Yamaro Sitompul


Pencipta Lagu Jokowi Presidenku dan Lagu Polisi Negara

Yamaro1Musisi produktif, telah menciptakan banyak lagu. Pria kelahiran lahir tahun 1965 di Rura Pangaloan, Pahae Jahe, Tapanuli Utara. Sebenarnya nama aslinya adalah Ia’Maro. Ia berarti diartikan dia, sedangkan maro berarti sudah datang. Jadi, “Ia’Maro” mengandung arti “dia sudah datang.”  Dalam bahasa Batak bisa disebut juga las roha ro, dalam bahasa Indonesia diartikan kedatangannya membawa sukacita. Nam berkah. Nama itu sebenarnya pemberian kedua orangtuanya; Parmian Sitompul dan Erika boru Simorangkir.

Yamaro merupakan anak ke-8 dari 10 bersaudara. Menikah dengan gadis asal etnis Batak Karo bernama Seriminda boru Purba Karo. Dari pernikahannya Tuhan anugerahi 3 (tiga) putra dan bungsu 1 (satu) putri. Si sulung bernama Michael Pangordang Dame Sitompul, anak kedua Capryam Satahi Pandapotan Sitompul, anak ketiga Capryen Saoloan Pandapotan Sitompul, sedangkan si bungsu bernama Christ Nathalia Srie Rotua Tarbarita boru Sitompul.

Iya, dia musisi yang otodidak yang produktif. Berbagai prestasi sudah diraihnya sejak duduk di bangku SMP, hingga saat ini. Tahun 1979, Yamaro meraih Juara I pada Lomba Pop Song Porseni Se-Tapanuli Utara. Tahun 1980 hingga tahun 1983 Yamaro menyelesaikan studinya di SMP HKBP Pangaloan. Tetapi dia selalu aktif mengikuti kejuaraan vocal group antar sekolah di Pahae. Tahun 1983-1986, pada saat duduk di bangku SMA Negeri I Tarutung Tangsi, aktif menjadi personil kontingen vocal group Tarutung di bawah naungan Pemerintah Kepala Daerah Bupati Tapanuli Utara.

Tahun 1985, dia juga meraih Juara I Lomba Vocal Group Pesta Danau Toba di Parapat yang menyumbangkan piala ke Kantor Bupati Tapanuli Utara. Selanjutnya, tahun 1985 dia menjadi juara I Vocal Group antar Tingkat SLTA Se-Tapanuli Utara yang mewakili Vocal Group SMA Negeri I Tarutung.

Berprestasi demi prestasi

Tahun 1988, Yamaro meraih Juara III Lomba Cipta Lagu Batak (LCLB) Tingkat Nasional Pertama. Piala bergilir Menteri Perdagangan pada waktu itu Dr Arifin Siregar, waktu itu. Tahun 1989, dia memasuki rekaman bersama Trio Ambisi, Trio Jack Marpaung, Tagor Tampubolon, dan lainnya. Selanjutnya, tahun 1991-1996 dia menadatangani kontrak kerja Hotel Berbintang di Bandung, Jawa Barat dengan mendirikan Group Entertainment DAME’S Vocal Group. Yamaro menjadi leader pada group ini. Dari sana mereka kemudian berpindah-pindah manggung di Sheraton In Hotel, Preanger Hotel, Panghegar Hotel, Sapoihoman Hotel, Horizon Hotel, Jayakarta Suith Hotel, Shantika Hotel, Venezia Restaurant, Flamboyan Restaurant, Princes Restaurant.

Tahun 1995, mulai mencipta lagu dan koor. Dia lalu menciptakan lagu koor Gereja berjudul Dame Na Sumurung. Lagu ini ikut diperlombakan di Festival koor di Gereja GKPI Wilayah IV, Dairi, Sidikalang. Atas keberhasilan dalam menorehkan karya-karyanya, maka pada tanggal 17 Agustus 2006 dia juga menerima penghargaan dari Kantor Wilayah Agama DKI Jakarta sebagai musisi otodidak.
YamaroTahun 2010, bulan Oktober dia mengarranggemen lagu Parsadaan Pomparan Raja Hasibuan se-Dunia.

Tak berhenti di situ, Yamaro juga menciptakan lagu untuk Sekolah Minggu HKBP diberi judul Horas Singkola Minggu HKBP. Dakdanak singkola minggu HKBP dan lagu untuk lanjut usia (Lansia) HKBP, Parompuan HKBP, Mars Tabe HKBP dari Tanggap Bencana HKBP. Juga, lagu majalah Suara HKBP, Horas NHKBP, Mars Remaja dan Pemuda HKBP. Oleh pengabdiannya ke HKBP Ephorus HKBP Pdt WTP Simarmata, MA mengangkatnya menjadi anggota Bidang Informasi dan Komunikasi pada Badan Tanggap Bencana HKBP.

Kemandirian ekonomi

Selain vocal Yamaro kini eksis mengarang lagu. Karangannya sudah dinyanyikan di berbagai instansi pemerintah. Salah satunya, tahun 2006, Yamaro menciptakan lagu untuk Polisi Republik Indonesia, dengan judul Spirit Untuk POLRI. Menurutnya, karangan ini diatorehkan sebagai dukungan penuh atas tugas-tugas pengabdian Polri. Yamaro ini juga dikumandangkan di Polda Kaltim Balikpapan pada acara Natal Bersama Polda Kalimatan Timur. Pada waktu itu dipimpin Irjend Pol DPM Sitompul sebagai Kapolda Kaltim.

Selanjutnya, 3 Juli 2006, di Gedung PTIK. Lagu tersebut dikumandangkan oleh Paduan Suara Bareskrim Mabes Polri. Paduan suara ini diiringi orchestra Mabes Polri. “Saya bangga karena juga disaksikan Kapolri Jend. Sutanto waktu itu. Dan juga disaksikan para mantan Jenderal Polisi,” kenang Yamaro.

Sebagai seniman, Yamaro merasakan tuntunan Tuhan. Kariernya sebagai seniman berlahan namun pasti terus menaik. Juli 2010, dia merekam karangannya itu dengan bekerjasama pada perusahaan rekaman dibawah naungan PT Global Musik. Merekam lagu  Polisi Pilihanku dan Polisi Negaraku, dan Bersama Kita Bisa” menjadi  RBT di handphone seluruh operator. Dan dapat didownload.

Mencipta lagu dijadikannya juga sebagai ajang kreasi, sekaligus untuk kemandirian ekonomi. Komponis Batak muda ini telah banyak menciptakan lagu mars dan koor. Termasuk, tahun 2007 Yamaro merilis album VCD Solo dan Ya’maro Family dengan label “Silindung Nauli”. Lagu tersebut menggambarkan keberadaan tentang Salib Kasih dan Nommensen. Atas permintaan Dr HP Panggabean SH MS, sekaligus mencipatkan lagu mars Kerukunan Masyarakat Batak (Kerabat) yang kebetulan diketuai Panggabean.

Berjubel gubahannya sudah tentu membawa kemandirian ekonomi. Atas semua prestasinya ini tentu membawa kemandirian ekonomi, dan tentu ucapan terimakasih dari berbagai pihak sudah menjadi hal biasa. Termasuk ucapan terimakasih oleh Kadiv Humas Polri, Irjend Pol Edwar Aritonang, pernah diterimanya atas karangannya tersebut. “Lagu tersebut adalah untuk dukungan dan kecintaan sebagai masyarakat. Dukungan atas tugas-tugas Polri,” katanya.

Kini, sebagai seniman, Yamaro juga mengekpresikan dunia seninya untuk terlibat dalam suksesnya pemilihan presiden. Dia menciptakan lagu untuk Jokowi. Yamaro juga menyadari dukungannya kepada pasangan Jokowi-JK sebagai pilihan terbaik. Itu sebabnya, dengan kemunitasnya dia mempromosikan Jokowi-JK dengan melakukan perjalanan di berbagai wilayah. “Para seniman untuk mendukung acara pilpres, semacam kekuatan sosial untuk memberikan dukungan terhadap pasangan nomor dua,” ujarnya. Dia percaya pasangan Jokowi-JK akan bisa membawa Indonesia ke dalam perubahan yang lebih baik. ditulis Hotman J. Lumban Gaol
Kronologi Lagu: ”JOKOWI PRESIDENKU”. Cipt: Yamaro SP.

YamaraLagu JOKOWI PRESIDENKU saya Ciptakan Setahun yang lalu, saya Yamaro SP mendapat Ilham terhadap JOKOWI, Bahwa beliau adalah Anak Manusia yang di Lahirkan di Bumi Indonesia menjadi anak Indonesia yang Polos,Tegas,Setia dan Bersahaja Oleh Urapan Kharisma Dari Tuhan Allah Maha Besar, Kesatria Pancasila untuk Membawa Indonesia Damai,Makmur dan Sejahtera. Terimakasih untuk Tuhan, serta kepada Ayahnya khususnya kepada Ibu yang  melahirkan JOKOWI.

Lagu JOKOWI PRESIDENKU saya Ciptakan di sebuah desa Kelahiran Saya tepatnya di Desa Pangaloan,Pahae-Tapanuli Utara, Minggu 5 Mei 2013.Pukul,00:48wib. setelah pulang ke Jakarta, Tepatnya Tgl 29 Mei 2013, lagu tersebut saya tulis dan Edit pakai Computer ter tanggal 29 Mei 2013 dalam lembaran lagu, dan Lembaran lagu hasil editan, saya Posting di Facebook saya:Yamaro SP ter tanggal 30 Mei 2013. Lagu Tersebut sewaktu Postingan pertama, agar bersahabat terhadap Teman yangmelihat dan mengomentari lagu tersebut, sebab waktu bicara presiden baru  tergolong dini, saya coba buatkan Judulnya JOKOWI OH JOKOWI (Tapi Tidak merobah Lirik). September saya kembalikan Judul Asli Pembuatanya “JOKOWI PRESIDENKU”.

Pada tanggal 7 September 2013, Lagu tersebut saya Masukkan di Youtube berbentuk Slide Audio Video, dengan memasukkan Gambar-gambar Jokowi dan Megawati serta PDI Perjuangan dll.(Bisa di Cek di Youtube saya klik : Kairos Yaro, disana ada lagunya dengan Versi House Music/Disco. Tanggal,Bulan,Tahun dan Jam Pemasukanya di Youtube bisa di saksikan).

Lagu ini saya Ciptakan untuk Perjuangan Kemenangan JOKOWI PRESIDEN bersama JK wakil Presiden di Pesta Pilpres 2014 Kemenangan tersebut di miliki oleh Seluruh Rakyat Indonesia.

Lagu JOKOWI PRESIDENKU dapat di nikmati setelah Pelantikan Beliau jadi Presiden Lagu ini Tetap kita Persembahkan untuk Rakyat Indonesia sepanjang masa agar kiranya Kehadiran Lagu ini, menjadi Motivasi semangat kerjasama membangun “Karakter Unggul Bangsa Indonesia” melalui Kepemimpinan JOKOWI-JK Pilihan Rakyat.

Salam Perjuangan bersama untuk “JOKOWI – JK”

                 Yamaro SP.

Cntact: Hp.0813 1891 7020.                                           

Iklan

Sammy L Tobing


Sammy L Tobing: Bercita-cita Menjadi Ahli Pesawat Terbang

Copy of SammySosok Sammy saat mengiringi suling dia acara budaya dan di gereja, banyak mengundang decak kagum, Sammy merupakan sosok remaja pemikir dan terus mengasah talentanya, dimana di setiap hari dia harus berlatih. Sammy sebagai salah satu remaha yang punya peluang menjadi orang hebat dimasa mendatang. Dilahirkan dengan nama lengkap Sammy Lumban Tobing. Ayahnya bernama Sam L Tobing. Dia adalah anak bungsu dari 3. Pada usia 5 tahun, Sammy sudah memperlihatkan bakat dan talentanya.

Pintar, piawai dalam music itulah sosok muda, Sammy L Tobing yang penuh talenta. Sejak kecil, Sammy, bercita-cita menjadi seperti Habibie. “Saya ingin seperti Habibie,” ujarnya. Lalu, apa kiat untuk menjadi seperti Habibie. Sammy sudah tentu banyak membaca, bertanya, bahkan selalu menonton dan mendengar apa-apa yang berkaitan dengan minat, katanya.

Apa memang minatnya? Sejak kanak-kanak, selain music etnis, music modern Sammy sudah tertarik dengan pesawat terbang. Itu sebab, ketika ada acara membahas pesawat atau jatuh pesawat jatuh di televise dia otomatis menontong dengan serius. “Sejak kecil bakat itu sudah dia tunjukkan. Semacam pengamat pesawatlah,” ayahnya, bekas Inspektur Jenderal Departemen Hukum dan HAM, ini.

Sekedar menunjukkan kehebatan Sammy pada pemaham soal pesawat. Ketika pesawat ini menghilang pada Sabtu (8/3/2014) dalam perjalanan dari Kuala Lumpur ke Beijing di atas Teluk Thailand. Sammy membangun punya pemikiran sendiri. Menurutnya, ada banyak hal analisis yang bisa dibangun. Menunjukkan kemungkinan bahwa seseorang pada daftar pengawasan terorisme mungkin telah naik pesawat dan meledakan itu? Tetapi fakta sejauh ini tidak ada  puing rongsokan pesawat yang dikaitkan dengan Boeing 777, yang  menunjukkan ledakan bom.

Sammy menambahkan, ada skenario bahwa hal itu pembajakan. “Sebelum menghilang, data radar menunjukkan pesawat mungkin telah berbalik untuk kembali ke Kuala Lumpur. Sejauh ini, belum ada laporan bahwa awak pesawat mengirim sinyal apa pun yang bisa mengabarkan telah terjadi pembajakan,” terangnya. Ada juga asumsi mungkin karena kegagalan mechanical? Namun, bagi Sammy tidak adanya puing di lapangan yang menunjukkan kemungkinan bahwa pilot dipaksa untuk mendaratkan pesawat dan mendarat di atas air tanpa putus, akhirnya tenggelam ke dasar laut.

Apa hal yang membuat Sammy begitu jernih menjelasakan soal pesawat. Sejak kecil dia sering mempelajri pesawat, bahkan bertanya soal pesawat. “Dia selalu kritis dalam segala hal dan selalu banyak bertanya apa saja kepada saya. Saya sering mendapat pertanyaan dari dia. Pak Kenapa? Kenapa begini? Walau sudah dijawab, selalu dia kembangkan lagi pertanyaannya,” tambah Sam L Tobing.

Bagi ayah Sammy, kebiasaan anaknya itu bertanya itu membuatnya makin banyak belajar tentang pesawat. Termasuk sikap kritisnya juga tak berubah saat mendapat pendidikan agama. Sejak kecil Sammy juga sudah menjadi orang yang kutu buku, berbagai buku dia baca. Termasuk majalah-majalah pesawat, khususnya yang menyangkut bidang ilmu teknik maupun ilmu alam. Itu tadi, kelak dia berharap bisa seperti Habibie. Menjadi seorang yang ahli pesawat terbang.

Suling Batak

Berkat kepiawaian dalam olah vokal dan bermain suling Batak, musisi belia Sammy L Tobing sudah melanglang buana ke 5 benua. Bahkan, sudah ke-31 negara disinggahinya. Kepiawaiannya itu telah terasah sejak dia duduk di bangku sekolah dasar. “Dua bulan mempelajari nada dan mengatur nafas, anak penuh talenta ini sudah mahir memadukan keduannya, vokal dan suling Batak,” ujarnya.

Sammy memiliki kemampuan, cepat belajar. Kecepatan belajar membuatnya bersinar di usia muda. Sebenarnya, jiwa seni mengalir dari sang ibunya, Semiramis Zizlavsky yang menyukai seni lukis. Kecintaan terhadap suling Batak anak bungsu dari tiga bersaudara pasangan Sam L Tobing dan Dr. Semiramis Zizlavsky ini  berawal saat melihat video klip Viky Sianipar. Keinginannya mempelajari suling batak mendapat sambutan baik dari musisi Korem Sihombing. “Bang Korem, selain mengajari saya, juga memberikan saya 16 suling, dan saya ingin memajukan seni budaya batak,” tambahnya. Berkat seni yang digelutinya itu, kini dia gemar menghibur teman dan keluarga, juga  di sekolah Minggu di gerejannya yang tak jauh dari rumah. “Saya juga mengikuti sekolah Minggu di gereja, memainkan piano dan bernyayi bersama,” katanya.

Sammy menambahkan, jika di sekolah dia banyak mendapat pelajaran ekstra kulikuler kebudayaan daerah seperti angklung dan Tari Bali. Sammy melihat kebanyakan temannya lebih senang menggunakan alat musik yang sudah terkenal. “Teman-teman jarang mau memainkan alat musik dari daerahnya sendiri. Selain mereka membawakan budaya di luar, seharusnya juga membawakan alat musik dari budayanya sendiri agar orang tahu kemajemukan kebudayaan seni di Indonesia,” ujar Sammy.

”Sebagai generasi muda Batak, saya harus berpartisipasi di kebudayaan Batak. Menurut saya, apresiasi orang-orang muda Batak belakangan ini kurang begitu antusias.” Padahal, dulunya sangat terkenal dengan lagu dan tarian-tariannya yang kental dan khas. “Saya ingin nama Batak itu semakin dikenal dengan keunikan budaya dan tarian lagunya, karena orang Tapanuli itu banyak memiliki kelebihan, terutama dalam urusan seni budaya,” ujarnya.

Di rumahnya di bilangan Kemang Pratama, Bekasi, Sammy memiliki perangkat musik Batak. Termasuk Gondang Uning-Uningan yang ditabuhnya sabam hari. Karena itu, remaja, umur 15 tahun itu merupakan sosok yang patut diperhitungkan. Selain bermusik, Sammy punya talenta bernyanyi, suaranya lantang. ”Saya bernyanyi dari Batak untuk Indonesia, bahkan ke dunia. Ini merupakan suatu bentuk kecintaan kita terhadap budaya Indonesia,” ujarnya lagi.

Menurutnya, bernyanyi dan suling bukan sebagai cita-cita menjadi seorang seniman sampai tua. Tetapi, bernyanyi dan memainkan suling Batak, tetap dijalani semuannya sebagai sampingan, bukan tujuan saya kelak. Soal ilmu pengetahuan, Sammy lebih tertarik kepada pembuatan pesawat terbang dan ia memang sudah pernah mengikuti latihan pilot di Belanda tahun 2000.

Sekali lagi, impiannya ingi ahli pesawat terbang. “Impian saya merancang sebuah pesawat seperti Pak B.J Habibie. Rencananya, setelah lulus dari Sekolah Menengah Atas langsung berangkat ke Jerman, mengejar cita-cita membuat pesawat,” ujarnya, mengungkapkan cita-citanya itu. Hotman J. Lumban Gaol

 

Lena Simanjuntak


lena simanjuntakNama :
Lena Simanjuntak

Lahir :
Bandung, Jawa Barat 1957

Aktifitas Lain :
Editor majalah Kartini (1980),
Wartawan dan penyiar bebas siaran bahasa Indonesia di Radio Deutsche Welle,
Pendiri organisasi the Cologne Forum for Indonesia,
Kurator ASEAN Institute di Essen, Jerman
(2000 s/d sekarang),
Chief Executive Lembaga Keadilan dan Perdamaian bagi Perempuan Nur,
Jaringan Kerja Buruh Migran di Koeln (Jerman),
Kurator Yayasan Rumah Asia di Koeln (Jerman),
Anggota aktif Lembaga Persahabatan Indonesia-Jerman,
Angota Pusat Latihan Opera Batak/PloT di Pematang Siantar (Sumatera Utara)

Pendidikan :
SMA, Medan (1972),
Institut Kesenian Jakarta jurusan Penyutradaraan
(1975-1979)

Pencapaian :
Beasiswa dari Goethe Institut untuk belajar pantomim dengan Mila Sladek di Jerman (1993)

Sejak tahun 1975 sampai 1979, Lena Simanjuntak menjadi mahasiswa di Institut Kesenian Jakarta fakultas teater jurusan penyutradaraan. Sambil kuliah dia juga aktif sebagai aktor, penata artistik dan asisten sutradara. Ia juga menulis banyak kritik tentang teater yang dimuat di koran Sinar Harapan.

Setelah memimpin pementasan teater anak-anak, ia mulai menggunakan media teater sebagai sarana untuk belajar menjadi pekerja industri. Tahun 1980, ia menjadi editor di majalah Kartini dan mulai aktif juga sebagai sutradara teater di TVRI pada program acara keagamaan. Menerima beasiswa dari Goethe Institut untuk belajar pantomin dengan Milan Sladek di Jerman pada tahun 1993.

Ikut berpartisipasi dalam sebuah workshop yang diselenggarakan oleh Ludwig Flasen dari Teater Grotowsky dan Peter Brooks. Disamping ikut dalam pertunjukan teater ia juga aktif di berbagai macam kegiatan sosial, salah satunya pada organisasi Jaringan Pekerja Migran Perempuan di kota Koeln Jerman. ia juga menjadi reporter freelance pada Radio Deutsche Welle of Germany untuk menyiarkan program acara bahasa Indonesia. Ia tercatat sebagai pendiri organisasi The Cologne Forum for Indonesia.

Sejak tahun 2000 ia menjadi kurator atau penilai benda-benda seni pada Asean Institute di Essen Jerman. Dari tahun 1999 sampai sekarang pekerjaan teater yang membawa dia kembali dari Jerman ke Indonesia. Membangun metode teater sebagai media belajar dan sumber kekuatan seseorang, terutama perempuan mambuatnya bekerjasama dengan wanita-wanita yang bekerja di tempat prostituísi di Surabaya, pembantu rumah tangga di Yogyakarta, di Jakarta, pekerja pabrik, nelayan, pengusaha kecil di Sumatra Utara, korban tsunami Aceh di Sei Lepan.

Ia lebih mengutamakan bekerja dengan organisasi non-profit (LSM) dan organisasi wanita. Selain aktif mengkampanyekan anti Perdagangan Wanita dan Anak-anak bekerjasama dengan beberapa sekolah di Banyuwangi. Sejak tahun 1984 sampai dengan sekarang ia menetap di Jerman, ia juga bekerjasama bersama beberapa orang yang mengidap HIV/AIDS.

Menikah dengan Karl Metes, saat sang suami menjadi konsultan di TVRI dan sat ia masih aktif dalam penyutrdaraan acara TVRI (1984). Baginya teater adalah ruang dialog, baik antar pemain maupun penonton. Teater tak sekedar pentas, tetapi media untuk mengubah paradigma, mengajak orang bermenung sadar dan bersolidaritas akan persoalan di hadapannya.

Alfred Simanjuntak


Alfred SimanjuntakDR. Alfred Simanjuntak lahir pada tanggal 8 September 1920 di Parlombuan, Sumatera Utara.  Dikenal luas oleh masyarakat melalui lagu ciptaannya yang berjudul Bangun Pemudi Pemuda. Dia menerima pendidikandi Rijksuniversiteit Utrecht, Leidse Universiteit, Leiden, Stedelijke Universiteit, Amsterdam, Belanda tahun 1954-1956. Selama enam tahun ia bersekolah di Hollands Inlandsche Kweekschool, Surakarta, pada tahun 1935, ketika itu usianya sekitar 15 tahun. Tahun 1950, Alfred melanjutkan pendidikan ke Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Dia juga salah satu penggagas dan pendiri Yamuger (1967) dan membantu memulai Pesparani (Festival Paduan SuaraGerejani) pada tahun 1985. Memiliki pengalaman sebagai guru dan menjabat juga dalam bidangkomunikasi dan penerbitan.

DR. Alfred Simanjuntak menerima pendidikan di Rijksuniversiteit Utrecht, Leidse Universiteit, Leiden, Stedelijke Universiteit, Amsterdam, Belanda tahun 1954-1956. Beliau salah satu penggagas dan pendiri Yayasan Musik Gereja (1967) dan membantu memulai Pesparani (Festival Paduan Suara Gerejani) pada tahun 1985. Sejak tahun 1934 sampai sekarang telah menulis puluhan lagu anak-anak, lagu rohani, lagu-lagu paduan suara, serta lagu nasional, dan pernah menjadi konduktur istana atas saran R. Sudjasmin.
A. Simanjutak juga menciptakan lagu Saudaraku Berpulang Dulu, dan beliau berteman dengan Liberty Manik (yang menciptakan Satu Nusa Satu Bangsa) dan Cornelis Simanjuntak (yang melahirkan Pada Pahlawan), sehingga ciri khas lagu yang mereka ciptakan sama.***

Dakka Hutagalung


 

Karena cinta dia berkarya. Kata Mutiara Cinta, karangan dari Kahlil Gibran (1883-1931) adalah seorang penyair Kristen, seniman dan penulis kelahiran Libanon yang terkenal dengan tulisan-tulisan bertema cintanya yang legendaris, itu. “Hakikat cinta adalah rintihan panjang yang dikeluhkan oleh lautan perasaan kasih sayang. Ia adalah cucuran air mata kesedihan langit pikiran. Ia adalah senyuman ceria kebun-kebun bunga cinta.”

“Hakikat cinta adalah rintihan panjang yang dikeluhkan oleh lautan perasaan kasih sayang. Ia adalah cucuran air mata kesedihan langit pikiran. Ia adalah senyuman ceria kebun-kebun bunga cinta.”

Barangkali, kata “cinta” itulah yang membebat Dakka Hutagalung, 65 tahun, berkarya mengoreskan cinta demi karya-karyanya. Motto hidupnya memang “kasih itu indah” dan cita-citanya ingin meninggal, permohonannya pada Tuhan, kalau diizinkan meninggal di usia 99 tahun. Mengapa? “Agar terus dapat berkarya,” katanya, karena cinta akan mengoreskan lagu-lagu yang menyemangati, yang memberikan peneguhan.

Pria kelahiran Sibaganding Pahae, Tapanuli Utara, 20 Oktober 1948 sudah menciptakan 400-an lebih lagu. Komponis Batak yang telah menciptakan lagu-lagu Batak Toba legendaris, dan beberapa lagu berbahasa Indonesia. Memulai debutnya mengarang lagu di umur 24 tahun. Kini, dia sudah berkecimpung lebih dari 40 tahun di dunia musik.

Buah lagu ciptaanya: terdiri dari pop Batak, Indonesia dan Rohani Batak dan Indonesia lagu hits: Sonata yang indah, Dia dan Dia, Tembang Rindu, Danau Toba, Perahu Cinta, Tabahlah Mama, Sipata, Buni di Ateate, Didia Rokkaphi, Unang Boasa, Didia Jumpang Au, Anakhonhu. Lagu rohani: Ho do Rajahu Togihon Au Tuhan, KepadaMu Ku Bersyukur, Kaulah Rajaku. Di era 80-an, lagu-lagunya seperti Anakkonhu, dipopulerkan Eddy Silitonga dan, Rita Butar-butar, mempopulerkan lagu, Didia Rongkap Hi.

Sementara di organisasi musik, Dakka didaulat menjadi dewan pembina Persatuan Artis Batak Indonesia (PARBI). Juga di Departemen Organisasi Paguyuban Artis Pencipta Lagu dan Penata Musik Rekaman Indonesia (PAPPRI), sekaligus salah satu pendiri dan Dewan Pertimbangan Komisi Nasional Pencipta Lagu Indonesia.

Sebelum menjadi pencipta lagu, Dakka dikenal personil trio. Dia mendirikan group bersama dua temannya, Star Pangaribuan dan Ronald Tobing, lewat Trio Golden Heart. Trio Golden Heart kerapkali menyelipkan lagu-lagu Melayu serta lagu rohani Kristen. Lagu rohani misalnya: “Silang Nabadia.” Kaset C-60 berdurasi enam puluh menit itu, produksi perusahaan rekaman Mini Record. Namun, sayang di tengah perjalanan trio ini mati suri. Dari sana Dakka beranjak menjadi pengarang lagu Batak.

Banyak karangan Dakka yang melegenda diantaranya: Didia Rongkap Hi, Anakkonku, Inang dan ratusan karya Dakka Hutagalung setiap hari dinyanyikan di pesta, kafe, dan acara-acara penting lainnya. Tapi, sama seperti banyak kehidupan pencipta lagu lainnya, kehidupan kesehariannya tak sebanding dengan nama besarnya. Sekitar 40 lagu dari sekitar 400-an lagu ciptaannya yang pernah hits, tetapi tidak juga membawa dampak pada pundi-pundi Dakka. Padahal, di blantika musik nasional, lagu-lagunya, dilantunkan Joy Tobing, Jelita Tobing, Amigos, Dipo Pardede, Maria Pasaribu, Silaen Sisters, Trio Lamtama dan sejumlah pelantun lagu Batak lainnya.

Beberapa karyanya diaransir ulang musisi, Vicky Sianipar dan bahkan musisi nasional. Diantara lagu yang dilantunkan dalam Pagelaran 40 Tahun Dakka Hutagalung Berkarya, beberapa tahun lalu, diantaranya, Soneta Indah pernah dipopulerkan Emilia Contessa, Syair dan Melodi, Didia Rongkap Hi, Anakkonku, Inang, Gereja Bolon, O Tuhan. Itu sebagian kisah lagu-lagu ciptaan Dakka.

 Berkah Dakka

Apakah arti sebuah nama, demikian William Shakespeare pujangga terkenal dari Eropa itu pernah berkata. Iya, apalah arti sebuah nama. Tetapi, nama dalam dunia pesohor amat penting, dan sudah menjadi pembawa berkah tersendiri bagi penyandang nama. Hampir semua pesohor, aktris, nama populer mereka punya sejarah sendiri-sendiri. Contoh saja, Iwan Fals nama aslinya Virgiawan Listant. Oleh ibunya memanggilnya Iwan, sementara Fals karena merasa suaranya fals, yang kemudian digabung menjadi Iwan Fals. Atau, nama Remy Silado, sastrawan yang terkenal itu. Nama itu diambil dari angka 23761, tanggal 23, bulan 7, tahun 76 adalah kisah yang yang meninggalkan sejarah dalam kehidupannya. Nama aslinya: Yapi Panda Abdiel Tambayong, Remy Silado. Memberi nama, selalu karena ada sejarahnya.

Nama Dakka juga diambil dari kenyataan, ketika dia lahir satu jari tangannya bercabang, atau disebut hiperdaktili (hiperdaktili disebut bila jumlah jarinya enam). Dalam bahasa Batak, bercabang diartikan Dakka. Tatkala lahir dalam kondisi hiperdaktili itu, oleh orangtuanya memberi nama, Dakka. Maka jadilah tersemat nama itu, dan membawanya kesohor.

Sebagai senior pengarang lagu Batak, Dakka sendiri meyakini, lagu-lagu Batak disenangi lintas suku di Tanah Air. “Tak jarang, lagu-lagu Batak diperdendangkan dalam ajang-ajang nasional maupun internasional. Jangan anggap remeh lagu Batak. Lagu Batak sudah go internasional,” jelas suami, Irma Sumaya.

Kini, Dakka dengan setia menjalani hari-harinya sebagai seniman, walau pun tidak membawa kemewahan, dia menjalaninya dengan bahagia. Sikap yang dijaganya, idealisme yang harus dijaga dan diperhankan. Independen demi karya-karya yang bukan hanya untuk laku di pasar saja. Tetapi bagaimana karya itu memberikan inspirasi dan pesan, nasihat bagi yang mendengar, demi karya yang abadi.

Sebagai seorang seniman, maestro musik Batak yang telah menciptakan hampir limaratusan lagu, hingga kini Dakka masih tinggal di rumah sewaan. Inilah kenyataan yang ada. Nama beken, tidak jua membawa kehidupan Dakka sepadan dengan nama besarnya. Masih menempati sebuah rumah kontrakan di Tangerang, Banten. Seharusnya tidak hidup dalam keadaan demikian, jika Dakka mendapat royalti dari karya-karyanya. Sepatutnya dia milliuner. Pantas menikmati kemewahan dari karya-karyanya. Seandainya di negeri ini ada kejujuran, dan menghormati hak cipta orang lain.

Namun kenyataan, berpihak kepada para seniman yang telah menorehkan banyak kemanfaatan pada jagat musik Tanah Air, muskil, sepertinya hanya basa-basi. Nyatanya, keberpihakan terhadap seniman, seperti Dakka, nihil adanya. Nasib mereka tetap melarat. Para seniman idealis ini tak dipedulikan oleh industri musik. Padahal, para seniman-seniman seper Dakka inilah yang membuat roda ekonomi, di industri musik berputar.

Tetapi apa yang terjadi? Hasil keuntungan bisnis musik hanya dinikmati segelintir pihak saja. Para pencipta, pengarang miskin. Tetapi pemilik industri musik dan penyanyinya kaya-raya. Mereka, para korporat bisnis musik, dan para seniman tak pernah peduli atas hak royalti para pencipta lagu. Dan, yang paling menyakitkan, sudah didendangkan lagu-lagu mereka, tetapi tidak disebut nama pengarangnya. Nama mereka acapkali dilupakan.

Melihat kenyataan yang ada di industri musik, Dakka merasa miris. “Sepertinya kehidupan tidak adil. Banyak orang yang tidak pernah memeras keringat, kerja keras, menikmati hasil. Melihat kenyataan di lapangan, banyak orang yang memanfaatkan karya-karya kita, menjadi kaya, tetapi pengarangnya miskin. Yang berkarya tidak mendapat apresiasi. Sementara yang menikmati hasil justru para pembajak musik dan pengelola tempat hiburan yang terus mendulang rupiah berkat lagu karya-karya kita,” ujarnya tanpa tendeng aling-aling.

Karena itu, Dakka berharap: para artis, pengelola bar, pengelola cafe-cafe, siaran radio, siaran tv, hotel-hotel dan juga rumah-rumah hiburan yang mengunakan karya-karyanya, menghargai dan memberi royalti atas karyanya itu. Tak disangkal, atas lagu-lagu ciptaan Dakka, telah banyak memberi berkah bagi banyak musisi. “Bandingkan dengan pemain keyboard yang menyanyikan lagunya di pesta, kafe dan tempat-tempat hiburan. Hanya beberapa jam sudah mendapat honor sekian ratus ribu. Beberapa kali show, maka penyanyinya dapat duit jauh lebih banyak dari penciptanya.”

Lalu, bagaimana dia menyikapi hidup dengan bahagia, walau orang lain kaya dari memanfaatkan karyanya, sementara dia tetap melarat? Bagi Dakka, terus berkarya. Ihklas menjali hari-harinya. Berkarya berarti adalah mengarang lagu, mengoreskan cinta, dengan keikhlasan. “Cara yang saya tempuh dengan tetap menggarang, mengoreskan cintanya akan musik. Menghilangkan rasa cemas akan kehidupan. Bagi saya, seni merupakan bagian dari hidup. Karena itu, saya tak akan berhenti mencipta lagu selama saya masih diberi Tuhan kekuatan mencipta lagu, hingga ajal menjemput,” ujarnya.

Bagi Dakka, sekali layar terkembang pantang biduk surut ke pantai. Sekali pilihan sebagai pengarang dia tetapkan. Dia tetap memilih setia, menjadi seniman untuk jalan hidupnya. Dan tidak akan menyesal, walau tidak sebanding rupiah yang dia dapatkan. “Saya tidak menyesal memilih berkarya sebagai pencipta lagu,” ujarnya. “Tetapi jujur, saya heran melihat kondisi sekarang ini banyak seniman instan, baru muncul langsung terkenal. Tidak ada reputasi, tidak ada track record yang dibangun, tetapi langsung terkenal. Tidak melalui proses, sukses luar biasa. Sementara kita sudah lebih 40 tahun berkarya tak mendaapat apresiasi. Tetapi saya tidak pusingkan itu, yang penting saya tetap berkarya. Saya berkarya menggoreskan cinta dan membawa kasih, berkah bagi para penikmat lagu,” ujarnya menyentil.

Mudah-mudahan apa yang sudah dilakukan Dakka, sinyalnya ditangkap para seniman Batak. Jangan hanya memikirkan uang, lupa menjaga nama baik, dan karya yang utama. Dan yang terpenting menghargai karya orang lain. Akhirnya, kita beraharap ada bayak lagi seniman yang melanjutkan jejak dari bang Dakka. Apakah ada dari antara kita, atau Anda barangkali yang mau melanjutkan reputasi yang ditorehkan bang Dakka? Silakan saja! Kita menyabut baik.

Charles Hutagalung


CharlesCHARLES HUTAGALUNG adalah penyanyi marga Hutagalung, Indonesia yg legandaris yang lahir di Medan, 14 Oktober 1948, dan wafat di Jakarta, 7 Mei 2001.

SEJARAH HIDUPCharles telah mengenal Musik sewaktu kecil, mengikuti Les Piano dan bermain di Band Bocah. Sesudah remaja bermain band di kota Medan (Victim’s dan Bhayangkara Nada) terakhir The Mercy’s 70 dan hijrah ke Jakarta mengadu nasib.

Charles menikah di Jakarta 16 Mei 1975 dengan Delly Sriati Harahap dan dikaruniai 4 orang anak yaitu Iim Imanuel Hutagalung (Laki-laki) (1976), Ria Maria Hutagalung (Perempuan) (1977), Chepy Chekospi Hutagalung (Laki-laki) (1980) dan Dian Kristian Hutagalung (Perempuan) (1987).

Pada tanggal 21 Januari 1998, Charles terserang serangan stroke yang pertama kalinya. Pada tanggal 27 Januari 1999, Charles terserang stroke untuk yang kedua kalinya, sampai akhirnya ia dipanggil Yang Maha Kuasa pada tanggal 7 Mei 2001 Jam 07.53 pagi, ketika ia masih dalam perawatan berjalan yang di supervisi oleh Dokter Djoko Listiono dari RS. Pertamina Pusat. Ia dimakamkan pada hari Rabu tanggal 8 Mei 2001 di TPU (Taman Pemakaman Umum) Joglo, Jakarta Barat.

Sumber : http://wikipedia.org/wiki/Charles_Hutagalung

Soaloon Simatupang


Irjend Pol Drs

Karya cipta 30 dari dari 60-an Judul Lagu Karya Cipta Irjend. Pol. (Purn.). Drs. Soaloon Simatupang Sianturi, MSc.,
1. Inang Naburju
2. Amang Naburju
3. Anak Naburju
4. Parsondukbolon Naburju
5. Ompung Naburju
6. Siadopan Naburju
7. Boru Naburju
8. Boru Nabasa
9. Patik Palimahon
10. Martabe
11. Tahima
12. Sai Huingot do Ho
13. Songon Sillam Manoro
14. Hasian
15. Parpadanan
16. Pikkiri
17. Parumaen Naburju
18. Tona ni Oppui
19. Tumajuna ma
20. Unang Leas Roham
21. Anak Hasian
22. Paima Au
23. Muara Nauli
24. Unang Sai Sungguli be
25. Ora et Labora
26. Borhat Ma Ho Ito
27. Lapik Ni Bantal
28. Jangan Ragu
29. Di Hatiku Hanya Satu
30. Kalau Piring Sudah Pecah
31. Aditira Wirabakti (Mars Polda Sumsel)
32. Wawasan Nusantara (Hyme Lemhanas)
33. Motor Muara
34. Raja Parmassahati

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama Lengkap                  : Drs. SOALOON SIMATUPANG SIANTURI, MSc.

Pangkat                terakhir               : INSPEKTUR JENDERAL POLISI

Mantan Korps                   : POLRI

Tanggal Lahir                      : 10 Oktober 1947

Tempat Lahir                      : Muara, Tapanuli Utara

Suku Bangsa                       : Batak

Agama                                  : Kristen Protestan

Keterangan Lain

–              Tinggi Badan      : 166 Cm

–              Berat Badan       : 66 Kg

–              Warna Kulit         : Sawo Matang

–              Rambut                                : Hitam Ikal

–              Golongan Darah: -O-

KELUARGA

Isteri

Siti Bur Siregar (alm)

Anak

1.            Sariwaty Simatupang

2.            Mariska Simatupang

3.            Demak Simatupang

4.            Binsar Simatupang

 

PENDIDIKAN UMUM

SD, lulus, Tahun 1954-1960

SMP, lulus, Tahun 1960-1963

SMA, lulus, Tahun 1963-1966

IPWI-JIM’S, lulus, Tahun 1997-1998

KEPANDAIAN BERBAHASA

Bahasa Daerah  :               1. Sunda               : Aktif

2. Jawa                 : Pasif

3. Batak                : Aktif

4. Palembang     : Aktif

Bahasa Asing      :               1. Inggris

KEGEMARAN-KEGEMARAN

Olahraga                              : 1. Golf

2. Tinju

3. Sepak Bola

4. Bulu Tangkis

5. Judo

Kesenian                             : 1. Menyanyi

2. Menciptakan Lagu Pop Indonesia dan Lagu Daerah Tapanuli

BINTANG/TANDA JASA

1.            STL. Pancawarsa

2.            STL. Dwidya Sista

3.            STL. Kesetian 8, 16, dan 24 tahun

4.            STL. Kesetria Tamtama

5.            STL. Karya Bakti Utama

6.            STL. Dwidya Sista Utama

7.            Bintang Bhayangkara Nararya

8.            Bintang Bhayangkara Pratama

PENEMPATAN PENUGASAN DI LUAR NEGERI

1.            Thn. 1988                             : Studi Banding di BKA Jerman Barat

2.            Thn. 1987 s/d 1994           : Peserta Confrence Asean Armed Forces

( Malaysia, Singapura, Thailand, Philipina dan

Brunai Darussalam).

3.            Thn. 1988 – 1995               : Peserta Confrence Aseanapol ( Malaysia, Singapura, Thailand, Philipina dan Brunai Darussalam)

4.            Thn. 1996                             : Peserta WWLN KRA XXIX Lemhanas Ke

United of Kingdom.

5.            Thn. 1997                             : Paping WWLN KRA XXX Lemhanas ke

Austalia.

6.            Thn. 1999                             : Tenaga Ahli WWLN KRA XXXII Lemhanas ke

RRC

7.            Thn. 2000                             : Tenaga Ahli WWLN KRA XXXIII Lemhanas ke

Perancis

 30-an dari 60-an Judul Lagu Karya Cipta Irjend. Pol. (Purn.). Drs. Soaloon Simatupang Sianturi, MSc., seperti :
1. Inang Naburju
2. Amang Naburju
3. Anak Naburju
4. Parsondukbolon Naburju
5. Ompung Naburju
6. Siadopan Naburju
7. Boru Naburju
8. Boru Nabasa
9. Patik Palimahon
10. Martabe
11. Tahima
12. Sai Huingot do Ho
13. Songon Sillam Manoro
14. Hasian
15. Parpadanan
16. Pikkiri
17. Parumaen Naburju
18. Tona ni Oppui
19. Tumajuna ma
20. Unang Leas Roham
21. Anak Hasian
22. Paima Au
23. Muara Nauli
24. Unang Sai Sungguli be
25. Ora et Labora
26. Borhat Ma Ho Ito
27. Lapik Ni Bantal
28. Jangan Ragu
29. Di Hatiku Hanya Satu
30. Kalau Piring Sudah Pecah
31. Aditira Wirabakti (Mars Polda Sumsel)
32. Wawasan Nusantara (Hyme Lemhanas)
33. Motor Muara
34. Raja Parmassahati