun kemudian, di mana televisi swasta begitu pesat berkembang dengan segala atribut acaranya. Mayoritas tayangan untuk anak di televisi tidak seperti yang pak Oppu katakan dulu. Yang terjadi malah cerita dewasa yang dimainkan oleh anak-anak + remaja, yang ungkapan-ungkapannya juga begitu dewasa. Kusadari ucapan pak Oppu ini, sebenarnya agar pertumbuhan anak-anak berjalan normal sesuai tingkat intelektual mereka. Tidak dipaksakan menjadi anak-anak yang dewasa, sehingga mereka terkontaminasi oleh prilaku orang dewasa dan sangat tidak mendidik.

Lelaki pintar itu…
Siapa di kalangan anak-anak sekolah minggu (mungkin sekarang mereka ini sudah malah punya anak) yang tidak hafal nama H.A. Oppusunggu, yang banyak menulis, membuat, menterjemahkan komik dan cerita-cerita Alkitab? Siapa yang tak kenal H.A. Oppusunggu, lelaki pintar itu… di kalangan penerbit, khususnya penerbit Kristen?

Lelaki yang kini tak berdaya oleh stroke dan diabetes yang merenggut kepintarannya itu, hanya menatap kosong, entah apa yang berkecamuk di pikirannya. Lelaki yang dulu kurang kusukai, tapi sekaligus guru yang kuhormati dan selalu kurindu ketegasan-ketegasan bicaranya, hanya mampu kutatap dari jauh. Terlalu banyak ilmu editor buku dan tulis menulis yang kudapat dari beliau.

Panas terik dalam bisu kulewati bersama pak Benni melintasi jalan Cikini Raya. Kutatap buku yang baru diluncurkan tadi, seukuran kwuarto dengan tulisan warna coklat “Melayankan Injil Melalui Media”, dengan latar sampul warna putih. Lalu gambar sketsa H.A. Oppusunggu menghiasi sampul itu, lengkap oretan tanda tangannya. Di sketsa itu tampak senyum khas beliau dengan kaca mata sebagai salah satu ciri khasnya.

Lelaki pintar itu…
Kini tidak lagi punya apa-apa. Hanya seonggok tubuh rapuh yang tak mampu lagi menggoreskan pulpen warnanya ke atas naskah yang dieditnya. Aku tersadar… Manusia sehebat (setidaknya menurut pandanganku), H.A. Oppusunggu yang punya banyak akses ke luar negeri dan dikagumi, ternyata tak selamanya kokoh. Aku tersadar… Manusia ternyata tidak punya kekuatan apa-apa bila uzur telah datang. Bila saatnya tiba, semua kekuatan, kekayaan, kepopuleran dan kepintaran kita cuma sebatas kenangan.

Tulisan ini aku buat, selain untuk menghormati guruku, H.A. Oppusunggu, yang kini tak berdaya, juga sebagai gambaran kepada kita semua, bahwa semasih kita bisa berbuat amal baik, janganlah pernah menunda. Rendahkanlah hatimu ketika kau disanjung tinggi. Janganlah mencari kekayaan, tapi jadilah kaya…

Lelaki pintar itu…
Bernama asli, Hasoloan Aritonang Oppusunggu. Lahir 10 Mei 1937 di Pematang Siantar, Sumatera Utara. Berasal dari keluarga Kristen sederhana. Anak ke-3 dan satu-satunya laki-laki dari lima bersaudara. Zaman pemberontakan PRRI, sekitar tahun 1950-an, ia dipenjara karena termasuk orang yang kritis terhadap pemerintah. Pernah bekerja sebagai anggota redaksi sebuah surat kabar nasional di Pekanbaru. Sejak SMP, lelaki “siantarman” ini sudah menulis artikel ke koran. Salah satu judul artikelnya “Hartawan Rakus” – yang mungkin karena landasan inilah kehidupan pak Oppu selalu terlihat sederhana dan bersahaja.

Doaku bersamamu selalu. Ajar-ajarmu takkan tertinggal mati. Walau tubuhmu saat ini tak lagi dalam kuasamu, tapi buah karyamu tak lekang ditelan masa. Ujar-ujarmu, “Hidup tanpa buku, ibarat bayi tanpa ibu, tanpa susu, tanpa suluh,” adalah pemikiran yang patut diamini setiap orang.

Suhunan Situmorang


Sordam, Kesedihan Yang Tak Terucapkan

Suhunan Situmorang yang lahir di Pangururan, Samosir, 12 Maret 1961, dikenal sebagai penulis “Sordam” yang terbit tahun 2005 oleh Gagas Media. Penulis yang memiliki nama lengkap Suhunan Madja Situmorang adalah sosok yang rendah hati dan ramah bila berkomunikasi, sehingga membuat siapa saja yang baru kenal dengannya merasa diperhatikan. Suhunan yang banyak menulis cerita-cerita pendek tentang liku-liku kehidupan, kebudayaan, dan tentang masyarakat Batak saat ini melejit namanya berkat “Sordam.” Buku setebal 360 halaman ini bukan saja dibaca oleh orang-orang Batak yang mencintai kesusastraan Batak, juga disiimak oleh pembaca di luar etnis Batak.

“Sordam” bercerita tentang liku-liku yang dihadapi oleh sosok pemuda Batak, Paltibonar Nadeak, yang pergi merantau ke Jakarta untuk mengadu nasib. Di kota ini terjadi pergesekan-pergesakan budaya yang dialami oleh Paltibonar Nadeak sebagai perantau. Di dalam ”Sordam,” Suhunan Situmorang juga menyentil tentang pandangan-pandangan masyarakat di Indonesia terhadap orang-orang Batak yang dia anggap sangat klise sekali, seperti orang Batak kasar, bersuara keras, dan hanya bisa bernyanyi dan bermain catur saja.

Keberadaan Paltibonar mulai dipertanyakan pada saat sosok ini tidak bisa dihubungi dan tidak diketahui keberadaannya oleh keluarga besarnya di kampung, terutama oleh ibunya yang sudah tua. Melalui Sordam proses pertemuan keluarga tersebut dilakukan. Sordam adalah alat tiup yang terbuat dari bambu yang ukurannya lebih besar dibandingkan dengan suling (sulim). Alat tiup ini merupakan medium untuk memanggil roh orang mati secara misterius, juga orang hilang dan sebagainya.

Suhunan Situmorang yang beristrikan Hastuti Naenggolan dengan tiga orang anak: Jogy Situmorang, Tesalonika Situmorang, dan Ayu Situmorang. Selain bekerja sebagai praktisi hukum di Nugroho Partnership, dia juga sedang menulis buku keduanya, ”Terang Bulan di Rura Silindung” yang mengambil setting tahun 1970-an. Buku ini direncanakan akan diluncurkan tahun 2009 ini. Untuk mengetahui lebih jauh tentang sosok Suhunan Situmorang,
Grace Siregar (pernah diterbitkan di TAPIAN) mewawancarainya:

GS: Apa yang ingin ito Suhunan angkat melalui ”Sordam”?
SS: Saya ingin menawarkan nilai baru kepada pemuda-pemuda Batak bahwa Budaya Batak kita itu selain kompleks juga sangat kaya dan menarik untuk digali. Selama ini kita dikenal sebagai orang yang keras, kasar, bersuara kuat dan hanya pandai bermain catur dan bernyanyi. Pandangan-pandangan stereotip di permukaan ini saja yang dikenal.

Prilaku sopan santun kita awali dengan kata “satabi,” yang artinya permisi atau meminta izin sebelum berbicara, atau kata yang digunakan untuk memasuki suatu daerah, tak pernah diingat orang. Pada saat kita memulai suatu pembicaraan, atau memasuki daerah lain, dengan mengawalinya dengan kata ”satabi” yang berarti kita menghormati orang tersebut dan masyarakat di daerah yang akan kita masuki itu.

Kita juga memiliki strata sosial yang berlapis-lapis, dari strata bawah, menengah, dan atas, yang mempengaruhi kita secara budaya, alam pikiran dan prilaku. Prilaku tertib kita tunjukkan dengan tidak boleh buang air atau meludah di sembarangan tempat. Kita tidak mengenal kata “maaf,” yang diadopsi kemudian hari dan lebih mengenal kata “anju manganju,” bukan memaafkan, tetapi lebih diartikan sebagai rasa sayang dan perduli. Itulah inti dari filosofi dan harapan para leluhur kita. Para leluhur kita sudah membuat benteng untuk menjaga sikap dan prilaku manusia Batak dengan sejumlah poda (nasihat), patik (ayat tersurat), uhum (hukum), yang bila kita laksanakan secara konsisten, kecil kemungkinan kita melakukan kesalahan.

Batak diharapkan untuk tidak gampang berbuat salah lalu meminta maaf. Perilaku harus terus dijaga. Nah, banyak saudara-saudara kita tidak dibekali dengan filosofi ini. Sebenarnya, budaya “tidak sopan” ini timbul karena rasa kedekatan yang tidak menuntut formalitas. Misalnya, di stasiun-stasiun bus, di pasar-pasar, di kedai-kedai tuak. Kebutuhan dengan bahasa-bahasa yang tidak memerlukan tata krama ini dianggap orang kasar, yang akhirnya dibawa ke rumah, ditiru dan akhirnya muncul di mana-mana.

Stereotip ini juga terjadi pada saya. Pada saat saya memperkenalkan diri saya sebagai Suhunan Situmorang, sebagai seorang pembicara di suatu konferensi, eeh.. beberapa orang langsung bilang “Horas bah, habis beras makan gabah.” Buat saya kejadian ini sangat menyebalkan, rasis, dan saya tidak merasa nyaman dibuatnya. Saya merasa bangsa ini masih bodoh, tidak selektip, malas berpikir, malas membaca, malas menganalisa. Apakah masyarakat Batak akan dikenal dengan mind set seperti itu?

GS : Mengapa Sordam?

SS : Jujur saja, pertanyaan ini tidak habis-habisnya ditanyakan pada saya sampai sekarang. Ada beberapa alasan mengapa Sordam. Pertama, tokoh Paltibonar Nadeak adalah sebagai inspirasi. Saya tidak mau menulis sebuah novel yang akhir ceritanya hidup bahagia seperti film-film yang dibuat di Hollywood, yang akhirnya tidak dikenang sebagai suatu inspirasi, yang dibuat hanya untuk menyenangkan penonton. Karya seni tidak hanya untuk menyenangkan. Padahal hidup kebanyakan tidak berakhir dengan kebahagiaan.

Saya bukan Pujangga Baru. Dalam ”Sordam,” omongan dukun merupakan transisi relegi dan perdukunisme di mana sepupu-sepupu Paltibonar pergi ke dukun. Hal ini menggambarkan bahwa masyarakat kita masih hidup di dunia klenik. Kedua, kita masih hidup antara rasionalisme-relegi-mistisisme. Masyarakat kita masih percaya kepada mistik. Buktinya masih banyak film-film mistik beredar saat ini. Praktek Sordam hampir punah karena dilarang oleh gereja. Tetapi, suka atau tidak suka budaya sordam itu masih ada. Ketiga, Sordam adalah nama yang mistis dan eksotis. Monang Naipospos menyimpulkan bahwa nada proses kelahiran manusia sampai akhir adalah nada-nada hidup yang menjerit-jerit, yang diakhiri dengan kematian dengan suara tangis, itulah nada Sordam. Nada Sordam adalah jeritan jiwa, kesedihan yang tidak terucapkan dengan kata-kata. Kalau kita mendengar itu kita bisa menangis.

GS : Apakah Paltibonar Nadeak adalah Suhunan Situmorang?

SS : Tidak. Dia fiktif. Pribadi seperti Paltibonar Nadeak inilah yang paling saya sukai, pribadi yang ingin saya jumpai dan terus terang saja, jarang ditemukan. Paltibonar adalah pribadi yang maju, terbuka, sensitif, tidak menghakimi, dan juga menyukai seni…. Terima kasih Tuhan saya menyukai seni sehingga saya bisa mengerti tentang manusia. Sosok Paltibonar tidak boleh terlalu pintar tetapi harus membumi, dia harus banyak belajar dan bertanya. Tokoh Tohap Simanungkalit (almarhum), pendiri Serikat Buruh Sejahterah Indonesia (SBSI), adalah sosok yang dikagumi oleh Paltibonar.

GS : Apakah Sordam lokal-nasional-global?
SS : Saya menulis tema-tema etnis yang berbau masa lalu, tetapi yang ada kaitannya dengan masa depan. Saya tidak akan menulis manusia-manusia kosmopolitan seperti penulis-penulis muda yang hanya ingin mengangkat kehidupan modern saja. Saya ingin menulis tema-tema lokal tetapi yang mendunia, seperti yang ditulis oleh penulis-penulis dari India.
Didalam Sordam diangkat juga tentang issue lokal-nasional-global. Misalnya peduli lingkungan, kemanusiaan, dan perdamaian. Selain mengangkat budaya lokal Batak yang mengilhami seluruh isi buku Sordam tersebut, 60% pembaca Sordam adalah non-Batak. Harapan saya dengan membaca Sordam masyarakat di luar Batak mengerti tentang kebatakan kita. Itulah keberhasilan suatu karya. Saya tidak katakan karya itu sastra atau bukan. Yang menentukan Sordam itu berhasil adalah pilihan. Saya mau tulisan saya dibaca habis, bila perlu berkali-kali dibaca!

GS : Bagaimana pengaruh Sordam terhadap masyarakat Batak di luar Sumatera Utara?

SS : Pengaruhnya di luar Sumatera Utara bagus sekali. Justru yang saya sesalkan adalah masyarakat Batak di Sumatera Utara yang pengaruhnya tidak terlalu besar, dikarenakan minat baca masih kurang dan informasi kurang.

GS : Bagaimana keluarga?

SS : Saya memiliki dua sisi kehidupan. Pertama adalah keluarga saya yang harus saya pertanggungjawabkan. Saya bekerja sebagai praktisi hukum yang menikmati budaya. Saya tidak pernah berpikir sebagai seorang sastrawan atau penyair, tetapi saya menyukai dunia sastra dan seni. Sisi satunya lagi adalah saya seorang bapak, suami, supir untuk keluarga saya, sebagai anggota jemaat HKBP, aktif di komunitas lingkungan hidup, teater. Alangkah sayangnya hidup ini dilewatkan dengan satu dua warna saja. Hidup tidak harus diukur dengan materi saja. ***

Grace Siregar, perupa, sekarang tinggal di Eropa

Abdullah Harahap


Interupsi Horor Budak Abdullah Harahap

Abdullah Harahap

Karya kolaborasi Jakarta-New York-Yogyakarta yang menginterupsi gelombang buku-buku metropop, menawarkan horor sebagai perenungan.

Sica Harum

MUNGKIN Anda tak tahu Abdullah Harahap, pun tak merasa penting mengetahuinya atau tidak. Abdullah cuma menulis cerita horor picisan seputar balas dendam, pembunuhan, motif-motif cerita setan, dan arwah penasaranyang dibumbui seks pada era 70-80-an. Simak saja judul-judulnya, antara lain Penunggu Jenazah, Babi Ngepet, sampai Perawan Tumbal Setan.

Tapi, bagi Eka Kurniawan, Intan Paramadhita dan Ugoran Prasad, nama Abdullah tidak begitu saja hilang. Pada masanya, Abdullah merupakan penulis produktif. Remaja era itu-ter utama yang besar di kota kecil–biasanya tahu betul, kisah-kisah Abdullah bisa membuat perbincangan jadi seru. Eka membaca karya Abdullah saat bertumbuh di Pangandaran, Jawa Barat. Katanya, besar di kota kecil membuatnya sulit mengakses karya sastra serius. Begitu juga Ugo-panggilan Ugoran Prasad–yang besar di Tanjung Karang, Lampung.

Adapun Intan menemukan tumpukan buku Abdullah saat menelusuri perpustakaan University of California. Kala itu ia sedang berniat menelusuri genealogi cerita horor Indonesia. Intan sendiri pernah menerbitkan kumpulan cerpen misteri Sihir Perempuan (2005) yang lebih banyak terpengaruh gaya horor Barat. “Kira-kira akhir 2008, kami diskusi di chatroom Yahoo Messenger. Aku di Jakarta, Intan di New York, Ugo di Yogyakarta,” kisah Eka di Jakarta, Rabu(24/2).

Proses kreatif

Tiga penulis itu berbagi kajian. Intan mengkaji aspek gender dalam cerita Abdullah. Adapun Ugo membahas sejarah hantu dan simbol-simbol mistis. “Aku lebih ke hubungan sosial antar-manusianya dan politik. Yang aku temukan dalam karya Abdullah Harahap ialah pranata sosial selalu tidak berfungsi. Cara penyelesaian di novel itu selalu di dunia lain,” kata Eka. Intan mengamini, masyarakat dalam kisah Abdullah mencari cara penyelesaian di luar institusi buatan negara. “Ada semacam ketidakpercayaan pada negara,” katanya.

Bertahun-tahun berjarak dengan kisah Abdullah rupanya membuat Eka, juga Ugo dan Intan, menemukan banyak hal ketika membaca ulang. Mereka merespons temuan itu dalam 12 cerita pendek (masing-masing menulis empat kisah) dalam Kumpulan Budak Setan. Intan mengakui narasi Abdullah yang rapi. “Tadinya saya berpikir (cerita) ini bakal norak. Tapi ternyatadia menulis dengan baik. Dia tidak pretensius, brutal saja. TSpi dia realis yang rapi,” kata Intan, Jumat (26/2).

Dalam pandangan Intan, Abdullah sangat moralis. Sesuatu yang melenceng akan dikembalikan lagi sesuai jalur-nya. Meski begitu, Abdullah juga memberi ruang subversi. “Misalnya, ada kisah seorang dukun yang menyuruh pasangan tidak menikah untuk membuat semacam ritual seks sebagai perangkap iblis pengganggu kampung,” katanya.

Sementara Ugo mengaku jadi lebih mengamati karakteristik dan plot dalam proses pembacaan ulang. “Saya biasa bekerja dengan deretan imaji. Tantangannya ialah bagaimana menyajikan sebuah adegan menjadi masuk akal,” ujar Ugo, Jumat (26/2).

Rasa baru

Yang kemudian terasa pada 12 kisah itu ialah upaya tiga penulis menghindari kuncian moralis ala Abdullah. Taman Patah Hati (halaman 11-21) yang ditulis Eka, sebetulnya terasa jenaka meski satiris. Eka mengisahkan kerepotan manusia mengakhiri hubungan. Bisa karena tak tega, atau malah merasa terancam. Alasan tokoh Ajo Kawir lebih cenderung pada yang kedua. Mia Mia, perempuan yang dipacari-ajchirnya dinikahi-Ajo Kawir, bukan manusia. Tentu saja, dalam konteks kehidupan modern bukan manusia boleh saja ditafsirkan seperti psikopatyang bila dicerai, sadisnya bisa melebihi setan.

Lantaran percaya takhayul, Ajo Kawir membawa Mia Mia berkelana ke semua tempat yang disebut orang bisa menghancurkan hubungan. Upaya Ajo Kawir melepaskan diri dari Mia Mia berakhir dengan sebuah renungan lanjutan, bukan kesimpulan.

Sementara itu, salah satu cerpen Intan, Goyang Penasaran (halaman 43-58) berkisah tentang tokoh utama pedangdut Salimah yang membuat lelaki sekampung mesum. Tubuh perempuan di wilayah publik itulah yang ternyata menghantui sehingga perlu dibinasakan. Haji Ahmad, tokoh berwibawa sekaligus pemuka agama mengusir Salimah.

Padahal ketika Salimah kembang perawan, Haji Ahmad-lah yang pernah bernafsu berusaha mencumbuinya. Di akhir kisah, Salimah mati dipukuli massa. Intan tidak berupaya membuat Salimah sebagai pahlawan, tapi menyisakan ketragisan. Ada semacam ketidakadilan karena perempuan begitu mudah diadili tanpa akal.

Adapun Ugo yang juga vokalis grup band Melancolis Bitch itu mengadopsi kebrutalan Abdullah tanpa rasa mengawang. Mungkin karena saat ini, kesadisan kerap kita temui. Misalnya pada Hidung Iblis (halaman 153-170) seorang suami membunuh sejumlah laki-laki yang ia kira akan meniduri istrinya. Tapi lantas, ia sendiri terbunuh istrinya. Dingin saja.

“Horor berlangsung karena dipengaruhi persepsi mental. Keputusan membunuh bisa sangat logis bagi pelakunya,” tambah Ugo. Horor pada kisah tiga penulis itu, jadinya malah memberikan perenungan. Bahwa perilaku manusia bisa lebih sadis dan memalukan ketimbang setan. Ia bisa memperalat kekuasaan, bahkan-agama untuk mematikan manusia lainnya. Celakanya, gejala ini ada di sekitar kita, bukan dunia lain tempat jin bersemayam.

Sumber: Media Indonesia

Parakitri Tahi Simbolon


Parakitri Tahi Simbolon (lahir di Rianiate, Pulau Samosir, 28 Desember 1947), adalah seorang esais, sosiolog, cerpenis, novelis, wartawan/eks redaktur senior KOMPAS, pengelola Pusat Informasi dan Litbang Kompas, dan pendiri penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG).

Lulus dari SMA Katholik Budi Mulia Pematangsiantar, dia sempat setahun penuh belajar di Seminari Menengah Pematangsiantar untuk memuaskan minatnya menjadi pastor. Kemudian dia melanjutkan studi di Jurusan Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta (1967-1972).

Pada tahun 1974-1975 dia mendapatkan beasiswa kerja sama Indonesia-Prancis untuk belajar di Institut International d’Administration Publique (IIAP), Paris. Laporan penelitiannya, Les Aides de Developpement et La Haute Volta, penelitian lapangan mengenai bantuan luar negeri untuk pembangunan ekonomi di Burkina Faso, ketika itu bernama Volta Hulu (La Haute-Volta), Afrika Barat, mengakhiri studinya di IIAP.

Sejak Februari 1976, sepulangnya dari Prancis, dia bergabung dengan harian Kompas dan mulai menulis kolom-kolomnya yang dikenal sebagai Cucu Wisnusarman (1979-1984), yang telah dibukukan dan diterbitkan oleh PT Grafindo Mukti (1993) dan penerbit Nalar (2005). Tahun 1986-1990, dengan dibiayai oleh harian Kompas, dia memperoleh kesempatan untuk melanjutkan studi di Vrije Universiteit, Amsterdam. Pada 5 Februari 1991, dia mempertahankan disertasinya mengenai etnisitas dan perdagangan besar di kota metropolitan Jakarta. Karena etnisitas adalah produk sejarah, maka dia merunut gejala itu dari tahun 1619, sejak Jakarta bernama Batavia. Kegemarannya akan sejarahlah yang mendorongnya melahirkan buku Menjadi Indonesia pada 1995, buku pertama dari tiga buku yang direncanakan Kompas mengenai proses kebangsaan Indonesia.

Hobi menulisnya telah menghasilkan banyak karya, tak hanya berupa artikel maupun buku, dia juga pernah menulis skenario film. Salah satu skenario filmnya, yaitu Gadis Penakluk berhasil memenangkan Piala Citra dalam Festival Film Indonesia (FFI) pada 1981. Tahun 1982, skenario filmnya, Topaz Sang Guru yang disadur dari naskah drama Marcel Pagnol, Topaze, mendapat nominasi untuk aktor terbaik Piala Citra FFI. Dia pun melakukan beberapa penelitian pendahuluan, antara lain mengenai proses awal “Orde Baru”. Sebagian hasil penelitian tersebut diterbitkan sebagai artikel dalam Prisma, Desember 1977. Artikel tersebut, Di Balik Mitos Angkatan ‘66, kemudian dimuat dalam buku kumpulan artikel pilihan Prisma, yaitu Analisa Kekuatan Politik di Indonesia (LP3ES, 1985).

Karya-karyanya antara lain adalah novel Ibu, pemenang sayembara mengarang cerita anak-anak muda UNESCO dan Ikapi (1969), juara dua sayembara majalah Sastra (1969) lewat cerpen Seekor Ikan Gabus, dan novel Si Bongkok (1981) yang meraih hadiah kedua dalam sayembara mengarang novel Gramedia Kompas. Selain itu buku-bukunya adalah Kusni Kasdut (Gramedia, 1981), Politik Kerakyatan saduran dalam bentuk cergam dari The Discourses on Livy (Italian: Discorsi sopra la prima deca di Tito Livio) karya Niccolò Machiavelli (KPG, 1997), buku pegangan wartawan Vademekum Wartawan: Reportase Dasar (KPG, 1997), Matinya Ilmu Ekonomi 1, saduran dalam bentuk cergam dari The Death of Economics karya Paul Ormerod (KPG, 1997), Pesona Bahasa Nusantara Menjelang Abad ke-21 (KPG, 1999), kumpulan cerpen Tawanan (PBK, 2003), terjemahan Batas Nalar: Rasionalitas dan Perilaku Manusia (KPG, 2004).

Saat ini dia tengah menerjemahkan buku The Power of Prophecy: Prince Dipanagara and The End of An Old Older in Java 1785-1855 karya Peter Carey. Sebuah buku tentang sejarah perjalanan kepahlawanan Pangeran Diponegoro.

Dia melanjutkan studi di Jurusan Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta dari 1967 sampai 1972. Karena situasi politik saat itu, dia mengurungkan niat menjadi dosen di sana.

Di luar rencana, dia mencoba melamar kerja di Departemen Luar Negeri di Jakarta dan dinyatakan lulus. Beberapa waktu kemudian dia mendapat bea siswa kerja sama Indonesia-Prancis untuk belajar di Institut International d’Administration Publique (IIAP), Paris (1974-1975). Laporan penelitiannya, Les Aides de Developpement et La Haute Volta, penelitian lapangan mengenai bantuan luar negeri untuk pembangunan ekonomi di Burkina Faso, ketika itu bernama Volta Hulu (La Haute-Volta), sekarang Burkina Faso, Afrika Barat, mengakhiri studinya di IIAP.

Sepulang dari Prancis, sejak Februari 1976, dia bergabung dengan harian Kompas. Di sinilah dia menulis kolom-kolomnya yang dikenal sebagai Cucu Wisnusarman, yang telah dibukukan dan diterbitkan oleh PT. Grafindo Mukti (1993) dan penerbit Nalar (2005). Tahun 1986-1990, dia dibiayai oleh harian Kompas untuk studi di Vrije Universiteit te Amsterdam dan pada 5 Februari 1991, dia mempertahankan disertasinya mengenai etnisitas dan perdagangan besar di kota metropolitan Jakarta. Karena etnisitas adalah produk sejarah, maka dia harus meruntut gejala itu dari tahun 1619, sejak Jakarta bernama Batavia. Kegemarannya akan sejarahlah yang mendorongnya melahirkan buku Menjadi Indonesia pada tahun 1995, buku pertama dari tiga buku yang direncanakan Kompas mengenai proses kebangsaan Indonesia.

Hobi menulisnya telah menghasilkan banyak karya, tak hanya berupa artikel maupun buku, dia juga pernah menulis skenario film. Salah satu skenario filmnya, yaitu Gadis Penakluk berhasil memenangkan Piala Citra dalam Festival Film Indonesia (FFI) pada tahun 1981. Di tahun 1982, skenario filmnya, Topaz Sang Guru yang disadur dari naskah drama Marcel Pagnol, Topaze, mendapat nominasi untuk aktor terbaik Piala Citra FFI. Dia pun melakukan beberapa penelitian pendahuluan, antara lain mengenai proses awal “Orde Baru”. Sebagian hasil penelitian tersebut diterbitkan sebagai artikel dalam Prisma, Desember 1977. Artikel tersebut Di Balik Mitos Angkatan ‘66, kemudian dimuat dalam buku kumpulan artikel pilihan Prisma, yaitu Analisa Kekuatan Politik di Indonesia (Jakarta: LP3ES, 1985), hlm. 149-163.

Karya-karyanya yang memenangi sejumlah sayembara antara lain adalah novel Ibu (1969), pemenang sayembara mengarang cerita anak-anak muda UNESCO dan Ikapi, juara dua sayembara majalah Sastra (1969) lewat cerpen Seekor Ikan Gabus, dan novel Si Bongkok (1981) meraih hadiah kedua dalam sayembara mengarang novel Gramedia Kompas. Selain itu buku-bukunya yang lain adalah Kusni Kasdut (Gramedia, 1981), buku pegangan wartawan Vademakum Wartawan (KPG, 1997), Pesona Bahasa Nusantara Menjelang Abad ke-21 (KPG, 1999), kumpulan cerpen Tawanan (PBK, 2003), terjemahan Batas Nalar: Rasionalitas dan Perilaku Manusia (KPG, 2004).

Saat ini dia tengah menyelesaikan buku The Power of Prophecy Prince Dipanagara and The End of An Old Older in Java 1785-1855 karya Peter Carey. Sebuah buku tentang sejarah perjalanan kepahlawanan Pangeran Diponegoro.

Parakitri T. Simbolon adalah pendiri Kepustakaan Populer Gramedia (KPG).

Sebenarnya ada seorang cendekiawan Batak Toba yg cukup bagus menguasai sejarah, filosofi, dan faktor-faktor yg mempengaruhi perubahan sosial dan pergeseran nilai-nilai anutan masyarakat Batak. Namanya Parakitri T Simbolon, seorang esais, cerpenis, novelis, wartawan/eks redaktur senior Kompas, ahli filsafat dan ilmu-ilmu sosial, yg sekarang memimpin kelompok penerbitan Kompas Gramedia (KPG). Untuk keperluan studi doktoralnya di Belanda, ia bertahun-tahun melakukan riset dan penelusuran tulisan-tulisan lak-lak dan pendapat para penulis asing, misionaris, pejabat pemerintah Hindia Belanda, dll, menyangkut alam dan manusia Batak, yg dituangkan dlm buku maupun kertas kerja (report, makalah, dll). Ia menguasai aksara dan bahasa Batak dng sempurna–membuat saya malu, yg terlanjur dicap paham budaya Batak hanya lewat sebuah novel sederhana berjudul SORDAM, yg kebetulan ber-setting alam dan bertokoh manusia Batak Toba.

sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Parakitri_T._Simbolon