Sutan Manahara Hutagalung


BukuPada medio Maret lalu, Sabtu, 23 Maret 2013 bertempat di Balai Rasa Sayang, Hotel Polonia, telah berlangsung memperingati tujuh tahun meninggalnya Pendeta Prof. Sutan Manahara Hutagalung, Ph.D. Sutan lahir di Sosor Topiaek, Hutagalung, Tapanuli Utara, 20 Agustus 1921.

Putra dari St. Elieser Hutagalung dan Lena br. Simorangkir. Sejal usia sekolah, SUtan, di zaman penjajahan menjalani pendidikan mulai dari Holland Inlandsche School/HIS (setingkat SD) di Sigompulon, Tapanuli Utara, kemudian Meer Uitgebreid Lager Onderwijs/MULO (setingkat SMP) di Tarutung dan Pematangsiantar, dan melanjutkan ke Algemeene Middelbare School/AMS (setingkat SMA). Begitu lulus sempat bekerja sebagai opsiner dan Kepala Bagian Keamanan di Penjara Istimewa Seumur Hidup di Sragen, Jawa Tengah, mengikuti Kursus Sekolah Menengah Tinggi Kehakiman bagian Kepenjaraan di Jakarta dan kemudian hari diangkat menjadi Kepala Penjara Klaten, Jawa Tengah.

Peristiwa-peristiwa penting pada episode ini jua yang Tuhan pakai untuk kemudian menghantarnya membuatkan yekad menjadi pendeta. Akhirnya, tahun 1949, di usia 28 tahun, Sutan melanjutkan kuliah ke STT Jakarta. Kuliah diselesaikan dalam tempo 4 tahun sebagai lulusan terbaik. Karena lulusan terbia dia mendapat beasiswa untuk program Master of Teology (MTh) dan Doctor of Philosophy (Ph.D) di Divinity School of Theology, Yale University, Amerika Serikat. Pada 1955, dia meraih gelar Magister Teologi, dan tahun 1958 meraih gelar doktor teologia. Doktor teologi kedua di Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) setelah Dr. Andar Lumbantobing yang lulus dari Jerman pada 1957.

Sekembali ke Indonesia, Sutan melayani di gereja HKBP sebagai dosen di STT Nomensen dan pendeta diperbantukan di Distrik Sumatera Timur. Selain menjadi Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan (FKIP) Nommensen Pematangsiantar yang turut dibidaninya pada 1962. Namun, konflik besar di dalam tubuh HKBP berujung pada lahirnya GKPI pada 30 Agustus 1964. Dr. Andar Lumbantobing menjadi Bishop pertama, sementara Sutan Hutagalung menjadi Sekretaris Jenderal pertama. Jabatan tersebut dia jalankan selama dua periode 1966-1977 dan 1983-1988.

Acara peringatan yang cukup sederhana tersebut dihadiri oleh sekitar 200 undangan dari kalangan pendeta, akademisi, kerabat dan para sahabat. Dari kalangan akademisi, hadir juga dari berbagai pendeta internominasi. Setelah kebaktian selesai, diadakan peluncuran dan bedah buku berisi khotbah dan pemikiran almarhum semasa hidup, yang selama ini tersimpan di kamar kerjanya di Jalan Panyabungan 37, Pematangsiantar. Bagaimana gagasan buku ini diterbitkan? Gagasan tersebut disambut baik oleh keluarga, namun karena berbagai kendala rencana tersebut baru dapat mulai direalisir dua tahun kemudian setelah menantu Dr. Sutan, Jhon Silalahi, bertemu kembali dengan teman sejak masa kecilnya, Jansen Sinamo, yang telah menjadi seorang guru etos kondang sekaligus penulis dan editor dari penerbit Institut Darma Mahardika.

Terbitnya gagasan pemikiran Dr. Sutan Hutagalung, dua buku berjudul “Pemberian adalah Panggilan” yang berisi khotbah dan sejarah GKPI serta “Dari Judas ke Tugu ke Kemiskinan” yang berisi aneka ragam ceramah yang pernah disampaikan di pelbagai kesempatan dan artikel-artikel yang pernah diterbitkan di media cetak. Peringatan itu, diawali dengan kebaktian. Selanjutnya diikuti peluncuran dua buku tersebut. Secara simbolis, penerbit diwakili Jansen Sinamo kepada istri almarhum Juliana br. Hutabarat, menyerahkan buku. Lalu, acara dimulai dengan bedah buku. Bedah buku yang dimoderasi langsung oleh Jansen Sinamo.

Bertindak sebagai pembicara adalah Pdt. Patut Sipahutar (Bishop GKPI) dan Pdt. Dr. Raplan Hutauruk (Ephorus Emeritus HKBP). Beberapa poin penting yang disampaikan Pdt. Dr. Raplan Hutauruk. Dipenutupan catatan bedah buku Raplan menyatakan; “Bahwa pesan etis Dr. Sutan telah disampaikan secara kritis, kreatif dan mengalir dari satu khotbah ke khotbah yang lain, dari satu kiasan ke kiasan yang lain, yaitu tentang manusia dan lingkungannya. Dr. Sutan tidak mengenal wilayah abu-abu, yang hitam adalah hitam dan yang putih adalah putih.”

ditulis, Hotman J. Lumban Gaol

Arie Sukanti Hutagalung


25Prof,-Arie-S-Hutagalung2Prof. Arie Sukanti Hutagalung, SH., MLI

 

Lahir      29 September 1951 (umur 61)

Pekerjaan           Dosen/Guru Besar Universitas Indonesia

Prof. Arie Sukanti Hutagalung, SH., MLI adalah Guru Besar Universitas Indonesia (dalam bidang Hukum Agraria), yang lahir di Jakarta, tanggal 29 September 1951.

Arie Sukanti Hutagalung menjabat sebagai Ketua Dewan Guru Besar Fakultas (DGBF) UI, dan anggota Tim Inti Komisi A Dewan Guru Besar (DGB) UI, Kepakarannya dalam bidang Agraria antara lain sebagai Konsultan untuk World Bank, sebagai ahli Land Right Specialist pada Proyek IBRD Land Information System, Land Management Specialist pada JIUDP-IBRD Ditjen Bagda Depdagri, Land Law Specialist pada LASA Team-Land Administration Project IBRD-BPN, Local Expert pada Economic Law and Improved Procurement Systems (ELIPS) Project-Ekubang-USAID, Ketua Tim Perumus untuk Indonesian Land Management and Policy Development Program (LMPDP)-kerjasama Badan Pertanahan Nasional (BPN), Badan Perencana Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Bank Dunia (IBRD). Saat ini Anggota Pembentukan Tim Penyelesaian Masalah Pertanahan Pada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Sektor Perkebunan, Anggota Pembentukan Komite Hukum Kementerian Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Perempuan Batak boru Hutagalung ini memperoleh gelar Sarjana Hukum dari Universitas Indonesia yang diselesaikan pada tahun 1976, kemudian diteruskan pada Program Pascasarjana non degree Studi Pembangunan Indonesia (Regional Development Planning), FISIP UI Jakarta-ISS Den Haag yang diselesaikan pada tahun 1979, dan kemudian gelar Master dalam Master of Science in Legal Institution (MLI) diperoleh dari University of Wisconsin Law School, Madison, USA pada tahun 1981.

Sebagai professor perempuan, karya-karya yang banya. Ilmiahnya tersebar dalam berbagai penelitian, buku, dan dalam jurnal-jurnal ilmiah, antara lain: Program Redistribusi Tanah di Indonesia, Tanya Jawab Masalah Pertanahan, Condominium dan Permasalahannya, Serba Aneka Masalah Tanah Dalam Kegiatan Ekonomi (Suatu Kumpulan Karangan). Tebaran Pemikiran Seputar Masalah Hukum Tanah, Kewenangan Pemerintah di Bidang Pertanahan.

Dalam jurnal ilmiah antara lain: Pemberian Hak Tanggungan bagi Bank dan Pengembang dalam Pemberian Kredit Properti, Journal Newsletter, Masalah-masalah Yuridis Praktis dalam Persiapan Kontrak Bisnis dan Hubungannya dengan Pelaksanaan Kontrak Tersebut, dalam Buku Kontrak di Indonesia, diterbitkan oleh Project Elips,

Eksekusi Jaminan Fidusia Menurut UU No. 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia, dimuat dalam Majalah Hukum,

Execution on Fiduciary Security Under The Law No. 42 of 1999 Regarding Fiduciary Security (A Practical, Juridical Analysis to Anticipate its Effectiveness), Issues Around Leasehold Land (Tanah Hak Pakai) Toward Globalization dimuat dalam Law Journal,

Penerapan Lembaga “Rechtsverwerking” untuk Mengatasi Kelemahan Publikasi Negatif dalam Pendaftaran Tanah, Perjanjian Bisnis Properti dalam Pengembangan Kawasan Pariwisata, Tinjauan Yuridis Masalah Secondary Mortgage Facility (“SMF”) di Indonesia, dimuat dalam Majalah Hukum dan Pembangunan,

Perlindungan Pemilikan Tanah dari Sengketa Menurut Hukum Tanah Nasional, dimuat dalam Majalah Hukum Universitas Trisakti, Edisi Khusus Mengenang Prof. E. Suherman, SH,

Aspek Hukum Tanah Sehubungan dengan Restrukturisasi Utang, Penyelesaian Sengketa Tanah Menurut Hukum Yang Berlaku dalam Jurnal Hukum Bisnis, dan penelitian-penelitiannya tentang Implikasi Hak Tanggungan Terhadap Pemberian Kredit di bidang Properti dalam rangka Kerjasama Bank dan Pengembang.

Penelitian tentang Apakah Restribusi Tanah Reform Dapat Menata Kembali Pemilikan Tanah di Kecamatan Kakas Kabupaten Minahasa,

Penelitian tentang Permasalahan Hukum dalam Praktek Tanah sebagai Jaminan Hutang dengan # Berlakunya UU No. 4 Tahun 1996,

Penelitian tentang Pelaksanaan Pembebasan Tanah dan Pemberian Izin Okupasi, Penelitian tenang Permasalahan Pembangunan Perumahan

Bagi Arie, mengerti yang mengerti  dalam bidang Hukum Agraria orang yang mempermaikan hukum adalah orang-orang yang bentuk halus dari memperkaya diri sendiri secara terang-terangan.

Arie Sukanti Hutagalung

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Perubahan tertunda ditampilkan di halaman iniBelum Diperiksa

Prof. Arie Sukanti Hutagalung, SH., MLI

Arie Sukanti Hutagalung

Lahir      29 September 1951 (umur 61)

Bendera Indonesia Jakarta, Indonesia

Pekerjaan           Dosen/Guru Besar Universitas Indonesia

Prof. Arie Sukanti Hutagalung, SH., MLI adalah Guru Besar Universitas Indonesia (dalam bidang Hukum Agraria), yang lahir di Jakarta, tanggal 29 September 1951.

Arie Sukanti Hutagalung menjabat sebagai Ketua Dewan Guru Besar Fakultas (DGBF) UI, dan anggota Tim Inti Komisi A Dewan Guru Besar (DGB) UI, Kepakarannya dalam bidang Agraria antara lain sebagai Konsultan untuk World Bank, sebagai ahli Land Right Specialist pada Proyek IBRD Land Information System, Land Management Specialist pada JIUDP-IBRD Ditjen Bagda Depdagri, Land Law Specialist pada LASA Team-Land Administration Project IBRD-BPN, Local Expert pada Economic Law and Improved Procurement Systems (ELIPS) Project-Ekubang-USAID, Ketua Tim Perumus untuk Indonesian Land Management and Policy Development Program (LMPDP)-kerjasama Badan Pertanahan Nasional (BPN), Badan Perencana Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Bank Dunia (IBRD). Saat ini Anggota Pembentukan Tim Penyelesaian Masalah Pertanahan Pada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Sektor Perkebunan, Anggota Pembentukan Komite Hukum Kementerian Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Karya ilmiahnya tersebar dalam berbagai penelitian, buku, dan dalam jurnal-jurnal ilmiah, antara lain :

Program Redistribusi Tanah di Indonesia, Tanya Jawab Masalah Pertanahan, Condominium dan Permasalahannya, Serba Aneka Masalah Tanah Dalam Kegiatan Ekonomi (Suatu Kumpulan Karangan),

Tebaran Pemikiran Seputar Masalah Hukum Tanah, Kewenangan Pemerintah di Bidang Pertanahan.

Dalam jurnal ilmiah antara lain: Pemberian Hak Tanggungan bagi Bank dan Pengembang dalam Pemberian Kredit Properti, Journal Newsletter, Masalah-masalah Yuridis Praktis dalam Persiapan Kontrak Bisnis dan Hubungannya dengan Pelaksanaan Kontrak Tersebut, dalam Buku Kontrak di Indonesia, diterbitkan oleh Project Elips,

Eksekusi Jaminan Fidusia Menurut UU No. 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia, dimuat dalam Majalah Hukum,

Execution on Fiduciary Security Under The Law No. 42 of 1999 Regarding Fiduciary Security (A Practical, Juridical Analysis to Anticipate its Effectiveness), Issues Around Leasehold Land (Tanah Hak Pakai) Toward Globalization dimuat dalam Law Journal,

Penerapan Lembaga “Rechtsverwerking” untuk Mengatasi Kelemahan Publikasi Negatif dalam Pendaftaran Tanah, Perjanjian Bisnis Properti dalam Pengembangan Kawasan Pariwisata, Tinjauan Yuridis Masalah Secondary Mortgage Facility (“SMF”) di Indonesia, dimuat dalam Majalah Hukum dan Pembangunan,

Perlindungan Pemilikan Tanah dari Sengketa Menurut Hukum Tanah Nasional, dimuat dalam Majalah Hukum Universitas Trisakti, Edisi Khusus Mengenang Prof. E. Suherman, SH,

Aspek Hukum Tanah Sehubungan dengan Restrukturisasi Utang, Penyelesaian Sengketa Tanah Menurut Hukum Yang Berlaku dalam Jurnal Hukum Bisnis, dan penelitian-penelitiannya tentang Implikasi Hak Tanggungan Terhadap Pemberian Kredit di bidang Properti dalam rangka Kerjasama Bank dan Pengembang.

Penelitian tentang Apakah Restribusi Tanah Reform Dapat Menata Kembali Pemilikan Tanah di Kecamatan Kakas Kabupaten Minahasa,

Penelitian tentang Permasalahan Hukum dalam Praktek Tanah sebagai Jaminan Hutang dengan # Berlakunya UU No. 4 Tahun 1996,

Penelitian tentang Pelaksanaan Pembebasan Tanah dan Pemberian Izin Okupasi, Penelitian tenang Permasalahan Pembangunan Perumahan.

Sumber: Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Prof. Dr. Tapi Omas Ihromi


Prof. Dr. Tapi Omas Ihromi

Tapi Imhroni Simatupang-editDi bidang antopologi, nama Prof. Dr. Tapi Omas Ihromi bukanlah nama asing. Adek dari TB Simatupang itu adalah seorang akademisi juga, hingga menjadi Guru Besar bidang Ilmu Hukum Universitas Indonesia (UI). Tak banyak yang tahu, Bu Ihromi juga ikut membidani lahirnya Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UI. Dia juga pengagas Kajian Wanita Universitas Indonesia yang dikenal luas di tanah air sebagai antropolog dengan kekhususan pada bidang Antropologi Hukum. Sebagai ahli hukum, Tapi Omas tidak ingin berhenti di situ, karena menurutnya, banyak pertanyaan yang tidak bisa dijawab ketika melihat bagaimana hukum bersentuhan dengan masyarakat. Itu sebabnya ia merambah bidang Antropologi Hukum.

Perempuan kelahiran Pematangsiantar, 2 April 1930 ini, dikenal sangat kuat minatnya pada isu-isu gender, terutama isu perempuan di Indonesia. Bu Ihromi, demikian semua orang  memanggilnya. Jauh sebelum dilahirkannya Kajian Wanita UI pada 1990. Para sahabatnya, seperti, Prof. Dr. Saparinah Sadli dan salah seorang muridnya, Prof. Dr. Sulistyowati Irianto, menyebutnya sebagai The Mother of Indonesian Feminist Studies.

Minat besarnya pada isu perempuan di Indonesia telah ditunjukkan sejaknya mengajar di Fakultas Hukum setelah lulus, tahun 1958. Dan kemudian berhasil mendapatkan gelar doktor dalam bidang antropologi hukum pada 1978, dengan menulis disertasi diberi judul Adat Perkawinan Toraja Sa’dan dan Tempatnya dalam Hukum Positif Masa Kini.

Sebagai seorang pakar hukum adat, Bu Ihromi memang aktif membela kepelbagaian adat-istiadat di Indonesia. Dia melihat, bahwa penyeragaman hukum di Indonesia, seperti yang dilakukan oleh pemerintah Orde Baru, hanya akan menimbulkan masalah di masyarakat.

Karya fenomenalnya antara lain: Bianglala Hukum: hukum dan antropologi, hukum dan integrasi bangsa, hukum dan kedudukan wanita, antropologi hukum dan polisi, wanita dan kesadaran hukum (1986), Kajian Wanita dalam Pembangunan (1995) dan Penghapusan diskriminasi terhadap wanita, sebagai ko-editor bersama Sulistyowati Irianto dan Achie Sudiarti Luhulima (2000).

Guru sejati

Kariernya dia mulai menjadi guru taman kanak-kanak, sampai berkarir puncak sebagai ”mahaguru” di tingkat Universitas Indonesia. Tahun 1979, kiprah sebagi perempuan menggas terwujudnya  Kelompok Studi Wanita di FISIP UI bersama dengan Dr. Mely G. Tan dan rekan lainnya. Dia juga pencetus, sekaligus pengajar mata kuliah ”Wanita dan Pembangunan” di FISIP UI. Barulah kemudian pada 1990, bersama Saparinah Sadli atau Bu Sap, ia mendirikan Program Studi Kajian Wanita di tingkat magister UI.

Ibu dari dua orang anak perempuan, dan nenek empat orang cucu ini.  Istri dari Prof. Dr. Ihromi, pendeta, teolog, pakar Perjanjian Lama dan bahasa Ibrani Indonesia. Sejak meninggalnya sang suami, dan anak keduanya Ade,  Bu Ihromi memang hampir tidak pernah aktif kembali di ranah publik. Baik sebagai dosen, peneliti atau aktifis. Rasa syukur keluarga juga tercermin dalam keluarganya.

Drs. Sanggam Hutagalung. MM


Biodata;

Drs. Sanggam Hutagalung. MM

Lahir di Tarutung, 26 Pebruari 1958

Keluarga;

Istri: Prof. Dr. Prihatin Lumbanraja, SE, M.Si

Anak/Menantu:

1. Immanuel B. P. Hutagalung / Elisabeth N. Br Ambarita, SH

2. Arga J. P. Hutagalung, SH / Melysa Y. N. Br. Lumbantobing, SH

3. Naomi Karina Br Hutagalung Riwayat

Orangtua;

Ayah: Oliver S. P. Hutagalung (Alm.)

Ibu: Dermawan Br. Sitompul (Alm.)

Pengalaman Jabatan:

1. Tahun 1986 : Pelaksana Kepala Seksi IPEDA pada Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Tapanuli Tengah,

2. Tahun 1987 : Kepala Seksi IPEDA pada Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Tapanuli Tengah (Eselon IV B),

3. Tahun 1989 : Kepala Bagian Umum pada Setwilda Tk. Kabupaten Tapanuli Tengah (Eselon IV A), 4. Tahun 1991 : Kepala Bagian Perekonomian pada Setwilda Tk. II Kabupaten Tapanuli Tengah (Eselon IV A),

5. Tahun 1992 : Kepala Dinas Pendapatan Tk. II Setwilda Tk. II Kabupaten Tapanuli Tengah (Eselon III B),

6. Tahun 2001 : Ketua BAPPEDA Kabupaten Tapanuli Tengah (Eselon III A),

7. Tahun 2002 : Sekretaris BAPPEDA Kabupaten Tapanuli Tengah (Eselon III A), dan Tahun 2002 : Kepala BAPPEDA Kabupaten Tapanuli Utara (Eselon II B),

8. Tahun 2004 : Sekretaris Daerah Kabupaten Tapanuli Utara (Eselon II A),

9. Bulan Juli 2012 : Staf pada Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Sumatera Utara.

Matang Pengalaman, Teruji Reputasi

SanggamMenjelang pemilihan kepala daerah di Kabupaten Tapanuli Utara periode 2014-2019, suasana makin menghangat. Pemilukada yang akan digelar September nanti amat ditunggu-tunggu masyarakat Tapanuli Utara, juga masyarakat perantau asal kabupaten yang dulunya karasidenan ini. Salah satu pasangan calon yang diprediksi meraut suara paling banyak adalah pasangan-mantan Sekretasi Daerah Tapanuli Utara, Sanggam-Sahat, lengkapnya Drs. Sanggam Hutagalung. MM berpasangan dengan Sahat Sinaga, SH., MKn. (Sekretaris Jenderal DPP Partai Damai Sejahtera-mantan Ketua Umum Gerakan Muda Kristen Indonesia [GAMK]), disingkat SAHATA, diartikan bersatu. Bersatu membangun kampung halaman. Akan hal itu, Ketua Tim Sukses Sanggam Hutagalung-Sahat Sinaga, Dorgis Hutagalung optismis meraup suara terbanyak. “Kami optimis memperoleh suara terbanyak,” ujarnya. SAHATA dengan motto Kubangun Desaku, Kubangun Bonapasogitku.

Siapakah Sanggam Hutagalung? Pria kelahiran Tarutung, 26 Pebruari 1958 adalah mantan Sekretaris Daerah Kabupaten Tapanuli Utara.  Atas pencalonannya menjadi calon bupati Tapanuli Utara dinilai amat sangat layak. Dia dianggap memiliki reputasi, jejak rekam yang jelas sebagai calon pemimpin daerah di Tapanuli Utara, dipasangkan dengan calon wakil bupati Tapanuli Utara, Sahat Sinaga, seorang yang muda, dekat dengan kalangan gereja.

Reputasi Sanggam, baik semasa menjabat Sekdakab Tapanuli Utara, maupun semasa mengabdi di Tapanuli Tengah terekam jelas berprestasi. Ketua Punguan si-Raja Hutagalung se-Kabupaten Tapanuli Utara memulai karier dari bawah. Tahun 1986, sebagai Pelaksana Kepala Seksi IPEDA pada Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Tapanuli Tengah, hingga Tahun 2004-2012 sebagai Sekretaris Daerah Kabupaten Tapanuli Utara (Eselon II A). Da teralhir Bulan Juli 2012: Staf pada Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Sumatera Utara.

Sebagai pejabat di daerah dimulainya sebagai pejabat Kepala Dinas Kadis Pendapatan Tapanuli Tengah, selanjutnya dipercaya sebagai Kepala Bappeda Tapteng. Selama lima tahun menjabat, berbagai program pembangunan hasil buah pikiran dan tangan dingin berhasil meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) secara signifikan kala itu.

Masih ketika di Tapanuli Tengah, Sanggam dikenal sosok yang selalu terbuka bagi semua golongan dan generasi, baik tua maupun muda. Selain dekat dengan kaum tua, Sanggam juga dikenal dekat dengan kaum muda. Dia selalu menyediakan wadah bagi kaula muda berdialog. Salah satu contoh, saat Sanggam sebagai Ketua Perguruan Olahraga Karate di Tapteng. Di mana semasa itu banyak atlet karate asal Tapanuli Tengah yang berprestasi di tingkat provinsi dan nasional.

Atas hal ini, banyak anak-anak muda asal Tapanuli Utara datang ke Tapanuli Tengah untuk mengikuti berbagai even. Baik itu di bidang olahraga, hiburan dan lainnya. Dia juga dikenal dekat dengan semua kalangan. Baik kalangan petani, komunitas marga-marga, kalangan pemuda bahkan lembaga-lembaga pendidikan dang lembaga-lembaga keagamaan. Dia seorang visoner yang memandang jau ke depan. Berpikir untuk kemajuan ke depan. Ditempa birokrat pemerintahan, maka dalam perencanaannya, misalnya di sektor pertanian, Sanggam selalu rela meluangkan waktu mendengar apa-apa yang dikeluhkan petani. Bagaimana solusi dan jalan keluarnya selalu rela dia diskusikan.

Artinya, kemampuannya dalam membangun Tapanuli Utara ke depan, khususnya pada sektor pertanian tidak diragukan. Di tangan dinginnya semasa menjabat Sekdakab, iklim pemerintahan daerah itu pun berjalan dengan baik, walau kepala daerahnya saat itu bukanlah seorang birokrat.

Cakap menampilkan diri, tidak kaku, mampu menempatkan diri. Selalu adatif terhadap keinginan masyarakat. Suami dari Prof Dr Prihatin boru Lumbanraja SE MSi tidak diragukan lagi bisa memimpin Tapanuli Utara ke depan. Banyak pendapat masyarakat  yang menyebut dialah yang pantas dan layak untuk menjadi Bupati Tapanuli Utara. Dia meniti tangga dari bawah, dan telah berhasil meniti karir mulai dari titik terendah hingga menjadi seorang abdi negara yang handal, terpercaya dan berkualitas, itu mengartikan jejak rekamnya jelas.

Selain memiliki reputasi yang baik, Sanggam juga dikenal punya kemampuan dalam membina komunikasi yang baik dengan masyarakat. Serta sikap komunikatifnya hingga kepada pejabat pejabat tinggi, serta memiliki koneksi yang baik dengan relasi relasi yang bisa diajak untuk membangun Tapanuli Utara. Sanggam dikenal sebagai sosok yang rendah hati. Dia selalu siap mendengar apa yang dibutuhkan warganya. Tipe pemimpin yang dibutuhkan di daerah memang pemimpin yang punya hati dan rela mendengar seluruh keluahan warga, bukan tipy yang ABS. Walau hanya seorang warga sipil biasa, Sanggam selalu rela mau mendengar pendapat warga.

Selain itu, sebagi calon pemimpin Sanggam telah mengenal medan, mengenal seluk beluk daerah Tapanuli Utara dan persoalan ketertinggalan pembangunan daerah Tapanuli Utara. Lahir dan mengabdi di daerahnya itulah cita-citanya. Tak heran pandangan masyarakat yang menilai Sanggam teruji dan terbukti mampu merupakan kemampuan yang dibekali ilmu pendidikan dan pengalaman di birokrasi, pantas jadi bupati.

Pasangan ini berharap masyarakat dalam menentukan pilihannya pada pasangan Sanggam Hutagalung-Sahat Sinaga. Melihat dengan mata hati dan hati nurani. Sebab Tapanuli Utara membutuhkan pemimpin yang benar-benar matang pengalaman dan teruji, seperti kedua pasangan ini. Matang pengalaman dan teruji direputasinya. Telah terbukti di papan pengalaman pengembaraan kerja kepemimpinannya. Pasangan ini matang dalam reputasi, cukup pengalaman langsung yang sudah teruji waktu. Selamat memilih.***Hotman J. Lumban Gaol

BERITA:

Harapkan Pemimpin Berintegritas Membangun Bona Pasogit

Tarutung, (Analisa). Ingin melahirkan para pemimpin berintegritas dan kapabilitas teruji, delapan bakal calon pemimpin Kabupaten Tapanuli Utara yang namanya telah mencuat ke permukaan beradu argumen menyampaikan program pembangunan pada dialog terbuka digelar Yayasan Pomparan Guru Mangaloksa (YPGM), Senin (25/6) kemarin di Wisma Evi Roida Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara.

Para kandidat ‘Bona Pasogit 1’ itu silih berganti menyampaikan visi misinya, masing-masing Drs Mauliate Simorangkir MSi, Ir Sanggam Hutapea MM, Drs Sanggam Hutagalung MM, David Hutabarat ST, Drs Pinondang Simanjuntak, Ratna Ester Lumbantobing SH MM, Drs Burhanuddin Rajaguguk dan Refer Harianja SH.

Dialog terbuka YPGM melibatkan panelis dari berbagai disiplin ilmu, diantaranya Drs Simon Lumbantobing, Drs Cokky Hutagalung,  Ir Bistok Hutabarat,  Kolonel (P) Tumpal Simorangkir dan moderator Djonggi Simorangkir SH MH.

Sementara bersama para peserta dialog, Ketua Umum Yayasan Pomparan Guru Mangaloksa (YPGM) Irjen (P) Bigman Lumbantobing SH, Drs Tuani Lumbantobing, MSi, Sekretaris YPGM Maruarang P Lumbantobing SH, Bendahara YPGM Freddy Lumbantobing serta para perantau dari Sumut dan Jakarta tergabung dalam wadah YPGM tampak serius mencerna satu demi satu paparan para Balon Bupati/Wabup Taput tersebut.

“Ide penyelenggaraan dialog ini tentu didorong  keinginan bersama. Terutama, para perantau untuk melahirkan pemimpin berintegritas dan kapabilitas yang teruji. Tentu perantau juga sangat berkepentingan, karena apapun namanya, dalam prespektif membangun Bona Pasogit dibutuhkan sinergitas dengan pemerintah daerah yang berwawasan, visoner dan bijak dalam pengambilan suatu keputusan,” sebut Tuani Lumbantobing kepada Analisa disela kegiatan.

Dijelaskan, penyelenggara dialog diserahkan kepada elemen masyarakat yang peduli, serta melibatkan generasi muda Bona Pasogit serta mahasiswa. “Ternyata mereka mampu, kita pun bangga dengan kerja keras panitia,” imbuh Tuani.

Penggagas konsep “Tapanuli Growth” di Kabupaten Tapanuli Tengah ini juga menyatakan, calon pemimpin harus berani tampil mengutarakan suatu program, langkah serta pemahaman terhadap permasalahan yang terjadi saat ini di tengah kehidupan sosial, ekonomi dan pembangunan masyarakat, khususnya di Tapanuli Utara. “Masyarakat juga sudah semakin jeli dan maju dalam berdemokrasi. Dan ini merupakan terobosan baru dalam era demokrasi di Tapanuli,” sebutnya.

Pada sesi awal dialog, dimulai pemaparan dari tim YPGM tentang beberapa kondisi dan potensi Kabupaten Tapanuli Utara saat ini, sekaligus bagaimana balon Bupati/Wabup Tapanuli Utara untuk mengatasi dan mengembangkannya. Di sesi kedua, penyampaian program dari masing-masing bakal calon Bupati/Wakil Bupati  seiring sesi tanya jawab yang melibatkan audiens.

Bahas Pembangunan

Beberapa point pokok pembahasan mencakup pembangunan karakter building, pembangunan pariwisata, ekonomi kawasan dan hinterland, optimalan pemanfaatan air tawar dan kondisi suplai air tawar, MDG’s, bidang kesehatan dan pendidikan. Pertanian, penanganan lahan kritis, kehutanan, optimalisasi pertambangan.

Peserta dialog terdiri  masyarakat dari 15 kecamatan yang ada di Tapanuli Utara, tokoh-tokoh masyarakat dan agama, pemuda, mahasiswa, seniman,  penggiat ( ekonomi, social, lingkungan dan budaya), tokoh pendidik, pelaku pendidikan  dan lain-lain.

Dialog terbuka yang digagas YPGM berlangsung seharian, sedikitnya dihadiri 500-an audiens secara selektif diundang panitia. Namun, beberapa bakal calon lainnya tidak berhadir, di antaranya Margan Sibarani, Tiur Kalima Purba, Banjir Simanjuntak, Bangkit Silaban, Nikson Nababan, Binur Tampubolon, Torang Lumbantobing, dan Marojahan Situmeang.

“Undangan telah kita sampaikan. Namun sangat disayangkan, saat dikonfirmasi, muncul berbagai alasan, ada urusan mendadak. Tapi syukurlah, kegiatan positif ini berjalan lancar dan sukses demi melahirkan pemimpin Taput yang berdedikasi tinggi dalam pembangunan nantinya,” harap Opputua Lumbantobing.

Kehadiran ke delapan kandidat, kata dia, sudah memberikan petunjuk kepada masyarakat Tapanuli Utara dalam memilih pemimpinnya. “Tapi alangkah baiknya, jika semua kandidat dapat berdialog dan menjawab, sehingga masyarakat tak lagi ‘meraba’ pada saat memilih pemimpin baru,” tukasnya.

Dialog berlangsung secara fair dan sportif, dengan ketentuan rambu-rambu yang lebih dulu ditentukan panitia terhadap balon Bupati/Wabup maupun peserta dialog. ”Tidak ada intervensi atau semacam desain yang sengaja diarahkan terhadap salah satu calon kandidat. Kita berusaha memberikan porsi yang sama terhadap para balon pemimpin tersebut,” timpal panitia penyelenggara, Jan Piter Simorangkir  sambil menyatakan, dialog terbuka YPGM itu disiarkan secara langsung (live) di salah satu radio swasta di Tarutung, sehingga dapat didengarkan warga Taput lainnya. (yan/can)

Sumber:

http://analisadaily.com/news/2013/27281/harapkan-pemimpin-berintegritas-membangun-bona-pasogit/?year=2013&id=27281&title=harapkan-pemimpin-berintegritas-membangun-bona-pasogit

 

 

Pdt. JAU Doloksaribu, MMin


Biodata:

Pdt. JAU Doloksaribu, MMin

Nama Lengkap: Jonggi August Uluan Doloksaribu disingkat  JAU Doloksaribu

Lahir di Porsea, Tobasa,18 Maret 1949

Orangtua:

Bapak Melanchton Doloksaribu

Ibu Heleria boru Sirait

Istri:

Romauli boru Hutajulu (menikah tanggal 4 Juli 1974)

Anak:

Empat Anak (3 laki-laki, satu perempuan)

(1)   Poltak Hasahatan Doloksaribu

(2)   Samuel Doloksaribu

(3)   Simon Joroan Doloksaribu (alm)

(4)   Debora Kristina boru Doloksaribu

Pendidikan:

Tahun 1968, lulus dari Fakultas Theologia Universitas HKBP Nommensen di Pematang Siantar

Tahun 1990, menempuh pendidikan pascasarjana, gelar Master of Ministry dari Trinity Theological College

 

Riwayat Pelayanan:

  • Dimulai vikaris di HKBP Binjai Medan.
  • Pendeta pembantu di HKBP Kemayoran Baru, Jakarta Selatan.
  • Pendeta Persiapan Ressort HKBP Kebayoran Selatan
  • Direktur Departemen Pemuda HKBP Pusat (2 periode)
  • Pendeta Ressort HKBP di Kota Medan
  • Praeses HKBP Medan Aceh, Tahun 1993-1998
  • Praeses HKBP Distrik Tebing Tinggi Deli dan Distrik Tapanuli Selatan, Tahun 1998-2004
  • Praeses HKBP Distrik XXI Jakarta 3, tahun 2004-2008.
  • Sekarang-memimpin jemaat HKBP Maranatha Rawalumbu, Bekasi.

Prestasi:

  • Memenangkan lomba mengarang lagu gereja tingkat dunia United in Mission (UIEM).
  • Pengalih bahasa paling banyak lagu-lagu gereja ke dalam bahasa Batak Toba
  • Pencipta Musik Box Gereja (MBG

Profil Pdt. JAU Doloksaribu, MMin

“Sejak Di Dalam Kandungan Ibu, Saya Sudah Dipanggil”

DSCN0215PERJALANAN hidup setiap orang tidak ada yang sama. Tetapi, pendeta yang satu ini akan mirip dengan perjalanan sang nabi di Alkitab. Semenjak di dalam perut ibunya sudah dinazarkan untuk dipakai Tuhan sebagai alat-Nya. “Sejak didalam kandungan doa ibu kepada Tuhan, agar satu saat nanti saya menjadi pendeta. Katanya, ini juga cerita ibu, sejak kecil masih umur dua tahun saya sudah meniru-niru gaya pendeta berkhotbah dan membaptis ketika bermain bersama anak-anak lainnya. Ibu saya selalu mengatakan itu, kau nanti menjadi pendeta,” kenang pria kelahiran Tobasa,18 Maret 1949 mengawali perbincangan.

Pemilik nama lengkap Jonggi August Uluan Doloksaribu, dikenal dengan nama Pendeta  JAU Doloksaribu. Anak pertama dari 15 bersaudara. “Sebenarnya 15 anak dari 2 ibu. Kami 15 orang kakak beradik. Saya anak pertama. Ibu kandung saya melahirkan 6 anak. Tetapi beliau meninggal, bapak menikah lagi dengan ibu kami yang sekarang boru Pangaribuan, beliau melahirkan 9 anak lagi,” kata pendeta asal Porsea, Tobasa, ini.

Gen sebagai pelayan, naluri aktivis gereja mengalir pekat di darahnya. Ayahnya, bernama Melanchton Doloksaribu bekas tentara Marsuse yang kemudian hari menjadi guru zending. Sementara ibunya Heleria boru Sirait juga dulunya aktivis gereja, pintar  bernyanyi, anggota Paduan Suara Pemuda Gereja (Naposobulung) dan kemudian menjadi guru paduan suara perempuan huria sampai akhir hayatnya. Ompungnya dari pihak ibu Nikanor Sirait, juga seorang bekas agama di sekolah.

Maka, begitu lulus SMA JAU langsung mendaftarkan diri ke Fakultas Theologia Universitas HKBP Nommensen di Pematang Siantar. Hasrat menjadi pendeta yang menjadi cita-citanya sejak kecil, sebagaimana nazar almarhum ibunya. Angkatan tahun 1968 dari Sekolah Tinggi Teologia Nommensen Pematangsiantar, ini, begitu lulus menjadi vikaris, calon pendeta praktek di gereja HKBP Binjai. Tak berselang lama kemudian diutus ke HKBP Simpang Limun, masih di kota yang sama Kota Medan.  Menikah di usia muda. Tergolong muda, umur 25 tahun, JAU mempersunting gadis pilihan ayahnya, Romauli boru Hutajulu. “Istri saya adalah pilihan bapak. Karena istri saya adalah bekas Sidi terbaik bapak saya. Bapak mengatakan itu pada saya. Bapak mengatakan, dialah (Romauli) yang layak mendampingimu (menjadi istri pendeta).”

Dari penikahan pasangan yang diberkati menjadi suami isteri pada tanggal  4 Juli 1974, Tuhan karuniakan empat anak. Tiga laki-laki dan satu perempuan. Anak pertama Poltak Hasahatan Doloksaribu, bekerja dan tinggal di Amerika. Anak kedua, Samuel Doloksaribu menikah dengan menantunya boru Naibaho, dari pernikahan mereka lahir dua anak Piter Kevin, 4 tahun, dan Stephani satu tahun. “Simon Joroan Doloksaribu, anak ketiga. Di umur 29 tahun Simon dipanggil Tuhan kehadapan-Nya. Tiga minggu berselang dia mau melangsungkan pernikahan, Simon dipanggil Tuhan ke pangkuan-Nya pada 3 November 2007.” Si bungsu, satu-satunya perempuan Debora Kristina boru Doloksaribu, belum menikah, “tetapi kalau Tuhan berkehendak tahun depan akan melangsungkan pernikahan.” Saat ini, Debora bekerja sebagai seorang advokat.

Dari vikaris hingga menjelang emeritus JAU menghitung berkat Tuhan, sudah hampir 40 tahun melayani sebagai hamba Tuhan. Suka dan duka silih berganti mengiringi perjalanan ompung dua cucu ini. Dimulai vikaris di HKBP Binjai Medan. Lalu, menjadi pendeta pembantu di HKBP Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Di sana banyak kendala yang dihadapi. Rumah tinggalnya di Jalan Fatmawati, Gang Sawo Atas Gandaria, Kebayoran Selatan. Berkali-kali dilempari orang-orang yang tidak bertanggung-jawab, bahkan mendapat teror. Akibatnya keluarga ini dipindahkan ke HKBP Kebayoran Lama. Dari sana menjadi Pendeta Persiapan Ressort HKBP Kebayoran Selatan.

Dari Kebayoran Selatan, JAU memenuhi panggilan melayani di kantor Pusat HKBP sebagai Direktur Departemen Pemuda HKBP Pusat. Jabatan itu disandangnya dua periode, sepuluh tahun. Masa ephorus, kepimimpinan Ephorus Pdt. G.H.M. Siahaan, dan masa Ephorus Pdt. Dr. S.A.E Nababan, LLD. Di masa kepemimpinan Ephorus S.A.E Nababan-lah, JAU disekolahkan ke Singapura mengikuti pendidikan pasca sarjana, menempuh gelar Master of Ministry di Trinity Theological College. Pulang dari Singapura dia kemudian menerima penempatan sebagai pendeta uluan, memimpin Ressort HKBP di Kota Medan, tepatnya di Jalan Jendral Sudirman No. 17 A, Medan.

Di Rutan Poltabes Medan

Tahun 1992-1998, ketika masa-masa HKBP bergejolak, dia bersama teman-temannya tampil menjadi penentang rezim yang mencoba mengobok-obok gereja. “Masa, militer mengangkat seorang Ephorus puncuk pimpinan tertinggi di HKBP. Hanya dengan SK dari Kodam II Bukit Barisan.” Inilah titik awal krisis yang terjadi di HKBP selama enam tahun. JAU mengobarkan semangat untuk melawan. Mendukung orang yang dijolimi dengan terlibat langsung sebagai gerakan Setia Sampai Akhir (SSA). “Saya memimpin demo karena seorang panglima Kodam II Bukit Barisan, mengangkat ephorus pimpinan tertinggi gereja HKBP melalui SK-nya. Krisis yang dialami HKBP pada waktu itu adalah salah satu wujud Pemerintahan yang otoriter dari rezim Soeharto yang menginterpensi gereja pada waktu itu,” ujarnya menyebut “Masa-masa genting HKBP itu, saat jemaat yang menentang interpensi pemerintah itu mendirikan parlape-lapean semacam tempat ibadah sementara bagi yang melawan pemerintah.”

Pada masa-masa inilah perjalanan hidup pelayanannya yang paling menegangkan. Apa yang dialami HKBP tempo lalu itu menyisakan banyak cerita baginya. Menggerakkan ribuan massa berdemo ke Kodam Bukit Barisan, membawanya diseret ke meja pengadilan yang akhirnya divonis satu setengah tahun penjara. “Saya membacakan eksepsi, surat pembelaan. Saya merasakan pertolongan Tuhan. Saya mendapat sokongan moral dari berbagai pihak. Bantuan hukum dari pengacara Sabam Siburian dan Garuda Nusantara (mantan anggota Komnas HAM), kala itu turut membantu.” (Pengacara, Sabam Siburian [alm], ayahanda dari Lisbert Siburian anggota DPRD Bekasi Kota dari Partai Damai Sejahtera).

Baginya, politik pemerintah terhadap HKBP waktu itu, sama saja seperti yang dilakukan Soeharto terhadap Nahdatul Ulama (NU) ketika dipimpin Gus Dur. JAU, setelah dibebaskan dari penjara, kemudian, tak beberapa lama berselang masih menjadi pendeta resort. Dari sana kemudian menjadi praeses. Tiga periode menjabat Praeses, yaitu: Pelaksana Praeses HKBP Medan Aceh, tahun 1993-1998; di HKBP Distrik Tebing Tinggi Deli dan Distrik Tapanuli Selatan, tahun 1998-2004; dan terakhir Praeses HKBP Distrik XXI Jakarta 3, tahun 2004-2008. Sekarang menjelang emeritus dia tetap terlihat bersemangat memimpin jemaat HKBP Maranatha Rawalumbu, Bekasi.

Dipenjara, tetapi kemudian dibebaskan. Menurutnya, sebagai pendeta sudah biasa. Apalagi dilempar dan ditimpuk batu, itu adalah konsekuensi yang yang harus diterima, katanya. Tahun 2007, masih hangat diingatan media, ketika jemaat HKBP Rajeg, Kotabumi, Tangerang, Banten dilarang beribadah oleh sekelompok massa intoleran. Aksi pelarangan itu bahkan diiringi dengan pelemparan batu ke rumah tempat beribadah. Saat itu, sebagai Praeses HKBP Distrik XXI Jakarta 3 JAU datang untuk memberikan penguatan semangat jemaat HKBP Rajeg. Tak pelak peristiwa itu memakan korban. Sesudah berkhotbah JAU kena timpuk batu, akibatnya pelipis pipinya bocor, darah mengucur. Dia dan beberapa jemaat mengalami luka-luka akibat terkena lemparan batu. Namun, peristiwa itu tak membuatnya undur. “Sebagai pendeta banyak hal yang saya lalui. Suka dan duka. Termasuk saat di HKBP Rajeg itu. Iya, saya dilempar batu. Tetapi tidak harus membuat saya undur.”

Musik box gereja

Tetap semangat dalam  pelayanan walau usianya sudah hampir 65 tahun. Justru dia berharap dirinya semakin dikuatkan dan bersemangat dalam melayani. “Selagi kita bernafas, masih ada waktu melayani.” Lalu, ditanya, apa yang urgen dalam pelayanan di kota saat ini? Sekarang ini, tugas pelayanan di gereja di kota makin berjubel. “Lam godang do angka tantangan namambahen sega moral ni jolma nuaeng on. Boasa songoni? Sekarang ini kita menghadapi Hedonisme. Kita tidak boleh menapikkan pergaulan bebas, narkoba, parjujion, sudena i angka pangalaho na manegai hadirion ni jolma. Karena itu, gereja terus berupaya, bahu-membahu membangun pelayanan untuk mengajak umat kembali kepada Tuhan.”

JAU profil pendeta yang kreatif, selalu proaktif memberdayakan seluruh potensi yang ada di gereja. Dia memiliki jiwa seni, musikalitasnya tinggi. Hal ini sudah menjadi habitusnya, sejak kecil bukan hanya belajar berkhotbah, umur 8 tahun dia sudah terbiasa memainkan musik orgen. Kesukaannya akan musik dibuktikannya dengan banyak mengarang lagu, termasuk lagu koor. Pernah juga dia memenangkan lomba mengarang lagu gereja tingkat dunia United in Mission (UIEM). Di “Buku Ende” kidung jemaat HKBP nama JAU Doloksaribu begitu mudah ditemukan sebagai pengalih bahasa dan mencipta lagu pada kidung pujian itu. Dia termasuk seorang pendeta penerjemah paling banyak lagu-lagu gereja ke dalam bahasa Batak Toba.

Baginya musik gereja harus dikembangkan. Oleh alasan itu, bersama adeknya St Drs Nurdin Doloksaribu, MSi, mereka menggagas Musik Box Gereja (MBG). Semua lagu-lagu gereja direkam di satu laptop, dan kemudian dari sana bisa memandu-mengiringi lagu, tanpa pemain musik. Sekarang ini sudah banyak persekutuan dan gereja-gereja menggunakan MBG ini. Ditanya soal peranannya MBG, turun menghilangkan semangat belajar musik  gereja, karena ada segelintir orang yang menyebut MBG mematikan kreativitas bermusik di gereja. “Jangan langsung kita berpikir negatif, bersikap reaktif. Berpikirlah positif. Justru MBG itu membantu pelayanan. MBG-lah menjadi penuntun pemusik untuk makin pintar. Pemusik yang mampu mengikuti MBG adalah pemusik yang andal, yang tidak mampu mengikuti masih abal-abal,” jawabnya.

MBG menjadi solusi atas kendala pelayanan musik pada setiap kegiatan kebaktian gereja yang ada saat ini. MBG menjadi salah satu solusi. Perangkat laptop yang menggunakan platform linux serta berfungsi khusus mengiringi nyanyian lagu. “MBG merekam lagu-lagu gereja sesuai dengan partitur yang resmi, baik yang dikeluarkan Yamuger atau Terbitan Lembaga Gereja lainnya. Iringan musik MBG disesuaikan dengan karakter lagu dan tema lirik sehingga ada berbagai tipe iringan musik  diantaranya: Orchestra Classic, Orchestra Populer, iringan full band, etnis tradisional.”

Dia menambahkan, MBG adalah temuan yang mestinya kita apresiasi. “MBG dikembangkan oleh tim musik gereja HKBP untuk memenuhi kebutuhan pelayanan musik liturgi gereja, bukan memutus semangat bermusik.” Kini, MBG melakukan perluasan pelayanan ke seluruh denominasi gereja yang ada. Termasuk sudah disosialisasikan di beberapa Distrik HKBP pada tahun Marturia HKBP, tahun 2007 yang lalu dan juga di berbagai gereja denominasi Indonesia, antara lain di Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) dan Gereja Kristen Jawa (GKJ). “Awalnya, hanya sedikit gereja yang mengapresiasi MBG kini sudah semakin banyak gereja yang telah menggunakan MBG,” ujarnya. ***Hotman J. Lumban Gaol, S.Th

Rekson Silaban


Mengeksploitas Buruh, Merusak Industrial Kita”rekson-silaban-454x350

Oleh: Hotman J Lumban Gaol

Januari lalu, ribuan buruh yang tergabung dalam berbagai organisasi buruh menutup jalan tol di bilangan Cikarang selama delapan jam. Diperkirakan ada belasan ribu buruh di kawasan industry, Cikarang, Bekasi yang tergabung dalam aksi tersebut. Mereka berkumpul di perempatan EJIP Lippo Cikarang untuk melakukan aksi menentang Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) yang menggugat keputusan Gubernur Jawa Barat terkait Upah Minimum Kabupaten (UMK).

Masalah buruh memang tidak pernah tuntas dibicarakan. Menurut analisis Rekson Silaban, Presiden Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (KSBSI), menyebut ada empat masalah besar; tingginya jumlah penggangguran massal; rendahnya tingkat pendidikan buruh; minimnya perlindungan hukum; dan upah kurang layak. Lalu berlanjut masalah pengangguran dan pendidikan rendah. Bagi Rekson, ini adalah masalah yang saling terkait, menghadirkan implikasi buruk dalam pembangunan di Indonesia.

Apa akar dari semua masalah tersebut? Komisaris PT Jamsostek Persero ini menjawab, ini masalah yang harus dirundingakan bersama. Beberapa waktu lalu, Reformata berbincang di kantornya, Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat. Demikian petikannya:

Dulu organisasi buruh seperti dikerangkeng, sekarang makin bebas. Tetapi pascareformasi organisasi buruh malah terkesan terseret berpolitik?

Saya kira tidak. Tetapi karena sekarang ini seluruh kebijakan, termasuk pengupahan adalah kebijakan politik.

Banyak organisasi buruh menjadi partai politik, apakah ini juga dipahami sebagai menjadi posisi tawar?

Asumsi itu terlalu berlebihan. Saya kira gerakan buruh masih gerakan massa. Kalau se-bagai kekuatan politik itu berbeda lagi, partai yang kuat memilih massa. Data terakhir yang kami punya, di Indonesia, sekarang ini yang dinamakan angkatan kerja sekitar 106 juta orang. Tetapi yang terserap bekerja hanya 33 juta orang. Saya kira hitungannya kalau 33 juta ini saja memilih satu partai, ini menurut saya adalah potensi luar biasa. Tetapi itu hanya hitungan matematika, tidak segampang membalikkan telapak tangan. Tidak semua buruh setuju dengan partai buruh, karena banyak juga organisasi tertentu yang berafiliasi dengan partai politik lainnya. Ada juga organisasi buruh berdasarakan agama, dan etnis. Buruh kita yang datang dari kalangan bawah, 70 persen adalah tamatan SMP, tidak memiliki cakupan politik untuk bergabungan dengan partai politik. Maka, karena itu, mereka akan memilih partai politik yang sesuai dengan hati mereka. Baik itu dari etnis, agama, dan tali-temali kekeluargaan. Jadi saya pesimis melihat partai buruh bisa sukses. Yang baik adalah serikat buruh harus memiliki independensi terhadap partai politik.

Organisasi buruh kita juga terlalu banyak, bagaimana Anda melihatnya?

Saya melihat ini negatif, kalau terlalu banyak. Tentu saja, serikat buruh yang terlalu banyak, untuk buruh itu tidak bagus. Membuat organisasi buruh menjadi berkompetisi tidak sehat di antara mereka. Kebebasan yang punya batas. Jangan diterjemahkan bahwa kebebasan buruh itu dipandang karena banyaknya organisasi buruh. Jangan juga kebebasan berserikat itu diterjemahkan menjadi fragmentasi. Saya kira, empat sampai lima konfederasi buruh sudah cukup. Di dunia ini, negara-negara maju yang organisasi buruhnya bagus, pun hanya tiga sampai empat organisasi buruh.

Masalah buruh itu berjubel, misalnya outsourcing, sampai saat ini belum ada penyelesaian?

Buruh juga perlu melek politik. Perlawan terhadap outsourcing, itu produk politik yang dibuat DPR dan pemerintah. Gerakan buruh itu tidak harus selalu berhubungan dengan masalah perut saja. Praktek outsourcing dan buruh kontrak merupakan gejala global. Ini memang sebagai bagian mekanisme pasar yang dilakukan untuk efisiensi dalam kegiatan atau proses bisnis. Tetapi, praktek outsourcing ini menimbulkan ketidakpastian kerja. Menurut saya, seharusnya bukan buruh kontrak, tetapi dibuat menjadi buruh kontrak, hal itulah yang tidak diperhatikan pemerintah. Apa lagi pengawasannya buruk. Di depan mata kita sendiri banyak perusahaan yang melanggar peraturan, aturan yang telah disepakati.

Apa yang harus dilakukan?

Yang perlu sekarang kita perbaiki, adalah sistim perburuhan kita. Apalagi kita akan memasuki kawasan ASEAN bersama. Lalu, kemampuan SDM buruh kita harus ditingkatkan, agar bisa kompetitif di lapangan kerja, karena buruh-bubur dari negara lain sudah bebas ke Indonesia.

Apa yang mesti dilakukan organisasi buruh untuk bisa menjadi jembatan antara pengusaha dengan buruh?

Perundingan. Perundingan itu perlu ditingkatkan, dengan asumsi semua sepakat dan kemudian dua belah pihak sama-sama menjalankan fungsinya masing-masing. Perundingan itu harus dengan keterbukaan, kalau perusahaan beruntung, maka tentu harus terbuka, jangan kalau rugi baru terbuka pada buruhnya. Sekarang ini yang terjadi, adalah rasa kepemilikan buruh terhadap perusahaan itu rendah, karena tidak ada keterbukaan antara perusahan dan buruh. Yang baik adalah, ketika majikan perusahan itu terbuka, berbagi dengan buruhnya. Kalau beruntung sama-sama menikmati, dan kalau pun rugi maka sama-sama memikul. Ada contoh, di Astra tidak ada karyawan demo, karena ada keterbukaan. Jadi gaji menjadi faktor berikut, yang penting adanya keterbukaan. Kalau itu ada, maka rasa kepemilikan terhadap perusahaan itu ada. Kalau perusahaan terbuka, maka akan ada peningkatan kinerja dari buruh. Dan perlu juga dingat, buruh bukan tenaga perahan, yang keringatnya diperas. Jangan sekali-kali mengeksploitasi buruh.

Filosofi industrial kita harus kembali kepada filosofi bangsa kita, untuk kesejahterakan rakyat. Perusahan tidak boleh mengekploitasi tenaga buruh hanya untuk kekayaannya. Yang ada harus gotong royong, kerjasama. Mematuhi aturan-aturan, itulah salah satu cara mengurang konflik industrial. Tetapi, kalau pengusaha dengan keserakahan mengekploitasi buruh, itulah yang membuat hubungan industrial kita hancur. Sekali terjadi keserakahan, sejak itulah terjadi perlawan buruh.

Demo buruh membuat investor luar takut menanam modal di Indonesia?

Menurut saya itu berlebihan. Demo di mana-mana ada. Tentu pengusaha datang ke Indonesia ini sudah punya analisis. Mereka sudah melihat kesiapan infrastruktur, bunga bank, dan segala hal. Saya kira, soal demo buruh itu hanya pertimbangan ke sekian. Demo itu tidak mempengaruhi investor. Ini terlalu dilebih-lebihkan, dan pusat pabrik kita kan tidak hanya satu, banyak.

Bagaimana demo dengan menututp akses jalan tol hingga delapan jam. Kebebasan itu kan tidak boleh menggangu kebebasan orang lain?

Saya kira kita juga tidak setuju dengan hal itu, kalau itu juga merugikan orang lain. Tetapi jangan salah, kalau kita pelajari, demo buruh di luar negeri lebih radikal, bisa menutup bandara Internasinal.

Soal pensiunan. Jaminan hari tua yang akan dikelola Jamsostek….

Ini sekarang lagi digodok. Tahun 2014, atau selambat-lambatnya 2015 akan ada uang pensiunan bagi mereka yang swasta, buruh. Jamsostek sebenarnya hanya pelaksana, bukan pengambil keputusan.

Biodata:
Nama Lengkap : Rekson Silaban
Tempat & amp; Tgl Lahir : Pematang Siantar -Sumatera Utara, 8 Mei1966
Status Perkawinan : Kawin dengan Merdy Rumintjap.
2 anak; Luigi Ignacio & Morgan Garcia Stiva
Email : reksonsilaban@ksbsi.or.id or reksonsilaban@hotmail.com
Agama : Kristen Protestan
Pendidikan : Sarjana Ekonomi dari Universitas Simalungun Sumatera Utara
Non degree : Internasional Labor Standards, Belgium 2005-2006
Alamat Organisas : KSBSI, Jl.Cipinang Muara Raya No.33.
Webmail : http://www.ksbsi.or.id

Jabatan :
– Ketua Majelis Pertimbangan Organisasi (MPO) KSBSI sampai 2014
– Komisaris PT. Jamsostek 2007-2012
– Anggota Tripartit Nasional sampai 2012
– Direktur Riset ‘Alternative Labor Policy’ sampai 2015
– Governing Body for International Labor Organization (ILO) Geneva, Swiss 2005-2014
– General council of International Trade Union Confederation ITUC, Brussels 2005-2014
– General council of ITUC – Asia Pacific 2006-2015
Karir di Organisasi Nasional dan Internasional:
– Department Riset SBSI, 1992-2000
– Department Internasional SBSI, 1994-2000 – Deputy presiden KSBSI, 2000-2007
– Presiden KSBSI, 2003-2007
– Presiden KSBSI, 2007-2011
– Executive board Word Confederation of labor (WCL) 2002-2007
– Wakil president ITUC 2007-2010
– General Council ITUC (international trade union confederation) 2007-2014 – General Council ITUC AP 2006-2015
– Komisaris PT. Jamsostek 2007-2012
Pengalaman Lain:
1. Pembicara di berbagai forum seminar nasional, khsususnya yang berkaitan dengan; hubungan industrial, jaminan sosial, standar perburuhan internasional, upah.
2. Pembicara di berbagai forum internasional di Asia, Eropa, Amerika, Latin, Africa,
diantaranya:
– International Trade Union Conference on employment, Tokyo 20 June 2004
– Labor Standards Seminar, Sao Paolo, Brazil, 2005
– Symposium by International Human Rights Fund, Washington D.C 2006
– Trade Union Strategy in new context of Flexibilization, Bangkok 2007
– International Seminar on Xenophobia and Migrant Workers, Jordan 2007
– G20 trade union summit, London 2009, Washington 2010, Pittsburgh, USA 2010, Cannes 2011.
– TUAC meeting on Global Crisis and Employment, Paris November 2010
– Youth and Decent Work in Asia Pacific, Singapore May 2011
– Social security and wages, TUAC, Paris September 2011
– Diversity Challenges, Davos, Swiss 2012
3. Ketua delegasi Indonesian ke sidang tahunan ILO di Geneva, Swiss tahun 1999, 2001, 2003, 2006, 2008, 2010, 2011

Buku yang ditulis Indonesia:
1. Pengupahan Melalui Negosiasi Bipartit, 2008
2. Reposisi Gerakan Buruh Indonesia. Diterbitkan oleh Sinar Harapan, 2010 3. Bersatu Atau Hilang Ditelan Sejarah. Diterbitkan oleh, Romawi Press, Depok, Jawa Barat, 2011.

Edisi bahasa Inggris:
4 Repositioning Indonesia labour movement, FES 2010,
5. Unity or burried by history, Jakarta 2011.
6. Indonesia Union State of Affairs, ILO Bangkok 2012.

Artikel Yang Ditulis:
Beberapa tulisan dipublikasi oleh Kompas, Suara Pembaruan, Bisnis Indonesia, Tribun. Spesialisasi: Hubungan Industrial, Standar Perburuhan Internasional, Upah dan jaminan sosial.

Hobby:
Baca buku, wisata, musik, saling berbagi
Motto:
“hidup hanya ada artinya bila berarti untuk banyak orang”

 

Web pribadi Rekson Silaban:

http://reksonsilaban.blogspot.com/

 

Jhon S.E. Panggabean,S.H.


Daftar Riwayat Hidupimages

Jhon S.E. Panggabean, S.H, MH, Advokat

Nama : Jhon S.E. Panggabean,S.H.

Tempat/Tanggal Lahir : Tarutung / 13 September 1964
Pendidikan : S1 Fakultas Hukum Universitas Kristen Indonesia tahun 1988
Pengalaman:
– Memiliki pengalaman ekstensif lebih dari 23 (dua puluh tiga) tahun menangani perkara litigasi, baik di tingkat penyidikan maupun proses di pengadilan.
– Sebelumnya pernah bergabung di Kantor Advokat Maruli Simorangkir & Associates tahun 1988-1989 sebagai lawyer dan Kantor Advokat Kusnandar & Associates sebagai koordinator lawyer di bidang litigasi sejak tahun 1992 s/d tahun 1996.
– Memiliki Izin Advokat SK Menkeh dan PERADI
– Saat ini menjabat sebagai Ketua DPC PERADI Jakarta Timur sekaligus sebagai Ketua DPP IKADIN.

SPESIALISASI KEAHLIAN HUKUM:
Pidana umum, Pidana Khusus, Perdata, Perkawinan dan Keluarga, Peradilan Tata Usaha Negara, Peradilan Hak Asasi Manusia, Kepailitan, Hak Atas Kekayaan Intelektual, Pengadilan Hubungan Industrial,hukum Perusahaan, Keuangan dan Perbankan, Asuransi, Tanah dan Properti, Ketenagakerjaan.
Dulu Terikat Olkultisme, Kini Bebas Melayani

Dunia selalu menawarkan keberhasilan materi dengan berbagai bentuk. Ada orang mencarinya menghalalkan cara untuk meraih kesuksesan duniawi, dengan korupsi contohnya. Ada juga mengunakan kekuatan kuasa gelap, terselubung untuk meraih keberhasilan dunia, dengan olkutisme. Sebagai orang Kristen, Yesus tidak pernah menginjinkan cara-cara itu dilalui anak-anak-Nya. Hidup dengan olkutisme ternyata pahit dan getir dirasakan Jhon Panggabean, seorang advokat.

Jhon dulunya terjerembab pada olkutisme, dikungkung oleh kuasa gelap. Awal-awalnya dia memang kebal terhadap berbagai benda tajam. “Sebelum bertobat saya adalah seorang yang hidup dalam lembah kegelapan. Sebelum bertobat, lima tahun saya mengalami sakit, keluar masuk rumah sakit. Ke mana-mana saya bawa ke rumah sakit, dokter menyatakan tidak ada penyakit saya. Tetapi saya merasakan sakit sekali,” ujarnya di sela-sela peluncuran album putrinya Clara dan Grace bertajuk “Yesus Pasti Menolong.”

Sebagaimana tajuk album putrinya, Jhon Panggabean merasakan pertolongan Tuhan dalam memulihkan hidupnya. Sebelumnya, dia sejak masih SMP sudah menyimpan kuasa gelap. “Sebenarnya saya diperkenalkan uda saya. SMP saya sudah ke Barus. Barus yang waktu itu disebut wilayah yang kuat mistisnya. Jadi yang saya terima itu adalah cincin, hal itu berlangsung sampai SMA,” ujar ayah tiga anak, ini.

Jhon lulus dari fakultas hukum Universitas Kristen Indonesia. Ketika masih kuliah, kata Jhon, saya masih menambahkan kekebalan pertahanan diri ke dukun. “Makin kuatlah olkutisme yang saya pegang. Tidak ada hari tanpa mengunakan kekebalan tubuh,” katanya. Padahal, sebenarnya orangtuanya seorang sintua di HKBP, tidak percaya dengan kekuasaan itu. “Bapak saya adalah seorang sintua, tidak percaya akan kuasa gelap, dan ini membuat saya kalau kebaktian di rumah, saya sering mengindar.”

Pertobatan itu

Lulus kuliah Jhon menjadi pengacara. Melimpah uang, apalagi ada cincin yang selalu dia andalkan. Dengan cincin tersebut Jhon dengan pede, karena memang bisa mengait klien, katanya. “Waktu saya mengunakan itu, saya tidak takut siapapun. Karena tidak ada yang berani mengganggu. Tetapi makin lama mengandalkan cincin itu, hidupku makin tidak karuan. Uang dan kenikmatan dunia bisa saya raih. Sebagai pengacara juga tidak susah mendapat klien. Tetapi nuraniku tidak bisa berbohong.”

Tetapi hati Jhon kosong, tidak ada damai sejahtera. Dia didera sakit. Satu waktu orangtua datang ke Jakarta untuk menjenguk Jhon yang sudah lama sakit. Kedatangan orangtua ke Jakarta yang hanya melihat Jhon, teryata juga sakit. “Saya seperti linglung. Orangtua yang masih tergeletak di rumah sakit. Saya minta didoakan untuk punya kantor sendiri dan untuk mendapat jodoh,” ujar Wakil Sekjen DPP Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI), ini mengenang.

Sejak itu, katanya lagi, saya menyatakan tidak lagi menjadi budak si iblis, maka saya buang semua para hal-hal, kuasa kegelapan yang menghalangi hubungan saya datang kepada Tuhan. Saya buang cincin itu. Jhon teringat firman Tuhan yang berkata siapa yang hidup dalam kegelapan dia bukan masuk kekerajaan sorga. “Jadi kalau kita tidak setia pada olkutisme, maka kita akan dibabat. Saya ada juga teman saya yang dulu sama-sama pengguna itu, saya katakan mereka saat ini hancur. Beberapa tahun memang kelihatannya indah, tetapi kemudia meminta tumbal,” ujarnya.

Jhon lajang hidup tak karuan di Jakarta. Hidup maunya sendiri, bebas sesuka hati. Awal pertobatan itu, ketika Jhon melihat adeknya pergi ke gereja, ia baru pulang dari cafe. “Saya baru pulang dari cafe, adek saya mau berangkat ke gereja. Sejak itu saya berniat kembali pada Yesus. Saya carilah gereja Yusuf Ronny pada saat itu. Saya berdoa semoga Tuhan mengapuni saya. Saya merasakan hal-hal yang lain sebelumnya. Sejak itu ada damai sejahtera. Saya bertobat menyerahkan hidup pada Tuhan.”

“Saya selalu ingat cinta mula-mula. Ketika saya mendapatkan pertobatan saya merasakan perubahan yang sangat dhasyat. Ketika itu, saya melayani ke penjara-penjara. Saya jalan kaki untuk ke mana-mana juga untuk melayani dengan kesukaan,” ujar Ketua DPC PERADI Jakarta Timur, ini.

 Jatuh

Manusia tidak yang sempurna, semangat melayani itu kembali kendor. Jhon undur dari pelayanan. Pendek cerita Jhon menikah tanpa menghiraukan pelayanan. Pada waktu menikah Jhon diserang kuasa gelap lagi. “Ketika di pelaminan saya mau ambruk, hampir jatuh ketika itu. Karena waktu itu saya masih memang belum total kembali pada Tuhan. Waktu itu saya hampir mati. Setelah itu saya masuk ke rumah sakit. Saya berdoa kemudian dengan menyerahkan diri total pada Tuhan. Setelah saya diserang, istriku juga diserang oleh roh jahat itu.”

Jhon lalu berdoa. “Karena tahu kuasa doa ajaib, maka saya berdoa dan berdoa. Berdoa lalu membaca Alkitab. Kalau orang Batak menyebut nabibelon. Saat itu saya merasakan ada kuasa yang mengalir, seperti minyak dari aliran rambut. Saya meraskan kelegaan dan dari sejak itulah saya merasakan kesembuhan. Saya itu saya mulai komitmen melayani,” ujar pendiri majalah Pledoi, ini.

Tahun 1995 saya bertobat, Jhon mengenang. “Saya banyak berkat. Saya merasa bukan hanya kesusahan membuat orang jatuh, tetapi karena kelimpahan juga bisa membuat terjerumus kepada dosa. Karena banyak berkat ketika itu saya lalu terjatuh lagi.”

Kini, Jhon sudah melayani ke penjara-penjara. Menulis lagu rohani. “Sejak bertobat, karena memang profesi advokat, teruskan itu dengan tujuan melayani,” katanya. “Saya kira, setelah saya bertobat tetap saja ada tantangan, bukan semua jalan menjadi mulus. Saya mencoba untuk begairah terus untuk melayani Tuhan. Sekarang di bidang hukum saya juga melayani, bukan dalam rangka profit. Saya menyadari berkat Tuhan pada kami, sekarang keluarga melayani, memberikan apa yang bisa kami beri bagi yang membutuhkan,” ujarnya bersaksi. Hotman J. Lumban Gaol