fotoalexsinagaNama Lengkap: Alex Janangkih Sinaga

Lahir/tgl lahir: Pematang Siantar, 27 September 1961

Pendidikan:

S1 Fakultas Teknik Elektro Telekomunikasi, Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung peraih S2 Master dari University of Surrey Guldford, Inggris.

Jabatan: President Director Telkomsel

Alamat:
Jl. Anggrek Nelimurni B-70 No. 38 Rt. 016/001 Kel. Kemanggisan Kec. Palmerah

Alex berada di balik nama AXIS. Pria Kelahiran Pematang Siantar, 27 September 1961. Nama lengkapnya Alex Janangkih Sinaga. Dia adalah lulusan Teknik Elektro Telekomunikasi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan peraih gelar Master dari University of Surrey Guldford, Inggris. Alex juga pembicara dalam berbagai seminar yang berkaitan dengan Infocomm Business dan Engineering, serta mengikuti pelatihan dan seminar di bidang yang sama baik di dalam maupun luar negeri.

Pria Batak kelahiran Pematangsiantar, diangkat menjadi Direktur Utama Telkomsel menggantikan Sarwoto Atmosutarno. Koleganya, Sarwoto yang sebelumnya menjabat sebagai President Director Telkomsel mendapatkan penugasan baru dari Telkom sebagai Chief of The Mission Peluncuran Satelit Telkom-3.

Sementara Alex Janangkih Sinaga menjabat sebagai Presiden Direktur PT Multimedia Nusantara, anggota Telkom Group sejak tahun 2007. Dia juga memegang beberapa posisi strategis selama bekerja dengan PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk (TELKOM) 2000-2007, yaitu General Manager Telkom Jakarta Barat, Senior Manager Kinerja – Divisi Regional 2, Kepala Divisi Fixed Wireless Jaringan, dan kepala Divisi Enterprise Service. Selain itu, dia menjadi Komisaris PT Sigma Cipta Caraka sejak 2008 dan juga menjabat sebagai Komisaris Utama.

Sejak tahun 2007, Alex menjabat sebagai Wakil Presiden Toba Lake Golf Club. Dia lulus pada Telekomunikasi Elektronik dari Institut Teknologi Bandung pada tahun 1986 dan memperoleh gelar Master di bidang Telematika dari Universitas Surrey, Guidford-Inggris, pada tahun 1994.  Jemaat HKBP ini juga salah satu pengurus Badan Penggelola Sopo Marpingkir HKBP, sebagai tempat think thank HKBP nantinya. ***Hotman J. Lumban Gaol

Pejabat, Profesional

Alex Janangkih Sinaga

Galeri

Nama lengkap: Thompson Hutasoit

Lahir di Tarutung, Tapanuli Utara (Taput), 12 September 1968

Pendiri/Direktur Pusat Latihan Opera Batak (PLOt)

images

Penggiat Budaya Batak

Thompson HS, Direktur Pusat Latihan Opera Batak
Thompson, seniman yang masih melajang hingga saat ini berupaya melakukan revitalisasi opera Batak. Ia menjadi Direktur Pusat Latihan Opera Batak (PLOt), sebuah lembaga yang didirikannya di Kota Pematang Siantar, untuk membangkitkan kembali opera Batak.

Mantan kontributor majalah TAPIAN ini, memperjuangkan demokrasi bidang seni dan budaya melalui pertunjukan opera. Ia mengangkat cerita rakyat, kisah kemanusiaan, dan kisah-kisah perjuangan menjadi sebuah pertunjukan opera. Thompson juga aktivis berbakat menulis skenario dan menyutradarai teater dan opera.

Berbagai pertunjukan yang digelarnya antara lain Siboru Tumbaga (cerita rakyat Toba), Si Boru Lopian (putri Raja Sisingamangaraja), dan berbagai pertunjukan yang berkaitan dengan keagamaan Kristen. Thompson juga peduli terhadap kepercayaan Parmalim, aliran kepercayaan di Batak.

Thompson mulai mengembangkan bakatnya menulis dan menggarap pertunjukan sejak duduk di bangku kuliah di Fakultas Sastra, Universitas Sumatera Utara. Sejak mahasiswa ia telah banyak menulis artikel dan feature kemanusiaan di berbagai media di koran nasional dan daerah. Ia juga sempat sebagai koresponden media asing dari Jepang.

perubahan ke arah demokrasi dapat dilakukan melalui pendidikan

Dia meyakini perubahan ke arah demokrasi dapat dilakukan melalui pendidikan, seni, dan budaya. Sampai saat ini ia tetap berkeyakinan dengan pertunjukan seni, budaya, teater, dan tulisan-tulisan dapat memperbaiki kualitas demokrasi.

Lahir di Tarutung (Taput), 12 September 1968. Mendapat pendidikan terakhir di Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara (USU). Menulis (esai, reportase, karya prolog, cerpen, naskah drama, puisi), aktivitas seni pertunjukan, dan narasumber terkait. Juga menulis teks pertunjukan Opera Batak karena posisinya sebagai Direktur Artistik di Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) Pematangsiantar. Pernah menjadi Supervisor Komunitas Pemetaan Teater Padang Bulan Teater (PBT Kom.et) dan Grup Opera Silindung.

Karya:

Festival Puisi PPIA Surabaya (1990, 1992, 1994), Telah Turun Burung-Burung ke Irianjaya (Dwi Kridanto Hs, ed. 1994), Rentang (SSI, 1995), Bunga Rampai Dialog Budaya dan Parade Karya se-Sumatera dan Jawa (FSB, 1995), Refleksi Setengah Abad Indonesia (TBS, 1995), Surat Buat Merah Putih (FS USU, 1995), Bumi (SSI, 1995), Kebangkitan Nusantara II (Malang, 1996), Dari Bumi Lada (DKL, 1996), Pustaha (TBSU, 2000), Muara IV (Dialog Utara, 2001), Malam Bulan (MSJ, 2002), Purnama Kota (DKB, 2003), Galanggang (DKP, 2003), Amuk Gelombang (STAR, 2003), dan Jogja 5,9 Skala Richter (Bentang, 2006). Satu terjemahan cerpen Seribu Kunang-kunang di Manhattan (Umar Kayam) ke dalam Bahasa Batak Toba (YOI, 2000), Tounge in Your Ear (FKY XIX, 2007). Karya cerpen dalam “Ujung Laut Pulau Marwah”, Antologi Cerpen Temu Sastrawan Indonesia III (Disbudpar Tanjungpinang 2010)

Karya Esei dimuat di sejumlah media pusat (Media Indonesia, Majalah Tapian, Kompas, Batak Pos, Inside Sumatera) dan Lokal (SIB, Waspada, Mimbar Umum, Bukit Barisan, Medan Bisnis, Analisa, dan lain-lain).

Menerjemahkan “Pulo Batu” karya Sitor Situmorang untuk buku Toba Nasae (Kobam, 2009). Menulis buku “Modul Pelatihan Teater untuk Penguatan Komunitas” bersama Rainy MP Hutabarat (Yakoma PGI 2011)

Pengalaman pentas:

  • Pementasan drama Rimba Cermin-Cermin karya Z. Pangaduan Lubis bersama Teater Ladang Universitas Sumatera Utara (USU).
  • Pada Pertemuan Teater MAhasiswa di Universitas Andalas Sumatera Barat, 25-30 Oktober 1990 sebagai asisten Sutradara dan pemain.
  • Pada Pekan Seni Mahasiswa di STSI Surakarta, 1991 sebagai pemain.
  • Pementasan naskah Pabrik M besama anak-anak asuhan Yayasan Pondok Rakyat Kreatif (YPRK) di Gelanggang Mahasiswa USU, 1993 sebagai penulis naskah dan sutradara.
  • Pementasan naskah Tunas-Tunas Penyelamat besama anak-anak Panti Asuhan William Booth di Medan, 1994 sebagai penulis naskah dan sutradara.
  • Pementasan naskah Tangan-Tangan Pembawa Kasih bersama Konggergasi Suster-Suster Santo Yosef (KSSY) dan siswa SLB Tunanetra di Medan, 1997 sebagai penulis naskah dan sutradara.
  • Pementasan garapan teks Tubuh Kristus berama mudika St. Maria Pintu Surga di Medan, 1998 sebagai sutradara.
  • Pementasan naskah Orang kanan Pabrik (OKP) bersama buruh dampingan Kelompok Pelita Sejahtera (KPS) di Lubuk Pakam, 1999 sebagai penulis naskah dan sutradara
  • Pementasan garapan teks Preeek bersama Teater ‘O’ USU.
  • Pada Pertemuan teater Eksperimen Mahasiswa Indonesia di Universitas Andalas, 13 Agustus 2000 sebagai sutradara.
  • Pada Gelar Seni Amal di Gelanggang Mahasiswa USU, 17 November 2000 sebagai pemain.
  • Pementasan Garapan teks Arus Bawah 60 Meter bersama PBT Kom.et di sungai Babura Medan, 7 Agustus 2001 sebagai pemain dan sutradara.
  • Pementasan garapan teks Gerobak Indonesia bersama PBT Kom.et keliling di tiga tempat (Taman Ria, Kantor Pos Pusat, dan Medan Mall) Medan, 16 Agustus 2001 sebagai pemain dan sutradara.
  • Pementasan garapan teks Mandor Sinyo bersama PBT Kom.et dan anak dampingan Yayasan Handal Mahardika di ruang sebaguna Mess Pariwisata USU, 1 September 2001 sebagai sutradara.
  • Pementasan Delapan Etnik Sumut pada Ulangtahun PDI-P di Lapangan Merdeka Medan, 2002 sebagai pemain.
  • Pementasan naskah Telepati Kluarga HP bersama PBT Kom.et.
  • Pada Pameran dan Pagelaran Seni se-Sumatera di taman Budaya Padang, 7 November 2001.
  • Di Taman Budaya Sumatera Utara (TBSU), 21 Agustus 2002.
  • Di Ruang Pagelaran Etnomusikologi USU, 12 September 2002 sebagai penulis naskah, supervisor dan sutradara.
  • Pamentasan naskah Ulang Tahun Yesus besama PBT Kom.et di wisma Jayapura Medan, 22 Desember 2001 sebagai penulis naskah, pemain dan sutradara.
  • Pementasan garapan teks Dialog Malaikat dan Rakyat bersama PBT Kom.et di Institut teknologi Medan (ITM), 4 Maret 2002 sebagai pemain dan sutradara.
  • Pementasan naskah Gerrit van Asselt bersama Grup Opera Silindung di Seminarium Sipoholon Tarutung, 4 Oktober 2002 sebagai penulis naskah dan sutradara.
  • Pementasan teks Opera Batak Siboru Tumbaga bersama Grup Opera Silindung.
  • Di Sopo Partungkoan Tarutung, 30 November 2002 sebagai sutradara.
  • Di Hotel Danau Toba Internasional Medan, 8 Maret 2003 sebagai sutradara.
  • Di Hotel Indonesia Jakarta, 4 Oktober 2003 sebagai dramaturg.
  • Di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta, 11 Oktober 2003 sebagai dramaturg.
  • Pementasan garapan teks Darling bersama NHKBP Pagar Beringin di tarutung, 6 Desember 2002 sebagai sutradara.
  • Pementasan naskah Perjalanan ke Efrata bersama staf-staf Hotel Danau Toba Internasional di Medan, 17 Desember 2002 sebagai penulis naskah dan sutradara.
  • Pementasan Oratorium Kristus Jawaban apda Paskaraya bonapasogit di Tarutung, 19 April 2003 sebagai sutradara.
  • Pementasan Ujicoba Rekontruksi Opera Batak Guru Saman.
  • Di Pendopo USU, 17 Mei 2003 sebagai pengarah artistic.
  • Di Taman Budaya Sumatera Utara, 19 Juni 2003 sebagai pengarah lakon.
  • Pertunjukan Konser Sekolah Minggu GKPI Sriwijaya, 2 Juli 2003 sebagai pembuat teks, pelatih, dan pengarah artistic.
  • Pementasan Opera Batak Metropolitan dalam Acara Infokom di Darma Deli, 14 Juni 2004 sebagai Tim Artistik
  • Sejak 10 Mei 2004 menjadi Penulis dan Pengarah Artistik dalam Program Seri Tayangan Opera Batak Metropolitan di TVRI.
  • Eco Art Gathering di Tuktuk Samosir, 26 – 30 Agustus 2004 sebagai penampil.
  • Konser Paduan Suara Magnificat di Convention Hotel Danau Toba Internasional, 11 Desember 2004 sebagai stage manajer.
  • Pentas Keliling Opera Batak “Siboru Tumbaga” Ke Tiga Tempat (Sipoholon Tarutung, Laguboti, dan Pematangsiantar), Januari 2005 sebagi sutradara.
  • Pentas Opera Batak “Sipiso Somalim” di Balige, 27 Desember 2007 sebagai sutradara.
  • Pentas Opera Batak “Sipurba Goring-goring.”
  • Di Balige, 13 Maret 2005 sebagai sutradara.
  • Di Medan, 2 Juni 2007 sebagai sutradara.
  • Pertunjukan Pembukaan Peringatan 100 Tahun Kapusin di Indonesia, di Nagahuta Siantar, Nopember 2005 sebagai pemain.
  • Konser Paduan Suara Magnificat dalam rangka Tahun Ekaristi Di Sinaksak Siantar, 2006 sebagai prologus dan pemain.
  • Pertunjukan “Orang Suci Fransiskus” di Nagahuta Siantar, 2006 dalam rangka Peringatan 100 Tahun Ordo kapusin di Indoensia, sebagai penulis teks, pemain, dan sutradara.
  • Pentas bersama Paduan Suara Magnificat di Pardede Hall Oktober dan Desember 2006 sebagai pemain dan sutradara.
  • Pentas Mini Opera Batak di Siantar dalam diskusi Hak Kekayaan Intelektual besama Peter Jazsy (USA) dkk sebagai penulis teks dan sutradara.
  • Pentas Mini Opera Batak “Paima marmutik Kopi” dalam Pembukaan Pameran Karya Togu Sinambela di Galeri Tondi Medan, 7 April 2007 sebagai penulis teks dan pengarah artistik.
  • Pentas Keliling Opera Batak “Srikandi Boru Lopian” di Pangururan (Samosir), Salak (Pakpak Bharat), Balige, dan Pematangsiantar dalam rangka Peringatan 100 Tahun Gugurnya Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja XII, sebagai penulis teks dan sutradara.
  • Pementasan Opera Batak “Guru Saman” oleh Seminari Menengah Sacerdos Pematangsiantar sebagai sutradara, 28 Oktober 2007.
  • Narasumber dan seksi program Pelaksanaan Seni Pertunjukan Gondang Naposo kerjasama dengan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dan Komunitas Batak se-jabodetabek pada Sabtu 26 Januari 2008.
  • Pementasan “Sijonaha Penipu Ulung” dalam Pesta Danau Toba 2009 dan di Malam Budaya Batak di Batam (4 Desember 2010), di Taman Budaya Suamtera Utara (11-12 Maret 2011), sebagai penulis teks dan sutradara, dan pemain.
  • Pementasan “Kami Baik-Baik Saja, Pastor” di Siantar, April 2010, sebagai penulis dan sutradara.
  • Pementasan Opera Batak ”Sigale-gale” di Pesta Danau Toba 2010 sebagai penulis teks dan sutradara.
  • Pementasan Drama “Kita Tunggu Teman Kita” di Tanjunganom Deliserdang, Desember 2010 sebagai penulis dan sutradara.

Pelatihan:

  1. Pelatihan Manajemen Organisasi Budaya (MOB) dari Pusat Pendidikan Manajemen (PPM) Jakarta atas beasiswa dari Yayasan Kelola Solo, 2000 dan 2001.
  2. Pelatihan Jurnalistik UCA News, kantor berita di Hongkong, 2000.

Penghargaan:

  • Hibah Seni Yayasan Kelola Jakarta, 2003.
  • Seniman Berprestasi dari Disbudpar Sumut, 2006.
  • Tokoh Teater Sumut oleh Teater O USU, 2009.
  • Salah Satu Sosok dari 45 Tokoh Inspiratif versi Harian Kompas Juli – Agustus 2010.
  • Ekspose Kompasiana 14 Agustus 2010 sebagai Salah Satu dari Trio Penjaga Tradisi.

Sumber:

http://abxdc.indonesiakreatif.net/index.php/id/ceritasukses/read/thompson-hs/4

Tak Berkategori

Thompson HS

Galeri

Nama Lengkap: Soy Pardede

pardedePengalaman:

Ketua Panitia Pembangunan Bible Center Gedung Pusat Alkitab

Staf Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU)

Wakil Ketua Komite Pengarah Konferensi KPPU

Kata Ketua Pemilihan Indonesia (1999)

Ketua Komisi Etika Usaha KADIN

Jabatan:

Chairman

Asean Competition Institute

2008 – sekarang

Pendidikan:

Kagawa University

Master of Science (MSc), Monetary and Banking

1961 – 1966

Alamat Kantor

Rumah Maduma Business Group

Manggarai, Jakarta Selatan

Soy adalah seorang entrepreneur. Dia yang dikenal Ketua Panitia Pembangunan Bible Center Gedung Pusat Alkitab. Dalam sebuah peresmian gedung Bible Centre, Soy turut hadir. Dia berharap gedung ini dapat menjadi tempat berkumpulnya seluruh umat untuk lebih memekarkan dan meneguhkan tekad dalam satu pelayanan untuk memuliakan Tuhan.

Selain aktif di bidang keagamaan, Soy pernah menjabat sebagai jajaran Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Di KPPU dia cukup vokal menyuarakan aspirasinya. Soy berpendapat pemerintah lupa menindaklanjuti amanat reformasi terkait penguatan kelembagaan KPPU. Karena itu Presiden harus melakukannya dengan menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) untuk memperkuat kelembagaan KPPU.

Soy menambahkan bahwa KPPU seharusnya masuk ke lembaga independen seperti halnya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan pejabatnya setara dengan pejabat negara. Lalu dia menanggapi wacana penambahan jumlah calon anggota KPPU muncul begitu cepat. Dia menilai pengajuan 33 calon membuka peluang keinginan legislatif. Melalui fit and proper test, sistem penentuan calon menjadi salah kaprah.

Jadi, Presiden seharusnya menentukan dulu orang-orang yang terpilih dari 33 calon anggota itu. Lalu, anggota yang terpilih diusulkan ke DPR untuk sekadar mendapat persetujuan, diterima atau ditolak. Menurut Soy, Presiden sudah mengingatkan bahwa pemilihan itu sangat rawan. Ada saja kompromi kepentingan. Bahkan, bisa terjadi tarik-menarik kepentingan antara pemerintah dan DPR.

Bagi Soy, setelah terlibat di KPPU dia makin mengerti Kebijakan Persaingan yang tepat dimasukkan ke dalam kebijakan industri dan perdagangan. Memahami persaingan usaha menurut Soy, mutlak. “Di seluruh dunia berkembang menuju ekonomi satu pasar, pasar bebas, di mana akan bekerja sama saat bertanding. Karena itu, pemerintah perlu mempersiapkan populasi masing-masing. Penerapan hukum persaingan akan menjadi bagian penting dari persiapan ini,” ujarnya.

“Hukum Persaingan akan berfungsi untuk memperbaiki kegagalan pasar, untuk membuka dan memandu pelaku pasar untuk mengambil bagian dan mengambil kesempatan untuk memanfaatkan peluang. Hukum Persaingan akan berfungsi untuk memandu sistem hukum di banyak Negara negara berkembang khususnya dari sistem hukum kontinental menjadi bahan yang lebih atau substansi pendekatan dari sekedar pendekatan prosedural dan formal.”

Ali-alih Soe menambahkan, kompetisi telah mengubah dunia usaha. Pertumbuhan yang lebih tinggi adalah mungkin di akhir dekade karena inovasi, pengembangan teknologi, dan peningkatan produktivitas, dan faktor-faktor ini sepenuhnya didorong oleh pasar yang kompetitf. “Persaingan namun harus harus dibingkai dengan aturan dan disiplin pasar, yaitu hukum persaingan. Keragaman dalam tingkat pembangunan ekonomi diantara anggota ASEAN negara masih menjadi perhatian. Seperti yang ditunjukkan oleh satu presentasi. Tidak ada satu ukuran cocok untuk semua dalam hal rincian hukum persaingan.”

Tak Berkategori

Soy Pardede

Galeri

manurungBerdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, dedikasi adalah kunci menuju kesuksesan, dedikasi melibatkan kesabaran (patience), keuletan(persistence), dan kerja keras(hard-work). Sejarah mencatat, orang-orang yang berdedikasi pada suatu hal adalah orang-orang yang berhasil menorehkan tinta emas dalam sejarah. Hal inilah yang juga dilakukan oleh Prof.Dr. Adler Haymans Manurung SE,ME,M.Com,SH.

Lebih dari 20 tahun hidupnya dihabiskan bagi kepentingan pasar modal. Pria kelahiran Porsea, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, 17 Desemnber 1961, adalah seorang guru besar pasar modal, investasi, keuangan, dan perbankan. Ia dikukuhkan sebagai guru besar ke enam Asian Banking Finance and Informatic Institute (ABFI) Perbanas, pada Maret 2009 dan sekarang telah pindah menjadi Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Tarumanegara.

Keahliannya di empat bidang tersebut, kini Adler mengajar mahasiswa program pascasarjana dan program doktor disejumlah perguruan tinggi, seperti DMB – Institut Pertanian Bogor (IPB), Pascasarjana – Universitas Indonesia, DMB – Universitas Padjajaran untuk jenjang S3 (Magister) di MM – UBINUS dan MM – FEUI serta jenjang Sarjana di FE UNTAR.

Ia juga banyak didaulat sebagai pembicara di berbagai simposium, seminar, konferensi, dan diskusi, baik tingkat nasional maupun internasional. Selain itu, Ia juga aktif menulis buku, yang ditujukan bagi para akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat umum. Setidaknya, ada tiga puluh lima buku yang telah ditulisnya terkait dengan pasar modal, investasi, keuangan, dan perbankan.

Keterlibatannya di pasar modal telah Ia lakoni sejak 1990. Diawali sebagai ahli riset analis, sebelum akhirnya bekerja untuk beberapa perusahaan sekuritas. “Saat ini profesi analis sangat penting di pasar modal sehingga perlu adanya peningkatan profesionalitasnya. Maraknya pasar modal,” ujar Adler.

INFO

PT.ADLER MANURUNG PRESS : Menjual Buku Tentang Keuangan, dll

ALAMAT KAMI :

Komplek Mitra Matraman A1/17
JL.Matraman Raya No.148
Jakarta Timur 13130
Telp. (62-21) 70741182,
85918040 Ext.140
Fax. (62-21) 85918041

Tak Berkategori

Prof. DR. Adler Haymans Manurung

Galeri

Antonius Chandra Satya Napitupulu
NapitupuluDitetapkan sebagai Direktur Utama PT. (Persero) Asuransi Kredit Indonesia, berdasarkan Keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara Republik Indonesia selaku Pemegang Saham nomor : KEP-199/MBU/2011 tanggal 15 Agustus 2011 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Anggota-anggota Direksi Perusahaan Perseroan PT. (Persero) Asuransi Kredit Indonesia.

Tak Berkategori

Antonius Chandra Satya Napitupulu

Galeri

Novita Dewi x-FactorNama: lahir Novita Dewi Marpaung
Nama lain:  Dewi Marpaung, Dewi Marfa
Lahir 15 November 1978
Bendera Indonesia Jakarta, Indonesia
Genre Pop, gospel
Pekerjaan Penyanyi
Instrumen Vokal

Label Sony Music Indonesia

Novita Dewi Marpaung (lahir di Jakarta, Indonesia, 15 November 1978) adalah seorang penyanyi berkebangsaan Indonesia. Perempuan yang akrab disapa Dewi ini merupakan putri dari Jack Marpaung, seorang penyanyi legendaris di kancah musik rock Batak. Dewi sudah menunjukan bakat di dunia tarik suara sejak kecil dan sering mengikuti berbagai kompetisi bernyanyi hingga dijuluki “macan festival”. Dewi sempat meraih juara dua pada ajang Cipta Pesona Bintang, Weekly Champion (juara mingguan) Asia Bagus, serta juara pertama Suara Remaja Vinolia RCTI. Prestasi tertinggi Dewi diraihnya saat menjadi juara pertama dalam Astana Song Festival 2005 di Kazakhstan.

Meskpun berjaya di jalur festival, karier Dewi di industri rekaman tidak berjalan dengan mulus. Pada tahun 2008, ia baru berkesempatan merilis album pop pertamanya berjudul Sweet Heart dengan memakai nama Dewi Marfa. Namun, album tersebut tidak berhasil di pasaran akibat promosi yang sangat terbatas. Dewi kemudian lebih banyak berkarier di industri rekaman Batak dan musik rohani. Pada tahun 2010, Dewi bergabung dengan label Nagaswara dan merilis singel berjudul “Jejak Luka”.
Dewi kembali tampil di kompetisi musik dengan mengikuti X Factor Indonesia musim perdana. Keikutsertaannya di ajang ini adalah untuk memenuhi keinginan almarhum adiknya. Ia bergabung pada kategori Over 26 (penyanyi 26 tahun ke atas) yang dimentori oleh Bebi Romeo. Sebelumnya, pada tahun 2011, Dewi sempat behasil lolos dalam audisi The X Factor versi Amerika, namun kemudian terhenti akibat social security. Dewi dikenal sebagai kontestan dengan karakter suara serak khas dan teknik vokal yang sangat matang. Setelah dinobatkan sebagai juara kedua di ajang tersebut, Dewi mendapat kontrak rekaman dari Sony Music Indonesia selama lima tahun.
Album solo
Sweet Heart (2008)
Singel dan penampilan lain
Putus Sikkolah (2008)
Duet Spectakuler 1 (2008)
Hati Sbagai Hamba (single) (2009)
Mujizat Itu Nyata (single)(2009)
Mary’s Boy Child (single) (2010)
Melangkah Pasti (2010) (satu lagu feat. Jonathan Prawira “impianku menjadi nyata)
Duet Spectakuler 2 (2011)
Togu Tondiku (single feat Bunthora Situmorang) (2011)
Tobatak (bersama Viky Sianipar) (2012)
Sampai Habis Air Mataku (2013)
X Factor Indonesia

Dewi mengikuti audisi X Factor Indonesia di kota Jakarta, dengan menyanyikan lagu “If I Were A Boy”. Ia bercerita tentang motivasinya untuk mengikuti kontes bernyanyi itu atas keinginan almarhum adik laki-lakinya. Keikutsertaan Dewi dalam ajang ini sempat dikritik oleh beberapa pihak karena ia sudah menjadi penyanyi profesional dan pernah merilis album sebelumnya. Namun, kemudian pihak X Factor Indonesia menegaskan bahwa kompetisi tersebut terbuka untuk semua orang, baik penyanyi amatir ataupun yang sudah pernah rekaman, dengan syarat tidak sedang terikat kontrak. Beberapa pemenang The X Factor mancanegara, seperti Tate Stevens (Amerika, musim kedua) dan Samantha Jade (Australia, musim keempat), juga pernah rekaman dan masuk tangga lagu nasional sebelum ikut kompetisi. Selama kompetesi berlangsung, ia merupakan kontestan yang paling sering mendapat standing ovation dari para juri. Dewi dinobatkan sebagai juara kedua X Factor Indonesia, setelah persaingan SMS yang ketat diungguli oleh Fatin Shidqia.
Sumber: Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Selebritis

Novita Dewi Marpaung

Galeri

Menggores Cinta, Mencipta KasihDakka Hutagalung

Oleh: Hotman J. Lumban Gaol, S.Th

Karena cinta dia berkarya. Kata Mutiara Cinta, karangan dari Kahlil Gibran (1883-1931) adalah seorang penyair Kristen, seniman dan penulis kelahiran Libanon yang terkenal dengan tulisan-tulisan bertema cintanya yang legendaris, itu. “Hakikat cinta adalah rintihan panjang yang dikeluhkan oleh lautan perasaan kasih sayang. Ia adalah cucuran air mata kesedihan langit pikiran. Ia adalah senyuman ceria kebun-kebun bunga cinta.”

“Hakikat cinta adalah rintihan panjang yang dikeluhkan oleh lautan perasaan kasih sayang. Ia adalah cucuran air mata kesedihan langit pikiran. Ia adalah senyuman ceria kebun-kebun bunga cinta.”

Barangkali, kata “cinta” itulah yang membebat Dakka Hutagalung, 65 tahun, berkarya mengoreskan cinta demi karya-karyanya. Motto hidupnya memang “kasih itu indah” dan cita-citanya ingin meninggal, permohonannya pada Tuhan, kalau diizinkan meninggal di usia 99 tahun. Mengapa? “Agar terus dapat berkarya,” katanya, karena cinta akan mengoreskan lagu-lagu yang menyemangati, yang memberikan peneguhan.

Pria kelahiran Sibaganding Pahae, Tapanuli Utara, 20 Oktober 1948 sudah menciptakan 400-an lebih lagu. Komponis Batak yang telah menciptakan lagu-lagu Batak Toba legendaris, dan beberapa lagu berbahasa Indonesia. Memulai debutnya mengarang lagu di umur 24 tahun. Kini, dia sudah berkecimpung lebih dari 40 tahun di dunia musik.

Buah lagu ciptaanya: terdiri dari pop Batak, Indonesia dan Rohani Batak dan Indonesia lagu hits: Sonata yang indah, Dia dan Dia, Tembang Rindu, Danau Toba, Perahu Cinta, Tabahlah Mama, Sipata, Buni di Ateate, Didia Rokkaphi, Unang Boasa, Didia Jumpang Au, Anakhonhu. Lagu rohani: Ho do Rajahu Togihon Au Tuhan, KepadaMu Ku Bersyukur, Kaulah Rajaku. Di era 80-an, lagu-lagunya seperti Anakkonhu, dipopulerkan Eddy Silitonga dan, Rita Butar-butar, mempopulerkan lagu, Didia Rongkap Hi.

Sementara di organisasi musik, Dakka didaulat menjadi dewan pembina Persatuan Artis Batak Indonesia (PARBI). Juga di Departemen Organisasi Paguyuban Artis Pencipta Lagu dan Penata Musik Rekaman Indonesia (PAPPRI), sekaligus salah satu pendiri dan Dewan Pertimbangan Komisi Nasional Pencipta Lagu Indonesia.

Sebelum menjadi pencipta lagu, Dakka dikenal personil trio. Dia mendirikan group bersama dua temannya, Star Pangaribuan dan Ronald Tobing, lewat Trio Golden Heart. Trio Golden Heart kerapkali menyelipkan lagu-lagu Melayu serta lagu rohani Kristen. Lagu rohani misalnya: “Silang Nabadia.” Kaset C-60 berdurasi enam puluh menit itu, produksi perusahaan rekaman Mini Record. Namun, sayang di tengah perjalanan trio ini mati suri. Dari sana Dakka beranjak menjadi pengarang lagu Batak.

Banyak karangan Dakka yang melegenda diantaranya: Didia Rongkap Hi, Anakkonku, Inang dan ratusan karya Dakka Hutagalung setiap hari dinyanyikan di pesta, kafe, dan acara-acara penting lainnya. Tapi, sama seperti banyak kehidupan pencipta lagu lainnya, kehidupan kesehariannya tak sebanding dengan nama besarnya. Sekitar 40 lagu dari sekitar 400-an lagu ciptaannya yang pernah hits, tetapi tidak juga membawa dampak pada pundi-pundi Dakka. Padahal, di blantika musik nasional, lagu-lagunya, dilantunkan Joy Tobing, Jelita Tobing, Amigos, Dipo Pardede, Maria Pasaribu, Silaen Sisters, Trio Lamtama dan sejumlah pelantun lagu Batak lainnya.

Beberapa karyanya diaransir ulang musisi, Vicky Sianipar dan bahkan musisi nasional. Diantara lagu yang dilantunkan dalam Pagelaran 40 Tahun Dakka Hutagalung Berkarya, beberapa tahun lalu, diantaranya, Soneta Indah pernah dipopulerkan Emilia Contessa, Syair dan Melodi, Didia Rongkap Hi, Anakkonku, Inang, Gereja Bolon, O Tuhan. Itu sebagian kisah lagu-lagu ciptaan Dakka.

 Berkah Dakka

Apakah arti sebuah nama, demikian William Shakespeare pujangga terkenal dari Eropa itu pernah berkata. Iya, apalah arti sebuah nama. Tetapi, nama dalam dunia pesohor amat penting, dan sudah menjadi pembawa berkah tersendiri bagi penyandang nama. Hampir semua pesohor, aktris, nama populer mereka punya sejarah sendiri-sendiri. Contoh saja, Iwan Fals nama aslinya Virgiawan Listant. Oleh ibunya memanggilnya Iwan, sementara Fals karena merasa suaranya fals, yang kemudian digabung menjadi Iwan Fals. Atau, nama Remy Silado, sastrawan yang terkenal itu. Nama itu diambil dari angka 23761, tanggal 23, bulan 7, tahun 76 adalah kisah yang yang meninggalkan sejarah dalam kehidupannya. Nama aslinya: Yapi Panda Abdiel Tambayong, Remy Silado. Memberi nama, selalu karena ada sejarahnya.

Nama Dakka juga diambil dari kenyataan, ketika dia lahir satu jari tangannya bercabang, atau disebut hiperdaktili (hiperdaktili disebut bila jumlah jarinya enam). Dalam bahasa Batak, bercabang diartikan Dakka. Tatkala lahir dalam kondisi hiperdaktili itu, oleh orangtuanya memberi nama, Dakka. Maka jadilah tersemat nama itu, dan membawanya kesohor.

Sebagai senior pengarang lagu Batak, Dakka sendiri meyakini, lagu-lagu Batak disenangi lintas suku di Tanah Air. “Tak jarang, lagu-lagu Batak diperdendangkan dalam ajang-ajang nasional maupun internasional. Jangan anggap remeh lagu Batak. Lagu Batak sudah go internasional,” jelas suami, Irma Sumaya.

Kini, Dakka dengan setia menjalani hari-harinya sebagai seniman, walau pun tidak membawa kemewahan, dia menjalaninya dengan bahagia. Sikap yang dijaganya, idealisme yang harus dijaga dan diperhankan. Independen demi karya-karya yang bukan hanya untuk laku di pasar saja. Tetapi bagaimana karya itu memberikan inspirasi dan pesan, nasihat bagi yang mendengar, demi karya yang abadi.

Sebagai seorang seniman, maestro musik Batak yang telah menciptakan hampir limaratusan lagu, hingga kini Dakka masih tinggal di rumah sewaan. Inilah kenyataan yang ada. Nama beken, tidak jua membawa kehidupan Dakka sepadan dengan nama besarnya. Masih menempati sebuah rumah kontrakan di Tangerang, Banten. Seharusnya tidak hidup dalam keadaan demikian, jika Dakka mendapat royalti dari karya-karyanya. Sepatutnya dia milliuner. Pantas menikmati kemewahan dari karya-karyanya. Seandainya di negeri ini ada kejujuran, dan menghormati hak cipta orang lain.

Namun kenyataan, berpihak kepada para seniman yang telah menorehkan banyak kemanfaatan pada jagat musik Tanah Air, muskil, sepertinya hanya basa-basi. Nyatanya, keberpihakan terhadap seniman, seperti Dakka, nihil adanya. Nasib mereka tetap melarat. Para seniman idealis ini tak dipedulikan oleh industri musik. Padahal, para seniman-seniman seper Dakka inilah yang membuat roda ekonomi, di industri musik berputar.

Tetapi apa yang terjadi? Hasil keuntungan bisnis musik hanya dinikmati segelintir pihak saja. Para pencipta, pengarang miskin. Tetapi pemilik industri musik dan penyanyinya kaya-raya. Mereka, para korporat bisnis musik, dan para seniman tak pernah peduli atas hak royalti para pencipta lagu. Dan, yang paling menyakitkan, sudah didendangkan lagu-lagu mereka, tetapi tidak disebut nama pengarangnya. Nama mereka acapkali dilupakan.

Melihat kenyataan yang ada di industri musik, Dakka merasa miris. “Sepertinya kehidupan tidak adil. Banyak orang yang tidak pernah memeras keringat, kerja keras, menikmati hasil. Melihat kenyataan di lapangan, banyak orang yang memanfaatkan karya-karya kita, menjadi kaya, tetapi pengarangnya miskin. Yang berkarya tidak mendapat apresiasi. Sementara yang menikmati hasil justru para pembajak musik dan pengelola tempat hiburan yang terus mendulang rupiah berkat lagu karya-karya kita,” ujarnya tanpa tendeng aling-aling.

Karena itu, Dakka berharap: para artis, pengelola bar, pengelola cafe-cafe, siaran radio, siaran tv, hotel-hotel dan juga rumah-rumah hiburan yang mengunakan karya-karyanya, menghargai dan memberi royalti atas karyanya itu. Tak disangkal, atas lagu-lagu ciptaan Dakka, telah banyak memberi berkah bagi banyak musisi. “Bandingkan dengan pemain keyboard yang menyanyikan lagunya di pesta, kafe dan tempat-tempat hiburan. Hanya beberapa jam sudah mendapat honor sekian ratus ribu. Beberapa kali show, maka penyanyinya dapat duit jauh lebih banyak dari penciptanya.”

Lalu, bagaimana dia menyikapi hidup dengan bahagia, walau orang lain kaya dari memanfaatkan karyanya, sementara dia tetap melarat? Bagi Dakka, terus berkarya. Ihklas menjali hari-harinya. Berkarya berarti adalah mengarang lagu, mengoreskan cinta, dengan keikhlasan. “Cara yang saya tempuh dengan tetap menggarang, mengoreskan cintanya akan musik. Menghilangkan rasa cemas akan kehidupan. Bagi saya, seni merupakan bagian dari hidup. Karena itu, saya tak akan berhenti mencipta lagu selama saya masih diberi Tuhan kekuatan mencipta lagu, hingga ajal menjemput,” ujarnya.

Bagi Dakka, sekali layar terkembang pantang biduk surut ke pantai. Sekali pilihan sebagai pengarang dia tetapkan. Dia tetap memilih setia, menjadi seniman untuk jalan hidupnya. Dan tidak akan menyesal, walau tidak sebanding rupiah yang dia dapatkan. “Saya tidak menyesal memilih berkarya sebagai pencipta lagu,” ujarnya. “Tetapi jujur, saya heran melihat kondisi sekarang ini banyak seniman instan, baru muncul langsung terkenal. Tidak ada reputasi, tidak ada track record yang dibangun, tetapi langsung terkenal. Tidak melalui proses, sukses luar biasa. Sementara kita sudah lebih 40 tahun berkarya tak mendaapat apresiasi. Tetapi saya tidak pusingkan itu, yang penting saya tetap berkarya. Saya berkarya menggoreskan cinta dan membawa kasih, berkah bagi para penikmat lagu,” ujarnya menyentil.

Mudah-mudahan apa yang sudah dilakukan Dakka, sinyalnya ditangkap para seniman Batak. Jangan hanya memikirkan uang, lupa menjaga nama baik, dan karya yang utama. Dan yang terpenting menghargai karya orang lain. Akhirnya, kita beraharap ada bayak lagi seniman yang melanjutkan jejak dari bang Dakka. Apakah ada dari antara kita, atau Anda barangkali yang mau melanjutkan reputasi yang ditorehkan bang Dakka? Silakan saja! Kita menyabut baik.

Seniman

Dakka Hutagalung

Galeri