Midian Sirait, Prof


Midian Sirait: Penyelamat Danau Toba dan Andaliman

Midian Sirait

Orang sukses beragam. Ada orang sukses karena orangtuanya sudah terlebih dahulu membuka jalan, maka ia pun sukses. Ada orang sukses karena sengaja merekayasa, atau korupsi, dan menghalalkan segala cara demi sebuah ambisi. Tetapi, tidak banyak orang sukses yang memulai pendakiannya dari bawah, merangkak, dan mencapai puncak. Dan, tidak banyak orang meraih sukses sebagaimana Professor Midian Sirait, 82 tahun, menunjukkannya.
Memulai kariernya sebagai guru sekolah rakyat di satu desa terpecil di Porsea hingga kemudian menjadi guru besar satu universitas bergengsi di negeri ini. Memulai usaha sebagai tukang hingga akhirnya memiliki pabrik obat. Atas jasa-jasanya, pemerintah Indonesia telah menganugerahkan berbagai penghargaan, di antaranya: Pertama, Bintang Gerilya dari Presiden RI. Kedua, Perang Kemerdekaan I dan II. Ketiga, Satya Lencana Penegak.
Midian lahir di Lumban Sirait, 12 November 1928, saat baru sebulan pemuda Indonesia memaklumatkan “Sumpah Pemuda” dalam suasana keadaan sebuah bangsa yang sedang bergolak. Rumah dari Ompung Midian dan Ompung Sabam Sirait (tokoh PDI Perjuangan) berhadap-hadapan, sebagaimana layaknya di sebuah huta di Tanah Batak.
Dalam suasana penjajahan, ketika berumur tujuh tahun, Midian mau masuk sekolah Belanda. Sayang, sekolah itu tidak menerima anak-anak pribumi. Di sekolah Belanda itu yang diterima itu adalah anak-anak amtenar, anak pendeta dan anak-anak pedagang yang sudah tinggi blastingnya, pajaknya. Namun, penolakan itu tidak mengurungkan niatnya bersekolah. Oleh ayahnya dia didaftarkan ke sekolah Volksschool, yang pengantarnya menggunakan berbahasa Batak. Ayahnya, Immanuel Sirait, kemudian mempelopori berdirinya sekolah di Porsea. Sang ayah mengundang semua yang punya toko di Porsea dan kepala negeri dari marga Narasaon, yaitu Manurung, Sirait, Butarbutar, dan Sitorus. Mereka sepakat mendirikan yayasan pendidikan Mangarera namanya. Mangarera adalah nama dari nenek-moyang keempat marga tersebut.
Lulus dari sekolah tukang, setingkat sekolah menengah pertama, dia melanjutkan pendidikan guru bawah di Porsea. Setelah lulus, Midian kemudian menjadi guru pembantu di sekolah itu. Salah seorang muridnya adalah Tunggul Sirait, adik kandungnya sendiri, yang di kemudian hari menjadi rektor Universitas Kristen Indonesia.
Setelah kemerdekaan, katub menuju kemajuan yang selama ini tertutup baginya, sekarang terbuka lebar. Cita-citanya adalah pekerjaan yang mulia: menjadi guru, sekalipun itu berarti dia harus meninggalkan Bona Pasogit.
Dia memulai karier dari yang paling bawah sekali, pada awal kemerdekan Indonesia, tahun 1945. Ketika itu dia bekerja sebagai ahli pertukangan kayu. Pada waktu masih di Porsea Midian juga turut memikul senjata melawan penjajah Belanda. Setelah Indonesia merdeka, Midian mangaratto atau merantau ke Jakarta.
Di Jakarta, di samping menjadi guru, Midian juga pemimpi usaha majalah pendidikan “Ganeça,” lambang ilmu pengetahuan dan dewa pengetahuan. Majalah tersebut dirikannya bersama dua temannya. Untuk mencari iklan, Midian harus berjalan kaki dari Guntur ke Glodok, yang jaraknya sekitar sepuluh kilo. Tetapi, akhirnya majalah ini tutup karena kurangnya tanggapan masyarakat.
Pemuda asal Lumban Sirait ini kemudian memulai karier baru sebagai pengatur obat di Pabrik Obat Manggarai, milik Departemen Kesehatan. Dia kemudian ditempatkan sebagai asisten apoteker pada Fakultas Ilmu Pasti Alam di Bandung sebagai bagian dari Universitas Indonesia ketika itu. Kesempatan itu tidak disia-siakannya. Dia bekerja sambil mengikuti kuliah farmasi. Tahun 1956, setelah telah lulus sarjana muda apoteker, Midian muda diangkat menjadi asisten dosen.
Menyaksikan negeri Napoleon

”Sambil saya pegawai sambil saya kuliah, dan saya mulai aktif di GMKI,” ujar Midian mengenang keterlibatannya dalam Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia. Organisasi mahasiswa Kristen ini menurut dia banyak memberikan pelajaran berharga sepanjang kariernya. Termasuk tawaran beasiswa yang dia terima untuk belajar di Jerman. Tak berlama-lama, Midian langsung menerimanya. Informasi itu dia dapat dari Sabam Siagian, rekannya sesama aktivis GMKI. Kebetulan Sabam Siagian, menerima undangan dari Gerakan Mahasiswa Kristen Jerman, yang menyatakan ada kesempatan yang disediakan untuk dua orang dengan kriteria sarjana muda. Pas untuk Midian. Tetapi, dia harus menanggung sendiri ongkos perjalanan ke negara tersebut.
Sudah sejak lama Midian bercita-cita untuk melihat negara-negara maju di Eropa. Dia terpukau dengan biografi Napoleon, dan dia ingin menyaksikan Perancis. Namun cita-cita itu tidak segampang yang diperkirakan untuk menjangkaunya. Midian harus membayar tiket sendiri. Tidak ada rotan akar pun jadi, kira-kira demikianlah Midian menyingkap apa yang dia hadapi. Midian kemudian menjual motornya, ditambah gaji dari perusahaan dimana dia bekerja.
Di Jerman, Midian mencapai gelar doktor, gelar yang tak pernah terlintas di benaknya. Dan yang paling membahagiakan bagi Midian di Jerman, dia mendapatkan jodoh gadis Jerman, Ellen, yang kemudian hari berganti nama menjadi Kunze boru Situmorang. Jodoh tidak memakukan kaki Midian di Jerman, tetapi malah mendorongnya untuk kembali ke Indonesia. Sesampainya di Indonesia, dia melapor ke ITB, kampus yang pernah memberikan kesempatan baginya sebagai asisten dosen.
Sebelum bertolak ke Jerman, Midian adalah staf ITB. Berangkat ke negeri Schiller itu dia menggunakan hak cuti di luar tanggungan negara. Pada saat kembali ke kampus yang membesarkannya, pada tahun 1965, dia menemukan suasana yang menggairahkan. Sedang berlangsung pemilihan rektor baru. Para mahasiswa mendekati Midian untuk mencalonkannya sebagai pembantu rektor bidang kemahasiswaan, yang dijabatnya tahun 1965-1969. Tahun 1968- 1978 dia pun dipercayakan menjadi anggota DPRGR- DPR RI dan MPR. Jabatan penting ini diperkirakan ada hubungannya dengan pertemuannya sebagai ketua perhimpinan mahasiswa Indonesia di Jerman dengan Presiden Soeharto yang sedang berkunjung ke negara itu.
Kariernya terus menanjak. Tahun 1978, dia dipercayakan pemerintah menjadi anggota BP 7 untuk menyusun Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila yang dikenal dengan P4. Dan, yang tak kalah penting dalam kariernya adalah jabatannya sebagai Direktur Jenderal Pengaasan Obat dan Makanan, Departemen Kesehatan (1978-1988). Midian pensiun sebagai Guru Besar ITB tahun 1993.
Sejarahnya di bidang pendidikan tidak hanya mencatat dia pernah mendirikan sekolah setingkat SMP di Manggarai, karena Midian adalah juga salah seorang pendiri Universitas Maranatha, Bandung.
Menurut pengakuannya, dia juga terlibat membidani lahirnya Komite Nasional Pemuda Indonesia, 23 Juli 1973, dan duduk sebagai Ketua Dewan Pembina. “Saya mulai ikut berpolitik di Eropa, banyak datang pimpinan-pimpinan angkatan darat. Jenderal D.I Panjaitan, atase militer di Jerman, adalah penghubung kami. Saat itu, saya menjadi ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia, PPI, organisasi ini berpolitik. Karena atase militer datang, maka kita mulai berhubungan dengan militer di Indonesia, tetapi di bawah pengetahuan Soekarno. Lalu saya masuk di dalam forum anti-Komunis, karena sikap itulah yang memberikan ruang berpolitik bagi saya,” katanya menguraikan.
Di bidang politik, Midian tidak hanya dikenal sebagai salah satu pendiri Golkar. Menurut Midian, Golkar adalah gabungan dari 250 organisasi. Ketua umumnya adalah militer dengan pangkat letnan jenderal, sementara sekretaris jenderalnya selalu dijabat oleh seseorang yang berpangkat mayor jenderal. ”Sebenarnya Golkar itu tentara. Tapi, kami sengaja masuk untuk memberikan arah politik, jangan terus tentara lagi-lagi menjadi pimpinan Golkar. Memang suatu waktu jangan militer lagi yang jadi ketua. Setelah itu saya kenal Ali Murtopo. Dan dia lihat pikiran kami baik dan harus berada di Golkar. Kemudian disusunlah doktrin Golkar, semacam ideologinya Golkar. Yang paling pokok, saya pula ikut merumuskannya. Sasaran kegiatan Golkar adalah terbentuknya masyarakat kekaryaan yang berdasarkan Pancasila. Jadi kalau tidak ada seperti itu, perjuangan politiknya hambar, pragmatis.”

Andaliman
Sejak reformasi, dia melihat partai yang selama ini dia perjuangkan sudah makin moleng, miring. Setelah Golkar tidak lagi jelas arahnya, dia pun keluar dari dengan diam-diam. Dan dia melihat perlunya mendirikan partai yang berasaskan nilai-nilai Kristiani. Maka, Midian bersama teman-temannya mendirikan Partai Demokrasi Kasih Bangsa, yang dideklarasikan 5 Agustus 1998. “Saya bilang ke Akbar, saya akan bentuk partai tanpa menghapus Golkar dari hati saya,” kenangnya.
Semula, niatnya mendirikan PDKB adalah bagaimana orang Protestan dengan Katolik bisa bersatu dalam satu partai. Lalu, tampuk ketua umum jatuh ke Manase Malo. Midian kemudian mengundang para cedikiawan Kristen. Sedari awal tidak terbetik di pikirannya untuk memimpin partai PDKB. ”Karena saya sudah tahu, jangan orang Batak lagi, mesti orang dari timur, tetapi Batak yang memberikan peranan.” katanya. Pada pemilihan umum 1999 PDKB memperoleh lima kursi di DPR, salah satu adalah adiknya, Tunggul Sirait.
Saat menjadi pembatu rektor ITB, Midian mengusulkan kepada pemerintah agar tumbuh-tumbuhan, rempah-rempah, yang sarat dengan obat itu terus dijaga kelestariannya. Oleh karena itu, Midian mengusulkan salah seorang mahasiswanya untuk melakukan penelitian mengenai mamfaat andaliman yang dalam bahasa ilmiahnya disebut zanthoxylum acanthopodium DC.
Andaliman tumbuh di dataran Tiongkok, India, Burma, Thailand, Siam, Tibet, dan daerah-daerah subtropis Himalaya. Sementara di Tanah Batak sendiri andaliman sudah sejak lama digunakan sebagai bumbu masak. Andaliman adalah bumbu utama dalam makanan “naniura,” masakan yang dimatangkan dengan cara pengasaman selama 24 jam. Kombinasi antara andaliman dengan asam memberikan rasa dan aroma yang menyengat. Apabila dicicipi akan menggetarkan lidah.
”Sejak dulu saya tertarik pada rempah dari Bona Pagogit. Di ITB saya yang pilih mahasiswa untuk membuat skripsi tentang andaliman. Karena tanaman ini jarang di dunia. Dia tumbuh di daratan dengan ketinggian 1000 meter lebih, seperti di daerah Siborong-borong dan Humbang-Hasundutan. Tanaman ini sudah mulai habis. Dia hanya tumbuh liar. Maka, saking tertariknya saya, saya minta mahasiswa untuk menjadikannya bahan sebagai bahan penelitian,” ujar matan guru besar ITB itu.
Midian ketika itu menunjuk mahasiswanya, Maruap Siahaan, seorang mahasiswa jurusan Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung. Maka, jadilah sikripsi berjudul Pemeriksaan Minyak Atsiri dan Isolasi Senyawa Getir dari Buah Andaliman. Dan pembimbing utama sendiri tak-lain-tak-bukan adalah Professor Dr. Midian Sirait.

Melawan Indorayon
Karena cintaanya pada Danau Toba, dia ikut mendirikan Yayasan Perhimpunan Pecinta Danau Toba, dan menjadi ketuanya yang pertama. Semula dia tidak keberatan dengan pembangunan pabrik bubur kayu Indorayon di Porsea. Tetapi, dampak yang ditimbulkannya sampai-sampai ayah-ibunya misir (pindah) ke Parapat, hanya untuk menghindari bau busuk dari pabrik itu. Selain itu, banyak masyarakat Porsea pindah, saking baunya limbah Indorayon. Oleh karena itu, masyarakat melancarkan demonstrasi saban hari untuk menuntut penutupan Indorayan.
Pabrik itu, selain telah merusak tanaman warga, juga merusak Danau Toba. Melihat itu, Midian kemudian berkonsultasi dengan Sarwono, menteri lingkungan hidup ketika itu. Kemudian Sarwono bilang akan mendatangkan konsultan dari Amerika Serikat untuk meneliti apa yang terjadi di Porsea.
”Lalu, kemudian diadakan rapat di Laguboti, diadakan horja untuk meminta menteri Lingkungan Hidup untuk menguji kualitas, termasuk kualitas udara. Penelitian itu disetujui oleh Indorayon. Datanglah dari Amerika Serkiat tim yang terdiri dari delapan orang. Kedatangan tim ini dibiayai oleh Indorayon. Ternyata, penelitian cara Amerika ini agak beda. Mereka konsultan, tapi yang bayar Indorayon, bukan pemerintah. Jadi begitu selesai, mereka tidak berikan laporannya pada saya. Saya di situ sebagai penasihat.”
Midian bercerita lebih lanjut: ”Nggak ada laporannya, Sarwono pun katanya tidak dikasi laporan. Menurut undang-undang Amerika Serikat, siapa yang membayar untuk consulting, maka dia yang terima laporan. Kita dikibulin. Lalu, saya mengundurkan diri, karena masyarakat sudah serahkan kepercayaannya kepada saya. Lalu saya buat surat ke Habibie, teman saya ketika di Jerman. Saat itu dia sudah menjadi Presiden. Tak lama kemudian, saya dipanggil presiden sebagai ketua yayasan pecinta danau toba. Saya didampingi ketua penasihat yayasan, yaitu Jenderal Maraden Panggabean. Kami meminta Habibie untuk menutup Indorayon. Ditambah juga penjelasan Sintong Panjaitan, yang ketika itu sebagai asisten khusus presiden, bahwa dampak yang diberikan Indorayan sudah sedemikian parah,” ujar Midian.
Kemudian? ”Habibie perintahkan (Indorayon) untuk ditutup. Saya bilang kepada orang Indorayon pindahkan saja pabrik ke daerah yang sepi penduduk. Zaman Abdurahman Wahid, beliau juga bilang, kalau sudah ditutup ya ditutup saja. Kemudian masa pemerintahan Megawati, Menteri Tenaga Kerja, Jacob Nuwawea, ketika itu didatangi Indorayon. Ada orang yang dibiayai oleh Indorayon, untuk menemui Jacob Nuwawea dengan alasan ’masyarakat butuh pekerjaan, Indorayon menyerap tenaga kerja’ Ini kan hanya ulah beberapa orang saja. Katanya Indorayon sudah punya teknologi baru, padahal tidak ada.”
Gejalanya yang diderita penduduk biasanya muntah-muntah. Penduduk tak keberatan pabrik tetap beroperasi asal tidak menyebar racun. Indorayon beroperasi lagi berdasarkan izin dari Jacob Nuwawea. Sebagai kader PDI Perjuangan, Jacob kemudian lapor ke partainya itu. Di lapangan, Indorayon memang sudah tidak menyebarkan bau lagi. ”Karena rumah saya persis di situ. Sekarang penduduk sudah lebih tenang, tidak lagi bau, karena rayon tidak diproduksi lagi, hanya pulp. Dan pabrik itu mengganti namanya menjadi Toba Pulp Lestari,” kata Midian.
Timbullah bencana. Caustic soda tumpah di kampung Lumban Lobu, yang berasal dari Indorayon. Sungai di situ tercemar. Tim peneliti dari Amerika Serikat, didatangkan untuk memastikan ada tidaknya kimia berbahaya dalam tumpahan itu. Tetapi, hasil penelitiannya tak pernah diumumkan. Hanya dibekap di laci Indorayon.
Di masa tuanya, Midian Sirait masih terus bekerja, sesekali membantu perusahaan obat yang didirikannya bersama anaknya, Poltak Michael M Sirait. Barangkali, tak banyak yang tahu tentang keterlibatannya dalam penyelamatan Danau Toba, yang dirusak oleh gelombang kapital yang menjarah dan merusak danau kedua terbesar di dunia itu. Perjuangannya untuk mensucikan Porsea, dari mana air Danau Toba melintas mengikuti lekak-liku Sungai Asahan sebelum tumpah ke Selat Malaka, akan tetap dikenang. Midian, yang di usia senjanya harus menjalani cuci darah dua kali seminggu akan tetap menjadi ilham bagi orang Batak dalam perjuangan mereka untuk mempertahankan tanah kelahiran mereka. ***Hotman J Lumban Gaol

ket: sudah pernah dimuat di majalah TAPIAn edisi Mei 2010

Erwin Pardede


DENGAN TEKAD, KEBERANIAN DAN KEJUJURAN, AKU YAKIN DAPAT MERAIH HAMORAON, HAGABEON, HASANGAPON ( KEKAYAAN, BERKETURUNAN, KEHORMATAN )

Erwin Pardede

Sebagian yang mengenalku mengatakan bahwa aku sebagai putera Batak yang lahir di Pematang Siantar, 17 Agustus 1943, adalah seorang pemberani yang tegas dalam bertindak, trampil dan ulet dalam mencapai cita-cita, serta rasional mempergunakan kecerdasan.

Tahun 1964, bermodalkan ijazah STM, aku mencoba keberuntungan ke Jakarta. Kekejaman ibu kota, sempat menjadikanku gelandangan, dan calo ban di Sawah Besar, bahkan menjadi preman di Pasar Ular – Tanjung Priok. Penderitaan dan tantangan hidup selama 6 bulan, dapat kuakhiri ketika aku diterima sebagai karyawan bagian Tekhnik di NV Zain cabang Bandung.

Keberuntunganku tidak hanya sampai disitu, karena sambil bekerja, aku kuliah di SPPTN (D3). Sebagai karyawan yang berusaha disiplin dan haus untuk mengembangkan pengetahuan, membuatku pernah menjadi pimpinan proyek PT.Lanze dan PT. Sapta Daya di Bali, Makasar dan kota lainnya.

Gonjang – ganjing perekonomian Indonesia yang membuat perusahaan tempatku bekerja bangkrut, menjadikanku kembali menganggur, sehingga memaksaku menjadi penyelundup barang-barang kerajinan tangan (patung) ke Singapura, dan dari Singapura membawa barang elektronik ke Indonesia. Hal ini kulakukan selain mencari keuntungan, juga untuk memperlancar arus perekonomian Indonesia – Singapura yang pada saat itu sedang konfrontasi.

Walaupun akhirnya tertangkap saat mendarat di Gaol, Tanjung Pinang, tapi tidak pernah dihukum karena semua barang yang kubawa dari Singapura, dijadikan sogokan bagi penegak hukum. Untunglah sebelumya aku telah menyisihkan sebagian modalku, jadi setelah aku kembali ke Jakarta, masih memiliki modal untuk mendirikan perusahaan kontraktor PT. Lanze.

Tidak lupa dari ingatanku,di tahun 1986, sebelum aku membuka PT Lanze, sempat juga menjadi sales bursa komoditi (ilegal). Andaikan aku tidak berani membongkar penipuan bandit Hongkong pembawa komoditi tersebut ke Indonesia, bisa jadi ribuan pemilik uang (kelas menengah ke atas) di Republik ini dihabisi uangnya untuk di bawa ke Hongkong. Keberanian yang pertama kalinya kulakukan, yang menjadikanku dikenal dan populer di kalangan pemain bursa, sehingga mereka mengatakan,”Untunglah ada preman Siantar yang mampu menyandera bandit Hongkong, sehingga sebagian uang kita dapat dikembalikan”-ketika itu bandit Hongkong tersebut kusandera kurang lebih 3 hari.

Dengan modal yang minimal dan pengalaman yang belum memadai, tahap demi tahap PT. Lanze akhirnya mampu bersaing dengan kontraktor lain (pada tahun 80-an PT. Lanze termasuk 50 besar di bidang jasa konstruksi di republik ini), sehingga aku mampu mengembangkan anak perusahaan, antara lain PT Daya Mandiri Alam dan PT Naga Saco.

Untuk menunjang keberhasilan dalam usaha, sudah barang tentu diperlukan kemampuan berorganisasi, di mana aku pernah menjadi:

1. Wakil Ketua BPD Gapensi DKI Jakarta, tahun 1980-1983.
2. Wakil Ketua Bidang Konstruksi Kadin Jaya, tahun 1981-1983
3. Ketua Departemen Konstruksi Kadin Jaya, tahun 1983-1985
4. Sekretaris Jenderal BPP Gapensi, tahun 1983-1987
5. Ketua Kompartemen Jasa Konstruksi Kadin Jaya, tahun 1985-1994
6. Ketua Bidang Organisasi BPP PATI, tahun 1986 hingga 1994
7. Anggota Dewan Penasehat Kadin Jaya, tahun 1993-1994
8. Ketua Bid. Pemagangan, SDM, dan Ketenagakerjaan Kadin Indonesia, tahun 1994-1998
9. Ketua Bid. Organisasi DPP Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), tahun 1994-1998
10. Ketua BPP PATI, tahun 1994-1999
11. Ketua DPP Apindo Urusan Sosial, Juni 1998-1999
12. Sekretaris Pokja Sertifikasi Pekerja Bangunan di Depnaker, 1998-1999
13. Anggota Panitia Penyelesaian Perselisihan Perburuhan Pusat (P4P), Oktober 1998-1999.

Motto yang terdapat dalam diriku mengatakan, “kebahagiaan akan diraih apabila kita mampu memberikan kebahagiaan bagi pihak lain”, menjadikanku menekuni oraganisasi bidang sosial, berupa Tim Peningkatan Kesejahteraan Sosial Penyandang Cacat, Penanggulangan Gelandangan dan Pengemis, Tim Koordinasi (Joint Coordinating Comitte) Pengembangan Sistem Rehabilitasi Vakasional di Depsos, maupun sebagai Koordinator Umum Forum Peduli Anak Indonesia (FPAI), Wakil Sekretaris Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) dan menjadi Sekretaris Jendral Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA).

Bukan itu saja, aku juga bersedia sebagai Ketua Perhimpunan Keluarga Pardede se Jabodetabek (2 periode) dan SekJen Partukkoan Dalihan Natolu (Palito). Dalam penelitianku tentang Adat Batak, aku berkesimpulan bahwa Adat Batak harus dikembalikan pada makna dan tujuan yang digariskan nenek moyang Bangso Batak, dan disesuaikan dengan kemajuan jaman.

Idealisme untuk ikut berpartisipasi mencapai adil dan makmur di republik Indonesia, memaksaku menantang Orde Baru saat kekuasaan Presiden Soeharto, sehingga berani mengkoreksi kebijakan pemerintah yang menurutku tidak memihak pada kepentingan rakyat. Salah satu keberanian yang fenomenal, ketika aku membongkar kebocoran APBN/APBD sebesar 40% akibat kolusi antara pengusaha dan pimpinan proyek.

Bukan itu saja, ketika Megawati Soekarnoputri teraniaya rejim Orde Baru, dan semua pihak seolah-olah menyingkirkan putri Bung Karno dari peta politik nasional, di mana untuk menyewa kantor pun pemilik gedung tidak bersedia memberikan gedungnya disewa karena takut akan memperoleh perlakuan tidak menyenangkan dari pejabat Orde Baru, justru aku bersedia memberikan kantorku dijadikan kantor DPP PDI “Pro Mega”.

Keinginanku mewujudkan cita-cita anak bangsa, juga kubuktikan dengan kesediaanku memberikan sarana dan prasarana pada aktivis yang akan menjatuhkan Orde Baru, hingga rumah yang sedang kutempati yang dianggap cukup memadai, dijadikan salah satu titik simpul dari kegiatan perencanaan maupun pengkaderan para mahasiswa dan aktivis lainnya.

Aku yakin, kehidupan adalah pilihan, dan pilihan menanggung resiko atau keberuntungan, di mana keberanianku menantang Orde Baru, mengganjal perkembangan usahaku. Walaupun demikian, cita-citaku menjadi anggota DPR-RI periode 1999-2004 dapat kuraih, dan bertugas di Komisi IV, legislasi, Pansus, Panja, dan Timsus berbagai RUU.

Keinginan untuk maju, tidak pernah kering dari sanubariku. Di mana kegagalanku mencapai ijazah kesarjanaan, mendorongku aktif di banyak organisasi, sehingga aku memiliki sertifikat sebagai penatar nasional BP7 dan jebolan LEMHAMNAS angkatan ke-6 (tahun 1983), sehingga aku pernah ditugaskan menjadi ;

1. Wakil Bendahara Pemenangan Pemilu Pusat PDI Perjuangan tahun 1999
2. Tim Perumus pada Rakernas Pengusaha Kecil KP2KO, Maret 1985
3. Ketua Komisi B pada Rakernas JKKRET Kadin Indonesia, Juli 1985
4. Tim Perumus seminar (tentang ekonomi negara-negara Eropa Timur), Desember 1985
5. Tim Perumus Munas ke-VI Kadin Indonesia, September 1985
6. Sebagai moderator di beberapa seminar dan pertemuan tingkat nasional lainnya
7. Pembicara pada berbagai seminar nasional, khususnya bidang yang terkait dengan masalah sosial, anak terlantar, dan ketenagakerjaan.

Pengalaman saat menjadi karyawan, pengusaha, dan ketika menjalankan organisasi profesi maupun organisasi sosial, terlebih-lebih setelah menekuni politik, aku berkesimpulan bahwa masyarakat Indonesia yang fanatik dan munafik adalah cikal-bakal keterpurukan perekonomian dan kendala dalam kemajuan jaman.

Keluarga berencana yang tidak berhasil, dan pemanfaatan kecerdasan yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia yang tidak dikelola dan dimanfaatkan secara maksimal, menjadikan pertumbuhan ekonomi tidak sebanding dengan pertumbuhan penduduk, sehingga pengangguran setiap waktu meningkat.

Bertitik-tolak dari kecurigaanku atas pemikiran irasional dari agamawan maupun keraguan atas agama yang diwariskan orang tuaku, menjadikanku saat berumur 40 tahun mencoba menelusuri tempat ibadah di hampir tiga perempat negara di bumi ini untuk mencari Tuhan dan kebenaran. Sampai-sampai aku ikut menjalankan ibadah umroh ke Mekah dan Madinah.

Menurut pengamatanku, Tuhan atau Sang Pencipta tidak pernah berada di suatu tempat, tapi Dia berada di mana-mana, karena Dia bukan roh, wujud dan pribadi yang dapat diukur maupun dikualifikasi, tetapi Dia adalah kekuatan pencipta yang tidak memiliki pesaing, sehingga aku mengatakan tempat ibadah bukanlah rumah Tuhan.

Berdasarkan kecerdasanku dan pengalaman hidupku, aku berani tidak meyakini ajaran agama atau ajaran aliran kepercayaan yang terdapat di muka bumi.

Keyakinan 145 EP yang dihasilkan oleh kecerdasanku, menurutku adalah kebenaran yang mampu menciptakan perilaku Budibaik (cinta, damai, adil, toleransi untuk sejahtera), sehingga kebencian, dendam dan diskriminasi dapat dihapus dari muka bumi. Hal ini telah kurumuskan dalam bukuku yang berjudul ‘Keyakinan Yang Membebaskan’ dan novel ‘Kebohongan’.

Benar-tidaknya yang kukatakan, menurutku hidup dapat diarahkan mencapai cita-cita, asalkan rencana kehidupan dijalankan dan ditata untuk tidak menyusahkan atau merugikan pihak lain. Hal ini kubuktikan ketika berumur 55 tahun, aku pensiun mencari kekayaan dan telah mampu menyekolahkan anakku di dalam maupun di luar negeri. Tidak berlebih kalau beberapa orang yang mengenalku mengatakan, bahwa aku adalah manusia kontraversial yang diberkati Tuhan, yang telah mampu meraih hamoraon, hagabeon, dan hasangapon.

Ucapan di atas, terutama pengertian ‘berkat yang kuterima dari Tuhan’, kusangkal dengan keras, karena aku yakin bahwa kemampuan materi yang kumiliki adalah hasil rampokan (merampok kesempatan) dan menata kehidupan, bukanlah anugerah Tuhan setiap saat. Karena menurutku, kehidupan adalah berkat Tuhan saat manusia dicipta.

Kalaupun aku dan istriku dikatakan telah meraih hagabeon, semuanya berkat kehadiran ;

1. Errata Jundini Atmira, lahir 10 Juni 1972, menikah dengan Hardiansyah Nasution.
Anak : Sadira dan Queen.
2. Errinto Sahat Pahala, lahir 16 Juli 1973, menikah dengan Nurul.
Anak : Eriel Feitha Hasianni
3. Erly Ika Suminar, lahir 12 September 1974, menikah dengan Philip Sibarani.
Anak : Micha dan Rafael.
4. Ersan Timbul Marudut, lahir 8 Agustus 1977, belum menikah.
5. Erna Ade Surya Ponti, lahir 19 September 1981, menikah dengan Andri Panjaitan.
Anak : Nathan.

sumber: http://www.erwinpardede.com/index.php?option=com_content&view=article&id=46&Itemid=53

Chairuddin Panusunan Lubis


Nama:
Prof. Chairuddin Panusunan Lubis, DTM&H.Sp.A(K)

Prof. Chairuddin Panusunan Lubis


Lahir:
Kuala Tungkal, Jambi, 18 Maret 1945
Agama:
Islam
Postur:
TB 173 cm BB 74 kg
Pendidikan:
Fakultas Kedokteran USU 1974
Program spesialis anak tahun 1980
Pekerjaan:
Rektor USU
Dosen parasitologi di FMIPA USU, waktu itu masih FIPIA
Asisten ilmu kesehatan anak (1976-80)
Sekretaris Pendidikan Mahasiswa Bagian Ilmu Kesehatan Anak di FK USU (1976-79)
Sekretaris Program Pendidikan Spesialis Anak (1980-83),
Kepala Subbag Penyakit Infeksi (1980-90),
Kepala Bagian Ilmu Kesehatan Anak (1983-86),
Kepala Unit Pelaksana Fungsional di RSU Pirngadi (1983-91),
Sekretaris Tim Koordinator Pelaksana Program Pendidikan Dokter Spesialis (1990-92),
Ketua Jurusan Ilmu Kedokteran Anak (sejak 1990) dan
Perwakilan Corsorsiium Health Sciences
Organisasi:
Pengurus Bridge Cabang Sumut,
Ketua IDAI Sumut dan Aceh.
Penghargaan:
Penerima Medica Award 1992 bidang penelitian
Prof. Chairuddin Panusunan Lubis, DTM&H.Sp.A(K)
Si Abang nan Lembut, Jujur dan Tegas

Ada tiga prinsip yang dipegang dokter yang setiap hari memeriksa ratusan anak-anak ini dalam memimpin USU. Ketiga prinsip itu ialah lemah-lembut, jujur dan tegas. Rektor Universitas Sumatera Utara yang selalu menyebut mahasiswa sebagai “adik-adik” ini masih terbiasa disapa dengan kata “abang” oleh junior dan adik-adiknya itu.

Tahun 1995 merupakan tahun emas bagi bangsa Indonesia. Begitu pula bagi Chairuddin Panusunan Lubis yang dilantik Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI menjadi Rektor USU akhir tahun 1995 itu. Tapi, dokter spesialis anak yang berpraktek di Jl Abdullah Lubis ini sedikit lebih tua dari Republik Indonesia, karena ia lahir pada tanggal 18 Maret 1945, di Kuala Tungkal, Jambi.

Dari nama lengkapnya yang terdapat kata Panusunan (dalam bahasa Indonesia maksudnya adalah pemimpin, pengatur, penata, atau penyusun), orang yang mengerti tradisi dan budaya Tapanuli segera memahami bahwa Chairuddin kecil kelak diharapkan menjadi orang yang mampu mengurus hal-hal penting bagi masyarakatnya. Doa yang tersirat dalam nama lengkapnya itu kemudian menjadi kenyataan. Pria berperawakan tinggi 173cm dan berat 74kg yang ketika mahasiswa dikenal “jagoan” bola pimpong dan bridge ini adalah mantan aktivis organisasi kemahasiswaan.

Ketika namanya muncul sebagai kandidat Rektor, banyak yang belum tahun bahwa dosen yang pada usia 42 tahun sudah berpangkat Pembina Utama Muda (IV/C) dan menjadi Guru Besar pada usia 45 tahun ini punya segudang pengalaman memimpin. Agaknya, karena pria yang ketika masih mahasiswa ini sudah terbiasa dengan “penderitaan” tergolong low profile, maka tak banyak yang tahu bahwa perjalanan hidupnya seperti namanya yang memakai kata Panusunan

Sejak mahasiswa, putra pensiunan perwira menengah ini sudah biasa memimpin, menyusun dan melaksanakan rencana kerja, baik dalam skala akademik maupun organisasi. Ketika masih duduk di akhir tingkat tiga, Prof. Chairuddin sudah mendapat kepercayaan sebagai asisten parasitologi di almamaternya, Fakultas Kedokteran USU. Kemudian oleh teman-temannya di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat FK USU, pada tahun 1970-72 dia diberi mandat sebagai Ketua Umum. Belum diwisuda sebagai dokter umum, tahun 1973-74 Chairuddin ditugaskan sebagai dosen parasitologi di FMIPA USU, waktu itu masih FIPIA. Lulus dokter umum tahun 1974.

Selang dua tahun setelah dilantik sebagai dokter umum, disamping menjadi asisten ilmu kesehatan anak (1976-80), dokter yang tamat program spesialis anak tahun 1980 ini sudah diserahi tugas sebagai Sekretaris Pendidikan Mahasiswa Bagian Ilmu Kesehatan Anak di FK USU (1976-79). Seterusnya menjadi Sekretaris Program Pendidikan Spesialis Anak (1980-83), Kepala Subbag Penyakit Infeksi (1980-90), Kepala Bagian Ilmu Kesehatan Anak (1983-86), Kepala Unit Pelaksana Fungsional di RSU Pirngadi (1983-91), Sekretaris Tim Koordinator Pelaksana Program Pendidikan Dokter Spesialis (1990-92), Ketua Jurusan Ilmu Kedokteran Anak (sejak 1990) dan Perwakilan Corsorsiium Health Sciences

Dalam profesi dan kegiatan sosial lainnya bintang sepakbola “Lansia” (baca: lanjut usia) USU ini, pernah dan masih menduduki sejumlah posisi kunci. Sekadar menyebut dua contoh: Salah seorang Ketua Tim Operasi Kembar Siam, Pengurus Bridge Cabang Sumut, dan Ketua IDAI Sumut dan Aceh. Penerima Medica Award 1992 bidang penelitian ini juga menerima banyak penghargaan. Misalnya, dari lembaga kemahasiswaan. Atas jasa-jasa yang diberikannya secara ikhlas untuk menjungjung tinggi almamater USU, pada tahun 1974, Dewan Mahasiswa USU memberinya penghargaan dan ucapan terima kasih. Sedangkan karya ilmiahnya, tercatat ada 47 judul, ini baru untuk kategori sebagai penulis utama saja

Dalam sebuah acara santai di Hotel Tor Sibohi, Tapanuli Selatan (SUMUT), baru-baru ini, di sela-sela alunan suara dr. Baren Ratur Sembiring, Prof.Chairuddin mengatakan, ada tiga prinsip yang dipegang dokter yang setiap hari memeriksa ratusan anak-anak ini dalam memimpin USU. Ketiga prinsip itu ialah lemah-lembut, jujur dan tegas. Ketika saya tanya lagi di sela-sela acara temu ilmiah IDI Cabang Tapanuli Selatan bulan Agustus 1995 lalu, Rektor yang selalu menyebut mahasiswa sebagai “adik-adik” dan masih terbiasa disapa dengan kata “abang” oleh junior dan adik-adiknya ini mengulanginya, “lemah-lembut, jujur dan tegas”

*** Tokoh Indonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia), dari web site http://www.usu.ac.id

Sabam Pandapotan Siagian


Sabam Pandapotan Siagian (lahir di Jakarta, 4 Mei 1932; umur 78

Sabam Siagian

tahun) adalah wartawan Indonesia dan Duta Besar RI di Australia periode 1967-1973[1].

Karena orangtuanya menginginkan dia menjadi sarjana hukum – selain pendeta – ia masuk ke Fakultas Hukum dan Ilmu-ilmu Sosial Universitas Indonesia. Karena tidak terlalu tertarik ia memutuskan untuk pindah ke Akademi Dinas Luar Negeri (ADLN) yang akhirnya tidak selesai juga. Sempat mengikuti pendidikan ilmu politik di Vanderbilt University, Nashville, Tennessee, Amerika Serikat, namun itu pun tidak ia selesaikan. Kemudian pada 1978, ia mengikuti program Nieman Fellow for Journalism dari Harvard University, Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat.

Sepulang dari New York, Amerika Serikat, ia ingin terjun ke bisnis, karena Sabam merasa sudah memiliki koneksi di Amerika. Tetapi waktu itu, Sinar Harapan sedang melakukan reorganisasi besar-besaran. Kebetulan, ayahnya, Pendeta Siagian, salah satu pemegang sahamnya sehingga akhirnya untuk pertama kalinya ia terjun ke dunia jurnalisme yang sesungguhnya.

Selain itu pada tahun 1950-an, ia pernah mengelola majalah milik Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI). Kemudian bersama beberapa teman, antara lain Wicaksono dan Alwi Dahlan, ia ikut menggagaskan penndirian Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia.

Pada pertengahan tahun 1960-an, ia bekerja di bagian riset perwakilan Indonesia di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Ia juga menyandang tanda kehormatan bintang jasa utama. Setelah usai dari karir diplomat-nya ia kembali ke dunia pers dan berkutat di Suara Pembaruan sebagai presiden komisaris dan The Jakarta Post dan termasuk dalam Dewan Tajuk Rencana. Ia juga menjadi ketua Indonesia-Australia Business Council selama nenerapa waktu.

Pada 1983, ia kerap mengupas masalah internasional di The Jakarta Post, koran berbahasa Inggris yang turut didirikannya. Sebagai jurnalis senior, ia tentunya banyak bergaul dengan kalangan diplomat di Jakarta.

Cosmas Batubara


Cosmas Batubara (lahir di Purbasaribu, Simalungun, Sumatera Utara, 19 September 1938; umur 71 tahun) adalah seorang politikus Indonesia. Di masa Mahasiswanya dia adalah Ketua Presidium Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katholik Republik Indonesia (PMKRI) dan Ketua Presidium KAMI Pusat. Dia adalah Pelopor Gerakan Mahasiswa Angkatan 66 yang disegani. Ia pernah menjabat Menteri Muda Urusan Perumahan Rakyat, Menteri Negara Perumahan Rakyat dan Menteri Tenaga Kerja, ketiganya dalam masa pemerintahan presiden Soeharto. Ia menikah dengan R.A. Cypriana Hadiwijono dan dikaruniai 2 putra dan 2 putri. Ia telah memiliki sebuah otobiografi politik yang berjudul Cosmas Batubara: Sebuah Otobiografi Politik yang diterbitkan dibawah Penerbit Buku Kompas di Jakarta, Maret 2007.

Anggota Dewan Penasihat SOKSI. 2005 – sekarang. Menteri Tenaga Kerja 1988 – 1993. Menteri Negara Perumahan Rakyat 19 Maret 1983 – 22 Maret 1988.

Mantan aktivis mahasiswa (Ketua Umum Presidium KAMI 1966) yang kemudian selama 15 tahun menjabat menteri. Pria yang selalu tampak tenang namun pemberani itu setelah tidak lagi menjabat menteri, dia mengikuti Program Pasca Sarjana FISIP UI dan meraih gelar doktor pada usia 74 tahun, Kamis (22/8/2002).

Mantan Menteri Tenaga Kerja Cosmas Batubara, kelahiran Purbasaribu, Simalungun, Sumatera Utara, 19 September 1938, itu berhasil mempertahankan disertasinya dengan dengan predikat cum laude (lulus dengan pujian).

Dia mengikuti Program Pasca Sarjana FISIP UI sejak 1994. Suami dari RA Cypriana Hadiwijono Saragih itu terlebih dahulu mengikuti program matrikulasi S2 (Pra Program Doktor), dan lulus dengan Indeks Prestasi Kumulatif 3,6.

Mantan Ketua Presidium KAMI Pusat (1966) itu sempat menjadi anggota DPR (1967-1978), sebelum menjabat menteri selama 15 tahun. Mulai dari Menteri Muda Urusan Perumahan Rakyat (1978-1983), kemudian Menteri Negara Perumahan Rakyat (1983-1988) dan terakhir Menteri Tenaga Kerja (1988-1993). Saat menjabat Menteri Tenaga Kerja dia juga menjabat Presiden International Labor Organization (ILO).

Setelah tidak lagi menjabat di pemerintahan, Cosmas aktif dsebagai konsultan sumber daya manusia dan komisaris di beberapa perusahaan realestat, perusahaan otomotif, minuman dan bubur kertas. Mantan guru itu juga aktif di beberapa perguruan tinggi sebagai pengurus yayasan dan sebagai ketua dewan penyantun.

Yatim Usia 8 Tahun
Cosmas telah yatim pada usia delapan tahun. Ayahnya seorang mandor pembuat jalan. Anak ketujuh ini merantau ke Jakarta dalam usia 16 tahun. Dalam usia belia itu, Cosmas sudah berkeinginan mandiri. Dia meninggalkan Purbasaribu, desa kelahirannya di Simalungun, Sumatera Utara, hanya berbekal ijazah sekolah guru (SGB). Di Jakarta, dengan mandiri dia ingin menambah ilmu dan mencari pengalaman.

Beruntung, beberapa saat setelah tiba di Jakarta, ia bisa diterima mengajar di SD Strada, Jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat. Sambil mengajar dia pun melanjutkan studi di SGA. Kemudian melanjut ke Sekolah Tinggi Publisistik.

Semasa kuliah dia aktif di PMKRI, bahkan sampai menjadi ketua umum pengurus pusat di organisasi mahasiswa Katolik tersebut. Setelah lulus sarjana muda di Sekolah Tinggi Publisistik, itu kemudian Cosmas melanjutkan studinya di Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UI.

Saat itu terjadi G-30- S/PKI, 1965. Namanya pun mencuat sebagai aktivis mahasiswa melalui organisasi KAMI, yang mereka dirikan. Cosmas menjabat Ketua Presidium KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) Pusat (1966), organisasi mahasiswa yang sangat aktif menumbangkan Orde Lama.

Setelah Orde Lama ditumbangkan, sejak 1966 Cosmas diangkat menjadi anggota DPR-GR sebagai wakil mahasiswa. Kemudian sejak Pemilu 1971, dia pun aktif berkampanye untuk Golkar.

Setelah menjabat anggota DPR-GR dia menikah dengan RA Cypriana Hadiwijono yang telah dikenalnya sejak 1964, ketika keduanya sama aktif di PMKRI. Mereka menikah tahun 1967 dan dikaruniai emapat anak. Isterinya, wanita asal Yogyakarta itu kemudian diberi marga Saragih, setelah diajak pulang kampung.

Setelah duduk selama tujuh tahun sebagai anggota DPR, dia kemudian diangkat menjadi Menteri Muda Urusan Perumahan Rakyat dalam Kabinet Pembangunan III. Kemudian kembali dipercaya sebagai Menteri Negara Perumahan Rakyat Kabinet Pembangunan IV. Setelah itu, Cosmas memimpin Departemen Tenaga Kerja sebagai menteri pada Kabinet Pembangunan V

Parakitri Tahi Simbolon


Parakitri Tahi Simbolon (lahir di Rianiate, Pulau Samosir, 28 Desember 1947), adalah seorang esais, sosiolog, cerpenis, novelis, wartawan/eks redaktur senior KOMPAS, pengelola Pusat Informasi dan Litbang Kompas, dan pendiri penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG).

Lulus dari SMA Katholik Budi Mulia Pematangsiantar, dia sempat setahun penuh belajar di Seminari Menengah Pematangsiantar untuk memuaskan minatnya menjadi pastor. Kemudian dia melanjutkan studi di Jurusan Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta (1967-1972).

Pada tahun 1974-1975 dia mendapatkan beasiswa kerja sama Indonesia-Prancis untuk belajar di Institut International d’Administration Publique (IIAP), Paris. Laporan penelitiannya, Les Aides de Developpement et La Haute Volta, penelitian lapangan mengenai bantuan luar negeri untuk pembangunan ekonomi di Burkina Faso, ketika itu bernama Volta Hulu (La Haute-Volta), Afrika Barat, mengakhiri studinya di IIAP.

Sejak Februari 1976, sepulangnya dari Prancis, dia bergabung dengan harian Kompas dan mulai menulis kolom-kolomnya yang dikenal sebagai Cucu Wisnusarman (1979-1984), yang telah dibukukan dan diterbitkan oleh PT Grafindo Mukti (1993) dan penerbit Nalar (2005). Tahun 1986-1990, dengan dibiayai oleh harian Kompas, dia memperoleh kesempatan untuk melanjutkan studi di Vrije Universiteit, Amsterdam. Pada 5 Februari 1991, dia mempertahankan disertasinya mengenai etnisitas dan perdagangan besar di kota metropolitan Jakarta. Karena etnisitas adalah produk sejarah, maka dia merunut gejala itu dari tahun 1619, sejak Jakarta bernama Batavia. Kegemarannya akan sejarahlah yang mendorongnya melahirkan buku Menjadi Indonesia pada 1995, buku pertama dari tiga buku yang direncanakan Kompas mengenai proses kebangsaan Indonesia.

Hobi menulisnya telah menghasilkan banyak karya, tak hanya berupa artikel maupun buku, dia juga pernah menulis skenario film. Salah satu skenario filmnya, yaitu Gadis Penakluk berhasil memenangkan Piala Citra dalam Festival Film Indonesia (FFI) pada 1981. Tahun 1982, skenario filmnya, Topaz Sang Guru yang disadur dari naskah drama Marcel Pagnol, Topaze, mendapat nominasi untuk aktor terbaik Piala Citra FFI. Dia pun melakukan beberapa penelitian pendahuluan, antara lain mengenai proses awal “Orde Baru”. Sebagian hasil penelitian tersebut diterbitkan sebagai artikel dalam Prisma, Desember 1977. Artikel tersebut, Di Balik Mitos Angkatan ‘66, kemudian dimuat dalam buku kumpulan artikel pilihan Prisma, yaitu Analisa Kekuatan Politik di Indonesia (LP3ES, 1985).

Karya-karyanya antara lain adalah novel Ibu, pemenang sayembara mengarang cerita anak-anak muda UNESCO dan Ikapi (1969), juara dua sayembara majalah Sastra (1969) lewat cerpen Seekor Ikan Gabus, dan novel Si Bongkok (1981) yang meraih hadiah kedua dalam sayembara mengarang novel Gramedia Kompas. Selain itu buku-bukunya adalah Kusni Kasdut (Gramedia, 1981), Politik Kerakyatan saduran dalam bentuk cergam dari The Discourses on Livy (Italian: Discorsi sopra la prima deca di Tito Livio) karya Niccolò Machiavelli (KPG, 1997), buku pegangan wartawan Vademekum Wartawan: Reportase Dasar (KPG, 1997), Matinya Ilmu Ekonomi 1, saduran dalam bentuk cergam dari The Death of Economics karya Paul Ormerod (KPG, 1997), Pesona Bahasa Nusantara Menjelang Abad ke-21 (KPG, 1999), kumpulan cerpen Tawanan (PBK, 2003), terjemahan Batas Nalar: Rasionalitas dan Perilaku Manusia (KPG, 2004).

Saat ini dia tengah menerjemahkan buku The Power of Prophecy: Prince Dipanagara and The End of An Old Older in Java 1785-1855 karya Peter Carey. Sebuah buku tentang sejarah perjalanan kepahlawanan Pangeran Diponegoro.

Dia melanjutkan studi di Jurusan Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta dari 1967 sampai 1972. Karena situasi politik saat itu, dia mengurungkan niat menjadi dosen di sana.

Di luar rencana, dia mencoba melamar kerja di Departemen Luar Negeri di Jakarta dan dinyatakan lulus. Beberapa waktu kemudian dia mendapat bea siswa kerja sama Indonesia-Prancis untuk belajar di Institut International d’Administration Publique (IIAP), Paris (1974-1975). Laporan penelitiannya, Les Aides de Developpement et La Haute Volta, penelitian lapangan mengenai bantuan luar negeri untuk pembangunan ekonomi di Burkina Faso, ketika itu bernama Volta Hulu (La Haute-Volta), sekarang Burkina Faso, Afrika Barat, mengakhiri studinya di IIAP.

Sepulang dari Prancis, sejak Februari 1976, dia bergabung dengan harian Kompas. Di sinilah dia menulis kolom-kolomnya yang dikenal sebagai Cucu Wisnusarman, yang telah dibukukan dan diterbitkan oleh PT. Grafindo Mukti (1993) dan penerbit Nalar (2005). Tahun 1986-1990, dia dibiayai oleh harian Kompas untuk studi di Vrije Universiteit te Amsterdam dan pada 5 Februari 1991, dia mempertahankan disertasinya mengenai etnisitas dan perdagangan besar di kota metropolitan Jakarta. Karena etnisitas adalah produk sejarah, maka dia harus meruntut gejala itu dari tahun 1619, sejak Jakarta bernama Batavia. Kegemarannya akan sejarahlah yang mendorongnya melahirkan buku Menjadi Indonesia pada tahun 1995, buku pertama dari tiga buku yang direncanakan Kompas mengenai proses kebangsaan Indonesia.

Hobi menulisnya telah menghasilkan banyak karya, tak hanya berupa artikel maupun buku, dia juga pernah menulis skenario film. Salah satu skenario filmnya, yaitu Gadis Penakluk berhasil memenangkan Piala Citra dalam Festival Film Indonesia (FFI) pada tahun 1981. Di tahun 1982, skenario filmnya, Topaz Sang Guru yang disadur dari naskah drama Marcel Pagnol, Topaze, mendapat nominasi untuk aktor terbaik Piala Citra FFI. Dia pun melakukan beberapa penelitian pendahuluan, antara lain mengenai proses awal “Orde Baru”. Sebagian hasil penelitian tersebut diterbitkan sebagai artikel dalam Prisma, Desember 1977. Artikel tersebut Di Balik Mitos Angkatan ‘66, kemudian dimuat dalam buku kumpulan artikel pilihan Prisma, yaitu Analisa Kekuatan Politik di Indonesia (Jakarta: LP3ES, 1985), hlm. 149-163.

Karya-karyanya yang memenangi sejumlah sayembara antara lain adalah novel Ibu (1969), pemenang sayembara mengarang cerita anak-anak muda UNESCO dan Ikapi, juara dua sayembara majalah Sastra (1969) lewat cerpen Seekor Ikan Gabus, dan novel Si Bongkok (1981) meraih hadiah kedua dalam sayembara mengarang novel Gramedia Kompas. Selain itu buku-bukunya yang lain adalah Kusni Kasdut (Gramedia, 1981), buku pegangan wartawan Vademakum Wartawan (KPG, 1997), Pesona Bahasa Nusantara Menjelang Abad ke-21 (KPG, 1999), kumpulan cerpen Tawanan (PBK, 2003), terjemahan Batas Nalar: Rasionalitas dan Perilaku Manusia (KPG, 2004).

Saat ini dia tengah menyelesaikan buku The Power of Prophecy Prince Dipanagara and The End of An Old Older in Java 1785-1855 karya Peter Carey. Sebuah buku tentang sejarah perjalanan kepahlawanan Pangeran Diponegoro.

Parakitri T. Simbolon adalah pendiri Kepustakaan Populer Gramedia (KPG).

Sebenarnya ada seorang cendekiawan Batak Toba yg cukup bagus menguasai sejarah, filosofi, dan faktor-faktor yg mempengaruhi perubahan sosial dan pergeseran nilai-nilai anutan masyarakat Batak. Namanya Parakitri T Simbolon, seorang esais, cerpenis, novelis, wartawan/eks redaktur senior Kompas, ahli filsafat dan ilmu-ilmu sosial, yg sekarang memimpin kelompok penerbitan Kompas Gramedia (KPG). Untuk keperluan studi doktoralnya di Belanda, ia bertahun-tahun melakukan riset dan penelusuran tulisan-tulisan lak-lak dan pendapat para penulis asing, misionaris, pejabat pemerintah Hindia Belanda, dll, menyangkut alam dan manusia Batak, yg dituangkan dlm buku maupun kertas kerja (report, makalah, dll). Ia menguasai aksara dan bahasa Batak dng sempurna–membuat saya malu, yg terlanjur dicap paham budaya Batak hanya lewat sebuah novel sederhana berjudul SORDAM, yg kebetulan ber-setting alam dan bertokoh manusia Batak Toba.

sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Parakitri_T._Simbolon

Robinson Bakara


Robinson Bakara dan Ekonomi Rakyat

Robinson Bakkara

Rabu, 28 April 2010 | 03:27 WIB

OLEH KHAERUDIN

Kadang kalau diminta jadi pembicara seminar, penyelenggara acara menyelipkan gelar sarjana ekonomi di belakang namanya. Padahal, Robinson Bakara hanya bertahan dua semester di Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Katolik Santo Thomas Medan.

Namun, kepiawaian Robinson mengelola keuangan Pusat Koperasi Kredit membuat banyak orang menyangka dia bergelar sarjana ekonomi. Robinson adalah orang di belakang berdirinya Wira Koperasi (Wirakop) Satolop Siborongborong, Kabupaten Tapanuli Utara. Wirakop adalah koperasi serba usaha yang dibentuk karena terjadi penumpukan dana menganggur (idle cash) pada koperasi kredit.

Wirakop bentukan Robinson adalah anak koperasi kredit atau credit union (CU) Satolop.

CU Satolop merupakan salah satu koperasi yang berada dalam jaringan Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) Sumut. Robinson sejak tahun 2007 menjabat sebagai Manajer Operasional Puskopdit Sumut. Sebagai manajer operasional, dia mengetahui persis banyaknya dana menganggur dari penumpukan modal yang disetorkan anggota koperasi kredit seluruh Sumut.

Soal dana menganggur (idle cash) ini di sisi lain juga menggambarkan betapa besarnya potensi ekonomi yang bisa digalang rakyat kecil seperti petani di desa. Robinson menuturkan, tahun 2006 saja total dana menganggur di semua CU di Sumut yang berada di bawah kendali Puskopdit mencapai Rp 147 miliar, dari total aset Rp 480 miliar. Jumlah anggota CU seluruh Sumut mencapai lebih dari 310.000 orang.

Dana menganggur muncul dari tidak seimbangnya jumlah setoran anggota dengan permintaan kredit yang diajukan. Dalam istilah CU, anggota memiliki kewajiban bulanan menyetorkan simpanan saham. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang koperasi menyebutkan, simpanan saham ini sebagai simpanan wajib anggota.

CU Satolop yang memiliki total anggota hingga 4.300 orang tahun 2006 mengalami penumpukan modal terparah. Dari aset sebesar Rp 18 miliar (aset ini terdiri dari semua simpanan anggota, semua cadangan modal), dana yang menganggur mencapai sebesar Rp 6 miliar.

Persoalan dana menganggur yang hampir merata terjadi di semua CU ini membuat Robinson berpikir memanfaatkannya untuk membuat koperasi serba usaha.

Klasik

Suatu saat, kawannya berdiskusi, Torop Marudut Hasudungan Sihombing, mencela koperasi kredit hanya bisa berlaku seperti layaknya rentenir. Padahal, menurut Torop, koperasi yang dilahirkan dari kebersatuan banyak orang harusnya jadi lembaga yang dapat tumbuh punya kekuatan ekonomi besar. Terlecut ucapan sang kawan, Robinson bersama dengan pengurus CU Satolop menggagas koperasi yang juga bisa berperan sebagai pasar dalam arti yang sesungguhnya bagi anggota.

Robinson sadar, mayoritas anggota CU adalah petani. Mereka selalu berhadapan dengan persoalan klasik dipermainkan pasar hingga sulit mengakses sarana produksi. Ketika harga sarana produksi naik, harga jual produksi pertanian malah tak stabil.

”Petani selama ini menggantungkan produksinya pada sistem pasar, yang dimonopoli agen, pengepul distributor, atau penampung tertentu. Petani tidak pernah punya akses mengatur harga dan kualitas produk. Contoh paling nyata di Siborongborong, pedagang atau pengumpul kopi bisa menentukan kualitas kopi, sementara petaninya tidak. Hal ini yang membuat standar harga kopi tak ditentukan petani yang memproduksinya,” katanya.

Petani, kata Robinson, sebenarnya cukup memahami dan menyadari bahwa komunitas mereka bisa membentuk pasar sendiri. Petani tidak perlu menjual ke agen-agen atau pedagang karena produksi yang dihasilkan bermacam-macam. Di antara petani bisa saling membutuhkan. Petani beras membutuhkan produk dari petani kopi atau petani sayur-mayur dan sebaliknya.

Akhirnya, pada 1 September 2006, dengan dukungan pengurus CU Satolop, Robinson membentuk Wirakop untuk pertama kali. Awalnya, Wirakop menjual sarana produksi pertanian dan bahan kebutuhan pokok. Anggota menjual hasil produksi ke Wirakop berupa beras dan bubuk kopi. Untuk hasil produksi pertanian berupa palawija dan hortikultura, Wirakop menghubungkan anggota petani dengan anggota yang pedagang.

Kini, Wirakop jadi badan usaha besar yang mampu mengakses kebutuhan produk sampai ke tingkat produsen. Wirakop membeli ratusan ton gula hingga minyak goreng langsung dari produsen. Hal ini membuat anggota terakses kebutuhan pokoknya dan mendapatkan harga yang sama dengan harga pasar di luar. ”Supermarket” Wirakop, yang kini masih menempati lantai dua gedung CU Satolop, mulai membangun gedung sendiri yang nilainya mencapai Rp 2,8 miliar.

Robinson pun mengonsep ketertarikan anggota tetap belanja di pasar yang mereka buat melalui margin keuntungan. Setiap anggota berhak mendapatkan sisa hasil usaha (SHU) yang merupakan margin keuntungan dalam transaksi jual-beli di Wirakop. Pembagian SHU terdiri dari jasa simpanan (deviden) yang disetorkan anggota setiap bulan dan besarnya 20 persen dari total SHU. Keuntungan kedua didapat anggota dari jasa pembelian dan besarnya 30 persen dari total SHU.

”Jasa pembelian dihitung berdasarkan sistem poin, di mana setiap anggota berbelanja Rp 1.000 mendapat satu poin jasa pembelian. Poin ini dihitung pada akhir tahun,” ujar Robinson. Ini memancing setiap anggota tetap belanja di Wirakop. ”Malah sering anggota belanja milik tetangganya yang bukan anggota Wirakop. Biar dapat banyak poin dan tambahan margin keuntungan,” kata Robinson.

Konsep Wirakop Robinson mendapat apresiasi. Keberhasilan Wirakop di Siborongborong mendorong Puskopdit Sumut mendirikan koperasi yang sama di beberapa daerah. Saat ini sudah berdiri Wirakop Dos Ni Tahi di Pinang Sori, Kabupaten Tapanuli Tengah, dua lagi embrio Wirakop tengah digagas di Samosir dan Karo. Dalam lima tahun ke depan, Puskopdit berencana membangun Wirakop pada sentra-sentra CU di setiap daerah. Di Sumut terdapat 14 kabupaten/kota yang menjadi sentra CU.

Keberhasilan Robinson mendirikan Wirakop menjadi bukti bahwa kedaulatan ekonomi rakyat bisa terwujud dalam bentuk koperasi. Simak ucapan Pasal Hutasoit, petani yang telah 15 tahun menjadi anggota CU Satolop. ”Sekarang saya tak lagi sulit mendapatkan pupuk dengan harga yang wajar. Bertani pun bisa dilakukan dengan tenang,” katanya.

Tak salah jika di belakang namanya terselip gelar ”sarjana ekonomi” meski Robinson tak pernah kelar menamatkan kuliahnya di jurusan ekonomi.

sumber: http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/04/28/03274253/robinson.bakara.dan..ekonomi.rakyat

Lodewijk Gultom


Lodewijk Gultom

Ada banyak Gultom. Tetapi, Gultom yang satu ini bisa membuat tercengang mereka yang mendengarkan pengakuannya. Dia mengajar dan menjadi Rektor Universitas Krisnadwipayana, Jakarta, sekarang ini, karena frustrasi. Selama 32 tahun Presiden Suharto berkuasa, menurut dia, yang terjadi adalah proses pembodohan terhadap bangsanya.

Katanya, kalau dilihat latar belakang pendidikannya, pendiri dan presiden pertama Republik ini, Sukarno, sebelum menjadi presiden dia sudah seorang insinyur. Gagasan mengenai bangsanya jauh ke depan, yaitu nation and character building. Dia kirimkanlah putra-putra Indonesia terbaik untuk belajar ke luar negeri, seperti apa yang terjadi dalam proses Restorasi Meiji di Jepang.

Tiba-tiba, datanglah Suharto. Sekolah dasar saja dia tak lulus, katanya. Mereka yang belajar di luar negeri malahan dia larang pulang. Hebatnya lagi, dia undang kapital asing langsung masuk ke negari ini. Pembangunan karakter diabaikan. Ekonomi maju, dan yang terbangun adalah sikap mengejar kekayaan benda, bukan rohani. Sehingga orang berlomba-lomba mencari kekayaan dengan mengabaikan karakter. Yang ikut situasi ketika itu menjadi kaya.

Gultom tidak menyesal tidak ikut arus. Namun, dengan sinis dia berkata: ”Harus saya akui saya ini produk Orde Baru juga. Dan saya kira saya orang goblok. Saya tidak lentur untuk mengikuti pembangunan yang dituju oleh Pak Harto. Kalau ke dalam arus pembangunan itu saya juga ikut bersamba, ya, mungkin jalan hidup saya jadi lain. Saya, barangkali sudah sejak lama menjadi anggota DPR, terutama kalau dilihat latar belakang saya dulu di organisasi massa, di GMKI, KNPI, di Persahi.”

Mengapa Gultom tidak sudi mengikuti irama tarian yang ditabuh Suharto? Jawaban guru besar ilmu hukum ini menyentuh. Seorang presiden yang sedang silau dengan uang bukan bandingannya dengan Mutiara boru Pardede, Mamak kandungnya, yang hidup dalam kemiskinan yang bukan main. Ayah Lodewijk Gultom meninggal ketika sang anak baru dudukdi kelas dua sekolah dasar. Sang ibu harus membesarkan kedelapan anaknya seorang diri. Ibunya itu pernah bercerita kepadanya bahwa setiap sore dia menangis memikirkan, ”Mau dikasi makan apa anak-anak saya ini.”

Gultom ingat benar pesan Mamaknya bahwa hidup seseorang hanya bisa berubah dengan bersekolah. Walau miskin, harapan sang ibu bukannya bagaimana anak-anaknya itu menjadi kaya raya sebagai balas dendamnya pada kemiskinan yang telah dia tanggungkan. Yang dia inginkan mereka menjadi manusia yang kaya rohani. ”Saya selalu ingat, doa Mamak saya itu kalau kami sudah berkumpul: ’Tuhan, jangan kasi pomparan (keturunan) saya ini kekayaan atau apapun yang bisa membuat dia ginjang rohana, tinggi hatinya.” Dan doa itulah yang terus-menerus dipanjatkan Mamaknya setiap dia berjumpa dengan anak-anaknya, sampai mereka semua sudah menjadi manusia.

Tentang kekuatan doa Mamaknya itu, Gultom bilang: ”Itulah doa Mamak saya, dan saya benarkan itu. Karena itu adalah kebenaran.” Dan menurut dia, tak ada di antara mereka delapan bersaudara yang menjadi si panggaron, tipikal orang Batak yang sok kaya dengan jiwa yang miskin. Yang dicari Lodewijk Gultom adalah kekayaan rohani dengan doa Mamaknya sebagai penyuluh terang. ”Kebersamaan, kesetaraan di kalangan kami anak-anak Mamak, itulah yang menjadi kebanggan saya sekarang. Kekayaan ini datang berkat orangtua saya.”

Telah terjadi kemerosotan derajat orang-orang Batak, terutama di kota besar seperti Jakarta. Juga di Bona Pasogit, kampung halaman, mereka. Siapa yang bisa menolong?

Gereja dan sekolah yang bisa menyelamatkan ini. Citra orang Batak sudah berubah, meninggalkan jati diri mereka sebagai etnis yang sangat memuliakan pendidikan. Lihatlah, di Jakarta ini juga ada Raja Hata, orang yang dihormati yang sangat bijak dalam mengemukakan pandangannya yang meneduhkan hati. Tetapi, dia harus dibayar, Rp 400.000 atau satu juta rupiah. Dulu, Raja Hata ini adalah orang tua yang sangat terpandang dan hidupnya berkecukupan. Dia selalu mengenakan jas. Kerjanya jalan-jalan. Dia membantu masyarakat menyelesaikan masalah mereka. Dikasi uang dia terima, tidak juga tak apa-apa. Raja Hata ini sudah tak ditemukan lagi setelah 1965, setelah pecahnya G30S.

Bagaimana Anda melihat persepsi orang Batak sekarang ini mengenai hamoraon (kekayaan) sebagai salah satu dari tiga tujuan hidup yang mulia?

Mindset orang Batak tentang hamoraon adalah kekayaan sebagai kekayaan benda semata-mata. Tidak lebih dari itu. Tidak seperti dulu lagi. Sudah tak ada cita-cita di sana. Sikap kita terhadap pendidikan juga sudah mengalami degradasi, karena mau mengejar hamoraon yang material itu. Generasi Batak setelah Nommensen bagus-bagus. Gereja, rumahsakit, dan sekolah maju sampai tahun 1970. Setelah tahun itu orientasi pendidikan adalah uang dan kekuasaan. Pendidikan kita disorientasi, dan itu tak dijaga oleh gereja. TD Pardede masuk ke yayasan Nommensen. Pardede mengubah visi pendidikan karena dia seorang bisnis. Pardedelah, menurut saya, yang telah mengubah visi kita tentang pendidikan. Dialah yang memasukkan bisnis ke dunia pendidikan kita. Sejak itu, orang mulai melihat bahwa pendidikan itu adalah uang, mahal, dan yang mau masuk harus punya uang.

Apakah bisnis tak boleh masuk ke dunia pendidikan?
Menurut saya bukan itu bisnis-nya pendidikan. Pendidikan adalah upaya untuk memanusiakan manusia. Uang, sarana, itu perlu! Tetapi, bukan utama. Saya disuruh mencari uang sekaligus mendidik orang. Bagaimana ini mungkin?! Karena itulah Mahkamah Konstitusi menolak undang-undang badan hukum pendidikan baru-baru ini. Harus diingat, cikal-bakal korupsi adalah diberikannya kedudukan yang terlalu banyak kepada seseorang. Dia melaksanakan fungsi pendidikan, dia mencari uang, dia mengelola uang. Kacaulah!

Anda menentang Orde Baru, apakah Anda anti-kemajuan ekonomi?
Kemajuan ekonomi itu bukan tujuan, dia adalah dampak dari kemajuan pembangunan sumber daya manusia! Batak itu cinta pendidikan. Setelah Orde Baru semua orang berlomba-lomba menjadi orang kaya. Gereja, sekolah, rumahsakit dibuat sebagai tempat mencari duit. Semestinya gereja, sekolah membina karakter manusia. Orang-orang yang berkarakter inilah yang seharusnya memimpin kita. Sekarang ukuran adalah apa mobilnya? Di mana rumahnya…?

Apa yang bisa disumbangkan Batak kepada etnis lain?
Kalau kita berbicara mengenai etnis, kita berbicara keunggulkan Batak yang tidak dimiliki etnis lain. Keunggulan Batak adalah keberanian. Berani bersikap, berani bertanggungjawab. ’Mati…, matilah…’ kata orang Batak. Sementara etnis lain masih harus hitung-hitung. Batak berani mengambil keputusan, bertanggungjawab, berani tidak populer. Pemimpin kita sekarang tak ada yang berani. Keberanian yang kita bicarakan adalah keberanian positif. Bukan keberanian Gayus Tambunan yang telah dimanfaatkan oleh orang lain. Itu jangan ditiru!

Lodewijk Gultom lahir di Pematang Siantar, 20 September 1956. Dia menyelesaikan sekolahnya sampai SMA di kota kelahirannya itu. Lulus fakultas hukum (S1) Universitas Krisnadwipayana, Jakarta, 1981, pascasarjana ilmu hukum (S2) Universitas Padjadjaran, Bandung, 1993, dan S3 ilmu hukum Universitas Indonesia, Jakarta, 2003. *** Hotman J Lumban Gaol


Komersialisasi Merusak Pendidikan
(2)
Oleh: Hotman J Lumban Gaol

I L Nommensen adalah orang yang berjasa untuk memajukan orang Batak, sehingga dia pun disebut Apostel Batak. Nommensen masuk dengan pemikiran pemikiran pendidikan, kesehatan dan agama. Maka dibangun sekolah, rumah sakit dan gereja.

Lodewijk Gultom Rektor Universitas Krisnadwipayana, Jakarta, menyebutkan, gagasan I L Nommensen tentang pendidikan, kesehatan dan agama yang membuat orang Batak maju. Tetapi itu hanya nostalgia, sekarang pendidikan di tanah Batak mundur.

Mengapa seperti itu? “Terjadi kemerosotan derajat orang-orang Batak, terutama di kota besar seperti Jakarta. Hanya gereja dan sekolah yang bisa menyelamatkan ini. Citra orang Batak sudah berubah, meninggalkan jati diri mereka sebagai etnis yang sangat memuliakan pendidikan. Mindset orang Batak tentang hamoraon adalah kekayaan sebagai kekayaan benda semata-mata. Tidak lebih dari itu. Tidak seperti dulu lagi. Sudah tak ada cita-cita di sana. Sikap kita terhadap pendidikan juga sudah mengalami degradasi, karena mau mengejar hamoraon yang material itu,”terang pria kelahiran Pematang Siantar, 20 September 1956, ini.

Bagi dia, generasi Batak setelah Nommensen bagus-bagus. Gereja, rumahsakit, dan sekolah maju sampai tahun 1970. Setelah tahun itu orientasi pendidikan adalah uang dan kekuasaan. Pendidikan kita dis-orientasi, dan itu tak dijaga oleh gereja. TD Pardede masuk ke yayasan Nommensen. Pardede mengubah visi pendidikan karena dia seorang bisnis. Pardedelah, menurut saya, yang telah mengubah visi kita tentang pendidikan. Dialah yang memasukkan bisnis ke dunia pendidikan kita. Sejak itu, orang mulai melihat bahwa pendidikan itu adalah uang, mahal, dan yang mau masuk harus punya uang.

“Pendidikan adalah upaya untuk memanusiakan manusia. Uang, sarana, itu perlu! Tetapi, bukan utama. Saya disuruh mencari uang sekaligus mendidik orang. Bagaimana ini mungkin?! Karena itulah Mahkamah Konstitusi menolak undang-undang badan hukum pendidikan. Harus diingat, cikal-bakal korupsi adalah diberikannya kedudukan yang terlalu banyak kepada seseorang. Dia melaksanakan fungsi pendidikan, dia mencari uang, dia mengelola uang. Kacaulah!”Sekarang, katanya lagi, gereja, sekolah, rumahsakit dibuat sebagai tempat mencari duit. Semestinya gereja, sekolah membina karakter manusia. Orang-orang yang berkarakter inilah yang seharusnya memimpin kita.

Apa yang membuat kemunduran pendidikan di tanah Batak? “Salah satu kesalahan kita adalah sikap menjawab kemiskinan itu salah. Kalau Nommensen itu menyingkapi kemiskinan dengan mendirikan sekolah, rumah sakit dan sekolah. Sedangkan kita lupa mengembangkan itu, malah menyepelekan dan meninggalkan,”ujar lulusan fakultas hukum (S1) Universitas Krisnadwipayana, Jakarta, 1981, pascasarjana ilmu hukum (S2) Universitas Padjadjaran, Bandung, 1993, dan S3 ilmu hukum Universitas Indonesia, Jakarta, 2003.

Lalu, apa hubungan ketiga ini; rumah sakit, sekolah dan gereja? “Coba banyangkan kalau Anda sekolah, Anda sehat dan kemudian spritualistas Anda juga sehat, dan bertambah. Inikan akan memunculkan sumber daya manusia yang diharapkan, dimana-mana kita butuh itu. Kalau otaknya sehat tetapi pisiknya tidak sehat, tidak baik juga. Atau rohaninya baik tetapi otaknya tidak baik kacau juga. Maka ketiganya saling berhubungan pikirannya sehat, fisiknya sehat dan rohaninya sehat maka tentu lahir sumber daya manusia yang berkualitas.”

Kalau sekarang, menurutnya, tren sejak tahun 70-an orang Batak berubah orientasi, menonjolkan pendidikan melupakan gereja dan kesehatan. Maka yang terjadi lahirlah orang-orang yang pintar yang tidak punya karakter yang kuat; maka yang terjadi sekarang kita melihat semangat hedonis yang menguasai kita. Jadi orentasi itu juga didukung oleh filosofi hamoraon, hagabeon, hasangapon, itulah yang dicari.

“Sejak tahun 70-an bahwa pendidikan yang kita tonjolkan adalah pendidikan yang tujuannya uang. Jadi ada kesalahan dalam menyingkapi yang salah. Padahal, itu satu paket pendidikan, gereja dan kesehatan tadi. Kesalahan kita tentu tidak melanjutkan strategi yang dilakukan Nommensen jaman dulu. Gereja itu terpisah dari sekolah. Praktis pendidikan, kesehatan, dan gereja kita tinggalkan.”

Lanjut Lodewijk, memang individu masih memikirkan soal pendidikan. Tetapi orentasi pendidikan, lulus pendidikan tinggi itu adalah uang. Segalanya diukur dari materi yang dia punya. Karena dengan demikian kita mempertontokan kekayaan, yang sebenarnya lari dari esensi pendidikan. Kita suka pamer harta, padahal itu menunjukkan kita tidak terdidik.
“Perubahan filosofi hamoran habagabeon hasangapon itu adalah karena kemiskinan. Hanya saja kita salah menanggapi kemiskinan, kita terpesona dengan kekayaan materi, yang benarnya tidak salah, hanya saja yang terjadi orang berlomba-lomba menunjukkan hartanya sehingga semangat terdidik itu tidak terlihat,” tegasnya.

Jadi apa yang harus dilakukan untuk menjawab ke depan masalah pendidikan? “Saya kita harus menjawabnya dengan reevaluasi strategi tentang mendidikan yang penah kita rasakan dan yang sedang kita laksanakan dan apa yang hendak dilaksanakan ke depan. Jadi itu tadi kesimpulan saya adalah untuk menjawab ketertinggalan, kita harus dengungkan kembali; pendidikan yang baik, lembaga kesehatan yang baik dan tentu terakhir gereja yang baik.”

Lanjutnya, “Kalau ini dikelola niscaya peradaban kita akan cemerlang kembali. Ada pendidikan, ada rumah sakit dan ada lembaga agama yang ter-integritas. Ini bisa menjadi konsep nasional, secara keseluruhan bisa digunakan untuk memperoleh hidup yang lebih baik. Jadi tidak salah juga lembega pendidikan membuat tempat-tempat ibadah di kampus, dan rumah sakit.”

Di masa Nommensen pendidikan maju pesat si zaman itu, mengapa setelah di kita tidak ada kemajuan? “Itulah kesalahannya. Setelah dikasih pada orang Batak ini malah terjadi penurunan. Sampai sekarang ciri orang Batak adalah bagaimana untuk mamora. Jadi korupsi tidak menjadi takut asal mamora. Kita menjadi profit oriented. Apa yang membuat hal ini terjadi? Tentu ini disebabkan proses pendidikan itu dipisah-pisah. Jadi berjalan secara parsial dipisah. Jadi awal carut-marut pendidikan kita adalah karena ketiganya tidak dikelola dengan baik.”

Kita harus tinggalkan tujuan uang dalam pendidikan. Mestinya biaya pendidikan harus murah, bisa terjangkau. Motif uang kita harus tinggalkan. Jangan cinta uang, saya kira memang uang perlu, tetapi jangan karena tidak ada uang kita tidak bisa berbuat apaapa. Apa yang membuat yang salah? “Pemimpin mempertontonkan yang salah. Salah satu yang mereka tunjukkan adalah semangat memperkaya diri dan keluarga. Dan imbasnya hingga ke kalangan bahwa, bahwa yang terjadi adalah apa yang terjadi sekarang mereka hanya menjadi koruptor.”

Salah satu orang yang sederhana dan terus itu terjaga hingga hari tuanya adalah Rosihan Anwar adalah sosok wartawan yang sederhana yang bsa menjaga diri. Dia terkenal tetapi sangat menjaga ingeristsnya, orang seperti Rosihan Anwar yang amat langkah saat ini di negara ini. Semangat protestannisme itu membuatkan itu kita maju “ora et labora” adalah berkerja sambil berdoa.

Bagi Lodewijk, ada pergeseran tentang tujuan hidup. Dulu orang berkata iman, sekarang orang berkata bagaimana kaya, bagaimana memperoleh uang yang banyak. Kalau kita sekarang anak-anak kita kehidupan mereka sudah lain orientasinya, uang menjadi tujuan utama. Kalau dulu orang mementingkan idealisme, kalau sekarang tidak penting hal itu.

Secara nasional pendidikan nasional kita tertinggal jauh. Di bawa Malaysia dan Singapura, negara yang paling kecil dari negara kita. Apa yang salah? “Di kota standard pendidikan kita sudah standard internasional; tetapi tetapi di deareh masih terjadi kesenjangan jauh. Kalau indeks prestasi (IP) sekarang Malayasia 6, Singapura sudah 7. Sedangkan kita masih 5 secara nasional. Kualitas pendidikan kita itu dibawah Vietnam. Vietnam sudah masuk dalam kategori kualistas 5-6.

Kita masih di level lima, dan naikknya susah. Jadi pengelola pendiddikan kita tidak perbah berdasarkan pendidikan yang ada. Dulu kita usulkan 25 dari APBN kita disisikan untuk pendidikan, padahal maksud kita. Membangun sekolah di nusantara ini harus standard. Yang paling gila sekarang pendidkan sekarang sangat malah. Dan tidak bisa diakses semua orang, harusnya semua orang berhak atas pendidikan.

Lalu, apa resep pendidikan yang paling baik? “Membangun semangat belajar itu kan pondasi keluarga. Persoalan kita sekarang pendidikan diberikan pada lembaga pendidikan. Strategi pendidikan untuk menghindari kesenjangan itu adalah pondasinya di keluarga. Kalau keluarga tidak mampu memberikan pemahama basic berpikir, cara memandang dunia maka sebagus apa pun pendidikan formal yang ditempuh akan tetap ada yang kurang jika tidak dibangun dari keluarga.***Hotman J Lumban Gaol

Duddi Sinaga


Duddi Sinaga SIP
Kemajuan Daerah Tergantung Infrastrukturnya

Duddi Sinaga

Camat Sikakap, Mentawai Duddi Sinaga baru pertama kali menjabat sebagai camat, tapi dia sudah biasa dengan organisasi karena pernah menjabat sebagai Plt Kabag Organisasi di Kantor Bupati Kepulauan Mentawai. Berikut bincang-bincangnya dengan Supri Lindra dari Puailiggoubat.

Sejak kapan Anda menjadi camat Sikakap?

Sejak tanggal 19
Januari 2009 lalu, langsung dilantik oleh Bupati Kepulauan Mentawai Edison Seleleubaja.

Sebelumnya bertugas di mana?

Sebelum jadi camat saya menjabat Pelaksana Tugas Kabag Organisasi di Kantor Bupati Kepulauan Mentawai.

Sejak ditunjuk menjadi Camat Sikakap desa-desa mana saja yang telah Anda kunjungi ?

Sejak ditunjuk menjadi Camat Sikakap tugas utama saya adalah memperkenalkan diri kepada masyarakat melalui kunjungan – kunjungan ke setiap desa yang di bawah naungan Kecamatan Sikakap. Kunjungan pertama saya yang ditemani Sekretaris Camat Sikakap Rusli Sakoikoi diadakan 12 Februari lalu ke Desa Matobe. Di situ diadakan temu ramah dengan masyarakatnya di Gereja GKPM Matobe. Selanjutnya saya berkunjung ke dusun – dusun yang ada di Desa Matobe seperti Dusun Polaga, Dusun Magaugau, Dusun Sarere dan Dusun Katunang.

Kunjungan kedua diadakan tanggal 21 Februari lalu di Dusun Bulag Monga, Desa Taikako dan tentu Desa Sikakap tidak ketinggalan, dalam rangka perkenalan dengan masyarakat sekaligus melihat hasil kerja proyek P2D anggaran 2008 dan PNPM – MP.

Selain perkenalan dengan masyarakat kunjungan itu Anda gunakan untuk kegiatan apa?

Kunjungan tersebut saya gunakan untuk melihat proyek P2D yang di danai Pemkab dan dikerjakan tahun 2008 lalu, selain melihat proyek P2D saya juga menggunakan kesempatan itu untuk melihat jalan di Dusun Katunang dan jalan di Dusun Sarere Desa Matobe yang dilaksanakan melalui dana dari Program Nasional Pemerdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan ( PNPM – MP ) anggaran 2008. Itu pula yang saya lakukan di Desa Sikakap dan Desa Taikako .

Menurut Anda apakah Proyek P2D dan PNPM – MP bisa meningkatkan perekonomian masyarakat ?

Dengan adanya proyek P2D dan Program PNPM – MP secara tak langsung telah membantu pemerintah untuk membuka jalan antar dusun dan jalan antar desa dengan adanya jalan antar dusun dan jalan antar desa sehingga masyarakat dapat melakukan perjalanan dengan mengunakan transportasi darat seperti sepeda motor, selama ini cuma bisa ditempuh dengan mengunakan transportasi laut seperti speed boat atau sampan dayung, dengan adanya jalan darat akan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat sebab masyarakat dapat menjual hasil perkebunannya dengan setiap saat, contohnya sekarang Dusun Cimpungan, Desa Matobe kalau masyarakatnya mau menjual hasil perkebunannya sekarang sudah bisa kapan mereka mau sebab sudah bisa dengan sepeda motor, yang jalas untuk tahun 2009 ini kita masih menjadikan proyek P2D dan PNPM – MP sebagai prioritas utama dalam pelaksanaan pembangunan, baik itu di tingkat desa maupun di tingkat dusun, apalagi sekarang untuk anggaran 2009 PNPM – MP kecamatan Sikakap mendapatkan bantuan sebesar Rp2 milyar melalui APBN Pusat.

Untuk meningkatkan kinerja staf Kecamatan Sikakap langkah apa saja yang akan Anda lakukan dalam meningkatkan kinerja staf?

Kebetulan sekarang ini di Kantor Camat Sikakap saya ditunjuk oleh Bupati Kabupaten Kepulauan Mentawai sebagai pemekang tampuk pimpinan yang dituakan selangkah dari staf-staf lainnya, tapi ini tidak membuat saya menjadi besar kepala karena ini adalah beban berat bagi saya terutama sekali masalah tanggungjawab pekerjaan, maka dalam bekerja saya selalu menanamkan prinsip kekeluargaan dan saling menghormati sesama staf dan camat dengan stafnya, dalam bekerja saya mengharapkan kerja sama yang baik antar staf sebab menurut saya aparat camat adalah suatu tim yang harus saling tolong menolong dalam melaksanakan pekerjaan.

Masalah disiplin bagaimana?

Sesuai dengan kesepakatan Camat Sikakap dan staf Kecamatan Sikakap maka disepakati masuk kerja setiap hari Senin sampai Jum’ at masuk pukul 08.00 wib dan pulang pukul 15.00 wib, istirahat pukul 12.00 dan masuk kerja lagi pukul 13.00, kecuali hari Jum’at istirahat pukul 11.30 wib dan masuk kerja lagi pukul 14.00 wib, sementara pulangnya tetap seperti jam kerja biasa yakni pukul 15.00 wib siang.

Kalau ada staf kecamatan yang melanggar kesepakatan ini sanksi apa yang akan Anda berikan?

Bagi staf yang melanggar kesepakatan ini maka sanksi utama adalah teguran yang dilakukan langsung oleh Sekretaris Camat Sikakap, kalau teguran pertama tidak diindahkan maka sekcam memberikan teguran kedua, seandainya juga tidak diindahkan maka camat akan membuat teguran secara tertulis kepada staf tersebut, seandainya juga tidak diindahkan maka terpaksa Camat Sikakap membuat surat ke Kantor Bupati Kepulauan Mentawai yang menangani masalah kepegawaian dan surat tersebut akan ditembuskan langsung ke Bupati Kabupaten Kepulauan Mentawai, selanjutnya merekalah yang menentukan sanksi apa yang akan diberikan kepada staf yang bandel tersebut apakah akan dikenai sanksi administrasi seperti pemotongan uang tunda atau tidak diberikan sama sekali.

Menurut Anda pembangunan apa yang harus dilaksanakan terlebih dahulu di ke Kecamatan Sikakap?

Menurut saya yang harus dilaksanakan terlebih dahulu adalah jalan tembus antar desa, dusun dan jalan tembus ke ibu kota kecamatan, kalau udah ada jalan tembus maka perhubungan akan lancar, sehingga setiap informasi yang berkembang akan cepat diterima masyarakat, untuk mencapai tujuan ini selain proyek P2D dan PNPM-MP, kita akan langsung berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai terutama sekali Dinas Pekerjaan Umum (PU).

Sesuai dengan pengalaman selama ini setiap proyek yang masuk ke Kecamatan Sikakap terutama sekali proyek yang dilaksanakan oleh kontraktor selalu mengalami masalah, terutama masalah ganti rugi lahan sehingga sering mengakibatkan proyek tersebut terpaksa dihentikan. Seandainya hal ini Anda alami langkah apa yang akan Anda lakukan dalam menyelesaikan persoalan ini?

Seandainya hal ini terjadi maka saya akan mengajak Muspika lainya seperti Kapolsek Sikakap, Danramil Sikakap dan tentu mengikutkan pemerintah desa sebab yang tahu wilayah desanya adalah kepala desa dan stafnya untuk dapat membantu saya dalam menyelesaikan masalah ini, kalau masalahnya bersangkutan dengan kriminal maka akan kita serahkan masalah ini ke Mapolsek Sikakap, tapi kalau masih bisa diselesaikan dengan cara kekeluargaan maka akan kita selesaikan secara musyawarah, tapi seandainya tidak bisa maka akan diambil jalur hukum sesuai dengan hukum yang berlaku.

Apa harapan Anda terhadap masyarakat Kecamatan Sikakap?

Pembangunan di Kecamatan Sikakap tidak akan berjalan dengan baik kalau tidak ada dukungan dari masyarakat, untuk itu saya sebagai Camat Sikakap sangat berharap sekali agar seluruh masyarakat Kecamatan Sikakap mau bekerjasama dalam melaksanakan pembangunan, kesejahteraan dan keamanan, kalau semua ini dapat terwujud yang akan menikmati hasil pembanguan, kesejahteraan dan keamanan kan kita bersama, dengan terciptanya keamanan di masyarakat tentu setiap investor yang ingin masuk ke Kecamatan Sikakap akan merasa tenang dan tidak was – was menanamkan modalnya.

Harapan Anda terhadap Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai?

Saya sangat berharap sekali dukungan dan perhatian dari Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai terutama sekali masalah pembangunan, karena sekarang ini masyarakat Mentawai umumnya, khususnya masyarakat Kecamatan Sikakap, sangat mengharapkan pembangunan di segala bidang, baik pendidikan, kesehatan, ekonomi maupun pembangunan yang berbentuk fisik seperti pembuatan jalan tembus.

Pengalaman Anda dalam melakukan kunjungan pertama sebagai Camat Sikakap?

Dari kunjungan pertama yang saya lakukan di Desa Matobe masyarakat sangat senang, buktinya baru saja mendapatkan informasi dari kepala desa atau kepala dusun tentang kedatangan kami, masyarakat udah berbondong – bondong datang ke Kantor Desa Matobe, bahkan ada yang menunggu di dermaga. Melihat antusiasme masyarakat terhadap kunjungan perdana kami, saya akan sering – sering melakukan kunjunagan kedesa – desa atau dusun – dusun di wilayah Kecamatan Sikakap. (supri)

Biodata

Nama: Duddy Sinaga Sip.

Tempat/Tanggal Lahir: Pematang Siantar/ 20 Februari 1974

Pendidikan: S1 Universitas Diponegoro Semarang, Jawa Tengah.

Pekerjaan: Camat Sikakap.

Alamat : Komp Perumahan Camat Sikakap, Dusun Sikakap Timur, Desa Sikakap.

Nurmala Kartini Panjaitan


Kartini Sjahrir: Bangga Terlahir Sebagai Boru Batak…

Kartini Sjarier Panjaitan

Nurmala Kartini Panjaitan atau yang sering dikenal dengan nama Kartini Sjahrir, dengan jelas menyatakan bahwa salah satu harapannya dengan menjadi seorang Ketua Umum Partai adalah untuk dapat lebih memberdayakan kaum perempuan di Indonesia. Menjadi seorang presiden tidak kerap diucapkannya sebagai salah satu impiannya. Ketika ditanyakan secara langsung, Kartini berkata ia tidak punya ambisi untuk menjadi Presiden.
Secara tegas, ia berkata pula bahwa ia kerap berusaha agar anggota legislatifnya dan para anggota Partai Indonesia Baru (PIB) selalu menggunakan akal sehat dalam menjalankan kegiatan mereka masing-masing. “Melalui PIB, saya juga ingin bisa menyuarakan soal-soal keadilan, pluralisme, pemberantasan korupsi secara lebih efektif,” ungkapnya. “Harapan saya ketika menerima jabatan Ketua Umum PIB adalah agar lebih banyak perempuan berkiprah di politik, yang selama ini dianggap teritori kaum laki-laki,” kata tokoh yang kerap dipanggil Ker oleh para sahabat dan kerabatnya.
Partai Indonesia Baru sendiri awalnya dipimpin oleh suaminya Dr. Sjahrir, almarhum. Kartini kemudian dipilih sebagai Ketua Umum yang dipercaya dapat memimpin dan mengarahkan PIB kembali sepeninggal Sjahrir.
“Pak Sjahrir adalah orang yang amat moderat dan pluralis,” kenangnya. “Beliau itu mentor saya, sambungnya lagi. Menurut kisahnya, sejak bertemu semasa menjadi mahasiswa di Universitas Indonesia, Sjahrir dan dirinya langsung saling menemukan kecocokan, dan dalam berbagai hal selalu saling melengkapi. “Saya ini banyak belajar dari Pak Sjahrir soal-soal ekonomi, juga politik, dan sebaliknya beliau juga banyak belajar dari saya mengenai budaya.”
Menikah dengan Sjahrir selama kurang lebih 31 tahun, baginya juga menjadi proses perjalanan panjang untuk kemudian memutuskan berkiprah di dunia politik.
Sehari-harinya Kartini sekarang ini tinggal sendirian di rumahnya, di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Tetapi, menurut pengakuannya ia jauh dari rasa kesepian, karena banyaknya kesibukan sebagai Ketua Umum. Belum lagi banyaknya kerabat yang mengunjunginya meski sudah ditinggal suaminya, Dr. Sjahrir.
Ketika ditemuai, suasana kediamannya terasa ramai. “Ini salah satu warisan beliau. Dia paling senang dengan suasana rumah yang ramai,” ucapnya ramah. Secara berseloroh, Kartini menyatakan bahwa dalam beberapa hal Sjahrir sering dikatakan lebih Batak daripada dirinya sendiri. Sifatnya yang terbuka, senang mengobrol, bicara meledak-ledak, musikal, senang manortor, dan suka keramaian, yang cenderung mencirikan orang Batak. Ungkap Kartini: “Beliau sempat diadatin pula, marganya dalam Batak adalah Marpaung,” kata Kartini mengenang.
“Kami menikah selama 31 tahun, and it was a very happy marriage…” Kartini mengatakan dia memang ingin dikenal sebagai Kartini Sjahrir, sebagai bentuk hormat dan bakti pada almarhum suaminya.
Meski Pandu dan Gita, kedua putra dan putri pasangan Kartini-Sjahrir, kini tinggal dan hidup di Amerika Serikat, Kartini kerap menyatakan bahwa ia dan Sjahrir tidak pernah lupa mengingatkan soal budaya dan asal-usul mereka sebagai anak-anak bangsa Indonesia.

Anak-anak global
Kartini mengatakan, meski almarhum suaminya berasal dari suku bangsa Minang dan dirinya Batak, di antara keduanya tidak pernah ada bentrokan khusus dalam hal budaya. Tak ada pertentangan dalam masalah garis keturunan. Maklum, kita semua tahu, katanya, suku Minang memiliki sistem kekerabatan matrilineal, dan sebaliknya Batak dengan sistem patrilineal.
Tidak penting buat Kartini dan Sjahir bahwa anak-anak akan punya garis keturunan dari mana. Keduanya menyebut anak-anak tersebut sebagai anak-anak global, yang tetap tidak boleh lupa akan budaya asal mereka. “Yang penting, budaya itu harus diambil baranya bukan debunya,” katanya.
Di dalam kehidupan sehari-hari, Kartini pula menyatakan ia biasanya berbahasa Inggris dengan kedua putra-putrinya yang kini tinggal di New York, Amerika Serikat. “Bukan untuk bergaya, hanya saja kebiasaan yang sulit ditinggalkan,” katanya renyah. Sejak menuntut ilmu untuk meraih S2 dan S3, Kartini dan Sjahrir lama bermukim di Amerika Serikat, sampai kedua anak mereka lahir dan kembali menimba ilmu di tempat yang sama. Namun uniknya, menurut Kartini ia lebih fasih menggunakan bahasa Batak ketika sedang berada dalam puncak kemarahan. “Rasanya keluar saja dari mulut saya, dan biasanya anak-anak saya sudah mengerti saya marah kalo saya sudah pakai bahasa Batak” jelasnya sambil tersenyum.
Kartini berkali-kali mengatakan ia bangga terlahir sebagai seorang Batak. Pembawaan orang Batak yang merdeka, straight forward, haus ilmu dan senang tantangan, dan ini semua mendorong ke arah kemajuan. Tapi, menurut dia, ada satu hal yang menjadi kelemahan orang Batak yang membuatnya sering kalah. “Orang Batak itu kurang suka melayani, karena pride-nya yang cenderung tinggi,” keluhnya. Ini berpengaruh pada Batak dan wilayahnya yang kemudian kurang dikenal luas sebagai daerah yang ramah apalagi menjadi tujuan wisata. “Antara lain karena prinsip kau yang datang kau yang menyesuaikan tersebut,” ungkap Kartini, yang membuat Tanah Batak kurang pesona keramahan. Kartini sangat menyayangkan hal ini dan menurutnya sikap semacam ini seharusnya dikikis, sebab, orang Batak sesungguhnya sudah cukup punya potensi tinggi untuk selalu maju dalam hidup mereka.
Sebagai Ketua Umum PIB, Kartini juga berkegiatan mengawasi anggota legislatifnya hingga ke daerah-daerah, terutama menjaga agar tidak terjadi penyelewengan di kalangan wakil daerah tersebut, khususnya dalam hal korupsi.
Korupsi, baginya, adalah hal dasar yang sudah harus diberantas dari dalam tubuh bangsa ini. “Pak Sjahrir banyak menulis tentang korupsi, yang katanya sudah menjadi kanker taraf terminal.” Kartini lalu mengenang yang juga pernah sekali mengutip Bung Hatta yang menyatakan bahwa korupsi sudah menjadi ”budaya” bangsa kita ini. Maka jelas, korupsi adalah masalah yang harus mendapat perhatian khusus, agar kemudian ia tak berkembang menjadi keyakinan bangsa yang mengakar. Kartini juga memberlakukan hal yang cukup keras, yaitu langsung memberhentikan anggotanya dari tugas sebagai wakil rakyat, jika ada anggota legislatif dari PIB yang tercium melakukan korupsi. “Segamblang itu, dan saya sudah sosialisasikan ini sejak awal,” kata tokoh yang bangga disebut sebagai Boru Batak ini.
Hal kedua yang juga penting adalah perhatian terhadap lingkungan hidup. Orang Indonesia, terutama yang di daerah, seringkali lupa peduli pada lingkungan. Ini sesungguhnya bisa dimulai dari rumah, dan itu bersumber dari ajaran sang Ibu juga.

Posisi yang sejajar
Merespon masalah perempuan dan budaya yang berkaitan dengan mitos bahwa perempuan harus berada ”di belakang,” Kartini terang-terangan menampiknya. Sesungguhnya, semua budaya, khususnya di Indonesia, tidak ada yang menuliskan bahwa perempuan itu tak boleh melakukan ini dan itu. Menurutnya, apa yang diatur dalam adat istiadat serta tradisi budaya di Indonesia, semuanya menempatkan perempuan dalam posisi yang sejajar dengan lelaki. Lelaki punya tugas tersendiri, perempuan pun sama, tidak lebih dan tidak kurang.
Banyak orang sering berlindung di balik sistem semacam patriarki dan matriarki untuk mendefinisikan porsi dan posisi perempuan dalam adat. Namun, menurut Kartini ada kesalahan ketika membaca soal ini. “Patriarkat atau matriarkat semata-mata hanya masalah garis keturunan,” tegasnya. Dan seharusnya ada pemahaman bahwa seorang ibu, seorang wanita, punya peran kuat dalam mengarahkan keluarga serta anaknya, karena ia yang sehari-harinya mengatur kehidupan di dalam rumah. Ini berlaku di mana pun, bahkan di Budaya Batak, yang lagi-lagi sering ditafsirkan sebagai budaya yang lebih mementingkan laki-laki dalam berbagai tradisi adat istiadatnya. Menurutnya, justru seorang perempuan Batak, terutama yang telah menjadi seorang ibu, amat memahami perannya yang tersendiri sebagai si pengarah hidup.
Kartini amat peduli pada masalah ini, sampai-sampai ia menuangkannya dalam tesis S1-nya di Fakultas Antropologi Universitas Indonesia, sebelum kemudian melanjutkan pendidikan ke Boston University, Amerika Serikat, untuk menggapai gelar S2 dan S3.
Di dalam tesisnya, Kartini menelaah bagaimana pola pengasuhan wanita Batak berdampak pada pendidikan anak. Di dalam tesis tersebut, Kartini mengungkapkan bagaimana seorang wanita Batak mengusahakan pendidikan demi anaknya, dan rela melakukan apa pun, termasuk berdagang di pelabuhan atau pun persinggahan-singgahan tertentu. Suatu kehidupan yang terlihat sebagai kehiduapn yang amat keras kalau dilihat dari kebiasaan suku bangsa yang lain. Mereka dikenal luas sebagai Inang parengge-rengge. Inang parengge-rengge sendiri, sudah tak ayal, sering dipandang sebelah mata, serta sering terkesan sebagai ibu yang kurang baik, karena dianggap menyalahi kodrat sebagai perempuan yang notabene harus lembut, berada di rumah, dan lain sebagainya. Kartini justru memahami mereka sebagai wanita mandiri, kuat, tidak cengeng. “Karena kerasnya hidup, dia pasti akan lakukan apa pun untuk meningkatkan kualitas hidup dari anak-anaknya lewat pendidikan,” katanya mengulas. Karena hal ini pula, Kartini menyebut perempuan Batak sebenarnya sudah maju selangkah, karena rata-rata diasuh oleh seorang ibu yang demikian pedulinya pada pendidikan sang anak. “Saya pikir, perempuan Batak punya kearifan lokal tersendiri,” katanya sebagai hasil renungannya.
Sebagai salah seorang perempuan yang memiliki peran politik, Kartini berkata bahwa meski kini zaman sudah berubah, perempuan-perempuan masih sering terbatas dalam menentukan pekerjaan atau pun jalan hidupnya. Pandangan semacam ini sudah harusnya ditinggalkan oleh manusia yang mengaku sudah hidup modern.

Kejadian Mei 1998

“Perempuan itu sering dikenai standar ganda,” katanya lirih. Di satu sisi ia diagung-agungkan, di sisi lain ia sering dilemahkan. Padahal, sudah jelas sekali perempuan dan lelaki itu diciptakan Tuhan untuk saling melengkapi, katanya lagi. Dalam berperan sebagai Ketum PIB, Kartini tidak segan-segan bersikap keras, bahkan mengganti anggota Partainya yang duduk di DPRD, yang diketahui memiliki dua istri. Ini, katanya adalah hak prerogatifnya sebagai sang pemimpin. “Menjadi anggota legislatif artinya menjadi milik masyarakat. Anda harus berlaku sebaik-baiknya.” Menurutnya poligami berdampak terhadap kesempatan untuk melakukan korupsi. “Punya istri satu saja cenderung korupsi, apalagi harus menghidupi dua rumah tangga,” katanya pasti.
Kartini sejak lama sudah mengkhawatirkan masalah-masalah perempuan semacam ini, dan menjadi salah seorang pendiri Suara Ibu Peduli, sebuah forum yang peduli terhadap problem hak-hak asasi perempuan yang seringkali diabaikan. Dia juga sekaligus menjadi pemerhati lingkungan hidup.
“Kejadian Mei 1998, misalnya, adalah tragedi memilukan yang bisa dialami seorang perempuan Indonesia,” katanya. Meskipun nantinya kasus tersebut akan sulit diusut atau diungkap tuntas, Kartini menyatakan bahwa peristiwa semacam itu sangat memalukan dan tak boleh terulang. Dan kita (perempuan) sendirilah yang harus ada di garis depan untuk mengingatkan hal semacam ini.
Meski demikian, Kartini yakin pula, bahwa perubahan sudah mulai terjadi. Di sana sini, perbaikan mengenai peranan perempuan sebagai manusia yang sejajar dengan lelaki, sudah semakin tumbuh. “Bukti kecilnya, saya sebagai perempuan juga bisa menjadi Ketua Umum Partai.”
Bercermin pada Kartini Sjahrir, maka sSelebihnya di tangan kaum perempuan sendiri untuk mamahami siapa dirinya dan apa yang sanggup dilakukannya. Sebab, kepercayaan diri dan gambaran tentang perempuan haruslah dibangun oleh mereka sendiri. “Kalau bukan kita (perempuan) siapa lagi?” ungkapnya sambil tersenyum lebar, seraya menunggu dunia di luar dirinya untuk membenarkan sikap yang telah dia ambil dan jalankan dengan penuh keyakinan, baik ketika Sjahrir masih mendampinginya maupun ketika dia harus tegak sendiri seperti saat ini, yang hanya dituntun oleh sebuah cita-cita untuk kemuliaan kaumnya: perempuan dan Batak pula… *** Ariani Zarah Sirait, pernah dimuat di majalah TAPIAN

Maruarar Sirait


Nama: Maruarar Sirait, S.IP.

Maruarar Sirait

Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (F- PDIP)
Daerah Asal Pemilihan dari Jawa Barat 8
Komisi xi

Alamat:
Jl. Jenderal Gatot Subroto, Jakarta Pusat
A. DATA PRIBADI
Tempat & Tanggal Lahir: Medan, 23-Desember-1969
Agama Kristen
Nama Istri Shinta Triastuti
Pekerjaan Istri: Ibu Rumah Tangga
Anak:2 (dua) Orang
Ayah: Sabam Sirait (Politikus dan Fungsionaris PDI Perjuangan)
Kakak Ipar: Putra Nababan (Wakil Pemimpin Redaksi RCTI)
Alamat Kantor: Gd. DPR/MPR RI Nusantara I Lt. 07 R. 0705 Jl. Gatot Subroto Jakarta
Telpon,Fax Kantor: 5756032, 5756035, 5756243, 5715516, Fax. 5756244
Alamat Rumah: 1 Jl. Depsos I No. 34 RT. 008/01 Bintaro Pesanggrahan Jakarta 12330
2 Komp.Taman Puspa Indah Jl.Puspita Utara No.14 Bandung
Telpon,Fax Rumah: 5756244

Riwayat Pendidikan:
1. SD PSKD VI Jakarta, 1982
2. SMPK Ora Et Labora, Jakarta
3. SMA Negeri 47
4. Fisip Unpar bandung

Riwayat Pekerjaan:
1. Manager KKBM Unpar Bandung
2. Komisaris Utama PT.Potenza Sinergi

Pengalaman Organisasi:
1. GMKI Cabang Bandung
2. Resimen Mahasiswa Unpar Bandung
3. Wk.Bendahara PDIP Jabar 1999-2000
4. Bendahara DPD PDIP Jabar 2000-2005
5. Wakil Bendahara Fraksi PDIP di DPR

Jumalah Kekayaan pada saat mencalonkan DPR RI
1. Harta Tidak Bergerak: Tanah dan Bangunan Rp. 247.515.000
2. Harta Bergerak: 1 Mobil Rp. 45.000.000
3. Batu dan Logam Mulia Rp. 49.700.000
4. Surat Berharga Rp.165.000.000
5. Giro dan Kas Setara lain Rp.831.400.000
Total Kekayaan Rp. 1.338.615.000

Tolak Dikotomi Capres Tua dan Muda

Saat ini kita mengalami krisis tokoh muda.  Hanya sedikit jumlah tokoh muda yang konsisten mengusung semangat kebangsaan dalam perjuangannya, sementara yang jumlahnya banyak justru mereka yang oportunis. Salah satu yang disebut-sebut pengusung panji kebangsaan adalah Maruarar Sirait, anggota DPR-RI dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). “Saya kira, untuk memperjuangkan kebangsaan kita harus memilih teman yang tepat,” ujarnya.

Walau seorang Kristen, Pria kelahiran Medan, 23 Desember 1969 ini tetap berani memilih daerah asal pemilihan Jawa Barat 9 yang 90% penduduknya adalah penganut agama Islam. Baginya seluruh tanah nusantara ini adalah kampung kita bersama. Ketua Laskar Merah Putih dan pengurus pusat PDIP ini ingin konsentrasi penuh mengurus partainya. Untuk itu Maruarar sudah meminta kepada sang ketua umum untuk mundur dari anggota DPR dan hanya ingin konsentrasi di partai saja, membangun konsolidasi partai. Beberapa waktu lalu, politikus muda yang disebut orang bersinar ini, berbicang-bincang dengan wartawan Hotman J Lumban Gaol. Demikian petikannya:

Sampai saat ini kelihatannya PDIP masih solid mendukung Megawati Soekarnoputri sebagai calon presiden. Apakah PDI Perjuangan tidak berniat mencalonkan yang muda?
Kami (PDIP) menolak dikotomi capres tua dan muda. Apa artinya muda kalau tidak berkualitas dan tidak memiliki visi. Kami mendukung Megawati maju antara lain, karena survei-survei masih menempatkan Megawati di posisi teratas. Misalnya, survei LSI dan Indobarometer, hasilnya, Ibu Mega nomor satu. Soal usia Mega yang dinilai sudah terlalu tua, saya kira beliau aktif terus. Bulan lalu Ibu Mega safari ke Jawa Tengah, Kalimantan, Jawa Barat, naik bus lima jam ke Cirebon, dan kondisi beliau tidak ada masalah. Itu artinya secara fisik beliau masih sangat sehat.

Soal Century. Di mata masyarakat kasus Century sampai saat ini belum tuntas,  tidak ada tanda-tanda pernyelesaian. Ada yang mampet?
Kita konsisten soal penanganan kasus Century. Dari DPR sudah jelas, kita sudah putuskan opsi C. Setiap pemilihan ketua KPK yang baru ini selalu kita ingatkan. Hanya saja, DPR tidak bisa mengintervensi secara hukum. Mengawasi boleh. DPR tidak boleh menangkap orang, itu otoritas bagian hukum. Tetapi sejak semula kami, DPR, saya sendiri melihat hal ini ada yang salah. Kita sudah pada posisi opsi C, sementara pemerintah pada opsi A. Maka, tentu tidak akan ada titik temu. Karena dua-duanya punya pandangan yang berbeda. Saya kira kasus ini luar biasa, tidak ada kasus seperti ini di Indonesia sampai dua kali diaudit. Yang meminta pertama kali audit itu bukan DPR, tetapi KPK. Tidak ada kasus yang punya dimensi politik sekuat kasus Century. Kita sudah jelas opsi C, bukan abu-abu. Tetapi yang jelas kita tidak boleh mengintervensi hal ini. Yang tidak jelas sekarang siapa? Saya kira DPR jelas posisinya.

Ada Partai pendukung pemerintah yang berharap kasus ini ditutup saja?
Apakah KPK ingin menutup kasus ini. Tutup saja. KPK sampai saat ini belum berani membuat keputusan. KPK tidak pernah mengatakan tidak menemukan, tetapi belum menemukan indikasi pelanggaran, itu berbeda sekali. Kasus Century ini sekarang mampet di KPK.

Sebagai partai oposisi akan terus mengawasi hal ini?
Kita mengawal penanganan kasus tersebut secara tuntas. Mengawal perjalanan rekomen-dasi paripurna sama pentingnya dengan memperjuangkan opsi C. Namun, saat ini penanganannya lebih fokus, karena sudah berada di tangan KPK, Kepolisian dan Kejaksaan. Saat terbentuknya Pansus, konsistensi DPR sempat diragukan, mengingat, 80 persen parlemen dikuasai oleh koalisi. Namun, DPR berhasil menunjukan sikap yang sesuai dengan aspirasi rakyat. Sekitar 60 persen anggota dewan memilih opsi C, yang berarti ada undang-undang yang dilanggar, khususnya terkait perbankan, tindak pidana korupsi dan pencucian uang. Pansus juga menyebutkan beberapa pihak yang terkait, di antaranya, Wakil Presiden Boediono dan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Maka, upaya untuk menuntaskan kasus tersebut memiliki arti penting, yakni membuktikan bahwa proses hukum berlaku terhadap semua pihak dan tidak tebang pilih.

Arti kebangsaan untuk Anda?
Kami di partai menyebutnya perlu ada ideologi. Saya bayangkan pada 28 Oktober 1928, berbagai pemuda menyatakan komitmen bersama satu bangsa, satu tanah air, dan satu bahasa. Pemuda dari berbagai suku, agama yang berbeda tetapi bisa berkumpul. Tekat yang sama, bukan karena agamanya yang sama, tetapi karena tujuan yang sama. Maka hal itu yang menjadi dasar yang dikerucutkan ke dalam hal-hal yang mengikat kita seperti Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Dan sekarang bagaimana ini disosialisasikan pada masyara-kat, ini tergan-tung elitnya. Di sinilah akan ter-lihat pemimpinan yang nasional. Dan bagaimana dia menghadapi saat terjadi ge-sekan, apakah dia mencari aman saja, ini penting kita ketahui.

Semangat menghargai keberagaman sepertinya luntur….
Beberapa waktu lalu saya kebetulan datang ke Toba Samosir (Tobasa) untuk melantik pemuda. Pas pelatikan mendengar azan magrib, saya katakan bagi pemuda-pemuda di sana, kita harus mampu memberikan rasa aman bagi saudara-saudara kita beragama Islam, yang minoritas. Orang Kristen juga harus menjunjung tinggi pluralisme dan kebhinekaan.

Saya seorang Kristen-Batak yang segaja memilih daerah pemilihan saya di daerah Sumedang dan Majalengka. Saya sudah dua periode menjadi wakil dari daerah yang mayoritas Muslim. Saya pikir kalau seluruh orang Batak harus pulang kampung untuk mencalokan diri dari daerahnya, menurut saya bukan itu Indonesia yang kita capai. Semua dari Sabang sampai Marauke adalah kampung halaman kita. Maka, saya kira kita harus bisa menjadi pelolor-pelopor soal kebinekaan. Kita harus ciptakan kader muda yang punya wawasan nasional dalam membangun bangsa Indonesia. Sejak dulu bahwa mengusung kebhinekaan, se-mangat kebangsaan ini harus diperjuangkan. Kita harapakan adalah kelompok yang pro kebangsaan dan kebhinekaan itu harus makin kuat.

Soal kebhinekaan, polemik GKI Yasmin sampai saat ini belum menemukan solusi. Walikota yang mencabut izin GKI Yasmin adalah walikota yang diusung oleh PDIP?
Semangat Pancasila itu harus terus disosialisasikan. Pancasila harus juga disampaikan di daerah-daerah yang belum Pancasilais. Soal walikota itu, kami sudah tarik dukungan. Maka, ke depan kita akan selektif memilih pemimpin kepala daerah.

Masalah GKI Yasmin di Bogor telah menjadi perhatian kami khusus. Melalui DPC PDI Perjuangan Kota Bogor telah mencabut dukungan politik terhadap walikota Kota Bogor, Diani Budiarto, karena dianggap mengabaikan keputusan hukum. PDI Perjuangan menjadi satu-satunya partai di DPRD Kota Bogor yang mencabut dukungan politik terhadap Walikota. Rakernas juga mengamanatkan DPP PDI Perjuangan untuk memerintahkan Fraksi PDI Perjuangan DPRD Provinsi, Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia agar tetap konsisten membela dan menjaga terciptanya kerukunan umat beragama.

Lalu, soal perbaikan toilet di gedung DPR bagaimana pendapat Anda?
Saya sejak dulu menolak hal-hal seperti ini. Saya harus bertengkar dengan teman sendiri. Pembangunan gedung DPR saja saya menolak, apalagi masalah renovasi toilet yang diperkirakan menghabiskan biaya yang sedemikian banyak. Kita tolak hal itu.

Tere Pardede


Nama lengkap Theresia Ebenna Ezeria Pardede, dikenal dengan nama

Tere paredede

Tere. Tere lahir di Jakarta, 2 September 1979. Tere adalah penyanyi Indonesia. Putri pasangan T.M Pardede dan Lersiana Purba itu dikenal mempunyai karakter vokal yang kuat dan kemampuan menulis lirik lagu yang berani. Ia adalah anggota DPR periode 2009-2014 dari Partai Demokrat untuk Daerah Pemilihan Jawa Barat II.

Mengawali kariernya sebagai penyanyi latar berbagai grup musik, sampai kemudian bakatnya disadari oleh Ahmad Dhani. Namanya mulai dikenal sejak berkolaborasi bersama Pas Band dalam lagu Kesepian Kita. Album perdananya bertajuk “Awal Yang Indah” langsung melejitkan namanya. Dalam album tersebut Tere tak saja berdendang, namun juga terlibat penuh sebagai penulis lirik dan lagu. Tere semakin mengukuhkan karirnya di dunia musik Indonesia setelah merilis album keduanya berjudul “Sebuah Harapan”, di akhir tahun 2003.

Tahun 2005, Tere merilis album ketiganya, “Begitu Berharga”. Tere menggamit Denny Chasmala sebagai produser album ketiganya, sedangkan dirinya berkonsentrasi sebagai ko-produser. Dalam album ini ada satu lagu lama karya Ian Antono dan Taufik Ismail, Panggung Sandiwara, yang didaur ulang.

Meski sibuk mempromosikan albumnya, penyanyi berdarah Batak ini akhirnya dapat menyelesaikan kuliahnya di program S1 Ekstensi Komunikasi Periklanan Universitas Indonesia dan diwisuda pada tahun 2005. Tere yang juga telah menyelesaikan studi di D-III Komunikasi Periklanan Universitas Indonesia tahun 2001, memang telah menunjukkan ketertarikannya pada dunia seni sejak masih bersekolah di SMA Negeri 70 Jakarta.

Dia dibesarkan dalam keluarga non-Islam yang kuat, pada 2 September 2000, dia memutuskan untuk memilih Islam sebagai pegangan hidupnya. Kemudian pada tanggal 6 Desember 2003, Tere menikah dengan Eka Nugraha, pria berdarah Sunda yang juga merupakan pencipta lagu Awal Yang Indah.
Album
* Awal Yang Indah (2002)
o Hits Singel: Awal Yang Indah dan Tak Ingin Usai
* Sebuah Harapan (2003)
o Hits Singel: Mengapa Ini Yang Terjadi feat. Valent dan Aku Patut Membenci Dia
* Begitu Berharga (2005)
o Hits Singel: Dosa Termanis
* Teretorial Hits (Best of) (2008)

Ralph Tampubolon


Ralph Tampubolon, Ingin Kerja di Teve Negara Tetangga

Ralph Tampubolon

Wajah tampan, suara berat dan fasih berbicara Inggris. Insinyur ini rupanya lebih memilih kerja di broadcasting dibanding mengamalkan ilmu yang didapat saat kuliah. Ada satu yang masih dikejar pria kelahiran Jakarta, 24 Januari 1975 ini. Apa itu?

Nama Anda unik, Ralph. Ada ceritanya?
Ralph diambil dari Ralph Buche, tokoh HAM yang vokal dan sempat mendapat Nobel perdamaian. Ketika usia 3 bulan saya dibawa ke Amerika karena Papa, Hasudungan Tampubolon, mengambil gelar doktor di Boston. Jadi, selama 5 tahun kami tinggal di sana, bahasa Inggris saya jadi lancar. Justru pas pulang ke Indonesia, saya malah belajar Bahasa Indonesia. Kebalik dengan anak-anak di sini, saya malah belajar Bahasa Indonesia dari awal.

Jadi presenter cita-cita sejak kecil?
Ketika SMA saya mengambil jurusan Fisika. Saat kuliah Papa minta saya mengambil Fakultas Teknik. Dan ternyata tahun 1993 saya diterima di UI. Ternyata setelah dijalani, di semester 4-5 saya mulai merasakan kayaknya bukan di situ bidangnya. Di tengah jalan tersebut, saya punya teman yang kerja di radio. Menurut dia, suara saya cocok jadi penyiar. Saya pikir, kenapa tidak dicoba. Akhirnya saya diterima. Hitung-hitung kerja sampingan karena masih kuliah. Orangtua sempat menasihati jangan terlalu sibuk jadi penyiar radio. Pokoknya harus bisa jaga keseimbangan antara kerja sampingan dan kuliah. Untunglah bisa selesai dua-duanya.

Pengalaman pertama saat siaran?
Sebelum siaran ada training, meski sebentar. Saya mengikuti super diklat dengan melakukan simulasi di belakang perangkat siar selama 10 hari. Saya menyukai pekerjaan ini karena minat saya ke sana, jadi mengerjakannya pun dengan semangat. Kerjaan saya waktu itu lebih banyak ke musik, memutar lagu yang diinginkan pendengar.

Setelah lulus, Anda meneruskan kemana?
Lulus kuliah Desember 1998, saya ke Thailand mengambil master di bidang yang saya minati, yaitu komunikasi. Sebenarnya pengin sekolah di Amerika. Tapi terbentur krismon yang biayanya pasti membengkak. Kebetulan, Papa ditugaskan di Bangkok dua tahun. Bersamaan itu, saya mendapat info ada Universitas yang pusatnya di Amerika tapi buka cabang di Thailand. Ditambah lagi ada program S2 Komunikasi Media dengan biayanya lebih murah dibanding ke Amerika.

Anda juga tertarik film ya?
Betul. Saat kuliah S2 hingga lulus tahun 2000, saya banyak menonton film, ada juga mata kuliah yang membahas film. Rupanya besar juga ya peluangnya di film. Saya pun melamar ke beberapa sekolah dan sekolah di Boston selama 1 tahun. Di sana saya belajar penulisan naskah dan dasar-dasar akting. Saya senang semi ekperimental, kalau ada minat, kok, enggak dijalani.
Tahun 2002-2003 saya pulang ke Jakarta. Saat itu pergerakan film baru dimulai. Sementara dunia broadcast sedang bagus karena banyak stasiun teve berdiri, salah satunya Metro TV. Ke sanalah saya mengejarnya, karena di sisi penyiaran, kan, ada sisi pembuatan naskah juga.

Kenapa justru ingin jadi pembaca berita Metro TV?
Entah kenapa ya, ada ketertarikan menjadi pembaca berita. Karena apa yang saya pelajari tertuang semua ketika menjadi pembaca berita. Ada sisi penyiaran, penulisan naskah, dibutuhkan juga modal akting saat membacakan berita. Menurut saya, Metro TV adalah stasiun teve yang lebih fokus, punya karakter yang beda dari teve lain, dan loyal di jalur itu.
Akhirnya, saya melamar kerja ke Metro TV. Wah, ternyata tidak gampang, lho, banyak lika likunya. Sudah tidak terhitung berapa kali saya mengajukan lamaran ke Metro TV tapi belum dipanggil-panggil dalam kurun waktu sampai 1-2 tahun. Kadang mengirimkan lamaran melalui jalur resmi ke HRD atau tidak resmi misalnya titip teman. Saya juga rajin melihat acara yang saya minati, misalnya, program Bahasa Inggris, kemudian di akhir acara tercantum nama produsernya, itulah nama yang saya kirimkan lamaran kerja.

Enggak bosan?
Selama dua tahun mencari kerja, saya mencoba menambah pengalaman dengan bekerja di TVRI bagian news. Siaran semua program selama setahun, mulai dari Dunia Dalam Berita, atau liputan ke istana. Saya banyak belajar dan dapat ilmu dari senior-senior di TVRI. Yang menyenangkan, waktu kecil saya, kan, suka nonton TVRI, ada pembaca berita seperti Teungku Malinda dan Inez Sukandar. Nah, sekarang, kok, saya duduk bersebelahan dengan mereka membacakan Dunia Dalam Berita. Wow! Seperti mimpi saja. Itu pengalaman yang menarik bagi saya. Tapi, lagi-lagi niatnya enggak mau terlalu lama di sana, tetap pengin coba di teve swasta. Syukurlah, akhirnya saya diterima di Metro TV awal 2006 sampai sekarang.

Langsung siaran?
Saya enggak langsung siaran, tapi digembleng dulu di belakang layar melihat bagaimana proses produksi sebuah tayangan berjalan. Saya belajar mulai dari pencarian berita sampai diudarakan, penulisan, peliputan, supervisi editing, membantu produser di ruang kontrol, pada saat eksekusi program saya harus tahu. Jadi, tidak dibiarkan hanya duduk manis, tanpa tahu bagaimana jerih payah teman-teman lain yang bekerja. Karena kalau enggak belajar kita cenderung jadi egois, banyak menuntut, tidak menghargai pekerjaan orang lain, kita direndahkan secara hati bahwa proses ini tidak gampang. Jadi, kalau lagi siaran tiba-tiba ada naskah yang salah, saya lebih bisa memaklumi karena tahu apa yang terjadi di atas, kekurangan dan kelebihan kita apa.

Kapan Anda mulai siaran?
Setelah 6 bulan di belakang layar, saya baru siaran. Program pertama yang dipegang Metro Malam dan Headline News dini hari. Karena minatnya besar ditambah sering melek malam, suka begadang, jadi kebawa saat siaran, ya sudah klop. Meski kadang jam 4 pagi suka ngantuk, ya ditahan saja.

Banyak belajar dengan siapa di Metro TV?
Saya banyak belajar dengan Manajer Presenter, Fifi Aleyda Yahya, senior saya. Dia banyak memberikan masukan. Lalu, dengan Pius Pope, veteran dalam hal olah vokal, gerak tubuh, intonasi suara, dialah gurunya siaran. Sebelum di Metro saya pernah ketemu di TVRI.

Liputan yang mengesankan?
Ketika banjir hebat melanda Jakarta, Metro TV termasuk yang terkena banjir. Saya harus tetap meliput, kebetulan rumah orangtua masih dekat kantor, meski tidak terkena banjir, tapi akses ke luar rumah, air sudah mencapai sepinggang, saya harus jalan kaki. Mungkin karena sudah panggilan jiwa, ya, saya tetap semangat meliput. Dari rumah saya sudah siap bawa baju ganti. Studio yang terletak di lantai satu terpaksa dipindahkan sementara ke lantai dua. Selama sebulan memakai studio buatan dan tidur di kantor. Malas mau pulang apalagi lihat airnya berwarna cokelat.

Lalu, yang menyedihkan?
Dari Mbak Fifi saya dapat masukan, katanya pemirsa pernah mengritik cara bicara saya di depan teve, seperti berkumur-kumur hingga tidak jelas bicaranya. Bagi saya kritikan dan pujian diterima dengan lapang dada dan seimbang. Prinsip saya, tidak mungkin saya bisa menyenangkan semua orang, semaksimal apapun berusaha, pasti ada saja orang yang enggak suka dengan saya.
Nah, kebetulan saya suka malas senam muka. Pope selalu mengajarkan melakukan senam rahang, tenggorokan, dan muka harus dilenturkan supaya lemas. Intinya, mulut harus terbuka agar artikulasinya jelas. Ditambah lagi, waktu itu saya baru pasang kawat gigi, jadi kalau bicara agak berat karena ada objek asing di dalam mulut, butuh waktu membiasakan. Jadi, agak kagok bicaranya.

Ternyata pemirsa jeli ya?
Wah, memang betul. Pernah saya dikiritik karena pakai celana yang “salah”. Saya pakai celana darurat yang di bawahnya masih ada lipatan. Langsung, lho, dikomentari. Tapi saya terima dengan positif, artinya saya masih diperhatikan orang, kan.

Wajah Anda makin banyak dikenal, bagaimana rasanya?
Kadang-kadang saja, kok, ada yang mengenal saya kalau ketemu di jalan. Mereka lebih hafal wajah daripada nama.

Dimana Anda bertemu istri?
Waktu itu istri saya, Melissa Karim, penyiar di Hard Rock FM, sementara saya di Radio One sekarang jadi JakFM. Tina Zakaria menyampaikan salam dari Melissa. Kami pun berkenalan saat dia jadi MC di sebuah acara. Ternyata begitu ketemu langsung klop, nyambung kalau ngobrol. Meski ada perbedaan bukan menjadi sesuatu kendala. Saya memang pendiam, sementara istri cerewet, makanya dia suka jadi jubir keluarga. Ha ha ha.

Bagaimana membagi waktu dengan istri?
Sebenarnya saya lebih sibuk karena kerjanya full time, sementara istri tergantung job. Apalagi sekarang, kan, The Master sudah selesai, kalau enggak ada kerjaan ya kami bisa bertemu (Melissa menjadi salah satu komentator di acara The Master). Sebenarnya, saya lebih senang di rumah, paling keluar ke mal atau nonton. Setelah setahun menikah, rencananya kami baru serius mikirin anak. Setahun ini benar-benar untuk berdua, saya enggak mau menunda bulan madu. Takutnya, malah enggak kesampaian.

Banyak yang memuji ketampanan Anda. Bagaimana Anda menjaganya?
Menjaga kesehatan badan dengan fitness, treadmill, basket dengan teman-teman SMA, jaga pola makan, enggak boleh kelebihan berat badan karena akan terlihat di layar teve. Untuk menjaga kesehatan kulit, istri saya suka memberi facial gratis di rumah tiap weekend. Biar kulit wajah tetap terawat. Saya bersyukur kalau ada yang bilang saya ganteng, meski sebenarnya itu subjektif ya. Mungkin ada yang menganggap saya biasa saja. Jangan sampai saya di awang-awang, karena saya tahu ini adalah sedikit dari potongan kue yang utuh.

Apa keinginan Anda yang belum tercapai?
Ingin cari pengalaman kerja di teve luar seperti Singapura atau Hongkong, yang dekat-dekat saja. Karena saya ingin menambah pengalaman, dan sebagai faktor pembanding apa, sih, kelebihan dan kekurangan mereka.

Dukungan orangtua?
Papa selalu mengajarkan, takut pada Tuhan, artinya percayailah dan yakinlah akan Tuhan. Secara konsisten Papa juga selalu memberitahu saya, sampai-sampai kuping saya merah. Pentingnya manusia itu punya visi, kerja keras, jangan jadi orang yang biasa-biasa saja. Jadilah orang biasa yang bekerja keras hingga menjadi luar biasa.

Masih minat ke film?
Film ditinggalkan dulu sementara, meski masih suka nonton film Barat dan Indonesia, karena film adalah komunikasi media yang unik. Bayangkan, dalam satu setengah jam bisa menyampaikan sesuatu hingga penonton paham. Apakah nanti saya jadi pelaku masih tanda tanya, tapi minatnya masih ke sana, kok.***Sumber: Nova

Noverita K. Waldan

Todung Mulya Lubis


Payung Yang Mulia Untuk Yang Tersingkir

Todung Mulya Lubis

Tampan dan kaya, tetapi Todung Mulya Lubis bukannya bermain mata dengan artis-artis cantik. Malah membela (Si) Marsinah, buruh wanita yang di mata rezim militeristis Suharto harus mati dan didiamkan. Dia besar karena perjuangannya membela hak-hak asasi manusia dari mereka yang tertindas. Sikap hidup seperti itu membuat Todung menjadi sebuah paradoks. Semestinya dia hidup gemerlap sebagaima kehidupan yang selalu diasosiakan film-film murah atau sinetron. Todung jauh dari gambaran hidup seperti itu. Dia tidak terbawa arus yang melambung dalam kemewahan. Tidak main golf yang sekali main green fee-nya bisa Rp 250.000. Dia bina tubuhnya dengan sepeda stasioner, jalan kaki, dan vitamin C dosis tinggi. Makan sekedar memenuhi kebutuhan untuk bertahan hidup. Dia doyan makanan kampung, berlauk tempe dan tahu. Steak yang disuguhkan restoran-restoran mahal bukan seleranya. Dan dia tak tertarik mampir ke situ.

Sosoknya sebagai pengacara akan selalu dikenang, terutama ketika dia mengalahkan mantan Presiden Suharto dalam perkara tokoh rezim Orde Baru itu versus majalah TIME. Dia mencatat kemenangan dalam perkara itu sebagai puncak pencapain kariernya. Walau dia sempat menghadapi teror, diikuti, dan kantornya digarong untuk mendapatkan dokumen yang berkaitan dengan perkara yang dia tangani. ”Itu kemenangan yang monumental. Karena Suharto tak pernah terkalahkan selama ini,” katanya berbagi kemenangan dengan Dolorosa Sinaga, Martin Aleida, Hotman J. Lumban Gaol dari TAPIAN, yang mengunjunginya Jumat, 1 Muharram, 18 Desember 2009 lalu, di rumahnya yang besar dan nyaman di Cinere, Jakarta Selatan.

Kemewahan jam tangan berlapis emas yang melingkar di pergelangannya, juga dua handphone blackberry yang digenggamnya lenyap daya tariknya dibandingkan dengan kaos katun berwarna hitam dengan tulisan yang menantang persis di jantungnya: ”Saya Cicak Berani Lawan Buaya.”

Dalam pergulatannya untuk memenangkan kasus TIME melawan Suharto, berbagai macam teror yang dia terima dalam bentuk telepon, surat, SMS sampai ancaman fisik. ”Saya hanya pasrah kepada yang di Atas. Kalau tidak merasa melakukan kesalahan tidak perlu takut,” katanya. Dia bilang, semua orang yang punya keterikatan seperti dia akan mengalami ancaman serupa. Selama tiga tahun dia tak boleh bepergian ke luar negeri, paspornya dirampas. Dilarang memberikan ceramah maupun mengajar. ”Kantor saya dihancurkan, termasuk file-file saya,” katanya. Suharto marah karena dia terlalu keras, membela tahanan politik, termasuk membela Jenderal H.R. Dharsono, mantan panglima Siliwangi yang membangkang terhadap kekuasaan.

Sebenarnya, cita-cita Todung adalah diplomat. Dia terbuai oleh angan-angannya itu. Sedari duduk di bangku sekolah dasar dia tenggelam membaca biografi orang-orang besar, seperti biografi presiden pertama Amerika Serikat, George Washington, juga Thomas Jefferson, dan Benjamin Franklin. Tetapi, apa mau dikata, bukan dia yang berkuasa atas nasibnya sendiri. Dan, kalaupun cita-citanya untuk menjadi seorang diplomat memang kesampaian, barangkali, jejak yang ditinggalkannya dalam sejarah mungkin tak sebesar seperti sekarang.

Dia hanya akan dikenang sebagai seorang diplomat yang tak berdaya dari sebuah negara yang terus-menerus didera malu di dunia internasional, terutama di bidang hak-hak asasi manusia.
Amerika Serikat dan Aceh menjadi penentu jalan hidupnya. Selain karier, dia punya hubungan khusus dan kebetulan dengan negara adikuasi itu. Sama-sama merayakan ulangtahun 4 Juli (dia lahir di Muara Botung, Tapanuli Selatan, 60 tahun yang lalu.) Todung belajar ilmu hukum di Harvard University dan memperoleh gelar Ph.D in law dengan promotor Profesor Daniel S. Lev, seorang yang sangat berwibawa di bidang politik hukum Indonesia. Sarjana yang berkebangsaan Amerika Serikat itu, adalah guru dan sahabat baginya, dalam suka maupun duka.

Sementara orang Aceh yang ikut menempa dirinya adalah Yap Thiam Hien, pendekar hukum yang tak gepeng oleh linggis kediktatoran Suharto. Pengacara inilah yang dengan keyakinan hukum dan hati nuraninya, yang melebihi advokat lain ketika itu, membela mereka yang dituduh aparat hukum Orde Suharto terlibat dalam Gerakan Tigapuluh September 1965, terutama Dr. Subandrio, wakil perdana menteri dalam pemerintahan Sukarno.

Kemilau keteladanan Yap, mengilhami Todung untuk mendirikan Yap Thiam Hien Award, sebagai penghargaan tertinggi bagi mereka yang berprestasi besar dalam mempertahankan hak-hak asasi manusia. Sebagai sebuah kata, Todung berarti payung. Mulya adalah mulia. Ketetapan hatinya ibarat payung yang tetap berkembang walau diterpa angin atau hujan. Banyak yang menentangnya ketika mengadopsi nama yang terdiri dari tiga kata itu, tersebab Yap adalah Tionghoa (atau Cina, kata orang yang ingin merendahkan derajat golongan minoritas itu). Lagipula, Yap ’kan seorang Kristen!?

Ada dua orang lagi yang takkan dia lupakan. Ayahnya, Sati Lubis, orang yang pertama-tama mendidik anak kedua dari tujuh bersaudara ini mengenai demokrasi dengan membiarkannya besar mengikuti pilihan hatinya sendiri. Sati adalah salah seorang pendiri Antar Lintas Sumatera (ALS), perusahaan angkutan yang menghubungkan kota-kota di Sumatera dengan Jawa. Todung terpesona pada Mahatma Gandhi, sosok yang jujur, sederhana, dan anti-kekerasan.

Jalan hidup Todung menunjukkan bahwa tajamnya kepekaan perasaan menentukan jalan hidup. Katanya, dia mulai memasuki kehidupan melalui seni. Dulu, semasa masih di sekolah menengah atas, dan tak lama sesudahnya, dia sering menulis puisi, cerita pendek, dan main teater. ”Di sinilah kepekaan saya sebagai manusia diasah,” ucapnya dalam sebuah wawancara. Bersama penyair wanita Rayani Sriwidodo dia menerbitkan antologi puisi ”Pada Sebuah Lorong,” tahun 1968. Dia seangkatan dengan Sutardji Calzoum Bachri dan Abdul Hadi W.M.

“Mereka tekun, ulet, dan terus berkarya. Sementara saya tidak. Saya masuk fakultas hukum. Saya tidak bisa total. Menjadi seniman juga membutuhkan komitmen yang solid,” katanya.

Ketika masih duduk di bangku universitas, dia sudah menjadi seorang aktivis. Protes terhadap pembangunan Taman Mini Indonesia merupakan debut awalnya sebagai seorang pembangkang kekuasaan. Dia termasuk yang beranggapan peningkatan taraf hidup guru dan pelayanan publik yang baik lebih mendesak daripada sebuah taman yang cuma sekedar tiruan dari apa yang telah dikerjakan di Muangthai.

Menjelang kuliah hukumnya selesai di Universitas Insdonesia (lulus tahun 1974), Todung magang di Lembaga Bantuan Hukum Jakarta, dengan jabatan terakhir sebagai Direktur Bidang Nonlitigasi. Memandang jauh ke depan, dia beranggapan masalah hak-hak asasi manusia akan menjadi masalah mendesak. ”Ketika di Amerika, saya lihat laporan tentang negara kita (di bidang hak-hak asasi manusia) dibuat orang asing,” katanya mengenang. Todung kemudian terdorong untuk mendirikan divisi hak-hak asasi manusia di LBH. Tahun 1979, untuk pertama kali, LBH menerbitkan laporan tentang keadaan hak-hask asasi manusia di Indonesia, yang menjadi asal-mula laporan serupa yang diterbitkan secara rutin sampai sekarang.

Todong merasa berhutang budi pada LBH, yang disebutnya sebagai almamaternya yang kedua. Lembaga bantuan hukum itulah katanya yang membuka mata dan hatinya untuk bergumul secara lebih intens dengan soal-soal hukum, soal-soal keadilan. ”Dan saya kira pada akhirnya itu yang membawa saya sampai pada posisi seperti sekarang,” katanya. Di sini dia juga menyaksikan bagaimana Fauzi, temannya sesama mahasiswa yang dia masuk ke LBH, menjadi seorang yang kemudian menggugah kesadarannya tentang betapa agungnya perjuangan yang seseorang tak mengenal pamrih. Fauzi bergerak untuk menyadarkan buruh tentang ha-hak mereka dengan mengunjungi mereka dari rumah-ke-rumah. Jauh dari gemerlap publikasi. Fauzi meninggal karena sakit. Ketika membacakan elegi untuk Fauzi, sebagai salah seorang penerima Yap Thiam Hien Award, Todung kelihatan menangis di atas panggung Hotel Borobudur, di mana acara itu berlangsung pertengahan Desember lalu.

Jalan yang dia tempuh memang tidak mudah, tetapi nasib baik menyertai Todung. Gerakan mahasiswa yang menuntut perubahan terhadap jalan yang ditempuh pemerintah, yang menyebabkan ketimpangan sosial yang parah, mencapai puncaknya 15 Januari 1974. Simbol-simbol Jepang, yang dituduh mengeduk keuntungan dari keadaan perekonomian Indonesia waktu itu, menjadi sasaran. Gedung Astra di Jalan Sudirman, Jakarta, dibakar. Juga Pasar Senen. ”Orde Baru mengalami krisis yang hampir-hampir tidak mampu diatasinya. Terjadi vakum kekuasaan beberapa jam yang seharusnya sangat memungkinkan kudeta,” tulis sosiolog Daniel Dhakidae dalam pengantar ”Dari Kediktatoran sampai Miss Saigon,” sebuah kumpulan wawancara berbagai media dengan TODUNG MULYA LUBIS.

Puluhan aktivis ditangkap dan dihukum waktu itu. Todung seharusnya merasakan risiko dari kesejajaran pikiran dan kegiatannya dengan tokoh-tokoh yang terlibat dalam gerakan tersebut, tapi keajaiban menyelamatkannya. Sepanjang Desember 1973 sampai 14 Januari 1974, dia mengikuti ”Asia Pacific Student Leaders Program,” untuk mengenal Amerika Serikat yang diselenggarakan oleh Departremen Luar Negeri negara itu. Dia berada kembali di Indonesia pada saat gerakan mahasiswa di Jakarta, Bandung, Yogyakarta sudah sampai di puncaknya. ”Dengan demikian namanya mungkin tidak terlalu sering masuk ke dalam catatan para agen intelijen Orde Baru,” kata Daniel dalam pengantarnya.

Selama 18 tahun lamanya dia mengabdi untuk penegakan hukum melalui LBH. Lembaga ini jugalah yang membuka pintu jodohnya. Ketika bertugas selama enam bulan di Surabaya, untuk manangani kasus penggusuran, dia bertemu dengan Dokter Gigi Damiyati Soendoro. Setelah berpacaran selama lima bulan, mereka melangsungkan pernikahan 5 Juni 1983. Lengkaplah sudah yang diberikan LBH kepadanya. Jalan baru terbuka di depannya. Todung harus mengambil keputusan untuk dirinya sendiri. Lantas dia mendirikan kantor pengacara Lubis Santosa & Maulana.

Dia tidak mengatakan ada batas waktu untuk pengabdian. Ada masa untuk terbang tinggi-tinggi, entah ke mana. Dia telah menemukan kesempatan yang baik untuk mengatakan: ”Saya ini sudah kerja selama 18 tahun di LBH. Saya pikir itu sudah cukup lama. Saya kira saya sudah membayar sumbangan sosial saya kepada masyarakat, kepada bangsa.” Sudah saatnya dia memberikan arti yang lebih besar bagi landasan yang turut dia bangun. Dunia aktivis tidak seluruhnya dia lupakan. Sementara hoki-nya sebagai seorang profesional juga membawa keberuntungan. Dia tak suka pada pertanyaan yang menyangkut penghasilannya. Tapi, diperkirakan Todung menerima legal fee antara $375 sampai $550 per jam.

Tapi tak semua kasus membuat koceknya tambah menggelembung. Menjadi mesin uang bukan pilihannya. Ada sesuatu dalam hidup ini yang ingin dia capai. Integritas. Yang dia rambah sejak dia mengenal tulis-menulis, dan malahan menjadi wartawan ”Indonesia Raya” dan ”Sinar Harapan.” Tidak semuanya harus dihitung dengan uang. Katakanlah kasus yang menyangkut pers dan perkara politik. Dan dia bukanlah pengacara yang turut dalam koor besar para advokat ”hitam” yang disindir publik dengan plesetan, ”Maju Tak Gentar Membela Yang Bayar!”

Ketika memenangkan Jeffrey Winters melawan Menko Ginanjar Kartasasmita, guru besar ekonomi asal Amerika Serikat itu bertanya, ”Berapa utang saya pada Anda?” Jawab Todung: ”Tarif saya dalam dolar, sekian per jam.”
”Kok tinggi sekali?”
”Saya memang mahal.”
”Ya, sudah, kalau begitu, saya tidak bayar.”
”Nggak apa-apa!”
Sebagai imbalan jasanya, Jeffrey membelikan satu stel jas. Tetapi, apa mau dikata, begitu dicoba, jas itu kedodoran!
Pengabdian yang panjang, popularitas yang mengawang, kemapaman finansial yang sudah tercapai, apakah itu puncak yang menjadi obsesi Anda? Todung tidak kaget dengan pertanyaan yang diajukan tim TAPIAN. Dia sudah siap dengan jawaban tentang rencanya untuk meletakkan dasar yang lebih kuat lagi pada landasan yang sudah dia bangun selama dia menjadi aktivis.

”Usia saya sudah 60. Sudah waktunya fading out. Saya ini sudah tidak seratus persen pengacara. Jadi, saya keliling, berkhotbah untuk penegakan hukum, untuk transparansi. Masalah yang dihadapi kantor saya, ada sekitar 30 lawyer yang menangani.”
Baginya, penegakan hukum kita sekarang carut-marut. Pasal pencemaran nama baik, sekarang tidak boleh lagi dipertahankan, harus dicabut, paling tidak teman-teman media mengatakan itu. Kesadaran baru ini menguatkan gerakan untuk tumbuhnya good governance, tata-kelola pemerintahan yang baik, dan tata kelola perusahan swasta yang baik.

Pada kasus Prita ada unsur kolusi di sana. Kemarin baru terungkap bahwa selama ini jaksa-jaksa yang menangani perkara itu mendapat check up gratis dari Rumah Sakit Omni International.
Apa itu korupsi? Mencuri itu ’kan dalam bahasa yang lain adalah korupsi. Korupsi itu ada dua kategori. Korupsi karena kebutuhan, atau corruption by needs. Orang korupsi karena tidak punya pendapatan yang memandai. Pegawai negeri yang hanya menerima gaji Rp 600.000 atau satu juta rupiah, tetapi punya anak empat. Bagaimana pun dia tidak bisa hidup satu bulan dari uang tersebut. Dia pasti melakukan korupsi kecil-kecilan, karena korupsi besar dia tidak mungkin lakukan. Dia tidak dalam posisi mengeluarkan izin yang memerlukan sebuah tanda tangan yang bisa dijadikan uang.

Orang-orang kecil mungkin tidak tahu apa yang dia lakukan. Jadi mungkin juga dia beranggapan masa’ hanya mencuri semangka bisa dipenjara. Nah, hal semacam ini bisa terjadi. Jaksa dan hakim harus punya rasa keadilan dalam menghadapi kasus-kasus seperti ini.
Korupsi kategori kedua adalah korupsi gede-gedean, corruption by greed atau korupsi karena rakus. Ini dilakukan oleh pejabat-pejabat yang mengeluarkan izin usaha. Nah, ini adalah korupsi karena memiliki kekuasaan. Korupsi yang terjadi karena kuasa yang diberikan tanpa kontrol.

Korupsi juga bisa dilakukan oleh mereka yang punya knowledge, punya pengetahuan. Misalnya, dengan mengotak-atik teknologi, dengan memindahkan uang dari rekening yang satu ke rekening yang lain. Dengan kemampuan menggoreng saham, mereka bisa menghasilkan uang yang banyak. Dan dengan kemampuan membuat proposal yang baik ke satu instansi pemerintah daerah, seseorang bisa mendapat satu proyek. Nah, ini semua adalah korupsi gede-gedean.

Kalau dilihat dari perspektif hukum, hukum di Indonesia ini kan tidak satu. Apakah penduduk di kampung, orang yang buta huruf, bisa mengerti hukum? Yang mereka tahu hanya hukum adat mereka yang tidak tertulis itu, yang merupakan warisan nenek-moyang mereka. Dengan sikap seperti itu, mereka tidak menganggap hal itu mencuri. Nah, ketika menghadapi kenyataan seperti ini, hakim kan mestinya arif dan bijaksana. Orang yang hanya mencuri kakao masa’ harus dihukum. Orang yang mencuri semangka itu tidak layak dihukum karena masalah ini ada acuannya dalam hukum adat setempat.

Pendidikan kita kan belum bisa memberikan pencerahan dan kesadaran bahwa ada hak dan kewajiban kita di dalam hukum. Itu dalam perspektif yang sangat sederhana. Soal Prita, dia tidak lagi orang yang miskin sama sekali, dan dia pasti tahu hukum. Dia orang yang terdidik yang memamfaatkan teknologi dalam memperjuangkan haknya, tetapi kemudian dijebloskan ke dalam penjara.

Fenomena terjadi adalah ketika simpati publik mendukung dia. Kasus hukum Bibiet dan Chandra dalah puncak dari gunung es permasalahan hukum kita, carut-marut hukum kita. Selama ini KPK memberantas korupsi dengan berani. Tetapi, karena adanya kepentingan, maka muncul kriminalisasi terhadap KPK.

Ketika saya masuk dalam Tim-8, kita panggil semua yang berkaitan. Ternyata tuduhan terhadap Bibiet dan Chandra tidak menemukan bukti bahwa mereka menyalahgunakan wewenang dan menerima suap. Maka, tidak ada pilihan lain kecuali harus membebaskan mereka berdua. Tetapi, puncak penghinaan terhadap nalar kita adalah ketika seorang Anggodo bisa mengatur kejaksaan dan kepolisian. Dan, nyatanya, sampai saat ini Anggodo belum juga ditangkap. Padahal, tidak harus ada laporan dari siapa pun, polisi sudah bisa menangkapnya dengan fakta-fakta yang ada. Tetapi, alasan polisi untuk tidak menangkapnya karena tidak ada yang melapor.

Sambil menunjukkan foto Anggodo dalam pakaian resmi sebagai sindiran facebookers, Todung menganggap pengakuan Anggodo dalam rekaman yang diperdengarkan Mahkamah Konstitusi merupakan penghinaan terhadap korps kepolisian. Perkembangan yang menarik dari gerakan ”Parlemen dunia maya” ini adalah tiada ideologi. Ada dari Islam garis keras, Muhammadiyah, NU, Kristen dan siapa saja. ”Parlemen dunia maya” ini sangat kuat, bisa menghimpun jutaan facebookers. Walaupun di lapangan barangkali mereka hanya bisa menghimpun seribu orang, karena masalah penghimpunan massa di lapangan sudah lain soalnya.

Carut-marut penegakan hukum ini menjadi dosa kolektif kita, tidak boleh mempersalahakan satu pihak. Wartawan pun juga ada yang menyalahgunakan profesinya. Kita tahu beberapa wartawan yang menjadi calo hukum. Di daerah, halaman surat kabar bisa dibeli. Jadi, ada juga dosa wartawan.

Angin dan badai ketidakadilan tidak akan ada ujungnya. Karena itu payung-payung yang mulia di bidang hukum tumbuhlah lebih banyak lagi. Dan, Todung Mulya Lubis janganlah tinggalkan medanmu …***

Alfito Deannova Gintings


Alfito Deannova (1): Sejak SD Tertarik Intrik Politik

Alfito Deannova Gintings

Belakangan wajahnya kerap muncul di tvOne membawakan acara talkshow Debat. Siapa sangka, di masa kecilnya, pria yang akrab dipanggil Fito ini, pendiam dan tertutup. Ikuti kisah Fito mulai nomor ini.

Sekilas, jika orang mendengar namaku banyak yang bertanya darimana asalku. Papaku, Muhammad Nurdjaya Gintings berasal dari Medan, dan Mama, Purwandhani dari Madiun. Aku lahir di Jakarta, 17 September 1976. Papa memberi nama Alfito, karena Papa keranjingan aktor Al Pacino. Lalu, di tahun 1976, kebetulan sedang ramai film mafia, dan salah satu tokohnya bernama Vito Corleone. Berhubung aku lahir mendekati Idul Fitri namaku menjadi Alfito (hidup). Papa juga menggemari James Dean, aktor film. Ditambahkanlah nama Dean (cerdas, pintar) dan Nova (bintang). Jadi, harapannya aku menjadi bintang yang cerdas dan pintar.

Aku anak kedua dari 4 bersaudara. Kakakku, Almaycano Gintings, adikku Al Reyno De Carba Gintings, dan Nuzlya Ramadhani Gintings, satu-satunya perempuan. Saat melihat foto kecilku, sampai usia tertentu aku terlihat masih ceria. Namun aku mengalami perubahan saat kelas 5, aku sendiri enggak tahu kenapa. Saat aku kelas 3 SD, Papa keluar dari pekerjaannya di sebuah perusahaan karena perbedaan paham. Sejak itulah kondisi kehidupan kami jadi enggak bagus. Papa tetap bekerja meski serabutan.

Mungkin karena itulah aku jadi serius menanggapi hidup, karakterku berubah menjadi orang yang enggak terlalu suka bicara dengan orang lain kalau enggak perlu. Karakterku menjadi lebih banyak berpikir, ngobrol sendiri, baca buku, dan menulis. Ada kecenderungan aku enggak pede, minder, lebih tertutup. Aku tidak pernah main dengan komunitas tertentu atau punya geng seperti layaknya anak-anak sekolah.

Kendala lain, kami suka berpindah-pindah rumah, yang membuatku lelah beradaptasi. Mulai dari Jalan Pemuda, Cipinang, Pancoran, lalu pindah ke Medan sampai 4 kali di rumah berbeda. Depok pindah dua kali, Parung, balik lagi ke Medan, dan Kranggan. Waduh, bisa 15 kali pindah rumah.

Sejak kelas 4 SD, aku senang politik. Ketika anak-anak kecil lain lebih menyukai membaca komik Tintin, aku malah minta dibelikan ayah buku G 30S/PKI. Kalau mendengar cerita dari kakek yang seorang mantan Cakrabirawa, aku selalu tertarik. Makanya aku bercita-cita ingin menjadi tentara, karena melihat kegagahan kakek. Tapi karena pakai kacamata sejak kelas 2 SMP impian itu terpaksa aku kubur. Tapi, sampai sekarang pun masih ada keinginan jadi tentara.

Penurut & Tertib

Papa banyak memberikan inspirasi bagiku. Yang sebelumnya tidak pernah dipikirkan orang sudah dia pikirkan lebih dulu. Papa juga punya kemampuan memotivasi yang bagus. Misalnya, ketika aku lelah bekerja. Kerjaku bagus tapi enggak ada yang memperhatikan atau peduli. Padahal jika dibandingkan dengan orang lain, kerjaku lebih banyak. Lalu Papa tanya, “Kamu kerja buat orang atau diri sendiri. Hakikatnya, kerja itu buat sendiri, lalu yang dicari apa, harta? Bukan, tapi kepuasan. Ada sesuatu yang tidak bisa dibayar dengan apapun. Kerja keras kalau hasilnya bagus yang menikmati diri sendiri. Puas dalam arti bisa melakukan sesuatu yang orang lain belum tentu bisa. Jadi, ikhlaskan saja jika tidak ada orang yang menilai. Atau orang tidak peduli dengan prestasi kamu. Biarkan saja masih ada Tuhan yang memberikan.” Mendengar itu, hatiku tenang. Aku kembali semangat kerja dan bisa melewati semuanya.

Sementara sosok Mama penuh kasih sayang. Aku memang lebih dekat ke Mama karena seharian beliau mengurus kami. Mama mengajarkan bagaimana menghargai orang, siapapun aku sekarang. “Orang bisa seperti kamu mungkin karena dia mendapatkan jalan yang lebih baik. Selalu menghormati orangtua dan jangan bohong,” bagitu nasihat Mama.

Bisa dibilang aku adalah gambaran anak yang tidak nakal, mungkin paling penurut. Pulang sekolah langsung ke rumah. Di antara bersaudara, aku paling pendiam. Adikku malah paling gampang berkenalan dengan orang. Hidupku cenderung tertib. Dalam benakku selalu tergambar semua harus tertata dengan baik. Misalnya, waktu kerja dapat uang sendiri, sudah terpikir bagaimana membaginya. Pokoknya enggak boleh dipakai buat hal-hal lain. Mau beli sesuatu harus dipikirkan dapatnya darimana. Begitu juga menjalani hidup harus pakai target dan tertib. Ada rencana tahun depan mau jadi apa, lima tahun ke depan melakukan apa.

Diplomat & Manajer

Jika bicara soal pelajaran, saat SMP aku selalu masuk ranking antara 1-3, begitu juga awal SMA masih bagus. Tapi saat kelas 2 dan 3 aku kehilangan motivasi karena tidak menyukai jurusan yang aku pilih sendiri. Di sekolahku, SMA 1 Bogor, ada 1 kelas Sosial, 5 kelas Fisika, dan 2 kelas Biologi. Kupikir, kalau mau jadi warganegara kelas satu, harus masuk Fisika. Selama menjalaninya aku tidak pernah merasa suka, meskipun tidak ada yang memaksaku.

Karena enggak suka dengan mata pelajaran itu, aku melarikan diri ikut organisasi sekolah seperti pramuka, paskibraka, majelis pertimbangan siswa. Aku enggak begitu suka masuk OSIS karena terlalu banyak nuansa hedonisme.

Saat Ebtanas aku mulai termotivasi lagi karena targetku masuk UMPTN. Aku sengaja kos di Bogor karena mau konsentrasi belajar. Pasalnya, jika aku enggak suka pelajarannya lalu enggak lulus, aku enggak bisa jadi apa-apa. Akhirnya selama 3 bulan aku belajar Fisika, Matematika ternyata bisa enjoy. Satu-satunya pelajaran yang aku enggak bisa adalah Kimia. Heran juga, ya, kenapa, sih, harus ada pelajaran itu, apa perlunya menghitung rantai karbon. Nilai paling bagus PMP dapat 9.

Anehnya, saat UMPTN aku malah enggak ambil jurusan Fisika. Justru mendaftar ke IPS dengan modal menguasai bahasa Inggris dan Matematika. Aku memilih Fakultas Ekonomi UI karena ingin jadi manajer. Pilihan kedua, Hubungan Internasional karena ingin jadi diplomat.

Ketika akhirnya diterima di Ekonomi, aku ingin memilih jurusan manajemen. Tapi teman-teman bilang, buat apa ambil manajemen, karena pelajaran itu bisa diperoleh dengan membaca dan belajar sendiri. Aku disarankan mengambil akuntansi. Ternyata begitu masuk harus belajar angka, kok, enggak asyik, ya. Enggak ada sesuatu yang membuatku tertarik. Kerjanya menghitung terus. Aku tidak bisa mendengar cerita, intrik, atau strategi seperti dalam politik.

Jadi Penyiar

Selama kuliah banyak kendala finansial yang kurasakan. Sekali waktu ketika harus membayar uang kuliah, Papa hanya punya uang Rp 200 ribu. Kekurangannya Rp 300 ribu harus kucari sendiri. Aku enggak kerja, kakakku masih sekolah di Medan, mau pinjam ke saudara enggak enak. Lalu, aku memutar akal mencari bantuan pinjaman uang ke Pudek di kampus UI. Tentu saja aku dimarahi karena itu hari terakhir pembayaran, kalau tidak bayar aku enggak bisa ikut ujian. Akhirnya aku dapat pinjaman, tapi aku jadi berpikir enggak bisa terus-terusan begini.

Sampai ketika di tengah belajar sambil mendengarkan radio, kebetulan radio SK lagi buka lowongan. Mungkin kalau kerja di radio biasa enggak masalah ya, tapi ini, kan, radio SK, orang enggak akan percaya aku bisa kerja di sana. Radio SK yang harus ngelucu, banyol, sementara aku dikenal introvert, pendiam, kaku, susah bergaul, penyendiri. Karena ada motivasi kuat untuk bertahan hidup, jadi mau enggak mau harus melamar ke sana.

Aku masih ingat ketika pertama kali melamar kerja, aku berangkat jam 06.00 pagi naik kereta api yang penuh sesak. Dari Depok sampai Manggarai berdiri sambil menginjak nangka orang. Ha ha ha. Sampai di sana banyak sekali yang mendaftar, aku enggak yakin bisa diterima. Karena kalau mendengarkan suara sendiri di rekaman, suaraku aneh, janggal, kayak anak kecil tapi dewasa, enggak berwibawa seperti Sambas, penyiar TVRI.

Di luar dugaan, aku diterima Agustus 1996 dan siaran pertama September. Aku membawakan program SK Top Airplay, dimana aku harus nge-DJ. Jadi, tidak diarahkan jadi pelawak tapi DJ. Untungnya aku suka musik dan lumayan menguasai. Bisa ditebak, kan, aku yang enggak main keluar dan betah di rumah, satu-satunya hiburan, ya, radio. Makanya aku paham lagu-lagu hits.

Mulailah aku membagi gajiku yang Rp 280 ribu untuk berbagai kebutuhan. Nah, setiap siaran aku dibayar Rp 5.500 per jam, bagiku itu sebuah kesempatan, jika ada jam kosong aku yang menggantikan. Aku bagi untuk ongkos, makan, kos, tabungan buat nyicil uang kuliah, malah masih bisa nabung tiap bulan Rp 100 ribu. Kalau masih ada sisa aku kasih ke Mama. Dengan uang sejumlah itu, aku enggak bisa dugem atau gaul. Untungnya aku juga enggak suka hal-hal seperti itu. Paling nonton film, dengar musik, baca buku, sudah cukup bagiku. Kalau sudah ada tiga hal itu, bisa seharian di kamar kos.

Jeleknya, perlahan-lahan kuliah mulai kuabaikan. Apalagi aku, kan, enggak suka mata kuliahnya. Meski kampusku di Depok, aku malah kos di Kebon Jeruk, kantor Radio SK, karena harus mendekatkan ke sumber uang. Kalau ambil siaran pagi jam 06.00-09.00, berarti aku enggak ikut mata kuliah pertama. Alhasil IP ku jeblok.

Kelak aku memutuskan mengambil S2, paling enggak ingin menunjukkan ke diriku bahwa aku enggak bodoh, cuma enggak suka pelajarannya saja. Buktinya waktu S2, IP ku 3,695.

Setelah 7 tahun bekerja di SCTV, Fito memutuskan pindah ke tvOne. Karena pekerjaan pula, Fito bertemu sang istri yang kebetulan berprofesi sama. Konsep keluarga yang memberikan pendidikan terbaik ingin diberikan ke anak-anaknya.

Setelah Radio SK resmi ditutup tahun 1996, aku pun ikut berhenti. Akhirnya aku lulus kuliah dan diterima bekerja di salah satu kantor akuntan besar. Betul saja, begitu aku jalani, kayaknya ini bukan duniaku. Memang, sih, apa yang dipelajari di kampus diaplikasikan, tapi, kok, yang aku lihat sekelilingnya tembok. Masing-masing konsentrasi bekerja, menghitung kertas kerja yang didorong pakai troli.

Berangkat pagi pulang malam, lalu aku dapat apa ya? Okelah dapat gaji tapi apakah membuatku bahagia. Akhirnya aku memutuskan enggak meneruskan kerja, cukup dua hari saja. Bahkan aku tidak lapor dan izin, aku tinggalkan begitu saja. Aku sadar keputusan tadi membuatku susah mencari kerja di kantor akuntan lain karena tidak ada komitmen. Ya sudahlah, aku juga tidak tertarik meneruskan bidang ini.

Karena ada latar belakang pernah kerja di radio, aku melamar ke teve. Metro TV dan SCTV yang memanggil. Berhubung SCTV yang duluan menawarkan, aku bekerja di sana. Karena kecintaanku pada keluarga sangat besar, terutama adik-adikku, aku merasa terpanggil membantu mereka. Terkadang hal itu jadi membebani hidupku. Aku jadi terlalu banyak mikir.

Apalagi ketika adikku diterima di Universitas Negeri Jakarta, berarti aku harus kerja dimana saja. Aku enggak mau nasibnya sepertiku lagi. Gaji itu aku bagi-bagi untuk bayar kos Rp 150 ribu berdua dengan adik, nabung uang kuliah adik Rp 300 ribu, dan uang saku. Aku enggak mengharapkan Papa dan Mama yang waktu itu tinggal di Medan. Karena mereka sudah memikirkan kakakku yang kuliah di Universitas Sumatera Utara. Biarlah di Jakarta aku memikirkan adikku. Untungnya aku masih bisa menabung.

Aku bilang ke adik, uang saku yang aku berikan enggak cukup.

Salah satu acara talkshow yang aku bawakan.

Pokoknya, pintar-pintarnya dia mengelola. Belakangan aku baru tahu dari dia, uang saku itu dibagi buat ongkos naik kereta dari Depok ke UNJ dan makan. Biar bisa bertahan, dia membeli nasi yang banyak, lauknya ikan. Lalu, nasi dan ikan dibagi dua. Satu bagian buat makan siang, sisanya buat makan malam. Kalau sekarang kami bertemu dan ngobrol, kami hanya bisa tertawa mengingat peristiwa itu.

Adikku yang bungsu pun menyusul kuliah di Jakarta, diterima di Sastra UNJ. Lalu, aku bilang ke ibu kos tempatku karena kos khusus laki-laki. Aku terus terang belum mampu beli rumah, kalau boleh kos di sebelah kamarku agar bisa dikontrol. Ternyata diizinkan, akhirnya kami kos bertiga. Syukur, sekarang semua adik-adik sudah bekerja.

Karier Naik
Saat masuk kerja di SCTV tahun 2000, aku langsung ditempatkan di desk kriminal. Bagi wartawan, tempat ini paling bagus karena berpikirnya jadi kronologis dan lengkap. Lalu, pindah ke budaya, lalu politik. Tapi aku enggak pernah di ekonomi. Untunglah, karena aku kurang tertarik.

Aku senang karena sudah bekerja di kantor, kemana-mana ada yang nganterin pakai mobil, pokoknya enggak ada masalah. Kalaupun ada dukanya, karena hidup jadi tidak normal, Sabtu Minggu enggak libur, malah liburnya hari biasa. Kalau pekerjaan belum selesai, ya enggak bisa pulang. Tapi karena aku ikhlas menjalaninya, aku menjadi profesional yang dibentuk oleh kondisi.

Siaran pertama buat presenter pemula adalah Liputan 6 Pagi jam 05.30 WIB-06.30 WIB, jadi enggak boleh langsung siaran siang atau petang. Selama 4 tahun aku siaran pagi, berlanjut ke siaran siang. Setahun kemudian dapat siaran petang, itulah puncak karier di SCTV. Artinya, jika seseorang sudah dipercaya untuk membawakan siaran petang, berarti orang tersebut sudah teruji.

Perlahan-lahan karierku naik. Tahun 2004 jadi asisten produser dan 2006 jadi produser. Hanya saja setahun kemudian aku mengundurkan diri. Aku merasa ada keterbatasan ruang kreatif di sana. Selama 7 tahun aku belajar tentang hardnews, aku ingin belajar yang lain misalnya tentang desain program, bagaimana sebuah program agar lebih menarik. Ditambah lagi aku sudah kurang suka dengan suasana kerja di sana. Ketika aku meninggalkan SCTV, Liputan 6 masih bagus dan menjadi referensi orang.

Pindah Kerja
Di tempat baruku, bekerja bersama Karni Ilyas yang senior menjadi nilai tambah lain. Aku pindah bersama beberapa teman lain. Kami bangun pelan-pelan tvOne, membenahi yang tadinya tidak news oriented jadi teve berita.

Sekarang, aku menjabat sebagai Manager News Talkshow tvOne. Selain Kabar Sepekan, aku juga membawakan acara talkshow Debat dan Janji Wakil Rakyat. Bagiku acaranya menarik karena program ini lahan tidur yang punya potensi tapi belum banyak teve yang bisa mengeksploitasinya sehingga menjadi program unggulan. Acara Debat merupakan program genre baru talkshow yang melibatkan dua narasumber yang berseberangan dalam memandang sebuah masalah atau isu.

Acara debat dengan cara seperti itu lebih bagus buat penonton. Kami menjadi bagian yang mewadahi pro dan kontra. Kalau kelihatan mengadu orang memang sebatas itu semangat berwacananya orang Indonesia. Jangan salah, kami juga menerima banyak kritik, apalagi seputar kepemilikan tvOne oleh grup Bakrie. Itu enggak bisa dihindari. Tapi aku selalu bilang pada teman-teman di luar tvOne, aku sudah jadi jurnalis selama 7 tahun, jadi aku masuk ke sini bukan sebagai antek siapapun.

Bicara soal liputan yang menegangkan adalah saat bersama Ali Imron, terpidana kasus bom Bali. Aku meminta izin resmi untuk meliput dia dengan tujuan hendak menyosialisasikan dampak negatif teror. Jadi, aku harus cerita dari yang paling dasar, bagaimana dia termotivasi lalu tobat. Dikemas sedemikian rupa agar orang paham, caranya dengan melakukan dialog. Akhirnya aku jalan bersama Ali Imron, yang tentu saja dikawal.

Ini pengalaman paling mahal bagiku dan menegangkan. Karena harus berhati-hati dalam mengakomodir banyak pihak, jangan terlalu memojokkan apa yang dilakukan Ali Imron. Tapi kalau dua pihak bilang aku ngaco, berarti kerjaku sudah benar karena dua-duanya merasa terganggu. Yang paling sulit memuaskan kedua belah pihak. Jangan sampai yang satu merasa bersyukur dan pihak lain terbebani berarti aku enggak balance. Tapi kalau keduanya marah berarti sudah benar.

Ketika di tahun ke-7 aku bekerja di SCTV, aku mulai resah karena aku merasa sudah menguasai bidang ini. Takut pengetahuanku mentok di situ-situ saja, aku memutuskan mengambil S2 Komunikasi Politik di UI. Sibuk bekerja pun lantas membuatku enggak punya kesempatan membaca. Aku berpikir kalau mengajar berarti aku harus membaca dan mendalami materi kuliah. Akhirnya, aku melamar ke Universitas Paramadina dan Al Azhar sebagai dosen. Kalau di Universitas Pancasila aku ditawari mengajar. Aku mengajar Teori Komunikasi, kebanyakan Teve Production dalam konteks broadcast.

Memang beda ya dunia mengajar dan teve. Mengajar ketemu murid, langsung ada feedback. Sementara di teve seolah-olah kita bagus karena ukurannya rating, padahal ada unsur lain yang mendukung. Saat mengajar lebih “telanjang” karena enggak harus ber-make-up. Di teve sebagai fasilitator, sedangkan di kelas sebagi sumber, jadi enggak boleh asal omong.

Jodoh Sesama Jurnalis

Bicara soal keluarga, pertama kali aku bertemu istri, Rencany

Indra Martani saat liputan sidang istimewa Gus Dur. Waktu itu dia bekerja di TPI. Begitu kenal langsung cocok, kami pun menikah. Sosok Cany, orangnya enggak terlalu banyak menuntut, memberikan ruang toleransi buatku. Dia tahu aku enggak macam-macam, makanya dia enggak menuntut macam-macam. Mau makan di kaki lima, ayo, enggak harus dibelikan barang mewah. Aku yang dulunya sering hidup sendiri, lalu dapat pendamping yang mau melayaniku, bagiku itu mahal banget. Apalagi sampai menyiapkan makan, obat kalau aku sakit, pakaian ketika berangkat kerja, bagiku luar biasa.

Aku berpacaran serius cuma dua kali, meski sejak SMP sudah kenal cewek. Ya, sebatas begitu saja, kalau pacaran hanya ngobrol. Begitu juga di SMA, enggak pernah ngajak nonton, karena ayahnya enggak membolehkan kami pacaran. Kalaupun ngajak nonton, mau pakai uang siapa? Hahaha. Saat di SK pernah pacaran tapi putus karena dia menjalin hubungan dengan orang lain. Nah, begitu ketemu Cany, pas. Namanya juga unik.

Tak hanya namanya, sosok Cany pun unik, karena dulunya dia mantan model. Bahkan dia menjadi salah satu finalis Elite Model. Dunia tersebut sangat bertolak belakang ketika Cany memilih menjadi jurnalis. Sekarang Cany sedang hamil 5 bulan, setelah memberikan dua putri yang cantik-cantik, Laqisya Phillianova Gintings (6) dan Lavere Fallenova Gintings (2). Dia memutuskan pindah kerja ke bidang keuangan karena dunia sebelumnya tidak ideal buat ibu rumah tangga. Aku bilang sebenarnya mau berhenti juga enggak apa-apa. Tapi kalau bisa jangan, karena kalau berhenti pasti menggangguku. Hahaha.

Wajib Berbahasa Indonesia

Konsep keluarga yang kami jalani tentu saja mementingkan agama. Lalu, cari sekolah yang bagus, harus bilingual, Inggris dan Indonesia. Aku bilang ke istri, boleh-boleh saja anak sekolah di sekolah bilingual, tapi syaratnya jangan minta aku bicara bahasa Inggris dengan mereka. Bagiku berbahasa Inggris dengan anak justru membuat hubungan kami enggak penuh kasih sayang. Karena bahasa Inggris buatku hanya untuk cari duit. Sedangkan dengan anak harus pakai bahasa yang aku cintai, belajar bahasa Indonesia dulu yang benar.

Ketika kecil aku enggak bicara Inggris, tapi setelah besar ya mengerti begitu saja. Terlalu berlebihan kalau di kafe atau mal, anak Indonesia bicara Inggris dengan orangtuanya. Tapi susah juga mau disekolahkan di sekolah negeri, istri tidak yakin, apakah anak-anak bisa tumbuh optimal. Ya, akhirnya aku serahkan ke istri saja.

Aku percaya pendidikan itu penting dan utama. Sekarang aku memikirkan sekolah anak-anak yang biayanya lebih mahal daripada ketika aku mengambil S2 di UI. Makanya aku bilang ke anak-anak, kalian harus pintar, belajar yang benar karena enggak gampang cari uang. Biaya di UI Rp 9 juta satu semester, sementara anak-anak tiap 3 bulan sekali Rp 5 juta.

Aku pernah merasakan ingin punya apa-apa tapi tidak ada. Sekarang aku punya kemampuan memberikan apa yang mereka inginkan. Tentu saja aku enggak mau mereka manja. Prinsipku kalau mereka mau sesuatu, harus melakukan sesuatu atau usaha untuk mendapatkannya. Misalnya, harus baca buku sampai habis. Jangan sampai mereka tahu apa yang dia mau bisa diperoleh, itu yang bahaya. Kalau enggak dapat, jatuhnya jadi korupsi. (sumber: tabloid Nova)

Noverita K. Waldan

Timothy Marbun


Minggu, 31 Januari 2010

Timoty Marbun LG

Timothy Marbun: Skuter Andalan Jadi Teman Liputan (1)

Setiap pagi, wajah pria kelahiran Lhokseumawe, 21 Maret 1982 ini selalu menyapa pemirsa di Metro Pagi. Tim, begitu akrab disapa, tampil bersama 2 penyiar wanita. Celetukan ringan dan lucu yang dilontarkan, plus penguasaan bahasa Inggris yang bagus, membuat karakter pria lajang ini di layar kaca menjadi sangat kuat.

Ceritakan, dong, pernah enggak membayangkan jadi penyiar?

Dulu saya orangnya “membingungkan”. Hahaha. Teman-teman SMA 70 Bulungan enggak menyangka saya bisa jadi presenter. Karena saya bandel. Padahal saat SD, SMP selalu masuk 5 besar. Di SMA turun karena banyak main. Untung pas kuliah semangat lagi. Saya pilih Fakultas Ekonomi karena pekerjaan apapun ujungnya ke ekonomi. Awalnya di sebuah universitas swasta di sini, lalu pindah ke Malaysia. Yang menarik karena di sana bahasa Inggrisnya seru banget.

Anda sangat fasih berbahasa Inggris, ya?
Saya sempat tinggal di Amerika dari usia 3 sampai 7 tahun. Kebetulan Ayah kuliah di Amerika. Nah, selama itu kami berbahasa Inggris. Makanya ketika pindah ke Aceh dan masuk sekolah negeri, saya enggak bisa bahasa Indonesia. Lalu, pernah kena semprot guru gara-gara bilang “kamu” ke guru. Namanya juga anak kecil, akhirnya saya disetrap. Saya pun belajar bahasa Indonesia lagi waktu pindah ke Jakarta.

Sejak kapan Anda bergabung dengan Metro TV?
April 2007. Pertama kali membawakan acara Headline News. Saya memulai karier sebagai presenter internasional. Wah, begitu diterima saya berharap bakal bisa ke luar negeri. Ternyata salah besar. Hahaha. Tapi sebenarnya, saya tertarik karena pasti saya bisa memperluas wawasan.

Beberapa bulan setelah itu ada penerimaan presenter, saya pun mendaftar. Suatu hari saya ditelepon disuruh masuk jam 12 malam membawakan acara Headline Malam. Tentu saja saya kaget karena belum pernah siaran malam. Waktu itu, enggak ada orang lain kecuali saya. Pokoknya saya juaranya gantiin orang, deh. Hahaha.

Grogi banget, waktu di studio harus di make-up dulu, rambut pakai

Gaya Tim saat liputan.

gel segala. Sebelum tayang, saya baca berita sampai berulang-ulang, hingga detik terakhir mengharap ada yang gantiin. Anehnya, begitu di depan kamera, malah pasrah, ternyata enggak grogi sama sekali. Semua berjalan lancar. Meskipun setelah acara selesai keringatan. Hahaha. Tapi saya senang karena sebagai latihan.

Setelah beberapa kali bawa acara, barulah membawakan acara dengan durasi setengah jam, Indonesia This Morning. Percaya enggak, itu juga menggantikan teman yang sakit. Haha.

Apa saja suka dukanya?
Di acara Metro Pagi, semua presenter munculnya barengan, kami harus cepat tanggap, jangan sampai ada waktu kosong. Yang agak susah itu soal kerapihan, apalagi pas awal dulu, pembagian tugasnya belum pas. Ada yang kebanyakan bicara, yang lain diam. (Bersama 6 presenter lain, Tommy Tjokro, Prabu Revolusi, Cheryl Tanzil, Prita Laura, Aviani Malik, dan Marissa Anita, Tim bahu membahu membuat acara jadi menarik).

Kami mendapatkan complain terbesar masalah itu. Makanya kami harus mengakrabkan dengan masing-masing presenter untuk membangun chemistry-nya. Setelah siaran, kami rapat, mengatakan terus terang apa yang tidak disukai. Misalnya, ada yang terlalu banyak bicara.

Menurut Anda, bagaimana karakter Anda di teve?

Kata teman-teman karakter saya suka menyindir. Tapi malah dinilai bagus. Pernah di acara, Pak Susno (Susno Duadji) menangis. Lalu saya tanggapi, “Kalau polisi suka dibilang buaya, menangis itu air mata buaya, dong?” Hahaha. Atau ketika membahas AC yang bisa mematikan virus, saya tanggapi, “Semoga ada juga AC yang bisa mematikan virus korupsi.”

Nah, akhirnya sekarang saya disuruh terus mempertahankan hal tersebut untuk menghidupkan suasana. Tanggapan itu keluar dengan sendirinya dari kepala tanpa ada konsepnya. Bayangkan saja, ketika saya menerima omongan dari presenter lain, enggak mungkin diam. Kadang muncul di detik terakhir juga. Pernah juga bengong atau blank enggak ngerti mau omong apa. Ada 3 menit tersisa, harus cepat ambil ide, misalnya baca berita di koran. Bisa juga langsung baca berita saja. Semuanya harus cepat dan belajar dari kebiasaan, jadi terbiasa dengan situasi seperti itu.

Tampaknya Anda sangat menikmati pekerjaan Anda, ya?
Saya suka, meskipun sulit ya membuat orang tertarik ngomongin politik pagi-pagi. Padahal, latar belakang saya bukan dari pendidikan jurnalistik atau broadcasting. Saya, kan, lulusan sekolah bisnis ekonomi di Malaysia. Dunia jurnalistik membuat saya tahu semuanya karena bertemu masalah ekonomi, politik, sosial. Apalagi kalau sudah wawancara mulai dari orang kehilangan anak sampai politikus tinggi.

Akhirnya, pernah liputan ke luar negeri?

Pernah ke Malaysia. Saya harus mendapatkan wawancara dengan Menteri Pertahanan Malaysia. Wah, pusing juga bagaimana caranya karena susah, kan. Untungnya di bandara Malaysia saya ketemu anggota DPR yang mau bertemu orang-orang di Departemen Pertahanan Malaysia. Mungkin karena saya sudah akrab sebelumnya, malamnya mereka mengajak bertemu dengan Menteri pertahanan Malaysia. Saya sampai sewa taksi Rp 400 ribu, meskipun belum ada jaminan bisa wawancara.

Dengan memakai setelan jas, saya menunggu selama 1,5 jam, sampai akhirnya dipersilakan masuk dan bisa ngobrol dengan menterinya. Padahal teve lain enggak bisa melakukan wawancara. Lucunya, teman sekolah saya di Malaysia ternyata keponakannya sang menteri . Tapi dia juga enggak mudah ketemu karena harus janji dulu dengan ajudannya. Hahaha.

Liputan paling berkesan?
Liputan paling berkesan waktu saya dilatih di Media Indonesia selama 3 bulan. Karena jadi wartawan geraknya harus cepat, saya minta izin ke orangtua supaya diperbolehkan naik motor. Setelah bernegoisasi akhirnya orangtua mengizinkan asal naik skuter Vespa. Itu juga utang dulu ke orangtua, dicicil pelan-pelan karena mereka ingin memberikan pelajaran tanggungjawab.

Nah, skuter warna merah itu sampai saya kasih nama, Baba O’Reilly karena saya sangat suka dengan musik The Who.

Baba yang selalu setia menemaniku saat liputan.

Dengan vespa itu, liputan pertama saya sudah seperti reporter tahun 60-an. Baba sangat membantu dalam liputan. Uniknya, tanggal keluar dari pabriknya sama dengan ulang tahun saya, 21 Maret 2005. Pokoknya sudah sejiwa, deh. Karena sekarang jarang dipakai, Ibu sempat tanya kenapa enggak dijual saja. Saya jawab, ”Masa bagian tubuh sendiri dijual.” Hahaha. Dua hal yang paling disayangi sekarang, anjing saya bernama Foggie dan skuter Vespa, Baba.

Bagaimana hubungan Anda dengan orangtua?
Ayah, Dimpos Marbun dan Ibu, Rosliwaty Marbun berasal dari Sumatera Utara. Mereka memberikan kepercayaan yang besar pada anak-anaknya, makanya kami enggak berani melanggar kepercayaan itu. Kami bebas pulang jam berapa saja, asal bertanggungjawab. Kalau sekarang pulang malam, jelas alasannya karena wajahnya ada di teve, kan. Orangtua saya selalu menanamkan hal mendasar, harus bisa membedakan sesuatu, hidup itu kayak apa. Mereka selalu menerapkan agar kami selalu bercerita ke orangtua. Kalau enggak mau cerita ya sudah mereka tidak memaksa. Tapi suatu saat pasti kami cerita ke orangtua kalau ada masalah. Ujungnya, kan, kami memang mencari orangtua.

Ayah sosok pekerja keras, ya?
Ayah berasal dari desa yang sangat jauh di Sumatera Utara, pendidikannya STM tapi bisa sekolah ke Amerika. Berkat kerja keras dan kegagalan, beliau bisa seperti itu. Hal-hal seperti itu yang selalu saya pelajari, ternyata orang butuh kegagalan untuk mendapatkan kesuksesan.

Dulu beliau enggak bisa bahasa Inggris, pergaulannya dengan orang tertentu, lalu menikah dengan penghasilan sangat kecil. Kemudian mencoba jadi sopir tapi enggak keterima, akhirnya depresi. Kalaupun ada kerjaan harus bisa bahasa Inggris. Akhirnya dia belajar Inggris sendiri tanpa les karena enggak punya uang. Ketika diterima kerja, eh malah sampai bisa membawa keluarganya ke Amerika. Coba kalau dulu tidak gagal, belum tentu bisa ke Amerika. Intinya, jangan sedih dengan kegagalan. Ayah menjadi inspirasi saya karena sudah membuktikan dengan hidupnya. Jadi, kenapa harus banyak mengeluh.

Sudah punya pacar?

Pacar ada dari dunia yang sama, tapi belum memikirkan ke arah perkawinan. Kalau memang dikasih jodohnya pasti ada waktunya. Soal jodoh enggak akan sedetik terlambat dan sedetik terlalu cepat, kok.

Noverita K. Waldan

sumber: tabloid Nova

Gomar Gultom


Memperjuangkan Pluralisme Tanpa Gus Dur

GmarGereja adalah ekklesia di mana umat yang dipanggil keluar dan masuk ke dalam terangnya yang ajaib. Itu artinya Gereja harus menjadi terang bagi kehidupan banyak orang. Namun, kerapkali Gereja tidak memberikan apa-apa bagi kehidupan banyak orang, padahal “Tuhan itu baik untuk semua orang.” Kita harus mampu mengimplementasikan bahwa Tuhan baik kepada semua orang, tidak hanya kepada PGI saja. Apakah dia Pentakosta atau Saksi Jehowa atau pun umat lain. Karena Tuhan juga baik terhadap mereka.

Demikian kata Sekretaris Jenderal Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia, Gomar Gultom, saat menerima TAPIAN di ruang kerjanya di Gedung PGI di Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat. Dia baru saja terpilih menjadi sekretaris jenderal perhimpunan gereja-gereja di seluruh Indonesia. Huria Kristen Batak Protestan yang mencalonkannya.

Gomar adalah anak dari Teodosus Gultom, seorang pegawai di Departemen Agama, sementara ibunya adalah Ramean Siregar, seorang parrengge-rengge atau pedagang kata orang kebanyakan. Dia lahir di Tarutung, Tapanuli Utara, pusat HKBP, yang merupakan sinode gereja terbesar di Asia Tenggara, pada tanggal 8 Januari 1959. Masa kecilnya, dilewatkan di kota tersebut hingga umur enam tahun. Baru kemudian pindah ke Medan mengikuti kepindahan ayahnya sebagai pegawai Departemen Agama. Sekolah dasarnya dia tamatkan di SD GKPI Air Bersih, Medan. Sedangkan sekolah menengah pertama lulus dari SMP Kristen III, Salatiga. Dia menempuh pendidikan sekolah menengah atas di SMA Kristen I PSKD, Jakarta. Lalu dia melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Teologia Jakarta. Saat ini, di kampus yang sama, dia sedang menyelesaikan pendidikan tingkat doktoral di jurusan devinity atau pelayanan.

Perawakan kecil dengan visinya yang besar untuk kemajemukan bangsa. Gomar bergerak lincah melakukan tugas yang disebutnya sebagai ”pengabdian bagi Tuhan dan Negara.” Di Jakarta, sebagai anak dari vorhanger atau penatua di HKBP Pulo Asem, Gomar tentu aktif di gereja. Namun, menurutnya, ilham yang membuat dia tertarik menjadi pendeta adalah Alfred Simajuntak, pencipta lagu Bangun Pemuda-Pemuda, ketika sang komponis menjadi pengajar untuk para guru Sekolah Minggu di mana Gomar juga menjadi salah seorang tenaga pengajar. Alfred tidak saja menggugah batin, tetapi juga memberi semangat dan kemampuan bagi Gomar yang telah memutuskan untuk menjadi seorang Hamba Tuhan.

Gomar takkan lupa pada orang-orang yang telah turut mengantarnya sampai di puncak kariernya sekarang ini sebagai pengelola dari sekian banyak gereja dengan sekian banyak kecenderungan di seluruh negeri ini. “Melalui pengajaran, Simanjuntak mendorong saya untuk masuk sekolah teologia. Saya juga banyak dipengaruhi oleh pendeta Sahat Rajagukguk, seorang pendeta Gereja Kristen Protestan Indonesia, yang adalah juga salah seorang pengurus PGI. Beliau jugalah yang mendorong saya untuk terjun dalam gerakan okumene. Selain itu, S.A.E. Nababan turut juga memberikan pengaruh pada saya. Dan, yang tidak kalah besar pengaruhnya adalah ayah saya. Ayah saya dulu bekerja di Departemen Agama, dan duduk sebagai vorhanger di HKBP Pulo Asem.” Begitu dia melihat ke belakang, mengenang, menghitung orang-orang yang telah berjasa membawanya ke puncak yang menjadi dambaan semua orang yang telah berserah diri menjadi hamba Allah.

Cinta pertama
Lulus dari Sekolah Tinggi Teologia Jakarta, Desember 1983, dia lalu menjalani masa vikariat atau penggemblengan sebelum menjadi pendeta di Tongging, Tanah Karo, persis di bibir Danau Toba. Gomar tidak mau duduk di menara gading Gereja sebagai “amang pendeta” yang sabam hari mempersiapkan khotbah di mimbar. Buat di khotbah bukanlah rangkaian kata-kata yang dibiarkan kosong. Khotbahnya adalah tindakan langsung, dengan terjun mengurusi masalah-masalah sosial dan melakukan penyadaran hukum melalui Kelompok Studi Pengembangan Prakarsa Masyarakat (KSPPM). Gomar mencoba melalui LSM tersebut menjalankan panggilan gereja untuk hadir bersama masyarakat miskin, lemah dan menderita. Gomar tidak pernah mematok gelanggang pelayanan hanya di gereja. Dia juga menjadi dosen bagi para calon pendeta di STT Nomensen, Pematang Siantar. Dia sempat juga memberikan pelayanan khusus untuk pemuda di HKBP Resor Petojo, Jakarta. Gomar juga yang menggagas penyelenggaraan Perkemahan Kerja Pemuda Gereja.

Sebagai pendeta dan juga aktivis dia bersentuhan dengan Lembaga Penyadaran Hak-Hak Warga Negara, di Jakarta. Selain ikut menggagas berdirinya Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan, dia juga aktif dalam Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika. Tahun 1991, dia dipercaya menjadi Kepala Biro Pembinaan HKBP.
Masa mudanya dia lalui seperti air yang mengalir. Sebagaimana seorang pemuda dia juga mengalami cinta pertama dan sekaligus menjadi cinta terakhir bersama Loli Jendrianita Simanjuntak, seorang dokter spesialis ilmu penyakit dalam di RSUP Fatmawati, Jakarta Selatan. Kedua sejoli ini dipertemukan oleh pandangan pertama. Mereka berkenalan pada waktu Gomar duduk di bangku SMA, sedangkan Loli masih SMP ketika itu.

“Saya kenal dia waktu itu saat masih SMP. Saat itu, kita berkemah di Gunung Pangrango, Jawa Barat. Pulang dari sana kita mampir di Cianjur, rumah sepupu dari salah satu teman. Di sinilah pandangan pertama itu menemukan mimpinya. Di situlah kami kenalan, dikenalkan saudara sepupu teman saya itu. Sejak itu, kita surat-menyurat. Lancar terus-menerus. Kita pacaran semenjak SMA hingga perguruan tinggi,” ujar Gomar mengenang masa-masa romantisnya sebelum membangun biduk rumahtangga. Tuhan mengaruniai pernikahannya seorang puteri, Agustina Marisi Nauli, yang saat ini menempuh kuliah di Fakultas Hukum Universitas Padjajaran, Bandung.

Sebelumnya, Gomar tidak pernah dijagokan untuk menempati posisi Seketaris Jenderal di PGI. Lima tahun lalu, Gomar dipercayakan sebagai Sekretaris Eksekutif Bidang Diakonia, yang memberikan ruang lebar kepadanya untuk bisa melayani umat. Sebagai Sekretaris Eksekutif Bidang Diakonia, dia amat aktif dan mendorong penegakan hukum dan hak-hak asasi manusia. Pada Sidang Raya di Mamasa, Sulawesi Tenggara, Gomar terpilih menjadi Sekretaris Jenderal mengantikan Richard Daulay dari Gereja Metodist Indonesia. Sedangkan ketua umum tetap berada dipundak A. A. Yewangoe.

PGI adalah organisasi gereja Protestan yang menaungi sekiatar 80-an Sinodal, dan itulah yang membuka wacana baru yang lebih luas bagi cakrawala pikiran Gomar tentang perlunya semangat pluralisme. Di PGI, Gomar merasakan sekali suasana yang saling menghargai yang menjadi esensi konstitusi tentang kebebasan beragama. Implemetansinya adalah menghargai orang yang berbeda agama. Yang harus dilakukan para pemimpin umat adalah membina umatnya sendiri supaya tidak tergoda dengan ajaran yang berbeda, demikian kata Gomar.

Menurutnya, untuk menyelesaikan masalah-masalah konstitusi, gereja harus terus aktif berjuang agar penyelesaian masalah tidak dibelokkan oleh semangat sektarianisme. “Hukum adalah produk politik dan merupakan cerminan kemenangan dari kekuatan politik yang nyata. Di dalamnya termasuk penguasaan taktis legislasi, bukan hanya soal kekuatan jumlah. Oleh karena itu, gereja harus melibatkan diri di sini, walau berada dalam jumlah yang kecil, agar produk hukum tidak bias untuk kepentingan agama tertentu.”

Membela Ahmadiyah
Mengapa tertarik pada gerakan okumenis? “Gereja itukan ekumenis, artinya satu kesatuan. Gereja yang mula-mula sampai gereja yang sekarang harus okumenis. Di PGI gerakan itulah yang kita bangun. Saya ditugaskan HKBP untuk duduk di PGI. Tetapi jauh sebelum menjadi pendeta, semasih di STT Jakarta, saya sudah bergelut dalam gerakan ini. Pertama, di komisi pemuda ekomenis,” katanya. Dia pernah duduk sebagai Wakil Ketua Kelompok 17 yang menggagas pembinaan pelayanan pemuda di Biro Pemuda PGI.

“Banyak orang yang tidak tahu banyak apa yang dilakukan PGI. Banyak yang telah dilakukan, tentang legislasi nasional, tentang penegakan HAM, penegakan hukum di Indonesia. Misalnya membela Ahmadiyah. Nggak ada lembaga-lembaga gereja selain PGI yang berani membela Ahmadiyah, dalam rangka kebebasan beragama. Hanya saja media tidak pernah memberitakannya, mungkin karena PGI tidak seksi untuk diberitakan,” ujarnya terbahak-bahak.
Hubungan dengan agama lain? “PGI menjalin hubungan dengan agama-agama lain, dengan semua elemen bangsa, dengan Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, dengan Hindu, Budha, bahkan dengan Parmalim sekalipun. PGI konsisten dalam mengawal konsitusi kita. Belakangan ini konstitusi kita tergerus oleh semangat sekretarianisme, fundamentaslisme, yang ingin menggantikan konstitusi dengan syariah agama,” katanya menunjukkan.

Selain aktif di gereja, Gomar juga giat di dalam masyarakat, sebagai aktivis dalam pelayanan buruh melalui PMK HKBP, bersama Luhut Pangaribuan, Ade Rostina Sitompul, Asmara Nababan, Yoppie Lasut dan beberapa pengacara lainya dari Lembaga Penyadaran Hak-Hak Warga Negara (LPHWN) di mana Gormar juga dipercaya sebagai sekretarisnya. Lewat lembaga ini pula, bersama teman-temannya, Gomar memberikan penyadaran hukum kepada para tahanan politik, terutama tahanan politik eks-PKI yang sangat rentan posisinya dan hampir terabaikan dalam aspek kehidupan selama rezim Orde Baru.

Tahun 1999-2004, Gomar juga aktif dalam pelayanan masyarakat Jaringan Kerja Lembaga Pelayanan Kristen di Indonesia (JKLPK), dan jabatan terakhirnya adalah Direktur Program. JKLPK sendiri sangat aktif mengadvokasi pembentukan Kabupaten Mentawai. Juga mencarikan jalan damai bagi konflik di Papua dan Maluku.

Sedari dulu Gomar juga aktif membangun semangat kemajemukan. Pada aras gereja dia aktif dalam gerkanan oukumenis dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika bersama-sama dengan agama lain. Dia ikut menggagas berdirinya Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan, dan aktif dalam Aliansi Nasional Bhinneka Tungga Ika. Kedua lembaga ini, dengan semangat yang sama, bergerak melawan semangat sektarianisme, fundamentalisme, yang coba menggerus semangat keberagaman.

“Selama ini kita terkooptasi, terkotak-kotak. Pelarangan terhadap Ruma Parsaktian di Jalan Air Bersih, Medan, oleh jemaat HKBP ditentang oleh PGI. Saya sebagai sekretaris esekutif bidang Diakonia PGI ketika itu melakukan pertemuan dengan jemaat HKBP yang menentang berdirinya Ruma Parsaktian itu. PGI mendukung berdirinya Ruma Parsaktian di Jalan Air Bersih. Orang berhak mendirikan rumah ibadahnya. Yang kami perjuangkan adalah kebebasan beragama, bukan memperdebatkan masalah doktrin,” katanya menjelaskan.

Dia pendeta tulen sekaligus aktivis murni. Itu bisa terbaca beberapa waktu lalu, saat Gomar mengikuti pertemuaan lintas agama yang juga dihadiri Pangeran Charles dari Inggris. Gomar mengenakan baju tohonan, baju pendeta mirip baju koko, berwarna hitam. Sebagai aktivis, keberanian Gomar terlihat saat mimimpin demonstrasi anti-globalisasi di dekat Istana Malacanang, Manila, tahun 2003 lalu. Demikian pula, pada bulan Maret 2009 lalu, saat pencabutan izin mendirikan bangunan (IMB) dan gedung Serbaguna HKBP di Jalan Pesanggarahan, Kelurahan Cinere, Kecamatan Limo, Kota Depok oleh Walikota Depok Nurmahmudi Ismail. Lewat keputusan Walikota Depok tersebut menyebabkan ditutupnya Gereja HKBP itu. Gomar melawan budaya otoriter tersebut. Dia memimpin doa keperihatinan.

Pembakaran rumah ibadah

Semangat perlawanan tersebut terinspirasi oleh keberanian Gus Dur yang mau berjuang untuk tegaknya kebebasan beragama. “Gus Dur telah memberikan pelajaran bagi kita. Dia selalu memasang badan untuk orang-orang yang berupaya memberangus kemajemukan, yang mencoba merongrong semangat kemajemukan tersebut. Kita tidak menafikan adanya gesekan selama ini. Tetapi, buah hidup yang diperjuangkan oleh Gus Dur selama ini sudah mulai bersemi. Kami sebenarnya mau pergi ke kuburan Gus Dur, tetapi oleh Gus Solah (Solahuddin, adik Gus Dur) meminta jangan dulu datang ke sana, sebab sampai hari ini masih berduyun-duyun orang datang ke kuburuannya.”

Menurut Gomar, dia beberapa kali bertemu dengan Gus Dur, di PGI, di Cigajur, rumah Gus Dur sendiri, bahkan tatkala sama-sama menjadi narasumber pada seminar atau diskusi tentang kebebasan beragama. “Kita kehilangan Gus Dur. Tetapi, melihat respon masyarakat terhadap kematian beliau, itu artinya bahwa ke depan kita tidak perlu takut terhadap benih pluralism yang mulai bersemi. Selama masyarakat memperjuangkan kemajemukan yang telah ditancapkan Gus Dur, asal selalu kita sokong, niscaya kebebasan beragama akan bersemi. Kita harus mandiri. Tanpa Gus Dur kita harus terus memperjuangkan pluralisme tersebut. Kita harus menjadi dewasa, dan terus merawat pluralime itu. Dengan PGI sendiri, Gus Dur sangat akrab. Bermula dari Sidang Raya PGI di Surabaya, ketika Gus Dur mengajak perserta sidang mengunjungi pesantren. Kita melihat figure Gus Dur sebagai bapak pluralisme yang terus memperjuangkan kebebasan beragama,” ujar Gomar. Ini juga yang disampikan oleh Gomar pada saat pelucuran buku Sejuta Hati Untuk Gus Dur di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, awal Januari lalu.

Sekarang, kebebasan beragama memang masih jauh dari harapan, masih ada riak-riak yang selalu membuat gesekan, misalnya penutupan bahkan pembakaran rumah ibadah. Tetapi, jika banyak sosok yang berjuang seperti Gomar Gultom, maka kebebasan beragama bukanlah cita-cita yang kosong. Kelak Indonesia tidak dinilai sebagai negara demokrasi yang abu-abu, tetapi negara demokrasi dengan jumlah penduduk yang besar yang menghargai kebebasan beragama bagi semua penganutnya.***Hotman J. Lumban Gaol

T B Simatupang


Tahi Bonar Simatupang atau yang lebih dikenal dengan nama TB

Tahi Bonar Simatupang

Simatupang (lahir di Sidikalang, Sumatera Utara, 28 Januari 1920 – meninggal di Jakarta, 1 Januari 1990 pada umur 69 tahun) adalah seorang tokoh militer dan Gereja di Indonesia. Saat ini namanya diabadikan sebagai salah satu nama jalan besar di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan.

Simatupang dilahirkan dalam sebuah keluarga sederhana. Ayahnya Simon Mangaraja Soaduan Simatupang, terakhir bekerja sebagai pegawai kantor pos. Simatupang menempuh pendidikannya di HIS Pematangsiantar dan lulus pada 1934. Ia melanjutkan sekolahnya di MULO Tarutung 1937, lalu ke AMS di Jakarta dan selesai pada 1940. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar dan menengahnya, Simatupang mendaftarkan diri dan diterima di Koninklije Militaire Academie (KMA) – akademi untuk anggota KNIL, di Bandung dan selesai pada 1942, bertepatan dengan masuknya tentara Jepang ke Indonesia yang kemudian merebut kekuasaan dari pihak Belanda.

Dalam masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan, Simatupang turut berjuang melawan penjajahan Belanda. Ia diangkat menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Perang RI (1948-1949) dan kemudian dalam usia yang sangat muda ia menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Perang RI (1950-1954). Pada 1954-1959 ia diangkat sebagai Penasihat Militer di Departemen Pertahanan RI. Ia kemudian mengundurkan diri dengan pangkat Letnan Jenderal dari dinas aktifnya di kemiliteran karena perbedaan prinsipnya dengan Presiden Soekarno waktu itu.

Simatupang pernah mengatakan bahwa ada tiga Karl yang mempengaruhi hidup dan pikirannya, yaitu Carl von Clausewitz, seorang ahli strategi kemiliteran, Karl Marx dan Karl Barth, teolog Protestan terkemuka abad ke-20. Seluruh kehidupan Simatupang mencerminkan peranan ketiga pemikir besar itu. Setelah melepaskan tugas-tugas aktifnya sebagai militer, Simatupang terjun ke pelayanan Gereja dan aktif menyumbangkan pemikiran-pemikirannya tentang peranan Gereja di dalam masyarakat.

Dalam aktivitas gerejawinya itu, ia pernah menjabat sebagai Ketua Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia, Ketua Majelis Pertimbangan PGI, Ketua Dewan Gereja-gereja Asia, Ketua Dewan Gereja-gereja se-Dunia, dll.

Di lingkungan kemasyarakatan, Simatupang menjabat sebagai Ketua Yayasan Universitas Kristen Indonesia dan Ketua Yayasan Institut Pendidikan dan Pembinaan Manajemen (IPPM). Ia bahkan merupakan salah satu pencetus lembaga pendidikan ini, ketika di Indonesia belum banyak orang yang memikirkannya. Simatupang percaya bahwa Indonesia membutuhkan pemimpin-pemimpin yang menguasai ilmu manajemen di dalam perusahaan maupun di tengah masyarakat.
Pada 1969 Simatupang dianugerahi gelar Doctor Honoris Causa dari

Simatupang menikah dengan Sumarti Budiardjo yang adalah adik dari teman seperjuangannya Ali Budiardjo. Pasangan ini dikaruniai empat orang anak, salah seorang di antaranya meninggal
Karya tulis:

* Soal-soal Politik Militer di Indonesia (1956)
* Laporan dari Banaran: Kisah Pengalaman Seorang Prajurit selama Perang Kemerdekaan (1960)
* Pemerintah, Masjarakat, Angkatan Perang: Pidato-pidato dan karangan-karangan 1955-1958 (1960)
* Tugas Kristen dalam Revolusi (1967)
* Capita Selecta Masalah Hankam (1967)
* Pengetahuan Militer Umum (1968)
* Pengantar Ilmu Perang di Indonesia (1969)
* Diskusi Tjibulan II: Dukungan dan Pengawasan Masjarakat dalam Pembangunan, 9-11 Djanuari 1970 (disusun bersama oleh Anwar Harjono, H. Rosihan Anwar, T.B. Simatupang) (1970)
* Kejakinan dan Perdjuangan: Buku Kenangan untuk Letnan Djenderal Dr. T.B. Simatupang (1972)
* Keselamatan Masakini [disusun oleh T.B. Simatupang, bersama S.A.E. Nababan dan Fridolin Ukur (1973)
* Buku Persiapan Sidang Raya Dewan Gereja-Gereja Sedunia, 1975 (1974)
* Ketahanan Nasional dalam Situasi Baru di Asia Tenggara: Ceramah pada tanggal 30 Juni 1975 di Gedung Kebangkitan Nasional, Jakarta (1975)
* Ceramah Letnan Jenderal TNI (Purn) Dr. T.B. Simatupang di AKABRI Bagian Darat, tanggal 4 November 1981 [microform] (1981)
* Pelopor dalam Perang, Pelopor dalam Damai (1981)
* Arti Sejarah Perjuangan Kemerdekaan: Ceramah tanggal, 14 Oktober 1980 di Gedung Kebangkitan Nasional Jakarta (1981)
* Iman Kristen dan Pancasila (1984)
* Harapan, Keprihatinan dan Tekad: Angkatan 45 Merampungkan Tugas Sejarahnya (1985)
* Kehadiran Kristen dalam Perang, Revolusi dan Pengembangan: Berjuang Mengamalkan Pancasila dalam Terang Iman (1986)
* Percakapan dengan Dr. T.B. Simatupang (penyunting: H.M. Victor Matondang) (1986)
* Peranan Angkatan Perang dalam Negara Pancasila yang Membangun (1980)
* Peranan Agama-agama dan Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam Negara Pancasila yang Membangun (1987)
* Dari Revolusi ke Pembangunan (1987)
* 70 tahun Dr. T.B. Simatupang: Saya adalah Orang yang Berhutang [penyunting: Samuel Pardede] (1990)
* Penghayatan Kesatuan Bangsa dalam rangka Pembangunan Nasional sebagai Pengamalan Pancasila Menuju Tinggal Landas (1990)
* Membuktikan Ketidakbenaran Suatu Mitos: Menelusuri Makna Pengalaman Seorang Prajurit Generasi Pembebas bagi Masa Depan Masyarakat, Bangsa, dan Negara (1991)

Sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/T._B._Simatupang

Ludovikus Simanullang, Dr. OFM Cap.


Dr. Ludovikus Simanullang, OFMCap, pastor kelahiran Sogar, Barus,

Dr. Ludovikus Simanullang, OFMCap

Tapanuli Tengah, 23 April 1955 adalah Uskup Keuskupan Sibolga. Pengangkatannya secara resmi diumumkan Vatikan pada tanggal 14 Maret 2007 dan ditahbiskan pada Minggu, 20 Mei 2007.

Pusat Data Tokoh Indonesia dari Keuskupan Sibolga mencatat, sebagai pastor, Ludovikus Simanullang, OFM Cap. ditahbiskan Imamat pada bulan Juli 1983 dan memulai pengabdian di paroki Tarutung Bolak. Kemudian tahun 1988-1993 ia melanjutkan studi di Universitas Antonianum Roma. Setelah menyelesaikan studinya, ia kembali ke tanah air. Lalu tahun 1993-1997 ia menjabat Magister Postulan Mela sekaligus moderator Paroki Tarutung Bolak.

Kemudian terpilih menjadi Minister Provinsial di Propinsi Kapusin St. Fidelis (Sibolga) periode 1997-2003. Pada tahun 2006, terpilih lagi sebagai Minister Propinsial untuk ketiga kalinya. Selain itu, ia juga aktif sebagai formator para frater di STFT St. Yohanes Pematang Siantar.

Upacara penahbisannya sebagai Uskup Keuskupan Sibolga diselenggarakan pada hari Minggu, 20 Mei 2007 pukul 9.00 wib. Upacara itu dimulai dengan prosesi dari Katedral menuju tempat perayaan di lapangan Simaremare, Sibolga. Ia menerima tahbisan Episkopat dari Duta Besar Vatikan, Mgr. Leopoldo Girelli. (Sumber: Blasius S. Yesse Pr, Sekretaris Keuskupan Sibolga)

Acara Penahbisan

28 Uskup, 100 Pastor dan 8.000 Umat Katolik Hadiri Pentahbisan Uskup Mgr DR Ludovikus Simanullang OFMCap

Pentahbisan Uskup Keuskupan Sibolga Mgr DR Ludovikus Simanullang OFMCap olehDuta Vatikan di Indonesia Mgr Leopoldo Girelli dihadiri 28 Uskup se- Indonesia, 100 Pastor dan 8.000-an umat Katolik se- Keuskupan Sibolga, Minggu (20/5) di Lapangan Simare-mare Sibolga Jalan Sutomo Sibolga.

Pentahbisan ditandai pemakaian cincin, mitra (topi) dan tongkat kegembalaan dimana yang secara keseluruhan perayaan tersebut berlangsung aman dan lancar.

Ketua Panitia Perayaan Pastor R Daely OFMCap dalam laporannya mengatakan, seluruh umat Katolik di Keuskupan Sibolga sebanyak 210.000 jiwa tersebar di 7 kabupaten/kota yaitu Kota Sibolga, Tapteng, Kota Padang Sidempuan, Madina, Tapsel, Nias dan Nisel bergembira dan bersyukur atas pentahbisan ini karena sudah lebih 3 tahun Keuskupan Sibolga tidak memiliki Uskup.

Menurutnya, penghunjukkan Pastor Ludovicus menjadi Uskup Keuskupan Sibolga diumumkan tahta suci di Roma, Rabu (14/3) oleh Bapa Suci Sri Paus Benedictus XVI dan dilanjutkan ke Nuntius (Duta) Vatikan di Indonesia Mgr Leopoldo Girelli.

“Sejak Mgr DR Anesetus B Sinaga dihunjuk sebagai Uskup Koajutor Keuskupan Agung Medan bulan Februari 2004 lalu, Uskup di Keuskupan Sibolga menjadi lowong,” jelas dia seraya berharap kehadiran Uskup baru di Keuskupan Sibolga semakin menyadarkan existensi sebagai umat beriman untuk senantiasa bangkit dan bergerak demi habitus baru yang kita dambahkan bersama.

Walikota Sibolga Drs Sahat P Panggabean MM dalam sambutannya berharap, kerjasama Katolik dengan Pemerintah semakin berjalan baik untuk saling membantu dalam melaksanakan pembangunan.

“Peranan Katolik yang sangat besar dalam pembangunan di daerah ini adalah pendidikan dan pembangunan spritual,” katanya seraya menambahkan permasalahan rakyat yang sedang di hadapi saat ini seperti tekanan ekonomi, kekerasan dan pelanggaran hukum hingga perusakan lingkungan semakin rumit sehingga peranan Gereja sangat diharapkan dapat membantu menyelesaikan permasalahan tersebut.

Pada kesempatan tersebut Walikota Sibolga bersama unsur Muspida Plus Kota Sibolga di antaranya Ketua PN Sibolga Dj Pasaribu, Ketua DPRD Kota Sibolga Syahlul Situmeang dan Ketua TP PKK Sibolga Rumintang Uli Lumbantobing didampingi pimpinan instansi di lingkungan Pemko Sibolga dan sejumlah pejabat dari berbagai daerah di antaranya Wakil Bupati Nias Selatan Daniel Duha SH, mantan Bupati Simalungun Ir Jhon Hugo Silalahi, anggota DPD asal Sumut Parlindungan Purba mengalungkan bunga kepada para Uskup dan ulos kepada Uskup Mgr Ludovicus.

Sejumlah kebudayaan daerah di wilayah Keuskupan Sibolga juga ditampilkan pada perayaan tersebut di antaranya tarian dari Nias, Nias Selatan, Padang Sidempuan dan Pangaribuan dan upah-upah masing-masing dari etnis Nias, Batak dan Tionghoa.

Malam harinya usai perayaan, Walikota Sibolga menjamu makan malam bersama Duta Vatikan, para Uskup dan rohaniwan Katolik di Pendopo Rumah Dinas di Jalan Dr Ferdinan Lumbantobing Sibolga. (Sumber: SIB 21 Mei 2007) FOTO: http://frans.zai.web.id/wp-content/uploads/2007/10/mgr-ludovicus-simanullang.

Biodata:
Pastor. Dr. Ludovikus Simanullang, O.F.M. Cap.
Lahir:
Surabaya, 1 Oktober 1941
Agama:
Kristen
Jabatan:
– Uskup Keuskupan Sibolga
Pendidikan:
– Universitas Antonianum Roma, 1988-1993
Karir:
Pastor Imamat paroki Tarutung Bolak, 1983-1988
– Magister Postulan Mela sekaligus moderator Paroki Tarutung Bolak, 1993-1997
– Minister Provinsial di Propinsi Kapusin St. Fidelis (Sibolga) periode 1997-2003 dan 2006
– Formator para frater di STFT St. Yohanes Pematang Siantar
– Uskup Keuskupan Sibolga, sejak 20 Mei 2007

Alamat:
Keuskupan Sibolga
Jln. AIS Nasution No. 27, Sibolga 22513 Tlpn:0631-371761

A.E Manihuruk


Orang Batak tidak akan melupakan jasa-jasanya. Dialah satu-satunya

AE Manihuruk

orang yang bisa disebut pejabat “sukuisme” dalam arti yang positif. Katanya, dulu, setiap orang Batak yang melamar ke BAKN 90% pasti diterima, demikian pula jika melamar pegawai negeri, AE Manihuruk pasti memabuntu. Itu sebabnya, di masa dia menjabat, banyak orang Batak yang menjadi pegawai negeri.

Kariernya dimulai dari tentara hingga pangkat terkahir Letnan Jenderal. Dia adalah Arsinius Elias Manihuruk, mantan Ketua Badan Administrasi Kepegawaian Negara (BAKN). Meninggal pada usia 82 tahun, pada hari Jumat (10/1) di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta.

AE Manihuruk meninggalkan seorang istri, Rohim Boru Sihaloho (84), dan lima anak, Yeni Rita Manihuruk (58), Guntur Manihuruk (51), Posman Manihuruk (49), Sahala Manihuruk (47), dan Sahat Manihuruk (45).

Berlin Simarmata, dalam weblognya menyebut, di kampung kami beliau dikenal sebagai seorang pejuang,yang tadinya adalah seorang guru,lalu masuk TNI pada masa perjuangan.Disamping pejuang,beliau dikenal sebagai seorang yang berhati baik,suka menolong orang kampung kami,dalam batas-batas kemampuannya.

“Saat saya murid SMP di Pangururan-Samosir,saya satu kelas dengan putrinya Jeanny boru Manihuruk.Pada saat saya kuliah di ITB Bandung,saya dapat kesempatan berkenalan dengan keluarga beliau.Beliau berada di Bandung,karena mendapat tugas sebagai dosen Seskoad. Selama di Bandung beliau juga diangkat sebagai Penasehat Muda Mudi Silalahi Sabungan. Saya pun mengenal beliau secara dekat tatkala pernikahan Letnan Dua Tukang Simarmata, dengan Emmy boru Tobing.Beliau bertindak sebagai wali penganten laki-laki,dan saya sebagai panitia resepsi,” tulis Berlin.

“Nasehat beliau yang paling berkenan di hati saya adalah:Jangan melupakan kampung halaman atau bonapasogit.Beliau mengkritik Kolonel Maludin Simbolon dan Mayor Raja Permata alias Sangga Raja Simarmata,yang tidak mempedulikan pulau Samosir.Beliau masih berpangkat Letnan Satu,tatkala kedua nama yang disebut terdahulu sebagai Panglima Kodam Bukit Barisan dan Komandan Batalion di BB,” tambah Berlin mengenang AE Manihuruk.***Hotman J. Lumban Gaol

Biodata:
Letjen (Purn) AE Manihuruk
Lahir:
Lumban Suhi-suhi, Pulau Samosir, Sumatera Utara, 29 Februari 1920
Meninggal:
Jakarta 10 Januari 2003
Dikebumikan:
Samosir 16 Januari 2003
Agama:
Kristen
Isteri:
Rohim Boru Sihaloho
Anak:
Yeni Rita Manihuruk (58), Guntur Manihuruk (51), Posman Manihuruk (49), Sahala Manihuruk (47), dan Sahat Manihuruk (45)
Pangkat Terakhir:
Letnan Jenderal TNI
Jabatan Terakhir:
Ketua Badan Administrasi Kepegawaian Negara (BAKN) tahun 1972-1987
Organisasi:
Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Golongan Karya (Golkar) periode tahun 1987-1992
Pemimpin Umum majalah Koppri, majalah gratis, tahun 1988