Prof. Dr. Victor Purba, SH, LLM, MSc


Prof. Dr. Victor Purba, SH, LLM, MSc bukan seorang yang tersohor, bak seorang artis. Tetapi, perannya sangat besar dalam Pengembangan Korporasi di Indonesia, ahli hukum ekonomi. Kemampuan akademiknya tak pernah diragukan lagi, hanya saja jarang terpublikasi. Termasuk membangun kampung halamannya. Pria kelahiran Aek Lung, Dolok Sanggul ini adalah seorang pedagogi sejati, guru besar hukum di Fakultas Hukum Universitas Indonesia.

Dia adalah salah satu inisiator dari berdirinya Kabupaten Humbang Hasundutan. Pemikirannya bahwa pendidikan membawakan orang tercerahkan, jikalau sudah tercerahkan maka banyak inisiatif yang bisa dilakukan. Saat proses pendirian Kabupaten Humbang Hasundutan, tatkala rapat dengan tokoh-tokoh Dolok Sanggul dia mengatakan, bahwa pembangunan utama Kabupaten seutuhnya harus melalui pendidikan. Jangan melupakan peranan pendidikan untuk memulai pembangunan. Tentu yang dia maksud bukan hanya memiliki gelar akademik. Sebagaimana kata dasar pendidikan adalah kata didik. Didik berarti memelihara dan memberi latihan tentang akhlak dan kecerdasan pikiran.

Sedangkan, pendidikan memiliki arti proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan. Jadi, bukan hanya memiliki jenjang gelar akademik semata. Karena itu, dia selalu berpesan agar meningkatkan mutu pendidikan di Humbang Hasundutan, bahkan dia berjanji saat itu siap mendatangkan para profesor untuk memberikan pendidikan di Humbang Hasundutan. Termasuk tatkala dirinya terpilih sebagai seorang panelis dalam debat kandidat pilkada Humbang Hasundutan tahun 2005, dia selalu menekankan kepada para kandidat bahwa faktor pendidikan sebagai  salah satu misi terpenting dalam kemajuan pembangunan  Humbang Hasundutan.

Pemikirannya bernas, sebagai ahli di bidang hukum ekonomi, dia selalu mengajak menanggapi  kemajuan global  tanpa meninggalkan budaya. Tentu, bagaimana menata karakteristik, kemampuan intelektual lewat kesesuaian     pekerjaan. Lalu, didukung langka-langkah yang optimal untuk menggapai nilai, kesetiaan dan perilaku yang konsisten. Kekonsistenannya terlihat, jauh sebelum booming perantau membangun perpustakaan, dia bersama dengan RM Purba telah membangun perpustakaan di desanya, perpustakaan di SD Aek Lung, Dolok Sanggul. Dia berharap perpustakaan itu dimanfaatkan semaksimal mungkin, dan berpesan kepada anak-anak dari kampungnya agar suka membaca.

Bahkan, di awal-awal mendirikan perpustakaan tersebut, dia menekankan setiap anak yang bisa menulis satu paragraf dari setiap buku yang dibacanya akan mendapat hadiah, apalagi jika bisa merangkai tulisan atau membuat cerpen akan mendapat hadiah lebih. Hanya sayang semangat yang membara itu tak disambut dengan baik, perpustakaan ini tak terdengar lagi rimbanya, dan sampai hari tak pernah terdengar lagi seorang tokoh sekaliber Prof. Dr. Victor Purba SH, LLM Msc, atau seorang penulis yang menggeluti dunia perbukuan seperti harapannya dari kampungnya.

Padahal, Victor sudah berusaha untuk memotivasi anak-anak disana agar menulis. Tentu, untuk semangatnya itu, maka setiap liburan paskah dia pulang ke kampungnya bersama keluarga. Saat itu, selain dosen Fakultas Hukum UI dia duduk sebagai legal adviser perusahaan perkebunan milik orang Eropa di Sumatera Utara. Maka setiap pulang ke Aek Lung dia mendapat fasilitas kendaraan, dan yang membuat di mudah pulang ke Dolok Sanggul untuk memotivasi anak-anak agar gemar membaca buku.

Kecedikiaannya diapresiasi kalangan nasional, salah satu misalnya, dirinya tercatat sebagai nasasumber pada seminar nasional Penegakan Hukum. Seminar ini adalah seminar pembangunan hukum Nasional VIII yang diselenggarakan Badan Pembinanan Hukum Nasional Departemen Kehakimanan dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia di Kuta, Bali, 14 – 18 Juli 2003. Dia didaulat sebagai narasumber, membicarakan Pengembangan Berbagai Bentuk Koporasi kepada pelaku ekonomi di Indonesia.

Semasa hidupnya telah mencoba memberikan yang terbaik, dan meninggalkan makna yang terdalam, menggoreskan karya. Namun, pada Kamis 2 Agustus 2007, dia dipanggil keharibanNya. Tentu, bukan hanya keluarga besar Purba yang kehilangan, segenap civitas akademika Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI) juga berduka karena kehilangan salah satu guru besar terbaiknya. Prof Dr Victor Purba SH LLM MSc, pakar hukum ekonomi. Almarhum berpulang di Rumah Sakit Kanker Dharmais oleh karena penyakit kanker paru. (Hojot Marluga/diolah dari berbagai sumber)

Iklan

Dr. Maruli Siahaan, SH, MH


maruli-siahaan-medansatu

Profil Lengkap

Nama Lengkap: AKBP Dr Maruli Siahaan, SH, MH

Lahir: Siborong-borong, 3 April 1961

Orangtua:

Istri:

Betty boru Simanjuntak

Anak:

  • Lettu (Inf) Jimson Andre Siahaan (27)
  • Lettu TNI Dedy Surya Putra Siahaan (26)/menantu Raramita Prapanca ANR Boru Simanjuntak
  • Triboy Alfin Siahaan (23)
  • Ferry Christanto Siahaan (19)

Pendidikan Formal:

  • Tahun 1987 gelar Sarjana Hukum  (S1) dari Fakultas Hukum Universitas Darma Agung (UDA), Medan
  • Tahun 2008 gelar Master Hukum (S2) dari Universitas Jaya Baya, Jakarta
  • Tahun 2014  gelar Doktor S3) bidang Administrasi Publik diraih dari Universitas Brawijaya, Malang

Karier:

  • Tahun 1982 masuk Bintara Polri dan merintis karir pada bidang Diskomlek Poldasu (6 tahun)
  • Tahun 1983 Dikjurba Komlek Bandung
  • Tahun 1986 Dikjurba Serse Bogor
  • Tahun 1988 bertugas di Polsek Deli Tua (6 bulan)
  • Tahun 1988 bertugas di Polsek Medan Baru (6 bulan)
  • Tahun 1989 Resum Poltabes Medan Sekitarnya (6 bulan)
  • Tahun 1990 Vice Control (VC) Poltabes Medan (8 bulan)
  • Tahun 1991 Sekolah Secapa Sukabumi angkatan ke-19
  • Tahun 1992 Kasubnit VC Poltabes Medan
  • Tahun 1993 Pjs Kanit VC Poltabes Medan
  • Tahun 1994 Perwira Dasar Serse
  • Tahun 1994 – 2000 Kanit VC Poltabes Medan.
  • Tahun 1998 Perwira Lanjutan Serse.
  • Tahun 2000 Kapolsek Teladan
  • Tahun 2001 Kapolsek Medan Baru
  • Tahun 2002 Pjs Kasat Reskrim Poltabes Medan
  • Tahun 2003 – 2005 Kasat Reskrim Poltabes Medan
  • Tahun 2005 – 2006 Kaur Min Korwas Bareskrim Mabes Polri
  • Tahun 2006 BKO ke Poso Polda Sulsel (4 bulan)
  • Awal 2007 Lemdiklat Bareskrim Polri (5 bulan)
  • Pertengahan 2007 pindah ke Polda NTT (Kabag Bindiklat)
  • Akhir 2007 Kasat I Direktorat Reserse Polda NTT
  • Tahun 2008 pindah ke Polda Jatim (Kanit Dit Narkoba)
  • Tahun 2009 meraih pangkat AKBP dan bertugas di Bidkum Polda Jatim
  • Tahun 2010 – 2014 Kasubdit Tipiter Krimsus Polda Jatim
  • Bulan Juni 2015-sekarang Wakil Direktur Krimsus Polda Sumut

Penghargaan:

Tahun 2003 menerima Satya Lencana Kesetiaan 8 tahun dari Kapolri

Tahun 2004 menerima Satya Lencana Kesetiaan 16 tahun dari Kapolri

Adagium menyebutkan, sebaik-baik seseorang adalah diri yang paling bermanfaat bagi orang lain. Bermanfaat untuk sesama, tentu kerinduan seluruh insan, hanya saja tak semua mau dan mampu mewujudkannya. Hanya orang-orang yang ihklaslah yang mampu menjalani dan mewujudkannya. Dampaknya sebagaimana filosofi di kehidupan “Apa yang ditabur itulah yang dituai. Kebaikan yang dilakukan akan kembali untuk kebaikan diri.” Rasanya, filosofi itulah yang dianut dan dijalani AKBP Dr Maruli Siahaan SH MH, 55 tahun.

Wakil Direktur Krimsus Polda Sumatera Utara ini, di tengah-tengah kesibukan menunaikan tugas negara, dia tak pernah melupakan tanggung jawabnya sebagai seorang ayah, bahkan bermanfaat untuk orang lain. “Saya selalu menomorsatukan keluarga dan tugas. Tak pernah menomorduakan keduanya apalagi mengabaikan. Lebih dari itu, kita berusaha membantu oranglain.” Baginya itu semua bisa disiasati dengan memprioritaskan yang utama.

Sebagai pejabat polisi di Polda Sumut, tugasnya tak boleh dilakoni setengah hati. “Meniti karier dan memberhasilkan anak adalah keseimbangan.” Dirinya bukan tipe orang yang memotivasi orang lain, sebelum memiliki contoh yang kokoh di keluarganya. Semangatnya menjadi teladan menjadi seorang pembelajar diperlihatkannya dengan antusias menjadi polisi yang haus ilmu. Maruli tak puas hanya menjadi sarjana, bahkan studi ke tingkat doktoral juga digapainya.

“Soal mendidikan anak-anaknya dengan disiplin, gigih, tekun dan keteladan itu pendting.” Maruli dikarunia Tuhan empat putra dari pernikahannya dengan istri terkasih, Betty boru Simanjuntak. Sendari kecil, keempat anaknya dididik dengan disiplin dengan nilai-nilai agama dan budaya. “Sebagai seorang Kristen dan seorang Batak yang otentik. Tentu, sebagai ayah saya menyadari peran ayah, tetapi itu juga diperkukuh didikan dari istri,” ujarnya memuji istrinya, sebagai seorang perempuan yang berhasil mendidikan buah hatinya. “Istri saya ibu yang lembut, tetapi tegas jikalau sudah mengajari anak. Bahkan akan terlihat cerewet.”

Empat jagoan

Dalam tuntutan tugas berdinas, dia mengaku tetap konsisten menanyakan keadaan dan keberadaan keempat anaknya, meski hanya melalui handphone, perhatiannya untuk anaknya tak pernah lupa dilakukan. Baginya, membesarkan anak tak cukup dengan menyekolahkan dan memberinya kebutuhan fisik saja, tetapi juga bagaimana membangun sikap mental, karakter budi baik. Menurutnya, komunikasi dengan anak secara intensif diperlukan agar memahami hubungan perasaan. “Agar jangan nanti setelah besar lulus sekolah, sulit bagi orangtua mengajaknya bicara. Malah bertanya-tanya, mengapa komunikasi dengan anak makin sulit dilakukan? Padahal orangtua selama ini tak membangun komunikasi dengan baik.”

Dia menambahkan, “Jadi, yang saya lakukan hanyalah mendampingi ibunya, istri yang lebih banyak membimbing keempatnya. Sementara untuk memantu aktivitas mereka? “Saya mengkordinasikan silang, mencek keberadaan mereka. Misalnya si adik bertanya abangnya, dan abangnya menanyakan keberadaan adiknya. Disana terjadi komunikasi dan kesalingpedulian antara kakak dan adik.”

Lalu, bagaimana mereka ketika remaja, menjelang akil balig. Sebab kerap di masa itulah anak kerap perlu pembimbingan lebih? “Masa remaja mereka diberikan kebebasan bertumbuh. Tentu dikontrol. Namun sifat mengontrolnya berkomunikasi. Contoh lain, soal proses belajar di rumah, anak-anaknya harus saling mengingatkan untuk belajar mandiri. Jika ingin ada extra belajar, misalnya bahasa Inggris harus dileskan, iya kita leskan,” ujar penerima dua kali Satya Lencana Kesetiaan dari Kapolri ini.

Satu rahasia yang dilakukannya menjadikan dirinya sahabat anak-anaknya. “Saya selalu menempatkan anak-anak ini menjadi teman. Mereka itu adalah teman-teman saya. Misalnya, kita orangtua harus juga jeli untuk mengembangkan sikap mental anak-anak kita. Jangan kita tanya anak kita mereka bilang lagi belajar. Padahal, kita juga tak perhatian bahwa mereka bukannya belajar tetapi malah bermain di kamar. Kalau merasa teman akan terbuka.”

Selanjutnya, setelah anak-anaknya lulus ditingkat sekolah menengah atas, Maruli sebagai ayah mengarahkan keempatnya menemukan passion, panggilan jiwanya untuk masa depan masing-masing. “Saya tanya mereka, kalau sudah di SMU. Apa cita-citamu nak? Saya tak paksakan mereka untuk menjadi angkatan, tentara atau polisi. Tetapi, entah mengapa sejak anak pertama ikut akademi perwira, ketiga adiknya juga mengikut,” ujarnya. Tentu, untuk pilihan itu, sebagai ayah dirinya tak memaksa. Merekalah yang membuat pilihan. Sebagai orangtua yang telah banyak makan asam garam di kehidupan, Maruli hanya memberi arahan apa-apa yang perlu disiapkan untuk persiapan mengikuti pendidikan di Akmil atau Akpol.

Tentu, selain latihan fisik dan mental juga pendidikan yang mumpuni di pengetahuan umum dan sains. Maka, begitu anak pertama ingin melanjutkan ke Akmil, dilakukan cek fisik. Apa-apa yang kurang bekal untuk dimiliki untuk mempersiapkan diri melamar. Tentu kalau ditemukan kekurangan masalah dalam fisik, maka perlu digembleng, Maruli menyuruh orang untuk pengemblengan fisik anaknya. Begitu seterusnya. Pun anaknya nomor dua sendiri agak berbeda, karena dia sendiri yang langsung melamar.

Anak ketiga masuk ke Akpol dan keempat masuk ke Akmil Angkatan Laut. Anak bungsunya malah sebelumnya sudah mendaftar, lalu kalah, masuk ke Universitas Sumatera Utara, kemudian tahun depannya mendaftar lagi. Sebagai ayah tentu dia dan istri merasakan kebanggaan tersendiri. Tak berhenti bersyukur dan memberi nasihat dan selalu memotivasi anak-anaknya agar mereka jangan menyiayikan kesempatan pendidikan yang mereka terima. “Saya selalu katakan, saya sendiri tidak diterima di pendidikan perwira. Kalian diterima di pendidikan akademi perwira, maka kalian harus jadi lebih baik dari bapak. Harapan bapak kalian kelak bisa jadi jenderal,” harapnya.

Saat ini, putera sulungnya Lettu (Inf) Jimson Andre Siahaan (27) baru selesai menjalankan misi militer di Sudan dan bertugas di Poso. Sementara, adiknya Lettu TNI Dedy Surya Putra Siahaan (26) bertugas sebagai Kasub Provoost Wirasaba (TNI AU). Putera ketiganya Triboy Alfin Siahaan (23) lulus Taruna Akpol, serta dijadwalkan menyandang pangkat Inspektur Polisi Dua (Ipda) pada akhir Juli 2016 akhir. Sementara, anak sibungsu Ferry Christanto Siahaan (19), masih mengikuti pendidikan di Akmil Angkatan Laut (AAL).

Selain itu, tatkala keras pesannya adalah, sikap hormat pada yang lebih tua. “Tunjukkan sikapmu yang baik. Rendah hati. Jangan kalian kalau sudah lulus perwira, lalu ketika ketemu kopral di lapangan, kalian tak hormat. Hormatilah oranglain dari umurnya, bukan dari pangkat atau gelar pendidikannya,” demikian nasihat kepada keempatnya. Kini, kemana pun keempat anaknya bertugas, pesan bapaknya selalu tergiang-giang. “Menghormati oranglain bukan dari pangkat atau titelnya.” Maruli menyadari betul makna ungkaoan Batak Anakkon Ki Do Hamoraon di Ahu. Anak sebagai kekayaan baginya. “Berkat Tuhan melengkapi saya dan isteri dengan pencapaian yang anak- anak kami dapat,” ujarnya.

Keempatnya didik bukan karena pemaksaan darinya, mereka menjadi perwira. Tetapi, sebagai orangtua selalu dengan sabar mendidik keempat jagoaanya dengan kasih dan keteladan. “Sejak kecil kami didik mereka dengan kasih. Mengajarkan teladan sebagai orangtua. Kami tak mendidik mereka dengan uang dan kemewahan. Kami mendidik mental dan sikap dalam menjalani hidup,” tambahnya.

Kini, anak kedua sudah menikah. Pada pernikahan anaknya itu terlihatlah kecedikiaannya membangun relasi, termasuk pada seniornya hadir di perhelatan itu.  Saat itu, hadir Kapolri Jenderal Pol Badrodin Haiti pada pernikahan anaknya Lettu Pom Deddy Surya Putra Siahaan S.St. Han, putra keduanya yang dilangsungkan, di Gereja HKBP Sei Agul, Sabtu (19/12/16) dan resepsi pernikahan di Hotel Tiara.

Tak hanya Kapolri, resepsi itu juga dihadiri puluhan jenderal, teman-teman dekatnya seperti mantan Kapolri Timor Pradopo, Komjen Pol Sopjan Jacoeb, Kapoldasu Irjen Pol Ngadino, Komjen Pol Ismerda Lebang, Irjen Pol Wagner Damanik, Irjen Pol Primanto, Mayjend TNI Fransen Siahaan dan beberapa jenderal dan para purnawirawan lainnya. Selain itu, sejumlah pejabat juga turut hadiri antara lain anggota DPR RI Trimedia Panjaitan, Gubsu HT Erry Nuradi. Hal ini menandakan bahwa Maruli lekat di hati banyak orang. Itu juga sebab banyak harapan dari tokoh dan komunitas Sumatera Utara memintanya mencalokan diri menjadi gubernur.

Setiap melangkah berdoa

Modalnya, setiap langkah didahulukan dengan doa. Dia tahu benar kuasa doa. Masih bening dalam benak pria kelahiran Sibrorongborong 3 April 1961 ini, kerap diajarkan kedua orangtuanya; Marden Siahaan dan N br Sihombing (keduanya sudah almarhum) untuk rajin ke gereja dan membaca firman, dan tak jemu-jemunya berdoa, kenang anak keenam dari sembilan bersaudara itu.

Masa-masa kecil penuh kenangan dilaluinya di daerah itu. “Saya sekolah di SD Lobu Siregar dan ST Siborongborong. Orangtua saya hanyalah petani,” kenangnya. “Jadi seluruhnya hanyalah karena anugerah Tuhan.” Dari anak-anak hingga remaja dilaluinya di tempat kelahiran. Tahun 1979, Maruli baru hijrah ke Kota Medan dengan melanjutkan jenjang pendidikan ke sekolah kejuruan STM Negeri II, lulus sekolah dirinya menguji peruntungan. Lalu mendaftar masuk ke Sekolah Calon Bintara (Secaba) Polri. Tuhan mengabulkan doanya, dia lulus dan tahun 1982 mulai berkarir di kepolisian dengan atribut dibahunya, bengkok kuning satu, pangkat Sersan Dua (Serda).

Dia menambahkan, sebagai seorang Kristen menyadari betul kekuatan doa. “Tak ada pekerjaan saya mulai jika tak didahului doa. Kita tentu bekerja dengan kerja keras, tetapi kerja keras kita tak berhasil jika tak ada doa di sana. Doa adalah kekuatan kita. Tanpa doa kita tak kuat menjalani pekerjaan kita. Saya selalu juga ajarkan itu kepada keluarga, kepada anak.”

Bertandang ke kantornya, akan terlihat spirit itu. Di atas mejanya tersusun buku-buku rohani. Maruli mengakui membaca buku-buku rohani itu tentu mengajarkannya betapa buku itu membebat pikirannya untuk terus bertumbuh. Ritmenya; bangun pagi berdoa dulu, saya sendiri sesampainya di kantor tak pernah mengerjakan pekerjaan di kantor sebelum terlebih dahulu berdoa. “Minimanl sepuluh menit pertama itu yang saya lalukan adalah berdoa terlebih dahulu. Demikian juga sebelum sampai di rumah juga pulang dari kanor juga saya berdoa.”

Dan tak lupa untuk membaca dan merenungkan firman Tuhan. Selain itu, untuk menjaga pikiran tetap bening adalah selalu menyempatkan ke toko buku untuk melihat buku-buku yang bisa memberikan bekal rohani untuk mentalnya. Sebagai pemimpin tentu dia butuh banyak pemahaman yang lebih segar tentang iman Kristen.

Ompu Roganda

“Saya melihat betapa perlu menjaga hubungan persaudaran dan kekeluargaan. Di dalam keluarga besar saya juga saya terapkan hal ini. Harus menjadi pembawa damai. Juru damai. Saya menyaksikan banyak keluarga hancur karena tak menjaga hubungan persaudaraan. Banyak hubungan persaudaran karena merebut harta warisan. Kami dalam keluarga besar menerapkan bahwa hubungan keluarga besar itu harus saling membantu. Saya sebagai aktif  di kepolisian, tentu beberapa keluarga anak abang dan dari anak kakak saya, tentu membuka jalan untuk mereka mengabdi di kepolisian.”

Keluarga besar Ompu Roganda ini didorong untuk selalu mengutamakan pendidikan. “Saya sendiri sebagai seorang polisi tak berhenti belajar. Malah sekarang anak-anaknya dan seluruh anak abang kakaknya sudah pada mandiri. Bahkan, beberapa mereka beruntung bisa mendapat beasiswa dari luar negeri,” harapnya. “Tetapi lebih dari itu, hubungan keluarga ini dibangun dari militansi saling memperhatikan.”

Lalu bagaimana caranya? “Misalnya, kami dengan keluarga selalu membangun komunikasi. Jarak tak menghalangi komunikasi. Misalnya, ada group Whatshaap, disana kami saling menyapa, memberi kabar dan saling berbagi dan menguatkan. Kemudian, pada setiap tahun di bulan Desember, kami mengadakan Natal keluarga yang digilir. Misalnya, kalau saya yang menjadi tuan rumah, maka seluruh keluarga besar dari keturunan orangtua Ompu Roganda, baik cucu-cucunya hadir di rumah saya. Di sana kami selain mengadakan kebaktian juga saling menyapa. Dan itu diadakan bergilir setiap tahunnya.”

Saat ini, mereka sudah tersebar di berbagai wilayah, termasuk di Papua. Maruli selalu konsisten dengan belajar pada sosok Ompu Roganda, kedua orangtuanya. “Sosok orangtua yang bersahaja. Ayah seorang petani, demikian juga ibu. Tetapi walau pun ibunya buta huruf, namun jika menghitung duit jago sekali,” ujarnya tertawa. “Ayah seorang petani, demikian juga ibu. Tetapi ketauladan mereka sebagai orangtua adalah sosok memiliki daya juang untuk kemajuan anak-anaknya. Semangatnya untuk memberangkatkan sekolah, tak kepalang besarnya. Walau cita-citanya sebenarnya tak terlalu tinggi, bagaimana anak-anaknya bisa sekolah sampai SMA.”

Ompu Roganda ini yang dalam bahasa Batak diartikan nenek yang kedatangan berkah. “Manakala ada keluarga yang kesulitan untuk membiayai uang sekolah, apalagi keluarga itu sudah meminta bantuan dari dirinya, maka orangtua ini akan dengan rela meminjamkan padinya, beberapa kaleng untuk meringankan beban tentangga atau kelaurga yang meminjam,” kenangnya. “Saya terbiasa melihat orangtua meminjamkan padi pada keluarga di kampung jika ada yang membutuhkan bantuannya oleh kesulitan keuangan. Orangtua tak hanya memikirkan dirinya dan anak-anaknya, tetapi orang lain juga. Barangkali itulah yang membuat keluarga besar kita diberkati Tuhan,” akunya.

Maruli meniru kebaikan yang diterapkan orangtuanya. Sesungguhnya, tak hanya keluarga besar saja yang diperhatikan olehnya. Termasuk peduli pada kampung halaman. Di kampungnya Balembalo, Lobu Siregar, Kabupaten Tapanuli Utara, dia juga telah berbuat. “Kami sudah gelar beberapa kali acara. Termasuk reuni SD di Lobu Siregar. Termasuk memberi beasiswa dan menyumbang komputer.”

Membekali generasi Siahaan

Kepedulian, perhatian dan sikap suka menolongnya selama ini tak akan pernah pudar dari batinnya. Selain perhatiannya terhadap kampung halaman, juga perhatian untuk marganya, Siahaan. Maruli selalu mengingatkan generasi muda Siahaan sebagai penerus harus terus berjibaku menjadi generasi yang handal.

Dia selalu memberikan kesempatan untuk saudara-saudara semarganya. “Saya selalu memberikan kesempatan untuk saudara-saudara saya Siahaan untuk memberikan semacam contoh keluarga. Tentu, bukan membangga-banggakan tetapi menggambarkan untuk saudara saya Siahaan betapa perlu juga orangtua itu menjadi teladan.”

“Sebisa mungkin saya selalu aktif di pegurusan Siahaan. Setiap ada pertemuan, saya selalu katakan bahwa apa pun yang kami bicarakan untuk marga ke depan tak boleh melupakan generasi muda,” ujar Ketua Umum Panitia Ziarah Nasional. Tahun lalu, dalam rangka Ziarah Nasional Parsadaan Pomparan Somba Debata (PPSD) Boru bere dan Ibebere se-Indonesia yang akan berlangsung di Dolok Na Jagar Kecamatan Balige, Kabupaten Toba Samosir pada 8-9 Agustus 2015. AKBP Dr Maruli Siahaan SH MH, didaulat menjadi ketua umum Panitia Ziarah Nasional. Menurutnya, Ziarah Nasional PPSD ini merupakan wujud rasa hormat kepada para orangtua dan leluhur marga Siahaan yang telah mewariskan keteladanan dan berbagai prinsip kebajikan.

Kegiatan lain diwarnai dengan menggelar bakti sosial berupa pembagian kaos ziarah nasional dan pemberian bibit serta penanaman pohon yang pada puncak acara pada 9 Agustus 2015 diawali dengan acara kebaktian. Sebagai ketua panitia juga dia tak lupa mengundang Tulang Lubis dan boru: Rajagukguk dan Siburian. Puncak acara manortor dan pemberian ulos serta pemberian bantuan dana kepada pelajar berprestasi beasiswa keturunan Pomparan Somba Debata.

Maruli menambahkan, yang paling penting dari ziarah ini adalah memberikan edukasi dan pembinaan terhadap generasi muda Somba Debata Siahaan. “Ziarah ini adalah wadah menjalin tali kasih persaudaraan sesama keturunan dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan saat itu hadir dari luar negeri.”

Takkala menarik, Ziarah Nasional itu juga diresmikan situs, Sopo Panisioan Somba Debata. Dilanjutkan seminar sehari dengan narasumber para pejabat dan intelektual dari marga Siahaan di antaranya; Prof Dr Hotman Siahaan Guru Besar di Departemen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga.

Bahkan, Mayjend TNI Fransen Siahaan, berkarier di Komando Strategis Cadangan Angkatan Darat (Kostrad) Pangdam XVII Cendrawasih-Papua, Dr Ir Bisuk Siahaan, tokoh dibalik proyek Asahan, Dr Nommy HT Siahaan SH MH, Ketua Pengadilan Tinggi Jawa Tengah dan Utama Siahaan, seorang motivator, Managing Partner of Kernel Resources. Seminar sehari itu diharapkan bisa meningkatkan sumber daya manusia (SDM) generasi muda Siahaan tentang paradaton, kewirausahaan (entrepreneur), perekonomian dan bahaya Narkoba.

Dirinya telah banyak berbuat. Bukan hanya untuk dirinya tetapi juga untuk oranglain. Tetapi sampai sekarang tak berhenti mengabdi. Harapannya ke depan jika Tuhan masih memberikan kesempatan, dirinya ingin mengabdi lebih besar lagi untuk masyarakat. “Saya selalu berdoa kepada Tuhan agar diberi kesehatan, keharmonisan keluarga serta kebijakan menjalankan pengabdian tugas untuk masyarakat lebih luas lagi.”

Ditanya apa rahasianya menjankan itu semuanya? “Saya hanya belajar menyenangi pekerjaan,” ujarnya antusias. Baginya, jika kita menyukai pekerjaan yang kita kerjakan, tentu akan mudah melaksanakannya. Pesannya untuk itu, bersikaplah menyukai dan menikmati pekerjaan. “Jangan pernah menunda apa yang bisa dikerjakan hari ini untuk dikerjakan besok. Dan kerjakan tugas dengan mengandalkan Tuhan, lakukan dengan maksimal. Niscaya akan berhasil,” ujarnya memberi rahasia.

Jonro I. Munthe, S.Sos


Memotivasi Tokoh-tokoh Kristiani Melalui NARWASTU

indexBernama lengkap Jonro Inranto Munthe. Pria Batak kelahiran Dolok Sanggul, Sumatera Utara, 6 April 1973 di kalangan gereja dan tokoh gereja sosok yang kenal konsisten memberitakan berita Nasrani. Pemimpin Umum dan Pemimpin Redaksi Majalah Kristiani NARWASTU dan salah satu pendiri Persekutuan Wartawan Media Kristiani Indonesia (PERWAMKI). Jonro I. Munthe, S.Sos yang, selama ini dikenal sosok jurnalis Kristiani yang aktif, dinamis, cerdas dan berprestasi.

Tak hanya jurnalis, ia kerap diundang sebagai moderator dan pembicara di berbagai diskusi dan seminar. Ia tak hanya diundang oleh gereja atau ormas Kristiani untuk memberikan pemikiran-pemikirannya seputar ilmu jurnalistik, tapi juga soal keadaan sosial, gereja, kemasyarakatan dan politik. Lulusan Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta, yang pernah dipercaya sebagai salah satu Ketua DPP Partai Demokrasi Kasih Bangsa (PDKB) ini sejak mahasiswa pun kerap diminta tampil di acara debat mahasiswa dan diskusi.

Selain itu, mantan Ketua Litbang DPP PROJUSTISIA (Persekutuan Oikoumene Jurnalis Kristiani Indonesia) ini tak jarang tampil jadi narasumber di Radio Pelita Kasih (RPK) 96,30 FM untuk topik-topik seputar gereja, sosial dan politik. Mantan Ketua Umum Pemuda Katolik dan Wakil Sekjen DPP Partai Hanura, Natalis Situmorang pernah mengatakan, tak bisa dipungkiri, Jonro Munthe adalah salah satu tokoh muda Kristiani yang patut diperhitungkan karena kiprahnya di media.

Pasalnya, kata Natalis, Jonro pula yang pertama kali menggagas pemberian award (penghargaan) setiap akhir tahun terhadap tokoh-tokoh Kristiani yang berkarya di tengah gereja, masyarakat dan bangsa. Pemberian award itu sudah ia lakukan di majalah yang dipimpinnya sejak 1999 lalu.

Setiap majalahnya menggelar acara ibadah Natal dan tahun baru, jangan heran kalau banyak tokoh dari berbagai latar belakang atau politisi Kristen hadir. Soalnya, majalah yang dipimpinnya memang cukup populer di kalangan warga gereja. Tak heran, kalau ia diidentikkan sebagai ikon media Kristiani, khususnya NARWASTU. Selain itu, majalahnya kerap mengadakan diskusi bersama tokoh-tokoh Kristiani. Diskusi itu digelar Forum Diskusi Daniel Indonesia (FDDI), yang di dalamnya ada penasihat Majalah NARWASTU berlatar belakang pemimpin gereja, politisi, pengacara, pengusaha, mantan anggota DPR dan jenderal purnawirawan.

Jonro mengatakan, melalui diskusi FDDI yang mereka adakan ia berharap para tokoh muda punya semangat untuk memikirkan persoalan masyarakat dan kebangsaan. “Melalui diskusi FDDI kami ingin mengajak sahabat-sahabat kaum muda peduli pada persoalan gereja, masyarakat dan bangsa ini. FDDI terbentuk pada awal 2010 setelah melihat banyak caleg muda Kristen yang rontok, lalu tidak tahu berbuat apa lagi. Akhirnya kita ajak mereka berdiskusi bersama tokoh-tokoh senior untuk memberikan motivasi dan bekal,” terangnya.

Tokoh seperti Jakob Tobing, Sabam Sirait, Pdt. A.A. Yewangoe. Dr. J. Kristiadi, Dr. Tjipta Lesmana, Maruarar Sirait, Basuki Tjahaya Purnama (Ahok), Martin Hutabarat, Gregorius Seto Harianto, Jakobus Mayong Padang, Prof. Irzan Tanjung dan Jhonny Nelson Simanjuntak sudah pernah diundang bicara di FDDI. ”Kita undang tokoh-tokoh senior yang kita anggap bisa memberi bekal dan bisa memberikan motivasi kepada kami kaum muda lewat sebuah diskusi interaktif,” papar Jonro yang masih berkeinginan menambah bekal ilmu, yakni ingin kuliah ilmu hukum dan memperdalam pengetahuan bahasa Inggris.

Lantaran dikenal “jurnalis plus” pada akhir 2009 lalu, Jonro mendapat predikat atau award  dari Majelis Pers Indonesia (MPI) sebagai “Jurnalis Muda Motivator” yang diterimanya di Gedung Dewan Pers, Jakarta. Ayah tiga anak ini sejak mahasiswa sudah aktif dalam dunia jurnalistik. Di samping itu, saat mahasiswa suami dari Faridawati Rajagukguk ini giat melatih olahraga beladiri di kampusnya. Sejumlah prestasi diraihnya, ia pernah mengikuti kejuaraan silat antarmahasiswa se-ASEAN, dan pada Oktober 1993 berhasil meraih medali emas di kejuaraan silat antarmaster se-Jabodetabek. Ia pun pernah meraih juara II dalam sanyembara penulisan artikel Kristiani pada 1997 yang diadakan majalah Kabar Baik.

Semasa mahasiswa Jonro yang beribadah di Gereja GPIB Harapan Indah, Kota Bekasi, Jawa Barat, pernah menjadi kolumnis di Majalah Bona Ni Pinasa, media orang Sumut terbesar yang terbit di Jakarta. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di sejumlah media nasional, termasuk tabloid Mutiara, yang kini tak terbit lagi. Lantaran tulisannya yang dimuat di Mutiara pernah mengkritik penguasa kala itu yang memihak pada PDI Soerjadi pada Juli 1996 lalu, ia pun dipanggil petinggi kampusnya agar jangan “melawan arus”, karena saat itu kekuasan Orde Baru sangat represif.  Gara-gara tulisannya yang kritis tentang isu tukang santet yang dimuat di Bona Ni Pinasa pada 1996 lalu, ia sampai didatangi sejumlah pemuka adat dari sebuah kampung di Tapanuli Utara ke Jakarta untuk meminta klarifikasi.

 “Sebagai jurnalis Kristen kita harus terus menyuarakan kabar baik. Kabar baik adalah suara kenabian, keadilan, kebenaran dan kesejahteraan,” ujar pria yang sudah menulis tiga buku ini. Bagi Jonro, hidup ini harus bermakna bagi sesama. “Meskipun kita sibuk berkarier, tapi persoalan kemasyarakatan, gereja dan bangsa perlu kita bahas untuk dicari solusinya. Sekecil apapun peran yang kita lakukan, itu perlu untuk kebaikan sesama. Hidup ini, kata Yesus, harus bermakna. Melalui media Kristiani pun kita punya peran yang tidak kecil untuk membangun masyarakat dan bangsa ini,” ujar Sekretaris Umum Keluarga Besar Perhimpunan Ompu Solonggahon Munthe, Boru dan Bere se-Jabodetabek.

Menurut Jonro, sejak tamat SMP pada 1988 ia sudah hobi menulis. Lalu pada 1992 saat mulai kuliah tulisan-tulisannya mulai dimuat di beberapa media, dan honorariumnya bisa membantu uang kuliahnya. Pada 1994 ia ditawari Pak Tom Gultom (almarhum), pimpinan Majalah Bona Ni Pinasa untuk bergabung, tapi ia memilih bekerja part time, karena ia masih kuliah. Tahun 1996 ia  magang di tabloid Mutiara yang dipimpin Pak Moxa Nadeak (almarhum), tokoh pers yang cukup vokal. “Saya banyak belajar dari Pak Moxa selama magang,” ujarnya.

Tahun 1997 saat masih mahasiswa ia sudah bergabung di Majalah NARWASTU, karena diajak Dr. Victor Silaen (almarhum), kini dosen Universitas Pelita Harapan, yang saat itu pemimpin redaksinya. Tapi karena ada dinamika sampai dua kali karena persoalan manajemen, maka kepemimpinan di media ini berubah, tapi tetap NARWASTU punya ciri khas sendiri sebagai media Kristiani alternatif. Artinya, media ini tidak hanya berbicara tentang doa, khotbah pendeta atau doktrin-doktrin Alkitab.

“Tapi, kami pun membahas fenomena yang ada itu dari sudut atau nilai-nilai Kristiani, baik itu masalah politik, sosial, hukum, budaya, pendidikan, teknologi maupun lingkungan hidup,” tukas Jonro Munthe yang pernah juga menerbitkan media komunikasi internal di Keluarga Besar Punguan Ompu Banua Munthe, Boru, Bere dan Ibebere se-Jabodetabek, dan disebarluaskan pada keluarga Munthe yang ada di berbagai kota di Tanah Air. Media komunikasi berupa buletin bernama Bona Ni Onan itu dimaksudkan sebagai media berkomunikasi, dan sajiannya seputar informasi berita keluarga, tulisan kesehatan, kerohanian, pengetahuan adat dan budaya serta pengenalan bahasa batak plus umpasanya beserta maknanya.

“Saya masih harus banyak belajar untuk memimpin media cetak seperti Majalah NARWASTU. Terus terang, saya kagum dengan perjuangan Goenawan Muhammad yang mendirikan Tempo, Surya Paloh yang bisa membesarkan Media Indonesia dan Metro TV, Jacob Utama yang membesarkan Kompas. Mereka bisa jadi sumber inspirasi untuk membangun media. Mereka sudah mengalami pahit getirnya membangun media,” tukas Jonro yang pernah diundang Kantor Kementerian Polhukam RI pada 2011 berbicara di dalam sebuah diskusi terbatas mengenai eksistensi media Kristen di dalam perannya untuk ikut serta membangun gereja, masyarakat dan bangsa.

Bahkan, Asisten Deputi VII Menkopolhukam RI Brigjen TNI Harsanto Adi bersama Kepala Bidang Humas Kementerian Polhukam dan Kepala Bidang Media Cetak Kementerian Polhukam pada awal 2013 lalu mendatangi kantor NARWASTU guna mengajak majalah yang dipimpinnya bekerjasama untuk mengadakan sebuah acara diskusi bersama media-media berbasis agama. Dan hingga kini Jonro tak berhenti menggelar diskusi yang mempertemukan tokoh-tokoh Kristiani.

Dan kini bersama tokoh-tokoh Kristiani pilihan NARWASTU yang tergabung di FORKOM NARWASTU (Forum Komunikasi Tokoh-tokoh Kristiani Pilihan NARWASTU), yang di dalamnya ada jenderal purnawirawan, advokat/pengacara senior, akademisi, mantan anggota DPR-RI, profesional, pengusaha, pimpinan ormas, pimpinan parpol, anggota dewan, pemuka masyarakat dan pimpinan sinode, ia tak pernah lelah menggelar diskusi untuk menyikapi persoalan di tengah negeri ini. Misalnya, mereka sudah menyikapi bahaya narkoba, bahaya korupsi, terorisme dan persoalan kebangsaan.

Hasil diskusi itu, tak hanya dibahas atau dirumuskan solusinya bersama tokoh-tokoh, namun juga dipublikasikan di Majalah NARWASTU, media-media Kristiani lainnya, bahkan didiskusikan di radio rohani. Kemudian diharapkan hasil diskusi itu dibaca para tokoh bangsa, eksekutif, legislatif, yudikatif, ormas agama, dan media massa agar diketahui dan bisa ditindaklanjuti demi kesejahteraan dan kedamaian di tengah masyarakat dan bangsa.

Baginya, hidup ini sarat dengan pergumulan dan tantangan, dan orang Kristen punya panggilan juga untuk memberikan sesuatu yang bermanfaat untuk bangsa dan negara ini, sesuai dengan tugas panggilannya. Orang Kristen mesti bisa menjaga garam” mencegah pembusukan, dan menjadi terang: menerangi kegelapan. Di situlah manusia itu berarti dan bisa menjadi berkat bagi sesama.

 

 

Pdt. Daniel T.A. Harahap, M.Th


 

Berjuang untuk Kesejahteraan Pelayan HKBP

Pdt. Daniel T.A. Harahap, M.ThNama lengkapnya Daniel Taruli Asi Harahap, nama tentu penuh arti. Bisa diartikan: kebagian belas kasih. Umumnya jemaat Gereja HKBP memanggilnya, amang (bapak) DTA. Tentu, ada juga menyapanya Dani. Pria kelahiran Sei Merah, Medan, pada 26 Agustus 1963 ini adalah anak kelima dari enam bersaudara.

Masa kecilnya dilewatkannya penuh kebahagiaan. “Usia empat tahun saya punya pesawat mainan KLM yang digerakkan oleh batere, kelap-kelip lampu dan bunyi raungannya membanggakan sekali. Saya juga punya banyak mainan mobil-mobilan besi. Saya sering dibelikan blok-blok kayu. Ulang tahunku pernah dirayakan di restoran Tiptop, yang masa itu tempat sisa-sisa Belanda dan Tionghoa kaya Medan berkumpul. Itu masa-masa sangat indah,” kenangnya memulai perbincangan.

Sejak kecil selalu fokus pada kesukaannya. “Saya lebih suka main sendiri atau bersama saudara-saudaraku di rumah, membuat kapal-kapalan dan pesawat-pesawat kertas, kereta kelos benang yang bisa jalan mendaki, telepon kotak korek api, dan atau paling sering kulakukan mengumpulkan belalang, kotak-kotak rokok bekas, mengacak-acak sarang semut, memancing undur-undur di debu atau ikan gobi di parit pake seutas benang. Kadang aku bermain jual-jualan dan masak-masakan dengan anak-anak perempuan. Kadang aku sendirian saja mengumpulkan biji-biji flamboyan,” tambahnya.

Ayahnya bernama Aminuddin Harahap, dulunya seorang staf asosiasi perusahaan perkebunan di Medan. Sedangkan ibunya, Sereuli boru Hutabarat adalah perempuan yang teguh pendirian. Karakter ibundanya, berkebalikan dengan ayahnya. “Ibu seorang perempuan tangguh kelahiran Tebing Tinggi, daerah Deli. Saat perang berkecamuk ibu yang bermarga asal lembah Silindung ikut mengungsi. Tetapi ibu dibesarkan di daerah Toba Holbung, persisnya di Lumban Bagasan, Kecamatan Laguboti,” jelasnya.

Alih-alih berbeda dengan ayahnya, ibunya suka “berkelahi” dan bertengkar terang-terangan, berjuang, apalagi jika menyangkut hak dan kebenaran. “Ya, berbeda dengan kami-kami orang Batak dari Selatan, ibu tak akan segan-segan menuntut haknya, namun sebaliknya dia sangat jujur. Bahkan, baginya kejujuran adalah segalanya, melebihi pentingnya ritus doa. Jauh mengalahkan ambisi pemilikan materi,” paparnya.

 

Sosok Batak Sejati

Menurutnya, dari ibu yang mengajarkan menjadi Batak yang sejati, termasuk mengajarkan soal prinsip. Dalam soal adat Batak, ibunya boru Hutabarat jelas-jelas punya pendirian, logika dan nurani. Bagi ibunya, adat bukan sekadar soal kebiasaan apalagi latah-latahan. Adat adalah prinsip berhubungan dengan sesama berdasarkan hormat, kejujuran, dan rasa sayang.

Itulah yang membuat dia sering membangkang atas hal-hal yang dianggapnya tak benar dalam kebatakan. “Ibu akan marah jika ephorus atau pendeta mau diulosi. Baginya, itu penghinaan. Ulos tak pernah datang dari bawah alasannya. Ikan mas harus dibungkus apik dalam tandok dan dijunjung di kepala, bukan dibiarkan telanjang dipamer-pamerkan,” tambah Daniel.

dta-hojot-2.JPGBeranjak dewasa, tahun 1982, dia ke Jakarta dan bermukim di daerah Pulomas, Jakarta Timur. Di Pulomas itulah, menurutnya, dia bisa berbahasa Batak. Sebab di Medan tak bisa, walau lahir di Medan tak lincah berbahasa Batak. “Maklumlah di Medan waktu itu, jarang ada orang berbahasa Batak. Saya bisa mengerti namun tak mampu lancar mengungkapkan. Tentu saya sangat iri kepada kemampuan kawan-kawanku di Pulomas bisa berbahasa Batak,” terang pendeta yang dikenal gaul ini.

Sejak ke Jakarta untuk kuliah di STT Jakarta, di Pulomas dia sering mendengar naposo bulung (pemuda) HKBP Pulomas berbahasa Batak, dia kemudian malu hati. Dan sejak itu berniat ingin belajar bahasa Batak. Pulomas yang kerap diidentikkan kampung orang Batak. Di sanalah dia belajar bahasa Batak hingga lulus dari STT Jakarta. “Sejak di Pulomas saya benar-benar belajar bahasa Batak. Apalagi setelah mengikuti vikaris dan kemudian ditahbiskan dan ditempatkan menjadi pelayan di Sibolga Julu. Mau tidak mau saya mesti belajar bahasa Batak,” cetusnya.

 

Anak Tukik

Pdt. Daniel menyebut dirinya bak anak tukik yang belajar menggapai lautan di kehidupan. Maksudnya, dia menetapkan diri menjadi manusia pembelajar di universitas kehidupan. Dia seorang pendeta pembelajar. Termasuk ketika internet baru hadir di negeri ini, dia sudah getol belajar dan berselancar di media sosial di awal-awal Friendster, sebuah situs permainan sosial.

Tatkala belum ada pendeta HKBP yang memiliki blog pribadi, dia sudah terlebih dahulu aktif membuat renungan di weblognya. Dalam bukunya Anak Penyu Menggapai Langit mengisahkan perjalanan hidupnya sebagai seorang pendeta yang membayangkan dirinya seperti penyu, merayap dengan berkeluget-keluget di pasir putih pantai, berusaha sampai ke lautan kehidupan. Tak ada yang menyangkal bahwa penyu merupakan makhluk menarik. Bayi penyu (tukik) keluar dari telur dan berebut menuju laut, itu filosofis.

“Penyu begitu mungil dan ringkih, apalagi dibandingkan dengan samudera dan angkasa luas, namun dia terus berjuang mengerahkan segala daya dan memelihara harapan. Ombak menjemput, si anak penyu pun berlari terus berenang dan menyelam, kadang di atas kadang di bawah. Kehidupan yang naik-turun, fluktuatif. Ada suka dan duka. Namun di balik itu semua ada senyum dan ada harapan,” terangnya.

Sebenarnya, buku itu lebih tepat disebut buku autobiografi yang tentu dibumbui dengan nilai-nilai moral. Lagi-lagi di dalam buku ini juga terlihat kecintaannya terhadap HKBP. Kalau bicara HKBP dia dengan getol mengatakan, darahnya dari nenek-moyangnya adalah militan sebagai HKBP. Dari keturunan nenek-moyangnya Harahap, amang (bapak) mangulahi dari bapaknya, lima generasi di atasnya adalah orang pertama yang masuk menjadi Kristen.

Kini, sebagai pendeta yang hampir 30 tahun melayani senantiasa enerjik, kreatif dan berpikir bebas. Nun  sebelum menetapkan hati kuliah di STT Jakarta, lama di benaknya berpikir untuk menetapkan diri menjadi pendeta. Namun, menjadi pendeta itu juga menyelayut dalam pikirannya, dua alasannya karena terpikir jika menjadi pendeta itu akan memasung kebebasannya, dan satu lagi dia takut miskin.

Karena itu, semalam-malaman dia berdoa apa maksud Tuhan atas itu semua. Hal itu jelas beralasan, sebab dia juga diterima kuliah di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI), Jakarta, ketika itu. Lalu, saat permenungan itu dia berkali-kali membuka Alkitab yang terbuka pertama adalah ucapan Yesus yang mengatakan, “Ikutlah Aku.” Kutipan Firman Tuhan itu tiga kali dia temukan.

Dia memahami bahwa maksud Yesus menyuruhnya untuk mengikutiNya. Tetapi ketika dia memutuskan mengikuti Yesus, sekolah di STT, dia menghadapi pergumulan, ujian berat. Ayah tercinta sakit keras. Sempat dia bertanya pada Tuhan, apakah demikian mengikuti Yesus? Dia lalu pahami, jikalau kita menjadi pengikut Kristus (Nasrani) itu enak, sudah tentu titah untuk bersukacita senantiasa rasa-rasa tak perlu.  Ketika kita sudah memasrahkan hidup kita kepadaNya, kita diuji. Pertanyaan itu terjawab dengan banyaknya pengalaman pergumulan yang mesti dijalani.

 

Pembaharu HKBP

Oleh proses pergolakan batin itu, kemudian dia meneguhkan hati atas panggilan Tuhan dan dididik di sekolah teologia Jakarta. Awalnya, baginya ragu menjadi pendeta karena takut miskin. Mengapa? Nyatanya memang, betapa banyak pendeta yang dia saksikan saat emeritasi, menjalani masa pensiun, tak memiliki tempat tinggal. “Saya miris melihat jika di umur 65 tahun setelah pensiun, pendeta belum punya rumah,” ujar lulusan S1 dan S2 dari STT Jakarta ini.

Tentu, ada begitu banyak persoalan yang dihadapi gereja HKBP yang sifatnya sangat kompleks dan kait-mengait, dan sebagian kronis karena dibiarkan terjadi bertahun-tahun. Namun, bila disederhanakan ada dua persoalan. Pertama, persoalan kerohanian atau spiritual, mental dan moral warga khususnya pelayan HKBP. Kedua, persoalan sistem organisasi dan manajemen HKBP.

Persoalan pertama yang menyangkut kerohanian atau spiritual itu membutuhkan seorang pemimpin puncak atau Ephorus HKBP yang benar-benar sanggup menjadi bapak rohani atau teladan. Sementara persoalan kedua yang menyangkut sistem membutuhkan seorang Sekretaris Jenderal HKBP yang cakap di bidang manajerial dan mampu menegakkan aturan, serta para kepala departemen yang juga cakap memimpin program pelayanannya.

Menurutnya, semestinya gereja mengatur jaminan kesejahteraan sosial bagi pendeta. Salah satu permasalahan yang mesti diselesaikan adalah kesejahteran pendeta, berupa perawatan kesehatan, jaminan hari tua dan jaminan kematian. Tahapan sentralisasi penggajian pendeta saja masih belum merata. Inilah pergumulan gereja sejak lama. Itu sebabnya, pendeta yang sudah nyaman melayani di kota, jika dimutasi berbagai alasan dibuat. Tentu, pendeta itu manusia biasa yang mesti membutuhi keluarga. Paling tidak harapannya pendeta, anak-anaknya bisa sekolah sampai sarjana. “Saya kira, ini harus diselesaikan pusat,” ujarnya.

Menurutnya, ada dua hal yang harus dibangun dalam internal HKBP, yaitu membangun Bapak Rohani dengan menunjukkan figur-figur teladan HKBP di masa lalu, sehingga bisa menjawab tantangan zaman di era globalisasi. Kemudian menjalankan sistem yang sudah ada dengan mengedepankan Bapak Rohani sebagai tokoh sentral. Juga sistem kesejahteraan pendeta, sistem pensiun, kesejahteraan, remunisasi, sudah ada dalam sistem tinggal menjalankannya di bawah kepemimpinan Bapak Rohani.

Atas kerinduan pembaharuan ada di HKBP, dia bersedia mempersembahkan hidup melayani Tuhan di HKBP, khususnya di bidang pembenahan organisasi dan administrasi. “Saya punya rekam jejak bahwa saya mampu mengerjakannya. Saya sudah dua periode anggota MPS. Saya kontributor utama Pedoman Penatalayanan HKBP yang ditetapkan 2010. Saya anggota Tim Renstra 2012-2016. Saya dipercaya sebagai sekretaris Aturan Peraturan HKBP 2002 sesudah amandemen kedua yang memiliki tekanan transparansi dan akuntabilitas,” ujarnya lagi.

Kini, sebagai Kepala Badan Litbang HKBP dia bersama timnya sudah membangun sistem database HKBP yang benar-benar modern dan berbasis web atau online. “Bukan hanya wacana. Semua itu tentu merupakan bekal dan modal yang sangat baik untuk menjadi sekretaris jenderal. Jika sinodisten percaya pilihlah saya. Jika tidak, saya ikhlas. Semua calon adalah saudara dan sahabat,” ujarnya.

Selain itu, masih banyak pelayanan khotbah pendeta tak bisa memberikan kepuasan dahaga jemaat. Memang perlu pembaharuan khotbah dan ibadah. Warga jemaat sangat membutuhkan khotbah yang bernas dari pelayan terutama pendeta HKBP. Warga jemaat juga sangat membutuhkan ibadah yang benar-benar khidmat karena dilayankan dengan penuh kesungguhan dan kepenuhan hati.

Jika dia terpilih menjadi Sekjen HKBP, maka dia akan mendorong dan memfasilitasi agar semua pendeta HKBP selalu menyediakan khotbah yang bernas bagi jemaat. “Saya akan memberikan perhatian khusus kepada pelatihan-pelatihan khotbah, penyediaan buku panduan, dan sermon-sermon pendeta. Warga jemaat kita tak boleh lagi dibiarkan kehausan dan kelaparan secara spiritual sehingga pergi ke gereja lain memuaskan jiwanya,” tukasnya.

Lalu, ditanya apa yang urgen lagi untuk memajukan HKBP? Pembaharuan Sekolah Minggu. “Semua pendeta dan pelayan agar benar-benar memprioritas Sekolah Minggu. Saya akan mendorong agar Distrik membuat secara serius panduan sekolah minggu yang kontekstual dan relevan dengan kondisi di daerahnya, juga menyelenggarakan kursus-kursus pelatihan menjadi guru Sekolah Minggu. Saya juga akan meminta para pimpinan jemaat mengalokasikan anggaran yang signifikan untuk Sekolah Minggu, menyediakan ruangan terbaik yang dimiliki gereja untuk anak-anak itu juga alat peraga yang mereka butuhkan. Saya akan bekerja keras mencari cara agar setiap gereja HKBP memiliki perpustakaan anak SM agar anak-anak HKBP sejak dini diperkaya dengan pengetahuan dan wawasan,” terang pria yang ditahbiskan jadi pendeta pada 4 Agustus 1991 di HKBP Tanjung Balai Asahan, Sumut, itu.

dta-hojot-4Selain itu, menurutnya, HKBP sebagai gereja terbesar di Asia Tenggara mesti serius memprogramkan dana pensiun guna menjamin kesinambungan belanja gaji para pendeta, guru jemaat, bibelvrouw, diakones, evangelis dan pegawai non tahbisan. “Kami berharap seluruh pelayan partohonan itu, ketika pesiun paling tidak bisa memiliki rumah pribadi. Bagi saya, tujuan dana pensiun ini untuk menjamin kesinambungan,” ujar ayah dari Jessica boru Harahap, Regina boru Harahap dan William Harahap ini.

Lalu, bagaimana soal aturan peraturan dan sistem organisasi? Jelas, perlu revisi secara menyeluruh.  Jika jemaat dan parhalado HKBP memberikan kepercayaan kepadanya sebagai Sekjen HKBP. Maka, salah satu hal yang mesti diperjuangkan adalah hak-hak pelayan. Bagi dia, pelayan berhak memperoleh penghidupan yang layak agar pelayan fokus melayani jemaatNya. Sudah tentu dia setuju dengan pendeta berkreasi, berinovasi, mengembangkan bakat dan minat, memperoleh kehidupan keluarga yang layak. Misalnya, jika pendeta menulis buku. Hal yang lain yang dirindukannya para pelayan memperolah jaminan sosial.

“Saya miris melihat pendeta setelah emeritasi belum memiliki rumah tinggal. Lalu, juga keluarga dari pendeta yang meninggal menjalankan tugas, selama ini belum mendapat perhatian serius dari pusat,” ujar suami dari Dr. Martha Saulina Siregar, Sp.KK ini. Pembaharuan itu mesti dapat mendorong HKBP benar-benar berfungsi sebagai gereja dan bukan organisasi masyarakat belaka.

Selanjutnya, sistem organisasi HKBP harus benar-benar diefektifkan dan diefisienkan agar dapat bergerak lincah dan sigap melakukan tugas panggilannya. Kecintaan pada HKBP rindu terus ada perubahan. Tentu, perubahan diawali dari cara berpikir, proses mengembangkan kearifan budaya diterangi firman Tuhan. Hojot Marluga

Pdt. Robinson Butarbutar, D.Th.


Pdt. Robinson Butarbutar, D.Th.

“Hamba yang Tak Berhenti Memberi dari Kemiskinannya”IMG_7108bhMenjadi pendeta tak saja hanya butuh dedikasi, waktu, dan pendidikan yang mumpuni. Tetapi, juga berkarakter imam dan bersikap hamba sebagai pelayan yang memberi diri sepenuh kepadaNya, demikian awal perbincangan dengan Robinson Butarbutar. Lelaki kelahiran, 1 Januari 1961 di Bah Jambi, Kabupaten Simalungun. Putra dari Bapak J Butarbutar dan Ibu T boru Pardede. Masa kecil hingga akil balig dilaluinya dengan berbagai keruwetan hidup.

Sekolah dasar hingga SMP dilewatinya di Bah Jambi, sementara Pendidikan Guru Agama di Pematangsiantar. Lalu, menamatkan Sarjana Muda Teologi, tahun 1985, dilanjutkan Sarjana Teologi, tahun 1987 di STT-HKBP Pematangsiantar. Kemudian, Master of Arts dalam bidang Penafsiran Alkitab tahun 1990 di London Bible College, Inggris, dan Doktor Teologi tahun 1999 di Trinity Theological College, Singapura, dengan Tyndale House Cambridge, Inggris sebagai tempat penelitian lanjut.

Kehidupan di masa kecil membebat mentalnya. Setiap hari berjalan kaki berkilo-kilo meter, sesekali naik sepeda ke Nagojor untuk mengarap sawah di satu lahan milik orang tuanya dan di Afdeling lima yang disewa orangtuanya. Di sela-sela membantu orangtua di sawah, dia sedari kecil juga sudah biasa ke gereja untuk mengikuti Sekolah Minggu.

Selain itu, ia selalu mengikuti pengajaran seolah minggu di HKBP Bah Jambi. “Saya selalu memperhadapkan keyakinan iman saya sebagai anak petani. Saya sering berdoa di sawah, memohon agar Tuhan menjagai padi kami dari serangan hama, dari serangan tikus, dan dari serangan burung. Tak selalu doa saya kelihatan terjawab,” akunya.

Bahkan, pernah ketika melihat suatu pagi, bahwa padi yang siap dipanen, habis dimakan hama wereng. “Habis dibabat tikus, dan ludes dimakan ribuan burung,” ujar suami Srimiaty Rayani Simatupang MHum (Putri dari Bapak W Simatupang dan Ibu D boru Panggabean), dan ayah dari Martin, Melanchthon Bonifacio, dan Emely Katharina, mengenang masa kecilnya.

Apakah dia kecewa? Nyatanya, dia terus merasakan pemeliharaan Tuhan. Sebagai seorang teolog, makin mempelajari firman Tuhan dia menyadari kuasa Tuhan itu bisa dirasakan melalui doa. Hal itu makin kuat sesudah dia belajar di Sekolah Tinggi Teologi HKBP. Tak ada yang kebetulan, pembimbing rohaninya adalah Pdt Dr. David Leslie Baker yang kemudian memintanya membantu mengajar mahasiswa Pendidikan Agama Kristen di STT-HKBP di bidang Pengetahuan Isi Alkitab.

“Otomatis saya mesti belajar sungguh-sungguh. Beliau juga meminta saya memeriksa latihan-latihan bahasa Ibrani mahasiswa tingkat satu dan dua, ketika saya sudah menjadi mahasiswa senior, membantu dia mengedit hasil-hasil kuliah kami di bidang penafsiran surat Korintus dan Kejadian untuk diolah menjadi bahan Penelaahan Alkitab yang kemudian diterbitkan oleh Badan Penerbit Kristen  Jakarta. Buku ini sering dipakai oleh warga Kristen di jemaat-jemaat di Indonesia sampai saat ini,” ujar penulis buku Paul and Conflict Resolution yang diterbitkan oleh Paternoster Press, Inggris pada tahun 2007 itu.

Mahasiswa kritis

Dia merasakan, pembinaan rohani yang diterimanya dari Dr. Baker maupun hubungan yang dekat dengan keluarganya, istimewa dalam hal membentuk sikap iman maupun pengetahuan teologisnya, sangatlah bermanfaat di dalam hidupnya kemudian hari. Dia, sampai pada pemahaman bahwa kejahatan marak karena orang baik tak aktif berperan memperjuangkan yang baik. Dari Dr. Baker dia terus merasakan pembinaan rohani. Hubungannya dengan beliaulah  yang menyebabkan dia selalu membiasakan diri membaca Alkitab dan berdoa secara sungguh-sungguh. Hal itu bukan saja ketika mahasiswa, bahkan, sampai sekarang menjadi habitusnya. Bahwa hubungan pribadi itu harus terus terjalan pada Sang Sumber hidup, katanya.

Tetapi, ketika kejahatan di benaknya terlihat, dia selalu mengkritisinya. Masih bening diingatannya, saat menjadi Anggota Senat Mahasiswa, mengadakan perlawanan terhadap proses pemilihan Rektor STT-HKBP yang dilakukan ketika pejabat rektor, Dr. W. Sihite melaksanakan perjalanan dinas di luar negeri. Pada pemilihan itu Dr. S.M Siahaan terpilih dan disetujui oleh Ephorus HKBP GHM Siahaan. Tindakan ini baginya dan rekan-rekan sesama senat mahasiswa sebagai tak demokratis.

Karena itu, sebagai senat mahasiswa dia mengadakan protes. Akibatnya ia mendapat sanksi. Namun, dari pengalaman itu dia memetik hikmat. Dosennya Pdt TOB Simaremare MTh, dosen bidang praktika, ketika itu menasihatinya dan mengatakan bahwa sikap kritis dapat disampaikan dengan sopan, tanpa harus berteriak-teriak apalagi merusak.

“Nasihat inilah yang terus saya ingat. Termasuk ketika saya menjalankan tugas saya sebagai Ketua Badan Pertimbangan Mahasiswa (BPM) pada tahun terakhir, badan tertinggi di aktivitas mahasiswa, yang berfungsi menjembatani suara mahasiswa dengan suara para pengajar,” kenangnya.

Jebolan Cambridge

PendetaSejak mahasiswa kemampuan akademiknya di atas rata-rata sudah pekat terlihat. Saat menyelesaikan kuliah, menghadapi meja hijau, mempertanggung-jawabkan skripsinya tentang Rencana Allah menurut Roma 9-11. Salah satu pengujianya Dr. S.A.E. Nababan merasa terkesan dengan hasil ujian meja hijau dan hasil menyeluruh studinya yang sangat memuaskan. “Beliau bertanya kepada saya apa rencana saya setelah wisuda. Saya mengatakan, bahwa atas saran Dr. D.L. Baker saya sudah mempersiapkan untuk berangkat ke Inggris untuk mengikuti studi Master of Arts di bidang Hermeneutika.”

Hidup, belajar dan bergaul bersama orang percaya di Cambridge merupakan satu tahapan hidup yang berharga baginya, karena di Cambridge dia melihat dan mengalami bagaimana orang-orang percaya yang setia mengikut Kristus mencoba dengan sungguh-sungguh melihat relevansi iman orang percaya di dalam masyarakat sekuler yang intelektual.

“Di Cambridge, kota universitas terkenal, berkumpul dan belajar para mahasiswa dan para ahli dari berbagai negara untuk mencari jawab terhadap hal-hal yang masih belum mendapat jawaban yang pasti dari sisi ilmu pengetahuan. Tetapi, di Cambridge juga ditemukan orang-orang Kristen yang setia mengikut Kristus dalam masyarakat intelektual.”

Di Cambridge juga dia mencermati tingkat kemampuan berfikir secara objektif dari generasi muda usia sekolah, yang sudah mampu melihat satu masalah dari berbagai sudut pandang, dan sudah mampu memilih argumentasi mana yang paling kuat dari semuanya dalam mencari jawab terbaik terhadap masalah yang ada.

“Tentu ini terjadi karena sistim pendidikan yang dipakai bukanlah sistim banking, di mana peserta didik menelan begitu saja apa pun yang disampaikan oleh nara sumber, para guru, melainkan sistim hadap masalah, sistim demokratis, sistim partisipatif, sistim interaktif, di mana pengetahuan dari peserta didik dihargai dengan serius oleh pendidik, dan sistim kekerasan tak lagi dipakai oleh pendidik terhadap para peserta didik. Saya sangat terkejut melihat keadaan itu, dan memimpikan bahwa kelak di Indonesia, sistim yang sama harus segera diperkenalkan dan ditumbuh kembangkan.”

Alih-alih di Camrbidge juga dia menemukan kesukaan rakyat naik sepeda dari rumah ke tempat kerja atau ke kota, ke kampus dan ke tempat lainnya, bukan karena usaha menghemat uang parkir, melainkan untuk membantu usaha menjaga kesehatan tubuh dan jiwa.

Keramahtamahan orang percaya di sana juga sangat menggerakkan hati. Pernah Sekretaris Jenderal HKBP, Pdt OPT Simorangkir datang berkunjung ke Cambridge untuk menguatkan saya. Ia diterima sebagai tamu bekas Kepala Sekolah, dan tinggal di rumahnya selama satu minggu. Demikian berusahanya sang tuan rumah membantunya berbahasa Inggris sehingga sebelum pulang beliau menyebutkan begini: “Hari pertama dan kedua saya tak mengerti apa yang teman itu katakan kepada saya. Tetapi, setelah seminggu saya sudah dapat memahami dengan baik. Kalau saya tinggal bersama dia selama dua tiga minggu, saya akan menguasai bahasa Inggris dengan baik.”

Selesai kuliah di Inggris Oktober 1990, ia ditempatkan di HKBP Lumbanbaringin, Sipoholon, Tapanuli Utara dan pada bulan Januari 1992 dia menerima penugasan baru dari pimpinan HKBP, yaitu menjadi staff kantor pusat untuk bidang oikumene. Penugasannya yang baru untuk memberi kesempatan kepada Kepala Biro Oikumene waktu itu, yaitu Pdt Plaston Simanjuntak MMin untuk studi lanjut program Doktor of Ministry di Amerilka. “Sewaktu tugas di Pearaja Tarutung, saya tinggal di rumah sewa, mula-mula di Jalan Sisingamangaraja, kemudian di Siwalu Ompu, dan terakhir di Pardangguran.”

Memberi dari kemiskinan

Ketika bertugas di Biro Oikumene HKBP, tanda-tanda konflik besar di antara HKBP dengan pejabat pemerintah terjadi, berawal dari adanya ketidak harmonisan hubungan di antara Ephorus Dr. Nababan dengan Sekretaris Jenderal Pdt OPT Simorangkir.  Konflik itu kemudian dicoba diatasi di dalam sinode godang HKBP bulan Desember 1992 di Sipoholon, tetapi tak berhasil.

“Saya sendiri, yang belum lama bertugas di Pearaja, harus mengambil keputusan saya sendiri. Sebelum mengambil keputusan, saya tentu berdoa selama beberapa jam di kantor saya. Ada beberapa pertimbangkan waktu itu, yaitu: Pertama, meminta cuti, dan mempertimbangkan masuk kembali setelah konflik selesai. Pilihan ini memang paling aman. Tetapi pilihan ini berarti bahwa saya lari dari masalah, tak menghadapi masalah dengan segala resiko. Saya sudah bersekolah untuk HKBP. Dengan cuti, berarti saya berhenti memenuhi visi HKBP yang sebelumnya memberangkatkan saya sekolah.” 

Akhirnya, pemerintah ikut masuk pada pusaran konflik internal di tubuh HKBP. Beberapa orang yang setia menolak campur tangan pemerintah pun ditangkapi dan dianiaya. Termasuk dirinya juga ditangkap dan ditahan bahkan, mendapat berbagai tamparan dan tendangan yang tak pantas dilakukan terhadap pendeta. Setelah dibebaskan ia ke Jakarta. Di Jakarta kemudian dia bisa bergabung dengan teman-teman pendeta bersama Dr. SAE Nababan. Kemudian ia menerima pentahbisan kependetaan 9 Mei 1993 di HKBP Tangerang Kota.  Tiga tahun kemudian ia diberangkatkan mengikuti program studi S3 di Singapura, diselesaikannya kurang dari tiga tahun.

Mengingat bahwa selama studi doktor tiga tahun dia tak pernah mengadakan libur. “Setelah wisuda saya diminta Ephorus Pdt Dr. JR Hutauruk (Ephorus HKBP 1998-2004) untuk memimpin Biro Oikumene HKBP, yang dikenal sebagai Ephorus yang mengusahakan perdamaian, menyembuhkan luka-luka batin, menjembatani rekonsiliasi di tubuh HKBP. “Beliau meminta saya langsung menunaikan tugas sebagai Kepala Biro Oikumene HKBP, menggantikan Pdt BTP Purba, mantan Praeses yang beralih  tugas menjadi direktur Sekolah Guru Huria HKBP di Seminarium Sipohon.

Tugas utama saya adalah membangun kembali hubungan HKBP dengan mitra-mitra oikumenisnya di dalam dan di luar negeri, teristimewa karena selama krisis HKBP (1993-1998) dan sesudahnya (1998-1999) hubungan itu tak berlangsung baik. Banyak persekutuan gerakan oikumene yang memihak kepada kelompok yang ditekan pemerintah. Ada satu dua yang masih berhubungan dengan pihak yang didukung pemerintah. Tetapi, pada umumnya peran HKBP di dalam gerakan itu tak semaksimal seperti sebelum konflik dimulai.

“Saya diminta mengerjakan hal itu selama satu tahun, karena setelah itu ephorus berjanji akan mengijinkan saya mengajar di STT-HKBP, sebagaimana saya minta ketika melapor setelah selesai studi.”

Selama satu tahun dia bekerja siang malam untuk membangun hubungan itu, yang keberhasilannya ditandai dengan kesediaan beberapa pimpinan gerakan oikumene internasional mengunjungi HKBP secara khusus, yaitu Sekretaris Jenderal Dewan Gereja Sedunia, Pdt Dr. Konrad Raiser, Sekretaris Jenderal Dewan Gereja Lutheran Sedunia (LWF) Pdt Dr. Ishmael Noko, dan Ketua Gereja-gereja Protestan di Jerman, Praeses Manfred Koch bersama beberapa Bishop lainnya seperti Bishop  Koppe.   Pembangunan kembali hubungan itu penting karena “HKBP merupakan gereja protestan terbesar di Asia Tenggara, yang kontribusinya di dalam gerakan oikumene sangat diharapkan.” Keberhasilan itu tercapai karena dia bekerja pagi-pagi buta dengan menggunakan komunikasi internet, yang pada waktu itu hanya bisa lancar ketika tak ada orang lain yang memakai jalur telepon di Tarutung dan khususnya di Pearaja.

Sebagai pendeta berjubel pengetahuannya tentang Alkitab terkhusus Perjanjian Baru, Robinson kemudian didaulat menjadi dosen Perjanjian Baru. Mengajar Perjanjian Baru di Universitas Silliman, Dumaguete, Philipina (2000-2002). Pada waktu itu, Ephorus Hutauruk menerima permintaan dari United Evangelical Mission (UEM) agar mengirimnya menjadi tenaga pengajar di bidang Perjanjian Baru di Silliman University, Dumaguete, Negros Oriental Philippines, yang bersama gereja protestan terbesar di Philipina (UCCP) meminta bantuan UEM untuk mengirimkan  tenaga itu, karena dosen Perjanjian Baru di sana ditugaskan untuk menjalani studi doktor.

Permintaan UEM ini disambut baik oleh Ephorus Hutauruk yang kemudian memintanya untuk mengajar di Philippina. “Ephorus Hutauruk mengatakan begini kepada saya. Saya tahu kerinduanmu untuk mengajar di STT-HKBP. Saya juga tahu bahwa kepersonaliaan kita masih miskin. Tetapi, dari kemiskinan personel kita di bidang pengajaran Perjanjian Baru, kita harus mulai memberanikan diri membantu misi UEM yang meminta tenaga kita untuk bekerja di Philipina. Kita harus berani meniru jemaat-jemaat di Makedonia di dalam Perjanjian Baru, yang memberi dari kemiskinannya,” kenangnya.

Sejak itu, dia berjanji dalam dirinya tidak akan menolak SK pimpinan. “Saya akan mengikuti keputusan pimpinan HKBP di dalam hal tempat tugas pelayanan saya. Karena itu, saya melaksanakan setiap keputusan pimpinan saya. Dan saya menyetujui berangkat ke Philipina, tetapi dengan pemahaman bahwa saya hanya mengajar di sana selama satu periode, tiga tahun, dan setelahnya kembali ke HKBP untuk mengajar di STT-HKBP.”

Akhirnya, dia kemudian ke Philipina. “Saya berhubungan secara intensif dengan Joerg Spitzer, Kepala Biro Personalia UEM di Wuppertal dan dengan Bishop Erme Camba, Dekan Fakultas Teologi di Dumaguete Philipina, untuk membicarakan pengaturan ketibaan, perubahan di kampus, dan uraian tugas mengajar dan persiapan-persiapan pengajaran itu sendiri. Saya tak punya banyak waktu untuk berbuat hal lain kecuali mempersiapkan materi-materi kuliah saya. Kami tinggal di bekas rumah Dekan yang jaraknya hanya dua ratus meter dari kampus Divinity School.”

Namun kemudian, sebelum tugas di Philippina berakhir, Ephorus Hutauruk menugaskan saya  bekerja di Wuppertal, Jerman (2002-2003). Hidup dan bekerja selama satu tahun di Wuppertal berlalu dengan cepat sekali, karena dia sejak awal sampai akhir masa tugas semangat, sibuk. “Saya bekerja mulai pukul tujuh pagi, karena teman saya di kantor, Pdt Peter Demberger juga bekerja seawal itu. Dia sudah kembali ke rumah pukul dua sore, dan kadang kala bekerja dari rumahnya. Kerjasama kami cukup baik, dan beliau merasa bersyukur karena berkat kehadiran saya tak ada sesuatu pekerjaan pun yang tertinggal untuk gereja-gereja Asia. Beliau melihat ketelitian saya bekerja, dan kerajinan saya meneliti kasus-kasus di Archiv UEM sebelum melakukan tindakan.”

Memimpin UEM Asia

Robinson menyadari bahwa keberhasilan pelayanannya bukan karena kepintaran dan kekuatannya semata-mata. Sebab dia sadar, bahwa jika menjiwai panggilan sebagai pelayan, niscaya diberiNya kekuatan. Dia telah juga punya reputasi memimpin kantor UEM Regional Asia (2003-2008) yang sebelumnya dipimpin Pdt Ruth Quiocho, seorang temannya dari Philipina. Sebelumnya kantor itu di Philipina. Tetapi kemudian oleh keputusan Council UEM kantor itu dipindahkan ke Medan, Indonesia karena lebih banyak anggota UEM berada di Indonesia.

“Hal yang paling utama saya kerjakan ketika memulai tugas di Medan adalah memindahkan kantor ke kantor Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia wilayah Sumut (PGI-WSU) yang saat itu sedang dipimpin oleh Pdt Dr. Langsung Sitorus.”

Regional Asia UEM dilayani oleh tiga staf eksekutif, yaitu dari Philippina, dari jerman dan saya. Saya memimpin tim ini dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi, mengintegrasikan program-program bersama UEM di regional Asia, yang berbentuk kunjungan, seminar, konsultasi, lokakarya, dan pelatihan-pelatihan untuk hal-hal yang oleh sidang raya UEM sebagai kebutuhan prioritas bagi gereja-gereja anggotanya.

Robinson.jpgProgram-program di Asia beraneka, seperti keadilan gender, hak-hak anak, keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan, evangelisasi, kepemimpinan khususnya di kalangan pemuda, HIV dan AIDS dan pendidikan edukasi pastoral. Tugas Butarbar waktu itu juga dalah mengorganisir rapat-rapat UEM di Asia, termasuk sidang saya regional Asia, rapat Council Asia dan Sidang RAya VEM, serta membantu mengorganisir program-program internasional UEM (Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan, Evangelisasi dan HIV/AIDS) yang diadakan di Asia. Ia juga mewakili staff UEM di Asia menghadiri rapat-rapat internasional UEM di lua Asia, yaiatu di Eropah dan Afrika.

Dia melakukan tugas ini dengan baik. Melalui pelaksanaan tugas ini, dia mengenal sekujur gereja-gereja, anggota UEM di Asia. “Saya juga berhasil menjalin hubungan yang sangat dekat dengan gereja-gereja anggota UEM yang berkantor pusat di Sumatera Utara yang memiliki pergumulan sendiri. Secara khusus, gereja-gereja ini berhasil mengembangkan sendiri program-program menyangkut hak-hak perempuan, hak-hak anak, penanganan HIV-AIDS dan KPKC.”

Misalnya, dia contohkan, HKBP telah memiliki komite HIV dan AIDS yang bekerja efektif. Gereja-gereja berkantor pusat di Pematangsiantar berhasil mendirikan Pondok Kasih, di mana penanganan HIV dan AIDS dilakukan dengan baik. GKPS mendirikan Crisis Centre untuk korban kekerasan di kalangan perempuan. GBKP terus dengan giat mengadakan, hal sama dengan memiliki rumah perlindungan. –

Satu tahun sebelum tugasnya berakhir di Asia, ia kemudian dipromosikan oleh Council UEM yang baru, yaitu memimpin Departemen Internasional untuk Pelatihan dan Pemberdayaan para pemimpin gereja-gereja anggota UEM, para pemuda dan perempuan melalui pelatihan dan beasiswa maupun pertukaran pemuda. Itu sebabnya ia harus pindah ke Jerman pada awal Januari 2009 ke Wuppertal Jerman. Dari sana ia mengorganisir pelatihan lebih dari seribu orang pemimpin gereja-gereja di Asia, Afrika dan Eropah. Tugas itu memberi kesempatan padanya untuk mengunjungi gereja-gereja di Rwanda, Kongo, Bostwana, Namibia, Tansania dan Kamerun selama kurun waktu hampir lima tahun (2009-2013). Ia kembali ke Indonesia akhir Agustus 2013.

Membawa Visi HKBP

Sejak September 2013, dia dipercayakan mengajar Studi Perjanjian Baru di STT-HKBP Pematangsiantar oleh Ephorus HKBP Pdt Willem TP Simarmata MA. Pada Rapat Pendeta HKBP di FKIP Pematangsiantar ia diusulkan menjadi salah seorang calon Ketua Rapat Pendeta. Namun ia mengundurkan diri.  Pengetahuannya yang luas di bidang teologi mendorong Ephorus HKBP mempercayakan tugas tambahan kepadanya, yaitu memimpin Komisi Teologi HKBP sejak Februari 2014. Teman-temannya para Doktor Teologi Bapak juga melihat komitmennya membangun teologi yang reformis. Mereka memberi kepercayaan padanya memimpin Forum Teolog Batak sejak Februari 2015.  Forum ini beranggotakan para teolog bergelar Doktor Teologi.

Sejak awal 2014, ia kembali didorong oleh para pendeta muda dan senior untuk mempertimbangkan kesediaan mencalonkan diri menjadi calon Ephorus HKBP. Ia tidak langsung menerima dorongan itu, melainkan membawanya di dalam doa selama 10 bulan pada tahun 2015 untuk bertanya pada Tuhan. Akhirnya pada bulan Februai 2016, didorong oleh panggilan Tuhan dan kecintaannya pada HKBP, ia pun mendeklarasikan diri bersedia mempersembahkan diri untuk dipilih di sinode Agung HKBP sebagai Ephorus pada Sinode Agung ke-63 HKBP di Seminarium Sipholon pada tanggal 12-18 September 2016. Ia bertekad merealisasikan visi HKBP menjadi berkat bagi dunia. Bersamanya Pdt. Daniel Taruli Asi Harahap M.Th, mencalonkan diri sebagai Sekretaris Jenderal HKBP.

Selain itu, muncul juga nama Pdt. Roida Situmorang D. Min disiapkan menjadi Kepala Departemen Koinonia, kemudian Pdt. Marolop Sinaga M.Th tetap menjadi Kepala Departemen Marturia. Sementara, Pdt. Dr. Hulman Sinaga sebagai calon Kepala Departemen Diakonia. “Tim ini jika terpilih akan membawa visi HKBP yang sudah ada, Menjadi Berkat Bagi Dunia. Sudah cukup bagi kita selama ini memikirkan diri sendiri,” katanya. Hotman J. Lumban Gaol (Hojot Marluga)

Sati Nasution


 

IskadarSati Nasution: Pendiri Perguruan Tano Bato

“Tinggal ma ho jolo ale

Anta piga taon ngada uboto

Muda uida ho mulak muse

Ulang be nian sai maoto

Lao ita marsarak

Marsipaingot dope au dio

Ulang lupa paingot danak

Manjalai bisuk na peto

Bait puisi di atas adalah puisi dari seorang pioneer pendidikan dari tanah Batak. Dialah Willem Iskander dengan nama lahir‎ ‎Sati Nasution, sedangkan gelarnya adalah Sutan Iskandar. Dia putra Nasution keturunan dari Sutan Diaru, dari generasi ke-11 marga Nasution di Mandailing. Dia lahir pada tahun1840, di Pidoli Lombang, Panyabungan Kota, Mandailing Natal, sekarang dikenal Madina.

Dia dikenal sebagai penulis, pujangga bahasa yang menyair banyak puisi, terutama untuk menggugah pendidikan dan cinta kampung halaman. Panggilannya tak hanya bersastra kemudian maujud menjadi pendidik, melawan virus kebodohan kaumnya. Di kemudian hari menjadi dia disebut salah satu tokoh perintis pendidikan Indonesia, walau hanya mendirikan Perguruan Tano Bato untuk calon guru, di Mandailing Natal.

Usia remaja yang terbilang muda, 13 tahun, dia hanya mengecap sekolah rendah selama kurang lebih dua tahun di Panyabungan. Menurut Basyral Hamidy Harahap seorang peneliti dan penulis memoar tentang Sati Nasution ini menyebut, kemungkinan besar dia merupakan guru paling muda dalam sejarah dunia pendidikan Indonesia. Asumsinya, sudah mulai aktif mengajar pada usia 15 tahun. Artinya, selulus pendidikan rendah itu dia sudah mendarma-baktikan hidupnya pada pendidikan.

Usia semuda itu, dia telah juga merambah kerja birokrasi bekerja sebagai sekretaris kantor pusat pemerintahan Mandailing-Angkola. Ada pencapaiannya itu, Alexander Philippus Godon, Asisten Residen Mandailing Angkola, pada masa itu kembali ke Negeri Belanda sekitar Pebruari 1857, dan membawa Sati turut serta untuk meneruskan pelajarannya pada salah satu sekolah guru di Belanda. Di Belanda dia banyak belajar tentang esensi pendidikan. Tak hanya itu, dia kemudian menemukan ketenangan batinnya, pengikut Kristus, dan menetapkan diri menjadi seorang Kristen.

Kemudian, ijazah guru bantu diperolehnya pada bulan Oktober 1860, sempat kembali ke Mandailing untuk memulihkan fisiknya yang sakit. Dua tahun kepulanganya  dari Belanda, tepat bulan Oktober 1862, dia mendirikan perguruan untuk guru di Tano Bato, sekarang di Kecamatan Panyabungan Selatan. Sekolah itu dia pimpin langsung, namun kurang lebih selama 12 tahun kemudian perguruaan itu pemidahannya ke kota Padang Sidempuan.

Masih menurut Basyral Hamidy Harahap, sejak Willem Iskander menerima beslit bertanggal 5 Maret 1862, yang mengizinkannya mendirikan Kweekschool di Mandailing, dia bergegas dan menetapkannya sebagai guru pada Kweekschool Tanobato. Walau perjuangannya sangat berat. Waktu itu, sedikit sekali orang yang mau menyekolahkan anaknya di sekolah guru itu.

Alasannya, selain belum booming orang sekolah, sekelumit terlihat lulusan guru tak punya kesempatan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak, kalau tak disebut kata. Oleh pesimisme itu dijawabnya dengan sikap arif, diatasinya dengan sika bertekun, yang pada akhirnya kelangkaan murid itu pun dapat diatasinya.

Selanjutnya, pada September 1863, Gubernur Van den Bosche datang dari Padang melakukan inspeksi ke sekolah ini, di mana waktu itu bahwa pusat gubernur untuk daerah Sumatera berada di Padang. Gubernur kemudian melaporkan kunjungannya kepada Gubernur Jenderal dalam suratnya tanggal 13 September 1863. Ia menyatakan, kekagumannya terhadap kepiawaian Willem Iskander. Kesannya ia tulis dengan kata-kata; “zeer ontwikkeld, hoogst ijverig,” artinya sangat cerdik, terpelajar, dan sangat rajin dan tekun.

Kemudian Van der Chijs diutus untuk menyaksikan perguruan Taon Bato. Selama di Tanobato Van der Chijs menyaksikan penyelenggaraan pendidikan di sekolah guru ini. Bahkan, mengagumi kebolehan Willem Iskander mengajarkan konsep-konsep ilmu pengetahuan dalam bahasa Mandailing dan bahasa Melayu. Sekalin itu, Van der Chijs juga kagum atas  kemampuan berbahasa Belanda para murid Willem Iskander.

Tulis Van der Chjis: “Cara Willem Iskander mengajarkan dasar-dasar fisika dalam bahasa Mandailing dengan metode sendiri, memakai alat peraga lokal yang dikenal baik oleh murid-muridnya.” Tulisan laporan tahunan pendidikan bumiputera tentang kekagumannya terhadap tiga kemampuan murid-murid di perguruan Tano Bato, bidang matematika, bahasa Melayu dan bahasa Belanda.

Memang, sebagai pendiri perguruan dia mencerahkan pikiran para murid, bahwa kemampuan berbahasa Melayu dan bahasa Belanda, adalah kunci gerbang ilmu pengetahuan. Maka, bahasa Batak Mandailing diajarkan ala kadarnya. Sementara Bahasa Belanda diajarkannya empat kali seminggu. Ada banyak prediksi bahwa salah satu kemampuan berbahasa itulah yang mengantar para murid-muridnya banyak menjadi pengarang, penerjemah dan penyadur.

Selain itu, konsep dari Willem Iskander melaksanakan ujian akhir, dimulai pada bulan Juni 1871. “Ujian dimulai dengan menyuruh murid-murid menulis esai, dilanjutkan dengan pertanyaan tentang ilmu alam, lembaga-lembaga pemerintahan Hindia Belanda. Kemampuan berbahasa Belanda dan bahasa Melayu diuji dengan cara membaca dan berbicara dalam kedua bahasa itu. Dan, ujian berhitung dilakukan dengan menjawab soal-soal dengan menulis pada batu tulis dan papan tulis.”

Pada 25 September 1860, Willem Iskander berjumpa dengan Eduard Douwes Dekker, alias Multatuli. Keduanya kemudian menjalin hubungan yang era, hangat sekali. Murtatuli kerap mengkritik pemerintahan Belanda atas jajahan, yang kemudian menganjalnya pada tuntutan di sidang pengadilan. Hadir dalam sidang itu Duymaer van Twist mantan Gubernur Jenderal yang memecat Eduard Douwes Dekker dari jabatan Asisten Residen Lebak. Ada 65 orang yang hadir di dalam sidang ini, 62 anggota, ketua Tweede Kamer, Reenen dan dua menteri, bahkan Menteri Urusan Jajahan J.J. Rochussen dan Menteri Keuangan Van Hall.

Hingga kemudian di tahun 1871, Van der Chijs mendekritkan pembaruan sekolah guru bumiputera. Ia membuat sejumlah syarat yang harus dipenuhi setiap sekolah guru bumiputera. Dekrit itu berkaitan dengan gagasan-gagasan Willem Iskander. Tiga syarat penting ialah pertama, sekolah guru harus menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Kedua, guru sekolah guru harus mampu menulis buku pelajaran, dan ketiga, bahasa daerah harus dikembangkan sesuai kaidah-kaidah bahasa.

Namun kemudian oleh usulan Willem itulah membuka pintu bagi anak-anak pribumi untuk diterima beasiswa di Belanda. Kemudian 4 orang dari tanah jajahan Hindia Belada diberangkatkan untuk menjadi beasiswa, salah satunya Willim sendiri. Tahun 1873, telah diketahui hanya tiga orang guru muda yang berangkat ke Negeri Belanda bersama Willem Iskander. Mereka adalah Banas Lubis murid Willem Iskander di sekolah guru Tanobato, Raden Mas Surono dari Kweekschool Surakarta, dan Mas Ardi Sasmita guru sekolah rendah di Majalengka lulusan Kweekschool Bandung.

Namun proyek beasiswa itu gagal. Tiga orang calon guru itu meninggal pada tahun 1875. Banas Lubis dan Ardi Sasmita meninggal di Amsterdam karena kesehatan mereka menurun disebabkan berbagai hal, antara lain rindu tanah air, cuaca buruk, dan masalah lain-lain yang menyebabkan mereka bertiga stres berat. Ketika Raden Mas Surono jatuh sakit, pemerintah mengambil keputusan untuk memulangkannya ke Tanah Air. Ada harapan Raden Mas Surono akan sembuh dalam perjalanan. Tetapi, takdir menentukan lain. Raden Mas Surono meninggal dalam pelayaran ke Tanah Air. Nakhoda dan kelasi melarungkan jenazah Raden Mas Surono ke laut.

Oleh kematian tiga sahabatnya itu, memukul perasaan Willem. Cita-citanya yang luhur untuk mencerdaskan bangsa melalui pendidikan, ternyata gagal. Dalam keadaan berduka itu, Godon memberikan nasihat kepada Willem untuklah menikah. “Kehadiran seorang isteri pastilah akan meringankan beban pikiran, karena ada teman berbagi duka,” katanya.

Atas nasihati itu, Willem pun menikah dengan Maria Christina Jacoba Winter. Pada tanggal 27 Januari 1876 keduanya diberkati di gereja di Amsterdam. Hanya saja, jalan Tuhan berbeda dengan rencana manusia. Pernikahannya tak berumur panjang, Willem kemudian dipanggil Bapa di sorga, wafat tanggal 8 Mei 1876, kemudian dimakamkan di Zorgvlied Begraafplaats, Amsterdam. Sementara istrinya, Maria Jacoba Christina Iskander-Winter tetap setia menjanda, hingga kemudian di usia 69 tahun, Maria mengalami sakit Witte Kruis. Dan wafat 25 April 1920. Jasadnya dimakamkan di pekuburan Nieuwe Oosterbegraafplaats, Amsterdam. (Hojot Marluga)

Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=tCN_-DMSd20

 

Sondang Hutagalung


SOndangSondang Hutagalung adalah priak kelahiran Bekasi, Jawa Barat, 12 November 1989. Dia meninggal di Jakarta, 10 Desember 2011 pada umur 22 tahun. Sondang adalah seorang mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Bung Karno, Jakarta yang meninggal karena membakar diri pada Rabu sore 7 Desember 2011 di depan Istana Negara, Jakarta. Kala itu, Sondang menjabat ketua Himpunan Aksi Mahasiswa Marhaenisme untuk Rakyat Indonesia yang aktif dalam kegiatan “Sahabat Munir”. Di mata teman-temannya Sondang adalah aktivis yang sering terlibat dalam upaya advokasi dalam kasus-kasus pelanggaran hak asasi manusia.

Sondang dilahirkan sebagai anak bungsu dari empat bersaudara keluarga Victor Hutagalung dan Dame Sipahutar. Ayahnya bekerja sebagai sopir taksi, sementara ibunya hanyalah penjual sayur. Aksi bakar diri yang dia lakukan di depan Istana Negara itu juga mendapat simpati dari berbagai tokoh. Seminggu setelah kejadian itu, termasuk Megawati Soekarnoputri dalam pidatonya di pembukaan Rakernas PDI Perjuangan menyebut, kematian Sondang Hutagalung merupakan tragedi yang harus diperingati sebagai tamparan keras  atas kesalahan pengelolaan bangsa.

“Beberapa hari lalu kita menyaksikan seorang anak negeri, Sondang Hutagalung membakar diri di hadapan istana sebagai protes atas pengelolaan politik dan pemerintahan, yang jauh dari gambaran ideal generasi muda bangsa,” ujar pada saat pidato pembukaan Rakernas I PDI Perjuangan di Bandung, Senin (12/12/11). Bagi Mega, pesan Sondang dalam aksi bakar diri tersebut jelas tertuju pada kekecewaan terhadap perilaku elit pemerintah. “Sondang telah pergi, tapi pesannya terasa keras menampar telinga kita. Kita tidak membutuhkan teguran keras lainnya, hanya untuk menyadari bahwa ada yang salah dengan pengelolaan bangsa ini,” ujarnya ketika itu.

Mega meminta agar aksi Sondang tersebut menjadi bahan renungan dan mempertanyakan sikap pemerintah atas tragedi tersebut. “Saya minta setiap warga PDI Perjuangan, bahkan setiap anak negeri untuk merenungi tragedi ini. Kita pantas bertanya, apakah pemimpin di negeri ini tidak terbetot hatinya melihat seorang mahasiswa yang karena prinsip dan keyakinannya melakukan tindakan itu? Merinding rasanya bulu kuduk saya sebagai seorang ibu melihat derita anak negeri ini.”.

Dia menambahkan, sebagai pribadi dan pimpinan partai saya menyampaikan duka cita atas kepergian Sondang. Bukan karena dia Sondang, tapi ia adalah gambaran dari generasi muda bangsa, sambil tetap berharap tidak akan ada lagi anak negeri yang kehilangan nyawanya karena prinsip dan keyakinannya, katanya.

Tak ada yang menyangka Sondang akan melakukan aksi nekat, Rabu 7 Desember 2011 lalu. Dari arah Monas, dia tiba berlari mengguyur bensin ke tubuhnya dan menyulut api. Aksi itu dilakukan sekitar pukul 17.30. Sejam sebelumnya, di tempat itu para kepala desa melakukan unjuk rasa. Akibat luka bakar 98 persen di tubuhnya, Sondang akhirnya pergi, Sabtu 10 Desember 2011. Mungkin berbagai diskusi terhadap aksinya itu. Tetapi, sesungguhnya Sondang adalah pahlawan. Walau dikenal sesaat, setelah itu dilupakan.