Ir. Leonard Tambunan, MCM


Ir. Leonard Tambunan, MCMIr Leonard Tambunan

Menciptakan Mata Air Bagi Banyak Orang

 Bermental entrepreneur bagi seorang arsitek ternyata membawa berkah tersendiri bagi Leonard Tambunan. Sejak lulus pascasarjana arsitektur dari Inggris, Leonard memutuskan menjadi entrepreneur. Dia kemudian mendirikan PT Mata Air Persada berdiri tahun 2001. Awalnya sebenarnya Aek Mual Persada yang dalam bahasa Batak sama artinya.

Sejak mendirikan perusahaan di bidang arsitek itu, dia mengarahkan seluruh timnya di perusahaan untuk selalu berusaha meningkatkan nilai tambah terhadap rancangan, mutu, manajemen kecepatan. “Kita menjaga trust. Semuanya dilakukan dengan sangat hati-hati, dan bertahap mulai dari proses konsep hingga konstruksi selesai. Saya kira, itu merupakan alasan mengapa klien-klien Mata Air cenderung kembali meminta kami yang menangani proyek-proyek lainnya,” ujarnya.

Kini perusahaannya makin melebarkan sayap, bukan lagi hanya PT Mata Air Persada yang melayani rancang dan bangun, arsitektur dan Interior. Juga telah lahir PT Mata Reality yang mengurusi developer dan property Investor pengembang-investor properti. “Kini kita mulai diperhitungkan di dunia property hingga ke kacah internasional melalui karya arsitektur yang kita bangun.”

Dari kantornya di Citylofts Sudirman lantai 8, Jalan KH Mas Mansyur, Jakarta Pusat Leonard mengelola dan memimpin usahanya. Bersama timnya berkarya mendirikan banyak bangunan bernilai, seni arsitektur tinggi dengan proses yang cepat dan berkualitas dengan cara professional.

Apa triknya? Sederhana saja, lewat hubungan persahabatan dengan klien, karyawan, mitra kerja, dan berpegang pada prinsipnya melayani dengan jujur dan tulus. Lalu, berusaha menghasilkan lebih dari yang diharapkan. “Terus membuat nilai tambah terhadap produk dan pelayanan, melipatgandakan kekayaan perusahaan, demi pengembangan perusahaan, kesejahteraan karyawan, dan keluarga.”

Dipuji menteri perumahan

Telah banyak desainnya dipuji. Di Pandeglang, Tulung Agung, Menteng, Jakarta, Dago Pakar, Bandung. Satu diantaranya rumah mantan Menteri Perumahan Rakyat Cosmas Batubara mengatakan Mata Air sangat baik. Hal ini dibuktikan ketika Mata Air melakukan desain dan pembangunan rumah Cosmas di daerah Menteng. Sebagai arsitek merancang tata letak profesional sesuai kebutuhan, dengan sirkulasi udara yang baik dan pencahayaan alami, bahwa kita merasa indah.

“Gaya arsitektur dan detail yang sangat indah dilakukan, menghormati sekitarnya. Saya melihat apa yang mereka lalukan itu sangat bagus, saya berterima kasih atas kerja tim Mata Air yang sangat professional dalam membangun rumah. Karena itu, kami merekomendasikan Mata Air sebagai sangat kompeten,” kata Cosmas.

Cosmas menambahkan, harga tidak bisa menipu, ungkapan ini sangat tepat dalam sektor jasa konstruksi. Bagi kebanyakan orang, proses untuk membuat rumah idaman menghabiskan banyak waktu, dan juga biaya, agar apa yang dibangun sesuai dengan apa yang mereka inginkan.

Karena itu, mendapatkan bantuan dari para profesional di bidang ini adalah investasi yang baik, karena merekalah yang akan bekerja keras mewujudkan rumah impian anda. Design adalah seni yang membuat hidup anda berbeda dan membuat investasi anda bernilai.

Arsitek sebagai designer akan membuat design yang dibuat khusus sesuai dengan kebutuhan dan keinginan klien. Manajemen yang baik membuat segalanya tercapai tepat waktu. Konstruksi adalah karya banyak tangan, sehingga dibutuhkan manajemen yang baik untuk memastikan semua pihak melakukan bagiannya dengan baik. Karena itu dalam proses design dan konstruksi, para profesional dengan kemampuan design dan manajemen yang baik akan menghasilkan produk yang berkualitas. Kualitas adalah segalanya bagi Mata Air.

Dengan pengalaman merancang dan membangun rumah-rumah mewah selama lebih dari satu dekade, Mata Air sudah menguasai selera, kebutuhan, idealisme dari kalangan tersebut, termasuk yang berkaitan dengan aspek legal-formal perizinan, sehingga proses pembangunannya dapat berjalan mulus.

Mata Air akan membantu dan menemani klien dari tahap awal sampai tahap akhir, dengan pemilihan bahan-bahan berkualitas dan pelayanan yang profesional. Bahkan bukan hanya itu, mereka bisa merubah wajah dunia.

Go Green

Konsep yang diterapkan Leonard di perusahaan juga harus Go Green. Walau dia mengakui tidak mudah untuk mewujudkannya. Apalagi selama ini konsep Go Green terbatas di perumahan elit. Leonard mengakuinya menerpakan konsep seperti ini memang tidaklah murah, tetapi harus. Modal yang dikeluarkan harus besar, dan langsung berdampak pada harga rumah.

Selain itu, mengambil bagian dari gerakan global Perduli Lingkungan, Mata Air juga turut mempertimbangkan dampak terhadap lingkungan di setiap pengembangan kawasan baru. Oleh karena itu, dalam memasuki tahun-tahun mendatang, dengan terus meningkatkan kompetensi dan kerja keras seluruh tim, kami optimis pertumbuhan di divisi properti ini akan terus meningkat seiring dengan pengembangan proyek-proyek baru, berupa gedung perkantoran, apartemen, perumahan, ruko, dan lain-lain.

“Dengan penuh rasa syukur kami sampaikan bahwa Mata Air melalui bisnis propertinya, telah mendirikan bermacam properti hasil investasinya,” ujar Leonard. “Kami juga didukung oleh SDM yang berkualitas, PT Mata Air Realty dalam mengembangkan setiap proyek akan terus memastikan bahwa semua produk yang akan dikembangkan mempunyai segmen market yang jelas, sehingga unit-unit yang dipasarkan dapat mudah terserap pasar dalam waktu yang relatif cepat.”

Bukan hanya itu, Mata Air juga menawarkan jasa desain interior untuk rumah tinggal, apartemen, retail dan perkantoran, termasuk pemilihan furniture sampai kelengkapan tata suara, cahaya dan automation system. Hampir di semua proyek rumah tinggal yang dikerjakan, Mata Air turut dipercayakan untuk merancang dan mengerjakan interiornya.

Leonard yakin dengan kemampuan kami di berbagai aspek seperti: pemasaran penjualan properti, penyewaan, keahlian dalam perancangan arsitektur dan interior, pengetahuan teknik, terutama keahlian dalam investasi keuangan properti dan manajemen properti.

Apa yang membuat Leonard hebat? Pertama, keahlian mendapatkan prime properti. Keahlian menilai harga properti. Selain itu juga ada keahlian bernegosiasi dengan penjual. “Kemampuan dalam perencanaan properti, akhirnya pembangunan yang bermutu. Keahlian mendapatkan pembiayaan. Keahlian mengelola keuangan properti. Keahlian menjual properti. Keahlian dalam memelihara property,” ujarnya.

Hotman J Lumban Gaol

Pdt. Ev. Renatus Siburian


AWAN gelap yang menggelayut di atas Kota Pematang Siantar. Alam juga masygul, turut pilu merasakan berpulang kepangkuan Bapa di sorga, seorang penginjil besar ephorus sekaligus pendiri Gereja Pentakosta Indonesia. Gereja yang didirikannya sendiri hanya dari desa kecil, yang kemudian bertumbuh menjadi sinode besar hingga ada di kota-kota besar di Indonesia. Hari itu, hari Sabtu, 20 Juni 1987 dia menghembuskan nafas terakhir. Selesai sudahlah tugasnya di dunia, yang telah mengabdikan dan menunaikan tugasnya sebagai pembawa berita Injil.

Selama di dunia mungkin Tuhan melihat hidupnya berkeluget-keluget menyebarkan Injil. Jalan yang sudah ditempuhnya sungguh panjang. Hari itu, persis di umur 72 tahun. Tuhan memanggilnya untuk beristirahat tenang dari jerih lelah selama ini. Berita meninggalnya sang evangelis itu, dengan cepat menyebar bukan saja di sekitar Kota Pematang Siantar-Sumatera Utara (sebagai pusat dari gereja yang dirintisnya). Tetapi berita itu juga sampai ke berbagai penjuru wilayah di Indonesia. Suasana tangis, haru, sedu, susah hati perasaan mereka, para pelayat bercampur baur atas berita meninggalnya sang penginjil. Ditangisi karena karyanya dan tugas panggilannya, sebagai jalan mulia membawa jiwa-jiwa mengenal Kristus. Dari berbagai penjuru hadir memberikan penghormatan terakhir.

Bukan hanya pejabat daerah yang hadir, tetapi juga para tokoh-tokoh. Baik tokoh gereja dari berbagai aras nasional datang, dan tokoh politik nasional. Karena memang selain tokoh gereja, dia juga pendiri organisasi masyarakat Organisasi Karyawan Umat Pentakosta Indonesia yang disingkat OKUPI, pendukung Golongan Karya. Sebagai seorang tokoh gereja juga, pada masanya ikut memberi andil pada kemajuan gereja di Indonesia, utamanya di Sumatera Utara. Maka, tak mengherankan jika yang hadir, kala itu, diperkirakan berbondong puluhan ribu orang datang untuk melayat, berbelasungkawa. Mereka datang dari berbagai penjuru, untuk memberikan penghormatan terakhir kepada yang mereka sebut, sang evangelis, pendeta, guru, ompung, sahabat, tokoh gereja.

Berbagai panggilan disematkan padanya. Terutama para rekan dan orang-orang yang pernah mendengarkan khotbah-khotbahnya. Juga, orang-orang yang pernah berinteraksi langsung dengannya. Jasatnya sebelum dikubur, terlebih dahulu disemayamkan selama empat hari tiga malam. Pernyataan turut berbelasungkawa ditandai juga banyaknya karangan bunga dari berbagai pihak. Iringan doa penghormatan terakhir mengingatkan puluhan ribu orang pada sosok hamba Tuhan yang semasa hidupnya telah dibentuk bagai bejana, dan kemudian dipakai Tuhan menjadi penyambung kabar kesukaan, pemberita Injil.

Wajar tangisan, haru dan simpatik dari para pelayat. Bukti yang mengungkap kadar dampak yang pernah diberinya semasa hidup. Namun, walau jasatnya kembali ke tanah, semangat dan pikiran-pikirannya tentang penginjilan tetap kuat berpengaruh hingga kini, hinggap sampai ke liang sanubari para sidang jemaat Gereja Pentakosta Indonesia. Dia yang dikenal sebagai sosok pribadi yang konsisten.

Seorang yang berani mempertahankan apa yang menjadi keyakinannya akan pentingnya menjangkau jiwa-jika bagi Tuhan-Nya. Terkadang, karena saking kuatnya mempertahankan pendapat dia sering disebut si guru dok, atau parhata sada. Dia yang dikenal seorang yang memengang teguh prinsip, pendirian, diktum hidup. Atas kematiannya “tokoh apostolik,” membangkitkan kembali ingatan pada kisah hidupnya di masa lalu.

“Parmahan” dari “Sipenggeng” Mengenang sang perintis Gereja Pentakosta Indonesia yang dimulainya di sebuah kampung, mengingat muasalnya. Tersebutlah satu hamparan alam yang maha indah. Desa yang tak pernah terlihat di peta itu, persis berada di atas bukit di bibir Danau Toba desa bernama Sipenggeng, di Kecamatan Paranginan, Kabupaten Humbang Hasundutan, Provinsi Sumatera Utara. Di alam Paranginan, rupa-rupa kebun kopi, keminyan dan hamparan ladang, sawah yang luas membuat wilayah ini menjadi kampung yang amat indah dipandang mata. Siasat para penghuninya menyingkapi kehidupan, mangula dengan menggarap tanah yang subur nan indah.

Hari-hari membawa wilayah ini dikenal sebagai kampung yang amat ramah dan tenang. Kecamatan Paranginan, sebelumnya hanya satu desa kecil. Sebagaimana umumnya di wilayah Humbang-Batak Toba, dari empat ratusan marga yang ada, masing-masing memiliki asal muasal yang disebut Bona Pasogit. Paranginan asal Bona Pasogit dari marga Siburian.

Siburian sendiri sebagaimana bagian marga yang lain berasal dari toga, group marga Simatupang punya anak tiga: Togatorop, Sianturi dan Siburian. Legendanya, awalnya, Toga Simatupang membuka kawasan perkampungan baru di daerah Kecamatan Muara di Kabupaten Tapanuli Utara, yaitu Desa Simatupang. Sementara anaknya yang paling bungsu, Siburian, katanya setelah banyak keturunannya bermigrasi ke Paranginan.

Di sana Siburian mendirikan perkampungan baru, setelah beberapa generasi menyebar hingga berbagai daerah ke penjuru wilayah. Paranginan tepatnya di huta Sipenggeng itulah lahir seorang bayi bernama Renatus Siburian pada 19 Oktober 1914. Dia dilahirkan dalam suasana tradisi dan alam budaya Batak yang terjaga ketat. Sebagaimana orang Batak punya sundut garis, atau nomor tingkatan dari garis keturunan marga. Renatus sendiri keturunan Siburian nomor ke-14, dari keturunan Siburian-Sihonongan. Itu berarti ayahnya nomor 13, anaknya nomor 15.

Renatus kakak-beradik tujuh orang, dia anak keenam dari pasangan Daniel Siburian dan istrinya boru Ompusunggu. Ayah Renatus adalah seorang Sintua, majelis gereja di HKBP Paranginan. Kakak tertuanya bernama Bileam, cerita sebenarnya bernama William, tetapi karena pengucapan yang salah jadi dipanggil Bileam, jadilah Bileam. Anak kedua adalah seorang perempuan bernama Naimasti, di kemudian hari dari cucu Naimasti inilah kelak orang yang pertama kali mendirikan Gereja Pentakosta Indonesia di wilayah Jakarta, bernama Sintua Mangasi Purba.

Anak ketiga ialah Pendeta Lukas Siburian, pendiri Gereja Pentakosta Jalan Lingga, Pematang Siantar. Anak keempat perempuan bernama Tiolina boru Siburian menikah dengan Pendeta J Rajagukguk, pendeta yang mendirikan Gereja Pentakosta Indonesia di Sumatera Timur, mereka digelari Ompu ni-Hannaria. Sebelum Renatus, anak kelima bernama Sapakua Siburian. Baru, anak keenam evangelis Renatus Siburian.

Anak ketujuh Nyonya Simamora boru Siburian. Di masa penjajahan Belanda dia dilahirkan. Di umur kanak-kanak dia sudah menunjukkan talenta sebagai orang hebat, cepat belajar, cepat berbicara. Sering disebut gartip, masih belia sudah pintar ngoceh. Walau lahir dan besar di sebuah desa yang jauh dari kota. Renatus tetap menunjukkan semangat belajar. Tak heran, kemampuan intelektualnya terasah dengan baik. Hal itu tidak lepas dari sekolah yang melecutnya sebagai anak didik yang lumayan bagus waktu itu.

Meski hanya status kampung, tetapi masa itu kampungnya sudah menjadi desa tergolong maju, memiliki seolah berpengantar bahasa luar. Maju selangkah di depan di banding dengan desa-desa lain di sekitarnya, karena di desa itu ada sekolah Elementary School (ES), berpengantar bahasa Inggris. Mengapa disebut ES? Sekolah dasar (disingkat SD; bahasa Inggris: Elementary School) adalah jenjang paling dasar pada pendidikan formal di Indonesia. Sekolah Dasar ditempuh dalam waktu 6 tahun, mulai dari kelas 1 sampai kelas 6.

Saat ini murid kelas 6 diwajibkan mengikuti Ujian Nasional (dahulu Ebtanas) yang mempengaruhi kelulusan siswa. Pada masa penjajahan Belanda, sekolah menengah tingkat atas disebut sebagai Europeesche Lagere School (ELS). Setelahnya, pada masa penjajahan Jepang, disebut dengan Sekolah Rakyat (SR). Setelah Indonesia merdeka, SR berubah menjadi Sekolah Dasar (SD) pada tanggal 13 Maret 1946. Disebut ES sebab memang sekolah ini berpengantar berbahasa Inggris.

Renatus menempuh pendidikan formalnya dari Tahun 1921 hingga Tahun 1930. Di sekolah ES Paranginan itu, guru-guru umumnya, lulusan dari Singapura. Pada masa itu hanya ada dua sekolah yang berpengantar bahasa Inggris. Satu sekolah di Paranginan dan satu lagi di Sigumpulon, Kecamatan Pahae. Sementara yang lain, waktu itu sekolah Hollandsch Inlandsch School setara sekolah dasar, berbahasa Belanda.

Lulus dari ES tersebut, Renatus kemudian melanjutkan ke pendidikan yang setara SMP sekolah Methodis English School selama tiga tahun. Sekolah ini tidak sampai tamat. Tetapi masa itu pendidikan sampai ke tingkat itu pun sudah tergolong tinggi. Masa bocah dilewatinya sebagai penggembala kerbau, parmahan. Berpetualang di hamparan alam yang sejuk, alam yang mempesona demikian indah untuk menggiring kerbaunya sudah biasa dia lakukan. Sebagai seorang gembala, cara nomaden di alam, mencari wilayah rumput hijau untuk peliharaannya.

Bergaul di alam bebas, mengasah hati dirinya kemudian hari muda sensitif dan peka terhadap keadaan. Selain aktif bergaul dengan sebantarannya, Renatus bahkan bergaul di atas umurnya. Pintar bergaul. Tetapi jangan dicoba- coba, berbuat iseng. Renatus kecil tidak mau menjadi bahan olok-olokan sepantaranya, dan memang sosoknya juga tidak suka berbuat iseng. Maka, kalau ada anak di atas umurnya memukul, berbuat iseng padanya. Renatus akan melawan, membalas memukul, tetapi dengan sigap lari untuk menghindar dari kejaran. Pembawaannya selalu riang. Dia dikenal anak yang selalu antusias. Pengalaman bergaul dengan teman- teman sebayanya, membawanya pada asah jiwa. Semasa kecil, di kampung pun Renatus selalu membagun persahabatan, termasuk pernah bergaul dengan Melanchton Siregar, walau hanya beberapa kali berjumpa.

Melancthon berasal dari Desa Pearung, di Paranginan juga. Meskipun usia mereka terpaut umur dua tahun, Renatus lebih muda dua tahun dari Melancthon, tetapi mereka bisa berbincang-bincang tanpa ada jarak, jurang pemisah. Hal itu bisa saja, karena Melancthon Siregar sendiri anak dari boru Siburian, dan juga menikah dengan boru Siburian, marga Renatus. Melancthon dikemudian hari adalah pemimpin perang gerilya di Tapanuli. Ada kesamaan pada keduanya. Pada awalnya keduanya meniti karier dari profesi guru, sebelum menemukan muara hidupnya. Sebagaimana Renatus, Melancthon juga seorang guru dulunya, sebelum kemudian menjadi politisi. Di kemudian hari Melancthon, politisi nasional ini dinilai berjasa dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Melancthon sendiri turut berperan dalam pembangunan demokrasi, politik, dan pendidikan nasional. Sementara Renatus sendiri juga pernah menjadi Guru Agama, sebelum menetapkan hati, menjadi penginjil. Kembali ke cerita huta Sipenggeng dan Renatus. Di desa itu, Renatus muda selain marmahan, juga selalu mengikuti tontonan opera. Masa itu, tontonan operalah tontonan yang paling mewah. Opera itu juga sebagai media penyebar semangat pejuangan melawan penindasan Belanda. Di opera itu juga sering ditampilkan cerita “margurilya” ditampilkan cerita perjuang seorang keluarga muda. Si suami berangkat bertempur melawan penjajah, bergerilya, harus mengusi.

Sementara si istri tinggal bersama putrinya bernama si “Butet” sambil mendendangkan lagu “Butet, di pagusian do amang, ale butet….” Pertunjukkan opera itu tanpa disadari juga memberikan semangat berkobar untuk berjuang, melawan penjajahan. Beranjak dari sering menonton, Renatus kemudian belajar memotori acara opera. Awalnya dimulai sebagai agen, penjual karcis untuk menonton. Dari sana dia banyak belajar mengelola, memanajemeni acara. Jiwa kemandirian itu amat kuat, walau masih remaja, kala itu dia bukan hanya menjadi agen menjual tiket.

Renatus juga memberanikan diri sebagai promotor acara, mengundang para pelakon opera itu untuk pentas di Paranginan. Bahkan, konon Renatus pernah mengundang Opera Batak, group Tilhang Gultom waktu itu untuk mengelar pertunjukkan. Dia sendiri mengajak anak-anak sebantarannya untuk menyokong suksesnya acara. Sementara yang masih kanak-kanak disuruhnya untuk manortor, menari membantu semaraknya pertunjukkan. Saat anak-anak menari-nari itu, semua penonton memberikan uang kepada anak-penari. Lalu uang tersebut dikumpulkannya, kemudian membayarkan honor para pelakon opera.

Sementara pendukung acara, anak-anak tadi dibaginya sepantasnya. Jiwa kemandiriannya, mengorganisir dan mempengaruhi orang sudah terlihat. Sebagai anak muda yang selalu cepat belajar. Selain itu, dari kebiasaan menonton-mensponsori acara-cara opera, Renatus diam-diam mengamati para pemain musiknya. Dari mengamati dan mulai mencoba yang kemudian terlatih. Bisa memiliki kemampuan bermusik, bahkan berteater bak aktor berakting.

Soal musik, musikalitasnya memuncak dengan menguasai hampir seluruh alat musik masa itu; dari gitar melodi, harmonika, suling. Selain itu, Renatus pintar main akordion, alat musik sejenis organ yang sering dia mainkan. Akordion sendiri adalah musik yang biasa digunakan masyarakat Melayu Deli. Akordion ini relatif kecil dan dimainkannya dengan cara digantungkan di badan. Lihai memainkan akordion, Renatus sebagai si pemusik memainkan tombol-tombol akor dengan jari-jari tangan kiri.

Sedangkan jari-jari tangan kanannya memainkan melodi lagu yang dibawakan. Dia sudah pada tingkat pemain yang sudah terlatih, sebab dapat berganti-ganti tangan. Renatus memiliki kesukaan mendengar, lalu mengamati setelah itu dipikirkan lagi. Segalanya, mendengar lalu mengamati. Itu sebab tatkala mendengar pemberita Injil, ketika dimulainya di Palembang mendengar khotbah Pendeta Siwi. Itu menghujam dalam pada loh hatinya. Apa yang didengarnya tentang akan akhir zaman, bahwa ujung dunia sebentar lagi akan berakhir.

Dipikirkannya dengan merenungkan hal itu. Dia makin tersentuh, dari mendengar dan kemudian membaca Injil. Dari kebiasaan merenungkan Firman Tuhan yang dia dengar, Renatus bertumbuh secara rohani, spiritnya menjadi seorang yang meneguhkan diri sebagai seorang pembelajar. Dari fase-fase itu, Renatus mulai mendeskripsikan panggilan melayani, memberitakan Firman Tuhan hingga maranatha terus bergelora.

Dari mendengar, kemudian mempelajari lalu mempraktekkannya, lalu terus-menerus hingga ke tahap mampu membuat orang yang mendengarnya merasa seolah-olah berada di tempat yang disampaikannya. Dari mendengar, dan membaca terus menerus, konsisten membaca Firman Tuhan, mengubah kelakuan dan tindakannya menjadi orang yang berubah total. Bertobat meninggalkan jalan yang salah, yang selama ini dia nikmati. Dari yang dulunya tidak terpikir menjadi penginjil. Panggilan itu terus tergiang-giang.

“Yesus Kristus telah membawa keselamatan, mari kita bergegas memperbaiki diri. Memperbaiki kelakuan kita. Sebab sebentar lagi Tuhan datang menjemput kita.” Pertemuan dengan pendeta Siwi membawanya pada pertobatan, menetapkan diri menerima panggilan menjadi penginjil. “Saya merenungkan Firman Tuhan Matius duapuluh depan ayat sembilanbelas sampai duapuluh yang menyuruh umatnya untuk memberitakan Injil.”

Ayat itu, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Rohkudus dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Ku-perintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Ayat itu memberikannya semacam gairah baru untuk mewujudkan panggilan melayani. Doa sungguh-sungguh, sejak itu membuat keputusan—komitmen menjadi penginjil, meminta Tuhan memberinya kekuatan untuk menjadi penginjil. Sejak itu, Renatus tekun membaca Alkitab, lalu makin biasa dan mampu menarasikan tokoh- tokoh Alkitab dengan baik.

Di kemudian hari, setelah lulusan dari sekolah Alkitab pun setelah menjadi seorang evangelis, dia makin bening bercerita, makin sistimatis menceritakan isi Alkitab. Termasuk cerita-cerita dan kisah-kisah yang baru dia baca, bisa lagi diceritakannya kembali dengan baik. Juga, oleh karena belajar teater di kampungnya, melatih dirinya olah vocal yang dikemudian hari setelah menjadi penginjil, maka biasa mengekpresikan, memainkan tokoh antagonis maupun protagonisnya di Alkitab. Itulah Renatus, parmahan di masa kanak-kanak, yang di kemudian hari menjadi gembala bagi banyak sidang jemaat Gereja Pentakosta Indonesia. Ditulis, Hotman J Lumban Gaol, editor buku.

Pdt. Ev. Renatus Siburian (1914-1987), Pendiri Gereja Pentakosta Indonesia (GPI)

Pelopor Gerakan Pentakosta di Tanah Batak

1-Halaman-1 GERAKAN Pentakosta dimulai sekitar tahun 1901. Gerakan ini diakui berasal pada waktu Agnes Ozman, menerima karunia berbahasa roh, glossolalia. Awalnya dilatari persekutuan doa di Sekolah Alkitab Bethel di Topeka, Kansas, oleh Parham, seorang pendeta yang berlatar belakang Metodis, merumuskan ajaran bahwa bahasa roh adalah bukti alkitabiah dari baptisan Roh Kudus. Gerakan Pentakosta yang dimulai di Amerika Serikat ini, telah juga merambah ke seluruh penjuru. Termasuk ke Indonesia.

Di Tanah Batak berdiri Gereja Pentakosta Indonesia (GPI) lahir dari pergulatan seorang guru agama, Renatus Siburian. Siapakah Renatus Siburian? Dia adalah seorang pendeta, penginjil, dan pendiri GPI. Pria kelahiran 19 Oktober 1914 di Kecamatan Paranginan, Kabupaten Humbang-Hasundutan, Provinsi Sumatera Utara. Meninggal di umur 72 tahun, tepatnya 20 Juni 1987. Di awal-awal mendirikan gereja, dia banyak mengalami keruwetan, cobaan hidup.

Tetapi semuanya dilaluinya dengan penyerahan diri total pada Tuhan-Nya. Dalam melayani, baginya, perjuangan salib selalu memberikan kekuatan dan jalan keluar. Dalam tugasnya sebagai penginjil pernah dia tidak melihat anaknya meninggal, sebanyak tiga kali, sebab kesibukannya untuk mengemban tugas yang dipikulkannya.

Renatus berfundamen pada Alkitab, orang yang berpendirian yang teguh. Bagi dia perlu menekankan pengalaman rohani pribadi. Baginya, punya pandangan terhadap dunia. Meskipun baginya sangat memperhatikan keyakinan yang benar, tetapi juga menekankan perasaan yang benar, dan dan tindakan yang benar. “Penalaran dihargai sebagai bukti kebenaran yang sahih, tetapi orang-orang Pentakosta tidak membatasi kebenaran hanya pada ranah nalar.”

Prinsip Renatus, bahwa Roh Kudus mengajar kita melalui Alkitab bahwa caranya adalah terus melayani. Bagi Renatus, peranan karunia-karunia Roh Kudus. Dia menekankan keyakinan akan peranan Roh Kudus dan karunia-karunia Roh Kudus di dalam kehidupan sehari-hari orang yang dimuridkan.

Dianggap tak lazim

Pergulatan iman dan pergulatan teologi, Pendeta Renatus Siburian menenguhkan dirinya merintis GPI. Hinaan dan segala macam hambatan tidak pernah menghalanginya untuk menyebarkan Injil. Bahkan, dia dituduh menyebarkan agama baru yaitu; agama Siburian.

Semula Renatus berpikir tak ada perlu membuka organisasi agama, yang penting adalah menyapaikan kabar baik, menginjil. Namun, apa yang terjadi, pergolakan batin melihat orang-orang yang telah ditobatkan, yang telah dibaptis jumlahnya sudah ribuan orang. Tidak mempunyai tempat peribadahan yang tetap. Akhirnya Renatus mendirikan Gereja Pentakosta Indonesia. Di mulai kampungnya, dari sana berkembang pesat.

Tahun 1942, Renatus mendirikan organisasi keagamaan yang dinamakan Gereja Pentakosta Tanah Batak Tapanuli. Ini dimungkinkan karena pada waktu itu adalah peralihan pemerintahan Belanda ke pemerintahan Jepang. Jiwa patriotismenya dia implementasikan pada semangat dalam kehidupan terus berjuang. Kemerdekaan bagi Renatus sangat mendalam sekali.

Pergulatan teologi Renatus, di awal-awal mendirikan GPI, dia dianggap menyebarkan ajaran lain. Sebab dia mengadakan parpunguan, kebaktian di rumah-rumah. Oleh masyarakat ketika itu, mencap GPI menolak ritual dan budaya Batak. Bahwa adat bagi Renatus lebih merintangi untuk kusuk berdoa. Itu sebabnya pengucilan itu terjadi pada Renatus dan terhadap anggota jemaatnya. Karena mereka dianggap manusia aneh, beribadah dengan tepuk tangan, berdoa dengan suara yang kuat, dan lebih mementingkan pekerjaan Tuhan.

Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) yang dipimpinnya, yang unik bahwa setelah KKR yang selalu diadakan di luar rumah misalnya di halaman, di lapangan terbuka dan di pasar-pasar umum. Dan sering pula diadakan tanya jawab tentang ajaran Pentakosta dan tentang isi Alkitab. Juga baptisan massal selalu diadakan di tempat terbuka, di sungai, di kolam maka tak jarang disaksikan oleh banyak orang.

Murid Patterson

Renatus menempuh pendidikan formal; Tahun 1921-1930 dari Sekolah Inggris. Tahun 1936  dia tamat dari Sekolah Alkitab Jalan Embong Malang, Surabaya. Guru yang paling membuatnya untuk teguh melayani adalah Pendeta W. Patterson. Setelah lulus dia menginjil dan membuka gereja di Berastagi, tetapi mendapat halangan dari Pemerintah Belanda karena besleit atau izin untuk menginjil belum juga keluar. Belakangan diketahui, terkait izin dari Gubernur Jenderal, Belanda, tidak diberi karena Renatus dicap sebagai nasionalis.

Sebelumnya menjadi pendeta adalah seorang guru agama, tahun 1939. Ruang penginjilannya selalu ditekan Belanda, maka Pendeta Siburian pindah ke satu kota kecil bernama Kisaran, dan bekerja sebagai guru agama di gereja Huria Christian Batak (HCB) satu gereja beraliran Protestan. Dengan demikian dia dapat melakukan kegiatan penginjilannya di sekitar daerah itu dengan gerakan Roh Kudus di daerah Asahan dan Labuhanbatu. Bahkan pada saat itu banyak orang yang dibaptis, termasuk beberapa anggota gereja HCB tadi.

Tahun 1941, karena merasa gerakan penginjilannya terbatas di daerah tersebut lebih sebagai guru agama HCB, maka dia menuju kota Balige di Tapanuli Utara, dan mulai mengadakan gerakan penginjilan di daerah tersebut. Kini, GPI berkembang dan menyebar di Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Papua.  Dari satu gereja yang didirikan di Paranginan, sekarang sudah ribuan gereja. Sekarang GPI punya sinode sendiri yang berjumlah 1117 gereja di hampir semua provinsi di Indonesia, bahkan dalam perkembangan selanjutnya, GPI telah mengembangkan misinya ke luar negeri.

ditulis, Hotman J Lumban Gaol

 

Betty Julinar Sitorus


Betty Julinar Sitorus

Betty SitorusSosok Perempuan Pejuang Pembangunan Gereja

Wahid Institut sejak tahun 2009 menunjukkan peningkatan terhadap kekerasan agama. Kasus pelanggar, penutupan rumah ibadah malah juga sering dilakukan aparat negara. Tak jauh-jauh, Satpol PP, yang beberapa waktu lalu membongkar paksa pembongkaran gereja HKBP Setu. “Banyak kasus penutupan ibadah dilakukan atas tekanan massa terhadap pemerintah daerah. Olehnya kita harus cerdas, kita harus berarti melawan segala ketidakadilan,” ujar Betty Sitorus.

Sosok perempuan di balik pendirian gereja HKBP Cinere, ini. Tatkala HKBP Cinere membangun, mendapat tekanan dari pemerintah kota Depok. Sebagaimana awalnya, HKBP Cinere, Pangkalan Jati yang berdiri pada tahun 1980. Pada awal berdirinya, jemaatnya berjumlah kurang lebih 11 kepala keluarga, yang tinggal di Kompleks Hankam, Kompleks TNI AL Pangkalan Jati dan Perumahan BPK Gandul. Kebaktian hari minggu pada mulanya diselengarakan di rumah salah seorang keluarga. Tetapi, ketika hendak membangun gedung gereja proses izinnya berbelit-belit. Lama sekali dikeluarkan. Yang lucu setelah surat IMB juga keluar malah dilarang dibangun.

Lalu, alasan pencabutan IMB oleh walikota waktu itu? Adalah karena masih dalam masa tenang pemilihan walikota. Sebenarnya berawal dari tanggal 27 Maret 2009, Walikota Depok Nur Mahmudi Ismail menyatakan mencabut IMB Tempat Ibadah atas nama HKBP Pangakalan Jati Gandul yang beralamat di Jalan Puri Pesanggarahan IV Kav NT-24 Kelurahan Cinere Kecamatan Limo, Kota Depok, Jawa Barat. Padahal, sebelumnya HKBP telah mendapatkan IMB yang diterbitkan Pemerintah Kabupaten Bogor dengan Nomor 453.2/229/TKB/1998 tanggal 13 Juni 1998.

Betty mengatakan, dasar pencabutan IMB melanggar konsitusi. Bagi Betty, itu bukan alasan. “Kita harus berani berjuang untuk melawan kesemena-menaan apara terhadap gereja.” Hakikat yang kita mau tunjukkan adalah bahwa perempuan bukan makhluk yang lebih lemah? Bagi dia, semangat untuk tetap tabah dalam berjuang mendirikan dan memenuhi semua prasyarat yang dibutuhkan, itu perlu. Karena itu dia tak jengah, bersama jemaat lain terutama perempuan bergerak dengan inisiatif melakukan pendekatan terhadap semua warga. Sebelumnya, Gereja HKBP Cinere, yang berada di Jalan Bandung, Perumahan Cinere Indah, diawal-awalnya mendapat penolakan. Sesungguhnya bukan dari warga perumahan, tetapi di luar perumahan. “Kita heran, malah ketika kita bertemu dengan lurah dan camat kita temukan bahwa warga yang demo itu bukan dari wilayah Cinere.”

Penutupan gereja ini sempat menjadi berita nasional, karena diberitakan oleh media nasional. Ketika sang walikota mencabut izin, Betty dan timnya sebagai panitia pembangunan membawa ke pengadilan dan menang di tingkat PTUN, Bandung. “Bagi kami, jemaat Gereja HKBP Cinere, ini merupakan awal yang bagus, meskipun para oknum yang tidak setuju juga tidak kalah ngotot ingin mengajukan banding. Kami pantang menyerah dan terus akan memperjuangkan keadilan sampai titik darah penghabisan,” tegas ibu tiga anak, ini.

Perempuan kelahiran Pemalang Siantar, 11 Juli 1954. Bernama lengkap Betty Julinar Sitorus. Namun pendidikan yang ditempuhnya tahun 1959 hingga 1960 TK Katolik-Salatiga, Jawa Tengah. Pendidikan Sekolah Dasar Kristen Paulus, Bandung. Juga Sekolah Menengah Pertama Kristen I Bahureksa, Bandung. Sekolah menengah atas di sekolah Kristen Dago, Bandung. Sekolah Menengah Atas PSKD I, Jakarta Pusat. Sementara sarjana dia raih dua disiplin ilmu. Pertama, 1974 hingga 1975 menempuh pendidikan di Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia, Jakarta. Dilanjutkan tahun 1976- 1982 mengambil S1 jurusan Antropologi Universitas Indonesia, Jakarta.

Betty terus mengasah diri dengan mengikuti berbagai pelatihan dan seminar diantaranya; pernah mengikuti traning Rahasia Sejarah Penebusan Yang Tersembunyi, Juli 2011. DI tahun yang sama mengikuti seminar dari Haggai Institut. Tahun 2012, dia mengikuti Confreence Universal Peace Federation (UPF) di Thailand selama 3 hari. Anggota dari Ambasador for Peace Interreligious  and Internasional Federation for World Peace. Selain itu dia juga pernah menikuti Organizing Commitee for Peace on Inovative Approach to Peace Leadership dan Good Governance yang berkerja sama dengan UPF dan Departemen Agama.

“Awalnya kita dilarang membangun padahal sudah mendapat izin. Sebagai ketua panitia, saya yang langsung menyurati dan mendatangi kantor walikota. Dua kali kita surati tetapi tidak diberikan kesempatan bertemu, malah setelah surat kedua itu. IMB dicabut. Bagi kami ini penghinaan, ini benar-benar tidak masuk akal,” jelas Ketua I Panitia Pembanguna HKBP Cinere, ini.

“Kami membuat tim doa. Lalu, kami awali dari tiga perempuan memulai mendatangi warga perihal permohonan tandatangan warga. Hampir semua merespon menandatangan, karena kita dengan baik-baik menjelasakan kita mendirikan gereja. Memang ada yang tidak banyak,” ujarnya. Dia masih ingat penjagaan ketat aparat tersebut dikarenakan ada aksi massa terhadap pembangunan Gereja HKBP Cinere.

Awal keterpanggilannya menjadi panitia pembangunan, tatkala keluarganya pindah dari Rawamangun ke Cinere. Gereja yang sekarang berdiri hanya sepelemparan batu dari rumahnya. “Awalnya, sejak baru pindah dari Rawamangun, saya melihat dari rumah saya, di tanah yang sekarang gereja berdiri. Dan, memang setelah dilihat di peta perumahan nama gereja itu sudah ada di master plan perumahan. Saya sudah melihat penglihatan, kelak akan berdiri gereja di sana. Awalnya merasa terpanggil?”

Terjun pelayanan

Memulai karier menjadi Pemimpin Redaksi “Bulletin IKA” Antropologi Universitas  Indonesia. Pernah menjadi assisten dosen untuk mata kuliah Antropologi. Sembari pengurus Pengurus PKK Kelurahan, di Rawamangun. Karena pasih berbahasa inggris membawanya menjadi pengajar Pengajar di Lembaga Pendidikan Bahasa Inggris untuk anak-anak tingkat SD dan SMP. Pengalaman kerjannya bukan hanya itu, dia juga Ikut serta dalam Pameran “The International Furniture dan Handy Craft Exhibition, yang diadakan yang diadakan di Messe Frankfurt, Jerman dan ke Ambiente Frankfurt, Jerman.

Keterlibatannya di dalam oraganisasi membawanya pada pengenalan terhadap pentingnya kepedulian itu ditumbuhkan. Keterlibatannya dalam pelayanan sosial sudah dimulainya sejak muda. “Saya suka berbagi, ikut organisasi. Karena itu di sanalah kita banyak bertemu dan share dan berbagai dengan orang lain,” katanya lagi. Keterlibatannya dari pelayanan di zending HKBP Resort, Jakarta Selatan. Kemudian, dia juga ikut membantu dan mendidik anak-anak yatim piatu Yayasan Pintu Elok di daerah Pamulang, Serpong, Tangerang Selatan. Juga di Perempuan Untuk Perdamaian sebagai anggota.

Tak hanya itu, dia juga menjadi aktivis adalah kerinduannya. Karena itu, dia juga terlibat di Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan TNI Angkatan 45 (FKPP TNI Angkatan 45). Kompleks Siliwangi, Jakarta. Di organisasi ini dia bertindak sebagai pengurus. Lalu juga ikut juga berkecimpung di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Komunitas Si Jabrik Kayu Manis, Jakarta. “LSM ini menangani anak-anak dari keluarga ekonomi lemah. Bertindak sebagai Pelatih dan Kontributor materi pendidikan.”

Sejak lulusan dari antropologi Universitas Indonesia ini, selain di dunia sosial, dia juga juga tetapi aktif melayani di alumninya, aktif di angkatan Kekerabatan Antropologi di Universitas Indonesia (IKA-UI). Di Yayasan Forum Kajian Antropologi Indonesia (FKAI).  Selain itu, aktivis Sosial dalam Gereja HKBP Ressort, Jakarta Selatan sejak tahun 2002 hingga sekarang ini. Betty, juga aktif memberikan konsultan untuk penyembuhan penyakit Kanker. Pelayanan ini sudah dia kerjakan sejak tahun 2005 hingga sekarang.

Di gereja Betty melayani sebagai penetua HKBP, Pangkalan Jati, Cinere, Jakarta Selatan, sejak tahun 2004 hingga sekarang. Di gereja, selain menjadi penatua, dia adalah Wakil Ketua I Panitia Pembangunan Gereja HKBP Cinere, sejak tahun 2007 hingga sekarang. Dan pernah menjadi ketua Panitia Penyelenggara, pada Februari 2011 lalu saar pementasan “Drama Musikal” HKBP Cinere di Taman Ismail Marzuki (TIM) Cikini, Jakarta Pusat. “Orang-orang yang berjuang untuk satu cita-cita, apapun itu, termasuk dalam mendirikan rumah ibadah harus ada orang yang mau berkorban. Berani mengorbankan kehidupannya untuk cita-cita mulia,” ujar anggota Forum Komunikasi Kristiani (FKK) Cinere, ini.

ditulis, Hotman J. Lumban Gaol

Drs. Elvin Blucher Sinaga, MM, Ph D


P.Sinaga 002Tegas dan apa adanya, itu yang pertama kali akan kita tangkap saat berbicara dan bertukar pikiran dengan salah satu tokoh di komisi keuangan dan perbankan atau komisi 11 DPR RI. Terlahir 5 desember 1952, Drs. Elin Blucher Sinaga, MM, Ph D, atau akrab dipanggil bang Sinaga oleh rekan wartawan ini terkenal sebagai salah satu anggota dewan yang vokal dan kritis terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi oleh komisi 11 dalam menangani fungsi pengawasan, anggaran dan legislasi terkait dengan deaprtemen keuangan, Bank Indonesia, Badan Pemeriksa keuangan dan Pembangunan (BPKP), Badan Pusat Statistik (BPS), Lembaga Keuangan non bank dan Badan Pemeriksa Keuangan.

Terakhir ini dalamn fit and proper test calon anggota BPK, dalam berbagai temu wicara dengan publik, Sinaga menyampaikan bahwa tiga kriteria yang harus dipenuhi adalah integritas tinggi, kapabilitas, kemampuan akademis dan memiliki visi misi yang jelas serta memiliki budi pekerti. Itu hanya sekelumit kisah kinerja Sinaga dalam kesehariannya di gedung senayan, masih banyak pernyataan kritis dan membangun Sinaga yang dilakukannya demi meningkatkan kinerja aparatur pemerintah.

Selepas kesibukannya di DPR RI, Sinaga muncul sebagai sosok sederhana yang tidak mau kedudukannya sebagai pejabat negara dipergunakan sebagai kesombongan semata, padahal dirinya adalah salah satu anggota DPR RI yang telah menyandang gelar S3 Doctor of Pilosophy (Ph D ) dari Chicago University. Sebelumnya pria kelahiran Girsang, Sumatera Utara ini menempuh pendidikan di Akademi Tekstil Uniersitas Veteran(1975), Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Bandung jurusan Administrasi Negara (1986) dan Pascasarjana Uniersitas Padjajaran program Magister Manajemen (1999). Menilik dari riwayat pendidikan sudah sangat jelas berbagai asam garam di dunia pendidikan administrasi negara dan ekonomi manajemen strata dua sudah dia dalami.

Aktivitas sebagai mahasiswa ternyata tidak membuat Sinaga hanya menjadi mahasiswa biasa, namun dirinya muncul sebagai mahasiswa yang juga harus bekerja keras demi membiayai kuliahnya dan meningkatkan potensi diri. Tercatat Sinaga belia pernah bekerja sebagai editor pada Kantor Biro Pusat Statistik di Jakarta, Senior Spinning Master di Industri Textile Industry Purwakarta, hingga kariernya menanjak dan semakin cemerlang sebagai Marketing Executive di perusahaan American Indonesian Group (AIG), Public and Human Relation Manager di PT Metro Group.

Berbagai seminar diikuti oleh tokoh dari fraksi demokrat ini, antara lain seminar internasional “Strategic management and case studies on current emerging topics in strategic management with emphasis for non dominant economics, such as Indonesia” kerjasama uniersitas Padjajaran bandung dengan University of Western Australia, hingga seminar yang diadakan departemen Perindustrian dan Perdagangan RI ‘Kiat menghadapi tuduhan dumping dan pengajuan petisi anti dumping terhadap produk produk ekspor unggulan Indonesia’.

Dalam hal kepemimpinan sosok berwibawa dari Sinaga turut menghantarkannya mengikuti pemilihan walikota pematang siantar periode 2000-2005 hingga final, menjadi ketua umum Kamar Dagang Industri Usaha kecil menengah ( Kadin UKM) Proinsi Jawa Barat 2002-2007 dan berlanjut lagi hingga periode kedua tahun 2007-2012, Ketua LSM–LP2S lembaga Pembangunan dan Pengembangan, Siantar Simalungun sejak Maret 2003 hingga saat ini, hingga Wakil Sekretaris Dewan Pimpinan cabang Asosiasi Kontraktor ketenagalistrikan Indonesia (AKLINDO) kota Bandung periode 2008-2013. Di dalam fraksi nya, Sinaga selain menjadi wakil dari fraksi untuk menjadi anggota komisi 11, dirinya juga menjadi Wakil Sekretaris II DPD Partai Demokrat jawa Barat periode 2008-2013.

Sederet prestasi dan perjuangan kepemimpinan Sinaga dalam organisasi dan karier tak membuat pria ini menjadi sombong, bahkan kepada anak anaknya dia tetap mengajarkan kebersahajaan. Apabila penat dengan berbagai pekerjaan, Sinaga menghabiskan waktu dengan kegiatan rohani sebagai umat Kristiani dan mengajak jalan–jalan anaknya, tidak dengan mobil dinas DPR RI tetapi justru memilih mobil panther tua yang dimilikinya, suatu pribadi yang unik dan sederhana. Bahkan hal ini menular pada ke empat anaknya, apabila ditanyakan apa pekerjaan orang tua, serempak ke empat anaknya akan menjawab bahwa ayahnya hanyalah seorang hamba Tuhan. Satu hal yang patut kita teladani dari sosok Elvin Blucher Sinaga adalah perjuangannya untuk ikut mewujudkan visi dan misi negara dengan penciptaan clean and good government, dan selalu berkarya sebagai manusia Indonesia yang memiliki rasa cinta tanah air dan takut akan Tuhan.

Sumber:

www.dpr.go.id

Charles Hutagalung


CharlesCHARLES HUTAGALUNG adalah penyanyi marga Hutagalung, Indonesia yg legandaris yang lahir di Medan, 14 Oktober 1948, dan wafat di Jakarta, 7 Mei 2001.

SEJARAH HIDUPCharles telah mengenal Musik sewaktu kecil, mengikuti Les Piano dan bermain di Band Bocah. Sesudah remaja bermain band di kota Medan (Victim’s dan Bhayangkara Nada) terakhir The Mercy’s 70 dan hijrah ke Jakarta mengadu nasib.

Charles menikah di Jakarta 16 Mei 1975 dengan Delly Sriati Harahap dan dikaruniai 4 orang anak yaitu Iim Imanuel Hutagalung (Laki-laki) (1976), Ria Maria Hutagalung (Perempuan) (1977), Chepy Chekospi Hutagalung (Laki-laki) (1980) dan Dian Kristian Hutagalung (Perempuan) (1987).

Pada tanggal 21 Januari 1998, Charles terserang serangan stroke yang pertama kalinya. Pada tanggal 27 Januari 1999, Charles terserang stroke untuk yang kedua kalinya, sampai akhirnya ia dipanggil Yang Maha Kuasa pada tanggal 7 Mei 2001 Jam 07.53 pagi, ketika ia masih dalam perawatan berjalan yang di supervisi oleh Dokter Djoko Listiono dari RS. Pertamina Pusat. Ia dimakamkan pada hari Rabu tanggal 8 Mei 2001 di TPU (Taman Pemakaman Umum) Joglo, Jakarta Barat.

Sumber : http://wikipedia.org/wiki/Charles_Hutagalung

Yockie M. Hutagalung


Drs Yockie Marihot Hutagalung, MM Drs Yockie Marihot Hutagalung, MM adalah pengusaha, pemilik perusahaan rekaman Octopus Record. Selain pengusaha, dia juga pengarang lagu, di antaranya lagu  Di Mimpimu, lagu ini pertama dinyanyikan Joy Tobing.

Saat ini, Yockie menjabat Ketua Umum Nasional Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI).  Dia terpilih pada musyawarah Nasional HIPPI Ke-VII yang digelar di Hotel Saripan Pasific Jakarta pada 25-26 November 2010, lalu.

Sebagai Ketua HIPPI,  dia berharap seluruh pengusaha pribumi bersatu. Yockie mengajak agar terus meningkatkan diri dalam persaingan global saat ini, dengan membangun jaringan bersama, serta persatuan dan kesatuan, karena kita tidak bisa membawa bangsa ini ke persaingan global, katanya. “Perlu meningkatkan persatuan dan kesatuan, mari kita tinggalkan sifat-sifat yang rasialistis,” ujar suami dari Louise M.A. Sitompul, SH, MKn, ini.

Data Pribadi:

Nama Lengkap: Drs. Yockie Marihot Hutagalung, M.M

Tempat/Tanggal Lahir: Tarutung, Tapanuli Utara, 22 April 1950

Agama: Kristen Prostestan (berjemaat di HKI)

Anak: Empat (4) orang

Alamat Kantor: Jl Garuda No. 20 AA & 20 BB Kemayoran, Jakarta Pusat

 

Lata Belakang Pendidikan:

  • Sekolah Dasar lulus dari SD HKI Tarutung Tahun 1961
  • Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Tarutung Tahun 1964
  • SMA Negeri VI Bandung lulus Tahun 1967
  • S1 Sarjana Administrasi Negera Fakultas Sospol Universitas Padjajaran Bandung Tahun 1981
  • S2 STIE Widya Jayakarta, Jakarta Tahun 2005
  • S3 Ilmu Pemerintahan Universitas Padjajaran Bandung Tahun 2012

Pendiri  Perusahaan:

  • PT. Algatra Nusa Prima (supplier & kontraktor sarana telekomunikasi)
  • PT. Pido Food Industri di Jakarta (industri makanan kaleng/botol)
  • PT. Demsaland & Realty (property)
  • PT. Marson Multipack (industri self adhesive tape, packaging tape, double tape, craft tape, aluminium tape, masking tape)
  • PT. Timico (pertambangan)
  • Agen Alcatel Francis di Indonesia

Pengalaman Organisasi:

  • Ketua Umum Perkumpulan Keluarga Besar Marga Hutagalung se-Jabodetabek, Tahun 2005-2010
  • Ketua Umum Perkumpulan Keluarga Besar Marga Hutagalung Internasional (se-Dunia), Tahun 2010-sekarang
  • Ketua Umum Perserikatan Marga Batak se-Dunia (PMBS), Tahun 2009-sekarang
  • Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia Bidang Agrobisnis, Tahun 2009-2010
  • Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Himpunan Pengusaha Putra Indonesia (HIPPI)

 

Sumber:

Hotman J. Lumban Gaol

 

 

Soaloon Simatupang


Irjend Pol Drs

Karya cipta 30 dari dari 60-an Judul Lagu Karya Cipta Irjend. Pol. (Purn.). Drs. Soaloon Simatupang Sianturi, MSc.,
1. Inang Naburju
2. Amang Naburju
3. Anak Naburju
4. Parsondukbolon Naburju
5. Ompung Naburju
6. Siadopan Naburju
7. Boru Naburju
8. Boru Nabasa
9. Patik Palimahon
10. Martabe
11. Tahima
12. Sai Huingot do Ho
13. Songon Sillam Manoro
14. Hasian
15. Parpadanan
16. Pikkiri
17. Parumaen Naburju
18. Tona ni Oppui
19. Tumajuna ma
20. Unang Leas Roham
21. Anak Hasian
22. Paima Au
23. Muara Nauli
24. Unang Sai Sungguli be
25. Ora et Labora
26. Borhat Ma Ho Ito
27. Lapik Ni Bantal
28. Jangan Ragu
29. Di Hatiku Hanya Satu
30. Kalau Piring Sudah Pecah
31. Aditira Wirabakti (Mars Polda Sumsel)
32. Wawasan Nusantara (Hyme Lemhanas)
33. Motor Muara
34. Raja Parmassahati

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama Lengkap                  : Drs. SOALOON SIMATUPANG SIANTURI, MSc.

Pangkat                terakhir               : INSPEKTUR JENDERAL POLISI

Mantan Korps                   : POLRI

Tanggal Lahir                      : 10 Oktober 1947

Tempat Lahir                      : Muara, Tapanuli Utara

Suku Bangsa                       : Batak

Agama                                  : Kristen Protestan

Keterangan Lain

–              Tinggi Badan      : 166 Cm

–              Berat Badan       : 66 Kg

–              Warna Kulit         : Sawo Matang

–              Rambut                                : Hitam Ikal

–              Golongan Darah: -O-

KELUARGA

Isteri

Siti Bur Siregar (alm)

Anak

1.            Sariwaty Simatupang

2.            Mariska Simatupang

3.            Demak Simatupang

4.            Binsar Simatupang

 

PENDIDIKAN UMUM

SD, lulus, Tahun 1954-1960

SMP, lulus, Tahun 1960-1963

SMA, lulus, Tahun 1963-1966

IPWI-JIM’S, lulus, Tahun 1997-1998

KEPANDAIAN BERBAHASA

Bahasa Daerah  :               1. Sunda               : Aktif

2. Jawa                 : Pasif

3. Batak                : Aktif

4. Palembang     : Aktif

Bahasa Asing      :               1. Inggris

KEGEMARAN-KEGEMARAN

Olahraga                              : 1. Golf

2. Tinju

3. Sepak Bola

4. Bulu Tangkis

5. Judo

Kesenian                             : 1. Menyanyi

2. Menciptakan Lagu Pop Indonesia dan Lagu Daerah Tapanuli

BINTANG/TANDA JASA

1.            STL. Pancawarsa

2.            STL. Dwidya Sista

3.            STL. Kesetian 8, 16, dan 24 tahun

4.            STL. Kesetria Tamtama

5.            STL. Karya Bakti Utama

6.            STL. Dwidya Sista Utama

7.            Bintang Bhayangkara Nararya

8.            Bintang Bhayangkara Pratama

PENEMPATAN PENUGASAN DI LUAR NEGERI

1.            Thn. 1988                             : Studi Banding di BKA Jerman Barat

2.            Thn. 1987 s/d 1994           : Peserta Confrence Asean Armed Forces

( Malaysia, Singapura, Thailand, Philipina dan

Brunai Darussalam).

3.            Thn. 1988 – 1995               : Peserta Confrence Aseanapol ( Malaysia, Singapura, Thailand, Philipina dan Brunai Darussalam)

4.            Thn. 1996                             : Peserta WWLN KRA XXIX Lemhanas Ke

United of Kingdom.

5.            Thn. 1997                             : Paping WWLN KRA XXX Lemhanas ke

Austalia.

6.            Thn. 1999                             : Tenaga Ahli WWLN KRA XXXII Lemhanas ke

RRC

7.            Thn. 2000                             : Tenaga Ahli WWLN KRA XXXIII Lemhanas ke

Perancis