Luhut Pangaribuan


LUHUT Pangaribuan dikenal luas sebagai seorang advokat ketika kerap muncul dalam wawancara di televisi dalam kapasitas sebagai penasihat hukum Presiden Abdurrahman Wahid. Bicaranya lancar dan jernih, tutur katanya halus tapi di sana-sini masih terdeteksi timbre Batak, pikirannya runtut dan strategis, terasa segudang referensi hukum menancap di benaknya.

LUHUT Pangaribuan dikenal luas sebagai seorang advokat ketika kerap muncul dalam wawancara di televisi dalam kapasitas sebagai penasihat hukum Presiden Abdurrahman Wahid. Bicaranya lancar dan jernih, tutur katanya halus tapi di sana-sini masih terdeteksi timbre Batak, pikirannya runtut dan strategis, terasa segudang referensi hukum menancap di benaknya.

Namun, di kalangan pembaca surat kabar, nama ini sudah terbaca sejak pertengahan tahun 1982 ketika membela tertuduh dalam sidang orangtua memakan anaknya di Pengadilan Negeri Jakarta Barat. Intensitas pemberitaan di surat-surat kabar yang menyertakan perannya sebagai pembela meningkat sejak pertengahan dasawarsa 1980-an ketika ia jadi pembela dalam perkara Tanjungpriok dan pemboman BCA. Yang ia bela sejak itu banyak dari kaum papa yang berhadapan dengan negara dan kekerasannya; juga politikus, aktivis, dan mahasiswa yang oleh rezim Orde Baru dianggap sebagai pembangkang. Advokat Lembaga Bantuan Hukum Jakarta ini kemudian sering dikutip pers sebagai otoritas dalam bidang hukum maupun dalam gerakan memperjuangkan masyarakat sipil. Pada tahun 1992 ia diundang ke New York untuk menerima Anugerah Hak-hak Asasi Manusia dari Lawyer Committee for Human Rights. Waktu itu ia duduk semeja dengan Bianca Jagger, mantan istri penyanyi rok Mick Jagger. Selama 18 tahun ia bekerja di LBH Jakarta dan, karena itu, ia lebih dikenal sebagai seorang advokat aktivis. Tahun 1997 ia meninggalkan LBH kemudian membuka Kantor Pengacara LMPP dan menjadi advokat individual. Keluarga Luhut Marihot Parulian Pangaribuan adalah “keluarga Fakultas Hukum UI”. Ia bersama istri dan ketiga anaknya semua kuliah di Fakultas Hukum UI. Istrinya Rosa Agustina T. Sopearno bahkan dosen di sana. Ia menerima P. Hasudungan Sirait dan Nabisuk Naipospos dari TATAP di kantornya di bilangan Kuningan, Jakarta untuk sebuah wawancara akhir Oktober lalu. Berikut nukilannya. Mengapa anda menjadi advokat? Saya sebenarnya nggak mau jadi advokat. Ketika masih SMA, saya justru ingin menjadi hakim sebab bapak saya seorang panitera. Dia panitera, bisa berbahasa Belanda, dan sekelas dengan Midian Sirait di SD berbahasa Belanda di Narumonda. Panitera adalah amtenar, pegawai negeri, dulu sangat terhormat, sekarang saja dianggap hanya sebagai jurutulis semata. Dalam konteks Balige dulu, menjadi amtenar adalah sebuah kebanggaan sebab kontras dengan orang kebanyakan yang adalah petani. Saya bangga sebagai anak seorang panitera dan ingin lebih tinggi dari bapak saya. Sebagai anak seorang panitera, saya sesekali pergi ke pengadilan menyaksikan sidang. Saya lihat di pengadilan, hakim itu berwibawa. Dia masuk, semua pada berdiri. Dia ngomong, semua harus diam dan minta izin kepadanya bila hendak berbicara. Jadi, itulah yang pertama: saya ingin jadi hakim. Keinginan yang kedua, saya mau jadi seniman, tepatnya pelukis, sebab saya suka melukis. Ingin masuk ASRI Yogya. Cuma, dalam masyarakat Batak, menjadi pelukis itu aib dan tak jelas. Pedagang saja aib, kok. Yang benar adalah amtenar. Akhirnya saya masuk Fakultas Hukum karena mau jadi hakim. Saya diterima kuliah di Fakultas Hukum UI pada tahun 1975. Kemudian masuk LBH dan tak pernah jadi hakim? Tunggu dulu, cerita tentang melamar jadi hakim belakangan. Diterima di UI, saya tinggal di Asrama UI di Pegangsaan Timur, kuliah di kampus Rawamangun. Setiap hari sebelum naik bemo menuju Rawamangun, saya jalan kaki dulu dari asrama ke samping RSCM, persimpangan Jalan Kimia dan Jalan Diponegoro. Di depannya persis gedung LBH. Waktu itu LBH masih berusia enam tahun. Pemberitaan mengenai LBH di surat kabar sedang gencar-gencarnya. Di dalamnya ada semangat, ada cita-cita. LBH sedang naik daun. Saya bilang di dalam hati, saya mau kerja di LBH. Ini yang kemudian merangsang saya jadi advokat. Tapi, bukan advokat di luar LBH, melainkan advokat di dalam LBH. Begitu lulus dari UI tahun 1981, saya diterima di LBH dan ketemu Adnan Buyung Nasution. Nggak ada proses. Dua tahun sebelumnya saya memang sudah jadi asisten advokat, yang berhubungan dengan LBH. Waktu itu YLBHI baru terbentuk, sementara LBH sudah berusia lebih dari sepuluh tahun. Nah, saya diterima menjadi sekretaris eksekutif Dewan Pengurus YLBHI selama tiga bulan. Waktu itu pengurusnya Bang Buyung, Ali Sadikin, dan Princen. Anda diterima tanpa tes? Lazimkah saat itu? Untuk jadi sekretaris eksekutif Dewan Pengurus YLBHI, saya diterima tidak melalui tes. Untuk jadi pembela umum, saya kemudian tes. Saya bilang ke Bang Buyung, “Bakat saya jadi advokat, bukan jadi sekretaris atau menangani manajemen.” “Maksudmu apa?” kata Bang Buyung. Saya jawab, “Mau tes.” Dia bilang, “Ya, teslah.” Saya lulus. Mulailah jadi pembela umum LBH. Kapan melamar jadi hakim? Ketika testing jadi hakim, saya sudah beberapa bulan bekerja di LBH. Tes pertama, yaitu tes tertulis, di Senayan. Lulus. Nggak pernah ngomong kepada siapa pun untuk dibantu lulus. Jadi, memang ada sekian persen yang lulus murni. Waktu itu sudah punya nama? Belum, wong baru lulus. Ini akhir 1981. Belum siapa-siapalah, orang kebanyakanlah. Terus tes wawancara. Saya kebagian jam 3. Saat itu, sebagai pembela umum LBH, saya menangani kasus pembunuhan di Penjara Cipinang dengan pesta narkoba. Kasus ini terkenal. Mungkin saya ceritakan dulu kasus ini sebelum menjawab anda tentang melamar jadi hakim. Saya ditugaskan membela dan pergi ke Cipinang. Saya tanya [pelakunya], centeng dari Jawa Timur. Panggilannya si Macan. Saya tanya, “Kenapa kamu berkelahi?” Itulah, Pak, pesta. “Pesta apa?” Pesta narkoba. Ada yang mau bebas. “Lo, di sini, ada narkoba?” Ya, Pak. “Apa?” Heroin. “Yang benar, kamu. Kamu bisa beli?” Bisa. Lalu, saya minta duit kepada Tuty Hutagalung, bendahara LBH waktu itu. “Mbak Tuty, saya mau duit, mau beli narkoba.” Dia kasih. Saya berpikir lagi, kalau saya beli di sana, keluar dari sana ketahuan, bisa-bisa dianggap narkoba itu saya bawa dari luar. Gimana caranya? Saya bawalah wartawan Pos Kota, Terbit, dan Sinar Pagi. Berempat kami menemui si Macan. Ketemu si Macan, saya bilang, “Mana barangnya?” Dia kasih. Wartawan melihat dan besoknya dimuat di koran. Dipecat itu orang-orang penjara. Nah, saat tes wawancara untuk jadi hakim, saya datang sekitar pukul 3.30. Terlambat setengah jam. “Lo, sudah terlambat!” kata pewawancara. Mungkin dia berpikir, mau masuk jadi hakim, tes datang terlambat. Ditanya, “Kenapa terlambat?” Mulai pintar ngarang. Saya bilang, “Maaf, Pak, soalnya ini darurat.” Daruratnya apa? “Tadi saya bawa heroin.” Bingung lagi mereka. Saya bilang, “Menurut UU, kalau saya pegang heroin, itu menyimpan. Saya harus serahkan kepada Kapolda.” Padahal, saya menyerahkan heroin itu kepada polisi saja, bukan Kapolda. Mereka tertarik. Itulah jadinya topik wawancara. Setelah kisah heroin itu, mereka bertanya, “Kamu sudah jadi pengacara, untuk apa lagi melamar jadi hakim?” Saya bilang, “Beda, Pak! Kalau jadi hakim, saya bisa membuat hukum. Kalau jadi pengacara, saya nggak bisa membuat hukum. Kalau ingin perubahan, kita harus jadi hakim supaya bisa membuat hukum.” Itulah singkatnya. Pendeknya, saya menguasai pembicaraan. Setelah panjang lebar ngomong, salah satu pewawancara yang psikolog minta saya menggambar pohon. Yang saya ingat, di dalam formulir pendaftaran ada gambar beringin. Saya gambar saja itu, lengkap dan bagus, apalagi saya pintar gambar. Saya tahu kemudian dari seorang petugas, salah satu penguji bilang, “Dari pagi kita mewawancarai, ini yang cocok jadi hakim.” Jadi, saya sudah lulus begitu keluar dari ruang wawancara dan saya tidak pernah berkomunikasi dengan siapa pun untuk bisa lulus. Sampai dapat SK dua tahun kemudian, tepatnya tahun 1983, saya tidak pernah pergi ke Departemen Kehakiman. SK itu diantar oleh pegawai ke asrama sebab saya masih tinggal di asrama. Dalam SK itu, saya ditempatkan di Pontianak. Tapi, saya nggak pernah pergi sebab sudah sangat menjiwai pekerjaan di LBH. Tahun 1986 saya dipanggil oleh Departemen Kehakiman, mau dikenakan PP 30 karena tidak menjalankan tugas. Direktur Teknis Peradilan, Bu Halimah, bilang, “Kenapa saudara tidak pergi? Ada laporan dari ketua Pengadilan Tinggi.” Saya jawab tidak keberatan ditempatkan di Pontianak. Tapi, saya tidak ada rumah di sana, tidak punya uang, sementara saya punya istri dan satu orang anak. Gaji saya menurut SK cuma Rp 28.200. Tidak diberi ongkos, rumah tak dikasih, dan air di sana katanya beli. Di sana kan rawa-rawa. Akhirnya tak jadi hakim? Setelah bekerja di LBH, saya berpikir jadi hakim itu nggak mungkin, deh. Dari gaji, saya tidak mungkin hidup. Bagaimana bisa dengan Rp 28.200 menghidupi istri, anak, bahkan diri sendiri? Dari dulu saya sudah berpikir, mungkin tertanam di bawah sadar, ya, kalau kita menerima pekerjaan, terima segala risikonya. Artinya, kalau gajimu sedikit, terimalah segitu. Saya bilang saya tidak mungkin hidup dengan gaji segitu, ya, saya tidak terima pekerjaan itu. Saya ingat tulisan Satjipto Rahardjo yang intinya menyarankan supaya psikolog menciptakan modul-modul tes untuk penerimaan pegawai negeri yang dapat menyaring mereka yang bersedia hidup sederhana. Ada cita-cita jadi hakim, tapi dengan pertimbangan harus menerima risiko hidup sederhana, saya tidak ambil itu. Kemudian saya jadi advokat. Saya menjalaninya dengan sungguh-sungguh. Saya mulai dengan asisten advokat tahun 1979, kemudian diterima resmi tahun 1981 di LBH, sampai kemudian semua kedudukan yang ada di LBH pernah saya jabat, kecuali jadi ketua YLBHI. Seluruhnya 18 tahun ketika saya meninggalkan LBH dan YLBHI pada tahun 1997. Terakhir saya direktur LBH. Akhirnya, di ujung itulah muncul PBHI. Mengapa muncul PBHI? Masing-masing punya alasan. Hendardi, Mulyana, dan saya dapat dukungan dari Mochtar Lubis meski Mulyana kembali ke YLBHI. Saya jadi ketua majelis nasional untuk PBHI selama dua periode. Selama 18 tahun di LBH, kasus apa yang paling menarik menurut anda yang pernah anda tangani? Saya pernah baca di beberapa media, dan diulangi oleh seorang pejabat DKI, bahwa Ali Sadikin mengatakan, “Kalau ditanya siapa advokat yang terhebat di dunia, saya jawab itu Luhut Pangaribuan.” Saya kaget. Artinya, saya punya banyak kesempatan di LBH dan saya berusaha maksimal dengan segala talenta yang ada pada saya membuat kasus itu mendapat perhatian orang banyak sehingga bisa diselesaikan. Secara kategoris kasus-kasus itu menyangkut politik Islam, mahasiswa, sampai yang individual. Salah satu kasus sehubungan dengan politik Islam adalah perkara Tanjungpriok. Coba tanya A.M. Fatwa. Saya cukup lama menangani kasus Tanjungpriok. Yang menemukan seluruh tersangka pertama kali itu adalah saya, di daerah Kelapadua. Ada tahanan politik di situ. Saya bertemu dengan semua tokoh itu. Beberapa kali kesempatan saya diminta jadi jurubicara Keluarga Amir Biki untuk berbicara dengan wartawan, terutama wartawan asing, karena saya begitu intens menangani kasusnya. Kasus menarik lain yang saya tangani adalah H.R. Darsono dan Bang Buyung dalam contempt of court. Yang paling seru waktu menangani Fatwa. Saya mau berkelahi benaran dengan hakim, juga dengan jaksa Bob Nasution. Bob berteriak waktu Fatwa mau dibawa, “Siapa yang menghalang-halangi, saya katakan ini melawan UU.” Saya bilang, “Atas nama hak asasi manusia, saya bawa dia karena sakit ke Rumah Sakit Islam.” Ada tarik-menarik. Tapi sekarang, kalau saya ketemu dengan Bob Nasution, cium pipi saya dia itu. Kira-kira sebulan yang lalulah. Fatwa akhirnya bisa saya bawa ke RS Islam sebab dia pingsan. Memang sandiwara, maksud saya dibuat. Yang tahu sandiwara itu dulu kami bertiga saja: Fatwa, istrinya, dan saya. Dari mulai mencari obat supaya dia mencret sampai kemudian supaya dapat keterangan dokter. Advokat lain tidak tahu. Saat itu tarik-menarik waktu, sebentar lagi Fatwa bebas demi hukum. Yang namanya pledoi cuma sehari. Tiba-tiba ia mencret, pingsan, dibawa ke klinik pengadilan. Kebetulan ada dokter Bariah di sana sedang menangani kasus pembunuhan. Hampir ketahuan sandiwara ini ketika dr. Bariah membuka matanya kemudian menyenternya. Fatwa melawan waktu matanya dibuka. Berarti, nggak pingsan. Untung dia tanggap waktu saya bilang, “Jangan, Pak!” Akhirnya dia bisa masuk RS Islam, dibawa dengan ambulans. Baik Abdul Hakim Garuda Nusantara maupun Denny Kailimang tidak tahu ini. Saya ngomong begini karena Fatwa sudah membukanya waktu peluncuran bukunya di Hotel Shangrila. Imam Prasodjo mengatakan waktu itu: kalau begitu, kurang nilai perjuangan Fatwa ini. Mengapa anda mau menciptakan sandiwara itu? Waktu itu saya melihat perkara ini perkara jadi-jadian, perkara politik. Kedua, ada peluang mencari bebas demi hukum. Dia tahanan dan waktu itu sudah ada KUHAP. Kasus menarik lain? Kasus si Macan di LP Cipinang yang tadi saya ceritakan. Dari situ orang percaya bahwa kejahatan dan pelanggaran hukum yang paling banyak terjadi berlangsung di LP. Mulyana bilang, “Kalian advokat itu berhenti di pintu penjara, padahal di penjara begitu banyak persoalan hukum.” Kemudian kasus yang menyangkut tokoh-tokoh mahasiswa: Budiman Sudjatmiko dan PRD (termasuk Romo Sandyawan), mahasiswa ITB yang dipecat Rudini seperti M. Fadjroel Rachman dan Syahganda Nainggolan, lalu Bonar Tigor Naipospos di Yogya. Selama 18 tahun di LBH dan YLBHI sepertinya anda tak pernah berhenti? Dalam 18 tahun itu saya nonstop. Anak saya tiga. Satu pun saya tak ikut menunggui istri waktu kelahiran mereka. Waktu itu saya di Manado, kemudian di Bogor dalam kasus Johnny Sembiring. Pikiran kami dulu di YLBHI: kalau kami nggak bekerja, dunia Indonesia itu seolah-olah berhenti. Lalu, mengapa anda berhenti dari LBH dan YLBHI, kemudian jadi advokat individual? Tidak terasa, ketika bekerja di YLBHI, ternyata sampai tahun 1997 saya masih menumpang di rumah mertua. Ada cerita yang lucu, mungkin mukjizat dalam kaca mata rohani. Waktu membela Romo Sandyawan, anak saya yang pertama diterima di SMP Kanisius. Perlu uang empat juta rupiah. Saya nggak punya duit. Dari mana? Gaji saya di YLBHI tak sampai satu juta. Bahkan, ketika saya keluar dari YLBHI tahun 1997 gaji saya Rp 900 ribu sekian, tak sampai Rp 1 juta. Istri saya dosen di UI. Nggak ada uang segitu. Nah, kami rapat di Driyarkara dalam rangka membela Romo Sandyawan. Hadir Gubernur Serikat Yesus, Pastor Danu. Dari balik pintu dia memanggil saya dan kasih duit. Saya tanya, “Untuk apa?” Tarik-tarikan, akhirnya duit pindah ke tangan saya. Jumlahnya Rp 4 juta. Itu yang saya pakai mendaftar anak saya di Kanisius. Dari pastor ke pastor. Ini mukjizat. Saya kira mereka tidak ada komunikasi. Kemudian saya sakit, batu di empedu, operasi di Cikini, tapi tidak sukses dalam arti, malah kemudian penyumbatan semakin banyak. Akhirnya dokter bilang harus direparasi. Ada yang mengusulkan ke Belanda, tapi saya tidak punya duit. Di situlah saya mulai merenung. Saya mulai kesulitan uang untuk berobat di rumah sakit, kesulitan membiayai sekolah anak yang sudah mulai besar-besar. Di sini pun datang mukjizat. Saya tertolong hanya karena satu omongan dari Sidney Jones. Dia bilang, “Luhut, kau coba pergi ke Kedutaan Belanda karena waktu Gus Dur berobat ke Australia, dia dapat bantuan dari Kedutaan Australia. Mungkin kedutaan punya dana untuk itu.” Saya disarankan ke Kedutaan Belanda. Waktu itu sekretaris politiknya saya kenal. Saya telepon mau ketemu dengannya dan cerita mengenai kesehatan saya. Dia bilang, nggak ada dana di Kedutaan, “Tapi tiket bisa saya kasih.” Jadi sudah dapat dua tiket KLM untuk saya dan istri. Dia bilang akan coba kirim saya ke Den Haag. Terus kemudian ada pendeta di sana yang mau menolong. Rupanya kawan-kawan NGO sudah mengabarkan. Begitu saya sampai di Belanda, pendeta ini menjaminkan depositonya untuk pengobatan saya. Saya tak kenal pendeta ini, tak pernah ketemu. Jadi ini berkat omongan Sidney Jones. Selama 18 tahun, apa strategi anda sebagai advokat? Saya nggak tahu, ya. Mungkin ada talenta dan punya motivasi. Saya kira banyak kasus yang saya tangani yang mendorong lahirnya Undang-Undang tentang legal standing. Dulu saya lawyer Walhi untuk menggugat Indorayon. Ketika itu Bupati J.P. Silitonga dan mantan Dubes Indonesia untuk Australia August Marpaung mau berkelahi tentang hutan lindung. Legal standingnya diterima, di mana-mana dikutip, itu yang kemudian menjadi substansi dalam Undang-Undang tentang Lingkungan Hidup. Selalu ada kreasi-kreasi, termasuk juga waktu saya mendampingi Bang Buyung dan Yap Thiam Hien dalam kasus contempt of court. Mungkin sudah ada motivasi, ada talenta, kemudian ada kesempatan. Kebetulan di LBH itu, bantuan hukum itu ada aspek politiknya. Tidak hanya teknis saja apa yang disebut dengan konsep bantuan hukum struktural. Jadi, kami tak hanya menyembuhkan penyakitnya, tapi juga sebab musbabnya. Itu sebabnya jadi serba keras. Kami tidak hanya menyerang—kalau perkara itu antara jaksa dan advokat—tapi juga siapa yang membuat perkara ini. Kasus-kasus politik lebih banyak dan pemerintah yang membuat perkara ini. Jadi, kami berhadap-hadapan dengan pemerintah. Makanya ada di antara orang-orang LBH yang lebih radikal ditahan. Bang Buyung, Princen, dan Yap pernah ditahan. Saya termasuk penganut Suardi Tasrif: advokat walau melawan jangan sampai ada alasan untuk menahannya. Kalaupun melawan-lawan, saya tak pernah ditangkap. Menurut anda, model pengacara seperti apa yang cocok di negeri ini? Sebenarnya model advokat dengan bantuan hukum di LBH itu mungkin yang cocok. Pertanyaannya, apakah advokat seperti itu bisa bertahan hidup secara individu. Saya terus terang lebih suka bekerja di LBH dibandingkan dengan pekerjaan saya sekarang sebagai advokat individual karena, sebagai advokat individual, saya lebih terbatas. Sementara itu, sebagai advokat bantuan hukum itu tidak terbatas dalam arti, kita memikirkan hukum atau kebaikan hukum di Republik ini. Kenapa? Karena hanya dengan pendekatan yang lugas, terus terang, dan langsung itu kemudian yang bisa mengubah [keadaan] ke arah yang lebih baik. Masalahnya, sebagai personal, sebagai individu, saya harus hidup. Menjelang keluar dari LBH sepuluh tahun lalu, saya bilang kepada The Jakarta Post dalam wawancara, ternyata orang tidak bisa hidup hanya berdasarkan idealisme sebab dengan idealisme, saya sudah membuktikan tidak bisa membeli obat, membayar rumah sakit, tidak bisa melunasi uang sekolah anak saya. Oleh karena itu, saya harus mencari uang, kemudian saya ada di kantor ini. Tapi, sebagai pembawa perubahan, advokat individual itu sangat terbatas karena dibatasi oleh kepentingan klien. Kami tak boleh mengatakan jangan peduli dengan kepentingan klien, jangan didikte, hukum dong yang terutama. Itu tidak feasible, itu nonsense. Bahwa setiap orang punya kepentingan, itu sah. Bahwa kepentingannya itu dispute, itu soal yang kedua. Mungkin di situlah kami perlahan-lahan, tapi karena perlahan-lahan itulah perubahan jadi lambat. Kepentingan klien itu sah-sah saja. Tidak berarti kami dengan sendirinya pegawai si klien. Ada keseimbanganlah di sana, tapi ini yang membuat jadi lambat. Yang diperlukan langsung, kami bikin jadi tak langsung. Ada nggak ukuran sejauh mana kepentingan klien dibela seorang advokat? Memang ada kode etik advokat. Kode etik itu lebih ke tataran etika, sanksinya abstrak. Lebih pada kesadaran yang bersangkutan. Memang dikatakan semakin tinggi kode etik suatu profesi, semakin mulialah profesi itu. Walaupun ada nonsense-nya. Berkaca dari situ, advokat kurang memperhatikan kode etik karena kode etik mengatakan harus mendahulukan kepentingan hukum, kepentingan masyarakat, tidak menangani perkara yang tidak ada dasarnya. Posisi advokat di Indonesia dalam kaitan dengan penegak hukum lain—hakim, jaksa—bagaimana? Formil dalam Undang-Undang Advokat dikatakan bahwa advokat sekarang penegak hukum walaupun menurut saya, secara konseptual itu tidak pas. Yang namanya menegakkan hukum itu to enforce the law. Advokat tidak enforce the law sebab bila enforce the law, dia harus memiliki alat-alat kekerasan seperti senjata, pentungan, borgol, dan penjara. Advokat tak punya itu. Yang punya itu adalah polisi atau negara. Lagi pula, sistem peradilan kita juga tidak memberi tempat yang memadai bagi pengacara. Cara bekerja hukum di negeri ini masih didominasi negara; polisi, jaksa, dan hakim masih mendominasi. Dalam banyak hal, menurut saya, advokat itu masih ornamen. Karena strukturnya begitu, maka tak banyak sebenarnya yang bisa langsung dilakukan oleh advokat. Hakim kita sangat monopoli. Di Amerika hakim pasif. Di sini hakim aktif. Aktif tidak hanya bertanya di pengadilan, tapi juga menentukan kesalahan dan hukuman. Di AS yang menentukan adalah juri, yang berasal dari masyarakat. Di pengadilan kita, hakim bisa bilang, “Jaksa cukup ya, jangan bertanya lagi”; “Advokat sudah cukup, ya, jangan bertanya lagi.” Posisi advokat di Amerika apakah lebih leluasa? Ya, sebab di sana untuk menemukan keadilan, dua yang merasa benar itu diadu, ya seperti cerita Salomo dan bayi di dalam Alkitab. Untuk mengetahui anak siapa yang diperebutkan masing-masing, Salomo mengadu kedua ibu yang masing-masing mendaku bahwa bayi itu anaknya. Singkatnya, konsep mereka [Amerika], kebenaran itu muncul dari percikan, dari tubrukan, seperti api. Di Indonesia: berunding, modelnya seminar, seperti musyawarah untuk mufakat. Jadi, peran advokat di Amerika besar. Kalau kita lihat sejarah, advokat itu diadakan karena perkembangan hak-hak asasi manusia. Kalau tak ada advokat, nanti dikritik. Tapi dalam arti struktur, masih belum ada tempat sebenarnya bagi advokat. Di sana sudah merupakan bagian. Posisi organisasi advokat sendiri, dari Peradin sampai yang sekarang ini, bagaimana? Yang pernah dicatat berperan cukup lumayan dalam konstelasi pembangunan hukum di Republik ini adalah Peradin. Yang masih saya ingat, kontribusi Peradin yang pertama adalah ketika membela orang-orang PKI yang sudah dianggap manusia tidak berguna. Mereka [Peradin] bersuara lantang sehingga kemanusiaan orang itu terangkat: bagaimanapun perbedaan politik, mereka manusia di hadapan hukum. Kontribusi kedua ialah mendorong hak-hak asasi manusia menjadi substansi [peraturan perundang-undangan] di Republik ini. Ide tentang Mahkamah Konstitusi datang dari Peradin. Saya ingat persis: di awal 1980-an, waktu MPR bersidang, Peradin yang dimintai pendapat memasukkan ide Mahkamah Konstitusi. Juga ide-ide tentang hak-hak asasi manusia di dalam KUHAP berasal dari Peradin. Setelah itu, yang ada adalah kesibukan mengurus diri sendiri. Muncul Ikadin, muncul AAI, masing-masing belum terkonsolidasi, muncul Peradi. Yang pasti, organisasi-organisasi itu masih dalam proses konsolidasi, belum ada yang substansial mereka gagasi. Artinya, advokat itu belum terkonsolidasi dalam satu organisasi yang melakukan suatu gerakan nyata dalam perubahan hukum di Republik ini. Belum! Harus dalam satu wadahkah advokat itu? Bukan itu yang saya maksud, tapi mereka terkonsolidasi dalam satu organisasi masing-masing sebab sekarang malah diperlukan organisasi advokat berdasarkan spesialiasi, misalnya yang menyangkut hukum pasar modal, hak atas kekayaan intelektual, dan sebagainya. Baik. Apakah anda melihat korelasi kemahiran orang Batak bicara dengan profesi advokat yang mereka pilih? Itu harus dicek. Saya tak tahu apakah itu kesan atau fakta. Dugaan saya itu adalah kesan, seolah-olah Batak mendominasi profesi advokat. Apakah betul? Coba lihat persentasenya. Cukup banyak. Di daftar AAI DKI hampir 20 persen Batak? OK, tapi nanti harus dilihat periodisasinya. Saya kira ada hubungannya dengan bagaimana praktik-praktik diskriminasi dalam masyarakat kita sekarang ini, lo. Ini ada kaitannya dengan politik kontemporer di Indonesia sekarang. Ketika memasuki wilayah-wilayah publik sekarang ini, kita ditanya, “Kamu datang dari mana?” Maka, keterbatasan masuk wilayah publik menyebabkan orang memilih masuk wilayah privat. Jadi, ada hubungannya saya kira, ketika belakangan ini hampir tersumbat pintu memasuki wilayah-wilayah publik, pilihan menjadi tidak banyak. Dari segi jumlah, saya amat-amati bahwa kesempatan yang semakin rendah untuk memasuki wilayah publik memaksa kita mencari alternatif di wilayah privat. Seperti yang dialami orang Cina—mungkin ini bisa jadi blessing in disguise untuk kita—mengapa masyarakat Cina bisa menguasai ekonomi Indonesia ini. Menurut saya, faktor yang terbesar adalah karena kita mendiskriminasi orang Cina. Dulu tak bisa terbayang Cina jadi menteri. Belakangan ada. Pernahkah kita membayangkan kepala sekolah, Kapolsek, lurah itu Cina? Buat kita hal itu aneh karena pikiran kita sudah terjajah. Jadi, yang terbuka buat dia adalah sektor privat. Ia meninggikan entrepreneurship-nya sehingga dia mahir di sana. Nah, dalam situasi negara semakin memberi kesempatan kepada swasta, dia semakin mendominasi karena dia sudah punya sejarah panjang. Justru orang Batak tidak mendukung ke arah partikelir ini. Saya punya pengalaman untuk menjelaskannya. Ketika saya SD di Balige, setiap sore jam 3 ada orang Cina menjual bakpao naik sepeda. Waktu kecil saya melihat makanan itu enak sekali, tapi saya tak punya duit. Bapak saya pegawai negeri. Tak ada uang jajan. Makan hanya boleh di rumah. Hari Minggu uang diberikan untuk kolekte, maka saya rajin ke gereja walau pas kolekte saya kabur supaya uang itu bisa dipakai untuk jajan. Entah dari mana gagasan ini datang. Saya bilang kepada Li Kiung, tukang bakpao itu, “Kalau saya bantu jual bakpao, saya dapat apa?” Kamu mau? Kalau kamu jual tiga, dapat satu. Karena tak mau sendiri berjualan, saya ajak tetangga, keponakan Midian Sirait itu. Kami berjualan mula-mula tanpa sepengetahuan orangtua, hingga suatu kali ketahuan oleh bapak teman saya itu. “Kamu jadi partiga-tiga,ya?” Partiga-tiga itu aib rupanya. Rendah. Sekolah kamu tinggalkan. Jangan ikutin dia itu. Saya kebetulan tak ketahuan orangtua saja. Sekolah dan amtenar itu terhormat. Saya kira itu umum pada masyarakat Batak. Saya tidak melihat ada budaya Batak yang potensial membuat dia mahir berprofesi sebagai advokat. Barangkali betul bahwa orang Batak selalu bicara, tapi yang namanya advokat tidak sekadar bicara, tapi drafting juga. Harus hati-hati mengambil kesimpulan bahwa ada budaya orang Batak yang mendukung keberhasilannya menjadi advokat. Hipotesa bisa, tapi belum tentu bisa jadi teori. Tapi, dari dulu Fakultas Hukum favorit bagi orang Batak. Cukup banyak orang Batak di jurusan itu? Ya, mereka jadi hakim, jadi jaksa, bukan advokat. Saya kira masih hipotesa budaya Batak berpotensi jadi advokat sebab advokat itu lebih entreprenuer, lebih mandiri, sementara kita masih amtenar. Bagaimana dengan kemahiran marhata? Itu kalau anda batasi advokat dalam urusan litigasi saja, tapi advokat itu drafting juga, bukan ngomong tok, tidak hanya di pengadilan. Secara umum bagaimana anda melihat advokat Batak. Ada yang khas? Saya nggak tahu apakah ini khas. Yang pasti, sama juga seperti yang lain, saya malah—kalau kita berbicara uang dalam hukum—curiga budaya uang ini ikut berpengaruh. Ini misalnya dengan pinggan panungkunan. Dulu pinggan itu berisi sirih, sekarang duit. Kalau itu dipraktikkan di pengadilan, salah lagi ‘kan? Uang do na mangatur sude hukum on. Jadi saya nggak tahu, mungkin budaya dalam arti negatif. Nggak tahu. Anda kelihatannya jauh dari kelompok pengacara Batak itu? Kimianya lain saya kira, tapi saya juga say hello kepada mereka. Mungkin ada segi-segi yang membedakan. Yang pasti soal background. Saya 18 tahun penuh dengan ideologi, perjuangan, dan lagu-lagu kebangsaan. Mereka itu kan branded, merek-merek terkenal. Mereka sudah bicara Versace dan sebagainya, saya masih dengan lagu kebangsaan. Jadi agak beda. Kalau saya melihat Otto Hasibuan dulu selagi saya masih di LBH, mobilnya Honda Civic, saya masih dengan lagu “Maju tak Gentar”. Sekarang tentu sudah bukan itu lagi mobilnya Advokat sering dikaitkan dengan mafia peradilan. Seperti apa situasinya? Orang mungkin akan langsung cenderung pada oknum, mentalitas yang rendah. Saya melihatnya karena kemacetan sistem. Sistem peradilan kita sudah cukup lama macet. Otomatis: di mana ada kemacaten, di situ ada jasa. Sederhana saja, macet lalulintas Jakarta , ada polisi cepek. So simple situasinya. Nggak tahu nanti dari yang anda wawancara, di antara advokat ada yang bilang apakah saya salah dengan cerita ini. Seorang advokat mengatakan tentang para penegak hukum lain: mereka bergaji kurang, saya tambahi gajinya; mereka bahagia, anak mereka bahagia. Apa yang salah? Tentu saja dia ngotot bisa obyektif. Itu nonsense. Nggak mungkin bisa obyektif. Saya kebetulan ikut beberapa tim untuk perancangan Undang-Undang. Di antara anggota tim itu ada pejabat tinggi. Salah satu menceritakan pengalamannya ketemu dengan seorang advokat. “Bang, ini ada perkara. Ada duitnya. Kita bagi dua saja; buat abang separo, buat saya separo.” Itu dia bilang. Di mana obyektifnya begitu? Nonsense. Saya tidak melihat hal ini sebagai imoralitas, tapi lebih sebagai kemacetan sistem. Sistem kita sendiri sudah tidak mampu membaca—kalau diumpamakan sebagai software—instruksi, apa yang dia lakukan. Itu yang terjadi sekarang. Saya ada contoh ketika menjadi anggota tim seleksi untuk Komisi Yudisial. Ada seorang bekas Kapolda, saya kira, ditanya. “Pak, gaji anda berapa?” Disebutkanlah sebab semua sudah tahu berapa sebenarnya gajinya. “Olahraga Bapak apa?” Golf. “Sudah berapa tahun?” Sudah 20 tahun. “Lo, bapak gaji segini kok bisa main golf.” Dibayarin orang. Makanya, banyak hakim agung main golf. Duitnya dari mana? Ya, seperti Kapolda tadi: dibayarin. Pertanyaan saya, “Emangnya ada yang gratis? Dua puluh tahun dibayari golf, emang ada yang gratis?” Begitulah. Maksud saya banyak yang kontradiktif dan tak ada satu kebijakan atau pemikiran ke arah pembenahan itu. Kalau sidak-sidak, itu nonsense. Nah, keadan hari ini macet dan tidak ada yang menyadari, apalagi memikirkan bagaimana supaya tidak macet. Apa menurut anda obat untuk kemacetan ini? Tentu saya tidak berpretensi punya jawaban yang sudah jadi. Paling tidak, saya menyadarinya, bisa menjelaskan bahwa kemacetan memang sudah terjadi. Sederhana saja: coba ambil satu putusan di pengadilan. Baca apa yang dikatakan jaksa dalam rekuisitor, dakwaan, pleidoi; apa berita acara polisi; apa yang ada di berita acara pengadilan! Nggak nyambung itu! Diktum-diktumnya tidak nyambung dengan apa yang dibicarakan. Ada pengalaman saya ketika jadi asisten advokat semasa mahasiswa dulu. Saya membuat pleidoi dan, menurut saya, itu pleidoi terbaik di dunia. Saya dengan serius mengikutinya di Pengadilan Negeri Jakarta Timur. Perkaranya sumir sehingga langsung diputuskan seketika itu juga. Terus hakim baca putusan: “Menimbang pleidoi dari penasihat hukum yang pada pokoknya meminta supaya membebaskan terdakwa…” Padahal, saya tidak bilang membebaskan terdakwa dalam pleidoi itu. Nggak nyambung ‘kan? Begitulah saya kira keadaannya. Lalu, saya baca puluhan putusan Mahkamah Agung. Itu copy-paste. Pertimbangannya copy-paste. Nah, itulah sebabnya tidak ada yurispudensi tetap. Masih ngutip Regentschapsgerecht gitu. Tak ada dikutip menurut Mahkamah Agung Republik Indonesia, padahal sudah 62 tahun merdeka. Macetnya sistem hukum atau sistem peradilan membuat banyak jasa ekstra. Itulah yang kita sebut sebagai mafia peradilan. Semakin pintar dia menunjukkan jalan (seperti di Puncak kalau macet jalur Jakarta-Bandung atau sebaliknya), semakin dipilih dia sebagai penunjuk jalan. Tapi, jangan lupa, dengan menggunakan jasa seperti itu, anda bisa tembus betulan, bisa juga tersesat. Probosutedjo tersesat. Orang yang menawarkan jasa nggak bisa disalahkan. Belakangan ini muncul kritik dari kawan-kawan yang berlatar aktivis dalam posisi anda sebagai pembela Newmont. Bagaimana anda mengklarifikasi itu? Saya juga mendengarkan itu dan ingin berdialog dengan mereka. Saya kan masuk di tengah jalan. Sebelum masuk, saya tidak tahu banyak. Ada dua hal yang saya lakukan. Pertama, saya tanya sahabat saya yang bernama Mas Achmad Santosa. “Ota, saya diminta Newmont untuk ikut. Apa saran dan informasi yang boleh saya tahu?” Dia bilang bahwa dia tak punya lagi informasi karena tidak terlibat langsung. “Itu kan profesional biasa saja,” katanya, walaupun belakangan saya tidak tahu apakah dia termasuk yang mengkritik saya. Yang kedua, saya pergi ke Teluk Buyat. Paling tidak, menurut mata telanjang saya, saya tidak melihat seperti yang dituduhkan. Saya kemudian bertanya apakah LSM tidak tunduk pada cek dan ricek atau introspeksi. Apakah yang mereka katakan sudah pasti benar? Berhadap-hadapan seperti ini sejarahnya, sih, sudah panjang. Ketika di LBH pun, saya selalu berposisi begitu. Itu sebabnya hubungan saya dengan aktivis di LBH tetap baik-baik saja walau tidak mesra sebab walaupun saya NGO, saya harus tanya dong profesionalitasnya. Tidak berarti pengusaha pasti salah, orang miskin selalu benar. Belum tentu. Itu sebabnya bila pejalan kaki atau pengendara motor ditabrak mobil, pasti pengendara mobil yang salah. Setuju nggak dengan stereotipe ini? Nggak dong. Motor bisa salah, pejalan kaki bisa salah. Kita bisa salah. Ada kecenderungan itu. Yang terakhir ini ada sidang perdata sebab Newmont digugat lagi setelah putusan pidana. Ada pemeriksaan tempat ke Teluk Buyat. Tadinya hakim yang berkeinginan. Saya bilang [kami] setuju. Sebab apa? Yang menjadi barang bukti utama adalah Teluk Buyat. Lalu, kawan-kawan LSM mengatakan bahwa ia tercemar dan rusak. Nah, Teluk Buyat masih ada di sana, mari kita pergi ke sana dan kita lihat. Mereka menolak. Mereka bilang tidak relevan lagi sebab limbahnya tidak lagi dibuang di situ. Gimana ini? Mustinya dia bilang, “OK, kita bawa ke laboratorium.” Kami juga usulkan ini. Apa kesimpulan yang bisa diambil dari sini? Sebagai advokat aktivis, anda cukup bisa mengerti nggak jalan pikiran kawan-kawan dengan sikap seperti itu? Saya kurang bisa melihat karena begini. Di LBH itu kan ada litigasi dan nonlitigasi. Yang di litigasi melihat segi teknis dan aspek profesionalitasnya. Yang di nonlitigasi pada pokoknya berpihaklah: yang namanya tambang itu kurang ajar, pencoleng semua, perusak lingkungan. Saya tidak dalam posisi begitu. Di tambang mungkin ada perusak lingkungan, ada pencoleng, tapi mungkin ada juga yang baik sebab advokat pun ada yang pencoleng, ada pencuri, ada juga saya kira yang baik. Pertanyaan saya, apakah NGO itu semua orang baik? Beda dengan manusia yang lain? Saya tidak tahu. Saya kira sama juga dengan manusia lain bahwa di NGO ada pencoleng, ada juga yang baik. Posisi saya yang begini bukan sekarang saja. Waktu di LBH pun saya begitu. Makanya saya katakan hubungan saya dengan aktivis itu baik-baik saja, tapi tidak mesra. Anda terusik dengan sikap mereka? Media termasuk yang bersikap seperti para aktivis itu. Dinamika saja sih, menurut saya. Artinya, buat saya hal itu sebagai balancing dalam membela. Saya tentu butuh orang yang mengingatkan saya sebab saya bisa juga khilaf dalam perjalanan itu. Tapi, tidak berarti mereka pasti benar, lalu saya ikut mereka. Lalu, ada juga sebutan—tapi, susah sebenarnya mengatakan ini—anda sekarang sudah kaya. Sekaya apa sebenarnya? Saya kira dari dulu saya kaya, ha-ha-ha. Yang namanya kaya itu subyektif. Tinggal bagaimana anda mendefinisikan apa yang anda nikmati. Kita sekarang minum kopi [sambil wawancara]. Nah, minum kopi seperti ini bagi saya hanya bagian orang kaya, ha-ha-ha. Kita memang mau mendapatkan uang supaya dengan uang itu, kita bisa hidup. Tapi, uang bukan merupakan tujuan, melainkan sarana. Kita perlu hidup layak. Memang dibandingkan dengan waktu di LBH, tentu saya sekarang jauh lebih layak. Dulu gaji saya yang terakhir di LBH tidak sampai Rp 1 juta, sekarang bergantung pada negosiasi [dengan klien]. Ada tugas begini. Ya, saya katakan kalau bertugas begini, golom-golomnya mesti sekian. Kayak pendeta juga, ha-ha-ha. Ya, itu saja. Dibandingkan dengan pengacara lain, kalau soal yang begitu, saya nggak ada apa-apanya. Sebagai implikasi dari satu sistem, memang betul bahwa kemungkinan advokat mempunyai uang lebih dibandingkan dengan sarjana hukum yang ada di birokrasi jauh lebih besar. Karena apa? Karena advokat bekerja berdasarkan konsensual dan—tentu—ada nasib-nasibannya. Saya cerita sedikit. Sekarang saya ketua dewan kehormatan Ikadin dan anggota kehormatan di Peradi. Begitu UU Advokat lahir—di situ diatur soal fee advokat yang disebutkan “secara wajar”—saya memimpin rapat di Hotel Indonesia. “Saudara-saudara, saya mau bicara soal fee. Saya mengusulkan kita membuat standar, seperti dokter melakukannya buat praktek mereka, supaya ada kepastian. [Tarif] dokter kan ada standarnya. Dokter umum sekian, dokter spesialis sekian.” Saya dimaki-maki semua orang. Kata mereka, “Nggak relevan itu!” Dan ini dulu bagian yang paling susah ketika mau jadi advokat. Waktu saya mau keluar dari LBH, salah satu yang terpikir ialah bagaimana cara minta duit menentukan jasa itunya. Saya keliling-keliling. Saya dengarkan Hotma Sitompul, saya dengarkan Surya Nataatmadja, mungkin juga Otto Hasibuan sebab saya nggak punya ide tentang ini. Saya berpikir sedehana saja: perihal ini nggak diajarkan di Fakultas Hukum. Di buku pun tak ada. Sekali waktu saya ketemu Hotma. Saya tanya, “Lae, gimana sih caranya?” Hotma menjawab, “Wah, saya juga nggak tahu. Tapi, bukan menentukan berapa itu yang mengagetkan saya.” Dia membuka laci dan mengeluarkan cek yang nilainya sangat besar, tidak pernah saya bayangkan ada cek sebesar itu. Sepuluh atau satu miliar [rupiah]. “Ini Lae,” kata Hotma. “Ketika ditanya berapa, tiba-tiba datang saja angka itu. Nah, yang mengagetkan saya, kok klien mau.” Sampai sekarang, kata Hotma, dia begitu saat menentukan berapa. Katanya dia berdoa dulu setiap pagi. [Ha-ha-ha.] Pelajaran kedua dari Hotma. “Jadi, Lae, kamu jangan menggerutu sama Tuhan. Periksa dulu doamu, sudah benar atau belum.” Maksudnya apa? “Mobilnya apa, Lae?” Saya nggak punya mobil. Itu mobil LBH. “Ya, sudah, kau periksa doamu. Kalau kau berdoa, ‘Tuhan, tolong saya diberikan kendaraan’. Banyak kan kendaraan? Masak kau tugaskan Tuhan mencari kendaraan apa yang pas.” Mesti bagaimana, dong? “Kau bilang sama Tuhan, ‘Tuhan, saya mau Mercedez Benz seri S 500 warna hitam.’ Ya, begitu.” Dengan B sekian, ha-ha-ha… Ya, betul. Spesifik, katanya. Jadi, saya dengarkan mereka waktu berkeliling-keliling untuk mengetahui bagaimana cara menentukan jasa. Pengalaman Hotma dan advokat lain dalam menentukan [harga itu] memperlihatkan bagaimana kemungkinan advokat secara umum memang bisa mendapatkan lebih. Itu sebabnya sekarang advokat menjadi cita-cita semua sarjana hukum yang ada di mana-mana. Sekarang ini advokat adalah puncak karier sebagaimana halnya: Kapolri, ketua Mahkamah Agung, jaksa agung, jenderal. Siapa advokat ideal di Indonesia, selain Yap Thiam Hien? [Lama berpikir] Nggak ketemu itu. Kelebihan Yap apa? Ya, dia itu nyaris sempurna. Tentu tak ada manusia yang sempurna. Pertama, dia nggak pernah berbohong. Kedua, dia nggak pernah sesen pun ambil uang. Rumahnya di Jalan Mawardi, yang ia beli tahun 1950-an, nggak ada apa-apanya dibandingkan dengan rumah kebanyakan advokat lain. Nggak ada apa-apanya! Makanya, saya ditraktir oleh dia dulu dengan bubur ayam dan gudeg di warung pinggir jalan. Dia wajar apa adanya. Bagaimana dengan Suardi Tasrif? Dia bilang ke saya, “Saudara Luhut, kalau jadi advokat yang sukses, anda harus main golf.” Kenapa, Pak? “Karena di lapangan golf putusan-putusan diambil. Kalau anda nggak main golf, anda di luar putusan.” Sampai sekarang saya masih berpikir sebab saya belum main golf. Saya nggak tahu benar apa nggak itu. Jadi, saya tak menyebut Pak Suardi Tasrif sebagai advokat ideal karena dia menasihati saya main golf. (selesai) Tulisan ini termuat pada Majalah TATAP edisi 03 November-Desember 2007. Bila tertarik ingin memilikinya, tersedia paket eksklusif Majalah TATAP (7 edisi) seharga Rp200 ribu plus bonus buku Dampak Operasi PT Inti Indorayon Utama terhadap Lingkungan Danau Toba, editor Jansen Sinamo. Call 021 480 1514 untuk info dan pemesanan. Stok terbatas.

Morgan S. L Batu, S.E


unnamed

Kehidupan ini memang seperti misteri, sepertinya kebetulan. Tetapi sesungguhnya tak ada yang kebetulan di jagat ini, semuanya telah diatur oleh sang khalik yaitu Tuhan. “Tugas kita manusia hanya menjalankan peran semaksimal, sebisa mungkin mengembangkan talenta yang diberiNya. Karena memang kita semua diberikan talenta, hanya persoalannya bagaimana kita memanfaatkannya.” Kira-kira itulah yang diamini Morgan Sharif Lumban Batu, Direktur Umum dan Sumber Daya Manusia Perum Perhutani, yang dulu seorang kondektur. Pria kelahiran Desa Pansurbatu, Kecamatan Pollung, Kabupaten Humbang Hasundutan, tahun 1958 ini. Sebelum dipercayakan menjadi direktur, tentunya cerita kehidupannya sebagai anak desa pada umumnya, biasa-biasa saja.

Nama Morgan memang bukan nama Batak, nama itu diperoleh bapaknya dari nama seorang jagoan di film yang pernah ditontonnya. Adapun huruf “S” Sharif adalah nama teman bapaknya, asal dari Minangkabau yang saat itu keduanya sama-sama menjadi kuli pengangkut garam di Sibolga, Tapanuli Tengah. Anak keempat dari sembilan bersaudara ini adalah anak pertama laki-laki. Konon ceritanya, sebelum Morgan lahir, ompungnya (orangtua bapaknya) sempat menyuruh bapaknya untuk menikah lagi, karena belum punya anak laki-laki. Dulu kala masih kental dalam tradisi Batak jika tak memiliki anak laki-laki umumnya keluarga mendorong anak menikah lagi.

Waktu ibunya hendak melahirkan Morgan, bapaknya sengaja tak mau pulang dari tempatnya bekerja. Sebenarnya, hanya ingin menghindari kekecewaan, kalau-kalau yang lahir perempuan lagi. Puji Tuhan yang lahir ternyata laki-laki. Kabar itu pun sampai di telinga bapaknya. Atas berita itu bapaknya pun antusias datang melihat anaknya yang lama dinanti-nanti, baru lahir. Tentu kelahiran Morgan membawa semangat tersendiri, tak saja bagi kedua orangtuanya, tetapi juga pada ompung-nya. Atas cerita itu semua, Morgan kecil diperhatikan begitu khusus, kalau tak disebut dimanjakan. Bapaknya punya harapan besar padanya, karena dia kelak memundak kehormatan keluarga. Sedari kecil bapaknya membimbing dan mengasah mentalnya dengan keras. Sebagai laki-laki terbesar, Morgan selain keras dididik, bapaknya juga mengajarkan tanggung jawab. Termasuk mempersiapkan sekolah yang lebih baik.

Sekolah di kota

Sekolah dasar dilewatkannya di kampung halamannya Dolok Sanggul. Menjelang akil balig, sadar, bahwa kesenjangan mutu pendidikan di kota dan desa berjarak sekali. Morgan pun mengusulkan diri sekolah di kota Medan (Jarak dari Medan ke Dolok Sanggul sekitar 275 km jika melewati Pematang Siantar). “Saya melihat bahwa faktor pendidikan merupakan tolok ukur kemajuan,” ujarnya. Akhirnya, orangtuanya mengijinkannya untuk sekolah di Medan dengan menumpang di rumah kerabat dekat, uda-nya. Namun, konsentrasi sekolahnya pudar, karena sebelum sekolah dia mesti membantu-bantu inang-udanya yang punya klontong. Karena sering kelelahan tak sempat belajar, nilai rata-ratanya jeblok. Karena itu, dia meminta dipindahkan ke Jakarta. Terakhir, dia hanya sampai kelas dua SMA di kota Medan dan melanjutkan ke Jakarta. Ke Jakarta ingin pendidikan yang lebih baik. Bapaknya setuju, hanya saja permohonan untuk dipindahkan itu dibarengi semacam perjanjian. Agar di Jakarta benar-benar menunjukkan hasil, jika lulus sekolah bisa mendaftar ke universitas negeri.

Restu pun diperoleh dari sang bapak. Pendek cerita dia menjalani hidup di Jakarta. Hari-harinya diisi dengan sekolah dan giat belajar. Morgan ikut menumpang hidup di rumah kakak perempuannya di kawasan Rawasari, Jakarta Timur. Studi dilaluinya di satu sekolah daerah Halim Jakarta Timur. Ternyata, tak gampang mengikuti pelajaran di Jakarta yang sebelumnya dilaluinya di Medan. “Cara belajar di kampung dengan Jakarta berbeda jauh.” Morgan tak bisa mendapat nilai bagus.

Impian yang sebelumnya direncanakan harus dijalani berbelok. Nilai yang diperolehnya tak sesuai, semuanya gagal tes di perguruan tinggi negeri. Kabar kegagalan itu pun tenyata sampai juga ke telinga bapaknya. Dua bulan berjalan, sejak pengumuman gagal tes perguruan tinggi tersebut, bapaknya tanpa pemberitahuan datang ke Jakarta. Morgan sendiri tak tahu. Hari itu seperti biasa dia pulang ke rumah kakaknya, sementara bapaknya sudah duduk bersilah dengan raut wajah masem. “Saya tanya bapak, kapan datang pak, saya dijawab ketus.”

unnamed (1)Malam itu, bapaknya bicara: sesuai janji saat sebelum ke Jakarta, “jika kau gagal masuk universitas, maka kau tak boleh lagi mendapat bantuan keluarga, kau harus keluar dari rumah ini.” Kata bapaknya dengan tanpa ragu. Tanpa sempat Morgan mempertanyakan keputusan itu, Morgan disuruh angkat kaki dari rumah kakaknya. Sedih. “Perasaan perih sekali, cara bapak melatih mental.” Tapi Morgan sebagai lelaki harus siap dengan konsekwensi yang sudah disepakati. “Wajah bapak saya waktu itu dingin. Kakak-kakak saya menangis tanpa berani berkata apapun,” kenangnya.

Saat itu, juga Morgan mengemasi pakaian dan beberapa buku dimasukkan ke dalam kardus mie instan. Dengan perasaan terpukul, Morgan pergi menenteng kardus menyusuri malam. Tujuannya satu, menumpang hidup sementara pada kerabat satu kampung, bermarga Simorangkir, yang tinggal di daerah Kuningan, Jakarta Selatan. “Istrinya boru Lumban Batu semarga dengan saya. Pekerjaannya sopir metromini yang menyusuri trayek Kebunjeruk-Tanah Abang.” Malam itu semuanya diceritakan pada keluarga Simorangkir, dan diakhir ceritanya Morgan meminta agar dia diikutkan jadi kondektur. Tetapi, dengan satu kesepakatan, di hari  tertentu diberikan libur untuk mengikuti kursus.

Sementara urusan bagi hasil tak dia pikirkan. Baginya, bisa makan, menumpang tidur, dan bisa mengikuti bimbingan belajar masuk perguruan tinggi, sudah cukup rasanya. Cita-cita untuk menggapai sekolah yang tinggi tak surut. Kehidupan terminal yang riuh dan keras di Jakarta pun mulai dilakoninya. Di suatu malam, selesai mencuci metromini, dia tidur di pol. Sejak menjadi kondektur hal ini biasa dilakoninya, karena jarak pol dan rumah kerabatnya jauh. Sesaat hendak memejamkan mata, datang adik pemilik metromini meminta agar Morgan untuk membelikan rokok.

“Permintaan ini tentu saya tolak. Alasan saya semua penghasilannya hari itu dibawa pulang oleh lae Simorangkir. Alasan tersebut tak diterima adik pemilik metromini, malah jadi menampar saya berkali-kali,” ceritanya mengenang. Maklum Morgan muda walau berperawakan kecil dan kurus ketika itu, tetapi sebagai laki-laki tak terima perlakuan tersebut. Dia bersiasat membalas dendam, mencari dukungan dan mendatangi udanya di bilangan Cibinong, Bogor. Setelah Morgan menceritakan semuanya, keduanya kemudian menyusun rencana. Namun, dua hari kemudian, pikiran yang semula balas dendam urung dilakukan. Udanya memikirkan nasib keluarga Simorangkir bila mereka berdua melampiaskan dendam. Atas alasan itu, niat itu diurungkan.

Inilah hidup, seperti misteri. Baru beberapa hari berselang Morgan mendapat perlakukan yang tak pantas, kini berubah menjadi kebahagiaan. Tak jadi balas dendam, saat itu yang dipikirkannya adalah bagaimana mencari kerja dengan ijazah SMA, tak lagi menjadi kondektur. Seperti kebetulan, dia datang ke kantor Depnaker. Disana dia menyaksikan sekumpulan orang lagi memperhatikan papan pengumuman. Ternyata, orang banyak itu sedang melihat pengumuman tes pegawai negeri sipil (PNS). Morgan baru teringat, setelah lulus SMA beberapa bulan sebelumnya, dia sempat melamar ke Kementerian Keuangan. Lalu, Morgan pun membuka dompetnya mencari fomulir tanda nomor penyerahan berkas lamaran. Kertasnya sudah lapuk, tetapi tulisannya masih bisa terbaca walau sudah kabur. Dan ternyata, namanya termasuk yang lulus.

Sukacita yang tak terkira itu pun dia beritahu pada kakaknya. Oleh kakaknya menyampaikan kepada bapaknya. Atas diterima jadi PNS, oleh kakaknya mengundang seluruh keluarga dekat Lumban Batu menggelar syukuran. Saat diawal-awal di terima departemen ini, Morgan menyebut salah satu yang berjasa di awal karirnya, Ir Humuntar Lumban Gaol. “Waktu itu beliau sudah menjadi pejabat, saat saya diterima di Departemen Keuangan. Ada keluarga yang kenal beliau menceritakan tentang saya, lalu saya dipanggil ke kantornya. Beliau waktu itu menulis catatan kecil untuk saya sampaikan pada seorang temannya,” kenang Morgan. Tentu bukan nepotisme, tetapi dulu cara demikian mujarab.

Setelah diterima menjadi PNS, Morgan memanfaatkan waktu sembari kuliah Universitas Krisnadwipayana di Jalan KH Mas Mansyur Tanah Abang, Jakarta Pusat, sebelum pindah tahun 1979 pindah ke kampus yang terletak di Jalan Jatiwaringin, Jakarta Timur sekarang ini. Tanpa harus meninggalkan pekerjaan, kuliah malam. Cita-cita jurusan ekonomi sebagai jalan karier yang mulai ditatanya.

Sikap memotivasi

Dia meniti karir dari level yang paling bawah. Berbagai tugas pernah diterimanya selama mengabdi di Kementerian Keuangan yang kemudian dialihkan ke Kementerian BUMN. Karirnya pun terus menanjak hingga menduduki posisi Asisten Deputi Bidang Usaha Industri Primer I Kementerian BUMN. Beberapa jabatan komisaris BUMN pernah diembannya, termasuk pernah menjadi komisaris di PT Kertas Kraft Aceh (KKA) dan PT Perkebun (PTPN) V Riau. Sejak tahun 2012, Morgan dipercayakan menjabat Direktur Keuangan Perum Perhutani. Dan, tahun 2015 dipercayakan menjadi Direktur Sumber Daya Manusia. Sebuah jabatan karier prestisius bagi seorang anak desa. Jabatan yang penuh tantangan, karena mesti terus mengembangkan potensi, sumber daya manusia yang ada di Perum Perhutani.

Sementara untuk mengembangkan diri, dia terus mengasah diri lewat membaca dan membangun relasi. Dia terus mengupgrade diri. Sadar bahwa tak mungkin pencapaian langsung dapat melejit tanpa gigih dan belajar terus-menerus. Sebagai seorang pemimpin di perusahaan negara, dia juga telaten membangun hubungan relasi dengan tokoh-tokoh nasional. Termasuk, misalnya, ketika Dahlan Iskan menjadi Menteri BUMN, Morgan selalu belajar pada para seniornya. Namun, di balik itu semua dia tak lupa membantu banyak orang. Sikapnya memotivasi. Sebagai seorang yang sudah menikmati pencapaian mesti membagikan, mentransfer pengalaman pada orang-orang muda. Sikap memotivasi itu, termasuk mendatang ke sekolah-sekolah di kampung halamananya.  Memotivasi para pelajar, upayanya untuk memberikan semangat bagi mereka agar tekun dalam menggapai cita-cita.

Morgan berharap agar kelak makin banyak lagi putra-putri Humbang Hasundutan yang termotivasi untuk menjadi salah satu pemangku kepentingan di negeri ini. Selain memberikan pendidikan dan motivasi terhadap pelajar, dia juga tak lupa memberikan bantuan ke sekolah berupa peralatan pendukung pendidikan seperti LCD proyektor, dan buku-buku. Selain itu, juga dia juga menyantuni, memberi beasiswa bagi pelajar setingkat SLTA terbaik dari Humbang Hasundutan.

Lalu, apa yang mesti dimiliki untuk bisa eksis berkarier dimanapun? Sarannya, sebagai seorang yang menata karier mesti memiliki kredibiltas. “Kredibilitas adalah atribut yang susah diperoleh. Dan itu adalah kualitas manusia yang harus terus dikembangkan. Ini diperoleh menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun. Tetapi, ini bisa hilang dengan sekejap kalau tak dipelihara. Seorang pengikut bisa memaafkan ketidaktepatan janji pemimpin, salah omong, keseleo lidah, tindakan yang kurang hati-hati atau beberapa kesalahan penting,” sembari menambahkan. “Akan tetapi, akan tiba saatnya ketika batas kesabaran seorang pengikut apabila ketidak-konsistenan berlangsung terus-menerus. Disitu pemimpin kehilangan kredibilitas, dan amat susah untuk mendapatkannya kembali,” ujar jemaat Gereja Santo Yakobus, Paroki Kelapa Gading, Jakarta Utara ini.

Tak ada yang mengira bahwa Morgan semula hanyalah seorang anak desa, pernah menjadi kondektur. Dan, sekarang menjadi direkur sebagai pengemban potensi Sumber Daya Manusia di Perum Perhutani. Semua tahu bahwa pada bidang SDM seluruh kemampuan atau potensi perusahaan dapat diberdayakan. Sesuatu tugas yang tak gampang, tetapi karena kasih Tuhan semuanya indah pada waktunya, dan baik diembannya. “Tak ada impian yang tak akan terwujud jika kita menggandalkan Tuhan. Mari syukuri hidup ini,” katanya takzim. Sebagaimana kutipan di facebooknya: “Pergi ke pasar membeli bubur. Bubur dibeli untuk sarapan. Jika kita banyak bersyukur, rejeki akan ditambah Tuhan.” Hojot Marluga

Kamaruddin Simanjuntak SH


Kamaruddin SimajuntakNama:

Kamaruddin Simanjuntak SH

Tempat/tgl lahir: Siborong-borong, 21 Mei 1974

Pendidikan:

SMAN I Siborong-borong, tahun 1992

Fakultas Hukum Univesitas Kristen Indonesia, tahun 2000

Pendiri: kantor pengacara “Victoria” Law Firm
 Simanjuntak SH

Tempat/tgl lahir: Siborong-borong, 21 Mei 1974

Pendidikan:

SMAN I Siborong-borong, tahun 1992

Fakultas Hukum Univesitas Kristen Indonesia, tahun 2000

Pendiri: kantor pengacara “Victoria” Law Firm

Hidup di dunia terlalu singkat. Itulah sebabnya orang bijaksana mengerti bahwa kesempatan tak disiasiakan. Mengisinya dengan sabaik-baiknya, apa yang terbaik dalam profesi yang sedang digeluti. Dalam hal ini ingin menjadi pengacara terbaik. Itulah yang dianut Kamaruddin Simanjutak seorang pengacara yang menyadari hidup adalah anugerah. “Karena itu selagi diberikan kesempatan harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.” Ajakannya, “Marilah kita isi dan sikapi dengan perbuatan-perbuatan yang baik, benar dan berguna bagi diri sendiri maupun bagi sesama kita. Dan jangan sampai usia kita hari demi hari berlalu begitu saja, tanpa kita isi dengan hal-hal yang positif.”

Menurutnya, banyak orang, tanpa terasa sudah tua, kehidupannya masih kosong. “Miskin dan menderita, karena masa mudanya tidak dimamfaatkan waktu yang ada dengan kegiatan yang bermamfaat dan positif. Tak bekerja keras dan tidak menabung atau tidak memiliki investasi. Akhirnya tiba pada penyesalan di hari tuanya, namun perlu kita sadari bahwa menyesal tua, adalah tiada arti!”

Satu-satunya cara untuk meraih sukses, tambahnya adalah dengan beriman. Berdoa dan berpengharapan senantiasa kepada Tuhan Yesus, berpikir positif, memiliki cita-cita dan tujuan hidup yang jelas, bergaul di lingkungan yang baik dan positif, ditambah belajar dan bekerja keras sepanjang masa. Pasti hasilnya sangat baik dan diberkati. Sukses adalah tercapainya cita-cita yang kita mimpikan melalui tata cara yang sudah kita tetapkan. Sukses di waktu sekarang selalu ditentukan oleh apa yang sudah kita lakukan dan mimpikan di waktu lampau. Sukses di masa depan bergantung pada bagaimana persiapan dan mimpi kita hari ini untuk masa depan, katanya.

Kalau kita sudah menetapkan bahwa kita ingin hidup seperti apa, lalu dengan beriman dan berdoa senantiasa kepada Tuhan, lalu berpengharapan, berpikir positif, memiliki cita-cita dan tujuan hidup yang jelas, bergaul di lingkungan yang baik dan positif, ditambah belajar dari orang-orang yang sudah berhasil dan bekerja keras sepanjang waktu dan fokus untuk mencapai tujuan hidup kita. Maka kita pasti akan meraih impian kita dan itulah yang namanya sukses tersebut, ujar Kamaruddin.

Pemahaman akan makna hidup terbangun oleh perjalanan hidupnya yang panjang. Dia sebelum menjadi advokat dulunya seorang bisnisman. Tetapi, di satu masa bisnisnya bangkrut. Dia tidak berlama-lama menangis keadaannya. Dari sana dia bangkit, beranjak makin gencar mempelajari hukum. Apalagi waktu disuasana dia masih aktif di bisnis Kamaruddin banyak bertemu dengan sarjana-sarjana hukum di Klender, Jakarta Timur.

Padahal dulu semenjak tamat dari SMAN I Siborong-borong tahun 1992, Kamaruddin tak pernah berpikir menjadi pengacara. Malah dia membulatkan tekad merantau ke Jakarta untuk mengadu nasib. Berbekal kenekatan, iman, dan doa orang tua begitu sampai di Jakarta. Kamaruddin karena tidak punya uang untuk kos dan tidak ingin menyusahkan saudara. Kamaruddin terpaksa harus tinggal di bawah kolong jembatan di daerah Klender, Jakarta Timur.

Selama tiga bulan hidup Kamaruddin bak gelandangan, kerja serabutan sekedar untuk bertahan hidup. Dengan berbekal ijasah SMA Kamaruddin kemudian mencoba melamar kerja di perusahaan. Tahun 1993 dia diterima bekerja sebagai Customer Service di sebuah restoran. Dari sana sempat membangun bisnis. Tetapi tak berapa lama, karena pasang surut dunia bisnisnya, Kamaruddin kemudian menikung, mengambil jalan lain menjadi pengacara. Lalu kuliah di Fakultas Hukum Univesitas Kristen Indonesia di tahun 2000. Dia tempuh hanya 3,5 tahun. Lulus kuliah, tahun 2004, lalu membuka kantor pengacara sendiri yaitu “Victoria” Law Firm. Victoria artinya kemenangan. Nama itu juga diambil dari nama putrinya. Sebagai pendiri kantor pengacara, dia banyak menangani berbagai kasus besarpun ditanganinya. Dengan bekal pergaulan dan wawasan yang luas dia dipercaya menangani kasus-kasus besar.

Kamaruddin selalu lantang dan tegas untuk mengatakan pendapatnya dalam membela kliennya. Sebagai seorang pengacara dia membongkar habis kasus-kasus diantaranya dirinya pernah membongkar korupsi tahun 2007 yang menyebut pertama kali jangan tebang pilih kasus korupsi di DPR Komisi V dan Menteri Perhubungan. Membongkar kasus korupsi di tubuh partai Demokrat tahun 2011 yang akhirnya menyeret Anas Urbaningrum, Nazaruddin, Angelina Sondakh. Satu perkara lain yang banyak disorot media nasional adalah kala Kamaruddin menangani kasus Rosalina Manullang, tahun 2011. Dia dipercaya Rosalina Manulang menjadi kuasa hukumnya untuk kasus mega skandal korupsi yang berhubungan dengan Muhamad Nazarudin, mantan Bendahara Umum Partai Demokrat itu.

Konon banyak yang menyebut dari menangani perkara Rosalina, nama Kamaruddin kemudian melambung bak meteor. Menjadi pusat berita selama beberapa bulan. Kini kiprahnya di dunia kepengacaraan Indonesia namanya pun kini makin diperhitungkan. Pria kelahiran Siborong-borong, 21 Mei 1974 adalah jemaat di HKBP Kebun Jeruk. Suami dari Joanita Meroline Wenji ini, telah Tuhan karuniai lima orang puteri. Dengan bekal integritas, kompetensi di bidang hukum, idealisme, kerja keras dan iman kepada Kristus. Sebagai seorang Kristen, dia ingin menjadi teladan dan saksi Kristus di bidang profesinya hukum yang digeluti putra dari Midian Simanjuntak dan Nurmaya Pardede.

Memperjuangkan klien

Kamaruddin sejak menekuni karir di dunia pengacara, sudah hampir ratusan perkara ditangani. Dan berbagai latar belakang orang yang dibelanya amat beragam. Sebagai seorang advokat Kamaruddin banyak membantu kliennya. Salah satu adalah penyanyi Daniel Sahuleka. Sebagai pengacara untuk menyelesaikan kasusnya dengan tiga record label besar di Indonesia. “Kita senang banyak yang suka dan menyanyikan lagu-lagu Daniel, tapi tentu semua ini ada aturannya. Kalau ingin mengedarkan, tentunya harus izin dahulu dengan penciptanya,” ujarnya. Johnny Maukar selaku manager Daniel Sahuleka di Indonesia menjelaskan, pelanggaran hukum yang dilakukan Sony Music misalnya adalah mengedarkan lagu ciptaan Daniel berjudul Don’t Sleep Away The Night yang dinyanyikan ulang oleh Glenn Fredly dalam bentuk CD. Namun setelah dilakukan mediasi, Sony Music akhirnya bersedia menarik kembali CD yang sudah beredar tersebut.

“Masalahnya waktu itu memang sudah selesai. Tapi di tahun 2012, Sony mengedarkan kembali lagu itu dalam bentuk iTunes tanpa izin dan tanpa memberi royalti sepeser pun.” Upaya mediasi juga sudah dilakukan sebanyak tiga kali. Namun, hal itu tak juga membuahkan hasil. Akhirnya Kamaruddin mensomasi. “Langkah pertama yang akan kami lakukan tentunya meminta keterangan dan memberikan somasi. Bila tidak juga menemukan solusi, kami akan mengajukan tuntutan hukum, baik melalui gugatan perdata ke Pengadilan Niaga di Jakarta, maupun tuntutan pidana ke kepolisian,” jelas Kamaruddin.

Ditanya satu hal yang membuat Kamaruddin selalu terusik adalah soal carut-marutnya penegakkan hukum kita. Baginya, sebagai warga bangsa yang menjadi bagian penegakkan hukum, Kamaruddin senantiasa mengutamakan hukum sebagai landasan dalam seluruh aktivitas negara dan masyarakat. “Hukum belumlah menjadi panglima. Masih jauh panggang dari api. Diistilahkan tajam ke bawah tumpul ke atas, itulah gambarkan kondisi penegakan hukum di Indonesia. Hukum yang seharusnya menjadi alat pembaharuan masyarakat, nyatanya penegakan hukum masih morat-marit dan carut marut.” Sebagai pengacara Kamaruddin sangat membenci ketidakadilan. Karena itu, kerap kali dia memberikan pencerahan lewat media sosial. Salah satunya dengan cara menulis di facebook pendapatnya soal-soal yang terkait dengan penegakan hukum.

Hotman J. Lumban Gaol

Saor Siagian, SH, MH



Pengacara Pembela Kaum Tertindas

Saor Siagian-1Melayani itu tidak harus menjadi pendeta. Saor menyadari, panggilannya bukan naik ke atas mimbar. Namun melayani di tempat dimana Tuhan tempatkan kita mengabdi. Dia menyadari bahwa menjadi pengacara itu juga bagian pelayanan. Sebagai pengacara, membela kaum marginal adalah hal yang dianggapnya sebagai kehormatan, apalagi membela mereka yang tertindas.

Pria kelahiran di Pematang Siantar, 9 Mei 1962. Ketika Lulus SMA melanjutkan pendidikan di Fakultas Hukum dari Universitas Kristen Indonesia ini adalahnya lebih tertarik menjadi motivator. Itu sebabnya dia sempat bekerja di Legal Consultant dan Dale Carnegie Training Jakarta, sebelum membuka kantor pengacara sendiri. Suami Mery Sibarani dan ayah tiga anak, dua putri dan satu putra, Bunga Meisa Siagian, Maria Grace Delima Siagian, dan Paulus Reinhard Siagian.

Dia telah banyak membela Gereja yang ditindas, termasuk Gereja HKBP Pondok Timur, Bekasi. Walah dia bukan jemaat HKBP, tetap bergereja di POUK, Kemang Pratama, Bekasi. Orang juga tidak lupa akan perjuangannya pada HKBP Filadelfia. Saor melihat, kekerasan yang dilakukan barisan massa intoleran ini adalah menghadang Jemaat HKBP Filadelfia yang hendak menuju lokasi ibadah di Jalan Jejalen Jaya, Tambun, Bekasi untuk melakukan ibadah malam Natal, sesuatu yang mengiris hatinya.  “Betapa ada manusia tidak memberi hati bagi orang lain.”

Menurutnya, penghadangan oleh massa intoleran yang juga melakukan pelemparan kepada Pendeta Palti Panjaitan dan Jemaat HKBP Filadelfia, yaitu melempar telur busuk, kotoran hewan, batu, tanah; menyiram air jengkol yang sudah busuk dan air comberan. Ini ironis, malah polisi membiarkan terjadinya aksi kekerasan massa intoleran tersebut,” ujarnya ketika itu. Saor kukuh membela laum tertindas. Bukan hanya gereja yang dibelanya. Dia juga menjadi Kuasa hukum jemaat Ahmadiyah. Ketika Ahmadiyah dimarginalkan, sebagai pengacara dia meminta perlindungan dan tindakan hukum bagi kliennya.

Membela kaum tertindas

Bagi aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) ini, bahwa kebebasan adalah hak asasi yang mesti dilindungi pemerintah, termasuk kebebasan beragama.  Itu sebabnya, tahun 2005 sudah ada Ratifikasi Kovenan Internasional Hak-Hak Sipil dan Politik atau International Covenan on Civil and Political Rights (ICCPR) Jo Pasal 18 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (Universal Declaration of Human Rights).

“Konsitusi kita sudah jelas, mengatur dan melindungi hal kebebasan untuk memilih dan tidak memilih agama sekalipun,” ujarnya. Dia menambahkan, karena itu di Kristen Protestan misalnya, ada aras atau sinode. Ada 300-an lebih sinode yang terdaftar di Departemen Agama. Bolehkah kita sebut mereka ini semua sama? Tidak kan! Atau beranikah kita mengatakan, bahwa sinode ini yang paling suci ini atau itu? Yang penting mari kita saling menghargai.

Soal kebebasan beragama itu seksi sekali. Tetapi, saya salah satu orang yang sangat keberatan jika isu-isu agama dijadikan menjadi komoditi. Apalagi dipolitisasi. Memang kita bisa melihat masih ada tipe orang yang kurang percaya diri memimpin, jika tanpa menggunakan isu-isu agama baru percaya diri.” Tetapi bagi saya itu adalah cara pandang yang sangat primitif. Inilah ketidakdewasaan dalam berpolitik. Masih menggunakan cara-cara kuno, menjual isu-isu agama. Padahal, kalau ingat apa yang disampaikan visi oleh founding father bahwa kita harus menghargai dan memberikan ruang kebebasan menganut dan tidak menganut agama.

Karena itu, bagi Saor, negara membutuhkan pemimpin yang punya empati pada rakyat, yang jujur pada rakyat. “Sesungguhnya walau kita sudah merdeka, tetapi cara berpikir kita belum merdeka. Proses berpikir kita masih sempit. Misalnya, cara berpikir kita yang terjajah itu masih melihat misalnya, harus mayoritas layak menjadi pemimpin nasional. Sementara  minoritas tak bisa memimpin.” Menurutnya, jangan kita mendefinisikan kewibawaan pemimpin hanya dari fisik saja. Kalau itu masih terus kita anut, saya pikir kita masih terjebak cara berpikir peodal, katanya.

Membela KPK

Atas dimarginalkan, Saor juga tampil menjadi kuasa hukum Bambang Widjajanto ini, masyarakat yang menjadi tersangka oleh polisi bisa menolak panggilan dan mengulur proses hukum dengan mengajukan praperadilan penetapan tersangka. Sebagai pengacara, dia menyarankan agar tim hukum Komisi Pemberantasan Korupsi segera mengajukan peninjauan kembali ke Mahkamah Agung. Saor menilai penyidik Bareskrim Mabes Polri percaya diri menetapkan kliennya sebagai tersangka. Menurutnya, saat penangkapan kliennya, penyidik tak mencantumkan ayat yang disangkakan.

“Ini yang menarik, pasal pertama yang dalam hitungan tidak dalam seminggu, Pak BW dipanggil dengan Pasal 242 juncto 55 (KUHP). Tapi panggilan kedua, kemudian pasalnya diubah,” kata Saor. Berubah-ubahnya pasal yang disangkakan terhadap BW, menurut Saor, kian mengentalkan perkara yang disangkakan terhadap kliennya dipaksakan.

“Kriminalisasi terjadi karena perbuatan yang ditudingkan saat BW tengah menjalankan profesinya sebagai advokat yang dilindungi UU Advokat.” Sekali lagi, menurut Saor, penetapan BW sebagai tersangka menunjukkan penyidik tidak mentaati dan menghargai profesi dan UU Advokat. “Penyidik polisi betul-betul tidak menghargai advokat melakukan pekerjaannya. Padahal undang-undang terang benderang, sedang melakukan perlindungan dan rahasia-rahasia dengan kliennya,” ujar Saor.

Saat dicegah, dua pengacara BW Chatrine dan Nur Syahbani Katjasungkana sudah di dalam ruang pemeriksaan. Sementara Saor Siagian, kuasa hukum BW lainnya, mempertanyakan dasar hukum pembatasan jumlah kuasa hukum yang boleh mendampingi BW. Tak satu pun penyidik bisa menjawab pertanyaan Saor. Sebaliknya, mereka menyarankan kuasa hukum menghadap ke Kasubdit VI Kombes Daniel Bolly Tifaona.

Dialog dengan Kasubdit Daniel ternyata tidak membuahkan. Saor tetap diminta keluar dari ruangan. BW hanya boleh didampingi dua pengacara. Sementara BW tetap duduk dan menyatakan menyerahkan semua hal kepada Kuasa Hukum. Sebagai pengacara, disinilah keberanian Saor, dia tetap menolak pembatasan jumlah pengacara yang boleh mendamping kliennya. “Soalnya tindakan itu tak berdasarkan hukum,” Dia menambahkan “Sejak kapan perintah Kasubdit sama dengan aturan yang tercantum dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana?” Kombes Daniel kesal, lalu keluar dari ruang pemeriksaan dan memerintahkan Provos yang berjaga untuk mengusir Saor. “Provos tarik orang ini keluar!”

Dua Provos langsung mengampiri Saor Siagian untuk menyeretnya keluar ruangan. Tapi tindakan itu dicegah kuasa hukum BW lainnya. Mereka mengatakan, bila Kombes Daniel meneruskan tindakan itu berarti dia telah melakukan perbuatan melawan hukum dan melanggar undang-undang. Akhirnya, Saor pun dapat mendampingi pemeriksaan BW. Sementara Kuasa Hukum lainnya terpaksa harus keluar ruangan.

Saor Siagian-3Pilihan yang dipilih Saor, bukan tanpa resiko. Untuk mewujudkan harapan, Saor menyadarinya tidak mudah, memerlukan perjuangan dan pengorbanan. Selama ini, dia menyadari profesinya sebagai pengacara yang konsisten membela kaum tertindas, untuk mendapatkan kepastian dan keadilan hukum, termasuk komunitas yang ditindas itulah yang dibelanya.

Ditulis HOJOT MARLUGA

Prof. Dr. Frieda Mangunsong Siahaan, M.Ed.


Foto FM(2)
Dr. Frieda Mangunsong Siahaan, M.Ed. adalah Pengajar pada bidang Psikologi Pendidikan, yang memiliki kepakaran dalam bidang Pendidikan Khusus (Special Education).
Minatnya pada bidang Psikologi dan Perempuan membuat beliau menulis disertasi yang berjudul “Faktor intrapersonal, interpersonal, dan kultural pendukung efektivitas kepemimpinan perempuan pengusaha dari empat kelompok etnis di Indonesia” untuk memperoleh gelar Doktor dalam Bidang Psikologi.
Pengalaman beliau yang banyak dalam menangani kasus-kasus yang berkaitan dengan bencana di Indonesia membuat beliau sempat memegang jabatan sebagai Ketua Pusat Krisis Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Saat ini beliau menjadi Koordinator Program Magister Kekhususan Psikologi Bencana (Disaster Psychology).

Pengembangan Fungsi Otak untuk Memaksimalkan Potensi Anak (artikel)

Oleh: Prof.Dr. Frieda Mangunsong-Siahaan, M.Ed, Psikolog (Universitas Indonesia-Fakultas Psikologi)

OTAK: “Raksasa di dalam Tubuh Manusia”

Tahukah Anda berapa banyak sel otak pada bayi yang baru lahir? 1.000.000.000.000! Sel otak, atau yang biasa disebut dengan neuron, jumlahnya dapat mencapai 166x lipat jumlah penduduk bumi pada pergantian abad ke-21. Bila kita merangkai sel otak tersebut membentuk barisan, panjangnya akan menyamai jarak perjalanan pulang pergi ke bulan (Buzan, 2005). Meski dari segi ukuran sel otak sangat kecil, namun pengaruhnya luar biasa besar pada pertumbuhan dan perkembangan manusia.

Otak adalah pusat segala tingkah laku, pikiran, dan perasaan kita; tidak ada organ tubuh lain yang melebihi pentingnya fungsi otak. Perkembangan otak menentukan seberapa banyak yang dapat kita pelajari. ”Belajar” tidak hanya berkaitan dengan kegiatan membaca, menulis, berhitung ataupun mata ajar seperti IPA dan IPS, tetapi juga belajar berbagai hal di kehidupan sehari-hari: belajar berjalan, bicara, menghafal lagu, menggunakan eskalator, menggunting, memasak, naik sepeda, memahami peta, membeli karcis bioskop, main ayunan, menggunakan mesin foto kopi, hingga pembelajaran kompleks seperti mengenali emosi, moral akan perilaku baik-buruk, cara bicara yang sopan, cara berteman, cara mengatasi konflik, cara mengambil keputusan, manajemen waktu, dan sebagainya.

Setiap sel otak memiliki ratusan hingga ribuan cabang yang berisi ribuan dendrit, titik penyambung antara sel otak yang satu dengan yang lain. Masing-masing dendrit mengandung zat kimia yang menjadi pembawa pesan atau informasi (Buzan, 2005; Jensen 2008).

Setiap kali melihat, mendengar, mengingat, merasa, atau melakukan sesuatu, sebuah gelombang elektromagnetis menggetarkan sel otak dan memicu zat kimia di dalam dendrit untuk menyeberangi jarak sinaptik (axon) hingga memicu zat kimia di dalam dendrit lainnya. Proses ini berlangsung terus menerus dari satu sel otak ke sel otak lainnya, membentuk jejak-jejak ingatan. Bila ada sel otak yang tidak pernah diaktifkan dan tidak terhubung, maka ia akan melemah dan mati (Buzan, 2005; Jensen, 2008).

TIGA DIMENSI OTAK

Seringkali kita dengar pernyataan bahwa otak terdiri dari belahan kiri dan kanan, namun sebenarnya otak kita jauh lebih kompleks daripada itu. Otak terdiri dari tiga dimensi belahan otak: Kerja otak kiri yang lebih terkesan serius dan otak kanan yang lebih terkesan santai menyebabkan sistem pendidikan maupun orang tua cenderung mengarahkan anak ke ”kiri”. Hal ini menjadikan perkembangan otak tidak seimbang, dan membuat anak hanya menggunakan separuh kemampuan mereka (Buzan, 2005). Bayangkan saja jika Anda diminta untuk berlari, namun satu tangan dan kaki Anda diikat, apa yang terjadi?  Kemampuan belajar justru lebih baik bila kedua belahan otak kiri-kanan bekerjasama dan terintegrasi. Bila tidak seimbang, sulit membedakan kiri-kanan, keliru membaca huruf, kurang kreatif dan sulit menyampaikan ide tulisan, sulit berbicara depan umum (Demuth, 2011).

Belahan otak bagian depan (frontal korteks, bagian depan neokorteks), terkait dengan prosesberpikir rasional, pengarah perilaku (fungsi eksekutif), dan pengambilan keputusan; sedangkan otak bagian belakang (batang otak)  terkait dengan respon pertahanan diri. Ketika kita takut, gugup, dan stres, energi ditarik ke bagian belakang otak dan otot-otot di punggung tangan dan kaki agar bersiap untuk berespon mempertahankan atau melarikan diri (Dennison & Dennison, 2010). Bila dua belahan ini tidak seimbang: kurang semangat untuk belajar, kurang fleksibel, cepat bingung, tegang, sulit konsentrasi, sulit menyesuaikan diri dengan hal baru, dan tidak paham materi (Demuth, 2011).

Belahan otak bagian atas (neokorteks, meliputi belahan otak kiri dan kanan) adalah tempat aktivitas kognitif, sedangkan otak tengah-bawah (sistem limbik) terkait dengan penyimpanan memori dan pengaturan emosi. Sistem limbiklah yang berperan untuk menghubungkan antara pengalaman baru dan masa lalu, dan mengkaitkan pengalaman dengan emosi (positif atau negatif). Jika ada situasi yang dianggap mengancam, sistem limbik memberi sinyal pada batang otak untuk mengaktifkan respon pertahanan diri (Dennison & Dennison, 2010). Bilabelahan ini tidak seimbang: kurang percaya diri, kurang terorganisasi, mengabaikan perasaan, penilaian negatif (Demuth, 2011).

CARA OTAK BEKERJA DAN MEMBENTUK PEMBELAJARAN

 Asosiasi

Jumlah sel otak pada manusia tidak bertambah sejak lahir, yang bertambah adalah jumlah interkoneksi antar sel otak tersebut(Buzan, 2005). Bayangkan bagaimana  ‘semrawut’nya otak kita saat dewasa, bila dalam 2 tahun saja terjadi interkoneksi yang sangat banyak (lihat gambar). Namun ‘kesemwarutan’ tersebut yang mencerminkan perkembangan otak manusia.

Pembelajaran dapat mengubah bentuk otak secara fisik. Ketika otak menerima stimulus dalam bentuk apa pun, proses komunikasi dari sel ke sel diaktifkan (Jensen, 2006).Semakin terkoneksi, semakin besar pemaknaan yang diperoleh dari pembelajaran. Jumlah interkoneksi inilah yang menentukan seberapa cerdas anak Anda, bukan ukuran besarnya otak maupun jumlah sel otak yang ada (Buzan, 2005).

Otak adalah perpustakaan yang sangat lengkap dan sangat besar! Informasi yang tersimpan di dalamnya tak terhingga, mulai dari hal sederhana seperti bentuk pensil, tekstur pasir, warna laut, nama hari, arah matahari terbit, suara kucing, rasa garam, hingga hal kompleks seperti siklus air, fakta perang dunia, prosedur membuat email, dan sebagainya. Buzan (2005) menyatakan bahwa ketika belajar, anak akan membuat kaitan dan hubungan antara begitu banyak hal yang berbeda: sendok berkaitan dengan makanan-ke-mulut dan rasa, mainan berbulu lembut terhubung dengan rasa nyaman, warna hitam berhubungan dengan emosi sedih, tangga berhubungan peningkatan prestasi, dan seterusnya secara tidak terbatas. Asosiasi antar hal ada yang umum, dan ada pula yang unik tergantung pengalaman hidup tiap individu.

Anak dapat mengembangkan asosiasi yang kuat, memori yang kuat, dan logika yang teratur berdasarkan pengetahuan yang ada di ”perpustakaan” miliknya. Semakin banyak basis data yang ada, semakin banyak asosiasi yang mungkin dibuat.

 Otak Memilih Informasi yang Penting

Kapan ulang tahun Anda? Berapa nomor telepon rumah? Siapa nama lengkap dokter anak Anda? Bagaimana cara membuat bubur bayi? Kapan ulang tahun Pak RT? Berapa nomor telepon layanan pelanggan TV Kabel?Siapa pencipta jejaring sosial  facebook? Bagaimana cara membuat kertas daur ulang?Jika Anda diminta menjawab, manakah hal-hal yang lebih Anda ingat? Kecenderungannya adalah empat pertanyaan pertama.

Otak merekam semua informasi sensoris yang masuk ke otak, namun tidak semuanya kita ingat. Kuat lemahnya interkoneksi antar sel otak ditentukan oleh penting atau tidaknya stimulus (informasi, materi belajar).Semakin baru dan menantang(sampai pada tahap tertentu), akan semakin baik otak mengaktivasi jalur barunya. Jika stimulus dianggap tidak penting, maka informasi akan mendapat prioritas rendah dan hanya akan menyisakan jejak yang lemah. Jika otak merasakan sesuatu yang cukup penting untuk ditempatkan dalam memori jangka panjang, maka potensi memori pun terjadi (Jensen, 2008). Seorang psikolog Jerman, Von Restorff (dalam Buzan, 2005) menemukan bahwa dengan tujuan mempertahankan hidup, otak manusia dirancang untuk memberi perhatian dan mengingat hal-hal yang berbeda dan menonjol dibandingkan keadaan yang biasa-biasa saja.

Pengalaman Sensoris sebagai Dasar Belajar

Otak kita menggunakan metode pemrosesan-majemuk untuk belajar, ia mengakses informasi dari beragam indera. Ketika kita mendengar kata mobil, misalnya, semua pengalaman inderawi akan dengan segera terakses: bentuk mobil, suara mesin mobil, tekstur cat, bau parfum mobil, rasa di badan saat mengendarai mobil, bayangan sensasi ketika ada mobil melintas dengan cepat di depan kita, dan emosi yang terkait dengan pengalaman naik mobil, positif maupun negatif.  Pengalaman sensoris adalah dasar belajar. Semakin banyak indera yang terlibat dalam mempelajari sesuatu, semakin kuat asosiasi dan memori yang terbentuk (Jensen, 2008). Bayangkan bagaimana Anda belajar tentang kota tempat tinggal Anda. Apakah Anda mempelajarinya dari buku petunjuk? Atau dengan menyelusuri jalan-jalannya, mengunjungi tempat-tempat yang menarik, mencicipi makanan, mencoba tradisi, dan berinteraksi dengan penduduk?

Efek Kontekstual dalam Belajar

Seringkali kita berusaha mengingat sesuatu berdasarkan keberadaan hal tersebut di lingkungan (Buzan, 2005). Misalnya, ketika kita berada di ruang duduk dan teringat untuk mengambil sesuatu di kamar tidur, namun sesampainya di sana kita lupa apa yang ingin diambil, biasanya kita akan langsung ingat saat kembali ke ruang duduk. Atau saat kita berusaha mengingat dimana kita meletakkan suatu barang seperti hp, umumnya kita mencoba membayangkan runtutan aktivitas yang kita lakukan sepanjang hari untuk mengingat kapan dan dimana kita menggunakan hp tersebut.

Pembelajaran yang mengharuskan orang untuk berada dalam kondisi tertentu (bahagia, sedih, stres, relaks) akan paling mudah diingat dalam kondisi yang sama (Jensen, 2008). Banyak kejadian dimana anak tidak dapat menjawab soal padahal mereka tahu sudah membacanya, namun setelah keluar dari ruangan jawaban itu muncul di kepala mereka. Lupa saat ujian dapat disebabkan perbedaan kondisi, ketika belajar santai dan menjadi tegang saat di ruang ujian. Contoh lainnya, bila ketika menerima suatu informasi baru saat makan cokelat, maka akan lebih banyak yang teringat jika di saat Anda memerlukan inormasi itu Anda makan cokelat juga.

Efek pertama dan terakhir

Anak lebih mudah ingat kejadian ’pertama’ (pertama kali naik pesawat terbang, pertama kali pergi ke Bali, pertama kali menyukai lawan jenis, pertama kali sekolah, pertama kali menerima penghargaan, dsb) atau kejadian ’terakhir’ (terakhir kali bertemu kakek, terakhir kali boleh makan burger, terakhir kali menonton bioskop, dsb) (Buzan, 2005).

 Efek latihan

Begitu banyak informasi yang masuk, tidak semua diproses dalam satu waktu dan tidak semua disimpan. Informasi yang masuk ke dalam otak ada yang tidak diproses, ada yang diproses dan disimpanhanya di dalam penyimpanan sementara, dan ada yang disimpan di penyimpanan permanen. Memori tidak hanya dalam bentuk fakta-fakta pengetahuan, namun dapat juga dalam bentuk cara kita melakukan sesuatu.

Pada saat kita menerima informasi baru, atau melakukan suatu hal baru, perlu usaha keras untuk membentuk hubungan antara satu sel otak dengan sel lainnya. Jika hal tersebut kemudian terus menerus, koneksi semakin kuat dan cepat yang pada akhirnya dapat kita akses secara otomatis. Pikirkan ketika Anda berjalan, memakai baju, melakukan perkalian 1 (satu) digit, menyebut nama bulan,mengingat jalan dari rumah ke sekolah anak Anda. Dapat dipastikan Anda membutuhkan konsentrasi dan upaya pada awalnya, namun sekarang dapat Anda lakukan tanpa berpikir. Menurut Buzan (2005), alasan mengapa banyak orang dewasa menyatakan memori mereka menurun saat mereka menua bukanlah karena memori itu sendiri melemah, melainkan karena tidak diterapkannya latihan atau pengulangan ingatan.

Bahan Bakar Otak

Terdapat tiga bahan bakar utama otak, yaitu air, oksigen, dan nutrisi. Sistem tubuh kita bersifat elektris. Transmisi elektrik antara berbagai sistem saraf lah yang menggerakkan kita. Air esensial untuk transmisi tersebut dan mempertahankan potensi elektris dalam tubuh. Sebaliknya, alkohol, kafein dalam kopi atau teh, dan cokelat dapat membuat tubuh dehidrasi. Kekurangan air dapat meningkatkan hormon kortisol (hormon stress) dan menjadikan anak mudah berespon terhadap hal-hal kecil secara berlebihan (Jensen, 2008). Oksigen juga perlu untuk pembelajaran, karena mengurai makanan untuk kemudian melepaskan energi yang diperlukan tubuh/pikiran untuk berfungsi. Nutrisi berperan penting pula, yang berarti tersedianya zat yang sehat untuk sistem tubuh dan saraf agar bekerja optimal (Hannaford, 2005).

Stres Penghambat Belajar

Ketika anak dalam keadaan senang, santai, dan tertawa, akan memicu produksi hormon dan neurotransmitter yang penting bagi kesiagaan dan memori. Meskipun stres dalamtingkat tertentu diperlukan untuk membantu fokus dan dorongan bekerja, namun dalam jumlah yang berlebihan tidaklah baik. Stres tinggi akan menghasilkan hormon kortisol berlebih, yang berakibat pada munculnya perasaan putus asa dan terhambatnya akses ke bagian otak yang menyimpan ingatan. Dalam jangka panjang, stres dapat menghancurkan neuron yang berhubugan dengan memori.pembelajaran (Jensen, 2008).

Kedekatan anak dengan orang tua sejak dini mempengaruhi pekembangan otak. Anak yang tidak mendapat rasa aman dan nyaman, akan terus menerus berada pada modus pertahanan diri dan terhambat proses belajarnya. Anak yang diabaikan atau memiliki pengalaman kekerasan sulit konsentrasi dan tidak mampu kontrol emosi, karena stres kronis menghambat perkembangan frontal lobes, sistem limbik, dan hipocampus (Wright, 1997). Kesemua bagian tersebut berperan penting dalam proses belajar anak.

 Musik Memudahkan Anak Belajar

Musik dapat memberikan pengaruh terhadap fungsi kognitif. Ketika mendengarkan musik, mood anak dapat berubah, yang kemudian mempengaruhi kesiapan dan kenyamanan belajar. Dalam sebuah studi tentang kemampuan membaca pada anak usia 4-5 tahun di Kanada, ditemukan bahwa keterampilan musikal berhubungan signifikan dengan phonological awareness dan perkembangan kemampuan membaca (Johansson, 2006).Musik bermanfaat pula untuk menstimulasi keterampilan berbicara, meningkatkan perbendaharaan kata, dan sebagai perantara transmisi informasi sadar dan tidak sadar. Musik akan membawa tidak hanya sekedar perasaan. melodi juga dapat bertindak sebagai sarana bagi kata-kata. Ritme dan variasi nada-nada dapat menjadi pembawa sinyal setiap pembelajaran baru. Anak mudah sekali menghafal lagu, karena ada melodinya. Musik menciptakan hubungan memori antara konsep dan kondisi, yang membuat proses mengingat lebih mudah (Webbs, 1990 dalam Jensen, 2008).

OPTIMALISASI POTENSI ANAK: ”Ikuti Cara Kerja Otak”

Setelah tahu bagaimana otak bekerja dan membentuk pembelajaran, perlu diketahui pula bagaimana cara yang dapat dilakukan orang tua untuk membantu optimalisasi potensi anak.

             Jangan bosan menjawab pertanyaan anak dan penuhi kebutuhan otak anak Anda akan informasi dengan menyediakan berbagai sarana eksplorasi dan stimulasi: bacakan cerita, diskusi film, putar video, cari artikel di internet, permainan interaktif, ajak jalan-jalan, eksperimen, dan sebagainya.

 Sediakan pengalaman baru secara teratur sepanjang kehidupan: kunjungi tempat baru, lakukan aktivitas rekreasi baru, eksperimen baru, cicipi makanan baru, cari ide baru, bertemu orang baru. Hal ini akan memicu rasa ingin tahu dan kesenangan anak terhadap proses belajar (Buzan, 2005).

 Rangsang sebanyak mungkin indera ketika belajar: penglihatan, pendengaran, sentuhan, pengecapan, dan penciuman.

 Sambungkan pelajaran baru dengan apa yang sudah anak ketahui.

 Buatlah agar apa yang dipelajari anak terasa penting dengan mengkaitkan terhadap kehidupan kesehariannya, entah itu belajar perkalian, strategi kelola emosi, cara makan yang benar, berenang, cara naik angkutan, belajar sistem pencernaan, dan sebagainya.

 Dalam memberikan instruksi pada anak, sebaiknya jangan beruntun melainkan bertahap, dan pastikan tidak ada banyak informasi dalam satu kali instruksi.

 Perbanyak bergerak dan kegiatan outdoor. Olahraga dan senam otak (brain gym) memiliki manfaat yang sangat baik untuk mengaktifkan seluruh belahan otak (Demuth, 2011; Hannaford, 2005). Luangkan waktu 2-5 menit sebelum dan di tengah-tengah sesi belajar untuk mengaktifkan kesiapannya, dengan sesi peregangan singkat, jalan cepat, dan gerakan lintas-lateral (Jensen, 2008). Umumnya rentang konsentrasi anak adalah usia x 5 menit.

 Ajarkan anak strategi untuk meningkatkan memori seperti jembatan keledai atau mnemonic.

 Upayakan agar anak minum banyak air secara teratur, lebih banyak kesempatan menghirup udara segar, serta mengkonsumsi makanan yang variatif dan bergizi (Demuth, 2011). Salmon, telur, dan daging tanpa lemak mengandung lesitin yang dapat meningkatkan level kolin, zat yang berperan penting dalam pembentukan memori (Jensen, 2008).

 Gunakan lagu-lagu familiar dan ubah kata-katanya menjadi hal yang Anda ingin anak pelajari (Jensen, 2008).

 Hati-hati dengan sinyal elektromagnetis berlebihan dari HP, komputer, atau alat elektronik lainnya(Demuth, 2011).

 Pastikan anak mengalami suatu proses pembelajaran yang positif, berikan rasa keberhasilan pada anak (Buzan, 2005). Upayakan agar anak belajar dalam suasana yang menyenangkan dan tidak membuat stres. Biarkan anak bermain, serta berikan umpan balik positif dan apresiasi kepada anak.

 Referensi:

Buzan, Tony. (2005). Brain Child: Cara Pintar Membuat Anak Jadi Pintar.Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama

Demuth, Elisabeth. (2011). Pengenalan Brain Gym. Yayasan Kinesiologi Indonesia. Materi disampaikan pada saat pelatihan brain gym.

Dennison, Paul & Dennison, Gail. (2010). Brain Gym Teacher’s Edition: Simple Activities for Whole Brain Learning. USA: Hearts at Play, Inc

Hannaford, Carla. (2005). Why Learning Is Not All In Your Head. Utah: Great River Books

Jensen, Eric. (2008). Brain-based Learning: Pembelajaran Berbasis Kemampuan Otak. Yogyakarta: Pustaka Belajar

Johansson, Barbro. (2006). Music and Brain Plasticity. European Review, Vol. 14, No. 1, 49–64

Wright, Karen. (1997). Babies, Bonds, and Brains. Discover.

Keterangan: Tulisan ini sebelumnya sudah dipublikasi di buku Anak Berhati Hamba: 40 Tahun Yayasan Doulos, yang kebetulan penyuntingya pengelola weblog ini.

Bernard Limbong


Riwayat Hidup

Nama: Bernard Limbong

Tempat/Tgl lahir: Samosir, 31 Mei 1955

Pangkat: Brigadir Jenderal

Jabatan: Ketua Umum Induk Koperasi Kartika (INKOPAD)

Agama: Kristen Protestan

LimbongPendidikan Formal:

SD Negeri Sagala, tahun 1967

SMP Negeri Limbong-Sagala, tahun 1973

SMA Negeri 1 Pangururan, tahun 1976

S1, Hukum Bandung, tahun 1980

S1, Administrasi Negara, tahun 1982

S2, Hukum Bisnis, tahun 2002

S3, Hukum Pertahanan, tahun 2007

Riwayat Jabatan:

  1. PAMA KODAM XV/PTM TMT. 01-01-1983
  2. KEPALA BAGIAN LOGISTIK (KABAGLOG) DITAJENAD TMT. 01-11-1996
  3. KASUBDITJAHRILLURJA DITAJENAD TMT. 15-02-2004
  4. KETUA UMUM INKOPAD TMT. 28-06-2010
  5. PATI AHLI KASAD BIDANG SOSIAL BUDAYA            TMT. 01-02-2011
  6. PATI STAF KHUSUS KASAD TMT. 02-05-2011

Pengalaman Organisasi:

  1. KETUA UMUM PS. BARA SILIWANGI, BANDUNG

TMT. 23-05-1994, SAMPAI SEKARANG

  1. KETUA DEKOPIN INDONESIA

TMT. 22-06-2008, SAMPAI SEKARANG

  1. EXECUTIVE COMMITTEE PSSI

TMT. JANUARI 2003

  1. KETUA BWSI, PSSI

TMT. AGUSTUS 2007

  1. KETUA PEMBINA PELESTARIAN DANAU TOBA, SUMATRA UTARA

TMT. DESEMBER 2010, SAMPAI SEKARANG

  1. KETUA KOMISI DISIPLIN PSSI

TMT. AGUSTUS 2011, SAMPAI SEKARANG

  1. PENENGGUNGJAWAB TIM NASIONAL INDONESIA

TMT. SEPETEMBER 2011, SAMPAI SEKARANG

  1. PENANGGUNGJAWAB DAN PEMILIK BANK BPR BARA, BANDUNG

TMT 1994, SAMPAI SEKARANG

Brigjen TNI Bernhard Limbong adalah seorang perwira tinggi TNI Angkatan Darat yang kini masih aktif menjabat Ketua Umum Induk Koperasi Angkatan Darat. Sebagai orang yang telah banyak makan asam-garam kehidupan, Limbon melihat bahwa keberhasilan itu adalah ketika apa yang kita lakukan bermanfaat bagi orang lain. “Keberhasilan manusia dilihat dari kebermaknaan bagi orang lain. Itu sebab, satu hal yang saya leihat untuk membantu kemajuan orang Batak. Kami bersama teman-teman menerbitkan kamus Bahasa Batak, Batak Toba-Indonesia dan Indonesia-Batak Toba. Sebelumnya belum ada kamu yang demikian. Itulah salah satu sumbangan kami untuk kebermaknaan, sebagai orang Batak kami ingin kamus ini bisa memberikan pemahaman bagi orang muda Batak dan orang lain yang ingin belajar bahasa Batak,” kata Brigjen TNI Bernhard Limbong, yang beberapa waktu lalu menerbitkan Kamus Bahasa Batak bersama Gr Maringan Naibaho, Jesman Gultom dan Tigor Naibaho.

Pria kelahiran Samosir, 23 Mei 1955 ini, memulai karir kemiliterannya pada tahun 1983. Pengalaman pernah bertugas di Ambon, Bandung, dan Jakarta. Puncak karier militernya, dia dipercayakan memimpin koperasi TNI Angkatan Darat menjadi Ketua Umum Induk Koperasi Angkatan Darat (Ketum INKOPAD). Selain itu, di luar kedinasan sebagai prajurit TNI-AD, ia menjabat sebagai salah satu ketua di Dewan Koperasi Indonesia (DEKOPIN) periode 2009-2014.

Hobi bola

Hobinya di sepakbola, karena itu, sejak puluhan tahun lalu dia memiliki klub sepakbola di Bandung, yaitu BARA Siliwangi, bahkan pernah menjadi manajer Persib Bandung. Itu sebabnya, dia kemudian terpilih dalam kepengurusan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI). Kalau soal bola, termasuk tulisan dan buku-buku yang berhungan dengan bola dilahapnya.

Suami Bunga Artha Sagala, ayah dua anak, Margaretha Melati Limbong dan seorang putra Bara Parsaoran Limbong ini, di pentas sepakbola nasional, namanya sudah tak asing lagi. Bahkan, posisinya sebagai Ketua Badan Wasit Seluruh Indonesia (BWSI) telah membuat hari-harinya dipenuhi pergumulan soal olahraga yang telah merakyat itu. “Kalau sudah menyakut olahraga rakyat itu, saya termasuk orang yang tidak hitung-hitung dalam membangun persepakboalaan. Saya ingin sepakbola kita lebih baik,” tuturnya.

Predikat Cum Laude

Dia orang yang suka belajar. Termasuk ketika masih aktif, kesibukan rutin sebagai prajurit TNI-AD, Limbong masih sempat menyelesaikan S1 Ilmu Hukum bidang pidana di Bandung, dan S1 Ilmu Administrasi Negara (LAN) di Jakarta. Lalu kemudian melanjutkan studinya ke jenjang S2 (magister) bidang Hukum Bisnis pada Universitas Padjajaran, Bandung.

Baginya, semasa hidup adalah proses belajar. Kalau masih ada kesempatan untuk sekolah formal, maka kenapa tidak kita lakukan. Atas alasan itu, dia terus bersekolah. Tahun 2007 lalu, dia meraih gelar Doktor Ilmu Hukum dengan predikat Cum Laude atau sangat memuaskan dari Universitas Padjajaran Bandung. Disertasinya berjudul Perlindungan Hukum terhadap Hak atas Tanah berdasarkan Prinsip Penghormatan terhadap Hak atas Tanah dalam Pembangunan untuk Kepentingan Umum.

Mengapa menyoroti kasus tanah? “Kasus tanah atau konflik agraria selama ini memang menghambat akselerasi ekonomi, baik untuk kasus tanah dalam hal pembebasan lahan guna pembangunan jalan maupun kasus tanah antara petani dan BUMN/BUMD perkebunan. Pemerintah dan DPR kini sedang menyusun RUU Pengadaan Tanah yang menuai pro dan kontra,” ujarnya.


“Kasus tanah atau konflik agraria selama ini memang menghambat akselerasi ekonomi, baik untuk kasus tanah dalam hal pembebasan lahan guna pembangunan jalan maupun kasus tanah antara petani dan BUMN/BUMD perkebunan. Pemerintah dan DPR kini sedang menyusun RUU Pengadaan Tanah yang menuai pro dan kontra.”


Baginya, selayaknya pendekatan hukum sudah harus diganti dengan pendekatan kesejahteraan dalam penyusunan Rancangan Undang-Undang Pengadaan Tanah, untuk pembangunan yang saat ini masih sarat kontroversi. “Dengan pendekatan kesejahteraan, pemegang hak atas tanah tidak hanya mendapat kompensasi atas kerugian fisik seperti tanah, bangunan, dan tanaman, tetapi juga kerugian sosiologis dan filosofis yang dialami pemilik tanah.” Hotman J Lumban Gaol (Hojot Marluga)

Pdt. Martin Lukito Sinaga D.Th


Martin L SinagaPdt. Martin Lukito Sinaga D.Th
Bidang Studi dan Jabatan:
Dosen Matakuliah: Dialog antaragama, Agama Hindu-Budha. Email: m.sinaga@sttjakarta.ac.id

Riwayat Pendidikan:
Sarjana dan Magister Teologi, STT Jakarta, 1991 dan 1995 Research Scholar “Religionswissenschaft”, Univ. Negeri Hamburg, Jerman, 1996-1998 D.Th. South East Asia Gaduate School of Theology, 2001
Riwayat Pelayanan:
Pendeta di Gereja Kristen Protestan Simalungun (sejak 1995-Sekarang); sebagai “Study Secretary for Theology and the Church” pada Lutheran World Federation, Genewa-Swiss (2009-2012). Aktifis dialog antaragama di MADIA dan ICRP (sejak 1998-sekarang). Dewan Redaksi di koran Satuharapan.com (2013-sekarang). Pendeta Jemaat GKPS Cijantung sejak 2014.
Karya dan Prestasi Akademis:
Penyunting buku, Common Word: Buddhists and Christians Engage Structural Greed (Geneva, 2012: LWF-DTPW); Menulis bersama Karen Bloomquist and John Stumme, Churches Holding Government Accountable (Geneva, 2010: LWF-DTS); Penyunting tulisan dan renungan terpilih Liem Khiem Yang: Menghayati Kalam dalam Hening (Jakarta, 2007: LAI); Penulis Identitas Poskolonial Gereja Suku dalam Masyarakat Sipil (Yogyakarta, 2004), diterbitkan oleh LKiS, “Lembaga Kajian Islam dan Sosial”, dan mendapat bantuan penerbitan sebagai “Buku Bermutu” oleh Yayasan Adikarya/Ford Fondation; Menulis bersama Juandaha Dasuha, Tole! der Timorlanden den Evangelium, Sejarah 100 tahun Pekabaran Injil di Simalungun (Pematangsiantar, 2003: Kolportase GKPS); Menulis bersama Trisno Sutanto, Meretas Dialog Anntar Agama (Jakarta, 2002:MADIA).

Wawancara: Pdt. Dr Martin L. Sinaga (Teolog/Cendikiawan Kristen)

“Jokowi Merajuk Perbedaan untuk Kebangsaan”

Setelah Jokowi-JK dilantik menjadi presiden dan wakil presiden. Terkait revolusi metal, apa yang realistis kita harapkan dari pemerintahan yang baru ini?

Kami sebenarnya sudah menerbitkan buku revolusi mental, editornya Jansen Sinamo. Buku yang juga diberi judul Revolusi Mental. Di buku itu saya menulis revolusi mental hidup beragama. Saya kira, kalau melihat kepemimpinan dan jejak rekam dari Jokowi, tentu ada secerca harapan. Bahwa kehidupan kita ke depan akan lebih baik.

Revolusi mental tampaknya membuka ruang untuk kita merubah cara berpikir…

Mindset kita dirubah. Soal identitas dan kebersamaan itu dibangun. Revolusi mental diterima masyarakat. Respon dari masyarakat kita bisa lihat di pilihan presiden lalu, ada konser dua jari. Lalu konser tiga jari setelah pelantikan Jokowi-JK sebagai pemimpin nasional. Saya kira ini indikator kita melihat bahwa ekpektasi masyarakat terhadap pemimpinan Jokowi-JK begitu tinggi. Harapan itu menurut saya tidak berlebihan, karena memang keberhasilan satu pemerintahan juga kalau didukung masyarakatnya.

Apa yang harus dilakukan pemerintahan Jokowi?

Kaum marginal harus ditolong. Kelas menengah ditingkatkan kehidupannya. Tetapi lompok elit yang selama ini disebut kelompok kapital dibatasi ruang. Misalnya, pengurangan jumlah pertambahan mal-mal. Jokowi, menurut saya hendak membangun berekonomi yang lain dari sekarang. Kalau itu berhasil itu sekaligus membangun toleransi. Cara berekonomi yang melibatkan kaum pinggiran, cara ekonomi yang melibatkan kelas menengah. Artinya, yang diperjuangkan Jokowi sebenarnya ekonomi yang demokratis. Saya kira, dia juga akan mendorong cara berbudaya yang bermartabat, itu lagi-lagi membuka meja persahabatan. Intinya, Jokowi ingin membawa kehidupan sejahtera bagi rakyat. Membawa kehidupan beragama yang lebih dewasa. Membangun keberbedaan dengan menerima orang yang berbeda. Sekali lagi Jokowi tampaknya lebih sadar bahwa kebinekaan itulah kekuatan kita untuk membangun bangsa.

Bagaimana merajuk perbedaan itu menjadi indah?

Argumen saya, bahwa ekonomi faktor utama keberagaman kita, apa yang terjadi hari ini. Kalau kita melihat konteks Indonesia, ekonomi menjadi faktor dominan membuat orang gampang meletuk. Fanatisme agama, anti agama, gampang terbangun karena faktor ekonomi tadi. Kehidupan ekonomi yang senjang itu mempengaruhi. Kita bisa melihat, komunitasi-komunitas agama yang dulu stabil mengalami ketersingkiran. Itu menciptakan kecemacan tentang krisis identitas. Tidak lagi hanya sekedar identitas agama, tetapi bagaimana saya merawat kebudayaan saya, bagaimana saya menghidupi keluarga saya. Hal-hal inilah yang menjadi dominan. Identitas rapuh dan rentan maka konservatisme itu terjadi. Akibat ekonomi yang global, orang gampang membanding-bandingkan diri. Ada perasaan tidak diterima, akibatnya yang terjadi antagonis.

Peranan masyarakat bagaimana?

Sekarang, masyarakat sudah mau menjemput harapan itu dengan berpartisipasi. Ada sukarelawan yang tidak mau dibayar, ini tampaknya membawa secerca harapan. Pertanyaannya apakah kelas menengah kita itu progresif dan memang sukarelawan itu sistimatis? Memang ini memang pertaruhan, hidup masyarakat yang hidup berbagai itu juga menandakan bahwa di akar rumput masyarakat bisa saling berbagai. Kekompakan itu harus ada. Dan juga harus ada stimulus dari pemerintahan Jokowi.

Stimulus yang harus dibangun pemerintahan Jokowi?

Menurut saya, pemerintahan Jokowi harus membuat stimulus ekonomi yang berpihak pada rakyat, membuka ruang untuk kemajuan kelas menengah. Kebijakan yang dibuat untuk mengembangkan sektor-sektor ekonomi kelas menengah. Misalnya, memudahkan pinjaman untuk para pelaku UKM, membangun insfrastruktur bagi home-home industri. Tetapi, lagi-lagi membatasi ruang gerak kapitalis besar yang hanya dipegang beberapa orang saja. Pelayanan ekonomi bagi mereka harus dikurangi. Jadi, pemerintahan Jokowi tidak boleh hanya melayani beberapa orang saja. Harus membawa keadilan, keberpihakannya harus jelas.

Realistisnya di pemerintahan Jokowi ke depan menghadapi berbagai hal yang mengganjal?

Memang harus disadari pemerintahan Jokowi tidak mudah ke depan. Apalagi tahun depan (tahun 2015) kita sudah terkoneksi dengan ekonomi Asia Tenggara. Artinya tantangan sudah di depan mata. Karena itu, yang diharapan masyarakat ke depan pemerintahan Jokowi harus hadir ketika ada gesekan komunal. Pemerintahan harus menyelesaikan sengketa-sengketa seperti GKI Yasmin dan HKBP Filadelfia. Pemerintah jangan mengistimewakan satu golongan.

Terkait soal toleransi…

Saya kira apa yang dilakukan Jokowi untuk mengajak perubahan etos. Itu adalah proses insklusif. Membuka diri untuk perbedaan. Keinsklusifan mereka terlihat dalam visi-mereka bahwa kebinekaan itu adalah hal keniscayaan. Artinya, kita bisa katakan bahwa keberagamaan yang mau Jokowi buat adalah keberagamaan yang insklusif. Intinya menerima keberbedaan, menerima iman yang berbeda. Bahwa cara beragama sekarang adalah cara hidup berekonomi. Jadi, apa yang kita lihat, relasi hubungan antar umat beragama dipengaruhi hidup beragama. Ada kesenjangan sosial, orang mudah tersinggung, orang gampang tersulup emosi. Itu terjadi karena orang hanya memikirkan dirinya. Tidak ada ruang untuk berbagi. Ekonomi kita sekarang kan memenangkan pertarungan, mengumpulkan sebanyak-sebanyaknya untuk diri sendiri. Ini berdesakkan terjadi. Nampaknya, hidup beragama kita juga demikian. Memperkuat diri sendiri. Memperkuat kelompok agamanya sendiri. Membangun tembok-tembok, dan menciptakan persaingan, yang penting membangun tembok kerajaannya sendiri. Inilah yang terjadi, intoleransi hidup berekonomi dan sekaligus hidup intoleransi beragama. Oleh karena itu, agama-agama sekarang menjadi konservatif. Jadi, hidup kebergamaan sekarang ini lebih menunjukkan gesekan ekonomi.

Dalam rangka memperkuat toleransi, apa yang menjadi hal urgen bagi pemerintahan Jokowi?

Tampaknya juga Jokowi menyadari betul dari perbedaan itulah akan muncul kualitas dan kekuatan. Jadi ke depan perbedaan itu bukan saja hanya pelangi, tetapi menjadi tempat untuk memberikan sumbangan-sumbangan unik bagi kemajuan bangsa dan Negara. Selama ini kita terlena menyebut perbedaan itu berarti jangan menggangu orang lain. Sekarang, perbedaan harus ditingkatkan, saling belajar. Kita belajar dari orang yang berbeda dengan kita, dengan demikian kita bisa berharap yang terbaik dari perbedaan itu. “Merajuk perbedaan untuk kebangsaan.” Saya kira itu dimiliki Jokowi.

ditulis, Hotman J. Lumban Gaol