Saut Sirait


Saut Sirait: Khotbah Panjang dan Berani

oleh: Hotman J. Lumban Gaol (Hojot Marluga)

Saut Hamonangan Sirait

Saut Hamonangan Sirait memang bukan selibritis, dan tidak suka entertainment, tetapi di dunia para aktivis sosok ini bukan muka baru. Dia semacam aktor yang selalu dicari wartawan untuk ditanyakan pendapatnya. Apa arti Saut Hamonangan Sirait? William Shakespeare mengatakan, “Apalah arti sebuah nama nama?” Tapi, apa salahnya sekedar bertanya. Barangkali nama memang punya arti. Paling tidak untuk yang memberikan atau yang memilikinya. Saut dalam bahasa Batak berarti “jadi” sedangkan Hamonangan adalah “orang yang selalu menang” dan Sirait adalah marganya.

Sejak masih bayi dia sudah ditempa oleh getirnya kehidupan. Saut kecil, tidak pernah merasakan dekapan seorang ayah, karena saat umur empat bulan, ayahnya meninggal. Praktis sejak kecil dia dididik seorang ibu beserta delapan kakak-kakaknya. Saut Sirait adalah anak siampudan atau anak paling bungsu dari sepuluh bersaudara. Putra dari pasangan Constan Sirait dan Cornelia boru Marpaung.

Dia lahir di Paparean, Porsea, 24 April 1962. Disanalah dia dibesarkan hingga kelas tiga sekolah dasar. Lalu kelas empat SD hingga kelas dua SMA ditempuhnyanya di Pontianak. Dia ke Pontianak ikut sang Abang tertua yang adalah seorang jaksa yang bertugas di daerah tersebut. Kemudian, dari sana, dia pindah ke Tanjung Karang, Lampung, hingga lulus SMA.

Saut Sirait menikah dengan Agustina Veronica boru Silalahi yang sekarang berusia 35 tahun. Mereka bertemu saat sama-sama aktif di organisasi Persatuan Intelektual Kristen Indonesia (PIKI). Saut aktivis dan duduk dalam kepengurusan organisasi tersebut. Dia didaulat sebagai senior oleh teman-temannya. Sedangkan Agustina adalah alumni Universitas Brawijaya, Malang, jurusan administrasi negara dan aktif dalam Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indonesia (LPMI) Malang. Juga giat di PIKI.

Ada momen yang membahagiakan. Waktu itu, Agustinai menjadi anggota panitia dari pelaksana kongres PIKI. Tak dinyana, dari pertemuan pertama keduanya berteman, berpacaran hingga yang berakhir di pelaminan. Walau terpaut umur yang agak jauh, 13 tahun, tetapi kalau cinta sudah sor tidak ada yang bisa menghalangi. Keduanya sepakat menikah. Dari pernikahan mereka, Tuhan mengaruniakan dua orang anak, laki-laki dan perempuan. si sulung, Saulina Hariarany Tabita boru Sirait, 8 tahun dan Sampurna Cavin Timoty Sirait, 7 tahun. Keduanya duduk di bangku sekolah dasar.

Sebenarnya, sejak kecil Saut bercita-cita menjadi seorang taruna Akabri. Namun, suratan tangan berkata lain, karena beberapa alasan yang berat hatinya untuk mengatakannya, dia kemudian mengurungkan niat itu dan mendaftar ke Sekolah Tinggi Teologia Jakarta.

Ketika masih duduk di SMA di Tanjung Karang, Saut aktif dalam kepemudaan gereja, dan terpilih menjadi wakil ketua pemuda HKBP Tanjung Karang. Dia juga aktif dalam kepengurusan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS).

“Sejak kecil saya bercita-cita masuk Akabri. Itulah sebabnya, sampai saat ini saya hafal pangkat-pangkat, dari perwira terendah hingga tertinggi. Saya sudah siapkan diri, tetapi karena satu hal, saya urungkan niat untuk masuk. Pendeta menjadi pilihan saya, karena sejak di Pontianak saya sudah aktif di gereja sebagai guru sekolah Minggu,” kata Saut mengenang.

Tidak jujur
Jiwa aktivis turun dari sang Abang, Pahotan Sirait, alumni Institut Pertanian Bogor. Pahotan adalah aktivis di tahun 1966. Maka, ketika menjadi mahasiswa, Saut tidak ketinggalan, dia aktif di senat sebagai Sekretaris Senat Mahasiswa STT Jakarta. Di luar kampus, dia jatuh-bangun sebagai Ketua Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI).

Organisasi ini membuka pintu baginya untuk banyak bergaul dengan aktivis pemuda, seperti Anas Urbaningrum dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Anas ketika itu adalah ketua HMI. Saat ini dia duduk sebagai Ketua Fraksi Partai Demokrat di Dewan Perwakilan Rakyat.

Saut kemudian aktif di organisasi gereja, di bawah sayap PGI, sebagai Sekretaris Pokja Pemuda PGI. Pernah pula menjadi Ketua Panitia Nasional Perkemahan Kerja Pemuda PGI (1985-1990). Lalu, Ketua DPP Gerakan Muda Kristen Indonesia (GAMKI), dan DPP Persatuan Intelektual Kristen Indonesia (PIKI). Saat ini dia adalah Sekretaris Ikatan Alumni STT Jakarta.

Untuk apa dia banyak berkecimpung dalam begitu banyak organisasi? Menurut dia, kemajemukan harus juga dipahami sebagai ruang untuk pelbagai kelompok-kelompok, baik itu didasarkan etnis, pola kebudayaan, dan agama. Dari banyak interaksi itulah sikap kritis seseorang dipertajam. Keberbagaian merupakan kenyataan yang harus diterima dan sikap saling-menerima harus dipupuk. Maka, organisasi itu, katanya, adalah jembatan untuk mengenal orang lain.

Saut ikut menjadi salah satu pendiri Forum Kebangsaan Pemuda Indonesia (FKPI) yang terdiri dari 13 organisasi massa pemuda dan mahasiswa. Tahun 1996, dia termasuk salah satu deklarator Komite Independen Pemantau Pemilu bersama-sama Nurcholis Madjid, Goenawan Muhammad, Mulyana Kusumah, Budiman Sudjatmiko.

Tahun 2004-2009, dia aktif dalam Forum Peduli Nusantara. Waktu itu dia diserahi tanggungjawab untuk duduk dalam Presidium dan Wakil Sekretaris Jenderal Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP). Tahun 2002-2007, dia menjadi Wakil Ketua Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu). Komaruddin Hidayat yang duduk sebagai ketua. Di Panwaslu, Saut bersikap tegas. Dia mengatakan tidak akan berkompromi dengan para pelanggar aturan pemilu. Dan tidak takut melaporkan tindakan politik yang tidak jujur yang dilakukan oleh partai dalam kampaye maupun kaitannya dalam pemilu.

Saat sekarang ini, Saut adalah Ketua DPP Partisipasi Kristen Indonesia, yang disingkat Parkindo. Sudah dua periode dia memangku jabatan itu. “Bagi sebagian orang, Parkindo adalah partai. Ada yang menyebutnya sebagai sayap PDI-Perjuangan, karena pernah dipimpin Sabam Sirait yang notabene adalah fungsionaris PDI-Perjuangan. Padahal, tidak ada hubungannya sama sekali. Parkindo bukan partai,” ujarnya Saut saat menerima TAPIAN di kantor Parkindo, di Jalan Matraman 10, Jakarta, baru-baru ini.

Tahun 1992, Saut ditahbiskan menjadi pendeta Huria Kristen Batak Protestan. Di masa itu, gereja yang terbesar di Asia Tenggara tersebut sedang “ribut.” Dia pun tidak pasif, karena kedudukannya sebagai Direktur Departemen Pemuda di HKBP selama 5 tahun, sejak tahun 1991-1996. Departemen pemuda ini semacam Ansor di Nahdatul Ulama.

Mengapa terjun ke dunia LSM? Tidak ada ruang yang haram untuk anak Tuhan mengabdi, begitu jawabnya. “Pemahaman yang menganggap bahwa ruang duniawi harus dipisahkan dengan yang surgawi adalah salah. Pendeta mengurusi surga sementara aktivis mengurusi dunia. Ini seolah-olah tidak ada hubungan, padahal keduanya saling-tergantung.”

Ketidak-adilan merajalela
Saut menambahkan, tidak mungkin ada roh tanpa pewadahan dalam bentuk tubuh. Dan tidak ada gunanya surga jika tidak ada realitas dunia. Itulah yang disebut interdependesi atau saling-ketergantungan. Pertautan antara hal-hal yang bersifat dunia dan yang bersifat rohani. Itu sama sekali tidak boleh dipisah, katanya.

“Kasus KPK dan Polri sekarang ini menunjukkan kemunafikan kita. Semua mengatakan demi Allah. Tempat-tempat peribahan kita, seperti gereja, masjid, wihara, klenteng semua penuh. Semua dengan antusiasme memuliakan agama dari luar. Tetapi, kenyataanya korupsi dan ketidak-adilan merajalela. Yang salah adalah Senin sampai Sabtu menjadi aktivis, lalu Minggu menjadi pendeta. Keduanya harus jalan bersama. Misalnya, Yesus tidak pernah memisahkan dirinya dengan dunia. Dia datang ke dunia ‘Allah yang menjadi manusia.’ Dia yang terbaik yang disebut reinkarnasi yang masuk ke lorong-lorong kehidupan. Jadi tidak ada ruang yang haram untuk anak Tuhan mengabdi,” kata Saut.

Sang pendeta sekaligus aktivis ini pernah ditembak, tetapi tidak kena. Tidak jera pula, malah makin berani. Menurutnya, sebagai aktivis sudah biasa mengadapi hal demikian. Dipukul, ditangkap, bahkan dipenjara sekali pun adalah hidupnya para aktivis. Maka, kalah adalah juga hidupnya. Sementara menang hanyalah bonus. Jadi mengapa harus takut? Begitu dia bertanya tanpa mengharapkan jawab.

Ada satu peristiwa yang membuat Saut tidak lagi takut menghadapi apa pun, kematian pun tidak. Masa HKBP bergejolak, Saut bersama teman-temannya tampil menjadi penentang rezim yang mencoba mengatur gereja dengan mengangkat seorang “ephorus” puncuk pimpinan tertinggi di HKBP, hanya dengan Surat Keputusan dari Kodam Bukit Barisan. Inilah titik awal krisis yang terjadi di HKBP selama enam tahun, dari tahun 1992-1998.

Sebagai Direktur Departemen Pemuda HKBP ketika itu, Saut mendeklarasikan perlawanan, dengan mendukung orang yang dizolimi dan terlibat langsung dalam gerakan Setia Sampai Akhir (SSA). Inilah awal Saut menelusuri lorong-lorong kegelapan HKBP dan sampai pada kesimpulan bahwa pemerintahlah yang mengintervensi HKBP.

“Pemicu utama saya untuk terjun menjadi aktivis adalah ketika kasus seorang panglima Kodam Bukit Barisan mengangkat ’ephorus’ pimpinan tertinggi gereja HKBP melalui sk-nya. Dari situ mata saya terbelalak melihat betapa selama ini rezim otoriter telah menina-bobokan rakyat, ” ujar pendeta yang menghabiskan masa kecilnya di wilayah pemukiman di lembah Bukit Barisan.

Tahun 1993, masa genting yang dialami HKBP, jemaat yang menentang intervensi pemerintah mendirikan parlape-lapean, semacam tempat ibadah sementara bagi yang melawan pemerintah. Pada waktu itu Setia Sampai Akhir (SSA) mengadakan kebaktian kebangunan rohani (KKR) di Narumonda, Kabupaten Toba-Samosir, yang dihadiri ephorus Dr. SAE Nababan yang diakui SSA.

Saut menggerakkan seluruh “ruas” atau jemaat dari Tarutung, Humbang, Siborongborong, Sigumpar, Laguboti, hingga ke Balige. Di tengah jalan, di Sitoluama, daerah Laguboti, Saut berserta para peserta KKR, dihadang oleh Brimob yang muncul dengan memegang senjata api laras panjang.

Membangkang terhadap penghadangan, Saut memimpin warga untuk melawan. Maka terjadi huru-hara antara Brimob dan ruas SSA. Saut ditembak dari jarak enam meter, tetapi tidak kena. Lalu, dikeroyok sembilan anggota Brimob hingga babak belur, mukanya memar.

“Kejadian itu membuat saya tiba pada titik kulminasi, tidak ada lagi rasa takut. Perasaan takut sudah putus. Saya punya kesimpulan, jika Tuhan izinkan saya ditanggkap atau dipukuli, itu artinya Tuhan memberikan kemampuan kepada saya untuk mengalami semua itu. Tetapi, kalau saya lolos, saya tidak tertembak, itu juga rencana Tuhan,” katanya mencurahkan perasaannya seperti sedang berkhotbah.

Empek-empek Megaria
Sebagai seorang pendeta yang tahu dan merasakan betul dampak yang timbul dari krisis HKBP itu, Saut pun tidak mau berlama-lama pada ketidaknyamanan itu. Dia tampil menjadi salah seorang rekonsiliator.

Saut menjadi Sekretaris Tim Rekonsiliasi Konflik HKBP. Pada akhirnya, tahun 1998, terpilihlah Dr. Jr. Hutauruk sebagai ephorus (1998-2004) yang oleh “Sinode Godang Rekonsiliasi.” Dan inilah akhir dari sejarah kelam HKBP.

Ada lagi cerita yang tak kalah seru. Oleh aktivitasnya di bidang politik, Saut menjadi orang yang masuk daftar merah, daftar pencarian orang (DPO). Tahun 1999, dua truk tentara menyisir seluruh bangunan STT Jakarta, kampus yang membesarkannya sebagai manusia. Ketika itu, Saut mengambil gelar master dalam etika politik. Saut lapar luar biasa. Dia kemudian keluar kampus, pergi mencari empek-empek kesukaannya semasa di Tanjung Karang, terletak di bioskop Megaria, dekat kampusnya.

Setelah melangkah keluar dari bendul kampusnya, dua truk tentara datang mau menangkap Saut yang sudah lama mereka cari. Tak ditemukan. Maka, dosen, staf, dan mahasiswa pun diintrogasi. Yang dicari tidak ada. Akhirnya tentara “mulak balging,” pulang tanpa hasil.

Begitu tentara keluar dari lingkungan kampus, tak berapa lama kemudian, Saut pun kembali tanpa kekurangan satu apa pun. Begitu memasuki pintu kampus, dia melihat semua penghuni kampus keluar. Saut malah bertanya, ada apa? Inilah jalan Tuhan. Semua yang menyaksikan kejadian itu seakan tidak percaya.

Menurut Saut banyak orang yang telah membentuk dan memberikan kekuatan kepadanya dalam berjuang, terutama sahabat-sahabatnya. Dari persahabatan itu dia banyak mengenal manusia. Di antara banyak orang yang memberikan semangat, ada satu sosok yang sangat mempengaruhinya: Moxa Nadeak. Moxa dia kenal semasa aktif di GMKI dan GAMKI. Moxa adalah seniornya di dua organisasi ini. Baginya, Moxa adalah sahabat sekaligus abang, kalau tidak bisa dibilang bapak penganti.

“Dia sudah almarhum. Dialah seorang sahabat. Lebih dari abang kandung saya. Satu yang tidak pernah saya lupakan nasihatnya, kesederhanaan dan idealisme. Kelebihannya adalah keteguhannya dalam prinsip. Dia ditawarkan wakil pemimpin redaksi ’Suara Pembaruan’ ketika muncul kasus ’Sinar Harapan.’ Tetapi, karena tidak sesuai dengan hati nuraninya, Moxa tidak menerima tawaran itu.

Menurut dia, Moxa merasa ”Lebih baik saya menjadi seorang reporter asal koran ini dibaca pengambil keputusan di negeri ini, ketimbang saya menjadi wapemred, tetapi koran ini tidak bisa memberikan pengaruh untuk negeri ini.” Jadi, menurut Saut, dari dialah dia belajar mengenai prinsip. Moxa Henry Nadeak meninggal dunia di Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta, Senin, 24 Mei 1999.

Sebagaimana mottonya sebagai aktivis, “Kekalahan adalah bagian hidup, sementara kemenangan adalah bonus,” maka Saut mencoba “ruang-ruang” baru yang bisa memberikan kontribusi pada masyarakat luas. Misalnya, ikut mencalonkan diri waktu pemilihan anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) periode tahun 2007-2012. Saut mendaftar.

Namun kalah suara. Dia hanya di peringkat delapan, sedangkan anggota KPU hanya tujuh orang. Demikian juga pada pemilu lalu, Saut maju dalam pemilihan DPD DKI dengan nomor urut 36. Namun, gagal, tidak mendapat suara yang berarti untuk bisa menjadi Dewan Perwakilan Daerah dari pemilihan Jakarta Timur.

Walupun dia terjun ke politik, tetapi ikut partai tidak cocok bagi Saut. Lebih cocok independen. Memang, pernah ikut mendirikan partai PUDI bersama 13 tokoh, namun menurut Saut, ketika dibentuk, PUDI bukan partai yang disiapkan berjuang dalam pemilu. Tetapi, dia didirikan untuk menjatuhkan rezim berkuasa Suharto. Sesudah Suharto tumbang, seharusnya PUDI bubar, dan 12 tokoh sepakat partai tersebut membubarkan diri. Tapi, Sri Bintang Pamungkas, salah satu pendiri PUDI, berkehendak lain. Dia mendirikan PUDI sebagai partai politik yang ingin bertarung dalam pemilu. Hasilnya, semua orang ingat, tidak lolos di KPU.

Apakah gereja bisa berpolitik? Warga gerejalah yang berpolitik. Menurut Saut, harus ada keseimbangan. Ada relevansi nilai-nilai yang dianut dalam agama. “Gereja terlalu lama dalam zona abu-abu. Ada yang menyebut ‘gereja ya gereja, politik ya politik.’ Gereja harus terlibat dalam politik, tetapi mempersiapkan jemaatnya. Organisasi gereja tidak boleh berpolitik apalagi mendirikan partai.” Tegas seperti batu dia berpendirian itu.

Tambahnya lagi, selama gereja apolitis dan umatnya yang apolitis, kita tidak menjadi garam. Gereja memiliki tanggung-jawab politik. Kalau politik menindas dan merusak masyarakat, gereja harus melawan. Jika belajar sejarah gereja, seorang pendeta juga pernah menjadi seorang perdana menteri Belanda (1901-1905), Abraham Kuyper, lulusan sekolah teologia dan seorang pendeta. Sebelumnya, ada juga Jhon Calvin, dia presiden Swiss. Dia menjadikan aparatus gereja, dan juga aparat negara.

Untuk mengasah jiwa kepemimpinannya, Saut mengecap berbagai pengalaman, salah satunya partnership consultation di Dusseldorf pada tahun 1995, pelatihan monitoring pemilu di Bangkok (1996), pemantauan pemilu di Kamboja (1998), serta koordinator KIPP untuk pemantauan jajak pendapat Timor Timur (1999).

Kini, selain pendeta di HKBP Bandung, Saut juga menjadi narasumber pendidikan politik organisasi gereja di PGI. Tahun 1999, dia memperoleh gelar magister teologia di bidang etika politik dari STT Jakarta. Tesisnya tentang politik gereja dan diterbitkan oleh BPK Gunung Mulia dalam bentuk buku, diberi judul Politik Kristen di Indonesia: Suatu Tinjauan Etis 21. Buku ini dianggap sebagai buku refrensi untuk memahami politik Kristen di Indonesia.

Almarhum Eka Darmaputera, guru dan seniornya, dalam kata sambutannya untuk buku itu menyebut Saut Sirait berbeda dari dari aktivis kebanyakan. “Saudara Saut Sirait berbeda. Dia mengambil rute yang sebaliknya……Dia mengawali karirnya dari dunia pergerakan, baru kemudianlah dia melanjutkan studi, sampai meraih gelah Strata Dua. Ia, berbeda dengan yang lain, agaknya ingin memberikan pondasi teoritis yang lebih teguh bagi kegiatan-kegiatan perjuangan……Ia tidak mau ternggelam dalam kekenesan akademis, tetapi sebaliknya juga tidak mau terjerat oleh kesibukan aktivisme semata.” *** Hotman J. Lumban Gaol

Trimedya Panjaitan


Trimedya Panjaitan

Trymedia Panjaitan

Trimedya Panjaitan, SH. lahir di Medan, 06 Juni 1966. Mantan Anggota DPR RI F-PDIP 1999-2004, periode 2004-2009 duduk sebagai Ketua Komisi III. Selain di Komisi, putra Batak ini juga menjabat sebagai Wakil Ketua Fraksi PDIP dan Anggota Badan Legislasi (Baleg).
Biodata
Kelamin: Laki-laki
Tmp/Tgl Lahir: Medan, 06 June 1966
Agama: Kristen Protestan
Alamat Lengkap: Gd. DPR/MPR RI Nusantara I Lt. 05 R. 0514 Jl. Gatot Subroto
Cempaka putih barat 25 No.11 Rt 03/07
Jakarta
Daerah Khusus Ibukota Jakarta
Indonesia
Telpon: 5756138, 5756139, 5715569, 5715864, 5756040
Istri: Jovita Eva Sasantisiwi
Anak: 3 (tiga) Orang
Masa Akhir Jabatan: June 2009
Riwayat Pendidikan
• SDN HKBP Medan 1979
• SMPN 5 Medan 1982
• SMAN 30 Jakarta 1985
• Fak. Hukum Universitas Pancasila Jakarta 1991
Riwayat Jabatan
• Pembela Umum LBH 1991-1993
• Pembela Umum YLBHI 1993-1996
• Pimpinan Law Office Trimedya panjaitan & Ass 1996-n/a
• Anggota DPR RI F-PDIP 1999-2004
Pengalaman Organisasi
• Anggota Dewan Mandiri, Perhimpunan Bantuan Hukum & HAM Indonesia 1996-1998
• Ketua Umum Serikat Pengacara Indonesia
• Anggota Tim Pembela Demokrasi Indonesia 1997-n/a
• Ketua Forum Pembela Demokrasi Indonesia

Tifatul Sembiring


Nama Tifatul Sembiring
Lahir Bukittinggi, 28 September 1961

Tifatul Sembiring

Istri Sri Rahayu
Anak 1. Sabrina Sembiring
2. Fathan Sembiring
3. Ibrahim Sembiring
4. Yusuf Sembiring
5. Fatimah Sembiring
6. Muhammad Sembiring
7. Abdurrahman Sembiring

Pengalaman Organisasi:
Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS),perioden 2005-2010
Pejabat Sementara Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS),n Oktober 2004-April 2005
Ketua DPP PKS Wilayah Dakwah I Sumateran
Humasn Partai Keadilan
Pendiri PartaiKeadlan (PK)n
Aktivis Pelajar Islamn Indonesia (PII)
Aktivis Yayasan Pendidikan Nurul Fikri, 1990n
Aktivisn Korps Mubaligh Khairu Ummah

Pekerjaan:
n Direktur Asaduddin Press, Jakarta
PT PLN Pusat Pengaturan Beban Jwa, Bali,n Madura 1982-1989

Pendidikan:
Sekolahn Tinggi Ilmu Manajemen Informatika dan Komputer (STI&K) Jakarta
n International Politic Center for Asian Studies Strategic Islamabad, Pakistan

Alamat Rumah:
Kompleks Pondok Mandala II Blok N-1, Cimanggis, Depok, Jawa Barat

Alamat Kantor:
Kantor Pusat DPP Partai Keadilan Sejahtera
Gedung Dakwah Keadilan
Jl. Mampang Prapatan Raya No. 98 D-E-F
Jakarta Selatan, Indonesia
Telp +62-21-7995425
Fax +62-21-7995433

sumber:http://www.tifatul.info

Ramlan Surbakti


ramlan_surbakti
Lahir:Tanah Karo, 20 Juni 1953

Istri:
Ny. Dra. Psi Veronika Suprapti MS Ed
Anak:
dua orang

Pekerjaan:
Wakil Ketua KPU
Guru Besar FISIP Unair
Kepala Pusat Kajian Pengembangan Otonomi Daerah, Kantor Meneg Otoda
Pendidikan:

– 1959-1971, Sekolah Rakyat

– SMU di Kabupaten Tanah Karo (Sumut)

– 1972-1977, (S-1) Fakultas Sospol (Ilmu Pemerintahan) UGM

– 1981-1982, (S-2/Master Ilmu Politik), Ohio University USA

– 1988-1991, doktor (S-3), di Northern Illnois University, AS, dengan

disertasi berjudul Interrelation Between Religious and Political

Power Under New Order Government of Indonesia

Email :
ramlan_surbakti@kpu.go.id

Panda Nababan


PANDA NABABAN
Tempat dan Tgl Lahir : Siborong-borong,Tapanuli Utara, 13 Februari 1944
Alamat : Jl.Mampang Prapatan IV/41panda nababan
Mampang Prapatan, Jakarta Selatan
Pekerjaan : Anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan.
Agama : Kristen Protestan.

Ayah : Jonathan Laba Nababan (Guru)
Ibu : Erna Intan Dora Lumbantobing (Guru)
Istri : Ria Purba
Anak
– Putri Nababan, Jurusan Masak, Le Cordon Bleu University, Perancis
– Putra Nababan, Jurusan Jurnalistik di Nebraska, USA
– Anggi Nababan, Fakultas Hukum, Universitas Pelita Harapan

Pendidikan Formal – SMP Nasrani, Medan, Sumatera Utara, 1956-1959
– SMA Nasrani, Medan, 1959-1962
– Universitas Nommensen, Medan, 1962-1963
– Universitas Bung Karno, Jakarta, 1963-1966
– Perguruan Tinggi Publisistik, Jakarta, 1968-1969
– Jurnalistik NRC Handelsblaad, Rotterdam, 1979

Pendidikan Non Formal – Kursus Manajemen LPPM-2, Jakarta, 1981
– Kursus Manajemen LPPM-2, Jakarta, 1983
– Kursus Manajemen LPPM-2 bidang Problem Solving, Jakarta, 1987

Pengalaman Kerja
– Ketua Bidang Hubungan Media DPP PDI Perjuangan (2005-210).
– Ketua I Fraksi PDI Perjuangan DPR RI (2004-2009)

– Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan
A-125 (1999 – 2004).
– Wartawan Harian Umum Warta Harian, Jakarta, 1969-1970.
– Redaktur Harian Umum Sinar Harapan, Jakarta, 1970-1987.
– Wakil Pemimpin Umum Harian Umum Prioritas, Jakarta, 1987-1988.
– Kepala Litbang Media Indonesia, Jakarta, 1988-1989.
– Wakil Pemimpin Umum Majalah Forum Keadilan, 1990-1999.
– Pemegang Saham Majalah Forum Keadilan, Jakarta, 1990 -sekarang

Organisasi – Anggota GMKI, Medan, 1963

– Ketua Departemen Organisasi Gerakan Mahasiswa Bung Karno,
Jakarta, 1963-1966.
– Anggota PWI, Jakarta, 1970-1975
– Anggota PDI, Jakarta, 1993-1998
– Anggota PDIP, Jakarta, 1998-sekarang
– Ketua DPP PDI Perjuangan (2005-2010)

Penghargaan : Adinegoro Trophy 1976 (PWI).

Penguasaan Bahasa – Batak, Aktif
– Inggris, Aktif

Hobi : Joging

Pengalaman Kerja
Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan
A-125
Wartawan Harian Umum Warta Harian, Jakarta, 1969-1970
Redaktur Harian Umum Sinar Harapan, Jakarta, 1970-1987
Wakil Pemimpin Umum Harian Umum Prioritas, Jakarta, 1987-1988
Kepala Litbang Media Indonesia, Jakarta, 1988-1989
Wakil Pemimpin Umum Majalah Forum Keadilan, 1990-1999
Pemegang Saham Majalah Forum Keadilan, Jakarta, 1990-sekarang

Organisasi
Anggota GMKI, Medan, 1963
Ketua Departemen Organisasi Gerakan Mahasiswa Bung Karno, Jakarta, 1963-1966
Anggota PWI, Jakarta, 1970-1975
Anggota PDI, Jakarta, 1993-1998
Anggota PDIP, Jakarta, 1998-sekarang

Penguasaan Bahasa
Batak, Aktif
Inggris, Aktif

Penghargaan
1976 : Adinegoro Trophy

Irzan Tanjung, Prof. Dr.


Prof. Dr. Irzan Tanjung tanjung

Guru Besar FEUI ini memiliki peranan dalam tim kampanye ekonomi pasangan presiden dan wapres RI: SBY-JK. Beliau juga merupakan salah satu dari 99 pendiri. Partai Demokrat dan terpilih menjadi anggota DPR-RI untuk periode 2004-2009. Sesuai dengan keahliannya di bidang ekonomi, beliau ditunjuk menjadi salah satu penanggung jawab platform dan kebijakan Partai Demokrat di bidang ekonomi.

Pria kelahiran Medan pada tanggal 3 Juni 1937 ini, lulus mendapatkan gelar Sarjana Ekonomi dari FEUI jurusan Studi Pembangunan pada tahun 1961 dengan menyajikan skripsi dalam bidang Analisa Ekonomi dan Kebijaksanaan Negara. Kemudian beliau melanjutkan studinya di Amerika Serikat dan pada tahun 1965 berhasil memperoleh gelar M.A. dari Syracuse University. Pada tahun 1986 beliau berhasil meraih gelar Ph.D dari University of Illinois. Prof. Irzan juga aktif sebagai staf
peneliti di LPEM FEUI. Beliau turut serta dalam menyusun “Outlook Keuangan Negara 1969,1970 dan 1971”. Beliau juga menyusun paper-paper yang dibuat untuk keperluan laporan Pemerintah kepada DPR-GR (Nasional) seperti laporan APBN. Salah satu karya
yang pernah dihasilkan oleh beliau adalah “Bank dan Pembangunan”, yang merupakan terjemahan ilmiah LMUI-Bapindo. Seperti pakar ekonomi FEUI lainnya, beliau juga pernah menjabat di pemerintahan. Pada tahun 1970 beliau menjadi staf pribadi. Menkeu, kemudian tahun 1972 menjadi Sekretaris Dirjen Keuangan, dan pada periode
1988 – 1993 menjabat sebagai Asisten Menteri Koordinator Ekonomi Keuangan, Pengawasan dan Pengembangan.

Saat ini Irzan Tanjung dipercayakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, menjadi duta besar Indonesia untuk Philippina.

Effendi Simbolon


Effendi Simbolon kelahiran 1 Desember 1964 adalah anggota DPR-RI Efendi Simbolondari Fraksi PDIP. Selain bidang politik, Effendi Simbolon, juga merupakan Ketua Alumni SMA Negeri 3 Teladan 82, Jakarta. Dengan anggota sekitar 600 orang yang terdiri dari berbagai kalangan. Salah satu alumninya adalah Menko Kesra Aburizal Bakri.

Effendi juga Ketua Umum Pengurus Pusat Punguan Simbolon Dohot Boruna se-Indonesia, dan salah satu penggagas “pungguan” tersebut. Marga Simbolon saat ini sudah mencapai 23 generasi dengan 68.000 kepala keluarga yang tersebar di seluruh dunia. Pesta Bolon memang tak ubahnya sebuah reuni akbar Marga Simbolon.

Kontak
E-mail: effendi_simbolon@yahoo.com
Situs: http://effendisimbolon.blogspot.com

Parlindungan Purba


Parlindungan Purba
Waktu sudah menjelang dini hari pertengahan tahun lalu. Hujan turun deras sekali. Listrik padam. Namun, belasan manusia mengenakan jas PARLINhujan seadanya menembus malam menuju Pembangkit Listrik GT 2.1, Sicanang, Belawan, Medan, Sumatera Utara. Selain wartawan dan petugas PLN Belawan, di situ ada Parlindungan Purba (45), anggota Dewan Perwakilan Daerah asal Sumut.
Malam-malam ia mengontak wartawan dan pimpinan PLN Pembangkit Sumut untuk melihat langsung, apakah benar GT 2.1 Sicanang rusak dan tengah diperbaiki. Kerusakan itu merugikan jutaan warga Medan dan sekitarnya karena listrik padam berbulan-bulan.
Dalam pembicaraan telepon, PLN sempat hendak menunda agar peninjauan mendadak itu dilakukan esok hari. Apalagi hujan deras sekali di Belawan. Namun, Parlindungan, bapak empat anak itu, bersikeras.
”Saya sudah bawa wartawan,” katanya. Kalimat itu efektif. Di tengah hujan deras dan saat jembatan Sicanang masih rusak sehingga untuk menuju lokasi pembangkit harus menyeberang dengan perahu, peninjauan dilakukan.
Itulah salah satu cara Parlin, panggilannya, mengemban tugas sebagai wakil rakyat. Setiap kali kunjungan ke kawasan yang bermasalah, dia menyetir sendiri mobilnya yang diisi wartawan. Beberapa wartawan bahkan sering tertinggal di belakang, tak bisa mengikuti langkah kakinya yang cepat.
”Saya benar-benar terbantu karena media massa,” ujar politisi yang mengaku sebagai politisi karbitan itu.
Hampir semua nama wartawan media massa di Medan ada dalam ponselnya. Baginya, media massa sangat efektif mendukung proses demokratisasi dan menyuarakan aspirasi rakyat. Maka, kerjanya bahu-membahu dengan media massa.
”Jurnalis tahu mana orang benar, mana tidak. Asal baik, jurnalis akan mendekat. Wartawan bodreks pasti tak mau dekat dengan saya,” katanya berseloroh.
Hidup baik, itulah yang dia pelajari dari orangtua. Bapaknya pekerja swasta, ibunya bidan. ”Sejak kecil kami biasa mendengar bayi pertama kali menangis sebab rumah kami juga menjadi rumah bersalin,” cerita Parlin.
Hidupnya ”lurus-lurus” saja sejak muda. Ia bercita-cita menjadi diplomat setelah mengikuti pertukaran pemuda di Korea. Namun, setelah lulus, ia bergabung dengan usaha keluarga di bidang kesehatan dan penyalur tenaga kerja.
Ia seolah ada hampir pada setiap masalah di Sumut. Seperti harga semen yang melambung, pungutan penerimaan calon pegawai negeri sipil, kelangkaan pupuk, bocornya ujian nasional, krisis listrik, krisis gas, asuransi kesehatan orang miskin, konflik tanah 25.000 warga Sarirejo dengan Angkatan Udara, hingga membantu warga yang terusir karena pembangunan Bandara Kuala Namu.
Cukup menelepon dirinya, menyerahkan bukti-bukti, ia akan meluncur. ”Sebagai anggota DPD saja saya menghadapi hambatan untuk menegakkan kebenaran, apalagi rakyat kecil yang tidak diadvokasi. Di situlah saya meletakkan diri saya, dengan seoptimal mungkin terlibat dan bermanfaat bagi orang lain,” tuturnya. Namun, ia tak mau terlibat dalam masalah korupsi. ”Itu tugas polisi,” jawabnya.
Sekrup kecil
Namun, bagi Parlin, hal yang paling menggembirakan adalah, seperti istilah dia, menjadi sekrup kecil. Misalnya, dalam kesepakatan PT Inalum yang akhirnya mau memasok listrik bagi warga Sumut.
Setiap hari Kamis ia sudah berada di Medan. Senin pagi ia bertolak ke Jakarta. Lain dengan kebiasaan sebagian anggota DPD yang dua bulan di Jakarta dan satu bulan di daerah. Untuk perjalanan itu ia keluarkan dana dari kocek sendiri.
Ia merasa apa yang dia lakukan itu sudah sewajarnya dan memang tugas wakil rakyat demikian. ”Saya berusaha sebaik mungkin, hasilnya bukan urusan saya,” ujarnya.
Para wakil rakyat yang lain pun ia yakini punya semangat untuk memperjuangkan nasib rakyat, meski sebagian masih berupa potensi, belum implementasi. Sebab, katanya, sebagai wakil rakyat, selain paham hukum, tata negara, dan perundang-undangan, juga harus turun ke lapangan.
Untuk menjalankan tugas, sering kali ia merasakan ada kebetulan-kebetulan yang menurut dia aneh. ”Kemarin waktu banjir di Jakarta. Pesawat saya adalah pesawat terakhir yang bisa mendarat di Bandara Seokarno-Hatta. Sesudah itu tak ada orang yang bisa masuk Jakarta,” ceritanya.
Kebetulan itu juga ia rasakan saat menjadi anggota DPD. Sejatinya ia kalah dalam pemilihan anggota DPD dan berada di urutan nomor lima, meskipun ia merasa lebih dari 100.000 suaranya dari Pulau Nias hilang. Ia sempat menggugat, namun kalah.
Ia resmi menjadi anggota DPD baru satu setengah tahun kemudian setelah anggota DPD asal Sumut yang juga mantan Gubernur Sumut, Raja Inal Siregar, tewas dalam kecelakaan pesawat Mandala di Bandara Polonia. ”Ada yang terlibat dalam langkahku. Saya tahu itu Yang Mahakuasa,” katanya.
Independen
Untuk kampanye pemilihan DPD, ia mengaku menghabiskan dana sekitar Rp 1 miliar. Dari jumlah itu, sekitar Rp 500 juta dari dana pribadi, dan sisanya bantuan teman-teman dan masyarakat umum. ”Saya tidak pernah ikut dalam partai politik, dan tidak akan pernah ikut,” ucapnya. Parlin memilih independen.
Kadang kala Parlin tampak sangat emosional ketika melihat hal-hal yang mudah namun dipersulit. Seperti masalah konflik tanah warga Sarirejo yang berada di sekitar Bandara Polonia. Surat DPD ke Badan Pertanahan Nasional (BPN) Pusat yang sudah sebulan dilayangkan tidak ditanggapi. Bersama tiga anggota DPD asal Sumut lainnya, ia mendatangi BPN, namun tak mendapat jawaban memuaskan karena tidak ditemui Kepala BPN. ”Saya benar-benar kecewa,” tuturnya.
Ia melihat kemungkinan perjuangan warga Sarirejo gagal karena kurang tawakal. Maka ia meminta warga Sarirejo untuk berbuat bagi orang lain, tidak hanya menuntut. Warga pun sepakat melakukan donor darah.
Meskipun cita-cita masa kecilnya menjadi diplomat, ia masih harus belajar diplomasi untuk tidak emosional. Parlin lebih ingin menjadi motivator.
Selama menjadi anggota DPD ia melihat rakyat butuh keteladanan. PNS bekerja malas-malasan, sementara pekerja swasta saat pertengahan bulan sudah berpikir gaji habis. ”Tak usah jauh-jauh, untuk mengajak orang membersihkan parit saja kini sangat sulit,” tuturnya.
Banyak orang yang sudah kehilangan idealisme. Mereka merasa tak bisa menjadi diri sendiri. Namun, selalu masih ada harapan untuk memperbaiki semuanya menjadi lebih baik, seperti ditunjukkan Parlindungan Purba….
Sumber: http://www.kompas.com

Chairuman Harahap


Nama Chairuman Harahap sudah tak asing lagi bagi masyarakat Sumatera Utara (Sumut). Lelaki berusia 61 tahun ini dikenal tokoh yang selalu berada di tengah pusaran politik masyarakat Sumut. Maka itu tak heran, sosoknya seolah tak pernah lekang dari ingatan masyarakat Sumut.
Mantan Kepala Kejaksaan Tinggi Sumut ini juga dikenal sebagai sosok pekerja keras, ulet dan pemberani. Dia tidak pernah merasa takut dengan ancaman dan teror. Dalam bukunya berjudul “Merajut chairuman111Kolektivitas Melalui Penegakan Supremasi Hukum,” Chairuman mengatakan: “Kalau takut, tak usah jadi Jaksa”.
Menghadapi Pemilu 2009 ini, Chairuman maju sebagai calon anggota legislatif (caleg) Partai Golkar untuk DPR RI dari Daerah Pemilihan (Dapil) II Sumut. Di sela-sela kesibukannya menerima kunjungan masyarakat Sumut, Chairuman berkenan memberikan waktu untuk wawancara dengan Portal ANTARA Sumut. Dia lagi-lagi tampil bersahaja dan dengan kerendahan hati walau kini sudah diatas angin untuk duduk sebagai Anggota DPR RI.

Anda menjadi caleg Partai Golkar pada Pemilu 2009. Bagaimana ini bisa, padahal selama ini Anda tak dekat dengan Partai Golkar?
Teman-teman mengajak untuk memilih Golkar. Dari dulu Golkar sebagai partai pembaharu selalu melakukan perubahan-perubahan. Bahkan Golkar menciptakan suatu kehidupan politik yang melampui zamannya. Sebenarnya, Golkar sudah menyiapkan diri bahwa pasca pak Harto kondisi politik sudah harus multi partai.
Tetapi di Partai Golkar sangat heterogen, sedang Anda baru masuk kesana?
Ya, Golkar itu termasuk masyarakat yang heterogen dan itu kelemahan dan kekuatannya dan itu normal saja. Golkar sebenarnya ingin untuk menaikkan moral bangsa ini dan ini memang menjadi pilihan-pilihan kita. waktu itu memang ada program-program untuk menarik para senior untuk masuk ke dalam Golkar dalam rangka untuk memperkuat Golkar itu.
Bagaimana strategi Partai Golkar untuk memenangkan Pemilu 2009?
Rakyat bukan sebenarnya bukan untuk ditaklukkan, bukan untuk dikuasai, suara merekalah yang sebenarnya harus kita serap. Kepentingan merekalah yang harus kita perjuangkan. Jadi orientasinya harus kesana, jadi itu adalah perubahan yang harus kita lakukan, sebenarnya sudah sangat terlambat untuk merubah itu. Jika kolonial dulu itu tujuan bagaimana menundukkan rakyat ini supaya patuh, tunduk kepada mereka agar mudah mereka memerintah.
Golkar melakukan reformasi politik dengan sedikit memberikan celah untuk tidak sejalan dengan UU No 10 Tahun 2008 soal caleg yang bisa mencapai suara diatas 30 persen. Apa pandangan Anda soal ini?
Golkar menginginkan suara terbanyak. Usul pemerintah untuk itu suara terbanyak tapi diputuskan 30 persen. Tapi internal golkar membuat didalam, bukan merubah undang-undang itu tapi dia buatdidalam supaya lebih demokratis suara terbanyak. Jadi semua caleg itu mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih untuk duduk dan itulah adalah suatu persamaan dalam politik.
Sebagai caleg DPR RI dari Sumut II dimana basis pendukung Anda?
Basis kita tentu masyarakat yang sepaham dengan perubahan-perubahan yang ingin dilakukan. Metodenya tentu kita harus mendekatkan diri. Melihat secara langsung kesulitan ekonomi yang dihadapi rakyat kita.
Kira-kira, bagaimana Anda kini menggambarkan kondisi diri Anda?
Manusia itu tidak ada yang sempurna. Dimana ada kekuatan disitu ada kelemahan. Saya selalu mempunyai keinginan untuk berbuat bagi masyarakat kita. Jadi pertarungan kita ini bukan untuk kekuasaan. Bagaimana kita mewujudkan cita-cita dan saya selama ini berusaha menegakkan hukum dengan benar. Saya juga mengalami kezholiman-kezholiman, ketidakadilan. Intinya kita ingin masyarakat kita merasa aman. Dan aman itu apabila kalau hukum tegak.
Diakhir wawancara Chairuman juga sempat menitipkan pesan singkatnya untuk berkomunikasi melalui blogsitenya di Blog Chairuman.
Data Pribadi
Nama : H Chairuman Harahap SH MH
Tgl Lahir : Gunungtua, 10 Oktober 1947
Nama Ayah : H Sutan Mangarahon Harahap
Nama Ibu : Hj Aisyah Lubis
Istri : Ratna Sari Lubis
Anak-anak :
1. Wannahari Harahap
2. Maulida Sari Harahap
3. Diatce Gunungtua Harahap
4. Muhammad Rizki Harahap
Pendidikan Formal
1. Sekolah Rakyat (SR) Negeri 2 Gunungtua (1960)
2. SMP Negeri Pargarutan Padangsidempuan (1963)
3. SMA Negeri III Medan (1966)
4. Ilmu Hukum Universitas Padjadjaran Bandung (1974)
5. Magister Hukum Universitas Padjadjaran (2005)
Pendidikan dan Latihan (Diklat)
1. Diklat Pembentukan Jaksa (1978)
2. Penataran Intelejen (1980)
3. Sus Perwira Intelejen Seintelstrat Bais ABRI Bogor (1980)
4. Suspa Intelstrat Seintelstrat Bais ABRI Bogor (1984)
5. Pendidikan Jaksa Spesialis (1989)
6. Sespanas Promosi IV E (1995)
7. Analis Kebijakan (1996)
8. KSA VIII Lemhannas (2000)
Jenjang Karier
1. Kepala Kejaksaan Negeri Bengkalis Riau (1991)
2. Asisten Tindak Pidana Khusus Kejati Maluku (1993)
3. Kepala Kejaksaan Negeri Bekasi Jawa Barat (1994)
4. Asisten Tindak Pidana Umum Kejati Sumatera Selatan (1995)
5. Wakajati Sulawesi Utara (1996)
6. Inspektur Padang Bidang Pengawasan Kejagung (1998)
7. Kepala Pusat Operasi Intelejen (Kapusopsin) Kejagung (1999)
8. Direktur Tindak Pidana Ekonomi Pidsus Kejagung (2000)
9. Direktur Upaya Hukum dan Eksekusi Tindak Pidsus (2000)
10. Staf Ahli Jaksa Agung (2000)
11. Anggota Steering Committee RUU Pembentukan Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
12. Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara
13. Sekretaris Jaksa Agung Muda Pidana Umum
14. Deputi Menko Polhukkam Bidang Hukum dan HAM
Sumber: http://www.antarasumut.com

H. Nuddin Lubis



Tokoh yang Tegas dan Berkepribadian
Lubis

Politik memang tidak ada sekolahannya, karena sekolahannya di lapangan. Kalau pun terpaksa belajar politik di sekolah paling banter hanya akan menjadi ilmuwan politik atau sekadar pengamat politik, tidak dengan sendirinya menjadi politisi. Bagi seorang politisi, politik itu bukan sesuatu yang dipikirkan dan dilihat saja, tetapi sesuatu yang duterjuni, digumuli sebagai panggilan hidup. Dari situ banyak muncul tokoh politik yang matang dan berkeperibdian seperti Nuddin Luibis, dengan pengalaman lapangannya mampu memimpin partai dari tingkat lokal hingga nasional.

Tokoh yang dikenal sangat vokal dan teguh pendirian itu lahir di desa Roburan Mandailing Natal (Madina), 25 November 1919. Namun jangan heran kalau politisi yang sangat kondang pada zamannya itu hanya tamatan Madrasah Aliyah di pesantren Mustofawiyah Purba Baru Tapanuli Selatan. Dengan semangat belajar yang tekun serta talenta kepemimpinannya yang tinggi ia berhasil mendongkrak karirnya sebagai politisi yang matang dan dihargai kawan maupun lawan, karena itu posisi sebagai ketua partai dan wakil ketua DPR/MPR cukup lama dipercayakan kepadanya. Dengan posisinya itu banayak persoalan nasional yang diselesaikan.

Bekal pendidikan madrasah Aliyah itu ia mencoba meniti karir di bidang politik. Sejak tahun 1947 hingga tahun 1950 menjadi anggota DPRD dan DPD Kabupaten Tapanuli Selatan. Setelah sukses di daerahnya dua tahun kemudian dia hijrah ke Medan ibu kota Propinsi Sumatera Utara untuk mengembangkan karir sebagai pegawai negeri sipil. Karena memiliki jiwa kepemimpinan maka ia selalu menonjol di lingkungan kerjanya, maka tidak lama kemudian ia dia ditempatkan di Pemda Kota Medan, bahkan beberapa tahun kemudian bakat kepemimpinannya dibuktikan dengan menduduki jabatan sebagai wedana atau pembantu walikota. Seusai menjabat sebagai wedana kemudian dipromosikan lagi sebagai pegawai bagian politik pada Kantor Residen Medan hingga tahun 1954.

Sebagai seorang alumni pesantren salaf dengan sendirinya Nuddin Lubis memiliki afiliasi yang kuat dengan Nahdlatul Ulama (NU). Mengingat komitmen ke-NU-annya yang kuat itu maka pada tahun 1957 berani melepaskan karirnya sebagai pegawai negeri setelah terpilih sebagai anggota DPRD Provinsi Sumatera Utara, hasil Pemilu 1955 mewakili partai NU. Pada saat yang bersamaan dia terpilih sebagai Wakil Ketua DPD dan Wakil Kepala Daerah Tingkat I Sumatera Utara Posisi ini dipegang hingga tahun 1963. Pilihan mengundurkan diri sebagai pegawai negeri yang penuh risiko itu telah diperhitungkan dengan cermat. Terbukti setelah itu karir politiknya bukan semakin menurun, justru semakin menanjak, bahkan telah menganatarkannya menjadi politisi berkaliber nasional, saat mana ia harus hijrah ke Jakarta untuk menjadi anggota DPRGR/MPRS pada tahun 1963.

Pejuang Tulen

H. Nuddin Lubis yang beristrikan Hj. Dumasari Nasution memang benar-benar seorang pejuang tulen. Sejak remaja dan pemuda waktunya habis untuk berkhidmat kepada bangsa dan Negara melalui organisasi politik maupun sosial. Masih dalam usia 20 tahun, Nuddin sudah menjabat sebagai pimpinan pengurus besar organisasi lokal yaitu Al-Ittihadul Islamiyah (AII) Tapanuli Selatan. Empat tahun kemudian dia menjabat Sekretaris Majelis Islam Tinggi (MIT) Tapanuli. Pergumulannya dengan berbagai organisasi Islam lokal itu merupakan sekolah politik yang sangat berharga bagi Nuddin muda.

Tahun 1945-1947 menjabat sebagai pengurus besar AII Tapanuli. Selama enam tahun (1946-1952) menjadi pimpinan Masyumi Tapanuli Selatan. Bersamaan dengan itu ia menjadi anggota Konsul (Wilayah) Nahdlatul Ulama, hingga menjadi Ketua Wilayah NU Sumatera Utara hingga tahun 1970. Kepiawiannya dalam berpolitik itu, ia semakin menjadi perhatian kalangan Pengurus Besar NU, karena itu sejak tahun 1965 hingga 1970 menjadi Ketua Fraksi Partai NU di DPRGR dan anggota pleno PB Nahdlatul Ulama.

Kiprah Nuddin Lubis dimulai sejak tahun 1941, aktif memimpin Gerakan Perjuangan Islam hingga masa pendudukan Jepang. Tahun 1945 turut aktif pula dalam revolusi kemerdekaan dengan menjadi anggota Komite Nasional Indonesia (KNI) dan juga Pengurus Barisan Pemuda Republik Indonesia Tapanuli Selatan. Pada saat bersamaan membentuk Barisan Hizbullah dan Sabilillah Tapanuli Selatan.

Pada tahun 1947-1948 menjadi anggota Badan Pertahanan Kabupaten Tapanuli Selatan. Selama setahun aktif bergerilya di hutan, merangkap sebagai penasihat pemerintah militer Tapanuli Selatan/Sumatera Timur Selatan. Dia juga membentuk Barisan Al-Jihad yang melakukan perlawanan-perlawan an kepada tentara Belanda. Sesudah penyerahan kedaulatan (1950) turut aktif memperjuangkan terwujudnya Negara kesatuan Republik Indonesia.

Selama delapan tahun (hingga 1958) menjadi anggota Penguasa Perang Daerah (Peperda) Sumatera Utara dalam wadah ini Nuddin Lubis yang sangat patriotik itu dengan sendirinya turut aktif menentang pemberontakan PRRI –Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia pimpinan Kol Mauludin Simbolon berkecamuk di wilayahnya itu. Bagi Nuddin pemberontakan itu sebuah makar yang harus diperangi, sebab merongrong kesatuan Republik Indonesia.

Apalagi kota Medan pada tahun 1956 dijadikan Tuan rumah Pelaksanaan Muktamar NU ke 20, maka situasi harus benar-benar diamankan, karena itu dia terpaksa harus membujuk para pimpinan pemberontak agar tidak mengganggu jalannya Muktamar NU. Rupanya usaha itu berhasil sehingga Muktamar NU berjalan lancar di tengah suasana perang.

Resolusi Nuddin Lubis
Berpuluh tahun bergumul dalam dunia politik melalui partai NU membuat Nuddin Lubis amat matang dengan asam garam politik Nasional. Lebih 40 tahun menjadi wakil rakyat sejak di DPRD Kabupaten, Provinsi hingga tingkat pusat membuatnya menjadi politisi yang berkarakter kuat. Tidak mudah tergoda oleh manuver politik dari partai lain, namun dia tetap konsisten dengan watak NU yang persuasif dan bijak. Kecuali dalam hal-hal tertentu apabila situasi sudah sangat genting, barulah ia tampil memperlihatkan kepiawaiannya di bidang politik.

Begitulah, ketika terjadi situasi dualisme politik dalam kepemimpinan Nasional antara Bung Karno dan Pak Harto pada tahun 1967, H. Nuddin Lubis tampil dengan usul resolusinya yang terkenal ketika itu. Nuddin Lubis dengan sejumlah teman dari partai lain yang terwakili di DPRGR meminta agar Bung Karno segera diberhentikan dalam jabatan sebagai Presiden/Pemimpin Besar Revolusi/Panglima Tertinggi ABRI dan Mandataris MPRS Pemberhentian Bung Karno tentunya dilakukan dalam sidang MPRS, mengingat MPRSlah yang memberi mandat kepada Bung Karno sebagai Presiden.

Resolusi itu diterima baik dalam sidang paripurna DPRGR yang diketuai oleh H.A.Sjaichu yang juga dari Partai NU. Pimpinan DPRGR kemudian meneruskan resolusi tadi kepada pimpinan MPRS yang diketuai oleh Jenderal Abdul Harris Nasution dengan salah seorang wakil Ketuanya HM Suchan ZE yang juga dari NU. Pada tahun 1967 itu juga diadakan Sidang Istimewa MPRS di Jakarta. Sebelum sidang berlangsung H.Djamaluddin Malik mengeluarkan resolusi agar Letjen TNI Soeharto diangkat sebagai Pejabat Presiden atau pengganti Bung Karno.

Pada tahun 1967 itu juga sidang MPRS diadakan di Jakarta. Menjelang sidang situasi dualisme kepemimpinan makin terasa memanas dan tidak kondusif. Namun alhamdulillah segala problema bangsa dapat diselesaikan dengan cantik. Bung Karno diberhentikan sebagai Presiden dengan mencabut mandat yang diberikan oleh MPRS melalui siding umum MPRS juga. Letjen TNI Soeharto kemudian ditetapkan sebagai Pejabat Presiden Republik Indonesia.

Perlu diketahui adanya dualisme kepemimpinan itu terjadi karena Bung Karno merasa masih menjadi Presiden, sedangkan Pak Harto ketika itu masih dalam status pemegang Surat Perintah 11 Maret, atau sebagai Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban –Kopkamtib. Kejadian-kejadian yang mewarnai dualisme kepemimpinan ini nyaris berdampak ke tingkat akar rumput, sehingga terjadi benturan-benturan dan konflik politik yang membahayakan persatuan bangsa.

Kiprah dalam PPP

Setelah NU melakukan fusi bersama partai lain ke dalam PPP, maka kader politik yang sudah matang seperti Nuddin Lubis tentu sangat dibutuhkan. Apalagi berdarakan perolehan suara NU pada Pemilu 1971, yang merupakan ranking kedua setelah Golkar, bisa dibayangkan NU saat itu merupakan partai yang sangat besar dibanding partai Islam yang lai. Karena itu layak kalau NU memimpin partai yang lain dalam fusinya ke dalam PPP. Dibawah kepimpinan KH Bisri Sansuri PPP semakin besar dan berwibawa, sehingga kader seperti Nuddin Lubis, Cholik Ali, Yusuf Hasyim dan sebagainya bisa bermanuver secara cantik dalam pentas politik nasional melawan kedholiman Orde Baru.

Sebagai partai Islam dengan tegas PPP menolak RUU Perkawinan yang sekular, sebagai warga NU demngan tegas menolak monopoli penafsiran Pancasila dan menolak UU Politik yang tidak demokratis. Karena itu dengan skuat yang kuat termasuk di dalamnya ada Nuddin Lubis NU melakukan walk out ketika persoalan krusial itu diangkat ke sidang DPR. Sementara unsur yang lain dalam PPP berdiam diri.

Berpuluh tahun menjadi anggota DPR/MPR ini berarti Nuddin Lubis orang paling lama mewakili Partai NU, dan kemudian Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Ketika empat partai Islam yang berfusi ke dalam PPP, secara otomatis Nuddin menjadi anggota PPP. Ketika PPP dipimpin oleh HMS Mintaredja dan HJ.Naro, Nuddin Lubis menjabat sebagai Wakil Ketua Umum DPP PPP. Tahun 1982, terjadi kemelut di dalam tubuh PPP karena agresifitas unsur lain yang berfusi, membuat sejumlah nama tokoh NU dipelantingkan dari nomor kecil ke nomor sepatu dalam daftar calon pemilu. Namun Nuddin Lubis mampu bertahan, hingga tetap menduduki jabatan Wakil Ketua DPR/MPR.

Ketika kemelut itu berkecamuk kalangan PBNU tetap menggunakan Nuddin Lubis ebagai mediator, terutama setelah walk out itu antara unsur NU dan lainnya retak, sementara PPP harus segera Solid untuk menghadapi Pemilu berikutnya yakni Pemilu 1982, karena itu NU mengutus Nuddin Lubis sebagai ketua Fraksi Persatuan Pembangunan untuk mengadakan ishlah dan rujuk yang diadakan pada 6 Maret 1980 yang diadakan di Hotel Syahid. Islah tersebut ternyata mampu mempererat kembali fusi PPP. Kemampuan berkomunikasi dan keterbukaannya itu membuat ia mudah diterima berbagai kalanagan.

Keluarga besar

Dari pernikahannya dengan Hj.Dumasari Nasution itu, ia dikaruniai 10 orang putera-puteri. Mereka adalah Zulfikar Lubis, Yusnaini Lubis,Zulhana Lubis, Zulkifli Lubis, Zuraida Lubis, Zaini Musa Lubis, Masdulhaq Lubis, Syahrizal Lubis, Yusnina Sari Lubis dan Fadlansyah. Dari 10 putera puterinya itu dikaruniai belasan cucu. Nuddin Lubis wafat Mei tahun 2000 di Jakarta setelah menderita sakit beberapa pekan.

Rangkaian panjang perjuangannya hingga duduk menjadi Wakil Ketua DPR/MPR H.Nuddin Lubis dianugerahi sejumlah bintang jasa oleh Negara. Dia berhak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, namun ia tetap meminta agar dimakamkan di pemakaman umum Tanah Kusir Jakarta Selatan.

H . A. Baidhowi Adnan

Wartawan senior, Wakil Ketua LTN-PBNU
__._,_.__

Tiurlan Basaria Sitompul


Nama:
Tiurlan Basaria Hutagaol, Sth, MA

Tgl Lahir:
9/05/1946

Suku Bangsa:
SUMUT

Agama:
KRISTEN PROTESTANTiurlan Hutagaol

Pendidikan Umum:
SLTA Malang (1964)
Ak.Adm Negara DIY (1967)
S1 STT Firman Hayat Ujung Pandang (1970)
S2 STT Doulos Jakarta Bidang Pastoral Konseling (1999)
S3 STT Doulos Jakarta Bidang Pastoral Konseling (2003)

TOTALITAS PENGABDIAN
HIDUP DIJALAN TUHAN

“Kulihat awan seputih kapas
Arak berarak dilangit luas
Kutahu tuhan ada disana kurindu datang
Kepada tuhan”

Sebait lirik lagu yang mengagungkan tuhan, diucapkan dari bibir seorang Tiurlan Basaria Sitompul yang merindukan kasih tuhan, dan seolah-olah mencerminkan perjalanan hidupnya yang selalu ingin dekat dengan tuhan yesus.

Kesan sosok tegas, penyabar, penuh kasih terhadap masyarakat kecil mencerminkan sosok keibuan di mata semua orang yang dekat dengan Tiurlan.

Tiurlan kecil menghabisi masa kanak-kanaknya di Ponorogo, seperti kita tahu, Ponorogo dikenal dengan julukan kota reog, karena daerah ini merupakan tempat lahirnya kesenian reog, yang kini menjadi ikon wisata Jawa Timur.

Setiap tanggal 1 Muharam Suro, kota Ponorogo diselenggarakan Grebeg Suro yang juga merupakan hari lahir Kota Ponorogo
“Kami sangat rukun persaudaraannya, sampai heran ibu saya bagaimana sampai mendidik kami ini bisa rukun-rukun saja,”kata perempuan kelahiran Ponorogo 9 Juli 1946.

Karena semasa kecilnya dilewati di Ponorogo, pendidikan sekolah dasar hingga sekolah menengah atasnya dilalui di daerah reog tersebut. Tiur dikenal orang yang pandai bergaul dan tidak canggung berteman dengan semua orang, karena pandai bergaul dirinya banyak dikenal oleh anak-anak pejabat pemerintah, bupati bahkan dokter.

Meskipun orang tua Tiurlan dikenal sebagai pimpinan Bank di daerah Ponorogo, dirinya serius mendalami seni tari maupun budaya setempat didaerah Jawa. “Disitu ada pendidikan budaya masyarakat ponorogo jadi saya menguasai banget tari bondan, serimpi, gamelan, dan saya juga mendalami banyak adat istiadat pulau jawa. Jadi kota dan ponorogo dengan reog baik budaya, tuturkata, melekat dengan baik dalam diri saya,”papar ibu yang memiliki 4 orang anak ini.

Saking cintanya sama tari-tarian, Tiur sudah mengenal berbagai tari sejak umur 5 tahun, bahkan saat itu, dirinya sudah mulai menunjukkan kebolehannya dihadapan Presiden RI Soekarno, saat berkunjung di Kabupaten Ponorogo. Hal itu memungkinkan dikarenakan status orang tuanya sebagai Kepala Bank di wilayah Ponorogo. “Peristiwa itu membuat saya bangga dan besar kepala sehingga kemudian saya belajar tari lainnya seperti tari Lenso hingga pernah menjadi juara Jawa Timur di Wilayah Surabaya,”katanya dengan nada bangga.

Sesudah Mahasiswa, dirinya semakin tenggelam dengan dunia tari menari dan dirinya pun telah menemukan keasikan di dalam pergelaran tari Opera atau drama kristen. Saat itu dirinya ingin menunjukkan perpaduan gembala-gembala dipadu dengan budaya setempat. “Sekarang kalau gembala dari sunda datangnya gimana, kalau gembala dari ponorogo itu datangnya eok, sumatera bagaimana,”terangnya.

Menurutnya, perbendaraan tari itu merupakan sarana bergaul dengan anak kecil, anak muda, dewasa orang tua. Itu adalah senjata sama dengan ketrampilan perempuan untuk kelengkapan senjata dalam bergaul dimana-mana itu dihormati dan dipuji.
Karena Pujian dan penghormatan merupakan musik didalam hidupnya. Menurut Tiur untuk dipuji dan dihormati oleh orang maka harus melengkapi diri dengan berbagai ketrampilan perempuan. “Saya senang sekali dikagumi dan menderita apabila dicuekin kalau saya dicuekin orang maka saya akan cari orang yang mengagumi saya,”kata Tiur sambil bercanda menanggapi ketrampilannya yang beraneka macam tersebut.

Selepas sekolah menengah atasnya, Tiurlan melanjutkan pendidikannya di Akademi Administrasi Negara (AAN) Yogyakarta karena dorongan dan kecintaannya terhadap seni dirinya kemudian merangkap sebagai mahasiswa seni dan film dibawah didikan Kusmah Sujarwadi dan juga Maruli sitompul sebagai guru atau dosen dibidang acting.

Keseriusan seorang Tiur, akhirnya berbuah manis, bakat berpadu dengan kecerdasan serta kepandaian membuat dirinya menjadi salah seorang pemain terbaik aktris dari teater drama saat itu. Karena bakatnya mulai membuahkan hasil manis dan sesuai dengan kecintaannya terhadap seni tari akhirnya dirinya melanjutkan sekolah di Akademi Teater dan Film (ATF) di Provinsi Bandung seusai menikah hingga lulus menempuh pendidikan teater dan film ditempat tersebut.

“Salah satu teman saya saat itu adalah Hidayat dan Nani Wijaya yang menjadi rekan bermain teater, bahkan Dedi Soetomo saat itu kita bisa saling gentian menyutradarai pentas drama,”terang perempuan bergelar doktor dari Daulos, Jakarta ini.

Salah satu yang menonjol dari seorang Tiur adalah kemampuannya komunikasinya dihadapan jemaat dan masyarakat sekitar. Bakat tersebut sudah terlihat semenjak dirinya aktif di kegiatan kemahasiswaan. Semasa kuliah dirinya pernah menjuarai lomba deklamasi untuk seluruh mahasiswa Indonesia.

Selain seni dan budaya, kecintaan terhadap tuhan rupanya sudah terpatri dalam hidup Tiurlan kecil. Semenjak berumur 17 tahun, bahkan dirinya sudah mengajar disekolah minggu. Sekolah minggu merupakan pendidikan usia dini di gereja.

Semasa kecil dirinya juga sudah bertekad menjadi pendeta bahkan disaat waktu senggang, dirinya seringkali senang jika menyapu gereja dan apabila ada pendeta bercerita tentang sosok Samuel yang dipanggil kesisi tuhan. Tiur kecil tiba-tiba memacu sepedanya sekuat tenaga kemudian menuju sumur dan berusaha menimbahkan air untuk pendeta. “Perasaan saya saat itu seolah-olah saya menjadi Samuel, dan apabila saya duduk di lapangan begitu ada jajaran langit merasa bahwa langit itu merupakan alas kaki allah dan merasakan kerinduan yang besar terhadap tuhan,”paparnya.

Seusai menyelesaikan pendidikan akademi teater dan film, karena dorongan hati akhirnya Tiurlan melanjutkan pendidikan teologi hal itu semata-mata untuk berjuang dijalan tuhan. Dia merasa ketika itu pengetahuan dan ilmunya tidak sesuai dengan kebutuhan jemaat. “pendidikan teologi saya bertujuan memenuhi kebutuhan jemaat yang mengagumi saya agar mereka tidak kecewa didalam pelayanan saya terhadap mereka,”tutur Tiurlan dengan bangga.

Dirinya juga tertarik dalam bidang perbaikan kesejahteraan perempuan karena banyak sekali perempuan yang terpuruk membuat dia terdorong merubah nasib kaum perempuan yaitu dengan pengembangan kepribadian, seperti masak memasak, salon, tata rias dan sebagainya.

Sebagai seorang istri polisi, Tiurlan dikenal aktif dalam organisasi bhayangkari dan mengabdikan dirinya untuk masyarkat sekitar dengan mengembangkan pendidikan kepribadian seperti membuka salon yang dapat digunakan meningkatkan ketrampilan bagi para perempuan. “Saya juga pernah diangkat oleh depdiknas menjadi penatar nasional, karena pada saat itu kurikulum belum teratur karena belum mempunyai kurikulum. Saya bersama teman saya ahli kecantikan mulai menyusun kurikulum dari dasar, terampil hingga mahir sampai dengan penatar nasional sehingga kurikulum tersebut dapat menjadi suatu ilmu yang dapat dipelajari dan disebarluaskan kepada masyarakat,”terangnya.

Berjuang Bagi Perempuan
Tiurlan dikenal sebagai pemerhati perempuan Indonesia, dengan bekal ilmu dibidang ketrampilan seperti kecantikan, masak-memasak maupun pengembangan kepribadian, dia telah membuka cakrawala perempuan Indonesia sehingga dapat memperoleh pekerjaan yang lebih baik dibandingkan sebelumnya. Hal tersebut bertujuan meningkatkan taraf hidup perempuan Indonesia sehingga dapat mandiri membantu para suaminya.

Melalui ketrampilannya dan aktivitasnya didunia seni maupun pelayanan terhadap jemaat membuat dirinya dikenal oleh semua orang. Awal perjuangan Tiur di Dewan bermula saat perjumpaannya dengan salah seorang pendiri Partai PDS Ruyandi Hutasoit. Saat itu dirinya diajak untuk bergabung dan berjuang melalui bendera Parpol.

Perjuangan Tiur tidak sia-sia, pada periode 2004 dirinya dipercaya menjadi caleg untuk Provinsi DKI Jakarta yaitu Dapil I, Jakarta Utara dan kepulauan seribu yang dikenal sulit dan bahkan mustahil dirinya menjadi seorang anggota DPR. Karena kepribadian dan karakternya akhirnya masyarakat mempercayai dirinya untuk duduk sebagai wakil rakyat.

“Saya salah satu perintis PDS dari mulai tidak punya gedung kemudian saya berjuang hingga dicalonkan di Dapil I Jakarta Utara dan kepulauan seribu, karena sudah ada dipelayanan di daerah tersebut kurang lebih 30 tahun lebih melayani jemaat, akhirnya saya mendapat pengagum dari jemaat saya hingga mereka mempercayakan saya sebagai anggota DPR,”katanya dengan nada bangga.

Kecintaan dirinya untuk mengabdi kepada nusa dan bangsa juga tidak terlepas dari sang Suami yang pernah 2 periode menjabat sebagai anggota Dewan. Jabatan pertama melalui Fraksi ABRI (saat itu) dan kemudian periode selanjutnya melalui Partai Golkar. “Jadi melihat suami saya bisa menjadi anggota DPR kenapa saya tidak bisa,”katanya.

Tiur selalu berpedoman dalam mengerjakan permasalahn bangsa harus dilakukan secara bersama-sama, kebersamaan golongan itu sangat diperlukan dalam mengerjakan sesuatu. Menjadi seorang anggota dewan, prinsipnya harus sudah memiliki cukup materi sehingga tidak boleh dirinya mencari uang dalam memperkaya dirinya karena sudah menjdi orang yang matang.

Ruyandi Hutasoit


Lahir di Bandung, Jawa Barat, 28 Januari 1950; umur 59 tahun) adalah Ketua Umum Partai Damai Sejahtera dengan masa bakti sejak pendirian partai tersebut hingga sekarang.

Dr. Ruyandi Hutasoit

Ruyandi merupakan anak bungsu dari enam bersaudara. Ayahnya adalah Manixius Hutasoit (alm), yang pernah menjadi Sekjen P & K dan Bapenas, sekaligus salah satu tokoh Parkindo, berasal dari Sumatera Utara. Ibunya adalah Raden Mantria (alm), yang semasa hidupnya dipercaya untuk memimpin beberapa lembaga, antara lain menjadi Ketua Mata Indonesia, Ketua Perwari, Ketua Kowani, Ketua Keluarga erencan Nasional, berasal dari Bandung, Jawa Barat.

Ruyandi menyelesaikan studi kedokteran di UKI pada tahun 1980. Setelah menikah dengan Dra. Ophelia Hutasoit, alumni Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, asal Minahasa, pada tanggal 31 Oktober 198, ia kemudian meneruskan pendidikan pascasarjana dalam bidang urologi di Free Universitas Amsterdam pada tahun 1986-1988. Pada tahun 1996 ia memperoleh gelar Spesialis Urologi (Sp.U) dari Unversitas Indonesia dan Master of Art (MA) bidang Pastoral Konseling dari STT Doulos Jakarta.

Ruyandi mempunyai visi kemanusiaan tinggi dan jauh ke depan, khususnya dalam masalah narkotika. Di Yayasan Doulos, sebuah yayasan Kristen yang dipimpinnya sejak tahun 1984, dibentuk Bidang Perawatan yang menangani kasus penyalahgunaan narkoba dan gangguan jiwa. Untuk jasanya ini, Panitia Penyelenggaraan Penganugerahan Tokoh Peduli Narkoba Nasional, yang diketuai oleh Prof. Dr. A. Mone, disetujui oleh Dr. Sudirman, MA, Sp.Kj, Direktur Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) Jakarta, menetapkan beliau sebagai salah satu tokoh yang memenuhi kriteria untuk menerima penghargaan Tokoh Peduli Narkotika Nasional 2001.

Demikian juga dalam bidang pendidikan dan peningkatan kesejahteraan, Dr. Ruyandi Hutasoit memimpin Yayasan Bersinar bagi Bangsa, yang peduli terhadap terhadap keterpurukan terhadap kondisi bangsa ini, generasi muda bangsa ini mendapatkan kesempatan untuk dapat terus mencicipi bangku pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga tinggi melalui kerja sama yang ada, yakni POTA (Pelayanan Orang Tua Asuh), yang bekerja sama dengan UNICEF. Saat ini jumlah mereka yang menerima beasiswa dari POTA ada 2.300 siswa. Bekerjasama dengan UKI dalam hal ini Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Bersinar bagi Bangsa memberikan beasiswa bagi mereka yang terpanggil untuk dididik menjadi guru dalam bidang studi matimatika, biologi, fisika yang sangat dibutuhkan saat ini. Sementara itu, melalui Bidang Pra Sejahtera, yayasan ini juga membantu kelompok prasejahtera, seperti para tunawisma dan pengamen jalanan, meningkatkan taraf hidup mereka melalui berbagai ketrampilan dan juga menyediakan klinik pengobatan gratis.

Sadar akan arti pentingnya informasi yang benar dan akurat dalam kehidupan sehari-hari, ia menjadi pimpinan Tabloid Jemaat Indonesia, yang setiap minggunya menyuarakan suara-suara kenabian yang ditujukan tidak hanya kepada umat, tetapi juga kepada para pemimpin bangsa ini. Selain itu, berita-berita seputar permasalahan yang dihadapi umat yang seringkali tidak diekspos secara proporsional dan transparan oleh media massa lainnya, dipaparkan secara utuh melalui laporan investigasi langsung atau oleh laporan para koresponden di berbagai daerah.

Kepiawaiannya dalam hal kepemimpinan terbukti dengan kepercayaan yang diberikan untuk duduk sebagai Ketua II dari Persekutuan Injili Indonesia (PII) pada tahun 1988, sebuah lembaga Kristen yang menaungi 86 sinode gereja dan 117 lembaga/yayasan. Periode 1998 – 2002, pada Kongres Nasional VII PII di Bali, Ruyandi, terpilih menjadi Ketua II bidang Yayasan. Juga pada tingkat nasional, kepercayaan diberikan kepadanya sebagai Ketua Jaringan Doa Sekota (JDS), sebuah jaringan terbesar di 113 kota yang ada di Indonesia. JDS merupakan salah satu bidang dalam JDN (Jaringan Doa Nasional) yang dipimpin oleh DR. Iman Santoso. Dalam JDN sendiri, Ruyandi menduduki posisi Sekretaris Umum pada tahun 1999-2001.

Ruyandi juga dipercayai untuk menjadi Ketua Prayer Comittee pada SEACOE (South East Asia Conference on Evangelism) yang bekerjasama dengan Billy Graham Evangelism Association.

Di antara setumpuk tanggung jawab yang ada sebagaimana telah disebutkan di atas, dalam kesehariannya beliau bekerja sebagai ahli bedah urulogi RS UKI, dan juga dosen FK UKI. Di STT Doulos Jakarta, selain sebagai ketua, beliau juga mengajar beberapa mata kuliah, antara lain: okultisme, pemetaan rohani dan keluarga kristen. Ia juga sering diundang sebagai pembicara seminar di berbagai daerah.***

Ruhut Sitompul SH


Ruhut
Siapa yang tidak kenal Ruhut Sitompul SH. Pria kelahiran Medan 24 Maret 1954. Sebelum terpilih menjadi wakil rakyat DPR-RI dari Partai Demokrat, pria yang sering berkuncir ini meraih gelar Sarjana Hukum, dari Fakultas Hukum Universitas Padjajaran Bandung, tahun 1979.
Semasa mahasiswa, Ruhut terlibat dalam setiap kegiatan mahasiswa diantaranya: Latihan Kepemimpinan Mahasiswa DM UNPAD Bandung tahun 1977; Penataran P4 Pemuda Tingkat Nasional Angkatan IV di Cibubur. Jakarta Timur tahun 1982; Pendidikan Kader Golkar Tingkat Nasional Angkatan IV di Cibubur. Jakarta Timur tahun 1983; Lokakarya Pola Pembinaan Kader Nasional di Pandaan Jawa Timur tahun 1983; Pekan Orientasi Ketahanan Nasional Angkatan IX di Ragunan, Jakarta Selatan tahun 1983; Penataran P4 untuk calon Manggala di Istana Bogor, tahun 1984; Penataran Karakterdes Golkar angkatan I, tahun 1984.
Pengalaman organisasi
Purna Caraka Muda Indonesia Ketua Biro Malaysia, 1982 ;
IKPPI DKI Jaya (Alumni pertukaran pemuda ke luar – negeri ;
ASEAN 1982; Jepang 1984; PBB USA-New York, tahun 1989) ;
KNPI Dati I DKI Jaya, ketua Biro Pendidikan dan kaderisasi, periode 1982-1985 ;
FKPPI PD IX DKI Jaya, ketua periode 1985-1988 ;
FKPPI PP Dewan Pertimbangan periode 1991-1994 ;
Golkar Dati II, Jakarta Selatan, Wakil Sekretaris, periode 1984-1989 ;
Golkar Dati I DKI Jaya, Ketua Biro Pendidikan dan Kursus-Kursus, periode 1989-1994 ;
DPP KNPI, Ketua periode 1990-1993 dan periode 1993-1996 ;
DPP Pemuda Panca Marga, Dewan Paripurna, periode 1994-1997 ;
DPP IKADIN, Komisaris periode 1995-2000 ;
DPP Pemuda Pancasila Wakil Ketua Presidium 1996-2001 ;

Advokat antara lain:
Advokat-Penasihat Hukum SK. Menteri Kehakiman A 1267 KP 04.13.82 di Jakarta tahun 1982 ;
Penatar BP-7 DKI. Jaya SK. Gubernur No. 102, tahun 1983 ;
Manggala BP-7 Pusat. Kepres. RI No.111/M/tahun 1984 ;
Pernah bergabung dengan “JPRT” Associates 1988-1993;
Dalam kasus-kasus tertentu bergabung dengan Kantor Pengacara Yapto S. Soerjosoemarno, SH & Associates, dan dipimpin Rd. Yapto S. Soerjosoemarno, SH ;
Membentuk Law Office Ruhut Sitompul & Associates tahun 1993 sampai sekarang ;

Perkara-Perkara Menarik Perhatian Masyarakat Yang Pernah Ditangani

Menangani perkara harta peninggalan Keluarga Alm.TD.Pardede, di Pengadilan Negeri Medan, dengan hasil perdamaian antara seluruh ahli-waris ;
Selaku Kuasa Hukum Mustika Adjie Pramana v.s. Johanes Kotjo Budisutrisno, yang pada akhirnya diselesaikan secara damai.
Selaku Penasihat Hukum Penduduk Pantai Gili Trawangan/sekitar 100 Kepala Keluarga yang berhadapan dengan Pemerintah Daerah Lombok Barat yang akan mengambil alih tanah yang ditempati penduduk dengan tujuan dijadikan Kawasan Wisata atau obyek turisme. Pengambilalihan tersebut tidak mendapat persetujuan masyarakat yang diwakili oleh RUHUT SITOMPUL & ASSOCIATES. Kasus ini akhirnya dapat diselesaikan dengan cara damai.
Selaku Penasihat Hukum Sdr. Hans Wowor dalam kasus bobolnya Hongkong Bank di Jakarta sebesar Rp. 18.000.000.000,- (delapan belas milyar rupiah) dengan laporan melakukan pemalsuan perintah tranfer dana, yang sebelum perintah itu dilaksanakan telah dilakukan test key oleh Pelapor dan kemudian tranfer disahkan, dilaksanakan, dilaporkan pemalsuan. Kasus ini sedang dalam proses Pengadilan ;
Selaku Kuasa Hukum sembilan (9) orang dari sebelas (11) ahli waris Keluarga S.R. Sampetoding di Ujung Pandang mengenai harta peninggalan Alm. S.R. Sampetoding yang semasa hidupnya telah bekerjasama dengan PT. Astra Agro Niaga. Pada saat ini sedang dalam proses Pengadilan ;
Selaku Penasihat Hukum Bpk. Yorris Raweyai, seorang tokoh pemuda, dimana dalam perkara ini Pengadilan Negeri menjatuhkan Putusan Bebas Murni bagi terdakwa ;
Selaku Penasihat Hukum Tersangka Opiu, yang didakwa melakukan Pembunuhan atas diri Nyo Beng Seng. Pada saat ini masih dalam proses Pengadilan ;
Selaku Penasihat Hukum dari Oki dalam kasus Pemalsuan Paspor, yang sekarang ini didakwa melakukan pembunuhan 2 (dua) orang warga negara Indonesia dan 1 (satu) orang warga negara India di Los Angles-Amerika Serikat ;
Bertindak selaku Kuasa Hukum Ny. Hajjah Rita Siti Chasanah, yang sedang berperkara melawan Tamara Nilakanti.

Pengalaman:
Mengadakan penelitian hukum dan penyuluhan hukum kepada para narapidana pada sembilan Lembaga Pemasyarakatan di Pulau Nusakambangan, kerjasama Departemen Kehakiman RI dan Fakultas Hukum UNPAD Bandung, tahun 1979 ;
Mengikuti program pertukaran Pimpinan Pemuda baik pada tingkat regional maupun pada tingkat internasional, karena termasuk dalam sepuluh besar terbaik peserta Penataran P4 Pemuda tingkat nasional angkatan IX tahun 1982 ;
Peserta Terpadnassus LEMHANAS khusus bagi Manggala BP-7 Pusat, tahun 1985 ;
Pelatih Inti Simulasi BP-7 Pusat khusus bagi Manggala, 1986 ;

Kantor:
Apartemen Griya Pancoran, Lt. II Unit 2A, komp. Five Pillars, Jl. Raya Pasar Minggu , Jakarta Selatan. Telp: 7944706 / 7947334. Fax: 7944706.
E: mail; ruhutstp@indo.net.id
Sumber: http://home.indo.net.id/~ruhutstp/index.htm

 

DR Muchtar Pakpahan S.H, M.A,


Lahir:
Pematang Siantar,
21 Desember 1953.

Pendidikan
SD di Pematang Siantar
SMP di Pematangsiantar
SMA Pematangsiantar
S1 (Sarjana Hukum) dari Universitas Sumatera Utara, Medan 1981
Magister Ilmu Politik dari Fakultas Pascasarjana Universitas Indonesia, Jakarta 1989
Gelar Docktor Ilmu Hukum dari Universitas Indonesia, Jakarta 1993

Karier
Memulai karier sebagai reporter Sinar Harapan edisi Sumatera Utara (1975 – 1976)
Ketua BPC GMKI Medan 1978-1979
Praktek pengaca mulai 1978
Dosen Fakultas Hukum Universitas HKBP Nomensen, Medan 1981-1986
Sekretaris Eksekutif Unit Bantuan Hukum Universitas HKBP Nomensen, Medan 1982 – 1984
Menjadi Advokat sejak 1985
Dosen Fakultas Hukum UKI, Jakarta 1988 – 1990
Ketua Jurusan Hukum Tata Negara Fakultas Hukum UKI Jakarta 1988 – 1990
Sekretaris Eksekutif di Lembaga Penyadaran dan Bantuan Hukum Forum Adil Sejatera 1990 – 1994
Ketua DPP PIKI 1989 – 1993
Konsultan Hukum di Astra Graha
Dosen Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945, Jakarta 1990 – 1994
Ketua Umum DPP Partai PBSI, sejak 1992 – Sampai sekarang.

Karya
Buku berjudul
Menarik Pelajaran dari Kedung Ombo – 1990
Menuju Perubahan Sistim Politik – 1994
DPR Semasa Orde Baru – 1994
Potret Negara Indonesia – 1995
Potret Negara Indonesia jilid 2 – 1996.

Sumber: Buku “Rakyat Menggugat II”

Alamat
Dewan Pengurus Pusat Buruh Sejahtera Indonesia (Indonesia Prosperity Trade Union Central Board)

Sekretariat: Jl Taman Pulo Asem Utara No. 16, PuloGadung, Jakarta Timur 13220 Telp. (021) 4891457
Fax (021) 4707416

Potret Negara Indonesia jilid 2 – 1996.
Sumber: Buku “Rakyat Menggugat II” Icon Gerakan Buruh Indonesia
pakpahan-dalem
Sebagai pioner dalam berbagai pergerakan, Muchtar Pakpahan adalah sosok yang patut diperhitungkan para sahabat dan para saingannya di negeri ini. Walau sebagian kalangan Ia dianggap radikal dan idealis. Misalnya, dalam “Pemilu 2004” Ia membuat gebrakan, tanpa tendeng aling-aling mempersiapkan lobang kuburan dan peti jenazah. Bersumpah, kelak jika ia terpilih menjadi pemimpin bangsa ternyata jika melakukan korupsi.

Maka, Ia rela mau dikubur hidup-hidup demi memberantas korupsi. Hal ini serupa dilakukan perdana Menteri RRC yang membuktikan dengan cara itu menggurangi para pejabat RRC dari korupsi. Walau terkesan radikal, namun justru karena demikian Ia makin perlu dihargai.

Pria asal Pematangsiantar ini, adalah sosok sederhana. Sebagai anak pertama yang ditinggal mati orang tuanya, ketika mereka dan adek-adeknya masih kecil-kecil. Muchtar bangkit mengemban tanggung jawab sebagai tulang punggung keluarga sembari kuliah di Fakultas Hukum di USU Medan, pulang kuliah Ia menarik becak.

Sejak mahasiswa pun bakatnya sudah terasah menjadi Ketua BPC GMKI Medan 1978-1979. Ia memulai karier dari bawa sebagai reporter Sinar Harapan edisi Sumatera Utara. Dari sana semangatnya tumbuh membela kaum terpinggirkan.

Muchtar memulai praktek pengacara mulai 1978, sekaligus Dosen di Fakultas Hukum Universitas HKBP Nomensen, Medan 1981-1986. Lalu kemudian menjadi Sekretaris Eksekutif Unit Bantuan Hukum Universitas HKBP Nomensen, Medan 1982 – 1984. Akhirnya 1985 Muchtar pindah Menjadi Advokat sejak 1985. Dosen Fakultas Hukum UKI, Jakarta 1988 – 1990. Ketua Jurusan Hukum Tata Negara Fakultas Hukum UKI Jakarta 1988 – 1990.

Sekretaris Eksekutif di Lembaga Penyadaran dan Bantuan Hukum Forum Adil Sejatera 1990 – 1994. Berlanjut lagi menjadi Ketua DPP PIKI 1989 – 1993. Setelah itu Ia menjadi Konsultan Hukum di Astra Graha. Dosen Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945, Jakarta 1990 – 1994. Dan sosok ini teralhir mendirikan Partai Buruh Sosial Demokrat sebagai Ketua Umum DPP Partai PBSD, sejak 1992 – Sampai sekarang.

Buku berjudul. Menarik Pelajaran dari Kedung Ombo – 1990
Menuju Perubahan Sistim Politik – 1994. DPR Semasa Orde Baru – 1994. Potret Negara Indonesia – 1995

Konsep Welfare State
Pakpahan sebagai Ketua DPP PBSD, tahu jelas apa yang dibutuhkan negara ini, dengan merangkumnya menjadi visi PBSI “Welfare State”. Sebagai Alumnus Doktor Universitas Indonesia tidak merasa janggal buatnya mendirikan Partai Buruh Sosial Demokrat. Missi besar partai yang menempatkan dirinya sebagai calon presiden (Capres) ini adalah menciptakan Indonesia sebagai negara Welfare State. Secara singkat, Welfare State berarti negara menjamin kesejateraan rakyatnya. Kesejateraan rakyat itu esensial meliputi tujuh hal.

Pertama, pendidikan wajib gratis bagi anak hingga SMA.
Kedua, Negara menjamin biaya hidup bagi pengangguran dalam bentuk tunjangan sosial.
Ketiga, negara menyelenggarakan dana pensiun bagi seluruh rakyat Indonesia yang berumur diatas 60 tahun bisa melalui hari tuanya dengan baik.
Kempat, Negara menyelenggarakan jaminan rawat inap bagi lapisan masyarakat.
Kelima,Negara menyelenggarakan sebuah sistim sehingga semua orang bisa memiliki rumah dan terjangkau.
Keenam, negara wajib memilihara anak-anak terlantar dan cacat.
Terakhir, Negara menjamin kebebasan beragama, beriman dan berkeyakinan.

Menjadi partai baru dalam pemilu memang serba dilematis. Di satu sisi, partai baru ini tidak mendapat kursi apa-apa. Namun, ia tetap berjuang diantaranya demo pada bulan Mei lalu Ia tetap menjadi sosok pejuang melawan kemapanan. Padahal, justru partai baru dianggap darah baru yang mampu memberikan harapan baru. Namun, di sisi lain, Mucthar dan partainya meski baru relatif sedikit publik yang mengenal sepak terjang partai ini. Tetapi tidak demikian Ia dan partainya surut.

Muktar Pakpahan dan partainya mengelar Munas taggal 29 Mei sampai 1 Juni 2006. Walaupun Partai ini dideklarasikan pertama di Pekanbaru, Riau. Namun, Munas kali ini akan diselenggarakan di Pondok Gede, Jakarta. Dan Ia dielu-elukan tetap menjadi ketua umum.

Menurutnya, hal yang terbaik untuk mengubah buruh dengan meningkatkan kemampuan dalam memperjuangkan nasibnya melalui organisasi buruh. Contohnya, serikat buruh seluruh Indonesia (SBSI) yang didirikan oleh Mucthar Pakpahan, dibawah SBSI buruh, diberikan pelatihan, dilatih berdebat secara sopan dan baik. Sesuai dengan etika Indonesia.***Hojot Marluga

Humuntar Lumban Gaol, Ir


humuntar_lumban_gaol

Biodata
Nama : Ir. Humuntar Lumban Gaol
Lahir Tapanuli, 08 Januari 1938
Agama : Kristen Protestan
Alamat: Jalan Taman Duta II UF 23, Pondok Indah Jakarta Selatan
Nama Orang Tua: Lodewik Lumban Gaol
Status: Berkeluarga dengan enam anak
Nama Istri : Mari Siregar
Lahir 9 Mei 1943
Nama Anak: (1) Eva Natalie Lumban Gaol, DBA
(lahir 19 Desember 1967)
(2) Febrian Lumban Gaol, SE. (lahir 24 Pebruari 1969) (3) Daniel Lumban Gaol, SE (lahir 11 Pebruari 1970) (4) Henry Lumba Gaol SE (lahir 26 mei 1971) (5) Ir Roberto Lumban Gaol SE (lahir 24 November 1974) (6) Ir Rosari Magdalena Lumban Gaol, S.H (lahir 13 Maret 1979)
Pekerjaan : Pensiunan Pegawai Negeri, NIP. 060031410
Pangkat: Pembina Utama Muda/IV E

Pendidikan
A. Sekolah SD
Tahun 1951 Tahun 1954 Tamat SMP
Tahun 1957 Tamat SMA
Tahun 1964 Tamat Sarjana Pertanian, dari UGM

B. Lain-lain
Seminar on Agricultural Policy di USA selama 2 bulan mendapat Sertifikat Tahun 1971
Study of the English Languenge di Georgetown, University USA, 12 s/d 30 Juli 1971
Konferensi Pangan Dunia (World Food Conference) di Roma, Tahun 1973
Regional Seminar for Asia Agricultural Credit for Small Farmers di Bangkok, Tanggal 7 Oktober 1974 s/d 17 Oktober 1974
Konferensi Pangan Dunia di Roma, Tahun 1975
Menghadiri Undangan dari Cotton Council Internasional dalam rangka Fact Fiding di USA, tanggal 31 Agustus 1976
Studi Pengembangan Holtikultura dan Pemasarannya di Thailand, Hongkong dan Sinapura, Tahun 1986
Seminar on Dairying a Tool for Rural Development oleh FAO di Denmark, tanggal 21 September s/d Oktober 1986
Konferensi Nasional dan Internasional yang Diselenggarakan Dalam Negeri

II Pekerjaan:
A. Di Dunia Usaha
1. Direktur Utama PT Gerbang Wida Nusantara
2. Presiden Komisaris PT Saferto Adhimanta
3. Komisaris PT Foresta Taranstek

B. Di Pemerintahan
4. Staff Produksi BPU, Perusahan Perkebunan Dwikora, Sumatera Barat. April 1965-Juni 1966
5. Pemimpin Proyek Pemasaran BPU Perusahaan Perkebunan Dwikora Sumatera Barat. Juli 1966- Mei 1968
6. Kepala Sub. Bagian Penelitian dan Analisa Perkembangan dan Penggunaan Produksi Nasional dan diperbantukan SPRI Menteri Keuangan, Departemen Keuangan Juni 1970
7. Sebagai Officials Masalah-Masalah BIMAS, Pengadaan Beras, Tim PL- 480 oleh Menteri Keuangan 27 Pebruari 1970
8. Kepala Bagian Penelitian dan Counterpant pada Biro Perencanaan, Sekretaris Jenderal Departemen Keuangan Juli 1972
9. Kepala bagian Penelitian dan Konterpan pada Biro Perencanaan dan Penelitian , Sekretaris Jenderal Departemen Keuangan Oktober 1974
10. Kepala Bagian Evaluasi Teknis Ekonomis Sekretaris Direktorat Jenderal Moniter, Departemen Keuangan Oktober 1974
11. Direktur Urusan Pangan dan Penerimaan Bukan Pajak, Direktorat Jenderal Monitor Dalam Negeri, Departemen Keuangan 29 Agustus 1978
12. Asisten III Menko Ekuin dan Pengawasan Pengawasan Bidang Produksi, Distribusi dan Kependudukkan Maret 1984
13. Diperbantukan Sebagai Staff Ahli Kepada Sekretaris Pengendalian Operasi Pembangunan Februari 1989
14. Inpektur Jenderal Pembangunan Bidang Pembanguan Desa Tahun 1994-1998
15. Pesiun Tanggal 8 Januari 1998

C. Di Kegiatan Sosial
16. Anggota Koppri

B. Dunia Usaha
1. Ketua Konpartemen Pertanian KADIN Indonesia
2. Wakil Ketua Umum (Gabungan Asosiasi Perusahaan Pegerjaan Logam dan Mesin Indonesia (GAMMA)
3. Ketua Presidium Masyarakat Mekanisasi dan Agroindutri (MMAI)
4. Deputy Chairman Japan Industri Committee
5. Dewan Penasehat Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI)
6. Dewan Penasehat Assosiasi Perusahaan alat dan Mesin Pertaniaan Indonesia (ALSINTANI) Dewan Penasehat Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (PERPADI)
7. Ketua Assosiasi Industri Rekondisi Mesin dan Peralatan Pertanian Indonesia (AIRMEPI)
G.Sosial Kemasyarakatan
20. Ketua HKTI (Himpuanan Kerukunan Tani Indonesia)
21. Ketua Komisi Keuangan dan Usaha di UKI (Yayasan UKI)
22. Ketua YPTI (Yayasan Pengembangan Tehnologi Indonesia)
IV JABATAN LAINNYA
1.Ketua Badan Pengawas Badan Pembangunan Gedung Bulog
2. Ketua Badan Pengawas Proyek Pembangunan Proyek Pergudangan di Sunter
3. Ketua Pengawas Pembangunan dan Pengelolahan Proyek Pergudangan Pemerintah di Cakung
4. Sekretaris Proyek Pergudangan Bulog
5. Ketua Pengawas Pergudangan di Medan
6. Ketua dan Pengawas Sekretaris Proyek Pembangunan Pergudangan Garam Stock Nasioanal
7. Ketua Direksi Pelaksanaan Proyek Pembangunan Perkantoran (Rental Office pada Proyek Pergudangan Pemerintah Cakung tahap II
8. Ketua Direksi Proyek Pergudangan Lantai Jemur dan KIOS (GLK-KUD)
9. Ketua Direksi Budi Daya Ikan dan Udang
10. Ketua Direksi Proyek Pengembangan Koperasi di Bidang Pool Bis Perusahaan pengangkutan Jakarta.
11. Ketua Direksi Pelaksanaan Proyek Pengembangan Koperasi Peternakan
12. Ketua Pelaksana Proyek Bis Kota
13. Ketua Tim Pembina dan Pengembangan KUD Karet
14. Ketua Penelitian Subsidi Administrasi dan Investasi Unit Desa Bank Rakyat Indonesia untuk Program BIMAS
15. Anggota Komisi Pengendalian dan Pengawasan Sarana Lepas Panen Bagi PUSKUD/KUD
16.Anggota Panitia Pengarahan untuk Pengkajian Masalah Pelaksanaan Pembangunan di Indonesia
17. Anggota Tim Peneliti Harga Pokok dan Harga Penyerahan Benih yang Berasal dari Penangkalan Perum Sang Hyang Seri dan PT Tani
18. Ketua Penelitian dan Tim Harga Penyerahan Pestisida yang Berskala dari produksi formusasi dari dalam negeri maupun Imfor
19. Ketua Penelitian penyelesaian Tunggakan Kredit BIMAS Risk Sharing dan Puso
20. Ketua Penelitian Harga Bahan Pokok Eks Produksi PN Garam dan Eks Produksi Garam Rakyat
21. Ketua Tim Negoisasi untuk Penilaian Harga Penggilingan pada dalam rangka mengambil alih perusahaan pada pabrik pengilingan padi kasus kredit macet
22. Ketua Merangkap anggota Tim Penelitian Stock Biji Gandum dan Tepung Terigu dalam Proses pada Pabrik Pengilingan Biji Jangung Dalam Negeri
23. Ketua Merangkap Anggota Tim Penelitian Harga Pokok Benang Tenun Eks Produksi Patal-Patal Dalam negeri
24. Sekretaris Merangkap Anggota Tim Penelitian Pengunaan Anggaran Kredit Bulog
25. Anggota Tim Penasehat dan Penyelesain Utang PT Mantrust dan Anak Perusahannya
26. Anggota Tim Teknis Subsidi Pemerintah
27. Anggota Tim Penilai Pengunaan Bantuan PL 480 dari Amerika Serikat
28 Anggata Tim Penilai Pengunaan Bantuan Luar Negeri Bersubsidi
29. Anggota Tim Negoisasi Pengelolahan Penawaran Pembangunan Proyek Gedung Kantor BULOG
30. Ketua Merangkap Anggota Tim Penunjukan dan Badan Pengawasan Pembangunan Proyek Pembangunan Kantor BULOG
31.Ketua Peneliti Pembangunan Gudang Beras BULOG
32. Anggota Tim Rekonsiliasi antara Pihak Pemerintah Indonesia dengan Amerika Serikat dalam Hubungan Gudang Beras BULOG
33. Anggota Forum Pangan
34. Wakil Ketua Komputerisasi Keuangan BULOG
35. Ketua Merangkap Anggota Tim Penelitian Harga Pokok dan Harga Pupuk Urea Eks Produksi PT Pusri PT Pupuk Kujang dan Pupuk TSP EKS Produksi PT Petro Kimia Gersik
36.Ketua Group Kerja Tim Koordinator Peningkatan Pengembalian Kredit Program Massal (Inpres Nomor 10 tahun 1981)
37. Anggota Tim Pengendalian Usaha Perikanan KUD di Departemen Perdanganggan dan Koperasi
38. Ketua Tim Stock Nasional Garam
39. Ketua Tim Stock Nasional Cenggkeh
40. Anggota Dewan Komisaris Perum Pengembangan Keuangan Koperasi (Perum PKK)
41. Anggota Komisaris PT (Persero) Inshutani-II
42. Ketua Kelompok Kerja Tenaga Kerja
43. Ketua Tim Teknis Pembinaan dan Pengembangan Usaha KUD
44. Ketua Tim Koordinator Penyelidikan Kredit Koperasi KUD
45. Pengarahan pada Proyek Koordinator Perumusan dan Pelaksanaan Pembangunan di Bidang Pertanian
46. Anggota Forum Koordinasi BIMAS
47. Anggota Pengendalian Operasi Khusus Terpadu Maduma
48. Anggota Forum Koordinator Peralatan Pertanian Pra dan Paska Panen

V. Tanda-Tanda Penghargaan
1. Bintang Jasa Utama
2. Satylancana Karya Satya XX Tahun
3. Piagam Penghargaan dari Menteri Keuangan Republik Indonesia

Sumber: Hotman J Lumban Gaol

Sukur Nababan


Ir. Sukur Nababan. Dilahirkan di daerah Sumatera Utara, berjibaku di

Ir. Sukur Nababan

Metropolitan bertemu dengan beragam kultur dan budaya, membuat saya tahu bahwa kebhinekaan adalah suatu yang mutlak, Nasionalis. Saya hanya ingin mengabdikan sisa hidup saya untuk rakyat, bersama rakyat kita bangun negeri. Ir. Sukur Nababan, Caleg PDIP untuk DPR RI daerah Pemilihan Bekasi Depok. Mohon Doa Restu.

Sebelumnya saya tidak pernah tahu apa itu Politik. Sepanjang hidup saya habiskan untuk bekerja dan membangun imperium bisnis. Dulu saya beranggapan bahwa politik adalah sesuatu yang penuh dengan kecurangan dan tidak mengenal belas kasihan. Tapi semuanya berubah, ketika saya mulai menyadari ketika saya sering berkunjung ke daerah pelosok-pelosok Nusantara, di ceruk-ceruknya saya jumpai kenyataan yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan. Sekumpulan Manusia yang hidup jauh dari jangkauan kesejahteraan.

Disisi lain, idelogi sebuah kelompok seakan menghalalkan penindasan dan penistaan kelompok lainnya. Aku terpana dengan segala carut marut wajah negeriku. Yang lebih mengiris hati, saya ternyata abai dengan kondisi dimana tempat saya tinggal, Kota Bekasi.

Pilkada Kota Bekasi 2008, adalah titik dimana saya mulai bersentuhan dengan ranah politik. Adalah seorang calon Wali Kota Bekasi, Mochtar Mohamad, menawarkan sebuah konsep politik kekuasaan yang berlandasan pada falsafah memperjuangkan nasib rakyatnya. Bahwa kebutuhan mendasar bagi masyarakat Kota Bekasi adalah aspek pendidikan dan kesehatan. Mochtar menawarkan Pendidikan dan Kesehatan pendidikan gratis manakala ia terpilih kelak.

Saya juga dibuat terpana dengan ide tentang rumusan Bhineka Tunggal Ika yang dengan menjadikan Bekasi sebagai miniaturnya. Keberagaman harus dijaga, perbedaan mesti dirawat untuk menjadi modal dasar membangun negeri, setidaknya dimulai dari Kota Bekasi.Dan bersama-sama kami berjuang untuk memenangkan Pilkada Kota Bekasi, Puji Tuhan Mochtar terpilih menjadi Walikota Bekasi periode 2008-2013.

Semenjak itu, persentuhan saya dengan Mochtar semakin intens.Dari situ saya mulai memahami aspek perjuangan politik memiliki peran yang sangat signifikan untuk merubah sistem keindonesiaan menuju masyarakat yang dicita-citakan. Gayung bersambut, Mochtar seolah membaca perubahan cara pandang saya terhadap politik, dan menawarkan sebuah ruang perjuangan untuk saya geluti, yaitu menjadi calon anggota DPR RI dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) untuk daerah pemilihan Kota Bekasi dan Kota Depok. Setelah saya renungi dan mempertimbangkan matang-matang untung ruginya. Juga membicarakannya dengan istri dan keluarga besar saya, berdiskusi dengan teman-teman dekat. Akhirnya saya putuskan untuk menerima tawaran Mochtar.

Saya memaknai politik bukan tujuan untuk memenuhi hasrat pribadi saya pribadi. Toh, semua sudah saya miliki. Tapi bagi saya politik adalah alat, yang dapat menggerakkan, menghimpun dan mengarahkan kekuatan rakyat ke arah cita-cita besar bersama. Meskipun saya paham betul, bahwa perjuangan itu memerlukan waktu, tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Namun saya sudah membulatkan tekad untuk bertarung dengan sungguh-sungguh untuk meraih kemenangan, bukan kemenangan saya, tapi kemenangan seluruh rakyar Kota Bekasi dan Depok.

Saya mulai mengumpulkan teman-teman yang memiliki pemikiran yang sama dengan saya. Kami bertemu, berkumpul, merumuskan sebuah strategi gerakan suksesi. Kemudian kami menyepakati Ruko Sun City Bekasi sebagai dapur gerakan, tempat dimana semua ide diramu dan dimasak. Kami mulai dari Kali Malang Untuk Membangun Peradaban.

sumber:http://www.sukurnababan.com/tentang-saya/

IR SUKUR NABABAN – MENGABDI KEPADA HKBP
Namanya tiba-tiba mencuat dalam kehidupan politik Kota Bekasi pascapilkada. Namun, sangat sedikit orang yang tahu siapa Ir Sukur Nababan sebenarnya. Ia hanya dikenal sebagai Manajer Persipasi Kota Bekasi. Padahal, dialah salah seorang tokoh kunci di balik kemenangan Wali Kota Bekasi Mochtar Mohamad-Rahmat Efendi. Dia pula konseptor Konser Tapal Batas yang sempat menghebohkan kota gabus itu.

ukur Nababan adalah sosok yang rendah hati, selalu merunduk, dan tidak mau membuka diri kepada publik. Setiap kali ditanya apa pekerjaannya, ia hanya menjawab, main dan jalan-jalan. Itu juga yang membuat Mochtar Mohamad (Wali Kota Bekasi saat ini) sempat bingung ketika berkenalan dengan Sukur, pertengahan November 2007.

“Pekerjaan saya adalah memberi semangat untuk sukses kepada orang lain,” kata Sukur sambil tersenyum.
Sukses, sebuah kata sederhana, namun didambakan semua orang agar terwujud dalam kehidupan nyata. Kalau sudah mengenal pribadinya, banyak orang bersyukur bila berhadapan dengan Sukur. Ia adalah motivator ulung, tak pernah mematahkan harapan orang lain.

“Setiap orang dilahirkan untuk sukses, masalahnya adalah seberapa siap Anda untuk menjadi orang sukses,” katanya.
Kalimat itu selalu diucapkannya dengan tatapan tajam, dan gerak tubuh yang ekspresif diiringi intonasi yang tegas, mantapm penuh percaya diri. Kalimat dan ekpresinya seolah menjadi mantra mujarab untuk membangkitkan semangat lawan bicaranya. Ribuan hati orang telah tergerak untuk mengubah nasib setelah mendengarkan Sukur bicara.

Dia menjelaskan, ada tiga parameter kesuksesan, yaitu kemandirian ekonomi, kesehatan, dan dicintai oleh orang lain. Orang sukses, menurut Sukur, selalu menggunakan akalnya untuk mencari solusi atas beragam permasalahan dan kemudian mengerjakannya. Sementara orang gagal, selalu menjadikan masalah sebagai alasan untuk lari terbirit-birit.
“Tapi yang terpenting adalah seberapa berarti hidup Anda bagi orang-orang yang Anda cintai,” kata pria kelahiran 14 Oktober 1968 ini.

Kunci untuk menjadi orang yang dicintai adalah pengabdian yang tulus. Sukur berkisah, semangat pengabdian yang ia miliki tidak lepas dari pengaruh keluarga. Orangtuanya yang berasal dari Sumatera Utara adalah seorang guru yang sempat mengenyam pendidikan di Sumatera Barat, tempat Sukur dilahirkan.

Masa kecilnya dihabiskan berpindah-pindah, mengikuti sang ayah yang keluar-masuk hutan di pedalaman Tapanuli untuk mendirikan sekolah. Sukur sendiri mengaku tidak ingat berapa banyak sekolah yang telah didirikan oleh ayahnya, namun yang pasti bekas murid sang ayah kini banyak yang menjadi orang.

Otaknya yang encer sudah terlihat sejak kecil. Semasa sekolah ia selalu menjadi juara. Tak heran jika ia dengan mudah melenggang ke Fakultas Teknik Mesin Universitas Sumatera Utara. Untuk membiayai kuliah dan hidupnya, Sukur nyambi menjadi guru les privat agi siswa SMA. Darah pendidik dan pengabdian yang diwarisi sang ayah rupanya mengalir deras di tubuhnya.

Selepas kuliah, ia mengadu peruntungan di Jakarta. Kemampuan dan tempaan perjalanan hidupnya menjadi modal meraih puncak kesuksesan. Berkat jiwa mandiri yang tertanam kuat, keuletan dan tangan dinginnya, dalam jangka waktu tidak berapa lama, Sukur akhirnya menjadi pengusaha sukses, sekaligus motivator yang kerap diundang di berbagai daerah untuk menyebarkan semangat pantang menyerah.

Selalu ingin memberi dan menjadi yang terbaik, kerja keras, serta kemauan kuat untuk sukses adalah rumus yang selalu ditularkan Sukur kepada setiap orang yang ingin sukses. “Pada dasarnya setiap orang dilahirkan menjadi petarung, tidak peduli berapa kali Anda jatuh, tapi yang terpenting bagaimana Anda segera bangkit ketika terjatuh,” kata Sukur.

Baginya sukses yang diraih adalah anugerah dari Tuhan. “Setiap orang tidak boleh melupakan Tuhan, karena apa yang kita miliki ini adalah pemberian dari Tuhan. Manusia hanya berencana, Tuhan yang menentukan,”ujarnya singkat.

Sebagai ucapan sukur kepada Tuhan, suami dari Agustina br Silaen dan ayah dari Grace Nababan ini tidak pernah menolak ketika ada gereja yang minta dibantu. Bahkan, seringkali ia memberi bantuan kepada gereja tanpa ada permintaan.
“Kalau kita punya, harus kita bantu. Apa yang kita miliki ini adalah milik Tuhan,”katanya.

Walau begitu, sebagai umat nasrani, tidak cukup baginya membantu gereja atau setiap minggu ke gereja, tapi harus terlibat langsung di dalamnya. Bagi Sukur, mengabdi kepada gereja, akan mendapat berkat lebih banyak dari Tuhan. Sehingga jangan menyia-nyiakan waktu kalau ada kesempatan untuk terlibat.

Pengabdian itu sudah ia tunjukkan selama ini kepada Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) melalui berbagai macam acara. Namun paling berharga dan berkesan dalam hidupnya ketika Sukur Nababan bersama beberapa orang lainnya terpilih sebagai pengurus Badan Usaha HKBP, Minggu (11/1). Para pengurus ini dilantik langsung Ephorus HKBP Pdt Dr B Napitupulu di gereja HKBP Sutoyo Jakarta di hadapan ribuan umat HKBP.

“Mengabdi kepada HKBP bukan ingin mencari popularitas. Sudah saya lakukan sejak beberapa tahun lalu. Bahkan saya berjanji akan selalu mempersatukan umat kristiani dimanapun berada. Itu sebabnya, tahun 2008 lalu saya bersama teman-teman sengaja menyelenggarakan Natal bersama di Kota Bekasi. Kami undang bukan hanya satu gereja, tapi semua gereja yang ada di wilayah itu. Dan nyatanya mendapat respon positif. Itu terlihat dari jumlah pengunjung yang hadir di stadion sepakbola Bekasi. Wali Kota Bekasi, Mochtar Mohamad dan beberapa anggota DPR Pusat juga hadir,” kata Sukur.

Selain itu pria berpenampilan kelimis ini juga memperhatikan nasib penyanyi asal Batak. Untuk membantu perekonomian dan popularitas penyanyi Batak, Sukur Nababan sengaja merekam suara beberapa penyanyi untuk dijual melalui Indonesia CreativyTechnology Production.

Nama-nama penyanyi yang sudah melahirkan album dari perusahaan tersebut adalah Dewi Marpaung dengan album Putus Sikkola, Ester Simbolon Sapata ni Ilukki, duet spektakuler Jack Marpaung dan Dewi Marpaung, Trio Nazaret, album spektakuler All For One dengan sedereta penyanyi.
“Ini salah satu cara untuk membantu mereka. Semoga bantuan yang saya berikan itu sangat berguna bagi keluarganya masing-masing,” pintanya.

Jika tahun ini Ir Sukur Nababan terjun ke politik sebagai Caleg DPR-RI dari PDI Perjuangan dengan Nomor Urut 2 dari daerah pemilihan Kota Bekasi dan Depok, semua itu hanyalah sebagai alat perjuangan dan pengabdian kepada masyarakat. Sebab, baginya politik bukan sebagai tujuan hidup apalagi untuk mengejar kepentingan pribadi.

Panggilan nuranilah yang membuat Sukur semakin yakin untuk menghabiskan waktunya demi perbaikan kehidupan rakyat, di samping menjalani bisnisnya yang telah mapan, sekaligus juga telah membantu jutaan orang memiliki motivasi hidup dan kehidupan yang lebih baik.

Bagi kalangan pelaku bisnis dan politik khususnya di Kota Bekasi dan Depok, Sukur bukanlah orang baru. Kesuksesan dunia bisnisnya telah dikenal. Walau dunia politik baginya hal baru, namun perkembangan politik tidak pernah luput dari pengamatannya.

sumber: http://batakpos-online.com/content/view/4419/47/

Wawancara Ir.Sukur Nababan, Anggota DPR-RI Fraksi PDI Perjuangan

Oleh: Hotman J. Lumban Gaol

Sukur Nababan politisi baru, namun sejumlah gebrakannya diingat orang. Termasuk pembelaannya terhadap kasus HKBP Pondok Timur Indah. “Saya bukan hanya membela umat Kristen, tetapi memperjuangkan nasib rakyat,” kata wakil rakyat dari PDIP, ini. Dia memulai karier sebagai seorang profesional. Kemudian melompat menjadi pelaku bisnis, dengan menjalankan bisnis MLM. Awal-awalnya, kala itu, banyak orang termasuk keluarganya menyesali keputusannya. Maklum, jabatan penting di perusahaan yang dicapai dengan penuh perjuangan dan belasan tahun bekerja membanting tulang, tetapi ditinggalkannya.

Sukses di bisnis, menjadi Top Leader nasional bisnis Melia Nature Indonesia. Dia kemudian melirik dunia politik. Bergabung dengan partai PDIP dan terpilih menjadi anggota DPR RI wilayah Depok-Bekasi. Di DPR dia tergolong kristis. Salah satu kritiknya yang dianggap kritis termasuk langkah Menteri Badan Usaha Milk Negara (BUMN) Dahlan Iskan mengganti jajaran direksi perusahaan pelat merah dinilai menabrak hierarki dan undang-undang. “Secara pribadi saya apresiasi Pak Dahlan dengan kepemimpinan yang memutus rantai birokrasi, hanya saja itu tetap tidak menabrak rambu-rambu,” ujarnya.
Dia juga sadar betul, daerah pemilihannya, daerah yang banyak disorot soal kebebasan beragama. Karena itu, setiap calon dari partai yang mengusung kebebasan beragama didukungnya. Beberapa waktu ia berbincang-bincang dengan REFORMATA di  wilayah Barkah, Tebet, Jakarta Selatan. Demikian petikannya:

Di wilayah Jawa Barat oleh berbagai laporan dari lembaga yang konsen tentang kebebasan beragama menilai wilayah ini yang banyak menyiratkan masalah kebebasan beragama. Di pemilihan kepala daerah Jawa Barat, apakah peluang calon dari PDI Perjuangan Rieke Dyah Pitaloka?

Setahun lalu dia datang menemui saya untuk meminta dukungan atas pencalonannya. Hanya satu yang saya tanya yaitu  bagaimana komitmennya tentang kebebasan beragama. Kita sudah kenal dia, Rieke orangnya tegas. Dia dengan tegas berkata bahwa akan tegas terhadap kepala daerah yang menghambat pendirian rumah ibadah. Harus ada kebebasan beragama.

Seringkali janji-janji kampaye itu hanya diucapkan ketika kampanye, tetapi setelah terpilih tidak lagi ingat dengan janjinya?
Bagi saya, yang bisa dipegang dari manusia itu adalah komitmenya. Kata-katanya. Kalau ucapnya tidak pernah direalisasikan berarti itu hanya janji-janji saja. Saya juga kenal Rieke ini, dia adalah orang yang sangat konsern terhadap kepedulian rakyat termasuk memperjuangkan kebebasan beragama. Lalu, yang kedua dia berasal dari PDI Perjuangan satu partai dengan saya tidak mungkin membohongi saya. Partai kami jelas memperjuangkan kebebasan beragama.

Kalau kita melihat di daerah-daerah khususnya Jawa Barat, di pinggiran Jakarta, tingkat penutupan gereja amat banyak?
Kalau kita bicara Bhineka Tunggal Ika, dianggap orang sebagai perbincangan basi. Memang kenyataanyanya kita sepertinya tidak mau menerima perbedaan, padahal perbedayaan itu rahmat, kekayaan kita. Kalau kita membicarakan pendirian rumah ibadah lagi-lagi akar masalahnya adalah Perber. Itu sebabnya sejak dulu saya setuju harus ditinjau ulang. Karena dalam Perber itu, memberikan kekuasaan, memberikan hak menyetujui atau tidak menyetuju agama lain ada. Itu tidak bisa. Inilah yang membuat masalah di akar rumput.
Menurut saya, kebebasan beribadah dan bergama itu adalah hak asasi manusia, yang tidak perlu diatur-atur. Harus diberikan kebebasan bagi setiap orang.

Artinya, negara sebagai pengatur harus juga melihat ini sebagai bagian akar masalah. Tatkala warga yang menentukan rumah ibadah berdiri atau tidak, maka akan terus terjadi diskriminasi. Kaum minoritas akan tertekan tidak bisa mendirikan rumah ibadah. Jadi negaralah yang harus menjamin, memberikan kepastian warganya bisa beribadah dan membangun rumah ibadah. Bukan mengatur, tetapi memberikan jaminan kebebasan beribadah.

Tetapi sering kali pemimpin itu hanya berada di atas golongannya. Hanya memperjuangkan golongannya…
Kita harus sadar negara ini dibangun atas kebersamaan, satu visi. Persatuan Indonesia. Negara ini tidak dibangun oleh sekelompok saja. Jadi kita harus sadar betapa pentingnya semangat kebersamaan itu dipupuk. Saya ragu jika para pemimpin daerah yang hanya memikirkan satu golongan saja tidak akan bisa membawa kemajuan. Dan kalau pemimpin berdiri hanya di atas satu golongan, dia bukan pemimpin. Karena itu, lagi-lagi pemerintah harus sadar betapa banyak orang-orang yang tidak berjiwa memikirkan hajat orang banyak, hanya memikirkan diri sendiri, itu model kepemimpinan daerah sekarang ini. Harusnya masyarakat juga menyadari, siapa pemimpin yang hanya janji kampanye.
Lagi-lagi, menurut saya pemimpin tidak boleh hanya memikirkan satu golongan saja. Pemimpin elit harus membicarakan keutuhan bangsa. Bangsa Indonesia bangsa yang beranekaragam, majemuk dan sistem demokrasi yang modern tidak boleh hanya memikirkan kelompoknya. Tidak bisa diharapkan lagi karena sehebat-hebat seseorang pemimpin jika hanya memikirkan kelompoknya.
Kita harus ingat kita bangsa majemuk tidak bisa mengandalkan seorang pemimpin yang hanya memikirkan kelompoknya, dia harus nasionalis. Seorang pemimpin merupakan orang-orang yang berdiri diata semua golongan. Artinya, pemimpin itu hanya utusan dari golongan tertentu saja, dan tidak mungkin mereka memikirkan bangsa ini pastinya lebih mementingkan golongan saja.

Anda dianggap terlalu berani mengkritik, termasuk kepemimpinan Dahlan yang dinilai melabrak hierarkis?
Sebagai pribadi saya apresiasi Pak Dahlan dengan kepemimpinan yang memutus rantai birokrasi. Tetapi kita berharap tidak menabrak rambu-rambu. Penggantian jajaran petinggi perusahaan  pelat merah tanpa TPA, maka seluruh dampak yang ditimbulkan menjadi tanggung jawab Menteri BUMN. Apakah kinerja perusahaan BUMN itu baik atau buruk itu tanggungjawab menteri.
Menurut saya, penunjukkan langsung juga berpotensi membuat kepentingan kelompok tertentu untuk menjadikan perusahaan pelat motor penghasil uang.   Saya menilai, berdasarkan UU 19/2003 tentang Badan Usaha Millk Negara (BUMN), pergantian direksi perusahaan BUMN harus melalui rapat umum pemegang saham (RUPS) dan Tim Penilai Akhir (TPA).  Dengan SK 263 yang direvisi menjadi tiga SK baru antara lain SK 164, maka Menteri BUMN dinilai sudah melanggar UU. Itu sudah jelas, hierarki surat keputusan menteri dibawah undang-undang.

Apa keberatan Fraksi PDIP terhadap penunjukkan langsung direksi oleh Menteri BUMN, bukan untuk semata-mata ingin dilibatkan dalam proyek BUMN?
Saya tegaskan persepsi itu keliru, bahwa ada anggota DPR yang main proyek saya tidak bisa pungkiri. Nyatanya Menteri BUMN mengganti jajaran petinggi Garuda Indonesia. Emirsyah Sattar dan Elisa Lumbantoruan tetap dipertahankan sementara sisanya diganti. Sementara direksi Pertamina lebih dulu diganti dengan memasukan empat orang baru minus direktur utama Karen Agustiawan di BUMN migas.

Sumber: http://reformata.com/news/view/7115/pemimpin-tidak-boleh-hanya-memikirkan-satu-golongan-saja

Amir Syarifuddin Harahap


Amir Syarifuddin Harahap, Perdana Menteri RI yang Dilupakan
Oleh : Hotman J Lumban GaolAmir Syarifuddin Cover.png (hotm)

15-Des-2008, 16:55:34 WIB – [www.kabarindonesia.com]

KabarIndonesia – Sejarah kerap mencatat bahwa revolusi telah memakan anaknya sendiri. Amir Syarifuddin Harahap (1907-1948), mantan Perdana Menteri ke-2 Indonesia ini menjadi korban revolusi yang turut dia lahirkan. Amir meninggal dengan tragis pada 19 Desember 1948, saat dieksekusi oleh regu tembak bersama sembilan orang tanpa nama.

Tak banyak literatur dan informasi tentang putra Mandailing ini. Itu sebabnya sosoknya tidak banyak yang tahu. Jarang diangkat media. Informasi tentang pejuang ini selalu diberangus. Satu fakta, tahun 1984 Penerbit Sinar Harapan menerbitkan tesis Frederiek Djara Wellem yang diluncurkan di Gedung STT Jakarta, Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat. Buku biografi diberi judul “Amir Syarifuddin; Pergumulan Iman dan Perjuangan Kemerdekaan”. Namun, tidak berapa lama buku itu di-sweeping, dilarang beredar, di masa pemerintahan Soeharto karena dianggap merusak sejarah Indonesia.

Buku itu dianggap sesat. Padahal, dialah salah seorang bapak pendiri bangsa dalam memperjuangkan eksistensi NKRI. Perjuangannya tidak pernah dihargai negara. Pusara, gundukan makamnya, tertulis nisan tanpa nama, di Desa Ngaliyan, Karanganyar, Jawa Tengah. Makam untuk mantan perdana menteri ini tidak seperti sejawatnya, Soekarno, Hatta dan Syharier menerima penghargaan berupa bintang jasa.

Digelari sebagai pahlawan, dan dikubur di makam yang terhormat. Pada 27 Mei 2008 lalu, untuk mengenang jasa-jasanya, STT Jakarta mempelopori seminar bertajuk “Amir Syarifuddin Nasionalis Pejuang Kemerdekaan dan Pembebasan Rakyat”. Tampil sebagai pembicara: Setiadi Reksoprodjo mantan menteri pada kabinet Amir Syarifuddin, Ketua STT Jakarta Dr. Jan .S Aritonang, Aswi Warman Adam dosen sejarah dan peneliti. Seminar dimoderatori Fadjroel Rahman.

Pengkotbah
Amir belia lahir di Tapanuli Selatan 27 April 1907. Ayahnya keturunan kepala adat dari Pasar Matanggor, Padang Lawas, bernama Djamin Baginda Soripada Harahap (1885-1949), mantan jaksa di Medan. Sementara ibunya, Basunu Siregar (1890-1931), lahir dari keluarga Batak-Melayu.

Keluarga ibunya telah berbaur dengan masyarakat Melayu di Deli. Maka, kalau itu ada istilah “Kampak bukan sembarang kampak. Kampak pembela kayu. Batak bukan sembarang Batak. Batak masuk Melayu”. Zaman itu, besar-besaran orang Batak eksodus ke Deli, sebagai pusat perkebunan.

Masa remaja, Amir menimba pendidikan Belanda di ELS setara Sekolah Dasar di Medan sejak tahun 1914 hingga tahun 1921. Tahun 1926 atas undangan sepupunya, T.S.G. Mulia pendiri penerbit Kristen BPK Gunung Mulia yang baru saja diangkat sebagai anggota Volksraad (dewan) belajar di kota Leiden, Belanda mengajak Amir untuk juga sekolah disana.

Di Belanda, Amir aktif berorganisasi pada Perhimpunan Siswa Gymnasium, Haarlem. Selama masa itu pula dia aktif mengelar diskusi-diskusi Kelompok Kristen, di kemudian hari Kelompok Kristen menjadi embrio Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI).

Di Belanda, dua sepupu itu menumpang di rumah seorang guru penganut Kristen Calvinis bernama Dirk Smink. Kristen Calvinisme adalah aliran gereja yang ketat soal doktrin, dari spirit bapak Gereja, John Calvin (1509-1564). Sebenarnya Amir Syarifuddin seorang muslim dan keluarga Muslim. Berpindah agama Kristen saat di Belanda. Dia tidak saja hanya berpindah iman tetapi mendalami agama Kristen sungguh-sungguh.

Tiap hari Minggu turut berkotbah. Kotbahnya selalu menyetuh, dan meneguhkan banyak orang. Paparannya tentang Injil sangat mendalam. Dia adalah penganut agama Kristen yang taat. Terbukti, detik-detik terkhir hidupnya, dia menggengam Alkitab saat ditembak.

Pejuang Pembebasan
Sebuah dokumen Netherlands Expeditionary Forces Intelligence Service (NEFIS), menyebutkan, instansi rahasia yang dipimpin Van Mook, 9 Juni 1947 menulis tentang Amir; “ia mempunyai pengaruh besar di kalangan massa dan orang yang tak mengenal kata takut”.

Pada September 1927, sekembalinya dari Belanda, Amir masuk Sekolah Hukum di Batavia dan tinggal di asrama pelajar Indonesisch Clubgebouw, Kramat nomor 106. Dalam memperjuangkan kemerdekan Indonesia, dia terlibat berbagai pergerakan bahwa tanah.

Tahun 1931, Amir mendirikan Partai Indonesia (Partindo). Lalu, mendirikan Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) sembari menulis dan menjadi redaktur “Poedjangga Baroe”. Berjuang untuk pembebasan dari belenggu penjajah, benih-benih perjuang itu pun makin mekar saat Amir bertemu para tokoh pejuang seperti Mr. Muhammad Yamin, Muhammad Husni Thamrin. Dari sana Amir aktif diskusi Politik Indonesia bersama para tokoh kala itu.

Pada bulan Januari 1943 dia tertangkap oleh fasis Jepang, karena dianggap pemberontak. Kejadian itu membongkar jaringan, organisasi anti fasisme Jepang yang dimotori Amir. Kelak ketika menjadi Menteri Pertahanan, mengangkat para pembantunya yang terdekat, teman-teman satu pergerakan.

Saat menjabat Menteri Pertahanan, Amir tidak sependapat terhadap kebijakan Hatta karena pengurangan jumlah tentara, dari 400 ribu menjadi 60 ribu tentara. Menurutnya, layaknya tentara, satu banding tiga, satu tentara untuk menjaga tiga orang penduduk. Lalu, di Kabinet Sjahrier pada tanggal 12 Maret 1946, Amir Sjarifuddin diangkat menjadi Menteri Pertahanan dari Partai Sosialis, dikemudian hari berafiliasi dengan Komunis.

Tan Malaka dan Kelompok Persatuan Perjuangan menculik Perdana Menteri Sjahrier. Dari Amir menjadi Perdana Menteri. Kala itu, perdana menteri bisa jatuh kapan saja jika tidak didukung parlemen dan partai. Sesudah Amir mangkat, tahun 1950-an, zaman demokrasi parlementer, tujuh kali pengantian perdana menteri terjadi.

Dalam Persetujuan Renville, Amir sebagai negosiator utama dari Republik Indonesia, dianggap gagal. Kabinet Amir Sjarifuddin bubar. Amir mengundurkan diri dengan sukarela dan tanpa perlawanan samasekali, ketika disalahkan atas persetujuan Renville oleh golongan Masyumi dan Nasionalis. Kageriaan itu. Peristiwa pemberontakan Madium tahun 1948 yang memilukan, disebut dilakukan PKI atas restu Amir Syarifuddin, tidak pernah terbukti.

Sepeninggalnya; keluarganya mendapat perlakuan yang tidak sewajarnya. Anak-anaknya mendapat diskriminasi. Untuk makan saja waktu itu keluarga ini harus terlunta-luntah. Salah satu anaknya, Helena, saat ini bekerja di Sekolah Johnny Andrean, mengatakan, masa sepeninggalan sang ayah, hidup mereka terlantar.

Kini, atas bantuan lembaga swadaya masyarakat, Omnes Unum Sint Institut, dan Komisi Hak Asazi Manusia membantu perizinan pembangunan makam tanpa nama itu, kini sudah diperbaiki. Inilah sejarah. Indikasi keterlibatanya pada pemberontakan PKI di Madiun masih samar. Amir dieksekusi tanpa pernah diadili. Divonis tanpa terbukti salahnya di mana. Aswi Warman Adam pengurus Masyarakta Sejarahwan Indonesia menulis, sepanjang hidupnya, dia hidup dari kamp ke kamp. Perjuanganya tidak pernah dihitung.

Abdul Azis Angkat


Politisi Berhati Lembut

Oleh : Mayjen Simanungkalit

04-Feb-2009, 00:23:40 WIB – [www.kabarindonesia.com]

KabarIndoensia – Seolah tidak percaya saja menghadapi kenyataan, bahwa Ketua DPRD Sumut Drs. H. Abdul Azis Angkat MSP telah meninggal dunia. Pasalnya, sebelum memimpin rapat paripurna dewan tentang pelantikan anggota dewan pengganti Antar Waktu (PAW), Selasa pagi, 3 Pebruari 2009 dia tampak segar.

Pagi itu, sambil menelepon dia masih sempat melambaikan tangan kepada sejumlah wartawan unit DPRD Sumut, ketika berjalan menuju ruang paripurna dewan di lantai dua. “Apa kabar Jenderal, amankan?”, katanya sambil berjalan. Bagi kalangan wartawan berpos di DPRDSU, Abdul Azis memang dikenal sebagai politisi berhati lembut. Dia yang akrab dipanggil “Bang Azis”, adalah politisi yang membuka akses sangat luas bagi wartawan. Dia terbuka untuk dijumpai kapan saja dan siap memberi informasi kepada wartawan, tentang berbagai hal.

Terutama informasi seputar tugas dan fungsi legislatif, Bang Azis selalu terbuka. Tapi itulah Drs. H. Abdul Azis Angkat MSP, yang Selasa (3/2) pukul 13.00 WIB kemarin meninggal dunia setelah didemo ribuan massa pendukung Protap. Innalillahi wainna ilaihi raji’un.

Abdul Azis lahir di Sidikalang 10 Januari 1958 dan menamatkan pendidikan SD Zending Islam Medan tahun 1969. Melanjutkan pendidikan ke PGAN 4 tahun, tamat tahun 1973, SP IAIN Medan tahun 1975, sarjana muda IKIP Medan tahun 1979, sarjana IKIP Medan tahun 1982 dan Pasca sarjana Study pembangunan FISIP USU Medan tahun 2005. Abdul Azis memulai karir sebagai dosen di almamaternya Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Negeri Medan yang kini berubah menjadi Universitas Medan (Unimed), namun akhirnya terjun ke dunia politik praktis.

Di saat jutaan orang berebut untuk menjadi pegawai negeri sipil (PNS), dia malah nekad mengundurkan diri. Padahal, saat mundur dari status PNS, golongan kepangkatannya sudah III D, suatu jenjang kepangkatan yang punya prospek dalam karir seorang PNS di Perguruan Tinggi. Dia menjadi Ketua DPRDSU pada 13 Pebruari 2009, melanjutkan sisa priode 2004-2009. Ayah empat orang anak dan suami dari Tiornalis Siregar itu, resmi mundur dari PNS tahun 1997. Banyak orang mengejeknya saat itu. Bahkan di antara rekan satu profesi di Unimed, sempat ada yang menudingnya “gila” karena nekad terjun ke dunia politik praktis. Azis Angkat (50) tidak sakit hati dan tidak pula ragu, sebab sudah menjadi pilihan hidupnya untuk konsentrasi di habitat barunya itu.

Tekad meninggalkan status PNS itu makin kuat, apalagi adanya Peraturan Pemerintah (PP) No 5 dan PP 15 tentang Pegawai Negeri Sipil (PNS), yang tidak membolehkan PNS rangkap jabatan sebagai politisi. “Bagi banyak orang boleh saja menuding saya setengah gila, meninggalkan status PNS yang dari segi jaminan hidup sudah sangat jelas. Namun ini menyangkut pilihan hidup. Saya enjoy di dunia politik,” katanya suatu ketika. JENJANG KARIR Sejak mahasiswa dia sudah terlibat di berbagai organisasi dan menjadi ketuanya. Pernah menjadi ketua Badko HMI Sumut (1980-1982), Wakil Ketua KNPI (1985-1991), dan lainnya.

azis-angkatDalam menggeluti karir di dunia politik, Azis Angkat memulainya dari jenjang paling bawah. Dia masuk ke DPD Partai Golkar Sumut tahun 1985, setelah menjadi pengurus KNPI Sumut. Awalnya dia hanya menduduki posisi ketua biro pendidikan kursus-kursus (1992-1997) di DPD Partai Golkar Sumut. Namun karir politiknya terus berkibar, sehingga tahun 1997 terpilih menjadi anggota DPRD Sumut dan sampai kini masih Sekretaris DPD Partai Golkar Sumut.

Bonar Simangunsong


Laksamana Pertama TNI (Purn) bonar-simangunsong1Bonar Simangunsong

Selalu Belajar untuk Melayani Sesama Lebih Baik

Laksamana Pertama TNI (Purn) Bonar Simangunsong adalah sosok manusia yang selalu ingin belajar. Kisah hidupnya sangat diwarnai proses belajar. Baginya belajar adalah sebuah proses yang terjadi sepanjang hidup. Ia memang telah mengecap sejumlah pendidikan di dalam maupun di luar negeri. Keinginan untuk terus belajar adalah kerinduannya untuk dapat berguna membawa suatu kehidupan masyarakat yang lebih baik dan memberkati orang lain dengan talenta yang Tuhan telah berikan kepadanya. Lulus dari SMA 3B di Setia Budi, Jakarta, ia melanjutkan kuliah di ITB Bandung. Ketika perkuliahan tingkat III terjadi masalah dalam keluarga yang berdampak pada persoalan ekonomi dan pendanaan perkuliahan. Namun masalah itu tidak menghentikannya untuk melanjutkan perkuliahan. Sebuah penawaran beasiswa dari TNI-AL memberikan kesempatan kepadanya untuk dapat terus belajar. Dari sekian banyak pendaftar, pria yang lahir 24 November 1938 ini, satu di antara 20% yang lulus dari seluruh pendaftar.

Walaupun beasiswa telah ia terima, namun itu hanya dapat membantu sebagian dari kebutuhan akedemis. Sementara kebutuhan hidup sehari-hari masih sangat sulit. Namun, pertolongan Tuhan tidak pernah berhenti,” kenangnya. Tiga bulan setelah itu, kembali tawaran datang dari TNI-AL kepadanya sebagai Pelajar Calon Perwira, untuk berkesempatan kuliah di luar negeri yaitu di Uni Soviet. Suatu tantangan yang ia inginkan untuk dapat berkunjung dan berkuliah di luar negeri, yang semasa kecilnya hanya dapat dibayangkan dan dibaca melalui buku-buku dan film. Dan pada tahun 1967 ia lulus dari Odessa Polyrechnical Institute dengan menyandang gelar Msc. Sebuah harapan yang Tuhan genapi di luar jangkauan dan kehendak manusia.

Sekembalinya dari Uni-Soviet, ia diterima di TNI-AL sebagai perwira Letnan Satu (Lettu). Ia pun sempat mengajar di Universitas Trisakti. Di masa dinasnya ini ia bertemu dengan seorang gadis Tapanuli, bernama Elizabeth Leistriana Siahaan, yang cantik dan juga yang mengasihi Tuhan. Maklum, gadis itu puteri pendeta W. Siahaan Perintis Gereja Pentakosta di Tapanuli. Mereka menikah pada tahun 1973 dan dianugerah tiga anak laki-laki.

Pada tahun 1974, kesempatan pendidikan di Amerika terbuka pula baginya sebagai mahasiswa bidang komputerisasi pertahanan di Monterey, California, AS. Saat itu ia sebagai dosen di Univesitas Kristen Indonesia. Masa pendidikan di Amerika memberikan wawasan baru dalam melayani bangsa dan negara Indonesia yang yang ia cintai ini.

Setelah lebih dari sepuluh tahun berdinas di lingkunagan TNI-AL, Bonar Simangungsong telah menjadi Letnan Kolonel (Letkol). Lalu kembali ia mendapat kesempatan dari Dephankam untuk belajar di Australia untuk mendapatkan sertifikat dari lembaga pendidikan staf dan kepemimpinan bergengsi di negeri itu yakni AACS. Lembaga ini dikenal meluluskan orang-orang terbaik di bidangnya. Setelah itu, empat tahun kemudian, lagi-lagi Dephankam memberikan kepercayaan baginya mengikuti pendidikan SESPA sebuah pendidikan bertaraf nasional sebagai pelengkap AACS. Ia pun lulus SESPA sebagai peringkat pertama. Berbekal pendidikan SESPA dan AACS tentulah ia seorang perwira yang profesional dan berwawasan kebangsaan dan internasional.

Kemudian tahun 1986, Bonar Simangungsong diundang untuk mengikuti pendidikan di Amerika Serikat di bidang Pendidikan Manajemen Pertahanan Internasional (IDMC). Di lembaga pendidikan ini, ia talah mengikuti pendidikan komputerisasi pada tahun 1973. Kali ini peserta IDMC datang dari berbagai negara seperti Jepang, Korea Selatan, Australia, Jerman, Kuwait, Saudi Arabia, dan negara-negara Asia Pasifik lainnya. Ia adalah perwakilan dari Indonesia.

Kisah pendidikan Bonar bukan hanya itu. Pada tahun yang sama ia menyelesaikan kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Negara Lembaga Administrasi Negara (STIA-LAN) dan memperoleh gelar Doktorandus. Selepas itu, ia pun mengajar sebagai staf dosen di situ. Sepanjang kariernya ia telah mengikuti bermacam-macam pelatihan, seminar, simposium, dan pendidikan lain yang ada di dalam dan luar negeri. Pengabdiannya kepada negara yang telah ia jalani puluhan tahun telah menempatkan dirinya sebagai salah satu tokoh pionir komputerisasi di TNI-AL dan Dephankam. ”Semua itu adalah bekal untuk melayani Tuhan dan sesama,” tuturnya bersyukur.

Perubahan Besar

Pada saat Bonar berusia 51 tahun, tepatnya tahun 1989, secara tiba-tiba terjadi perubahan besar pada diri dan keluarganya. Tahun 1989 itu merupakan tahun pertobatan, sebagai tunrning point kehidupan rohaninya. Peristiwa ini terjadi akibat kematian anak bungsunya Gurindo Tri Wahyu Simangunsong pada usia 16 tahun. Kepergian Gurindo mencelikan mata rohaninya akan kemahakuasaan Allah sekaligus Kasih-Nya. Katanya, Tuhan berhak memberi dan mengambil”. Proses pertobatan ini bukanlah terjadi dengan sendirinya, namun juga oleh ketabahan isterinya tercinta yang terus mendoakan dan setia berharap bahwa Tuhan dapat menjamah sang suami. Pertobatan ini membawanya untuk melayani Tuhan dengan sungguh-sungguh. Dan karena ketetapan hatinya untuk melayani itu teruji Tuhan meggunakannya, sehingga dengan mujizat yang dari Tuhan, ia dipercayakan untuk bergabung dengan Dewan Pertahanan dan Keamanan Nasional sebagai anggota penyusun GBHN dan segala bentuk pengkajian tingkat Nasional untuk Presiden RI.

Pekerjaan tangan Tuhan tidak berhenti di situ saja, setelah diangkat dengan SK Mensekneg sebagai anggota penyusun GBHN dan berpangkat kolonel, di tahun 1992 oleh keputusan Presiden RI, ia pun diangkat menjadi Laksmana Pertama (Laksma TNI) dengan jabatan Eselon I. Ia pensiun sebagai perwira TNI-AL pada usia 55 tahun (1993) dan pesiun sebagai penjabat pemerintah pada usia 60 tahun (1998)

Kerinduan dalam melayani Tuhan, semakin memantapkannya untuk mencurahkan pehatian dalam membantu sesama. Ia melayani di gereja GBI sejak tahun 1989, dimulai sebagai petugas seksi dan mempelopori persekutuan di Wanhankamnas dan di dua jemaat GBI. Kemudian setelah setia selama 8 tahun melayani, gereja mengangkatnya sebagai pendeta muda yang membina koordinasi staf ahli GBI. Tiga bulan sebelum masa pensiunnya sebagai pejabat pemerintah, ia di angkat sebagai ketua umum Forum Komunikasi Kristiani Jakarta (FKKJ) yaitu sebuah forum komunikasi antar gereja-gereja Jakarta yang berasal dari berbagai aliran gereja seperti, Katolik, Advent, Bala Keselamatan, Baptis, Ortodoks, Protestan, Pentakosta dan Injili. Forum ini berdiri berdasarkan kesadaran kesatuan Tubuh Kristus dan kesatuan Iman melalui kesaksian Roh Kudus.

Pada tahun 2000 lalu, ia diangkat sebagai pendeta oleh sinode GBI selaku anggota Badan pembinaan Rohani Sinode dan sebagai wakil ketua umum Asosiasi Yayasan untuk Bangsa (AYUB). Dan yang paling mengejutkan, di usianya yang ke-62 ia masih menyempatkan kuliah bidang teologia di Institut Filsafat Teologia dan Kepemimpinan Jafrray (IFTKJ) serta kuliah di Universitas Terbuka bersama isterinya. Secara ekonomi dan karir gelar tidak ada artinya, tetapi dapat memberikan motivasi kepada anak-anak dan siapapun, bahwa proses belajar tidak pernah berhenti sampai mati, tuturnya. Saat ini ia tetap aktif sebagai Pendeta di sinode GBI dan membantu Menteri Kelautan dan Perikanan selaku kordinator Pokja Penyusunan Sistem Hukum Kristiani dan sebagai Widyaiswara bagi Diklat kepemimpinan TK II serta SPAMEN.

Refleksi

Sebagai seorang perwira tinggi yang bertobat dan hidup dalam Kristus, Bonar Simangunsong dalam beberapa kali pertemuan menguraikan Refleksi Kristiani dalam Bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara Indonesia.

Dalam hal Refleksi Kristiani dalam Bermasyarakat, Bonar mengatakan bagi seorang pengikut Kristus yang kodratnya manusia sosial, hidup dalam bermasyarakat harus menjadi garam seperti yang Tuhan Yesus ajarkan (Matius 5:13). Yaitu menjadi garam bagi sekelilingnya, apapun agama orang lain itu. Demikian juga pada saat yang sama harus menjadi terang dunia (Matius 5 :14).

Kehidupan sosial seorang Kristen adalah bersekutu dan saling tolong menolong, bahkan menganggap milik pribadi menjadi milik bersama dan mereka disukai orang lain (Kis. 2:44-47).

Kalau umat Kristiani menjadi garam, maka sifat garam yang memberi rasa sedap, umat ini pun dapat memberi rasa suka cita kepada orang lain, bahkan mereka yang sedang stres, tertekan dan menderita apapun asal-usul, profesi atau agama orang tersebut. Ibarat garam yang larut tidak kelihatan dalam makanan yang digarami, umat Kristen dengan kasih Yesus yang ada padanya larut tidak kelihatan identitasnya, tetapi terasa kehadiran umat tersebut di tengah-tengah orang lain dan rasa nyaman pun terjadi.

Manfaat lain dari garam adalah mencegah pembusukan, mencegah kehancuran makanan yang digarami. Maka, menurut Bonar, umat Kristiani dapat bertindak seperti itu. Larut mencegah angkara murka, kebencian, keirihatian dan sebagainya. Tentu dengan pertolongan Tuhan.

Dengan perkataan lain, manusia Kristiani harus bergaul dengan masyarakat sekelilingnya, jangan ekslusif, jangan arogan atau menempatkan diri lebih tinggi dari orang lain. Sebagai terang dunia Umat Kristiani dan lembaga-lembaga Kristiani harus menjadi contoh, suri tauladan, taat pada peraturan perundang-undangan, tidak melakukan KKN memberi sumbangan pemecahan pada sekelilingnya yang penuh dengan kegelapan, menguak yang tersembunyi yang jahat melalui terang tersebut yaitu kuasa Roh Kudus.

Dalam Alkitab, Tuhan mengajarkan hidup sebagai masyarakat lebih banyak dari pada sebagai bangsa, karena di dalam masyarakatlah muncul pribadi-pribadi, kehidupan sehari-hari, kegiatan-kegiatan dan interaksi sosial. Tentu ini berhubungan dengan perbuatan yang baik atau jahat, berkat atau dosa. Oleh karena itu umat Kristiani dinilai lebih banyak sebagai anggota masyarakat daripada sebagai bangsa.

Refleksi Berbangsa

Bangsa Indonesia terdiri dari suku-suku bangsa yang mendiami pulau-pulau dari Sabang sampai Merauke ditambah dengan etnik lainnya yang datang ke Indonesia dan menetap tinggal di negeri ini. Sebenarnya suku bangsa yang disebut asli inipun, juga datang dari negeri lain, seperti dari Yunan di dekat Kamboja, maka yang benar-benar asli tidak ada. Keberagaman suku dan etnik tersebut yang bersatu menjadi bangsa Indonesia, terkenal dengan Bhinneka Tunggal Ika, suatu heteroginitas yang tinggi, namun dapat bersatu. Pernyataan kebangsaan ini dicanangkan dalam Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 oleh para pemuda yang terdiri dari Yong Jawa, Yong Batak, Yong Sunda, Yong Ambon, Yong Aceh, Yong Bornea, Yong Celebes dan sebagainya, yang bersumpah satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa, Indonesia. Sayangnya pada saat itu hanya suku yang muncul, agama tidak.

Penjajahan Belanda, mendorong masyarakat dan rakyat dari Sabang sampai Merauke untuk bersatu melawan penjajahah, apalagi dengan adanya sependeritaan dan senasib yang kemudian mengkristal, sehingga masyarakat tersebut membentuk diri menjadi bangsa.

Satu hal yang patut diingat bahwa Tuhan menetapkan bila manusia bersatu (satu bangsa, satu nusa dan satu bahasa), maka manusia menjadi kuat dan apapun yang direncanakan akan terlaksana (Kejadian 1 1:6) seperti yang terjadi di Babel itu yang kemudian Tuhan mengacaukan bahasa mereka, agar tidak bersatu. Tuhan tidak menginginkan mereka bersatu, karena melawan Tuhan.

Bagi umat Kristiani yang menjadi bagian integral dari bangsa seperti bangsa Indonesia, harus memahami hal ini, dan ikut serta membangun bangsanya, agar kuat dan maju. Nilai persatuan dan kesatuan sering dikumandangkan di bumi Indonesia, bukanlah sekedar retorika pidato, tetapi sesuai Firman Allah. Wawasan Nusantara adalah doktrin persatuan dan kesatuan Indonesia, bersama-sama dengan Bhinneka Tunggal Ika sebenarnya suatu pijakan ampuh untuk membangun bangsa dan harus menjadi pegangan juga bagi umat Kristiani membangun bangsa Indonesia. Maka sebagai bagian integral dari bangsa Indonesia, umat Kristiani tidak boleh eksklusif dan tidak hidup sendiri tanpa memperhatikan bangsanya.

Refleksi Bernegara

Alkitab mengajarkan tentang kenegaraan sebagai berikut: (1) Harus jelas wilayah dan batas-batas negara; (2) Harus ada peraturan perundang-undangan; (3) Harus ada pemimpin negara dan aparat; (4) Pemerintah harus demokratis; (5) Harus ada pembagian tugas yang jelas; (6) Rakyat mempunyai rasa kebangsaan. Oleh karena itu, bagi umat Kristiani bukan hal asing bernegara dan bahkan karena ada pedoman di AIkitab, mereka harus menjadi warga negara yang baik. Seperti kata Tuhan Yesus, berikanlah kepada Kaisar apa yang menjadi haknya. Dalam hal ini pengertian Kaisar adalah Pemerintah, yang dipimpin Presiden, seperti Indonesia, atau Perdana Menteri, seperti Kanada. Pengertian hak Kaisar, hak Pemerintah, sangat luas, meliputi hukum, politik, ekonomi, penegakan hukUm tentara dan sebagainya, tidak hanya pajak.

Kalau menyandingkan teori kenegaraan dari Alkitab dengan fakta yang ada sekarang di dunia, maka tidak ada yang bertentangan. Walaupun ada perbedaan, yang terutama ditentukan oleh geopolitik, yaitu paradigma kenegaraan dan kepentingan nasionalnya mengacu pada geopolitik tersebut, juga adanya perkembangan dari zaman ke zaman, sesuai dengan perkembangan peradaban manusia. Namun Indonesia sebagai negara kepulauan, yang terdiri dari berbagai suku bangsa dan etnik, apa kata Firman Tuhan tentang hal tersebut? Yesaya 41:1-7, berbicara tentang pulau-pulau dan bangsa-bangsa. Sesungguhnya Tuhan mempunyai rencana besar bagi Indonesia. asal mau berdiam diri untuk mendengarkan Tuhan selanjutnya berbicara dan tampil bersamsama-sama (ayat 1), kemudian harus bergerak dari Timur, berarti di Indonesia dari lrian Jaya, Maluku dan sekitarnya (ayat 2) menuju Barat membawa Firman Tuhan (disimbolkan pedang). Kemenangan rohani datang dari sana.

Indonesia adalah wilayah yang diberkati: pilihan Allah: karena pulau-pulaunya mengharapkan pengajaran dan kasih-Nya (hukum-Nya) akan diterapkan di sana (Yes. 42:4 ), yaitu berdasarkan kasih, saling menghormati dan saling tolong menolong. Indonesia yang tidak mengalami musim dingin tidak akan mengalami apa yang dikatakan Tuhan Yesus pada waktu khotbah di Bukit Zaitun, yaitu siksaan yang belum pernah terjadi sejak awal dunia diciptakan Allah sampai sekarang (Markus 13: 18-19). Puji Syukur pada Tuhan. Maka Umat Kristiani yang dianugerahi negeri seperti Indonesia dan ikut menegara dengan umat lain dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia harus rela berkorban untuk bangsa dan negaranya sebagai berikut:

1. Menjadi garam, yaitu bergaul dengan masyarakat sekeliling, menjadi berkat, membantu orang lain, peduli orang lain, rendah hati, larut, tidak arogan dan sombong.

2. Menjadi terang, yaitu memberi contoh yang baik, kalau menjadi pemimpin harus mengayomi, mempunyai pusat-pusat Kristen di daerah-daerah mayoritas Kristen.

3. Menjadi warga negara yang patuh akan peraturan perundang-undangan, mempunyai KTP, membayar pajak, berdisiplin di lalu lintas dan tempat pekerjaan, menjaga nama baiki negaranya

4. Menjaga kepentingan nasional Indonesia, tidak membawa uangnya, kalau ada, ke luar negeri, membangun perekonomian nasional, membangun negaranya.

5. Mendoakan dan menjadi berkat bagi masyarakat. bangsa dan negara Indonesia, serta yang terpenting mendoakan rakyat Indonesia lainya agar dipilih Tuhan menjadi pengikut-Nya.

6. Tidak perlu berusaha menjadikan Indonesia menjadi negara agama, umpama negara Nasrani, sebab Tuhan Yesus mengajarkan, bahwa negara tidak mencampuri agama dan agama tidak mencampuri urusan negara. Hubungan keduanya dapat terjalin, melalui umat, disatu pihak sebagai orang yang beriman, dipihak lain sebagai anggota masyarakat, bangsa dan

Laksamana Pertama TNI (Purn) Bonar Simangunsong

Selalu Belajar Melayani Sesama


Laksamana Pertama TNI (Purn) Bonar Simangunsong adalah sosok manusia yang selalu ingin belajar. Kisah hidupnya sangat diwarnai proses belajar. Baginya belajar adalah sebuah proses yang terjadi sepanjang hidup. Ia memang telah mengecap sejumlah pendidikan di dalam maupun di luar negeri.

Keinginan untuk terus belajar adalah kerinduannya untuk dapat berguna membawa suatu kehidupan masyarakat yang lebih baik dan memberkati orang lain dengan talenta yang Tuhan telah berikan kepadanya.

Lulus dari SMA 3B di Setia Budi, Jakarta, ia melanjutkan kuliah di ITB Bandung. Ketika perkuliahan tingkat III terjadi masalah dalam keluarga yang berdampak pada persoalan ekonomi dan pendanaan perkuliahan. Namun masalah itu tidak menghentikannya untuk melanjutkan perkuliahan. Sebuah penawaran beasiswa dari TNI-AL memberikan kesempatan kepadanya untuk dapat terus belajar. Dari sekian banyak pendaftar, pria yang lahir 24 November 1938 ini, satu di antara 20% yang lulus dari seluruh pendaftar.

Walaupun beasiswa telah ia terima, namun itu hanya dapat membantu sebagian dari kebutuhan akedemis. Sementara kebutuhan hidup sehari-hari masih sangat sulit. “Namun, pertolongan Tuhan tidak pernah berhenti,” kenangnya.
Tiga bulan setelah itu, kembali tawaran datang dari TNI-AL kepadanya sebagai Pelajar Calon Perwira, untuk berkesempatan kuliah di luar negeri yaitu di Uni Soviet. Suatu tantangan yang ia inginkan untuk dapat berkunjung dan berkuliah di luar negeri, yang semasa kecilnya hanya dapat dibayangkan dan dibaca melalui buku-buku dan film. Dan pada tahun 1967 ia lulus dari Odessa Polyrechnical Institute dengan menyandang gelar Msc. Sebuah harapan yang Tuhan genapi di luar jangkauan dan kehendak manusia.

Sekembalinya dari Uni-Soviet, ia diterima di TNI-AL sebagai perwira Letnan Satu (Lettu). Ia pun sempat mengajar di Universitas Trisakti. Di masa dinasnya ini ia bertemu dengan seorang gadis Tapanuli, bernama Elizabeth Leistriana Siahaan, yang cantik dan juga yang mengasihi Tuhan. Maklum, gadis itu puteri pendeta W. Siahaan – Perintis Gereja Pentakosta di Tapanuli. Mereka menikah pada tahun 1973 dan dianugerah tiga anak laki-laki.

Pada tahun 1974, kesempatan pendidikan di Amerika terbuka pula baginya sebagai mahasiswa bidang komputerisasi pertahanan di Monterey, California, AS. Saat itu ia sebagai dosen di Univesitas Kristen Indonesia. Masa pendidikan di Amerika memberikan wawasan baru dalam melayani bangsa dan negara Indonesia yang yang ia cintai ini.

Setelah lebih dari sepuluh tahun berdinas di lingkunagan TNI-AL, Bonar Simangungsong telah menjadi Letnan Kolonel (Letkol). Lalu kembali ia mendapat kesempatan dari Dephankam untuk belajar di Australia untuk mendapatkan sertifikat dari lembaga pendidikan staf dan kepemimpinan bergengsi di negeri itu yakni AACS. Lembaga ini dikenal meluluskan orang-orang terbaik di bidangnya. Setelah itu, empat tahun kemudian, lagi-lagi Dephankam memberikan kepercayaan baginya mengikuti pendidikan SESPA sebuah pendidikan bertaraf nasional sebagai pelengkap AACS. Ia pun lulus SESPA sebagai peringkat pertama. Berbekal pendidikan SESPA dan AACS tentulah ia seorang perwira yang profesional dan berwawasan kebangsaan dan internasional.

Kemudian tahun 1986, Bonar Simangungsong diundang untuk mengikuti pendidikan di Amerika Serikat di bidang Pendidikan Manajemen Pertahanan Internasional (IDMC). Di lembaga pendidikan ini, ia talah mengikuti pendidikan komputerisasi pada tahun 1973. Kali ini peserta IDMC datang dari berbagai negara seperti Jepang, Korea Selatan, Australia, Jerman, Kuwait, Saudi Arabia, dan negara-negara Asia Pasifik lainnya. Ia adalah perwakilan dari Indonesia.
Kisah pendidikan Bonar bukan hanya itu. Pada tahun yang sama ia menyelesaikan kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Negara – Lembaga Administrasi Negara (STIA-LAN) dan memperoleh gelar Doktorandus. Selepas itu, ia pun mengajar sebagai staf dosen di situ. Sepanjang kariernya ia telah mengikuti bermacam-macam pelatihan, seminar, simposium, dan pendidikan lain yang ada di dalam dan luar negeri. Pengabdiannya kepada negara yang telah ia jalani puluhan tahun telah menempatkan dirinya sebagai salah satu tokoh pionir komputerisasi di TNI-AL dan Dephankam. ”Semua itu adalah bekal untuk melayani Tuhan dan sesama,” tuturnya bersyukur.

Perubahan Besar
Pada saat Bonar berusia 51 tahun, tepatnya tahun 1989, secara tiba-tiba terjadi perubahan besar pada diri dan keluarganya. Tahun 1989 itu merupakan tahun pertobatan, sebagai tunrning point kehidupan rohaninya. Peristiwa ini terjadi akibat kematian anak bungsunya Gurindo Tri Wahyu Simangunsong pada usia 16 tahun. Kepergian Gurindo mencelikan mata rohaninya akan kemahakuasaan Allah sekaligus Kasih-Nya. Katanya, “Tuhan berhak memberi dan mengambil”. Proses pertobatan ini bukanlah terjadi dengan sendirinya, namun juga oleh ketabahan isterinya tercinta yang terus mendoakan dan setia berharap bahwa Tuhan dapat menjamah sang suami. Pertobatan ini membawanya untuk melayani Tuhan dengan sungguh-sungguh. Dan karena ketetapan hatinya untuk melayani itu teruji Tuhan meggunakannya, sehingga dengan mujizat yang dari Tuhan, ia dipercayakan untuk bergabung dengan Dewan Pertahanan dan Keamanan Nasional sebagai anggota penyusun GBHN dan segala bentuk pengkajian tingkat Nasional untuk Presiden RI.
Pekerjaan tangan Tuhan tidak berhenti di situ saja, setelah diangkat dengan SK Mensekneg sebagai anggota penyusun GBHN dan berpangkat kolonel, di tahun 1992 oleh keputusan Presiden RI, ia pun diangkat menjadi Laksmana Pertama (Laksma TNI) dengan jabatan Eselon I. Ia pensiun sebagai perwira TNI-AL pada usia 55 tahun (1993) dan pesiun sebagai penjabat pemerintah pada usia 60 tahun (1998)

Kerinduan dalam melayani Tuhan, semakin memantapkannya untuk mencurahkan pehatian dalam membantu sesama. Ia melayani di gereja GBI sejak tahun 1989, dimulai sebagai petugas seksi dan mempelopori persekutuan di Wanhankamnas dan di dua jemaat GBI. Kemudian setelah setia selama 8 tahun melayani, gereja mengangkatnya sebagai pendeta muda yang membina koordinasi staf ahli GBI.

Tiga bulan sebelum masa pensiunnya sebagai pejabat pemerintah, ia di angkat sebagai ketua umum Forum Komunikasi Kristiani Jakarta (FKKJ) yaitu sebuah forum komunikasi antar gereja-gereja Jakarta yang berasal dari berbagai aliran gereja seperti, Katolik, Advent, Bala Keselamatan, Baptis, Ortodoks, Protestan, Pentakosta dan Injili. Forum ini berdiri berdasarkan kesadaran kesatuan Tubuh Kristus dan kesatuan Iman melalui kesaksian Roh Kudus.

Pada tahun 2000 lalu, ia diangkat sebagai pendeta oleh sinode GBI selaku anggota Badan pembinaan Rohani Sinode dan sebagai wakil ketua umum Asosiasi Yayasan untuk Bangsa (AYUB). Dan yang paling mengejutkan, di usianya yang ke-62 ia masih menyempatkan kuliah bidang teologia di Institut Filsafat Teologia dan Kepemimpinan Jafrray (IFTKJ) serta kuliah di Universitas Terbuka bersama isterinya. “Secara ekonomi dan karir gelar tidak ada artinya, tetapi dapat memberikan motivasi kepada anak-anak dan siapapun, bahwa proses belajar tidak pernah berhenti sampai mati,” tuturnya.

Saat ini ia tetap aktif sebagai Pendeta di sinode GBI dan membantu Menteri Kelautan dan Perikanan selaku kordinator Pokja Penyusunan Sistem Hukum Kristiani dan sebagai Widyaiswara bagi Diklat kepemimpinan TK II serta SPAMEN.

Refleksi
Sebagai seorang perwira tinggi yang bertobat dan hidup dalam Kristus, Bonar Simangunsong dalam beberapa kali pertemuan menguraikan Refleksi Kristiani dalam Bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara Indonesia.
Dalam hal Refleksi Kristiani dalam Bermasyarakat, Bonar mengatakan bagi seorang pengikut Kristus yang kodratnya manusia sosial, hidup dalam bermasyarakat harus menjadi garam seperti yang Tuhan Yesus ajarkan (Matius 5:13). Yaitu menjadi garam bagi sekelilingnya, apapun agama orang lain itu. Demikian juga pada saat yang sama harus menjadi terang dunia (Matius 5 :14).
Kehidupan sosial seorang Kristen adalah bersekutu dan saling tolong menolong, bahkan menganggap milik pribadi menjadi milik bersama dan mereka disukai orang lain (Kis. 2:44-47).
Kalau umat Kristiani menjadi garam, maka sifat garam yang memberi rasa sedap, umat ini pun dapat memberi rasa suka cita kepada orang lain, bahkan mereka yang sedang stres, tertekan dan menderita apapun asal-usul, profesi atau agama orang tersebut. Ibarat garam yang larut tidak kelihatan dalam makanan yang digarami, umat Kristen dengan kasih Yesus yang ada padanya larut tidak kelihatan identitasnya, tetapi terasa kehadiran umat tersebut di tengah-tengah orang lain dan rasa nyaman pun terjadi.
Manfaat lain dari garam adalah mencegah pembusukan, mencegah kehancuran makanan yang digarami. Maka, menurut Bonar, umat Kristiani dapat bertindak seperti itu. Larut mencegah angkara murka, kebencian, keirihatian dan sebagainya. Tentu dengan pertolongan Tuhan.
Dengan perkataan lain, manusia Kristiani harus bergaul dengan masyarakat sekelilingnya, jangan ekslusif, jangan arogan atau menempatkan diri lebih tinggi dari orang lain. Sebagai terang dunia Umat Kristiani dan lembaga-lembaga Kristiani harus menjadi contoh, suri tauladan, taat pada peraturan perundang-undangan, tidak melakukan KKN memberi sumbangan pemecahan pada sekelilingnya yang penuh dengan kegelapan, menguak yang tersembunyi yang jahat melalui terang tersebut yaitu kuasa Roh Kudus.
Dalam Alkitab, Tuhan mengajarkan hidup sebagai masyarakat lebih banyak dari pada sebagai bangsa, karena di dalam masyarakatlah muncul pribadi-pribadi, kehidupan sehari-hari, kegiatan-kegiatan dan interaksi sosial. Tentu ini berhubungan dengan perbuatan yang baik atau jahat, berkat atau dosa. Oleh karena itu umat Kristiani dinilai lebih banyak sebagai anggota masyarakat daripada sebagai bangsa.

Refleksi Berbangsa
Bangsa Indonesia terdiri dari suku-suku bangsa yang mendiami pulau-pulau dari Sabang sampai Merauke ditambah dengan etnik lainnya yang datang ke Indonesia dan menetap tinggal di negeri ini. Sebenarnya suku bangsa yang disebut asli inipun, juga datang dari negeri lain, seperti dari Yunan di dekat Kamboja, maka yang benar-benar asli tidak ada. Keberagaman suku dan etnik tersebut yang bersatu menjadi bangsa Indonesia, terkenal dengan Bhinneka Tunggal Ika, suatu heteroginitas yang tinggi, namun dapat bersatu. Pernyataan kebangsaan ini dicanangkan dalam Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 oleh para pemuda yang terdiri dari Yong Jawa, Yong Batak, Yong Sunda, Yong Ambon, Yong Aceh, Yong Bornea, Yong Celebes dan sebagainya, yang bersumpah satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa, Indonesia. Sayangnya pada saat itu hanya suku yang muncul, agama tidak.
Penjajahan Belanda, mendorong masyarakat dan rakyat dari Sabang sampai Merauke untuk bersatu melawan penjajahah, apalagi dengan adanya sependeritaan dan senasib yang kemudian mengkristal, sehingga masyarakat tersebut membentuk diri menjadi bangsa.
Satu hal yang patut diingat bahwa Tuhan menetapkan bila manusia bersatu (satu bangsa, satu nusa dan satu bahasa), maka manusia menjadi kuat dan apapun yang direncanakan akan terlaksana (Kejadian 1 1:6) seperti yang terjadi di Babel itu yang kemudian Tuhan mengacaukan bahasa mereka, agar tidak bersatu. Tuhan tidak menginginkan mereka bersatu, karena melawan Tuhan.
Bagi umat Kristiani yang menjadi bagian integral dari bangsa seperti bangsa Indonesia, harus memahami hal ini, dan ikut serta membangun bangsanya, agar kuat dan maju. Nilai persatuan dan kesatuan sering dikumandangkan di bumi Indonesia, bukanlah sekedar retorika pidato, tetapi sesuai Firman Allah. Wawasan Nusantara adalah doktrin persatuan dan kesatuan Indonesia, bersama-sama dengan Bhinneka Tunggal Ika sebenarnya suatu pijakan ampuh untuk membangun bangsa dan harus menjadi pegangan juga bagi umat Kristiani membangun bangsa Indonesia. Maka sebagai bagian integral dari bangsa Indonesia, umat Kristiani tidak boleh eksklusif dan tidak hidup sendiri tanpa memperhatikan bangsanya.

Refleksi Bernegara
Alkitab mengajarkan tentang kenegaraan sebagai berikut: (1) Harus jelas wilayah dan batas-batas negara; (2) Harus ada peraturan perundang-undangan; (3) Harus ada pemimpin negara dan aparat; (4) Pemerintah harus demokratis; (5) Harus ada pembagian tugas yang jelas; (6) Rakyat mempunyai rasa kebangsaan.

Oleh karena itu, bagi umat Kristiani bukan hal asing bernegara dan bahkan karena ada pedoman di AIkitab, mereka harus menjadi warga negara yang baik. Seperti kata Tuhan Yesus, berikanlah kepada Kaisar apa yang menjadi haknya. Dalam hal ini pengertian Kaisar adalah Pemerintah, yang dipimpin Presiden, seperti Indonesia, atau Perdana Menteri, seperti Kanada. Pengertian hak Kaisar, hak Pemerintah, sangat luas, meliputi hukum, politik, ekonomi, penegakan hukUm tentara dan sebagainya, tidak hanya pajak.

Kalau menyandingkan teori kenegaraan dari Alkitab dengan fakta yang ada sekarang di dunia, maka tidak ada yang bertentangan. Walaupun ada perbedaan, yang terutama ditentukan oleh geopolitik, yaitu paradigma kenegaraan dan kepentingan nasionalnya mengacu pada geopolitik tersebut, juga adanya perkembangan dari zaman ke zaman, sesuai dengan perkembangan peradaban manusia.

Namun Indonesia sebagai negara kepulauan, yang terdiri dari berbagai suku bangsa dan etnik, apa kata Firman Tuhan tentang hal tersebut? Yesaya 41:1-7, berbicara tentang pulau-pulau dan bangsa-bangsa. Sesungguhnya Tuhan mempunyai rencana besar bagi Indonesia. asal mau berdiam diri untuk mendengarkan Tuhan selanjutnya berbicara dan tampil bersamsama-sama (ayat 1), kemudian harus bergerak dari Timur, berarti di Indonesia dari lrian Jaya, Maluku dan sekitarnya (ayat 2) menuju Barat membawa Firman Tuhan (disimbolkan pedang). Kemenangan rohani datang dari sana.

Indonesia adalah wilayah yang diberkati: pilihan Allah: karena pulau-pulaunya mengharapkan pengajaran dan kasih-Nya (hukum-Nya) akan diterapkan di sana (Yes. 42:4 ), yaitu berdasarkan kasih, saling menghormati dan saling tolong menolong. Indonesia yang tidak mengalami musim dingin tidak akan mengalami apa yang dikatakan Tuhan Yesus pada waktu khotbah di Bukit Zaitun, yaitu siksaan yang belum pernah terjadi sejak awal dunia diciptakan Allah sampai sekarang (Markus 13: 18-19). Puji Syukur pada Tuhan.

Maka Umat Kristiani yang dianugerahi negeri seperti Indonesia dan ikut menegara dengan umat lain dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia harus rela berkorban untuk bangsa dan negaranya sebagai berikut:

1. Menjadi garam, yaitu bergaul dengan masyarakat sekeliling, menjadi berkat, membantu orang lain, peduli orang lain, rendah hati, larut, tidak arogan dan sombong.
2. Menjadi terang, yaitu memberi contoh yang baik, kalau menjadi pemimpin harus mengayomi, mempunyai pusat-pusat Kristen di daerah-daerah mayoritas Kristen.
3. Menjadi warga negara yang patuh akan peraturan perundang-undangan, mempunyai KTP, membayar pajak, berdisiplin di lalu lintas dan tempat pekerjaan, menjaga nama baiki negaranya
4. Menjaga kepentingan nasional Indonesia, tidak membawa uangnya, kalau ada, ke luar negeri, membangun perekonomian nasional, membangun negaranya.
5. Mendoakan dan menjadi berkat bagi masyarakat. bangsa dan negara Indonesia, serta yang terpenting mendoakan rakyat Indonesia lainya agar dipilih Tuhan menjadi pengikut-Nya.
6. Tidak perlu berusaha menjadikan Indonesia menjadi negara agama, umpama negara Nasrani, sebab Tuhan Yesus mengajarkan, bahwa negara tidak mencampuri agama dan agama tidak mencampuri urusan negara. Hubungan keduanya dapat terjalin, melalui umat, disatu pihak sebagai orang yang beriman, dipihak lain sebagai anggota masyarakat, bangsa dan negara. *** (Tokoh Indonesia)

Rendahnya SDM di Laut

“Kendala Pembangunan Kelautan”

Tingkat pendidikan yang rendah cenderung menimbulkan masalah yang tidak sederhana dalam proses pembangunan kelautan Indonesia.

Hampir satu tahun sudah Tujuh Tenaga Ahli Dewan Kelautan Indonesia (Dekin) dibentuk. Tenaga Ahli ini bertugas membantu Sekretaris Dewan Kelautan Indonesia dalam merumuskan dan mengkaji permasalahan kelautan nasional yang selanjutnya untuk diserahkan kepada Presiden agar diimplementasikan pada sektor terkait di bidang kelautan. Kajian-kajian itu yakni bidang SDM dan IPTEK, perikanan, pelayaran, pariwisata bahari, hukum dan kelembagaan, lingkungan laut, dan energi dan sumberdaya mineral.

Fakta menunjukan kondisi kelautan nasional masih belum beranjak dari keterpurukannya walau gong kebangkitan telah ditabuh sejak masa reformasi dengan dicanangkannya Deklarasi Bunaken pada 1998 sampai dibentuknya Departemen Kelautan dan Perikanan serta Dewan Kelautan Indonesia (awalnya Dewan Maritim Indonesia) pada tahun 1999.

Sekretaris Dewan Kelautan Indonesia, Prof. Dr. Rizald Max Rompas selalu mengingatkan bahwa, hal yang mendasar dari keterpurukan itu yakni masih menganutnya pola daratan dari para pemangku negeri ini, khususnya di jajaran birokrasi, mulai dari staf sampai eselon I.

Nah, terkait dengan persoalan ini Dewan Kelautan Indonesia merasa membutuhkan sebuah think tank bagi upaya percepatan pembangunan kelautan nasional dengan membentuk para Tenaga Ahli tersebut. Dengan itu, paling tidak dapat diketahui apa dan bagaimana seharusnya Presiden menata bidang kelautan ini. “Ini menjadi penting bagi Presiden, dan dengan demikian menjadi tahu prioritas serta permasalahan yang mendasar dibidang kelautan nasional,” kata Rompas.

Terlepas dari penting dan mendasarnya semua kegiatan ekonomi, politik dan sosial budaya di bidang kelautan, Sumberdaya Manusia dan IPTEK rupanya hal yang paling pokok dari semua permasalahan pokok. Sebab semua soal tak akan bisa selesai tanpa kehadiran SDM dan IPTEK. Ir. Laksma (Purn) Bonar Simangunsong, M.Sc, sebagai Tenaga Ahli bidang SDM dan IPTEK Dewan Kelautan Indonesia, menyebutkan bahwa kondisi SDM kebaharian di negeri ini menjadi kunci penting dalam pembangunan kelautan nasional.

“Namun sayang dan harus kita akui kondisi ini masih jauh dari harapan. Dengan demikian perlu sebuah gerakan dalam meningkatkan SDM kelautan kita, baik itu pada sektor perikanan, pelayaran, sampai pengoptimalan energi dan sumberdaya mineral, khususnya di laut,” kata Bonar Simangunsong kepada Maritim Indonesia, beberapa waktu lalu.

Minim kualitas dan kuantitas

SDM kelautan nasional baik kualitas maupun kuantitas memang masih sangatlah kurang. Hal ini menyebabkan lambatnya pembangunan di bidang ini. Padahal berkembang dan stagnasinya suatu bangsa ditentukan kesiapan atau tidaknya sumberdaya manusianya. Di bidang kelautan nasional, melihat peluang dan tantangan yang sangat besar, SDM dan IPTEK adalah syarat mutlak yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Misal, bagaimana mengoptimalkan sumberdaya mineral dan gas di lepas pantai. Coba saja, berdasarkan data geologi, diketahui Indonesia memiliki lebih dari 60 cekungan minyak di dasar laut yang belum dieskplorasi. Tentu ini selain membutuhkan IPTEK juga SDM yang handal di bidangnya.

Di bidang Perikanan pun demikian. Dan sayang seribu kali sayang, berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan DKP, sumberdaya manusia yang berkecimpung di sektor ini lebih dari 50 (2006) adalah lulusan sekolah dasar, yakni untuk SDM pelaku perikanan tangkap sebesar 56 berpendidikan SD. Untuk pen-didikan SLTP sebesar 26, tidak tamat SD sebesar 6. Sisanya SLTA dan sarjana.

Tentu saja rendahnya SDM perikanan berdampak pada rendahnya investasi dan rendahnya pendapatan di sektor ini. Akibatnya daya serap SDM perikanan pun menjadi terbatas Dari sisi pendapatan, untuk perikanan tangkap sebagian besar atau sekitar 44 berpenghasilan Rp. 800 ribu hingga Rp1,5 juta. Di bawah Rp. 800 ribu sebesar 36 dan sisanya atau sekitar 20 dengan gaji lebih dari Rp. 1,5 juta.

Sementara untuk perikanan budidaya lulusan SD sebesar 41, SLTP dan SLTA 24, sisanya tidak tamat SD dan sarjana. Dari sisi pendapatan sebagian besar 39,3 berpenghasilan Rp. 800 ribu sampai Rp1,5 juta, di bawah Rp. 800 ribu 28, dan sisanya berpenghasilan di atas Rp. 1,5 juta.

ILO (International Labour Organization) memang tidak begitu memberikan peraturan yang ketat terhadap nasib para pelaku perikanan di setiap negara. ILO cukup memberikan toleransi dalam menetapkan standar gaji terhadap para pelaku usaha ini. Pasalnya hampir sebagian besar terutama di Indonesia para pelaku perikanan adalah nelayan tradisional.

Artinya kebijakan pengupahan para pelaku perikanan diserahkan kepada kebijakan negara masing-masing. ILO memang telah menetapkan gaji pelaku perikanan modern pada Januari 2008 sebesar US$ 530 atau sekitar Rp. 4,7 juta dan pada akhir 2008 (31 Desember 2008) ILO menetapkan US$ 545 atau sekitar Rp. 4,9 juta.

Di dalam negeri nelayan tradisional terkooptasi dalam sistem bagi hasil yang tidak adil. Sehingga kemiskinan struktural nelayan sulit diselesaikan. Untuk itu ke depan perlu adanya bagi hasil agar nelayan mampu menaikan produktivitas serta mengangkat daya saing perikanan Indonesia.

Sementara permasalahan mendasar dari otonomi daerah adalah keterbatasan sumberdaya manusia yang kompeten khususnya di daerah. Banyak kepala dinas yang tidak memiliki latar belakang akademis dibidang perikanan. Kekurangan aparatur teknis seperti penyuluhan di daerah yang bersentuhan langsung di daerah pun sama kurangnya. Nah, terkait dengan ini, adalah, sekali lagi, mutlak dan wajib bagi pemerintah untuk meningkatkan SDM dan IPTEK bagi pembangunan kelautan nasional.

Rendahnya sumberdaya manusia kelautan nasional tidak saja menimpa sektor perikanan. Demikan halnya dengan SDM energi dan sumberdaya mineral serta industri maritim lainnya yang umumnya hanya berpendidikan rendah serta kurang mengusai IPTEK. Nah, Bonar Simangunsong menilai perlunya reformasi hukum dan SDM dikalangan birokrat di seluruh instansi pemerintah yang terkait dengan pengelolaan SDM kelautan.

Pilar penting

Sumberdaya manusia memang menjadi kunci utama dalam pembangunan di segala bidang, tak terkecuali di bidang kelautan nasional. Maka mengembangkan dan meningkatkan SDM kebaharian merupakan sebuah keharusan demi tercapainya sasaran pembangunan kelautan. Rendahnya SDM kebaharian Indonesia baik kualitas maupun kuantitas yang menyebabkan belum mampunya memenuhi kualifikasi standar internasional, disebabkan oleh kebijakan pemerintah tentang sistem pendidikan yang belum memberikan porsi maksimal bagi bidang ini. Faktor lainnya, tentu, paradigma aparatur maupun non aparatur yang masih berparadigma darat. “Sumberdaya manusia merupakan bagian terpenting dalam pembangunan, sehingga peningkatan kemampuan dalam pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut mutlak diprioritaskan oleh setiap daerah yang menjadikan pesisir dan laut sebagai tumpuan pertumbuhan daerah,” pinta Bonar.

Sumberdaya manusia Indonesia secara umum memiliki ciri antara lain memiliki jumlah yang sangat besar dengan pertumbuhan dan penyebaran yang tidak merata serta terpusat di daerah tertentu. Tingkat pendidikan yang rendah, serta kebijakan tenaga kerja di berbagai sektor masih belum terpadu sehingga cenderung menimbulkan masalah yang tidak sederhana dalam proses pembangunan kelautan Indonesia.

“Perlu ada upaya serius dari pemerintah untuk meningkatkan peranan SDM dan IPTEK untuk mendayagunakan sumberdaya lautan agar industri-industri perikanan, perhubungan laut, dan maritim perkapalan terangkat,” katanya. Untuk hal ini Bonar menambahkan agar meningkatkan anggaran pada masing-masing sektor untuk upaya pengembangan sumberdaya manusia dan IPTEK.

Jelas saja bangsa ini membutuhkan SDM dan tenaga profesional yang mengusai IPTEK untuk dapat mengisi kebutuhan tersebut. Sementara sekolah kejuruan baik negeri maupun swasta belum mampu mencukupi kebutuhan yang diinginkan. Di sisi lain asosiasi profesional belum efektif dalam merangsang, memacu, dan mengangkat kualitas SDM Indonesia secara profesional yang kredibel, bankable baik untuk pasaran kerja dalam negeri maupun internasional. (Majalah Maritim Indonesia).