Mengeksploitas Buruh, Merusak Industrial Kita”rekson-silaban-454x350

Oleh: Hotman J Lumban Gaol

Januari lalu, ribuan buruh yang tergabung dalam berbagai organisasi buruh menutup jalan tol di bilangan Cikarang selama delapan jam. Diperkirakan ada belasan ribu buruh di kawasan industry, Cikarang, Bekasi yang tergabung dalam aksi tersebut. Mereka berkumpul di perempatan EJIP Lippo Cikarang untuk melakukan aksi menentang Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) yang menggugat keputusan Gubernur Jawa Barat terkait Upah Minimum Kabupaten (UMK).

Masalah buruh memang tidak pernah tuntas dibicarakan. Menurut analisis Rekson Silaban, Presiden Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (KSBSI), menyebut ada empat masalah besar; tingginya jumlah penggangguran massal; rendahnya tingkat pendidikan buruh; minimnya perlindungan hukum; dan upah kurang layak. Lalu berlanjut masalah pengangguran dan pendidikan rendah. Bagi Rekson, ini adalah masalah yang saling terkait, menghadirkan implikasi buruk dalam pembangunan di Indonesia.

Apa akar dari semua masalah tersebut? Komisaris PT Jamsostek Persero ini menjawab, ini masalah yang harus dirundingakan bersama. Beberapa waktu lalu, Reformata berbincang di kantornya, Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat. Demikian petikannya:

Dulu organisasi buruh seperti dikerangkeng, sekarang makin bebas. Tetapi pascareformasi organisasi buruh malah terkesan terseret berpolitik?

Saya kira tidak. Tetapi karena sekarang ini seluruh kebijakan, termasuk pengupahan adalah kebijakan politik.

Banyak organisasi buruh menjadi partai politik, apakah ini juga dipahami sebagai menjadi posisi tawar?

Asumsi itu terlalu berlebihan. Saya kira gerakan buruh masih gerakan massa. Kalau se-bagai kekuatan politik itu berbeda lagi, partai yang kuat memilih massa. Data terakhir yang kami punya, di Indonesia, sekarang ini yang dinamakan angkatan kerja sekitar 106 juta orang. Tetapi yang terserap bekerja hanya 33 juta orang. Saya kira hitungannya kalau 33 juta ini saja memilih satu partai, ini menurut saya adalah potensi luar biasa. Tetapi itu hanya hitungan matematika, tidak segampang membalikkan telapak tangan. Tidak semua buruh setuju dengan partai buruh, karena banyak juga organisasi tertentu yang berafiliasi dengan partai politik lainnya. Ada juga organisasi buruh berdasarakan agama, dan etnis. Buruh kita yang datang dari kalangan bawah, 70 persen adalah tamatan SMP, tidak memiliki cakupan politik untuk bergabungan dengan partai politik. Maka, karena itu, mereka akan memilih partai politik yang sesuai dengan hati mereka. Baik itu dari etnis, agama, dan tali-temali kekeluargaan. Jadi saya pesimis melihat partai buruh bisa sukses. Yang baik adalah serikat buruh harus memiliki independensi terhadap partai politik.

Organisasi buruh kita juga terlalu banyak, bagaimana Anda melihatnya?

Saya melihat ini negatif, kalau terlalu banyak. Tentu saja, serikat buruh yang terlalu banyak, untuk buruh itu tidak bagus. Membuat organisasi buruh menjadi berkompetisi tidak sehat di antara mereka. Kebebasan yang punya batas. Jangan diterjemahkan bahwa kebebasan buruh itu dipandang karena banyaknya organisasi buruh. Jangan juga kebebasan berserikat itu diterjemahkan menjadi fragmentasi. Saya kira, empat sampai lima konfederasi buruh sudah cukup. Di dunia ini, negara-negara maju yang organisasi buruhnya bagus, pun hanya tiga sampai empat organisasi buruh.

Masalah buruh itu berjubel, misalnya outsourcing, sampai saat ini belum ada penyelesaian?

Buruh juga perlu melek politik. Perlawan terhadap outsourcing, itu produk politik yang dibuat DPR dan pemerintah. Gerakan buruh itu tidak harus selalu berhubungan dengan masalah perut saja. Praktek outsourcing dan buruh kontrak merupakan gejala global. Ini memang sebagai bagian mekanisme pasar yang dilakukan untuk efisiensi dalam kegiatan atau proses bisnis. Tetapi, praktek outsourcing ini menimbulkan ketidakpastian kerja. Menurut saya, seharusnya bukan buruh kontrak, tetapi dibuat menjadi buruh kontrak, hal itulah yang tidak diperhatikan pemerintah. Apa lagi pengawasannya buruk. Di depan mata kita sendiri banyak perusahaan yang melanggar peraturan, aturan yang telah disepakati.

Apa yang harus dilakukan?

Yang perlu sekarang kita perbaiki, adalah sistim perburuhan kita. Apalagi kita akan memasuki kawasan ASEAN bersama. Lalu, kemampuan SDM buruh kita harus ditingkatkan, agar bisa kompetitif di lapangan kerja, karena buruh-bubur dari negara lain sudah bebas ke Indonesia.

Apa yang mesti dilakukan organisasi buruh untuk bisa menjadi jembatan antara pengusaha dengan buruh?

Perundingan. Perundingan itu perlu ditingkatkan, dengan asumsi semua sepakat dan kemudian dua belah pihak sama-sama menjalankan fungsinya masing-masing. Perundingan itu harus dengan keterbukaan, kalau perusahaan beruntung, maka tentu harus terbuka, jangan kalau rugi baru terbuka pada buruhnya. Sekarang ini yang terjadi, adalah rasa kepemilikan buruh terhadap perusahaan itu rendah, karena tidak ada keterbukaan antara perusahan dan buruh. Yang baik adalah, ketika majikan perusahan itu terbuka, berbagi dengan buruhnya. Kalau beruntung sama-sama menikmati, dan kalau pun rugi maka sama-sama memikul. Ada contoh, di Astra tidak ada karyawan demo, karena ada keterbukaan. Jadi gaji menjadi faktor berikut, yang penting adanya keterbukaan. Kalau itu ada, maka rasa kepemilikan terhadap perusahaan itu ada. Kalau perusahaan terbuka, maka akan ada peningkatan kinerja dari buruh. Dan perlu juga dingat, buruh bukan tenaga perahan, yang keringatnya diperas. Jangan sekali-kali mengeksploitasi buruh.

Filosofi industrial kita harus kembali kepada filosofi bangsa kita, untuk kesejahterakan rakyat. Perusahan tidak boleh mengekploitasi tenaga buruh hanya untuk kekayaannya. Yang ada harus gotong royong, kerjasama. Mematuhi aturan-aturan, itulah salah satu cara mengurang konflik industrial. Tetapi, kalau pengusaha dengan keserakahan mengekploitasi buruh, itulah yang membuat hubungan industrial kita hancur. Sekali terjadi keserakahan, sejak itulah terjadi perlawan buruh.

Demo buruh membuat investor luar takut menanam modal di Indonesia?

Menurut saya itu berlebihan. Demo di mana-mana ada. Tentu pengusaha datang ke Indonesia ini sudah punya analisis. Mereka sudah melihat kesiapan infrastruktur, bunga bank, dan segala hal. Saya kira, soal demo buruh itu hanya pertimbangan ke sekian. Demo itu tidak mempengaruhi investor. Ini terlalu dilebih-lebihkan, dan pusat pabrik kita kan tidak hanya satu, banyak.

Bagaimana demo dengan menututp akses jalan tol hingga delapan jam. Kebebasan itu kan tidak boleh menggangu kebebasan orang lain?

Saya kira kita juga tidak setuju dengan hal itu, kalau itu juga merugikan orang lain. Tetapi jangan salah, kalau kita pelajari, demo buruh di luar negeri lebih radikal, bisa menutup bandara Internasinal.

Soal pensiunan. Jaminan hari tua yang akan dikelola Jamsostek….

Ini sekarang lagi digodok. Tahun 2014, atau selambat-lambatnya 2015 akan ada uang pensiunan bagi mereka yang swasta, buruh. Jamsostek sebenarnya hanya pelaksana, bukan pengambil keputusan.

Biodata:
Nama Lengkap : Rekson Silaban
Tempat & amp; Tgl Lahir : Pematang Siantar -Sumatera Utara, 8 Mei1966
Status Perkawinan : Kawin dengan Merdy Rumintjap.
2 anak; Luigi Ignacio & Morgan Garcia Stiva
Email : reksonsilaban@ksbsi.or.id or reksonsilaban@hotmail.com
Agama : Kristen Protestan
Pendidikan : Sarjana Ekonomi dari Universitas Simalungun Sumatera Utara
Non degree : Internasional Labor Standards, Belgium 2005-2006
Alamat Organisas : KSBSI, Jl.Cipinang Muara Raya No.33.
Webmail : http://www.ksbsi.or.id

Jabatan :
– Ketua Majelis Pertimbangan Organisasi (MPO) KSBSI sampai 2014
– Komisaris PT. Jamsostek 2007-2012
– Anggota Tripartit Nasional sampai 2012
– Direktur Riset ‘Alternative Labor Policy’ sampai 2015
– Governing Body for International Labor Organization (ILO) Geneva, Swiss 2005-2014
– General council of International Trade Union Confederation ITUC, Brussels 2005-2014
– General council of ITUC – Asia Pacific 2006-2015
Karir di Organisasi Nasional dan Internasional:
– Department Riset SBSI, 1992-2000
– Department Internasional SBSI, 1994-2000 – Deputy presiden KSBSI, 2000-2007
– Presiden KSBSI, 2003-2007
– Presiden KSBSI, 2007-2011
– Executive board Word Confederation of labor (WCL) 2002-2007
– Wakil president ITUC 2007-2010
– General Council ITUC (international trade union confederation) 2007-2014 – General Council ITUC AP 2006-2015
– Komisaris PT. Jamsostek 2007-2012
Pengalaman Lain:
1. Pembicara di berbagai forum seminar nasional, khsususnya yang berkaitan dengan; hubungan industrial, jaminan sosial, standar perburuhan internasional, upah.
2. Pembicara di berbagai forum internasional di Asia, Eropa, Amerika, Latin, Africa,
diantaranya:
– International Trade Union Conference on employment, Tokyo 20 June 2004
– Labor Standards Seminar, Sao Paolo, Brazil, 2005
– Symposium by International Human Rights Fund, Washington D.C 2006
– Trade Union Strategy in new context of Flexibilization, Bangkok 2007
– International Seminar on Xenophobia and Migrant Workers, Jordan 2007
– G20 trade union summit, London 2009, Washington 2010, Pittsburgh, USA 2010, Cannes 2011.
– TUAC meeting on Global Crisis and Employment, Paris November 2010
– Youth and Decent Work in Asia Pacific, Singapore May 2011
– Social security and wages, TUAC, Paris September 2011
– Diversity Challenges, Davos, Swiss 2012
3. Ketua delegasi Indonesian ke sidang tahunan ILO di Geneva, Swiss tahun 1999, 2001, 2003, 2006, 2008, 2010, 2011

Buku yang ditulis Indonesia:
1. Pengupahan Melalui Negosiasi Bipartit, 2008
2. Reposisi Gerakan Buruh Indonesia. Diterbitkan oleh Sinar Harapan, 2010 3. Bersatu Atau Hilang Ditelan Sejarah. Diterbitkan oleh, Romawi Press, Depok, Jawa Barat, 2011.

Edisi bahasa Inggris:
4 Repositioning Indonesia labour movement, FES 2010,
5. Unity or burried by history, Jakarta 2011.
6. Indonesia Union State of Affairs, ILO Bangkok 2012.

Artikel Yang Ditulis:
Beberapa tulisan dipublikasi oleh Kompas, Suara Pembaruan, Bisnis Indonesia, Tribun. Spesialisasi: Hubungan Industrial, Standar Perburuhan Internasional, Upah dan jaminan sosial.

Hobby:
Baca buku, wisata, musik, saling berbagi
Motto:
“hidup hanya ada artinya bila berarti untuk banyak orang”

 

Web pribadi Rekson Silaban:

http://reksonsilaban.blogspot.com/

 

Tak Berkategori

Rekson Silaban

Galeri