Irzan Tanjung, Prof. Dr.


Prof. Dr. Irzan Tanjung tanjung

Guru Besar FEUI ini memiliki peranan dalam tim kampanye ekonomi pasangan presiden dan wapres RI: SBY-JK. Beliau juga merupakan salah satu dari 99 pendiri. Partai Demokrat dan terpilih menjadi anggota DPR-RI untuk periode 2004-2009. Sesuai dengan keahliannya di bidang ekonomi, beliau ditunjuk menjadi salah satu penanggung jawab platform dan kebijakan Partai Demokrat di bidang ekonomi.

Pria kelahiran Medan pada tanggal 3 Juni 1937 ini, lulus mendapatkan gelar Sarjana Ekonomi dari FEUI jurusan Studi Pembangunan pada tahun 1961 dengan menyajikan skripsi dalam bidang Analisa Ekonomi dan Kebijaksanaan Negara. Kemudian beliau melanjutkan studinya di Amerika Serikat dan pada tahun 1965 berhasil memperoleh gelar M.A. dari Syracuse University. Pada tahun 1986 beliau berhasil meraih gelar Ph.D dari University of Illinois. Prof. Irzan juga aktif sebagai staf
peneliti di LPEM FEUI. Beliau turut serta dalam menyusun “Outlook Keuangan Negara 1969,1970 dan 1971”. Beliau juga menyusun paper-paper yang dibuat untuk keperluan laporan Pemerintah kepada DPR-GR (Nasional) seperti laporan APBN. Salah satu karya
yang pernah dihasilkan oleh beliau adalah “Bank dan Pembangunan”, yang merupakan terjemahan ilmiah LMUI-Bapindo. Seperti pakar ekonomi FEUI lainnya, beliau juga pernah menjabat di pemerintahan. Pada tahun 1970 beliau menjadi staf pribadi. Menkeu, kemudian tahun 1972 menjadi Sekretaris Dirjen Keuangan, dan pada periode
1988 – 1993 menjabat sebagai Asisten Menteri Koordinator Ekonomi Keuangan, Pengawasan dan Pengembangan.

Saat ini Irzan Tanjung dipercayakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, menjadi duta besar Indonesia untuk Philippina.

Jansen H Sinamo


PRIA kelahiran Sidikalang, 2 Juli 1958, ini adalah putra sulung pasangan Tachir Kalang Sinamo dan Fatimah Limbong, dengan tujuh adik. Ia jansen_sinamosendiri telah dikaruniai dua anak, Imanda Priskila Sinamo (19 thn) dan Marco Antonio Carnegie Sinamo (17 thn), dari Tri Hadayani, istrinya. Jansen Sinamo kini boleh jadi lebih dikenal sebagai ’Mr Ethos’ atau ‘Bapak Etos’, daripada sebagai grand master training pemegang lisensi pelatihan internasional. Bahkan, tidak sedikit yang menyebutnya ‘Guru Etos Indonesia’. Layakkah gelar besar ini disandangnya? Entahlah, sejarahlah yang akan menjawabnya. Yang jelas, dialah penggagas, pencipta, pengembang, sekaligus pengemban ‘pelatihan sumberdaya manusia berbasis etos’ yang pertama di Indonesia.

Pada usianya yang ke-25, ia lulus dari Jurusan Fisika, Institut Teknologi Bandung, dengan kekhususan fisika nuklir. Sesudah bekerja sebagai seismic engineer selama empat tahun (1983-1986) di dua perusahaan asing di bidang jasa perminyakan (PT Matra Delta dan PT Horizon International Indonesia), setahun berikutnya (1987) ia kemudian dikontrak untuk meletakkan dasar-dasar sistem informasi manajemen pada World Vision International Indonesia, sebuah LSM yang berpusat di Amerika Serikat.

Selain membaca, hobinya yang lain adalah berceramah dan mengajar. Pada masa senior perkuliahannya, ia pernah menjadi asisten dosen sejumlah mata kuliah antara lain fisika dasar, fisika lanjut, dan fisika kuantum. Dengan modal sebagai asisten selama tiga tahun, pada lima tahun berikutnya (1984-1989) ia dipercaya jadi sebagai dosen luarbiasa dalam matakuliah Etika pada almamaternya tersebut.

Sejak 1985 hingga tiga belas tahun sesudahnya, ia bergabung dengan lembaga pelatihan bisnis internasional: Dale Carnegie. Mula-mula sebagai magang, kemudian menjadi instruktur, dan terakhir, sejak 1994, ia menjadi grand master (pelatih untuk para pelatih) untuk wilayah Asia Tenggara. Dengan pengalaman Dale Carnegie inilah ia diundang jadi pengajar khusus dalam matapelatihan Public Speaking and Business Presentation pada Program Magister Manajemen Institut Pertanian Bogor hingga sebelas angkatan (1992-1996).

Di sela-sela kegiatan bisnisnya, Jansen Sinamo juga berperan aktif di bidang sosial. Pada kurun 1998-2001 ia dipercaya menjadi sekretaris umum Yayasan Perhimpunan Pencinta Danau Toba dan jadi ketua pada tiga tahun berikutnya. Di masa kesekretarisannya, bekerjasama dengan UNESCO, ia mengelola buletin Pesan Danau Toba yang sempat terbit sebanyak 48 edisi. Ia juga aktif dalam ikhtiar memajukan daerah asalnya, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara. Hingga kini ia dipercaya jadi penasihat ahli Bupati Dairi.

Sejak 1998 Jansen Sinamo memulai debutnya sebagai penulis. Ia menulis banyak artikel di berbagai media, terbanyak di KOMPAS. Hingga kini telah menghasilkan enam buku yaitu (1) Kepemimpinan Visioner, Kepemimpinan Kredibel, (2) Strategi Adaptif Abad Ke-21, (3) Kafe Etos: Dua Puluh Empat Kisah Renyah untuk Memperkuat Etos Kerja Unggul, (4) Dairi: The Hidden Prosperity, (5) Delapan Etos Kerja Profesional, dan (6) Mengubah Pasir Menjadi Mutiara. Dua yang terakhir ini sudah tergolong best-seller dan masih terus dicetak ulang.

Pada 1998 ia memfokuskan diri mendalami dan mengampanyekan Delapan Etos sebagai basis dan navigator menuju keberhasilan, dengan antara lain terus menjadi penulis, pembicara publik, dan narasumber tetap pada jaringan radio SmartFM Network serta televisi Q-Channel. Kini ratusan ribu orang dari hampir semua jenis organisasi, mulai dari badan usaha pemerintah hingga swasta; lembaga swadaya masyarakat, yayasan nirlaba maupun lembaga pemerintah; di pusat maupun di daerah, telah menikmati seminar dan pelatihannya. Ia dan keluarganya tinggal di daerah Jakarta Timur.

sumber: http://www.proaktif.biz/profil/jansen_sinamo.php

Enda Nasution


Yang suka ngeblog tidak akan lupa padanya. Memang, tidak banyak yang tahu, yang membikin blog riuh-rendah di Indonesia adalah orang Batak, pria kelahiran kota Bandung 29 Juli 1975. Enda Nasution namanya. Dia dijuluki “Bapak Blogger Indonesia.” Dari hasil didikannyalah banyak muncul blogger, termasuk Kusmayanto Kadiman, Menteri Negara Riset dan Teknologi.Enda Nasution

Tak heran dia menjadi refrensi, diundang ke berbagai seminar dan workshop. Dia juga diundang menghadiri pertemuan tingkat tinggi blogger se- Dunia di London tahun 2005 dan 2006. Enda juga diundang menghadiri pertemuan para pemimpin muda yang berlangsung di Seoul belum lama ini.

”Saya dulunya bercita-cita menjadi penulis. Basic pendidikan saya teknik sipil. Kebetulan, tahun 1994 Internet masuk ke Indonesia. Saat itu, semua fakultas mulai disambungkan dengan Internet. Saya ikut terlibat. Pelan-pelan saya makin mengerti, dan akhirnya menjadi maniak,” ujar kontributor Global Voices Online, proyek dari Harvard Law School di Amerika Serikat ini.

Enda membuat http://www.dagdigdug.com sebagai sarana komunikasi untuk para blogger Indonesia. Website dagdigdug dibentuk oleh sebuah jaringan pertemanan sejak tahun 2007. Kontribusinya di dunia blog bermula dari tulisannya Apa Itu Blog yang dia tulis tahun 2001. Pria 34 tahun ini, lulus dari Fakultas Teknik Sipil, Institut Teknologi Bandung tahun 1999. Dia pernah menjadi aktivis mahasiswa dalam kedudukannya sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Sipil (HMS-ITB).

Tahun 2007, dia menjadi ketua pesta blogger 2007, acara tahunan blogger Indonesia yang pertama. ”Di Indonesia ada 30 juta pengguna Internet, tetapi tidak sampai satu juta pemilik blog. Padahal, kalau pemilik blog makin banyak, maka makin baik peradaban kita,” ujarnya.

Hotman J Lumban Gaol

Umar Manik


UMAR MANIK

Pengalaman tidak pernah salah.Umar Manik
Yang dapat salah hanyalah penilaian kita.
(Leonardo da Vinci, Pelukis, seniman, penemu Italia)

Musibah, kata orang, sesungguhnya adalah keberuntungan yang tersembunyi, pintu ke langkah yang lebih baik. Blessing in disguise. Dan langkah hidup Umar Manik mungkin tepat disebut begitu.

Tahun 1984, Umar Manik merasa amat patah. Hotel tempat dia berkerja, di Parapat, tiba-tiba beralih manajemen. Pengelola baru mengharuskan semua karyawan minimal berijasah SMA. Padahal pendidikan Manik cuma sampai kelas 3 SD. Ia di-PHK dengan hanya mendapat pesangon 3 bulan gaji.

Manik merasa buntu. Setengah frustasi, ia membawa anak istrinya ke hutan di atas Sibaganding. Di sana dia mencoba bertani, merambah semak, mencangkul, dan menanam tanaman yang kiranya bisa menyambung hidup.

Apa yang terjadi? Saat mencoba menanam jelok alias labu kuning, segerombolan monyet datang merusak. Manik marah, mengusir dan melempari gerombolan itu dengan batu. Aneh, tahu-tahu malamnya ia bermimpi didatangi seorang tua. “Kenapa kau usir monyet itu? Ini tempat mereka,” tegur si Kakek.

Manik jadi mikir. Benar juga. Di hutan itu, justru dia yang pendatang. Perlahan, ia mencoba berdamai dan mendidik si monyet-monyet. Mereka tidak mengganggu tanaman, dan untuk itu Manik memberi hadiah. Jika hari sudah sore, Manik meniup terompet yang dibuat dari tanduk kerbau, dan gerombolan monyet itu datang berhamburan. Lantas Manik memberi mereka pisang, atau buah lain yang ada.
Persahabatan Umar dengan monyet-monyet itu, akhirnya sampai ke masyarakat sekitar. Mereka menilai Manik narittik, alias gila. Betapa tidak? Ia dan keluarganya hidup prihatin, tinggal seadanya di gubuk berlantai tanah, berdinding topas, tapi malah memberi makan ratusan monyet. Ditambah lagi, Manik suka marah, mengejar dengan golok terhunus kalau ada yang menggangu atau coba memburu anak monyet.

Tapi Manik tidak perduli disebut rittik. Ia menghormati perdamaiannya dengan alam. Tahun 1989, hutan pelarian Manik mulai ramai dikunjungi orang, yang ingin melihat “sahabat-sahabat” Manik. Bukan hanya pengunjung lokal, juga wisatawan mancanegara, yang memang banyak berkeliaran sekitar Danau Toba. Konon, satu hari bisa 100 lebih rombongan kunjungan, sampai makan pun kadang Manik tak sempat.
Manik senang. Tapi keberuntungan itu tiba-tiba berbalik arah jadi bencana. Tiba-tiba ada isu ia menanam ganja, karena setiap hari ada mobil pick-up keluar-masuk kebunnya. Manik pun didatangi Polisi. Padahal pick-up itu hanya mengantar pisang-pisang “belanjaan” para monyet. Tidak hanya itu. Mungkin karena melihat keberadaan monyet-monyet Sibaganding potensial untuk pemasukan rupiah, oknum pemerintah setempat dengan segerombolan jajarannya, berusaha mengusir Manik. Ia dianggap tidak berhak tinggal di sana. Gubuk tempat ia berteduh harus dibongkar.

Manik sangat sedih dan kembali tersuruk dalam rasa buntu. Tapi Tuhan mengirimkan teman. Beberapa pihak, seperti Wahana Lingkungan Hidup (WALHI), dan LSM yang bergerak di bidang lingkungan dan hak asasi datang memberi dukungan. Bersama-sama mereka membuat petisi ke instansi pemerintah terkait, agar tidak mengusik Manik. Akhirnya Manik kembali dipercaya mengelola tempat tersebut.

Kini, 20-an tahun sudah Manik dan keluarganya mendedikasihan hidup menjadi pengasuh sekaligus pawang monyet-monyet yang bermukim di hutan Sibaganding. Hutan lindung itu kini secara resmi masuk agenda wisata di sekitar Danau Toba. Jalan setapak ke arah lokasi juga dibenahi.
Menurut Manik, monyet asuhannya ada 13 kelompok. Satu kelompok ada yang mencapai 100 ekor, dan setiap kelompok dipimpin 5 ekor babon (induk). Meski wajah monyet hampir sama, Manik mengenali mereka. Beberapa monyet pemimpin kelompok diberi nama, seperti Bruno, Mike Tyson, si Duda, dan sebagainya untuk memudahkan mengenali kelompok masing-masing.

Begitu cinta Umar Manik pada asuhannya, konon, di punggungnya ada tato yang bertuliskan, lebih baik dia berpisah dengan anak istri, daripada pisah dengan monyet-monyetnya. Wah! Meski begitu, Manik tidak menganggap monyet-monyet itu milik pribadinya. “Mari kita lestarikan itu semua, untuk warisan anak cucu kita,” katanya.

Dalam konteks falsafah hidup orang Batak, yang mengejar hamoraon (kekayaan), hagabeon (banyak keturunan dan panjang umur), dan hasangapon (kehormatan dan kemuliaan), barangkali Umar Manik memang tergolong “rittik”. Nyentrik. Nggak keren. Tapi, seperti kata Leonardo da Vinci, pengalaman tidak pernah salah. Kalau melihat dari kacamata lingkungan hidup – rasa bersahabat dengan alam pemberian Tuhan – jalan hidup yang dipilih ompung Manik ini unik… dan mengharukan! Ndang i do? *

Nestor Rico Tambunan

PERSONA/TONDONGTA

SAJUTHI LUBIS

Aku tak pernah bertanya kapan aku akan mati.
Tetapi aku selalu bertanya berapa banyak
yang dapat kulakukan sebelum aku mati.
(George Washington, Presiden Pertama Amerika Serikat)

Adakah kaitan antara karakter etnis atau suku tertentu dengan profesi tertentu? Mungkin ada, bisa jadi tidak. Yang jelas, dari sejak zaman pergerakan, di awal abad ke-20, banyak orang Batak yang jadi pionir atau tokoh yang disegani dalam perjalanan sejarah pers Indonesia. Hal itu antara lain terlihat dalam buku Jagat Wartawan Indonesia yang ditulis Soebagijo I.N.
Salah satu yang tak mungkin diabaikan adalah Parada Harahap, sosok wartawan yang dianggap sebagai “nestor” jurnalis Indonesia. Tahun 1920-an, di usia 20-an, Parada sudah jadi penerbit sekaligus pengelola Bintang Timoer, yang menjadi suratkabat terbesar milik pribumi saat itu.
Sungguh keren, Parada lah mungkin satu-satunya wartawan yang memiliki mobil saat itu. Juga amat unik, karena dia mengelola, meliput, sekaligus jadi korektor di suratkabarnya. Gaya sekaligus pekerja keras. Parada juga salah seorang wartawan Indonesia pertama yang melakukan perjalanan jurnalistik, baik ke berbagai daerah di Indonesia maupun ke luar negeri. Ketika melakukan perjalanan jurnalistik ke Jepang, ia membuat kalangan pers Jepang terpesona dan menjulukinya “The King of Java Press”.
Tak kalah pionir, adalah Albert Manumpak Sipahutar yang dalam usia 20 tahun, 1934, merintis pendirian Antara, kantor berita pertama di Indonesia, bersama Adam Malik, yang saat itu baru berusia 18 tahun. Begitu pula Horas Siregar, yang umur 18 tahun merantau ke Kotabaru, Kalimantan, dan di sana menerbitkan mingguan Panggilan Waktu, yang dicetak di Surabaya.
Horas kemudian memindahkan penerbitannya ke Samarinda. Tapi di kota ini ia diadili karena dituduh pemerintah Belanda menghasut rakyat, hingga dipenjarakan di Sukamiskin, Bandung. Betapa penting, konon di sana ia ditahan bersama tahanan politik sekelas Amir Sjarifudin. Horas kemudian memindahkan perjuangan persnya di Palu, Sulawesi Tengah, sampai akhir hidupnya.
Kurang lebih sama nekad dengan Horas, adalah Saruhum Hasibuan. Betapa hebat, umur 17 Saruhum sudah menjadi wartawan suratkabar Sin Tit Po di Surabaya. Namun, barangkali tidak ada wartawan Batak yang seajaib dan menggetarkan seperti Sutan Mangaraja Sajuthi Lubis.
Sajuthi Lubis lahir di Kotanopan, Tapanuli Selatan, 1895. Tahun 1921 ia merantau ke Banjarmasin dan menulis untuk banyak suratkabar yang terbit di Jawa dan Medan. Tulisannya banyak berisi dakwah dan pembelaan terhadap nasib rakyat. Sajuthi kemudian jadi menantu seorang pengusaha kaya Kalimantan, H. Abdul Manaf, yang memodalinya menerbitkan majalah Persatoean di Samarinda.
Karena salah satu tulisannya di majalah Islam Bergerak, sebelum menerbitkan Persatoean, Sajuthi Lubis diadili dan dipenjarakan di Cipinang, Jakarta. Penahanan ini justru membuat Persatoean mendapat banyak simpati. Setelah Sajuthi Lubis keluar dari penjara, Persatoean makin maju pesat. Tapi kemajuan itu membuat Belanda jadi cemas. Sajuthi Lubis kembali dijebak ranjau delik pers. Persatoean pun mati.
Sekeluar dari penjara, Sajuthi aktif di politik dan menerbitkan Islam Bergerak. Tapi majalah ini mati setelah pendudukan Jepang. Sajuthi Lubis termasuk sosok wartawan Indonesia yang paling banyak diadili. Tercatat ia tujuh kali kena delik pers, selain delik politik lain.
Sejarah kehidupan memang banyak diwarnai kehadiran pribadi-pribadi yang menggetarkan hati. Mungkin pribadi itu bukan tokoh atau petinggi penting, tapi memiliki karakter mengesankan atau melakukan tindakan yang mengundang rasa hormat. Dan rasanya Sajuthi termasuk pribadi berkarakter seperti itu.
Sayang, perjuangan gigih Sajuthi berakhir dramatis. Sajuthi meninggal di Yogya, tahun 1943, dalam keadaan miskin. Harta yang diperolehnya dari mertuanya habis untuk penerbitan pers dan perjuangannya di bidang pergerakan.
Seperti kata George Washington, Sajuthi Lubis seperti tidak perduli apa yang akan terjadi pada dirinya, dan seberapa banyak yang ia korbankan. Ia hanya ingin memberi segala yang dimilikinya, ya hidupnya, ya hartanya untuk membela kebenaran dan perjuangan bangsanya. Saya ragu, apakah di zaman sekarang ada orang yang memiliki kepribadian pengabdian yang begitu menggetarkan. Adong do? *

Nestor Rico Tambunan

Aida Swenson Simanjuntak


Untuk Dunia Anak Yang Lebih BaikSwenson_-_Aida_01

Figur di balik sukses Paduan Suara Anak Indonesia, yang meraih sukses dalam berbagai kompetisi internasional, adalah seorang Ibu bernama Aida Swenson. Sebenarnya, Aida bukanlah orang baru dalam dunia musik serius. Perjalanan musikalnya sudah cukup panjang. Dia adalah seorang pianis yang handal, konduktor dan direktur paduan suara anak-remaja Indonesia, Cordana Choir. Direktur Eksekutif Nusantara Chamber Orchestra, Penasehat Yamuger (yayasan musik Gereja) dan sederet prestasi lain sudah diraihnya.
Sebenarnya, ada beberapa kelompok paduan suara anak di Indonesia. Namun, PSAI Cordana yang didirikan 1992 ini boleh dikatakan lebih menonjol. Paduan suara yang bermarkas di bilangan Fatmawati, Cipete, Jakarta Selatan, ini telah meraih beberapa prestasi prestisius, seperti tampil di National Convention, Miami, Florida Amerikan Serikat tahun 2007, World Choral Symposium, Copenhagen, dan di Wina, Austria, Juli 2008
Ketika menerima kunjungan wartawan TAPIAN, Aida terlihat letih, karena tidak cukup tidur selama dua hari. Namun, dia tetap bergairah menceritakan tentang ketertarikannya pada pendidikan anak.
Sudah sejak di bangku sekolah dia tertarik pada dunia anak-anak. Katanya, dia suka sekali dengan anak-anak. Aida melihat musik sebagai alat komunikasi yang efektif untuk mendekati anak-anak. Kontak itu kemudian akan menimbulkan kedekatan kedua belah pihak. Itulah yang membuat anak bisa bersama-sama, yaitu melalui nyanyi-menyanyi tadi. Baginya, nyanyi-menyanyi saja tidak cukup. Ada hal-hal lain yang harus dicapai anak didik. Belajar instrumen perkusi seperti jembe, taganing (gendang Batak dilatih Tarsan Simamora) bahasa Inggris, menari dan teater. Hal ini juga yang membedakannya dengan kelompok paduan suara anak lainnya. Dalam konser PSAI Cordana unsur seni pertujukan digarap secara maksimal. Mulai dari kostum, panggung, gerak tari serta unsur dramatik, semuanya sudah diperhitungkan. Dengan kata lain berorientasi pada Opera.
Saat kembali tiba ke tanah air dari studi di Westminster Choir College, Princeton Uneversitry, hal pertama yang dilakukannya adalah mengamati pendidikan musik Indonesia. Dari pengamatannya itulah Aida ia menarik kesimpulan, bahwa musik itu hanya milik orang yang mampu beli piano, beli organ, dan les musik saja. Berarti itu kan, hanya untuk kalangan menengah ke atas, ujarnya.

Les instrumen
Periode tersebut jauh sebelum PSAI berdiri. Pada sisi yang lain, ia juga melihat banyak anak-anak sekolah Minggu, dari berbagai gereja itu, yang musikalitasnya baik dan bisa menyanyi. Tapi, karena berbagai alasan, seperti belum bisa, atau karena kesibukan ibu serta alasan ekonomi, anak tidak mengambil les instrumen. Sehingga anak-anak tidak mampu menyanyi dengan not angka, apa lagi not balok. Padahal suara anak-anak itu pada bagus-bagus, tapi baca not angka kok nggak bisa, katanya.
Atas dasar inilah Aida menyimpulkan bahwa musik itu hanya bagi anak-anak yang mampu secara ekonomis, yang bisa disekolahkan orang tuanya. Oleh karena suara adalah satu-satunya instumen yang paling murah, yang selalu dibawa oleh tubuh ke mana pun seseorang pergi. Dan semua anak memiliki instrumen itu. Walaupun tidak semua anak memiliki instrumen musik, seperti piano, organ, gitar, namun anak-anak memiliki instrumen yang sudah diberikan Tuhan, yaitu suara.
Ketika PSAI dibentuk, dia mendapat dukungan dari Sudarsono menangani bidang pendidikan. Lalu teman-teman antara lain, termasuk Swaray Miranda Goeltom, deputi senior Bank Indonesia sekarang ini. Dan terutama dari ayahnya sendiri, Alfred Simanjuntak.
Paduan suara anak tersebut dibentuk pada tahun 1992 dan segera dikirim ke Filipina, mewakili Indonesia ke Asean Festival di negara tersebut. Paduan suara anak-anak Indonesia ini mendapat sambutan yang luar biasa, tidak kalah dari anak-anak tuan rumah.
Setelah kunjungan ke Filipina, Paduan Suara Anak Indonesia (Cordana) semestinya dibubarkan, karena misinya sudah berhasil dalam memenuhi permintaan pemerintah, dalam hal ini Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Tapi, baik Aida maupun anak-anak ingin mempertahankan hubungan dengan menggunakan Cordana sebagai wadah. Apa yang dilakukan Aida terhadap anak-anak asuhannya bisa dianggap sebuah proses menuju pendidikan alternatif
Tadinya latihan mengambil tempat di STT ( Sekolah Tinggi Theologia) di bilangan Proklamasi. Dalam pertumbuhannya lebih lanjut, paduan suara ini menjadi sekolah di bilangan Fatmawati. Lengkap dengan kurikulum (sylabus). Awalnya hanya bernyanyi ramai-ramai. Kemudian mereka dibimbing untuk mampu menyanyi dalam berbagai bahasa. Bukan hanya Indonesia, Inggris, tapi juga Jerman, Batak, Spanyol, dan bahasa Italia. Juga Latin.
Menurut Aida, karena anak-anak itu bersifat peniru, maka mereka sering diremehkan oleh orang. Jadi cara kita, sikap kita, cara kita menyanyi sangat dipanut anak-anak. Sebenarnya yang sangat dihargai anak-anak adalah kepolosan dan kejujuran kita. Kalau kita polos, kita sayang pada mereka, kita polos dalam bekerja sama, jujur as we are, tidak ada kepura-puraan, kita akan dihargai.
Misalnya begini, kalau tak bisa bisa mengendalikan anak-anak itu, kan orang-orang suaranya sering jadi gede, marah. Ada yang mengira suara mengancam bisa dikontrol, padahal sebenarnya tidak. Kalau tak bisa mengendalikan anak-anak itu, orang jadi cenderung menghardik “Awas ya ! Nanti kalo ini.. Awas ya!” Itu kan nggak jujur. Kalau nggak mampu, nggak punya skill, anak-anak itu segera bisa membacanya. Jadi kalau kita dipercaya, kita jujur, kita polos sebagaimana adanya kita, anak-anak itu mempercayai, sehingga mereka berusaha untuk to be like us, dalam segala sikap. Itu saya kira pesan yang baik kepada semua guru. Dengan anak-anak itu, nggak usah harus ber-pura-pura menutupi kelemahan.

Sang ayah
Aida memulai les musik ketiak dia berada di Amsterdam. Dia masih ingat, ketika itu dia baru berumur empat tahun. Dibimbing oleh guru Belanda. Waktu itu, katanya, dia nggak mengerti kenapa disuruh les piano. Tapi, menurut sang ayah saya, Alfred Simanjuntak, Aida berbakat. Kembali ke Jakarta, saat berusia sembilan tahun, dia mengikuti kursus di Yayasan Pendidikan Musik di bilangan Manggarai, Jakarta Selatan. Dia sering diajak ayahnya ke tempat latihan paduan suara. Orangtuanya sering mendengungkan bahwa salah satu anaknya akan mengambil jalan menuju musik. Padahal, sebenarnya Aida, menurut pengakuannya sendiri ingin dunia yang lain. Dia bercita-cita jadi duta besar, politisi. Kedudukan yang pada waktu itu kedengarannya hebat.
Karena dapat bimbingan terus, sekolah Aida terus di musik. Kalau berbicara dengan ayahnya, maka musik yang menjadi tema pokok pembicaraan. Tapi, sayangnya pada waktu itu, orangtuanya kurang menjelaskan mengapa musik. Aida ikut saja. Tetapi, anak sekarang tak mau memperoleh perlakuan seperti itu.
Akhirnya, dia memperoleh bea-siswa dari Dewan Gereja se-Dunia di Jenewa, dan diteruskan ke Amerika tahun 1979. Dia belajar choral conducting pada Dr Josph Flummerfelt, Robert Shaw, dan Dr Frauke Hausmann.
Sebagai salah satu anggota Westminster Symphonic Choir, Aida pernah tampil di bawah konduktor dunia seperti Leopold Stokowski, Lorin Maazel. Yang paling mengesankan adalah ketika dia tampil di bawah conductor Zubin Mehta, Pierre Boulez. “Tapi saya ingat lho, saya benci kalo disuruh latihan main piano sekian jam-an. Saya rasa banyak semasa anak-anak kita dulu, yang nggak lihat pianis itu sebagai profesi. Kalau anak-anak sekarang kan sudah termotivasi,” katanya menguraikan.
Aida sampai pada kesimpulan bahwa, “Anak-anak semuda atau se-umur apapun, kalau mereka dengar aja yang dikatakan orang tua, banyak yang akan mereka dapatkan. Itu pengalaman saya loh…” katanya.
Kemudian sambungnya, ”Mungkin anak-anak sekarang sudah punya visi sendiri. Lebih banyak pikir, mereka bilang papa mama tau apa sih? Kalau saya ingat-ingat, andai kata waktu itu saya nggak ikutin, saya mungkin menjadi seorang yang tidak berbahagia seperti sekarang. Orang tua itu kan, mungkin melihat-lihat anaknya musti gimana, lalu kita dengarin. Tapi, mungkin pesan yang terutama di situ, orang tua itu masih pantes didengar.”

Sebuah proses
Aida menjadi juri di World Choir Games di Grass, Austria, tanggal 9-19 Juli 2008 yang lalu, yang kemudian dilanjutkan ke World Simposium on Choral Music. Paduan Suara Anak Indonesia juga diundang untuk menampilkan enam buah konser di sana. Untuk itu dibutuhkan ruang dan tempat berlatih. Tempat berlatih cuma satu. Tapi, secara tidak resmi ada juga di Papua, ada di Kalimantan. Itu bukan cabang, tapi kegiatan saya memang ada di Kupang, di Kalimantan, Menado, Papua Jayapura dan Medan. Jadi, ada orang yang menjadi kunci untuk melatih di sana. Itu penting, karena mengandalkan kemampuan daerah, yang ternyata nggak kalah bagusnya. ”Apa lagi kemarin saya jadi juri di ITB, luar biasa,” katanya mengenang. Bahkan Jakarta sebenarnya mesti malu. Kita, katanya, terlalu anggap enteng daerah. Ini adalah sebuah proses, yang kita mulai dari tahun 1997, hampir sepuluh tahun, proses membawa anak-anak itu untuk bukan hanya mampu, tapi bisa menghargai, lalu mencintai. ”Saya kira kita sudah berhasil.”
Paduan suara tersebut sudah berhasil dalam membawakan folklor. Contohnya dalam menyanyikan lagu Makasar. Lagunya menggunakan ayat-ayat suci dari Al Quran. Terus Aceh yang kata-katanya juga asing dan melodinya asing di kuping anak-anak. Kalau dibilang Batak, semua juga kenal Batak. Bahwa mereka juga membawakan lagu-lagu kuno, bukan kuno, tapi asli dari Papua, itu proses lho.
Setelah kita ajak mereka menghayati, lalu digerakkan dengan tarian, dengan instrumen, apalagi setelah mereka mampu, maka tingkat artistik yang dicapai tinggi dan baik, sampai mengundang penonton untuk standing ovation. ”Rasa bangga ada pada diri mereka, dan rasa bangga bahwa musik kita itu dihormati, disenangi, dan betul-betul diminati oleh orang asing mucul. Dan mereka bilang, kalau orang asing berminat, kenapa kita tidak, begitu kata anak-anak.
Bukan hanya meminati, Katanya, tapi menggali. Karena itu, proyek saya yang berikutnya adalah lagu-lagu Toraja, lagu-lagu yang belum disentuh. Kemarin, di Copenhagen kita membawakan satu tune melodi yang sangat simpel dari Papua. Penonton sampai histeris, bukan cuma tepuk tangan. Tapi, memang dengan tambahan instrumen, jembe, tifa (instrumen drum papua), dan dengan gerakan-gerakan asli Papua.
Melodinya hanya seperti itu, tapi mereka diundang ke 14 negara. Dari Stokcholmn, Eropa, sampai Yunani, sampai China Taiwan dan Korea di Asia, sampai ke Kanada, dan balik ke Washington. Nah ini membuat anak-anak itu akhirnya mulai faham. Mereka sekarang mampu memainkan gamelan. Apa lagi gondang (maksudnya Taganing instrumen drum Batak), tifa, jembe, alat instrumen lainnya, termasuk alat tiup. Mereka mampu menarikan tarian dari Aceh, Makasar, sampai Papua, Kupang, dan Batak. Semua bisa menarikan tari Betawi. Jaipongan juga bisa. Rasa bangga itu yang saya kira merupakan hadiah yang luar biasa. Mereka bangga menjadi anak-anak Indonesia. ”Tapi memupuk itu nggak gampang lho. Nggak gampang,” katanya berulang.

Share dengan anak-anak
Ketika ditanya bagaimana mengembangkan PASI Cordana, jawabnya: “Saya kira pertama begini. Seseorang itu, apakah itu pemimpin paduan suara, atau pengajar musik anak, dia mesti dua ratus persen yakin mengenai apa yang akan dihantarkan. Kalau kita bimbang, anak-anak segera membacanya dan kembali lagi tidak sungguh-sungguh. Jadi, kita harus yakin. Ini yang mau saya share dengan anak-anak dalam hal pembelajaran. Kedua, dia harus mampu berada di atas. Misalnya, saya mau mengajar lagu ini, bukan hanya sekedar yok kita coba-coba, tapi saya tahu bahwa ini bisa dilakukan anak-anak, dan ini akan menjadi sesuatu yang sukses. Ketiga, pada hasil akhir, kalau kita sudah merencanakan hasil akhir itu, yang perlu disadari anak-anak adalah kerja keras, percaya kepada guru, dengan intensif dan konsisten, bahwa hasil akhirnya akan excellent.”
Kalau mereka tampil kurang excellent, maka yang salah adalah gurunya. Kalau kita mengatakan lagu ini nih. Bukan hanya sekedar kenal, nyanyi bagus, tapi wow!. Kata wow itu merupakan pegangan kita. Jadi kalau seorang solois, biarpun dia enam tahun kita kasih lagu, dia bukan hanya asal bunyi dan bisa menghafal lagu itu. Tapi, mampu membawakannya dengan baik dan penonton memberikan komentar “Yeah, I love it.”
Setiap konser, Cordana selalu mendapat hasil akhir yang baik dan itu karena anak-anak. Bukan karena saya, kata Aida. Karena mereka yang belajar, mereka yang latihan, mereka yang tampil, mereka yang mengundang rasa kagum dari orang tua atau penonton. Ya, setiap pendidik anak-anak harus memiliki sikap itu. Kalau nggak, jadinya tanggung. Akhirnya anak-anak itu bertanya-tanya, ngapain sih sekolah? Ngapain sih latihan? Ngapain sih kita konser?, kata Aida Swenson menerangkan dengan seksama.
Tentang tur ke 14 negara pada tahun 2009 nanti, buru-buru Aida menetralkannya. Katanya, itu hanyalah undangan yang ditujukan pada Cordana. Dalam kenyataanya, Aida dan PSAI tidak tahu ke mana dan bagaimana cara mencari dana untuk memenuhi undangan itu. Namun, dia punya obsesi untuk membangun daerah-daerah yang potensial, seperti Papua, Sulawesi, Kalimantan, juga Tanah Batak.

Solidaritas
Di bawah naungan PSAI saat ini, ada lima grup paduan suara menurut klasifikasi umur. Namun, yang menjadi duta untuk event atau festival maupun kompetisi itu biasanya diambilkan dari kelas concert choir (yang sudah melalui beberapa tahap pendidikan). Dalam mempersiapkan konser, Aida dibantu oleh tiga orang guru bantu, semacam asisten, yang sudah menguasai materi lagu, melalui bimbingan Aida sendiri.
Di sisi lain, orang tua anak juga dilibatkan jadi panitia. Sementara masalah dana untuk tiket pesawat dan akomodasi, tetap menjadi masalah yang tidak mudah untuk dipecahkan. Dalam kondisi seperti itu, Aida Swenson boru Simanjuntak inilah yang bekerja keras untuk mengusahakan penggalangan dana, dengan figur, serta kharisma keibuannya yang khas. Yaitu perpaduan antara kelembutan dan keinginannya yang besar, untuk memajukan anak-anak Indonesia. Agar bisa tampil setara dengan anak-anak dari belahan dunia lainnya.
Menilik agenda kerja dua tahunan PSAI, yang menaruh target untuk selalu tampil di forum internasional, tidak lantas membuat mereka mabuk. Ketika Tsunami melanda Aceh dan Nias bulan Desember tahun 2004 mereka diundang tampil. Kemudian, Maret 2006, PSAI diundang untuk konser di berbagai kota Amerika Serikat, tapi mereka batalkan. Dengan alasan sebagai bentuk solidaritas terhadap korban di dua daerah tersebut . Karena bencana tersebut telah mengakibatkan banyak anak-anak yang jatuh jadi korban, sementara 40 orang anak Cordana bersuka ria tampil di pentas dunia. Hati Aida Swenson dan anak-anaknya tidak tega. Mereka tak ragu-ragu membatalkan undangan itu. Begitulah cara Aida Swenson boru Simanjuntak mengajarkan solidaritas pada anak-anak Cordana yang dibinanya. Ibu dari Sahala, Mathew, dan Karina ini, punya rencana ke depan. Yaitu membangun daerah-daerah yang potensial, agar tumbuh paduan suara anak yang mandiri. Aida juga mengungkapkan rasa kurang setujunya terhadap pelebelan anak-anak miskin kurang mampu. Baginya, anak-anak tetaplah sebagai anak-anak saja. Sebab anak tidak membedakan miskin, kaya, suku/ras atau cacat sekalipun. Tak mengherankan kalau PSAI Cordana pernah konser bersama anak-anak jalanan, juga tuna netra. Untuk itu sebuah karya amang-nya, Alfred Simanjuntak, “Unite oh Children of the World” ditampilkan pada “The 5th World Choir” di Grass, Austria, meneguhkan harapannya pada dunia yang lebih baik. Dengan jalan membangun potensi anak-anak dan pendidikan anak. Tanpa perbedaan.

Kristison Simbolon


Kristison Simbolon tak hanya bisa meraih gelar dokter gigi pada April 2008, tetapi ia juga dapat membiayai kuliah dua adik dan lima Kristisonkaryawannya. Tahun ini dia membiayai kuliah tiga karyawan lainnya. Semua itu dari hasil usahanya berjualan pulsa, dengan keuntungan yang mencapai Rp 30 juta per bulan.

Kris, panggilannya, memiliki tujuh kios telepon seluler dan 14 karyawan. Ia juga menitipkan beberapa barang dagangan kepada belasan kios milik teman-teman dengan sistem konsinyasi.

”Saya tak pernah membayangkan bisa hidup cukup seperti sekarang,” kata lulusan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran, Bandung, ini.

Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Bandung tahun 1998, ia paham betul tak bisa hidup berkecukupan. Orangtuanya adalah petani yang hanya mampu memberi dia bekal Rp 1 juta untuk biaya pendaftaran dan administrasi kuliah. Ia hanya mengantongi sisa uang sebesar Rp 200.000, dan tak ada lagi dana kiriman dari kampung.

Untuk bertahan hidup sehari-hari, Kris berjualan mi instan untuk teman-teman di asrama yang lembur mengerjakan tugas kuliah. ”Mereka malas mencari makan ke luar asrama,” katanya.

Selain itu, ia juga menjual bolpoin untuk teman-teman sekampus. Kris juga bekerja sebagai penjaga tempat penyewaan VCD di bilangan Jatinangor, Sumedang, tak jauh dari lokasi kampusnya. Upahnya waktu itu Rp 2.500 per hari.

Setelah sekitar setahun bekerja sebagai penjaga penyewaan VCD, Kris memahami seluk-beluk pemasaran sekaligus jaringan distribusi VCD. Tahun 2000 ia mendirikan tempat penyewaan VCD sendiri karena animo mahasiswa menyewa VCD relatif tinggi. Ketika itu ia hanya punya modal Rp 800.000, sedangkan untuk sewa tempat setahun saja diperlukan Rp 4 juta.

Tak kehabisan akal, ia berusaha meyakinkan si pemilik tempat agar diperbolehkan membayar sewa dengan mencicil. Dikurangi uang muka sewa tempat dan peralatan lain, Kris hanya mampu menyediakan 30 keping VCD untuk disewakan. Namun, dalam tempo tiga bulan, ia bisa menyediakan ratusan keping VCD.

Bisnis pulsa
Ketika penggunaan telepon seluler merambah kampus, Kris melihat peluang bisnis baru. Jadi sejak 2003 dia menyisihkan keuntungan penyewaan VCD sebesar Rp 300.000 per bulan untuk modal berjualan pulsa.

Hari demi hari, nama Kris mulai tenar di kampus sebagai penjual pulsa. Bahkan sebagian dosennya pun menitipkan uang (deposit) pulsa mulai dari Rp 100.000 hingga Rp 200.000.
”Dosen-dosen yang juga dokter itu kan sibuk. Mereka mungkin berpikir, daripada harus parkir mobil dulu hanya untuk membeli pulsa, lebih baik beli pulsa lewat saya saja. Caranya gampang, tinggal SMS atau telepon,” katanya.

Tidak hanya di kampus, Kris juga menerapkan teknik berjualan pulsa yang sama di beberapa rumah sakit sewaktu dia mendapat tugas praktik. Model pembelian pulsa seperti ini ternyata sangat menguntungkan. Uang deposit yang dititipkan kepadanya mencapai Rp 1,5 juta per bulan. Dana ini lalu dia manfaatkan sebagai modal mengembangkan usaha pulsa.

Saat menjalani tugas co-asisten dokter gigi pada akhir 2003, dia pindah indekos di daerah pusat Kota Bandung. Pada masa itu ia mengembangkan usaha dengan mendirikan kios pulsa di kawasan Geger Kalong Tengah.
Dari tempat itu, usahanya makin berkembang, hingga dia bisa memiliki 10 kios pulsa dan mempekerjakan 14 karyawan. Di samping itu, dia juga menitipkan sebagian barang dagangannya ke belasan kios milik orang lain.

Membantu mahasiswa
Pundi-pundi Kris kian menggemuk, tetapi ia tak lupa pada masa sulit pada awal kuliah. Ia bertekad ”berbagi” dengan mahasiswa dan orang lain yang kesulitan keuangan. Dia lalu meminjamkan tiga sepeda motor kepada mahasiswa yang ingin bekerja dengannya.

Para mahasiswa ini membawa voucher pulsa dan nomor perdana telepon seluler untuk dijajakan di tempat-tempat ramai, seperti Pasar Kaget Gasibu dan Alun-alun Kota Bandung. Kawasan jelajah mereka pun makin luas hingga ke Lembang. Dalam sehari setiap mahasiswa tersebut bisa memperoleh keuntungan lebih dari Rp 10.000.

Dengan caranya sendiri, Kris juga membantu organisasi nirlaba yang membutuhkan dana. Ia menyuplai puluhan, bahkan ratusan, nomor perdana atau voucher pulsa untuk dijual para anggota organisasi tersebut. Keuntungan dari usaha ini sepenuhnya menjadi hak si penjual.

Sukses sebagai pengusaha dan meraih cita-cita sebagai dokter gigi, berbagai penghargaan lalu menghampirinya. Pada 2006, misalnya, Kris mendapat hadiah dari operator telepon seluler XL berupa tamasya gratis ke China dan Hongkong. Tahun 2008 dia memperoleh penghargaan sebagai Penjual Nomor Perdana Telkomsel Terbaik dan juara Red Outlet Competition (ROC) Telkomsel Bandung, Cianjur, dan Sumedang, Jawa Barat.

”Saya sebenarnya bukan orang yang mempunyai bakat berdagang atau berbisnis. Keadaanlah yang memaksa saya untuk bertahan dan berusaha terus agar kita bisa hidup, syukur-syukur dapat membantu orang lain,” katanya.

Maka, Kris tak pelit berbagi pengalaman usaha, kepada para karyawannya sekalipun. Ia justru merasa perlu meyakinkan mereka untuk terus mengoptimalkan potensi diri, termasuk di bidang pendidikan formal. Itulah mengapa dia tak ragu membiayai lima karyawan yang bertekad menyelesaikan kuliah, dan tiga orang lainnya tahun ini menyusul masuk perguruan tinggi.

Soren (21), salah seorang karyawannya, merasa beruntung bisa bekerja dengan Kris. Dia dapat bekerja sambil tetap kuliah. Kini ia masuk semester empat pada Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan Universitas Pendidikan Indonesia. Padahal, sebelumnya dia sempat bingung setelah gagal kuliah melalui jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB).

”Waktu itu saya pikir tak mungkin bisa kuliah karena tak punya cukup dana untuk membiayai kuliah di perguruan tinggi yang semakin mahal,” ujar Soren.
Kris selalu menanamkan keyakinan kepada semua karyawan bahwa tak ada yang mustahil bisa diraih. ”Saya sendiri bisa menjadi dokter gigi karena gigih berusaha dan tak malu berjualan pulsa,” katanya memberi contoh.

Satu lagi obsesi Kris yang diharapkan bisa terwujud tahun 2009 ini. Dia ingin membangun klinik kesehatan di Kecamatan Parongpong, sebuah daerah pelosok di kawasan Kabupaten Bandung Barat.

Mengapa? ”Karena warga Parongpong yang sakit baru bisa menikmati pelayanan kesehatan yang layak di Kecamatan Lembang atau di Kota Cimahi, yang jaraknya sampai 15 kilometer hingga 20 kilometer dari Parongpong.”

”Saya berharap mereka bisa memperoleh pelayanan kesehatan yang murah, mudah, dan dekat. Apalagi beberapa teman yang juga dokter sudah siap membantu,” kata Kris. (Mohammad Hilmi Faiq)

Sumber:http://www.kompas.com/read/xml/2009/03/18/0708199/kristison.menjadi.dokter.gigi.karena.pulsa

Gus Aswan Siregar


Aswan dan Ayam Kampung Purwakartaaswan-204x300
Jumat, 12 Juni 2009 | 04:05 WIB
Mukhamad Kurniawan
Kasus kematian unggas akibat virus flu burung di Indonesia terus berulang sejak akhir 2003. Kejadian itu mengakibatkan trauma bagi sebagian peternak dan warga. Bahkan, ada yang takut memelihara unggas lagi. Kenyataan ini membuat Aswan Siregar tak nyaman.
Padahal, sebelum kasus-kasus kematian unggas terjadi, Aswan dan warga di Perum Bumi Hegar Asih, Kelurahan Ciseureuh, Kecamatan Purwakarta, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, memelihara ayam kampung. Siang hari ayam kampung dilepasliarkan untuk mencari makan dan pada malam hari dimasukkan ke kandang.
”Mau tidak mau saya harus mempelajari penyakit-penyakit unggas, bagaimana menjaga kesehatan, dan teknik budidaya ayam karena kasus kematian terus terjadi,” ujar Aswan.

Tahun 2003, sedikitnya 100 ayam milik warga di sekitar rumah Aswan mati mendadak. Dari gejala yang tampak, kematian ayam-ayam itu diduga karena virus tetelo. Namun, sebagian warga mengaitkannya dengan virus Avian influenza atau flu burung.

Berbekal hobi dan keinginan kuat memelihara ayam kampung, Aswan memulai usaha budidaya ayam secara intensif. Ia membeli ayam-ayam milik tetangga yang masih tersisa dengan harga murah, sekitar Rp 2.500 per ekor. Ia kemudian mengandangkannya di kawasan hutan milik Perum Perhutani, sekitar 200 meter di belakang kompleks permukiman warga.

Tak mudah melakukan sesuatu yang ditakuti orang-orang sekitar, termasuk memelihara ayam saat kasus kematian unggas akibat flu burung merebak dan orang khawatir bisa menular kepada manusia. Aswan menyiasati hal ini dengan mengandangkan ayam kampung dan menjauhkannya dari permukiman warga.

Pengandangan
Pada tahap awal, Aswan membeli puluhan ekor ayam milik tetangganya. Berbeda dengan metode pemeliharaan sebelumnya, dia tak melepaskan ayam-ayam itu pada siang hari. Ayam diberi pakan dan diperiksa kesehatannya secara rutin untuk menghindari risiko terserang penyakit atau mati mendadak.

Aswan membaca buku dan bertanya kepada ahli untuk sekadar memenuhi keingintahuan atau mencari solusi masalah yang dia hadapi. Dia juga melaporkan usaha ternaknya kepada Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Purwakarta serta berkonsultasi dengan penyuluh peternakan.

Ia memagari kandang ayamnya, membatasi pengunjung, dan menerapkan biosekuriti layaknya peternakan besar. Secara rutin ia menyemprotkan desinfektan dan memvaksin ayam-ayamnya agar tetap sehat.

Cara itu rupanya berhasil menekan risiko serangan penyakit dan jumlah kematian ayam. Populasi ayam kampung milik Aswan terus bertambah dari waktu ke waktu. Sejumlah tetangga penggemar ayam yang sebelumnya takut memelihara ayam karena merebaknya kasus flu burung tertarik dengan cara Aswan. Mereka lalu bergabung dan membentuk kelompok peternak.

Pada 2004, ada 10 tetangga yang bergabung dalam kelompok peternak ayam yang diberi nama Rahayu. ”Kami sepakat tidak memelihara ayam di sekitar rumah dan tak melepaskannya mencari pakan,” ujar Aswan yang sejak saat itu dipercaya sebagai ketua kelompok.

Dalam rangka meningkatkan pengetahuan, Aswan rutin mengumpulkan anggota kelompok untuk berbagi pengalaman. Mereka memperkaya pengetahuan dengan membaca buku dan mengikuti pelatihan atau seminar yang digelar instansi terkait.

Mandiri
Salah satu faktor yang membuat usaha Aswan tetap menguntungkan di tengah risiko serangan penyakit, kenaikan harga pakan, dan bibit ayam adalah kemandirian. Kelompok peternak Rahayu berusaha melepaskan ketergantungan dengan memproduksi sendiri pakan dan bibit ayam serta menciptakan jaringan pemasaran.

Setiap anggota dilatih mencari bahan baku dan memproduksi pakan sendiri. Mereka memanfaatkan sisa nasi rumah tangga dan perusahaan katering, sekam padi, serta bahan lain dari lingkungan sekitar. Selain lebih murah, cara ini menghindarkan peternak dari ketergantungan pakan pabrikan yang sering naik harganya.

Untuk memenuhi kebutuhan kelompok, setiap anggota memupuk kompetensi sesuai minat masing-masing. Ada anggota yang khusus membudidayakan induk unggul untuk menghasilkan telur. Sebagian anggota memproduksi ayam umur sehari dengan menetaskan telur dari induk unggul. Ada juga yang khusus membesarkan ayam hingga siap jual dengan ukuran 7-9 ons per ekor.

Berbeda dengan peternak atau pedagang ayam kampung umumnya, Aswan dan kelompoknya memproduksi ayam dalam jumlah tertentu secara kontinu. Kelebihan itu yang menarik sejumlah pemilik restoran dan rumah makan untuk berlangganan kepada kelompok Rahayu.
Sejak pertama kali berdiri, kelompok peternak Rahayu belum menaikkan harga jual produknya, Rp 18.000 per ekor. Mereka bahkan tetap menjual dengan harga itu saat harga ayam kampung di pasaran mencapai Rp 24.000 per ekor ukuran 10 ons.

”Kepastian harga diperlukan konsumen karena mereka jadi mudah mengatur arus keuangan usaha. Sejauh ini, dengan harga Rp 18.000 per ekor, kami tetap untung,” katanya.

Selain jaminan harga, konsumen puas karena ayam produksi kelompok Rahayu yang tak menggunakan pakan pabrikan sehingga ”rasa kampungnya” tetap ada. Dengan keunggulan itu, mereka tetap bisa menjual Rp 18.000 ketika harga ayam kampung di pasaran anjlok hingga Rp 12.000 per ekor.

Usaha yang dirintis Aswan dengan populasi awal 24 ekor telah berkembang menjadi 15.000 ekor. Anggota kelompok juga terus bertambah. Produksi ayam kelompok ini 1.500-2.000 ekor per bulan.
Kerja sama
Kelompok Rahayu telah menandatangani kerja sama pengelolaan hutan dengan Perum Perhutani Kesatuan Pemangku Hutan Purwakarta. Kelompok ini diizinkan menggunakan sekitar 5 hektar kawasan hutan jati di Kelurahan Ciseureuh, Kecamatan Purwakarta, untuk membangun kandang ayam. Syaratnya, peternak tak merusak atau menebang pohon.

Usaha Aswan mengandangkan dan membudidaya ayam kampung secara intensif tak sia-sia. Selain bisa menambah pendapatan keluarga, Aswan dan kelompok Rahayu beberapa kali memperoleh penghargaan bidang ketahanan pangan. Pada awal 2008 kelompok ini meraih juara II lomba agrobisnis komoditas unggas tingkat Jawa Barat.

Pada tahun yang sama, Direktorat Jenderal Peternakan menobatkan Rahayu sebagai kelompok ternak ayam buras berprestasi tingkat nasional. Lagi, 18 Desember 2008, Aswan menerima penghargaan dari Menteri Pertanian atas prakarsa dalam pengembangan agrobisnis pangan. Usahanya mengelola peternakan dari hulu hingga hilir dengan memanfaatkan potensi lokal dinilai layak dikembangkan.

Hadiah dan penghargaan telah diraih, tetapi Aswan dan kelompok Rahayu tak ingin usaha itu jalan di tempat. Tahun ini mereka menargetkan peningkatan menjadi 30.000 ekor.

Aswan bercita-cita menciptakan Rahayu-Rahayu lain di desa-desa lain di Purwakarta. Keinginan itu tak lepas dari banyaknya potensi pakan dari alam yang belum termanfaatkan dan belum terpenuhinya permintaan ayam kampung.

”Sampai sekarang kami kesulitan memenuhi permintaan karena produksi masih terbatas,” ujar Aswan.

Sumber: http://koran.kompas.com/read

Effendi Simbolon


Effendi Simbolon kelahiran 1 Desember 1964 adalah anggota DPR-RI Efendi Simbolondari Fraksi PDIP. Selain bidang politik, Effendi Simbolon, juga merupakan Ketua Alumni SMA Negeri 3 Teladan 82, Jakarta. Dengan anggota sekitar 600 orang yang terdiri dari berbagai kalangan. Salah satu alumninya adalah Menko Kesra Aburizal Bakri.

Effendi juga Ketua Umum Pengurus Pusat Punguan Simbolon Dohot Boruna se-Indonesia, dan salah satu penggagas “pungguan” tersebut. Marga Simbolon saat ini sudah mencapai 23 generasi dengan 68.000 kepala keluarga yang tersebar di seluruh dunia. Pesta Bolon memang tak ubahnya sebuah reuni akbar Marga Simbolon.

Kontak
E-mail: effendi_simbolon@yahoo.com
Situs: http://effendisimbolon.blogspot.com

Ronald Manulang


Bertanya Tanda kepada Ronald Manulangvenus-man[1].2006.-ooc.-100x12

Kalau saudara mencari, tak ada salahnya saudara mempelajari seni lukis Barat dari Renaisans-nya Leonardo da Vinci sampai Realisme-nya Delacroix ke seni lukis baru-nya Picasso. Tidak di arti teknik mereka saja, tetapi di arti filsafat seni itu, yang menjadi sebab-sebab aliran-aliran seni lukis itu juga harus kita pelajari. Dari sini dengan sendirinya kita akan mempelajari seni lukis yang orang Eropa katakan mula-mula adalah seni lukis primitif (Afrika, Amerika, India, Tiongkok, Jepang, dan Indonesia). Dan pada waktu saudara mempelajari seni lukis Barat yang primitif tadi, maka saudara akan terharu jatuh cinta pada jiwa dan corak kesenian kuno kita: Bali, Batak, Minangkabau, Dayak, Papua, Jawa, dan lain-lainnya.
(S. Sudjojono, Keboedajaan dan Masjarakat, No.5/II/September 1940)

Banyak hal yang bisa dibongkar dari sebuah lukisan. Apalagi lukisan tersebut memilki muatan sosial politik yang sangat kental. Namun, kita sering terbentur saat mulai membaca karya seni itu lebih dalam. Karena seniman sering “berandai-andai” dalam menempatkan tanda dan simbol dalam lukisannya. Persolan inilah yang saya alami saat melihat lukisan Ronald Manullang—pelukis yang cukup senior dengan pengalaman berpameran pada pameran-pameran penting di Indonesia.

Dari beberapa lukisan yang sempat saya lihat melalui katalog/image digital, saya berhenti pada sebuah lukisan Perjalanan Ratusan Tahun (2006). Lukisan ini menarik perhatian karena menampilkan dua figur yang berbeda keadaannya. Seeorang perempuan bule memegang terompet dan dan buku tebal duduk diatas kereta roda tiga, sedangkan yang satunya seorang pria pribumi dalam posisi yang dramatis (terjatuh) memegang gendang, telanjang dada dan berambut gondrong.

Dalam katalog Ronald Manulang menyatakan tentang lukisan ini: “jika bicara nasionalisme, yang pertama terbayang adalah negeri Tulip (Belanda) yang telah menjajah, meninggalkan bekas luka penindasan dan penderitaan yang dirasakan rakyat ketika harus ikut menjalankan roda kolonial yang dikendalikan penguasanya, yang digambarkan sebagai yang sedang memimpin orkes perbudakan, dengan meminjam karya Vermeer pelukis Belanda yang terkenal.”

Melalui lukisan ini saya mencoba mencari tanda-tanda penindasan yang dimaksud oleh Ronald. Namun, sulit untuk ditemukan. Mungkin yang dimaksud pria pribumi yang terjatuh itu. Tapi ketika saya coba melihat tanda-tanda “kepribumian” dan ketertindasan (perbudakan) yang dimaksud pelukis, saya hanya memukan kulit yang mulus dan tubuh kekar, sehat, berambut gondrong seperti seorang rock star dan memegang gendang dengan “mantap” sambil melakukan okrobat di depan perempuan bule. Jujur saja, saya tidak menemukan “tanda” penindasan yang dimaksud dari pernyataan Manullang.

Kemudian saya coba untuk melihat tanda lain yaitu figur perempuan bule yang diambil dari lukisan Vermeer (Jan Vermeer 1632 – 1675) pelukis Baroque Belanda. Dari penelusuran, saya menemukan lukisan yang dimaksud yaitu The Allegory of Painting atau sering disebut The Art of Painting (1666/67). Pada lukisan aslinya digambarkan seorang pelukis sedang melukis di studio dengan model perempuan memegan terompet dan buku. Lukisan ini adalah salah satu masterpiece seniman dari Delf ini. Karya ini menunjukan ambiguitas visual dalam lukisan—yaitu realitas dan diluar realitasnya. Lukisan ini banyak memberikan inspirasi bagai generasi sesudahnya dalam membongkar apa itu melukis dan lukisan. Realitas lukisan dan pelakunya ditempatkan dalam satu frame—disinilah letak pentingnya lukisan koleksi Kunsthistorisches Museum Vienna ini.

Lalu bagaimana kita bisa mengkaitkan lukisan ini dengan karya Manullang Perjalanan Ratusan Tahun yang “meminjam” figur perempuan dari lukisan Vermeer ini. Pertanyaan saya apakah bisa figur perempuan ini sebagai tanda kolonialisme yang dimaksud? Atau apakah terompet yang dipegang perempuan itu sebagai orkestrasi kolonialisme dan dan roda tiga sebagai roda kolonialisme? Waduh, saya menjadi sedikit kebingungan. Karena, pengetahuan senirupa saya seperti diuji untuk melihat karya ini. Vermeer sebagai seorang tokoh Baroque yang penting, baru ditemukan setelah dua ratus tahun setelah meninggalnya. Dan itu pun mayoritas lukisannya dibuat di Belgia yang kebetulan di sanalah ia lebih banyak tinggal bersama istri dan anak-anaknya. Seniman ini tidak pernah menikmati hasil karyanya karena jatuh miskin didera utang. Dari catatan sejarah seni rupa Barat, saya tidak menemukan tendensi superioritas dalam karya-karya Vermeer. Kritikus dan sejarahwan seni lebih banyak membongkar estetika dan penemuan teknik trasparansi pada karya-karya spesialis lukisan di interior ini.

Jadi, lukisan Perjalanan Ratusan Tahun ini begitu “abstrak” bagi saya. Karena hubungan kolonialisme dan penindasan yang dimaksud Manullang begitu jauh dan terlalu gampang dikarenakan hanya kebetulan Vermeer dari Belanda. Bagi saya tanda dan simbol yang digunakan dalam dunia seni tidak bisa diambil dari kulitnya saja. Karena tanda itu memuat sejarahnya sendiri. Pada kasus Perjalan Ratusan Tahun, saya kira tidak ada hubungannya antara Vermeer dengan kolonialisme terutama pada lukisan The Allegory of Painting. Lukisan ini lebih bicara tentang dunia ambiguitas seni lukis sedangakan yang diinginkan Manulang adalah orkestrasi kolonialisme dan penindasan.

Ada beberapa lukisan yang juga menarik perhatian saya selain Perjalanan Ratusan Tahun diantaranya adalah Have a Nice Flight (2005), Tidak Ada Purnama di Aceh (2004), PiGasso Over the Moon (2006) dan tentu beberapa lukisan dengan model perempuan telanjang yang dibuat dengan begitu cantik dan indah. Pada karya PiGasso Over The Moon, Manullang menulis “ketika masih menjadi mahasiswa pertama di akademi seni, aku pernah memimpikan betapa enaknya menjadi seorang Picasso. Seorang penemu dan punya begitu banya pengikut. Disamping ketenaran juga memiliki kekayaan berlimpah, dikelilingi wanita-wanita cantik yang dengan mudah dapat diminta jadi model bahkan menjadi teman tidurnya. Hal itu semualah yang membuat seorang ingin menjadi seperti Picasso. Bekerja habis-habisan dan tidak menghasilkan apa-apa, atau tidak melakukan apapun tapi bertingkah seperti penemu, bicra seperti maestro. Picasso syndrome. Apa mungkin bisa, aku yang terlahir diantara orang-orang terbelakang, bodoh, malas dan hanya suka makan seperti babi gemuk tapi mimpi menjadi maestro dunia.”

Pernyataan Manullang ada benarnya bahwa mimpi seniman kita selalu menjadi maestro besar dunia sedangkan secara kerja untuk membongkar sejarah dan logika estetika seni malas, sehingga sering lebih banyak menggampangkan sesuatu. Pada karya PiGasso Over The Moon, Manulang menggambarkan seorang pelukis bertubuh sapi dengan imagi lukisan terkenal Guernica di tubuhnya. Pada posisi lain ada gadis telanjang berpose dan menginjak Guernica sambil memegang salah satu bagian dari lukisan tersebut. Saya mencoba menghubungkan antara pose tubuh perempuan telanjang ini dengan Guernica dan sang pelukis. Lukisan fenomenal Piccaso yang sempat membuat ketegangan hubungan antara Spanyol dan Amerika Serikat—karena status kepemilikannya itu bukanlah lukisan biasa. Bagi masyarakat Spanyol ini adalah rekam sejarah tentang peristiwa pemberontankan dan penindasan di Guernica dan bukan hanya sebagai peristiwa estetik. Dalam lukisan Manullang, Guernica hanya menjadi peristiwa estetik. Apalagi tubuh telanjang di depan pelukis itu menjadi pembenaran yang sangat jelas tentang bagaimana seniman begitu lepas dari tanda-tanda sejarah yang melekat pada Guernica. Manullang sepertinya tidak menyadari Picasso bukan hanya bergelimang gadis telanjang dan hedonisme. Namun, ada pilihan politik dan ideologi yang menjadikannya menjadi seorang seniman besar. Dia tidak hanya berhenti pada penemuan estitika dan indahnya bersama perempuan-perempuan telanjang.

Demikianlah pertanyaan-pertanyaan yang saya temukan saat melihat karya Ronald Manullang—seorang seniman yang sebenarnya banyak terlibat dalam berbagai peristiwa besar sejarah seni rupa Indonesia terutama pada periode 1970an hingga 1980an. Sayang memang sisa-sisa progresivitas yang pernah ada pada Gerakan Seni Rupa Baru yang sempat ia ikuti pada awal karir kesenimannya, tidak bersisa pada lukisan-lukisan periode sekarang ini. Kepiawaian dalam melukis realis dan pengalam panjang sebagai ilustrator sepertinya tidak dapat mentransfer ide sosial politik yang dicoba dimainkan Manullang pada karya-karyanya. Manulang masih terjebak dalam pencarian estetik dan dramatisi visual yang sangat jelas tergambar dalam lukisannya. Hampir semua lukisannya mencoba untuk mendramatisi dalam bingkai lukisan seperti sebuah pertunjukan teater.

Tentang Ronald Manullang
Ronald Manullang, lahir di Tarutung 1954. Menempuh pendidikan di STSRI, ASRI Yogyakarta pada 1974-1981. Aktif berpameran sejak 1976 diantaranya pameran besar Seni Lukis Indonesia II 1976 di TIM Pameran Seni Lukis Indone sia , Purna Budaya Yogyakarta, Pameran Gerakan Seni Rupa Baru di TIM 1977 dan Pameran Seni Rupa Kepribadian Apa “PIPA” I di Gedung Seni Sono Yogyakarta 1977. Selain melukis, sejak 1982 bekerja sebagai illustrator. Mulai aktif kembali berpameran setelah era reformasi 2003 yaitu pameran Indofood Awards Galeri Nasional Indonesia, Jakarta. Ronald Manulang mendapatkan Affandi Award pada 1976 dan Creative Art Award Illustration USA 1990.

Dari segudang pengalaman pameran Ronald Manulang, banyak harapan saya untuk menemukan seni lukis yang menggugah kita tentang persoalan-persoalan bangsa ini. Mengutip pernyataan S Sudjojono seperti yang dikutip dipermulaan tulisan ini, memang kita akan menjadi terharu melihat apa yang ada sekitar kita kalau memang seorang pelukis bisa membongkar tanda-tanda dalam sejarah seni rupa bangsa lain. Harapan inilah yang mungkin dapat muncul dari seorang Ronald Manullang sebagai seniman yang banyak makan asam dan garam.

Penulis: Hafiz
Perupa/videomaker
Pendiri/penggiat Ruangrupa dan Forum Lenteng Jakarta
Biodata Ronald Manulang

Augustin Sibarani


Lahir : Pematang Siantar, Sumatra Utara, 1925 Agustin Sibarani
Lahir di Pematang Siantar, Sumatra Utara, 20 Agustus 1925. Ia menempuh pendidikan menengahnya di bidang pertanian di Bogor, pada masa pendudukan Jepang. Pernah menjadi asisten perkebunan di beberapa wilayah perkebunan di Jawa Tengah dan di Jawa Timur. Di masa revolusi ia cukup aktif dalam dinas militer. Sampai kemudian di awal tahun 1948 ia berkenalan dengan pelukis Haryadi di Yogyakarta. Di kota inilah, di lingkungan seniman dan sanggar, ia mulai mengasah bakat dan keterampilannya untuk melukis dan menggambar karikatur. Dan sejak itu ia mulai banyak terlibat dalam berbagai penerbitan pers khususnya sebagai penggambar karikatur. Gambar karikaturnya berisi sindiran cerdas dan tajam terhadap berbagai kehidupan sosial-politik Indonesia bahkan di masa Orde Baru. Benedict ROG Anderson, peneliti dan pengamat masalah Indonesia dari Cornell University, AS, menganggapnya sebagai karikaturis terbaik yang dimiliki dunia pers Indonesia. Pada tahun 2001, Augustin Sibarani menerbitkan buku yang berisi penggalan biografi, konsep berkarya dan kumpulan karya karikaturnya: Karikatur dan Politik (ISAI, Garba Budaya dan Media Lintas Inti Nusantara, Jakarta, 2001). Di tengah kesibukannya menggambar karikatur ia tetap melukis dan berpameran.

Bintang Timur, 23 Juli 1957

KARIKATUR PUNJA DUNIA SENDIRI

Oleh : A. Sibarani

APAKAH sebenarnja k ar i k a t u r itu? Karikatur berasal dari kata c a r u g a, jang berarti kereta . Kereta ini bila diberi muatan, mendjadi berisi dan bila muatannja berat sekali, maka mungkin keretanja akan mentjong atau peot kebelakang, sehingga kudanja mungkin terangkat, Dan kalau sudah sampai begini tentulah para pelantjong jang lewat seketika akan pada ketawa, karena lutjunja , walaupun sipunja kereta meringis kekesalan karenanja. Ialah jang disebut k a r i k a t u r , sesuatu jang diberatkan. Diberatkan dalam arti “letterlijk”. Sedangkan dalam arti ”figuurlijk”, sesuatu jang ditentukan, ditambahi bumbunja, “overdreven voorgesteld”. Atau dengan lain perkataan karikatur itu adalah “overdrijving”.

Dengan jalan begini, daja ketawa orang akan ditimbulkan dengan expressie jang berlebihan, hingga mendjadi satirisch atau histeris dan bisa menjinggung perasaan orang. Asal mulanja memang begitulah maksud karikatur, menjinggung persaan orang2 jang sudah begitu tebal mukanja atau sudah kebal terhadap tegoran atau sentilan jang bersifat biasa. Mau tidak mau sibiang keladi jang sudah kebal dan tidak ambil pusing terpaksa mengarahkan pandangannja djuga pada karikatur. Dahulu kala seorang Goya membikin bangsawan2 Spanjol yang angkuh dan atjuh tak atjuh terhadap nasib bangsanja, menggerutu, mengkal dan tak bisa tidur kadang2, karena gambar2nja jang satirisch, sampai ia diuber-uber polisi, Begitu djuga expressionisDaumier dari Perantjis menghantam kaum ningrat dan hypocriet dengan karikatur2nja.
Memang sebuah gambar jg bersifat kritiek haruslah mengenai sasarannja dengan djitu, harus bisa dirasakan. Dan ini tidak akan tertjapai, bila hanja digambar setjara biasa sadja. Oleh karena itu gambar itu harus menarik perhatian karena keistimewaannja, ia harus menimbulkan reaksi pada orang, sehingga menjadi effectief sekali. Djalan2 untuk mendjadikan karikatur itu mendjadi “voltrefer” jang mengenai sasarannja harus djitu ditjari. Dan karena itu sebuah karikatur tidak bisa bersifat biasa, sebab karikatur tidaklah hanja merupakan illustrasi.

Seorang pembatja menjatakan keberatannja terhadap sebuah gambar jang dimuat diharian ini beberapa waktu jang lalu, jang melukiskan Simbolon Husen dan Barlian setjara mengejek sekali, jakni mereka tidak bertjelana dan malahan mempunjai ekor. Kalaupun saudara itu menganggap itu sebagai amat menghina, ialah karena ia sama sekali belum pernah membatja2 buku2 Walt Disney rupanja, Sebagai comics tjerita2 sematjam ini djuga banjak beredar, tapi rupanja saudara itu barangkali tidak begitu suka pada comic2 Amerika itu. Saluut kita sampaikan. Sebab comic2 itu sebenarnja adalah djuga barang2 jang kita tidak setudju peredarannja.
Nah, sebagai tjontoh saja tundjukkan disini sebuah gambar dari tjeritanja Walt Disney itu. Tentang seekor serigala jang dojan anak2 babi atau pigs, (Dalam gambar saja jang lalu kami sengadja tidak pakai perkataan anak babi itu, supaja djangan terlalu menjinggung perasaan) “The bad wolf and the foolish pig” mentjeritakan tentang 3 ekor anak2 bandel jang banjak sadja akal dan tingkahnja. Tetapi tentang mereka ini sebenarnja terlalu banjak tjerita. Ada jang mengisahkan, mereka tidak menurut perintah ajahnja jang bidjaksana dan pergi membandel main2 dihutan. Disana mereka dinanti oleh si serigala. Serigala itu mentjoba memikat hatinja dengan makanan enak atau tipu muslihat lain, hingga mereka tertangkap, dimasukkan dalam kuali dirumah. Begitulah djalannja tjerita.

Hikajatnja Walt Disney inilah sebenarnja jang memberikan idee buat saja untuk membikin karikatur itu, oleh karena saja anggap tjerita2 Walt Disney amat populair sekali dan tentunja bisa gampang dimengerti orang. Dan karena dalam gambar2nja Walt Disney anak2 tadi tidak bertjelana, maka dalam gambar2 saja pun demikian djuga. Dan memang, dalam gambar2nja Walt Disney banjak binatang2nja jang tidak memakai tjelana tapi hanja berbadju. Dalam dunia binatang tidak ada jang bisa kita anggap tjabul, kalu mereka tidak berpakaian, karena semua binatang jang kita ketahui mondar mandir dimuka kita adalah telandjang dari kucing kesapi gede. Djuga dalam film “Fietsendieven” dari Vittorio da Sica ada seorang anak ketjil jang kentjing jang sama sekali tidak memberikan kesan jang tjabul dan kalau hari2 hudjan maka banjak anak2 jang telandjang bulat mandi2 dipekarangan kita dengan tiada menimbulkan fikiran suatu apa.

Monjet, keledai, kutjing, buaja adalah soal pemberian bentuk dalam perumpamaan tjerita, pemberian daja penarik dan penekanan humor serta usaha untuk menjatakan expressia pada pernjataan. Begitulah dalam buku kanak2 banjak kita batja tentang kantjil dan kura2 jang bisa bitjara dan buaja jang memperdajai seekor sapi. Dalam tjerita chajalan semut bisa berperang melawan gadjah dan singa jang mempunjai mahkota duduk disinggasana. Dalam karikatur hal ini adalah soal biasa. Karikaturis Inggris menggambarkan Churchill sebagai buldog, pelukis Mesir dijadikan Nasser singa atau buaja, djurugambar Brockman dari Djerman menempa Adenauer djadi monjet dan memproteskah orang djadinja, kalau umpamanja Hatta saja gambarkan disini berbentuk andjing?

Hal penggambaran seperti begini adalah soal biasa dalam karikatur dan djanganlah soal2 ketimuran-kesopanan etc. etc, kita bawa2 didalamnja. Tentu sadja kita memeperhitungkan hal ini semua, sebab djangan lupa, seorang karikaturis djuga mendjaga nama baiknja. Tapi dalam pembikinan karikatur kita mempunjai pandangan sendiri, mempunjai ukuran sendiri. Begitulah umpamanja umum tidak akan memaki Hendra, kalau ada perempuan telandjang duduk dirandjangnja dirumahnja untuk dilukis. Tapi seorang kepala kantor akan ditangkap atau dilempar keluar andaikata ia menjuruh typistenja berbuka badju dalam ruangan kantornja. Begitu juga dengan portret2 phornografis jang didjual setjara gelap haruslah dibasmi, sedangkan lukisan2 telndjang dalam suatu pameran Basuki Abdullah dikagumi orang. Ukuran2 memang berlainan, tergantung dari arti, makna dan tudjuan, nilai dan isi.
Dan pula haruslah ditjamkan betul, bahwa dalam memperhatikan sebuah karikatur, kita haruslah melihat gambar seluruhnja dan djangan hanja mata ditudjukan pada bentuk binatang tadi. Umpamanja sadja saja menggambarkan Hatta seperti serigala melulu dan tidak ada jang lain2 selain dari itu, maka tentulah gambar itu tidak mempunjai arti selain dari menjamakan Hatta dengan binatang tersebut tadi dan tentulah ini bisa dianggap amat kasar karena tiada tudjuan sama sekali selain menjelekkan. Tapi gambar saja jang lain diharian ini mengenai Hatta, adalah sebenarnja pemaparan suatu kisah bersedjarah dari Roma, dimana dua putra dimasa ketjilnja diasuh oleh seekor serigala ditepi sungai. Dan tjerita inilah jang memberikan ilham pada saja untuk membikin karikatur itu. Tjoba pikir andaikan Hatta disini saja gambar disini seperti manusia jang melindungi 2 anak itu maka apakah lagi makna dari karikatur itu? Sama sekali tidak ada. Dan memang, seperti djuga saja terangkan tadi, sebuah karikatur harus “Voelbaar”. Kalau dikatakan menjinggung, ja menjinggung. Dan saja kira mau tidak mau, seorang besar seperti Hatta terpaksa mengarahkan matanja kepada gambaran saja. Dan saja kira, bagaimanapun besarnja Hatta sebagai pemimpin Indonesia jang pernah mendjadi wakil presiden, namun setidak-tidaknja karikatur saja tidak asal begitu sadja disambillalukan. Dan saja kira, bung Hatta, kalaupun beliau memperhatikan karikatur saja, tidaklah akan datang anggapan padanja, bahwa tudjuan gambar itu adalah menghina. Dengan lain perkataan Hatta adalah Ibu pengasuh jg menggemukkan Barlian dan Husen dan inilah jang saja gambarkan dgn karikatur saja. Dalam gambar itu saja tidak mau menjamakan Hatta dengan anjing atau dengan serigala, tapi saja mau memperlihatkan setjara “keras”, bahwa sebenarnja bung Hatta adalah forageur istimewa, pengasih sajang dan geestelijke voeder dari mereka.
Bahwa gambar itu mengedjek, jah, begitu dapat djuga dapat disimpulkan, sebab memang sebuah karikatur adalah suatu spotprent, suatu gambar mengedjek djuga djadinja, tapi dengan tudjuan tertentu, membentangkan”het koddige van het hele geval”.
Dalam tulisannja sdr. Ahmad Subandi kepada redaksi surat kabar ini, djuga dikemukakannja soal menghina ini. Lalu dikatakannja, bahwa sebenarnja, panglima2 tadi masih in functie, djadi kalau menghina mereka, itu djuga adalah menghina angkatan perang. Pertama saja katakan, bahwa tudjuan bukanlah untuk menghina. Pendjelasannja sama sadja terhadap bung Hatta tadi. Kedua, djustru karena mereka masih in functie itulah mereka saja karikaturkan. Andaikata mereka tidak in functie dan tidak bertindak suatu apa, maka tidaklah penting lagi mereka dikarikaturkan? Djangan lupa, bahwa sebenarnja hanja orang2 jang pentinglah jang kita anggap perlu digambarkan, djadi andaikata ia umpamanja sudah lepas dari djabatannja, dia tidak begitu penting lagi, karena sudah diluar perhitungan. Dan djustru karena mereka masih tetap panglima2, masih tetap pedjabat dinegara kita, dan kemudian mereka sebagai pedjabat dari sebuah pemerintah tidak mau tunduk pada pemerintah, disinilah letaknja keanehan dan kelutjuan seluruh persoalan. Disinilah letaknja “het caricaturale” kebengkokan seluruh situasi. Dan karikatur jang saja buat mengenai mereka bukanlah sindiran jang ditudjukan terhadap lawan, terhadap musuh, tetapi bisa diibaratkan terhadap anak2 hilang jang dipanggil supaja pulang kembali. Kalaupun diterima sebagai pukulan, jah anggaplah pukul sajang. Pukul sajang jang tentu harus terasa djuga. Kalau terasa inilah tanda, bahwa karikatur berhasil……

Dalam surat pembatja tadi kepada redaksi Bintang Timur ada djuga dikemukakan, bahwa panglima2 jang saja karikaturkan itu adalah pedjoang2 kemerdekaan jang telah berdjasa untuk Tanah Air. Djustru karena hal itulah kita mau lukiskan pada mereka betapa anehnja perbuatan mereka sekarang dibanding dengan perdjuangan mereka dahulu. Dan sama sekali tidaklah mereka kita anggap sebagai musuh, tapi sebagai kawan jang menjimpang dari djalan semula. Tjoba pikir dahulu umpamanja: apakah saudara pembatja mengira , bahwa kalau saja membuat karikatur dari Letkol. Saleh Lahade saja menaruh dengki padanja? Saleh Lahade adalah sahabat karib saja semendjak dahulu bersama-sama sesekolah di Middelbare Landbauwschool di Bogor dan bersama-sama bermain boksen dengan majoor Hertasning, kepada stafnja Andi Mattalatta sekarang. Tapi namun begitu persoalan2 perseorangan kita kesampingkan dalam menghadapi situasi negara dewasa ini. Dan menjerukan kepada Overste Saleh Lahade, bahwa terbelakangnja daerah ini karena kurang diperhatikan oleh pusat adalah kesalahan dari semua kabinet2 jang sudah2 dan sama sekali tidak bisa ditimpakan tuduhan pada pemerintah sekarang. Bahkan hanja pemerintah jang sekaranglah jg sebenarnja dengan bukti jang njata “vol oede voornemens” untuk memperbaiki keadaan daerah dengan mendirikan chusus satu kementerian untuknja tapi uluran tangan pemerintah ini disambut tuntutan2 mutlak jang bersifat ultimatum dari dewan2. Sungguh ini semua tidak bisa dibenarkan! Daerah2 jang “memberontak” sekarang haruslah memberikan kesempatan pada kabinet sekarang untuk memperlihatkan kebidjaksanaanja. Kalaupun mereka memberontak haruslah itu dianggap sebagai ketidak puasan terhadap kabinet2 jang lalu. Tapi kepada kabinet ini mereka tidaklah bisa bersikap demikian, oleh karena kabinet ini baru sadja berdjalan dan malah dalam perdjalanannja pertama sudah dipersukar dan dampratan dan tendangan jang tidak senonoh dan tidak pada tempatnja.

Bagaimanakah daerah toh bisa menentang dan membangkang, tidak sadarkah mereka, bahwa ini tiada bisa mempunjai akibat lain dari menambah sulitnja keadaan jang sudah ruwet jamg sudah dekat pada malapetaka, apalagi karena kekuasaan2 asing jang memperhitungkan kepentingannja jang besar mulai menanamkan jarumnja ke dalam tubuh negara kita karena kesempatan jang luar biasa untuk memantjing dalam air keruh2. Sedjarah Dunia bisa mentjeritakan, bahwa diseluruh benua, dimana negaranja berada dalam keadaan katjau dan pusing, disitulah avontuur politik dan intrigues kotor meradjalela, Tiongkok dengan Tjiang Kai Seknja, Indotjina, Arab, Mesir, Israel, Spanjol dahulu, semua bisa membuka buku sedjarahnja. Dan semua ini harus disadari oleh seluruh patriot Indonesia dan semua kepala2 Dewan2 sekarang!

Itu pulalah sebabnja, mengapa kita dengan tegas menentang tindakan daerah sekarang. Dan itu pulalah sebabnja mengapa saja dengan karikatur2 saja menggambarkan sikap perbuatan pemimpin2 dewan sekarang sebagai tingkah laku jang menggelikan sekali. Dan karikatur mempunjai dunianja sendiri, mempunjai tjaranja sendiri, jang tidak bisa ditilik hanja dari satu sudut sadja, dari sudut jang diedjek dan jang terkena dengan katjamata jang kleinburgerlijk dan seolah berkedokkan moraal. Dan pemimpin2 partai jang menentang kabinet sekarang dengan bersikap oposan, bagi saja mereka mendjadikan hanja suatu karikatur belaka, karena pikir punja pikir, semua orang2 dari pemimpin2 partai jang berminat untuk mendajtuhkan kabinet sekarang, telah pernah semuanja duduk dalam kabinet dan memimpin negara dan akibat pimpinan mereka itulah sebenarnja segala ketidakmadjuan dan ketidakberesan negara sekarang. Kalau kabinet ini djatug, maka akan timbul lagi sematjam kabinet jang dulu2 dan kita akan kembali mundur kezaman 5-6-7 tahun jang lalu. Kabinet akan terus2 didjatuhkan, karena disinilah letaknja ketjakapan kebanjakan pemimpin kita dan sampe tue tidak akan datang pembangunan dan kemadjuan. Meradjalelanja korupsi adalah akibat tiadanja kebidjaksanaan dan kedjudjuran dari pemimpin2 jang mendjiwai kabinet2 jang dahulu dan kita mau bertanja, apakah pemimpin2 dari dulu2 ini jang mendjadi biang keladi dari segala keambrukan dalam negara sekarang mau merongrong pemerintah sekarang agar kita kembali lagi kezaman baheula, dimana ketidakmampuan mereka akan mendengungkan kembali symponi lama beriramakan kemakmuran rakyat brantas korrupsi ensoprot?

Pada hemat saja, dari seluruh kabinet jang pernah dilahirkan dengan merana dan dengan segala kepahitannja, maka baru sekaranglah terdapat sesuatu jang bernafaskan tenaga2 muda jang menjegarkan. Kabinet + Dewan Nasional adalah terdiri dari tokoh jang menjetuskan proklamasi kemerdekaan jang tidak bisa dipungkiri kedjudjurannja dan para pemimpin jang menentang kabinet ini haruslah sadar, bahwa tanpa pemimpin2 muda jang revolusioner ini, maka barangkali negara kita belum merdeka sekarang hingga dan pemimpin2 jang kini beropposisi tidak akan sekaja dan semakmur dan sebahagia sekarang. Dan kalaupun mereka mau mengatakan, bahwa kabinet dan Dewan Nasional sekarang banyak terdiri dari orang2 kiri, maka harus pulalah mereka menerima sebagai kebetulan, ataupun sebagai pengakuan, bahwa tenaga2 jang revolusioner memang kebanjakan terdiri dari orang2 kiri. Dan disamping kebetulan ini, supaja datang pula kesadaran bagi mereka, bahwa “tenaga2” jang korruptief semuanya terdiri dari orang2 jang kanan.

Saja kira uraian ini sudah cukup djelas.
Dan karena itulah kabinet ini harus disokong.

Dan bagaimana dengan karikatur ? Karikatur akan berdjalan terus, mereka semua jang sok aksi bersikap pemimpin tapi sebenarnja belum kita ketahui sampai dimana sudah hasil usaha mereka untuk membahagiakan rakjat, akan kita gambar ! Kita gampar denga tjara kita sendiri !!!

“BINTANG TIMUR” Selasa, 31 Desember 1957

SATYRE SOSIAL Oleh : A. Sibarani

Sedjak dulu kala, dari masa ke masa, seniman2 kenamaan telah diilhami gaja inspirasi jang mendjolak-djolak, untuk melukiskan setjara tadjam dan mengedjek segala kepintjangan masyarakat sekitarnja dengan membuka selubung atau kedok dari kepalsuan dan ketidak djudjuran jang bersimaharadjalela dimana2. Dunia ini penuh dengan kaum hypocriet, orang2 jang pura2 djudjur, pura2 mengandjurkan kepribadian jang luhur, tetapi didalam hati sanubarinja mengandung kebusukan dan kedjelekan jang sebenarnja tiada mengasihi sesama manusia. Ada orang2 jang pura2 pergi sembahjang hanja untuk menutupi kemauan djahat jang bertjokol dalam hatinja. Kebetulan karena mereka berkuasa atau mempunjai kedudukan jang penting maka orang2 djudjurlah jang mendjadi korban dan menderita. Selain dari hypocriet jang berketjimpung dengan leluasanja, maka tidak sedikit pula jang seperti main sandiwara dipanggung, berjual kojok seperti tukang obat keparat, berlagak aksi dan seolah2 maha tahu dan pintar betul, tapi sebenarnja bodoh dan tolol. Begitulah pengarang besar Gogol dengan “Revisor”nja menggambar ……

Agung belum terbongkar, maka penuhlah kedjadian2 jang lutju dan menggelikan sekali, jang membuat pengikut tjerita tertawa terpingkel-pingkel. Inilah jang disebut satyre, kegialaan manusia jang digambarkan dengan setjara mengedjek sekali.

Pelukis kenamaan Honore Daumier, ekspresionis Perantjis jang hidup di abad ke-19, diwaktu ketjilnja sering melihat persitiwa2 dalam pengadilan2, dimana pentjuri2 sekerat roti dihukum oleh hakim2 jang suka menakutkan. Djuga Daumier dalam lukisan2nja menggambarkan hakim2 jang bermuka seram dengan banjak mengobrol ini dengan setjara satyria sekali. Dunia ini memang penuh dengan ketidak adilan, diseluruh negara jang ada dibumi ini keinginan manusia untuk dapat hidup berbahagia dan sentausa belumlah tertjapai. Apakah sebabnja demikian ? Apakah dunia ini tidak tjukup memiliki harta kekajaan jang akan dapat dibagi-bagikan setjara adil pada para penghuninja ? Pertanjaan ini bukanlah sesuatu jang hanja dipikirkan oleh kaum politisi sadja, tapi djuga oleh pengarang2, sardjana2, pelukis2, dan segala manusia jang turut merasakan kekurangan2 kehidupan dari rakjat djelata. Jang merasa puas dan menganggap keseluruhan jang ada sebagai sesuatu jang “lazim” dan sudahlah seharusnja begitu, adalah mereka jang kebetulan karena tipu muslihat nenek mojangnja dalam keadaan jang serba tjukup, seperti miljuner2 dan penumpuk harta karun atau tuan2 tanah jang kaja raja. Tuan2 tanah jang bergelimang dalam segala matjam hasil kekajaannja, ti-

daklah akan memikirkan, tidaklah akan mengasah otaknja, dari mana sebenarnja datangnja kekajaannja dan hasil djerih pajah siapakah jang sebenarnja jang menggemukkan tubuhnja, mereka mendapat gadji dan bukankah mereka akan ditimpa nasib malang andaikata mereka diberhentikan dari pekerdjaannja ? Karena “kebaikan hati” dari madjikannjalah maka mereka bisa hidup, bukankah djasa dari sikaja ini harus dihargai ?

Keadaan jang pintjang mendjadi sasaran

Keadaan jang pintjang dimana sadja mendjadilah sasaran jang bertubi dari pelukis2 karikatur, dari abad ke abad …….. … pahit.
Kebenaran jang bagi sasaran jang ditudju tentu sebagai gambar jang kurang adjar dan melampaui batas. Gambar2 gila dari pelukis karikaturis kenamaan Goja begitu seremnja, begitu nekadnja, hingga kita sekarang ini enggan djuga memuatnja, karena bisa menjinggung soal susila dan kesopanan. Orang2 bangsawan hypocriet selalu mendjadi sasarannja jang hebat, hingga boleh dikata, bahwa orang ini hampir setjara letterlijk ditelandjangi. Kita katakan begitu oleh karena gambar2 orang bangsawannja memang banjak jang telandjang bulat dalam pose jang menjinggung perasaan dan sungguh mengagetkan. Dapatlah dimengerti bagaimana tjemasnja perasaan orang bangsawan diwaktu itu, jaitu penghuni2 istana dalam keradjaan Spanjol dalam abad ke-18. Gambar2 inilah jang disebut Satyre Sosial. Jang mendjadi pokok bukanlah idee suatu partai politik jang tertentu, akan tetapi “penelandjangan” dari suatu keadaan jang pahit jang berteriak2 meminta keadilan. Makna kata telandjang ini dalam arti kata “ letterlijk”dapat djuga kita lihat pada gambar2 dari pentjukil kaju kenamaan FRANS MASEREEL, pelukis jang berasal dari Belgia. Sebuah gambarnja kita muat djuga disini oleh karena kita menganggapnja masih “boleh”, mengingat makna dan tudjuan. Gambar ini adalah satyre dari kebobrokan kaum atasan, suasana foja2 jang mentjekam dada, tapi mengandung kebenaran jang pahit. Tjukilan kayu ini dibuatnja dalam tahun 1925, keadaan Eropa dalam suasana sehabis perang dunia ke 1.

Bagaimana keadaan di Amerika ?

Djuga Amerika mempunjai social satyrists. Pada +/- tahun 1935 – 55, dajdi 20 tahun jang lalu, Amerika mengenal manusia2 tukang tjorat-tjoret jang mungkin kalau sekarang tentu ditjap dengan istilah “communist”. Jang terkenal waktu itu ialah : Hirschfeld, jang menggambarkan United States Supreme Court, sebagai machluk2 jang penipu besar, Mabel Dwight, Don Freeman, jang membikin dunia perfilman sebagai arena satyre luar biasa, dengan menggambarkan hubungan2 mesra antara produser dengan bintang2 filmnja: (geger djuga dunia film kita, andaikta saja “satyrekan” djuga suasana perfilman kita disini dengan gambar2 jang seram dari kedjadian2 jang benar, ja), Hugo Gellert lebih suka menjerang Angkatan darat angkatan laut dan angkatan udara, jang menurut dia penuh dengan korupsi da penipuan. Dalam satyre: The Army, The Navy and the Air Force, ia menggambarkan brontosaurus, buaja dan kalong maha besar menggerogoti Amerika dengan timbunan uang dalam mulutnja jang serakah.

Social satyrists lain yang terkenal waktu itu di Amerika ialah: Adolf Dehn, Reginald Marsh, Redfield, Peggy Bacon. Terutama Peggy Bacon menggambarkan kehidupan pahit dari sipekerja miskin dengan tadjamnja.
Seorang satyrists jang amat lihay ialah Covarrubias. Waktu penobatan pertama dari Presiden Franklin D. Roosevelt dalam tahun 1933, maka muncullah dalam Vanity Fair suatu karikatur jang amat lutjunja. Gambar ini amat besarnja, karena sampai dimuat 2 halaman penuh dan berwarna pula. Pada gambar ini tampak segala kehebatan upatjara digambarkan dengan amat menggelikan sekali, tetapi gambar ini sebenarnja tidak begitu mendekati satyre sosial, hanja satyre politik biasa. Satyre dari kemegahan dan kehebatan jang sebenarnja mengandung tragiek dibelakang lajar.

Satyrist jang menghantam kapitelisme Amerika dengan pedasnja ialah B.V. Howard. Suatu ucapan dari Roosevelt jang mengatakan dalam salah satu pidatonja, bahwa : “… whether Capitalism in its present form is to continue …” disambut dengan gambar seperti kita maut dibawah ini. Apakah orang2 kapitalis tersinggung perasaanja oleh karena gambar ini, hanja merekalah jang tahu. Tapi jelas, gambar satyre memang suatu gambar jang gila. Tapi seorang satyrist bukanlah orang gila. Hanja gambarnja jang merupakan suatu jeritan social. Dan daptlah kita ketahhui, bahwa social satyrist djuga banjak berada di benua Amerika sendiri.

Lelutjon sebagai satyre

Kalau kita mendengar perkataan “lelutjon”, pikiran kita lalu diarahkan ke object jang lutju, seolah lelutjon dalam bentuk gambar jang satyre adalah sesuatu jang harus membikin orang ketawa atau membawa kegembiraan.

Sebeanrnya bukanlah demikian halnja. Memang kadang2 kita bisa tertawa melihat kekurangan2 kita sendiri, kebodohan kita dan kadang djuga nasib malang jang menimpa diri. Mood jang sedemikian rupa ini lalu mungkin nanti ditafsir sebagai optimisme jang berlebihan, atau bisa djuga sebaliknja pentjipa lelutjon lantas ditjap sebagai defaitist jang tenggelam dalam synisme jang mendekati keputus-asaan. Tidak mustahil pula, orang berpikir, bahwa ilham sedemikian rupa tentu, dilahirkan dari kalbu jang sudah agak sinting jang perlu mendapat pemeriksaan dari seorang psychiater. Interpretasi dan kesimpulan tentang ini sudah barang tentu bisa bermacam ragam.

Kembali kepada perkembangan kemanusiaan di Amerika, maka disini kita memuat sebuah gambar, jang terbit pada tahun 1900 di Amerika dalam madjalah “The Verdict”, selagi campagne pemilihan presiden dengan tjalon2nja Teddy Roosevelt dan Henry Clay.

Dua orang, jang rupanja adalah simpatisan2 dari Roosevelt lagi bitjara satu sama lain. Jang seorang rupanja adalah seorang kapitalis, sebab pada kuping dan ibu djarinja tampak gambar dollar. Pada dinding tembok kelihatan portret dari Henry Clay, jang rupanja tidak begitu mereka ingini. Lalu katanja pada temannja : “itu orang jang bernama Clay adalah seekor keledai. Lebih baik mendjadi presiden dari pada djudjur”. Dengan lelutjon ini seolah digambarkan, bahwa kalau orang di Amerika mendjadi presiden, ia tidak mungkin orang djudjur. Terutama jang berbentuk satyre adalah gambar muka dari orang2 ini dan tjara pelukisnja menondjolkan garis2 George Luke jang mendjadi cartoonist watak mereka. Pelukisnja ini adalah George Luke jang mendjadi cartoonist majalah Verdict tadi. Bahwa pada masa itu gambar karikatur mendapat tempat jang amat dipentingkan dalam penerbitan, dapat kita lihat dengan hadirnja pentolan2 karikatur dalam djumlah jang banjak dalam staf madjalah Verdict ini. Sebuah madjalah Verdict jang terbit pada +/- 1900 mempunyai cartoonist unggul seperti Anthony, Bristol, Mirs Horace Taylor dan George Luke sendiri. Karikatur2 mereka ini biasanja dimuat berganti-ganti pada cover, back cover dan middle-pages, pagina2 tengah sering dalam ukuran jang amat besar dan berwarna pula.

Kalau kita kembali pada dunia modern kini, dan mata kita radjin mendjeladjahi madjalah luar negeri, ada djuga kadang2 lelutjon jang berbentuk satyre. Seperti umpamanja gambar lelutjon jang berikut ini jang terbit dalam madjalah Perantjis dan digambar oleh Raynaud. Orang gemuk jang minta tjerutunja dinjalakan, tapi tangan sikatjung tidak sampai. Sebuah gambar humor seperti begini tidak selalu harus membikin orang ketawa. Malah mungkin ada jang menganggap flauw. Tapi jang flauw dan tidak enak bagi sikapitalis. Mungkin menjedjukkan bagi si gembel. Pandangan manusia bisa berbeda-beda, tergantung dari keadaan, dan kedudukan mereka dalam masjarakat. Jang tinggal digerakkan hanjalah tangan, pena dan kemudian ….. goresan ….

Di Indonesia bagaimana ?

Djuga dibumi nusantara jang elok permai ini, banjak sekali bahan berlimpah untuk membuat tjorat-tjoret jang merupakan satyre. Sebab sekaranglah bertumbuhnja profiteurs politik jang mendjadikan sigembel mendjadi kuda tunggangan dan menggemukkan kantongnja sendiri. Sekaranglah meredjalelanja korupsi dan avonturisme, mekarnja prostitusi dan banditisme. Pendek kata, bahan berlimpah, inspirasi tjukup.

DARI REDAKSI
Karikatur2 Sibarani dalam harian ini banjak mendapat perhatian umum, terbukti dengan banjaknja surat2 jang mengalir kemedja redaksi. Sebagian besar surat2 ini berisi sambutan jang menggembirakan terhadap karikatur2nja, disamping tentunja djuga ada beberapa jang memandang hasil kerdja Sibarani dari sudut lain. Salah satu surat seperti ini kami muatkan diruangan “Pendapat Pembatja” hari ini.
Tulisan Sibarani ini bukan sadja kami anggap penting sebagai pendjelasan tentang arti karikatur, tetapi lebih lagi: ia merupakan satu pernjataan-diri Sibarani pada waktu ini sebagai seorang seniman terhadap berbagai persoalan2 bangsa pada waktu ini.

Mayjen (Purn) TNI Sardan Marbun


Mayjen (Purn) TNI Sardan Marbun adalah Staf ahli Presiden yang

Sardan Marbun

mengolah SMS dan Po Box 9949, pada umumnya merupakan kecenderungan, yang tindak lanjutnya memerlukan pencarian kelengkapan bukti, untuk dapat diteruskan kepada aparat yang berwenang. Hasil yang dilakukan sejak Oktober 2004 sampai dengan sekarang, telah menunjukan hasil yang lebih baik dan masa-masa sebelumnya, walaupun masih jauh dan harapan yang diinginkan bersama. Mari terus bekerja melanjutkan momentum yang telah tercipta di masyarakat yakni anti korupsi, dan opini ini dijaga tidak luntur apalagi berubah menjadi pelaku. Konsistensi antara pikiran/ucapan dan tindakan sangat menentukan.

[www.elshinta.com] Tim pengelola Short Message Service (SMS) dan PO BOX 9949 menerbitkan buku bertajuk Rakyat Mengadu, Presiden Menjawab yang berisikan tentang rangkuman pengaduan masyarakat melalui SMS dan PO BOX 9949 kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Dalam keterangan persnya di Kantor Kepresidenan Jakarta, Selasa (3/10) siang ini, Staff Khusus Presiden yang juga koordinator SMS dan PO BOX 9949 Sardan Marbun menyatakan, buku Rakyat Mengadu, Presiden Menjawab ini berisikan rangkuman aduan yang disampaikan oleh masyarakat kepada Presiden melalui SMS dan PO BOX 9949 dalam kurun waktu Juni 2005 sampai dengan Juni 2006.

Jumlah SMS yang diterima sebanyak 2.039.007 SMS. Sedangkan PO BOX yang masuk suratnya sebanyak 18.170 surat yang semuanya ditindaklanjuti
Sardan Marbun menegaskan, penerbitan buku itu bertujuan agar masyarakat mengetahui langkah dan tindak lanjut yang dilakukan pasca pengiriman SMS dan pengiriman surat ke PO BOX. Dengan demikian, ungkapnya, kedepannya diharapkan partisipasi masyarakat akan semakin meningkat. (der
[www.elshinta.com]

”Presiden minta laporan dan masukan dari seluruh masyarakat Indonesia soal kebijakan kenaikan harga BBM,” kata Staf Khusus Presiden Bidang Pemberantasan KKN/Pengelola PO Box 9949, Sardan Marbun, di Kantor Presiden Jakarta, Jumat (23/9).
Sebelumnya, beberapa waktu lalu, Presiden Yudhoyono telah membuka saluran pengaduan melalui layanan pesan singkat (SMS) ke nomor 9949 dan PO Box 9949.
Masyarakat juga diminta melaporkan jika terjadi kejahatan penimbunan, pengoplosan dan penyelundupan BBM selain masalah penyelewengan dana kompensasi. ”Presiden juga meminta laporan mengenai penyelewengan atau korupsi yang menyangkut kompensasi akibat kenaikan harga BBM untuk bidang pendidikan, kesehatan dan subsidi tunai langsung ke masyarakat,” ujar Sardan Marbun yang kini ditugaskan mengelola nomor pengaduan tersebut.
Sardan menjelaskan, penyaluran dana kompensasi untuk bidang pendidikan disalurkan melalui biaya operasional sekolah (BOS) untuk sekolah dasar hingga sekolah tingkat menengah. Dengan bantuan BOS ini, maka sekolah bisa digratiskan.
Sedangkan untuk bidang kesehatan, pemerintah akan membantu masyarakat yang dirawat di puskesmas dan rumah sakit kelas tiga untuk mendapat pengobatan secara gratis.
Di bidang infrastruktur desa, lanjut Sardan, setiap desa tertinggal mendapat bantuan senilai Rp 250 juta/desa. Sementara untuk dana kompensasi langsung, pemerintah juga memberikan bantuan uang tunai kepada masyarakat miskin senilai Rp 100.000,00/keluarga/bulan yang akan diberikan sekaligus untuk tiga bulan (per triwulan). ”Presiden meminta supaya masyarakat juga turut menjaga realisasi pemberian bantuan bagi masyarakat tersebut,” kata Sardan.
Harus memilih
”Subsidi Rp 60 triliun itu sebagian besar (70%) dinikmati orang berada,” kata Aburizal yang akrab dipanggil Ical pada dialog kebijakan penyesuaian harga BBM dengan Kadin, Apindo dan puluhan pengurus serikat pekerja di Jakarta, Jumat (23/9).
Ical menjelaskan pemerintah menyadari kebijakan penyesuaian harga BBM akan memberatkan dunia usaha dan pekerja. ”Namun, demi kepentingan jangka panjang penyesuaian (harga BBM) harus dilakukan,” katanya.
Pertimbangannya, harga BBM di Indonesia masih lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara lain, seperti Thailand, Filipina, Malaysia dan Cina. Selain itu, juga untuk menyelamatkan APBN 2005 dan RAPBN 2006.
triliun pada 2006. Dengan penyesuaian harga BBM memungkinkan penambahan biaya untuk menciptakan lapangan kerja baru, pengurangan kemiskinan, pelayanan kesehatan gratis di Puskesmas dan kelas III di rumah sakit serta pelaksanaan pendidikan sembilan tahun. Kurs rupiah juga bisa menguat di kisaran Rp 9.000,00 – Rp 10.200,00/dolar AS.
Ical mengakui, kenaikan harga BBM akan meningkatkan inflasi. Namun, berdasarkan pengalaman masa lalu, dampak itu hanya terasa dalam satu bulan sebelum dan dua bulan sesudah kebijakan dilakukan. Sebagai langkah antisipasi, pemerintah akan memulai reformasi di bidang ketenagakerjaan dengan cara menciptakan lapangan kerja baru serta menyeimbangkan kepentingan para stakeholders (pengusaha dan buruh) dengan memfokuskan pada pemberian fleksibilitas pada aturan kerja kontrak, outsourcing (pegawai dari luar), dan rasionalisasi uang pesangon.
Selain itu, pemerintah telah menyiapkan langkah antisipasi menghadapi masalah sosial yang akan terjadi, seperti memberikan dana kompensasi bagi masyarakat miskin.(A-83)***
Jakarta, Senin, 5 Maret 2007 (Kompas Online)

Jakarta, Kompas – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak akan memberikan perlindungan kepada Menteri Sekretaris Negara Yusril Ihza Mahendra maupun Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Taufiequrachman Ruki dalam penanganan dugaan korupsi yang dikaitkan dengan mereka berdua. Apabila keduanya terkait dalam dugaan tindak pidana korupsi, mereka tetap diproses sesuai aturan hukum yang berlaku.

Sardan Marbun, staf khusus Presiden, menegaskan hal itu seusai diskusi tentang reformasi di lembaga peradilan di kawasan Semanggi, Jakarta, Sabtu (3/3). Marbun juga menyinggung langkah Presiden Yudhoyono mempertemukan Yusril dan Ruki dalam rapat kabinet koordinasi terbatas di Kantor Presiden, 23 Februari 2007. Menurut Marbun, secara pribadi tidak ada persoalan antara Yusril dan Ruki.

Meskipun demikian, Marbun menegaskan, “Kalau Pak Yusril tersangkut kasus korupsi, tetap diproses. Kalau Pak Ruki ada dugaan korupsi, ya tetap diproses. Harus dibedakan (dengan persoalan pribadi).”

Marbun juga memastikan, apabila Yusril menjadi terdakwa dalam kasus dugaan korupsi pengadaan sistem pemindai sidik jari otomatis, dia akan dinon-aktifkan dari jabatannya sebagai Mensesneg. Hal itu tidak dapat ditawar-tawar lagi.

Yusril, selaku mantan Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia, tanggal 15 Februari 2007 diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai saksi dugaan korupsi pengadaan sistem pemindai sidik jari otomatis. Hari berikutnya, Yusril menyampaikan laporan ke KPK dan meminta KPK memeriksa pemimpinnya terkait penunjukan langsung dalam pengadaan penyadap di KPK. Kasus itu mencuat dan memperoleh tanggapan dari masyarakat, sampai akhirnya Yusril dan Ruki dipertemukan Presiden di Kantor Presiden.

Mengenai kasus pengadaan alat penyadap di KPK, Sardan Marbun mengatakan, penunjukan langsung dimungkinkan karena alat sadap tersebut merupakan barang rahasia.

(idr)

Masukan dari PO Box 9949 dan SMS 9949

Jakarta : Dari hasil masukan yang berasal dari masyarakat melalui PO Box 9949 dan SMS 9949, telah berhasil dilakukan klarifikasi, penyelesaian, dan pembenahan sebanyak 1.119 kasus yang disampaikan ke departemen-departemen, kemudian ke Pemerintah Daerah, dan instansi-instansi lainnya. Kasus-kasus tersebut meliputi antara lain pelayanan birokrasi, pungli, proses administrasi, peningkatan kesejahteraan, masalah ganti rugi, masalah keadilan, dan masalah status atau sertifikasi tanah. Demikian dikatakan Sardan Marbun, Staf Khusus Presiden Bidang PO BOX dan SMS kepada wartawan Senin (27/3) siang (27/3).

“Adapun menyangkut penegakan hukum yang kita terima, di PO BOX berjumlah 1.218 surat, permasalahannya antara lain, adalah penyelesaian yang berlarut-larut, konsistensi keputusan pengadilan yang kontradiksi antara Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi sampai Mahkamah Agung. Juga masalah eksekusi yang tidak dilaksanakan, laporan kasus pelanggaran hukum yang tidak dilanjutkan, dan penegakan hukum yang belum sepenuhnya menegakkan kebenaran,” tambahnya.

Lebih jauh Marbun menjelaskan. “Menyangkut masukan-masukan dari masyarakat melalui PO BOX 9949, sampai tanggal 20 Maret 2006, berjumlah 16.625, dan semua surat itu kita usahakan dibalas setelah kita laporkan kepada Presiden SBY, dan Presiden memberikan arahan. Kita jawab satu persatu. Sedangkan SMS sampai sekarang berjumlah 1.976.261. Hal – hal yang menonjol yang kita terima selama periode Maret, meliputi soal calon penerimaan pegawai negeri sipil (CPNS) agar berjalan transparan, jujur, dan bersih.” Kata Sardan Marbun

Soal CPNS tersebut, tambahnya, Presiden sangat peduli dan konsens terhadap pengaduan-pengaduan CPNS ini, dan Presiden telah mengintruksikan kepada instansi terkait dan Pemerintah Daerah agar menberikan penjelasan-penjelasan kepada CPNS secara transparan, agar semua permasalahan di dalam proses penerimaan CPNS itu tidak ada yang tidak jelas, kata Marbun.

Kata Marbun, masyarakat memberi dukungan terhadap pemberantasan korupsi yang dilancarkan oleh pemerintah. “Masyarakat banyak yang mendukung dan menyampaikan agar pemberantasan korupsi ini terus berlanjut dan dalam hal ini pemerintah sangat konsisten bahkan akan meningkatkan pemberantasan korupsi, tentunya proses hukumnya agar dilakukan secara benar. Karena kita mau memperbaiki sistem, jangan sampai mengganggu sistem yang ada,” tambahnya.

“Mengenai pengaduan masyarakat soal Subsidi Langsung Tunai, Biaya Operasional Sekolah, dan pelayanan kesehatan gratis bagi masyarakat miskin, kita juga melakukan pengecekan terus menerus di lapangan, dan kita harapkan masyarakat memanfaatkan telepon 021 3518152 kalau masih ada penyimpangan. Tentunya harus dengan bukti yang konkrit,” jelas Sardan Marbun. (win)

Orang-orang di Lingkaran Dalam Yudhoyono
Wisnu Nugroho
Bagi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi adalah orang paling dekat setelah istrinya, Kristiani Herawati, dan dua anaknya, Agus Harimurti dan Edhie Baskoro. Menurut Yudhoyono, Sudi tiap hari hampir 24 jam ada di sisinya. Kedekatan ini terpupuk jauh sebelum Yudhoyono menjadi Presiden.
Sudi adalah satu-satunya orang di luar keluarga Presiden Yudhoyono yang turut dalam ritual sungkeman di Ruang Raden Saleh, Istana Merdeka, Jakarta, Idul Fitri 2005. Sudi menutup rangkaian sungkeman yang dimulai Presiden Yudhoyono kepada ibunya, Ny Habibah Soekotjo, dan mertuanya, Ny Sarwo Edhie Wibowo. Setelah bersimpuh mencium lutut ibu dan mertua Yudhoyono, Sudi mencium tangan Yudhoyono yang erat digenggamnya sambil membungkuk.
Kedekatan yang berbuah kepercayaan ini membuat Sudi hampir tak pernah absen mendampingi Presiden. Sudi ada saat Presiden bermain voli, bermain golf, menerima menteri, memimpin rapat, dan berkeluh kesah soal berbagai masalah.
Setelah Sudi, pada tingkatan berikutnya Yudhoyono dikelilingi oleh tujuh staf khusus. Mereka adalah dua juru bicara kepresidenan, Andi Mallarangeng dan Dino Patti Djalal, Kurdi Mustofa, Heru Lelono, Irvan Edison, Sardan Marbun, dan Yenny Zannuba Wahid.
masa kampanye Presiden dan Wakil Presiden. Andi merapat ke Cikeas setelah Partai Persatuan Demokrasi Kebangsaan (PPDK) yang dipimpinnya bersama Ryaas Rasyid mendukung Jenderal (Purn) Wiranto. Secara pribadi, Andi mengaku tak nyaman dengan masa lalu Wiranto yang didukung PPDK Akan tetapi, ”nasib baik” lebih dulu berpihak ke Andi. Setelah Yudhoyono terpilih sebagai Presiden, Andi ditetapkan sebagai juru bicara. Bersamaan dengan itu, Dino yang berada di Cikeas menjelang kemenangan Yudhoyono juga ditetapkan sebagai staf khusus. Kalau Andi mengurusi soal dalam negeri, mantan Direktur Amerika Utara dan Amerika Tengah Departemen Luar Negeri ini menjadi juru bicara untuk masalah luar negeri.
Dua staf khusus dengan tugas sama ini seperti saudara kembar dan selalu berdampingan di dekat Yudhoyono atau berbicara atas nama Presiden. Biasanya, setelah mendapati Sudi di sampingnya, Presiden bertanya di mana Andi dan Dino jika mereka tidak terlihat di dekatnya.
Berikutnya adalah Kurdi Mustofa. Tentara aktif berpangkat kolonel ini bertugas sebagai sekretaris pribadi Yudhoyono. Selama kampanye, Kurdi bertindak sebagai semacam kepala rumah tangga Cikeas. Sejumlah kegiatan Yudhoyono semasa kampanye dilakukan atas sepengetahuannya.
Sama seperti Sudi, Andi, dan Dino, Kurdi hampir selalu berada di samping Yudhoyono saat Presiden di Istana maupun di Cikeas. Untuk beberapa kali kesempatan, jika Sudi berhalangan mendampingi Yudhoyono, Kurdi menggantikan perannya sebagai sekretaris. Kurdi mencatat, merekam, dan kerap mengingatkan sesuatu hal mendesak dan penting pada saat Yudhoyono berdialog atau berpidato.
Dua staf presiden lain, mantan anggota tim sukses, dua purnawirawan jenderal Irvan Edison dan Sardan Marbun kini lebih sibuk mengurusi pengaduan rakyat lewat SMS 9949 dan PO BOX 9949 Jakarta 10000. Irvan dan Sardan pun seperti saudara kembar, hampir selalu terlihat bersama. Sardan mengaku staf khusus bidang hukum dan pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme.
Meski bidang tugasnya jelas, yaitu komunikasi politik, Yenny yang dekat dengan Yudhoyono sejak kampanye Presiden dan Wakil Presiden belum terlihat jelas kiprahnya. Belum sekali pun satu-satunya staf khusus perempuan ini terlihat masuk Istana Kepresidenan.
Di luar tujuh staf khusus, Presiden menyiapkan dewan pertimbangan yang bertugas memberi nasihat dan pertimbangan kepada Presiden sesuai amanat konstitusi. TB Silalahi, Ali Alatas, Sjahrir, dan Rachmawati Soekarnoputri dipercaya duduk dalam dewan pertimbangan itu.
Akan tetapi, dari keempat penasihat itu, hanya TB Silalahi yang kerap muncul di Istana Kepresidenan dan sesekali Sjahrir atau Ali Alatas. Rachmawati belum muncul di Istana Kepresidenan. Belum aktifnya empat penasihat itu lantaran UU yang mengaturnya belum terbentuk.
Konsekuensi kedekatan
Kedekatan dengan Presiden membawa konsekuensi dan menggoda banyak kalangan. Tak sedikit pihak luar yang melihat kedekatan itu sebagai peluang untuk mendekati Yudhoyono. Mereka bisa saja menjadi makelar untuk tujuan tertentu. Yudhoyono sadar dengan potensi negatif ini. Itu sebabnya, Yudhoyono mengecam mereka yang menjadi makelar untuk posisi di kabinet. ”Jangan terpengaruh dengan makelar yang mengaku dekat SBY dan meminta imbalan,” katanya kala itu.
Kecaman keras Yudhoyono di Cikeas itu menyengat sejumlah pihak yang memanfaatkan kedekatan dengan Yudhoyono untuk menjadi makelar.
Kini, setelah setahun memerintah, dugaan pemanfaatan kedekatan dengan Presiden itulah yang muncul saat dua surat Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi kepada Menteri Luar Negeri terangkat ke publik dan menjadi kontroversi.
Dua surat yang ditandatangani Sudi, 20 Januari 2005 dan 21 Februari 2005, itu mengungkap hal yang sama, yaitu proposal rencana pembangunan Gedung KBRI di Seoul, Korea Selatan. Pada kedua surat itu Sudi merujuk petunjuk Presiden kepadanya, 13 Desember 2004 yang prinsipnya menyetujui proposal PT Sun Hoo Engineering.
Dalam surat itu Sudi menegaskan, Presiden memberi petunjuk agar Menteri Luar Negeri merespons dan menerima presentasi PT Sun Hoo Engineering dalam kesempatan pertama serta menindaklanjutinya. Kata ”menindaklanjutinya” diberi tekanan dengan huruf miring. Pada surat kedua, Sudi melampirkan 4 berkas proposal dan dua maket.
Dugaan itu belum tentu benar. Apalagi Sudi membantah seraya menyebut naudzubillahi min dzalik (Semoga kita dilindungi Allah dari perbuatan/hal seperti itu) saat ditanya apakah ada unsur kolusi dan penyuapan atas lahirnya surat itu. Karena kontroversi terus menggelinding, Sudi minta diperiksa Kepala Polri Jenderal (Pol) Sutanto. ”Saya ingin hukum ditegakkan. Saya sendiri yang minta diperiksa,” ujarnya. Atas kontroversi ini, Presiden menurut Sutanto juga memerintahkan agar hukum ditegakkan dan mereka yang bersalah diberi sanksi.
Proses hukum atas kontroversi ini baru saja dimulai meskipun akhirnya sudah mulai terbaca. Sudi merasa ada pemalsuan atas suratnya. Apalagi tim penyidik Markas Besar Polri sudah turun. Posisi Sudi justru sebagai pihak yang melaporkan adanya pemalsuan surat. Sejumlah staf Sekretariat Kabinet diperiksa sebagai saksi. Menurut Sutanto, tak tertutup kemungkinan staf itu dijadikan tersangka. ”Ini bukan mencari kambing hitam,” ujar Sudi di depan anggota DPR, Kamis (23/2). ”Ada kejanggalan dalam dua surat itu, yang berbeda dengan format surat resmi yang biasa saya gunakan. Setidaknya ada sembilan unsur yang menunjukkan indikasi surat itu palsu,” ujarnya.
Kita menunggu. Siapa yang akan menerima sanksi. Yang jelas, sejak kontroversi bergulir, di mata publik Sudi tidak terlihat lagi bersama Presiden Yudhoyono dalam berbagai acaranya. Pemandangan yang sebelumnya jarang terlihat.
tudingan yang mengatakan bahwa perpanjangan tugas Komisi Kebenaran dan Persahabatan (KKP) hingga Januari tahun 2008 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai upaya menjegal salah satu calon presiden, dibantah keras.

Staf Khusus Kepresidenan Sardan Marbun langsung angkat bicara. Kepada myRMnews di Kantor Presiden Jumat siang tadi (9/11), Sardan yakin bahwa SBY tidak menggunakan instrumen politik seperti perpanjangan KKP tersebut untuk black campaign. Sardan Marbun, pensiunan jenderal bintang dua yang kini menjadi orang dalam lingkaran Istana.

Parlindungan Purba


Parlindungan Purba
Waktu sudah menjelang dini hari pertengahan tahun lalu. Hujan turun deras sekali. Listrik padam. Namun, belasan manusia mengenakan jas PARLINhujan seadanya menembus malam menuju Pembangkit Listrik GT 2.1, Sicanang, Belawan, Medan, Sumatera Utara. Selain wartawan dan petugas PLN Belawan, di situ ada Parlindungan Purba (45), anggota Dewan Perwakilan Daerah asal Sumut.
Malam-malam ia mengontak wartawan dan pimpinan PLN Pembangkit Sumut untuk melihat langsung, apakah benar GT 2.1 Sicanang rusak dan tengah diperbaiki. Kerusakan itu merugikan jutaan warga Medan dan sekitarnya karena listrik padam berbulan-bulan.
Dalam pembicaraan telepon, PLN sempat hendak menunda agar peninjauan mendadak itu dilakukan esok hari. Apalagi hujan deras sekali di Belawan. Namun, Parlindungan, bapak empat anak itu, bersikeras.
”Saya sudah bawa wartawan,” katanya. Kalimat itu efektif. Di tengah hujan deras dan saat jembatan Sicanang masih rusak sehingga untuk menuju lokasi pembangkit harus menyeberang dengan perahu, peninjauan dilakukan.
Itulah salah satu cara Parlin, panggilannya, mengemban tugas sebagai wakil rakyat. Setiap kali kunjungan ke kawasan yang bermasalah, dia menyetir sendiri mobilnya yang diisi wartawan. Beberapa wartawan bahkan sering tertinggal di belakang, tak bisa mengikuti langkah kakinya yang cepat.
”Saya benar-benar terbantu karena media massa,” ujar politisi yang mengaku sebagai politisi karbitan itu.
Hampir semua nama wartawan media massa di Medan ada dalam ponselnya. Baginya, media massa sangat efektif mendukung proses demokratisasi dan menyuarakan aspirasi rakyat. Maka, kerjanya bahu-membahu dengan media massa.
”Jurnalis tahu mana orang benar, mana tidak. Asal baik, jurnalis akan mendekat. Wartawan bodreks pasti tak mau dekat dengan saya,” katanya berseloroh.
Hidup baik, itulah yang dia pelajari dari orangtua. Bapaknya pekerja swasta, ibunya bidan. ”Sejak kecil kami biasa mendengar bayi pertama kali menangis sebab rumah kami juga menjadi rumah bersalin,” cerita Parlin.
Hidupnya ”lurus-lurus” saja sejak muda. Ia bercita-cita menjadi diplomat setelah mengikuti pertukaran pemuda di Korea. Namun, setelah lulus, ia bergabung dengan usaha keluarga di bidang kesehatan dan penyalur tenaga kerja.
Ia seolah ada hampir pada setiap masalah di Sumut. Seperti harga semen yang melambung, pungutan penerimaan calon pegawai negeri sipil, kelangkaan pupuk, bocornya ujian nasional, krisis listrik, krisis gas, asuransi kesehatan orang miskin, konflik tanah 25.000 warga Sarirejo dengan Angkatan Udara, hingga membantu warga yang terusir karena pembangunan Bandara Kuala Namu.
Cukup menelepon dirinya, menyerahkan bukti-bukti, ia akan meluncur. ”Sebagai anggota DPD saja saya menghadapi hambatan untuk menegakkan kebenaran, apalagi rakyat kecil yang tidak diadvokasi. Di situlah saya meletakkan diri saya, dengan seoptimal mungkin terlibat dan bermanfaat bagi orang lain,” tuturnya. Namun, ia tak mau terlibat dalam masalah korupsi. ”Itu tugas polisi,” jawabnya.
Sekrup kecil
Namun, bagi Parlin, hal yang paling menggembirakan adalah, seperti istilah dia, menjadi sekrup kecil. Misalnya, dalam kesepakatan PT Inalum yang akhirnya mau memasok listrik bagi warga Sumut.
Setiap hari Kamis ia sudah berada di Medan. Senin pagi ia bertolak ke Jakarta. Lain dengan kebiasaan sebagian anggota DPD yang dua bulan di Jakarta dan satu bulan di daerah. Untuk perjalanan itu ia keluarkan dana dari kocek sendiri.
Ia merasa apa yang dia lakukan itu sudah sewajarnya dan memang tugas wakil rakyat demikian. ”Saya berusaha sebaik mungkin, hasilnya bukan urusan saya,” ujarnya.
Para wakil rakyat yang lain pun ia yakini punya semangat untuk memperjuangkan nasib rakyat, meski sebagian masih berupa potensi, belum implementasi. Sebab, katanya, sebagai wakil rakyat, selain paham hukum, tata negara, dan perundang-undangan, juga harus turun ke lapangan.
Untuk menjalankan tugas, sering kali ia merasakan ada kebetulan-kebetulan yang menurut dia aneh. ”Kemarin waktu banjir di Jakarta. Pesawat saya adalah pesawat terakhir yang bisa mendarat di Bandara Seokarno-Hatta. Sesudah itu tak ada orang yang bisa masuk Jakarta,” ceritanya.
Kebetulan itu juga ia rasakan saat menjadi anggota DPD. Sejatinya ia kalah dalam pemilihan anggota DPD dan berada di urutan nomor lima, meskipun ia merasa lebih dari 100.000 suaranya dari Pulau Nias hilang. Ia sempat menggugat, namun kalah.
Ia resmi menjadi anggota DPD baru satu setengah tahun kemudian setelah anggota DPD asal Sumut yang juga mantan Gubernur Sumut, Raja Inal Siregar, tewas dalam kecelakaan pesawat Mandala di Bandara Polonia. ”Ada yang terlibat dalam langkahku. Saya tahu itu Yang Mahakuasa,” katanya.
Independen
Untuk kampanye pemilihan DPD, ia mengaku menghabiskan dana sekitar Rp 1 miliar. Dari jumlah itu, sekitar Rp 500 juta dari dana pribadi, dan sisanya bantuan teman-teman dan masyarakat umum. ”Saya tidak pernah ikut dalam partai politik, dan tidak akan pernah ikut,” ucapnya. Parlin memilih independen.
Kadang kala Parlin tampak sangat emosional ketika melihat hal-hal yang mudah namun dipersulit. Seperti masalah konflik tanah warga Sarirejo yang berada di sekitar Bandara Polonia. Surat DPD ke Badan Pertanahan Nasional (BPN) Pusat yang sudah sebulan dilayangkan tidak ditanggapi. Bersama tiga anggota DPD asal Sumut lainnya, ia mendatangi BPN, namun tak mendapat jawaban memuaskan karena tidak ditemui Kepala BPN. ”Saya benar-benar kecewa,” tuturnya.
Ia melihat kemungkinan perjuangan warga Sarirejo gagal karena kurang tawakal. Maka ia meminta warga Sarirejo untuk berbuat bagi orang lain, tidak hanya menuntut. Warga pun sepakat melakukan donor darah.
Meskipun cita-cita masa kecilnya menjadi diplomat, ia masih harus belajar diplomasi untuk tidak emosional. Parlin lebih ingin menjadi motivator.
Selama menjadi anggota DPD ia melihat rakyat butuh keteladanan. PNS bekerja malas-malasan, sementara pekerja swasta saat pertengahan bulan sudah berpikir gaji habis. ”Tak usah jauh-jauh, untuk mengajak orang membersihkan parit saja kini sangat sulit,” tuturnya.
Banyak orang yang sudah kehilangan idealisme. Mereka merasa tak bisa menjadi diri sendiri. Namun, selalu masih ada harapan untuk memperbaiki semuanya menjadi lebih baik, seperti ditunjukkan Parlindungan Purba….
Sumber: http://www.kompas.com

Sori Siregar


Sori Siregar dilahirkan di Medan tahun l939.Mengarang sejak tahun
l960.Tahun l966 -l970 bekerja di Seksi Bahasa Inggris, RRI
Nusantara III Medan.Tahun l970-l971 mendapat beasiswa dari The
Asia Foundation untuk mengikuti non-degree program di
International Writing Program , The University of Iowa, Iowa
City, Iowa, USA. Tahun l972-l974 bekerja di Radio BBC
London(Seksi Indonesia) sebagai broadcaster.Tahun l974-l979
bertugas sebagai broadcaster juga di Radio Talivishen Malaysia
Seksi Indonesia,Kuala Lumpur.Tahun l979-l982 bertugas di RRI
Stasiun Nasional Jakarta.Tahun l982-l985 bertugas lagi sebagai
broadcaster di radio The Voice of America,Washington,DC,USA.

Selama berdiam di Jakarta ia pernah bertugas di beberapa
majalah sebagai redaktur dan redaktur pelaksana :
ZAMAN,EKSEKUTIF, MATRA,SARINAH,FORUM KEADILAN.
Ia menulis cerpen sejak l960 hingga sekarang dan karyanya
tersebar di berbagai media: SASTRA,HORISON, BUDAYA JAYA,PUSTAKA
dan BUDAYA,KOMPAS, SUARA PEMBARUAN,SARINAH, THE JAKARTA
POST,MEDIA INDONESIA,BISNIS INDONESA, JAWA POS,REPUBLIKA dan
berbagai media lain.

Selain cerpen ia juga menulis novel, dua diantaranya memenangkan
hadiah dari Dewan Kesenian Jakarta yaitu WANITA ITU ADALAH IBU
dan TELEPON.Keduanya kemudian diterbitkan oleh Balai
Pustaka.Sebuah novel lagi(AWAL PENDAKIAN) dan dua kumpulan cerpen
yaitu PENJARA dan TITIK TEMU juga diterbitkan oleh Balai Pustaka.
Kumpulan cerpen lain DI ANTARA SERIBU WARNA diterbitkan oleh
Pustaka Jaya dan kumpulan cerpen lainnya SENJA diterbitkan oleh
Penerbit Nusa Indah, Flores. Kumpulan cerpennya yang terbaru “Suatu Ketika Dalam Hidup Ini” diterbitkan tahun 2003 oleh Penerbit Progres, Jakarta..Menyusul setelah itu kumpulan cerpen “Kisah Abrukuwah” yang diterbitkan PT Gramedia Pustaka Utama.

Selain menulis cerpen dan novel, Sori Siregar juga menulis kolom
di beberapa media, antara lain, MATRA,TEMPO,SUASANA,FORUM
KEADILAN.
Sejumlah buku juga diterjemahkan oleh pengarang ini untuk
Yayasan OBOR dan Pustaka FIRDAUS.
Terakhir bertugas di Radio Namlapanha, Jl.Utan Kayu, Jakarta, sebagai Senior Editor.

Maruli Sitompul


Maruli Sitompul
Maruli Sitompul seorang aktor film senior berdarah Batak kelahiran maruli sitompulCilacap, Jawa Tengah, 21 Desember 1937. Aktor bernama lengkap Hisar Sahat Maruli Sitompul, ini telah membintangi puluhan film selama kurun waktu 1963 -1984 di antaranya film ‘Si Buta dari Gua Hantu’ dan ‘Laki-laki dari Nusakambangan’ yang memberinya penghargaan sebagai Aktor Terbaik FFI 1981.
Dia seorang aktor film Indonesia ternama, baik film laga maupun film drama. Suaranya yang bagus (khas, berdarah Batak tapi berdialek Jawa ) dan sosoknya yang berwibawa menjadikannya seorang bintang yang memiliki daya tarik tersendiri bagi para penontonnya.
Dia memang lahir di Cilacap, Jawa Tengah. Kemudian dibesarkan di Ponorogo, mengikuti kepindahan ayahnya. Ayahnya ingin agar dia masuk sekolah pendeta. Tapi setamat dari SMA, Maruli malah memilih Sekolah Musik Indonesia. Sebelum selesai, Maruli pindah ke Akademi Seni Drama dan Film Indonesia (Asdrafi) di Yogyakarta.
Dari catatan Buku Apa&Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1981-1982, rupanya di situlah awal ia terjun ke dunia film. Ketika itu keadaan ekonomi keluarga sedang tak seberapa cerah. Di samping membiayai hidupnya sendiri, Maruli merasa bertanggung jawab pula atas seorang adik yang masih berkuliah. Sementara itu, Sundjoto Adibroto sedang mencari-cari pemain untuk film yang akan disutradarainya, Tangan-tangan yang Kotor tahun 1963, Maruli melamar jadi pemain dan langsung diterima. Inilah film pertamanya

Kemudian bersama Sanggar Bambu 59, Maruli aktif dalam kegiatan drama dan ikut pementasan keliling. Pada tahun 1966, dia muncul dalam film dokumenter keluaran Departemen Penerangan, Gugur Daun Kembali Bersemi. Permainannya yang menonjol dalam film Si Buta dari Gua Hantu tahun 1970, yang mengantar Maruli meraih gelar Aktor Harapan Terbaik pada pemilihan Best Actor/Actrees PWI Jaya tahun 1971. Maruli juga menerima gelar Aktor Terbaik II di FFI tahun 1979, Aktor Terbaik FFI 1981 (Film: Laki-laki dari Nusakambangan) dan Aktor Pendukung Terbaik FFI 1982 (dalam film Bawalah Aku Pergi).

Filmografi:
– Tangan-Tangan Jang Kotor, 1963
– Gugur Daun Kembali Bersemi,1966
– Petir Sepandjang Malam, 1967
– Si Buta Dari Gua Hantu, 1970
– Tuan Tanah Kedawung 1971
– Perawan Buta, 1971
– Pandji Tengkorak , 1971
– Bengawan Solo, 1971
– Biarkan Musim Berganti, 1971
– Mawar Rimba, 1972
– Mencari Ayah, 1974
– Melawan Badai, 1974
– Maria, Maria, Maria, 1974
– Kemasukan Setan, 1974
– Atheis, 1974
– Ratapan Si Miskin, 1974
– Aku Cinta Padamu, 1974
– Senyum di Pagi Bulan Desember, 1974
– Pengorbanan, 1974
– Pacar Pilihan, 1975
– Semoga Kau Kembali, 1976
– Ingin Cepat Kaya, 1976
– Cinta Kasih Mama, 1976
– Oma Irama Penasaran, 1976
– Mustika Ibu, 1976
– Max Havelaar, 1976
– Sorga Yang Hilang, 1977
– Terminal Cinta, 1977
– Kembang-Kembang Plastik, 1977
– Si Buta Dari Gua Hantu, 1977
– Gersang Tapi Damai, 1977
– Yang Muda Yang Bercinta, 1977
– Jalur Bali, 1977
– Si Doel Anak Modern, 1977
– Napsu Serakah, 1977
– Guna-Guna Istri Muda, 1977
– Gara-Gara Janda Kaya, 1977
– Sisa Feodal, 1977
– Rahasia Seorang Ibu, 1977
– Gara-Gara Istri Muda, 1978
– Pembalasan Guna-Guna Istri Muda ,1978
– Perawan Desa, 1978
– Nopember 1828, 1978
– Dr. Siti Pertiwi Kembali Ke Desa, 1979
– Anak-Anak Buangan, 1979
– Kabut Sutra Ungu, 1979
– Selamat Tinggal Duka, 1980
– Laki-Laki Dari Nusakambangan, 1980
– Bukan Sandiwara, 1980
– Sekuntum Mawar Putih, 1981
– Lima Sahabat, 1981
– Jeritan Malam, 1981
– Remang-Remang Jakarta, 1981
– Sang Guru, 1981
– Bawalah Aku Pergi, 1982
– Midah Perawan Buronan, 1983
– Di Balik Kelambu, 1983
– Budak Nafsu, 1983
– Saat-Saat Kau Berbaring Di Dadaku, 1984
– Sama-Sama Senang, 1984
– Secangkir Kopi Pahit, 1984
– Jejak Pengantin, 1984
Biodata

Nama:
Maruli Sitompul
Nama Lengkap:
Hisar Sahat Maruli Sitompul
Lahir:
Cilacap, Jawa Tengah, 21 Desember 1937

Pendidikan:
– Sekolah Musik Indonesia
– Akademi Seni Drama dan Film di Yogyakarta
Profesi:
Aktor Film

Filmografi:
– Tangan-Tangan Jang Kotor, 1963
– Gugur Daun Kembali Bersemi,1966
– Petir Sepandjang Malam, 1967
– Si Buta Dari Gua Hantu, 1970
– Tuan Tanah Kedawung 1971
– Perawan Buta, 1971
– Pandji Tengkorak , 1971
– Bengawan Solo, 1971
– Biarkan Musim Berganti, 1971
– Mawar Rimba, 1972
– Mencari Ayah, 1974
– Melawan Badai, 1974
– Maria, Maria, Maria, 1974
– Kemasukan Setan, 1974
– Atheis, 1974
– Ratapan Si Miskin, 1974
– Aku Cinta Padamu, 1974
– Senyum di Pagi Bulan Desember, 1974
– Pengorbanan, 1974
– Pacar Pilihan, 1975
– Semoga Kau Kembali, 1976
– Ingin Cepat Kaya, 1976
– Cinta Kasih Mama, 1976
– Oma Irama Penasaran, 1976
– Mustika Ibu, 1976
– Max Havelaar, 1976
– Sorga Yang Hilang, 1977
– Terminal Cinta, 1977
– Kembang-Kembang Plastik, 1977
– Si Buta Dari Gua Hantu, 1977
– Gersang Tapi Damai, 1977
– Yang Muda Yang Bercinta, 1977
– Jalur Bali, 1977
– Si Doel Anak Modern, 1977
– Napsu Serakah, 1977
– Guna-Guna Istri Muda, 1977
– Gara-Gara Janda Kaya, 1977
– Sisa Feodal, 1977
– Rahasia Seorang Ibu, 1977
– Gara-Gara Istri Muda, 1978
– Pembalasan Guna-Guna Istri Muda ,1978
– Perawan Desa, 1978
– Nopember 1828, 1978
– Dr. Siti Pertiwi Kembali Ke Desa, 1979
– Anak-Anak Buangan, 1979
– Kabut Sutra Ungu, 1979
– Selamat Tinggal Duka, 1980
– Laki-Laki Dari Nusakambangan, 1980
– Bukan Sandiwara, 1980
– Sekuntum Mawar Putih, 1981
– Lima Sahabat, 1981
– Jeritan Malam, 1981
– Remang-Remang Jakarta, 1981
– Sang Guru, 1981
– Bawalah Aku Pergi, 1982
– Midah Perawan Buronan, 1983
– Di Balik Kelambu, 1983
– Budak Nafsu, 1983
– Saat-Saat Kau Berbaring Di Dadaku, 1984
– Sama-Sama Senang, 1984
– Secangkir Kopi Pahit, 1984
– Jejak Pengantin, 1984

Penghargaan:
– Aktor Harapan Terbaik pada Best Actor/actrees PWI Jaya tahun 1971
– Aktor Terbaik II FFI 1979
– Aktor Terbaik FFI 1981 (Film: Laki-laki dari Nusakambangan)
– Aktor Pendukung Terbaik FFI 1982 (dalam film Bawalah Aku Pergi)

Alister Nainggolan dan Zulkaidah Harahap


ALISTER NAINGGOLAN dan ZULKAIDAH boru HARAHAP
DUA MAESTRO OPERA BATAK

Di era 1960 hingga 1980-an Alister Nainggolan (70) dan Zulkaidah boru Harahap (61) bergelut dengan seni tradisi Opera Batak. Hingga telah beranak-cucu kini mereka tetap hidup di jalur seni meski tak menjanjikan secara materi. Di penghujung tahun 2007 secuil kabar baik menghampiri mereka. Pemerintah melalui Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata menganugerahi mereka Maestro Award. Ini penghargaan kepada mereka yang dianggap berjasa melestarikan seni tradisi dan mampu menurunkan kemampuannya di bidang seni kepada generasi yang lebih muda. Kepada seniman penerima Maestro Award Pemerintah juga berjanji untuk menyantuni mereka setiap bulannya, mengingat kondisi ekonomi seniman tradisi pada umumnya memprihatinkan seperti kehidupan Alister dan Zulkaidah saat ini.
Itu memang baru janji. Setidaknya hingga Tapian mewawancarai mereka berdua beberapa waktu lalu, mereka mengaku belum menerima santunan tersebut. “Yang saya terima baru suratnya,” ungkap Zulkaidah. “Belum saya terima [uangnya],” tandas Alister juga. Dalam surat yang dikirim kepada mereka tertera nominal santunan sebesar satu juta dua ratus lima puluh ribu rupiah per bulan. Tapi yang akan mereka terima nantinya kurang daripada jumlah itu karena masih harus dipotong pajak.
Apakah merasa cukup dengan tunjangan sebesar itu? “Jelas nggak cukup. Tetapi itu juga kita sudah ucapkan ribuan terima kasih. Sebab kita dihargai seorang seniman, itu pun lebih besar [berharga] dari uang,” jawab Zulkaidah sambil tersenyum. Hal senada diungkapkan pula oleh Alister.
Alister berencana menggunakan sebagian uang yang dijanjikan Pemerintah itu untuk sedikit semi sedikit memperbaharui alat-alat musik yang dimilikinya. Seperti sarune, taganing, gong dan lain-lainnya. Sedangkan sisanya akan ia tabung. Sedangan Zulkaidah berencana memakai uang itu untuk memperbaiki atap rumahnya yang bocor yang membuat dapurnya banjir setiap kali hujan datang. “Kedai saya pun sudah minta diganti [diperbaiki] semuanya,” tambah Zulkaidah
Untuk menyambung hidupnya Zulkaidah telah lama membuka kedai tuak tak jauh dari rumahnya di pinggir Jalan Lumbanri, Desa Tiga Dolok, Kecamatan Dolok Panribuan, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Sedangkan Alister menopang hidupnya dengan bermain musik di sejumlah pesta yang diselenggarakan masyarakat di kota Medan, tempatnya tinggal.

Berbagi dengan orang muda
Alister Nainggolan mulai terlibat dalam dunia seni tradisi ketika ia bergabung dengan kelompok Opera Batak Serindo [Seni Ragam Indonesia] pada tahun 1965. Waktu itu ada pementasan Serindo di tempat kelahirannya Sungai Loba, Tanjungbalai, Sumatera Utara. Di Serindo pada awalnya ia bertugas sebagai tukang angkat barang-barang dan tenaga keamanan. Kebetulan waktu itu juga Alister baru putus sekolah. Alister mengisi waktu luangnya belajar alat-alat musik yang digunakan dalam pertunjukan Opera Batak, seperti sulim, sarune (etek & bolon), hasapi, garantung, dan taganing. Kemudian ia pun mampu menguasai sejumlah alat musik itu, termasuk juga gamelan Jawa. Ini meningkatkan karirnya di Serindo. Ia diberi kepercayaan menjadi pemain musik menggantikan pemusik yang berhalangan atau keluar dari Serindo. Minat menjadi pelakon cerita juga dimiliki oleh Alister. Pertama kali sebagai pemain ia menjadi pelakon parbaringin, pendeta ritual agama Batak dalam lakon cerita Sisingamangaraja.
Alister bertahan di Serindo sampai tahun 1970 sebelum empat tahun kemudian mendirikan grup Tiurma Opera bersama Erliana boru Silaban, sang istri yang juga pemain dan penyanyi di Serindo. Nama Tiurma Opera sendiri diadopsi dari nama anak ketiga mereka yang bernama Tiurma. Dengan grup itulah Alister melakukan pentas Opera Batak secara berkeliling dengan banyak kesulitannya. Sebagai tauke Opera Batak, Alister harus mampu memimpin dan menggaji 40-an pemainnya. Sementara biaya untuk mengurus izin pertunjukkan dan pungutan-pungutan lain lumayan besar jumlahnya. Akibatnya pemasukan bersih dari pertunjukan-pertunjukannya sering tidak bisa menutupi kebutuhan utama para pemain. Akhirnya tahun 1984 Grup Tiurma Opera juga terpaksa dibubarkan, ditambah karena desakan media hiburan terbaru seperti televisi dan film.
Beralih dari pentas Opera Batak, Alister tidak berhenti dengan alat musiknya. Sambil menerima kerja informal, Alister mulai mengajari anak-anaknya bermain musik dan bernyanyi. Boleh dibilang delapan anak Alister mengikuti jejak kepintaran Alister bermain musik. Bahkan dua-tiga orang cucunya diajarinya juga keahlian tertentu dalam permainan Opera Batak.
Berani berkeliling lagi, mereka membawa musik tradisional Batak ke berbagai tempat di Tapanuli dengan nama Nainggolan Bersaudara. Di Sidikalang (Dairi) pada tahun 1994 empat orang anaknya tampil dengan kemampuan mereka masing-masing memainkan alat musik. Tamrin, si anak sulung menjadi pemain hasapi, Lamtiar menjadi penyanyi bersama ibu, dan dua anak putri lainnya memainkan taganing dan odap. Dalam berbagai kesempatan putri-putri Alister yang bermain taganing menjadi perhatian khusus dan daya tarik penampilan Nainggolan Bersaudara.
“Maklumlah bapaknya kan pernah memimpin opera Batak. Jadi sempat keempat orang ini mengikuti saya sebagai orang kesenian. Sekarang ini sebagaian orang ini mengikuti jejak saya sebagai pemain [seni] tradisi. Dan sebagian sudah berhenti,” cerita Alister.
Nasib baik memang terkadang mendongkrak popularitas Alister. Pada Oktober 1994 Alister diajak sebuah grup kesenian dari Medan untuk penampilan ke Jepang. Tentang kesannya pentas di Jepang ia berkata, “memang penghargaan di luar negeri cukup baguslah [terhadap] tradisi Batak.” Sekembalinya dari Jepang, selama beberapa bulan kemudian ia tetap menyalurkan kepiawaiannya di grup tersebut. Tahun 1995 Alister ditawari seorang temannya bekerja di PT. Mujur Timber Sibolga sebagai mandor pertamanan, sekaligus pemain musik di grup binaan perusahaan itu. Lima tahun bekerja di perusahaan itu keadaan ekonomi Alister mulai membaik. Tapi ia tetap merasakan ada yang kurang. Apalagi perusahan itu juga mulai menjadi sorotan publik. Dia mencoba kembali ke Medan untuk bermain musik di pesta-pesta adat dan sesekali pulang ke Sibolga. Tahun 2002 ia putuskan kembali ke Medan bersama keluarga dan mengandalkan panggilan bermain musik ke pesta-pesta adat untuk kelangsungan hidup mereka.
Tahun 2002 Opera Batak mulai dibangkitkan kembali. Sosok Alister sebagai pemain Opera Batak muncul ketika pentas rekonstruksi lakon Guru Saman di dua tempat (kampus Universitas Sumatera Utara dan Taman Budaya Sumatera Utara). Alister kebetulan mendapat pelakon Jakobus, pemilik kedai tuak yang lugu dan sangat lucu. Gaya bermain musiknya juga tidak kalah menarik dari seorang pemain yang lebih dikenal oleh publik selama ini.
Dua tahun kemudian Alister sempat terlibat dalam beberapa episode program Opera Batak Metropolitan di TVRI Medan. Di sini gaya bermain Alister sebagai tokoh Fort de Kock semakin mendongkrak popularitasnya.
Sayang program di TVRI tidak berlanjut. Alister lalu minta dilibatkan dalam pentas Grup Opera Silindung (GOS), sebuah grup percontohan yang mengawali kebangkitan kembali Opera Batak di Tarutung atas dukungan Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara waktu itu. Sejak pentas keliling GOS pada Januari 2005, semangat Alister bermain Opera Batak menggebu kembali. Sambil menekuni kegairahanya itu lagi, dengan terbuka ia membagikan berbagai pengetahuan dan teknik permainan kepada pemain-pemain muda di GOS. Alister juga tidak sungkan-sungkan mennyodorkan istri dan anak-anaknya untuk terlibat setiap kali ia diajak pentas.
Tapi sampai kapan ia mampu berpentas? “Masalah kemampuan ini, mana saya tahu? Tetapi begini, kesehatan saya sekarang ini mungkin masih bisalah empat-lima tahun lagilah. Layak kurasa. Tetapi semua ini Tuhan yang mengatur kesehatan kita,” katanya mantap.

Yang penting tetap berkesenian
Sejak usia 15 tahun Zulkaidah boru Harahap telah bergabung di Serindo. Perempuan kelahiran Bungabondar, Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara ini awalnya bekerja sebagai tukang masak dan penjaga anak-anak para pemain. Tanggungjawab itu dijalaninya selama tiga bulan sebelum akhirnya ia dilatih menari, menyanyi, bermain musik dan menjiwai seni peran oleh Tilhang Gultom, pimpinan Serindo waktu itu.
Di antara para seniman Opera Batak terdahulu Zulkaidah terlihat sebagai satu-satunya pemain perempuan yang pintar main seruling dan serunai kecil. Ciri khas lengkingan vokalnya juga membuatnya laris. Tak heran bila pada masa kejayaan Serindo penampilan Zulkaidah sehari-hari berhiaskan emas di leher, tangan serta kaki. Rekaman kaset berisi lagu-lagu Opera Batak yang dinyanyikannya beredar pertama kali tahun 1968, beberapa saat setelah ia berumah tangga. Beberapa albumnya juga masih beredar di pasaran saat ini. Tapi ia tidak pernah menikmati hasilnya lagi. Nampaknya Zulkaidah sudah terbiasa menerima janji-janji kosong dari produser kaset dan para agen.
Kini selain berjualan tuak di kedainya untuk menafkahi hidup, ia mengolah sepetak ladang. “Menanam padi, jagung. Tetapi itu pun usaha orang, itu kita sewa. Kalau kita punya sendiri, nggak ada,” jelas ibu lima anak dan nenek sepuluh cucu ini.
Tahun 1982 Zulkaidah sempat memimpin Grup Serindo. Menurut pengakuannya tanggungjawab itu ia terima dengan terpaksa karena Gustafa Gultom, keponakan Tilhang yang memimpin kelompok ini sejak tahun 1974, mulai sakit-sakitan di Jakarta. Sedangkan keturunan keluarga Tilhang yang tinggal di kampung tak ada yang bersedia menjalankan grup itu. Zulkaidah terpaksa menggadaikan sawah dan semua perhiasannya untuk modal menggerakkan Serindo. Ada 70 orang anggota Serindo yang harus dihidupinya waktu itu. Akhirnya tahun 1985 Serindo benar-benar bangkrut sewaktu pentas keliling di Tapanuli Selatan. Rupanya Opera Batak kalah bersaing dengan tontonan sirkus yang lebih disukai masyarakat di sana waktu itu. Kebangkrutan itu sempat membuat Zulkaidah berniat bunuh diri. Apalagi tak ada uang sepeser pun untuk keluar dari wilayah itu.
Menyadari semua itu Zulkaidah meratap hingga mengundang orang-orang ramai berdatangan. Sekilas dalam keramaian itu dia pun mendapat inspirasi. Ia mengatakan uangnya hilang sementara ia harus kembali ke Jakarta. Serindo memang sudah sempat hijrah ke Jakarta tahun 1974 di bawah pimpinan Gustafa Gultom. Bahkan tahun 1981, Zulkaidah sudah terlibat dalam pementasan Tarombo Siraja Lontung yang diadakan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Mungkin pengalaman “marjakarta” itulah yang menjadi sumber inspirasinya untuk sedikit berbohong waktu itu. Dan orang-orang yang berdatangan karena ratapan Zulkaidah akhirnya benar-benar membantunya. Dua jam kemudian mereka menaikkan Zulkaidah ke bus luar kota yang kebetulan lewat membawanya ke Jakarta.
Di ibukota Zulkaidah kembali menjumpai AWK Samosir, pimpinan Serindo cabang Jakarta. Mereka bermarkas tak jauh dari Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur. Setelah beberapa bulan menumpang di rumah AWK Samosir, Zulkaidah pulang ke kampung suami di Tigadolok, Simalungun. Sejak saat itu pula Zulkaidah berpikir untuk berusaha sendiri demi mempertahankan kehidupan keluarga. Dia pun mulai berjualan kacang dan tuak ke pesta-pesta adat di Simalungun dan Samosir. Sambil menunggu jualan habis, Zulkaidah menarik seruling dari kantungnya. Tiupan serulingnya itu sering mengusik orang-orang di setiap keramaian pesta. Entah karena tertarik atau iba, jualannya pun laris keras. Bahkan suatu ketika penyelenggara pesta memborong seluruh barang dagangannya sebelum menyuruhnya menghentikan permainan serulingnya. Rupanya, ketimbang acara pesta, suara serulingnya lebih memancing perhatian orang ramai.
Beberapa waktu kemudian Zulkaidah tak lagi berjualan secara keliling. Di Lumbanri, Tiga Dolok ia memutuskan membuka kedai. Orang mengenalnya sebagai tenda biru karena atap kedai gorengan itu dilapisi dengan plastik berwarna biru. Masuk ke Tiga Dolok dari arah Siantar, tenda biru itu terletak kira-kira tiga ratus meter dari Simpang Kawat.
Tahun 1990 dan 1991 Zulkaidah sempat berkeliling Eropa dan Amerika mementaskan kebolehannya berkesenian. Ia pun menyimpan tulisan-tulisan yang merekam perjalanannya itu. Awal Maret 2006 PLOt (Pusat Latihan Opera Batak) mengajak Zulkaidah boru Harahap untuk pementasan Sipurba Goring-Goring di Balige. Lengkingan suaranya menyanyikan lagu-lagu Opera Batak belum berubah jauh dari suaranya dalam album-album yang sudah “dibajak” itu. Zulkaidah seperti tidak kelihatan lelah dengan nyanyian dan tiupan serulingnya. Tapi kadang sejenak dia mengumpulkan kembali tenaganya dengan sebatang rokok di luar panggung.
Di usia yang semakin senja istri Pontas Gultom alias Zulkarnaen ini masih menyimpan harapan agar suaranya menyanyikan kembali lagu-lagu Opera Batak masuk dapur rekaman lagi. Tapi ia tak mau terganggu bila harapannya itu tidak menjadi kenyataan. Sebab yang lebih penting baginya saat ini ialah tetap berkesenian bersama Opera Batak. Pada April lalu Zulkaidah tampil bersama Alister dalam pertunjukan Opera Danau Toba di Batam, Kepulauan Riau dan Pematangsiantar, Sumatera Utara. Kedua maestro ini telah mengobati kerinduan para pecinta seni tradisi Batak. Semoga masih tersedia banyak ruang dan kesempatan bagi mereka untuk terus berkesenian. (Thompson Hutasoit)

ket: Sudah pernah diterbitkan di majalah TAPIAN

Chairuman Harahap


Nama Chairuman Harahap sudah tak asing lagi bagi masyarakat Sumatera Utara (Sumut). Lelaki berusia 61 tahun ini dikenal tokoh yang selalu berada di tengah pusaran politik masyarakat Sumut. Maka itu tak heran, sosoknya seolah tak pernah lekang dari ingatan masyarakat Sumut.
Mantan Kepala Kejaksaan Tinggi Sumut ini juga dikenal sebagai sosok pekerja keras, ulet dan pemberani. Dia tidak pernah merasa takut dengan ancaman dan teror. Dalam bukunya berjudul “Merajut chairuman111Kolektivitas Melalui Penegakan Supremasi Hukum,” Chairuman mengatakan: “Kalau takut, tak usah jadi Jaksa”.
Menghadapi Pemilu 2009 ini, Chairuman maju sebagai calon anggota legislatif (caleg) Partai Golkar untuk DPR RI dari Daerah Pemilihan (Dapil) II Sumut. Di sela-sela kesibukannya menerima kunjungan masyarakat Sumut, Chairuman berkenan memberikan waktu untuk wawancara dengan Portal ANTARA Sumut. Dia lagi-lagi tampil bersahaja dan dengan kerendahan hati walau kini sudah diatas angin untuk duduk sebagai Anggota DPR RI.

Anda menjadi caleg Partai Golkar pada Pemilu 2009. Bagaimana ini bisa, padahal selama ini Anda tak dekat dengan Partai Golkar?
Teman-teman mengajak untuk memilih Golkar. Dari dulu Golkar sebagai partai pembaharu selalu melakukan perubahan-perubahan. Bahkan Golkar menciptakan suatu kehidupan politik yang melampui zamannya. Sebenarnya, Golkar sudah menyiapkan diri bahwa pasca pak Harto kondisi politik sudah harus multi partai.
Tetapi di Partai Golkar sangat heterogen, sedang Anda baru masuk kesana?
Ya, Golkar itu termasuk masyarakat yang heterogen dan itu kelemahan dan kekuatannya dan itu normal saja. Golkar sebenarnya ingin untuk menaikkan moral bangsa ini dan ini memang menjadi pilihan-pilihan kita. waktu itu memang ada program-program untuk menarik para senior untuk masuk ke dalam Golkar dalam rangka untuk memperkuat Golkar itu.
Bagaimana strategi Partai Golkar untuk memenangkan Pemilu 2009?
Rakyat bukan sebenarnya bukan untuk ditaklukkan, bukan untuk dikuasai, suara merekalah yang sebenarnya harus kita serap. Kepentingan merekalah yang harus kita perjuangkan. Jadi orientasinya harus kesana, jadi itu adalah perubahan yang harus kita lakukan, sebenarnya sudah sangat terlambat untuk merubah itu. Jika kolonial dulu itu tujuan bagaimana menundukkan rakyat ini supaya patuh, tunduk kepada mereka agar mudah mereka memerintah.
Golkar melakukan reformasi politik dengan sedikit memberikan celah untuk tidak sejalan dengan UU No 10 Tahun 2008 soal caleg yang bisa mencapai suara diatas 30 persen. Apa pandangan Anda soal ini?
Golkar menginginkan suara terbanyak. Usul pemerintah untuk itu suara terbanyak tapi diputuskan 30 persen. Tapi internal golkar membuat didalam, bukan merubah undang-undang itu tapi dia buatdidalam supaya lebih demokratis suara terbanyak. Jadi semua caleg itu mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih untuk duduk dan itulah adalah suatu persamaan dalam politik.
Sebagai caleg DPR RI dari Sumut II dimana basis pendukung Anda?
Basis kita tentu masyarakat yang sepaham dengan perubahan-perubahan yang ingin dilakukan. Metodenya tentu kita harus mendekatkan diri. Melihat secara langsung kesulitan ekonomi yang dihadapi rakyat kita.
Kira-kira, bagaimana Anda kini menggambarkan kondisi diri Anda?
Manusia itu tidak ada yang sempurna. Dimana ada kekuatan disitu ada kelemahan. Saya selalu mempunyai keinginan untuk berbuat bagi masyarakat kita. Jadi pertarungan kita ini bukan untuk kekuasaan. Bagaimana kita mewujudkan cita-cita dan saya selama ini berusaha menegakkan hukum dengan benar. Saya juga mengalami kezholiman-kezholiman, ketidakadilan. Intinya kita ingin masyarakat kita merasa aman. Dan aman itu apabila kalau hukum tegak.
Diakhir wawancara Chairuman juga sempat menitipkan pesan singkatnya untuk berkomunikasi melalui blogsitenya di Blog Chairuman.
Data Pribadi
Nama : H Chairuman Harahap SH MH
Tgl Lahir : Gunungtua, 10 Oktober 1947
Nama Ayah : H Sutan Mangarahon Harahap
Nama Ibu : Hj Aisyah Lubis
Istri : Ratna Sari Lubis
Anak-anak :
1. Wannahari Harahap
2. Maulida Sari Harahap
3. Diatce Gunungtua Harahap
4. Muhammad Rizki Harahap
Pendidikan Formal
1. Sekolah Rakyat (SR) Negeri 2 Gunungtua (1960)
2. SMP Negeri Pargarutan Padangsidempuan (1963)
3. SMA Negeri III Medan (1966)
4. Ilmu Hukum Universitas Padjadjaran Bandung (1974)
5. Magister Hukum Universitas Padjadjaran (2005)
Pendidikan dan Latihan (Diklat)
1. Diklat Pembentukan Jaksa (1978)
2. Penataran Intelejen (1980)
3. Sus Perwira Intelejen Seintelstrat Bais ABRI Bogor (1980)
4. Suspa Intelstrat Seintelstrat Bais ABRI Bogor (1984)
5. Pendidikan Jaksa Spesialis (1989)
6. Sespanas Promosi IV E (1995)
7. Analis Kebijakan (1996)
8. KSA VIII Lemhannas (2000)
Jenjang Karier
1. Kepala Kejaksaan Negeri Bengkalis Riau (1991)
2. Asisten Tindak Pidana Khusus Kejati Maluku (1993)
3. Kepala Kejaksaan Negeri Bekasi Jawa Barat (1994)
4. Asisten Tindak Pidana Umum Kejati Sumatera Selatan (1995)
5. Wakajati Sulawesi Utara (1996)
6. Inspektur Padang Bidang Pengawasan Kejagung (1998)
7. Kepala Pusat Operasi Intelejen (Kapusopsin) Kejagung (1999)
8. Direktur Tindak Pidana Ekonomi Pidsus Kejagung (2000)
9. Direktur Upaya Hukum dan Eksekusi Tindak Pidsus (2000)
10. Staf Ahli Jaksa Agung (2000)
11. Anggota Steering Committee RUU Pembentukan Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
12. Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara
13. Sekretaris Jaksa Agung Muda Pidana Umum
14. Deputi Menko Polhukkam Bidang Hukum dan HAM
Sumber: http://www.antarasumut.com

Riris K. Toha Sarumpaet


Hatinya Untuk Anak Indonesia Riris

Dia mendedikasikan hidupnya untuk membangun masa depan anak-anak Indonesia. Dia sadar masa kanak-kanak adalah saat paling penting untuk menciptakan masa depan Indonesia. Masa depan yang lebih berkualitas tentunya. Karenanya, untuk sampai pada tujuan tersebut anak-anak perlu dididik banyak membaca. Tapi, bukan sembarangan bacaan, melainkan bacaan-bacaan bermutu. Itulah perhatian besar Prof.Riris K.Toha Sarumpaet, Guru Besar Universitas Indonesia, penulis buku, drama, cerita pendek, serta pembicara seminar dunia pendidikan.
Riris tidak hanya pakar dalam bidangnya. Suaranya enak didengar. Ada kesadaran dramatik dalam cara bicaranya, yaitu dengan memainkan tempo dan tinggi rendahnya nada dalam berbicara. Hasilnya akan memikat siapa pun yang mendengar. Dalam wawancara yang berlangsung di rumahnya di Kelapa Gading, Jakarta Utara, dia berbicara banyak hal tentang dunia anak. Terutama Pustaka Kelana yang dia kelola bersama teman-temannya.
“Saya ini ahli sastra anak-anak dan banyak menulis untuk anak-anak, di koran, di majalah dan lain-lain. Curahan hati saya memang untuk membangun kesadaran masayarakat akan pentingnya masa kanak-kanak Kita kan selalu melihat ke depan,” ujarnya memulai pembicaraan. Berbicara soal buku, ia selalu tampak antusias. Bagi Riris, buku tidak hanya sekedar memuat informasi. Buku pun tidak hanya sekedar jendela menatap dunia.
“Bagi saya buku itu adalah kehidupan. Jadi bagaimana cara kita bergumul, menghadapi dan memenangkan kehidupan, mau tak mau kita harus masuk ke dalam dunia buku,” katanya ketika menjabarkan arti buku baginya. Namun sayangnya, katanya, tak semua anak-anak Indonesia bisa memiliki akses membaca buku, apalagi buku-buku bermutu. Jumlah perpustakaan yang ada pun jauh dari memadai serta sepi pula dikunjungi oleh anak-anak. Anak dan remaja lebih suka jalan-jalan ke mall daripada pergi ke perpustakaan.
“Cobalah Anda pergi melihat ke perpustakaan. Buku anak-anak banyak, tapi tidak disentuh, dan tidak dibaca. Kertas bukunya masih bagus-bagus, rapi-rapi, dan masih mengkilat. Padahal buku yang terbaca, apalagi sering dibaca, justru akan tampak jadi kumal, lecek dan hampir rusak. Kapan kita bisa melihat anak-anak itu datang berduyun-duyun ke perpustakaan dan melihat mereka bergembira karena tahu bahwa di perpustakaan itu banyak ilmu pengetahuan,” katanya lebih lanjut. “Itulah yang membuat saya dan kawan-kawan terpikir untuk membuat suatu perpustakaan yang dekat pada anak-anak dan remaja. Tetapi, tentunya kami mempertimbangkan anak-anak itu tetap sebagai anak-anak,” ujar wanita kelahiran Tarutung, 24 Pebruari 1950 silam.
Curahan hatinya pada anak-anak Indonesia banyak dia ungkapkan lewat karya tulis. Karya tulisnya antara lain, Apresiasi Puisi Remaja, Sastra Masuk Sekolah, Nanda (drama), Perempuan Di Rumah Tuhan, Cairan Perempuan (monolog) dan lain-lain. Bahkan skripsi yang dia tulis untuk mengambil gelar sarjananya di Fakultas Sastra, Universitas Indonesia, tahun 1975 silam, berbicara tentang bacaan anak-anak.

Pustaka Keliling dan Kotak Kelana.
Menumbuhkan agar minat baca anak dan remaja berkembang, salah satu caranya ialah memberikan akses yang mudah bagi mereka untuk membaca buku. Itulah gagasan awal berdirinya perpustakaan Kelana. Waktu itu tahun 1995. Pada awalnya Nasti Reksodiputro, salah seorang pensiunan dosen UI, bersama Riris Sarumpaet, Grace Wiradisastra dan Olvia Beauthauville sepakat untuk mendirikan sebuah yayasan bernama Pustaka Kelana. Kegiatan yayasan ini untuk menyelenggarakan perpustakaan keliling di seputar Jakarta dengan menggunakan sejumlah mobil. Mobil perpustakaan ini akan mendatangi pelosok-pelosok Jakarta, dan menggelar buku bacaan bagi anak dan remaja. Selain itu, mereka menyediakan sebuah rumah berlokasi di Rawamangun, Jakarta Timur, sebagai rumah pustaka yang diberi nama Pustaka Mangkal.
Tahun 1996 Pustaka Kelana diresmikan beroperasi oleh Menteri Pendidikan Nasional, kala itu dijabat oleh Prof.Dr. Wardiman Djojonegoro. Kendaraan mobil pertama diperoleh dari sumbangan persatuan alumni Jerman, dan mobil kedua dari Citibank Peka (Peduli dan Berkarya). Sedangkan koleksi buku Pustaka Kelana berasal, selain dari sumbangan beberapa pribadi, beberapa penerbit dan bantuan dari Coca-Cola Foundation Indonesia. Buku-buku perpustakaan dalam edisi bahasa Inggris antara lain kontribusi dari British Council, Women’s International Club, University of Canberra, lembaga dari Jepang dan lain-lain. Kerjasama dengan sejumlah lembaga itu murni untuk membangun kesadaran membaca dan memberikan akses yang mudah bagi anak Indonesia untuk mendapatkan bacaan. Namun, mereka tetap selektif terhadap buku yang masuk.
“Buku-buku pustaka Kelana memang kita pilih. Saya harus melihat lebih dulu bagaimana moral buku tersebut dan visi apa yang hendak diberikan pada anak yang akan membacanya. Misalnya buku biografi seseorang. Dalam tampilannya bisa saja super lux, tebal dan bagus, tetapi bila saya tahu orang itu koruptor, maka buku itu tak akan masuk ke perpustakaan kami. Atau buku-buku yang bersifat rasialis, pelecehan seksual dan merendahkan martabat manusia, itu juga akan ditolak oleh pustaka Kelana. Kami harus memberi inspirasi positif kepada anak dan remaja melalui apa yang mereka baca,” jelas Riris. Koleksi pustaka itu kini lebih dari 9000 buku dengan tiga buah mobil Kelana yang menjelajah kampung-kampung dan sekolah-sekolah di Jakarta.
“Bila mobil pustaka Kelana telah tiba dilokasi, biasanya anak-anak pada riuh dan senang. Para pekerja pustaka kami, lalu menggelar tikar dan mereka kemudian melayani anak dan remaja yang ingin membaca di situ. Tiap mobil pustaka Kelana bisa melayani 11 tempat dalam setiap minggunya,” ujarnya lagi memaparkan pelayanan mobil Kelana. Tapi, tidak hanya itu. Di pustaka Kelana anak-anak itu dididik bagaimana cara membaca yang benar. Kadang mereka diajak untuk membuat abstraksi. Kadang diajak bertukar pikiran. Kadang diajak mendongeng. Kadang mereka diajak dalam suatu kegiatan lomba. Lain lagi di pustaka Mangkal. Anak yang datang bisa membaca buku di situ, tetapi juga tersedia ruang untuk nonton. Anak-anak yang nonton akan didampingi dan kadang diajak diskusi tentang film yang telah mereka tonton.
“Jadi pendekatan kami sebetulnya lebih kekeluargaan, tetapi punya disiplin pendidikan. Anak-anak anggota pustaka Kelana dididik untuk berpikir kritis, tetapi juga diajar supaya punya keperdulian pada teman-temannya,” ujar penerima penghargaan Satyalencana Karya Satya 20 tahun dan Dosen Teladan I, Fakultas Sastra UI tahun1994.
Ada lagi yang disebut Layanan Kotak Kelana. Kotak Kelana ini sering mereka kirim ke sekolah-sekolah SD dan SMP di Jakarta untuk mendapat pinjaman buku dari mereka. Setiap Kotak Kelana berisi antara 50 hingga 75 buku, baik berupa buku fiksi maupun ilmu pengetahuan, dalam bahasa Indonesia maupun Inggris. Menurut Riris, Kotak Kelana ini bahkan sudah melayani lintas pulau, menjangkau wilayah-wilayah nusantara, antara lain Aceh, Ambon dan daerah-daerah pulau Jawa lainnya.
“Waktu masa-masa banjir dulu dan gempa meluluh-lantakkan kota Yogya, kami mengirimkan banyak Kotak Kelana, serta memasang tenda-tenda untuk membantu anak-anak supaya tetap bisa belajar. Para relawan kami kirim untuk membantu anak-anak supaya tetap bisa belajar,” katanya mengenang.
Tapi, Kotak Kelana ini juga bisa dipesan. Misalnya di suatu daerah, ada seseorang minta dikirimi Kotak Kelana, maka si pemesan hanya membayar satu kali untuk jumlah buku yang ada di dalamnya. Untuk bulan-bulan selanjutnya, buku-buku yang telah habis dibaca bisa ditukarkan dengan buku lainnya tanpa harus membayar lagi.
Perpustakaan Mobil Kelana dan Layanan Kotak Kelana, kata alumni University of Wisconsin, Madison, Amerika Serikat ini, dalam keseharian dijalankan oleh tiga orang karyawan, dan selebihnya dibantu oleh para relawan. Biaya operasional mereka sekitar Rp 20 juta perbulan. Dana bantuan yang mereka dapat dari sumbangan pribadi maupun kerjasama dengan lembaga atau perusahaan yang memiliki kepeduliaan terhadap anak- anak Indonesia, itulah yang mereka kelola. “Tapi, setiap dana yang kami terima kami buat laporannya. Tak jarang kami, anggota yayasan, harus menutup kekurangan dana operasional dari kantong sendiri,” ujarnya tersenyum.
Sehari-hari Riris mengajar di Universitas Indonesia untuk mata kuliah pengkajian drama, pengkajian cerita anak dan metode penelitian sastra. Kini, sebagai dosen luar biasa untuk program pasca sarjana UI, dia antara lain mengajar sastra kontemporer dunia.

Bangga Sebagai Perempuan Batak.
Riris mengaku bangga terlahir sebagai wanita Batak. Katanya, sifat berterus terang, tegas dan kritis serta peduli pada sesama yang jadi bagian dari integritas dirinya itu, diturunkan dari orangtuanya. Riris, anak kelima dari sembilan bersaudara, lahir dari pasangan Saladin Sarumpaet dan Yulia Hutabarat. Orangtuanya, Saladin Sarumpaet, dahulu dikenal sebagai pendiri Partai Kristen Indonesia (Parkindo) dan pernah menjadi Menteri Pertanian dan Perburuhan dalam masa pemerintahan revolusioner buatan PRRI/Permesta. Menjelang akhir hidupnya, Saladin Sarumpaet pernah mengajar di Sekolah Tinggi Theologia Jakarta, selain memberi andil mendirikan gereja HKBP Rawamangun. Juga pernah sebagai pejabat aktif di Dewan Gereja Indonesia (DGI). Ibunya, Yulia Hutabarat, dahulu dikenal sahabat dekat Mohammad Hatta dan pernah menjabat Ketua Persatuan Wanita Kristen Indonesia (PWKI) Sumatera Timur serta anggota Konstituante.
Pergaulannya dalam lintas budaya dan disiplin ilmu mempertemukannya dengan seorang pria Sunda, Ir. Franciscus Toha, pengajar di Departemen Teknik Sipil, ITB. Mereka saling jatuh cinta dan kemudian menikah pada 8 Desember 1979 di Wisconsin, Amerika Serikat. “Dia bangga dan senang dapat wanita Batak,” kata Riris ketika menyinggung sekilas perjalanan rumah tangganya. Suaminya pun telah lama dirajahon, diberi marga Manulang.
Menurut suaminya, perempuan Batak itu memiliki karakter kuat dan bertanggung jawab. Dari Buah perkawinan mereka, Tuhan telah mengaruniakan pada mereka tiga orang putri yaitu Risa, Astrid dan Thalia Toha. Biduk rumah tangga yang telah mereka dayung selama hampir tigapuluh tahun, hanya dimungkinkan karena adanya saling pengertian antara mereka. “Makin hari rumah tangga kami makin baik, makin harmonis, seiring dengan umur kami yang semakin tua. Karena apa? Karena dialah yang paling mengenal diri saya dan sayalah yang paling mengenal pribadi suami saya,“ simpulnya seraya tersenyum bahagia. *** Sahala Napitupulu

Bonar Gultom (GORGA)


Drs. Bonar Gultom (GORGA)Bonar Gultom
Tempat Tanggal/Lahir;
Siborongborong, 30 Juni 1934
Pendidikan;
Sekolah Rakyat SR di Dolok Sanggul, Humbang-Hasundutan
Mulo di Siborongborong, Tapanuli Utara
Sarjana dari Universitas Indonesia, Jakarta (1963). Selalam dalam kuliah beasiswa penuh oleh Perusahaan Belanda: NV Vereenigde Deli Maatschappijen.
Pekerjaan;
Jabatan Terakhir sebelum pensiun pada tahun 1989 adalah Direktur Komersial dan Umum pada PT Perkebunan Negara XIII, Bandung, Jawa Barat.

Keluarga:
Istri Leila Ester Sitompul
Anak; tiga putera dan tiga putrid
Menantu empat orang anak
Cucu sepuluh orang cucu (2006)

Pengalaman Musik
Otodidak. Sejak kecil senang menyanyi dari umur delapan tahun
Juara I menyanyi seriosa Pekan Kesenian Mahasiswa Seluruh Indonesia pada 1958 di Yogyakarta dan tahun 1960 di Denpasar, Bali
Juara-I menyanyi seriosa bintang Radio Republi Indonesia di Medan dan kemudian di Jakarta (Nasional) 1968
Aktif sebagai anggota Paduan Suara Gereja sejak SMA dan diteruskan selama Mahasiswa.
Pemimpin dan pelatih Suara Gerejawi dan Nasional sejak Mahasiswa 1958 hingga sekarang.
Paduan Suara NHKBP Menteng Jalan Jambu, Jakarta.
Paduan Suara SERDAM ROHANI, Jakarta, mendampingi bapak E.L Pohan
Paduan Suara Ibukota, Jakarta mendampingi Binsar Sitompul
Paduan Suara Pria Immanuel GKPI Medan
Paduan Suara Gabungan GKPI Medan
Paduan Suara Exaudi GKPI Ciliwung-Bandung
PS Anugerah HKBP Jakarta
PS Gerja Bethel Indonesia, Tanjung Priok- Jakarta
PS Sola Gratia GKPI Menteng- Jakarta
Khusus sebagai PS Anugerah HKAP Jakarta, Gorga—pernah mengantarkan 2 kalu Paduan Suara ini tampil dalam konser internasional di Amerika Serikat, Yaitu 1991 dalam tour – I ke Los Angeles Conductor
memimpin gabungan Paduan Suara yang terdiri dari kontingen yang berasal dari 33 Provinsi di Indonesia, menyanyikan Mnazmur 150 ciptaanya yang menjadi lagu wajib pada Pesperawi Nasional ke VI di Istora Senayan, Jakarta, dihadapan Presiden RI pada saat itu Gus Dur hadir
mencitakan 150 lagu rohani dan non rohani—sekaligus mengrasemen untuk segala jenis musik dalam Paduan Suara.
Dalam Lomba Pasparawi Nasional ciptanya menjadi lagu wajib diantaranya;
“Doa Bagi Negara” menjadi lagu wajib PS-SATB Golongan A pada Pesparawi ke III di Medan 2006
“Langit Menceritakan” menjadi lgu pilihan wajib PS-SATB golongan B pada Pesparawi ke VIII di Medan tahun 2006
“Yesusku juru Selamatku” menjadi lagu pilihan trio SSA pada Pesparawi ke VIII di Medan tahun 2006
“Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung” menjadi lagu wajib solis remaja pada Pesparawi ke Vii di Makassar tahun 2003
“kepada siapa Aku Harus Takut” menjadi lagu pilihan pertama PS-SATB pada pesparawi ke VII di Makassar tahun 2003
“Pujian Allah di tempat kudusNya” menjadi Lagu Wajib pada Pesparawi ke VII di Jakarta tahun 2000
“Persaudaraan Yang Rukun” menjadi lagu pilihan pada Pesparawi ke aV di Surabaya 1996
hampir semua lagu ciptaanya telah dikenal dan dinyanyikan menjadi judul album mereka. Lalu tersebut dipakai sebagai lagu wajib.
Dan menerjemahakan lagu-lagu asing ke dalama bahasa Indonesia dan bahasa Batak, sekaligus membuat aransemen paduan suaranya, antaranya;

O Holy night (Malam Suci?Borgin Na Badia) karya Adolphe Adams
No Body Knows (Holan Tuhan Yesus) Negro Spritual
Deep River (didia) Negro Spritual
My Heavenly Father Watches Over me (Tuhan ku menjaga aku) karya Charles Gabriel
God And Alone (hanya Allah Hu ) karya Phil Mc Hugh
Majesty (Pujianlah Yesus) karya Jack Hayfort
He is Exalted (Tuhanlah Raja Semesta) karya Twila Paris
You Raise Me Up karya Rolf Lovland (dipopulerkan oleh Josh Groban dan davi Foster)
Bagai Tetesan Embun karya Putri dan Maruli Simorangkir ,SH
Terima Kasih Tuhan karya Putri dan Maruli Simorangkir, SH
Bunga Pansur karya Cadman dan roger Wagner
Dolok Betany karya NN (Transkripsi dari kaset berbahasa Jerman)
Yesus Gembala Yang Baik karya H. R Palmer
Were You There (Uju I di atas ni sada dolok) Negro Spritual
Natarsilang do Kristus karya W.A Mozart
Narer My God to Thee karya sarah Adams dan Lowell Mason
Holan Tuhan Jesus, Negro Spritual
Nyanyian Kidung Natal karya W.A Mozart
Nearer my God to Thee karya Sarah Adams dan
Gog be With You Sai Tuhanta mandongani Ho karya William G. Tomer
Laiseir d’Amour Tuiahn Berkatilah karya Giovani Martini
Sejauh Timur dari Barat karya Jonathan Prawira
Maha Mulia (Namarmulia) karya G.F Handel
Ada saatnya kita jumpa karya Taralamsyah Saragih
Ya Allah Bapa karya st A. K Saragih
Tumbuhan Poyon-Poyon karya St A.K Saragih
The Prayer karya Carol Sager dan David Foster
Ave Maria karya Franz Schubert

Lagu Lagu Etnik yang daransemen ke Bahasa Inggris diantaranya:
Yamko Rambe Yamko (Papua) menjadi stand Tall, God Loves Us ALL
Jali-jali (Betawi) menjadi Up Anda Down
Bukit Kemenangan Karya Djuahari menjadi My God is Near Me

Karya Opera
Argado Bona Ni Pinasa (Opera Batak), 1969
Parsorion ni Parmitu (opera Batak), 1970
Kembali ke Betlehem (Opera Natal) 1972
Putih dan Hitam (opera Natal) 1972
Nostalgia Masa Hasiswa (Opera Komedi) 1979
Tumba Singamangara XII (Opera Sejarah) 1980
Kasih Paling Agung (Opera Paskah) 1982
Lilin-lilin Perdamaian (Opera Natal) 1983
Si Boru Tudosan (Opera Budaya Batak) 1989

Buku;
Kumpulan Karya Bonar Gultom (Gorga) diterbitkan Yayasan Musik Gerja (Yamuger)
• Kumpulan Lagu-lagu Rohani Untuk Paduan Suara jilid I 2002
• Kumpulan Lagu-lagu rohani untuk Paduan suara jilid II, 2005
• Opera Natal Putih dan Hitam 2005
• Kumpulan lagu-lagu rohani untuk Paduan Suara Wanita untuk PS Wanita jilid 2006

Konser:
• Dalam rangka menyambut tamu pemerintah Sumatera Utara di Medan lewat Opening dan Closing Ceremony Medan Fair (Pekan Raya Medan)
• Pageran Bernard dari Kerajaan Belanda (1972)
• Raja Boumdewijn dan Ratu Fabiola dari kerjaan Belgia (1974)
• Menyambut perdana menteri Lee Kwan Yew dari Singapura (1975)
• Dan menyambut Toen Abdul Razak dari Malaysia (1976) dengan pementasan “Arga do Bona Ni Pinasa” di alam terbuka ditepi pantai Danau Toba, Parapat.

Penghargaan;
Pada tahun 1975 menerima penghargaan dari pangeran Bernard dalam undangan khus ke Istana Kerjaan Belanda Soesdijk
Menerima penghargaan dari KNPI Sumatera Utara sebagai penghargaan atas peranyan dalam pengemabangan generasi muda Sumatera Utara 1980
Pada 1982 menerima penghargaan dari Pangkowilhan Sumatera Utara sebagai putra teladan.
Pada 1998 menrima penghargaan sari Gubernur Suamtera Utara atas lagu ciptaanya “Marsipature Hutanabe”
Pada tahun 2003 menerima penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) atas prestasinya yang dicapainya saat menyutradarai pementasan Opera Arga Do Bona Ni Pinasa pada Pesta Rakyat Danau Toba di Kota Parapat sebagai opera yang melibatkan pemain terbanyak 232 orang dan merupakan pendudukan setempat.

Alamat rumah
Jalan Ayahanda No 57, RT 02/04
Kelurahan Pondok Kelapa, Jakarta 13430
Telephone ® 021-86610567
Handphone; 0811-903166
e-mail:BonarGultom @ Yahoo.com

Pesan:

http://www.youtube.com/watch?v=JPDjR02Pu14

Zulkaidah br Harahap


Ratu” Opera Batak dari Tiga Dolok boru batak
Zulkaidah br Harahap
Ngeri-ngeri sedap! Itulah ungkapan cerdas sarat makna dari Zulkaidah br Harahap (60), mantan maskot opera Batak pimpinan Tilhang Gultom pada 1960-an hingga awal 1970-an.
Konteks ucapan Zulkaidah br Harahap, yang amat populer dengan panggilan boru Harahap itu, sebetulnya sederhana. Bahwa, menjadi seniman tradisi seperti yang ia geluti selama ini ternyata penuh dinamika. Suka dan duka kerap berjalan beriring. Jarak yang memisahkan keduanya pun terkadang begitu tipis meski di lain waktu bisa begitu jauh merentang; ibarat bumi dan langit.
Apalagi ketika nasib opera Batak yang ia geluti sejak tahun 1963 kini sudah lebih dari dua dekade mati suri. Zulkaidah pun dipaksa menerima kenyataan jauh lebih buruk. Bukan saja ia kehilangan panggung seni yang menghidupinya, tetapi sekaligus kehilangan kesempatan memenuhi wasiat (alm) Tilhang Gultom agar ia tetap bisa menghidupi seni tradisi yang ikut membesarkannya tersebut.
Agar bisa bertahan hidup, Zulkaidah harus berjualan tuak dan kacang goreng keliling. Ikut kapal penyeberangan Danau Toba dari Tuktuk ke Tomok di Pulau Samosir sudah kerap ia jalani. Setiap ada keramaian di desa-desa yang bisa ia capai, tentu akan didatanginya.
Namun, satu hal yang tak pernah ia lupakan, ke mana pun pergi aneka jenis sulim—seruling khas yang biasa ia gunakan untuk mendendangkan lagu-lagu opera Batak—selalu menyertainya, bahkan di kala tidurnya.
“Sambil jual tuak dan kacang goreng, ketika lagi tidak ada pembeli, kutiuplah sulim dalam irama lagu ungut-ungut (lagu kesedihan). Pernah sekali waktu, saat aku tiup sulim sambil duduk di pokok kayu tak jauh dari pesta keramaian, eh, datang bapak-bapak. Katanya, ’Namboru, sedih ’kali, ya, suara sulim-nya.’ Lalu orang pun satu per satu datang. Pokoknya ramai,” ujar Zulkaidah.
Alhasil, tambahnya, tak ada lagi orang ke pesta itu. “Semua ngerubungi aku. Pemilik pesta pun datang, bayarin tuak dan kacang goreng. Dia borong semua, tapi dengan syarat aku dimintanya pergi. Kejadian seperti itu sering terulang di banyak tempat,” katanya.
Kini pun, meski tak lagi jualan keliling lantaran usianya kian senja, ia masih berjualan tuak serta sedikit penganan di kedai kopinya di tepi jalan raya Desa Tiga Dolok, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Di salah satu tiang penyanggah, tak jauh dari tempat penggorengan, tersangkut kantong kain lusuh berisikan peralatan sulim, yang hingga kini masih setia menemani Zulkaidah.
Ditemui pada suatu malam gerimis di Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) di Pematang Siantar, beberapa waktu lalu, Zulkaidah begitu energik ketika memainkan sulim dan hasapi (kecapi dua tali) secara bergantian. Sesekali vokalnya yang bening muncul ke permukaan lewat nyanyian onang-onang (tentang adat istiadat) dan ungut-ungut.
Pada masanya, berkat talenta bermain sulim dan vokalnya yang bening itu, Zulkaidah tak ubahnya bagai “ratu” yang selalu ditunggu kemunculannya di atas panggung opera Batak.
Sejak bergabung sebagai tukang masak dan penjaga anak-anak para pemain opera Batak pada usia 13 tahun, Zulkaidah sudah merasakan pahit getir hidup di tengah komunitas seni tradisi. Sampai kemudian “karier”-nya meningkat menjadi pemain, pemusik, dan pelantun lagu-lagu opera Batak, ia pun tampil bagai sri panggung yang diidolakan.
Apalagi sejak suara beningnya mulai di-“rekam” dengan tape recorder saat ia diundang ke rumah orang-orang kaya, Zulkaidah mengaku serasa bagai hidup di atas awan. Katanya, “Seperti melayang-layang. Ke mana-mana dijemput naik sedan.”
Bahkan, setelah bangkrut pun ia mengaku masih “melayang-layang” bila ada wartawan datang, difoto-foto, dan masuk koran. Tak peduli para tetangga kerap men-cemeeh-nya sebagai seniman penjual kacang goreng.
Lebih-lebih saat Rizaldi Siagian (etnomusikolog yang saat itu, 1989, masih sebagai dosen di Universitas Sumatera Utara) datang ke gubuknya. Rizaldi mengajak Zulkaidah pergi untuk ikut pentas di tempat yang baginya bagai tak terjangkau: New York, Amerika Serikat.
“Ke Amerika! Ya, ke Amerika. Ini foto-fotonya dan ini fotokopi koran-koran orang Amerika tentang kami. Lalu, ini piagam dari panitia dan dari pemerintah,” kata Zulkaidah begitu antusias. Juga ketika ia bercerita tentang lawatan mereka ke Jepang.
Dua sisi mata uang
“Opung meninggal tahun 1973. Sebelum meninggal, ia minta agar aku meneruskan kelangsungan grup opera Batak yang telah ia bangun dengan susah payah. Kata dia, ’Boru Harahap, jangan kau sia-siakan usaha ini. Kalau kau sia-siakan, awas kau!’ Begitu Opung bilang, seperti mengancam,” kata Zulkaidah mengenang awal dari peristiwa kebangkrutan opera Batak yang ditinggalkan Tilhang Gultom, sang pendiri.
Tak ada catatan persis bagaimana kehadiran jenis opera yang lebih mirip teater keliling ini di tanah Batak. Namun, yang pasti, nama Tilhang Oberlin Gultom selalu dikaitkan sebagai pemicu “kelahiran”-nya pada 1920-an ketika ia menggelar tontonan ini di pedalaman Tapanuli Utara. Adapun istilah opera Batak itu sendiri dilekatkan Diego van Biggelar, misionaris Belanda yang datang ke Pulau Samosir pada 1930-an.
Sepeninggal (alm) Tilhang Gultom, atas persetujuan keluarga Tilhang Gultom, perempuan kelahiran Desa Bunga Bondar, Sipirok, Tapanuli Selatan, ini memutuskan melanjutkan usaha pertunjukan opera Batak bernama Seni Ragam Indonesia alias Serindo tersebut.
Untuk menghidupi sekitar 70 anggota, ia jual sebagian besar harta yang sempat dikumpulkannya selama menjadi maskot opera Batak semasa Tilhang Gultom. Sawah, tanah, serta perhiasan emas yang melingkari leher, lengan, dan pergelangan kakinya pun dilego.
Serindo kembali menggelar pertunjukan keliling dari desa ke desa. Akan tetapi, ternyata “dunia luar” sudah berubah. Penontonnya sebagian besar sudah pergi ke pertunjukan dangdut dan televisi, sementara pajak tontonan dan “pajak” tak resmi dari oknum aparat membuat keuangan Serindo kelimpungan.
Modal hidup terus terkuras, sampai akhirnya Zulkaidah menyerah. Tahun 1985 grup opera Batak Serindo ia kembalikan ke pemiliknya, keluarga (alm) Tilham Gultom. Sekitar 45 anggota yang masih tersisa akhirnya ia bubarkan.
Hidup dari seni tradisi dan menghidupi seni tradisi, bagi Zulkaidah, ibarat dua sisi dari keping mata uang. Sejak bergabung sebagai tukang masak sampai pada satu masa menjadi tauke grup tersebut, opera Batak bagai sudah mengalir dalam darahnya.
“Jadi seniman tradisional seperti kami ini, ya, ngeri-ngeri sedaplah. Bagaimana tak sedap, waktu di Jepang dan Amerika, semua orang hormat. Tidur di hotel mewah, makan tak kurang. Awak merasa kayak presiden saja, padahal cuma penjual kacang goreng,” ujarnya.
“Tapi begitu pulang ke rumah, habis dari hotel mewah tidur di tikar. Air kadang tak ada, makan sehari-hari pun terancam. Belum lagi awak di-cemeh orang kampung. Ha-ha-ha…. Kadang-kadang awak berpikir, macam mana pula ini. Tapi sudahlah, darah kita kan sudah di kesenian….” (ken)
Biodata
Nama: Zulkaidah boru Harahap
Tempat Lahir: Desa Bunga Bondar, Sipirok, Tapanuli Selatan, tahun 1947
Pendidikan: Tidak tamat SD
Suami: Pontas Gultom alias Zulkarnaen
Anak:
– Nurjunita
– Nurjuniati
– Bandit
– Halijah
(Sumber: Kompas, 18 Desember 2007)

Eddy Silitonga


Melejit Lewat Tembang Kenanganb_4402
Anda masih ingat lagu Biarlah Sendiri ciptaan Rinto Harahap di tahun 1976? Boomingnya lagu tersebut turut melejitkan Eddy Silitonga (58). Suaranya melengking dan merdu. Merantau ke Jakarta 1968, adalah pilihan terpaksa karena ingin mengubah hidup. Di Jakarta Eddy ternyata hidup terlunta-lunta, karena pekerjaan yang tidak menetap. Apalagi saat itu belum punya rumah tetap, Eddy harus pindah-pindah dari rumah kontrakan ke kontrakan lain. Bahkan Eddy sempat tidur beralaskan koran, termasuk dari menjadi kernet.
Dunia menyanyi dirambahnya berawal menjuarai Bintang Radio 1975 di Jakarta. Ciri khasnya menyanyikan lagu tembang-tembang kenagan dan piawai membawakan lagu-lagu etnik daerah; Madura, Bugis, Makassar, Sunda, Aceh, Jawa, dan Melayu. Malah (29/10/83) Eddy meraih juara 1 Pria Lomba Lagu Minang Populer yang digelar di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Eddy Silitonga adalah anak ke-empat dari 11 bersaudara dari Gustav Silitonga dan Theresia Siahaan. Lahir di Pematang Siantar 17 November 1950. Di puncak kejayaannya 1976 hingga 1979 membentuk group Eddy’s Group. Dan bergabung dalam Pengayuban Artis Jakarta Selatan (PARSEL).
Karir Eddy sebagai penyanyi diperoleh melalui perjalanan panjang.
Sebagai aktis penyanyi sukses, penghasilan melimpah. Ayah empat anak ini mendapat tawaran banyak, merayunya berbisnis pest-control, perusahaan pembasmi serangga. Tetapi itulah hidup, bukan kepalang ia tertipu. Hojot Marluga