Murphy Hutagalung


Murphy_Hutagalung

NAMA LENGKAP                 :  U.T. MURPHY HUTAGALUNG, MBA

TEMPAT TANGGAL LAHIR    : JAKARTA 14 JANUARI 1960

AGAMA                             :  KRISTEN PROTESTAN

STATUS/JUMLAH ANAK       :   MENIKAH / 4 ANAK

ALAMAT RUMAH                :  JL.PINANG RAYA NO.4-6 ABC RAWAMANGUN JAKARTA 13220

ALAMAT KANTOR               :   WISMA ARION LT.5 JL.PEMUDA KAV.17 RAWAMANGUN JAKARTA 13220   TELP. 021-4890.000.  EMAIL : ketum@kiragerindra.org. HOMEPAGE : http://www.kiragerindra.org

 

PENDIDIKAN FORMAL

  • SEKOLAH DASAR JAKARTA 1973
  • SEKOLAH MENENGAH PERTAMA JAKARTA 1976
  • SEKOLAH MENENGAH ATAS JAKARTA 1979
  • SEKOLAH TINGGI TEHNIK NASIONAL (STTN) JAKARTA 1984
  • MASTER BUSINESS OF ADMINISTRAS JAKARTA 1992

PENDIDIKAN NON FORMAL

  • KURSUS MANAJEMEN PIMPINAN  PERUSAHAAN JAKARTA 1991
  • KURSUS PENDIDSKAN PERPAJAKAN JAKARTA 1991
  • KURSUS PENDIDIKAN KEPARIWISATAAN JAKARTA 1992
  • KURSUS PENDIDIKAN KETENAGAKERJAAN JAKARTA 1993

PENGALAMAN KERJA

  • Staff Administrasi PT Arion Indonesia Transport Transportasi 1980 – 1981
  • Staff Pemasaran PT Uni Cipta Karya Auto Body Manufacturing 1982 – 1983
  • Kepala Produksi PT Uni Cipta Karya Auto Body Manufacturing 1983 – 1985
  • Manager Operasional PT Arion Indonesia Transport Transportasi 1985 – 1987
  • Presiden Direktur PT Arion ParamitaHolding Company 1988 – Sekarang
  • Presiden Direktur PT Arion Indonesia Transport Transportasi Pariswisata 1988 Sekarang
  • Presiden Direktur PT Arion Transport Service Transportasi Airport 1988 – Sekarang
  • Presiden Direktur PT Kelly Tours & Travel Biro Perjalanan Umum 1988 – Sekarang
  • Presiden Direktur PT Sharion Int.SDN BHD Hotel /Cargo 1988 – Sekarang
  • Presiden Direktur PT Uni Cipta Karya Auto Body Manufacturing 1988 – Sekarang
  • Presiden Direktur PT Kelroul Perdana Nusantara Convention Hall 1989 – Sekarang
  • Presiden Direktur PT Arta Graha Persada Property 1989 – Sekarang
  • Presiden Direktur PT Kelroul Citra Nusa Persada Lembaga Keuangan 1989 – Sekarang
  • Presiden Direktur PT Kelroul Citra Nusa Jasa & Service 1989 – Sekarang
  • Presiden Direktur PT Arta Madyafam Property 1990 – Sekarang
  • Presiden Direktur PT Arion Inter Gasindo Industry 1992 – Sekarang
  • Presiden Direktur PT Ardita Duta Perkasa Property 1993 – Sekarang
  • Presiden Direktur PT Arika Paramita Service Transportasi Kereta Api 1993 – Sekarang
  • Presiden Direktur PT Armindo Tirta Paramita Industry 1993 – Sekarang
  • Presiden Direktur PT Furindo Sumatera Cold Storage Industry 1993 – Sekarang
  • Komisaris PT Antrans Prima Metro Trasnportasi Bus Kota 1996 – Sekarang
  • Komisaris PT Citra Cikopo Hotel Perhotelan 1996 – Sekarang
  • Presiden Direktur PT Beringin Floratama Megah Perhotelan 2011 – Sekarang

 

PENGALAMAN ORGANISASI

  • Ketua DPP Organda Unit Pariwisata 1982 – 1992
  • Ketua Yayasan Mangaradja Hutagalung 1987 – Sekarang
  • Wakil Ketua Dewan Pertimbangan KADIN 1992 – 1997
  • Pendiri Yayasan Yayasan Matauli Sibolga 1993 – Sekarang

Pendiri Yayasan

  • Yayasan Haramonting 1993 – Sekarang
  • Penasehat Gabema Tapteng Sibolga 1996 – Sekarang
  • Calon Legislatif DPR RI Dapil II Sumatera Utara Partai Golkar 1999
  • Ketua DPP Organda 1999 – 2004
  • Ketua Umum DPP Organda 2004 – 2009
  • Ketua Komite Tetap Angkutan Darat & ASDP
  • Kamar Dagang & Industri  Indonesia 2008 – 2011
  • Wakil Ketua Umum Ekuin & Pembangunan Partai Gerindra 2010 – 2015

 

PENGHARGAAN YANG PERNAH DITERIMA

  • PASPARD (PROFESSIONAL OPINION SURVEY  & SOCIAL POLLING AWARD)
  • MEN OF THE YEAR (MEN AND WOMEN AWARD)
  • PENGABDIAN DAN PERAN AKTIF PENGEMBANGAN KEPARIWISATAAN  INDONESIA
  • PENGUSAHA INDONESIA BERPRESTASI
  • KELOMPOK USAHA TERKEMUKA YANG MEMPEROLEH KEHORMATAN
  • TOKOH PERSATUAN DAN PEMBANGUNAN INDONESIA
  • ENTERPRENEUR OF THE YEAR FINALIST  2004 ERNST & YOUNG

Semangat U.T. Murphy Hutagalung untuk menjadi seorang entrepreneur diwarisi dari orangtuanya yang sukses mengembangkan bisnis transportasi dalam kota. Murphy bergabung dengan salah satu perusahaan orangtuanya, PT Arion Paramita, pada tahun 1980 dan akhirnya menjabat sebagai presiden direktur. Visinya yang mengedepankan inovasi, mampu meningkatkan keuntungan kompetitif perusahaan.

Keberhasilan Murphy membangun bisnis transportasi kemudian mendorongnya memasuki industri pariwisata. Diawali dengan hanya sembilan bis untuk transportasi wisatawan dan antar jemput karyawan, Arion Paramitha saat ini telah mengoperasikan 225 kendaraan untuk antar jemput karyawan, perjalanan wisata, dan pulang pergi ke dan dari bandara.

Arion Paramitha juga memperluas cakupan bisnisnya ke sektor industri, pariwisata, properti, hotel, dan pendidikan, serta merambah ke institusi finansial nonbank dan agribisnis. Keseluruhan usaha tersebut berada di bawah bendera Arion Paramitha Holding Company.

Murphy juga aktif sebagai anggota Kadin (Kamar Dagang dan Industri Nasional) dan Organda (Organisasi Pengusaha Angkutan Darat). Murphy telah meraih beberapa penghargaan, diantaranya penghargaan sebagai Tokoh Persatuan & Pembangunan Indonesia di tahun 2003.

Murphy Hutagalung, pemilik PT. Arion Paramita Holding Company. Mendengar nama ARION pasti warga Jakarta khususnya, langsung akan  teringat dengan bus Arion yang dengan setia mengantarkan warga Jakarta ke  beberapa tempat tujuan. Tapi tahukah anda selain bergerak di bidang  transportasi, kini Arion mengembangkan sayap perusahaanya di bidang  perhotelan dengan jaringan Arion Swiss-belhotel-nya,  perbankan/keuangan, properti seperti mall Arion serta Travel.

Kendati telah hadir di belantara bisnis Tanah Air ham pir 57 tahun, banyak yang belum mengenal Arion Paramita, holding company yang membawahi 18 perusahaan di bidang jasa transportasi, lembaga keuangan, perkebunan, properti, dan pariwisata. Tim Bisnis berkesempatan mewawancarai Murphy Hutagalung, pemilik Arion Paramita Hoding Company, agar berbagi kisah sukses dalam memimpin kerajaan bisnis keluarga tersebut. Berikut petikannya:

Bagaimana awal berdirinya Arion?

Alamarhum ayah saya datang dari Sumatra Utara ke Jakarta pada 1957. Lantas beliau membangun usaha toko sandang pangan. Toko itu berjalan sukses. Sampai pada 1962 saat pelaksanaan Asian Games di Jakarta, ayah saya dipercaya oleh Presiden Soekarno untuk mempersiapkan angkutan umum.

Selanjutnya pada 1969, zaman DKI Jakarta dipimpin Ali Sadikin, ayah saya dipercaya mengelola transportasi umum pertama di Jakarta. Bisnis ini berjalan sampai 1979, seiring dengan kebijakan pemerintah yang mengambil alih delapan perusahaan swasta dengan alasan untuk kepentingan nasional, seluruh bus dan karyawan diambil, tetapi tidak dengan asetnya.

Saat itu ayah saya menerima pembayaran dari pemerintah untuk 175 armada bus sebesar Rp2 miliar.Setelah kejadian tersebut, ayah saya mulai down untuk membangun bisnis transportasi lagi.

Setelah kejadian itu?

Sekitar 1980 ayah saya membuka usaha di bidang manufaktur. Di sinilah anak mulai dilibatkan. Kami dikader langsung oleh ayah hingga 1987. Saya mulai karier dari bawah.

Waktu itu saya berpikir ini perusahaan ayah saya berarti saya juga pemilik. Saya dengan enak saja datang ke kantor pk. 09.00 Wib, meski karyawan lain masuk pk. 08.00 Wib. Sekali dua kali dimaafkan. Setelah itu, saya dipecat oleh ayah saya dan diumumkan di depan karyawan, semua fasilitas ditarik.

Dari situ saya berpikir, rupanya begitu cara ayah mendidik saya. Mulai itu, saya dan kakak saya berpikir untuk melanjutkan bisnis transportasi ayah saya. Kami berdua mengurus perizinan bus pariwisata. Setelah memperoleh izin, kami memberanikan diri mengajukan pinjaman kepada ayah. Waktu itu nilainya Rp900 juta untuk modal membeli sembilan unit bus.

Kami tetap harus mencicil utang dan bunga pinjaman dalam waktu 7 tahun. Kami mulai dari sembilan bus itu, kita peroleh kontrak dan kepercayaan dari perusahaan asing untuk mengangkut karyawan. Semakin lama berkembang menjadi 15 bus dan bertambah lagi menjadi 35 bus dalam kurun waktu 19821985.

Mengapa Arion bisa berkembang ke berbagai lini bisnis?

Pada 1987 ayah saya meninggal. Beliau meninggalkan semacam wasiat, “Apabila Tuhan memanggil saya, semua usaha yang saya tinggalkan tidak boleh dibagi-bagi. Tapi harus dijaga dan dikembangkan, siapa yang melanggar terkutuk seumur hidupnya.“ Ngeri kan? Akhirnya saya dan keluarga sepakat melanjutkan bisnis ini. Meski dalam adat semestinya yang memimpin adalah kakak saya, tapi keluarga sepakat menyerahkan kepada saya. Waktu itu saya berpikir, bisnis transportasi ke depan tak seelok zaman ayah saya dulu. Saya katakan kepada kakak saya, kamu jaga kandang dan saya akan menyerang melalui diversifikasi usaha. Saya mulai merintis bisnis kecil-kecilan, seperti travel, money changer, gedung pertemuan dengan modal nol dan modal kepercayaan. Sampai saat ini, Arion memiliki 18 perusahaan, kami masuk transportasi, lembaga keuangan, pariwisata, properti, perkebunan, dan industri. Setelah semua berjalan, ternyata bisnis-bisnis lain ini lebih indah dari transportasi.

Mengapa bisa dikatakan lebih indah dibandingkan dengan transportasi?

Dari pengalaman saya dalam dunia bisnis, ternyata transportasi merupakan bisnis paling pelik dan rumit, karena kita berhadapan dengan berbagai masalah. Industri transportasi ini ditangani pemerintah. Kami sebagai pelaku usaha hanya disetir. Harus kami akui, kami tetap pertahankan transportasi, tetapi sejauh sistemnya tidak berubah saya melihat bisnis ini tidak akan berkembang. Bisnis transportasi ini banyak majikannya. Bagaimana kita mau maju kalau sistemnya berjalan seperti ini terus. Itu sebabnya, secara bertahap kami masuk ke pariwisata pada 1988, setahun kemudian kita punya lembaga keuangan, disusul properti pada 1990, dan industri 1993. Pada 1997 saya agak mengerem diri, karena terjadi krisis. Padahal, tahun itu saya siap bangun hotel. Pinjaman dari bank sudah saya dapat, tetapi akhirnya saya kembalikan.

Dari semuanya, mana yang memberi kontribusi terbesar pada Arion?

Tentu volume properti dan hotel yang paling tinggi. Sejauh ini posisi okupansi hotel kita di atas 80%, demikian pula dengan properti. Semua tak bisa lepas dari lokasi. Saya pertama kali masuk bisnis hotel pada 1998. Pertama kali saya buka resor di Puncak seluas 4 hektare. Setelah itu, kami masuk Bandung lewat Arion Swissbelhotel Bandung, dan baru-baru ini Arion Swissbelhotel Kemang Jakarta. Tahun ini saya coba buka Arion Kelapa Gading, tahun depan moga-moga bisa buka satu lagi di Sudirman Jakarta.

Pernah merasakan kegagalan?

Dalam bisnis pasang surut, kegagalan itu pasti ada. Tapi dari pengalaman itu kita bisa belajar. Pada 1993, saat saya membangun Mal Arion Rawamangun pemerintah memutuskan memenggal ketinggian mal yang saya bangun dengan alasan kawasan itu merupakan tempat lalu lintas udara. Satu sisi saya sudah mengikat kontrak, satu sisi lagi pemerintah tidak mengeluarkan izin. Gubernur menyalahkan, karena saya dianggap melanggar. Menurut saya tidak melanggar karena sudah ada keputusan dari Kepala Dinas Tata Kota. Ini menyakitkan sekali, waktu itu saya rugi hampir Rp2 miliar.

Sandungan lainnya?

Seharusnya 1996 saya punya bisnis kereta api. Ceritanya, saya dipanggil pemerintah untuk menjalankan kereta api eksekutif jurusan Jakarta-Solo lewat Bandung. Saya sudah siapkan investasinya, saya juga sudah deal dengan Pemerintah Australia untuk pembelian tiga lokomotif dan 34 gerbong.

Saat itu harga satu gerbong dari Australia kalau di kurs Rp450 juta per gerbong. Tetapi saya tidak akan bocorkan, siapa yang memotong saya dan mengharuskan saya membeli gerbong dari Inka yang saat itu harga satu gerbong Rp1,5 miliar. Itu masih dengan catatan, delivery order tidak dijamin.

Padahal kalau saya ambil dari Australia sudah siap dan saya pastikan tahun berikutnya beroperasi.Meski izin sudah saya terima, akhirnya saya kembalikan ke pemerintah. Itu sebabnya, saya sangat hati-hati sekali dalam mengelola bisnis ini. Bisnis keluarga itu tak akan lepas dari sorotan orang.

Kalau sudah dipegang generasi kedua, mereka bakal lihat dan menunggu kejatuhannya. Itu yang tidak saya inginkan. Banyak perusahaan ingin cepat besar karena fasilitas dan lainnya, saya tidak inginkan itu. Arion tetap harus berkembang, meski perlahan.

Bagaimana Anda memimpin karyawan?

Saya memimpin tak kurang dari 4.000 orang karyawan, baik yang tetap maupun kontrak. Itu belum termasuk yang di perkebunan. Mereka seperti bagian keluarga yang juga harus memiliki perusahaan ini. Saya ajarkan mereka untuk tidak mudah menyerah, jika mengalami kegagalan. Kalau gagal, kita bisa kembangkan yang lainnya. Anggap saja gagal itu karena momentumnya yang tidak tepat.

Ke depan apa yang ingin dicapai bersama Arion?

Saya sudah bermimpi bisnis Arion harus berjalan terus, tidak mungkin saya dan saudara saya akan memimpin terus-menerus. Sekitar 2-3 tahun lagi, kami mempersiapkan Arion untuk go public.

Perusahaan ini harus mulai dikelola oleh orang profesional. orang profesional. Anak-anak tidak boleh turut campur. Ada istilah generasi pertama membangun, generasi kedua meneruskan, ketiga menghabiskan. Nah, saya tidak ingin itu terjadi di sini.

Tidak menyiapkan putra mahkota?

Tidak. Anak harus berbisnis di luar Arion. Kami sekeluarga sepakat. Kenapa tidak kita libatkan, kalau anak saya sekian, saudara saya anaknya sekian. Jumlahnya banyak, bicaranya masing-masing sudah kebutuhan sendiri. Itu prinsip, anak-anak bekerja di luar Arion, meski mereka tetap sebagai pemegang saham terbesar perusahaan ini.

 Masih punya mimpi yang ingin diwujudkan?

Sebagai pengusaha tentu tidak akan ada habisnya. Saya melihat pertumbuhan pariwisata Indonesia ke depan akan bergerak. Saya akan buka hotel di berbagai tempat, termasuk luar Jakarta. Dulu saya juga pernah berencana membuat Arion Disneyland pada 1996.

Sumber: http://entrepreneur.bisnis.com/read/20110907/265/45688/murphy-hutagalung-anak-anak-tak-boleh-ikut-campur

Pasoroan Herman Harianja


ParsaoranDia adalah Direktur Personalia dan Umum PT Pelindo IV, Pasoroan Herman Harianja. kepedulian Pelindo terhadap anak yatim sangat perlu diperhatikan. “Selain berbuka puasa, juga untuk berbagi kasih bersama. Meski yang diberikan tidak besar, namun bagaimana manfaat di dalamnya, itu yang kami harapkan,” tutur Harianja diamini sejumlah Direksi Pelindo diantaranya PT Pelindo (Persero) IV Cabang Bitung  Niken Prowati, TPB Kalbar Yanto dan Pelindo Cabang Manado Jhon Lapod.

Dirinya pun mengakui, para pensiunan Pelindo, adalah pahlawan Pelindo, karena karir yang diberikan untuk Pelindo begitu besar. Terkait keaktifan di dunia sosial, Pelindo berperan aktif dalam pembangunan rumah ibadah hingga dunia pendidikan. “Salah satu contoh, khusus di Papua ada anak yang sekolah dan ditanggung Pelindo. Selain itu, kepedulian terhadap lingkungan dan kepedulian olahraga,” sambungnya.

Juliari Peter Batubara


Juliari Peter Batubara Juliari Peter Batubara (lahir di jakarta 22 juli 1972, Umur 42 tahun, menikah dengan Grace Claudie Peters (34)

Pendidikan: (1991) Riverside City College dan Chapman University, California lulus tahun 1997

Karir Institusi/Organisasi: Wakil bendahara Bidang Program DPP PDIP; mantan ketua umum Ikatan Motor Indonesia (IMI) (2003-2011); Presdir PT Wiraswasta Gemilang Indonesia (produsen oli Evalube) dan wakil direktur PT Gudang Garam ;Ketua Biro Promosi dan Pemasaran KONI Pusat, Ketua Umum Indonesia World Motorsport, Ketua Yayasan Pendidikan Menengah 17 Agustus 1945 dan Dewan Penasehat Masyarakat Pelumas Indonesia.

Marulam Hutauruk


Nama: Maroelam Hoetaoeroek

Pendiri: Penerbit Erlangga

Karier: Guru kemudian menjadi entrepreneur, mendirikan penerbit Erlangga

Karya Buku:

  • Pelarian yang tidak punya apa-apa menjadi maharaja, Tahun Erlangga, Tahun 1988
  • Menuju terwujudnya suatu masyarakat adil dan makmur di Republik Indonesia tahun 2000-an, Penerbit Erlangga, Tahun 1987
  • Sejarah ringkas Tapanuli: suku Batak, Penerbit Erlangga, Tahun 1987
  • Garis besar ilmu politik Pelita Keempat, 1984-1989, Penerbit Erlangga,  Tahun 1985
  • Gelora nasionalisme Indonesia, Penerbit Erlangga, Tahun 1984
  • Peraturan hak cipta nasional, Penerbit Erlangga, Tahun 1982
  • Kunci lagak ragam bahasa Indonesia, Penerbit Erlangga, Tahun 1979
  • Azas-azas ilmu negara, Penerbit Erlangga, Tahun 1978

Nama penerbit Erlangga bukan lagi nama asing di jagat penerbitan buku-buku. Terutama dulunya buku sekolah, sekarang main berkembang ke buku-buku popular. Erlangga, kerap kali diterbitkan orang Jawa Timur. Banyak orang Indonesia tidak mengetahui persisinya siap pendiri, pelopor pertama berdirinya penerbit Erlangga. Penerbit yang sudah lebih dari 60 Tahun melayani pembacanya ini didirikan oleh Maroelam Hoetaoeroek. Iya, Maroelam Hoetaoeroek adalah seorang putra Batak didikan zending Jerman. Maroelam setelah studi, kemudian menjadi guru di Semarang, kemudian haru menjadi Kepala Sekolah. Sebagai guru, dia kemudian tidak mau hanya berpangku tangan lalu membuat stensilan untuk bahan ajar anak didiknya. Lama-lama berkembang berniat menulis buku sendiri, sebagai bahan ajar.

Masa itu baru masa penjajahan, dia merasakan kesulitan yang sangat. Dia melihat banyak muridnya yang tidak bisa belajar dengan baik karena minimnya buku. Apalagi, buku pelajaran dalam bahasa Indonesia, yang waktu itu sangat sulit diperoleh. Untuk mengatasi kelangkaan buku tersebut, Maroelam kemudian mengajak kawan-kawannya sesama guru untuk menulis. Menulis buku pelajaran sekolah, tentunya. Tujuannya, untuk menggantikan buku-buku pelajaran berbahasa Belanda.

Maka, sejak didirikan Erlangga berkantor di sebuah rumah di Semarang, bersama teman-temanya berhasil menulis beberapa buku. Antara lain buku pelajaran Ilmu Alam, karya Widagdo, Ilmu Kimia, karya Ir.Polling dan Ragam Bahasa Indonesia, dan karya bukunya sendi. Buku-buku itu semua diterbitkan dengan memakai nama Penerbit Erlangga. Karena itu, dia bertekat mendirikan penerbit independen. Maka, Kemudian berangkat dari sana dia mendirikan penerbit Erlangga.  Pada Tanggal 30 April 1952 Penerbit Erlangga dia daftarkan ke Notaris, di Semarang.

Sejak itu, sembari pelan-pelan Maroelam Hoetaoeroek  terus menumbuhkembangkan penerbit Erlangga, penerbit yang banyak menaruh perhatian pada buku pelajaran sekolah. Perhatian itu sudah muncul sejak awal mulai berdirinya. Sejak didirikan, penerbit Erlangga ternyata pelan-pelan mulai dikenal masyarakat. Benar, Maroelam Hoetaoeroek  guru berdarah Batak itu punya penciuman tajam. Penerbitnya maju dan kariernya pun menaik menjadi seorang kepala sekolah SMA Negeri 1 di Semarang.

Tapi, sebelum bermukim di Semarang, sebenarnya Maroelam lebih dulu telah mengarang buku Pelajaran Sejarah yang diterbitkan oleh Kedaulatan Rakyat, Yogya. Sebagai seorang guru dan ahli sejarah, rupanya dia sangat terkesan dengan sejarah hidup raja Erlangga. Nama Airlangga berarti Air yang melompat. Erlangga lahir tahun 990. Ayahnya bernama Udayana, raja Kerajaan Bedahulu dari Wangsa Warmadewa. Ibunya bernama Mahendradatta, seorang putri Wangsa Isyana dari Kerajaan Medang. Waktu itu Medang menjadi kerajaan yang cukup kuat, bahkan mengadakan penaklukan ke Bali, mendirikan koloni di Kalimantan Barat, serta mengadakan serangan ke Sriwijaya. Sehingga, nama itulah kemudian dia jadikan sebagai nama penerbitan bukunya.

Pada mulanya, penerbit Erlangga bergerak di bidang pengadaan buku sekolah, dan fokus menerbitkan buku-buku bahan ajar. Tapi, dalam perkembangannya, Erlangga kemudian merambah ke buku-buku umum. Buku-buku terbitannya sekarang merambah juga ke buku kesehatan, makanan, kecantikan, mode, novel, hingga biografi. Sedangkan buku-buku bacaan untuk kebutuhan anak-anak, mereka terbitkan dibawah bendera Erlangga for Kids.

Kini, Penerbit Erlangga membangun jaringan pemasarannya dengan memanfaatkan berbagai distributor buku. Bahkan, untuk menjangkau daerah-daerah di kabupaten, Erlangga mendirikan cabang-cabang dan perwakilan. Itulah salah satu strategi pemasaran yang dikembangkan Erlangga hingga hari ini. Erlangga kini memiliki perwakilan di beberapa ibukota kabupaten, antara lain Tarutung, Dolok Sanggul, Barus, Sorong (Papua), Tumohon (Sulawesi Utara) hampir diseluruh kabupaten/kota perwakilan Erlangga ada di Indonesia, ini.***Hotman J. Lumban Gaol

Hariara Tambunan, SE. SH.


header1Nama lengkap : Hariara Tambunan, SE. SH.

Tempat & tgl lahir : Jakarta, 12 Oktober 1967

Nama istri : Elizabeth Wahono Br. Siregar

Riwayat Pendidikan :

Strata Satu Ilmu Hukum (STIH Jagakarsa), Lulus Tahun 2001

Strata Satu Ilmu Ekonomi (UKI), :Lulus Tahun 2994

SMU Advent Purwodadi Jawa Timur, Lulus Tahun 1987

SMPN 19 Kebayoran Baru Jakarta Selatan, Lulus Tahun 1984

SD PSKD Kwitang V Jakarta, Lulus Tahun 1981

Kursus/Diklat yang pernah diikuti :

Orientasi Fungsionaris Partai Golkar th.2007

Penataran Kader / Fungsionaris Keluarga Besar GOLKAR A Tingkat Pusat th.1996

Penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P-4) th.1988

Latihan Peningkatan Disiplin dan Bela Negara FKPPI – Pemuda Pancasila th.1997

Ceramah Kewaspadaan Nasional Bagi Organisasi Sosial Politik dan Organisasi Kemasyarakatan th.1995

Pendidikan dan Pelatihan Instruktur Perkaderan Partai Golongan Karya Tingkat I DKI Jaya th.2002

Diskusi Panel Partai GOLKAR “Proyeksi Ekonomi dan Otonomi Daerah 2001″ th.2000

Forum Pemantapan Wawasan Kebangsaan Bagi Pengurus Organisasi Pemuda th.1995

Riwayat Organisasi :

Biro Cendikiawan DPD I Golkar DKI Jakarta (mantan) Th.1987

Wakil Bendahara DPD I Golkar DKI Jakarta th.2002

Wakil Ketua PD I AMPG DKI Jakarta th.2000

Wakil Bendahara DPP AMPI th.2004

Wakil Ketua DPD I AMPI DKI Jakarta th.2002

Wakil Ketua PD IX GM FKPPI DKI Jaya th.1995

Ketua DPW BM KOSGORO’57 DKI Jakarta th.2002

Wakil Bendahara DPP BARINDO th.2007

Ketua Umum Alumni IKAFE-UKI th.2012-2015

Ketua Umum HIPWI FKPPI th 2010-2014

Wakil Bendahara Bid.Kerjasama Internasional DPP Partai Golkar th 2009-2015

Riwayat Pekerjaan :

a) President Director Ranyza Sejahtera Group :

– Komisaris PT. Natarida Energy

– Komisaris PT. Gregory Energy

– Komisaris PT. Natarida Perkasa Energy

– Komisaris PT. Gorby Putra Utama

– Komisaris PT. Natarida Global Energy

b) Staff Memperindag RI (2000-2001)

c) Staff Ketua DPR RI (1994-2004)

Ir. Leonard Tambunan, MCM


Ir. Leonard Tambunan, MCMIr Leonard Tambunan

Menciptakan Mata Air Bagi Banyak Orang

 Bermental entrepreneur bagi seorang arsitek ternyata membawa berkah tersendiri bagi Leonard Tambunan. Sejak lulus pascasarjana arsitektur dari Inggris, Leonard memutuskan menjadi entrepreneur. Dia kemudian mendirikan PT Mata Air Persada berdiri tahun 2001. Awalnya sebenarnya Aek Mual Persada yang dalam bahasa Batak sama artinya.

Sejak mendirikan perusahaan di bidang arsitek itu, dia mengarahkan seluruh timnya di perusahaan untuk selalu berusaha meningkatkan nilai tambah terhadap rancangan, mutu, manajemen kecepatan. “Kita menjaga trust. Semuanya dilakukan dengan sangat hati-hati, dan bertahap mulai dari proses konsep hingga konstruksi selesai. Saya kira, itu merupakan alasan mengapa klien-klien Mata Air cenderung kembali meminta kami yang menangani proyek-proyek lainnya,” ujarnya.

Kini perusahaannya makin melebarkan sayap, bukan lagi hanya PT Mata Air Persada yang melayani rancang dan bangun, arsitektur dan Interior. Juga telah lahir PT Mata Reality yang mengurusi developer dan property Investor pengembang-investor properti. “Kini kita mulai diperhitungkan di dunia property hingga ke kacah internasional melalui karya arsitektur yang kita bangun.”

Dari kantornya di Citylofts Sudirman lantai 8, Jalan KH Mas Mansyur, Jakarta Pusat Leonard mengelola dan memimpin usahanya. Bersama timnya berkarya mendirikan banyak bangunan bernilai, seni arsitektur tinggi dengan proses yang cepat dan berkualitas dengan cara professional.

Apa triknya? Sederhana saja, lewat hubungan persahabatan dengan klien, karyawan, mitra kerja, dan berpegang pada prinsipnya melayani dengan jujur dan tulus. Lalu, berusaha menghasilkan lebih dari yang diharapkan. “Terus membuat nilai tambah terhadap produk dan pelayanan, melipatgandakan kekayaan perusahaan, demi pengembangan perusahaan, kesejahteraan karyawan, dan keluarga.”

Dipuji menteri perumahan

Telah banyak desainnya dipuji. Di Pandeglang, Tulung Agung, Menteng, Jakarta, Dago Pakar, Bandung. Satu diantaranya rumah mantan Menteri Perumahan Rakyat Cosmas Batubara mengatakan Mata Air sangat baik. Hal ini dibuktikan ketika Mata Air melakukan desain dan pembangunan rumah Cosmas di daerah Menteng. Sebagai arsitek merancang tata letak profesional sesuai kebutuhan, dengan sirkulasi udara yang baik dan pencahayaan alami, bahwa kita merasa indah.

“Gaya arsitektur dan detail yang sangat indah dilakukan, menghormati sekitarnya. Saya melihat apa yang mereka lalukan itu sangat bagus, saya berterima kasih atas kerja tim Mata Air yang sangat professional dalam membangun rumah. Karena itu, kami merekomendasikan Mata Air sebagai sangat kompeten,” kata Cosmas.

Cosmas menambahkan, harga tidak bisa menipu, ungkapan ini sangat tepat dalam sektor jasa konstruksi. Bagi kebanyakan orang, proses untuk membuat rumah idaman menghabiskan banyak waktu, dan juga biaya, agar apa yang dibangun sesuai dengan apa yang mereka inginkan.

Karena itu, mendapatkan bantuan dari para profesional di bidang ini adalah investasi yang baik, karena merekalah yang akan bekerja keras mewujudkan rumah impian anda. Design adalah seni yang membuat hidup anda berbeda dan membuat investasi anda bernilai.

Arsitek sebagai designer akan membuat design yang dibuat khusus sesuai dengan kebutuhan dan keinginan klien. Manajemen yang baik membuat segalanya tercapai tepat waktu. Konstruksi adalah karya banyak tangan, sehingga dibutuhkan manajemen yang baik untuk memastikan semua pihak melakukan bagiannya dengan baik. Karena itu dalam proses design dan konstruksi, para profesional dengan kemampuan design dan manajemen yang baik akan menghasilkan produk yang berkualitas. Kualitas adalah segalanya bagi Mata Air.

Dengan pengalaman merancang dan membangun rumah-rumah mewah selama lebih dari satu dekade, Mata Air sudah menguasai selera, kebutuhan, idealisme dari kalangan tersebut, termasuk yang berkaitan dengan aspek legal-formal perizinan, sehingga proses pembangunannya dapat berjalan mulus.

Mata Air akan membantu dan menemani klien dari tahap awal sampai tahap akhir, dengan pemilihan bahan-bahan berkualitas dan pelayanan yang profesional. Bahkan bukan hanya itu, mereka bisa merubah wajah dunia.

Go Green

Konsep yang diterapkan Leonard di perusahaan juga harus Go Green. Walau dia mengakui tidak mudah untuk mewujudkannya. Apalagi selama ini konsep Go Green terbatas di perumahan elit. Leonard mengakuinya menerpakan konsep seperti ini memang tidaklah murah, tetapi harus. Modal yang dikeluarkan harus besar, dan langsung berdampak pada harga rumah.

Selain itu, mengambil bagian dari gerakan global Perduli Lingkungan, Mata Air juga turut mempertimbangkan dampak terhadap lingkungan di setiap pengembangan kawasan baru. Oleh karena itu, dalam memasuki tahun-tahun mendatang, dengan terus meningkatkan kompetensi dan kerja keras seluruh tim, kami optimis pertumbuhan di divisi properti ini akan terus meningkat seiring dengan pengembangan proyek-proyek baru, berupa gedung perkantoran, apartemen, perumahan, ruko, dan lain-lain.

“Dengan penuh rasa syukur kami sampaikan bahwa Mata Air melalui bisnis propertinya, telah mendirikan bermacam properti hasil investasinya,” ujar Leonard. “Kami juga didukung oleh SDM yang berkualitas, PT Mata Air Realty dalam mengembangkan setiap proyek akan terus memastikan bahwa semua produk yang akan dikembangkan mempunyai segmen market yang jelas, sehingga unit-unit yang dipasarkan dapat mudah terserap pasar dalam waktu yang relatif cepat.”

Bukan hanya itu, Mata Air juga menawarkan jasa desain interior untuk rumah tinggal, apartemen, retail dan perkantoran, termasuk pemilihan furniture sampai kelengkapan tata suara, cahaya dan automation system. Hampir di semua proyek rumah tinggal yang dikerjakan, Mata Air turut dipercayakan untuk merancang dan mengerjakan interiornya.

Leonard yakin dengan kemampuan kami di berbagai aspek seperti: pemasaran penjualan properti, penyewaan, keahlian dalam perancangan arsitektur dan interior, pengetahuan teknik, terutama keahlian dalam investasi keuangan properti dan manajemen properti.

Apa yang membuat Leonard hebat? Pertama, keahlian mendapatkan prime properti. Keahlian menilai harga properti. Selain itu juga ada keahlian bernegosiasi dengan penjual. “Kemampuan dalam perencanaan properti, akhirnya pembangunan yang bermutu. Keahlian mendapatkan pembiayaan. Keahlian mengelola keuangan properti. Keahlian menjual properti. Keahlian dalam memelihara property,” ujarnya.

Hotman J Lumban Gaol

Soaloon Simatupang


Irjend Pol Drs

Karya cipta 30 dari dari 60-an Judul Lagu Karya Cipta Irjend. Pol. (Purn.). Drs. Soaloon Simatupang Sianturi, MSc.,
1. Inang Naburju
2. Amang Naburju
3. Anak Naburju
4. Parsondukbolon Naburju
5. Ompung Naburju
6. Siadopan Naburju
7. Boru Naburju
8. Boru Nabasa
9. Patik Palimahon
10. Martabe
11. Tahima
12. Sai Huingot do Ho
13. Songon Sillam Manoro
14. Hasian
15. Parpadanan
16. Pikkiri
17. Parumaen Naburju
18. Tona ni Oppui
19. Tumajuna ma
20. Unang Leas Roham
21. Anak Hasian
22. Paima Au
23. Muara Nauli
24. Unang Sai Sungguli be
25. Ora et Labora
26. Borhat Ma Ho Ito
27. Lapik Ni Bantal
28. Jangan Ragu
29. Di Hatiku Hanya Satu
30. Kalau Piring Sudah Pecah
31. Aditira Wirabakti (Mars Polda Sumsel)
32. Wawasan Nusantara (Hyme Lemhanas)
33. Motor Muara
34. Raja Parmassahati

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama Lengkap                  : Drs. SOALOON SIMATUPANG SIANTURI, MSc.

Pangkat                terakhir               : INSPEKTUR JENDERAL POLISI

Mantan Korps                   : POLRI

Tanggal Lahir                      : 10 Oktober 1947

Tempat Lahir                      : Muara, Tapanuli Utara

Suku Bangsa                       : Batak

Agama                                  : Kristen Protestan

Keterangan Lain

–              Tinggi Badan      : 166 Cm

–              Berat Badan       : 66 Kg

–              Warna Kulit         : Sawo Matang

–              Rambut                                : Hitam Ikal

–              Golongan Darah: -O-

KELUARGA

Isteri

Siti Bur Siregar (alm)

Anak

1.            Sariwaty Simatupang

2.            Mariska Simatupang

3.            Demak Simatupang

4.            Binsar Simatupang

 

PENDIDIKAN UMUM

SD, lulus, Tahun 1954-1960

SMP, lulus, Tahun 1960-1963

SMA, lulus, Tahun 1963-1966

IPWI-JIM’S, lulus, Tahun 1997-1998

KEPANDAIAN BERBAHASA

Bahasa Daerah  :               1. Sunda               : Aktif

2. Jawa                 : Pasif

3. Batak                : Aktif

4. Palembang     : Aktif

Bahasa Asing      :               1. Inggris

KEGEMARAN-KEGEMARAN

Olahraga                              : 1. Golf

2. Tinju

3. Sepak Bola

4. Bulu Tangkis

5. Judo

Kesenian                             : 1. Menyanyi

2. Menciptakan Lagu Pop Indonesia dan Lagu Daerah Tapanuli

BINTANG/TANDA JASA

1.            STL. Pancawarsa

2.            STL. Dwidya Sista

3.            STL. Kesetian 8, 16, dan 24 tahun

4.            STL. Kesetria Tamtama

5.            STL. Karya Bakti Utama

6.            STL. Dwidya Sista Utama

7.            Bintang Bhayangkara Nararya

8.            Bintang Bhayangkara Pratama

PENEMPATAN PENUGASAN DI LUAR NEGERI

1.            Thn. 1988                             : Studi Banding di BKA Jerman Barat

2.            Thn. 1987 s/d 1994           : Peserta Confrence Asean Armed Forces

( Malaysia, Singapura, Thailand, Philipina dan

Brunai Darussalam).

3.            Thn. 1988 – 1995               : Peserta Confrence Aseanapol ( Malaysia, Singapura, Thailand, Philipina dan Brunai Darussalam)

4.            Thn. 1996                             : Peserta WWLN KRA XXIX Lemhanas Ke

United of Kingdom.

5.            Thn. 1997                             : Paping WWLN KRA XXX Lemhanas ke

Austalia.

6.            Thn. 1999                             : Tenaga Ahli WWLN KRA XXXII Lemhanas ke

RRC

7.            Thn. 2000                             : Tenaga Ahli WWLN KRA XXXIII Lemhanas ke

Perancis

Ir. Texin Sirait


Ir. Texin Sirait, MM, pendiri PT Prakarsa Enviro Indonesia (Prakindo)

“Bisnis Pengelola Limbah, Ingin Menjadi Saluran Berkat”

foto Profil_Texin SiraitAir adalah sumber kehidupan. Dengan air semua makhluk bisa hidup. Namun, peradaban yang maju nyatanya tidak diimbangi dengan pelestarian lingkungan, menjaga jaga kebersihan air. Rusaknya hutan karena pengundulan pohon resapan air. Belum lagi limbah industri yang mengandung kimia dibuang begitu saja ke sungai, sehingga sungai-sungai tercemar. Ditambah pembuangan sampah di saluran air. Tak heran, akumulasi kerusakan itu membuat erosi dan banjir.

“Dulu, puluhan tahun sungai-sungai masih bening, jernih airnya.  Air mineral itu sesuatu yang mewah. Sekarang, di kota misalanya masyarakat umumnya menggunkan air mineral. Tidak berani lagi masyarakat mengunakan air ledeng atau sungai untuk dimasak,” ujar Ir Texin Sirait, pengusaha yang berbasis pemeliharaan lingkungan, ini. Perusahaannya memproduksi alat untuk mengelola limbah menjadi air yang tidak merusak, hingga menjadi air yang bisa dikonsumsi. Skalanya bisa perumahan atu satu wilayah.

Belajar dari pengamatan pentingnya air yang bersih itu, untuk hajat hidup manusia, Texin tergerak mendirikan perusahaan pengelolaan air. “Intinya, kita punya visi meningkatkan kualitas manusia dengan mengelola limbah untuk lingkungan yang lebih baik,” ujar Texin.

“Saya ingin bermakna bagi orang lain. Saya punya harapan, ingin menjadi saluran berkat bagisebanyak orang. Ide awalnya, bahwa komitmen kami untuk membangun kimitraan yang sinergis dengan seluruh holder,” ujarnya sembari menambahkan “Menjalankan bisnis yang mampu bersaing dan aktif membangun lingkungan, utamanya dalam bidang pengelolaan air bersih.”

Pria kelahiran Tanah Jawa, Simalungun, Sumatera Utara pada 15 Mei 1957, adalah lulusan Institut Teknologi Bandung pada tahun 1984, jurusan teknik kimia. Kemudian menempuh pascasarjana, Magister Manajemen dari Institut Pengembangan Pengusaha Indonesia di Major Manajemen Keuangan, tahun 1996. Insyniur dari teknik kimia ini, memulai karir sebagai dosen tamu di Institut Nasional Sains dan Teknologi ISTN, Bandung.

Satu tahun menjadi dosen, lalu mulai menjejakkan kaki, bekerja di sebuah perusahaan minyak dan gas. Tahun 1985, tepatnya di bulan, Texin diterima menjadi Insinyur lapangan Johnson di Schlumberger Flopetrol Balikpapan. Bosan dengan tantangan yang ada. “Hidup pada zone nyaman juga tidak baik. Gaji besar, tetap tidak ada makna yang kita serap, dan lagi lingkungan yang tidak mendukung. Saya keluar dari perusahaan,” Texin member alasan. Pada 1994, Texin Sirait bergabung dengan salah satu perusahaan swasta nasional yang dipercaya untuk bisnis lingkungan.

Texin terus mengekplor kemampuannya, di tahun itu juga, dia menemukan salah satu teknologi pengolahan air limbah dari Kanada. Kemudian, dia memodifikasi mesin tersebut yang diberi label Rotating Kontraktor Biologi (RBC). Sambil bekerja Texin tidak lupa mengembangkan diri. Terus menaiki anak tangga, membuat kehidupannya dinamis.

Sepertinya sudah jalan hidupnya, sepanjang kariernya, sebelum mendirikan perusahaan sendiri Texin selalu bekerja dijalur berbasis sanitasi, limbah dan pengelolaan lingkungan. Memulai karir di bidang pemasaran dengan Sales Engineer di Diversey Kimia, telah menjadikannya ahli dalam salah satu perusahaan konsultan PT Ciprocon. Tak puas hanya di situ, Texin kemudian kembali untuk mengejar karir di bidang pemasaran di Drew Chemical Ameroid. Dari sana kemudian bergabung ke PT Guna Elektro.

Tahun 2001, seiring perkembangan PT Guna Elektro, Texin membangun kemitraan dengan ITB dan Drew Ameroid. Dari sana dia bergabung dengan PT Kastraco Teknik, sampai akhirnya pada tahun 2002 memutuskan untuk mendirikan perusahaan sendiri, PT Prakarsa Enviro Indonesia  (Prakindo) bersama-sama rekan-rekannya semasa di PT Guna Elektro.

Melihat perkembangan perusahaan Prakindo, Texin Sirait kemudian memutuskan untuk menyerah jabatannya di PT Kastraco Teknik, dan lebih konsentrasi mengembangkan PT Prakarsa Enviro Indonesia yang dia dirikan. Diawalnya Texin memimpin langsung perusahaan ini. Seiring berjalannya waktu dia kemudian memberikan tampuk komando pada Ir Luhut Tunggul Sianturi sebagai Direktur Utama.

“Sampai sekarang sekarang ini, sejak berdiri tetap menunjukkan kenaikan, termasuk dulu hanya beberapa orang, kini sudah puluhan orang. Sebenarnya perusahaan ini mempekerjaan 500 orang karyawan. Ketika itu ada proyek tahunan di Pekanbaru,” ujar Luhut saat mendampingi Texin.

Sudah menjadi cerita umum, setiap usaha yang dibangun selalu ada kurva pluktuatif. Naik turunnya perusahaan menjadi motivasi bagi Texin untuk maju terus. “Tak ada jalan mulus menuju puncak gunung, selalu terjal dan berkerikil. Tidak jalan mulus menuju keberhasilan,” ujar Texin memotivasi. Pernah, satu waktu pesanan yang meningkat, tetapi sulit terpenuhi karena modal yang terbatas.

Tetapi itu hanyalah kenangan yang menjadi cerita yang menyenangkan, kalau mengingat getirnya membangun perusahannya hingga bisa eksis seperti sekarang ini.  Kegetiran itu sudah dilalui. Permintaan pengolahan limbah pun terus meningkat,” kata Texin. Dia masih ingat saat memulai perusahaan ini, menggandeng rekannya satu almamater Tiasning Agus Setiani, Eko Yulianto, Luhut Tunggul Sianturi untuk mengembangkan bisnis pengolahan air limbah.

Jatuh bangun dalam meniti usaha merupakan hal yang biasa, tetapi banyak yang baru sekali jatuh dan tidak bisa bangkit lagi. Tapi Texin dan timnya tidak demikian. Jatuh, bangkit lagi. “Sedikit orang yang mampu bangkit meski berkali-kali jatuh dalam membangun usahanya. Kita sempat juga kewalahan untuk menggaji karyawan, tetapi sekarang sudah menunjukkan tanda-tanda kemajuan,” ujarnya berbagi, pentingnya semangat bertahan.

Sukses seimbang

Permintaan pengolahan limbah makin tinggi. Bahkan sebagian tidak bisa dicaver karena saking banyak order untuk membuat alat pengelolaan air, produk yang diproduksi perusahan Texin. Namun, seiring waktu perusahaannya makin berkembang, dari hasilnya, pada 2003, bisa didirikan gedung sendiri diberi nama Graha Prakindo, Villa Galaxi, Bekasi.

Permintaan pun semakin tinggi dan membutuhkan modal usaha yang besar. Beruntung pada 2005, Texin mengenal PT Astra Mitra Ventura (AMV), anak usaha Astra grup yang memberi pinjaman kepada pelaku UKM. Pinjaman pertama sebesar  50 juta rupiah hingga menyentuh batas maksimal plafon kredit 15 miliar rupiah.

Menurut Texin, perkenalan dengan perusahaan AMV juga merupakan tangan Tuhan, yang dia maksud, ketika dirinya tengah bertahan keras dalam persaingan di bisnis pengolahan limbah ini. “Perusahannya bisa berkembang pesat karena pendampingan dari AMV. Saat ini sudah ada lima anak usaha Prakindo. Di antaranya, PT Prakarsa Etsa Utama sebagai anak perusahaan yang mendukung kegiatan bisnis PT Prakindo khususnya dalam karya fabrikasi baja dan pengadaan panel kontrol.”

Sudah banyak makan asam-garam, pengalaman mengelola usaha membuatnya makin lawas dan paripurna. Sukses baginya harus seimbang. Sukses membangun bisnis, sukses juga di keluarga. Sukses juga di bidang rohani. Ayah satu anak ini mengerti atas sukses yang seimbang. Sebelumnya Texin, adalah majelis di GKI Agus Salim, Bekasi. “Sekarang tidak lagi majelis, istri yang majelis. Karena di GKI majelis itu ada periodenya. Kami sepakat dengan keluarga,” terangnya.

Alih-alih  mendirikan perusahaan sendiri juga karena dulu, ketika masih majelis, sering kali kalau mau rapat saya harus mengajukan izin. “Berkali-kali perasaan makin tidak enak kalau mint izin ke gereja. Salah satu alasan saya mendirikan perusahaan untuk menjadi saluran berkat. Tetapi soal kebebasan waktu, kita harus permisi kalau mau rapat di gereja,” Texin memberi alasan.

Membangun perusahaan ini juga, kata Texin, karena terbetik makna kata compeni. “Compeni sebenarnya dari bahasa Latin yang artinya mengumpulkan roti untuk makan bersama-sama. Perusahaan ini juga didasarkan pemikiran itu, berusaha bersama-sama dan makan bersama-sama,” ujarnya tertegun.

Maka, alasan itu, Texin bersama istrinya Rumanti Yuliasih,  dan Heru Indriyatno mendirikan PT. Prakarsa Enviro Indonesia (Prakindo) pada 21 Juni 2002. Kegiatan perusahaan awalnya dijalankan di rumah, Pondok Pekayon Indah, Galaxi, Bekasi. Kamar rumahnya disulap menjadi ruang kerja yang disekat dengan kain, komputer bekas dan peralatan kantor bekas dipakai karena keterbatasan modal, ketika itu.

Keseimbangan hidup dipahaminya berbagai dan melayani. Dia adalah Ketua Yayasan Dian Kencana Indonesia yang menaungi Sekolah Tinggi Teologia Elohim, Malang, Jawa Timur. Sekolah ini tempatnya menunjukkan komitmen pelayannya. “Semua mahasiswa berasal dari desa-desa. Jadi mereka tidak punya dana. Praktis yayasanlah yang membiaya dari proses kuliah hingga kebutuhan sehari-hari mahasiswa. Saat ini mahasiswanya ada sekitar 60 orang,” kata Texin. ***Hotman J. Lumban Gaol

Duaman M Pandjaitan


SELAIN penasihat Harian Umum BATAKPOS, Duaman M Pandjaitan adalah pengusaha sukses yang bergerak di bidang perminyakan. Ia rela meninggalkan pekerjaan di pemerintahan atau perusahaan swasta demi mendirikan usaha perminyakan (pengeboran minyak).

Pekerjaan ini menuntutnya untuk bepergian ke daerah-daerah terpencil sekalipun. Satu hal yang menarik bagi Duaman, setiap kali berkunjung ke daerah-daerah, dia selalu bertemu orang Batak. Termasuk saat mengunjungi Bengkalis, di pesisir Sumatera yang ditempuh dengan menggunakan perahu motor selama berjam-jam.

Saat itu, perahu motor yang ditumpanginya kehabisan bahan bakar. Setelah berjam-jam menelusuri pinggiran Bengkalis, akhirnya mereka melihat perahu. Setelah mencari-cari siapa pemiliknya ternyata pemiliknya orang Batak. “Saya tidak menyangka orang Batak ternyata ada di mana saja,” katanya melepas senyum.

Duaman yang seorang pengusaha minyak ini ternyata lebih dikenal sebagai pengamat budaya Batak. Rasa cintanya pada budaya Batak terlihat jelas saat ia mengasuh rubrik budaya Dalihan Na Tolu di harian BATAKPOS. Selain itu Duaman sebagai pembicara dalam seminar atau dalam acara-acara masyarakat Batak.

Oktober lalu, Duaman masih sempat tampil sebagai pembicara di Kalimantan, Batam dan daerah lain menyangkut masalah habatahon (kebatakan) Lebih dari itu, dia juga seorang aktivis dan cukup terkenal dalam berbagai kegiatan gereja. Ia juga mendirikan tabloid Horas yang kini berubah menjadi Majalah Horas. Dan tentu saja sebagai penasihat di harian BATAKPOS.

Banyak filosofi yang selalu dipaparkan Duaman kepada siapapun yang menjadi lawan bicaranya. Salah satunya adalah, jangan buat perdebatan atau pertengkaran menjadi permusuhan dan ini selalu dikatakannya kepada karyawan BATAKPOS. Sebagai aktivis gereja, ketika menolong seseorang, dia mengatakan, kalau tangan kanan memberi, jangan sampai diketahui oleh tangan kiri. Itu selalu diterapkan dalam hidupnya.

Semua karyawan BATAKPOS pasti akrab dengan Duaman. Mulai dari OB (office boy) hingga pemilik BATAKPOS. Karena dia memang terkenal ramah dan mudah tertawa. Tak salah kalau dia adalah sosok yang sangat mengayomi. Di bidang sosial, Duaman Pandjaitan juga tak pernah ketinggalan. Ia pernah terpilih sebagai Ketua Umum Panjaitan Se-Jabodetabek. Jabatan ini di Panjaitan termasuk salah satu jabatan yang terpandang karena kelompok marga ini sudah terkenal, selain komunitasnya banyak, kelompok marga ini juga banyak yang berhasil.

Tidak hanya itu saja, dia juga termasuk salah satu pendukung berbagai punguan (perkumpulan) dalam masyarakat Batak di antaranya, Ketua Dewan Penasehat Kerukunan Masyarakat Batak dan fungsionaris di Marsirarion. Salah satu yang cukup menonjol dari Duaman Panjaitan adalah, bersama dengan terman-temannya berjuang dan berani mereformasi bagian-bagian dari adat masyarakat Batak tanpa mengurangi makna dari adat tersebut. Salah satunya adalah pengurangan pemberian ulos.

Yang pertama melakukan ini adalah marga Panjaitan yang tadinya pemberian ulos bisa sampai puluhan, di marga ini yang berlaku hanya 11 saja. Dan ini sudah banyak diikuti oleh marga-marga lain masyarakat Batak terutama yang ada di perantauan.

Hasoloan Aritonang Ompusunggu


Untuk seorang editor buku idealis

Oleh: Lajessca Hatebe

Hidup tanpa buku,
ibarat bayi tanpa ibu,
tanpa susu,
tanpa suluh.

UJAR-UJAR INI sekitar pertengahan tahun 80-an, sering sekali mampir ke telingaku. Saat itu aku masih seorang remaja beranjak dewasa yang lagi getol-getolnya membentuk sejatinya identitas diri. Hidup tanpa kiriman dari orang tua di kampung sana, yang sebenarnya sangat mampu mengirimiku uang. Tapi karena beda persepsi tentang masa depan, kuputuskan tidak lagi dikirimi uang. Aku memang telah ingkar “berbuat” pada bapakku yang ingin, aku sebagai anak tertua laki-laki, tidak meninggalkan bangku kuliah di fakultas ekonomi, yang telah dua tahun aku jalani. Tapi, hatiku berkata lain. Kepadaku, Tuhan tidak kasih talenta menjadi seorang ekonom. Aku lebih menyukai seni, terutama seni tulis menulis.

Yang membuat aku harus mengambil keputusan meninggalkan bangku kuliah, karena saat dosen mengajar di depan kelas, aku malah sibuk menulis cerpen. Aku pikir, untuk apa buang-buang duit kalo ternyata aku tidak punya antensi sama sekali. Dan aku harus terima risikonya. Hubunganku dengan bapak jadi kurang harmonis.

Hidup senin-kemis tahun itu di Jakarta memang tidaklah separah sekarang. Makan di warteg masih murah. Bisa ngutang lagi kalau kita bisa ambil hati pemilik warteg. Waktu itu tekadku, harus bisa nunjukin ke among dan inong (bapak-ibu), kalau aku tidak salah langkah. Ini masalah talenta dari Yang Maha Kuasa. Harga mati!

Aku akhirnya terdampar di satu komunitas “Perpena” – Persekutuan Penulis Nasional, salah satu komunitas penulis-penulis Kristen yang “menggelandang”, di bawah asuhan penerbit YK Bina Kasih. Keikutsertaanku memang secara tidak sengaja. Hanya karena jasa seorang bapak jemaat gereja tempat aku aktif sebagai pemuda gereja, yang memperkenalkan aku kepada bapak H.A. Oppusunggu, direktur penerbit itu. Maka, sejak bergabung dengan komunitas penulis itu, aku menjadi sering mendengar ujar-ujar seperti di atas. Hampir disetiap pertemuan, Pak Oppu, begitu kami selalu memanggilnya, tak pernah absen menyebut ujar-ujar itu. Tadinya aku kurang peduli karena yang ada di otakku saat itu, gimana aku bisa menjadi seorang penulis terkenal… (kisah tentang aktivitas di Perpena ini tidak mungkin kutulis di sini karena sangat panjang cerita menariknya).

11 Agustus 2007.
Seminggu sebelum tanggal di atas. Pulang kerja sudah agak malam. Di atas meja ruang nonton tv, rumah kost, aku menemukan ada surat untukku. Ternyata undangan untuk menghadiri A Tribute to H.A. Oppusunggu. Sejenak aku tercenung. Di benakku terlintas masa suka-duka saat aktif di Perpena sekitar pertengahan tahun 80-an. Satu persatu wajah orang yang dulu begitu lekat di otakku berkelebat. Benni E Matindas, Yance Langkay, Bapak Alfred Simanjuntak, Alm. GMA. Nainggolan, Inge, Donald Korompis,… waduh siapa lagi, ya? Oh, Bapak M.S. Hutagalung, dulu dosen Sastra Indonesia di UI… Yeah, masih banyak nama yang sudah hilang dari ingatan… (Sayangnya, aku cuma bertemu dengan bapak M.S. Hutagalung).

Kuhela nafas agak berat. Di manakah mereka itu sekarang? Apakah mereka juga diundang? Betapa indah bertemu kembali. Tentu saja akan seru saling tukar cerita, atau mungkin juga membina satu kerjasama baru? Rasanya terlalu lama aku menunggu seminggu lagi untuk tanggal tersebut di atas.

Penuh harap bertemu mereka, sepagi itu aku bergegas turun di Gondangdia, tempat gedung pertemuan itu. Sebelumnya, aku mengajak bapak Benni (yang ini, seorang tua yang begitu sayang padaku. Dulu aktif sebagai pelaksana produksi di Focus, yang memproduksi Pepesan Kosong di TPI. Nama panjangnya Benni R Hamid). Beliau ini selalu rindu untuk melayani di bidang visual walau usia udah kepala 6. Aku sering mengajak beliau, siapa tahu bisa kuperkenalkan pada orang yang mau kerja sama dengannya.

Aku call pak Benni ke HP-nya. Ternyata dia sudah berada di halaman gedung. Aku segera menemuinya. Di depan dan lobby gedung kulihat sudah banyak orang. Rapi pula semuanya. Aku sempat risih, karena pakaianku nyentrik seniman, lengkap dengan tas sandang. Seorang bapak yang di saku kemejanya terselip bunga anggrek, pertanda dia panitia hajatan, menyapa aku dan pak Benni. Bapak ini menawarkan kami untuk snack pagi dulu. Tapi kutolak dengan halus. Malah aku yang balik bertanya; “Pak, sebenarnya acara ini dalam rangka apa, ya?”

“Oh, hanya semacam ucapan syukur terima kasih pada pak Oppusunggu yang sudah mengabdi 45 tahun di Bina Kasih. Sekalian peluncuran bukunya,” sahut si bapak antusias.

“Pak Oppu sudah pensiun?” tanyaku penasaran. Betapa kaget dan tidak percayanya aku ketika si bapak itu mengatakan kalau pak Oppu sudah 2 kali terserang stroke. Yang terakhir malah sampai membuat “Lelaki Pintar itu…” lumpuh dan tidak mampu lagi berbicara. Dan… selang beberapa saat, mobil yang membawa pak Oppu tiba. Sungguh aku terdiam kaku melihat beliau begitu kurus dengan wajah pucat dan tak berdaya digendong ke atas kursi roda. Untuk menjumpainya hatiku tidak tega saking sedihnya. Si bapak kembali menerangkan kalau pak Oppu memang masih bisa mengenali orang. Tapi, aku tak sampai hati mendekatinya… Hanya doa yang bisa kupanjatkan.

Lelaki pintar itu…
Kini terlihat hanya seonggok tubuh rapuh. Ke manakah terbangnya kegalakannya, kebaikan hatinya, ketegasan prinsipnya, dan kepintarannya sebagai seorang editor handal dan pemikir keras untuk menerbitkan buku-buku berkwalitas? Di manakah sekarang antusiasme-nya untuk menciptakan komunikator-komunikator handal? Di manakah saat ini kegigihannya menerbitkan bacaan anak-anak, yang ringan tapi mudah dipahami?

Aku selalu mengingat ucapan beliau: “Tulislah cerita untuk anak-anak, bukan cerita tentang anak-anak. Tulislah naskah ilmiah yang informatif untuk anak-anak, bukan untuk anak-anak yang ilmuwan.” Maksud beliau, seorang penulis cerita, atau artikel untuk anak-anak harus piawai berkomunikasi dengan anak-anak dalam bahasa anak-anak, sesuai dengan daya cerna atau daya nalar anak-anak.

Ucapan beliau ini baru aku sadari setelah puluhan tahun kemudian, di mana televisi swasta begitu pesat berkembang dengan segala atribut acaranya. Mayoritas tayangan untuk anak di televisi tidak seperti yang pak Oppu katakan dulu. Yang terjadi malah cerita dewasa yang dimainkan oleh anak-anak + remaja, yang ungkapan-ungkapannya juga begitu dewasa. Kusadari ucapan pak Oppu ini, sebenarnya agar pertumbuhan anak-anak berjalan normal sesuai tingkat intelektual mereka. Tidak dipaksakan menjadi anak-anak yang dewasa, sehingga mereka terkontaminasi oleh prilaku orang dewasa dan sangat tidak mendidik.

Lelaki pintar itu…
Siapa di kalangan anak-anak sekolah minggu (mungkin sekarang mereka ini sudah malah punya anak) yang tidak hafal nama H.A. Oppusunggu, yang banyak menulis, membuat, menterjemahkan komik dan cerita-cerita Alkitab? Siapa yang tak kenal H.A. Oppusunggu, lelaki pintar itu… di kalangan penerbit, khususnya penerbit Kristen?

Lelaki yang kini tak berdaya oleh stroke dan diabetes yang merenggut kepintarannya itu, hanya menatap kosong, entah apa yang berkecamuk di pikirannya. Lelaki yang dulu kurang kusukai, tapi sekaligus guru yang kuhormati dan selalu kurindu ketegasan-ketegasan bicaranya, hanya mampu kutatap dari jauh. Terlalu banyak ilmu editor buku dan tulis menulis yang kudapat dari beliau.

Panas terik dalam bisu kulewati bersama pak Benni melintasi jalan Cikini Raya. Kutatap buku yang baru diluncurkan tadi, seukuran kwuarto dengan tulisan warna coklat “Melayankan Injil Melalui Media”, dengan latar sampul warna putih. Lalu gambar sketsa H.A. Oppusunggu menghiasi sampul itu, lengkap oretan tanda tangannya. Di sketsa itu tampak senyum khas beliau dengan kaca mata sebagai salah satu ciri khasnya.

Lelaki pintar itu…
Kini tidak lagi punya apa-apa. Hanya seonggok tubuh rapuh yang tak mampu lagi menggoreskan pulpen warnanya ke atas naskah yang dieditnya. Aku tersadar… Manusia sehebat (setidaknya menurut pandanganku), H.A. Oppusunggu yang punya banyak akses ke luar negeri dan dikagumi, ternyata tak selamanya kokoh. Aku tersadar… Manusia ternyata tidak punya kekuatan apa-apa bila uzur telah datang. Bila saatnya tiba, semua kekuatan, kekayaan, kepopuleran dan kepintaran kita cuma sebatas kenangan.

Tulisan ini aku buat, selain untuk menghormati guruku, H.A. Oppusunggu, yang kini tak berdaya, juga sebagai gambaran kepada kita semua, bahwa semasih kita bisa berbuat amal baik, janganlah pernah menunda. Rendahkanlah hatimu ketika kau disanjung tinggi. Janganlah mencari kekayaan, tapi jadilah kaya…

Lelaki pintar itu…
Bernama asli, Hasoloan Aritonang Oppusunggu. Lahir 10 Mei 1937 di Pematang Siantar, Sumatera Utara. Berasal dari keluarga Kristen sederhana. Anak ke-3 dan satu-satunya laki-laki dari lima bersaudara. Zaman pemberontakan PRRI, sekitar tahun 1950-an, ia dipenjara karena termasuk orang yang kritis terhadap pemerintah. Pernah bekerja sebagai anggota redaksi sebuah surat kabar nasional di Pekanbaru. Sejak SMP, lelaki “siantarman” ini sudah menulis artikel ke koran. Salah satu judul artikelnya “Hartawan Rakus” – yang mungkin karena landasan inilah kehidupan pak Oppu selalu terlihat sederhana dan bersahaja.

Doaku bersamamu selalu. Ajar-ajarmu takkan tertinggal mati. Walau tubuhmu saat ini tak lagi dalam kuasamu, tapi buah karyamu tak lekang ditelan masa. Ujar-ujarmu, “Hidup tanpa buku, ibarat bayi tanpa ibu, tanpa susu, tanpa suluh,” adalah pemikiran yang patut diamini setiap orang.

Sahala Panggabean


Membangun Nasari Untuk Kesejahteraan Rakyat

Koperasi sejak dulu disanjung oleh pemerintah. Koperasi selalu menekankan membantu masyarakat. Menurut Undang-undang No. 25 tahun 1992 Pasal 4 dijelaskan bahwa fungsi dan peran koperasi sebagai berikut: Membangun dan mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosialnya. Berperan serta secara aktif dalam upaya mempertinggi kualitas kehidupan manusia dan masyarakat.

Memperkokoh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan dan ketahanan perekonomian nasional dengan koperasi sebagai soko gurunya. Berusaha untuk mewujudkan dan mengembangkan perekonomian nasional, yang merupakan usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan dan demokrasi ekonomi.
Mengembangkan kreativitas dan membangun jiwa berorganisasi bagi para pelajar bangsa.

Semangat di atas terpatri di dada Sahala Panggabeaan, saat mendirikan koperasi simpan pinjam NASARI tahun 1998. Menjelang 12 tahun Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Nasari pada Agustus 2010, Sahala Panggabean MBA, Ketua KSP Nasari mendapat penghargaan tanda kehormatan Satya Lancana Pembangunan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Penghargaan itu diberikan oleh Presiden pada puncak HUT ke 63 Hari Koperasi tingkat nasional yang dipusatkan di Surabaya, beberapa hari lalu.

Sahala Panggabean menerima Satya Lancana karena dinilai berhasil mengembangkan koperasi dan UKM di wilayah Jawa Tengah. Di samping itu aktif menggerakkan rekan koperasi untuk usaha kecil dan menengah dan mendorong masyarakat untuk aktif berkoperasi serta mendorong peningkatan swadaya koperasi.
Penghargaan yang diberikan Presiden itu merupakan bentuk perhatian dan kepercayaan pemerintah kepada gerakan koperasi agar tetap tumbuh dan mampu bersaing dengan lembaga keuangan lainnya.

Sahala Panggabean menyatakan bersyukur kepada Tuhan dan menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya bagi pemerintah Indonesia yang telah memberikan dukungan dan perhatian penuh terhadap kehidupan koperasi. “Komitmen Presiden untuk bersama-sama seluruh insan perkoperasian memajukan gerak langkah koperasi merupakan angin segar bagi kami untuk terus membangun koperasi Indonesia di masa mendatang,” kata Sahala kepada KR, di Yogya, belum lama ini.

Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Nasari terus menjalin kerjasama. Dengan PT Pos Indonesia misalnya, kerjasama untuk memfasilitasi  debitur atau nasabah melakukan transaksi secara online di 3.500 kantor pos di seluruh Indonesia. Nasari membuka diri untuk bekerja sama dengan pihak swasta dan instansi pemerintah. Dengan catatan tidak bertentangan dengan prinsip etika bisnis dan sesuai dengan jiwa perkoperasian.

Bagi Sahala Panggabean, sebagai pendiri sekaligus Ketua KSP Nasari, mengatakan tujuan dari kerjasama itu bertujuan pada tiga aspek. Pertama, alternatif bagi debitur atau anggota sebagai sarana penyimpangan dana yang kompetitif, fleksibel, dan berteknologi tinggi. Kedua, untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam kegiatan koperasi. Ketiga, meningkatkan eksistensi dan kompetensi koperasi dalam kancah perekonomian bangsa Indonesia.

Menurut Sahala, kerjasama dengan PT Pos Indonesia, merupakan terobosan di dunia perkoperasian, karena sebelumnya Nasari hanya melayani anggotanya yang terdiri dari pensiunan PNS dan TNI Polri. Penandatanganan dilaksanakan 23 Desember 2009 di Kantor Pusat KSP Nasari Semarang, Jawa Tengah disaksikan Menteri Negara Koperasi dan UKM Sjarifuddin Hasan. Jangkauan layanan yang diberikan mencakup seluruh wilayah Indonesia.

Sahala menyampaikan aspirasinya agar pemerintah segera merealisasi pembentukan Lembaga Penjamin Simpanan Koperasi Jasa Keuangan (LPS-KJK) untuk mempertajam pengembangan layanan koperasi simpan pinjam dengan fungsinya seperti lembaga penjamin simpanan perbankan.

Membagi bingkisan

Selain itu, Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Nasari juga akan membagikan bingkisan Lebaran bagi para anggota dan calon anggota, yang saat ini berjumlah lebih dari 100.000 pensiunan yang tersebar di 336 kabupaten/kota se-Indonesia.

Ketua KSP Nasari, Sahala Panggabean mengatakan, pemberian bingkisan merupakan bentuk ucapan terima kasih pada anggota dan calon anggota, sehingga KSP Nasari dapat berkembang pesat. Tercatat, total aset per 30 Juni 2012 mencapai Rp 957 miliar, dengan tingkat NPL 0,08%.

KSP Nasari yang berdiri pada 1998 telah memiliki kantor layanan di Semarang. Sekarang sudar tersebar di berbagai daerah: Pati, Tegal, Madiun, Surabaya, Malang, Jember, Medan, Tasikmalaya, Bandung, Cirebon, Yogyakarta, Siantar, Solo, Sibolga, Tarutung, Lhokseumawe, Bogor, Karawang, Jakarta, Pontianak, Makassar, Kupang, Denpasar, dan Manado.

KSP Nasari memberikan layanan kepada pensiunan PNS, TNI dan Polri baik layanan jasa pinjaman maupun simpanan dengan sistem jemput bola dan online. Selain itu, koperasi simpan pinjam yang berkantor pusat di Semarang ini pernah mendapat penghargaan Microfinance Award 2011 untuk kategori jaringan operasi, sistem informasi dan laporan keuangan, serta pertumbuhan aset dan perkembangan struktur sesuai lembaga intermediasi.

Ranto Manik


Biodata
Ranto Manik
Lahir : Dolok Panribuan, 31 Desember 1948
Istri : Rosina Sijabat (63)
Anak :
– Rugun Manik (40)
– Rihon Manik (38)
– Rudi Manik (alm)
– Riwan Manik (31)
– Romsi Manik (29)
– Ramlin Manik (26)
– Roarman Manik (25)
– Rowatan Manik (22)
Pekerjaan : Petani

Cegah Rentenir, Sebar Koperasi Kredit

OLEH KHAERUDIN
Menjadi petani kecil bisa jadi merupakan pilihan yang sulit. Penghasilannya tak sebanding dengan apa yang ditanam. Itulah sebabnya petani kecil seperti Ranto Manik tak pernah membayangkan bisa menyekolahkan anaknya ke perguruan tinggi dan sukses. Seperti petak kecil lainnya di Indonesia, modal awal Ranto hanyalah cangkul dan sepetak tanah warisan.

Ranto menggantungkan hidupnya pada lahan subur yang mengelilingi Danau Toba. Petani yang tergabung dalam kelompok tani binaan Dinas Pendidikan Kabupaten Simalungun ini juga beternak babi.
Dua tahun lalu, seorang penyuluh, Osman Simbolon, datang ke kampung Ranto di Nagori Siatasan, Tiga Dolok, Kecamatan Dolok Panribuan, Simalungun. Dia mengenalkan Credit Union, sebagai lembaga yang bisa menolong petani dari kesulitan permodalan. Credit Union alias CU sering diindonesiakan menjadi koperasi kredit.

“Waktu itu kami kesulitan untuk biaya bertani dan menyekolahkan anak. Malah banyak yang jadi korban rentenir. Saya waktu itu diajak Osman bergabung ke CU Cinta Mulia di Pematang Siantar,” kenang Ranto.
Sebelum menjadi anggota CU, dia dan banyak warga desa lainnya sering terjerat rentenir , utang untuk modal bertani dan menutup biaya sekolah anak. “Tahulah kalau pinjam ke rentenir ini tak pernah ada ujungnya,” kata Ranto.

Sebagaimana halnya orang yang ingin bergabung menjadi anggota CU, Ranto terlebih dahulu mengikuti pendidikan dasar perkoperasian selama sehari. dari desanya yang berjarak sekitar 20 kilometer dari Pematang Siantar, Sumatera Utara, dia berangkat untuk ikut pendidikan dasar. Rupanya, ide pendidikan dasar CU Cinta Mulia , Peatang Siantar, bahwa petani harus bisa memodali dirinya sendiri, memotivasi Ranto.

sepulang dari pendidikan, disinggahinya kedai di desanya. Saat itu Ranto melihat ada kesempatan mengajak orang berkoperasi di kedai itu. Ranto merasa, mereka yang datang ke kedai nasibnya serupa dengan dia. Mereka tak punya modal untuk mengembangkan areal pertaniannya dan kesulitan menghidupi keluarga.”Saya terangkan, di CU ada tolong-menolong, ada bantu-membantu. Kita bisa menolong si A atau si B karena semuanya mengumpulkan bantuan,” kata Ranto.

Tetangga desa yang pertama bisa diajak berkoperasi awalnya hanya smebilan orang. Kebetulan, dari sembilan orang itu salah satu diantaranya mengajak anaknya menjadi anggota CU. “Anaknya waktu itu berani meminjam Rp 40 juta untuk beli mobil angkutan bekas, dan rupanya berhasil. Dari situ orang-orang desa mulai bertanya-tanya bagaimana caranya bisa mendapatkan pinjaman dari CU,” kata Ranto.

Dia mengakui, pada tahap awal mengajak masuk CU, daya tariknya adalah mereka bisa mendapatkan pinjaman dengan bunga menurun ssesuai saldo utang, dan kebebasan kapan melunasi utangnya tanpa harus mengikuti jangka waktu pinjaman. “Mereka tertarik karena boleh meminjam dengan persyaratan mudah,” katanya.

Memodali diri
Ranto mengatakan, hal tersulit adalah mendidik orang agar mau berdisiplin memodali dirinya sendiri secara swadaya. CU bisa meminjamkan dana kepada anggotanya, tetapi dana yang dipinjam haruslah berasal dari setoran wajib anggota. Waktu itu, saya banyak dicibir enggak benar itu koperasi. Dulu, kan ada warga kami yang jadi guru dan anggota KPN (koperasi pegawai negeri). Mereka mau menyetor simpanan wajib, tetapi pas mau menarik simpanannya, pengurus KPN-nya malah kabur,” kata Ranto.

Ia dengan tekun menjelaskan bahwa CU tidak seperti koperasi-koperasi umumnya. Di CU ada pendidikan dasar untuk anggota agar nantinya mereka berswadaya memodali diri sendiri. “kalau orang mau meminjam, tetapi simpanan wajibnya tak rutin disetor, jadi pertimbangan juga oleh CU untuk menolak permohonan pinjamannya. Sebaliknya, mereka yang rutin menyetor simpanan wajib, bisa dengan mudah mendapatkan pinjaman,” kata Ranto.

Rupanya, Ranto mantap. CU bisa menjadi jalan keluar bagi petani di pedesaan yang sering terjerat rentenir. Apalagi yang daerahnya sulit dijangkau lembaga ekonomi seperti bank. Maka, dia pun tak sekadar mengajak petani di kedai tuak di desanya. Dia mulai datangi petani di desa-desa sekitar.

“Awalnya hanya di desa sekitar nagori Siatasan. Belakangan, saya malah pergi membawa kabar baik soal CU ke petani di kecamatan lain, seperti Girsang dan Jorlang Hataran,” ungkapnya.

Akibatnya, lanjut Ranto, dia kerap dimarahi istrinya. “CU Cinta Mulia tak pernah membayar saya, tetapi saya mau datang ke desa-desa yang jauh untuk mengajak petani menjadi anggota koperasi. Saya cuma bilang ke istri, ini pekerjaan yang baik, pasti Tuhan nanti membalasnya,” kisah Ranto.

Untuk menghindari marah istrinya, Ranto bekerja lebih giat. Jika sebelum menjadi penyuluh CU ke desa-desa, dia ke ladang pukul 06.00 hingga pukul 15.00.

Setelah menjadi aktivis CU, Ranto ke ladang pukul 05.00 dan baru pulang setelah matahari hampir tenggelam. “Ya, saya harus cari ganti waktuyang hilang, karena ke desa-desa mengajak orang masuk CU,” ujarnya.
Setelah genap 150 orang yang diajak Ranto menjadi anggota CU, pengurus CU Cinta Mulia menjadikannya sebagai komisioner di daerahnya. Tugas komisioner antara lain merekomendasikan seseorang berhak mendapatkan pinjaman atau tidak. Ada sedikti upah untuk pekerjaan ini.

Posisi sebagai komisioner bertahan hingga sekarang, meski saat ini sudah ribuan orang yang diajak Ranto masuk menjadi anggota CU. banyak di antara mereka nasibnya berubah.

Di Nagori Siatasan, ada seorang bekas calo angkutan umum yang kini memiliki warung. Dengan warung yang dia usahakan dari pinjaman CU, kini dia tak lagi pas-pas-an menghidupi keluarganya. “Warungnya salah satu yang paling ramai dikunjungi warga tiap sore. Padahal dulu dia hanya calo angkutan umum,” kata Ranto.

Ada juga petani penderes buah nira, yang kini tak lagi hanya mengontrak satu atau dua pohon, tetapi berkat pinjaman CU sudah bisa mengontrak satu kebun pohon nira hingga setahun. Petani tak lagi kesulitan bertani karena tak ada modal. Mereka pun terbebas dari rentenir.

“Yang paling drastis, petani anggota CU lahannya sudah bertambah. Mereka biasa mengajukan pinjaman untuk memperluas lahan pertanian. Apalagi tanah di sini masih mudah didapatkan kalau memang ada modalnya,” kata Ranto.
Tentu Ranto paling merasakan perubahan. Empat anaknya yang terakhir, semua lulus dari bangku perguruan tinggi. “Ada yang jadi guru di Solo, Jawa Tengah, jadi jaksa di Aceh, dan jadi polisi di Bukittinggi, Sumatera Barat. Sisanya berdagang di Jakarta,” ujar Ranto.

Dikutip dari KOMPAS, SENIN, 18 APRIL 2011

Chairul Tanjung


Chairul Tanjung

Lahir 16 Juni 1962 (umur 49)
Bendera Indonesia Jakarta, Indonesia
Pekerjaan Pemilik (CEO) utama Para Group
Agama Islam

Chairul Tanjung (lahir di Jakarta, 16 Juni 1962; umur 49 tahunadalah pengusaha asal Indonesia. Namanya dikenal luas sebagai usahawan sukses bersama perusahaan yang dipimpinnya, Para Group.

Chairul telah memulai berbisnis ketika ia kuliah dari Jurusan Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. Sempat jatuh bangun, akhirnya ia sukses membangun bisnisnya. Perusahaan konglomerasi miliknya, Para Group menjadi sebuah perusahaan bisnis membawahi beberapa perusahaan lain seperti Trans TV dan Bank Mega.

Chairul dilahirkan di Jakarta dalam keluarga yang cukup berada. Ayahnya A.G. Tanjung adalah wartawan zaman orde lama yang menerbitkan surat kabar beroplah kecil[1]. Chairul berada dalam keluarga bersama enam saudara lainya. Ketika Tiba di zaman Orde Baru, usaha ayahnya dipaksa tutup karena berseberangan secara politik dengan penguasa saat itu. Keadaan tersebut memaksa orangtuanya menjual rumah dan berpindah tinggal di kamar losmen yang sempit.

Selepas menyelesaikan sekolahnya di SMA Boedi Oetomo pada 1981, Chairul masuk Jurusan Kedokteran Gigi Universitas Indonesia[4] (lulus 1987[1]). Ketika kuliah inilah ia mulai masuk dunia bisnis. Dan ketika kuliah juga, ia mendapat penghargaan sebagai Mahasiswa Teladan Tingkat Nasional 1984-1985.

Demi memenuhi kebutuhan kuliah, Ia mulai berbisnis dari awal yakni berjualan buku kuliah stensilan, kaos, dan lainnya di kampusnya. Ia juga membuka usaha foto kopi di kampusnya. Chairul juga pernah mendirikan sebuah toko peralatan kedokteran dan laboratorium di bilangan Senen Raya, Jakarta Pusat, tetapi bangkrut.

Selepas kuliah, Chairul pernah mendirikan PT Pariarti Shindutama bersama tiga rekannya pada 1987. Bermodal awal Rp 150 juta dari Bank Exim, mereka memproduksi sepatu anak-anak untuk ekspor. Keberuntungan berpihak padanya, karena perusahaan tersebut langsung mendapat pesanan 160 ribu pasang sepatu dari Italia. Akan tetapi, karena perbedaan visi tentang ekspansi usaha, Chairul memilih pisah dan mendirikan usaha sendiri.

Kepiawaiannya membangun jaringan dan sebagai pengusaha membuat bisnisnya semakin berkembang. Mengarahkan usahanya ke konglomerasi, Chairul mereposisikan dirinya ke tiga bisnis inti: keuangan, properti, dan multimedia. Di bidang keuangan, ia mengambil alih Bank Karman yang kini bernama Bank Mega.

Ia menamakan perusahaan tersebut dengan Para Group. Perusahaan Konglomerasi ini mempunyai Para Inti Holdindo sebagai father holding company, yang membawahkan beberapa sub-holding, yakni Para Global Investindo (bisnis keuangan), Para Inti Investindo (media dan investasi) dan Para Inti Propertindo (properti).

Di bawah grup Para, Chairul Tanjung memiliki sejumlah perusahaan di bidang finansial antara lain Asuransi Umum Mega, Asuransi Jiwa Mega Life, Para Multi Finance, Bank Mega Tbk, Mega Capital Indonesia, Bank Mega Syariah dan Mega Finance. Sementara di bidang properti dan investasi, perusahaan tersebut membawahi Para Bandung propertindo, Para Bali Propertindo, Batam Indah Investindo, Mega Indah Propertindo[6]. Dan di bidang penyiaran dan multimedia, Para Group memiliki Trans TV, Trans 7, Mahagagaya Perdana, Trans Fashion, Trans Lifestyle, dan Trans Studio.

Khusus di bisnis properti, Para Group memiliki Bandung Supermall. Mal seluas 3 hektar ini menghabiskan dana 99 miliar rupiah. Para Group meluncurkan Bandung Supermall sebagai Central Business District pada 1999. Sementara di bidang investasi, Pada awal 2010, Para Group melalui anak perusahaannya, Trans Corp., membeli sebagian besar saham Carefour, yakni sejumlah 40 persen. Mengenai proses pembelian Carrefour, MoU (memorandum of understanding) pembelian saham Carrefour ditandatangani pada tanggal 12 Maret 2010 di Perancis.

Majalah ternama Forbes merilis daftar orang terkaya dunia 2010[8]. Sebagai sebuah pencapaian, menurut majalah tersebut, Chairul Tanjung termasuk salah satu orang terkaya dunia asal Indonesia. Forbes menyatakan bahwa Chairul Tanjung berada di urutan ke 937 dunia dengan total kekayaan US$ 1 miliar.
[sunting] Latar belakang pendidikan

Berikut selengkapnya latar belakang pendidikan seorang Chairul Tanjung.

SD Van Lith, Jakarta (1975)
SMP Van Lith, Jakarta (1978)
SMA Negeri I Boedi oetomo, Jakarta (1981)
Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Indonesia (1987)
Executive IPPM (MBA; 1993)

Chairul menyatakan bahwa dalam membangun bisnis, mengembangkan jaringan (network) adalah penting. Memiliki rekanan (partner) dengan baik diperlukan. Membangun relasi pun bukan hanya kepada perusahaan yang sudah ternama, tetapi juga pada yang belum terkenal sekalipun. Bagi Chairul, pertemanan yang baik akan membantu proses berkembang bisnis yang dikerjakan. Ketika bisnis pada kondisi tidak bagus (baca: sepi pelanggan) maka jejaring bisa diandalkan. Bagi Chairul, bahkan berteman dengan petugas pengantar surat pun adalah penting.

Dalam hal investasi, Chairul memiliki idealisme bahwa perusahaan lokal pun bisa menjadi perusahaan yang bisa bersinergi dengan perusahaan-perusahaan multinasional. Ia tidak menutup diri untuk bekerja sama dengan perusahaan multinasional dari luar negeri. Baginya, ini bukan upaya menjual negara. Akan tetapi, ini merupakan upaya perusahaan nasional Indonesia bisa berdiri sendiri, dan jadi tuan rumah di negeri sendiri.

Menurut Chairul, modal memang penting dalam membangun dan mengembangkan bisnis. Baginya, kemauan dan kerja keras harus dimiliki seseorang yang ingin sukses berbisnis. Namun mendapatkan mitra kerja yang handal adalah segalanya. Baginya, membangun kepercayaan sama halnya dengan membangun integritas. Di sinilah pentingnya berjejaring (networking) dalam menjalankan bisnis.

Dalam bisnis, Chairul menyatakan bahwa generasi muda bisnis sudah seharusnya sabar, dan mau menapaki tangga usaha satu persatu. Menurutnya, membangun sebuah bisnis tidak seperti membalikkan telapak tangan. Dibutuhkan sebuah kesabaran, dan tak pernah menyerah. Jangan sampai banyak yang mengambil jalan seketika (instant), karena dalam dunia usaha kesabaran adalah salah satu kunci utama dalam mencuri hati pasar. Membangun integritas adalah penting bagi Chairul. Adalah manusiawi ketika berusaha,sesorang ingin segera mendapatkan hasilnya. Tidak semua hasil bisa diterima secara langsung.

Referensi
http://www.pdat.co.id. Chairul Tanjung. (diakses 21 April 2010)
vivanews.com. Chairul Tanjung Melejit Jadi Orang Kaya Dunia. (diakses 22 April 2010)
http://www.tokohindonesia.com. Chairul Tanjung: “The Rising Star”. (diakses 19 April 2010)
bisnis.vivanews.com. Melejit Berbekal Selembar Kain. (diakses 19 April 2010) http://www.andriewongso.com. Chairul Tanjung.(diakses 19 April 2010)
http://www.beritajatim.com. Chairul Tanjung; Dari Bisnis Kaos ke Raja Media.(diakses 22 April 2010)
http://www.detikfinance.com. Alasan Chairul Tanjung Beli Carrefour. (diakses 20 April 2010)
^ a b http://www.forbes.com. #937 Chairul Tanjung. (diakses 20 April 2010)

Pintaraja Marianus Sitanggang


Saya lahir di Sigillombu, Siriaon, Negeri Buhit, Kecamatan Pangururan, Samosir 12 Desember 1938. Inilah tanggal, bulan dan tahun kelahiran saya. Data kelahiran ini saya tahu secara kebetulan, setelah saya tahu baca tulis, kelas 3 SR (Sekolah Rakyat) tahun 1947. Secara kebetulan saja. Saya tidur-tiduran, menghadap didinding dan terbacalah: tubu 12 Desember 1938, hari Selasa, kira-kira jam 7 malam. Lalu saya tanya Bapak: Pak, tanggal lahir siapa yang tertulis di dinding itu? Bapak jawab: Ari hatutubum (tanggal lahirmu). Bapak, memang tahu baca dan tulis. Dan saya diberi nama : PINTARAJA.

Saya anak ke 2 (kedua) dari 8 (delapan) bersaudara 4 (empat) putra dan 4 (empat) putri. Pendidikan Dasar dimulai di sebuah Sekolah Rakyat (SR=sekarang SD); tahun ajaran 1945/1946 di Siriaon, sampai kelas 3. Kelas 4 pindah ke Harapohan ( 1,5 jam jalan kaki dari rumah) dalam situasi Agresi ke II. Pada tanggal 27 Desember 1949, Penyerahan Kedaulatan, pindah ke Pangururan( 5 km dari kampung =1 jam jalan kaki). Kelas 5 dan kelas 6 berlanjut di Pangururan. Pada tahun 1950, saya masuk Katolik dan dipermandikan oleh Pastor Woestenberg OFMCap dan saya diberi nama permandian MARIANUS. Itulah awal jadinya nama saya bertambah panjang.

Tamat SR thn ajaran 1951/1952. Dan selanjutnya ke SMP Katolik Budi Mulia di Onan Runggu, 50 km dari kampung saya. Tamat dan lulus pada thn ajaran 1954/1955. Selama pendidikan dasar sampai menamatkan SMP berangkat ke sekolah tanpa alas kaki alias kaki ayam.

Setamat dari SMP, saya melanjutkan sekolah ke Medan dan mendaftar dan diterima di Sekolah Menengah Ekonomi Atas Negeri (SMEA Negeri). Selama 3 tahun di SMEA Negeri Medan, sembari sekolah saya menjadi pelayan di kedai kopi, hingga lulus SMEA Negeri th.ajaran 1957/1958.

Tidak lama setelah itu, saya didatangi oleh seorang Frater, Fr.Albertinus Smits, yang dalam perkenalan, beliau adalah Direktur SMA RK Bintang Timur di Balige. Beliau mengetahui nama dan alamat saya dari Bapak Uskup Agung, Mgr.A.H.vd Hurk, yang mengenal saya karena saya sering berkunjung ke Keuskupan, tahun-tahun 1955-1958. Kebetulan saya berdomisili tidak jauh dari Keuskupan. Pendek cerita, oleh Fr.Albertinus Smits, saya diminta membantunya sebagai guru di SMA RK Bintang Timur di Balige. Saya ketika itu ragu, karena menyadari, saya baru lulus SMEA yang setingkat dengan SMA lalu harus mengajar di SMA. Beliau bilang, pasti bisa.

Masalahnya, guru-guru yang berasal dari Jawa pada pulang karena alasan keamanan. Pada masa itu, tahun 1958-1959, masa pemberontakan PRRI, jadi masih ada gangguan keamanan di Tapanuli. Akhirnya jadilah saya guru SMA RK Bintang Timur. Pada saat itu, saya juga diminta mengajar di SMEA Negeri di kota yang sama, di Soposurung, Balige. Saya mengajar dan berjalan normal sebagai guru tanpa ada murid yang menganggap enteng walaupun usia relatip tidak jauh berbeda. Saya juga belajar serius agar jangan sampai murid melecehkan pengajaran saya.

Setelah mengajar setahun di SMA RK Bintang Timur, di Balige dan sudah mulai merasa betah dan bangga, saya didatangi oleh Bruder Deodatus Verbeek, bekas guru saya waktu saya di SMP Budi Mulia, di Onan Runggu, Samosir, thn ajaran 1951/1954,meminta saya membantu beliau sebagai guru di SMA RK Budi Mulia, yang baru dibuka di P.Siantar, yang berlokasi di Jl.Sibolga 21, P.Siantar. Beliau membujuk saya dan mengatakan bahwa demi masa depan saya, beliau menyarankan pindah ke P.Siantar agar saya sambil mengajar pagi di SMA Budi Mulia, sore dapat melanjutkan ke B1 Negeri jurusan Ekonomi (kebetulan perkuliahan pada sore hari-malam hari).

SMA Budi Mulia yang dikelola ole Yayasan Budi Mulia, mulai menerima murid baru kelas I dan menampung murid kelas 2, peralihan dari SMA Setia yang berada di lokasi yang sama. Jadilah saya menerima tawaran ini.Saya juga diminta mengajar di SMP Putri di Jl.Marimbun 5, yang dikelola oleh Suster KYM. Disamping itu, saya juga diminta mengajar di Seminari Menengah, P.Siantar. Saya mendaftar dan diterima sebagai mahasiswa di B1 Negeri jurusan Ekonomi di Pematang Siantar. Lama pendidikan di B1 adalah 3 tahun. Sekitar thn 1960 berdirilah FKIP dan tamatan B1 langsung bisa diterima di tingkat yang sama di FKIP pada jurusan yang sama.

Setelah 3 tahun mengajar di SMA RK Budi Mulia di P.Siantar, saya ditugaskan belajar ke FKIP Sanata Dharma di Jogyakarta. Karena saya berasal dari B1 Negeri Jurusan Ekonomi maka saya diterima di FKIP Sanata Dharma dengan penyesuaian tingkat. Saya harus bekerja keras dalam belajar karena mutu kuliah waktu di B1 Negeri Pematang Siantar jauh ketinggalan dari kurikulum FKIP jurusan Ekonomi. Namun demikian, akhirnya saya bisa menyelesaikannya. Bulan Desember 1964.

Semasa pendidikan, terutama pada tahun terakhir pendidikan di FKIP saya berkenalan dan melekat tanpa reserve dengan Maria Bernadette Yo..yang dilanjutkan dengan pernikahan yang dilangsungkan di gereja St Joseph, Matraman, Jakarta pada tgl 9 Augustus 1964. Pertengahan Januari 1965 kami kembali ke P.Siantar dan bertugas aktip kembali di SMA Budi Mulia di P.Siantar.

Kebahagiaan di keluarga menjadi lebih semarak setelah kelahiran anak kami yang pertama pada tanggal 16 Oktober 1968, setelah 4 tahun dari pernikahan kami. Karena keberadaan anak ini sudah lama dinantikan maka jadilah kami beri nama: RACHMAYANTI (Rachmat yang dinanti) SITANGGANG. Tidak sampai sebulan, dipermandikan di gereja dengan nama permandian: REGINA ISABELLA. Jadi nama lengkap di surat permandian dan akte lahir:REGINA ISABELLA RACHMAYANTI SITANGGANG.- Menyusul kemudian kelahiran adiknya pada

Tanggal 11 Augustus 1973 dengan nama: JEANETTE MARINTAN SITANGGANG. Nama permandiannya:JEANETTE.
Mulai tahun 1960, keadan ekonomi betul-betul sangat memprihatinkan, apalagi setelah meletus G30S. pada 3o September 1965. Syukur pada Tuhan, bahwa tahun-tahun yang penuh derita itu dapat dilalui dengan semangat juang yang pantang menyerah. Kondisi ekonomi saat itu, benar-benar hanya memberi peluang hidup ala pas-pasan. Namun dengan sebuah tekad, membentuk kesiapan mental sebagai peralatan perjuangan, kami memulai bahtera ini dengan hidup sederhana, disiplin dan taat asas. Hingga saat ini, saya dan ibu sudah boleh katakan telah mampu menembus batas-batas jaman, yaitu jaman ke jaman yang benar-benar mempengaruhi warna kehidupan sosial ekonomi masyarakat.

Ada sebuah pengalaman penting sebagai sejarah perkawinan saya. Istri tercinta ini, lahir dan berkembang di kota metropolitan Jakarta, dari kalangan keluarga yang tidak begitu merasakan apa itu kemiskinan. Lahir dari kultur dan tradisi yang berbeda dengan saya ,sebagai orang Batak yang di kampung di Samosir. Dan pada masa tahun 1964 itu (saat pernikahan kami), kondisi Jakarta dengan Pematangsiantar dan bahkan Samosir, menunjukkan pola kehidupan yang sangat kontras.

Benar-benar di luar pemahamannya, bahwa kemiskinan semacam itu baru dipahami dan di mengerti, baru ketika kami menikah dan tinggal di Pematangsiantar, dan tentu hal ini tidak terbayangkan sebelumnya bagi seorang Bernadette. Saya sungguh salut benar, dan ini menjadi sebuah arti sesungguhnya dari PERWUJUDAN CINTA, menerima apa adanya, dan sepakat melanjutkan perjuangan hidup, sebagai KEPUTUSAN BERSAMA, tanpa mempermasalahkan perbedaan-perbedaan yang tentu sangat menyolok antara latar belakang saya dengan dia. Dari pengalaman ini, saya mendefenisikan bahwa CINTA itu adalah sebuah bentuk saling pengertian, dan pemahaman, yang diwujudkan berupa pengorbanan tanpa merasakannya sebagai beban.

Walau saya kadang-kadang dapat memahami, mungkin saja saat itu, Bernadette sering kaget, dan mengkritisi beberapa pola hidup yang menurutnya tidak masuk diakal. Misalnya saja, kalau budaya keluarga mereka, bahwa sejak kecil sudah dididik kemandirian dan kerja keras tanpa mengharapkan bantuan orang lain, walaupun keluarga. Namun yang dialami dan dihadapi, adalah sebaliknya yaitu ketergantungan yang melekat terutama di kalangan keluarga yang menuntut keharusan tanggungjawab dan seolah-olah menjadi kewajiban membantu keluarga. Ini salah satu kelemahan yang di lihat sebagai perbedaan pola budaya antara suku Batak dengan suku mereka(Cina) Perbedaan pola ini, sering menjadi friksi yang kadang-kadang menimbulkan ketersinggungan pada hubungan keluarga, lalu terkadang membenturkan makna antara rasa kasihan berbanding prinsip yang berpendidikan. Lalu akhirnya saya juga dapat menyimpulkan bahwa tidak ada keberhasilan tanpa melalui pengorbanan.

Tahun 1969 saya masuk organisasi perburuhan, Sentral Organisasi Buruh Pancasila(SOB Panca Sila) yang disponsori oleh gereja Katolik, sebagai Wakil Ketua, Cabang Kodya P.Siantar/Kab.Simalungun dengan ranting-ranting di perkebunan.
Pada bulan September Oktober, 1970, saya dikirim ke Pilippina, mengikuti Seminar Perburuhan selama 3 minggu di Baguio City, Pilippina. Sebagian dari materi seminar adalah CREDIT UNION( CU ).

Sekembalinya saya dari Pilippina, tahun 1971 mulai saya diskusikan dengan rekan-rekan guru dan menggagasi berdirinya CU dikalangan guru / pegawai SMA Budi Mulia sekitar 20 orang. Sungguh tidak mudah. Dengan sedikit paksaan, potong gaji, jadilah berdiri CU CINTA MULIA, sebuah nama yang diambil dari nama gabungan sekolah BUDI MULIA dan CINTA RAKYAT, yang kebetulan pada saat itu guru-guru dan pegawai-pegawai dari kedua sekolah tersebut menjadi anggota awal, sehingga disepakati bernama: CU CINTA MULIA. CU ini juga sekaligus embryo Gerakan CU di Sumtera Utara. Tahun berikutnya, 1972 tepatnya bulan Juni, suatu team dari CUCO (Credit Union Counceling Office) yang didatangkan oleh PANSOS (Panitia Sosial).

Keuskupan Agung Medan, menyelenggarakan Kursus CU di Medan dan kemudian di P.Siantar (Wisma PEMUDA KATOLIK) Jl.Lingga 1, P.Siantar, pada bulan Juni 1972. Sesudah Kursus CU Perdana ini, oleh Ketua PANSOS KA Medan, Pastor Fidelis Sihotang, dibentuklah suatu TEAM MOBILE CU. Tugasnya, mempromosikan gerakan Credit Union di paroki-paroki se Keuskupan Agung Medan. Alhasil berdirilah beberapa CU, antara lain di Pangururan CU Dame , dibawah pimpinan Bpk Dj.B.Simbolon(alm), di Pakkat CU Pardomuan , oleh Sdr K.R.Situmorang dkk, di Siborongborong, CU Satolop oleh Sdr.Drs.P.Situngkir dkk, di P.Siantar, disamping CU Cinta Mulia, CU Ritama , oleh Sdr.AWT Situmorang dkk, CU Saroha , oleh Sdr.Drs.U.Napitu dkk, di Tebing Tingg CU Hidup Baru oleh Sdr.D.R.Nainggolan dkk, di Aek Kanopan CU Budi Murni , oleh Sdr.B.A Silalahi dkk., di Medan, CU Rukun Damai oleh Drs.T.L.Lumbangaol dkk dan di berbagai daerah lain di Sumatera Utara.

Dengan kehadiran gerakan CU di Sumut, yang pada awalnya disponsori PANSOS Keuskupan Agung Medan, oleh LPPS KWI, Jakarta, saya diundang untuk berpartisipasi pada Exposure Programme of Broederlijk Delen and Vasten Actie, di Petaling Jaya, Malaysia dan di Hongkong, 21 Juli sd. 1 Agustus 1980.

Pada tahap awal dari pertumbuhan CU-CU belum mempunyai kekuatan yang berarti, kecuali hanya semangat para perintis/penggeraknya. Para perintis ini sama sekali tidak mengharapkan imbalan, gaji atau honor, bahkan mereka dengan rela mengeluarkan biaya rapat, uang transport dari kantong sendiri. Yang mereka pikirkan bagaimana jalannya organisasi CU agar mampu memberikan pelayanan, mampu memberikan manfaat dan mampu menumbuh kembangkan partisipasi anggotanya. Terutama bagaimana mewujudkan kepedulian (commitment) bersama untuk mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan bersama. Yang ingin diwujudkan adalah CU memiliki modal sendiri yang kuat, tingkat likwiditas yang tinggi, kesadaran penuh anggota untuk pemenuhan kewajiban. Hal ini bisa terwujud bila dilandasi oleh semangat kerjasama, saling percaya dan kepedulian serta rasa solidaritas terhadap sesama anggota dan Pengurus.

Dengan telah berdirinya beberapa CU, maka dibentuklah suatu badan yang bertugas sebagai Pembina dan Pengembangan CU di wilayah Sumatra Utara, yang dinamai Badan Pengembangan Daerah Credit Union Sumatra Utara(BPD CU SUMUT) sesuai dengan instruksi dari CUCO di Jakarta sebagai lembaga Pembina dan Pengembangan CU tingkat Nasional. Singkat cerita, perkembangan CU mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Secara organisatoris juga terjadi paningkatan, terstruktur secara vertikal, Primer CU, Sekunder CU yang telah terbentuk secara musyawarah sesuai pola dan bentuk organisasi yang telah digariskan CUCO(BK3I) sebagai Induk Gerakan CU yang berkedudukan di Jakarta dengan nama baru BADAN KOORDINASI KOPERASI KREDIT SUMATRA UTARA (BK3D SUMUT).

Dengan perkembangan gerakan CU di Sumut, pada kesempatan Training di Luar Negeri, saya, diikut sertakan untuk mengikuti Training/Seminar di Korea(2 minggu), dilanjutkan ke Taiwan (1 minggu) dan di Hongkong (5 hari) sekitar bulan Mei Juni 1976, disponsori oleh Misereor dari Jerman Barat.

Selanjutnya, berbagai kursus ,seminar, pelatihan diselenggarakan di di berbagai kota di Indonesia, yang didanai oleh Konrad Adenauer Stiftung (KAS) suatu Yayasan di Jerman Barat. Cukup banyak peserta dari gerakan CU Sumut mengambil bagian pada berbagai jenis kursus/pelatihan yang diselenggarakan oleh CUCO(BK3I).

Kembali pada tahun 1981 saya memperoleh beasiswa dari CIDA untuk memperdalam pengetahuan dalam bidang Credit Union, CERTIFICATE PROGRAM pada Coady International Institute of St. FRANCIS XAVIER UNIVERSITY.
Dalam tahun yang sama, dilanjutkan ke Amerika Serikat(USA) untuk studi lapangan di THE INTERNATIONAL CREDIT UNION CENTER di Madison, Wisconsin, USA.

Pada tahun 1982 sekitar bulan Mei, dilaksanakan Musyawarah Nasional Gerakan CU yang dihadiri oleh utusan-utusan dari BK3D-BK3D se Indonesia untuk membahas Laporan dari masing masing BK3D dan menyusun Program Kerja CUCO(BK3I) dan pemilihan/pengangkatan General Manager CUCO(BK3I) sebagai pengganti Drs.Robby W.Tulus, General Manager CUCO(BK3I) yang pindah ke Kanada. Secara aklamasi, saya P.M.Sitanggang, diangkat dan diresmikan sebagai General Manager.

Sebelum peresmian saya sebagai General Manager, saya juga menyampaikan persyaratan bahwa jabatan sebagai GENERAL MANAGER saya terima dengan syarat, bahwa saya tetap berdomisili di Sumut dan bertugas di Jakarta selama 2 minggu tiap bulannya, gaji penuh, transport lokal dan tiket penerbangan Medan – Jakarta Medan setiap 2 minggu,dan penginapan ditanggung oleh CUCO(BK3I), Usul dan syarat dimaksud disetujui terutama dari pihak sponsor Konrat Adenauer Stiftung (KAS).

Bersamaan dengan pengangkatan saya sebagai General Manager BK3I, dengan bantuan sponsor MISEREOR, saya ikut berpartisipasi pada: ASIAN CREDIT UNION LEADER S CONFERENCE on FUTURE DEVELOPMENT OF ASIAN CREDIT UNIONS, 22 27 April 1982, di Bangkok, THAILAND.

Bulan Juni 1982, pada rapat tahunan ASIAN CONFEDERATION OF CREDIT UNION (ACCU) organisasi CU Regional Asia, dimana saya turut hadir terpilih sebagai SEKRETARIS untuk masa jabatan 2 tahun. ACCU Office berkedudukan di Seoul, Korea Selatan. Selama periode 2 tahun itu, setiap 3 bulan sekali rapat rutin di kantor ACCU di Seoul, Korea Selatan.

Di Pematang Siantar, dimana saya sejak lama, dari th.1968 sudah duduk sebagai anggota Pengurus di Organisasi Perburuhan yang kemudian lebih dikenal setelah fusi berbagai organisasi buruh menjadi Federasi Buruh Seluruh Indonesia (FBSI), pada Pemilihan Pengurus DPC FBSI Kody P.Siantar, bulan Maret 1982, saya terpilih sebagai Ketua, Tugas dan tanggungjawab sebagai Ketua saya laksanakan sampai periode pemilihan berikutnya pada tahun 1985., dimana saya tidak bersedia lagi sebagai calon Pengurus.

Pada tahun yang sama, bulan Oktober Desember 1982, saya mendapat bewasiswa untuk mengikuti suatu kursus: Training Course on Appropriate Management Systems for Agricultural Co-operatives (AMSAC), yang dibiayai oleh German Foundation for International Development (DSE) dan Food and Agriculture Organization of The United Nations (FAO) di Ahmedabad, Gujarat, INDIA.

Sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan CU di Sumut maka dirasa perlu peningkatan pengetahuan dalam memperkenalkan pelayanan baru dan kesadaran baru bagi gerakan CU antara lain, Pelayanan Silang Pinjam ( Interlending ) dan kesadaran hukum . Maka untuk ini, dengan bantuan sponsor the Co-operatve Foundation of Canada, the World Council of Credit Unions, saya mengikuti Seminar Hukum CU: CREDIT UNION LAW SEMINAR, di Seoul, KOREA SELATAN, 29 Mei sd. 9 Juni 1983.

Tidak lama sesudah itu, 10 18 September 1983, saya kembali lagi ke Seoul Korea Selatan untuk ikut serta ,pada: TRAINING SEMINAR ON INTERLENDING, yang disponsori oleh MISEREOR dan WORLD COUNCIL OF CREDIT UNIONS (WOCCU).
Sebagai konsekwensi jabatan saya di ACCU (1982-1987, 1997-2000 Secretary, 2006 -2008, 1st Vice President), saya kerapkali melakukan perjalanan ke negara-negara anggota ACCU. Selama tahun 1984, saya mengunjungi Jepang, Korea Selatan, Sri Lanka, Bangladesh, Nepal dan Taiwan.-

Pada bulan Oktober Nopember 1984, saya membawa rombongan yang terdiri dari 8 orang ( 7 orang dari BK3I dan 1 orang dari Depkop) untuk mengikuti seminar: PROMOTION OF SELF HELP ORGANIZATIONS FOR SAVING AND CREDIT di Institute for Cooperation in Developing Countries of THE PHILIPPS-UNIVERSITY, Marburg, West Germany. Disamping belajar di kelas, tidak dilupakan juga kunjungan ke berbagai Koperasi Kredit(Credit Cooperatve Society) dan excursi ke RAIFFEISEN-ZENTRALBANK, Kurhessen,AG, di Kassel. Juga berkesempatan ke DACHAU, untuk menyaksikan KAMAR GAS pembakaran mayat orang-orang Jahudi, pada zaman pemerintahan NAZI, Hitler. Betapa tidak beradabnya.

Menjelang akhir dari kursus , rombongan berangkat ke BERLIN untuk rekreasi selama 3 hari. Berkesempatan menyaksikan Opera di gedung Opera dan Tembok Berlin.

Seusai program, beberapa orang dari rombongan melanjutkan perjalanan ke LOURDES, PERANCIS dalam rangka ziarah, dengan naik kreta api dari Frankfurt Lourdes yang ditempuh puluhan jam. Begitu turun dari Kereta Api, saya melihat ke arah jalan raya, hotel kecil, dengan nama Hotel BERNADETTE. Dengan mengingat nama isteri tersayang, BERNADETTE, di rumah, saya memilih hotel tersebut tempat menginap selama di Lourdes.Dari Lourdes kembali lagi ke Frankfurt untuk selanjutnya kembali ke Indonesia.

Tahun 1985: Sebagai Sekretaris ACCU, pada tgl 2 Maret 1985, saya mendapat penugasan ke Kanada untuk mempromosikan gerakan CU di Indonesia dan Asia termasuk SPEAKING TOUR , dalam rangka FUND RAISING, 3 minggu berkeliling di beberapa provinsi di Kanada, a.l. Propinsi Sasketchewan, Manitoba dan Ontario. Menghadiri berbagai pertemuan, kunjungan ke CU CU, wawancara TV, pers conference dan lainnya.

Karena menurut rencana perjalanan saya harus hadir pada rapat ACCU di Seoul, Korea Selatan, maka saya berangkat dari Toronto menuju New York setelah transit di Chicago. Dari New York , melanjutkan penerbangan ke Seoul setelah transit di Anchorage, Alaska.

Setelah beberapa hari di Seoul, Korea Selatan, 9 April 1985,saya kembali ke Indonesia ,
Perjalanan tugas ini lebih kurang 5 minggu. Tgl. 6 Juni 1985 menghadiri pertemuan, rapat dan sebagai salah seorang instruktur pada suatu training di Bangkok dan kemudian melanjutkan perjalanan ke Srilanka, ke Sanasha Campus di Kegal sebagai salah seorang instruktur pada training di Sanasha Campus. 20 Juni 1985 kembali ke Indonesia.

Pada tgl 15 Mei 1985 saya beragkat ke PARIS, Perancis , diutus oleh LPPS-KWI, untuk menghadiri Kongres Pemuda Katolik Se Dunia di Paris. Seusai perhelatan tersebut saya ditempatkan di rumah-rumah keluarga Katolik dalam mengalami serta menghayati kehidupan keluarga Katolik di Perancis. Saya ditempatkan jauh di-ari Paris, dekat perbatasan Spanyol, sekitar pedesaan di Lourdes. Program ini disponsori oleh LPPS (Lembaga Penelitian dan Pengembangan Sosial} KWI-MAWI, dengan CCFD (Comite Catholique contre la Faim et pour le Developpement). Tgl 29 Mei kembali ke Indonesia.

Tahun 1986: Kunjungan rutin, 27 Oktober 1986, ke ACCU Office di Bangkok dan 29 Oktober 1986 mengunjungi Srilanka untuk pertemuan dengan CCA di Colombo pada tgl 31 Oktober 1986. Tgl 2 Nopember menuju kantor ACCU di Bangkok dan baru 10 Nopember kembali ke Indonesia.

Tahun 1987: Berangkat menuju Hongkong untuk suatu Seminar ACCU pada tgl 27 Juni dan kembali ke Indonesia pada tgl. 5 Juli 1987. Tahun 1988: Sebagai partisipan pada INGI (International NGO Forum on Indonesia) saya mendapat undangan u ntuk ikut pada pertemuan INGI yang diselenggarakan di Amsterdam, Negeri Belanda tgl 24 April 10 Mei 1988 Pertemuan, rapat berlangsung di Amsterdam, Den Haag dan di Brussel, Belgia. Tgl. 10 Mei , rombongan kembali ke Indonesia. Biaya perjalanan saya, tiket pesawat, hotel dllnya ditanggung oleh CEBEMO.

Tahun 1989: Dengan bea siswa dari OTO BAPPENAS USAID, rombongan yang berasal dari NGO partisipan INGI, setelah melalui seleksi di kantor OTO BAPPENAS, dan lulus test bahasa Inggris Toefle, score 600.- 16 orang diberangkatkan ke Amerika Serikat untuk training di SCHOOL FOR INTERNATIONAL TRAINING, di Brattleboro, VERMONT, USA, 9 Oktober 17 Nopember 1989. Setelah 5 minggu di kelas, rombongan bepergian ke berbagai kota, a.l. BOSTON, berkunjung ke Harvard University, ke New York, kunjungan ke World Bank dan ke gedung PBB. Selanjutnya kunjungan ke Universtas- M.I.T. di Amherst, OHIO. Dan 19 Nopember 1989, dalam perjalanan menuju Indonesia, saya sendiri harus mampir ke HONGKONG lagi untuk suatu pertemuan ACCU yang diselelenggarakan di TAICHUNG, TAIWAN.. 27Nopember 1989 kembali ke Indonesia.

Tahun 1990: 5 Mei, Rombongan partisipan INGI berangkat menuju BONN,Jerman Barat untuk suatu pertemuan antar NGO NGO Indonesia dan NGO-NGO dari negara-negara anggota konsorsium IGGI, penyandang dana untuk pembangunan di Indonesia. Setelah beberapa hari pertemuan di BONN, dilanjutkan ke BERLIN. Beberapa hari di Berlin, dilanjutkan ke BRUSSEL, BELGIA, untuk finalisasi Action Plan untuk tahun berikutnya. Kembali ke Indonesia pada tanggal 27 Mei 1990.

Tahun 1991: Pada Musyawarah Nasional BK3 Indonesia, saya terpilih sebagai KETUA Dewan Pimpinan BK3 Indonesia untuk periode 5 tahun. Jabatan KETUA BK3I berlangsung hingga tahun 2001; jadi memegang jabatan KETUA selama 10 tahun.
Setelah absen 3 tahun dari jabatan Ketua BK3I (INKOPDIT), terpilih lagi pada RAT INKOPDIT, yang diselenggarakan di Hotel Jayakarta, Jakarta Kota, pada thn 2004.

Tahun 1992: Kembali INGI menyelenggarakan pertemuan di ODAWARA, JEPANG, dengan thema: PEOPLES PARTICIPATION IN ECONOMIC LIBERISATION. Ini mrupakan The Eight INGI CONFERENCE. Kegiatan ini berlangsung dari tgl 21 25 Maret 1992. OPEN FORUM diselenggarakan di YOKOHAMA. .dan pertemuan berikutnya berlangsung di TOKYO, DI hotel WASHINGTON. TGAL 25 Maret rombongan kembali ke tanah air.

Tahun 1994. 24 Juli saya berangkat ke Taiwan dalam rangka Exposure Program. Pesertanya terdiri dari utusan-utusan dari Federasi CU anggota ACCU. Peserta kembali ke negara masing-masing pada 2 Augustus 1994.-
6 September 1994, berangkat menuju Dhaka, Bangladesh sebagai delegasi selaku Ketua BK3I pada AGM(Annual General Meeting). 11 September , kembali ke Indonesia.

Tahun 1996. 22 Mei berangkat ke Colombo, Srilanka. Pertemuan dengan CCA dan kunjungan ke berbagai proyek CCA di Srilanka. 28 Mei kembali ke Indonsia. Lalu 25 Juni, berangkat menuju Hongkong untuk sterusnya melanjutkan perjalanan ke WINNIPEG,MANITOBA, CANADA dengan terlebih dulu transit di VANCOUVER, dalam rangka memenuhi undangan CCA. Rombongan terdiri dari 6 orang yang mewakili Lembaga /Organisasi Koperasi tingkat Nasional, Daerah dan Universitas. Selain ikut serta dalam Open Forum, kunjungan ke berbagai Koperasi yang ada di Propinsi Manitoba, Canada. Kembali ke Indonesia 16 Juli 1996.

September 22. Menuju Hongkong untuk melanjutkan perjalanan tugas dalam rangka menghadiri AGM ACCU di Taipei. Kembali ke Indonsia 26 September. Tahun 1997. 6 April menghadiri pertemuan rutin di BANGKOK dalam kapasitas sebagai Wkl Ketua ACCU. Kembali ke P.Siantar 12 April. Selanjutnya menghadiri Regional Forum on CU Out-Reaching Penetration dan AGM ACCU di Manila, Pilippina, 19 22 September 1997. 8 Oktober 1997. berangkat ke Korea atas undangan NATIONAL CREDIT UNION OF KOREA(NACUFOK), dalam rangka ikut serta pada EXPOSURE PROGRAM, diikuti utusan dari 15 negara anggota ACCU.Kembali ke Indonesia 17 Oktober 1997.

Tahun 1998. Tanggal 10 Juli 1998, Sebagai penghargaan atas jerih payah, pengorbanan serta pengabdian insan-insan Pengurus, Penggerak CU, oleh Pemerintah Republik Indonesia, diberikan PENGHARGAAN berupa SATYA LENCANA PEMBANGUNAN kepada , Drs. P.M.SITANGGANG, KETUA INKOPDIT. Penyerahan penghargaan ini dilaksanakan di ISTANA MERDEKA, JAKARTA oleh BAPAK PERSIDEN RI, DR B.J.HABIBIE pada tanggal 10 JULI 1998. 15 September 1998. Berangkat ke Bangkok untuk seterusnya melanjutkan perjalanan ke KATMANDU, NEPAL untuk hadir dan berpartisipasi dalam SEMINAR dan mewakili INKOPDIT (CUCO INDONESIA) pada AGM (RAT ACCU) yang berlangsungdari tanggal 16 sd 23 September 1998. Tgl 24 kembali ke Indonsia.
Tahun 2000. 18 September 2000. Berangkat ke ANAN CITY, KOREA SELATAN untuk menghadiri Seminar, mewakili INKOPDIT pada AGM ACCU (RAT ACCU) 19 25 September 2000.

Berangkat ke BEIJING, RRC, 16 OKTOBER 2000.dalam kapasitas SEKRETARIS ACCU, sebagai salah seorang peserta dan sebagai Nara Sumber, atas undangan INTERNATIONAL CO-OPERATIVE ALLIANCE ( ICA ), pada 5th ASIA PACIFIC COOPERATIVE MINISTERS CONFERENCE. Tahun 2007. 12 15 Maret, Berangkat ke Bangkok dalam rangka mengahadiri ACCU Board of Directors Meeting. 16 Maret kembali ke Indonesia.

23 Juli 2007 berangkat ke Jakarta untuk selanjutnya bersama Pak Abat Elias,
General Manager INKOPDIT, berangkat ke KANADA dgn rute: Jakarta- Taipei- Vancouver- Calgary pp. dalam rangka menghadiri WORLD CREDIT UNIONS CONGRES (KONGRES CU SE DUNIA) atas undangan CCA, mitra INKOPDIT puluhan tahun sebagai penghargaan atas prestasi INKOPDIT dalam pengembangan CU di Indonesia. Semua biaya, tiket, hotel dlsb. Ditanggung oleh CCA> Perhelatan ini, dihadiri ribuan utusan dari puluhan negara yang beraffiliasi ke WORLD COUNCIL OF CREDI UNIONS (WOCCU). Pada tanggal 5 Augustus kembali ke Indonesia.

Tahun 2008. 24 Maret 2008 berangkat ke Korea, Daejon City, untuk Rapat rutin ACCU (ACCU Board of Directors Meeting), yang berlangsung 25 29 Maret 2008.
Pada kesempatan ini, Sdr.Robinson Bakara turut serta untuk studi banding Pogram IT yang sudah dilaksanakan di PUSKOPDIT BK3D SUMUT yaitu Program Be UNION.

23 September 2008, Berangkat ke DHAKA, BANGLADESH, untuk Rapat Persiapan AGM ACCU, tugas sebagai Moderator- pada pembahasan session-session. Karena jabatan saya sebagai 1st VICE PRESIDENT ACCU (Wkl KETUA ACCU), berbagai kesibukan harus ditangani, menerima tamu-tamu, a.l. Pejabat Pemerintah Negara setempat (Bangladesh), undangan dari Lembaga-Lembaga Lokal dan Inernational, konfrensi pers dan media electronic(tv). Tiba kembali di P.Siantar tgl. 30 September 2008.

Sebagian besar dari uraian pengalaman dan perjalanan sebagaimana diutarakan diatas, merupakan kegiatan yang berkaitan dengan fungsi dan jabatan saya di ACCU dan Lembaga Mitra , tetapi tidak berarti kegiatan-kegiatan pembinaan dan pengembangan gerakan CU di Indonesia dan khususnya di Sumut terabaikan, bahkan lebih besar.

sumber:http://www.creditunionsumut.org

Mika Panjaitan


Biodata:
Nama: Ir Mika Panjaitan
Tempat/tanggal lahir: Pematang Siantar, 2 Januari 1967
Nama Istri: Christine boru Siagian
Anak: 3 orang
Ayah: B Panjaitan (almarhum).
Ibu: E boru Siagian
Pendidikan: SD HKBP Pematangsiantar (1979). SMP Negeri 5 Pematangsiantar (1982). SMA Negeri 5 Medan (1985). Fakultas Teknik Jurusan Teknik Industri Universitas Sumatera Utara (1990).
Pengalaman Kerja: BT/BVS Nukleus Medan (1986). BT.BVS Mitra Medan (1988). BT/BS Bioteknik Medan (1992). Bimbel Teknos Jakarta (1992-1994). Bimbel SSC Jakarta (1994-1999). Mitsubishi Motor Corporation (1995-1997). Lab Schooll Rawamangun (1995-2000). Pendiri Quantum Institut (QUIN)- (2000-sekarang).

Mika Panjaitan
SANG PIONER QUANTUM INSTITUTE
Jika kegagalan menghampiri Anda bukan berarti Anda harus menyerah, tetapi cari jalan lain, kemudian kerjakan lagi. Sekali lagi, jangan cepat menyerah. Jangan lupakan kegagalan, tetapi ambilah hikmahnya.

Kata-kata itu dikutif dari beranda maya lembaga bimbingan belajar bernama QUIN. Kata-kata yang mengairahkan para siswi di QUIN. Apa itu QUIN? Adalah Quantum Institute, didirikannya tahun 2000. Lembaga ini bergerak dalam bidang bimbingan belajar dan In House Training. Penggagasnya orang Batak, Ir Mika Panjaitan.

Sejak Mika mendirikan bimbel QUIN, lembaga ini muncul sebagai fenomena baru di dunia bimbingan belajar di Indonesia. Sebagai seorang pioner, pendiri dan penggagas, Mika melakukan terobosan melalui pembaharuan dalam proses belajar-mengajar di kelas. Menurut Mika, permasalahan belajar siswa adalah motivasi belajar yang kurang, serta minimnya informasi yang mereka terima mengenai teknik-teknik belajar yang baik dan efektif.

“Kami meninggalkan konsep lama yang konvensional, di mana siswa lebih giat dalam belajar, lebih cerdas, dan lebih percaya diri melalui metode belajar yang adaptif terhadap perubahan dan tuntutan zaman, kami sebut Quantum Method,” ujar Direktur Utama QUIN.

Sekarang ini QUIN berkembang pesat, sudah ada 23 cabang di Indonesia. Apa yang membuatnya maju pesat? “Sebagai bimbingan belajar, tugas kami adalah membantu siswa meningkatkan kecerdasan dan prestasi akademik, khususunya di jenjang pendidikan SMP dan SMA. Dan, sebagai pengelola In House Training, tugas kami adalah melakukan pelatihan kepada masyarakat luas, khusus mengenai cara-cara belajar yang sangat efektif,” ujar mantan guru di Lab School Rawamangun, ini.

Awalnya, Mika bersama-sama dengan beberapa rekannya “memburu” sumber-sumber pengetahuan mengenai pembelajaran terbaru dan menemukan sejumlah buku-buku, termasuk temuan-temuan terkini mengenai otak dan kecerdasan manusia- tentang cara-cara terbaik untuk belajar efektif dengan hasil yang menakjubkan.

“Intisari dari sejumlah sumber pengetahuan itulah yang dikombinasikan dalam kurikulum terpadu dengan teknik pengajaran,” ujar suami dari Christine boru Siagian, dan ayah dari tiga anak ini. Bagi dia menyadari sukses yang sebenarnya adalah keseimbangan. Kesimbang karier dan keluarga. Bagi Mika, keluarga adalah spirit dalam bekerja. Itu sebabnya sesibuk apapun dia, selalu menyempatkan keluarga.

Kesuksesan QUIN dalam menerapkan pembaharuan dalam belajar-mengajar merupakan suatu kebanggaan yang akan terus dijadikan sebagai pemacu semangat tim dalam beraktualisasi. Bagaimanapun, kepedulian QUIN terhadap pengembangan potensi anak-anak bangsa merupakan pengabdian tanpa batas?

“Sebagai bimbingan belajar, tugas kami adalah membantu siswa meningkatkan kecerdasan dan prestasi akademik, khususunya di jenjang pendidikan SMP dan SMA. Dan, sebagai pengelola In House Training, tugas kami adalah melakukan pelatihan kepada masyarakat luas, khusus mengenai cara-cara belajar yang sangat efektif,” tambahnya.

Lalu, bagaimana mengombinasikan nilai dari intisari sumber pengetahuan itu dalam kurikulum QUIN? “Kami melayani siswa dengan sepenuh hati, lalu progresif, proaktif dan selalu berpikir positif. Karena, pelayanan pengajaran sebagai tanggung jawab pengabdian.

Maka, kami melakukan hal yang benar dengan benar dilandasi kesadaran yang tinggi terhadap integritas dan kerjasama tim. Dan bagi kami, guru adalah profesi terhormat yang menuntut tanggung jawab yang hebat. Dengan demikian lewat proses belajar-mengajar, kami percaya potensi siswa luar biasa akan lahir,” ujar pria kelahiran Pematangsiantar, 2 Januari 1967.

Sebagaimana visinya, QUIN menciptakan kualitas dengan berpedoman pada Quantum Business, Total Quality Control, dan Total Quality Management yang meliputi: Kemampuan memberikan keandalan (realibility), Kemampuan melakukan perbaikan (serviceability), Menampung dan menindaklanjuti keluhan.

Profesionalisme dan keahlian melakukan pengukuran kualitas secara berkesinambungan. Program jasa yang dilaksanakan QUIN berpedoman pada Business Process pada setiap lini. QUIN menyadari bahwa kualitas dan pelayanan diperoleh berdasarkan kemampuan setiap lini meletakkan tujuan pribadi, komitmen, dan paradigma baru dalam bekerja yang selalu mengacu pada tujuan, misi, visi, komitmen, dan nilai-nilai yang dianut QUIN. Itulah keistimewaannya.

Lalu apa yang membuat bimbingan belajar ini berbeda dengan yang lain. Tentu guru berperan besar dalam proses belajar-mengajar? “ Guru harus profesional, motivator, pelayan, dan sangat ahli. Para guru rata-rata lulusan S1,S2 dan S3 lulusan perguruan tinggi negeri ternama dengan pengalaman minimal 5 tahun. Sangat menguasai bidangnya dan mampu menyederhanakan pelajaran sulit menjadi mudah. Mampu memotivasi dan memiliki budaya melayani sepenuh hati.”

Lalu bagaiman mengusuk semangat yang mengebu itu terus terjaga? “Kami punya visi, QUIN sebagai lembaga pendidikan non formal dengan reputasi terbaik di Indonesia dan menjangkau manca negara. Lalu, misi kami, membuka semua potensi bakat, ketrampilan dan kecerdasan siswa agar mereka dapat menjadi yang terbaik, pada bidang apa saja yang mereka inginkan. Komitmen kami, siswa dapat mewujudkan kesuksesan dalam pendidikan yang dicita-citakan. Karena itu harus ada pelayanan terbaik untuk memenuhi kebutuhan, harapan, dan kepuasan siswa dan orang tua. Kalau sudah demikian, penerapan metode belajar-mengajar yang efektif dan dikelola, otomatis akan mendapat pengakuan luas dari masyarakat dan pemerintah.”

Metode pelayanan apa yang dibuat agar QUIN dikenal publik? “Model pelayanan jasa yang diselengarakan QUIN adalah Pelayanan Sepenuh, berdaya tanggap, keteladanan, dan empati untuk melakukan tanggung jawab besar melebihi harapan siswa dan orangtua. Memenuhi segala permintaan, harapan, dan kebutuhan belajar siswa.”

Agar proses belajar bisa mengena QUIN menerapkan sikap belajar: SLANT dan menjangkau Keadaan Alfa yang terbukti efektif dalam pengajaran. Memperdengarkan musik klasik saat belajar, ini dipercaya untuk merangsang otak untuk terbuka dan reseptif pada informasi, menyeimbangkan otak kanan dan kiri serta membuka kunci emosional.

Proses belajar mengajar juga akan terlihat bimbel dirancang sedemikian rupa untuk merangcan imaji-imaji dari para siswa. Misalnya dengaan memajang gambar poster- poster tokoh dunia yang dirancang untuk membangkitkan semangat belajar. Dan ruang belajarnya juga merupakan ruang kelas full AC, bersih, dengan kapasitas terbatas mulai dari 10 siswa.

QUIN tidak saja konsisten dan personal untuk mengarahkan siswa agar memiliki tujuan yang jelas dan membangun kebiasaan yang positif dan efektif. Tetapi juga menuntun siswa untuk percaya pada diri sendiri dan yakin untuk sukses. Dan yang terpenting adalah QUIN yang didirikan Mika ini memdorong semua siswa punya pengetahuan yang luar dan punya moral yang tinggi.

QUIN sekarang sudah dikenal sebagai bimbel yang mengatarkan 90 persen muridnya tembus ke perguruan tinggi negeri ternama seperti UI, ITB, dan Gajah Mada. Tetapi perjalan menbangun lembaga ini bukan tanpa halangan. Di tahun awal berdirinya sempat terseok-seok, dan hampir tutup. Jatuh tetapi bangkit kembali. Mika memang tak mau kalah, pengalaman pahit itu dia jadikan cambuk.***Hotman J Lumban Gaol

‘Entrepreneur Sejati’ harus Tahan dan Sabar

Menjadi seorang entrepreneur  tidaklah susah. Tetapi yang susah itu menjadi entrepreneur sejati dan tangguh. Menjadi entrepreneursejati tidak-bisa-tidak harus dimiliki ketahanan dan kesabaran. “Hal yang harus dimiliki seorang entrepreneur sejati adalah hanya dua; sabar dan tahan. Sabar berarti sabar melakukan sesuatu dengan fokus. Lalu, tahan berarti kemampuan bertahan dalam sebuah perjuangan, itu saja,” ujar Mika Panjaitan, pendiri Quantum Institut (QUIN) memulai perbincangan dengan Narwastu Pembaruan.

Apa itu QUIN? Adalah lembaga bimbingan belajar disingkat bimbel. Kini, QUIN berkembang pesat. Sudah ada 23 cabang di seluruh penjuru nusantara. Awalnya, Mika bersama-sama dengan beberapa rekannya “memburu” sumber-sumber pengetahuan mengenai pembelajaran terbaru dan menemukan sejumlah buku-buku, termasuk temuan-temuan terkini mengenai otak dan kecerdasan manusia. Tentang cara-cara terbaik untuk belajar efektif dengan hasil yang menakjubkan.

Sebagai seorang pioner, Mika dan teman-temannya kemudian mewujudkannya menjadi sebuah program itu menjadi bimbingan belajar disebut QUIN. Mika tidak berlama-lama membuat eksen. “Begitu program ini dirancang, langsung tancap gas,” kata pengagum Jusuf, ayah Tuhan Yesus. “Saya sangat simpati dengan apa yang dikerjakan Yusuf. Apa yang dia dengar, disuruh lewat mimpi, seluruhnya dia kerjakan. Dengar lalu laksanakan, tanpa membantah. Bagi saya, jika melakukan terobosan perlu hati yang mendegar lalu laksanakan. Itu proses pembelajaran yang baik, dan itu juga yang saya terapkan dalam bekerja,” katanya.

Sebagaimana visinya, QUIN menciptakan kualitas dengan berpedoman pada Quantum Business, Total Quality Control, dan Total Quality Management yang meliputi: Kemampuan memberikan keandalan, Kemampuan melakukan perbaikan (serviceability), Menampung dan menindaklanjuti keluhan. Profesionalisme dan keahlian.

Model bisnis yang diterapkan adalah pelayanan jasa yang diselengarakan QUIN adalah pelayanan sepenuh; berdaya tanggap, keteladanan, dan empati untuk melakukan tanggung jawab besar melebihi harapan siswa dan orangtua. Memenuhi segala permintaan, harapan, dan kebutuhan belajar siswa. Maka, tak heran dari bisnis ini meraup banyak pulus.

Memadukan bisnis dengan pelayanan lewat proses belajar mengajar, hal itu terlihat di bimbel QUIN. Dirancang sedemikian rupa untuk merangcang imajinasi para siswa. Misalnya dengaan memajang gambar poster- poster tokoh dunia yang dirancang untuk membangkitkan semangat belajar.

Keistimewaan lembagai ini. Menyadari bahwa kualitas dan pelayanan diperoleh berdasarkan kemampuan setiap lini meletakkan tujuan pribadi, komitmen, dan paradigma baru dalam bekerja yang selalu mengacu pada tujuan, misi, visi, komitmen, dan nilai-nilai yang dianut QUIN.

Bimbel QUIN melayani siswa dengan sepenuh hati, lalu progresif, proaktif dan selalu berpikir positif. Karena, pelayanan pengajaran sebagai tanggung jawab pengabdian. “Kami melakukan hal yang benar dilandasi kesadaran yang tinggi terhadap integritas dan kerjasama tim. Dan bagi kami, guru adalah profesi terhormat yang menuntut tanggung jawab yang hebat. Dengan demikian lewat proses belajar-mengajar, kami percaya potensi siswa luar biasa akan lahir,” terang pria kelahiran Pematangsiantar, 2 Januari 1967.

“Sebagai bimbingan belajar, tugas kami adalah membantu siswa meningkatkan kecerdasan dan prestasi akademik, khususunya di jenjang pendidikan SMP dan SMA. Dan, sebagai pengelola in house training, tugas kami adalah melakukan pelatihan kepada masyarakat luas, khusus mengenai cara-cara belajar yang sangat efektif,” tambahnya.

Mikhayehu

Nama Mika atau Mikha sendiri diperpendek dari Mikhayehu yang artinya siapakah seperti Tuhan (Yahweh)? Dalam kitab Perjanjian Lama nama ini juga disebut-sebut sebagai nama seorang nabi. Bagi Mika nama itu dipilih sang kakek seorang guru zending bernama Guru Gerhard Panjaitan. Konon, ketika masih dalam kandungan, ibu Mika, meminta pada mertuanya nama untuk anaknya kelak. Konon ibunya berharap anak ini kelak menjadi pendeta.

Lulus Fakultas Teknik Jurusan Teknik Industri Universitas Sumatera Utara (1990), tidak menjadi pendeta yang melayani jemaat memang tidak menang jalan hidupnya. Tetapi, menjadi pendeta di jalur bimbingan belajar QUIN. Apa yang sudah diniatkan ibunya, bila melihat usaha bimbingan belajar yang digeluti Mika, serasa menemukan kebenarannya. “Pendeta itu melayani, memberikan pendidikan untuk orang banyak. Pendeta tidak harus berkotbah di altar, tetapi lewat tugas dan panggilan kita bisa menjadi pendeta,” ujar tim pengarah di HKBP Jalan Asem, Kebayoran Lama ini.

Bagi dia menyadari sukses yang sebenarnya adalah keseimbangan. Kesimbang karier dan keluarga. “Keluarga nomor satu. Itu sebabnya, saya buat kantor pusat di rumah. Kantor adalah rumah-rumah adalah kantor, itu bagi saya. Karena dengan demikian saya bisa memantau anak-anak. Saya ingin dekat dengan anak-anak, saya ingin menjadi telanda bagi anak-anak saya. Saya pingin menjadi idola mereka,” ujar ayah tiga anak (Hana, Nicholas, Grimonia), dan suami dari Christine boru Siagian, ini.

Sementara dalam etos bekerja di QUIN, Mika banyak belajar dari etos Jepang. “Jepang salah satu negara dengan etos yang tinggi dalam berkerja. Kita boleh belajar banyak dari Jepang mereka tinggi semangat kerja. Saya banyak belajar dari orang-orang Jepang dalam bekerja. Kalau kita lihat, mereka meninggalkan konsep lama yang konvensional, di mana karyawan bergiat dalam bekerja,” ujar mantan karyawanMitsubishi Motor Corporation (1995-1997).

Dia mengimani, dengan memberikan secara tulus, menanam dengan baik akan memanen kemudian. Karena dengan demikianlah kita dapat membangun apa yang kita dapat. “Saya tahu untuk menjadi sukses itu sangat sulit. Perlu proses. Sangat amat sulit, tetapi bisa kalau kita memulai. Apalagi dilandasi dengan tujuan yang jelas. Saya kira, dengan kita mau keluar dari zona nyaman, maka kita bisa keluar melewati kesulitan. Dengan demikian kita bisa menjadi manusia luar biasa.”

“Kalau kita sudah putuskan menjadi pengusaha, dua hal yang harus dipegang, mau dan mampu. Kalau kita mampu tetapi tidak mau itu tidak bakal terwujud, dan juga sebaliknya. Kalau kita tidak mampu tetapi mau juga tidak juga terwujud. Selanjutnya, sebagai orang Kristen harus kita harus mempunyai harapan (cita-cita) kasih dan iman,” ujar penikmat musik klasik ini.

Menjadikan lembaga ini terus naik, bukan tanpa hambatan. Satu waktu, di Bogor QUIN ini diisukan pemiliknya orang Kristen. Apa pasal? Ternyata isu itu disebarkan oleh bimbel yang merasa gerah atas kehadiran QUIN di Bogor. “Sempat ditolak, karena isu itu. Tetapi bagi kita itu bukan hambatan, tetapi peluang untuk terus menata diri. Saya sebut tantangan untuk menguji iman saya sebagai pengikut Kristus,” jawabnya mantap.

Kini, QUIN bukan hanya maju secara bisnis. Tetapi lebih dari itu, sekarang dikenal sebagai bimbel yang sukses mengatarkan 90 persen muridnya tembus ke perguruan tinggi negeri ternama seperti UI, ITB, dan Gajah Mada. Padahal, dulu membangun lembaga ini bukan tanpa halangan. Di tahun awal berdirinya sempat terseok-seok, dan hampir tutup. Jatuh tetapi bangkit kembali.

Sebelum menjadi menirikan QUIN sudah banyak melanglang buana di berbagai pekerjaan kerja: di  BT/BVS Nukleus Medan (1986), di BT.BVS Mitra Medan (1988). BT/BS Bioteknik Medan (1992), Bimbel Teknos Jakarta (1992-1994), Bimbel SSC Jakarta (1994-1999). Mitsubishi Motor Corporation (1995-1997). Lab Schooll Rawamangun (1995-2000). Lalu, kemudian tahun 2000 mendirikan Quantum Institut hingga sekarang.

Itulah  Mika “Mikhayehu” memang tak mau kalah. Pengalaman pahit dia jadikan cambuk. Tahan banting dan sabar menanggu seluruh proses yang sedang berjalan. Menjadi seorang entrepreneur sejati harus mampu bertahan dan mampu bersama, itu kiatnya.***Hotman J. Lumban Gaol

Jugia boru Marpaung


Pendiri Art@ Batik, Pengusaha Batik Pertama Orang Batak

Kain tenun Indonesia yang telah mendapat pengakuan internasional adalah kain tenun batik. Hal itu ditetapkan sejak pemerintah Indonesia mendaftarkan kain tenun batik asal dari Jawa ini di Perserikatan Bangsa-Bangsa mendapat tempat yang layak, menjadi miliki Indonesia. Batik kini menjadi pakaian nasional. Pegawai Negeri misalnya wajid mengenakan batik setiap Jumat. Artinya terbuka peluang besar di sektor ini.

“Dulunya kain batik diklaim milik produk dari Jawa, sekarang sudah ada batik Lampung, batik Sunda. Yang belum ada batik Batak,” kata Jugia boru Marpaung, memulai perbicangan dengan wartawan BATAKPOS beberapa waktu lalu. Barangkali Jugialah pertama, mungkin satu-satunya orang Batak yang memproduksi batik. Padahal, menurutnya, sama sekali belum pernah membatik, tetapi kenyataannya bisa eksis di bisnis ini.

Awal ketertarikan pada batik Batak? “Saya tertarik karena pasarnya masih terbuka lebar, tak pernah luntur. Saya pikir bisnis seperti ini bisa bertahan hingga turun-temurun, bisnis yang menjanjikan ke depan,” jawabnya saat ditemui di pameran batik di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, beberapa waktu lalu.

Apa bedanya dengan batik lain? “Berbedalah. Batik yang kita buat dari gambar alam, motif-motif batak seperti gorga, itu bedanya. Maka kita sebut batik Batak, karena motifnya pun dari ornamen-ornamen Batak, seperti gambar dari gorga,” ujarnya.

Jenis batik yang di kembangkan Jugia adalah batik dengan motif Batak, seperti ornamen gorga. Dan harganya pun berpariasi dari harga 3 juta hingga empat juta rupiah. Meski masih menggunakan peralatan tradisional. Tetapi, meski masih mengunakan pengerjaan tradisional, produktivitasnya tetap banyak. Setiap bulan Jugia dan rekan-rekan pekerja di tempatnya menghasilkan rata-rata 100-an potong batik.

Jugia yang memimpin Art@ Batik di Pekalongan. Saat ini pengerjaannya dilakukan para ahli batik pilihan. Praktis pengerjaanya dipercayakan pada 60 orang karyawan.

Siapa sebenarnya Jugia? Dia hanyalah seorang ibu rumah tangga. Dengan niat mulai untuk mengembangkan diri dan dan bisa membantu suami tak menyurutkan perjuangan Jugia untuk memiliki usaha.

Keinginannya itu seperti gayung bersambut, suami Albiner Panjaitan seorang kontraktor sangat menudukung niat istrinya. Oleh dorongan itu juga membuatnya bersemangat terus mengembangkan usahanya. Walau bukan pengusaha batik nomor satu, nyatanya dia bisa eksis mengeluti bisnisnya.

Tak heran, sebagai pengusaha untuk melebarkan sayap bisnisnya, Jugia terus mengikuti berbagai pameran di dalam dan di luar negeri sekaligus untuk memperkenalkan Art@ Batik.

Nama Art@ diambil dari kata “Art@” merasal dari kata artha dalam bahasa Sangsekerta yang berarti uang atau harta. Arta pun dalam bahasa Batak disebut harta, atau kekayaan. Demikianlah pula Jugia memberikan pelabelan pada usahanya arta yang sesungguh tempat menghasilkan uang.

Sementara untuk memperkenalkan kain hasil produksinya, selain dalam pameran juga memajang di mal-mal. Dia juga tidak segan-segan memperkenalkan di acara-acara adat Batak, di pesta-pesta pernikahan.

Counter Art@ Batik pernah hampiri presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat pameran di JCC Senayan. Saat itu presiden kagum dengan apa yang dikerjakan Jugia. Saat ditanya presiden apa kendala yang dihadapi, Jugia bilang “hanya kekurangan modal pak presiden,” ujar lulusan Fakultas Ekonomi Nommensen, tahun 1985 ini.

Jugia menceritakan, presiden berbahasa Jawa. Presiden SBY tanya, “nindi Jawane,” maksudnya Jawanya dari mana. Lalu, Jugia jawab, “saya orang Sumatera Utara bapak.” Presiden pun kagek dan berkata, salut orang Batak, bisa juga rupanya berbisnis batik, “tetapi itu bagus, untuk memberikan motivasi pada orang Jawa sendiri, kalau orang Batak bisa, masa orang Jawa ngga bisa,” kata presiden SBY cerita perempuan kelahiran Medan 28 Juni 1963. Ibu tiga anak dari Juniver Alexanto Panjaitan, Martin Herold Dogor Panjaitan, dan Yulfrida Silvana Panjaitan.

“Jujur saja, saya tidak tahu berbahasa Jawa, tetapi bisa bekerja dengan orang Jawab. Tetapi kita terus belajar, apa yang mereka omongi saya kira saya bisa tangkap, apa yang diucapkan. Jadi kalau ada orang Jawa yang beli, lalu berbahasa Jawa, terus terang saya tidak bisa berbahasa Jawa, dengan demikian mereka simpatik.

Kalau sudah rezeki memang tidak ke mana. Jugia tidak berpengalaman di batik, tetapi nyatanya, walau awalnya karena hobby koleksi batik. Kini hobbynya memberikan keuntungan baginya.

Lalu, siapa saja pelangganya? “Saya mempunyai pelanggan banyak tokoh-tokoh orang Batak, salah satunya istri dari bapak Luhut B Panjaitan. Beliau pernah katakan, hebat kau satu-satunya orang Batak yang terjun sebagai pembatik.”
Saat ini Art@ Batik mempunyai tempat penjualan di Sarinah Thamrin Lt.IV, Jakarta Pusat. Di Pasar Raya Lt II Blok M Jakarta Selatan. Kelapa Gading Mall 5 Lt 1 Jakarta Utara. Emporium Mall Lantai I Pluit Jakarta Barat. Sogo Departemen Store. Anjungan Sumatera Batik Smesco gedung UKM.

“Ke depan bahwa orang Batak juga harus percaya diri memiliki kain batik bermotif Batak. Apa yang salah? Karena batik sekarang adalah produk nasional yang sudah diakui dunia internasional,” terangnya.***Hotman J. Lumban Gaol

Rudolf Naibaho


Rudolf Naibaho, 37 tahun, pengusaha muda, pendiri gedung mewah Toton Baho di Jalan Pekayon, Bekasi. Bertemu sang pengusaha

Rudolf Naibaho

muda ini, memberikan kesan tersendiri. Umur bisa muda, tetapi konsep dan cara dia mengelola usahanya akan membuat decak kagum para pembaca. Jangan tanya apa yang sudah dicapainya. Di umur semuda itu, Rudolf sudah memiliki enam bidang usaha yang tergabung dalam induk Toton Group.

Orang yang melihat gedung Toton Baho yang baru dibangun ini pasti menyebut pemiliknya pengusaha besar, dan umurnya pasti sudah berumur tua. Nyatanya bukan demikian. Bidang usaha yang saat ini tengah berkembang adalah: bisnis kontraktor yang bernaung dalam PT Toton Cita Abadi bergerak dalam bidang kontraktor, supplier dan trading. Di bidang hiburan ada New Hunter terdiri dari café dan pub.

Lalu, Taton Mobilindo di bidang jual-beli mobil, showroom saat ini berada persis di depan Universitas Borobudur, Kalimalang, Jakarta. Kemudian Toton Production di bidang rekaman. Selain itu, usaha perkebunan di Krintang, Riau. Dan yang baru gedung pertemuan termegah Toton Baho yang bisa menampung tempat duduk hingga 2000 kursi.

Wah, masih muda, bagaimana mengelola bisnis yang demikian banyak? “Ah, itu belum apa-apa lae,” katanya. Rudolf, sosok yang satu ini dalam memimpinnya memang tidak bisa dianggap remeh, dengan ratusan karyawan. “Saya memulai dari bahwa. Saya tidak dapatkan dengan instant tetapi dengan kerja keras dan terus belajar, tentu dengan bantuan orang lain tentunya. Jadi ini belum apa-apa, lah.”

Bagaimana rahasiannya membangun usaha? “Rahasia sesungguhnya ketika kita mampu membahagiakan orang lain. Rezeki akan mengalir. Seluruhnya mengalir saja, itu kunci,” ujarnya.

Ketika diminta ceritanya awal membangun usahanya yang saat ini sudah mulai mengurita, dengan rendah hati menyebut “Saya bukan pebisnis visioner, atau orang yang pintar dalam berbisnis.” Tetapi faktanya dia telah meraih banyak hal, dia mampu membuat sensasi, bisnis terukur. Jawabnya, “mengalir begitu saja,” itu rahasianya.

“Mengelola usaha ini saya telah berikan kepercayaan ke masing-masing orang bisa mengerti bidang tersebut, jadi saya tidak perlu turun tangan lagi. Biasa saja, saya berkunjung baru setelah berminggu-minggu. Praktis yang saya lakukan hanya memberikan kepercayaan bagi para pengelola. Saya katakan, ini milik kita, maka rawatlah seperti milikmu, itulah yang saya selalu lakukan pada mereka,” ujarnya simple. Sederhana, tetapi itu juga menjadi kekuatannya dalam berusaha.

Praktis, Rudolf menyerahkan kepemimpinan operasional perusahaan ke pada seluruh orang-orang kepercayaanya. Pria lulusan fakultas ekonomi Universitas Borobudur, awalnya memulai bisnisnya jual-beli mobil. “Sebelum jual-beli mobil pun saya dulunya pernah menganggur, tetapi saat itu seluruh pekerjaan kita kerjakan, kernek, sopir, menjadi ojek payung, pegamen, jocky tri in one. Semuanya pernah nah saya lakoni,” ceritanya.

Pria tujuh bersaudara ini, awalnya, begitu lulus SMA di Pematang Siantar tahun 1992 langsung datang ke Jakarta. Awalnya, menumpang di rumah pamannya, lalu ngontrak bersama abangnya di bilangan Mampang Prapatan. Di Jakarta dia sempat menganggur, lalu memulai kerja serabutan. Masih jernih dalam ingatannya setiap hari Sabtu, tatkala menyiasati hidup, hanya untuk makan, masuk ke gedung Restu di Jalan Tandean, Jakarta Selatan.

Tetapi itu hanya sebagai bahan diingat, dia tidak larut dalam kehidupan yang memprihatinkan itu. Rudolf Naibaho kelahiran Pematang Siantar, 23 Februari 1974 itu terus mensiasati hidup dengan terus mencari cela-cela yang bisa dijadikan peluang. Menikah tahun 2000 dengan SM boru Sitohang. Anak kelima dari tujuh bersaudara. Anak dari almarhum MP Naibaho dan ibu St MS boru Ritonga. Bapak dari Stepani Putri Toton boru Naibaho, 10 tahun, dan Stepano Recuelo Toton Naibaho, 8 tahun.

Walau sudah lahir di Pematang Siantar, Rudolf berkata “saya putera Pangururan kelahiran Siantar.” Rudolf adalah orang yang sangat beruntung bila dibanding orang seusianya. Soal kemampuan bisnisnya sudah terasah semenjak sekolah menengah hingga sekolah SMA di Pematang Siantar, Rudolf sudah biasa mencari uang sendiri, memiliki usaha.

Motto hidupnya, hidup dijalani mengalir saja. “Saya tidak muluk-muluk, tidak punya ambisius untuk mengejar sesuatu. Tetapi, yang namanya kerja keras, kita bekerja sesuai porsi kita. Tuhan yang memberikan itu semuanya. Maka, tidak perlu lagi stress atau putus asa jika seluruh yang aku miliki.”

Sempat bekerja sebagai staf kantor di satu bank swasta, tetapi hanya dua tahun bertahan. Melihat sulitnya hidup di Jakarta, apalagi hanya lulus sekolah menengah atas, lalu Rudolf memberanikan diri sambil kerja kuliah di Universitas Borobudur jurusan ekonomi. Sekarang tidak hanya sukses dalam bisnis. Sukses baginya adalah seimbang.
Meski sudah tergolong pengusaha besar, tetapi tidak serta-merta terlihat dalam penampilannya. Orang supel, mengenakan pakaian pun tidak formal seperti pengusaha yang selalu parlente dalam penampilan. Disinilah keunikkannya, berbaur dengan karyawan.

Ketika usaha berkembang, pendapatan menanjak, maka dalam hidup ini perlu keseimbangan, perlu juga memikirkan keluarga dan dunia sosial, itu niatnya. Untuk menyeimbangkan hidup ini Rudolf menjadi pengurus pemuda di punguan Naibaho Siahaan dohot Boruna. Selain itu, sebagai pengusaha dia tahu betul tidak-bisa-eksis jika tidak ditopang orang lain dan organisasi.

Selain itu, dia menjadi Pengurus Badan Pengurus Daerah Gapensi DKI Jakarta masa kepengurusan 2006-2010 menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan. Selain itu dia juga tercatat sebagai seorang anggota Kadin sebagai organisasi pengusaha.

William Satar Naibaho salah satu managernya yang mengelola New Hunter Pub menyebut Rudolf adalah orang sangat peduli pada karyawannya. Satu hal membuat usahanya terus menanjak tak lepas orang-orang yang bekerja dengan Rudolf adalah orang-orang yang loyal. Itu semuanya tak lepas dari kepedulian pada orang lain, lean ahu hulehon ho, marsipaleanan. Hidup ini saling memberi.

“Intinya kepeduliannya itu membuat kita betah bekerja. Sebagai pengusaha, dia professional menempatkan seluruh karyawannya sebagai mitra. Salah hal yang banyak saya tiru dari pak Rudolf adalah kemampuannya sebagai seorang masih muda, lebih muda dari saya, tetapi lebih tua dari umurnya dia bisa pimpin, tanpa merasa kita di bahwanya,” ungkap personil Labarata Trio ini.

Rudolf memang menjadi panutan bagi karyawannya. “Kita merasa nyaman bermitra dengan Rudolf. Dia tidak pernah membeda-bedakan orang lain, apalagi karyawan. Sebagai pemilik New Hunter karyawan dibuatnya semua bekerja dengan nyaman. Saya sebagai manager di New Hunter Pub diberikan keleluasaan untuk memajukan usaha ini. Satu lagi, memberikan kepercayaan pada orang setiap orang, sesuai dengan kemampunnya,” ujar Dewan Pendiri LSM PHAKSI-Pembela Hak Intelektual dan anggota Panitia LCLB-Lomba Cipta Lagu Batak.

Kehidupan manusia, sukses dan gagal, ibarat buku yang bisa dibaca siapa saja. Kesuksesan hanyalah yang tampak, tetapi dibalik seluruh proses menjadi berhasil itu tentu membutuhkan perjalanan panjang. Ini ditunjukkan Rudolf “Toton” Naibaho, 37 tahun sebagai pengusaha sukses. Kesuksesannya bisa menjadi pelajaran yang berharga, pelajaran menarik bagi generasi muda. Dan, tentunya banyak sosok muda yang seperti Rudolf mencuak, memperoleh semuanya tentu dengan kerja keras. Sebagai orang Batak perlu diacungi jempol.***Hotman J. Lumban Gaol

tulisan ke-2

Rudolf Naibaho, SE
PENGUSAHA MUDA SUKSES
MEMILIKI SIFAT RENDAH HATI
Pengusaha muda masih sangat langka ditemukan hingga saat ini, apalagi hasil jerih payah yang dirintis dirinya sendiri. Kalau pun ada pengusaha muda, kebanyakan menjalankan usaha warisan yang sudah dirintis orang tua, kakek atau leluhur sebelumnya.
Berbeda dengan Rudolf  Naibaho SE, 37 tahun, pendiri gedung mewah Toton Baho di Jalan Pekayon Raya, Bekasi Selatan, Kotamadya Bekasi. Dia merupakan pengusaha muda yang bekerja keras merintis usaha sendiri sejak dari awal.

Bertemu sang pengusaha muda ini, memberikan kesan tersendiri. Walau memiliki umur masih tergolong muda, tetapi konsep dan cara mengelola usahanya akan membuat decak kagum bagi yang mengenalnya. Jangan tanya apa yang sudah dicapainya, karena di umur semuda itu, dia sudah memiliki 6 (enam) bidang usaha yang tergabung dalam induk “Toton Group”.

Orang yang melihat gedung Toton Baho yang baru dibangunnya itu, umumnya menyebut pemiliknya pengusaha besar dan pasti sudah berumur tua. Nyatanya bukan demikian, karena ternyata pemiliknya masih berumur relatif sangat muda untuk ukuran seorang pengusaha.

Bidang usaha yang dimilikinya saat ini tengah berkembang adalah bisnis kontraktor yang bernaung dalam PT Toton Cita Abadi. Selain bergerak dalam bidang kontraktor, dia juga menjalankan usaha dalam bidang supplier dan trading.
Lalu, dia menjalankan usaha Toton Mobilindo yang bergerak di bidang jual-beli mobil. Showroom yang dimilikinya berada persis di depan Universitas Borobudur, Kalimalang, Jakarta.

Kemudian dia memiliki Toton Production yang bergerak di bidang industri rekaman. Selain itu, dia menjalankan usaha perkebunan di Krintang, Riau. Untuk memenuhi hobbynya dalam mendengar lagu, dia menjalankan bisnis hiburan, dengan mendirikan New Hunter yang terdiri dari café dan pub.

Usaha yang terakhir dirintisnya adalah mendirikan gedung Toton Baho, Grand Ball Room. Tempat ini merupakan gedung megah multi fungsi ber-arsitektur Batak. Gedung yang bisa menampung tempat duduk hingga 2000 kursi itu, diperuntukkan bagi pesta pernikahan adat daerah/nasional, resepsi pernikahan/acara perpisahan, pesta hari ulang tahun, perayaan hari raya (Idul Fitri, Natal, Waisak), khitanan, seminar, wisuda, acara rapat, dan pertemuan/perayaan lainnya.

Dalam bincang-bincang dengan DALIHAN NA TOLU baru-baru ini, Rudolf Naibaho SE menyatakan diperkirakan pada bulan Mei 2011 mendatang, gedung Toton Baho akan diresmikan. Dimana dalam peresmian nanti, penguntingan pita akan dilakukan ibu kandungnya boru Ritonga. “Dalam peresmian ini, nantinya yang menggunting pita akan saya serahkan kepada ibu saya,” ujarnya.

Orang yang mengenal Rudolf Naibaho SE, mungkin akan bertanya-tanya dalam hati. Wah, masih muda, bagaimana mengelola bisnis yang demikian banyak? Ketika hal ini ditanyakan kepadanya, dia menjawab dengan singkat “Ah, itu belum apa-apa lae.”
Dari jawabnya itu tersirat, bahwa dia merupakan sosok pengusaha muda sukses yang memiliki sifat rendah hati. Dia juga merupakan pengusaha yang memimpin tidak bisa dianggap remeh dengan ratusan karyawan.

“Saya memulai usaha dari bawah. Saya tidak dapatkan dengan instant, tetapi dengan kerja keras dan terus belajar, tentu dengan bantuan orang lain. Jadi ini belum apa-apalah,” katanya dengan rendah hati.
Diungkapkannya, rahasia membangun usaha sesungguhnya adalah ketika mampu membahagiakan orang lain, rezeki akan mengalir. Jadi dalam perjalanan hidupnya, seluruhnya dijalani dengan apa adanya.

MENGALIR BEGITU SAJA
Ketika Rudolf Naibaho SE diminta bercerita tentang awal membangun usaha yang saat ini sudah mulai menggurita, dia menyebut bahwa dirinya bukanlah pebisnis visioner, atau orang yang pintar dalam berbisnis.
Tetapi fakta dalam perjalanan hidupnya, dia telah meraih banyak hal. Dia mampu membuat sensasi usaha dengan bisnis terukur. Kata kunci yang menjadi rahasia dalam mengelola bisnis baginya adalah “mengalir begitu saja”.
Dalam mengelola kegiatan usaha, dia telah memberikan kepercayaan (delegating) kepada masing-masing orang yang bisa mengerti bidang bisnis tersebut.

“Jadi saya tidak perlu turun tangan lagi. Biasa saja, saya berkunjung baru setelah berminggu-minggu. Praktis yang saya lakukan hanya memberikan kepercayaan bagi para pengelola. Saya katakan, ini milik kita, maka rawatlah seperti milikmu. Itulah yang saya selalu sampaikan kepada mereka,” ujarnya.

Walau pola pikir bisnisnya simple (sederhana), tetapi justru hal ini menjadi kekuatan (strength) dalam menjalankan usaha. Sehingga dia bisa melihat peluang (opportunity) dalam bisnis lainnya. Praktis dia menyerahkan kepemimpinan operasional perusahaan kepada seluruh orang-orang kepercayaanya.

Pada awal menjalankan bisnis, pria lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Borobudur ini, memulai usaha jual-beli mobil. Sebelum jual-beli mobil pun, dia tidak memiliki kegiatan alias menganggur. Tetapi dengan semangat dan kemauan untuk maju, dia pun akhirnya melakoni pekerjaan serabutan sebagai kernek, sopir, menjadi ojek payung, pengamen, jocky three in one. Semuanya ini dijalankannya tanpa suatu beban, sehingga memacunya untuk selalu berjuang meraih kesuksesan.
Rudolf Naibaho SE merupakan anak kelima dari tujuh bersaudara, putra MP Naibaho (almarhum) dan ibu St MS boru Ritonga. Dia lahir di Pematang Siantar 23 Februari 1974. Ketika lulus SMA di tempat kelahirannya tahun 1992, dia langsung merantau ke Jakarta. Awalnya, dia menumpang di rumah pamannya, lalu ngontrak bersama abangnya di bilangan Mampang Prapatan.
Dia menikah dengan SM boru Sitohang tahun 2000. Saat ini dia dikaruniai Tuhan dua orang anak yakni Stepani Putri Toton boru Naibaho berusia 10 tahun, dan Stepano Recuelo Toton Naibaho berusia 8 tahun.

Walau dia lahir di Pematang Siantar, tetapi terhadap teman-teman dan relasinya dia selalu memperkenalkan dirinya “Putera Pangururan kelahiran Siantar”. Dia merupakan manusia yang masuk kategari sangat beruntung, bila dibandingkan dengan orang seusianya. Kemampuan bisnisnya sudah terasah semenjak sekolah menengah hingga menempuh pendidikan SMA di Pematang Siantar. Karena sejak muda, dirinya sudah terbiasa mencari uang sendiri dengan memiliki usaha kecil-kecilan.

Satu hal yang tidak dapat dilupakannya dalam hidup, ketika sudah berdomisili di Jakarta dan tidak memiliki pekerjaan, maka hari setiap Jumat dan Sabtu untuk menyiasati hidup, dia masuk ke gedung pertemuan Restu di Jalan Tandean, Jakarta Selatan, untuk makan siang sekedar mengisi perut.
Tetapi itu hanya sebagai nostalgia bahan ingatan, karena dia sendiri tidak larut dalam kehidupan yang memprihatinkan itu. Dia terus mensiasati hidup dengan mencari celah-celah yang bisa dijadikan peluang.

SUKSES SEIMBANG
Rudolf Naibaho SE memiliki motto hidup yang sederhana yakni hidup dijalani mengalir saja. Dia tidak muluk-muluk dalam menghadapi hidup. Tidak memiliki sifat ambisius untuk mengejar sesuatu. Tetapi, yang namanya kerja keras, dijalaninya sesuai porsi. “Tuhan yang memberikan itu semuanya. Maka, tidak perlu lagi stress atau putus asa, terhadap seluruh yang kita miliki,” ujar dengan religius.
Sebelum menjalankan usaha sendiri, dia sempat bekerja sebagai staf kantor di salah satu bank swasta. Akan tetapi, dia hanya dapat bertahan selama dua tahun. Melihat sulitnya hidup di Jakarta apalagi dengan hanya mengandalkan lulusan sekolah menengah atas, lalu dia memberanikan diri sambil kerja kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Borobudur. Sekarang dia tidak hanya sukses dalam bisnis, tetapi juga dapat menyelesaikan pendidikan hingga tingkat strata satu (S1) dengan meraih gelar Sarjana Ekonomi (SE). Sukses baginya adalah seimbang.
Meski sudah tergolong pengusaha besar, tetapi tidak serta-merta terlihat dalam penampilannya. Orang supel, low profile dengan mengenakan pakaian pun tidak formal seperti pengusaha yang selalu parlente dalam penampilan. Di sinilah keunikan pengusaha muda ini, karena memiliki sifat yang selalu berbaur dengan karyawannya.
Menurutnya, ketika usaha sudah berkembang dan pendapatan menanjak, maka dalam hidup ini perlu keseimbangan. Selain itu, dia juga memiliki niat memikirkan keluarga dan kegiatan sosial. Untuk menyeimbangkan hidup ini, dia menjadi pengurus pemuda di Punguan Naibaho Siahaan dohot Boruna. Sebagai pengusaha, dia tahu betul bahwa tidak akan bisa eksis, jika tidak ditopang orang lain dan organisasi.
Dia aktif sebagai anggota Dewan Pertimbangan pada Badan Pengurus Daerah Gapensi DKI Jakarta masa kepengurusan 2006-2010. Selain itu dia juga tercatat sebagai anggota pada organisasi pengusaha Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DKI Jakarta.
William Satar Naibaho salah satu managernya yang mengelola “New Hunter Pub” menyebut Rudolf Naibaho SE sebagai figur orang yang sangat peduli pada karyawannya. Satu hal membuat usahanya terus menanjak, tidak lepas dari orang-orang yang loyal bekerja dengannya. Itu semua tidak lepas dari kepedulian pada orang lain “Lean tu ahu, hulean tu ho. Marsipaleanan”. Hidup ini memang harus saling memberi.
Personil Labarata Trio ini menyatakan intinya kepedulian itu membuat dirinya betah bekerja. Sebagai pengusaha, dikatakannya, Rudolf seorang professional yang selalu menempatkan seluruh karyawannya sebagai mitra. Diakuinya, salah satu hal yang banyak ditiru dari Rudolf adalah kemampuannya sebagai seorang masih muda. Walau usianya lebih muda, tetapi orang lebih tua dari umurnya pun bisa dipimpin, tanpa merasa dijadikan di bawahnya.
Sebagai manager di New Hunter Pub, William Satar diberikan keleluasaan untuk memajukan usaha itu. “Satu lagi yang membedakan Rudolf dari pengusaha lain, selalu memberikan kepercayaan pada setiap orang, sesuai dengan kemampuannya,” ujarnya Dewan Pendiri LSM Pembela Hak Intelektual (PHAKSI) dan anggota panitia Lomba Cipta Lagu Batak (LCLB) ini.

PEDULI SESAMA
Dengan melihat aktifitas Rudolf Naibaho SE dalam keseharian, tak ayal memang menjadi panutan bagi karyawannya. Setiap orang merasa senang dan nyaman bermitra bisnis dengannya.
Dia memiliki sifat yang sangat peduli terhadap sesama. Dia menganggap setiap orang yang berhubungan dengannya, sebagai orang yang sangat diperlukan. Sehingga tidak pernah membeda-bedakan orang, apalagi karyawan sendiri. Sebagai pemilik “New Hunter Pub” semua karyawan dibuatnya bekerja dengan nyaman.
Memang kehidupan manusia baik sukses maupun gagal, ibarat buku yang bisa dibaca siapa saja. Kesuksesan hanyalah yang tampak, tetapi di balik seluruh proses menjadi berhasil itu, tentu membutuhkan perjalanan panjang. Ini ditunjukkan Rudolf Naibaho SE sebagai pengusaha sukses. Kesuksesannya bisa menjadi pelajaran yang berharga, pelajaran menarik bagi generasi muda.
Tentunya diharapkan kelak makin banyak sosok muda putra Batak yang mencuat seperti Rudolf Naibaho SE yang memiliki kepedulian. Sebagai orang Batak dia perlu diacungi jempol, karena memperoleh semuanya dengan kerja keras dalam hidup.
Hal ini terlihat dari sifat dan setiap ucapannya yang selalu terlontar dengan rendah hati. Selalu mengaku tidak terlalu hebat memimpin anak buahnya, dan mengelola bisnis juga semata-mata karena faktor nasib.
Berbincang-bincang dengan sang pengusaha muda ini, sangat menyenangkan hati. Karena setiap melontarkan kalimat, selalu disampaikan dengan santun, lugas, dan rendah hati. “Saya merasa tidak terlalu hebat dalam memimpin usaha. Itu semua karena Tuhan memberikan, dan kebetulan faktor nasib,” pungkasnya dengan merendah.
Hotman J. Lumban Gaol

keteranga; tulisan ini pernah dimuat di majalah Dalihan Na Tolu

Berita tentang Toton Baho

http://totonbaho.blogspot.com/2011/09/fasilitas-toton-baho-ballroom.html

GM Panggabean


GM Panggabean, bernama lengkap Gerhard Mulia Panggaben, lahir di Sibolga, 8 Juni 1929 dan meninggal di Singapura, 20 Januari 2011. Tokoh pers dan pendiri (Pemimpin Umum dan Pemimpin Redaksi) Harian Sinar Indonesia Baru (SIB), koran nasional terbitan Medan, ini seorang tokoh dan pejuang masyarakat Batak berintegritas tinggi dan berjiwa kebangsaan. Dia seorang nasionalis sejati yang berakar kuat pada identitas dirinya sebagai warga masyarakat adat Batak. Sebagai seorang jurnalis, dia punya prinsip teguh, visioner dan pejuang. Bahkan, dia bukanlah jurnalis biasa, yang hanya pandai merangkai kata, tetapi dia adalah seorang tokoh pejuang yang mengakar pada masyarakat pembacanya.

Tidak banyak tokoh pers yang memiliki kharisma yang sedemikian kuat di mata masyarakatnya (pembacanya). Dia jurnalis yang pemimpin, tokoh masyarakat Batak kharismatik, yang sangat gelisah melihat ketidakadilan, fanatisme sempit dan kekerdilan berpikir. Dia seorang tokoh pejuang yang meyakini bahwa keberagaman adalah keniscayaan! Bagi dia, nilai-nilai dasar Pancasila, adalah asas yang harus dipegang teguh dan diimplementasikan secara konkrit dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Maka dia sangat gelisah, bila melihat penyimpangan atau pengaburan atas nilai-nilai dasar bernegara tersebut.

Dia berani bersuara, bersikap dan bertindak untuk memperjuangkan kebenaran dan keadilan yang diyakininya. Maka, tak heran bila dia sangat dikagumi masyarakatnya (terutama pembacanya), sekaligus sangat disegani orang-orang yang berbeda pandangan dengannya. Dia seorang pemimpin kharismatik yang kontroversial. Dalam pengaruh politik, dia tokoh yang sangat disegani di Sumatera Utara. Sangat banyak tokoh yang ingin menjadi pemimpin (Gubernur, Bupati dan Walikota serta jabatan-jabatan pelayan publik lainnya) merasa memiliki keyakinan bila telah menemui GM Panggabean lebih dulu. Bahkan, ketika masa kampanye Pemilu Presiden pun, selalu ada Calon Presiden menemuinya. Bukan hanya calon pejabat, bahkan calon pimpinan gereja pun di Sumatera Utara juga menemuinya lebih dulu. Dan, biasanya pertemuan seperti itu selalu diekspose di Koran Sinar Indonesia Baru (SIB) yang dipimpinnya, lengkap dengan foto-fotonya.

Tak jarang penampilan seperti ini dikritik beberapa (bahkan banyak) orang. Tetapi, suka atau tidak, diakui atau tidak, mereka merasakan kehebatannya. Dia memang bukanlah jurnalis biasa-biasa. Yang hanya bisa menulis berita, opini, tajuk atau catatan-catatan pojok, sekilas, pinggir atau semacamnya. Melainkan, dia seorang jurnalis yang secara total, termasuk bahasa tubuhnya, memberi pengaruh pada lingkungannya. Dia tokoh pers sekaligus tokoh masyarakat fenomenal di Sumatera Utara. Dia pemimpin informal yang amat berpengaruh.

Semangat juang untuk menegakkan keadilan sudah terpatri dan terasah dalam dirinya sejak masih muda. Tatkala masih berusia sembilan belas tahun, dia ikut berjuang dalam PRRI yang menuntut pemerataan pembangunan. Dia menjadi Walikota Sibolga dan kemudian menjadi Menteri Penerangan PRRI di Tapanuli. Sesudah itu, dia menjadi wartawan Harian Waspada di Tapanuli yang beberapa saat kemudian ditarik ke Medan. Di Harian Waspada dia sempat menjadi kepercayaan H. Mohammad Said (HMS) dan Hj. Ani Idrus (kedua tokoh ini sudah almarhum), pendiri dan pemimpin Harian Waspada. Bahkan GM Panggabean sempat menjabat Kuasa Usaha Harian Waspada. Maka, bagi dia, kedua tokoh pers itu adalah sebagai guru, terutama H. Mohammad Said (HMS) sangat dihormatinya sebagai orang tua, guru dan sesepuh.

Kemudian, bersama rekan-rekannya, Pak GM (panggilan akrabnya) mengelola Harian Sinar Harapan Edisi Sumatera Utara. Koran ini pun berkembang pesat. Beberapa tahun kemudian, tepatnya 9 Mei 1970, bersama MD Wakkary dan teman-temannya mendirikan Harian Sinar Indonesia Baru (SIB). Pertama kali dan kemudian selama tiga tahun, koran ini dicetak di percetakan Harian Waspada. Koran ini seperti bayi yang cepat besar. Hanya dalam tiga tahun, koran ini sudah menguasai pasar di Sumatera Utara, Aceh dan Riau. Dalam tiga tahun usia Harian SIB, koran Sinar Harapan pun berhenti terbit, pangsa pasarnya sudah beralih ke Koran SIB. Koran ini pun menjadi pesaing serius bagi Koran Waspada dan Mimbar Umum yang kala itu terbilang berpengaruh di Sumatera Utara. Bahkan dalam usia lima tahun hingga akhir tahun 1980-an, Koran SIB menyatakan diri sebagai koran terbesar di Sumatera dengan mencantumkan kata itu di banner depan. Memang, harus diakui, dari segi oplah dan pengaruh, kala itu, koran inilah yang terbesar

Kala itu, pengaruh koran ini sangat kuat, terutama di Sumatera Utara. Konprensi pers yang dilakukan sebuah instansi bisa ditunda beberapa saat hanya karena wartawan koran ini belum tiba di tempat. Bahasanya lugas dan tidak banyak basa-basi. Tegas dan jelas! Kritiknya membuat orang yang tipis kuping, tersingung. Komitmennya tentang pembangunan daerah sangat tinggi, walaupun pada masa sentralisasi kekuasaan pusat. Terutama pembangunan Tapanuli. Kendati kata ‘Tapanuli Peta Kemiskinan” pertama kali dirilis Harian Sinar Harapan Jakarta, tetapi koran SIB-lah yang selalu gigih, di barisan terdepan, memperjuangkan pembangunan Tapanuli. Sehingga di kalangan tertentu di Jakarta, koran ini dijuluki sebagai Koran Batak.Kala itu, pengaruh koran ini sangat kuat, terutama di Sumatera Utara. Konprensi pers yang dilakukan sebuah instansi bisa ditunda beberapa saat hanya karena wartawan koran ini belum tiba di tempat. Bahasanya lugas dan tidak banyak basa-basi. Tegas dan jelas! Kritiknya membuat orang yang tipis kuping, tersingung. Komitmennya tentang pembangunan daerah sangat tinggi, walaupun pada masa sentralisasi kekuasaan pusat amat kuat. Terutama pembangunan Tapanuli yang jauh tertinggal dibanding daerah lain. Kendati kata ‘Tapanuli Peta Kemiskinan” pertama kali dirilis Harian Sinar Harapan Jakarta, tetapi koran SIB-lah yang selalu gigih, di barisan terdepan, memperjuangkan pembangunan Tapanuli. Sehingga di kalangan tertentu di Jakarta, koran ini dijuluki sebagai Koran Batak.

Koran ini pernah dibredel akibat pemberitaan nasional. Beberapa kali juga pernah diusulkan agar dibredel oleh pejabat-pejabat penting di Sumut dan kelompok masyarakat tertentu. Suatu ketika pejabat penting Sumut pernah mengusulkan ke Pusat agar koran ini ditutup karena dianggap membuat berita sara terkait Rektor USU AP Parlindungan. Tetapi di lain kesempatan, bahkan Sinode HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) pernah pula mengusulkan agar ‘Koran Batak’ ini ditutup. Tetapi koran ini tetap eksis dengan jati dirinya yang teguh. Bahkan julukan ‘Koran Batak’ justru menyelamatkannya dari tindakan pemberangusan. Karena, Koran SIB dengan pemberitaan-pemberitaannya yang kritis, dinilai (dan sekaligus membela diri) sedang mencubit dirinya sendiri. Hal mana, kritik yang diberikan kepada instansi, lembaga, pejabat, tokoh dan/atau kelompak masyarakat di Sumatera Utara dinilai tidak hanya dirasa sakit oleh orang yang dikritik tetapi sesungguhnya juga dirasa sakit oleh para pengelola koran ini sendiri. Bukankah Koran SIB dijuluki Koran Batak?

Kontroversi, atau lebih tepat disebut sebagai dinamika, tentang isi pemberitaan (kritik) koran ini. Nama koran ini (SIB), saat suatu ketika pernah diusulkan pihak tertentu di Sumut agar dibredel, melahirkan dua plesetan. Kata SIB yang sebenarnya adalah kependekan (akronim) dari Sinar Indonesia Baru, diplesetkan oleh orang yang merasa tidak senang dengan Semua Isinya Bohong (SIB). Tetapi bagi pihak yang menyenangi, apalagi para pelanggan setianya, menyebut sebaliknya, Semua Isinya Benar (SIB). Itulah gambaran dinamika koran ini yang merupakan personifikasi dari GM Panggabean, Sang Pemimpin.

Dinamika itu semakin intens tatkala GM Panggabean mendirikan sekaligus memimpin (menjabat Ketua Umum) Lembaga Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja XII, disingkat Lembaga Sisingamangaraja XII berpusat di Medan. Lembaga ini dideklarasikan dalam Rapat Umum di Stadion teladan Medan dalam rangka peringatan 9 Windu Wafatnya Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja XII, 17 Juni 1979, yang dihadiri puluhan ribu warga masyarakat adat Batak (Toba, Simalungun, Angkola, Mandailing, Karo, Pakpak -Dairi, dan Pesisir Barat dan Timur) yang datang dari berbagai daerah.

Lembaga ini mendapat dukungan luas dari masyarakat Sumatera Utara. Tidak hanya yang tinggal di Sumatera Utara, tetapi juga di seluruh Nusantara. Kala itu, hampir di seluruh Provinsi di Indonesia berdiri Cabang Lembaga Sisingamangaraja. Kharisma kepemimpinnya semakin menyala. Melalui lembaga ini, dia menggalang partisipasi masyarakat untuk membangun daerahnya, melakukan gotong-royong. Antara lain, jalan dari Doloksanggul menuju Bakkara yang amat terjal dan sama sekali tidak bisa dilalui kenderaan, dibuka dengan gotong royong oleh masyarakat dari dua kecamatan (Doloksanggul dan Muara). Begitu juga di Parlilitan dan Parmonangan, dan daerah-daerah yang masih terisolasi lainnya, dibuka dengan bergotong-royong. Spirit untuk membangun bangkit. Sehingga kemudian Pemerintah Provinsi Sumatera Utara mengikut meluncurkan gerakan pembangunan Marsipature Hutana Be (Martabe).

Melalui Lembaga ini, Pak GM pun berhasil menghimpun partisipasi masyarakat dengan membuka ‘dompet’ di Harian SIB, untuk membangun tugu Pahlawan Nasional Sisirangaraja XII di Jalan Sisingamangaraja, Medan, persis di depan Stadion Teladan. Pada kesempatan inilah juga dia mendirikan Universitas Sisingamangaraja di Medan dan Siborongborong, Tapanuli. Kedua universitas ini lahir atas usulan tokoh-tokoh masyarakat adat Batak yang terhimpun di Lembaga Sisingamangaraja. Maka, sangat pantas, pada kesempatan inilah dia diberi kehormatan menjadi Anggota MPR-RI, dua periode, mewakili daerah dan golongan masyarakat adat Sumatera Utara.

Kala itu, selain berbagai dukungan dan apresiasi diberikan kepadanya, juga ada tudingan dan spekulasi kecurigaan dialamatkan kepadanya. Dengan menggalang perhimpunan di Lembaga Sisingamangaraja, dia dikira (dituding) berambisi menjadikan dirinya untuk dinobatkan menjadi Sisingamangaraja XIII. Tudingan ini tidak beralasan, karena Pak GM sangat memahami siapa Sisingamangaraja (Dinasti Sisingamangaraja) lebih dari orang yang menudingnya. Namun, dia tidak mau surut, dengan tudingan miring itu, sebab dia hanya melihat Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja sebagai sebuah nama yang amat berpengaruh mempersatukan masyarakat Sumatera Utara, bukan hanya suku Batak.

Kekuatiran juga muncul di sebagian pemimpin gereja: Jangan-jangan kehadiran Lembaga Sisingamangaraja berpengaruh menghidupkan kembali faham animisme.[1] Kekuatiran ini hanyalah karena sebagian pendeta kurang mau memahami visi dan misi Lembaga Sisingamangaraja yang mengusung gerakan moral dan kebersamaan dari sisi adat-budaya. Hal ini bisa pula dimaklumi, jangankan Lembaga Sisingamangaraja, bahkan sampai saat ini masih ada kalangan pendeta yang membakar ulos karena kuatir ulos dan adat itu animisme.

GM Panggabean telah mendobrak kekuatiran ini. Diskursus mengenai agama dan kebudayaan menjadi amat intens kala itu. Penggunaan alat musik tradisional Gondang Batak dan ulos yang kala itu masih belum terbiasa (bahkan dilarang) di Gereja, hari ini telah menjadi bahagian dari upacara ritual kebaktian di banyak gereja, khususnya gereja-gereja Batak. Pemahaman perihal proses pengudusan kebudayaan semakin meluas dan memasyarakat.

Namun, tidak ada gading yang tidak retak. GM Panggabean bukanlah malaikat. Ketika para pendeta HKBP ‘bertikai’, Pak GM terasa (dianggap) keberpihakannya kepada salah satu pihak. Walaupun anggapan ini tidak seluruhnya benar bila dicermati sejak awal terjadinya ‘pertikaian pendeta HKBP’ itu. Awalnya, beberapa pendeta melakukan protes atas kepemimpinan Ephorus HKBP Dr. SAE Nababan, setelah melakukan retreat di Parapat, 16 Maret 1988. Mereka menerbitkan buku surat terbuka kepada ephorus berjudul “Parmaraan di HKBP’ Subjudul ‘Qua Vadis HKBP’ dengan gambar sampul Salib Retak-Patah. Dalam buku itu dibeberkan berbagai ‘penyimpangan iman’ HKBP yang mereka simpulkan sebagai ancaman bahaya dan ajaran sesat masuk ke tubuh HKBP yang dilakukan Ephorus SAE Nababan, yang kala itu belum satu tahun terpilih dan membawa Tim Evangelisasi Nehemia dari Jakarta (melayani dengan tidak sesuai Konfessi HKBP).[2]

Kala itu, Pak GM dan Harian SIB ‘masih’ obyektif. Tetapi pendeta yang memprotes menuding SIB berpihak pada Ephorus SAE Nababan. Hal ini dinyatakan dalam beberapa publikasi yang mereka buat, termasuk dalam buku Qua Vadis HKBP dan buku ‘Nunga Lam Patar Angka Poda Na Lipe na Bongot tu HKBP’ yang diterbikan kemudian. Maklum, sebab SAE Nababan adalah Ephorus HKBP yang pertama mau menghadiri acara yang diselenggarakan Lembaga Sisingamanagaraja, yakni di Universitas Sisingamangarja Tapanuli di Siborongborong.

Lalu, dalam perkembangan berikutnya, ketika Ephorus Nababan mengultimatum dan kemudian memecat 22 pendeta, 10 sintua, 2 bibelvrow dan 1 karyawati yang memprotes (peserta Retreat di Parapat dan tak mau minta maaf), Pak GM dan Harian SIB mengambil sikap menolak tindakan pemecatan tersebut. Pemberitaan SIB secara simultan mengkritisi Ephorus Nababan dan pendukungnya. Kemudian, para pendeta yang dipecat tersebut, yang semula menyebut SIB berpihak kepada Ephorus Nababan, merapat ke Pak GM (SIB). Begitu pula beberapa tokoh anggota jemaat HKBP di Jakarta dan Medan melakukan hal yang sama dengan membentuk Forum Komunikasi Ruas HKBP di Jakarta dan Sekber Kemurnian HKBP di Medan yang mengkritisi kepemimpinan Ephorus Nababan, menuntutnya mundur. Dalam konkeks inilah Harian SIB mengambil sebuah sikap, yang bagi mereka yang dikritisi terasa tidak obyektif.

Di samping itu, berbagai spekulasi juga dilontarkan, bernaliknya keberpihakan Pak GM (Harian SIB) kepada pendeta yang dipecat, bukan semata-mata karena tindakan pemecatan itu, tetapi juga soal rencana pendirian Universitas Nehemia berdekatan dengan Universitas Sisingamangaraja di Silangit, Siborongborong, Tapanuli, yang diprakarsai beberapa tokoh termasuk Ephorus SAE Nababan. Spekulasi ini tidaklah sepenuhnya benar. Sebab akan berbeda halnya jika rencana pendirian Universitas Nehemia yang membawa-bawa nama Ephorus HKBP itu untuk menggalang dana mempunyai hubungan organisatoris dengan HKBP.

Kemudian, ketika reformasi bergulir, berbagai daerah telah menjadi provinsi baru. Beberapa tokoh masyarakat Tapanuli memandang sudah selayaknya Tapanuli juga menjadi provinsi. Tapanuli yang tetap setia kepada Republik Indonesia, tatkala berbagai daerah telah memisahkan diri sebagai Negara, dalam Negara Republik Indonesia Serikat, terasa semakin tertinggal dari daerah lain. Pak GM pun ikut mendukung perjuangan ini dengan duduk sebagai penasehat. Puteranya GM Chandra Panggabean, yang sudah menjadi Anggota DPRD dari Partai Golkar, kemudian pindah ke Partai PPRN, lebih banyak berperan dalam perjuangan pembentukan Provinsi Tapanuli (Protap) tersebut. Perjuangan politik ini, ternoda oleh tangan-tangan yang diduga tidak setuju pembentukan Protap. Demo ke kantor DPRD Sumut, 3 Februari 2009, berakibat meninggalnya Ketua DPRD Sumut. Puteranya, GM Chandra dianggap bertanggungjawab dan dihukum. Hukuman yang dianggap berbau politik.

GM Panggabean pun dipanggil sebagai saksi. Namun, Pak GM yang kesehatannya sudah terganggu sudah dalam perawatan di Singapura. Sampai akhirnya, beberapa saat setelah menjalani operasi jantung, Pak GM menghembuskan nafas terakhir di RS Mounth Elisabeth Singapura, dalam usia 82 tahun, Kamis 20 Januari 2011 sekitar pukul 22.00 WIB, meninggalkan seorang isteri, delapan anak dan 13 cucu. Perjuangan yang diusungnya sampai akhir tanpa kenal lelah, telah makin mengukuhkannya sebagai pejuang yang patut dikenang sebagai pahlawan sejati pembangunan daerah, khususnya Sumatera Utara dan lebih khusus lagi Tapanuli, Tona Batak, daerah leluhur (Bonapasogit) yang amat dicintainya. Selamat Jalan Pak GM! Bio TokohIndonesia.com | Ch. Robin Simanullang

Sumber: http://www.tokohindonesia.com