Saut Poltak Tambunan


sautBAHWA SAYA BUKAN PENYAIR, itu sudah berulang kali jadi sumber pertengkaran kreatif dengan sobat-sahabat. Sebut saja Kurniawan Junaedhie, Heryus Saputro, Acep Zamzam Noor, Hanna Fransisca, Shinta Miranda, Nona G Muchtar, Iwan Soekri dan entah siapa lagi. Mereka ‘memfitnah’ dan ‘menggunjing’ saya menjadi penyair dan akibatnya kepala saya membesar dengan cuping hidung melebar kembang-kempis. Meski saya sudah tegaskan bahwa saya hanya bertamu sejenak di beranda rumah puisi teman-teman penyair. Hanya itu.

Selebihnya, tentu saja saya berterima kasih pada sahabat-sahabat itu, termasuk  Rina Eklesia yang belakangan kusetiai membaca puisi ‘rindu’-nya. Lalu Rukmi Wisnu Wardani, Deknong Kemalawati, Dimas Arika Mihardja,  Soni Farid Maulana, Teman-teman Alumni Ubud Festival, Erry Amanda, Erny Susanty, banyak sekali. Belum lagi teman-teman di Komunitas Reboan – Bulungan dan Himpunan Pengarang Indonesia AKSARA.

Sejujurnya, saya hanya rajin dan suka memotret – merekam peristiwa sepanjang jalan hidup saya dengan puisi. Itu sebabnya dalam buku ini bisa ditemukan ‘seolah puisi’ tentang Tuhan, cinta, dendam, benci, geram,  korupsi bahkan mungkin harga cabai keriting.

Menerbitkan antologi karya sendiri dihadapkan pada kesiapan membuka diri. Seperti menyuguhkan donat yang berlubang di tengahnya (dahulu gemblong). Makin besar lubang itu, makin leluasa orang  lain meneropong kita. Begitulah antologi. Karena itu, kesulitan terbesar dalam menyusun buku ini adalah, bagaimana menyamarkan lubang teropong itu dengan puisi lain. Beberapa puisi pendek saya taruh di bagian belakang.

Agustus adalah bulan kontemplasi bagi saya. Hampir selalu saya tandai dengan menerbitkan novel. Pernah sekali, Agustus 2012, saya menulis puisi setiap hari hingga tanggal 28. Bertepatan dengan hari ulang tahun saya.  Kali ini, empat buku saya menandai perjalanan 40 tahun bersastra, 1973 – 2013, ‘Si TUMOING Manggorga Ari Sogot (novel berbahasa Batak), Don’t Go, Jonggi (Kumpulan Cerpen berbahasa Inggris), MetamorHORAS (Novel berbahasa Indonesia), lalu kumpulan puisi ‘MASIH, Meski Bukan yang Dulu’ (Bahasa Indonesia dan bahasa Batak)

MASA KANAK-KANAK

Hingga remaja saya lewatkan di Balige, sebuah kota kecil di tepi Danau Toba. Saya bersyukur pernah bertumbuh di sekitar danau ini, kendati baru menyadari keindahannya justru setelah tidak lagi tinggal di sana. Ketika masih anak-anak saya sering bermain sendirian dengan khayal yang bebas membangun tualang sendiri. Saya bisa seharian menikmati perburuan lalat di belakang rumah kami. Berlagak jadi seorang pemburu, memakai sepatu ‘karet’ lengkap dengan topi dan senjata segenggam karet gelang. Saya jepret lalat dengan karet gelang tetapi tidak sampai mati lalu saya letakkan ke tengah kerumunan semut. Tentu saja lalat luka itu kalah. Tetapi saya bisa berjam-jam di panas terik menikmati pertarungan lalat dan semut itu. Saya juga bisa asyik sendiri mengadu dan membentur-benturkan tutup lampu bekas dengan benda lainnya sambil membayangkan  ayam aduan.

Di bangku SMP puisi pertama saya tercipta setelah menyaksikan teman sekolah – anak perempuan, menangis meraung-raung ketika ayahnya meninggal. Puisi kedua lahir setelah menyaksikan seorang ibu menarik jala di pinggir danau Toba sambil mengendong anak balita di punggungnya. Puisi-puisi berikut saya tulis di buku catatan pelajaran, lalu hilang begitu saja.

Di kota saya tak ada penerbit, tidak ada majalah dinding. Surat kabar yang sampai ke kota ini hanya Mimbar Umum atau Waspada terbitan Medan. Perpustakaan juga tidak ada. Ironisnya, sejak awal merdeka, kota ini  dikenal sebagai kota pelajar sebab di kota-kota sekitarnya maksimal hanya ada sampai SMP. Sedangkan di kota ini SMA ada 3, ada STM, SMEP/SMEA, Sekolah Guru Atas (SGA), SGPD (Sekolah Guru Pendidikan Djasmani), bahkan SKP (Sekolah Kepandaian Putri). Anak-anak dari kota sekitarnya harus indekos di kota ini kalau ingin sekolah lebih tinggi.

Saya senang cerita. Cerita dalam bentuk buku sangat langka, kecuali komik/cergam yang dimuat bersambung di koran Mimbar Umum. Saya masih ingat Arsul Tumenggung dengan cerbernya yang sering dibicarakan di lapo (kedai kopi). Ingat cergam karya Taguan Hardjo, Zam Nuldyn, Djas dll. Juga cergam tentang pelaut perempuan Kapten Yani yang bekerja sama dengan Kapten Ralfo melawan penjahat Professor Bohorok, pencipta sinar yang bisa memotong semua benda di sekitarnya, termasuk pilar beton (bayangkan, ketika itu belum ada Laser). Saya juga ingat komik Laela Majenun, Panglima Denai, Jaka Lasak, Sekali Tepuk Tujuh Nyawa, Abu Nawas, Si Hidung Sakti, beberapa legenda serta sejarah kepahlawanan. Ada cergam terjemahan, seperti Morina, Batas Firdaus, ‘Pejuang Wanita dari Aljazair’ – judulnya mungkin ‘Jamilah’.

Semua itu memperkaya imajinasi saya. Sayangnya orang tua saya, terutama Omak, sangat tidak suka anak-anaknya membaca buku cerita. Sehingga saya harus mencuri-curi waktu. Celaka benar kalau sampai kepergok. Saya lupa dari mana dulu dapat pinjaman buku-buku cerita Karl May dengan Old Shutterhand-nya. Ketika melihat komik Panglima Nayan dan si Nasib di toko buku, saya benar-benar nekad mencuri uang orang tua  untuk membelinya. (Saya baru dapat kesempatan membaca banyak buku justru setelah bekerja di Dep Keuangan.)

Di kota kami ketika itu, merokok bagi anak sekolah adalah dosa besar.  Jangan sampai ketahuan orang tua. Maka untuk belajar menikmati ‘dosa besar’ ini, kami sering bolos dari sekolah lalu naik ke gunung. Anak-anak perempuan sering ikut bolos, menikmati pemandangan ke arah cermin raksasa Danau Toba dan kota Balige di tepiannya. Beberapa kali membolos ramai-ramai, ada juga teman perempuan yang baik pada saya. Tapi saya  sama sekali tidak tertarik lebih dari sekedar sesekali meminta pendapatnya mengenai puisi-puisi saya. Mereka bilang bagus.

Siregar Tukang Pangkas, ah, saya tidak akan lupa orang ini. Di pasar Balige, ada seseorang yang terkenal sebagai Siregar Tukang Pangkas. Ada dua hal yang membuatnya fenomenal.  Pertama, tarifnya paling murah tetapi kerjanya tidak rapi. Rambut kepala orang terkadang tampak seperti dipapas bagaikan bukit Dolok Tolong dengan hutan pinus yang bertangga-tangga. Kedua, selagi dia ‘memapas’ kepala  orang, mulutnya tidak henti-hentinya membual tentang Bung Karno. Ia bilang adik-adik isterinya (paribannya) bekerja di Istana Negara Jakarta. Isterinya memang perempuan (boru) Jawa.

Murah dan tidak perlu rapi betul, karena itu pelanggannya kebanyakan anak-anak. Biasanya dia letakkan sebilah papan penyangga di tangan kursi kerjanya dan di situlah anak-anak didudukkan agar lebih tinggi. Saat kelas 2 SMP, Siregar Tukang Pangkas ini memberi saya peristiwa luar biasa. Saya  didudukkannya di kursi kerja tanpa papan penyangga.

Bah! Saya terkejut! Bangga benar hingga rasanya hidung saya mekar. Bagi saya, inilah kali pertama merasa diperlakukan bukan sebagai anak-anak. Dan, Siregar Tukang Pangkas ini yang pertama melakukannya! Apalagi kemudian ia menggunakan pisau cukur untuk merapikan rambut di pelipis dan tengkuk saya. Biasanya untuk memangkas anak-anak ia tidak menggunakan pisau cukur, cukup gunting dan alat pangkasnya yang terasa dingin jika menyentuh tengkuk saya. (Malamnya saya bikin puisi: ‘menurunkan aku ke alas kursimu, melambung-lambungkan rasaku ke atap balairung’).

Ada konsekuensinya. Sebab kemudian ia berbisik di telinga saya: “Bulan depan tarifmu beda, ya!” Pulang ke rumah, saya teriak ‘melapor’ ke dapur: “Mak!  Aku tadi duduk tidak diganjal lagi pakai papan!” Omak cuma melengos: “Ya, ya, cepatlah. Kau angkat dulu air dari sumur sebelah!  Piring belum kau cuci! Sudah itu kau tumbuk daun singkong itu!”

Saya anak ke-empat dari 12 bersaudara, 10 laki-laki + 2 perempuan. Apalagi orang tua cuma pedagang yang sedang bingung karena usaha tokonya surut. Tentu saja Omak ini tidak punya waktu untuk menyimak ‘laporan’ seperti itu. Benar saja, bulan-bulan berikutnya Omak marah-marah karena saya merengek minta bayaran uang pangkas dengan tarif dewasa.

Di kemudian hari saya berkali-kali dilantik jadi pejabat, bahkan pernah oleh Menteri pada level jabatan cukup tinggi. Tetapi didudukkan pertama kali sebagai orang dewasa walau hanya di kursi tukang pangkas rambut murahan, tidak akan pernah saya  lupakan.

Sejak didaulat sebagai ‘bukan anak-anak’ di kursi Siregar Tukang Pangkas itu, saya mulai sok dewasa. Saya mulai menulis puisi cinta tapi tidak tahu harus kirimkan ke siapa. Konyolnya, terkadang saya harus memaksakan imajinasi saya untuk jatuh cinta pada seseorang, hanya supaya cocok dengan puisi saya.

Sekali waktu di SMA, ketika malam-malam belajar bersama di rumah teman, saya pamerkan surat cinta karanganku. Teman-teman lantas ramai-ramai menyalinnya. Dua hari kemudian Atik – adik perempuan teman sekelas mendapat titipan dua surat yang bunyinya sama persis dari dua pengirim yang berbeda.  Kepada Atik memang sering saya pamer puisi-puisi saya, sehingga ia langsung bisa menebak surat cinta itu karangan saya. Jadinya bubar semua! (Ha ha ha! Kami berdua tertawa habis.)

Kelas 2 SMA, akhirnya ada juga teman gadis yang saya kirimi surat cinta. Saya serahkan sendiri karena tidak ingin orang lain tahu. Entah kaget atau malu, ia segera menjawab lewat sesobek kertas yang diserahkan langsung pada saya di depan pintu kelasnya, dengan coretan 2 patah kata saja: “Sudah terlambat!”

Saya sedih. Bukan hanya karena ‘sudah terlambat’, tetapi juga karena surat cinta karangan saya ternyata tidak cukup ampuh untuk gadis itu. Ya, sudah, saya masih bisa bersyukur karena tidak satu pun teman yang tahu soal ini.  Hanya saya dan gadis itu.  Berikutnya saya masih akrab dengannya. Tetapi kelak, ada seseorang mantan kakak kelas yang bilang saya jadi pengarang karena patah hati. Astaga, sok tahu benar itu orang!

Saya lulus SMA akhir tahun 1970. Tidak pernah terbayang akan menjadi apa, apalagi pengarang. Bapak mulai sakit dan usaha dagangan Omak  benar-benar tenggelam.  Tahun 1971 saya menganggur. Hanya membantu nenek mengurusi usaha penggilingan padi dan menjadi kusir pedatinya. Rasanya saya sudah gila. Jarang mandi. Sepasang celana dan jaket jean mulai dari baru sampai kumal, jarang dicuci karena terus menerus saya pakai. Bayangkan baunya!

Pagi sampai menjelang tengah hari saya memancing di Danau Toba, kadang malam hari juga. Tidak penting dapat ikan apa, karena saya  justru sibuk melamun. Sesekali saya mengisap rokok lintingan ganja yang beli bebas di warung dan harganya setara rokok ketengan Union yang kala itu paling murah. Untung saya masih tercatat sebagai striker klub sepak bola di kota itu dan harus berlatih dua kali seminggu, sehingga fisik saya masih terjaga baik.

Enam bulan menganggur – hanya membantu nenek, adalah masa yang paling menyiksa dalam hidup saya. Tradisi di kota ini, setiap lulusan SLTA harus berangkat ke kota besar, entah untuk kuliah atau jadi apa. Terbayang semua semua teman sudah ke Medan dan Jakarta. Terbayang mereka tertawa ceria di kampus. Sedang saya tersuruk-suruk jadi kusir pedati nenekku. Frustrasi! Depresi berat!

Di kemudian hari, saya mensyukuri masa enam bulan itu sebagai proses yang dipakai Tuhan untuk mengubah saya. Dengan mesin tik kakek saya, terciptalah cerpen pertamaku bulan Maret 1971: Catatan Harian.

Tanggal 23 Juni 1971 usai Pemilu saya ke Jakarta. Tiga hari kemudian naik kereta api Senja sendirian ke Surabaya. Saya dititipkan ke family Bapak di Surabaya. Janjinya mau dicarikan pekerjaan. Tapi saya cuma jadi pengangguran di sana. Beberapa puisi saya ciptakan di sini, hanya untuk disimpan sendiri.

Sia-sia saya menunggu pekerjaan di Surabaya, akhir 1971 saya ke Jakarta. Nenek (yang sangat menyayangi saya) kirim uang untuk kuliah di Akademi Dinas Perdagangan, sementara abang saya kemudian menyuruh Saya ikut tes penerimaan PNS Departemen Keuangan. Ternyata lulus!

Saya mulai kerja di Dep Keuangan Desember 1972 dan berhenti kuliah pagi di Akademi Dinas Perdagangan. Saya ditempatkan di bagian yang banyak bengongnya. Untung ada mesin tik. Bah! Ini blessing in disguise! Tahun 1973 cerpen Catatan Harian saya rewrite dan dimuat di majalah Varia. Dua cerpen berikutnya menyusul dan dimuat tanpa koreksi sedikit pun! Hoi, Mak! Bangganya! Sayang honornya tidak pernah dibayar. Bagian keuangannya mangkir terus setiap kali saya datang.

Tidak apa-apa, sebab cerpen-cerpen saya berikutnya bertebaran di majalah Flamboyan, Vista, Keluarga, Kartini, Detektip Romantika dll.

Tahun 1974 saya kembali ke bangku kuliah akuntansi di Akademi. Tahun 1975-1977 saya mulai menulis novel. Agak tersendat sebab saya belum pernah lihat seperti apa bentuk naskah novel. Pikir saya, kalau Ashadi Siregar dan Marga T bisa, kenapa saya tidak?

Novel pertama Bukan Salahmu, Ronald  selesai tahun 1977, dimuat bersambung di majalah Kartini. Saya pilih majalah Kartini karena dekat dari kantorku yang berhadapan dengan terminal Lapangan Banteng. Hanya sekali naik oplet ‘Robur’ jurusan Kemayoran. Cerber ini kemudian diterbitkan dalam bentuk novel oleh Cypress dan diminta untuk difilmkan.

Semula saya menggunakan nama samaran pengarang: Boenapolt.  Dalam novel pertama saya gunakan juga nama samaran ini. Suatu siang – ketika novel itu akan dimuat sebagai cerita bersambung di majalah Kartini,  saya ketemu Motinggo Busye. Ia mengejek habis-habisan: “Anak muda macam apa kau? Masa’ pakai nama samaran? Jangan ikut-ikutan jadi pengecut!”

Aduh! Bisa ketemu pengarang terkenal Motinggo Busye saja sudah luar biasa untuk saya. Tiba-tiba ia menuding saya pengecut. Saya merasa ditantang. Maka cepat-cepat  saya ganti dengan nama asli. Bahkan ditambah dengan nama ‘Saut’ yang sebenarnya hanya ada dalam surat babtis. Dalam KTP nama Saut tidak ada. Huh, biar sekalian dia tahu saya bukan pengecut!

Apa yang terjadi ketika pada bulan berikutnya ketemu? Ia tertawa terbahak-bahak: ”Baru kali aku sukses ngibulin orang Batak!”

Ternyata saya tertipu. Saya baru sadar kalau Motinggo Busye itu pun nama samaran. Aslinya Mohammad Dating Bustomi. Tapi sudahlah, nama Saut Poltak Tambunan sudah terlanjur di-launching. Walaupun terasa ‘tidak nge-trend dan  tidak nge-pop’, nama ini saya teruskan saja. Saut Poltak itu artinya Jadilah Terbit/Purnama.  Sama dengan Sido Muncul dalam bahasa Jawa.

Suatu ketika Bapak kirim surat berikut fotonya sedang terbaring di rumah sakit. Tangannya  mengacungkan novel saya ‘Bali Connection’ yang difilmkan tahun 1979. Ia memakai baju barong yang saya beli di Bali ketika ikut shooting film itu. Dalam surat itu ia memberi saya gelar Novelis. Saya menangis membacanya.

Selanjutnya saya ingin lengkapi kebanggaan Bapak. Tapi bagaimana? Saya ingat tulisan tangan Bapak bagus. Sangat indah. Bapak pernah bilang bahwa sejak pulpen Pelikan-nya hilang akhir tahun 60-an, ia tidak pernah lagi  punya pulpen bagus.  Saya bergegas ke Toko Buku Gunung Agung. Sebagian honor tulisan saya habiskan untuk sepasang Parker yang termahal ketika itu. Saya kirim ke Bapak.

Tahun 1979 saya menikah. Tahun-tahun berikutnya adalah tahun-tahun amat sibuk. Saya harus menjaga baik-baik ‘meja kerja’ saya di Departemen Keuangan, sambil lanjut kuliah di Fak Ekonomi, menulis cerpen, novel dan artikel rubrik tetap di beberapa majalah Kartini Grup Ditambah lagi menjadi editor pada Departemen Penerbitan Buku. Bahkan sempat tiga tahun menjadi dosen di Akademi Sekretaris Managemen Indonesia (ASMI) dan Akademi Maritim di Pulo Mas Jakarta.

Saya sadar, saya tidak mungkin lakukan semua ini bersamaan. Saya  harus seperti orang ‘berjalan kaki’. Ketika kaki kiri melangkah, kaki kanan harus diam. Begitu sebaliknya. Mustahil saya  bisa melompat terus menerus dengan dua kaki bersamaan. Ada kalanya karier di kantor tersendat karena  asyik menulis. Sebaliknya, ketika saya  dapat promosi jabatan di kantor, menulis terpaksa ditunda.  Terlebih jika harus bertugas bertahun-tahun di luar Jakarta. Di Cirebon, Bandar Lampung, Pacitan, Denpasar, Pontianak, Jogyakarta.

Dengan ‘berjalan kaki’ yang saya maksud, sampai sekarang sudah menulis  lebih dari 50  novel/novelette dan sebagian di antaranya sudah diangkat ke film/sinetron.  Ada pula yang suah diangkat ke layar lebar, diangkat lagi ke sinetron, lalu dibuatkan lagi menjadi film TV atau FTV (Hatiku Bukan Pualam dan Dia Ingin Anaknya Mati). Sebagian novelnya best seller dan cetak ulang. Ada yang sampai 6-8 kali cetak ulang.  Puluhan dari ratusan cerpen saya  terbit  dalam 5 buku kumpulan cerpen : Rinai Cinta Seorang Sahabat, Lanteung, Jangan Pergi Jonggi, Sengkarut Meja Makan, Mangongkal Holi (bahasa Batak), Don’t Go, Jonggi (bahasa Inggris).

Tahun 1981 saya ikut memprakarsai terbentuknya Himpunan Pengarang Indonesia ‘AKSARA’ dan Yayasan Pengarang AKSARA  yang masih eksis hingga kini. Tahun 2009 memprakarsai pembentukan Komunitas Sastra KEDAILALANG di Jakarta Timur yang setiap pertengahan bulan menyelenggarakan pentas dan diskusi sastra.

Saya aktif menyelenggarakan workshop penulisan kreatif di kampus dan di berbagai komunitas seni,  di Medan, Bandung, Jogyakarta dan berbagai tempat di Jakarta, dengan buku modul ”Kiat Sukses Mengarang Novel’ yang saya tulis  sendiri.

Quo Vadis Bahasa Batak?

Menyikapi ‘warning’ dari Kemdikbud bahwa sebahagian besar bahasa daerah akan punah, pada tahun 2012 saya  menulis kumpulan cerita pendek berbahasa Batak (Toba), “Mangongkal Holi” dan novel anak-anak dengan setting perjuangan di masa Agresi I, “Mandera Na Metmet” (dua bahasa, Batak – Indonesia). Buku inilah sastra modern pertama berbahasa Batak (Toba), setidaknya dalam 50 tahun terakhir.

Belakangan cerita-cerita saya sarat dengan nuansa kearifan lokal, untuk itu saya mendirikan penerbitan Selasar Pena Talenta. Diundang sebagai pembicara dalam UWRF 2011 (Ubud Writers & Readers Festival). Untuk UWRF tahun 2012 menjadi senior kurator.

Mensyukuri 40 tahun konsisten bergiat di dunia sastra, saya menerbitkan 4 buku sekaligus. Di antaranya Kumpulan Puisi ’Masih’ ini, novel ’MetamorHORAS’ (bahasa Indonesia),’Tumoing –  Manggorga Ari Sogot’ (novel berbahasa Batak) dan ”Don’t Go, Jonggi’ (kumpulan cerpen berbahasa Inggeris).

Saya pernah menjadi dosen Akuntansi dan Ekonomi pada Akademi Sekretaris Managemen Indonesia dan Akademi Maritim Indonesia di Jakarta. Tahun 2008 menjadi co-writer dan editor untuk buku laris marketing managemen berjudul Launching.

Sebagai mantan PNS, meski sudah pernah menduduki berbagai jabatan, saya bersyukur bahwa raihan prestasi saya yang tertinggi adalah:  pensiun dan kembali menulis.

Beberapa karya SPT yang terbaru:

       Kumpulan cerpen                          Novel

     dalam bahasa Inggris            dalam bahasa Batak

              2013                                    2103

  

  Novel Bahasa Indonesia             Novel dua bahasa

              2013                     Batak dan Indonesia, 2012

       Kumpulan cerpen                       Kumpulan cerpen

      Dalam bahasa Batak              Dalam bahasa Indonesia

                2012                                        2011

Juliari Peter Batubara


Juliari Peter Batubara Juliari Peter Batubara (lahir di jakarta 22 juli 1972, Umur 42 tahun, menikah dengan Grace Claudie Peters (34)

Pendidikan: (1991) Riverside City College dan Chapman University, California lulus tahun 1997

Karir Institusi/Organisasi: Wakil bendahara Bidang Program DPP PDIP; mantan ketua umum Ikatan Motor Indonesia (IMI) (2003-2011); Presdir PT Wiraswasta Gemilang Indonesia (produsen oli Evalube) dan wakil direktur PT Gudang Garam ;Ketua Biro Promosi dan Pemasaran KONI Pusat, Ketua Umum Indonesia World Motorsport, Ketua Yayasan Pendidikan Menengah 17 Agustus 1945 dan Dewan Penasehat Masyarakat Pelumas Indonesia.

Lawrence T.P. Siburian


Nama Lengkap: Lawrence TP. Siburian, SH., MH., LL.M

lawrence

Anggota dari:

  • IBA (International Bar Association)
  • IPBA (Inter Pacific Bar Association)
  • IKADIN (Ikatan Advokat Indonesia)
  • AIPLA (American Intellectual Property Law Association)

Organisasi:

  • Sekretaris Jenderal SOKSI (2010 – 2015)

Lawrence T.P. Siburian adalah lulusan Sarjana Hukum dari Universitas Indonesia – Jakarta (1984). Kemudian beliau memperoleh gelas Magister Hukum dalam bidang Hukum Bisnis dari Program Pasca Sarjana Fakultas Hukum, Universitas Indonesia (2002). Beliau pernah menjadi dosen tamu di beberapa Universitas di Jakarta (1983-1992), untuk Universitas Kristen Indonesia; Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Perbanas, dan Sekolah Ekonomi Jayakarta. Beliau adalah mantan pegawai negeri dari Departemen Dalam Negeri, dan juga mantan anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia.

Lebih jauh, beliau pernah aktif dalam banyak bidang organisasi, baik lingkup nasional maupun internasional. Beliau juga wakil Badan Hukum, Hak Asasi Manusia dan Otonomi Daerah Partai Golongan Karya (Golkar), yang merupakan Partai Politik terbesar di Indonesia.

Beliau dari tahun 1978 sampai dengan tahun 1981, bekerja pada Lembaga Konsultasi Bantuan Hukum). Ketika masih bekerja di LKBH Trisula, yang didukung oleh Law Firm daerah Kanada dari tahun 1980-1981. Dari tahun 1982-1987, beliau bekerja pada Kantor Hukum Juwono & Associates. Kemudian, dari tahun 1988 hingga tahun 1990, beliau bekerja di LKBH di Jakarta. Kemudian, beliau pernah menjadi seorang partner pada Kantor Hukum Partahi & Juan Felix di Jakarta dari tahun 1993 hingga tahun 1997. Pada tahun 1999, beliau memutuskan untuk menjadi seorang partner di Kantor Hukum Lawrence, Maharaja & Partners. Pada akhirnya, beliau membentuk Kantor Hukum Lawrence T.P Siburian & Associates pada tahun 2000. Dia terdaftar sebagai konsultan hukum pasar modal pada Badan Pengawas Pasar Modal.

Lawrence TP Siburian & Associates

Alamat: Jl Bangka III 37 RT 001/02, Pela Mampang, Mampang Prapatan
Kota: Jakarta
Kode Pos: 12720
Phone: 021 71791881 – 021 71792233 – 021 71790173 – 021 71791843
Website: http://www.lawltpsa.com
Fax: 021 71790173

Pirmian Tua Dalam Sihombing


papiPirmian Tua Dalam Sihombing, yang dalam / komunitasnya lebih dikenal dengan n ama Pe t e d e, lahir di tongan-dalan (tengah jalan) kawasan Pahae, Tapanuli Utara, pada tanggal 26 Februari 1936, dari pasangan orangtuanya, Pendeta Albert Sihombing-Lumbantoruan dan Orem bom Hutabarat, ketika orangtuanya itu sedang dalam perjalanan mcnuju rumah sakit bersalin di Tarutung. la menikah dengan Mintha Vluhon Parotua Boru Hutabarat dan beroleh anugerah empat putri dan satu putra, yakni Tridecy, Ikatri, Ingrid, Octavianus dan Maritez, beserta tujuh orang cucu.
.
Selepas dari S.R.di Muara, dekat Bakkara, pendidikan formalnya diteruskan pada SMP/B HKBP di Seminari-Sipoholon, tamat tahun 1953; lalu SMEA Negeri di Jakarta (1957). Dia mendapat gelar Sarjana Muda Pendidikan-Ekonomi dari FKIP Universitas Padjadjaran (1961) dan Sarjana Pendidikan-Ekonomi dari FKIP-U.I. (1964). Terakhir ia menggondol gelar M.Sc. in Commerce (major in Banking & Finance) pada Institute of Graduate Studies, Far Eastern University, Manila (1972).
.
Pendidikan non-formalnya cukup beragam, baik di luar maupun di dalam negeri. Di antara puluhan workshop dan training bergengsi yang pernah diikutinya, antara lain adalah Management Executive Course (1972) dan Management Development Program (1973), kedua-duanya di Manila. Kemudian Orientation to the U.S. Industry (1982) dan Manager of Research and Analysis Course (1985), di Amerika Serikat; serta Market Research & Analysis Workshop di Hong Kong (1994); ketiga program tcrakhir diselenggarakan oleh The International Trade Administration, U.S. Department of Commerce.
.
Karirnya berwarna-warni; menapaki beberapa jalur yang dapat dikatakan ber-jauhan satu sama lain. Mengikuti jejak ayah dan ketiga orang abangnya, ia mulai bekerja sebagai guru pada Kursus Dagang Pertengahan (KDP) Negeri di Bandung (1957-1961). Menjadi kepala sekolah pada Kursus Karyawan Pertengahan (KKP) Negeri, Jakarta (1962-1964). Kemudian alih-lapangan kerja menjadi planter, Asisten Tingkat-I, naik mcnjadi Deputy Manager pada perkebunan Rambung Sialang dan Turangie, Perusahaan Perkebunan Negara (PPN) “Dwikora I” di Sumatra (1964-1969). Mclakukan alih-lapangan kerja lagi, menjadi staf-lokal (Asisten Atase Penerangan dan Kebudayaan) KBRI Manila (1970-1972).
.
Beralih lapangan kerja untuk ketiga kalinya, ia menjadi Staff-Consultant pada Sycip Gorres-Velayo (SGV) Philippines (1972-1973); kembali ke tanahair unluk menjadi Senior Consultant pada PT. SGV-Utomo, Jakarta (1973-1980). Dalam bidang profesi ini ia mendalami dan mendisain sistem dan prosedur adiministrasi keuangan bagi banyak organisasi dan perusahaan. Terakhir setelah lagi-lagi beralih lapangan kerja, ia menjadi Manager of Research and Analysis (MRA) pada U.S. Business Center di Jakarta, dari 1980 sampai mendapat hak pensiun-penuh pada tahun 1998.
.
Pengabdiannya yang bersifat paroh-waktu ialah mengajar pada beberapa lembaga pendidikan tinggi, seperti Instruktur luar-biasa pada Sekolah Calon Perwira (Secapa) Infantri, Pusat Pendidikan Infantri, Bandung pada Angkatan ke-IV dan V, 1959-1961; Akademi Arsitektur Pertamanan (AKAP), Akademi Maritim Indonesia (AMI) dan Akademi Sekretaris & Manajemen Indonesia (ASMI) di Jakarta (1963-1964). Kemudian sebagai Visiting Lecturer pada Asian Center, University of the Philippines, Quezon City, Pilipina, 1971-1972; dan dosen senior yang membimbing ratusan mahasiswanya mempersiapkan skripsi, pada Fakultas Ekonomi, Universitas Kristen Indonesia, Jakarta, 1979-1990.
.
Pengabdiannya di lingkungan Gereja dimulai dari keanggotaan Board of Elders (penatua) pada Grace Lutheran Church, Pasay City, Pilipina (1970-1973). Kemudian dia menjadi sintua (penatua) HKBP Kebayoran Lama dari 1978-2001; di antaranya sclama 15 tahun (1987-2001) melayani sebagai guru-jemaatnya. Menjadi sinodist tetap resort itu, 1984-1992, sampaikemudianterpilihjadi anggota Majelis Pusat HKBP pada periode 1992-1998. Dalam kapasitasnya sebagai anggota Majelis Pusat, ia mendapat tugas pelayanan sebagai Ketua Dewan Keuangan Umum (DKU) HKBP pada periode itu, merangkap Pembina (Paniroi) Dewan Zending. Sejak tahun 2001 ia turut mengabdi sebagai dosen senior pada STT Apostolos, dalam mata-kuliah Manajemen Gereja dan Misi. .
.
Kegiatan menulis sudah sangat menarik minatnya sejak muda, antara lain menulis puisi, cerpen dan esei. Beberapa artikelnya yang bersifat human interest dan budaya, antara lain dimuat dalam Harian Sinar Indonesia Baru, Sinar Harapan, Majalah Bona Ni Pinasa, dan beberapa lainnya. Pelayanannyayang cukup lama di Ladang Tuhan, sepertinya membuat tu!is-menulis di bidang gerejani juga menjadi “profesinya” yang kedua. Di antara banyak tulisannya adalah dua makalah komprehensif berjudul The Balak People Before the Coming of Christianity dan The Development ofBatak “Lutheran Church “, yang disampaikannya sendiri kepada para peserta Sinode Tahunan Lutheran Pastors of the Philippines (LCP) pada tanggal 4 dan 5 Mei 1973 di Baguio City, Pilipina.

Dia adalah penulis-utama untuk “Bunga Rampai” pengenangan kepada salah seorang tokoh kontemporer dalam sejarah HKBP, berjudul Pelayanan Kontemporer Dalam Masyarakat Majemuk; Pengabdian Ephorus Emeritus Ds. Dr. Tunggul Sihombing. Buku lain yang ditulisnya adalah Bertumbuh Dalam Kasih Karunia Kristus. la menulis puluhan ceramah/makalah dalam bidang pembinaan pemuda Gereja serta adiminstrasi keuangan-Gereja. Salah satu di antara banyak tulisannya adalah yang bersifat “gagas-terobosan” berjudul Sentralisasi Penggajian Pelayan Tetap HKBP, dengan usulan pembentukan Dana Abadi HKBP. Makalah itu disajikan pada Musyawarah Sintua HKBP Seluruh Indonesia (1995) dan Musyawarah Pendeta HKBP Seluruh Indonesia (1996), kedua-duanya terselenggara di Jakarta. Makalah ini kemudian dimuat sebagai tulisan bersambung dalam Immanuel, majalah bulanan HKBP.

Sejatinya dia bukan seorang yang berlatar-belakang pendidikan persejarahan. Namun pengalamannya yang panjang dan luas, dan keberadaannya di tengah-tengah keluarga-besar para pelayan Tuhan yang sudah mengabdi sejak masa keperintisan, sangat memancing minatnya, dan telah mengisi pengetahuan dan cakrawalanya yang luas tentang missiologi, baik di dalam negeri maupun di seantero jagat.

J R Hutauruk


Pdt. Dr. J.R. Hutauruk (Mantan Ephorus HKBP 1998-2004)

ephorus-skipperNama lengkapanya Pdt. Dr. Jubil Raplan Hutauruk lahir tepat ketika HKBP merayakan jubileum 75 tahun, 7 Oktober 1936 di Tigadolok, Simalungun, sebagai putra dari Guru Jetro Hutauruk yang waktu itu melayani sebagai guru jemaat di HKBP Tigadolok, Distrik Sumatera Timur. Beliau mendapat pendidikan teologi di Fakultas Teologi Universitas HKBP Nommensen (1956-1961) setelah sebelumnya dididik di Seminarium Sipoholon. Teman-teman seangkatannya di Fakultas Teologi termasuk Pdt. Dr. PWT Simanjuntak (Ephorus 1992-1998), Pdt. Dr. S.M. Siahaan (Sekretaris Jenderal HKBP 1992-1998).
Setelah menyelesaikan sarjana teologi, Ompui ditempatkan ke HKBP Ressort Sibolga I sebagai calon pendeta (1961-1962) kemudian menjadi asisten dosen di Fakultas Teologi Universitas HKBP Nommensen (1962-1963).

Setelah ditahbiskan menjadi pendeta, Beliau berangkat studi master teologi ke Universitas Hamburg, Jerman dan kembali tahun 1968. Tesisnya mengenai “kaitan gereja, bangsa, dan misi dalam pemikiran F. Fabri, W. Loehe, dan J. Bunsen dan pengaruhnya dalam sejarah awal HKBP”. Sekembalinya dari Jerman, Beliau menjadi dosen Seminarium Sipoholon dan pada tahun 1970 hingga 1973 menjadi Direktur Seminarium itu. Pada tahun 1973 beliau kembali ke Hamburg untuk studi tingkat doktor. Gelar doktor diraihnya tahun 1979 dengan disertasi mengenai “kemandirian gereja Batak”.

Sekembalinya dari Jerman, untuk beberapa waktu Pdt. DR. JR Hutauruk bertugas di Bagian Arsip Kantor Pusat HKBP Pearaja Tarutung sebelum pada tahun 1980 pindah ke STT HKBP dan menjadi Wakil Rektor STT HKBP sejak tahun 1981 hingga 1986. STT HKBP merupakan tempat pelayanan Beliau yang paling lama yakni 17 tahun (1980-1997). Pada Sinode Godang Sitimewa di Medan tahun 1993, Beliau terpilih sebagai Ketua Rapat Pendeta HKBP sambil tetap melayani di STT HKBP. Kemudian pada tahun 1997-1998 Beliau melayani sebagai Pendeta Ressort HKBP Tebet, Jakarta sebelum terpilih sebagai Pejabat Ephorus dalam Sinode Godang HKBP 26 Oktober 1998.

Sebagai Pejabat Ephorus Beliau ditugaskan untuk mengadakan Sinode Godang menetapkan kepemimpinan HKBP yang definitif. Di antara tugas-tugas itu Ompui memfokuskan usaha-usahanya untuk mewujudkan rekonsiliasi HKBP yang sejak tahun 1992 mengalami kemelut dan dualisme kepemimpinan. Tugas berat itu berhasil diselesaikan dalam empat bulan sebab pada 18-20 Desember 1998, HKBP menyelenggarakan Sinode Godang di Pematangsiantar. Ompui kemudian terpilih sebagai Ephorus untuk periode 1998-2004 dan menjadi Ephorus HKBP yang ke-12.

Selama periode kepemimpinannya, Ompui berusaha memulihkan pelayanan HKBP yang sempat terkendala akibat konflik 1992. Periode kepemimpinan dapat disebut sebagai periode rekonsiliatif di mana segenap energi HKBP difokuskan untuk menjalin simpul-simpul persekutuan yang sempat putus akibat konflik itu, menabur kembali benih-benih kesatuan di segala aras mulai dari huria, ressort, distrik hingga hatopan (pusat), menata ulang organisasi pelayanan HKBP, dan sebagainya. Penataan dalam Pada periode kepemimpinan Ompui pula HKBP menetapkan Aturan Peraturan HKBP 2002 yang memberlakukan sistem perubahan Aturan Peraturan melalui metode amandemen di mana perubahan tidak lagi dibatasi hanya sekali dalam sepuluh tahun sesuai dengan kebutuhan HKBP sendiri. Aturan Peraturan 2002 ditetapkan Pada Sinode Godang 2002 dan diberlakukan mulai 2004.

Selain Aturan dan Peraturan Baru, selama kepemimpinan Ompui, HKBP membentuk distrik-distrik baru yakni DistrikXIX Jakarta-2, Distrik XX Kepulauan Riau, Distrik XXI Jakarta-3, Distrik XXII Riau, Distrik XXIII Langkat, Distik XIV Tanah Jawa, dan Distrik XV Jambi. Distrik-distrik itu ditetapkan pada Sinode Godang 2002. Sedangkan Distrik XV Labuhan Batu ditetapkan pada Sinode Godang 2004. Sebagai Ephorus, Ompui juga aktif dalam persekutuan oikumene di aras nasional dan internasional. Beliau merupakan Anggota Dewan LWF sekaligus Anggota Komisi Studi dan Teologi LWF (2003-2020), dan anggota Majelis Pertimbangan PGI (2005-2010).

Sebagai seorang akademisi Ompui rajin menulis mengenai sejarah gereja, khususnya HKBP. Hingga masa emeritusnya, puluhan artikel dan buku telah dihasilkannya antara lain Tuhan Menyertai Umat-Nya : Sejarah 125 Tahun HKBP (1986), Kemandirian Gereja (1991), Menata Rumah Allah (2008), Sejarah pelayanan Diakonia di Tanah Batak (2009), Pandita G. van Asselt (2009), dan lain-lain. Ompui menikah dengan Dumaris Simorangkir dan dikarunia lima orang anak. Salah seorang di antaranya, Sadrak Sabam, mengikuti jejaknya dan saat ini melayani sebagai calon pendeta di HKBP Ressort Cawang, Distrik XIX Jakarta.

Dia dikenal pendeta yang sederhana. Semasa menjabata sebagai Ephorus JR Hutauruk paling tidak dikenal dengan sebagai tokoh yang membawa HKBP pada rekonsiliasi tahun 1998. Lalu, semasa menjabat Ephorus mempunyai program Dana Abadi yang dialokasikan, bunga dari dana tersebut untuk bisa pensiunan pendeta. Selain itu, dia juga dikenal dengan Ephorus yang mengulirakan semangat keterbukaan, inklusif terhadap HKBP.

Mahendra Siregar


Siregar

Mahendra Siregar

Tempat/Tgl lahir: Bandung, 17 Oktober 1962

Pendidikan:

  • Sarjana Ekonomi, Universitas Indonesia (1986)
  • Master in Economics Monash University (1991)

Karier:

  • Kepala Badan Koodinasi Penanaman Modal (Oktober 2-13-sekarang)
  • Wakil Menteri Keuangan (2011-2013)
  • Wakil Menteri Perdangan (2009-2011)
  • Direktur Utama Indonesia Eximbank (2009)
  • Deputi Menteri Koordinator Perekonomian Bidang Kerjasama Ekonomi dan Pembiayaan Internasional (2005-2009)
  • Sekretaris III Bidang Ekonomi Kedutaan Besar Indonesia di London (1992-1995)
  • Duta Informasi Kedutaan di Washington, DC (1998-2001)
  • Staf Kementerian Luar negeri (1986)

Mahendra Siregar adalah Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal. Mulai menjabat 1 Oktober 2013. Sebelum menjabat kepala BKPM Mahendra adalah Wakil Menteri Perdagangan. Mahendra Siregar, 43 Tahun. Pria kelahiran Bandung, 17 Oktober 1962 pernah menjabat sebagai Wakil Menteri Perdagangan Indonesia dan sejak 19 Oktober 2011 duduk sebagai Wakil Menteri Keuangan Indonesia. Dia lahir dari pasangan orang tua yang berasal dari etnis Batak-Angkola dan Minangkabau.

Sejak lulus dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Mahendra Siregar berkarir di Departemen Luar Negeri. Selama bertugas di Departemen Luar Negeri, dia menjabat sebagai Economic Third Secretary Kedutaan Besar Indonesia di London (1992–1995) dan duta informasi Kedutaan Besar Indonesia di Washington D.C. selama 3 tahun (1998–2001).

Mahendra kemudian bergabung dengan Kementerian Koordinator Perekonomian pada 2001. Ia dipercaya menjadi Asisten Khusus Menteri Koordinator Perekonomian Dorodjatun Kuntjoro-Jakti. Mahendra yang lulusan S2 Ekonomi dari Universitas Monash, Australia, kemudian dipercaya menjadi Deputi Menko Perekonomian Bidang Kerjasama Ekonomi dan Pembiayaan Internasional dari tahun 2005 hingga 2009. Ia menempati jabatan itu dengan menteri yang berganti-ganti yaitu Aburizal Bakrie (2005–2006), Boediono (2006–2008), dan Sri Mulyani Indrawati (2008–2009).

Pada bidang perbankan, Mahendra juga pernah menempati posisi sebagai direktur utama pada Indonesia Eximbank. Ia juga pernah menjabat komisaris beberapa perusahaan yaitu PT Dirgantara Indonesia (2003–2008) dan PT Aneka Tambang (2008–2009).
Kemudian sejak November 2009, Mahendra ditunjuk oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menempati posisi sebagai Wakil Menteri Perdagangan mendampingi Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu. Setelah sekitar dua tahun menempati posisi Wakil Menteri Perdagangan, Mahendra dipercaya menempati posisi Wakil Menteri Keuangan.