Galeri

Budi P. Sinambela



Sejak Lembaga Adat Budaya Batak (LABB) berdiri 5 Desember 2018, tahun lalu, terus berupaya mewujudkan visinya Mewujudkan Bangso Batak Yang Bernas Teratas. Ketua Umum LABB Budi Parlindungan Sinambela demikianlah nama lengkap pria kelahiran Jakarta, 8 Mei 1964, terus mengajak seluruh pengurus untuk benar-benar bisa mewujudkan masyarakat Batak terus naik level. Putra pertama dua bersaudara dari pasangan Prof. DR. K.PT. Sinambela Kusumonagoro dengan Damaris boru Tampubolon menyadari betul, bahwa kehadiran LABB sangat penting dan strategis dalam mengembangkan pelayanan pada masyarakat Batak di kota maupun di kampung halaman.

Walau lahir dan besar di Jakarta, Budi merasakan suasana batin sebagai orang Batak tulen, yang otentik peduli pada budaya. Betapa tidak pesan dari bapaknya, Prof. DR. K.PT. Sinambela Kusumonagoro sejak kecil dirinya secara alamiah dituntun agar agar menjadi orang yang peduli dan memperhatikan budaya Batak. Ditanya apa yang membuat dirinya yang lahir dan besar di Jakarta begitu peduli budaya Batak? Nun jauh sebelum bapaknya mendirikan Universitas Mpu Tantular, sejak awal sudah menunjukkan kepeduliannya pada masyarakat Batak. “Kebetulan saya suka sejarah, suka kebudayaan dan saya selalu menikmati hal itu. Tentu itu semua bahwa jika memang ada kesempatan untuk memberi warna untuk budaya dan masyarakat Batak, mengapa tidak?” Demikian alasannya.

Karenanya, sebagai Ketua Umum LABB Budi berharap lembaga ini kelak menjadi lembaga yang sangat dibutuhkan dan konsen memberikan perhatian pada kaum muda Batak. “Lembaga ini harus menjadi wadah pemersatu untuk masyarakat Batak. Selain sebagai ketua LABB, saya sebagai Ketua Yayasan Budi Murni Jakarta yang menaungi Universitas Mpu Tantular dan sekolah-sekolah umum SD sampai SMK dengan tulus memberikan fasilitas yang bisa diberikan yayasan untuk membangun masyarakat Batak,” jelasnya lagi.

Ditanya, bagaimana suasana batinnya sebagai orang yang lahir dan besar di Jakarta begitu peduli budaya Batak? “Iya, itu tadi bagaimana kita menghargai budaya kita. Jika saya ke kampung halaman, saya kagum dengan alam yang begitu indah diberikan Tuhan kepada orang Batak. Artinya, bukankah itu kesempatan untuk kita mengucap syukur kepada Tuhan bahwa alam di tanah Batak itu sungguh indah. Maka benarlah pemerintah pusat memberikan perhatian besar untuk kemajuan pariwisata di tanah Batak,” ujarnya lagi.

Walau sesungguhnya tak pernah spesifik pesan ayahnya kepada dirinya, dia menangkap kerinduan ayahnya untuk memberikan kepedulian pada budaya Batak. “Dari tata laku yang diteladankan bapak tersirat agar kami anak-anaknya juga memperhatikan orang Batak,” ujar abang dari Santo Mulia Parulian Sinambela, ini. Dia menambahkan, bapaknya adalah sosok yang peduli, selalu berupaya agar kami anak-anaknya hidup secara lebih baik dari waktu ke waktu. Karena itu, sejak kecil di mana pun bapak berkerja, termasuk ketika bekerja di Hotel Indonesia saya diajak ke kantornya,” kenangnya.

Perhatian bapaknya, Prof. DR. K.PT. Sinambela Kusumonagoro pada budaya dan masyarakat Batak memang tak kepalang. Itu sebabnya bagi Budi sendiri, selalu mengingat pesan bapaknya yang selalu menekankan agar menghormati leluhur. “Kita mesti menyadari jika kita ada sampai saat ini tak lepas dari peran dan pembuka jalan, dari leluhur hingga ke  orangtua kandung yang menghadirkan kita ke dunia,” menjelaskan betapa pentingnya kesadaran dan mengetahui asal-usul.

Bekerja sambil belajar

Apa yang dilakukan Budi sebagai orang yang diberikan limpahan tanggung-jawab besar untuk mengurusi legacy bapaknya. Bapaknya memang seorang entrepreneur sejati. Baginya, bapaknya adalah guru dalam bisnis dan sebagai panutan hidup. Wawasannya dalam berbisnis selalu mengarahkan pada pengembangan usaha agar lebih maju dan lebih maju lagi. Tak heran Budi merasakan bahwa kehebatan bapaknya diakuinya dalam hal pengembangan bisnis luar biasa.

“Bapak selalu mengajarkan learning by doing, dalam arti belajarlah ketika dia memberi kesempatan pada kami untuk mengerjakan sesuatu. Cara-cara pengajaran yang seperti ini tetap bapak terapkan kepada kami,” tambah seorang pengusaha. Artinya, Budi memetik ajaran dari bapaknya, bahwa belajar dengan melakukan mesti beriringan. “Kita melakukan sesuatu yang belum kita ketahui sebelumnya dan karena kita melakukannya kita jadi tahu, itu yang disebut learning by doing.”

Budi menambahkan, bapaknya sebagai inspirator selalu menekankan kiat dalam kerja, yaitu proses pembelajaran, belajar sembari melakukannya. “Baik secara ide maupun secara etos kerja, bapak adalah panutan dalam berbisnis. Dia adalah orang yang sangat memegang arti sebuah prinsip. Karena itu, kalau dia sudah memutuskan sesuatu bisnisnya tak akan goyah lagi. Itulah prinsip yang selalu diajarkan bapak kepada saya adalah kalau kerja harus bagus dan harus tepat waktu. Saya belajar banyak tentang arti sebuah nilai kehidupan,” ujarnya, menerangkan ajaran yang diberi bapaknya.

Tak kehilangan esensi hidup

Bagi Budi, wujud kepedulian mengangkat harkat martabat masyarakat Batak tentu dengan mengangkat kualitas sumber daya manusia yang unggul. Sudah tentu, keunggulan sumber daya manusia itu didapat dan tersemai dari lembaga-lembaga pendidikan. Lembaga pendidikan yang mesti melahirkan orang-orang yang unggul oleh karena tercerahkan dari pendidikan. Karena itu pemberian beasiswa kepada mahasiswa yang berprestasi, bagi keluarga ekonomi lemah, keluarga yang tak mampu membiaya kuliah.

“Satu contoh wujud dari kepedulian, apa yang kami lakukan adalah jika ada mahasiswa dari keluarga Batak ingin kuliah benar-benar tak bisa memberi beasiswa kuliah, kami dari pihak yayasan bersedia untuk itu, paling tidak meringankan dengan bentuk beasiswa. Sudah tentu ini membantu dan memberikan kemudahan bagi mereka yang ingin kuliah,” ujar suami dari Dewi Christina boru Sitorus dan ayah empat putra; Brian Dapat Mangatur Sinambela, Maximilian Hosea Roger Sinambela, Darryl Ezra Rockywik Sinambela dan Humphrey Jaya Ruydith Sinambela.

“Dunia yang kita tinggali terus bergerak. Inilah dinamika yang terjadi. Kita tak hadir di ruang hampa, tetapi dalam kondisi dunia yang terus bergerak. Yang tak bergerak akan tertinggal. Kenyataan, kita ada dan bergerak di dunia yang terus dinamis bergerak. Karenanya, setiap kita dituntut mengambil peran untuk tetap berinteraksi di realitas dunia yang bergerak dengan kompleks dan majemuk ini. Dengan sikap adaptif di setiap keadaan, membuat kita mandiri dan bisa survival dalam setiap situasi yang ada. Maka, tak kalah kesulitan menyengat, teruslah belajar untuk eksis di keadaan dunia bergerak.”

Saat ditanya pendapatnya bagaimana beradaptasi dengan lingkungan saat ini? Pesan saya kita tak boleh lupa jatidiri kita sebagai orang Batak, bahwa kita sekali lagi ingat pesan nenek moyang dan selalu ingat leluhur kita. Karena itu, kita tonjolkan yang baik. “Bagi saya jika seorang manusia makin tinggi pendidikannya sudah tentu akan makin lebih mencari jati dirinya. Saya sangat percaya makin sukses seseorang dia akan semakin mencari asal usulnya. Karena manusia yang tercerahkan tak akan mau kehilangan esensi hidupnya,” ujar Direktur PT Mulya Jaya ini.

Dirinya selalu merendah. Dia mengingat keteladanan yang ditunjukkan sikap Raja dari Sisingamaraja XII dari marga Sinambela. “Saya mengikuti di marga kami tak boleh ada yang sombong. Pengalaman saya sebagai keturunan Sinambela, saya lihat dalam keturunan kami tak boleh sombong, kalau sombong akan cepat-cepat terjatuh. Saya melihat kalau ada yang sombong akan cepat terjatuh. Saya takut sekali, kalau melihat di marga kami Sinambela ada yang sombong saya melihat akan terjatuh,” jelasnya lagi. Dan memang, jika dihubungkan dalam kehidupan ini, bahwa soal merendahkan hati itu sangat penting dan kiat untuk bisa eksis di kehidupan. Lalu, pesannya bagi anak-anak muda Batak juga harus militan terhadap budaya Batak. Jangan tercerabut dari akar budaya, agar tak kehilangan makna di kehidupan. (Hojot Marluga)

Prof. Dr. A.O.B. Situmorang


ensiklopediatokohbatak- Jika bicara Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) atau dahulu dikenal dengan nama PPPG Pertanian yang pendiriannya sudah ada sejak tahun 1974 dengan dibentuknya Proyek Penataran Guru. Langkah berikutnya dilakukan kerjasama dengan Institut pertanian Bogor (IPB) mulai tahun 1976.

Tahun 1984 ditandatangani LOAN ADB No. 675-INO Port A, antara Pemerintah Indonesia dengan tim ADB, sebagai realisasi bantuan pinjaman ADB melalui proyek PPKT IV Jakarta. Maka jika membicarakan sejarahnya, kita tak boleh lupa peran Prof. Dr. AOB Situmorang yang saat itu Direktur Dikmenjur.

Reputasi pengalamannya banyak. Dirinya pernah sebagai Kepala Biro Administrasi. diera Prof. Ani Abbas Manopo, SH, rektor pertama IKIP Medan. Prof. Dr. A.O.B. Situmorang pernah menjabat sebagai Direktur Program Pascasarjana IKIP Jakarta (1984-1987)

Prof. Dr. A.O.B. Situmorang menata karier di ranah pendidikan. Perannya, pada akhir Pelita III terdapat 274 SLTP Kejuruan yang terdiri atas 194 ST dan 80 SKKP, serta 559 SLTA Kejuruan). Merehabilitasi 64 SLTP Kejuruan Negeri dan mengkonsolidasikan 210 sekolah jenis lainnya. Mengembangkan SKK (Sekolah Keterampilan Kejuruan) 4 tahun di 10 lokasi.

Dia juga melakukan penyesuaian 11 jurusan di SLTP Kejuruan dan 61 jurusan di SLTA Kejuruan. Mengembangkan SMK yang membuka program kejuruan teknik dan non-teknik dibawah satu atap, yaitu SMK Kartini Batam, disusul dengan STM Manna di Bengkulu dan STM Dumai. Mengembangkan “pola asuh” dalam pendirian sekolah kejuruan yang melibatkan industri dan pemerintah daerah. Menjabarkan dan melaksanakan Kurikulum 1984 SMK yang menghasilkan 97 program studi. Meningkatkan daya tampung 145 STM Negeri, 277 SMEAN, 97 SMKK/SMTK, dan menambah fasilitas 23 SMT Pertanian.

Selain itu, dia juga mengemban tugas pembangunan PPPG Teknologi Medan dan Malang, PPPG Kejuruan di Jakarta, PPPG Kesenian di Yogyakarta, dan PPPG Pertanian di Cianjur. Mengangkat 10.000 guru baru untuk sekolah kejuruan, dan mengembangkan “Pola Mentawai” dalam rekrutmen calon guru dan penempatannya.  Pengalaman Prof. Dr. A.O.B. Situmorang pernah menjabat sebagai pengawas sekolah hingga kemudian menjadi Direktur Program Pascasarjana IKIP Jakarta.

Ronald Simanjuntak, S.H., M.H.


Hidup Setia Melayani, Paham BerkatNya dan Bukan Berkat

Hidup ini adalah kesempatan dan pilihan. Maka kesempatan dan pilihan itu bagaimana menjalani seturut rencanaNya. Paling itulah yang bisa meresume seluruh perbincangan dengan Ronald Simanjuntak SH MH. Pria kelahiran Desa Adian Padang, Kecamatan Sipahutar, Kabupaten Tapanuli Utara, 26 Oktober 1960. Anak kedua dari sembilan bersaudara. Delapan laki-laki dan satu perempuan. Anak dari Guru Malon Simanjuntak dan Erika boru Sianipar. Ayahnya seorang kepala sekolah, selalu mendidik mereka berpengharapan dan selalu berjuang.

“Saya masih ingat nasihat ayah, harus saling menopang di antara kakak-adik. Jika anak pertama sudah  selesai kuliah dan mendapat pekerjaan, membantu adik-adiknya, demikian selanjutnya,” kisahnya. Tenyata, dengan cara itulah kakak-beradik sembilan bersaudara ini bisa menempuh sarjana. “Gaji orangtua tak cukup. Tetapi kami bisa semua sarjana karena beliau mendidik untuk saling peduli, saling membantu.”

Masih kanak-kanak, Ronald anak cerdas dan agresif. Sejak sekolah dasar dirinya selalu mendapat rangking kelas. Tetapi, itu tadi, karena agresif, menjelang remaja di SMP sampai SMA, ada perubahan dalam dirinya. Dia sering bolos sekolah. SMA saja lima kali pindah sekolah. Orangtuanya tak mau pendidikannya gagal, maka untuk mengatasinya, Ronald dipindah-pindahkan sekolah. Ada nasihat yang tak pernah lekang di benaknya pesan ayahnya, bahwa membimbing anak-anak seperti mengikuti aliran sungai. Asal terus diikuti, maka satu saat dia akan sampai kepada tujuannya. Demikianlah ayahnya membimbing. “Beliau selalu sabar untuk mengarahkan saya termasuk mesti pindah-pindah sekolah,” terangnya.

Demikianlah kegigihan dan kesabaran memberi hasil terbaik. Setelah pindah-pindah sekolah, akhirnya dia menamatkan sekolah dari SMA Kampus FKIP Nommensen, Pematang Siantar. Di sekolah ini dia mengalami perubahan. Dirinya mulai tersadarkan, memahami tak ada yang dapat merubah dirinya, kalau bukan dari dirinya sendiri yang merubahnya. “Tak ada seseorang pintar jika bukan dirinya yang mengusahakannya pintar.” Selulus sekolah menengah atas, dia melanjutkan kuliah ke Bandung.

Disana dia mendapat beasiswa dari DIKTI. Kuliah di Sekolah Tinggi Hukum Bandung, dan menjadi mahasiswa teladan. Padahal, sembari kuliah dia juga bekerja, mencari tambahan dana, karena kiriman orangtuanya tak cukup. Jadilah Ronald sampai tiga tahun menjadi office boy. Ritmenya, pagi kerja dan siang hari kuliah. Dia dipercayakan membersihkan ruangan praktek dokter. “Kerjanya mulai pukul enam pagi, hingga pukul 12 siang. Siangnya kuliah sampai sore.” Di sela-sela waktu yang ada, jika tak bekerja dan kuliah, dia menyempatkan diri membaca ke perpustakaan.

Mengapa ke perpustakaan? “Saya tak mampu membeli buku. Saya bukan saja anggota perpustakaan di kampus, tetapi anggota perpustakaan di berbagai tempat. Anggota perpustakaan milik Pemda, British Council Library Bandung, dan termasuk rajin ke toko buku Gramedia di Jalan Merdeka, Bandung. Tentu, semangat belajar itu diasah melihat kenyataan hidup.” Dia manambahkan, “Saya melihat hidup di kampung itu sangat memprihatinkan. Saya tak mau hidup di kampung, maka harus berusaha maksimal untuk bisa survive di kota.”

Kegigihan dan usaha yang maksimal tersebut dipetiknya. Dia lulus dengan lumayan cepat dengan nilai memuaskan, lalu pindah ke Jakarta melamar kerja. Di sana diterima di perusahaan asing. Salary-nya di atas gaji standar, dan mendapat fasilitas. Luarbiasanya, baru tiga bulan bekerja di perusahaan tersebut, bosnya memberikan fasilitas, mobil. Bukan hanya itu, dirinya kerap mendapat penugasan perusahaan untuk mengikuti training ke luar negeri.  Sayang, di perusahaan asing itu dia hanya bekerja tiga tahun, sebelum kemudian membuka usaha dengan rekan-rekannya. Kariernya terakhir sebagai General Manager pada PT Yulisem Jaya Raya (1987-1990). Saat itu dirinya sudah menikah dengan gadis pujaannya yang dulu satu sekolah di Pematang Siantar dan kuliah di Bandung.

Lalu, mengapa keluar dari perusahaan? Dia ingin gaji lebih besar lagi. Saat itu teman-temannya mengajak buka usaha. Saat itu belum matang benar membuat keputusan, tetapi apa hendak dikata, perusahaan itu ditinggalkannya karena tertantang mendapatkan pendapatan lebih. Kami bersepakat mendirikan perusahaan dengan modal patungan. Tak berapa lama usaha itu bangkrut. Bersamaan waktu itu, dia ikut bisnis valuta asing. Usaha itu pun juga kolaps. Disinilah pengalaman gagal pertama dialaminya. Mobilnya disita. Tabungannya terkuras.

Namun hidup harus dijalankan terus. Tak boleh meratapi apalagi menyesali apa yang sudah terjadi. Baginya, biarlah kesalahan itu memberi pemaknaan baru, bahwa dari kegagalan ada pengetahuan baru. Dia memetik hikmat, bahwa hidup harus ditata dengan baik. Waktu harus diisi dengan sebaiknya. Itulah hidup, karena terlalu asik mengejar uang, lupa untuk pelayanan.

Di kemudian hari sebagai orang yang makin matang dari segi pengalaman dan kematangan usia, Ronald menemukan bahwa hidup perlu keseimbangan. Bekerja dan melayani. Hidup yang kita hidupi harus juga melayani. Tak seluruh hari-hari disibukkan untuk mengejar fulus. Bahwa, rezeki yang diterima tak semua diteguk sendiri. “Saya melupakan hal-hal sifatnya melayani. Saya tenggelam dalam hiruk-pikuk dunia. Hidup dalam dunia yang tak baik.”

Sebenarnya  saat masih aktif bekerja dia sudah aktif untuk menangani beberapa perkara hukum. Walau waktu itu belum mendapat kartu izin menjadi pengacara. Tahun 1993, dia menetapkan diri menjadi pengacara, namun baru di tahun 1994, dia dilantik menjadi advokat oleh Menteri Kehakiman berdasarkan rekomendasi Ketua Mahkamah Agung.

Begitu ditabalkan menjadi pengacara, Ronald membuka kantor sendiri dengan nama Ronald & Associate di Jalan Veteran nomor 2, Jakarta Pusat. Dari Jalan Veteran pindah sewa kantor di Tomang Raya No. 25, Jakarta Barat, dengan dibantu dua pengacara. Dari sana membeli ruko untuk kantor di bilangan Jatinegara. Kemudian hari membeli kantor lagi di MT Haryono Square, dan sampai sekarang dia berkantor.

Di perjalanannya sebagai pengacara di kemudian hari kuliah lagi untuk mendapatkan Master Hukum dari Universitas Pelita Harapan. Sejak menjadi pengacara dirinya aktif mengikuti berbagai Pendidikan Instruktur Penyuluhan Hukum. Aktif juga di organisasi pengacara. Pernah menjadi Pengurus DPC IKADIN Jakarta Barat, DEPINAS SOKSI bagian Hukum dan Hak Asasi Manusia dan DPP IKADIN bagian Hubungan Luar Negeri. Sekarang pun di PERADI yang terfaksi di ketiga organ, dirinya tetap diminta sebagai penyuluh untuk calon-calon pengacara muda.

Selain itu, dia juga aktif di organisasi bisnis. Pernah Sekretaris Jenderal Forum Komunikasi Perdagangan Bursa Komoditi (1989-1992). Dan pernah Managing Director PT Mita Yasa Investama (1991-2003). Aktif advokat sembari Managing Director PT Karimun Aromatics yang bergerak di bidang Perkebunan Kelapa Sawit dan Pabrik CPO dari tahun 2007 hingga sekarang. “Saya merasakan dalam bisnis bahwa latar belakang saya di bidang hukum itu sangat mendukung,” ujarnya.

Demi cinta single parent, Ronald gigih bertahan dalam prinsip oleh nilai-nilai yang ditanamkan orangtua dan dorongan atas cinta sejatinya. Ronald menikah dengan Rosmaida boru Girsang setelah berteman hampir sembilan tahun, menikah tahun 1988. “Saya sebantaran dengan istri. Namun usia kami berbeda. Saya lebih tua. Sebab, itu tadi, saya lima kali pindah-pindah sekolah di SMA,” kisahnya.

Dari pernikahan tersebut Tuhan karuniakan tiga anak. Anak pertama, Paul. Lahir tahun 1989. Lulus S1 dari UGM. Lalu mendapat gelar S2 dari dua universitas ternama; Universitas Indonesia dan Universitas Leiden, Belanda. Anak kedua, seorang perempuan. Lahir tahun 1991. Namanya Hana Chovicha boru Simanjuntak. Lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia. Sekarang hendak menempuh pendidikan spesialis sembari asisten dosen, dan bekerja di klinik kecantikan di bilangan Kepala Gading, Jakarta Utara. Anak ketiga perempuan lahir tahun 2004. Namanya Kerenhapuch boru Simanjuntak. Saat ini menempuh SMP di sekolah internasional SMP Brighton Cibubur, Jakarta Timur.

“Istri saya itu adalah seorang yang sangat sederhana. Tak banyak menuntut dan sangat percaya dengan suami. Isu apa pun tentang saya di luaran sana dia tak percaya. Selalu percaya suaminya, dan demikian saya kepadanya,” kisahnya. “Kami mengelola keluarga dengan komitmen, saling percaya. Sepanjang kami membina mahligai keluarga tak pernah bertengkar,” ujarnya.

Di tahun 2007 istrinya yang sangat dikasihinya dimuliakan Tuhan. Mereka baru tahu penyakit istrinya, kanker hati. Penyakit itu baru diketahui tiga bulan sebelum meninggal. Almarhumah istrinya pun sama sekali tak pernah mengeluhkan, tak merasakan apa-apa tentang penyakitnya. Sebagai suami dirinya tak larut dengan kesedihan, dia tetap usahakan pengobatan terbaik. Dirinya berusaha membawa ke rumah sakit terbaik, bahkan sampai berbulan dirawat di Penang, Malaysia.

Sempat lima kali menjalani kemoterapy. Dia terus setia mendampingi istrinya. Namun rencana Tuhan berbeda, istrinya meninggal setelah empat bulan berjuang dalam pengobatan. “Saat itu perjuangan dan pergumulan hidup sangat berat. Anak saya yang pertama, Paul waktu itu masih baru lulus SMA dan hendak masuk ke UGM. Putri saya kedua, baru SMP, dan Karen si bontot masih usia bayi.”

Namun, dia memilih tak menikah. Sepeninggalan istrinya, dia menutuskan single parent, mengasuh ketiga anaknya dengan sendirian, tanpa pasangan. Sebab dia merasakan getaran dari batin istrinya saat-saat sebelum dijemput ajal. Selama dalam perawatan di Penang full satu bulan dialah yang menjaganya, sebagai suami-istri, dia merasakan bahwa istrinya sangat berharap dirinya bisa menuntaskan tanggung-jawab membesarkan dan menyekolahkan anak-anak seorang diri. Dari interaksi batin itu dia memahami kemauan istrinya. Tentu istrinya tak pernah mengatakan, melarangnya menikah jika dirinya sudah meninggal. Namun dari naluriah interaksi itu dia merasakan ada pesan tersirat.

“Bahwa wujud cinta dengan istri harus saya buktikan. Saya menutuskan tak menikah melihat putri saya yang masih bayi, Karen. Usianya masih dua setengah tahun. Saya bayangkan, kalau saya menikah, bagaimana nasib anak-anak, terutama Karen, saya kira pasti terganggu psikologisnya. Saya tak mau batinnya terluka,” jelasnya memberi alasan tak menikah. Walau dari dalil dalam Alkitab bahwa yang diceraikan oleh kematian diperkenankan menikah kembali. Hanya, Alkitab tegas, tak bisa menikah lagi orang yang cerai hidup. Tetapi dia memutuskan tak menikah walau ada peluang menikah. Bahkan, dirinya sempat dibujuk keluarga untuk menikah lagi, alasan mereka tak baik laki-lagi seorang diri. Apa jawabnya?

“Saya jawab. Iya, ada benarnya. Saya merasakan sebagai duda hidup di rumah kaca. Selalu dimata-matai dan diperhatikan. Baju lusuh disebutlah kasihan karena tak ada yang merawat. Kalau berdandan parlente dikatakan genit atau ganjen. Serba salah. Maka jawaban saya untuk saran menikah, tak baik laki-laki seorang diri, bahwa saya bukan lagi sendiri. Saya dihadirkan tiga orang anak untuk sahabat saya,” ujarnya. Tentu, banyak faktor yang membuatnya tak menikah. “Tentu, sebagai laki-laki normal saya bukan munafik. Masih membutuhkan hal-hal kebutuhan biologis. Tetapi, semuanya saya perhitungkan matang. Apalagi untuk menemukan karakter seperti almarhumah jelas tak mungkin. Dan mencari yang sepadan baik dari pikiran dan sikap, apalagi sangat mencintai anak-anak sudah jelas sangat susah,” terangnya lagi.

Memang, Alkitab menyebut, lebih baik hidup sendiri, tetapi jika engkau tak mampu bertarak hendaklah menikah. Konsekwensi logis dia pilih tak menikah tentu juga mesti mau merima berbagai kerepontan mengurus rumah tangga, dan menghindari godaan. Dia menggambil peran istri sekaligus ayah. “Di awal-awal ditinggal istri, saya masih harus tidur dengan putri saya yang paling kecil beberapa tahun. Tiap malam sebelum istirahat saya harus siapkan di kamar susu bayi termasuk termos. Saya harus bangun dua kali tiap malam untuk membuat susu. Belum lagi terbangun mengganti pampers.”

Tak mau putri bungsunya ini terlantar. Di hari-hari jadwal untuk imunisasi bayi, dia sendiri yang pergi ke rumah sakit. “Saya tak mau dia telantar. Kurang mendapat kasih sayang. Kurang asupan vitamin.” Ada hal yang selalu dipikirkan bahwa batinnya dengan batin anaknya harus terkoneksi. “Ada satu hal yang saya sadari bahwa hubungan saya dengan anak-anak saya. Psikologis saya harus bisa masuk ke psikologis mereka.”

Oleh karena perhatiannya lebih pada Karen, satu waktu anaknya protes kepadanya menyebut, bahwa sebagai bapak dirinya kurang adil. Sebab, ketika anak pertama dan anak kedua di masa kanak-kanak, sering dimarahi kalau salah, sementara Karen, walau salah tak pernah dimarahi. Apa jawabannya? “Saya katakan kepada kedua anak saya. Bapa punya cara sendiri mendidik adik kalian. Saya mamanya dan saya papanya. Sedangkan kalian, dulu, masih ada mama. Kalau papa marah kalian masih dibela mama,” ujarnya menjelaskan.

Tentu, dia juga punya cara mendidik anak perempuan dibanding dengan Paul, anak laki-laki satu-satunya. Paul saat SMP, pernah dilibasnya karena bolos sekolah. Dirotannya hingga merah. Waktu itu istrinya masih hidup. Dia suruh istrinya masuk ke kamar. “Kau masuk ke kamar. Paul saya ajar dulu. Nanti kalau kau lihat, kau melarangnya. Begitu istri masuk ke kamar saya tanya Paul, dijawab iya, saya rotan untuk mengingatkannya agar tak mengulanginya.” Sementara kepada kedua anak gadisnya dia tak pernah pukul. Kalau marah tentu pernah jika mereka melakukan kesalahan.

Kepada anaknya, terutama Paul selalu berpesan untuk tetap tabah, jangan cengeng dan tak boleh sombong. “Anak laki-laki tak boleh menangis. Tak boleh mudah menyerah, mesti berjuang. Tak boleh mudah putus asa,” kalimat itu kerap didengung-dengungkannya. Sekarang,  dirinya merasakan manfaatnya. Paul dan Hana sudah bekerja, mandiri dan dewasa dalam bersikap. Paul bisa menolongnya di bisnis dan advokat. Hana bisa membantu menjaga kesehatannya sebagai seorang dokter. Jika melihat hasilnya di taraf ini dia bisa katakan, “Untung saya memilih tak menikah. Apa jadinya seandainya saya menikah, tak mungkin dekat dengan anak-anak.”

Sedia melayani

Melayani memurnikan hidup, demikianlah satu ungkapan untuk melalukan hidup dari godaan-godaan yang menjerat. Sebagai pengacara dan pebisnis, Ronald kerap berjumpa dengan banyak orang. Baik klien atau rekan bisnis. Tetapi, yang sifatnya entertain dan bertemu klien perempuan empat mata dia selalu hindari. Caranya bagaimana? Dia senantiasa mengikutkan anaknya, Paul. Tetapi sekarang ditemani berenya, keponakannya yang juga asistenya, sebab Paul sekarang sudah mandiri, membuka kantor pengacara bersama teman-temannya.

Cara untuk jangan terjerumus dalam rupa-rupa yang tak baik, Ronald telaten tiap pagi bersaat teduh. Diakuinya di masa mudahnya bukan manusia yang bersih sekali, tetapi sekarang, dia menjaga sekali hidup suci untuk berkenan dihadapanNya. Apalagi dirinya tiruan bagi anak-anak. “Saya tahu kelemahan saya. Kita jangan lupa Tuhan kerap izinkan kita dicobai melalui kelemahan kita. Kitalah yang harus berkomitmen menjauhi kelemahan. Sebab disinilah kita kerap diuji oleh komitmen. Kita harus tahu itu agar tak terjatuh dengan rupa-rupa kesalahan,” jelasnya.

Artinya, tegas dia membatasi diri dengan berbagai hal-hal yang bisa merusak reputasi yang dibangunnya. Maka dengan tegas dia tak lagi membuat atau menerima janji pertemuan di luar jam kantor. Baginya, lebih baik pulang ke rumah. Di rumah dia bisa berinteraksi dengan anak-anak, bisa  leluasa membaca buku untuk menambah pengetahuannya, kalau tidak dia menonton atau mendengarkan khotbah. Ronald juga tak lupa untuk melayani, dia sadari melayani itu memurnikan hidupnya.

Tak hanya diundang memberikan pencerahan firman Tuhan, dia juga kerap bersama rekan sepelayan ke luar kota mengadakan misi ke desa-desa terpencil, kalau tidak mengunjungi panti asuhan. Maka dia selalu siapkan waktu untuk melayani, memberi hati, termasuk membantu pelayanan yang dikelola teman-temannya. Walau pernah sekolah teologia, tetapi bukan niatnya untuk menjadi pendeta, tetapi jiwa melayani itu terus dikobarkannya. Baginya, semua profesi adalah ladang pelayanan atau “market place.

“Hidup ini sangat rentan. Saya tahu bahwa pelayanan kitalah yang memagari hidup kita. Sebab firmanNya itu bagaikan pedang bermata dua. Saat menyampaikannya, satu sisi untuk orang lain, tetapi jangan lupa satu sisi  untuk diri kita.” Tentu, pelayanan bisa dibuat topeng. Sudah tentu itu terlihat dari motivasi atau niat masing-masing. Kalau dalam istilah hukum disebut, mens rea, (sikap batin pelaku perbuatan pidana),  apa yang memotivasi dari dalam? Tentu jika motivasinya untuk dilihat orang alim, paling gampang apalagi jika hamba Tuhan.

Persoalannya niat dari dalam diri, apa? “Firman itu kita beritakan dan itu juga yang mengaca diri kita. Jadi penuntunnya adalah firman. Maka Alkitab harus menjadi sahabat kita, dibaca setiap hari. Sama seperti buku penuntun dari smartphone kita. Kita tak bisa maksimal menggunakan fungsinya jika kita tak membaca manual book-nya. Demikian juga dalam hidup ini, kita tak maksimal di kehidupan ini jika tak membaca aktif buku penuntun; Alkitab. Itu sebabnya keKristenan bukanlah sekedar agama akan tetapi jalan hidup atau “way of life.

Menurutnya, banyak orang yang salah presepsi, bahwa jika telah jadi Kristen harus diberkati secara materi, padahal bukan demikian. Berkat materi itu tersedia bagi setiap orang dan bukan saja bagi orang Kristen. “Tuhan memberikan kesempatan kepada semua orang untuk memaksimalkan potensi yang dimiliki dalam hidupnya. Mindset kita harus dirubah, bahwa kita tidak lagi fokus kepada berkat materi seperti itu. Kalau untuk hal itu, kita harus kerjakan secara bertanggung jawab, dengan bekerja keras, hidup hemat, berintegritas, maka Tuhan pasti mencukupkan. Fokus hidup orang percaya sebenarnya adalah bagaimana bisa hidup berkenan dan menyenangkan hati Tuhan.” ujar jemaat di Gereja Suara Kebenaran Injil (GSKI) Rehobot, gereja yang digembalakan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, itu.

Ronald menambahkan, bahwa perlindungan Tuhan otomatis bagi orang-orang yang mengandalkanNya. “Berkat itu bukan hanya materi. Banyak berkat Tuhan yang kita terima, perlu kita hitung-hitung temasuk kesehatan.” Banyak orang berpikir bahwa kalau sudah kaya secara materi maka hal tersebut merupakan berkat Tuhan, padahal belum tentu. Maka dia ilustrasikan, bahwa tak semua yang bersisik itu ikan,. Sebab ular juga bersisik. “Kerap orang tak bisa membedakannya. Sebab, nyatanya, banyak orang yang menyamakan ikan dengan ular, karena sama-sama bersisik.”

Dia mengisahkan, seorang pemuda di Plumpang yang kerjanya mengambil minyak dari setiap mobil tanki yang lewat di saat  jalanan macet. Setiap hari hal itu dilakukan. Minyak yang diambilnya makin banyak, tetapi di benak pemuda itu bahwa seluruh mobil tanki adalah pembawa minyak. Si pemuda tak tahu ternyata ada juga mobil tanki yang membawa tinja. Satu waktu dia mengejar mobil tanki yang tenyata membawa tinja. Begitu mobilnya berjalan pelan-pelan, dia kejar dan dibukanya. Apa yang terjadi? Tiba-tiba yang muncrat adalah tinja. Mengapa demikian? Sebab pemuda tadi tidak mengerti mana tanki tinja atau tanki minyak.  Implikasi dari ilustrasi ini Ronald hubungkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Bahwa setiap kita harus memahami mana berkat Tuhan dan mana yang bukan berkat Tuhan. Jadi, jangan maruk atau rakus dan tak boleh dipukul rata semua. Kalau materi itu berasal dari Tuhan, itulah berkat, namun juga ada materi yang bukan berasal dari Tuhan, itu bukanlah berkat dan bisa jadi laknat,” ujarnya mengakhiri. Maka, keruwetan pun bisa jadi berkat jika mampu dipahami makna tersirat di keruwetan yang ada. (Hojot Marluga)

 

Kamaruddin Simanjuntak, S.H, M.H


Advokat/Pengacara Pemberani yang Selalu Survival dengan Mengandalkan Tuhan Elohim

Satu-satunya cara untuk meraih kesuksesan hanya dengan mengandalkan Tuhan Elohim. Demikianlah tersimpul dalam perbincangan dengan Kamaruddin Simanjuntak, S.H. “Agar bisa bertahan kita harus benar-benar berserah kepada Tuhan Elohim, dan tak ada ketakutan menjalankan profesi yang kita geluti. Tentu keberhasilan hari ini ditentukan oleh apa yang sudah kita lakukan di masa lampau. Semuanya dimulai dari keberanian dan kesiapan diri menggapainya,” ujar anggota jemaat HKBP Kebun Jeruk, Jakarta Barat, ini.

Keberhasilan sebagai Advokat  tentu bukan saja hanya karena berani, tetapi juga harus pintar dan/atau menguasai hukum dan perundang-undangan, bergaul, dapat dipercaya, bekerja profesional, memiliki integritas penegak hukum dan memiliki kemampuan bicara. Satu lagi kiatnya bekerja dan bertindak seperti orang Israel yaitu bekerja dengan mempraktekkan isi Alkitab.

Penggiat sejarah Israel ini mengatakan, tindakan menyerang  dan/atau  mengutuk Israel akan mendapat balasan dari Tuhan Elohim, karena keturunan Abraham/Ishak dan Yakub/Israel telah ditetapkan sebagai saluran berkat bagi seluruh kaum dan bangsa di dunia,  sebagaimana dimaksud oleh firman Tuhan Elohim dalam kitab Mazmur 67,  Roma 11:1-2a+29-32.

Mazmur ini mengingatkan umat Israel akan pemanggilan Abraham khususnya firman Tuhan dalam Kej. 12:1-3 yang menyatakan bahwa: 12:1 Berfirmanlah Tuhan kepada Abram: “Pergilah dari negerimu  dan dari sanak saudaramu dan dari rumah  bapamu ini ke negeri  yang akan Kutunjukkan kepadamu; 12:2 Aku akan membuat engkau menjadi bangsa  yang besar, dan memberkati engkau  serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.

Baca juga Bilangan 24: 9 “Ia meniarap dan merebahkan diri sebagai singa jantan, dan sebagai singa betina; siapakah yang berani membangunkannya? Diberkatilah orang yang memberkati orang yang memberkati engkau, dan terkutuklah orang yang mengutuk engkau!”

Tentu, bukti ketertarikannya akan Israel, dia mengudate berita-berita tentang Israel setiap hari diberbagai media dan media sosial, khususnya di akun Facebook. Di ruangan kantornya begitu banyak buku tentang hal-hal yang berbauh Israel. termasuk enksiklopedia tentang Yahudi negatif versi Arab. Bahkan, dia selalu mendapat kiriman berjibun berita tentang Israel by email. Menurutnya Israel kuat dan hebat oleh karena mereka sudah teruji melewati sejarah panjang, tekanan demi tekanan dari berbagai lini peristiwa dan selalu mengandalkan Tuhan Elohim dalam semua lini kehidupannya.

Dulunya Kamaruddin Simanjuntak tak pernah bercita-cita menjadi pengacara. Tetapi itulah hidup, nyatanya jalan hidup membawanya menjadi pengacara. Setamat  SMAN I Siborong-borong tahun 1992, dia merantau ke Jakarta. Sesampainya di Jakarta dia tak punya uang untuk biaya kost, karena tak ingin menyusahkan keluarga, dia terpaksa harus tinggal di bawah kolong jembatan Pasar Klender – Jakarta Timur ketika itu. Selama kurang lebih tiga bulan hidupnya gelandangan di kolong jembatan, kalau tak disebut terlunta-lunta. Sembari berkerja serabutan untuk bisa bertahan hidup, sambil melamar pekerjaan.

Beruntung tahun 1993 dirinya diterima bekerja sebagai Customer Service di sebuah restoran Jepang. Bekerja sabar dan gigih sambil belajar itulah yang dilakukannya. Dari sana muncul jiwa berwirausaha, sempat membangun bisnis, tetapi tak berapa lama usaha itu kolap akibat unjuk rasa besar-besaran tahun 1998. Gagal satu usaha bukan berarti undur langka mencari peruntungan dari usaha lain. Dia kemudian menikung, mengambil jalan lain menjadi pengacara. Tahun 2001, dia kuliah di Fakultas Hukum Univesitas Kristen Indonesia (UKI).  Oleh karena kerasnya belajar, studi hukumnya ditempuhnya hanya 3,5 tahun dan lulus sebagai yang terbaik “Cum Laude” dan menerima piagam Penghargaan. Sejak kecil dirinya memang dididik keras oleh ayahnya.

 

Senantiasa menang

Selulus kuliah dia membuka kantor pengacara bersama rekannya dengan nama kantor “Firma Hukum “victoria.” Victoria artinya kemenangan berasal dari nama Puteri keduanya atas nama “Valencia Brightlady Victoria’. Tak ayal kantor pengacaranya telah banyak menangani berbagai kasus kecil hingga kasus besar. Bahkan pernah  ada undangan untuk menangani perkara besar, dijanjikan dana besar yang sangat  menggiurkan, namun harus ditempuh  dengan cara-cara yang tidak patut  secara hukum.

Waktu itu ada rekan-rekannya sekantor yang  mendorongnya untuk menerima tawaran honor besar guna  menangani perkara tersebut, akan tetapi Kamaruddin bertekad menolak, karena   sudah menyimpang dari nilai-nilai Kejujuran, Professionalitas dan Integritas Penegak Hukum, akibat penolakan itu, telah menyebabkan ketidaknyamanan di antara rekan sekantor, karena tidak semua rekan-rekan kuat berjuang dengan modal keprihatinan, ada juga yang berpikiran sekali-kali boleh juga diambil tawaran seperti itu, namun tetap ditolak olehnya, yang  pada akhirnya kantornya pecah kongsi.

Apa boleh buat setiap pilihan pasti ada konsekwensinya. Tak patah arang, dia kemudian membangun tim baru. Ibarat Nahkoda di kantor baru, dia memulai kembali dari nol. Berbekal relasi dan pergaulannya yang luas, bahkan  kantornya pun dipercaya menangani kasus-kasus besar kaliber nasional, bahkan perkara-perkara kakap. Ada yang sampai melibatkan pejabat nasional, tokoh politik, ketua dan bendara partai politik berkuasa. Risikonya tentu sangat besar, atas hal itu dia sering diteror, bahkan diancam untuk dibunuh. Atas semuanya itu, dia selalu menang dari maut. Paling tidak dalam pengalamannya dia tujuh kali lolos dari rencana pembunuhan terencana.

“Berkali-kali saya lolos dari rencana pembunuhan, Saya sadar itu semua karena pertolongan Tuhan Elohim,” ujar anggota jemaat HKBP Kebun Jeruk, Jakarta Barat ini. Pengalamannya, misalnya, lolos dari rencana pembunuhan karena menangani kasus-kasus yang melibatkan oknum pejabat pemerintah pusat yang paling berkuasa. Dengan sengaja  mobilnya ditabrak di parkiran hingga penyot, bahkan di jalan tol juga pernah dikejar-kejar,  bahkan di parkiran Polda Metro Jaya mobilnya ditusuk, dipecahkan kaca depannya, tetapi puji Tuhan, Kamaruddin selalu lepas dari maut diancam akan dibunuh oleh Ormas Radikal yang paling ditakuti oleh Pemerintah. Lagi atas semuanya tak menyurutkan langkahnya untuk berani menangani perkara hukum orang-orang besar. “Tentu bukan karena kepintaran saya, semua karena pertolongan Tuhan,” ujarnya. Rona-rona hidup membuatnya makin matang.

 

Ruhut: Kodok Pun Ketawa Lihat Kamaruddin (Artikel Kompas)
Akibat dirinya selalu lantang bergelut dalam berperkara. Apalagi saat membela kepentingan kliennya dia selalu total dalam pembelaan, sepertinya tak ada yang ditakutinya. Dia tak segan-segan mengadukan, melaporkan yang diduga sebagai pelaku kejahatan ke KPK RI, melapor ke Kepolisian bahkan kepada  Kejaksaan  Agung RI, jika menemukan data atau bukti yang valid secara hukum tentang adanya indikasi oknum pejabat tinggi negara melakukan dugaan tindak pidana korupsi.

Kehebatannya menggali data, mencari bukti selalu bisa mendapat data yang akurat dan otentik. Tentu untuk mendapatkannya caranya seperti cara yang dilakukan oleh intelijen Mossad sehingga praktek beracaranya tak hanya sebatas duduk di kantor. Atas keberaniannya mengungkap korupsi di kalangan pejabat tinggi Negara  itu, Ruhut Sitompul selaku Anggota DPR RI Komisi 3 sekaligus berpraktek selaku pihak yang selalu membela pejabat dimaksud, waktu itu, sebagai Humas Partai Demokrat menyebut Kamaruddin di media nasional, “kodok pun ketawa melihat Kamaruddin.”

Alih-alih dia tanpa tendeng aling-aling, berani membongkar habis kasus-kasus korupsi. Salah satunya korupsi di Wisma Atlit & Hambalang dan turunannya hingga E_KTP. Tak ayal, dia juga membongkar kasus korupsi di tubuh Partai Demokrat tahun 2011 yang akhirnya menyeret-nyeret petinggi partai berkuasa ketika itu antara lain; Anas Urbaningrum, Nazaruddin, Angelina Sondakh, Rizal Mallarangeng, Sutan Batugana, dst. Satu perkara lain yang banyak disorot oleh media nasional adalah kala dirinya menangani kasus Mindo Rosalina Manullang yang terkenal sangat panas itu, hingga kuasanya diakhiri oleh pihak lain untuk membela Mindo Rosalina Manullang, dengan berbagai ancaman pembunuhan dan fitnah.

Dalam kasus mega skandal korupsi yang berhubungan dengan Muhamad Nazarudin Eks Bendara Umum Demokrat/ Anggota DPR RI Komisi 3. Kamaruddin tahu detail aktivitas apa-apa saja yang terjadi di kantor Nazaruddin waktu itu. Atas keberaniaannya mengungkap itu, sampai sempat salah satu jenderal berbintang 3  dan kawan-kawan  selaku pengurus partai Demokrat datang menjumpainya dan memohon kepada dirinya agar jangan membawa-bawa nama Presiden RI.  Atas hal itu namanya sebagai seorang pengacara sempat menjadi sorotan berita nasional selama beberapa saat.

Jika membaca namanya, memang seperti nama seorang Arab. Nama itu pemberian ayahnya yang lama merantau di Aceh. Lelaki kelahiran 21 Mei 1974, suami dari Joanita Meroline Wenji, S.H. dan ayah dari  lima orang puteri masih terus bergairah untuk bermaksud melanjutkan pendidikan Doktor (S3). Sesungguhnya sudah ada universitas di luar negeri menawarkan beasiswa bahkan dari Negara  Israel. Walaupun  demikian atas tawaran itu urung diterima sembari menunggu waktu yang tepat mengingat Puteri-puterinya masih kecil yang tentunya sangat membutuhkan perhatian orangtua.

Sebagai seorang ayah dia ingin menjadi tiruan dan teladan  bagi putri-putrinya itu, dengan teladan dia menanamkan nilai moralitas tinggi bagi mereka. Dia sadar, sebagai orangtua yang dibutuhkan oleh putri-putrinya hanya ketauladanan, ketulusannya untuk membimbing mereka. Tentu, bukan kemewahan dan fasilitas yang mereka butuhkan, yang terpenting adalah kejujuran dalam  membimbing mereka, terutama “Takut Akan Kuasa Tuhan Elohim” guna mengantar mereka untuk mencapai  impiannya.

Sebagai seorang Kristiani, dia ingin menjadi teladan dan saksi Jesus dengan cara menjadi garam & Terang  di bidang profesinya sebagai Advokat/Pengacara. Putra dari (alm) Midian Simanjuntak dan Nurmaya Pardede ini ingin berdampak dan menjadi berkat  bagi orang lain. Sebagai seorang advokat tentu dirinya banyak membantu kliennya yang kurang beruntung secara  probono-prodeo atau dengan cara pembayaran cuma-cuma.

Baginya, menjadi bagian penegakkan hukum, dia senantiasa mengutamakan hukum sebagai landasan dalam seluruh aktivitas negara dan masyarakat. “Hukum belumlah menjadi panglima. Masih jauh panggang dari api. Diistilahkan tajam ke bawah  dan tajam  ke samping/oposisi  namun masih  tumpul ke atas (Penguasa/Elit Politik Berkuasa dan Pengusaha), itulah gambarkan kondisi penegakan hukum di Indonesia. Hukum yang seharusnya menjadi alat pembaharuan masyarakat, nyatanya penegakan hukum masih morat-marit dan carut marut.”

 

Belumlah Tergolong Makar

Ditanya soal isu makar yang lagi santer diperbincangkan di media saat ini. Pisau analisanya muncul. “Politik itu kan intinya dua hal. Pertama adalah bagaimana cara  merebut kekuasaan. Kedua, bagaimana cara mempertahankan kekuasaan tentunya secara konstitusional. Bahwa yang terjadi adalah konflik antara koalisi yang merebut kekuasaan dan koalisi yang mempertahankan kekuasaan. Kenapa kekuasaan direbut atau dipertahankan? Agar kekuasaan bisa mengendalikan anggara negara ini. Intinyakan uang dengan jumlah besar Triliunan rupiah,” katanya.

Isu makar kini menggelinding, tentu berawal dari istilah  people power yang awalnya ditiupkan Amien Rais. Kala itu, nun sebelum Pemilu 2019, Amien Rais mengatakan, akan mobilisasi rakyat untuk people power. Bola pun makin liar, isu makar makin pekat terlihat apalagi mencuatnya demo anarkis di depan Bawaslu beberapa wakti lalu.

Sebagai praktisi hukum, Kamaruddin tak saja lihai bicara hukum, tetapi lincah bercerita sejarah dan politik negeri ini. Dia berkisah, bicara people power kita bisa merujuknya kisah di Filipina, misalnya people power ketika menggulingkan Ferdinand Marcos. Marcos tumbang oleh kekuatan rakyat. Menurut analisanya, demo yang berujung anarkis di depan Bawaslu itu belumlah tergolong makar.

Baginya, makar itu adalah jika benar-benar tindakan kekerasan itu diarahkan kepada  pemerintah dalam hal ini ditujukan kepada Presiden selaku Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan untuk tujuan menggulingkan dan/atau merebut kekuasaan secara inkonstitusional.

Dia menambahkan, jika Aksi Merebut Kekuasaan dengan cara “People Power” Berjalan Lancar atau berjalan mulus itu bukan makar lagi secara hukum, tetapi Kudeta berhasil, sebagaimana tahun 1998, aksi mahasiswa itu juga seharusnya makar, akan tetapi karena berhasil menggulingkan pemerintahan Soeharto yang sah, maka bukan lagi disebut makar, walaupun faktanya pemerintahan setelahnya adalah hasil dari people power. Intinya, jika perebutan kekuasaan secara inskontitusional  gagal biasanya disebut makar,  namun bila berhasil people power itu tidak lagi disebut makar. Pelaku perebutan kekuasaan yang gagal Tentu pelakunya bisa dihukum berat seperti yang terjadi di Turki beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut, dia mengatakan, bahwa pelaku people power dapat dijerat dengan pasal makar dan permufakatan bila sudah ada bukti permulaan yang cukup untuk tujuan merebut kekuasaan secara inkonstitusional. Pelakunya dapat dijerat dengan pasal 107 KUHP dan 110 jo Pasal 87 KUHP atau Pasal 28 yat 2 jo Pasal 45 ayat 2 Undang-Undang No 19 Tahun 2016 tentang informasi dan transaksi elektronik.

Makar sendiri berasal dari bahasa Belanda, yaitu berasal dari kata Aanslag yang secara etimologis berarti menyerang, serangan, penyerangan kepada Pemerintah. “Makar juga termasuk dalam kategori Kejahatan Terhadap Keamanan Negara dalam Bab I pada Buku II (kedua) KUHP, yang pengaturannya tersebar diantaranya dalam ketentual Pasal 87 KUHP, 104 KUHP, 106 KUHP, dan 107 KUHP,” jelasnya. Tentu, ciri-ciri makar mengunakan kekerasan fisik, menggunakan senjata yang diarahkan ke pemerintahan yang sah.

 

 Ajakan move on

Tentu jika bicara tentang makar, sejak sejarah Indonesia ini ada, dari  pemerintahan Soekarno sampai sekarang pemerintahan Joko Widodo, makar itu  ada. Katakan saja misalnya, masa pemerintah Gus Dur, dimana Megawati sebagai Wakil Presiden. Saat itu Gus Dur hendak mengangkat Kapolri, akan tetapi tiba-tiba Megawati meralat dengan cara mengutus/ memilih yang lain sebagai Kapolri. Itu bentuk ketidakpatuhan “In Subordinasi” wakil presiden kepada presiden.” Selanjutnya menumbangkan atau merebut kekuasaan Presiden dari tangan Gus Dur pasca 21 bulan berkuasa.

Selanjutnya, kisah hubungan antara Megawati dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Waktu itu santer perjanjian keduanya, bahwa SBY tak akan menjadi rival bagi Megawati untuk mencalonkan diri sebagai  Calon Presiden. Tetapi, apa yang terjadi? SBY diam-diam mendirikan Partai Demokrat bersama dengan tokoh-tokoh lain. Isu SBY mendirikan partai sampai juga ke suami Megawati, (alm) Taufik Khemas, dan bertanya perihal isu itu.

Namun SBY menjawab bahwa isu tersebut tak benar. Oleh karena  Taufik Khemas mendapat informasi akurat dan yakin bahwa SBY telah mendirikan partai diam-diam, maka Taufik menyebut, “Jenderal Kok Berbohong”. Atas ucapan itu, SBY tersinggung. Dan setiap ada rapat kabinet di istana, maka  SBY tak datang. Disebutlah bahwa dirinya tak lagi diundang rapat kabinet di istana, padahal sebagai menteri seharusnya tak perlu diundang pun kalau ada rapat kabinet, SBY mesti datang rapat sebagai bawahan Presiden Megawati waktu itu.

Di berita itu justeru dijadikan untuk membangun opini lewat media. Media menyebut SBY korban dari Megawati. Saat itu terbangun opini, apalagi di kalangan ibu-ibu, disebutkan bahwa  SBY korban dari Megawati. Lalu, menjelang berakhirnya pemerintahan Mengawati, maka  SBY resmi mengundurkan diri dan mendeklarasikan diri bergabung dengan Partai Demokrat yang sebenarnya dia bentuk sendiri.

Saat itu SBY juga berhasil menjual isu identitas agama “politik Identitas”. SBY bersama dengan mantan Menteri Agama Tarmizi Taher waktu itu membuat gerakan membantu Palestina yang dianggap sebagi korban dari Israel. Padahal, masalah Palestina dengan Israel itu bukan masalah agama, tetapi masalah politik luar negeri. Pendek cerita SBY berhasil menjadi presiden RI. Namun saat itu tak terjadi terima jabatan sebagaimana sepatutnya, tak ada pisah sambut mantan presiden dengan  presiden yang baru. Tetapi saat pemakaman almarhumah Ani Yudhoyono, Megawati sudah terlihat hadir di Makam Pahlawan, Kalibata, Jakarta Selatan. Mudah-mudah berlanjut ada rekonsilisi pada keduanya.

Demikian selanjutnya, saat pemilihan presiden dan wakil presiden tahun 2009, Megawati berpasangan dengan Probowo membuat kesepakatan bahwa di tahun 2014, Probowo-lah yang maju menjadi calon presiden dari koalisi PDI Perjuangan dan Gerindra. Tetapi apa yang terjadi? Tahun 2014 PDI Perjuangan ingkar janji atas  Perjanjian Batu Tulis, sebab  PDI Perjuangan malah mencalonkan Joko Widodo sebagai calon presiden.

Bahwa memang narasi dari perembutan kekuasaan dari pengalaman sejarah Indonesia belum mulus, selalu saja ada riak-riak. Artinya kita masih perlu belajar banyak dari negara-negara yang sudah matang berdemokrasi. Disinilah masukkan bijak Kamaruddin, agar kita belajar riuh rendah dari perebutan kekuasaan pada setiap hendak berakhir masa pemerintahan. Bagi Kamaruddin tak perlu lagi ada kubu-kubuan.

“Biarlah yang menang merangkul yang kalah, dan yang kalah juga move on atau dapat menerima kekalahannya dan mengambil sikap menjadi oposisi yang konstruktif. Kita perlu guyup. Kita bangun persatuan kita kembali. Kita rajut kembali selendang yang sempat robek oleh kompetisi yang keras. Mari belajar sejarah dari penggantian pemerintahan pusat yang penuh dengan lika-liku itu,” ujarnya berfilosofi. (Hojot Marluga)

 

Dr. Lasmaida S. Gultom, SE, MBA, D.Min


Melayani Tuhan Dalam Pekerjaan Kita

Hidup ini adalah anugerah, itu sebabnya isilah dengan bermakna. “Semua karena Tuhan. Hidup ini anugerah.” Demikian dikatakan Lasmaida S Gultom. Perempuan kelahiran Simalungun, 10 April 1965 ini. Lahir dan dibesarkan di daerah Pokan Baru Hutabayu Raja, Kabupaten Simalungun dari sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA). Cita-citanya dulu ketika masih SD hanya ingin jadi doktoranda. Tetapi setelah menjadi SMP di SMP Negeri 61 Pematang Siantar cita-citanya berubah, ingin menjadi dokter.

Itu sebabnya sejak belia dia sangat bahagia menggunting kuku dari kakek dan neneknya dari pihak ibunya bernama Mangain boru Gultom dan kakeknya Mulia Samosir bahkan nenek-nenek teman neneknya yang berkunjung ke rumah orang tuanya. Kebiasaan melayani sudah membebat dijiwanya. Kesukaannya menolong, termasuk menolong orang misalnya, ada yang luka, dia dengan bahagia membersihkan dan membalut lukanya. “Kemudian cita-cita jadi dokter, ingin merawat orang tua ke desa-desa,” kisahnya lagi.

Selulus SMA, dia mencoba mengikuti test masuk perguruan tinggi negeri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ke Jakarta. Tetapi belum beruntung, dia tak lolos seleksi. Oleh karena itu, dia ingin terus kuliah, tetapi hendak mengambil jalur hukum di Universitas Kristen Indonesia (UKI), sebab fakultas hukum UKI yang dia tahu saat itu. Namun keluarga menyarankan agar jangan kuliah di UKI, sebab di UKI terlalu orang Batak. Akhirnya, dengan berbagai pertimbangan kuliah saja dulu satu tahun, sembari menunggu tahun berikutnya untuk mencoba ikut test lagi supaya masuk fakultas kedokteran UI. Maka dirinya kuliah di Univesitas Pancasila Fakultas Ekonomi yang saat itu di kampus Jalan Borobudur, Jakarta.

Di semester awal, nilainya tak begitu bagus karena memang di pikirannya masih ingin kuliah di kedokteran. Tepat di semester dua, satu waktu dia punya pengalaman rohani yang membuat cara berpikirnya berbeda. Memang sejak kecil dia sudah telaten berdoa, sebab itu ajaran orangtua, bahwa Tuhan yang tak bisa dilihat mata jasmani itu sesungguh-sungguhnya ada. Maka sedari kecil sekolah minggu di HKBP, bergereja tak pernah ditinggalkan. Termasuk setelah kuliah, di kampus dia mengikuti persekutuan doa kampus, yang dikelola oleh kakak-kakak kelasnya.

Sebenarnya, di awal dirinya kurang terlalu menikmati persekutuan kampus itu, sebab di gereja HKBP tak biasa beribadah dengan tepuk-tepuk tangan dan berdoa menangis. Maka satu waktu, ketika saat kebaktian kampus dia kerap menghindar ke perpustaakaan. Hingga kemudian satu waktu malam-malam sekitar jam 12 malam dia terbangun. Waktu itu dia tertidur, tiba-tiba terbangun dia mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Pada saat itu dia seperti mendapat penglihatan, seperti menonton film. Dalam film itu dia mendapat penglihatan dan bisa melihat kehidupannya sendiri sejak balita sampai dewasa. Diperlihatkan mulai dari merangkak sampai dewasa. Satu perkataan yang dia dengar, “Anakku engkau begitu jahat di mataKu.” Kata-kata itu terus terngiang di telinganya.

Selama ini dia tahu orang yang berjumpa dengan Tuhan, kata-kata yang sering didengarnya adalah; “Anakku, Aku mengasihiMu.” Tetapi ini malah sebaliknya. Dalam film itu terjadi interaksi antara dirinya dengan Tuhan, dan berbicara langsung. Dia menjawab Tuhan, “Tuhan, jika memang engkau ada, saya mau Tuhan pakai seturut mau dan kehendakMu.” Ternyata saat itu dia dalam keadaan berdoa. Saat mengucapkan amin, seluruh bajunya bagian depan basah karena air mata. Saat itu dia tersadar bahwa itu bukan film. Namun dia heran mengapa dalam film itu dia bisa menyaksikan dirinya berinteraksi langsung dengan Tuhan.

Dia percaya itu lawatan Tuhan. Sejak perjumpaan itu, dia berubah dengan hati yang haus dan rindu senantiasa berdoa, memuji dan menyembah Tuhan serta membaca Firman Tuhan. Mulai sejak itu mulai aktif di kampus dan melayani di persekutuan kampus, bahkan kuliah ekonomi yang dulu tak begitu disukainya mulai makin membuatnya antusias belajar ekonomi, dan dampaknya sudah tentu hasil nilai makin bagus. Bahkan, bukan saja hanya aktif di persekutuan kampus, dia menjadi koordinator persekutuan doa di Fakultas Ekonomi Universitas Pancasila hingga lulus kuliah.

Tahun 1990, dia bekerja pertama di PT Taspen. Sebelumnya sempat menjadi guru privat untuk beberapa mata pelajaran matematika, fisika dan kimia. Anak muridnya anak dari orang-orang yang berada. Sebelum bekerja di Taspen, perusahaan negara yang mengelola pensiunan. Saat masih kuliah, dia selalu berdoa jika Tuhan hendak memakaiNya, dia minta petunjuk apakah dia melayani jadi full timer atau bergelut di marketplace. Tetapi, jika Tuhan mau memakainya di marketplace dia rindu bekerja di bidang keuangan. Tak lupa diingatnya, tugasnya, di mana pun Tuhan tempatkan dia bekerja, dia merindukan ditempat dimana dia bekerja ada selalu saja ada persekutuan orang-orang yang mengasihi Tuhan Yesus sehingga dia melayani. Karenanya dia juga salah satu inisiator mendirikan persekutuan doa di kantor PT Taspen.

Istri dari Maradat Situmorang ini, menyebut, melayani di setiap kesempatan menjadi komitmennya sejak kisah di mahasiswa itu. “Saya sadar diberikan Tuhan karunia penglihatan, karunia berbahasa roh atau bahasa lidah. Termasuk diberikan Tuhan karunia kesembuhan. Tak sedikit orang yang saya doakan sembuh,” ujarnya. Tetapi dia tak mengumbarnya, sebab itu adalah pemberian Tuhan. Dia sadar bahwa dirinya hanyalah alatNya bagi kemuliaan namaNya. Namun yang jelas dia tahu bahwa di balik itu semua ada rencana Tuhan yang paling indah. Oleh karena itu, berdoa dan membaca firman Tuhan atau bersaat teduh tiap-tiap pagi selalu dilakoninya dengan hati yang rindu dan haus senantiasa bersekutu dengan Tuhan atau menikmati hadirat Tuhan.

Tetapi, kata-kata, “Anakku, engkau begitu jahat di mataKu.” Membuat dirinya terus mencari mengapa Tuhan katakan itu. Makin rajin membaca Alkitab, berdoa pribadi untuk membangun relasi yang intim dengan Tuhan. Bahkan, dirinya mulai menemukan teguran-terguran Tuhan melalui pembacaan Firman Tuhan dan berdoa. Pada akhirnya Tuhan memberikan jawaban tentang makna “AnakKu engkau jahat dimataKu, yaitu “kesombongan“. Tak sabar melihat orang yang lambat dalam segala hal.” Oleh karena itu, dia sadar hal itu jahat di mata Tuhan. Karenanya dia selalu mengingatkan diri sendiri atas teguran Tuhan, agar hidup sabar, rendah hati dan murah hati dengan belajar terus menerus melakukannya.

Dalam doa dan pelatihan mental setiap hari dia belajar bagaimana berkenan di hadapan Tuhan dengan merendahkan hati. Dia sadar bahwa semua yang ada padanya adalah dari Tuhan, bahwa apa pun pencapaiannya itu adalah karena Tuhan, dia tak ada apa-apanya tanpa Tuhan, dia sadar tak bisa berbuat apa-apa tanpa perkenanan Tuhan.

Sejak perjumpaan dengan Tuhan itu, dia mulai belajar perlahan-lahan bisa memahami orang lain dan menerima orang lain apa adanya. Termasuk belajar sabar menghadapi orang yang lambat. Selama ini dia sadar, bahwa standar ekpektasinya terlalu tinggi bagi orang lain. Jika ada orang di sekitarnya sangat lambat dia mudah marah dan berupaya mendorong orang tersebut untuk mercepat gerakan. Hal itu terjadi baik di rumah atau di kantor. Ternyata itu tak berkenan di mata Tuhan. Maka kelakuan yang demikian mulai dia kikis pelan-pelan. Makin banyak berubah dan memperbaharui budi untuk semakin hari semakin berkenan di hadapanNya.

Termasuk kesabarannya diuji tatkala hendak mencalonkan diri menjadi Deputi Direktur di Bank Indonesia sekitar tahun 2010. Ada surat kaleng sampai ke pimpinan tertinggi Bank Indonesia, saat itu dijabat Dr Darmin Nasution. Dirinya disebut menerima suap dan lain-lain dari pihak ketiga. Saat dia tahu dengan hikmat dari Tuhan bahwa yang mengirim surat kaleng tersebut justru anak buahnya. Dia berdoa dan berpuasa selama tiga bulan supaya Tuhan tolong dan mampukan tetap mengasihi dan mengampuni orang tersebut supaya tidak membencinya serta diberikan  kesabaran untuk melewati semua hal itu. Tuhan sungguh dahsyat dan luar biasa menolong dan memampukannya melakukan hal tersebut, akhirnya dia lolos sebagai Deputi Direktur di BI pada bulan Maret 2011 dan orang yang menulis surat kaleng tersebut mengaku dan minta maaf.

Kerja adalah ibadah

Kerja adalah institusi sosial yang telah ditetapkan oleh Tuhan, karena bekerja itu ibadah, demikian John Calvin pernah mengatakan. Bagi Lasmaida, bahwa memang bekerja adalah ibadah. “Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Bagaimana seharusnya sikap orang Kristen ketika bekerja, sudah tentu berkerja untuk Tuhan, serius mempersembahkan hasil pekerjaan terbaik kepada Tuhan,” ujar lulusan doktor ministri dari Sekolah Tinggi Theologi (STT) IKAT, Juni 2019 ini.

Tuhan menciptakan manusia menurut gambarNya dengan karakteristik-karakteristiknya. Dengan demikian, bila dikaitkan ke dalam dunia kerja dan profesi, maka seharusnyalah seorang Kristiani menunjukkan tempatnya bekerja harus merupakan tempat ibadah, dan tempat menaruh pelayanan. Baginya, berarti menjadi pendeta atau penginjil atau hamba Tuhan.” Kita harus memandang pekerjaan kita sebagai ibadah dan pelayanan kepadaNya. Firman Tuhan yang saya baca dan pahami bahwa kalau kita bekerja mesti dengan ihklas dan sungguh-sungguh, berkerja untuk Tuhan bukan untuk manusia. Karena itu, saya hanya takut kepada Tuhan, bukan kepada manusia. Manusia saya hormati dan hargai, tetapi bukan untuk saya takuti,” ujarnya.

“Saya sangat yakin, kalau seseorang menyebut dirinya seorang Kristen, tetapi tak melakukan saat teduh atau intim dengan Tuhan setiap hari. Tak membaca buku petunjuk, buku penuntun hidup yaitu Alkitab, nonsen seseorang itu bisa kokoh, kuat dan konsisten berjalan setiap waktu bersama Tuhan,” tambah mantan koordinator Persekutuan Doa Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Pancasila itu. Menjadi saluran berkat itulah yang selalu menjadi permohonannya. “Hari demi hari, membangun hubungan yang intim dengan Tuhan. Berdoa tentu bukan untuk meminta berkat bagi diri sendiri, tetapi meminta agar Tuhan berkenan menjadikan dirinya menjadi saluran berkat bagi banyak orang.”

Masih bening dalam ingatannya, tahun 1990 dia diterima bekerja di Bank Indonesia. Saat itu persekutuan doa kantor di sana sudah ada, dia tinggal mengikutinya terlibat dalam pelayanan. Tahun 1997 dirinya diberikan kesempatan oleh Bank Indonesia mengikuti pendidikan ke Jepang mengambil magister manajemen dengan gelar MBA. Namun sejak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berdiri, dirinya tugaskan ke OJK, sesuai Undang-Undang OJK diberikan opsi atau pilihan kembali ke Bank Indonesia atau tetap berada di OJK. Hingga sekarang dia berkarier di OJK karena memilih bergabung dengan OJK sebagai salah satu pejabat eselon 2 di OJK.

Mengapa pilih OJK? “Oleh karena saya saat itu di OJK bekerja di direktorat edukasi dan literasi keuangan. Hal ini sebagai kesempatan untuk mencerahkan masyarakat soal keuangan,” ujar Direktur Literasi dan Edukasi Keuangan di OJK tahun 2015. Berbeda ketika dia bekerja di Bank Indonesia, bekerja sebagai pengawas perbankan dan di Sumber Daya Manusia hanya bertemu dengan internal BI dan orang-orang bank (Industri Perbankan). Sementara di OJK dia berkesempatan menjumpai banyak orang termasuk masyarakat dari berbagai kalangan, maka dalam kesempatan itulah dia menunjukkan siapa dirinya. Sebagai anak Tuhan atau orang yang mengasihi Tuhan untuk menjadi garam dan terang bagi orang lain.

OJK menilai pemahaman masyarakat Indonesia terhadap sistem keuangan moderen masih sangat rendah. Hal itu tercermin dari indeks literasi keuangan Indonesia sebesar 21,8 persen pada 2013, jauh di bawah negara Asean lain seperti Singapura yang mencapai 95 persen.  Lasmaida S. Gultom, Direktur Literasi dan Keuangan OJK tahun 2015 menyatakan, kondisi ini membuat OJK gencar melakukan edukasi keuangan ke masyarakat. Antara lain dengan memperbanyak Mobil Literasi Edukasi Keuangan (siMOLEK), dari 20 unit yang saat ini tersedia menjadi 41 unit.

“Salah satu untuk meningkatkan indeks literasi keuangan (Indonesia adalah) dengan menambah siMOLEK menjadi 41 unit pada semerster II 2015 dengan program kerja literasi dan edukasi keuangan lainnya. Ada tambahan 21 unit (siMOLEK) dari saat ini 20 unit,” tutur Lasmaida. Menurut Lasmaida, banyaknya jumlah penduduk serta luasnya wilayah Indonesia menjadi kendala tersendiri bagi OJK dalam menyampaikan informasi keuangan kepada masyarakat.  Oleh karena itu, OJK menargetkan indeks literasi keuangan Indonesia dapat ditingkatkan setidaknya dua persen per tahun.

SiMOLEK merupakan unit mobil literasi edukasi keuangan yang dilengkapi dengan peralatan multimedia dengan berbagai fitur lengkap untuk memenuhi kebutuhan materi edukasi. Selain menjangkau langsung wilayah tempat tinggal masyarakat, OJK juga menyediakan mobil edukasi tersebut di kantor regional OJK yang terdapat di kota besar dan Kantor OJK.

“Saat ini OJK sudah memiliki 35 total kantor dengan 9 kantor regional dan 26 kantor OJK yang tersebar di seluruh Indonesia. Sembilan Kantor Regional ada di Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, Palembang, Bali, Makassar dan Banjarmasin. Selain itu, OJK juga memberikan edukasi keuangan kepada ibu rumah tangga, siswa dan mahasiswa, para profesional  hingga penyuluh Keluarga Berencana (KB) dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN)  agar dapat ikut menginformasikan layanan keuangan kepada masyarakat.

Menurut Lasmaida, upaya peningkatan literasi dan edukasi keuangan perlu dilakukan sebagai tindakan preventif agar masyarakat tidak mudah tertipu oleh investasi bodong yang menjanjikan imbal hasil tinggi. Selain itu, OJK konsisten mendorong serta mendukung Lembaga Jasa Keuangan (LJK) menyediakan Layanan Keuangan Mikro (Laku Mikro) sehingga dapat menjangkau masyarakat di sektor jasa keuangan, khususnya yang berpenghasilan rendah dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).

Di OJK dia bukan hanya pejabat. Tetapi yang utama mempunyai kesempatan memberikan pencerahan bagi banyak orang yang lintas batas suku, agama, bahkan termasuk bisa menjangku kaum-kaum marginal. Tugas-tugas inilah yang mendorongnya memilih bergabung dengan OJK. Tiga Tahun di OJK Institut (tahun 2016-2018) memiliki kesempatan juga mengajar di kampus-kampus melalui program kerja OJK Mengajar. Sekarang dia sebagai Analis Eksekutif Senior di Departemen Pengendalian Kualitas Pengawasan Perbankan OJK.

Beberapa tahun lalu (Agustus 2011), oleh karena sudah berumur tak bisa lagi dapat bantuan kuliah di luar negeri dari Bank Indonesia. Dia kemudian kuliah tingkat doktoral di Manajemen Bisnis Institut Pertanian Bogor (IPB) di Bogor dengan meraih gelar Doktor di Bidang Sumber Daya Manusia Desember 2015 dan semua biaya ditanggung OJK. Dia kuliah hanya setiap hari Sabtu, maka tak pernah terganggu jadwal pekerjaan di OJK. Semua pencapaian dan yang ada padanya hanya oleh karena pertolongan, kasih dan anugrah Tuhan semata. Dulu cita-citanya semasih kecil sederhana hanya menjadi doktoranda, sekarang Tuhan beri lebih dengan pendidikan formal meraih dua gelar doktor di bidang SDM dan Ministri, bahkan melebihi yang dimintanya. (Hojot Marluga)

Dr. Ir. Mombang Sihite, MM


Dr. Ir. Mombang Sihite, MM,  Presiden Direktur PT Azbil Berca Indonesia

Memacu Generasi Muda Berdaya Juang Di Era Revolusi Industri 4.0

Bersikap antusias, bersemangat dan disiplin hal itulah yang terlihat tatkala berjumpa dengan Dr. Ir Mombang Sihite MM, Presiden Direktur PT Azbil Berca Indonesia, ini. Berkarakter positif dan berdisiplin menurutnya adalah kunci utama menjadikan seseorang sukses. Soal berdisiplin sudah sejak dulu didapatnya dari kedua orangtuanya; Waldemar Juragan Sihite dan Ibunda Nursia boru Manalu.

Ayah dan ibunya yang sudah almarhum, dulu selalu menasihatkan agar kehidupannya bisa berdampak bagi orang lain, perlu ada kepedulian. Anak bungsu dari sembilan bersaudara ini melewati masa kecil hingga remaja di Kota Dolok Sanggul, Kabupaten Humbang Hasundutan. Studi SMA sempat satu semester dilaluinya di SMA Negeri 1 Dolok Sanggul. Namun, tahun 1982, hijrah ke Jakarta melanjutkan studi di SMA 54 Jatinegara Jakarta. Namun, kepindahannya ke kota Jakarta sempat mengganggu studinya dan sempat nilainya amburadul.

“Nilai saya jeblok. Saya merasakan ketidaksetaraan pendidikan antara Jakarta dan di Dolok Sanggul. Hal itu membuat saya harus bekerja keras untuk mengejar ketertinggalan studi,” ujarnya mengenang masa lalunya itu. Syukur, akhirnya dia bisa menyesuaikan diri dengan pendidikan di Jakarta. Luarbiasanya dia pun lulus dengan nilai bagus.

Selulus SMA, dia memilih program Politeknik Universitas Indonesia oleh karena ingin berkerja di dunia industri. Selulus diploma Politeknik, dia melamar ke PT Berca Indonesia.  “Setelah lulus kuliah dari Politeknik saya diterima di PT Berca Indonesia pada tahun 1990. Saya langsung ditempatkan sebagai jabatan fungsional sebagai site manager dan jabatan structural engineer. Pekerjaan itu membutuhkan kemampuan dalam memahami sistim otomatisasi industri, sangat jauh berbeda dengan otomatisasi dasar,” jelasnya.

Puji syukur dia bisa menyesuaikan diri, bekerja sembari belajar. Hal yang dia syukuri, misalnya ketika di Politeknik, selain ilmu yang didapat juga kemampuan mengelola waktu. Mengapa? Oleh karena sistem perkuliahan yang ketat dalam pengelolaan waktu, perkuliahan yang sangat padat, dan sistem paket, bukan SKS dan banyaknya tugas-tugas LAB dan Workshop membuatnya terbiasa dengan kedisplinan. Tentulah sebagai mahasiswa, jika tak bisa berdisiplin niscaya bisa mengikuti irama yang ada di kampus. “Belum lagi sistem Drop Out yang selalu diberlakukan setiap semester. Karenanya, saya harus bekerja keras untuk memenuhi standar kelulusan saya.”

Akumulasi dari pelatihan mental, jejak rekam dari latihan di masa kecilnya, dididik bekerja keras dan dilanjutkan dengan sistem pendidikan di Politeknik menuntutnya berdisiplin. Hal itu semua sangat membantu pembentukan karakternya di kemudian hari. Jelaslah, jikalau tak disiplin, bagaimana dia bisa mengerjakan bejibun pekerjaan; jadi CEO, konsultan di green building, konsutan manajemen, dosen di beberapa kampus, melayani di gereja dan masih aktif di puluhan organisasi sosial lainnya.

Di perusahaan, menurutnya, karena bukan hanya kemampuan engineering yang dituntut, tapi juga kemampuan manajemen dalam mengelola project untuk memenuhi kewajiban dalam pencapaian target. Termasuk pengelolaan anggaran sehemat mungkin, pengerjaan engineering sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan. Multi assignment project atau mengelola beberapa proyek sekaligus secara bersamaan sudah menjadi santapan hariannya.

Tentu, hal itu membuatnya merasa harus melanjutkan pendidikan guna meningkatkan kemampuan untuk bisa makin memahami manajemen dan teknik elektro lanjutan. Maka, jadilah dia kuliah sambil bekerja untuk mengambil gelar sarjana. Di tengah ketatnya waktu, sebagai kepala keluarga dia harus pintar mengelola waktu. Dia  kuliah di Universitas Jayabaya. Bertepatan saat itu Fakultas Tekniknya membuka Program Eksekutif, kuliah Sabtu-Minggu. Dia pun bisa belajar di akhir pekan tanpa mengganggu aktifitas pekerjaan di kantor, tetapi tentu mengurangi kuantitas waktu berjumpa dengan anggota keluarga. Syukur, kuliah lanjutan ini dia selesai hanya dua tahun.

Seiring perjalanan waktu, karir dan tanggung-jawabnya meningkat dan bertambah, bukan lagi hanya sebagai engineering manager, tetapi diberi tanggung jawab mengelola puluhan project baru. Selain itu, dia juga ikut melakukan pemasaran untuk mendapatkan order dari customer lama dan customer baru. “Dari pengalaman itu makin banyak network dan relationship saya dengan customer, dan kepercayaan dari customer juga meningkat, market share juga meningkat dan nilai equity perusahaan juga meningkat karena kemampuan untuk membangun reputasi perusahaan,” ujarnya.

Menurutnya, dalam mengembangkan perusahaan, satu hal yang tak boleh luput adalah membangun reputasi perusahaan dengan menuju service level customer satisfaction menjadi kunci dasar untuk mendapatkan customer loyalty dan akan menghasilkan customer retention yang sarat dengan indirect marketing positive of mouth. “Itu menjadi fundamental operasional dan service perusahaan kami,” terangnya. Peluang makin terbuka lebar, hal itu dijawabnya untuk kembali menimba ilmu, magister manajemen.

“Peluang itu harus saya sesuaikan dengan peningkatan keilmuan saya, tanpa harus mengganggu pekerjaan saya. Maka saya melanjutkan pendidikan di Universitas Pancasila program Pasca Sarjana, Marketing Manajemen di Kampus Jalan Borobudur Jakarta Pusat setiap sore dan saya memilih Kampus Universitas Pancasila karena dekat dengan kantor saya, bisa ditempuh hanya 10 menit.”

Tuhan begitu baik dalam kehidupan Mombang. Seiring waktu dan pertambahan jejang pendidikan yang disandangnya, dan makin mumpuni pengalamannya dengan mengikuti beragam pendidikan non formal, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Maka, perusahaan pun memberi tanggung- jawab dan jabatan baru. Karier terus menaik.

“Sejalan dengan pertumbuhan kinerja perusahaan, dari engineering manager meningkat menjadi General Manager setelah tanggung-jawab saya tidak hanya untuk engineering saja, tapi juga marketing dan beberapa tahun kemudian saya dipromosikan menjadi Direktur Divisi bisnis.” Perusahaannya terus bertumbuh, produk portofolio dikembangkan, area pasar yang digarap terus bertambah dan bisnis portofolio juga dibuka sehingga jumlah karyawan pun harus ditambah.

Awal tahun 2012 lalu, perusahaan Share holder dari Azbil Corporation Jepang dan Berca Indonesia sebagai pemegang saham  menilai kesetian dan reputasinya di perusahaan, maka dirinya diberi tanggung-jawab lebih besar, memimpin perusahaan sebagai Presiden Direktur. Hal ini menjadi sejarah pertama bagi Azbil Corporation Jepang memilih pimpinan cabang perusahaannya dari non-Japanese, seorang Putra Batak yang beragama Kristen pula.

Jabatan itu melecutnya untuk terus menambah pengetahuan dengan studi kembali, dia mengambil strata Doktoral. Maka filosofinya dalam berlajar, terus belajar, selagi masih ada waktu. “Kepercayaan ini sangat berat buat saya dan mengingat usia saya pada waktu itu tepat 45 tahun. Kepercayaan ini harus saya wujudnyatakan dengan terus meningkatkan kapasitas saya dalam kemampuan saya dalam manajemen, sehingga mendorong saya mengambil program Doktor,” ujar lulusan Doktor Universitas Padjadjaran, Bandung ini.

“Perkuliahan saya di Universitas Padjadjaran Bandung di program Doktor ilmu ekonomi dan bisnis dapat saya selesaikan selama tiga tahun, dengan predikat lulus cumlaude dengan IP 3.98. Nilai keilmuan kedoktoran saya adalah bagaimana membangun strategi bisnis yang berkelanjutan,” jelasnya lagi. Dalam penelitian disertasinya, Mombang menyebut, dalam membangun bisnis berkelanjutan, membutuhkan reputasi perusahaan yang memiliki nilai equitas dan nilai emotional, didukung kegiatan inovasi dan pengembangan produk portofolio, dan memiliki nilai keunggulan bersaing yang sesuai dengan kebutuhan pasar.

Hasil disertasi ini membuatnya semakin percaya diri, dan merasakan ilmu ini tak berhenti pada dirinya atau perusahaan yang dipimpinnya, tetapi harus diteruskan kepada generasi muda bangsa Indonesia, supaya setiap perusahaan besar atau perusahaan sedang menengah punya visi untuk membangun kinerja bisnis yang berkelanjutan.

“Membangun bisnis yang berkelanjutan membutuhkan komitmen pimpinan yang berjiwa kharismatik. Tak hanya berorientasi pendek menengah, tapi juga berorientasi panjang, karena perlu ada biaya yang harus dikeluarkan dalam membangun reputasi perusahaan sebagai investasi dalam membangun masa depan perusahaan, seperti pembangunan sumber daya manusia yang unggul sebagai asset perusahaan yang sulit ditiru pesaing,” jelasnya lagi.

Era Revolusi Industri 4.0

 

Di era ini setiap personal dituntut memiliki disiplin, punya atitude bagus dan memiliki pengetahuan. Masa di mana bermunculan banyak sekali inovasi-inovasi yang tak terlihat, tak disadari oleh organisasi mapan sehingga mengganggu jalannya aktivitas tatanan sistem lama, bahkan menghancurkan sistem lama tersebut.

Mombang melihat lain dan menekankan, untuk bisa eksis di era disruptif ini, seseorang mesti meninggalkan zona nyaman; dan harus kembali lincah dan gesit berkejaran dengan waktu. Selain itu fokus dan konstan pada tujuan agar persisten. Menurutnya, itulah yang membentuk mental seseorang menjadi smart.

“Di era Revolusi Industri 4.0 ini kita bertransformasi untuk memperbaiki diri. Jangan sibuk mengkritik orang lain lupa memperbaiki diri. Sebab orang yang tak menguasai teknologi dan mampu berselancar di era ini akan tertinggal.” Dia mencontohkan, budaya yang dibangun korporasi di Jepang, mereka maju dan sukses karena mereka memahami keadaan, mereka disipilin untuk terus berinovasi.

“Kita mesti mampu menghadapi tantangan pada zamannya di era Revolusi Industri 4.0 dan tak bisa menghindari tuntutan yang memaksa untuk lebih kreatif, inovatif, serta selalu melakukan pengembangan kompetensi yang dimiliki, disesuaikan dengan kebutuhan zaman. Sebab di era Revolusi Industri 4.0 memunculkan tantangan baru, di antaranya, adanya perubahan perilaku pada generasi dalam konteks pembelajaran, hal itu diakibatkan oleh potensi distrupsi yang cukup tinggi pada setiap individu, kondisi dimana seseorang menjadi sulit memahami isu, sampai tak terverifikasi. Oleh karenanya, di era Revolusi Industri 4.0, setiap kita dituntut adaptif perubahan.”

Menurutnya, orang-orang yang sukses ke depan adalah orang-orang bukan saja menguasai teknologi, tetapi menguasai data, sebagaimana pernah dikatakan Jack Ma, perlu menguasai data berbasis pada mutu dan pasar. Maka tepatlah premis yang menyebut, siapa yang tak mampu beradaptasi dengan zaman akan tersingkir. Sebaliknya yang mampu beradaptasi, berselancar di atasnya yang survival.

Bagi Mombang mesti ada strategi dalam memacu pertumbuhan. Bahwa jelas, krisis ekonomi membuat semua langkah pendekatan tersebut terhenti untuk sementara waktu, tetapi orang yang selalu adaptif terhadap perubahan akan senantiasa optimistis akan perubahan, bahkan akan memacu daya juangnya dalam setiap perubahan. Masalahnya, adalah kegagalan untuk beradaptasi.

Karenanya, dia menghimbau, satu lagi pelajaran penting yang bisa kita petik dari runtuhnya kerajaan bisnis seperti Yahoo! Misalnya, adalah: jangan terlena dengan kesuksesan yang telah diraih. Masalahnya, bagi perusahaan-perusahaan yang sudah terlanjur besar, virus yang menggerogoti penyakit lembam seperti ini bukan merupakan sesuatu yang langka. Krisis ekonomi membuat semua langkah pendekatan tersebut terhenti untuk sementara waktu, tetapi orang yang selalu adaptif terhadap perubahan akan senantiasa optimistis akan perubahan, bahkan akan memacu daya juang dalam setiap perubahan, dan untuk bisa sinambung (sustainable) dalam jangka panjang.

Di era pembangunan ekonomi kreatif seperti ini, menurutnya, generasi muda dengan pemanfaatan teknologi digital seperti e-marketing dan e-commerce untuk melahirkan pengusaha ekonomi kreatif generasi muda. Nyatanya memang banyak perusahaan besar kolap oleh karena tak siap dan tak mampu mempersiapkan diri, yang menaik justru usaha-usaha yang dirintis generasi muda berbasis teknologi informasi. Padahal, prediksi datangnya era digital ini bukan tiba-tiba muncul.

Mombang juga aktif menulis gagasan dan pemikirannya. Termasuk tulisannya mengamati fenomena yang terjadi di masyarakat. Disinilah, menurutnya faktor kepemimpinan yang kuat dan visioner itu perlu ada. Dia mencontohkan misalnya, dalam tulisannya di kompasiana.com menyebut, perusahaan Fujifilm asal Jepang itu bisa konstan berjalan, berhasil menyelamatkan diri dari distrupsi dengan mentransformasi Fujifilm lewat inisiatif-inisiatif inovasi serta diversifikasinya, dari perusahaan fotografi menjadi korporasi sains yang multi-industri.

Peduli tanah Batak

Pria kelahiran Kota Dolok Sanggul, 6 Oktober 1966 ini beruntung ditopang keluarga. Sebagai sosok yang mobilitasnya tinggi, peran istrinya Linda Boru Marpaung, sokongan semangat dari ketiga anaknya;  Naudita Olivia Sihite, Darrell Matthews Hatoguan Sihite dan Nathania Isabella Ulibasa Sihite yang membuatnya terus antusias bergerak untuk memberi setitik arti di kehidupan. Di masa hidupnya, ingin mengabdi untuk kemaslahatan, terutama demi kemajuan kampung halamannya di tanah Batak.

Tentu, dia juga mengotokritik penerapan acara adat yang terlalu berlebih, mewah dan boros. “Banyak acara adat terlalu lama dan melelahkan, oleh karena banyak tambahan di luar esensi adat. Selain itu, bersifat eksklusif, kurang membuka pintu bagi anggota di luar suku Batak. Luncunya, apa yang diterapkan tak mudah dipahami dan diwariskan kepada generasi muda.”

Karenanya, dia memberi kritikal terhadap acara adat, agar perlu penjelasan konkrit titik-titik yang disorot sehingga generasi muda paham, bukan gagal paham terhadap kritik ini. Baginya, adat adalah identitas yang harus dijaga, tetapi harus bersifat komparatif, sehingga keunikannya mempunyai nilai kebanggaan. Sebab tuntutan globalisasi tak mungkin dinafikan. Maka perlu efektifitas dan efisiensi dan setiap ada peluang perbaikan untuk mengarah efisiensi, maka akan dilakukan perbaikan secara berkelanjutan. Tentu, ada sebagai identitas tak kehilangan maknanya, karena tuntutan efisiensi dan efektifitas.

Atas perhatiannya untuk kampung halaman, dia pun sudi memberi diri bagi tanah Batak. Atas dasar ingin pengabdian lebih luas, dia mencalonkan diri, maju menjadi Calon Legislatif di DPR RI dari daerah pemilihan Suamatera Utara II. “Saya tak mencari jabatan atau pekerjaan. Murni pengabdian untuk kemajuan masyarakat di kawasan Danau Toba.”

Tak membuat janji-janji palsu untuk kampanye. Murni mengajak masyarakat untuk tercerahkan. Menurutnya, orang sudah bosan dengan tataran teori, visi-misi, yang dibutuhkan sekarang bagaimana mengaplikasikan dalam tindakan, dari gagasan dan pikiran. “Rakyat sudah bosan dengan visi-misi. Sudah bosan dengan janji-janji kampanye, sudah tak waktunya kasih-kasih sembako, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana mensubsidi pendidikan. Bahwa ke depan semangat pendidikan kita harus berubah.”

Dia melihat sekarang tak banyak lagi cendikia orang Batak dibanding etnis lain di Indonesia, padahal dulu orang Batak dikenal dengan taraf pendidikan yang mumpuni. Namun yang terjadi sekarang terlihat justru ketidakmampuan orang Batak mempertahankan kualitas pendidikan di masa lalu itu, malah cenderung melemah.

Karenanya, dia bergairah untuk menenguhkan kembali spirit, daya juang Batak untuk terus-menerus dapat ditumbuhkembangkan. “Sejujurnya, sejak dulu mental Batak dulu adalah pejuang. Orang Batak perantau daya juangnya tinggi. Siang kerja, malam bekerja. Hanya sekarang semangat juang mereka makin tergerus,” ujarnya prihatin.

Oleh karenanya, dia mengajak ada transformasi, sebagaimana slogan pemerintah Presiden Joko Widodo, revolusi mental. Maka baginya perlu juga ada semacam revolusi mental bagi orang Batak. Dia mengkritisi juga, filosofi Batak yang selama ini cenderung mengutamakan kekayaan. “Seolah-olah orang kaya itulah yang utama. Tetapi gereja juga berperan atas hal ini, hanya mengapresiasi orang yang kaya materi.”

Lalu, bagaimana memperbaiki itu? Menurutnya, yang pertama adalah mentrasformasi keluarga. “Keluarga harus ditransformasikan. Ketika keluarga tak bisa menjadi pondasi kita berpijak, membangun mental, maka susahlah untuk membangun sikap karakter tadi. Seseorang anak bisa teguh dalam daya juang tentu karena meniru keluarga. Ketika keluarga anggota keluarganya, saling menopang, sinergi terjadi.”

Hal senada dia lakukan sebagai kepala keluarga, Mombang konsisten dengan ungkapannya itu, walau harus memimpin perusahaan besar, dan di tengah-tengah kesibukan itu, masih juga memberi perhatian tugas di gereja, mengajar di beberapa kampus dan memberi perhatian ke beberapa organisasi yang juga memintanya membantu. Tetapi komunikasi dengan keluarga harus terus dibangun. Menurutnya yang penting kualitas komunikasinya, bukan kuantitas waktu berjumpa.

Lagi-lagi, ke depan, dia rindu kapasitas dan kapabilitas masyarakat Batak, terutama generasi muda makin maju pendidikan akademik dan karakternya. Karenanya, sebelum sampai ke tataran itu, dia mendorong adanya pendidikan budi pekerti, terutama karakter sejak usia dini dalam pendidikan dasar dan lanjutan itu dalam rumah, dalam keluarga.

“Intinya keluarga dan komunikasi terbangun dengan baik, agar saling memahami. Saya terapkan itu dalam rumah. Tatkala di rumah misalnya, saya ingatkan anak-anak, bahwa tugas mereka sekolah. Maka belajar itu yang nomor satu. Sementara jika kuantitas waktu dalam berjumpa dengan anggota keluarga memang sulit, saya menjelaskan dengan komunikasi. Yang penting sebenarnya kualitas berjumpa bersama dengan anggota keluarga; komunikasi suami istri bersama anak-anak dimaksimalkan. Semuanya harus terlayani dengan baik. Karena waktu yang lain harus dibagi,” ujar calon penatua di HKBP Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, ini.

Potensi Danau Toba

Sebagai putra Batak, kelahiran Dolok Sanggul, Kabupaten Humbang Hasundutan, Mombang melihat lain potensi pariwisata di lingkungan Danau Toba yang dikelilingi tujuh kabupaten, yang sekarang masuk zona Otorita Danau Toba. Baginya, keindahan alam Danau Toba tak kalah menariknya dibanding daerah lain di tanah air.

Masalahnya, selama ini jarang wisatawan melihat pemandangan Danau Toba oleh kurangnya pelayanan yang baik. Oleh karenanya, menurutnya, keindahan alam Danau Toba juga mesti ditransformasi menjadi salah satu destinasi unggul pariwisata di Sumatera Utara, khususnya di tanah Batak, dengan terlebih dahulu mentransformasikan mindset ramah untuk wisatawan.

Baginya, hal ini tentu bukan hanya impian tetapi harus diwujudkan. Benar-benar menjadi tujuan wisata unggulan di Indonesia. Betapa tidak, Danau Toba memiliki resources, sumber daya yang sarat dengan keunggulan komparatif yang tak dimiliki daerah lain. Selain itu, menurutnya, keindahan alam Danau Toba juga memiliki wisata situs-situs sejarah yang ada di hampir semua Kabupaten di kawasan Danau Toba; seperti sejarah berupa Istana Raja Sisingamagaraja di Bakkara, atau makam I.L Nommesen di Sigumpar, dan di wilayah seperti Samosir.

Maka keunggulan komparatif seperti ini mesti dikelola dengan baik sehingga ke depan kawasan Danau Toba sebagai tujuan wisata bisa memberi benefit bagi pemerintah daerah khususnya di kawasan ini. Hal itu bisa terjadi jika masyarakat juga bertransformasi menjadi masyarakat yang singap dan adaptif, ramah, tetapi identitas otentiknya tetap terpampang. Mombang memprediksi, ke depan pariwisata Danau Toba tumbuh menjadi tujuan wisata, bukan saja di Indonesia, tetapi di mancanegara. Karenanya, dia menghimbau, melihat terusnya pertumbuhan dan perkembangan menuju hal itu, masyarakat Batak juga harus siap secara mental, karena itu mesti menyiapkan diri.

“Saya berkerinduan ke depan kiranya tercipta  di era generasi mendatang, ada putra-putri Batak khususnya dari Tapanuli Raya bersaing di kancah Internasional, hal ini adalah kebanggan kita nantinya dan itu termasuk kerinduan pendahulu kita dan kita harus dorong itu untuk maju,” jelasnya, sembari menambahkan, kerinduannya dalam mengembangkan Danau Toba, dan mendirikan Universitas atau Politeknik di wilayah Tapanuli Raya.

“Saya terlahir dan berhasil dari dunia pendidikan, dan saat ini saya masih aktif di salah satu perguruan tinggi luar negeri. Pendidikan itu sangat penting, dan itu semua sudah kita tuangkan dalam rencana kita ke depan bagaimana caranya nanti ketika kita terpilih harus ada politeknik di wilayah kita, biar jangkauan pendidikan itu dekat dengan daerah kita, dan itu nanti termasuk dalam program kita, selain pengembangan pariwisata Danau Toba,” tandasnya.

Dosen Pascasarjana FEB Universitas Pancasila dan Universitas Mpu Tantular ini, juga menekankan pembangunan sarana infrastuktur menjadi kunci penting di dalam membuka isolasi daerah yang berpeluang menjadi destinasi pariwisata dunia ke depan. Selain itu, dia menyarankan, Pemerintah Daerah (Pemda) mesti juga adaptif terhadap perkembangan yang ada.

Bahkan, menurutnya, perlu membentuk team khusus untuk melakukan berbagai kajian-kajian seperti percepatan pembangunan destinasi pariwisata, termasuk mengundang investor untuk membangun fasilitas pendukung pariwisata. Oleh karena itu, perlu peningkatan pembangunan ekonomi masyarakat, dengan menggali potensi industri yang dapat menunjang pariwisata, dan memberikan fasilitas kemudahan dalam berinvestasi, melindungi masyarakat dari dominasi investor asing.

Menjadi inspirasi

Sebagaimana di atas sudah dikisahkan, menceritakan kisah  kehidupanya, sejak kecil sudah didik orangtua menjadi anak yang mandiri dan berbagai untuk sesama. “Masa kecil saya, saya sudah berdagang. Sejak kecil sudah kehilangan masa kecil. Semasa SD setiap pulang sekolah saya sudah dipercaya untuk menjaga toko. SMP saya sudah terbiasa disuruh untuk membuat cek mundur, yang tanda tangan kakak saya, karena sudah memiliki rekening di bank,” kisahnya.

Selain akar kedisiplinan ditanamkan dari keluarga, dia banyak belajar dengan budaya Jepang melatih dan menerapkan disiplin sejak masa kanak-kanak. Beruntung dia dididik dengan disiplin dari orangtua yang berjiwa wirausahawan mandiri. “Sebelum berangkat sekolah sudah harus buka toko, dan paling cepat tidur pukul sembilan malam. Itu masih kanak-kakak. Artinya, disiplin itu sudah ditanamkan oleh orangtua sejak kecil. Ketika waktu belajar pun tak ada waktu khusus, tetapi belajar sambil jaga toko. Demikian juga tatkala makan, tak ada waktu khusus, sambil makan jaga toko,” tambahnya lagi. Inilah yang membentuk karakternya. Sedari kecil sudah terlatih, maka ketika merantau pun karakter disiplin itu ditanamkan dalam sanubarinya.

Baginya, kesuksesan sesungguhnya tatkala hidupnya bermanfaat untuk orang lain. Itu sebabnya dalam kamus hidupnya, selagi hidup mengusahakan yang terbaik bagi sesama, paling tidak bisa menjadi pemberi semangat, dan menginspirasi generasi muda untuk jangan sekptis terhadap keadaan. Dia menyakini, bahwa Tuhan memberi kita masing-masing potensi, masalahnya bagaimana memunculkan potensi yang dimiliki itu untuk mampu memberi pembaharuan. Akhirnya, kerinduannya ke depan, generasi muda bangsa ini makin terus melaju, bisa berkontribusi dan berkompetisi di era ini. Tak hanya sekedar penikmat, menikmati kemajuan,  tetapi mampu memacu diri dan punya daya juang di era yang distrutif ini. (Hojot Marluga)

 

Biodata:

Nama Lengkap: Dr. Ir. Mombang Sihite, MM

Tempat/Tanggal Lahir Dolok Sanggul, Humbahas 06 Oktober 1966

Nama Bapak

Waldemar Juragan Sihite (+)

Nama Ibu

Kandung Nursia Manalu (+)

Nama Istri:

Herlina Lindawati Marpaung

Anak

  1. Naudita Olivia Sihite
  2. Darrell Matthews Hatoguan Sihite
  3. Nathania Isabella Ulibasa Sihite

Pendikan:

D3 Politeknik Universitas Indonesia Teknik Elektro, tahun 1986-1989

S1 Universitas Jayabaya Fakultas Teknik Elektro, tahun 2002-2004

S2 Universitas Pancasila Marketing Manajemen, tahun 2006 – 2009

S3 Universitas Padjadjaran Manajemen Stratejik, tahun 2014- 2017

 

Pengalaman Pekerjaan:

Tahun 2012 – Sekarang President Director PT. Azbil Berca Indonesia

Tahun 2009-2011 Director PT Azbil Berca Indonesia

Tahun 2003-2008 General Manager PT. Yamatake Berca Indonesia

Tahun 2001-2002 Senior Manager PT Yamatake Berca Indonesia

Tahun 1998-2000 Engineering Manager PT Yamatake Berca Indonesia

Tahun 1996-1997 Project Coordinator PT Yamatake Berca Indonesia

Tahun 1993-1998 Project Manager PT Berca Indonesia

Tahun 1990-1993 Project Engineer PT Berca Indonesia

Karya Ilmiah yang telah diterbitkan:

No Judul Tahun Penerbit
1 The Competitive Strategy in Green Building for Indonesia Stakeholder’s 2015 International Journal of Innovation and Technology – IJIMT
2 Business Performance Sustainability :A case of Industry of Building Automation Industry in Indonesia 2016 International Journal of Economics, Commerce and Management-United Kingdom
3 Gain Competitive through Reputation 2016 South East Asia Journal of Contemporary Business, Economics and Law
4 Corporate Sustainability Performance on Service Industry: A study of factors that Encourages Competitive Advantage for Industry Performance 2017 Sedang proses ke Scopus oleh Medwell Journal Scientific research publishing company
5 Competitive Advantage: Mediator of Diversification and Performance 2017 Sedang proses ke Scopus

Oleh 2nd Annual Applied Science and Engineering Conference – AASEC

6 Company’s Innovation and Cooperative Advantage as Sustainability Economic Support 2017 Sedang proses ke Scopus

Oleh the 1st International Conference on Research of Educational Administration and Management – ICREAM

 

 

Prof. Dr. Victor Purba, SH, LLM, MSc


Prof. Dr. Victor Purba, SH, LLM, MSc bukan seorang yang tersohor, bak seorang artis. Tetapi, perannya sangat besar dalam Pengembangan Korporasi di Indonesia, ahli hukum ekonomi. Kemampuan akademiknya tak pernah diragukan lagi, hanya saja jarang terpublikasi. Termasuk membangun kampung halamannya. Pria kelahiran Aek Lung, Dolok Sanggul ini adalah seorang pedagogi sejati, guru besar hukum di Fakultas Hukum Universitas Indonesia.

Dia adalah salah satu inisiator dari berdirinya Kabupaten Humbang Hasundutan. Pemikirannya bahwa pendidikan membawakan orang tercerahkan, jikalau sudah tercerahkan maka banyak inisiatif yang bisa dilakukan. Saat proses pendirian Kabupaten Humbang Hasundutan, tatkala rapat dengan tokoh-tokoh Dolok Sanggul dia mengatakan, bahwa pembangunan utama Kabupaten seutuhnya harus melalui pendidikan. Jangan melupakan peranan pendidikan untuk memulai pembangunan. Tentu yang dia maksud bukan hanya memiliki gelar akademik. Sebagaimana kata dasar pendidikan adalah kata didik. Didik berarti memelihara dan memberi latihan tentang akhlak dan kecerdasan pikiran.

Sedangkan, pendidikan memiliki arti proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan. Jadi, bukan hanya memiliki jenjang gelar akademik semata. Karena itu, dia selalu berpesan agar meningkatkan mutu pendidikan di Humbang Hasundutan, bahkan dia berjanji saat itu siap mendatangkan para profesor untuk memberikan pendidikan di Humbang Hasundutan. Termasuk tatkala dirinya terpilih sebagai seorang panelis dalam debat kandidat pilkada Humbang Hasundutan tahun 2005, dia selalu menekankan kepada para kandidat bahwa faktor pendidikan sebagai  salah satu misi terpenting dalam kemajuan pembangunan  Humbang Hasundutan.

Pemikirannya bernas, sebagai ahli di bidang hukum ekonomi, dia selalu mengajak menanggapi  kemajuan global  tanpa meninggalkan budaya. Tentu, bagaimana menata karakteristik, kemampuan intelektual lewat kesesuaian     pekerjaan. Lalu, didukung langka-langkah yang optimal untuk menggapai nilai, kesetiaan dan perilaku yang konsisten. Kekonsistenannya terlihat, jauh sebelum booming perantau membangun perpustakaan, dia bersama dengan RM Purba telah membangun perpustakaan di desanya, perpustakaan di SD Aek Lung, Dolok Sanggul. Dia berharap perpustakaan itu dimanfaatkan semaksimal mungkin, dan berpesan kepada anak-anak dari kampungnya agar suka membaca.

Bahkan, di awal-awal mendirikan perpustakaan tersebut, dia menekankan setiap anak yang bisa menulis satu paragraf dari setiap buku yang dibacanya akan mendapat hadiah, apalagi jika bisa merangkai tulisan atau membuat cerpen akan mendapat hadiah lebih. Hanya sayang semangat yang membara itu tak disambut dengan baik, perpustakaan ini tak terdengar lagi rimbanya, dan sampai hari tak pernah terdengar lagi seorang tokoh sekaliber Prof. Dr. Victor Purba SH, LLM Msc, atau seorang penulis yang menggeluti dunia perbukuan seperti harapannya dari kampungnya.

Padahal, Victor sudah berusaha untuk memotivasi anak-anak disana agar menulis. Tentu, untuk semangatnya itu, maka setiap liburan paskah dia pulang ke kampungnya bersama keluarga. Saat itu, selain dosen Fakultas Hukum UI dia duduk sebagai legal adviser perusahaan perkebunan milik orang Eropa di Sumatera Utara. Maka setiap pulang ke Aek Lung dia mendapat fasilitas kendaraan, dan yang membuat di mudah pulang ke Dolok Sanggul untuk memotivasi anak-anak agar gemar membaca buku.

Kecedikiaannya diapresiasi kalangan nasional, salah satu misalnya, dirinya tercatat sebagai nasasumber pada seminar nasional Penegakan Hukum. Seminar ini adalah seminar pembangunan hukum Nasional VIII yang diselenggarakan Badan Pembinanan Hukum Nasional Departemen Kehakimanan dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia di Kuta, Bali, 14 – 18 Juli 2003. Dia didaulat sebagai narasumber, membicarakan Pengembangan Berbagai Bentuk Koporasi kepada pelaku ekonomi di Indonesia.

Semasa hidupnya telah mencoba memberikan yang terbaik, dan meninggalkan makna yang terdalam, menggoreskan karya. Namun, pada Kamis 2 Agustus 2007, dia dipanggil keharibanNya. Tentu, bukan hanya keluarga besar Purba yang kehilangan, segenap civitas akademika Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI) juga berduka karena kehilangan salah satu guru besar terbaiknya. Prof Dr Victor Purba SH LLM MSc, pakar hukum ekonomi. Almarhum berpulang di Rumah Sakit Kanker Dharmais oleh karena penyakit kanker paru. (Hojot Marluga/diolah dari berbagai sumber)

Dr. Maruli Siahaan, SH, MH


maruli-siahaan-medansatu

Profil Lengkap

Nama Lengkap: AKBP Dr Maruli Siahaan, SH, MH

Lahir: Siborong-borong, 3 April 1961

Orangtua:

Istri:

Betty boru Simanjuntak

Anak:

  • Lettu (Inf) Jimson Andre Siahaan (27)
  • Lettu TNI Dedy Surya Putra Siahaan (26)/menantu Raramita Prapanca ANR Boru Simanjuntak
  • Triboy Alfin Siahaan (23)
  • Ferry Christanto Siahaan (19)

Pendidikan Formal:

  • Tahun 1987 gelar Sarjana Hukum  (S1) dari Fakultas Hukum Universitas Darma Agung (UDA), Medan
  • Tahun 2008 gelar Master Hukum (S2) dari Universitas Jaya Baya, Jakarta
  • Tahun 2014  gelar Doktor S3) bidang Administrasi Publik diraih dari Universitas Brawijaya, Malang

Karier:

  • Tahun 1982 masuk Bintara Polri dan merintis karir pada bidang Diskomlek Poldasu (6 tahun)
  • Tahun 1983 Dikjurba Komlek Bandung
  • Tahun 1986 Dikjurba Serse Bogor
  • Tahun 1988 bertugas di Polsek Deli Tua (6 bulan)
  • Tahun 1988 bertugas di Polsek Medan Baru (6 bulan)
  • Tahun 1989 Resum Poltabes Medan Sekitarnya (6 bulan)
  • Tahun 1990 Vice Control (VC) Poltabes Medan (8 bulan)
  • Tahun 1991 Sekolah Secapa Sukabumi angkatan ke-19
  • Tahun 1992 Kasubnit VC Poltabes Medan
  • Tahun 1993 Pjs Kanit VC Poltabes Medan
  • Tahun 1994 Perwira Dasar Serse
  • Tahun 1994 – 2000 Kanit VC Poltabes Medan.
  • Tahun 1998 Perwira Lanjutan Serse.
  • Tahun 2000 Kapolsek Teladan
  • Tahun 2001 Kapolsek Medan Baru
  • Tahun 2002 Pjs Kasat Reskrim Poltabes Medan
  • Tahun 2003 – 2005 Kasat Reskrim Poltabes Medan
  • Tahun 2005 – 2006 Kaur Min Korwas Bareskrim Mabes Polri
  • Tahun 2006 BKO ke Poso Polda Sulsel (4 bulan)
  • Awal 2007 Lemdiklat Bareskrim Polri (5 bulan)
  • Pertengahan 2007 pindah ke Polda NTT (Kabag Bindiklat)
  • Akhir 2007 Kasat I Direktorat Reserse Polda NTT
  • Tahun 2008 pindah ke Polda Jatim (Kanit Dit Narkoba)
  • Tahun 2009 meraih pangkat AKBP dan bertugas di Bidkum Polda Jatim
  • Tahun 2010 – 2014 Kasubdit Tipiter Krimsus Polda Jatim
  • Bulan Juni 2015-sekarang Wakil Direktur Krimsus Polda Sumut

Penghargaan:

Tahun 2003 menerima Satya Lencana Kesetiaan 8 tahun dari Kapolri

Tahun 2004 menerima Satya Lencana Kesetiaan 16 tahun dari Kapolri

Adagium menyebutkan, sebaik-baik seseorang adalah diri yang paling bermanfaat bagi orang lain. Bermanfaat untuk sesama, tentu kerinduan seluruh insan, hanya saja tak semua mau dan mampu mewujudkannya. Hanya orang-orang yang ihklaslah yang mampu menjalani dan mewujudkannya. Dampaknya sebagaimana filosofi di kehidupan “Apa yang ditabur itulah yang dituai. Kebaikan yang dilakukan akan kembali untuk kebaikan diri.” Rasanya, filosofi itulah yang dianut dan dijalani AKBP Dr Maruli Siahaan SH MH, 55 tahun.

Wakil Direktur Krimsus Polda Sumatera Utara ini, di tengah-tengah kesibukan menunaikan tugas negara, dia tak pernah melupakan tanggung jawabnya sebagai seorang ayah, bahkan bermanfaat untuk orang lain. “Saya selalu menomorsatukan keluarga dan tugas. Tak pernah menomorduakan keduanya apalagi mengabaikan. Lebih dari itu, kita berusaha membantu oranglain.” Baginya itu semua bisa disiasati dengan memprioritaskan yang utama.

Sebagai pejabat polisi di Polda Sumut, tugasnya tak boleh dilakoni setengah hati. “Meniti karier dan memberhasilkan anak adalah keseimbangan.” Dirinya bukan tipe orang yang memotivasi orang lain, sebelum memiliki contoh yang kokoh di keluarganya. Semangatnya menjadi teladan menjadi seorang pembelajar diperlihatkannya dengan antusias menjadi polisi yang haus ilmu. Maruli tak puas hanya menjadi sarjana, bahkan studi ke tingkat doktoral juga digapainya.

“Soal mendidikan anak-anaknya dengan disiplin, gigih, tekun dan keteladan itu pendting.” Maruli dikarunia Tuhan empat putra dari pernikahannya dengan istri terkasih, Betty boru Simanjuntak. Sendari kecil, keempat anaknya dididik dengan disiplin dengan nilai-nilai agama dan budaya. “Sebagai seorang Kristen dan seorang Batak yang otentik. Tentu, sebagai ayah saya menyadari peran ayah, tetapi itu juga diperkukuh didikan dari istri,” ujarnya memuji istrinya, sebagai seorang perempuan yang berhasil mendidikan buah hatinya. “Istri saya ibu yang lembut, tetapi tegas jikalau sudah mengajari anak. Bahkan akan terlihat cerewet.”

Empat jagoan

Dalam tuntutan tugas berdinas, dia mengaku tetap konsisten menanyakan keadaan dan keberadaan keempat anaknya, meski hanya melalui handphone, perhatiannya untuk anaknya tak pernah lupa dilakukan. Baginya, membesarkan anak tak cukup dengan menyekolahkan dan memberinya kebutuhan fisik saja, tetapi juga bagaimana membangun sikap mental, karakter budi baik. Menurutnya, komunikasi dengan anak secara intensif diperlukan agar memahami hubungan perasaan. “Agar jangan nanti setelah besar lulus sekolah, sulit bagi orangtua mengajaknya bicara. Malah bertanya-tanya, mengapa komunikasi dengan anak makin sulit dilakukan? Padahal orangtua selama ini tak membangun komunikasi dengan baik.”

Dia menambahkan, “Jadi, yang saya lakukan hanyalah mendampingi ibunya, istri yang lebih banyak membimbing keempatnya. Sementara untuk memantu aktivitas mereka? “Saya mengkordinasikan silang, mencek keberadaan mereka. Misalnya si adik bertanya abangnya, dan abangnya menanyakan keberadaan adiknya. Disana terjadi komunikasi dan kesalingpedulian antara kakak dan adik.”

Lalu, bagaimana mereka ketika remaja, menjelang akil balig. Sebab kerap di masa itulah anak kerap perlu pembimbingan lebih? “Masa remaja mereka diberikan kebebasan bertumbuh. Tentu dikontrol. Namun sifat mengontrolnya berkomunikasi. Contoh lain, soal proses belajar di rumah, anak-anaknya harus saling mengingatkan untuk belajar mandiri. Jika ingin ada extra belajar, misalnya bahasa Inggris harus dileskan, iya kita leskan,” ujar penerima dua kali Satya Lencana Kesetiaan dari Kapolri ini.

Satu rahasia yang dilakukannya menjadikan dirinya sahabat anak-anaknya. “Saya selalu menempatkan anak-anak ini menjadi teman. Mereka itu adalah teman-teman saya. Misalnya, kita orangtua harus juga jeli untuk mengembangkan sikap mental anak-anak kita. Jangan kita tanya anak kita mereka bilang lagi belajar. Padahal, kita juga tak perhatian bahwa mereka bukannya belajar tetapi malah bermain di kamar. Kalau merasa teman akan terbuka.”

Selanjutnya, setelah anak-anaknya lulus ditingkat sekolah menengah atas, Maruli sebagai ayah mengarahkan keempatnya menemukan passion, panggilan jiwanya untuk masa depan masing-masing. “Saya tanya mereka, kalau sudah di SMU. Apa cita-citamu nak? Saya tak paksakan mereka untuk menjadi angkatan, tentara atau polisi. Tetapi, entah mengapa sejak anak pertama ikut akademi perwira, ketiga adiknya juga mengikut,” ujarnya. Tentu, untuk pilihan itu, sebagai ayah dirinya tak memaksa. Merekalah yang membuat pilihan. Sebagai orangtua yang telah banyak makan asam garam di kehidupan, Maruli hanya memberi arahan apa-apa yang perlu disiapkan untuk persiapan mengikuti pendidikan di Akmil atau Akpol.

Tentu, selain latihan fisik dan mental juga pendidikan yang mumpuni di pengetahuan umum dan sains. Maka, begitu anak pertama ingin melanjutkan ke Akmil, dilakukan cek fisik. Apa-apa yang kurang bekal untuk dimiliki untuk mempersiapkan diri melamar. Tentu kalau ditemukan kekurangan masalah dalam fisik, maka perlu digembleng, Maruli menyuruh orang untuk pengemblengan fisik anaknya. Begitu seterusnya. Pun anaknya nomor dua sendiri agak berbeda, karena dia sendiri yang langsung melamar.

Anak ketiga masuk ke Akpol dan keempat masuk ke Akmil Angkatan Laut. Anak bungsunya malah sebelumnya sudah mendaftar, lalu kalah, masuk ke Universitas Sumatera Utara, kemudian tahun depannya mendaftar lagi. Sebagai ayah tentu dia dan istri merasakan kebanggaan tersendiri. Tak berhenti bersyukur dan memberi nasihat dan selalu memotivasi anak-anaknya agar mereka jangan menyiayikan kesempatan pendidikan yang mereka terima. “Saya selalu katakan, saya sendiri tidak diterima di pendidikan perwira. Kalian diterima di pendidikan akademi perwira, maka kalian harus jadi lebih baik dari bapak. Harapan bapak kalian kelak bisa jadi jenderal,” harapnya.

Saat ini, putera sulungnya Lettu (Inf) Jimson Andre Siahaan (27) baru selesai menjalankan misi militer di Sudan dan bertugas di Poso. Sementara, adiknya Lettu TNI Dedy Surya Putra Siahaan (26) bertugas sebagai Kasub Provoost Wirasaba (TNI AU). Putera ketiganya Triboy Alfin Siahaan (23) lulus Taruna Akpol, serta dijadwalkan menyandang pangkat Inspektur Polisi Dua (Ipda) pada akhir Juli 2016 akhir. Sementara, anak sibungsu Ferry Christanto Siahaan (19), masih mengikuti pendidikan di Akmil Angkatan Laut (AAL).

Selain itu, tatkala keras pesannya adalah, sikap hormat pada yang lebih tua. “Tunjukkan sikapmu yang baik. Rendah hati. Jangan kalian kalau sudah lulus perwira, lalu ketika ketemu kopral di lapangan, kalian tak hormat. Hormatilah oranglain dari umurnya, bukan dari pangkat atau gelar pendidikannya,” demikian nasihat kepada keempatnya. Kini, kemana pun keempat anaknya bertugas, pesan bapaknya selalu tergiang-giang. “Menghormati oranglain bukan dari pangkat atau titelnya.” Maruli menyadari betul makna ungkaoan Batak Anakkon Ki Do Hamoraon di Ahu. Anak sebagai kekayaan baginya. “Berkat Tuhan melengkapi saya dan isteri dengan pencapaian yang anak- anak kami dapat,” ujarnya.

Keempatnya didik bukan karena pemaksaan darinya, mereka menjadi perwira. Tetapi, sebagai orangtua selalu dengan sabar mendidik keempat jagoaanya dengan kasih dan keteladan. “Sejak kecil kami didik mereka dengan kasih. Mengajarkan teladan sebagai orangtua. Kami tak mendidik mereka dengan uang dan kemewahan. Kami mendidik mental dan sikap dalam menjalani hidup,” tambahnya.

Kini, anak kedua sudah menikah. Pada pernikahan anaknya itu terlihatlah kecedikiaannya membangun relasi, termasuk pada seniornya hadir di perhelatan itu.  Saat itu, hadir Kapolri Jenderal Pol Badrodin Haiti pada pernikahan anaknya Lettu Pom Deddy Surya Putra Siahaan S.St. Han, putra keduanya yang dilangsungkan, di Gereja HKBP Sei Agul, Sabtu (19/12/16) dan resepsi pernikahan di Hotel Tiara.

Tak hanya Kapolri, resepsi itu juga dihadiri puluhan jenderal, teman-teman dekatnya seperti mantan Kapolri Timor Pradopo, Komjen Pol Sopjan Jacoeb, Kapoldasu Irjen Pol Ngadino, Komjen Pol Ismerda Lebang, Irjen Pol Wagner Damanik, Irjen Pol Primanto, Mayjend TNI Fransen Siahaan dan beberapa jenderal dan para purnawirawan lainnya. Selain itu, sejumlah pejabat juga turut hadiri antara lain anggota DPR RI Trimedia Panjaitan, Gubsu HT Erry Nuradi. Hal ini menandakan bahwa Maruli lekat di hati banyak orang. Itu juga sebab banyak harapan dari tokoh dan komunitas Sumatera Utara memintanya mencalokan diri menjadi gubernur.

Setiap melangkah berdoa

Modalnya, setiap langkah didahulukan dengan doa. Dia tahu benar kuasa doa. Masih bening dalam benak pria kelahiran Sibrorongborong 3 April 1961 ini, kerap diajarkan kedua orangtuanya; Marden Siahaan dan N br Sihombing (keduanya sudah almarhum) untuk rajin ke gereja dan membaca firman, dan tak jemu-jemunya berdoa, kenang anak keenam dari sembilan bersaudara itu.

Masa-masa kecil penuh kenangan dilaluinya di daerah itu. “Saya sekolah di SD Lobu Siregar dan ST Siborongborong. Orangtua saya hanyalah petani,” kenangnya. “Jadi seluruhnya hanyalah karena anugerah Tuhan.” Dari anak-anak hingga remaja dilaluinya di tempat kelahiran. Tahun 1979, Maruli baru hijrah ke Kota Medan dengan melanjutkan jenjang pendidikan ke sekolah kejuruan STM Negeri II, lulus sekolah dirinya menguji peruntungan. Lalu mendaftar masuk ke Sekolah Calon Bintara (Secaba) Polri. Tuhan mengabulkan doanya, dia lulus dan tahun 1982 mulai berkarir di kepolisian dengan atribut dibahunya, bengkok kuning satu, pangkat Sersan Dua (Serda).

Dia menambahkan, sebagai seorang Kristen menyadari betul kekuatan doa. “Tak ada pekerjaan saya mulai jika tak didahului doa. Kita tentu bekerja dengan kerja keras, tetapi kerja keras kita tak berhasil jika tak ada doa di sana. Doa adalah kekuatan kita. Tanpa doa kita tak kuat menjalani pekerjaan kita. Saya selalu juga ajarkan itu kepada keluarga, kepada anak.”

Bertandang ke kantornya, akan terlihat spirit itu. Di atas mejanya tersusun buku-buku rohani. Maruli mengakui membaca buku-buku rohani itu tentu mengajarkannya betapa buku itu membebat pikirannya untuk terus bertumbuh. Ritmenya; bangun pagi berdoa dulu, saya sendiri sesampainya di kantor tak pernah mengerjakan pekerjaan di kantor sebelum terlebih dahulu berdoa. “Minimanl sepuluh menit pertama itu yang saya lalukan adalah berdoa terlebih dahulu. Demikian juga sebelum sampai di rumah juga pulang dari kanor juga saya berdoa.”

Dan tak lupa untuk membaca dan merenungkan firman Tuhan. Selain itu, untuk menjaga pikiran tetap bening adalah selalu menyempatkan ke toko buku untuk melihat buku-buku yang bisa memberikan bekal rohani untuk mentalnya. Sebagai pemimpin tentu dia butuh banyak pemahaman yang lebih segar tentang iman Kristen.

Ompu Roganda

“Saya melihat betapa perlu menjaga hubungan persaudaran dan kekeluargaan. Di dalam keluarga besar saya juga saya terapkan hal ini. Harus menjadi pembawa damai. Juru damai. Saya menyaksikan banyak keluarga hancur karena tak menjaga hubungan persaudaraan. Banyak hubungan persaudaran karena merebut harta warisan. Kami dalam keluarga besar menerapkan bahwa hubungan keluarga besar itu harus saling membantu. Saya sebagai aktif  di kepolisian, tentu beberapa keluarga anak abang dan dari anak kakak saya, tentu membuka jalan untuk mereka mengabdi di kepolisian.”

Keluarga besar Ompu Roganda ini didorong untuk selalu mengutamakan pendidikan. “Saya sendiri sebagai seorang polisi tak berhenti belajar. Malah sekarang anak-anaknya dan seluruh anak abang kakaknya sudah pada mandiri. Bahkan, beberapa mereka beruntung bisa mendapat beasiswa dari luar negeri,” harapnya. “Tetapi lebih dari itu, hubungan keluarga ini dibangun dari militansi saling memperhatikan.”

Lalu bagaimana caranya? “Misalnya, kami dengan keluarga selalu membangun komunikasi. Jarak tak menghalangi komunikasi. Misalnya, ada group Whatshaap, disana kami saling menyapa, memberi kabar dan saling berbagi dan menguatkan. Kemudian, pada setiap tahun di bulan Desember, kami mengadakan Natal keluarga yang digilir. Misalnya, kalau saya yang menjadi tuan rumah, maka seluruh keluarga besar dari keturunan orangtua Ompu Roganda, baik cucu-cucunya hadir di rumah saya. Di sana kami selain mengadakan kebaktian juga saling menyapa. Dan itu diadakan bergilir setiap tahunnya.”

Saat ini, mereka sudah tersebar di berbagai wilayah, termasuk di Papua. Maruli selalu konsisten dengan belajar pada sosok Ompu Roganda, kedua orangtuanya. “Sosok orangtua yang bersahaja. Ayah seorang petani, demikian juga ibu. Tetapi walau pun ibunya buta huruf, namun jika menghitung duit jago sekali,” ujarnya tertawa. “Ayah seorang petani, demikian juga ibu. Tetapi ketauladan mereka sebagai orangtua adalah sosok memiliki daya juang untuk kemajuan anak-anaknya. Semangatnya untuk memberangkatkan sekolah, tak kepalang besarnya. Walau cita-citanya sebenarnya tak terlalu tinggi, bagaimana anak-anaknya bisa sekolah sampai SMA.”

Ompu Roganda ini yang dalam bahasa Batak diartikan nenek yang kedatangan berkah. “Manakala ada keluarga yang kesulitan untuk membiayai uang sekolah, apalagi keluarga itu sudah meminta bantuan dari dirinya, maka orangtua ini akan dengan rela meminjamkan padinya, beberapa kaleng untuk meringankan beban tentangga atau kelaurga yang meminjam,” kenangnya. “Saya terbiasa melihat orangtua meminjamkan padi pada keluarga di kampung jika ada yang membutuhkan bantuannya oleh kesulitan keuangan. Orangtua tak hanya memikirkan dirinya dan anak-anaknya, tetapi orang lain juga. Barangkali itulah yang membuat keluarga besar kita diberkati Tuhan,” akunya.

Maruli meniru kebaikan yang diterapkan orangtuanya. Sesungguhnya, tak hanya keluarga besar saja yang diperhatikan olehnya. Termasuk peduli pada kampung halaman. Di kampungnya Balembalo, Lobu Siregar, Kabupaten Tapanuli Utara, dia juga telah berbuat. “Kami sudah gelar beberapa kali acara. Termasuk reuni SD di Lobu Siregar. Termasuk memberi beasiswa dan menyumbang komputer.”

Membekali generasi Siahaan

Kepedulian, perhatian dan sikap suka menolongnya selama ini tak akan pernah pudar dari batinnya. Selain perhatiannya terhadap kampung halaman, juga perhatian untuk marganya, Siahaan. Maruli selalu mengingatkan generasi muda Siahaan sebagai penerus harus terus berjibaku menjadi generasi yang handal.

Dia selalu memberikan kesempatan untuk saudara-saudara semarganya. “Saya selalu memberikan kesempatan untuk saudara-saudara saya Siahaan untuk memberikan semacam contoh keluarga. Tentu, bukan membangga-banggakan tetapi menggambarkan untuk saudara saya Siahaan betapa perlu juga orangtua itu menjadi teladan.”

“Sebisa mungkin saya selalu aktif di pegurusan Siahaan. Setiap ada pertemuan, saya selalu katakan bahwa apa pun yang kami bicarakan untuk marga ke depan tak boleh melupakan generasi muda,” ujar Ketua Umum Panitia Ziarah Nasional. Tahun lalu, dalam rangka Ziarah Nasional Parsadaan Pomparan Somba Debata (PPSD) Boru bere dan Ibebere se-Indonesia yang akan berlangsung di Dolok Na Jagar Kecamatan Balige, Kabupaten Toba Samosir pada 8-9 Agustus 2015. AKBP Dr Maruli Siahaan SH MH, didaulat menjadi ketua umum Panitia Ziarah Nasional. Menurutnya, Ziarah Nasional PPSD ini merupakan wujud rasa hormat kepada para orangtua dan leluhur marga Siahaan yang telah mewariskan keteladanan dan berbagai prinsip kebajikan.

Kegiatan lain diwarnai dengan menggelar bakti sosial berupa pembagian kaos ziarah nasional dan pemberian bibit serta penanaman pohon yang pada puncak acara pada 9 Agustus 2015 diawali dengan acara kebaktian. Sebagai ketua panitia juga dia tak lupa mengundang Tulang Lubis dan boru: Rajagukguk dan Siburian. Puncak acara manortor dan pemberian ulos serta pemberian bantuan dana kepada pelajar berprestasi beasiswa keturunan Pomparan Somba Debata.

Maruli menambahkan, yang paling penting dari ziarah ini adalah memberikan edukasi dan pembinaan terhadap generasi muda Somba Debata Siahaan. “Ziarah ini adalah wadah menjalin tali kasih persaudaraan sesama keturunan dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan saat itu hadir dari luar negeri.”

Takkala menarik, Ziarah Nasional itu juga diresmikan situs, Sopo Panisioan Somba Debata. Dilanjutkan seminar sehari dengan narasumber para pejabat dan intelektual dari marga Siahaan di antaranya; Prof Dr Hotman Siahaan Guru Besar di Departemen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga.

Bahkan, Mayjend TNI Fransen Siahaan, berkarier di Komando Strategis Cadangan Angkatan Darat (Kostrad) Pangdam XVII Cendrawasih-Papua, Dr Ir Bisuk Siahaan, tokoh dibalik proyek Asahan, Dr Nommy HT Siahaan SH MH, Ketua Pengadilan Tinggi Jawa Tengah dan Utama Siahaan, seorang motivator, Managing Partner of Kernel Resources. Seminar sehari itu diharapkan bisa meningkatkan sumber daya manusia (SDM) generasi muda Siahaan tentang paradaton, kewirausahaan (entrepreneur), perekonomian dan bahaya Narkoba.

Dirinya telah banyak berbuat. Bukan hanya untuk dirinya tetapi juga untuk oranglain. Tetapi sampai sekarang tak berhenti mengabdi. Harapannya ke depan jika Tuhan masih memberikan kesempatan, dirinya ingin mengabdi lebih besar lagi untuk masyarakat. “Saya selalu berdoa kepada Tuhan agar diberi kesehatan, keharmonisan keluarga serta kebijakan menjalankan pengabdian tugas untuk masyarakat lebih luas lagi.”

Ditanya apa rahasianya menjankan itu semuanya? “Saya hanya belajar menyenangi pekerjaan,” ujarnya antusias. Baginya, jika kita menyukai pekerjaan yang kita kerjakan, tentu akan mudah melaksanakannya. Pesannya untuk itu, bersikaplah menyukai dan menikmati pekerjaan. “Jangan pernah menunda apa yang bisa dikerjakan hari ini untuk dikerjakan besok. Dan kerjakan tugas dengan mengandalkan Tuhan, lakukan dengan maksimal. Niscaya akan berhasil,” ujarnya memberi rahasia.

Jonro I. Munthe, S.Sos


Memotivasi Tokoh-tokoh Kristiani Melalui NARWASTU

Bernama lengkap Jonro Inranto Munthe. Pria Batak kelahiran Dolok Sanggul, Sumatera Utara, 6 April 1973 di kalangan gereja dan tokoh gereja sosok yang kenal konsisten memberitakan berita Nasrani. Pemimpin Umum dan Pemimpin Redaksi Majalah Kristiani NARWASTU dan salah satu pendiri Persekutuan Wartawan Media Kristiani Indonesia (PERWAMKI). Jonro I. Munthe, S.Sos yang, selama ini dikenal sosok jurnalis Kristiani yang aktif, dinamis, cerdas dan berprestasi.

Tak hanya jurnalis, ia kerap diundang sebagai moderator dan pembicara di berbagai diskusi dan seminar. Ia tak hanya diundang oleh gereja atau ormas Kristiani untuk memberikan pemikiran-pemikirannya seputar ilmu jurnalistik, tapi juga soal keadaan sosial, gereja, kemasyarakatan dan politik. Lulusan Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta, yang pernah dipercaya sebagai salah satu Ketua DPP Partai Demokrasi Kasih Bangsa (PDKB) ini sejak mahasiswa pun kerap diminta tampil di acara debat mahasiswa dan diskusi.

Selain itu, mantan Ketua Litbang DPP PROJUSTISIA (Persekutuan Oikoumene Jurnalis Kristiani Indonesia) ini tak jarang tampil jadi narasumber di Radio Pelita Kasih (RPK) 96,30 FM untuk topik-topik seputar gereja, sosial dan politik. Mantan Ketua Umum Pemuda Katolik dan Wakil Sekjen DPP Partai Hanura, Natalis Situmorang pernah mengatakan, tak bisa dipungkiri, Jonro Munthe adalah salah satu tokoh muda Kristiani yang patut diperhitungkan karena kiprahnya di media.

Pasalnya, kata Natalis, Jonro pula yang pertama kali menggagas pemberian award (penghargaan) setiap akhir tahun terhadap tokoh-tokoh Kristiani yang berkarya di tengah gereja, masyarakat dan bangsa. Pemberian award itu sudah ia lakukan di majalah yang dipimpinnya sejak 1999 lalu.

Setiap majalahnya menggelar acara ibadah Natal dan tahun baru, jangan heran kalau banyak tokoh dari berbagai latar belakang atau politisi Kristen hadir. Soalnya, majalah yang dipimpinnya memang cukup populer di kalangan warga gereja. Tak heran, kalau ia diidentikkan sebagai ikon media Kristiani, khususnya NARWASTU. Selain itu, majalahnya kerap mengadakan diskusi bersama tokoh-tokoh Kristiani. Diskusi itu digelar Forum Diskusi Daniel Indonesia (FDDI), yang di dalamnya ada penasihat Majalah NARWASTU berlatar belakang pemimpin gereja, politisi, pengacara, pengusaha, mantan anggota DPR dan jenderal purnawirawan.

Jonro mengatakan, melalui diskusi FDDI yang mereka adakan ia berharap para tokoh muda punya semangat untuk memikirkan persoalan masyarakat dan kebangsaan. “Melalui diskusi FDDI kami ingin mengajak sahabat-sahabat kaum muda peduli pada persoalan gereja, masyarakat dan bangsa ini. FDDI terbentuk pada awal 2010 setelah melihat banyak caleg muda Kristen yang rontok, lalu tidak tahu berbuat apa lagi. Akhirnya kita ajak mereka berdiskusi bersama tokoh-tokoh senior untuk memberikan motivasi dan bekal,” terangnya.

Tokoh seperti Jakob Tobing, Sabam Sirait, Pdt. A.A. Yewangoe. Dr. J. Kristiadi, Dr. Tjipta Lesmana, Maruarar Sirait, Basuki Tjahaya Purnama (Ahok), Martin Hutabarat, Gregorius Seto Harianto, Jakobus Mayong Padang, Prof. Irzan Tanjung dan Jhonny Nelson Simanjuntak sudah pernah diundang bicara di FDDI. ”Kita undang tokoh-tokoh senior yang kita anggap bisa memberi bekal dan bisa memberikan motivasi kepada kami kaum muda lewat sebuah diskusi interaktif,” papar Jonro yang masih berkeinginan menambah bekal ilmu, yakni ingin kuliah ilmu hukum dan memperdalam pengetahuan bahasa Inggris.

Lantaran dikenal “jurnalis plus” pada akhir 2009 lalu, Jonro mendapat predikat atau award  dari Majelis Pers Indonesia (MPI) sebagai “Jurnalis Muda Motivator” yang diterimanya di Gedung Dewan Pers, Jakarta. Ayah tiga anak ini sejak mahasiswa sudah aktif dalam dunia jurnalistik. Di samping itu, saat mahasiswa suami dari Faridawati Rajagukguk ini giat melatih olahraga beladiri di kampusnya. Sejumlah prestasi diraihnya, ia pernah mengikuti kejuaraan silat antarmahasiswa se-ASEAN, dan pada Oktober 1993 berhasil meraih medali emas di kejuaraan silat antarmaster se-Jabodetabek. Ia pun pernah meraih juara II dalam sanyembara penulisan artikel Kristiani pada 1997 yang diadakan majalah Kabar Baik.

Semasa mahasiswa Jonro yang beribadah di Gereja GPIB Harapan Indah, Kota Bekasi, Jawa Barat, pernah menjadi kolumnis di Majalah Bona Ni Pinasa, media orang Sumut terbesar yang terbit di Jakarta. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di sejumlah media nasional, termasuk tabloid Mutiara, yang kini tak terbit lagi. Lantaran tulisannya yang dimuat di Mutiara pernah mengkritik penguasa kala itu yang memihak pada PDI Soerjadi pada Juli 1996 lalu, ia pun dipanggil petinggi kampusnya agar jangan “melawan arus”, karena saat itu kekuasan Orde Baru sangat represif.  Gara-gara tulisannya yang kritis tentang isu tukang santet yang dimuat di Bona Ni Pinasa pada 1996 lalu, ia sampai didatangi sejumlah pemuka adat dari sebuah kampung di Tapanuli Utara ke Jakarta untuk meminta klarifikasi.

 “Sebagai jurnalis Kristen kita harus terus menyuarakan kabar baik. Kabar baik adalah suara kenabian, keadilan, kebenaran dan kesejahteraan,” ujar pria yang sudah menulis tiga buku ini. Bagi Jonro, hidup ini harus bermakna bagi sesama. “Meskipun kita sibuk berkarier, tapi persoalan kemasyarakatan, gereja dan bangsa perlu kita bahas untuk dicari solusinya. Sekecil apapun peran yang kita lakukan, itu perlu untuk kebaikan sesama. Hidup ini, kata Yesus, harus bermakna. Melalui media Kristiani pun kita punya peran yang tidak kecil untuk membangun masyarakat dan bangsa ini,” ujar Sekretaris Umum Keluarga Besar Perhimpunan Ompu Solonggahon Munthe, Boru dan Bere se-Jabodetabek.

Menurut Jonro, sejak tamat SMP pada 1988 ia sudah hobi menulis. Lalu pada 1992 saat mulai kuliah tulisan-tulisannya mulai dimuat di beberapa media, dan honorariumnya bisa membantu uang kuliahnya. Pada 1994 ia ditawari Pak Tom Gultom (almarhum), pimpinan Majalah Bona Ni Pinasa untuk bergabung, tapi ia memilih bekerja part time, karena ia masih kuliah. Tahun 1996 ia  magang di tabloid Mutiara yang dipimpin Pak Moxa Nadeak (almarhum), tokoh pers yang cukup vokal. “Saya banyak belajar dari Pak Moxa selama magang,” ujarnya.

Tahun 1997 saat masih mahasiswa ia sudah bergabung di Majalah NARWASTU, karena diajak Dr. Victor Silaen (almarhum), kini dosen Universitas Pelita Harapan, yang saat itu pemimpin redaksinya. Tapi karena ada dinamika sampai dua kali karena persoalan manajemen, maka kepemimpinan di media ini berubah, tapi tetap NARWASTU punya ciri khas sendiri sebagai media Kristiani alternatif. Artinya, media ini tidak hanya berbicara tentang doa, khotbah pendeta atau doktrin-doktrin Alkitab.

“Tapi, kami pun membahas fenomena yang ada itu dari sudut atau nilai-nilai Kristiani, baik itu masalah politik, sosial, hukum, budaya, pendidikan, teknologi maupun lingkungan hidup,” tukas Jonro Munthe yang pernah juga menerbitkan media komunikasi internal di Keluarga Besar Punguan Ompu Banua Munthe, Boru, Bere dan Ibebere se-Jabodetabek, dan disebarluaskan pada keluarga Munthe yang ada di berbagai kota di Tanah Air. Media komunikasi berupa buletin bernama Bona Ni Onan itu dimaksudkan sebagai media berkomunikasi, dan sajiannya seputar informasi berita keluarga, tulisan kesehatan, kerohanian, pengetahuan adat dan budaya serta pengenalan bahasa batak plus umpasanya beserta maknanya.

“Saya masih harus banyak belajar untuk memimpin media cetak seperti Majalah NARWASTU. Terus terang, saya kagum dengan perjuangan Goenawan Muhammad yang mendirikan Tempo, Surya Paloh yang bisa membesarkan Media Indonesia dan Metro TV, Jacob Utama yang membesarkan Kompas. Mereka bisa jadi sumber inspirasi untuk membangun media. Mereka sudah mengalami pahit getirnya membangun media,” tukas Jonro yang pernah diundang Kantor Kementerian Polhukam RI pada 2011 berbicara di dalam sebuah diskusi terbatas mengenai eksistensi media Kristen di dalam perannya untuk ikut serta membangun gereja, masyarakat dan bangsa.

Bahkan, Asisten Deputi VII Menkopolhukam RI Brigjen TNI Harsanto Adi bersama Kepala Bidang Humas Kementerian Polhukam dan Kepala Bidang Media Cetak Kementerian Polhukam pada awal 2013 lalu mendatangi kantor NARWASTU guna mengajak majalah yang dipimpinnya bekerjasama untuk mengadakan sebuah acara diskusi bersama media-media berbasis agama. Dan hingga kini Jonro tak berhenti menggelar diskusi yang mempertemukan tokoh-tokoh Kristiani.

Dan kini bersama tokoh-tokoh Kristiani pilihan NARWASTU yang tergabung di FORKOM NARWASTU (Forum Komunikasi Tokoh-tokoh Kristiani Pilihan NARWASTU), yang di dalamnya ada jenderal purnawirawan, advokat/pengacara senior, akademisi, mantan anggota DPR-RI, profesional, pengusaha, pimpinan ormas, pimpinan parpol, anggota dewan, pemuka masyarakat dan pimpinan sinode, ia tak pernah lelah menggelar diskusi untuk menyikapi persoalan di tengah negeri ini. Misalnya, mereka sudah menyikapi bahaya narkoba, bahaya korupsi, terorisme dan persoalan kebangsaan.

Hasil diskusi itu, tak hanya dibahas atau dirumuskan solusinya bersama tokoh-tokoh, namun juga dipublikasikan di Majalah NARWASTU, media-media Kristiani lainnya, bahkan didiskusikan di radio rohani. Kemudian diharapkan hasil diskusi itu dibaca para tokoh bangsa, eksekutif, legislatif, yudikatif, ormas agama, dan media massa agar diketahui dan bisa ditindaklanjuti demi kesejahteraan dan kedamaian di tengah masyarakat dan bangsa.

Baginya, hidup ini sarat dengan pergumulan dan tantangan, dan orang Kristen punya panggilan juga untuk memberikan sesuatu yang bermanfaat untuk bangsa dan negara ini, sesuai dengan tugas panggilannya. Orang Kristen mesti bisa menjaga garam” mencegah pembusukan, dan menjadi terang: menerangi kegelapan. Di situlah manusia itu berarti dan bisa menjadi berkat bagi sesama.

 

 

Pdt. Daniel T.A. Harahap, M.Th


 

Berjuang untuk Kesejahteraan Pelayan HKBP

Pdt. Daniel T.A. Harahap, M.ThNama lengkapnya Daniel Taruli Asi Harahap, nama tentu penuh arti. Bisa diartikan: kebagian belas kasih. Umumnya jemaat Gereja HKBP memanggilnya, amang (bapak) DTA. Tentu, ada juga menyapanya Dani. Pria kelahiran Sei Merah, Medan, pada 26 Agustus 1963 ini adalah anak kelima dari enam bersaudara.

Masa kecilnya dilewatkannya penuh kebahagiaan. “Usia empat tahun saya punya pesawat mainan KLM yang digerakkan oleh batere, kelap-kelip lampu dan bunyi raungannya membanggakan sekali. Saya juga punya banyak mainan mobil-mobilan besi. Saya sering dibelikan blok-blok kayu. Ulang tahunku pernah dirayakan di restoran Tiptop, yang masa itu tempat sisa-sisa Belanda dan Tionghoa kaya Medan berkumpul. Itu masa-masa sangat indah,” kenangnya memulai perbincangan.

Sejak kecil selalu fokus pada kesukaannya. “Saya lebih suka main sendiri atau bersama saudara-saudaraku di rumah, membuat kapal-kapalan dan pesawat-pesawat kertas, kereta kelos benang yang bisa jalan mendaki, telepon kotak korek api, dan atau paling sering kulakukan mengumpulkan belalang, kotak-kotak rokok bekas, mengacak-acak sarang semut, memancing undur-undur di debu atau ikan gobi di parit pake seutas benang. Kadang aku bermain jual-jualan dan masak-masakan dengan anak-anak perempuan. Kadang aku sendirian saja mengumpulkan biji-biji flamboyan,” tambahnya.

Ayahnya bernama Aminuddin Harahap, dulunya seorang staf asosiasi perusahaan perkebunan di Medan. Sedangkan ibunya, Sereuli boru Hutabarat adalah perempuan yang teguh pendirian. Karakter ibundanya, berkebalikan dengan ayahnya. “Ibu seorang perempuan tangguh kelahiran Tebing Tinggi, daerah Deli. Saat perang berkecamuk ibu yang bermarga asal lembah Silindung ikut mengungsi. Tetapi ibu dibesarkan di daerah Toba Holbung, persisnya di Lumban Bagasan, Kecamatan Laguboti,” jelasnya.

Alih-alih berbeda dengan ayahnya, ibunya suka “berkelahi” dan bertengkar terang-terangan, berjuang, apalagi jika menyangkut hak dan kebenaran. “Ya, berbeda dengan kami-kami orang Batak dari Selatan, ibu tak akan segan-segan menuntut haknya, namun sebaliknya dia sangat jujur. Bahkan, baginya kejujuran adalah segalanya, melebihi pentingnya ritus doa. Jauh mengalahkan ambisi pemilikan materi,” paparnya.

 

Sosok Batak Sejati

Menurutnya, dari ibu yang mengajarkan menjadi Batak yang sejati, termasuk mengajarkan soal prinsip. Dalam soal adat Batak, ibunya boru Hutabarat jelas-jelas punya pendirian, logika dan nurani. Bagi ibunya, adat bukan sekadar soal kebiasaan apalagi latah-latahan. Adat adalah prinsip berhubungan dengan sesama berdasarkan hormat, kejujuran, dan rasa sayang.

Itulah yang membuat dia sering membangkang atas hal-hal yang dianggapnya tak benar dalam kebatakan. “Ibu akan marah jika ephorus atau pendeta mau diulosi. Baginya, itu penghinaan. Ulos tak pernah datang dari bawah alasannya. Ikan mas harus dibungkus apik dalam tandok dan dijunjung di kepala, bukan dibiarkan telanjang dipamer-pamerkan,” tambah Daniel.

dta-hojot-2.JPGBeranjak dewasa, tahun 1982, dia ke Jakarta dan bermukim di daerah Pulomas, Jakarta Timur. Di Pulomas itulah, menurutnya, dia bisa berbahasa Batak. Sebab di Medan tak bisa, walau lahir di Medan tak lincah berbahasa Batak. “Maklumlah di Medan waktu itu, jarang ada orang berbahasa Batak. Saya bisa mengerti namun tak mampu lancar mengungkapkan. Tentu saya sangat iri kepada kemampuan kawan-kawanku di Pulomas bisa berbahasa Batak,” terang pendeta yang dikenal gaul ini.

Sejak ke Jakarta untuk kuliah di STT Jakarta, di Pulomas dia sering mendengar naposo bulung (pemuda) HKBP Pulomas berbahasa Batak, dia kemudian malu hati. Dan sejak itu berniat ingin belajar bahasa Batak. Pulomas yang kerap diidentikkan kampung orang Batak. Di sanalah dia belajar bahasa Batak hingga lulus dari STT Jakarta. “Sejak di Pulomas saya benar-benar belajar bahasa Batak. Apalagi setelah mengikuti vikaris dan kemudian ditahbiskan dan ditempatkan menjadi pelayan di Sibolga Julu. Mau tidak mau saya mesti belajar bahasa Batak,” cetusnya.

 

Anak Tukik

Pdt. Daniel menyebut dirinya bak anak tukik yang belajar menggapai lautan di kehidupan. Maksudnya, dia menetapkan diri menjadi manusia pembelajar di universitas kehidupan. Dia seorang pendeta pembelajar. Termasuk ketika internet baru hadir di negeri ini, dia sudah getol belajar dan berselancar di media sosial di awal-awal Friendster, sebuah situs permainan sosial.

Tatkala belum ada pendeta HKBP yang memiliki blog pribadi, dia sudah terlebih dahulu aktif membuat renungan di weblognya. Dalam bukunya Anak Penyu Menggapai Langit mengisahkan perjalanan hidupnya sebagai seorang pendeta yang membayangkan dirinya seperti penyu, merayap dengan berkeluget-keluget di pasir putih pantai, berusaha sampai ke lautan kehidupan. Tak ada yang menyangkal bahwa penyu merupakan makhluk menarik. Bayi penyu (tukik) keluar dari telur dan berebut menuju laut, itu filosofis.

“Penyu begitu mungil dan ringkih, apalagi dibandingkan dengan samudera dan angkasa luas, namun dia terus berjuang mengerahkan segala daya dan memelihara harapan. Ombak menjemput, si anak penyu pun berlari terus berenang dan menyelam, kadang di atas kadang di bawah. Kehidupan yang naik-turun, fluktuatif. Ada suka dan duka. Namun di balik itu semua ada senyum dan ada harapan,” terangnya.

Sebenarnya, buku itu lebih tepat disebut buku autobiografi yang tentu dibumbui dengan nilai-nilai moral. Lagi-lagi di dalam buku ini juga terlihat kecintaannya terhadap HKBP. Kalau bicara HKBP dia dengan getol mengatakan, darahnya dari nenek-moyangnya adalah militan sebagai HKBP. Dari keturunan nenek-moyangnya Harahap, amang (bapak) mangulahi dari bapaknya, lima generasi di atasnya adalah orang pertama yang masuk menjadi Kristen.

Kini, sebagai pendeta yang hampir 30 tahun melayani senantiasa enerjik, kreatif dan berpikir bebas. Nun  sebelum menetapkan hati kuliah di STT Jakarta, lama di benaknya berpikir untuk menetapkan diri menjadi pendeta. Namun, menjadi pendeta itu juga menyelayut dalam pikirannya, dua alasannya karena terpikir jika menjadi pendeta itu akan memasung kebebasannya, dan satu lagi dia takut miskin.

Karena itu, semalam-malaman dia berdoa apa maksud Tuhan atas itu semua. Hal itu jelas beralasan, sebab dia juga diterima kuliah di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI), Jakarta, ketika itu. Lalu, saat permenungan itu dia berkali-kali membuka Alkitab yang terbuka pertama adalah ucapan Yesus yang mengatakan, “Ikutlah Aku.” Kutipan Firman Tuhan itu tiga kali dia temukan.

Dia memahami bahwa maksud Yesus menyuruhnya untuk mengikutiNya. Tetapi ketika dia memutuskan mengikuti Yesus, sekolah di STT, dia menghadapi pergumulan, ujian berat. Ayah tercinta sakit keras. Sempat dia bertanya pada Tuhan, apakah demikian mengikuti Yesus? Dia lalu pahami, jikalau kita menjadi pengikut Kristus (Nasrani) itu enak, sudah tentu titah untuk bersukacita senantiasa rasa-rasa tak perlu.  Ketika kita sudah memasrahkan hidup kita kepadaNya, kita diuji. Pertanyaan itu terjawab dengan banyaknya pengalaman pergumulan yang mesti dijalani.

 

Pembaharu HKBP

Oleh proses pergolakan batin itu, kemudian dia meneguhkan hati atas panggilan Tuhan dan dididik di sekolah teologia Jakarta. Awalnya, baginya ragu menjadi pendeta karena takut miskin. Mengapa? Nyatanya memang, betapa banyak pendeta yang dia saksikan saat emeritasi, menjalani masa pensiun, tak memiliki tempat tinggal. “Saya miris melihat jika di umur 65 tahun setelah pensiun, pendeta belum punya rumah,” ujar lulusan S1 dan S2 dari STT Jakarta ini.

Tentu, ada begitu banyak persoalan yang dihadapi gereja HKBP yang sifatnya sangat kompleks dan kait-mengait, dan sebagian kronis karena dibiarkan terjadi bertahun-tahun. Namun, bila disederhanakan ada dua persoalan. Pertama, persoalan kerohanian atau spiritual, mental dan moral warga khususnya pelayan HKBP. Kedua, persoalan sistem organisasi dan manajemen HKBP.

Persoalan pertama yang menyangkut kerohanian atau spiritual itu membutuhkan seorang pemimpin puncak atau Ephorus HKBP yang benar-benar sanggup menjadi bapak rohani atau teladan. Sementara persoalan kedua yang menyangkut sistem membutuhkan seorang Sekretaris Jenderal HKBP yang cakap di bidang manajerial dan mampu menegakkan aturan, serta para kepala departemen yang juga cakap memimpin program pelayanannya.

Menurutnya, semestinya gereja mengatur jaminan kesejahteraan sosial bagi pendeta. Salah satu permasalahan yang mesti diselesaikan adalah kesejahteran pendeta, berupa perawatan kesehatan, jaminan hari tua dan jaminan kematian. Tahapan sentralisasi penggajian pendeta saja masih belum merata. Inilah pergumulan gereja sejak lama. Itu sebabnya, pendeta yang sudah nyaman melayani di kota, jika dimutasi berbagai alasan dibuat. Tentu, pendeta itu manusia biasa yang mesti membutuhi keluarga. Paling tidak harapannya pendeta, anak-anaknya bisa sekolah sampai sarjana. “Saya kira, ini harus diselesaikan pusat,” ujarnya.

Menurutnya, ada dua hal yang harus dibangun dalam internal HKBP, yaitu membangun Bapak Rohani dengan menunjukkan figur-figur teladan HKBP di masa lalu, sehingga bisa menjawab tantangan zaman di era globalisasi. Kemudian menjalankan sistem yang sudah ada dengan mengedepankan Bapak Rohani sebagai tokoh sentral. Juga sistem kesejahteraan pendeta, sistem pensiun, kesejahteraan, remunisasi, sudah ada dalam sistem tinggal menjalankannya di bawah kepemimpinan Bapak Rohani.

Atas kerinduan pembaharuan ada di HKBP, dia bersedia mempersembahkan hidup melayani Tuhan di HKBP, khususnya di bidang pembenahan organisasi dan administrasi. “Saya punya rekam jejak bahwa saya mampu mengerjakannya. Saya sudah dua periode anggota MPS. Saya kontributor utama Pedoman Penatalayanan HKBP yang ditetapkan 2010. Saya anggota Tim Renstra 2012-2016. Saya dipercaya sebagai sekretaris Aturan Peraturan HKBP 2002 sesudah amandemen kedua yang memiliki tekanan transparansi dan akuntabilitas,” ujarnya lagi.

Kini, sebagai Kepala Badan Litbang HKBP dia bersama timnya sudah membangun sistem database HKBP yang benar-benar modern dan berbasis web atau online. “Bukan hanya wacana. Semua itu tentu merupakan bekal dan modal yang sangat baik untuk menjadi sekretaris jenderal. Jika sinodisten percaya pilihlah saya. Jika tidak, saya ikhlas. Semua calon adalah saudara dan sahabat,” ujarnya.

Selain itu, masih banyak pelayanan khotbah pendeta tak bisa memberikan kepuasan dahaga jemaat. Memang perlu pembaharuan khotbah dan ibadah. Warga jemaat sangat membutuhkan khotbah yang bernas dari pelayan terutama pendeta HKBP. Warga jemaat juga sangat membutuhkan ibadah yang benar-benar khidmat karena dilayankan dengan penuh kesungguhan dan kepenuhan hati.

Jika dia terpilih menjadi Sekjen HKBP, maka dia akan mendorong dan memfasilitasi agar semua pendeta HKBP selalu menyediakan khotbah yang bernas bagi jemaat. “Saya akan memberikan perhatian khusus kepada pelatihan-pelatihan khotbah, penyediaan buku panduan, dan sermon-sermon pendeta. Warga jemaat kita tak boleh lagi dibiarkan kehausan dan kelaparan secara spiritual sehingga pergi ke gereja lain memuaskan jiwanya,” tukasnya.

Lalu, ditanya apa yang urgen lagi untuk memajukan HKBP? Pembaharuan Sekolah Minggu. “Semua pendeta dan pelayan agar benar-benar memprioritas Sekolah Minggu. Saya akan mendorong agar Distrik membuat secara serius panduan sekolah minggu yang kontekstual dan relevan dengan kondisi di daerahnya, juga menyelenggarakan kursus-kursus pelatihan menjadi guru Sekolah Minggu. Saya juga akan meminta para pimpinan jemaat mengalokasikan anggaran yang signifikan untuk Sekolah Minggu, menyediakan ruangan terbaik yang dimiliki gereja untuk anak-anak itu juga alat peraga yang mereka butuhkan. Saya akan bekerja keras mencari cara agar setiap gereja HKBP memiliki perpustakaan anak SM agar anak-anak HKBP sejak dini diperkaya dengan pengetahuan dan wawasan,” terang pria yang ditahbiskan jadi pendeta pada 4 Agustus 1991 di HKBP Tanjung Balai Asahan, Sumut, itu.

dta-hojot-4Selain itu, menurutnya, HKBP sebagai gereja terbesar di Asia Tenggara mesti serius memprogramkan dana pensiun guna menjamin kesinambungan belanja gaji para pendeta, guru jemaat, bibelvrouw, diakones, evangelis dan pegawai non tahbisan. “Kami berharap seluruh pelayan partohonan itu, ketika pesiun paling tidak bisa memiliki rumah pribadi. Bagi saya, tujuan dana pensiun ini untuk menjamin kesinambungan,” ujar ayah dari Jessica boru Harahap, Regina boru Harahap dan William Harahap ini.

Lalu, bagaimana soal aturan peraturan dan sistem organisasi? Jelas, perlu revisi secara menyeluruh.  Jika jemaat dan parhalado HKBP memberikan kepercayaan kepadanya sebagai Sekjen HKBP. Maka, salah satu hal yang mesti diperjuangkan adalah hak-hak pelayan. Bagi dia, pelayan berhak memperoleh penghidupan yang layak agar pelayan fokus melayani jemaatNya. Sudah tentu dia setuju dengan pendeta berkreasi, berinovasi, mengembangkan bakat dan minat, memperoleh kehidupan keluarga yang layak. Misalnya, jika pendeta menulis buku. Hal yang lain yang dirindukannya para pelayan memperolah jaminan sosial.

“Saya miris melihat pendeta setelah emeritasi belum memiliki rumah tinggal. Lalu, juga keluarga dari pendeta yang meninggal menjalankan tugas, selama ini belum mendapat perhatian serius dari pusat,” ujar suami dari Dr. Martha Saulina Siregar, Sp.KK ini. Pembaharuan itu mesti dapat mendorong HKBP benar-benar berfungsi sebagai gereja dan bukan organisasi masyarakat belaka.

Selanjutnya, sistem organisasi HKBP harus benar-benar diefektifkan dan diefisienkan agar dapat bergerak lincah dan sigap melakukan tugas panggilannya. Kecintaan pada HKBP rindu terus ada perubahan. Tentu, perubahan diawali dari cara berpikir, proses mengembangkan kearifan budaya diterangi firman Tuhan. Hojot Marluga

Pdt. Robinson Butarbutar, D.Th.


Pdt. Robinson Butarbutar, D.Th.

“Hamba yang Tak Berhenti Memberi dari Kemiskinannya”IMG_7108bhMenjadi pendeta tak saja hanya butuh dedikasi, waktu, dan pendidikan yang mumpuni. Tetapi, juga berkarakter imam dan bersikap hamba sebagai pelayan yang memberi diri sepenuh kepadaNya, demikian awal perbincangan dengan Robinson Butarbutar. Lelaki kelahiran, 1 Januari 1961 di Bah Jambi, Kabupaten Simalungun. Putra dari Bapak J Butarbutar dan Ibu T boru Pardede. Masa kecil hingga akil balig dilaluinya dengan berbagai keruwetan hidup.

Sekolah dasar hingga SMP dilewatinya di Bah Jambi, sementara Pendidikan Guru Agama di Pematangsiantar. Lalu, menamatkan Sarjana Muda Teologi, tahun 1985, dilanjutkan Sarjana Teologi, tahun 1987 di STT-HKBP Pematangsiantar. Kemudian, Master of Arts dalam bidang Penafsiran Alkitab tahun 1990 di London Bible College, Inggris, dan Doktor Teologi tahun 1999 di Trinity Theological College, Singapura, dengan Tyndale House Cambridge, Inggris sebagai tempat penelitian lanjut.

Kehidupan di masa kecil membebat mentalnya. Setiap hari berjalan kaki berkilo-kilo meter, sesekali naik sepeda ke Nagojor untuk mengarap sawah di satu lahan milik orang tuanya dan di Afdeling lima yang disewa orangtuanya. Di sela-sela membantu orangtua di sawah, dia sedari kecil juga sudah biasa ke gereja untuk mengikuti Sekolah Minggu.

Selain itu, ia selalu mengikuti pengajaran seolah minggu di HKBP Bah Jambi. “Saya selalu memperhadapkan keyakinan iman saya sebagai anak petani. Saya sering berdoa di sawah, memohon agar Tuhan menjagai padi kami dari serangan hama, dari serangan tikus, dan dari serangan burung. Tak selalu doa saya kelihatan terjawab,” akunya.

Bahkan, pernah ketika melihat suatu pagi, bahwa padi yang siap dipanen, habis dimakan hama wereng. “Habis dibabat tikus, dan ludes dimakan ribuan burung,” ujar suami Srimiaty Rayani Simatupang MHum (Putri dari Bapak W Simatupang dan Ibu D boru Panggabean), dan ayah dari Martin, Melanchthon Bonifacio, dan Emely Katharina, mengenang masa kecilnya.

Apakah dia kecewa? Nyatanya, dia terus merasakan pemeliharaan Tuhan. Sebagai seorang teolog, makin mempelajari firman Tuhan dia menyadari kuasa Tuhan itu bisa dirasakan melalui doa. Hal itu makin kuat sesudah dia belajar di Sekolah Tinggi Teologi HKBP. Tak ada yang kebetulan, pembimbing rohaninya adalah Pdt Dr. David Leslie Baker yang kemudian memintanya membantu mengajar mahasiswa Pendidikan Agama Kristen di STT-HKBP di bidang Pengetahuan Isi Alkitab.

“Otomatis saya mesti belajar sungguh-sungguh. Beliau juga meminta saya memeriksa latihan-latihan bahasa Ibrani mahasiswa tingkat satu dan dua, ketika saya sudah menjadi mahasiswa senior, membantu dia mengedit hasil-hasil kuliah kami di bidang penafsiran surat Korintus dan Kejadian untuk diolah menjadi bahan Penelaahan Alkitab yang kemudian diterbitkan oleh Badan Penerbit Kristen  Jakarta. Buku ini sering dipakai oleh warga Kristen di jemaat-jemaat di Indonesia sampai saat ini,” ujar penulis buku Paul and Conflict Resolution yang diterbitkan oleh Paternoster Press, Inggris pada tahun 2007 itu.

Mahasiswa kritis

Dia merasakan, pembinaan rohani yang diterimanya dari Dr. Baker maupun hubungan yang dekat dengan keluarganya, istimewa dalam hal membentuk sikap iman maupun pengetahuan teologisnya, sangatlah bermanfaat di dalam hidupnya kemudian hari. Dia, sampai pada pemahaman bahwa kejahatan marak karena orang baik tak aktif berperan memperjuangkan yang baik. Dari Dr. Baker dia terus merasakan pembinaan rohani. Hubungannya dengan beliaulah  yang menyebabkan dia selalu membiasakan diri membaca Alkitab dan berdoa secara sungguh-sungguh. Hal itu bukan saja ketika mahasiswa, bahkan, sampai sekarang menjadi habitusnya. Bahwa hubungan pribadi itu harus terus terjalan pada Sang Sumber hidup, katanya.

Tetapi, ketika kejahatan di benaknya terlihat, dia selalu mengkritisinya. Masih bening diingatannya, saat menjadi Anggota Senat Mahasiswa, mengadakan perlawanan terhadap proses pemilihan Rektor STT-HKBP yang dilakukan ketika pejabat rektor, Dr. W. Sihite melaksanakan perjalanan dinas di luar negeri. Pada pemilihan itu Dr. S.M Siahaan terpilih dan disetujui oleh Ephorus HKBP GHM Siahaan. Tindakan ini baginya dan rekan-rekan sesama senat mahasiswa sebagai tak demokratis.

Karena itu, sebagai senat mahasiswa dia mengadakan protes. Akibatnya ia mendapat sanksi. Namun, dari pengalaman itu dia memetik hikmat. Dosennya Pdt TOB Simaremare MTh, dosen bidang praktika, ketika itu menasihatinya dan mengatakan bahwa sikap kritis dapat disampaikan dengan sopan, tanpa harus berteriak-teriak apalagi merusak.

“Nasihat inilah yang terus saya ingat. Termasuk ketika saya menjalankan tugas saya sebagai Ketua Badan Pertimbangan Mahasiswa (BPM) pada tahun terakhir, badan tertinggi di aktivitas mahasiswa, yang berfungsi menjembatani suara mahasiswa dengan suara para pengajar,” kenangnya.

Jebolan Cambridge

PendetaSejak mahasiswa kemampuan akademiknya di atas rata-rata sudah pekat terlihat. Saat menyelesaikan kuliah, menghadapi meja hijau, mempertanggung-jawabkan skripsinya tentang Rencana Allah menurut Roma 9-11. Salah satu pengujianya Dr. S.A.E. Nababan merasa terkesan dengan hasil ujian meja hijau dan hasil menyeluruh studinya yang sangat memuaskan. “Beliau bertanya kepada saya apa rencana saya setelah wisuda. Saya mengatakan, bahwa atas saran Dr. D.L. Baker saya sudah mempersiapkan untuk berangkat ke Inggris untuk mengikuti studi Master of Arts di bidang Hermeneutika.”

Hidup, belajar dan bergaul bersama orang percaya di Cambridge merupakan satu tahapan hidup yang berharga baginya, karena di Cambridge dia melihat dan mengalami bagaimana orang-orang percaya yang setia mengikut Kristus mencoba dengan sungguh-sungguh melihat relevansi iman orang percaya di dalam masyarakat sekuler yang intelektual.

“Di Cambridge, kota universitas terkenal, berkumpul dan belajar para mahasiswa dan para ahli dari berbagai negara untuk mencari jawab terhadap hal-hal yang masih belum mendapat jawaban yang pasti dari sisi ilmu pengetahuan. Tetapi, di Cambridge juga ditemukan orang-orang Kristen yang setia mengikut Kristus dalam masyarakat intelektual.”

Di Cambridge juga dia mencermati tingkat kemampuan berfikir secara objektif dari generasi muda usia sekolah, yang sudah mampu melihat satu masalah dari berbagai sudut pandang, dan sudah mampu memilih argumentasi mana yang paling kuat dari semuanya dalam mencari jawab terbaik terhadap masalah yang ada.

“Tentu ini terjadi karena sistim pendidikan yang dipakai bukanlah sistim banking, di mana peserta didik menelan begitu saja apa pun yang disampaikan oleh nara sumber, para guru, melainkan sistim hadap masalah, sistim demokratis, sistim partisipatif, sistim interaktif, di mana pengetahuan dari peserta didik dihargai dengan serius oleh pendidik, dan sistim kekerasan tak lagi dipakai oleh pendidik terhadap para peserta didik. Saya sangat terkejut melihat keadaan itu, dan memimpikan bahwa kelak di Indonesia, sistim yang sama harus segera diperkenalkan dan ditumbuh kembangkan.”

Alih-alih di Camrbidge juga dia menemukan kesukaan rakyat naik sepeda dari rumah ke tempat kerja atau ke kota, ke kampus dan ke tempat lainnya, bukan karena usaha menghemat uang parkir, melainkan untuk membantu usaha menjaga kesehatan tubuh dan jiwa.

Keramahtamahan orang percaya di sana juga sangat menggerakkan hati. Pernah Sekretaris Jenderal HKBP, Pdt OPT Simorangkir datang berkunjung ke Cambridge untuk menguatkan saya. Ia diterima sebagai tamu bekas Kepala Sekolah, dan tinggal di rumahnya selama satu minggu. Demikian berusahanya sang tuan rumah membantunya berbahasa Inggris sehingga sebelum pulang beliau menyebutkan begini: “Hari pertama dan kedua saya tak mengerti apa yang teman itu katakan kepada saya. Tetapi, setelah seminggu saya sudah dapat memahami dengan baik. Kalau saya tinggal bersama dia selama dua tiga minggu, saya akan menguasai bahasa Inggris dengan baik.”

Selesai kuliah di Inggris Oktober 1990, ia ditempatkan di HKBP Lumbanbaringin, Sipoholon, Tapanuli Utara dan pada bulan Januari 1992 dia menerima penugasan baru dari pimpinan HKBP, yaitu menjadi staff kantor pusat untuk bidang oikumene. Penugasannya yang baru untuk memberi kesempatan kepada Kepala Biro Oikumene waktu itu, yaitu Pdt Plaston Simanjuntak MMin untuk studi lanjut program Doktor of Ministry di Amerilka. “Sewaktu tugas di Pearaja Tarutung, saya tinggal di rumah sewa, mula-mula di Jalan Sisingamangaraja, kemudian di Siwalu Ompu, dan terakhir di Pardangguran.”

Memberi dari kemiskinan

Ketika bertugas di Biro Oikumene HKBP, tanda-tanda konflik besar di antara HKBP dengan pejabat pemerintah terjadi, berawal dari adanya ketidak harmonisan hubungan di antara Ephorus Dr. Nababan dengan Sekretaris Jenderal Pdt OPT Simorangkir.  Konflik itu kemudian dicoba diatasi di dalam sinode godang HKBP bulan Desember 1992 di Sipoholon, tetapi tak berhasil.

“Saya sendiri, yang belum lama bertugas di Pearaja, harus mengambil keputusan saya sendiri. Sebelum mengambil keputusan, saya tentu berdoa selama beberapa jam di kantor saya. Ada beberapa pertimbangkan waktu itu, yaitu: Pertama, meminta cuti, dan mempertimbangkan masuk kembali setelah konflik selesai. Pilihan ini memang paling aman. Tetapi pilihan ini berarti bahwa saya lari dari masalah, tak menghadapi masalah dengan segala resiko. Saya sudah bersekolah untuk HKBP. Dengan cuti, berarti saya berhenti memenuhi visi HKBP yang sebelumnya memberangkatkan saya sekolah.” 

Akhirnya, pemerintah ikut masuk pada pusaran konflik internal di tubuh HKBP. Beberapa orang yang setia menolak campur tangan pemerintah pun ditangkapi dan dianiaya. Termasuk dirinya juga ditangkap dan ditahan bahkan, mendapat berbagai tamparan dan tendangan yang tak pantas dilakukan terhadap pendeta. Setelah dibebaskan ia ke Jakarta. Di Jakarta kemudian dia bisa bergabung dengan teman-teman pendeta bersama Dr. SAE Nababan. Kemudian ia menerima pentahbisan kependetaan 9 Mei 1993 di HKBP Tangerang Kota.  Tiga tahun kemudian ia diberangkatkan mengikuti program studi S3 di Singapura, diselesaikannya kurang dari tiga tahun.

Mengingat bahwa selama studi doktor tiga tahun dia tak pernah mengadakan libur. “Setelah wisuda saya diminta Ephorus Pdt Dr. JR Hutauruk (Ephorus HKBP 1998-2004) untuk memimpin Biro Oikumene HKBP, yang dikenal sebagai Ephorus yang mengusahakan perdamaian, menyembuhkan luka-luka batin, menjembatani rekonsiliasi di tubuh HKBP. “Beliau meminta saya langsung menunaikan tugas sebagai Kepala Biro Oikumene HKBP, menggantikan Pdt BTP Purba, mantan Praeses yang beralih  tugas menjadi direktur Sekolah Guru Huria HKBP di Seminarium Sipohon.

Tugas utama saya adalah membangun kembali hubungan HKBP dengan mitra-mitra oikumenisnya di dalam dan di luar negeri, teristimewa karena selama krisis HKBP (1993-1998) dan sesudahnya (1998-1999) hubungan itu tak berlangsung baik. Banyak persekutuan gerakan oikumene yang memihak kepada kelompok yang ditekan pemerintah. Ada satu dua yang masih berhubungan dengan pihak yang didukung pemerintah. Tetapi, pada umumnya peran HKBP di dalam gerakan itu tak semaksimal seperti sebelum konflik dimulai.

“Saya diminta mengerjakan hal itu selama satu tahun, karena setelah itu ephorus berjanji akan mengijinkan saya mengajar di STT-HKBP, sebagaimana saya minta ketika melapor setelah selesai studi.”

Selama satu tahun dia bekerja siang malam untuk membangun hubungan itu, yang keberhasilannya ditandai dengan kesediaan beberapa pimpinan gerakan oikumene internasional mengunjungi HKBP secara khusus, yaitu Sekretaris Jenderal Dewan Gereja Sedunia, Pdt Dr. Konrad Raiser, Sekretaris Jenderal Dewan Gereja Lutheran Sedunia (LWF) Pdt Dr. Ishmael Noko, dan Ketua Gereja-gereja Protestan di Jerman, Praeses Manfred Koch bersama beberapa Bishop lainnya seperti Bishop  Koppe.   Pembangunan kembali hubungan itu penting karena “HKBP merupakan gereja protestan terbesar di Asia Tenggara, yang kontribusinya di dalam gerakan oikumene sangat diharapkan.” Keberhasilan itu tercapai karena dia bekerja pagi-pagi buta dengan menggunakan komunikasi internet, yang pada waktu itu hanya bisa lancar ketika tak ada orang lain yang memakai jalur telepon di Tarutung dan khususnya di Pearaja.

Sebagai pendeta berjubel pengetahuannya tentang Alkitab terkhusus Perjanjian Baru, Robinson kemudian didaulat menjadi dosen Perjanjian Baru. Mengajar Perjanjian Baru di Universitas Silliman, Dumaguete, Philipina (2000-2002). Pada waktu itu, Ephorus Hutauruk menerima permintaan dari United Evangelical Mission (UEM) agar mengirimnya menjadi tenaga pengajar di bidang Perjanjian Baru di Silliman University, Dumaguete, Negros Oriental Philippines, yang bersama gereja protestan terbesar di Philipina (UCCP) meminta bantuan UEM untuk mengirimkan  tenaga itu, karena dosen Perjanjian Baru di sana ditugaskan untuk menjalani studi doktor.

Permintaan UEM ini disambut baik oleh Ephorus Hutauruk yang kemudian memintanya untuk mengajar di Philippina. “Ephorus Hutauruk mengatakan begini kepada saya. Saya tahu kerinduanmu untuk mengajar di STT-HKBP. Saya juga tahu bahwa kepersonaliaan kita masih miskin. Tetapi, dari kemiskinan personel kita di bidang pengajaran Perjanjian Baru, kita harus mulai memberanikan diri membantu misi UEM yang meminta tenaga kita untuk bekerja di Philipina. Kita harus berani meniru jemaat-jemaat di Makedonia di dalam Perjanjian Baru, yang memberi dari kemiskinannya,” kenangnya.

Sejak itu, dia berjanji dalam dirinya tidak akan menolak SK pimpinan. “Saya akan mengikuti keputusan pimpinan HKBP di dalam hal tempat tugas pelayanan saya. Karena itu, saya melaksanakan setiap keputusan pimpinan saya. Dan saya menyetujui berangkat ke Philipina, tetapi dengan pemahaman bahwa saya hanya mengajar di sana selama satu periode, tiga tahun, dan setelahnya kembali ke HKBP untuk mengajar di STT-HKBP.”

Akhirnya, dia kemudian ke Philipina. “Saya berhubungan secara intensif dengan Joerg Spitzer, Kepala Biro Personalia UEM di Wuppertal dan dengan Bishop Erme Camba, Dekan Fakultas Teologi di Dumaguete Philipina, untuk membicarakan pengaturan ketibaan, perubahan di kampus, dan uraian tugas mengajar dan persiapan-persiapan pengajaran itu sendiri. Saya tak punya banyak waktu untuk berbuat hal lain kecuali mempersiapkan materi-materi kuliah saya. Kami tinggal di bekas rumah Dekan yang jaraknya hanya dua ratus meter dari kampus Divinity School.”

Namun kemudian, sebelum tugas di Philippina berakhir, Ephorus Hutauruk menugaskan saya  bekerja di Wuppertal, Jerman (2002-2003). Hidup dan bekerja selama satu tahun di Wuppertal berlalu dengan cepat sekali, karena dia sejak awal sampai akhir masa tugas semangat, sibuk. “Saya bekerja mulai pukul tujuh pagi, karena teman saya di kantor, Pdt Peter Demberger juga bekerja seawal itu. Dia sudah kembali ke rumah pukul dua sore, dan kadang kala bekerja dari rumahnya. Kerjasama kami cukup baik, dan beliau merasa bersyukur karena berkat kehadiran saya tak ada sesuatu pekerjaan pun yang tertinggal untuk gereja-gereja Asia. Beliau melihat ketelitian saya bekerja, dan kerajinan saya meneliti kasus-kasus di Archiv UEM sebelum melakukan tindakan.”

Memimpin UEM Asia

Robinson menyadari bahwa keberhasilan pelayanannya bukan karena kepintaran dan kekuatannya semata-mata. Sebab dia sadar, bahwa jika menjiwai panggilan sebagai pelayan, niscaya diberiNya kekuatan. Dia telah juga punya reputasi memimpin kantor UEM Regional Asia (2003-2008) yang sebelumnya dipimpin Pdt Ruth Quiocho, seorang temannya dari Philipina. Sebelumnya kantor itu di Philipina. Tetapi kemudian oleh keputusan Council UEM kantor itu dipindahkan ke Medan, Indonesia karena lebih banyak anggota UEM berada di Indonesia.

“Hal yang paling utama saya kerjakan ketika memulai tugas di Medan adalah memindahkan kantor ke kantor Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia wilayah Sumut (PGI-WSU) yang saat itu sedang dipimpin oleh Pdt Dr. Langsung Sitorus.”

Regional Asia UEM dilayani oleh tiga staf eksekutif, yaitu dari Philippina, dari jerman dan saya. Saya memimpin tim ini dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi, mengintegrasikan program-program bersama UEM di regional Asia, yang berbentuk kunjungan, seminar, konsultasi, lokakarya, dan pelatihan-pelatihan untuk hal-hal yang oleh sidang raya UEM sebagai kebutuhan prioritas bagi gereja-gereja anggotanya.

Robinson.jpgProgram-program di Asia beraneka, seperti keadilan gender, hak-hak anak, keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan, evangelisasi, kepemimpinan khususnya di kalangan pemuda, HIV dan AIDS dan pendidikan edukasi pastoral. Tugas Butarbar waktu itu juga dalah mengorganisir rapat-rapat UEM di Asia, termasuk sidang saya regional Asia, rapat Council Asia dan Sidang RAya VEM, serta membantu mengorganisir program-program internasional UEM (Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan, Evangelisasi dan HIV/AIDS) yang diadakan di Asia. Ia juga mewakili staff UEM di Asia menghadiri rapat-rapat internasional UEM di lua Asia, yaiatu di Eropah dan Afrika.

Dia melakukan tugas ini dengan baik. Melalui pelaksanaan tugas ini, dia mengenal sekujur gereja-gereja, anggota UEM di Asia. “Saya juga berhasil menjalin hubungan yang sangat dekat dengan gereja-gereja anggota UEM yang berkantor pusat di Sumatera Utara yang memiliki pergumulan sendiri. Secara khusus, gereja-gereja ini berhasil mengembangkan sendiri program-program menyangkut hak-hak perempuan, hak-hak anak, penanganan HIV-AIDS dan KPKC.”

Misalnya, dia contohkan, HKBP telah memiliki komite HIV dan AIDS yang bekerja efektif. Gereja-gereja berkantor pusat di Pematangsiantar berhasil mendirikan Pondok Kasih, di mana penanganan HIV dan AIDS dilakukan dengan baik. GKPS mendirikan Crisis Centre untuk korban kekerasan di kalangan perempuan. GBKP terus dengan giat mengadakan, hal sama dengan memiliki rumah perlindungan. –

Satu tahun sebelum tugasnya berakhir di Asia, ia kemudian dipromosikan oleh Council UEM yang baru, yaitu memimpin Departemen Internasional untuk Pelatihan dan Pemberdayaan para pemimpin gereja-gereja anggota UEM, para pemuda dan perempuan melalui pelatihan dan beasiswa maupun pertukaran pemuda. Itu sebabnya ia harus pindah ke Jerman pada awal Januari 2009 ke Wuppertal Jerman. Dari sana ia mengorganisir pelatihan lebih dari seribu orang pemimpin gereja-gereja di Asia, Afrika dan Eropah. Tugas itu memberi kesempatan padanya untuk mengunjungi gereja-gereja di Rwanda, Kongo, Bostwana, Namibia, Tansania dan Kamerun selama kurun waktu hampir lima tahun (2009-2013). Ia kembali ke Indonesia akhir Agustus 2013.

Membawa Visi HKBP

Sejak September 2013, dia dipercayakan mengajar Studi Perjanjian Baru di STT-HKBP Pematangsiantar oleh Ephorus HKBP Pdt Willem TP Simarmata MA. Pada Rapat Pendeta HKBP di FKIP Pematangsiantar ia diusulkan menjadi salah seorang calon Ketua Rapat Pendeta. Namun ia mengundurkan diri.  Pengetahuannya yang luas di bidang teologi mendorong Ephorus HKBP mempercayakan tugas tambahan kepadanya, yaitu memimpin Komisi Teologi HKBP sejak Februari 2014. Teman-temannya para Doktor Teologi Bapak juga melihat komitmennya membangun teologi yang reformis. Mereka memberi kepercayaan padanya memimpin Forum Teolog Batak sejak Februari 2015.  Forum ini beranggotakan para teolog bergelar Doktor Teologi.

Sejak awal 2014, ia kembali didorong oleh para pendeta muda dan senior untuk mempertimbangkan kesediaan mencalonkan diri menjadi calon Ephorus HKBP. Ia tidak langsung menerima dorongan itu, melainkan membawanya di dalam doa selama 10 bulan pada tahun 2015 untuk bertanya pada Tuhan. Akhirnya pada bulan Februai 2016, didorong oleh panggilan Tuhan dan kecintaannya pada HKBP, ia pun mendeklarasikan diri bersedia mempersembahkan diri untuk dipilih di sinode Agung HKBP sebagai Ephorus pada Sinode Agung ke-63 HKBP di Seminarium Sipholon pada tanggal 12-18 September 2016. Ia bertekad merealisasikan visi HKBP menjadi berkat bagi dunia. Bersamanya Pdt. Daniel Taruli Asi Harahap M.Th, mencalonkan diri sebagai Sekretaris Jenderal HKBP.

Selain itu, muncul juga nama Pdt. Roida Situmorang D. Min disiapkan menjadi Kepala Departemen Koinonia, kemudian Pdt. Marolop Sinaga M.Th tetap menjadi Kepala Departemen Marturia. Sementara, Pdt. Dr. Hulman Sinaga sebagai calon Kepala Departemen Diakonia. “Tim ini jika terpilih akan membawa visi HKBP yang sudah ada, Menjadi Berkat Bagi Dunia. Sudah cukup bagi kita selama ini memikirkan diri sendiri,” katanya. Hotman J. Lumban Gaol (Hojot Marluga)

Sati Nasution


 

IskadarSati Nasution: Pendiri Perguruan Tano Bato

“Tinggal ma ho jolo ale

Anta piga taon ngada uboto

Muda uida ho mulak muse

Ulang be nian sai maoto

Lao ita marsarak

Marsipaingot dope au dio

Ulang lupa paingot danak

Manjalai bisuk na peto

Bait puisi di atas adalah puisi dari seorang pioneer pendidikan dari tanah Batak. Dialah Willem Iskander dengan nama lahir‎ ‎Sati Nasution, sedangkan gelarnya adalah Sutan Iskandar. Dia putra Nasution keturunan dari Sutan Diaru, dari generasi ke-11 marga Nasution di Mandailing. Dia lahir pada tahun1840, di Pidoli Lombang, Panyabungan Kota, Mandailing Natal, sekarang dikenal Madina.

Dia dikenal sebagai penulis, pujangga bahasa yang menyair banyak puisi, terutama untuk menggugah pendidikan dan cinta kampung halaman. Panggilannya tak hanya bersastra kemudian maujud menjadi pendidik, melawan virus kebodohan kaumnya. Di kemudian hari menjadi dia disebut salah satu tokoh perintis pendidikan Indonesia, walau hanya mendirikan Perguruan Tano Bato untuk calon guru, di Mandailing Natal.

Usia remaja yang terbilang muda, 13 tahun, dia hanya mengecap sekolah rendah selama kurang lebih dua tahun di Panyabungan. Menurut Basyral Hamidy Harahap seorang peneliti dan penulis memoar tentang Sati Nasution ini menyebut, kemungkinan besar dia merupakan guru paling muda dalam sejarah dunia pendidikan Indonesia. Asumsinya, sudah mulai aktif mengajar pada usia 15 tahun. Artinya, selulus pendidikan rendah itu dia sudah mendarma-baktikan hidupnya pada pendidikan.

Usia semuda itu, dia telah juga merambah kerja birokrasi bekerja sebagai sekretaris kantor pusat pemerintahan Mandailing-Angkola. Ada pencapaiannya itu, Alexander Philippus Godon, Asisten Residen Mandailing Angkola, pada masa itu kembali ke Negeri Belanda sekitar Pebruari 1857, dan membawa Sati turut serta untuk meneruskan pelajarannya pada salah satu sekolah guru di Belanda. Di Belanda dia banyak belajar tentang esensi pendidikan. Tak hanya itu, dia kemudian menemukan ketenangan batinnya, pengikut Kristus, dan menetapkan diri menjadi seorang Kristen.

Kemudian, ijazah guru bantu diperolehnya pada bulan Oktober 1860, sempat kembali ke Mandailing untuk memulihkan fisiknya yang sakit. Dua tahun kepulanganya  dari Belanda, tepat bulan Oktober 1862, dia mendirikan perguruan untuk guru di Tano Bato, sekarang di Kecamatan Panyabungan Selatan. Sekolah itu dia pimpin langsung, namun kurang lebih selama 12 tahun kemudian perguruaan itu pemidahannya ke kota Padang Sidempuan.

Masih menurut Basyral Hamidy Harahap, sejak Willem Iskander menerima beslit bertanggal 5 Maret 1862, yang mengizinkannya mendirikan Kweekschool di Mandailing, dia bergegas dan menetapkannya sebagai guru pada Kweekschool Tanobato. Walau perjuangannya sangat berat. Waktu itu, sedikit sekali orang yang mau menyekolahkan anaknya di sekolah guru itu.

Alasannya, selain belum booming orang sekolah, sekelumit terlihat lulusan guru tak punya kesempatan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak, kalau tak disebut kata. Oleh pesimisme itu dijawabnya dengan sikap arif, diatasinya dengan sika bertekun, yang pada akhirnya kelangkaan murid itu pun dapat diatasinya.

Selanjutnya, pada September 1863, Gubernur Van den Bosche datang dari Padang melakukan inspeksi ke sekolah ini, di mana waktu itu bahwa pusat gubernur untuk daerah Sumatera berada di Padang. Gubernur kemudian melaporkan kunjungannya kepada Gubernur Jenderal dalam suratnya tanggal 13 September 1863. Ia menyatakan, kekagumannya terhadap kepiawaian Willem Iskander. Kesannya ia tulis dengan kata-kata; “zeer ontwikkeld, hoogst ijverig,” artinya sangat cerdik, terpelajar, dan sangat rajin dan tekun.

Kemudian Van der Chijs diutus untuk menyaksikan perguruan Taon Bato. Selama di Tanobato Van der Chijs menyaksikan penyelenggaraan pendidikan di sekolah guru ini. Bahkan, mengagumi kebolehan Willem Iskander mengajarkan konsep-konsep ilmu pengetahuan dalam bahasa Mandailing dan bahasa Melayu. Sekalin itu, Van der Chijs juga kagum atas  kemampuan berbahasa Belanda para murid Willem Iskander.

Tulis Van der Chjis: “Cara Willem Iskander mengajarkan dasar-dasar fisika dalam bahasa Mandailing dengan metode sendiri, memakai alat peraga lokal yang dikenal baik oleh murid-muridnya.” Tulisan laporan tahunan pendidikan bumiputera tentang kekagumannya terhadap tiga kemampuan murid-murid di perguruan Tano Bato, bidang matematika, bahasa Melayu dan bahasa Belanda.

Memang, sebagai pendiri perguruan dia mencerahkan pikiran para murid, bahwa kemampuan berbahasa Melayu dan bahasa Belanda, adalah kunci gerbang ilmu pengetahuan. Maka, bahasa Batak Mandailing diajarkan ala kadarnya. Sementara Bahasa Belanda diajarkannya empat kali seminggu. Ada banyak prediksi bahwa salah satu kemampuan berbahasa itulah yang mengantar para murid-muridnya banyak menjadi pengarang, penerjemah dan penyadur.

Selain itu, konsep dari Willem Iskander melaksanakan ujian akhir, dimulai pada bulan Juni 1871. “Ujian dimulai dengan menyuruh murid-murid menulis esai, dilanjutkan dengan pertanyaan tentang ilmu alam, lembaga-lembaga pemerintahan Hindia Belanda. Kemampuan berbahasa Belanda dan bahasa Melayu diuji dengan cara membaca dan berbicara dalam kedua bahasa itu. Dan, ujian berhitung dilakukan dengan menjawab soal-soal dengan menulis pada batu tulis dan papan tulis.”

Pada 25 September 1860, Willem Iskander berjumpa dengan Eduard Douwes Dekker, alias Multatuli. Keduanya kemudian menjalin hubungan yang era, hangat sekali. Murtatuli kerap mengkritik pemerintahan Belanda atas jajahan, yang kemudian menganjalnya pada tuntutan di sidang pengadilan. Hadir dalam sidang itu Duymaer van Twist mantan Gubernur Jenderal yang memecat Eduard Douwes Dekker dari jabatan Asisten Residen Lebak. Ada 65 orang yang hadir di dalam sidang ini, 62 anggota, ketua Tweede Kamer, Reenen dan dua menteri, bahkan Menteri Urusan Jajahan J.J. Rochussen dan Menteri Keuangan Van Hall.

Hingga kemudian di tahun 1871, Van der Chijs mendekritkan pembaruan sekolah guru bumiputera. Ia membuat sejumlah syarat yang harus dipenuhi setiap sekolah guru bumiputera. Dekrit itu berkaitan dengan gagasan-gagasan Willem Iskander. Tiga syarat penting ialah pertama, sekolah guru harus menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Kedua, guru sekolah guru harus mampu menulis buku pelajaran, dan ketiga, bahasa daerah harus dikembangkan sesuai kaidah-kaidah bahasa.

Namun kemudian oleh usulan Willem itulah membuka pintu bagi anak-anak pribumi untuk diterima beasiswa di Belanda. Kemudian 4 orang dari tanah jajahan Hindia Belada diberangkatkan untuk menjadi beasiswa, salah satunya Willim sendiri. Tahun 1873, telah diketahui hanya tiga orang guru muda yang berangkat ke Negeri Belanda bersama Willem Iskander. Mereka adalah Banas Lubis murid Willem Iskander di sekolah guru Tanobato, Raden Mas Surono dari Kweekschool Surakarta, dan Mas Ardi Sasmita guru sekolah rendah di Majalengka lulusan Kweekschool Bandung.

Namun proyek beasiswa itu gagal. Tiga orang calon guru itu meninggal pada tahun 1875. Banas Lubis dan Ardi Sasmita meninggal di Amsterdam karena kesehatan mereka menurun disebabkan berbagai hal, antara lain rindu tanah air, cuaca buruk, dan masalah lain-lain yang menyebabkan mereka bertiga stres berat. Ketika Raden Mas Surono jatuh sakit, pemerintah mengambil keputusan untuk memulangkannya ke Tanah Air. Ada harapan Raden Mas Surono akan sembuh dalam perjalanan. Tetapi, takdir menentukan lain. Raden Mas Surono meninggal dalam pelayaran ke Tanah Air. Nakhoda dan kelasi melarungkan jenazah Raden Mas Surono ke laut.

Oleh kematian tiga sahabatnya itu, memukul perasaan Willem. Cita-citanya yang luhur untuk mencerdaskan bangsa melalui pendidikan, ternyata gagal. Dalam keadaan berduka itu, Godon memberikan nasihat kepada Willem untuklah menikah. “Kehadiran seorang isteri pastilah akan meringankan beban pikiran, karena ada teman berbagi duka,” katanya.

Atas nasihati itu, Willem pun menikah dengan Maria Christina Jacoba Winter. Pada tanggal 27 Januari 1876 keduanya diberkati di gereja di Amsterdam. Hanya saja, jalan Tuhan berbeda dengan rencana manusia. Pernikahannya tak berumur panjang, Willem kemudian dipanggil Bapa di sorga, wafat tanggal 8 Mei 1876, kemudian dimakamkan di Zorgvlied Begraafplaats, Amsterdam. Sementara istrinya, Maria Jacoba Christina Iskander-Winter tetap setia menjanda, hingga kemudian di usia 69 tahun, Maria mengalami sakit Witte Kruis. Dan wafat 25 April 1920. Jasadnya dimakamkan di pekuburan Nieuwe Oosterbegraafplaats, Amsterdam. (Hojot Marluga)

Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=tCN_-DMSd20

 

Sondang Hutagalung


SOndangSondang Hutagalung adalah priak kelahiran Bekasi, Jawa Barat, 12 November 1989. Dia meninggal di Jakarta, 10 Desember 2011 pada umur 22 tahun. Sondang adalah seorang mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Bung Karno, Jakarta yang meninggal karena membakar diri pada Rabu sore 7 Desember 2011 di depan Istana Negara, Jakarta. Kala itu, Sondang menjabat ketua Himpunan Aksi Mahasiswa Marhaenisme untuk Rakyat Indonesia yang aktif dalam kegiatan “Sahabat Munir”. Di mata teman-temannya Sondang adalah aktivis yang sering terlibat dalam upaya advokasi dalam kasus-kasus pelanggaran hak asasi manusia.

Sondang dilahirkan sebagai anak bungsu dari empat bersaudara keluarga Victor Hutagalung dan Dame Sipahutar. Ayahnya bekerja sebagai sopir taksi, sementara ibunya hanyalah penjual sayur. Aksi bakar diri yang dia lakukan di depan Istana Negara itu juga mendapat simpati dari berbagai tokoh. Seminggu setelah kejadian itu, termasuk Megawati Soekarnoputri dalam pidatonya di pembukaan Rakernas PDI Perjuangan menyebut, kematian Sondang Hutagalung merupakan tragedi yang harus diperingati sebagai tamparan keras  atas kesalahan pengelolaan bangsa.

“Beberapa hari lalu kita menyaksikan seorang anak negeri, Sondang Hutagalung membakar diri di hadapan istana sebagai protes atas pengelolaan politik dan pemerintahan, yang jauh dari gambaran ideal generasi muda bangsa,” ujar pada saat pidato pembukaan Rakernas I PDI Perjuangan di Bandung, Senin (12/12/11). Bagi Mega, pesan Sondang dalam aksi bakar diri tersebut jelas tertuju pada kekecewaan terhadap perilaku elit pemerintah. “Sondang telah pergi, tapi pesannya terasa keras menampar telinga kita. Kita tidak membutuhkan teguran keras lainnya, hanya untuk menyadari bahwa ada yang salah dengan pengelolaan bangsa ini,” ujarnya ketika itu.

Mega meminta agar aksi Sondang tersebut menjadi bahan renungan dan mempertanyakan sikap pemerintah atas tragedi tersebut. “Saya minta setiap warga PDI Perjuangan, bahkan setiap anak negeri untuk merenungi tragedi ini. Kita pantas bertanya, apakah pemimpin di negeri ini tidak terbetot hatinya melihat seorang mahasiswa yang karena prinsip dan keyakinannya melakukan tindakan itu? Merinding rasanya bulu kuduk saya sebagai seorang ibu melihat derita anak negeri ini.”.

Dia menambahkan, sebagai pribadi dan pimpinan partai saya menyampaikan duka cita atas kepergian Sondang. Bukan karena dia Sondang, tapi ia adalah gambaran dari generasi muda bangsa, sambil tetap berharap tidak akan ada lagi anak negeri yang kehilangan nyawanya karena prinsip dan keyakinannya, katanya.

Tak ada yang menyangka Sondang akan melakukan aksi nekat, Rabu 7 Desember 2011 lalu. Dari arah Monas, dia tiba berlari mengguyur bensin ke tubuhnya dan menyulut api. Aksi itu dilakukan sekitar pukul 17.30. Sejam sebelumnya, di tempat itu para kepala desa melakukan unjuk rasa. Akibat luka bakar 98 persen di tubuhnya, Sondang akhirnya pergi, Sabtu 10 Desember 2011. Mungkin berbagai diskusi terhadap aksinya itu. Tetapi, sesungguhnya Sondang adalah pahlawan. Walau dikenal sesaat, setelah itu dilupakan.

Johny Pardede


Ev Johny Pardede

“Dulu Terjerembab Lumpur Dosa, Kini Termotivasi Amanat Agung”

Jhonny Pardede_CoverKemajuan peradaban ternyata tak menjamin keadaan dunia makin baik. Nyatanya, keadaan dunia malah semakin mencekam. Bahkan, keadaannya makin mencekam. Situasi itu diperparah dengan harga-harga barang bertambah, ketakutan dan ketidakpastian melanda seluruh jagat raya ini. Apalagi amat sering terjadi fluktuasi ekonomi. Tentu, jika tanpa berpegangan erat dengan firman Tuhan, seseorang bisa makin terperosok makin dalam terjerembab. “Hanya orang yang menyerahkan hidup total pada Tuhanlah tak takut menghadapi badai, kondisi yang sulit seperti sekarang ini. Hanya orang-orang yang dipanggil dan diurapilah yang dapat menang mengatasi keadaan sulit. Karena itu, kita harus bertobat dan menjadi pemberita firman Tuhan,” ujar Ev Johny Pardede.

Ajakan itu kerap kali disampaikannya, baik di acara KKR, acara seminar dan kebaktian-kebaktian gerejawi yang dipimpinnya. Asal ada kesempatan menyampaikan  firman Tuhan, Jhony pasti menyampaikan prinsip-prinsip  dan kiat-kiat agar orang percaya dapat menang atas situasi yang sulit. Bahkan, di dalam khotbahnya, Jhony juga amat sering mengisahkan kesaksian hidupnya. Pengalamannya sebagai pengusaha  sebelum dan sesudah bertobat. “Saya dulu adalah pengusaha yang hanya memikirkan dunia ini. Saya melakukan dosa. Tetapi itu sebelum mengenal anugerah Tuhan,” kenangnya. Namun, lika-liku kehidupan pribadi yang panjang, penuh onak menghacurkan hidupnya membawanya pada pertobatan.

Sejak bertobat, Jhony terpesona dengan ajakan untuk pergi (Matius 28:19-20) “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Dia menambahkan, kita terkadang suka menggembar-gemborkan Amanat Agung, tanpa pemahaman yang dalam bahkan tak berusaha sebagaimana pesan yang dimaksud, dituntut dari Amanat Agung.

Siapakah Jhony? Johny Pardede, lahir di Medan, 24 April 1954. Anak ketujuh dari sembilan bersaudara dari pasangan orangtua (ibu) Hermina Napitupulu dan (ayah) Tumpal Dorianus Pardede, yang dikenal dengan nama TD Pardede. Almarhum ayahnya adalah seorang pengusaha di masa pemerintahan Soekarno, hingga kemudian menjadi Menteri Berdikari. Sebagai pengusaha, bahkan, pernah menjadi salah satu pengusaha terkaya di Indonesia pada era-nya.

Jhony sendiri mengikuti jejak sang ayah menjadi pengusaha. Dimulai dari mengasuh club bola, dulu dikenal sebagai pemilik club bola Harimau Tapanuli. Memang, sejak dia bertobat dan menjadi penginjil, Jhony tak lagi mengembangkan club bola itu. Hanya menjadi pengusaha tetap dikembangkan. Maka, walau sudah lama meninggalkan dunia bola, jika ditanya soal bola, mengapa persepakbolaan di Indonesia tak maju-maju?

Jawabannya, pengurusnya harus bertobat. “Jika konsep yang diterapkan sekarang masih dilakukan, jelasnya persepakbolaan di Indonesia tak akan maju. Mesti harus ada perubahan total. Pertobatan total agar persepakbolaan Indonesia maju,” ujarnya. Menurutnya, jika pengurus persepakbolaan tak loyal, dia pesimis sepakbola Indonesia, niscaya maju.

Sebagai anak pengusaha  Batak yang kaya raya, dari kecil sampai SMP Jhony tinggal di Jerman. Sudah terbiasa hidup nyaman. Bahkan menghambur-hamburkan uang untuk kesenangan sesat. Tentulah, tingkah lakunya banyak dipengaruhi kehidupan bebas di Jerman, sehingga ketika kembali ke Indonesia kebiasaan itu menjadi semakin tak karuan, kalau tidak disebut makin jahat. Tetapi, puji Tuhan, oleh cara Tuhan dia kemudian bertobat dan dipanggil menjadi pemberi firman Tuhan oleh kematian sang ayah. Kematian ayahnya pada 18 November 1991, yang sebelumnya didahului ibunya, meninggal 20 Mei 1982. Membuat hatinya hancur berkeping-keping.

Kematian orangtuanya, terutama ayahnya membuat Jhony bertobat. Di akhir tahun 1991, momentum yang membuat dia meninggalkan hidup yang penuh kemunafikan. Yang dulu nyaman hanya memikirkan dirinya, kini memikirkan sorga. Sejak menetapkan diri menjadi pemberita firman Tuhan, dia senantiasa antusias membagikan kabar kesukaan. Jhony di mana pun, kapanpun  ia berada. Bahkan, setiap hari melayani dan menyampaikan Firman Tuhan, hingga ke seluruh penjuru dunia.

Alih-alih sebagai anak dari latar belakang anak yang kaya raya, dulu dia telah menikmati semua kesenangan dunia sampai akhirnya ayahnya meninggal dunia dia bertobat. “Beliau memberi pesan kepada anak-anaknya bahwa sepertiga harta dari keluarga haruslah dipakai untuk pekerjaan Tuhan,” ujarnya. Mengingat pesan dari almarhum ayahandanya, Jhony memetiknya menjadi peringatan untuk menjadi evangelis.

Akhirnya, melalui pesan tersebut, Johny Pardede dipanggil Tuhan dari hidup yang pada untuk menginjili ke seluruh Negara tentang pentingnya hidup bersama Tuhan Yesus. Tentu, tak otomatis seluruh keputusannya untuk menjadi penginjil, berhasil. Dia dengan rendah hari memberi dirinya dibebat seperti bejana tanah liat, dibentuk berkali-kali hingga kemudian tentang melayaniNya seperti sekarang ini.

 

Aktif di FGBMFI

Kini, Jhony tak saja hanya melayani kaum awam, tetapi juga melayani para bisnisman. Iya, itu tadi dimana pun ada kesempatan dia selalu mengajak para bisnisman, bahkan rekan-rekan hamba Tuhan dengan hati yang damai janganlah lagi benih dosa, tetapi berubah oleh pembaharuan budi.

Sejak menyerahkan hidupnya pada tuntunan Tuhan, Jhony terus telaten memberitakan Injil. Sebagai pengusaha, tetap memprioritaskan pelayanan Firman Tuhan. Oleh pelayanannya tentu banyak diapresiasi hamba Tuhan, dan para bisnisman. Tak heran dia sering didaulat untuk menjadi pembicara. Salah satu contoh misalnya, Acara Couple Dinner Gabungan yang diadakan pada hari Jumat 12 juni 2015 bertempat di resto Hongkong Garden, Padang Galak, Sanur Bali. Jhoni didaulat menjadi salah satu pembicara. Acara tersebut tentu berlangsung dengan baik dan sukses.

“Semua yang hadir sangat bersuka cita, dan mereka semua turut memuji Tuhan,” tambahnya mengingat acara FGBMFI itu. Sebagai pembicara, lagi-lagi kesaksian hidupnya yang luar biasa dan sangat memberkati semua bisnisman yang hadir. Bahkan, saat altar call banyak yang maju ke depan untuk didoakan, bahkan menerima Tuhan Yesus sebagai Juruslamat. “Mereka didoakan untuk mendapat jamahan dan lawatan Tuhan, didoakan untuk kesembuhan dan kelepasan. Luar biasa Roh Kudus melawat mereka,” ujarnya.

Inilah hidup, perjalanan hidup setiap orang siapa yang tahu. Jhony telah menyaksikannya, dulu lama hidup dalam kebinasaan, terjerembab dalam lumpur dosa. Tetapi, kini, Tuhan mengangkatnya bahkan, dipercayakan menyampaikan Amanat Agung, sebagai hamba Tuhan. Bahkan, yang dulu dia mengggap kekayaan adalah yang terpenting, kini menemukan yang lebih penting, memikul beban, memberitakan firman Tuhan sebagai yang termulia.

Hotman J Lumban Gaol (Hojot Marluga)

 

Kamaruddin Simanjuntak SH


Kamaruddin SimajuntakNama:

Kamaruddin Simanjuntak SH

Tempat/tgl lahir: Siborong-borong, 21 Mei 1974

Pendidikan:

SMAN I Siborong-borong, tahun 1992

Fakultas Hukum Univesitas Kristen Indonesia, tahun 2000

Pendiri: kantor pengacara “Victoria” Law Firm
 Simanjuntak SH

Tempat/tgl lahir: Siborong-borong, 21 Mei 1974

Pendidikan:

SMAN I Siborong-borong, tahun 1992

Fakultas Hukum Univesitas Kristen Indonesia, tahun 2000

Pendiri: kantor pengacara “Victoria” Law Firm

Hidup di dunia terlalu singkat. Itulah sebabnya orang bijaksana mengerti bahwa kesempatan tak disiasiakan. Mengisinya dengan sabaik-baiknya, apa yang terbaik dalam profesi yang sedang digeluti. Dalam hal ini ingin menjadi pengacara terbaik. Itulah yang dianut Kamaruddin Simanjutak seorang pengacara yang menyadari hidup adalah anugerah. “Karena itu selagi diberikan kesempatan harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.” Ajakannya, “Marilah kita isi dan sikapi dengan perbuatan-perbuatan yang baik, benar dan berguna bagi diri sendiri maupun bagi sesama kita. Dan jangan sampai usia kita hari demi hari berlalu begitu saja, tanpa kita isi dengan hal-hal yang positif.”

Menurutnya, banyak orang, tanpa terasa sudah tua, kehidupannya masih kosong. “Miskin dan menderita, karena masa mudanya tidak dimamfaatkan waktu yang ada dengan kegiatan yang bermamfaat dan positif. Tak bekerja keras dan tidak menabung atau tidak memiliki investasi. Akhirnya tiba pada penyesalan di hari tuanya, namun perlu kita sadari bahwa menyesal tua, adalah tiada arti!”

Satu-satunya cara untuk meraih sukses, tambahnya adalah dengan beriman. Berdoa dan berpengharapan senantiasa kepada Tuhan Yesus, berpikir positif, memiliki cita-cita dan tujuan hidup yang jelas, bergaul di lingkungan yang baik dan positif, ditambah belajar dan bekerja keras sepanjang masa. Pasti hasilnya sangat baik dan diberkati. Sukses adalah tercapainya cita-cita yang kita mimpikan melalui tata cara yang sudah kita tetapkan. Sukses di waktu sekarang selalu ditentukan oleh apa yang sudah kita lakukan dan mimpikan di waktu lampau. Sukses di masa depan bergantung pada bagaimana persiapan dan mimpi kita hari ini untuk masa depan, katanya.

Kalau kita sudah menetapkan bahwa kita ingin hidup seperti apa, lalu dengan beriman dan berdoa senantiasa kepada Tuhan, lalu berpengharapan, berpikir positif, memiliki cita-cita dan tujuan hidup yang jelas, bergaul di lingkungan yang baik dan positif, ditambah belajar dari orang-orang yang sudah berhasil dan bekerja keras sepanjang waktu dan fokus untuk mencapai tujuan hidup kita. Maka kita pasti akan meraih impian kita dan itulah yang namanya sukses tersebut, ujar Kamaruddin.

Pemahaman akan makna hidup terbangun oleh perjalanan hidupnya yang panjang. Dia sebelum menjadi advokat dulunya seorang bisnisman. Tetapi, di satu masa bisnisnya bangkrut. Dia tidak berlama-lama menangis keadaannya. Dari sana dia bangkit, beranjak makin gencar mempelajari hukum. Apalagi waktu disuasana dia masih aktif di bisnis Kamaruddin banyak bertemu dengan sarjana-sarjana hukum di Klender, Jakarta Timur.

Padahal dulu semenjak tamat dari SMAN I Siborong-borong tahun 1992, Kamaruddin tak pernah berpikir menjadi pengacara. Malah dia membulatkan tekad merantau ke Jakarta untuk mengadu nasib. Berbekal kenekatan, iman, dan doa orang tua begitu sampai di Jakarta. Kamaruddin karena tidak punya uang untuk kos dan tidak ingin menyusahkan saudara. Kamaruddin terpaksa harus tinggal di bawah kolong jembatan di daerah Klender, Jakarta Timur.

Selama tiga bulan hidup Kamaruddin bak gelandangan, kerja serabutan sekedar untuk bertahan hidup. Dengan berbekal ijasah SMA Kamaruddin kemudian mencoba melamar kerja di perusahaan. Tahun 1993 dia diterima bekerja sebagai Customer Service di sebuah restoran. Dari sana sempat membangun bisnis. Tetapi tak berapa lama, karena pasang surut dunia bisnisnya, Kamaruddin kemudian menikung, mengambil jalan lain menjadi pengacara. Lalu kuliah di Fakultas Hukum Univesitas Kristen Indonesia di tahun 2000. Dia tempuh hanya 3,5 tahun. Lulus kuliah, tahun 2004, lalu membuka kantor pengacara sendiri yaitu “Victoria” Law Firm. Victoria artinya kemenangan. Nama itu juga diambil dari nama putrinya. Sebagai pendiri kantor pengacara, dia banyak menangani berbagai kasus besarpun ditanganinya. Dengan bekal pergaulan dan wawasan yang luas dia dipercaya menangani kasus-kasus besar.

Kamaruddin selalu lantang dan tegas untuk mengatakan pendapatnya dalam membela kliennya. Sebagai seorang pengacara dia membongkar habis kasus-kasus diantaranya dirinya pernah membongkar korupsi tahun 2007 yang menyebut pertama kali jangan tebang pilih kasus korupsi di DPR Komisi V dan Menteri Perhubungan. Membongkar kasus korupsi di tubuh partai Demokrat tahun 2011 yang akhirnya menyeret Anas Urbaningrum, Nazaruddin, Angelina Sondakh. Satu perkara lain yang banyak disorot media nasional adalah kala Kamaruddin menangani kasus Rosalina Manullang, tahun 2011. Dia dipercaya Rosalina Manulang menjadi kuasa hukumnya untuk kasus mega skandal korupsi yang berhubungan dengan Muhamad Nazarudin, mantan Bendahara Umum Partai Demokrat itu.

Konon banyak yang menyebut dari menangani perkara Rosalina, nama Kamaruddin kemudian melambung bak meteor. Menjadi pusat berita selama beberapa bulan. Kini kiprahnya di dunia kepengacaraan Indonesia namanya pun kini makin diperhitungkan. Pria kelahiran Siborong-borong, 21 Mei 1974 adalah jemaat di HKBP Kebun Jeruk. Suami dari Joanita Meroline Wenji ini, telah Tuhan karuniai lima orang puteri. Dengan bekal integritas, kompetensi di bidang hukum, idealisme, kerja keras dan iman kepada Kristus. Sebagai seorang Kristen, dia ingin menjadi teladan dan saksi Kristus di bidang profesinya hukum yang digeluti putra dari Midian Simanjuntak dan Nurmaya Pardede.

Memperjuangkan klien

Kamaruddin sejak menekuni karir di dunia pengacara, sudah hampir ratusan perkara ditangani. Dan berbagai latar belakang orang yang dibelanya amat beragam. Sebagai seorang advokat Kamaruddin banyak membantu kliennya. Salah satu adalah penyanyi Daniel Sahuleka. Sebagai pengacara untuk menyelesaikan kasusnya dengan tiga record label besar di Indonesia. “Kita senang banyak yang suka dan menyanyikan lagu-lagu Daniel, tapi tentu semua ini ada aturannya. Kalau ingin mengedarkan, tentunya harus izin dahulu dengan penciptanya,” ujarnya. Johnny Maukar selaku manager Daniel Sahuleka di Indonesia menjelaskan, pelanggaran hukum yang dilakukan Sony Music misalnya adalah mengedarkan lagu ciptaan Daniel berjudul Don’t Sleep Away The Night yang dinyanyikan ulang oleh Glenn Fredly dalam bentuk CD. Namun setelah dilakukan mediasi, Sony Music akhirnya bersedia menarik kembali CD yang sudah beredar tersebut.

“Masalahnya waktu itu memang sudah selesai. Tapi di tahun 2012, Sony mengedarkan kembali lagu itu dalam bentuk iTunes tanpa izin dan tanpa memberi royalti sepeser pun.” Upaya mediasi juga sudah dilakukan sebanyak tiga kali. Namun, hal itu tak juga membuahkan hasil. Akhirnya Kamaruddin mensomasi. “Langkah pertama yang akan kami lakukan tentunya meminta keterangan dan memberikan somasi. Bila tidak juga menemukan solusi, kami akan mengajukan tuntutan hukum, baik melalui gugatan perdata ke Pengadilan Niaga di Jakarta, maupun tuntutan pidana ke kepolisian,” jelas Kamaruddin.

Ditanya satu hal yang membuat Kamaruddin selalu terusik adalah soal carut-marutnya penegakkan hukum kita. Baginya, sebagai warga bangsa yang menjadi bagian penegakkan hukum, Kamaruddin senantiasa mengutamakan hukum sebagai landasan dalam seluruh aktivitas negara dan masyarakat. “Hukum belumlah menjadi panglima. Masih jauh panggang dari api. Diistilahkan tajam ke bawah tumpul ke atas, itulah gambarkan kondisi penegakan hukum di Indonesia. Hukum yang seharusnya menjadi alat pembaharuan masyarakat, nyatanya penegakan hukum masih morat-marit dan carut marut.” Sebagai pengacara Kamaruddin sangat membenci ketidakadilan. Karena itu, kerap kali dia memberikan pencerahan lewat media sosial. Salah satunya dengan cara menulis di facebook pendapatnya soal-soal yang terkait dengan penegakan hukum.

Hotman J. Lumban Gaol

Pdt. Martin Lukito Sinaga D.Th


Martin L SinagaPdt. Martin Lukito Sinaga D.Th
Bidang Studi dan Jabatan:
Dosen Matakuliah: Dialog antaragama, Agama Hindu-Budha. Email: m.sinaga@sttjakarta.ac.id

Riwayat Pendidikan:
Sarjana dan Magister Teologi, STT Jakarta, 1991 dan 1995 Research Scholar “Religionswissenschaft”, Univ. Negeri Hamburg, Jerman, 1996-1998 D.Th. South East Asia Gaduate School of Theology, 2001
Riwayat Pelayanan:
Pendeta di Gereja Kristen Protestan Simalungun (sejak 1995-Sekarang); sebagai “Study Secretary for Theology and the Church” pada Lutheran World Federation, Genewa-Swiss (2009-2012). Aktifis dialog antaragama di MADIA dan ICRP (sejak 1998-sekarang). Dewan Redaksi di koran Satuharapan.com (2013-sekarang). Pendeta Jemaat GKPS Cijantung sejak 2014.
Karya dan Prestasi Akademis:
Penyunting buku, Common Word: Buddhists and Christians Engage Structural Greed (Geneva, 2012: LWF-DTPW); Menulis bersama Karen Bloomquist and John Stumme, Churches Holding Government Accountable (Geneva, 2010: LWF-DTS); Penyunting tulisan dan renungan terpilih Liem Khiem Yang: Menghayati Kalam dalam Hening (Jakarta, 2007: LAI); Penulis Identitas Poskolonial Gereja Suku dalam Masyarakat Sipil (Yogyakarta, 2004), diterbitkan oleh LKiS, “Lembaga Kajian Islam dan Sosial”, dan mendapat bantuan penerbitan sebagai “Buku Bermutu” oleh Yayasan Adikarya/Ford Fondation; Menulis bersama Juandaha Dasuha, Tole! der Timorlanden den Evangelium, Sejarah 100 tahun Pekabaran Injil di Simalungun (Pematangsiantar, 2003: Kolportase GKPS); Menulis bersama Trisno Sutanto, Meretas Dialog Anntar Agama (Jakarta, 2002:MADIA).

Wawancara: Pdt. Dr Martin L. Sinaga (Teolog/Cendikiawan Kristen)

“Jokowi Merajuk Perbedaan untuk Kebangsaan”

Setelah Jokowi-JK dilantik menjadi presiden dan wakil presiden. Terkait revolusi metal, apa yang realistis kita harapkan dari pemerintahan yang baru ini?

Kami sebenarnya sudah menerbitkan buku revolusi mental, editornya Jansen Sinamo. Buku yang juga diberi judul Revolusi Mental. Di buku itu saya menulis revolusi mental hidup beragama. Saya kira, kalau melihat kepemimpinan dan jejak rekam dari Jokowi, tentu ada secerca harapan. Bahwa kehidupan kita ke depan akan lebih baik.

Revolusi mental tampaknya membuka ruang untuk kita merubah cara berpikir…

Mindset kita dirubah. Soal identitas dan kebersamaan itu dibangun. Revolusi mental diterima masyarakat. Respon dari masyarakat kita bisa lihat di pilihan presiden lalu, ada konser dua jari. Lalu konser tiga jari setelah pelantikan Jokowi-JK sebagai pemimpin nasional. Saya kira ini indikator kita melihat bahwa ekpektasi masyarakat terhadap pemimpinan Jokowi-JK begitu tinggi. Harapan itu menurut saya tidak berlebihan, karena memang keberhasilan satu pemerintahan juga kalau didukung masyarakatnya.

Apa yang harus dilakukan pemerintahan Jokowi?

Kaum marginal harus ditolong. Kelas menengah ditingkatkan kehidupannya. Tetapi lompok elit yang selama ini disebut kelompok kapital dibatasi ruang. Misalnya, pengurangan jumlah pertambahan mal-mal. Jokowi, menurut saya hendak membangun berekonomi yang lain dari sekarang. Kalau itu berhasil itu sekaligus membangun toleransi. Cara berekonomi yang melibatkan kaum pinggiran, cara ekonomi yang melibatkan kelas menengah. Artinya, yang diperjuangkan Jokowi sebenarnya ekonomi yang demokratis. Saya kira, dia juga akan mendorong cara berbudaya yang bermartabat, itu lagi-lagi membuka meja persahabatan. Intinya, Jokowi ingin membawa kehidupan sejahtera bagi rakyat. Membawa kehidupan beragama yang lebih dewasa. Membangun keberbedaan dengan menerima orang yang berbeda. Sekali lagi Jokowi tampaknya lebih sadar bahwa kebinekaan itulah kekuatan kita untuk membangun bangsa.

Bagaimana merajuk perbedaan itu menjadi indah?

Argumen saya, bahwa ekonomi faktor utama keberagaman kita, apa yang terjadi hari ini. Kalau kita melihat konteks Indonesia, ekonomi menjadi faktor dominan membuat orang gampang meletuk. Fanatisme agama, anti agama, gampang terbangun karena faktor ekonomi tadi. Kehidupan ekonomi yang senjang itu mempengaruhi. Kita bisa melihat, komunitasi-komunitas agama yang dulu stabil mengalami ketersingkiran. Itu menciptakan kecemacan tentang krisis identitas. Tidak lagi hanya sekedar identitas agama, tetapi bagaimana saya merawat kebudayaan saya, bagaimana saya menghidupi keluarga saya. Hal-hal inilah yang menjadi dominan. Identitas rapuh dan rentan maka konservatisme itu terjadi. Akibat ekonomi yang global, orang gampang membanding-bandingkan diri. Ada perasaan tidak diterima, akibatnya yang terjadi antagonis.

Peranan masyarakat bagaimana?

Sekarang, masyarakat sudah mau menjemput harapan itu dengan berpartisipasi. Ada sukarelawan yang tidak mau dibayar, ini tampaknya membawa secerca harapan. Pertanyaannya apakah kelas menengah kita itu progresif dan memang sukarelawan itu sistimatis? Memang ini memang pertaruhan, hidup masyarakat yang hidup berbagai itu juga menandakan bahwa di akar rumput masyarakat bisa saling berbagai. Kekompakan itu harus ada. Dan juga harus ada stimulus dari pemerintahan Jokowi.

Stimulus yang harus dibangun pemerintahan Jokowi?

Menurut saya, pemerintahan Jokowi harus membuat stimulus ekonomi yang berpihak pada rakyat, membuka ruang untuk kemajuan kelas menengah. Kebijakan yang dibuat untuk mengembangkan sektor-sektor ekonomi kelas menengah. Misalnya, memudahkan pinjaman untuk para pelaku UKM, membangun insfrastruktur bagi home-home industri. Tetapi, lagi-lagi membatasi ruang gerak kapitalis besar yang hanya dipegang beberapa orang saja. Pelayanan ekonomi bagi mereka harus dikurangi. Jadi, pemerintahan Jokowi tidak boleh hanya melayani beberapa orang saja. Harus membawa keadilan, keberpihakannya harus jelas.

Realistisnya di pemerintahan Jokowi ke depan menghadapi berbagai hal yang mengganjal?

Memang harus disadari pemerintahan Jokowi tidak mudah ke depan. Apalagi tahun depan (tahun 2015) kita sudah terkoneksi dengan ekonomi Asia Tenggara. Artinya tantangan sudah di depan mata. Karena itu, yang diharapan masyarakat ke depan pemerintahan Jokowi harus hadir ketika ada gesekan komunal. Pemerintahan harus menyelesaikan sengketa-sengketa seperti GKI Yasmin dan HKBP Filadelfia. Pemerintah jangan mengistimewakan satu golongan.

Terkait soal toleransi…

Saya kira apa yang dilakukan Jokowi untuk mengajak perubahan etos. Itu adalah proses insklusif. Membuka diri untuk perbedaan. Keinsklusifan mereka terlihat dalam visi-mereka bahwa kebinekaan itu adalah hal keniscayaan. Artinya, kita bisa katakan bahwa keberagamaan yang mau Jokowi buat adalah keberagamaan yang insklusif. Intinya menerima keberbedaan, menerima iman yang berbeda. Bahwa cara beragama sekarang adalah cara hidup berekonomi. Jadi, apa yang kita lihat, relasi hubungan antar umat beragama dipengaruhi hidup beragama. Ada kesenjangan sosial, orang mudah tersinggung, orang gampang tersulup emosi. Itu terjadi karena orang hanya memikirkan dirinya. Tidak ada ruang untuk berbagi. Ekonomi kita sekarang kan memenangkan pertarungan, mengumpulkan sebanyak-sebanyaknya untuk diri sendiri. Ini berdesakkan terjadi. Nampaknya, hidup beragama kita juga demikian. Memperkuat diri sendiri. Memperkuat kelompok agamanya sendiri. Membangun tembok-tembok, dan menciptakan persaingan, yang penting membangun tembok kerajaannya sendiri. Inilah yang terjadi, intoleransi hidup berekonomi dan sekaligus hidup intoleransi beragama. Oleh karena itu, agama-agama sekarang menjadi konservatif. Jadi, hidup kebergamaan sekarang ini lebih menunjukkan gesekan ekonomi.

Dalam rangka memperkuat toleransi, apa yang menjadi hal urgen bagi pemerintahan Jokowi?

Tampaknya juga Jokowi menyadari betul dari perbedaan itulah akan muncul kualitas dan kekuatan. Jadi ke depan perbedaan itu bukan saja hanya pelangi, tetapi menjadi tempat untuk memberikan sumbangan-sumbangan unik bagi kemajuan bangsa dan Negara. Selama ini kita terlena menyebut perbedaan itu berarti jangan menggangu orang lain. Sekarang, perbedaan harus ditingkatkan, saling belajar. Kita belajar dari orang yang berbeda dengan kita, dengan demikian kita bisa berharap yang terbaik dari perbedaan itu. “Merajuk perbedaan untuk kebangsaan.” Saya kira itu dimiliki Jokowi.

ditulis, Hotman J. Lumban Gaol

Luhut Sagala


Luhut Sagala The Motivator

unnamed
Tak seorang pun tahu masa depannya sendiri, karena itu, bagi sebagian orang hari esok adalah misteri. Itu dilakukan oleh orang yang tidak punya pengharapan, tidak mau berpikir. Orang yang punya pengharapan, harus mampu berpikir untuk masa depan.

“Sadarkah kita apa yang kita raih sekarang ini adalah akumulasi dari apa yang kita rencanakan di masa lalu. Apa yang terjadi sekarang ini adalah bagian masa depan yang kita raih. Kebiasaan memikirkan masa depan mambawa kita penyadaran bahwa itu bukan misteri, tetapi sebuah harapan yang dibangun dari sekarang.” Demikianlah rangkain pembuka dengan Luhut Sagala, pendiri dan Managing Director Lusaga Training & Consulting, ini.

Lusaga sendiri kependekan dari Luhut Sagala, nama sang pendiri. Luhut sudah melanglang-buana dalam ratusan acara dunia pelatihan. Berpengalaman sebagai HRD Manager di perusahaan terkemuka selama 7 tahun, membawa Luhut pada ide untuk menciptakan kata salam pembuka pada traning-traning.
Kalau Anda menghadiri sebuah pelatihan, ataupun seminar motivasi, maka Anda akan disambut dengan salam pembuka. “Apa Kabar?” Spontan pendengar akan menjawab; “Luar biasa, fantastis, hebat, dahsyat.” Salam pembuka training saat ini terdengar sangat unik karena menghentak, membahana, menggelegar, juga membangkitkan semangat dan motivasi diri.
Salam “Luar biasa“, “Fantastis“, “Yes,Yes,Yes,“ sebagai salam pembuka Salam Lusaga, lembaga pelatihan yang dirikan Luhut Sagala. Salam Dahsyat, Salam Hebat, Salam Hebat dan Dahsyat, Salam yang hingga kini masih membahana di PT CNI adalah ciptaannya.

“Salam pembuka agaknya sudah menjadi tren, ketika saya beberapa kali mengikuti ibadah Gereja, ketika Sang pendeta menyambut dengan apa kabar, kontan seluruh jemaat menyambut dengan bersemangat, Luar biasa, Luar biasa dan ketika diulang lagi dengan apa khabar? Lagi-lagi dijawab dengan gemuruh sorak-sorai, Luar biasa, Luar biasa,” Luhut menjelaskan.

Luhut Sagala sendiri benar-benar tidak menduga, bahwa salam “Luar Biasa” ciptaanya kelak menjadi tren dan menjadi sebuah harmoni pada setiap pesta pelatihan ataupun seminar, termasuk di rumah ibadah. “Bulan lalu ketika saya memimpin pelatihan Champion Mentality di sebuah Bank terkemuka, salah satu peserta bertanya. Pak Luhut kapan Anda mulai memakai slogan Salam Luar biasa, Fantastis, Yes yes yes?“

Luhut menjawab:“Pertama kali saya ciptakan dan perkenalkan tahun 1991, waktu itu saya bekerja sebagai Training Manager dan memimpin program pelatihan di sebuah perusahaan MLM terbesar di Indonesia, PT Nusantara Sunchlorella Tama, yang kemudian berganti nama menjadi Centra Nusa Insan Cemerlang (CNI). Sejak saat itu hingga saat ini salam luar biasa tetap dipakai oleh CNI, sebagai perusahaan market Leader MLM di Indonesia,” ujar pria kelahiran Medan, 26 April 1962.

Suami dari 1 istri dan 4 orang anak ini melanjutkan ceritanya, “Rekan saya, Sang Kepala Cabang tersebut mengangguk dengan kagum; Wah hebat sekali pak, ngga nyangka pak Luhut, lalu mengapa tidak dipatenkan saja pak? Saya hanya mengangguk-angguk tersenyum tanda setuju akan mendaftarkan,” cerita Luhut.

Apa arti Salam Luar biasa, Fantastis, Yes Yes Yes, dan tujuan dan harapan dibalik slogan tersebut? “Arti luar biasa adalah tampil tidak dengan biasa biasa saja, berpikir dan bertindak luar biasa, melakukan hal-hal yang jauh lebih luar biasa dari hari kemarin. Arti fantastis tidak statis, tetapi dinamis, tidak apatis dan skeptis, tetapi berpikir sukses, berpikir dan bertindak maksimal,” tambahnya.

Lalu, bagaimana salam Yes Yes Yes? Menurutnya, setelah orang mengikuti pelatihan Lusaga, peserta akan bertumbuh semangatnya, komitmennya, target pencapaiannya 300 persen dari sebelum mengikuti pelatihan ini. “Kalau Anda mengikuti pelatihan Lusaga, maka Anda akan merasakan sebuah suasana yang berbeda dengan suasana pelatihan di mana pun. Ingin merasakan dan membuktikan hebatnya Salam Luar biasa, Fantastis?” ujar pendiri pelatihan Lusaga Training & Consulting.

Dari pengamatannya di dua stasiun radio bisnis di Jakarta, Luhut melihat salam pembuka training selalu terdengung Salam Antusias, Salam Super, Salam sukses luar biasa, Salam hebat dan jaya, Salam Luar biasa, Fantastis. “Pendeknya sebuah salam pembuka yang menyambut peserta pelatihan atau seminar. Begitu hebatnya aura dan gaung dari salam pembuka training itu, sampai-sampai pekikannya juga masuk di ruang acara ibadah.”

2000 angkatan

Luhut sudah berpengalaman 20 tahun sebagai Trainer dan HRD Consultant. Telah memimpin lebih dari 2000 angkatan dalam program pengembangan SDM pada perusahaan nasional maupun yang berskala internasional, antara lain: Bank swasta dan bank negara, Pertamina, PLN, Astra Int. Group, Hyundai Mobil Indonesia, Honda Prospect Motor, Indomobil Sukses Int, Kalbe Farma, Sanofi Aventis, Kondur Petroleum SA, Summitmas Property, Charoen Pokphand Indonesia, dan masih banyak perusahan swasta dan negeri yang telah mengundangnya menjadi motivator.

Salam antusiasmenya ditanggapi banyak orang, dia diundang di berbagai pelatihan, termasuk memotivasi para bangkir. “Tugas kita adalah bagaimana mengerakkan mereka, para profesional ini juga bisa memaksimalkan apa yang mereka harapkan. Kita hanya menggugah mereka untuk terus memberikan kontribusi yang baik pada perusahaan. Karena dengan demikian ada berbagai hal yang harus dikerjakan.”

Termasuk perusahaan seperti; Komatsu Indonesia Tbk. Indosat, Telkom, Esia, Sucofindo, Lion Superindo, Antv, MNC, Modern Photo Tbk, Hero Supermarket, Matahari, Japfa Comfeed, Intraco Group, Elektrolux, Toyota Astra Finance, WOM Finance, ACC, FIF, Ciptadana, AJ. Manulife Indonesia, AXA Life Indonesia, Eka Life, MLC Indonesia, Credit Suisse Life & Pensions, Cocacola.

Luhut terbiasa dengan pelatihan pengembangan pribadi dan bangunan kepemimpinan. Lewat traning itu, para pendengar termotivasi dalam keyakinan akan terbangun semangat antusiasme. Lalu, ada program yakin jual, excellent service pelanggan, presentasi dan keyakinan bangunan, presentasi dan keyakinan bangunan, mengelola perubahan dan kepemimpinan keterampilan, negosiasi dan keterampilan menjual. Pelatihan untuk Training, manajemen lokakarya. Dia juga terbiasa dengan memotivasi lewat tulisan. Salah satu kolom-nya di rublik personal investing manajemen pada majalah Investor.

Walau hidup dalam dunia pelatihan sekuler, Luhut amat tertarik dengan pelayanan di gereja. “Saya pribadi sangat tertarik dengan pelayanan di gereja. Saya heran, kaum profesional melihat etika Kristen, dan mereka maju. Sementara kita sepertinya mengaborsi nilai-nilai etika Kristen,” ujar jemaat HKBP Kebayoran Baru, ini.
Sebagai orang yang terbiasa dalam pengembangan diri, Luhut melihat betapa pentingnya semangat profesionalisme diterapkan dalam bidang apapun di mana pun. Pelayanan yang baik, akan menghasilkan dampak yang baik pula.

Penulis, Hotman J Lumban Gaol

Yamaro Sitompul


Pencipta Lagu Jokowi Presidenku dan Lagu Polisi Negara

Yamaro1Musisi produktif, telah menciptakan banyak lagu. Pria kelahiran lahir tahun 1965 di Rura Pangaloan, Pahae Jahe, Tapanuli Utara. Sebenarnya nama aslinya adalah Ia’Maro. Ia berarti diartikan dia, sedangkan maro berarti sudah datang. Jadi, “Ia’Maro” mengandung arti “dia sudah datang.”  Dalam bahasa Batak bisa disebut juga las roha ro, dalam bahasa Indonesia diartikan kedatangannya membawa sukacita. Nam berkah. Nama itu sebenarnya pemberian kedua orangtuanya; Parmian Sitompul dan Erika boru Simorangkir.

Yamaro merupakan anak ke-8 dari 10 bersaudara. Menikah dengan gadis asal etnis Batak Karo bernama Seriminda boru Purba Karo. Dari pernikahannya Tuhan anugerahi 3 (tiga) putra dan bungsu 1 (satu) putri. Si sulung bernama Michael Pangordang Dame Sitompul, anak kedua Capryam Satahi Pandapotan Sitompul, anak ketiga Capryen Saoloan Pandapotan Sitompul, sedangkan si bungsu bernama Christ Nathalia Srie Rotua Tarbarita boru Sitompul.

Iya, dia musisi yang otodidak yang produktif. Berbagai prestasi sudah diraihnya sejak duduk di bangku SMP, hingga saat ini. Tahun 1979, Yamaro meraih Juara I pada Lomba Pop Song Porseni Se-Tapanuli Utara. Tahun 1980 hingga tahun 1983 Yamaro menyelesaikan studinya di SMP HKBP Pangaloan. Tetapi dia selalu aktif mengikuti kejuaraan vocal group antar sekolah di Pahae. Tahun 1983-1986, pada saat duduk di bangku SMA Negeri I Tarutung Tangsi, aktif menjadi personil kontingen vocal group Tarutung di bawah naungan Pemerintah Kepala Daerah Bupati Tapanuli Utara.

Tahun 1985, dia juga meraih Juara I Lomba Vocal Group Pesta Danau Toba di Parapat yang menyumbangkan piala ke Kantor Bupati Tapanuli Utara. Selanjutnya, tahun 1985 dia menjadi juara I Vocal Group antar Tingkat SLTA Se-Tapanuli Utara yang mewakili Vocal Group SMA Negeri I Tarutung.

Berprestasi demi prestasi

Tahun 1988, Yamaro meraih Juara III Lomba Cipta Lagu Batak (LCLB) Tingkat Nasional Pertama. Piala bergilir Menteri Perdagangan pada waktu itu Dr Arifin Siregar, waktu itu. Tahun 1989, dia memasuki rekaman bersama Trio Ambisi, Trio Jack Marpaung, Tagor Tampubolon, dan lainnya. Selanjutnya, tahun 1991-1996 dia menadatangani kontrak kerja Hotel Berbintang di Bandung, Jawa Barat dengan mendirikan Group Entertainment DAME’S Vocal Group. Yamaro menjadi leader pada group ini. Dari sana mereka kemudian berpindah-pindah manggung di Sheraton In Hotel, Preanger Hotel, Panghegar Hotel, Sapoihoman Hotel, Horizon Hotel, Jayakarta Suith Hotel, Shantika Hotel, Venezia Restaurant, Flamboyan Restaurant, Princes Restaurant.

Tahun 1995, mulai mencipta lagu dan koor. Dia lalu menciptakan lagu koor Gereja berjudul Dame Na Sumurung. Lagu ini ikut diperlombakan di Festival koor di Gereja GKPI Wilayah IV, Dairi, Sidikalang. Atas keberhasilan dalam menorehkan karya-karyanya, maka pada tanggal 17 Agustus 2006 dia juga menerima penghargaan dari Kantor Wilayah Agama DKI Jakarta sebagai musisi otodidak.
YamaroTahun 2010, bulan Oktober dia mengarranggemen lagu Parsadaan Pomparan Raja Hasibuan se-Dunia.

Tak berhenti di situ, Yamaro juga menciptakan lagu untuk Sekolah Minggu HKBP diberi judul Horas Singkola Minggu HKBP. Dakdanak singkola minggu HKBP dan lagu untuk lanjut usia (Lansia) HKBP, Parompuan HKBP, Mars Tabe HKBP dari Tanggap Bencana HKBP. Juga, lagu majalah Suara HKBP, Horas NHKBP, Mars Remaja dan Pemuda HKBP. Oleh pengabdiannya ke HKBP Ephorus HKBP Pdt WTP Simarmata, MA mengangkatnya menjadi anggota Bidang Informasi dan Komunikasi pada Badan Tanggap Bencana HKBP.

Kemandirian ekonomi

Selain vocal Yamaro kini eksis mengarang lagu. Karangannya sudah dinyanyikan di berbagai instansi pemerintah. Salah satunya, tahun 2006, Yamaro menciptakan lagu untuk Polisi Republik Indonesia, dengan judul Spirit Untuk POLRI. Menurutnya, karangan ini diatorehkan sebagai dukungan penuh atas tugas-tugas pengabdian Polri. Yamaro ini juga dikumandangkan di Polda Kaltim Balikpapan pada acara Natal Bersama Polda Kalimatan Timur. Pada waktu itu dipimpin Irjend Pol DPM Sitompul sebagai Kapolda Kaltim.

Selanjutnya, 3 Juli 2006, di Gedung PTIK. Lagu tersebut dikumandangkan oleh Paduan Suara Bareskrim Mabes Polri. Paduan suara ini diiringi orchestra Mabes Polri. “Saya bangga karena juga disaksikan Kapolri Jend. Sutanto waktu itu. Dan juga disaksikan para mantan Jenderal Polisi,” kenang Yamaro.

Sebagai seniman, Yamaro merasakan tuntunan Tuhan. Kariernya sebagai seniman berlahan namun pasti terus menaik. Juli 2010, dia merekam karangannya itu dengan bekerjasama pada perusahaan rekaman dibawah naungan PT Global Musik. Merekam lagu  Polisi Pilihanku dan Polisi Negaraku, dan Bersama Kita Bisa” menjadi  RBT di handphone seluruh operator. Dan dapat didownload.

Mencipta lagu dijadikannya juga sebagai ajang kreasi, sekaligus untuk kemandirian ekonomi. Komponis Batak muda ini telah banyak menciptakan lagu mars dan koor. Termasuk, tahun 2007 Yamaro merilis album VCD Solo dan Ya’maro Family dengan label “Silindung Nauli”. Lagu tersebut menggambarkan keberadaan tentang Salib Kasih dan Nommensen. Atas permintaan Dr HP Panggabean SH MS, sekaligus mencipatkan lagu mars Kerukunan Masyarakat Batak (Kerabat) yang kebetulan diketuai Panggabean.

Berjubel gubahannya sudah tentu membawa kemandirian ekonomi. Atas semua prestasinya ini tentu membawa kemandirian ekonomi, dan tentu ucapan terimakasih dari berbagai pihak sudah menjadi hal biasa. Termasuk ucapan terimakasih oleh Kadiv Humas Polri, Irjend Pol Edwar Aritonang, pernah diterimanya atas karangannya tersebut. “Lagu tersebut adalah untuk dukungan dan kecintaan sebagai masyarakat. Dukungan atas tugas-tugas Polri,” katanya.

Kini, sebagai seniman, Yamaro juga mengekpresikan dunia seninya untuk terlibat dalam suksesnya pemilihan presiden. Dia menciptakan lagu untuk Jokowi. Yamaro juga menyadari dukungannya kepada pasangan Jokowi-JK sebagai pilihan terbaik. Itu sebabnya, dengan kemunitasnya dia mempromosikan Jokowi-JK dengan melakukan perjalanan di berbagai wilayah. “Para seniman untuk mendukung acara pilpres, semacam kekuatan sosial untuk memberikan dukungan terhadap pasangan nomor dua,” ujarnya. Dia percaya pasangan Jokowi-JK akan bisa membawa Indonesia ke dalam perubahan yang lebih baik. ditulis Hotman J. Lumban Gaol
Kronologi Lagu: ”JOKOWI PRESIDENKU”. Cipt: Yamaro SP.

YamaraLagu JOKOWI PRESIDENKU saya Ciptakan Setahun yang lalu, saya Yamaro SP mendapat Ilham terhadap JOKOWI, Bahwa beliau adalah Anak Manusia yang di Lahirkan di Bumi Indonesia menjadi anak Indonesia yang Polos,Tegas,Setia dan Bersahaja Oleh Urapan Kharisma Dari Tuhan Allah Maha Besar, Kesatria Pancasila untuk Membawa Indonesia Damai,Makmur dan Sejahtera. Terimakasih untuk Tuhan, serta kepada Ayahnya khususnya kepada Ibu yang  melahirkan JOKOWI.

Lagu JOKOWI PRESIDENKU saya Ciptakan di sebuah desa Kelahiran Saya tepatnya di Desa Pangaloan,Pahae-Tapanuli Utara, Minggu 5 Mei 2013.Pukul,00:48wib. setelah pulang ke Jakarta, Tepatnya Tgl 29 Mei 2013, lagu tersebut saya tulis dan Edit pakai Computer ter tanggal 29 Mei 2013 dalam lembaran lagu, dan Lembaran lagu hasil editan, saya Posting di Facebook saya:Yamaro SP ter tanggal 30 Mei 2013. Lagu Tersebut sewaktu Postingan pertama, agar bersahabat terhadap Teman yangmelihat dan mengomentari lagu tersebut, sebab waktu bicara presiden baru  tergolong dini, saya coba buatkan Judulnya JOKOWI OH JOKOWI (Tapi Tidak merobah Lirik). September saya kembalikan Judul Asli Pembuatanya “JOKOWI PRESIDENKU”.

Pada tanggal 7 September 2013, Lagu tersebut saya Masukkan di Youtube berbentuk Slide Audio Video, dengan memasukkan Gambar-gambar Jokowi dan Megawati serta PDI Perjuangan dll.(Bisa di Cek di Youtube saya klik : Kairos Yaro, disana ada lagunya dengan Versi House Music/Disco. Tanggal,Bulan,Tahun dan Jam Pemasukanya di Youtube bisa di saksikan).

Lagu ini saya Ciptakan untuk Perjuangan Kemenangan JOKOWI PRESIDEN bersama JK wakil Presiden di Pesta Pilpres 2014 Kemenangan tersebut di miliki oleh Seluruh Rakyat Indonesia.

Lagu JOKOWI PRESIDENKU dapat di nikmati setelah Pelantikan Beliau jadi Presiden Lagu ini Tetap kita Persembahkan untuk Rakyat Indonesia sepanjang masa agar kiranya Kehadiran Lagu ini, menjadi Motivasi semangat kerjasama membangun “Karakter Unggul Bangsa Indonesia” melalui Kepemimpinan JOKOWI-JK Pilihan Rakyat.

Salam Perjuangan bersama untuk “JOKOWI – JK”

                 Yamaro SP.

Cntact: Hp.0813 1891 7020.                                           

Lasro Marbun


Lasro MarbunWakil Gubernur DKI Jakarta periode 2012–2017 Basuki Tjahaja Purnama terkenal galak dan kritis terhadap bawahan. Tetapi, kepada Lasro Marbun, Basuki yang akrab disapa Ahok itu, tak sungkan mengobral pujian. Lasro Marbun diangkat menjadi Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta pada Februari 2014. Sebelum itu, Lasro adalah kepala bagian Organisasi dan Tata Laksana. Wakil Gubebernur Ahok menganggap Lasro adalah orang yang tepat untuk memimpin Dinas Pendidikan DKI, karena dinilai mumpuni dalam organisasi dan tata laksana sehingga diharapkan Lasro akan menyusun struktur pendidikan yang baik dan efisien.

“Dia jagonya nyusun (menempatkan) orang,” kata Ahok, Kamis (13/2/2014).
Pengangkatan Lasro sempat dikritik karena latar belakang pendidikannya dari fakultas hukum, bukan sarjana pendidikan. Tetapi kritik itu dimentahkan Ahok. Menurutnya, guru pun belum pasti beres dalam mengurusi pendidikan. Kepala Dinas Pendidikan tidak harus bisa mengajar. Gubernur DKI Jakarta Joko ‘Jokowi’ Widodo telah melantik Lasro Marbun sebagai Kepala Dinas Pendidikan Pemprov DKI Jakarta yang baru, pada Rabu (12/2). Lasro, yang semula menjabat sebagai kepala biro organisasi dan tata laksana (kabiro ortala), menggantikan posisi Taufik Yudi Mulyanto.

Lasro sendiri sebenarnya tidak memiliki latar belakang dunia pendidikan. Dia memiliki latar belakang sarjana hukum. Meski demikian, saat dihubungi Republika, dia mengaku siap mengemban amanah sebagai kepala dinas pendidikan. “Saya memang tidak bergerak di dunia pendidikan. Tapi kan saya juga mengajar, saya dosen. Saya juga pernah jadi murid dan mahasiswa. Jadi ya pasti punya format pendidikan,” kata Lasro, Kamis (13/2).

Lasro mengatakan, jabatan barunya sebagai kepala dinas ini naik setengah tingkat dibanding jabatan sebelumnya. Saat menjabat sebagai kabiro ortala, tingkatannya adalah eselon IIB. Sementara kepala dinas tingkatannya eselon IIA. Sebagai kepala dinas pendidikan yang baru, katanya, dia akan memaksimalkan anggaran yang sangat besar di Dinas Pendidikan agar lebih tepat sasaran dan akuntabel. Sehingga, bisa meningkatkan mutu pendidikan.

Lasro juga mengatakan, di bawah kepemimpinannya, ia ingin membuat Dinas Pendidikan semakin berorientasi pada publik, dalam hal ini yaitu murid dan orang tua murid. Indikator pelayanan publik yang makin membaik, bisa terlihat dari prestasi yang makin meningkat. “Selain itu mengenai Kurikulum 2013. Kita akan pelajari sejauh mana kita bisa berperan untuk percepatan penerapan kurikulum ini,” ujarnya.

 

Sammy L Tobing


Sammy L Tobing: Bercita-cita Menjadi Ahli Pesawat Terbang

Copy of SammySosok Sammy saat mengiringi suling dia acara budaya dan di gereja, banyak mengundang decak kagum, Sammy merupakan sosok remaja pemikir dan terus mengasah talentanya, dimana di setiap hari dia harus berlatih. Sammy sebagai salah satu remaha yang punya peluang menjadi orang hebat dimasa mendatang. Dilahirkan dengan nama lengkap Sammy Lumban Tobing. Ayahnya bernama Sam L Tobing. Dia adalah anak bungsu dari 3. Pada usia 5 tahun, Sammy sudah memperlihatkan bakat dan talentanya.

Pintar, piawai dalam music itulah sosok muda, Sammy L Tobing yang penuh talenta. Sejak kecil, Sammy, bercita-cita menjadi seperti Habibie. “Saya ingin seperti Habibie,” ujarnya. Lalu, apa kiat untuk menjadi seperti Habibie. Sammy sudah tentu banyak membaca, bertanya, bahkan selalu menonton dan mendengar apa-apa yang berkaitan dengan minat, katanya.

Apa memang minatnya? Sejak kanak-kanak, selain music etnis, music modern Sammy sudah tertarik dengan pesawat terbang. Itu sebab, ketika ada acara membahas pesawat atau jatuh pesawat jatuh di televise dia otomatis menontong dengan serius. “Sejak kecil bakat itu sudah dia tunjukkan. Semacam pengamat pesawatlah,” ayahnya, bekas Inspektur Jenderal Departemen Hukum dan HAM, ini.

Sekedar menunjukkan kehebatan Sammy pada pemaham soal pesawat. Ketika pesawat ini menghilang pada Sabtu (8/3/2014) dalam perjalanan dari Kuala Lumpur ke Beijing di atas Teluk Thailand. Sammy membangun punya pemikiran sendiri. Menurutnya, ada banyak hal analisis yang bisa dibangun. Menunjukkan kemungkinan bahwa seseorang pada daftar pengawasan terorisme mungkin telah naik pesawat dan meledakan itu? Tetapi fakta sejauh ini tidak ada  puing rongsokan pesawat yang dikaitkan dengan Boeing 777, yang  menunjukkan ledakan bom.

Sammy menambahkan, ada skenario bahwa hal itu pembajakan. “Sebelum menghilang, data radar menunjukkan pesawat mungkin telah berbalik untuk kembali ke Kuala Lumpur. Sejauh ini, belum ada laporan bahwa awak pesawat mengirim sinyal apa pun yang bisa mengabarkan telah terjadi pembajakan,” terangnya. Ada juga asumsi mungkin karena kegagalan mechanical? Namun, bagi Sammy tidak adanya puing di lapangan yang menunjukkan kemungkinan bahwa pilot dipaksa untuk mendaratkan pesawat dan mendarat di atas air tanpa putus, akhirnya tenggelam ke dasar laut.

Apa hal yang membuat Sammy begitu jernih menjelasakan soal pesawat. Sejak kecil dia sering mempelajri pesawat, bahkan bertanya soal pesawat. “Dia selalu kritis dalam segala hal dan selalu banyak bertanya apa saja kepada saya. Saya sering mendapat pertanyaan dari dia. Pak Kenapa? Kenapa begini? Walau sudah dijawab, selalu dia kembangkan lagi pertanyaannya,” tambah Sam L Tobing.

Bagi ayah Sammy, kebiasaan anaknya itu bertanya itu membuatnya makin banyak belajar tentang pesawat. Termasuk sikap kritisnya juga tak berubah saat mendapat pendidikan agama. Sejak kecil Sammy juga sudah menjadi orang yang kutu buku, berbagai buku dia baca. Termasuk majalah-majalah pesawat, khususnya yang menyangkut bidang ilmu teknik maupun ilmu alam. Itu tadi, kelak dia berharap bisa seperti Habibie. Menjadi seorang yang ahli pesawat terbang.

Suling Batak

Berkat kepiawaian dalam olah vokal dan bermain suling Batak, musisi belia Sammy L Tobing sudah melanglang buana ke 5 benua. Bahkan, sudah ke-31 negara disinggahinya. Kepiawaiannya itu telah terasah sejak dia duduk di bangku sekolah dasar. “Dua bulan mempelajari nada dan mengatur nafas, anak penuh talenta ini sudah mahir memadukan keduannya, vokal dan suling Batak,” ujarnya.

Sammy memiliki kemampuan, cepat belajar. Kecepatan belajar membuatnya bersinar di usia muda. Sebenarnya, jiwa seni mengalir dari sang ibunya, Semiramis Zizlavsky yang menyukai seni lukis. Kecintaan terhadap suling Batak anak bungsu dari tiga bersaudara pasangan Sam L Tobing dan Dr. Semiramis Zizlavsky ini  berawal saat melihat video klip Viky Sianipar. Keinginannya mempelajari suling batak mendapat sambutan baik dari musisi Korem Sihombing. “Bang Korem, selain mengajari saya, juga memberikan saya 16 suling, dan saya ingin memajukan seni budaya batak,” tambahnya. Berkat seni yang digelutinya itu, kini dia gemar menghibur teman dan keluarga, juga  di sekolah Minggu di gerejannya yang tak jauh dari rumah. “Saya juga mengikuti sekolah Minggu di gereja, memainkan piano dan bernyayi bersama,” katanya.

Sammy menambahkan, jika di sekolah dia banyak mendapat pelajaran ekstra kulikuler kebudayaan daerah seperti angklung dan Tari Bali. Sammy melihat kebanyakan temannya lebih senang menggunakan alat musik yang sudah terkenal. “Teman-teman jarang mau memainkan alat musik dari daerahnya sendiri. Selain mereka membawakan budaya di luar, seharusnya juga membawakan alat musik dari budayanya sendiri agar orang tahu kemajemukan kebudayaan seni di Indonesia,” ujar Sammy.

”Sebagai generasi muda Batak, saya harus berpartisipasi di kebudayaan Batak. Menurut saya, apresiasi orang-orang muda Batak belakangan ini kurang begitu antusias.” Padahal, dulunya sangat terkenal dengan lagu dan tarian-tariannya yang kental dan khas. “Saya ingin nama Batak itu semakin dikenal dengan keunikan budaya dan tarian lagunya, karena orang Tapanuli itu banyak memiliki kelebihan, terutama dalam urusan seni budaya,” ujarnya.

Di rumahnya di bilangan Kemang Pratama, Bekasi, Sammy memiliki perangkat musik Batak. Termasuk Gondang Uning-Uningan yang ditabuhnya sabam hari. Karena itu, remaja, umur 15 tahun itu merupakan sosok yang patut diperhitungkan. Selain bermusik, Sammy punya talenta bernyanyi, suaranya lantang. ”Saya bernyanyi dari Batak untuk Indonesia, bahkan ke dunia. Ini merupakan suatu bentuk kecintaan kita terhadap budaya Indonesia,” ujarnya lagi.

Menurutnya, bernyanyi dan suling bukan sebagai cita-cita menjadi seorang seniman sampai tua. Tetapi, bernyanyi dan memainkan suling Batak, tetap dijalani semuannya sebagai sampingan, bukan tujuan saya kelak. Soal ilmu pengetahuan, Sammy lebih tertarik kepada pembuatan pesawat terbang dan ia memang sudah pernah mengikuti latihan pilot di Belanda tahun 2000.

Sekali lagi, impiannya ingi ahli pesawat terbang. “Impian saya merancang sebuah pesawat seperti Pak B.J Habibie. Rencananya, setelah lulus dari Sekolah Menengah Atas langsung berangkat ke Jerman, mengejar cita-cita membuat pesawat,” ujarnya, mengungkapkan cita-citanya itu. Hotman J. Lumban Gaol