Pdt. Martin Lukito Sinaga D.Th


Martin L SinagaPdt. Martin Lukito Sinaga D.Th
Bidang Studi dan Jabatan:
Dosen Matakuliah: Dialog antaragama, Agama Hindu-Budha. Email: m.sinaga@sttjakarta.ac.id

Riwayat Pendidikan:
Sarjana dan Magister Teologi, STT Jakarta, 1991 dan 1995 Research Scholar “Religionswissenschaft”, Univ. Negeri Hamburg, Jerman, 1996-1998 D.Th. South East Asia Gaduate School of Theology, 2001
Riwayat Pelayanan:
Pendeta di Gereja Kristen Protestan Simalungun (sejak 1995-Sekarang); sebagai “Study Secretary for Theology and the Church” pada Lutheran World Federation, Genewa-Swiss (2009-2012). Aktifis dialog antaragama di MADIA dan ICRP (sejak 1998-sekarang). Dewan Redaksi di koran Satuharapan.com (2013-sekarang). Pendeta Jemaat GKPS Cijantung sejak 2014.
Karya dan Prestasi Akademis:
Penyunting buku, Common Word: Buddhists and Christians Engage Structural Greed (Geneva, 2012: LWF-DTPW); Menulis bersama Karen Bloomquist and John Stumme, Churches Holding Government Accountable (Geneva, 2010: LWF-DTS); Penyunting tulisan dan renungan terpilih Liem Khiem Yang: Menghayati Kalam dalam Hening (Jakarta, 2007: LAI); Penulis Identitas Poskolonial Gereja Suku dalam Masyarakat Sipil (Yogyakarta, 2004), diterbitkan oleh LKiS, “Lembaga Kajian Islam dan Sosial”, dan mendapat bantuan penerbitan sebagai “Buku Bermutu” oleh Yayasan Adikarya/Ford Fondation; Menulis bersama Juandaha Dasuha, Tole! der Timorlanden den Evangelium, Sejarah 100 tahun Pekabaran Injil di Simalungun (Pematangsiantar, 2003: Kolportase GKPS); Menulis bersama Trisno Sutanto, Meretas Dialog Anntar Agama (Jakarta, 2002:MADIA).

Wawancara: Pdt. Dr Martin L. Sinaga (Teolog/Cendikiawan Kristen)

“Jokowi Merajuk Perbedaan untuk Kebangsaan”

Setelah Jokowi-JK dilantik menjadi presiden dan wakil presiden. Terkait revolusi metal, apa yang realistis kita harapkan dari pemerintahan yang baru ini?

Kami sebenarnya sudah menerbitkan buku revolusi mental, editornya Jansen Sinamo. Buku yang juga diberi judul Revolusi Mental. Di buku itu saya menulis revolusi mental hidup beragama. Saya kira, kalau melihat kepemimpinan dan jejak rekam dari Jokowi, tentu ada secerca harapan. Bahwa kehidupan kita ke depan akan lebih baik.

Revolusi mental tampaknya membuka ruang untuk kita merubah cara berpikir…

Mindset kita dirubah. Soal identitas dan kebersamaan itu dibangun. Revolusi mental diterima masyarakat. Respon dari masyarakat kita bisa lihat di pilihan presiden lalu, ada konser dua jari. Lalu konser tiga jari setelah pelantikan Jokowi-JK sebagai pemimpin nasional. Saya kira ini indikator kita melihat bahwa ekpektasi masyarakat terhadap pemimpinan Jokowi-JK begitu tinggi. Harapan itu menurut saya tidak berlebihan, karena memang keberhasilan satu pemerintahan juga kalau didukung masyarakatnya.

Apa yang harus dilakukan pemerintahan Jokowi?

Kaum marginal harus ditolong. Kelas menengah ditingkatkan kehidupannya. Tetapi lompok elit yang selama ini disebut kelompok kapital dibatasi ruang. Misalnya, pengurangan jumlah pertambahan mal-mal. Jokowi, menurut saya hendak membangun berekonomi yang lain dari sekarang. Kalau itu berhasil itu sekaligus membangun toleransi. Cara berekonomi yang melibatkan kaum pinggiran, cara ekonomi yang melibatkan kelas menengah. Artinya, yang diperjuangkan Jokowi sebenarnya ekonomi yang demokratis. Saya kira, dia juga akan mendorong cara berbudaya yang bermartabat, itu lagi-lagi membuka meja persahabatan. Intinya, Jokowi ingin membawa kehidupan sejahtera bagi rakyat. Membawa kehidupan beragama yang lebih dewasa. Membangun keberbedaan dengan menerima orang yang berbeda. Sekali lagi Jokowi tampaknya lebih sadar bahwa kebinekaan itulah kekuatan kita untuk membangun bangsa.

Bagaimana merajuk perbedaan itu menjadi indah?

Argumen saya, bahwa ekonomi faktor utama keberagaman kita, apa yang terjadi hari ini. Kalau kita melihat konteks Indonesia, ekonomi menjadi faktor dominan membuat orang gampang meletuk. Fanatisme agama, anti agama, gampang terbangun karena faktor ekonomi tadi. Kehidupan ekonomi yang senjang itu mempengaruhi. Kita bisa melihat, komunitasi-komunitas agama yang dulu stabil mengalami ketersingkiran. Itu menciptakan kecemacan tentang krisis identitas. Tidak lagi hanya sekedar identitas agama, tetapi bagaimana saya merawat kebudayaan saya, bagaimana saya menghidupi keluarga saya. Hal-hal inilah yang menjadi dominan. Identitas rapuh dan rentan maka konservatisme itu terjadi. Akibat ekonomi yang global, orang gampang membanding-bandingkan diri. Ada perasaan tidak diterima, akibatnya yang terjadi antagonis.

Peranan masyarakat bagaimana?

Sekarang, masyarakat sudah mau menjemput harapan itu dengan berpartisipasi. Ada sukarelawan yang tidak mau dibayar, ini tampaknya membawa secerca harapan. Pertanyaannya apakah kelas menengah kita itu progresif dan memang sukarelawan itu sistimatis? Memang ini memang pertaruhan, hidup masyarakat yang hidup berbagai itu juga menandakan bahwa di akar rumput masyarakat bisa saling berbagai. Kekompakan itu harus ada. Dan juga harus ada stimulus dari pemerintahan Jokowi.

Stimulus yang harus dibangun pemerintahan Jokowi?

Menurut saya, pemerintahan Jokowi harus membuat stimulus ekonomi yang berpihak pada rakyat, membuka ruang untuk kemajuan kelas menengah. Kebijakan yang dibuat untuk mengembangkan sektor-sektor ekonomi kelas menengah. Misalnya, memudahkan pinjaman untuk para pelaku UKM, membangun insfrastruktur bagi home-home industri. Tetapi, lagi-lagi membatasi ruang gerak kapitalis besar yang hanya dipegang beberapa orang saja. Pelayanan ekonomi bagi mereka harus dikurangi. Jadi, pemerintahan Jokowi tidak boleh hanya melayani beberapa orang saja. Harus membawa keadilan, keberpihakannya harus jelas.

Realistisnya di pemerintahan Jokowi ke depan menghadapi berbagai hal yang mengganjal?

Memang harus disadari pemerintahan Jokowi tidak mudah ke depan. Apalagi tahun depan (tahun 2015) kita sudah terkoneksi dengan ekonomi Asia Tenggara. Artinya tantangan sudah di depan mata. Karena itu, yang diharapan masyarakat ke depan pemerintahan Jokowi harus hadir ketika ada gesekan komunal. Pemerintahan harus menyelesaikan sengketa-sengketa seperti GKI Yasmin dan HKBP Filadelfia. Pemerintah jangan mengistimewakan satu golongan.

Terkait soal toleransi…

Saya kira apa yang dilakukan Jokowi untuk mengajak perubahan etos. Itu adalah proses insklusif. Membuka diri untuk perbedaan. Keinsklusifan mereka terlihat dalam visi-mereka bahwa kebinekaan itu adalah hal keniscayaan. Artinya, kita bisa katakan bahwa keberagamaan yang mau Jokowi buat adalah keberagamaan yang insklusif. Intinya menerima keberbedaan, menerima iman yang berbeda. Bahwa cara beragama sekarang adalah cara hidup berekonomi. Jadi, apa yang kita lihat, relasi hubungan antar umat beragama dipengaruhi hidup beragama. Ada kesenjangan sosial, orang mudah tersinggung, orang gampang tersulup emosi. Itu terjadi karena orang hanya memikirkan dirinya. Tidak ada ruang untuk berbagi. Ekonomi kita sekarang kan memenangkan pertarungan, mengumpulkan sebanyak-sebanyaknya untuk diri sendiri. Ini berdesakkan terjadi. Nampaknya, hidup beragama kita juga demikian. Memperkuat diri sendiri. Memperkuat kelompok agamanya sendiri. Membangun tembok-tembok, dan menciptakan persaingan, yang penting membangun tembok kerajaannya sendiri. Inilah yang terjadi, intoleransi hidup berekonomi dan sekaligus hidup intoleransi beragama. Oleh karena itu, agama-agama sekarang menjadi konservatif. Jadi, hidup kebergamaan sekarang ini lebih menunjukkan gesekan ekonomi.

Dalam rangka memperkuat toleransi, apa yang menjadi hal urgen bagi pemerintahan Jokowi?

Tampaknya juga Jokowi menyadari betul dari perbedaan itulah akan muncul kualitas dan kekuatan. Jadi ke depan perbedaan itu bukan saja hanya pelangi, tetapi menjadi tempat untuk memberikan sumbangan-sumbangan unik bagi kemajuan bangsa dan Negara. Selama ini kita terlena menyebut perbedaan itu berarti jangan menggangu orang lain. Sekarang, perbedaan harus ditingkatkan, saling belajar. Kita belajar dari orang yang berbeda dengan kita, dengan demikian kita bisa berharap yang terbaik dari perbedaan itu. “Merajuk perbedaan untuk kebangsaan.” Saya kira itu dimiliki Jokowi.

ditulis, Hotman J. Lumban Gaol

Iklan

Sutan Manahara Hutagalung


BukuPada medio Maret lalu, Sabtu, 23 Maret 2013 bertempat di Balai Rasa Sayang, Hotel Polonia, telah berlangsung memperingati tujuh tahun meninggalnya Pendeta Prof. Sutan Manahara Hutagalung, Ph.D. Sutan lahir di Sosor Topiaek, Hutagalung, Tapanuli Utara, 20 Agustus 1921.

Putra dari St. Elieser Hutagalung dan Lena br. Simorangkir. Sejal usia sekolah, SUtan, di zaman penjajahan menjalani pendidikan mulai dari Holland Inlandsche School/HIS (setingkat SD) di Sigompulon, Tapanuli Utara, kemudian Meer Uitgebreid Lager Onderwijs/MULO (setingkat SMP) di Tarutung dan Pematangsiantar, dan melanjutkan ke Algemeene Middelbare School/AMS (setingkat SMA). Begitu lulus sempat bekerja sebagai opsiner dan Kepala Bagian Keamanan di Penjara Istimewa Seumur Hidup di Sragen, Jawa Tengah, mengikuti Kursus Sekolah Menengah Tinggi Kehakiman bagian Kepenjaraan di Jakarta dan kemudian hari diangkat menjadi Kepala Penjara Klaten, Jawa Tengah.

Peristiwa-peristiwa penting pada episode ini jua yang Tuhan pakai untuk kemudian menghantarnya membuatkan yekad menjadi pendeta. Akhirnya, tahun 1949, di usia 28 tahun, Sutan melanjutkan kuliah ke STT Jakarta. Kuliah diselesaikan dalam tempo 4 tahun sebagai lulusan terbaik. Karena lulusan terbia dia mendapat beasiswa untuk program Master of Teology (MTh) dan Doctor of Philosophy (Ph.D) di Divinity School of Theology, Yale University, Amerika Serikat. Pada 1955, dia meraih gelar Magister Teologi, dan tahun 1958 meraih gelar doktor teologia. Doktor teologi kedua di Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) setelah Dr. Andar Lumbantobing yang lulus dari Jerman pada 1957.

Sekembali ke Indonesia, Sutan melayani di gereja HKBP sebagai dosen di STT Nomensen dan pendeta diperbantukan di Distrik Sumatera Timur. Selain menjadi Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan (FKIP) Nommensen Pematangsiantar yang turut dibidaninya pada 1962. Namun, konflik besar di dalam tubuh HKBP berujung pada lahirnya GKPI pada 30 Agustus 1964. Dr. Andar Lumbantobing menjadi Bishop pertama, sementara Sutan Hutagalung menjadi Sekretaris Jenderal pertama. Jabatan tersebut dia jalankan selama dua periode 1966-1977 dan 1983-1988.

Acara peringatan yang cukup sederhana tersebut dihadiri oleh sekitar 200 undangan dari kalangan pendeta, akademisi, kerabat dan para sahabat. Dari kalangan akademisi, hadir juga dari berbagai pendeta internominasi. Setelah kebaktian selesai, diadakan peluncuran dan bedah buku berisi khotbah dan pemikiran almarhum semasa hidup, yang selama ini tersimpan di kamar kerjanya di Jalan Panyabungan 37, Pematangsiantar. Bagaimana gagasan buku ini diterbitkan? Gagasan tersebut disambut baik oleh keluarga, namun karena berbagai kendala rencana tersebut baru dapat mulai direalisir dua tahun kemudian setelah menantu Dr. Sutan, Jhon Silalahi, bertemu kembali dengan teman sejak masa kecilnya, Jansen Sinamo, yang telah menjadi seorang guru etos kondang sekaligus penulis dan editor dari penerbit Institut Darma Mahardika.

Terbitnya gagasan pemikiran Dr. Sutan Hutagalung, dua buku berjudul “Pemberian adalah Panggilan” yang berisi khotbah dan sejarah GKPI serta “Dari Judas ke Tugu ke Kemiskinan” yang berisi aneka ragam ceramah yang pernah disampaikan di pelbagai kesempatan dan artikel-artikel yang pernah diterbitkan di media cetak. Peringatan itu, diawali dengan kebaktian. Selanjutnya diikuti peluncuran dua buku tersebut. Secara simbolis, penerbit diwakili Jansen Sinamo kepada istri almarhum Juliana br. Hutabarat, menyerahkan buku. Lalu, acara dimulai dengan bedah buku. Bedah buku yang dimoderasi langsung oleh Jansen Sinamo.

Bertindak sebagai pembicara adalah Pdt. Patut Sipahutar (Bishop GKPI) dan Pdt. Dr. Raplan Hutauruk (Ephorus Emeritus HKBP). Beberapa poin penting yang disampaikan Pdt. Dr. Raplan Hutauruk. Dipenutupan catatan bedah buku Raplan menyatakan; “Bahwa pesan etis Dr. Sutan telah disampaikan secara kritis, kreatif dan mengalir dari satu khotbah ke khotbah yang lain, dari satu kiasan ke kiasan yang lain, yaitu tentang manusia dan lingkungannya. Dr. Sutan tidak mengenal wilayah abu-abu, yang hitam adalah hitam dan yang putih adalah putih.”

ditulis, Hotman J. Lumban Gaol

Betty Julinar Sitorus


Betty Julinar Sitorus

Betty SitorusSosok Perempuan Pejuang Pembangunan Gereja

Wahid Institut sejak tahun 2009 menunjukkan peningkatan terhadap kekerasan agama. Kasus pelanggar, penutupan rumah ibadah malah juga sering dilakukan aparat negara. Tak jauh-jauh, Satpol PP, yang beberapa waktu lalu membongkar paksa pembongkaran gereja HKBP Setu. “Banyak kasus penutupan ibadah dilakukan atas tekanan massa terhadap pemerintah daerah. Olehnya kita harus cerdas, kita harus berarti melawan segala ketidakadilan,” ujar Betty Sitorus.

Sosok perempuan di balik pendirian gereja HKBP Cinere, ini. Tatkala HKBP Cinere membangun, mendapat tekanan dari pemerintah kota Depok. Sebagaimana awalnya, HKBP Cinere, Pangkalan Jati yang berdiri pada tahun 1980. Pada awal berdirinya, jemaatnya berjumlah kurang lebih 11 kepala keluarga, yang tinggal di Kompleks Hankam, Kompleks TNI AL Pangkalan Jati dan Perumahan BPK Gandul. Kebaktian hari minggu pada mulanya diselengarakan di rumah salah seorang keluarga. Tetapi, ketika hendak membangun gedung gereja proses izinnya berbelit-belit. Lama sekali dikeluarkan. Yang lucu setelah surat IMB juga keluar malah dilarang dibangun.

Lalu, alasan pencabutan IMB oleh walikota waktu itu? Adalah karena masih dalam masa tenang pemilihan walikota. Sebenarnya berawal dari tanggal 27 Maret 2009, Walikota Depok Nur Mahmudi Ismail menyatakan mencabut IMB Tempat Ibadah atas nama HKBP Pangakalan Jati Gandul yang beralamat di Jalan Puri Pesanggarahan IV Kav NT-24 Kelurahan Cinere Kecamatan Limo, Kota Depok, Jawa Barat. Padahal, sebelumnya HKBP telah mendapatkan IMB yang diterbitkan Pemerintah Kabupaten Bogor dengan Nomor 453.2/229/TKB/1998 tanggal 13 Juni 1998.

Betty mengatakan, dasar pencabutan IMB melanggar konsitusi. Bagi Betty, itu bukan alasan. “Kita harus berani berjuang untuk melawan kesemena-menaan apara terhadap gereja.” Hakikat yang kita mau tunjukkan adalah bahwa perempuan bukan makhluk yang lebih lemah? Bagi dia, semangat untuk tetap tabah dalam berjuang mendirikan dan memenuhi semua prasyarat yang dibutuhkan, itu perlu. Karena itu dia tak jengah, bersama jemaat lain terutama perempuan bergerak dengan inisiatif melakukan pendekatan terhadap semua warga. Sebelumnya, Gereja HKBP Cinere, yang berada di Jalan Bandung, Perumahan Cinere Indah, diawal-awalnya mendapat penolakan. Sesungguhnya bukan dari warga perumahan, tetapi di luar perumahan. “Kita heran, malah ketika kita bertemu dengan lurah dan camat kita temukan bahwa warga yang demo itu bukan dari wilayah Cinere.”

Penutupan gereja ini sempat menjadi berita nasional, karena diberitakan oleh media nasional. Ketika sang walikota mencabut izin, Betty dan timnya sebagai panitia pembangunan membawa ke pengadilan dan menang di tingkat PTUN, Bandung. “Bagi kami, jemaat Gereja HKBP Cinere, ini merupakan awal yang bagus, meskipun para oknum yang tidak setuju juga tidak kalah ngotot ingin mengajukan banding. Kami pantang menyerah dan terus akan memperjuangkan keadilan sampai titik darah penghabisan,” tegas ibu tiga anak, ini.

Perempuan kelahiran Pemalang Siantar, 11 Juli 1954. Bernama lengkap Betty Julinar Sitorus. Namun pendidikan yang ditempuhnya tahun 1959 hingga 1960 TK Katolik-Salatiga, Jawa Tengah. Pendidikan Sekolah Dasar Kristen Paulus, Bandung. Juga Sekolah Menengah Pertama Kristen I Bahureksa, Bandung. Sekolah menengah atas di sekolah Kristen Dago, Bandung. Sekolah Menengah Atas PSKD I, Jakarta Pusat. Sementara sarjana dia raih dua disiplin ilmu. Pertama, 1974 hingga 1975 menempuh pendidikan di Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia, Jakarta. Dilanjutkan tahun 1976- 1982 mengambil S1 jurusan Antropologi Universitas Indonesia, Jakarta.

Betty terus mengasah diri dengan mengikuti berbagai pelatihan dan seminar diantaranya; pernah mengikuti traning Rahasia Sejarah Penebusan Yang Tersembunyi, Juli 2011. DI tahun yang sama mengikuti seminar dari Haggai Institut. Tahun 2012, dia mengikuti Confreence Universal Peace Federation (UPF) di Thailand selama 3 hari. Anggota dari Ambasador for Peace Interreligious  and Internasional Federation for World Peace. Selain itu dia juga pernah menikuti Organizing Commitee for Peace on Inovative Approach to Peace Leadership dan Good Governance yang berkerja sama dengan UPF dan Departemen Agama.

“Awalnya kita dilarang membangun padahal sudah mendapat izin. Sebagai ketua panitia, saya yang langsung menyurati dan mendatangi kantor walikota. Dua kali kita surati tetapi tidak diberikan kesempatan bertemu, malah setelah surat kedua itu. IMB dicabut. Bagi kami ini penghinaan, ini benar-benar tidak masuk akal,” jelas Ketua I Panitia Pembanguna HKBP Cinere, ini.

“Kami membuat tim doa. Lalu, kami awali dari tiga perempuan memulai mendatangi warga perihal permohonan tandatangan warga. Hampir semua merespon menandatangan, karena kita dengan baik-baik menjelasakan kita mendirikan gereja. Memang ada yang tidak banyak,” ujarnya. Dia masih ingat penjagaan ketat aparat tersebut dikarenakan ada aksi massa terhadap pembangunan Gereja HKBP Cinere.

Awal keterpanggilannya menjadi panitia pembangunan, tatkala keluarganya pindah dari Rawamangun ke Cinere. Gereja yang sekarang berdiri hanya sepelemparan batu dari rumahnya. “Awalnya, sejak baru pindah dari Rawamangun, saya melihat dari rumah saya, di tanah yang sekarang gereja berdiri. Dan, memang setelah dilihat di peta perumahan nama gereja itu sudah ada di master plan perumahan. Saya sudah melihat penglihatan, kelak akan berdiri gereja di sana. Awalnya merasa terpanggil?”

Terjun pelayanan

Memulai karier menjadi Pemimpin Redaksi “Bulletin IKA” Antropologi Universitas  Indonesia. Pernah menjadi assisten dosen untuk mata kuliah Antropologi. Sembari pengurus Pengurus PKK Kelurahan, di Rawamangun. Karena pasih berbahasa inggris membawanya menjadi pengajar Pengajar di Lembaga Pendidikan Bahasa Inggris untuk anak-anak tingkat SD dan SMP. Pengalaman kerjannya bukan hanya itu, dia juga Ikut serta dalam Pameran “The International Furniture dan Handy Craft Exhibition, yang diadakan yang diadakan di Messe Frankfurt, Jerman dan ke Ambiente Frankfurt, Jerman.

Keterlibatannya di dalam oraganisasi membawanya pada pengenalan terhadap pentingnya kepedulian itu ditumbuhkan. Keterlibatannya dalam pelayanan sosial sudah dimulainya sejak muda. “Saya suka berbagi, ikut organisasi. Karena itu di sanalah kita banyak bertemu dan share dan berbagai dengan orang lain,” katanya lagi. Keterlibatannya dari pelayanan di zending HKBP Resort, Jakarta Selatan. Kemudian, dia juga ikut membantu dan mendidik anak-anak yatim piatu Yayasan Pintu Elok di daerah Pamulang, Serpong, Tangerang Selatan. Juga di Perempuan Untuk Perdamaian sebagai anggota.

Tak hanya itu, dia juga menjadi aktivis adalah kerinduannya. Karena itu, dia juga terlibat di Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan TNI Angkatan 45 (FKPP TNI Angkatan 45). Kompleks Siliwangi, Jakarta. Di organisasi ini dia bertindak sebagai pengurus. Lalu juga ikut juga berkecimpung di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Komunitas Si Jabrik Kayu Manis, Jakarta. “LSM ini menangani anak-anak dari keluarga ekonomi lemah. Bertindak sebagai Pelatih dan Kontributor materi pendidikan.”

Sejak lulusan dari antropologi Universitas Indonesia ini, selain di dunia sosial, dia juga juga tetapi aktif melayani di alumninya, aktif di angkatan Kekerabatan Antropologi di Universitas Indonesia (IKA-UI). Di Yayasan Forum Kajian Antropologi Indonesia (FKAI).  Selain itu, aktivis Sosial dalam Gereja HKBP Ressort, Jakarta Selatan sejak tahun 2002 hingga sekarang ini. Betty, juga aktif memberikan konsultan untuk penyembuhan penyakit Kanker. Pelayanan ini sudah dia kerjakan sejak tahun 2005 hingga sekarang.

Di gereja Betty melayani sebagai penetua HKBP, Pangkalan Jati, Cinere, Jakarta Selatan, sejak tahun 2004 hingga sekarang. Di gereja, selain menjadi penatua, dia adalah Wakil Ketua I Panitia Pembangunan Gereja HKBP Cinere, sejak tahun 2007 hingga sekarang. Dan pernah menjadi ketua Panitia Penyelenggara, pada Februari 2011 lalu saar pementasan “Drama Musikal” HKBP Cinere di Taman Ismail Marzuki (TIM) Cikini, Jakarta Pusat. “Orang-orang yang berjuang untuk satu cita-cita, apapun itu, termasuk dalam mendirikan rumah ibadah harus ada orang yang mau berkorban. Berani mengorbankan kehidupannya untuk cita-cita mulia,” ujar anggota Forum Komunikasi Kristiani (FKK) Cinere, ini.

ditulis, Hotman J. Lumban Gaol