Jonro I. Munthe, S.Sos


Memotivasi Tokoh-tokoh Kristiani Melalui NARWASTU

indexBernama lengkap Jonro Inranto Munthe. Pria Batak kelahiran Dolok Sanggul, Sumatera Utara, 6 April 1973 di kalangan gereja dan tokoh gereja sosok yang kenal konsisten memberitakan berita Nasrani. Pemimpin Umum dan Pemimpin Redaksi Majalah Kristiani NARWASTU dan salah satu pendiri Persekutuan Wartawan Media Kristiani Indonesia (PERWAMKI). Jonro I. Munthe, S.Sos yang, selama ini dikenal sosok jurnalis Kristiani yang aktif, dinamis, cerdas dan berprestasi.

Tak hanya jurnalis, ia kerap diundang sebagai moderator dan pembicara di berbagai diskusi dan seminar. Ia tak hanya diundang oleh gereja atau ormas Kristiani untuk memberikan pemikiran-pemikirannya seputar ilmu jurnalistik, tapi juga soal keadaan sosial, gereja, kemasyarakatan dan politik. Lulusan Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta, yang pernah dipercaya sebagai salah satu Ketua DPP Partai Demokrasi Kasih Bangsa (PDKB) ini sejak mahasiswa pun kerap diminta tampil di acara debat mahasiswa dan diskusi.

Selain itu, mantan Ketua Litbang DPP PROJUSTISIA (Persekutuan Oikoumene Jurnalis Kristiani Indonesia) ini tak jarang tampil jadi narasumber di Radio Pelita Kasih (RPK) 96,30 FM untuk topik-topik seputar gereja, sosial dan politik. Mantan Ketua Umum Pemuda Katolik dan Wakil Sekjen DPP Partai Hanura, Natalis Situmorang pernah mengatakan, tak bisa dipungkiri, Jonro Munthe adalah salah satu tokoh muda Kristiani yang patut diperhitungkan karena kiprahnya di media.

Pasalnya, kata Natalis, Jonro pula yang pertama kali menggagas pemberian award (penghargaan) setiap akhir tahun terhadap tokoh-tokoh Kristiani yang berkarya di tengah gereja, masyarakat dan bangsa. Pemberian award itu sudah ia lakukan di majalah yang dipimpinnya sejak 1999 lalu.

Setiap majalahnya menggelar acara ibadah Natal dan tahun baru, jangan heran kalau banyak tokoh dari berbagai latar belakang atau politisi Kristen hadir. Soalnya, majalah yang dipimpinnya memang cukup populer di kalangan warga gereja. Tak heran, kalau ia diidentikkan sebagai ikon media Kristiani, khususnya NARWASTU. Selain itu, majalahnya kerap mengadakan diskusi bersama tokoh-tokoh Kristiani. Diskusi itu digelar Forum Diskusi Daniel Indonesia (FDDI), yang di dalamnya ada penasihat Majalah NARWASTU berlatar belakang pemimpin gereja, politisi, pengacara, pengusaha, mantan anggota DPR dan jenderal purnawirawan.

Jonro mengatakan, melalui diskusi FDDI yang mereka adakan ia berharap para tokoh muda punya semangat untuk memikirkan persoalan masyarakat dan kebangsaan. “Melalui diskusi FDDI kami ingin mengajak sahabat-sahabat kaum muda peduli pada persoalan gereja, masyarakat dan bangsa ini. FDDI terbentuk pada awal 2010 setelah melihat banyak caleg muda Kristen yang rontok, lalu tidak tahu berbuat apa lagi. Akhirnya kita ajak mereka berdiskusi bersama tokoh-tokoh senior untuk memberikan motivasi dan bekal,” terangnya.

Tokoh seperti Jakob Tobing, Sabam Sirait, Pdt. A.A. Yewangoe. Dr. J. Kristiadi, Dr. Tjipta Lesmana, Maruarar Sirait, Basuki Tjahaya Purnama (Ahok), Martin Hutabarat, Gregorius Seto Harianto, Jakobus Mayong Padang, Prof. Irzan Tanjung dan Jhonny Nelson Simanjuntak sudah pernah diundang bicara di FDDI. ”Kita undang tokoh-tokoh senior yang kita anggap bisa memberi bekal dan bisa memberikan motivasi kepada kami kaum muda lewat sebuah diskusi interaktif,” papar Jonro yang masih berkeinginan menambah bekal ilmu, yakni ingin kuliah ilmu hukum dan memperdalam pengetahuan bahasa Inggris.

Lantaran dikenal “jurnalis plus” pada akhir 2009 lalu, Jonro mendapat predikat atau award  dari Majelis Pers Indonesia (MPI) sebagai “Jurnalis Muda Motivator” yang diterimanya di Gedung Dewan Pers, Jakarta. Ayah tiga anak ini sejak mahasiswa sudah aktif dalam dunia jurnalistik. Di samping itu, saat mahasiswa suami dari Faridawati Rajagukguk ini giat melatih olahraga beladiri di kampusnya. Sejumlah prestasi diraihnya, ia pernah mengikuti kejuaraan silat antarmahasiswa se-ASEAN, dan pada Oktober 1993 berhasil meraih medali emas di kejuaraan silat antarmaster se-Jabodetabek. Ia pun pernah meraih juara II dalam sanyembara penulisan artikel Kristiani pada 1997 yang diadakan majalah Kabar Baik.

Semasa mahasiswa Jonro yang beribadah di Gereja GPIB Harapan Indah, Kota Bekasi, Jawa Barat, pernah menjadi kolumnis di Majalah Bona Ni Pinasa, media orang Sumut terbesar yang terbit di Jakarta. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di sejumlah media nasional, termasuk tabloid Mutiara, yang kini tak terbit lagi. Lantaran tulisannya yang dimuat di Mutiara pernah mengkritik penguasa kala itu yang memihak pada PDI Soerjadi pada Juli 1996 lalu, ia pun dipanggil petinggi kampusnya agar jangan “melawan arus”, karena saat itu kekuasan Orde Baru sangat represif.  Gara-gara tulisannya yang kritis tentang isu tukang santet yang dimuat di Bona Ni Pinasa pada 1996 lalu, ia sampai didatangi sejumlah pemuka adat dari sebuah kampung di Tapanuli Utara ke Jakarta untuk meminta klarifikasi.

 “Sebagai jurnalis Kristen kita harus terus menyuarakan kabar baik. Kabar baik adalah suara kenabian, keadilan, kebenaran dan kesejahteraan,” ujar pria yang sudah menulis tiga buku ini. Bagi Jonro, hidup ini harus bermakna bagi sesama. “Meskipun kita sibuk berkarier, tapi persoalan kemasyarakatan, gereja dan bangsa perlu kita bahas untuk dicari solusinya. Sekecil apapun peran yang kita lakukan, itu perlu untuk kebaikan sesama. Hidup ini, kata Yesus, harus bermakna. Melalui media Kristiani pun kita punya peran yang tidak kecil untuk membangun masyarakat dan bangsa ini,” ujar Sekretaris Umum Keluarga Besar Perhimpunan Ompu Solonggahon Munthe, Boru dan Bere se-Jabodetabek.

Menurut Jonro, sejak tamat SMP pada 1988 ia sudah hobi menulis. Lalu pada 1992 saat mulai kuliah tulisan-tulisannya mulai dimuat di beberapa media, dan honorariumnya bisa membantu uang kuliahnya. Pada 1994 ia ditawari Pak Tom Gultom (almarhum), pimpinan Majalah Bona Ni Pinasa untuk bergabung, tapi ia memilih bekerja part time, karena ia masih kuliah. Tahun 1996 ia  magang di tabloid Mutiara yang dipimpin Pak Moxa Nadeak (almarhum), tokoh pers yang cukup vokal. “Saya banyak belajar dari Pak Moxa selama magang,” ujarnya.

Tahun 1997 saat masih mahasiswa ia sudah bergabung di Majalah NARWASTU, karena diajak Dr. Victor Silaen (almarhum), kini dosen Universitas Pelita Harapan, yang saat itu pemimpin redaksinya. Tapi karena ada dinamika sampai dua kali karena persoalan manajemen, maka kepemimpinan di media ini berubah, tapi tetap NARWASTU punya ciri khas sendiri sebagai media Kristiani alternatif. Artinya, media ini tidak hanya berbicara tentang doa, khotbah pendeta atau doktrin-doktrin Alkitab.

“Tapi, kami pun membahas fenomena yang ada itu dari sudut atau nilai-nilai Kristiani, baik itu masalah politik, sosial, hukum, budaya, pendidikan, teknologi maupun lingkungan hidup,” tukas Jonro Munthe yang pernah juga menerbitkan media komunikasi internal di Keluarga Besar Punguan Ompu Banua Munthe, Boru, Bere dan Ibebere se-Jabodetabek, dan disebarluaskan pada keluarga Munthe yang ada di berbagai kota di Tanah Air. Media komunikasi berupa buletin bernama Bona Ni Onan itu dimaksudkan sebagai media berkomunikasi, dan sajiannya seputar informasi berita keluarga, tulisan kesehatan, kerohanian, pengetahuan adat dan budaya serta pengenalan bahasa batak plus umpasanya beserta maknanya.

“Saya masih harus banyak belajar untuk memimpin media cetak seperti Majalah NARWASTU. Terus terang, saya kagum dengan perjuangan Goenawan Muhammad yang mendirikan Tempo, Surya Paloh yang bisa membesarkan Media Indonesia dan Metro TV, Jacob Utama yang membesarkan Kompas. Mereka bisa jadi sumber inspirasi untuk membangun media. Mereka sudah mengalami pahit getirnya membangun media,” tukas Jonro yang pernah diundang Kantor Kementerian Polhukam RI pada 2011 berbicara di dalam sebuah diskusi terbatas mengenai eksistensi media Kristen di dalam perannya untuk ikut serta membangun gereja, masyarakat dan bangsa.

Bahkan, Asisten Deputi VII Menkopolhukam RI Brigjen TNI Harsanto Adi bersama Kepala Bidang Humas Kementerian Polhukam dan Kepala Bidang Media Cetak Kementerian Polhukam pada awal 2013 lalu mendatangi kantor NARWASTU guna mengajak majalah yang dipimpinnya bekerjasama untuk mengadakan sebuah acara diskusi bersama media-media berbasis agama. Dan hingga kini Jonro tak berhenti menggelar diskusi yang mempertemukan tokoh-tokoh Kristiani.

Dan kini bersama tokoh-tokoh Kristiani pilihan NARWASTU yang tergabung di FORKOM NARWASTU (Forum Komunikasi Tokoh-tokoh Kristiani Pilihan NARWASTU), yang di dalamnya ada jenderal purnawirawan, advokat/pengacara senior, akademisi, mantan anggota DPR-RI, profesional, pengusaha, pimpinan ormas, pimpinan parpol, anggota dewan, pemuka masyarakat dan pimpinan sinode, ia tak pernah lelah menggelar diskusi untuk menyikapi persoalan di tengah negeri ini. Misalnya, mereka sudah menyikapi bahaya narkoba, bahaya korupsi, terorisme dan persoalan kebangsaan.

Hasil diskusi itu, tak hanya dibahas atau dirumuskan solusinya bersama tokoh-tokoh, namun juga dipublikasikan di Majalah NARWASTU, media-media Kristiani lainnya, bahkan didiskusikan di radio rohani. Kemudian diharapkan hasil diskusi itu dibaca para tokoh bangsa, eksekutif, legislatif, yudikatif, ormas agama, dan media massa agar diketahui dan bisa ditindaklanjuti demi kesejahteraan dan kedamaian di tengah masyarakat dan bangsa.

Baginya, hidup ini sarat dengan pergumulan dan tantangan, dan orang Kristen punya panggilan juga untuk memberikan sesuatu yang bermanfaat untuk bangsa dan negara ini, sesuai dengan tugas panggilannya. Orang Kristen mesti bisa menjaga garam” mencegah pembusukan, dan menjadi terang: menerangi kegelapan. Di situlah manusia itu berarti dan bisa menjadi berkat bagi sesama.

 

 

Ch. Robin Simanullang


downloadDrs. Ch. Robin Simanullang, jurnalis yang telah menulis biografi singkat 1001 tokoh di Website TokohIndonesia.com. Ketua Umum DPP Forum Penulis dan Wartawan Indonesia (FPWI – ForumPWI) ini adalah Pendiri dan Pemimpin Redaksi situs web TokohIndonesia.com. Sebuah situs web yang tengah dikembangkan menjadi ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA (ENSIKONESIA) online. Dia berobsesi menjadi pengukir prestasi orang lain (tokoh) di ‘batu maya’. Berprinsip, menulis dengan mengosongkan diri, sebagai abdi dalem, yang berkreasi menerjemahkan (interpretasi) dan mengapresiasi visi dan jejak rekam sang tokoh.

Pemimpin Umum
Majalah Tokoh Indonesia, kelahiran Doloksanggul, Humbang Hasundutan,
Sumatera Utara, 18 Desember 1952, ini menganut jurnalisme ‘garam dan obor’, (journalism salt and torches), memberi rasa/mengawetkan dan menerangi, untuk menjadi garam dan terang dunia dan menjadi rahmat bagi sesama manusia dan semesta alam. Jurnalisme garam dan terang dunia! Yang dalam bahasa Arab (Islami): Jurnalisme rahmatan lil Alamin! Dan dalam bahasa kebangsaan: Jurnalisme Pancasila!

Pencinta perdamaian dan keberagaman yang bernama lengkap cukup panjang yakni Christian Robinson Binsar Halomoan Simanullang ini adalah putera seorang guru dan pelayan gereja serta cucu dari seorang kakek yang sudah ‘melek Alkitab’ dengan menulis (menyalin) tulis tangan semua isi Alkitab (Bibel) Perjanjian Baru. Dia memahami ajaran agamanya untuk berguna bagi (mengasihi) semua orang, tanpa batas agama, ras/suku dan golongan.

…… menganut jurnalisme ‘garam dan obor’, (journalism salt and torches), memberi rasa/mengawetkan dan menerangi, untuk menjadi garam dan terang dunia dan menjadi rahmat bagi sesama manusia dan semesta alam. Jurnalisme garam dan terang dunia! Yang dalam bahasa Arab (Islami): Jurnalisme rahmatan lil Alamin! Dan dalam bahasa kebangsaan: Jurnalisme Pancasila!

Alumni (sarjana) FKIS, IKIP Negeri Medan (Universitas Negeri Medan) dan SMA Kristen 2, Medan, ini sempat menjadi guru (pegawai negeri) SMA 3 Pematangsiantar vilial Serbelawan, Sumatera Utara (1977-1981).

Namun, pria yang merasa teduh pada ‘disiplin kebebasan’ dan sudah gemar menulis di koran dan majalah sejak SMA, ini memilih memusatkan pengabdian sebagai jurnalis. Masa mudanya gemar menulis cerita pendek dan novel. Menjadi
wartawan di Harian Sinar Indonesia Baru, Medan, terakhir selain bertugas sebagai penulis tajuk juga menjabat Kepala Biro Redaksi di Jakarta (1981-1992). Pernah pula membantu Majalah Berita Fokus terbitan Jakarta di
Sumatera Utara.

Kemudian, menerbitkan Majalah Horas Indonesia, Jakarta, sebagai Pemimpin Redaksi (1992-1994). Pada waktu yang sama, juga mendirikan PT.CPPI (sebagai Dirut), bergerak di bidang penerbitan, periklanan dan percetakan (1992-2007). Lalu, ikut mendirikan Majalah Berita GARDA dan menjabat sebagai Dewan Redaksi juga menjabat Wakil Pemimpin Perusahaan (1998-2004).

Bertepatan Hari Kebangkitan Nasional, tanggal 20 Mei 2002, meluncurkan Website TokohIndonesia.com. Pada April 2003 menerbitkan Majalah Tokoh Indonesia, yang sejak 2007 diambilalih pengelolaannya oleh PT. Asasira, di mana dia menjabat
Direktur utama. Kemudian pengagum tokoh-tokoh pembawa lentera
pluralisme, toleransi dan perdamaian, ini sejak Juli 2005 menerbitkan Majalah Berita Indonesia (PT Berita Satria Wiratama, yang didirikan bersama Syaykh AS
Panji Gumilang), yang lalu dikelola PT. ASASIRA bekerjasama dengan Yayasan Pesantren Indonesia (Al-Zaytun). Sebuah majalah yang bervisi/motto: Lentera Demokrasi, Toleransi dan Pedamaian.

Telah menulis beberapa buku biografi. Di antaranya Biografi Humaniora Subrata, Berfikir, Berzikir dan Bercinta; Biografi Militer Sutiyoso, The Field Geeneral; dan Biografi Hukum
Romli Atmasasmita, Menegakkan Keadilan di Tengah Kezaliman. Juga tengah merampungkan buku Biografi Kepemimpinan Sutiyoso dan Biografi Humaniora Syaykh
Al-Zaytun AS Panji Gumilang. Juga buku jurnalistik ‘Jadi
wartawan Enakkah?”

Menikah setelah menjalin hubungan enam tahun dengan gadis yang sudah dicintainya sejak SMA, Adur Nursinta Br. Purba, seorang perempuan (boru ni raja) yang amat bangga sebagai ibu rumah tangga. Dikaruniai tiga putera, yang ketiganya alumni Universitas Indonesia: Mangatur L. Paniroy (menikah dengan Dian Gina Rahayu), Christian Natamado (menikah dengan Marlina Simarmata) dan Doan Adikara Pudan. Baru memiliki dua cucu cantik: Asasira dan Sofia.

Sumber: http://www.tokohindonesia.com/biografi/article/286-direktori/2397-jurnalisme-garam-dan-obor-
Copyright © tokohindonesia.com

Cahaya D.R. Sinaga, SH, MH


Cahaya D.R. Sinaga, SH, MH, Pendiri/Direktur Radio MS Tri

Menerangi Akademia Lewat Radio

DULU, ada asumsi kehadiran internet akan membangkrutkan media cetak dan radio. Nyatanya tidak, media cetak dan radio akan terus bertahan jika bisa memenuhi kebutuhan segmentasi pasar. Hanya saja, di tengah alam kompetisi yang ketat, khususnya radio harus mampu hidup dengan mengarap segmentasi yang jelas. Salah satu segmentasi pendengar yang jarang digarap adalah kaum kampus. Hal itulah yang ditangkap Cahaya D.R. Sinaga, SH. MH. dengan mendirikan radio MS Tri. “Radio untuk para kaum kampus, dengan menyapa pendengarnya akademia.”

MS Tri adalah unit bisnis dari Universitas Tri Sakti, dibawah payung PT Radio Mediasuara Trisakti. Dialah pendiri radio MS Tri. Dari sejak awal menggodok, membuat proposal ke pihak Universitas Tri Sakti sebagai pemegang saham, hingga menjadi kantor redaksi radio yang siap mengudara. Jadilah Radio Mediasuara Trisakti disingkat MS TRI, digelombang 104,2 FM.

Dari namanya terkesan seperti nama orang Jawa, Cahaya Dwi Rembulan Sinaga. Perempuan kelahiran Medan, 20 April 1962 ini dipanggil Cai. “Kalau kita mengatakan akademi, maka yang kita pikirkan adalah bagaimana memenuhi kebutuhan para kaum kampus, mahasiswa, dosen. Kami amati bahwa para pendengar kami juga tertarik mendengar politik, maka kami sajikan berita politik, tetapi tidak terlalu menukik ke politik. Kami juga bicarakan, terkait lifestyle, pokoknya yang berkaitan dunia kampus,” katanya saat berbincang dengan REFORMATA, Senin (19/9) di kantornya gedung Trisakti, Jakarta Barat.

Berdiri sejak 1995, artinya radio MS Tri ini sudah menyapa pendengarnya 16 tahun. Untuk semua itu, Cahaya merasakan pertolongan Tuhan. Dia mengakui, apa yang diraihnya sekarang bukan semata-mata karena kemampuannya. “Tidak mudah. Saya tahu apa itu proses panjang. Untuk seperti sekarang, menjadikan radio ini bisa bertahan dan eksis, butuh proses panjang, perlu ada stamina. Tetapi stamina tidak berarti apa-apa tanpa pertolongan Tuhan,” ujar jemaat HKBP Petojo, Jakarta Barat, ini. Sekarang, Cahaya bersama 21 staf, 8 penyiar dan satu wartawan lapangan, melayani akademia 22 jam setiap harinya. Dengan segmen pendengar umur 20-35 tahun.

Selain mengelola radio Cahaya juga menjabat Kepala UPT Multimedia Universitas Trisakti. Sebagai pendiri dan direktur, Cahaya tetap terlibat mengelola. “Saya memahami bahwa yang bertanggung-jawab pada semua produk yang disiarkan adalah direktur, untuk itu saya terlibat penuh. Setiap siaran akan terlebih dahulu kami diskusikan. Kami mesti membuat siaran berbobot. Karena kalau ecek-ecek tidak akan didengar,” ujar instruktur penyiar radio ini.

Ketertarikannya dalam hukum dan media membawa Cahaya pada gerakan memperjuangkan undang-undang penyiaran. “Berkecimpung di ranah hukum-media, saya masuk pada gerakan untuk mendukung ada undang-undang penyiaran. Saya ikut dengan tim menyusun undang-undang penyiaran, dan sampai saat ini ikut menjadi konsultan di beberapa radio,” ujar salah satu aktivis di Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI) ini.

“Saya kurang setuju jika ada radio komunitas yang tidak punya izin, lalu merasa menganggap seolah-olah hal itu benar. Frekwensi adalah ranah publik, gelombang ini harus juga dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat. Sekarang ini frekwensi sering dipermainkan,” ujarnya, melihat maraknya radio yang menumpang frekwensi, disebutnya radio gelap.

Kaum akademia

Cahaya juga sangat tertarik dengan isu-isu humanis dan apa saja yang terkait kampus. Bahkan soal kegiatan mahasiswa. “Saya percaya mahasiswa, akademia, itu adalah agen perubahan. Agen perubahan di dalam politik, maupun agen perubahan agama,” ujar peneliti dan penulis beberapa jurnal tentang penyiaran ini.

Pendengarnya memang orang-orang cendikia, alumni dan para mahasiswa. Maka bagi Cahaya “MS Tri mencoba memberitakan yang perlu didengar kaum kampus di Jabodetabek. Kami mencoba menyiarkan berita-berita yang bermamfaat, karena banyak siaran menurut saya hanya memberitakan gaya hidup. Saya sedih kalau ada radio hanya memperdengarkan gaya hidup, kesenangan. Saya kira MS Tri bisa memberikan sesuatu yang lebih berarti bagi pendengarnya, akademia.”

Ketertarikannya mendirikan radio berawal saat mendalami hukum dan media di almamaternya, Universitas Tri Sakti. “Teman saya mendalami hukum pidana dan perdata, saya mendalami hukum-media,” kenangnya. Setelah lulus sarjana hukum, Cahaya memperdalam pendidikan hukumnya dengan kembali kuliah master hukum di Tri Sakti. Sejak tahun 1987, dia sudah berkecimpung di dunia penyiaran, dan membawanya menjadi instruktur hingga menjadi narasumber di berbagai seminar dan pelatihan penyiaran.

Apa yang membuat Cahaya begitu antusias membangun radio? Dia mengaku semangat itu menular dari kedua orangtua. Cahaya dan adik-adiknya dididik sejak kecil untuk rajin belajar. Ayahnya (alm) Martahi Tua Halomoan Sinaga, dan ibunda Adelina boru Napitupulu (saat ini masih aktif melayani sebagai Ketua Ina Hanna, kaum janda, di HKBP Petojo) mendidik Cahaya dengan disiplin dan kesukaan belajar.

“Ayah mantan seorang tentara angkatan darat, ibu seorang bidan, perempuan yang berjuang di jalur kesehatan. Orangtua mengajarkan kami nilai-nilai agar kami sungguh-sungguh disiplin dan belajar. Orangtua sejak kecil terbiasa membacakan cerita untuk kami. Kami terbiasa dengan buku-buku, ketika masih kecil-kecil kami dijadwalkan ke toko buku, ke perpustakaan, ke musem. Kami terbiasa mengadakan lomba puisi dan lomba tulis. Semangat kecintaan pada negara, Ayah selalu meminta kami untuk ikut pramuka. Lalu, kita diajarkan semangat berbagi, apa yang bisa kita bagi dengan orang lain. Baru sekarang saya tahu manfaatnya,” ujar anak pertama dari enam bersaudara ini.

Mapan dan matang dalam hidup membawa Cahaya ke pelayanan. Harus memberi dampak seperti namanya, menjadi cahaya. “Para pendengar kami juga suka dengan masalah sosial, membantu.” Sebagai direktur radio, Cahaya menggabungkan idealisme dan bisnis para pendengar dengan membangun jejaring sosial. Cahaya juga kerap melibatkan para pendengarnya untuk terlibat dalam pelayan. Salah satunya seperti aksi mengalang bantuan dari pendengar untuk membantu tiga sekolah pendidikan anak usia dini (PAUD) di Samosir Sumatera Utara. Itulah yang dia lakukan beberapa waktu lalu. Cahaya lahir di Medan, namun besar di Semarang, tetapi dia sangat peduli pada alam Samosir, kampung halaman ayahnya dari desa Lontung, Kabupaten Samosir.***Hotman J. Lumban Gaol

GM Panggabean


GM Panggabean, bernama lengkap Gerhard Mulia Panggaben, lahir di Sibolga, 8 Juni 1929 dan meninggal di Singapura, 20 Januari 2011. Tokoh pers dan pendiri (Pemimpin Umum dan Pemimpin Redaksi) Harian Sinar Indonesia Baru (SIB), koran nasional terbitan Medan, ini seorang tokoh dan pejuang masyarakat Batak berintegritas tinggi dan berjiwa kebangsaan. Dia seorang nasionalis sejati yang berakar kuat pada identitas dirinya sebagai warga masyarakat adat Batak. Sebagai seorang jurnalis, dia punya prinsip teguh, visioner dan pejuang. Bahkan, dia bukanlah jurnalis biasa, yang hanya pandai merangkai kata, tetapi dia adalah seorang tokoh pejuang yang mengakar pada masyarakat pembacanya.

Tidak banyak tokoh pers yang memiliki kharisma yang sedemikian kuat di mata masyarakatnya (pembacanya). Dia jurnalis yang pemimpin, tokoh masyarakat Batak kharismatik, yang sangat gelisah melihat ketidakadilan, fanatisme sempit dan kekerdilan berpikir. Dia seorang tokoh pejuang yang meyakini bahwa keberagaman adalah keniscayaan! Bagi dia, nilai-nilai dasar Pancasila, adalah asas yang harus dipegang teguh dan diimplementasikan secara konkrit dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Maka dia sangat gelisah, bila melihat penyimpangan atau pengaburan atas nilai-nilai dasar bernegara tersebut.

Dia berani bersuara, bersikap dan bertindak untuk memperjuangkan kebenaran dan keadilan yang diyakininya. Maka, tak heran bila dia sangat dikagumi masyarakatnya (terutama pembacanya), sekaligus sangat disegani orang-orang yang berbeda pandangan dengannya. Dia seorang pemimpin kharismatik yang kontroversial. Dalam pengaruh politik, dia tokoh yang sangat disegani di Sumatera Utara. Sangat banyak tokoh yang ingin menjadi pemimpin (Gubernur, Bupati dan Walikota serta jabatan-jabatan pelayan publik lainnya) merasa memiliki keyakinan bila telah menemui GM Panggabean lebih dulu. Bahkan, ketika masa kampanye Pemilu Presiden pun, selalu ada Calon Presiden menemuinya. Bukan hanya calon pejabat, bahkan calon pimpinan gereja pun di Sumatera Utara juga menemuinya lebih dulu. Dan, biasanya pertemuan seperti itu selalu diekspose di Koran Sinar Indonesia Baru (SIB) yang dipimpinnya, lengkap dengan foto-fotonya.

Tak jarang penampilan seperti ini dikritik beberapa (bahkan banyak) orang. Tetapi, suka atau tidak, diakui atau tidak, mereka merasakan kehebatannya. Dia memang bukanlah jurnalis biasa-biasa. Yang hanya bisa menulis berita, opini, tajuk atau catatan-catatan pojok, sekilas, pinggir atau semacamnya. Melainkan, dia seorang jurnalis yang secara total, termasuk bahasa tubuhnya, memberi pengaruh pada lingkungannya. Dia tokoh pers sekaligus tokoh masyarakat fenomenal di Sumatera Utara. Dia pemimpin informal yang amat berpengaruh.

Semangat juang untuk menegakkan keadilan sudah terpatri dan terasah dalam dirinya sejak masih muda. Tatkala masih berusia sembilan belas tahun, dia ikut berjuang dalam PRRI yang menuntut pemerataan pembangunan. Dia menjadi Walikota Sibolga dan kemudian menjadi Menteri Penerangan PRRI di Tapanuli. Sesudah itu, dia menjadi wartawan Harian Waspada di Tapanuli yang beberapa saat kemudian ditarik ke Medan. Di Harian Waspada dia sempat menjadi kepercayaan H. Mohammad Said (HMS) dan Hj. Ani Idrus (kedua tokoh ini sudah almarhum), pendiri dan pemimpin Harian Waspada. Bahkan GM Panggabean sempat menjabat Kuasa Usaha Harian Waspada. Maka, bagi dia, kedua tokoh pers itu adalah sebagai guru, terutama H. Mohammad Said (HMS) sangat dihormatinya sebagai orang tua, guru dan sesepuh.

Kemudian, bersama rekan-rekannya, Pak GM (panggilan akrabnya) mengelola Harian Sinar Harapan Edisi Sumatera Utara. Koran ini pun berkembang pesat. Beberapa tahun kemudian, tepatnya 9 Mei 1970, bersama MD Wakkary dan teman-temannya mendirikan Harian Sinar Indonesia Baru (SIB). Pertama kali dan kemudian selama tiga tahun, koran ini dicetak di percetakan Harian Waspada. Koran ini seperti bayi yang cepat besar. Hanya dalam tiga tahun, koran ini sudah menguasai pasar di Sumatera Utara, Aceh dan Riau. Dalam tiga tahun usia Harian SIB, koran Sinar Harapan pun berhenti terbit, pangsa pasarnya sudah beralih ke Koran SIB. Koran ini pun menjadi pesaing serius bagi Koran Waspada dan Mimbar Umum yang kala itu terbilang berpengaruh di Sumatera Utara. Bahkan dalam usia lima tahun hingga akhir tahun 1980-an, Koran SIB menyatakan diri sebagai koran terbesar di Sumatera dengan mencantumkan kata itu di banner depan. Memang, harus diakui, dari segi oplah dan pengaruh, kala itu, koran inilah yang terbesar

Kala itu, pengaruh koran ini sangat kuat, terutama di Sumatera Utara. Konprensi pers yang dilakukan sebuah instansi bisa ditunda beberapa saat hanya karena wartawan koran ini belum tiba di tempat. Bahasanya lugas dan tidak banyak basa-basi. Tegas dan jelas! Kritiknya membuat orang yang tipis kuping, tersingung. Komitmennya tentang pembangunan daerah sangat tinggi, walaupun pada masa sentralisasi kekuasaan pusat. Terutama pembangunan Tapanuli. Kendati kata ‘Tapanuli Peta Kemiskinan” pertama kali dirilis Harian Sinar Harapan Jakarta, tetapi koran SIB-lah yang selalu gigih, di barisan terdepan, memperjuangkan pembangunan Tapanuli. Sehingga di kalangan tertentu di Jakarta, koran ini dijuluki sebagai Koran Batak.Kala itu, pengaruh koran ini sangat kuat, terutama di Sumatera Utara. Konprensi pers yang dilakukan sebuah instansi bisa ditunda beberapa saat hanya karena wartawan koran ini belum tiba di tempat. Bahasanya lugas dan tidak banyak basa-basi. Tegas dan jelas! Kritiknya membuat orang yang tipis kuping, tersingung. Komitmennya tentang pembangunan daerah sangat tinggi, walaupun pada masa sentralisasi kekuasaan pusat amat kuat. Terutama pembangunan Tapanuli yang jauh tertinggal dibanding daerah lain. Kendati kata ‘Tapanuli Peta Kemiskinan” pertama kali dirilis Harian Sinar Harapan Jakarta, tetapi koran SIB-lah yang selalu gigih, di barisan terdepan, memperjuangkan pembangunan Tapanuli. Sehingga di kalangan tertentu di Jakarta, koran ini dijuluki sebagai Koran Batak.

Koran ini pernah dibredel akibat pemberitaan nasional. Beberapa kali juga pernah diusulkan agar dibredel oleh pejabat-pejabat penting di Sumut dan kelompok masyarakat tertentu. Suatu ketika pejabat penting Sumut pernah mengusulkan ke Pusat agar koran ini ditutup karena dianggap membuat berita sara terkait Rektor USU AP Parlindungan. Tetapi di lain kesempatan, bahkan Sinode HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) pernah pula mengusulkan agar ‘Koran Batak’ ini ditutup. Tetapi koran ini tetap eksis dengan jati dirinya yang teguh. Bahkan julukan ‘Koran Batak’ justru menyelamatkannya dari tindakan pemberangusan. Karena, Koran SIB dengan pemberitaan-pemberitaannya yang kritis, dinilai (dan sekaligus membela diri) sedang mencubit dirinya sendiri. Hal mana, kritik yang diberikan kepada instansi, lembaga, pejabat, tokoh dan/atau kelompak masyarakat di Sumatera Utara dinilai tidak hanya dirasa sakit oleh orang yang dikritik tetapi sesungguhnya juga dirasa sakit oleh para pengelola koran ini sendiri. Bukankah Koran SIB dijuluki Koran Batak?

Kontroversi, atau lebih tepat disebut sebagai dinamika, tentang isi pemberitaan (kritik) koran ini. Nama koran ini (SIB), saat suatu ketika pernah diusulkan pihak tertentu di Sumut agar dibredel, melahirkan dua plesetan. Kata SIB yang sebenarnya adalah kependekan (akronim) dari Sinar Indonesia Baru, diplesetkan oleh orang yang merasa tidak senang dengan Semua Isinya Bohong (SIB). Tetapi bagi pihak yang menyenangi, apalagi para pelanggan setianya, menyebut sebaliknya, Semua Isinya Benar (SIB). Itulah gambaran dinamika koran ini yang merupakan personifikasi dari GM Panggabean, Sang Pemimpin.

Dinamika itu semakin intens tatkala GM Panggabean mendirikan sekaligus memimpin (menjabat Ketua Umum) Lembaga Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja XII, disingkat Lembaga Sisingamangaraja XII berpusat di Medan. Lembaga ini dideklarasikan dalam Rapat Umum di Stadion teladan Medan dalam rangka peringatan 9 Windu Wafatnya Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja XII, 17 Juni 1979, yang dihadiri puluhan ribu warga masyarakat adat Batak (Toba, Simalungun, Angkola, Mandailing, Karo, Pakpak -Dairi, dan Pesisir Barat dan Timur) yang datang dari berbagai daerah.

Lembaga ini mendapat dukungan luas dari masyarakat Sumatera Utara. Tidak hanya yang tinggal di Sumatera Utara, tetapi juga di seluruh Nusantara. Kala itu, hampir di seluruh Provinsi di Indonesia berdiri Cabang Lembaga Sisingamangaraja. Kharisma kepemimpinnya semakin menyala. Melalui lembaga ini, dia menggalang partisipasi masyarakat untuk membangun daerahnya, melakukan gotong-royong. Antara lain, jalan dari Doloksanggul menuju Bakkara yang amat terjal dan sama sekali tidak bisa dilalui kenderaan, dibuka dengan gotong royong oleh masyarakat dari dua kecamatan (Doloksanggul dan Muara). Begitu juga di Parlilitan dan Parmonangan, dan daerah-daerah yang masih terisolasi lainnya, dibuka dengan bergotong-royong. Spirit untuk membangun bangkit. Sehingga kemudian Pemerintah Provinsi Sumatera Utara mengikut meluncurkan gerakan pembangunan Marsipature Hutana Be (Martabe).

Melalui Lembaga ini, Pak GM pun berhasil menghimpun partisipasi masyarakat dengan membuka ‘dompet’ di Harian SIB, untuk membangun tugu Pahlawan Nasional Sisirangaraja XII di Jalan Sisingamangaraja, Medan, persis di depan Stadion Teladan. Pada kesempatan inilah juga dia mendirikan Universitas Sisingamangaraja di Medan dan Siborongborong, Tapanuli. Kedua universitas ini lahir atas usulan tokoh-tokoh masyarakat adat Batak yang terhimpun di Lembaga Sisingamangaraja. Maka, sangat pantas, pada kesempatan inilah dia diberi kehormatan menjadi Anggota MPR-RI, dua periode, mewakili daerah dan golongan masyarakat adat Sumatera Utara.

Kala itu, selain berbagai dukungan dan apresiasi diberikan kepadanya, juga ada tudingan dan spekulasi kecurigaan dialamatkan kepadanya. Dengan menggalang perhimpunan di Lembaga Sisingamangaraja, dia dikira (dituding) berambisi menjadikan dirinya untuk dinobatkan menjadi Sisingamangaraja XIII. Tudingan ini tidak beralasan, karena Pak GM sangat memahami siapa Sisingamangaraja (Dinasti Sisingamangaraja) lebih dari orang yang menudingnya. Namun, dia tidak mau surut, dengan tudingan miring itu, sebab dia hanya melihat Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja sebagai sebuah nama yang amat berpengaruh mempersatukan masyarakat Sumatera Utara, bukan hanya suku Batak.

Kekuatiran juga muncul di sebagian pemimpin gereja: Jangan-jangan kehadiran Lembaga Sisingamangaraja berpengaruh menghidupkan kembali faham animisme.[1] Kekuatiran ini hanyalah karena sebagian pendeta kurang mau memahami visi dan misi Lembaga Sisingamangaraja yang mengusung gerakan moral dan kebersamaan dari sisi adat-budaya. Hal ini bisa pula dimaklumi, jangankan Lembaga Sisingamangaraja, bahkan sampai saat ini masih ada kalangan pendeta yang membakar ulos karena kuatir ulos dan adat itu animisme.

GM Panggabean telah mendobrak kekuatiran ini. Diskursus mengenai agama dan kebudayaan menjadi amat intens kala itu. Penggunaan alat musik tradisional Gondang Batak dan ulos yang kala itu masih belum terbiasa (bahkan dilarang) di Gereja, hari ini telah menjadi bahagian dari upacara ritual kebaktian di banyak gereja, khususnya gereja-gereja Batak. Pemahaman perihal proses pengudusan kebudayaan semakin meluas dan memasyarakat.

Namun, tidak ada gading yang tidak retak. GM Panggabean bukanlah malaikat. Ketika para pendeta HKBP ‘bertikai’, Pak GM terasa (dianggap) keberpihakannya kepada salah satu pihak. Walaupun anggapan ini tidak seluruhnya benar bila dicermati sejak awal terjadinya ‘pertikaian pendeta HKBP’ itu. Awalnya, beberapa pendeta melakukan protes atas kepemimpinan Ephorus HKBP Dr. SAE Nababan, setelah melakukan retreat di Parapat, 16 Maret 1988. Mereka menerbitkan buku surat terbuka kepada ephorus berjudul “Parmaraan di HKBP’ Subjudul ‘Qua Vadis HKBP’ dengan gambar sampul Salib Retak-Patah. Dalam buku itu dibeberkan berbagai ‘penyimpangan iman’ HKBP yang mereka simpulkan sebagai ancaman bahaya dan ajaran sesat masuk ke tubuh HKBP yang dilakukan Ephorus SAE Nababan, yang kala itu belum satu tahun terpilih dan membawa Tim Evangelisasi Nehemia dari Jakarta (melayani dengan tidak sesuai Konfessi HKBP).[2]

Kala itu, Pak GM dan Harian SIB ‘masih’ obyektif. Tetapi pendeta yang memprotes menuding SIB berpihak pada Ephorus SAE Nababan. Hal ini dinyatakan dalam beberapa publikasi yang mereka buat, termasuk dalam buku Qua Vadis HKBP dan buku ‘Nunga Lam Patar Angka Poda Na Lipe na Bongot tu HKBP’ yang diterbikan kemudian. Maklum, sebab SAE Nababan adalah Ephorus HKBP yang pertama mau menghadiri acara yang diselenggarakan Lembaga Sisingamanagaraja, yakni di Universitas Sisingamangarja Tapanuli di Siborongborong.

Lalu, dalam perkembangan berikutnya, ketika Ephorus Nababan mengultimatum dan kemudian memecat 22 pendeta, 10 sintua, 2 bibelvrow dan 1 karyawati yang memprotes (peserta Retreat di Parapat dan tak mau minta maaf), Pak GM dan Harian SIB mengambil sikap menolak tindakan pemecatan tersebut. Pemberitaan SIB secara simultan mengkritisi Ephorus Nababan dan pendukungnya. Kemudian, para pendeta yang dipecat tersebut, yang semula menyebut SIB berpihak kepada Ephorus Nababan, merapat ke Pak GM (SIB). Begitu pula beberapa tokoh anggota jemaat HKBP di Jakarta dan Medan melakukan hal yang sama dengan membentuk Forum Komunikasi Ruas HKBP di Jakarta dan Sekber Kemurnian HKBP di Medan yang mengkritisi kepemimpinan Ephorus Nababan, menuntutnya mundur. Dalam konkeks inilah Harian SIB mengambil sebuah sikap, yang bagi mereka yang dikritisi terasa tidak obyektif.

Di samping itu, berbagai spekulasi juga dilontarkan, bernaliknya keberpihakan Pak GM (Harian SIB) kepada pendeta yang dipecat, bukan semata-mata karena tindakan pemecatan itu, tetapi juga soal rencana pendirian Universitas Nehemia berdekatan dengan Universitas Sisingamangaraja di Silangit, Siborongborong, Tapanuli, yang diprakarsai beberapa tokoh termasuk Ephorus SAE Nababan. Spekulasi ini tidaklah sepenuhnya benar. Sebab akan berbeda halnya jika rencana pendirian Universitas Nehemia yang membawa-bawa nama Ephorus HKBP itu untuk menggalang dana mempunyai hubungan organisatoris dengan HKBP.

Kemudian, ketika reformasi bergulir, berbagai daerah telah menjadi provinsi baru. Beberapa tokoh masyarakat Tapanuli memandang sudah selayaknya Tapanuli juga menjadi provinsi. Tapanuli yang tetap setia kepada Republik Indonesia, tatkala berbagai daerah telah memisahkan diri sebagai Negara, dalam Negara Republik Indonesia Serikat, terasa semakin tertinggal dari daerah lain. Pak GM pun ikut mendukung perjuangan ini dengan duduk sebagai penasehat. Puteranya GM Chandra Panggabean, yang sudah menjadi Anggota DPRD dari Partai Golkar, kemudian pindah ke Partai PPRN, lebih banyak berperan dalam perjuangan pembentukan Provinsi Tapanuli (Protap) tersebut. Perjuangan politik ini, ternoda oleh tangan-tangan yang diduga tidak setuju pembentukan Protap. Demo ke kantor DPRD Sumut, 3 Februari 2009, berakibat meninggalnya Ketua DPRD Sumut. Puteranya, GM Chandra dianggap bertanggungjawab dan dihukum. Hukuman yang dianggap berbau politik.

GM Panggabean pun dipanggil sebagai saksi. Namun, Pak GM yang kesehatannya sudah terganggu sudah dalam perawatan di Singapura. Sampai akhirnya, beberapa saat setelah menjalani operasi jantung, Pak GM menghembuskan nafas terakhir di RS Mounth Elisabeth Singapura, dalam usia 82 tahun, Kamis 20 Januari 2011 sekitar pukul 22.00 WIB, meninggalkan seorang isteri, delapan anak dan 13 cucu. Perjuangan yang diusungnya sampai akhir tanpa kenal lelah, telah makin mengukuhkannya sebagai pejuang yang patut dikenang sebagai pahlawan sejati pembangunan daerah, khususnya Sumatera Utara dan lebih khusus lagi Tapanuli, Tona Batak, daerah leluhur (Bonapasogit) yang amat dicintainya. Selamat Jalan Pak GM! Bio TokohIndonesia.com | Ch. Robin Simanullang

Sumber: http://www.tokohindonesia.com

Sabam Pandapotan Siagian


Sabam Pandapotan Siagian (lahir di Jakarta, 4 Mei 1932; umur 78

Sabam Siagian

tahun) adalah wartawan Indonesia dan Duta Besar RI di Australia periode 1967-1973[1].

Karena orangtuanya menginginkan dia menjadi sarjana hukum – selain pendeta – ia masuk ke Fakultas Hukum dan Ilmu-ilmu Sosial Universitas Indonesia. Karena tidak terlalu tertarik ia memutuskan untuk pindah ke Akademi Dinas Luar Negeri (ADLN) yang akhirnya tidak selesai juga. Sempat mengikuti pendidikan ilmu politik di Vanderbilt University, Nashville, Tennessee, Amerika Serikat, namun itu pun tidak ia selesaikan. Kemudian pada 1978, ia mengikuti program Nieman Fellow for Journalism dari Harvard University, Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat.

Sepulang dari New York, Amerika Serikat, ia ingin terjun ke bisnis, karena Sabam merasa sudah memiliki koneksi di Amerika. Tetapi waktu itu, Sinar Harapan sedang melakukan reorganisasi besar-besaran. Kebetulan, ayahnya, Pendeta Siagian, salah satu pemegang sahamnya sehingga akhirnya untuk pertama kalinya ia terjun ke dunia jurnalisme yang sesungguhnya.

Selain itu pada tahun 1950-an, ia pernah mengelola majalah milik Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI). Kemudian bersama beberapa teman, antara lain Wicaksono dan Alwi Dahlan, ia ikut menggagaskan penndirian Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia.

Pada pertengahan tahun 1960-an, ia bekerja di bagian riset perwakilan Indonesia di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Ia juga menyandang tanda kehormatan bintang jasa utama. Setelah usai dari karir diplomat-nya ia kembali ke dunia pers dan berkutat di Suara Pembaruan sebagai presiden komisaris dan The Jakarta Post dan termasuk dalam Dewan Tajuk Rencana. Ia juga menjadi ketua Indonesia-Australia Business Council selama nenerapa waktu.

Pada 1983, ia kerap mengupas masalah internasional di The Jakarta Post, koran berbahasa Inggris yang turut didirikannya. Sebagai jurnalis senior, ia tentunya banyak bergaul dengan kalangan diplomat di Jakarta.

Parakitri Tahi Simbolon


Parakitri Tahi Simbolon (lahir di Rianiate, Pulau Samosir, 28 Desember 1947), adalah seorang esais, sosiolog, cerpenis, novelis, wartawan/eks redaktur senior KOMPAS, pengelola Pusat Informasi dan Litbang Kompas, dan pendiri penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG).

Lulus dari SMA Katholik Budi Mulia Pematangsiantar, dia sempat setahun penuh belajar di Seminari Menengah Pematangsiantar untuk memuaskan minatnya menjadi pastor. Kemudian dia melanjutkan studi di Jurusan Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta (1967-1972).

Pada tahun 1974-1975 dia mendapatkan beasiswa kerja sama Indonesia-Prancis untuk belajar di Institut International d’Administration Publique (IIAP), Paris. Laporan penelitiannya, Les Aides de Developpement et La Haute Volta, penelitian lapangan mengenai bantuan luar negeri untuk pembangunan ekonomi di Burkina Faso, ketika itu bernama Volta Hulu (La Haute-Volta), Afrika Barat, mengakhiri studinya di IIAP.

Sejak Februari 1976, sepulangnya dari Prancis, dia bergabung dengan harian Kompas dan mulai menulis kolom-kolomnya yang dikenal sebagai Cucu Wisnusarman (1979-1984), yang telah dibukukan dan diterbitkan oleh PT Grafindo Mukti (1993) dan penerbit Nalar (2005). Tahun 1986-1990, dengan dibiayai oleh harian Kompas, dia memperoleh kesempatan untuk melanjutkan studi di Vrije Universiteit, Amsterdam. Pada 5 Februari 1991, dia mempertahankan disertasinya mengenai etnisitas dan perdagangan besar di kota metropolitan Jakarta. Karena etnisitas adalah produk sejarah, maka dia merunut gejala itu dari tahun 1619, sejak Jakarta bernama Batavia. Kegemarannya akan sejarahlah yang mendorongnya melahirkan buku Menjadi Indonesia pada 1995, buku pertama dari tiga buku yang direncanakan Kompas mengenai proses kebangsaan Indonesia.

Hobi menulisnya telah menghasilkan banyak karya, tak hanya berupa artikel maupun buku, dia juga pernah menulis skenario film. Salah satu skenario filmnya, yaitu Gadis Penakluk berhasil memenangkan Piala Citra dalam Festival Film Indonesia (FFI) pada 1981. Tahun 1982, skenario filmnya, Topaz Sang Guru yang disadur dari naskah drama Marcel Pagnol, Topaze, mendapat nominasi untuk aktor terbaik Piala Citra FFI. Dia pun melakukan beberapa penelitian pendahuluan, antara lain mengenai proses awal “Orde Baru”. Sebagian hasil penelitian tersebut diterbitkan sebagai artikel dalam Prisma, Desember 1977. Artikel tersebut, Di Balik Mitos Angkatan ‘66, kemudian dimuat dalam buku kumpulan artikel pilihan Prisma, yaitu Analisa Kekuatan Politik di Indonesia (LP3ES, 1985).

Karya-karyanya antara lain adalah novel Ibu, pemenang sayembara mengarang cerita anak-anak muda UNESCO dan Ikapi (1969), juara dua sayembara majalah Sastra (1969) lewat cerpen Seekor Ikan Gabus, dan novel Si Bongkok (1981) yang meraih hadiah kedua dalam sayembara mengarang novel Gramedia Kompas. Selain itu buku-bukunya adalah Kusni Kasdut (Gramedia, 1981), Politik Kerakyatan saduran dalam bentuk cergam dari The Discourses on Livy (Italian: Discorsi sopra la prima deca di Tito Livio) karya Niccolò Machiavelli (KPG, 1997), buku pegangan wartawan Vademekum Wartawan: Reportase Dasar (KPG, 1997), Matinya Ilmu Ekonomi 1, saduran dalam bentuk cergam dari The Death of Economics karya Paul Ormerod (KPG, 1997), Pesona Bahasa Nusantara Menjelang Abad ke-21 (KPG, 1999), kumpulan cerpen Tawanan (PBK, 2003), terjemahan Batas Nalar: Rasionalitas dan Perilaku Manusia (KPG, 2004).

Saat ini dia tengah menerjemahkan buku The Power of Prophecy: Prince Dipanagara and The End of An Old Older in Java 1785-1855 karya Peter Carey. Sebuah buku tentang sejarah perjalanan kepahlawanan Pangeran Diponegoro.

Dia melanjutkan studi di Jurusan Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta dari 1967 sampai 1972. Karena situasi politik saat itu, dia mengurungkan niat menjadi dosen di sana.

Di luar rencana, dia mencoba melamar kerja di Departemen Luar Negeri di Jakarta dan dinyatakan lulus. Beberapa waktu kemudian dia mendapat bea siswa kerja sama Indonesia-Prancis untuk belajar di Institut International d’Administration Publique (IIAP), Paris (1974-1975). Laporan penelitiannya, Les Aides de Developpement et La Haute Volta, penelitian lapangan mengenai bantuan luar negeri untuk pembangunan ekonomi di Burkina Faso, ketika itu bernama Volta Hulu (La Haute-Volta), sekarang Burkina Faso, Afrika Barat, mengakhiri studinya di IIAP.

Sepulang dari Prancis, sejak Februari 1976, dia bergabung dengan harian Kompas. Di sinilah dia menulis kolom-kolomnya yang dikenal sebagai Cucu Wisnusarman, yang telah dibukukan dan diterbitkan oleh PT. Grafindo Mukti (1993) dan penerbit Nalar (2005). Tahun 1986-1990, dia dibiayai oleh harian Kompas untuk studi di Vrije Universiteit te Amsterdam dan pada 5 Februari 1991, dia mempertahankan disertasinya mengenai etnisitas dan perdagangan besar di kota metropolitan Jakarta. Karena etnisitas adalah produk sejarah, maka dia harus meruntut gejala itu dari tahun 1619, sejak Jakarta bernama Batavia. Kegemarannya akan sejarahlah yang mendorongnya melahirkan buku Menjadi Indonesia pada tahun 1995, buku pertama dari tiga buku yang direncanakan Kompas mengenai proses kebangsaan Indonesia.

Hobi menulisnya telah menghasilkan banyak karya, tak hanya berupa artikel maupun buku, dia juga pernah menulis skenario film. Salah satu skenario filmnya, yaitu Gadis Penakluk berhasil memenangkan Piala Citra dalam Festival Film Indonesia (FFI) pada tahun 1981. Di tahun 1982, skenario filmnya, Topaz Sang Guru yang disadur dari naskah drama Marcel Pagnol, Topaze, mendapat nominasi untuk aktor terbaik Piala Citra FFI. Dia pun melakukan beberapa penelitian pendahuluan, antara lain mengenai proses awal “Orde Baru”. Sebagian hasil penelitian tersebut diterbitkan sebagai artikel dalam Prisma, Desember 1977. Artikel tersebut Di Balik Mitos Angkatan ‘66, kemudian dimuat dalam buku kumpulan artikel pilihan Prisma, yaitu Analisa Kekuatan Politik di Indonesia (Jakarta: LP3ES, 1985), hlm. 149-163.

Karya-karyanya yang memenangi sejumlah sayembara antara lain adalah novel Ibu (1969), pemenang sayembara mengarang cerita anak-anak muda UNESCO dan Ikapi, juara dua sayembara majalah Sastra (1969) lewat cerpen Seekor Ikan Gabus, dan novel Si Bongkok (1981) meraih hadiah kedua dalam sayembara mengarang novel Gramedia Kompas. Selain itu buku-bukunya yang lain adalah Kusni Kasdut (Gramedia, 1981), buku pegangan wartawan Vademakum Wartawan (KPG, 1997), Pesona Bahasa Nusantara Menjelang Abad ke-21 (KPG, 1999), kumpulan cerpen Tawanan (PBK, 2003), terjemahan Batas Nalar: Rasionalitas dan Perilaku Manusia (KPG, 2004).

Saat ini dia tengah menyelesaikan buku The Power of Prophecy Prince Dipanagara and The End of An Old Older in Java 1785-1855 karya Peter Carey. Sebuah buku tentang sejarah perjalanan kepahlawanan Pangeran Diponegoro.

Parakitri T. Simbolon adalah pendiri Kepustakaan Populer Gramedia (KPG).

Sebenarnya ada seorang cendekiawan Batak Toba yg cukup bagus menguasai sejarah, filosofi, dan faktor-faktor yg mempengaruhi perubahan sosial dan pergeseran nilai-nilai anutan masyarakat Batak. Namanya Parakitri T Simbolon, seorang esais, cerpenis, novelis, wartawan/eks redaktur senior Kompas, ahli filsafat dan ilmu-ilmu sosial, yg sekarang memimpin kelompok penerbitan Kompas Gramedia (KPG). Untuk keperluan studi doktoralnya di Belanda, ia bertahun-tahun melakukan riset dan penelusuran tulisan-tulisan lak-lak dan pendapat para penulis asing, misionaris, pejabat pemerintah Hindia Belanda, dll, menyangkut alam dan manusia Batak, yg dituangkan dlm buku maupun kertas kerja (report, makalah, dll). Ia menguasai aksara dan bahasa Batak dng sempurna–membuat saya malu, yg terlanjur dicap paham budaya Batak hanya lewat sebuah novel sederhana berjudul SORDAM, yg kebetulan ber-setting alam dan bertokoh manusia Batak Toba.

sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Parakitri_T._Simbolon

Ralph Tampubolon


Ralph Tampubolon, Ingin Kerja di Teve Negara Tetangga

Ralph Tampubolon

Wajah tampan, suara berat dan fasih berbicara Inggris. Insinyur ini rupanya lebih memilih kerja di broadcasting dibanding mengamalkan ilmu yang didapat saat kuliah. Ada satu yang masih dikejar pria kelahiran Jakarta, 24 Januari 1975 ini. Apa itu?

Nama Anda unik, Ralph. Ada ceritanya?
Ralph diambil dari Ralph Buche, tokoh HAM yang vokal dan sempat mendapat Nobel perdamaian. Ketika usia 3 bulan saya dibawa ke Amerika karena Papa, Hasudungan Tampubolon, mengambil gelar doktor di Boston. Jadi, selama 5 tahun kami tinggal di sana, bahasa Inggris saya jadi lancar. Justru pas pulang ke Indonesia, saya malah belajar Bahasa Indonesia. Kebalik dengan anak-anak di sini, saya malah belajar Bahasa Indonesia dari awal.

Jadi presenter cita-cita sejak kecil?
Ketika SMA saya mengambil jurusan Fisika. Saat kuliah Papa minta saya mengambil Fakultas Teknik. Dan ternyata tahun 1993 saya diterima di UI. Ternyata setelah dijalani, di semester 4-5 saya mulai merasakan kayaknya bukan di situ bidangnya. Di tengah jalan tersebut, saya punya teman yang kerja di radio. Menurut dia, suara saya cocok jadi penyiar. Saya pikir, kenapa tidak dicoba. Akhirnya saya diterima. Hitung-hitung kerja sampingan karena masih kuliah. Orangtua sempat menasihati jangan terlalu sibuk jadi penyiar radio. Pokoknya harus bisa jaga keseimbangan antara kerja sampingan dan kuliah. Untunglah bisa selesai dua-duanya.

Pengalaman pertama saat siaran?
Sebelum siaran ada training, meski sebentar. Saya mengikuti super diklat dengan melakukan simulasi di belakang perangkat siar selama 10 hari. Saya menyukai pekerjaan ini karena minat saya ke sana, jadi mengerjakannya pun dengan semangat. Kerjaan saya waktu itu lebih banyak ke musik, memutar lagu yang diinginkan pendengar.

Setelah lulus, Anda meneruskan kemana?
Lulus kuliah Desember 1998, saya ke Thailand mengambil master di bidang yang saya minati, yaitu komunikasi. Sebenarnya pengin sekolah di Amerika. Tapi terbentur krismon yang biayanya pasti membengkak. Kebetulan, Papa ditugaskan di Bangkok dua tahun. Bersamaan itu, saya mendapat info ada Universitas yang pusatnya di Amerika tapi buka cabang di Thailand. Ditambah lagi ada program S2 Komunikasi Media dengan biayanya lebih murah dibanding ke Amerika.

Anda juga tertarik film ya?
Betul. Saat kuliah S2 hingga lulus tahun 2000, saya banyak menonton film, ada juga mata kuliah yang membahas film. Rupanya besar juga ya peluangnya di film. Saya pun melamar ke beberapa sekolah dan sekolah di Boston selama 1 tahun. Di sana saya belajar penulisan naskah dan dasar-dasar akting. Saya senang semi ekperimental, kalau ada minat, kok, enggak dijalani.
Tahun 2002-2003 saya pulang ke Jakarta. Saat itu pergerakan film baru dimulai. Sementara dunia broadcast sedang bagus karena banyak stasiun teve berdiri, salah satunya Metro TV. Ke sanalah saya mengejarnya, karena di sisi penyiaran, kan, ada sisi pembuatan naskah juga.

Kenapa justru ingin jadi pembaca berita Metro TV?
Entah kenapa ya, ada ketertarikan menjadi pembaca berita. Karena apa yang saya pelajari tertuang semua ketika menjadi pembaca berita. Ada sisi penyiaran, penulisan naskah, dibutuhkan juga modal akting saat membacakan berita. Menurut saya, Metro TV adalah stasiun teve yang lebih fokus, punya karakter yang beda dari teve lain, dan loyal di jalur itu.
Akhirnya, saya melamar kerja ke Metro TV. Wah, ternyata tidak gampang, lho, banyak lika likunya. Sudah tidak terhitung berapa kali saya mengajukan lamaran ke Metro TV tapi belum dipanggil-panggil dalam kurun waktu sampai 1-2 tahun. Kadang mengirimkan lamaran melalui jalur resmi ke HRD atau tidak resmi misalnya titip teman. Saya juga rajin melihat acara yang saya minati, misalnya, program Bahasa Inggris, kemudian di akhir acara tercantum nama produsernya, itulah nama yang saya kirimkan lamaran kerja.

Enggak bosan?
Selama dua tahun mencari kerja, saya mencoba menambah pengalaman dengan bekerja di TVRI bagian news. Siaran semua program selama setahun, mulai dari Dunia Dalam Berita, atau liputan ke istana. Saya banyak belajar dan dapat ilmu dari senior-senior di TVRI. Yang menyenangkan, waktu kecil saya, kan, suka nonton TVRI, ada pembaca berita seperti Teungku Malinda dan Inez Sukandar. Nah, sekarang, kok, saya duduk bersebelahan dengan mereka membacakan Dunia Dalam Berita. Wow! Seperti mimpi saja. Itu pengalaman yang menarik bagi saya. Tapi, lagi-lagi niatnya enggak mau terlalu lama di sana, tetap pengin coba di teve swasta. Syukurlah, akhirnya saya diterima di Metro TV awal 2006 sampai sekarang.

Langsung siaran?
Saya enggak langsung siaran, tapi digembleng dulu di belakang layar melihat bagaimana proses produksi sebuah tayangan berjalan. Saya belajar mulai dari pencarian berita sampai diudarakan, penulisan, peliputan, supervisi editing, membantu produser di ruang kontrol, pada saat eksekusi program saya harus tahu. Jadi, tidak dibiarkan hanya duduk manis, tanpa tahu bagaimana jerih payah teman-teman lain yang bekerja. Karena kalau enggak belajar kita cenderung jadi egois, banyak menuntut, tidak menghargai pekerjaan orang lain, kita direndahkan secara hati bahwa proses ini tidak gampang. Jadi, kalau lagi siaran tiba-tiba ada naskah yang salah, saya lebih bisa memaklumi karena tahu apa yang terjadi di atas, kekurangan dan kelebihan kita apa.

Kapan Anda mulai siaran?
Setelah 6 bulan di belakang layar, saya baru siaran. Program pertama yang dipegang Metro Malam dan Headline News dini hari. Karena minatnya besar ditambah sering melek malam, suka begadang, jadi kebawa saat siaran, ya sudah klop. Meski kadang jam 4 pagi suka ngantuk, ya ditahan saja.

Banyak belajar dengan siapa di Metro TV?
Saya banyak belajar dengan Manajer Presenter, Fifi Aleyda Yahya, senior saya. Dia banyak memberikan masukan. Lalu, dengan Pius Pope, veteran dalam hal olah vokal, gerak tubuh, intonasi suara, dialah gurunya siaran. Sebelum di Metro saya pernah ketemu di TVRI.

Liputan yang mengesankan?
Ketika banjir hebat melanda Jakarta, Metro TV termasuk yang terkena banjir. Saya harus tetap meliput, kebetulan rumah orangtua masih dekat kantor, meski tidak terkena banjir, tapi akses ke luar rumah, air sudah mencapai sepinggang, saya harus jalan kaki. Mungkin karena sudah panggilan jiwa, ya, saya tetap semangat meliput. Dari rumah saya sudah siap bawa baju ganti. Studio yang terletak di lantai satu terpaksa dipindahkan sementara ke lantai dua. Selama sebulan memakai studio buatan dan tidur di kantor. Malas mau pulang apalagi lihat airnya berwarna cokelat.

Lalu, yang menyedihkan?
Dari Mbak Fifi saya dapat masukan, katanya pemirsa pernah mengritik cara bicara saya di depan teve, seperti berkumur-kumur hingga tidak jelas bicaranya. Bagi saya kritikan dan pujian diterima dengan lapang dada dan seimbang. Prinsip saya, tidak mungkin saya bisa menyenangkan semua orang, semaksimal apapun berusaha, pasti ada saja orang yang enggak suka dengan saya.
Nah, kebetulan saya suka malas senam muka. Pope selalu mengajarkan melakukan senam rahang, tenggorokan, dan muka harus dilenturkan supaya lemas. Intinya, mulut harus terbuka agar artikulasinya jelas. Ditambah lagi, waktu itu saya baru pasang kawat gigi, jadi kalau bicara agak berat karena ada objek asing di dalam mulut, butuh waktu membiasakan. Jadi, agak kagok bicaranya.

Ternyata pemirsa jeli ya?
Wah, memang betul. Pernah saya dikiritik karena pakai celana yang “salah”. Saya pakai celana darurat yang di bawahnya masih ada lipatan. Langsung, lho, dikomentari. Tapi saya terima dengan positif, artinya saya masih diperhatikan orang, kan.

Wajah Anda makin banyak dikenal, bagaimana rasanya?
Kadang-kadang saja, kok, ada yang mengenal saya kalau ketemu di jalan. Mereka lebih hafal wajah daripada nama.

Dimana Anda bertemu istri?
Waktu itu istri saya, Melissa Karim, penyiar di Hard Rock FM, sementara saya di Radio One sekarang jadi JakFM. Tina Zakaria menyampaikan salam dari Melissa. Kami pun berkenalan saat dia jadi MC di sebuah acara. Ternyata begitu ketemu langsung klop, nyambung kalau ngobrol. Meski ada perbedaan bukan menjadi sesuatu kendala. Saya memang pendiam, sementara istri cerewet, makanya dia suka jadi jubir keluarga. Ha ha ha.

Bagaimana membagi waktu dengan istri?
Sebenarnya saya lebih sibuk karena kerjanya full time, sementara istri tergantung job. Apalagi sekarang, kan, The Master sudah selesai, kalau enggak ada kerjaan ya kami bisa bertemu (Melissa menjadi salah satu komentator di acara The Master). Sebenarnya, saya lebih senang di rumah, paling keluar ke mal atau nonton. Setelah setahun menikah, rencananya kami baru serius mikirin anak. Setahun ini benar-benar untuk berdua, saya enggak mau menunda bulan madu. Takutnya, malah enggak kesampaian.

Banyak yang memuji ketampanan Anda. Bagaimana Anda menjaganya?
Menjaga kesehatan badan dengan fitness, treadmill, basket dengan teman-teman SMA, jaga pola makan, enggak boleh kelebihan berat badan karena akan terlihat di layar teve. Untuk menjaga kesehatan kulit, istri saya suka memberi facial gratis di rumah tiap weekend. Biar kulit wajah tetap terawat. Saya bersyukur kalau ada yang bilang saya ganteng, meski sebenarnya itu subjektif ya. Mungkin ada yang menganggap saya biasa saja. Jangan sampai saya di awang-awang, karena saya tahu ini adalah sedikit dari potongan kue yang utuh.

Apa keinginan Anda yang belum tercapai?
Ingin cari pengalaman kerja di teve luar seperti Singapura atau Hongkong, yang dekat-dekat saja. Karena saya ingin menambah pengalaman, dan sebagai faktor pembanding apa, sih, kelebihan dan kekurangan mereka.

Dukungan orangtua?
Papa selalu mengajarkan, takut pada Tuhan, artinya percayailah dan yakinlah akan Tuhan. Secara konsisten Papa juga selalu memberitahu saya, sampai-sampai kuping saya merah. Pentingnya manusia itu punya visi, kerja keras, jangan jadi orang yang biasa-biasa saja. Jadilah orang biasa yang bekerja keras hingga menjadi luar biasa.

Masih minat ke film?
Film ditinggalkan dulu sementara, meski masih suka nonton film Barat dan Indonesia, karena film adalah komunikasi media yang unik. Bayangkan, dalam satu setengah jam bisa menyampaikan sesuatu hingga penonton paham. Apakah nanti saya jadi pelaku masih tanda tanya, tapi minatnya masih ke sana, kok.***Sumber: Nova

Noverita K. Waldan