Novita Dewi Marpaung


Novita Dewi x-FactorNama: lahir Novita Dewi Marpaung
Nama lain:  Dewi Marpaung, Dewi Marfa
Lahir 15 November 1978
Bendera Indonesia Jakarta, Indonesia
Genre Pop, gospel
Pekerjaan Penyanyi
Instrumen Vokal

Label Sony Music Indonesia

Novita Dewi Marpaung (lahir di Jakarta, Indonesia, 15 November 1978) adalah seorang penyanyi berkebangsaan Indonesia. Perempuan yang akrab disapa Dewi ini merupakan putri dari Jack Marpaung, seorang penyanyi legendaris di kancah musik rock Batak. Dewi sudah menunjukan bakat di dunia tarik suara sejak kecil dan sering mengikuti berbagai kompetisi bernyanyi hingga dijuluki “macan festival”. Dewi sempat meraih juara dua pada ajang Cipta Pesona Bintang, Weekly Champion (juara mingguan) Asia Bagus, serta juara pertama Suara Remaja Vinolia RCTI. Prestasi tertinggi Dewi diraihnya saat menjadi juara pertama dalam Astana Song Festival 2005 di Kazakhstan.

Meskpun berjaya di jalur festival, karier Dewi di industri rekaman tidak berjalan dengan mulus. Pada tahun 2008, ia baru berkesempatan merilis album pop pertamanya berjudul Sweet Heart dengan memakai nama Dewi Marfa. Namun, album tersebut tidak berhasil di pasaran akibat promosi yang sangat terbatas. Dewi kemudian lebih banyak berkarier di industri rekaman Batak dan musik rohani. Pada tahun 2010, Dewi bergabung dengan label Nagaswara dan merilis singel berjudul “Jejak Luka”.
Dewi kembali tampil di kompetisi musik dengan mengikuti X Factor Indonesia musim perdana. Keikutsertaannya di ajang ini adalah untuk memenuhi keinginan almarhum adiknya. Ia bergabung pada kategori Over 26 (penyanyi 26 tahun ke atas) yang dimentori oleh Bebi Romeo. Sebelumnya, pada tahun 2011, Dewi sempat behasil lolos dalam audisi The X Factor versi Amerika, namun kemudian terhenti akibat social security. Dewi dikenal sebagai kontestan dengan karakter suara serak khas dan teknik vokal yang sangat matang. Setelah dinobatkan sebagai juara kedua di ajang tersebut, Dewi mendapat kontrak rekaman dari Sony Music Indonesia selama lima tahun.
Album solo
Sweet Heart (2008)
Singel dan penampilan lain
Putus Sikkolah (2008)
Duet Spectakuler 1 (2008)
Hati Sbagai Hamba (single) (2009)
Mujizat Itu Nyata (single)(2009)
Mary’s Boy Child (single) (2010)
Melangkah Pasti (2010) (satu lagu feat. Jonathan Prawira “impianku menjadi nyata)
Duet Spectakuler 2 (2011)
Togu Tondiku (single feat Bunthora Situmorang) (2011)
Tobatak (bersama Viky Sianipar) (2012)
Sampai Habis Air Mataku (2013)
X Factor Indonesia

Dewi mengikuti audisi X Factor Indonesia di kota Jakarta, dengan menyanyikan lagu “If I Were A Boy”. Ia bercerita tentang motivasinya untuk mengikuti kontes bernyanyi itu atas keinginan almarhum adik laki-lakinya. Keikutsertaan Dewi dalam ajang ini sempat dikritik oleh beberapa pihak karena ia sudah menjadi penyanyi profesional dan pernah merilis album sebelumnya. Namun, kemudian pihak X Factor Indonesia menegaskan bahwa kompetisi tersebut terbuka untuk semua orang, baik penyanyi amatir ataupun yang sudah pernah rekaman, dengan syarat tidak sedang terikat kontrak. Beberapa pemenang The X Factor mancanegara, seperti Tate Stevens (Amerika, musim kedua) dan Samantha Jade (Australia, musim keempat), juga pernah rekaman dan masuk tangga lagu nasional sebelum ikut kompetisi. Selama kompetesi berlangsung, ia merupakan kontestan yang paling sering mendapat standing ovation dari para juri. Dewi dinobatkan sebagai juara kedua X Factor Indonesia, setelah persaingan SMS yang ketat diungguli oleh Fatin Shidqia.
Sumber: Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Jack Marpaung


Jack Marpaung Jack Marpaung-3“Di Kamar 13 Hutobus Dosaki” Oleh: Hotman J. Lumban Gaol Namanya pernah menghiasi pentas hiburan nasional dengan grup musiknya, Trio Lasidos. Di jagat tarik suara, Jack Marpaung tidak asing lagi. Dia memang bukan Jack Brown aktor film-film romantis itu. Jack punya talenta beryanyi. Suaranya yang melengking, karangannya berjubel. Jack, cukup dikagumi di musik Batak, tak heran banyak pengemarnya. Ciri khasnya memang susah dilupakan. Salah satu lagunya yang terkenal itu: Kamar 13. Sebuah lagu yang berkisah tentang pengalaman dipenjara. Sesungguhnya syair itu memiliki makna, cerita sungguhan. Dulu, anak Siantar ini memiliki masa lalu yang kelam. Sebelum namanya terkenal. Jack pernah terjerembab pada kubangan dosa narkoba dan minuman keras. Dunia hiburan yang melambungkan namanya, tetapi dunia itu juga membawanya ke jurang kehidupan terlarang. Sesungguhnya kehidupan yang keras dia jalani oleh karena sikap orangtuanya yang kurang mengerti mendidik anak. Ayahnya seorang tentara, mendidiknya terlalu keras. “Orangtua saya keras. Sewaktu kita masih kecil kalau rumah kotor, bapak marah. Dia ambil sapu, saya disuruh duduk langsung dihajar. Itu saya alami berulang-ulang. Saya tidak nyaman di rumah, saya lalu mencari kenyamanan di luar,” ujarnya, mengingat masa lalunya itu. Itu sebabnya saya tidak pernah betah di rumah, kata Jack. “Sejak kecil hingga remaja saya tidak betah tinggal di rumah. Saya memilih hidup di jalanan bersama teman-temannya. Ganja menjadi pelarian hidup saya ketika itu. Perkelahian adalah pelampiasan emosi. Hal itu terus berlanjut hingga dewasa. Saya kemudian memilih meninggalkan rumah, dan hidup di terminal. Bergaul dengan para preman-preman membuat saya semakin keras. Bahkan pada aparat pun tidak takut.” Kekasaran Jack makin menjadi-jadi. Satu waktu, tatkala bermain dengan teman-temannya. “Satu waktu, saya kalah main gundu, saya pukul orang itu. Lalu, ada orang mengadu ke ibu saya. Ibu saya ambil sapu, saya dihajar sampai sapu itu patah. Habis itu baru bapak saya ganti pukul saya,” kenang Jack. Sejak itu, Jack mengisi kehidupannya di terminal. Terminal menempanya menjadi laki-laki keras, tak jarang berkelahi, itu kerap kali membuat Jack dan temannya berurusan dengan aparat. Satu waktu, ada temannya tertakap polisi karena berkelahi. Teman Jack dipukuli polisi. Tak terima perlakukan itu, Jack kemudian dia datang sambil menghunuskan golok ke arah polisi. “Saya kejar polisi dengan golok. Polisi lalu mengambil pistol dan menembak saya,” ujar Jack. Perut Jack terkena timah panas, akibatnya dia tidak sadar diri. Sukurlah dia lolos dari maut. Meskipun demikian, lolos dari maut tetapi Jack tidak lolos dari jerat hukum, dan akhirnya dibui. Walau sudah beberapa lama mendekam di penjara orangtuanya tidak pernah melihat Jack. “Orangtua saya sudah tidak peduli lagi. Walau sudah dipenjara tidak pernah besuk saya sama sekali. Saya sudah dianggap tidak berharga lagi,” tambahnya lagi. Bebas dari bui membuat Jack dan teman-temannya jera. Dan kemudian melihat jalan lain untuk kehidupan. Jack bersama teman-temannya mencoba mengubah jalan hidup dengan mengejar impian untuk menjadi penyanyi di Jakarta. Sesampainya di ibukota itu, harapan mengubah nasib ternyata jauh panggang dari api. Jakarta bukan seperti yang diharapkan. Di Terminal Grogol, Jack memulai hidupnya di Jakarta, mencoba menaklukan ibu kota. “Ketika itu harapan kami Jakarta menjanjikan. Namun, begitu sampai Jakarta, saya ingin pulang. Rasanya tidak seperti yang saya bayangkan,” kenangnya. “Hidup gelandangan pun kita jalani. Bahkan, hampir terjerumus melakukan tindak kejahatan. Saya naik bus, lalu saya melihat ada uang di kantong orang. Kalau saya ambil pasti bisa, tetapi saya terbayang kembali janji kepada orangtuaku. Saya langsung turun dari bis itu supaya jangan tergoda dan melakukan hal itu,” ujarnya lagi. Tak tahan hidup di terminal. Jack dan teman-temanya mengubah perutukkan nasib. Jack bersama teman-temannya, kemudian mencoba menawarkan jasa menghibur lewat suara ke hotel-hotel. Ternyata itu pun bukanlah sesuatu yang mudah. Penolakan demi penolakan mereka alami.“Berkali-kali kami ditolak sebelum diterima menjadi pengisi acara di cafe-cafe hotel. Satu tahun baru dapat pekerjaan di Hotel Borobudur. Sejak saat itulah berdatangan undangan mengisi acara. Semenjak itu juga mereka bentuk Trio Lasidos [Trio Lasidos personilnya Hilman Padang, Bunthora Situmorang dan Jack sendiri. Trio ini digandrungi anak muda di tahun 80]. Ketika meniti karir sebagai penyanyi dari satu hotel ke hotel. Jack bertemu dengan seorang perempuan cantik yang memikat hatinya, bernama Anita, yang kemudian hari menjadi pendamping hidupnya. Dan untuk menikahi Anita pun bukan proses yang mudah, karena ayah mertuanya menolak punya menantu seorang penyanyi. Tetapi, bukan pemuda Siantar namanya kalau tidak nekat, akhirnya, Jack dan Anita nekat kawin lari. Sejak berkeluarga Jack pun mulai makin bersinar. Tawaran kepada Trio Lasidos untuk rekaman pun makin padat. “Kaset saya meledak, saya mulai sombong. Mulai sudah merasa hebat. Show dari satu daerah ke daerah lain, kadang-kadang satu bulan di daerah, dan kita ngga pernah pikirkan istri dan anak.” Tidak hanya melupakan keluarganya, Jack pun mulai terlena dengan popularitas dan hidup dalam pesta pora. Minuman keras dan narkoba menjadikan Jack semakin lupa diri. Pulang pagi dalam keadaan mabuk menjadi bagian dari kesehariannya. Percecokan suami-istri kerap kali terjadi. Bahkan, bahtera rumah tangganya di ambang kehancuran. Walaupun sudah berkali-kali diingatkan istri agar Jack jangan lagi mabuk. Dia tetap saja mabuk-mabukan. Beruntunglah Jack punya istri yang sabar dan tabah menghadapi kelakuan Jack. Istrinya menjadi tiang doa. Sang istri tak jemu-jemunya berdoa, dan istinya tetap bertahan, walau Jack sudah memintai cerai saja. Karena tidak ingin melihat Jack hancur, istrinya selalu berdoa. Saat pulang dalam keadaan mabuk, tanpa setahu Jack, sang istri selalu mendoakannya. Itu berlanjut terus hingga doa istrinya dijawab Tuhan. Satu waktu, tahun 1987, berita Jack tertangkap polisi. “Berita saya ditangkap polisi karena membawa ganja 100 kilo di Jakarta sudah, beritanya gempar. Karena berita itu, anak saya [Dewi Marpaung-artis] telepon ke saya sambil menangis. Papa dipenjara iya? nggak, saya lagi di hotel, kata saya. Di sini sudah tersebar berita bapa disebut dipenjara.” Inilah kehidupan seperti roda pedati, yang kadang di atas kadang di bawah. Saat Jack kembali ke Jakarta dia menemukan sebuah kenyataan yang pahit, semua shownya telah dibatalkan, bahkan semua karangannya tidak dipakai produser. Kejadian  itu, membuat Jack bersolo karir. Sesuatu yang tidak pernah dia pikirkan sebelumnya. Waktu itu, tidak ada pemasukan sama sekali, cerita Jack. Istrinya kemudian membantunya berbisnis. Namun malang, seperti sudah jatuh dari tangga tertimpa pula pula. Bisnis itu bangkut karena mitranya menipu. Akibatnya hutang pun melilit keluarga Jack dan memaksa Jack harus menjual mobil dan rumah. Sejak saat itulah Jack memutuskan bertobat. Lagu Di Kamar 13 Hutobus Dosaki…. [di kamar 13 ini kutebus, kujalani hukumanku] menemukan maknanya, kata lain bertobat. Berlahan Jack melepaskan keterikatan dengan narkoba. Hubungannya dengan Tuhan pulih. Hubungannya dengan istrinya kembali bersemi. Sejak itu pertobatan itu, dia bersama istri dan anak-anaknya semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. “Sekarang saya sudah meninggalkan hidup yang pana. Sekarang hidup ini saya sukuri. Saya menikmatinya. Damai sejahtera, sukacita yang belum pernah saya rasakan sebelumnya, saya rasakan sekarang. Berjalan bersama Yesus benar-benar mengubah jalan hidup saya,” ujarnya.  

Rinto Harahap


Nama :
RINTO HARAHAP

Rinto Harahap

Lahir :
Sibolga, 10 Maret 1949

Agama :
Protestan

Pendidikan :
– Universitas Nommensen, Medan (tingkat II)

Karir :
– Pimpinan Band The Mod’s di Medan (1968) Pimpinan Band Mercy’s di Medan
– Penyanyi dan komponis, lagu-lagu ciptaannya antara lain Biarlah Sendiri
– Ayah
– Benci tapi Rindu
– Dingin
– Jangan Sakiti Hatinya. Mendapat Piringan Emas (Golden Record) dari angket siaran ABRI, untuk lagu Benci tapi Rindu. Menerima ‘Anugerah Seni’ Diskotek Indonesia sebagai pencipta terpopuler 1980-1981 dan 1981-1982. Memperoleh Trofi Kebudayaan RI dari Ditjen Kebudayaan P & K atas jasa-jasanya mengetengahkan karya budaya musik Indonesia ke dunia internasional (1982)

Kegiatan Lain :
– Direktur PT Lolypop (Perusahaan Rekaman) dan Melanie Record.

Alamat Rumah :
Jalan Pluit Selatan VII No. 30, Jakarta Utara Telp: 663505

Alamat Kantor :
PT Lolypop, Glodok Plaza Blok F/14, Jakarta Barat

RINTO HARAHAP

Cita-citanya dulu ingin jadi dokter. Ayahnya, malah menginginkan ia jadi pendeta. Akhirnya ia terdampar dalam dunia musik, dan sukses. Kalaupun ada kesulitan, itu dialami ketika The Mercy’s — grup musik yang didirikannya di Medan — tidak sukses dalam dunia rekaman. Waktu itu bisnis kaset memang masih seret.

Sebelum bisnis rekaman, Rinto bekerja pada sebuah perusahaan besi beton. ”Siang kerja, malamnya ngamen di klub malam,” ujar pemain bas ketika The Mercy’s jaya.

Setelah The Mercy’s bubar, bersama abangnya, Erwin Harahap, Rinto membentuk usaha rekaman Lolypop. ”Lolypop saya dirikan karena melihat masa depan sebagai artis musik masih suram,” katanya.

Lelaki kelahiran Sibolga, Sumatera Utara, ini menikah dengan Lily Kuslolita, asal Solo, yang berbeda usia tiga tahun. Perkenalan dengan istrinya, ketika The Mercy’s mengadakan perlawatan ke Balikpapan dengan menggunakan pesawat Bouraq. Lily, pramugari Bouraq sedang bertugas ketika itu. Perkenalan di udara akhirnya diteruskan dengan pernikahan di darat. Anak ketiga dari enam bersaudara ini punya status banyak; produser, penyanyi, dan pencipta lagu. Sebagai penyanyi; ia punya alasan, karena permintaan penggemarnya agar ia membuat rekaman khusus dengan suaranya sendiri. ”Saya pikir, apa salahnya,” ujarnya.

Akan halnya lagu-lagu ciptaannya, Maret 1982, ia mendapat Anugerah Seni dari Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen P & K, sebagai pencipta lagu, sekaligus penyanyi yang berprestasi. Perusahaan rekaman Filipina, WEA Record, pernah memberikan kepercayaan padanya untuk mengekspor lagu-lagunya. Akibat sampingannya, beberapa lagunya sempat dibajak dan dinyanyikan dalam bahasa Mandarin dan bahasa Tagalok.

Lagu ciptaannya selalu merajuk dalam cinta, enteng, dan melankolis. ”Ternyata orang lebih menyukai lagu-lagu semacam itu,” ujar Rinto yang sangat senang nonton pertandingan sepak bola ini. Contohnya, Jangan Sakiti Hatinya yang dinyanyikan Iis Sugianto, berhasil mencapai 400 ribu kaset.

Penyanyi orbitan Rinto lainnya, Christine Panjaitan, Nur Afni Octavia — semuanya mendendangkan ciptaan ”Raja Lagu Pop” ini.

BERITA TERBARU:

http://entertainment.kompas.com/read/2013/10/20/2030349/Keluarga.Bantah.Rinto.Harahap.Meninggal.Dunia

Saktiawan Sinaga


Kalau pecinta sepak bola pasti kenal Saktiawan Sinaga. Pria Batak

Sektiawan Sinaga

kelahiran Medan, Sumatera Utara, 19 Februari 1982 ini, adalah seorang pemain sepak bola nasional. Sakti sebagi pemain dilini depan, sebagi penyerang dengan tinggi badan 171 cm. Dia juga bermain untuk Tim Nasional sepak bola Indonesia.

Debut pertamanya di Tim Senior di Piala Tiger 2004. Anak dari Sudin Sinaga dan Sulastri ini. Ayah dari dua anak bersama istrinya, Nadila Soraya Lubis, mereka adalah Sheva Nazua Sinaga, 4 tahun, dan Deryl Syuza, 5 bulan. Biasanya, orang-orang menyebutnya Sakti atau Wawan.

Tanggal 5 Mei 2009 lalu bergabung dengan Persik Kediri melawan Persija Jakarta, tiba-tiba ia jatuh pingsan dan meregang ke tepi lapangan. Dia masih tak sadarkan diri di 2 menit sehingga ia dibawa ke rumah sakit sempit, RSUD Gambiran. Pada mendiagnosis, ia merasa serangan jantung karena penyakit, kolesterol tinggi dan terlalu lelah karena ia bermain dengan Persik Kediri melawan Deltras Sidoarjo pada 1 Mei 2009.

Karier: Dengan PSMS Medan, Dengan Tim Nasional (U-23), Dengan Tim Nasional Senior, SEA Games 2003 (U-23 tim), Piala Tiger 2004 (tim senior), SEA Games 2005 (U-23 tim), Piala AFF 2007 (tim senior)

Prestasi Dengan PSMS Medan 3 kali memenangkan Piala Emas Bang Yos (2004, 2005, 2006). Dengan Tim Nasional (U-23) 4 Tempat di SEA Games 2005 di Manila, Filipina, mengalahkan malaysia (3rd Places) 0-1. Dengan Tim Nasional Senior , Runner Up Piala Tiger 2004, mengalahkan Singapura (aggregat kalah 2-5, kalah 1-2 di rumah pertandingan dan kalah 1-3 di pertandingan).***Hojot Marluga

Choky Sitohang


Choky,Si Gartip Pahoppu Panggoaran

Choky Sitohang

Doli-doli parlente, pintar bicara, ini bernama lengkap Binsar Choky Victory Sitohang. Ketika berumur empat tahun sudah gartip, alias bawel. Tak heran, masih belia ia sudah pintar bicara. Bakatnya berkobar waktu umurnya 17. Dia lahir di Bandung, 10 Juli 1982.
Choky memulai karir sebagai wartawan lepas (pembaca berita) di salah satu stasiun TV swasta. Dia membawakan acara Good Morning on The Weekend. Dari sana karirnya menanjak cepat. Sukses yang dititinya itu dia lalui penuh liku selama delapan tahun.

Pernah gagal casting, jatuh sakit, dan sempat mencoba berbagai profesi, tetapi semangatnya tak pernah padam. Dia tahu meniti karier itu penuh perjuangan.

Mengapa terjun ke bidang publik speaking? Pria ganteng ini lugas menjawab: “Bakat saya di publik speaking, bakat saya di dunia bicara. Saya menyukai pekerjaan ini. Selain kepuasan batin yang saya dapat, saya juga menghibur dan memberi inspirasi kepada banyak orang.”
Ia mengakui peran keluarga dalam kariernya besar, terutama ibunya, Diana Napitupulu dan (almarhum) bapaknya, Poltak Sitohang, juga kedua adik perempuanya.

Sebagai pekerja profesional, Choky mengelola sendiri jadwal kesibukannya. Jika ada yang ingin mengundang harus lewat manajer. “Karena ini pekerjaan saya, maka saya kerjakan secara profesional. Ada tim yang khusus menyusun dan menerima undangan. Soal tarif, saya tidak mau menyebut angka. Kenapa? Karena etika. Saya punya tanggung jawab moral pada klien. Apa yang diberikan kepada saya harus memperoleh sesuatu dari saya.”

Tidak terlalu pasif berbahasa Batak, namun Choky bangga menjadi orang Batak. “Saya bangga menjadi orang Batak. Karena itu, on air saya berani berkata ini Choky Sitohang. Meskipun saya tidak terlalu terbiasa berbahasa Batak, bahkan nyaris tidak bisa. Tetapi, darah saya darah orang Batak. Ibu saya boru Napitupulu. Kakek nenek saya semua orang Batak. Ompung saya Kolonel MC Sitohang alamarhun begitu baik pada saya,” ujar pahoppu panggoaran (cucu pertama dari anak pertama) ini. Hotman J. Lumban Gaol

Sakti Naibaho


Sakti, Master of Number Junior
The Master Junior 2 adalah ajang pencari bakat bagi pesulap anak-anak, umur delapan hingga 14 tahun. Program TV ini merupakan kelajutan dari The Master Junior 1 yang disiarkan langsung RCTI setiap Sabtu dan Minggu sore.

Gara-gara ibunya, Sakti Naibaho melambung namanya. Ceritanya, Tahelena boru Hutapea mendaftarkan nama anaknya begitu mendengar ada audisi The Master Junior 2 di Radio Cardova, Medan, audisi perdana di Sumatera Utara pertengahan Oktober lalu. Boru Hutapea tahu benar akan kemampuan anaknya, karena itu dia tak berpikir panjang untuk mendaftarkan Si Sakti. Walau seleksi berlangsung ketat sekali, Sakti Sahatma Samudra Naibaho, kelahiran Medan, 5 Desember 1997, terpilih mewakili kota kelahirannya.
Sakti kini dijuluki Master of Number Junior. Julukan itu sesuai permainan sulapnya yang mengandalkan matematika sehingga banyak orang terinspirasi dan bersemangat mempelajari matematika.

“Matematika bagi saya dia bisa mengembangkan pikiran kita. Dengan permainan sulap lewat matematika ini, saya juga mau menyemangati orang untuk selalu belajar dan berlatih mengembangkan kemampuan,” ujar anak dokter Binsar Naibaho, 38 tahun, asal Panguguran, Somosir. Sakti memang sakti dalam soal hitung-hitungan. Waktu kelas 1 SMP dia masuk dalam Tim Olimpiade Matematika mewakili sekolahnya.
Usia 12 tahun, dia sudah menjadi siswa kelas 3 Sekolah Menengah Pertama Methodis 2, Medan. Mulai belajar sulap semenjak kelas 4 SD. Trik sulap pertama yang dipelajarinya adalah penggunaan kartu. Ini dia pelajari dari buku-buku sulap dan juga latihan langsung dari ayahnya. Menurut Sakti, ayahnya bisa mengajarkan trik, tapi cuma berteori tidak bisa praktek. Sehari-hari, Sakti suka membantu orang lain dengan memilih kesibukan di klinik pengobatan cuma-cuma milik orangtunya.

Apa motif mengikuti ajang lomba ini? “Saya mengikuti acara ini, syukur kalau bisa menjadi juara. Saya ingin membanggakan keluarga dan marga Naibaho, terutama warga Sumatera Utara.” Tambanya pula: “Selain menghitung, saya juga suka nyanyi. Pernah ranking tiga di sekolah. Selain itu, saya hobi catur. Harapan saya, bisa membanggakan orang Medan dan keluarga terutama marga Naibaho,” ujar anak pertama dari tiga bersaudara ini.

Nadya Hutagalung


Nama Lengkap : Nadya Yuti Hutagalung
Pekerjaan : Model, Mantan VJ MTV Asia
Negara Asal : Australia – Indonesia
Tempat/Tanggal Lahir : Sydney, 28 Juli 1974
Nadya Hutagalung konsisten memilih salah satu negara Asia, menetap di Singapura. Nadya perempuan seksi dan paling cantik adalah salah satu MTV Asia’s legendaris asli VJ’s, yang mencapai posisi teratas dengan gampang, memenangkan-nya tahun 1997 Best Light Entertainment Presenter Award di Asian Television Awards untuk menghibur 70 juta rumah tangga di seluruh Asia.
Dia memulai dunia modeling di usia 12 tahun, dimulai di Tokyo, dan telah menempuh perjalanan sekitar Asia Tenggara dan Australia. Atas penampilannya, penerbitan pers internasional menyebutnya berpenampilan berbeda dan berkepribadian bersemangat.

Nadya mendapatkan semuanya karena kerja keras. Dia terpilih sebagai salah satu Asia’s Leading Trendmakers oleh majalah Asiaweek, di samping Dalai Lama, Michelle Yeoh dan Chow Yun Fatt, atas kemampuan khusus untuk mengilhami dan mempesona banyak orang. Pada tahun yang sama, ia juga terpilih Showtime Personality of the Year oleh Singapore’s The New Paper, dan Singapura’s Most Gorgeous Woman oleh pembaca majalah Female. Nadya juga disebut sebagai salah satu dari sepuluh “Shining Stars” di Televisi Indonesia oleh publikasi Indonesia, Bintang.
Gairah hidup telah memberinya dorongan untuk menawarkan bantuan di mana dan kapan diperlukan sehingga amal-nya telah mengambil kursi depan juga. Ia membagi waktu senggang, apa pun dia antara membela pelestarian spesies langka, lukisan untuk amal pameran seni untuk menyebabkan seperti Dana Bantuan Tsunami dan relawan, baik secara fisik dan penggalangan dana bantuan (untuk bom Bali dan korban gempa Jogakarta). Hojot Marluga