Budi P. Sinambela



Sejak Lembaga Adat Budaya Batak (LABB) berdiri 5 Desember 2018, tahun lalu, terus berupaya mewujudkan visinya Mewujudkan Bangso Batak Yang Bernas Teratas. Ketua Umum LABB Budi Parlindungan Sinambela demikianlah nama lengkap pria kelahiran Jakarta, 8 Mei 1964, terus mengajak seluruh pengurus untuk benar-benar bisa mewujudkan masyarakat Batak terus naik level. Putra pertama dua bersaudara dari pasangan Prof. DR. K.PT. Sinambela Kusumonagoro dengan Damaris boru Tampubolon menyadari betul, bahwa kehadiran LABB sangat penting dan strategis dalam mengembangkan pelayanan pada masyarakat Batak di kota maupun di kampung halaman.

Walau lahir dan besar di Jakarta, Budi merasakan suasana batin sebagai orang Batak tulen, yang otentik peduli pada budaya. Betapa tidak pesan dari bapaknya, Prof. DR. K.PT. Sinambela Kusumonagoro sejak kecil dirinya secara alamiah dituntun agar agar menjadi orang yang peduli dan memperhatikan budaya Batak. Ditanya apa yang membuat dirinya yang lahir dan besar di Jakarta begitu peduli budaya Batak? Nun jauh sebelum bapaknya mendirikan Universitas Mpu Tantular, sejak awal sudah menunjukkan kepeduliannya pada masyarakat Batak. “Kebetulan saya suka sejarah, suka kebudayaan dan saya selalu menikmati hal itu. Tentu itu semua bahwa jika memang ada kesempatan untuk memberi warna untuk budaya dan masyarakat Batak, mengapa tidak?” Demikian alasannya.

Karenanya, sebagai Ketua Umum LABB Budi berharap lembaga ini kelak menjadi lembaga yang sangat dibutuhkan dan konsen memberikan perhatian pada kaum muda Batak. “Lembaga ini harus menjadi wadah pemersatu untuk masyarakat Batak. Selain sebagai ketua LABB, saya sebagai Ketua Yayasan Budi Murni Jakarta yang menaungi Universitas Mpu Tantular dan sekolah-sekolah umum SD sampai SMK dengan tulus memberikan fasilitas yang bisa diberikan yayasan untuk membangun masyarakat Batak,” jelasnya lagi.

Ditanya, bagaimana suasana batinnya sebagai orang yang lahir dan besar di Jakarta begitu peduli budaya Batak? “Iya, itu tadi bagaimana kita menghargai budaya kita. Jika saya ke kampung halaman, saya kagum dengan alam yang begitu indah diberikan Tuhan kepada orang Batak. Artinya, bukankah itu kesempatan untuk kita mengucap syukur kepada Tuhan bahwa alam di tanah Batak itu sungguh indah. Maka benarlah pemerintah pusat memberikan perhatian besar untuk kemajuan pariwisata di tanah Batak,” ujarnya lagi.

Walau sesungguhnya tak pernah spesifik pesan ayahnya kepada dirinya, dia menangkap kerinduan ayahnya untuk memberikan kepedulian pada budaya Batak. “Dari tata laku yang diteladankan bapak tersirat agar kami anak-anaknya juga memperhatikan orang Batak,” ujar abang dari Santo Mulia Parulian Sinambela, ini. Dia menambahkan, bapaknya adalah sosok yang peduli, selalu berupaya agar kami anak-anaknya hidup secara lebih baik dari waktu ke waktu. Karena itu, sejak kecil di mana pun bapak berkerja, termasuk ketika bekerja di Hotel Indonesia saya diajak ke kantornya,” kenangnya.

Perhatian bapaknya, Prof. DR. K.PT. Sinambela Kusumonagoro pada budaya dan masyarakat Batak memang tak kepalang. Itu sebabnya bagi Budi sendiri, selalu mengingat pesan bapaknya yang selalu menekankan agar menghormati leluhur. “Kita mesti menyadari jika kita ada sampai saat ini tak lepas dari peran dan pembuka jalan, dari leluhur hingga ke  orangtua kandung yang menghadirkan kita ke dunia,” menjelaskan betapa pentingnya kesadaran dan mengetahui asal-usul.

Bekerja sambil belajar

Apa yang dilakukan Budi sebagai orang yang diberikan limpahan tanggung-jawab besar untuk mengurusi legacy bapaknya. Bapaknya memang seorang entrepreneur sejati. Baginya, bapaknya adalah guru dalam bisnis dan sebagai panutan hidup. Wawasannya dalam berbisnis selalu mengarahkan pada pengembangan usaha agar lebih maju dan lebih maju lagi. Tak heran Budi merasakan bahwa kehebatan bapaknya diakuinya dalam hal pengembangan bisnis luar biasa.

“Bapak selalu mengajarkan learning by doing, dalam arti belajarlah ketika dia memberi kesempatan pada kami untuk mengerjakan sesuatu. Cara-cara pengajaran yang seperti ini tetap bapak terapkan kepada kami,” tambah seorang pengusaha. Artinya, Budi memetik ajaran dari bapaknya, bahwa belajar dengan melakukan mesti beriringan. “Kita melakukan sesuatu yang belum kita ketahui sebelumnya dan karena kita melakukannya kita jadi tahu, itu yang disebut learning by doing.”

Budi menambahkan, bapaknya sebagai inspirator selalu menekankan kiat dalam kerja, yaitu proses pembelajaran, belajar sembari melakukannya. “Baik secara ide maupun secara etos kerja, bapak adalah panutan dalam berbisnis. Dia adalah orang yang sangat memegang arti sebuah prinsip. Karena itu, kalau dia sudah memutuskan sesuatu bisnisnya tak akan goyah lagi. Itulah prinsip yang selalu diajarkan bapak kepada saya adalah kalau kerja harus bagus dan harus tepat waktu. Saya belajar banyak tentang arti sebuah nilai kehidupan,” ujarnya, menerangkan ajaran yang diberi bapaknya.

Tak kehilangan esensi hidup

Bagi Budi, wujud kepedulian mengangkat harkat martabat masyarakat Batak tentu dengan mengangkat kualitas sumber daya manusia yang unggul. Sudah tentu, keunggulan sumber daya manusia itu didapat dan tersemai dari lembaga-lembaga pendidikan. Lembaga pendidikan yang mesti melahirkan orang-orang yang unggul oleh karena tercerahkan dari pendidikan. Karena itu pemberian beasiswa kepada mahasiswa yang berprestasi, bagi keluarga ekonomi lemah, keluarga yang tak mampu membiaya kuliah.

“Satu contoh wujud dari kepedulian, apa yang kami lakukan adalah jika ada mahasiswa dari keluarga Batak ingin kuliah benar-benar tak bisa memberi beasiswa kuliah, kami dari pihak yayasan bersedia untuk itu, paling tidak meringankan dengan bentuk beasiswa. Sudah tentu ini membantu dan memberikan kemudahan bagi mereka yang ingin kuliah,” ujar suami dari Dewi Christina boru Sitorus dan ayah empat putra; Brian Dapat Mangatur Sinambela, Maximilian Hosea Roger Sinambela, Darryl Ezra Rockywik Sinambela dan Humphrey Jaya Ruydith Sinambela.

“Dunia yang kita tinggali terus bergerak. Inilah dinamika yang terjadi. Kita tak hadir di ruang hampa, tetapi dalam kondisi dunia yang terus bergerak. Yang tak bergerak akan tertinggal. Kenyataan, kita ada dan bergerak di dunia yang terus dinamis bergerak. Karenanya, setiap kita dituntut mengambil peran untuk tetap berinteraksi di realitas dunia yang bergerak dengan kompleks dan majemuk ini. Dengan sikap adaptif di setiap keadaan, membuat kita mandiri dan bisa survival dalam setiap situasi yang ada. Maka, tak kalah kesulitan menyengat, teruslah belajar untuk eksis di keadaan dunia bergerak.”

Saat ditanya pendapatnya bagaimana beradaptasi dengan lingkungan saat ini? Pesan saya kita tak boleh lupa jatidiri kita sebagai orang Batak, bahwa kita sekali lagi ingat pesan nenek moyang dan selalu ingat leluhur kita. Karena itu, kita tonjolkan yang baik. “Bagi saya jika seorang manusia makin tinggi pendidikannya sudah tentu akan makin lebih mencari jati dirinya. Saya sangat percaya makin sukses seseorang dia akan semakin mencari asal usulnya. Karena manusia yang tercerahkan tak akan mau kehilangan esensi hidupnya,” ujar Direktur PT Mulya Jaya ini.

Dirinya selalu merendah. Dia mengingat keteladanan yang ditunjukkan sikap Raja dari Sisingamaraja XII dari marga Sinambela. “Saya mengikuti di marga kami tak boleh ada yang sombong. Pengalaman saya sebagai keturunan Sinambela, saya lihat dalam keturunan kami tak boleh sombong, kalau sombong akan cepat-cepat terjatuh. Saya melihat kalau ada yang sombong akan cepat terjatuh. Saya takut sekali, kalau melihat di marga kami Sinambela ada yang sombong saya melihat akan terjatuh,” jelasnya lagi. Dan memang, jika dihubungkan dalam kehidupan ini, bahwa soal merendahkan hati itu sangat penting dan kiat untuk bisa eksis di kehidupan. Lalu, pesannya bagi anak-anak muda Batak juga harus militan terhadap budaya Batak. Jangan tercerabut dari akar budaya, agar tak kehilangan makna di kehidupan. (Hojot Marluga)

Prof. Dr. A.O.B. Situmorang


ensiklopediatokohbatak- Jika bicara Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) atau dahulu dikenal dengan nama PPPG Pertanian yang pendiriannya sudah ada sejak tahun 1974 dengan dibentuknya Proyek Penataran Guru. Langkah berikutnya dilakukan kerjasama dengan Institut pertanian Bogor (IPB) mulai tahun 1976.

Tahun 1984 ditandatangani LOAN ADB No. 675-INO Port A, antara Pemerintah Indonesia dengan tim ADB, sebagai realisasi bantuan pinjaman ADB melalui proyek PPKT IV Jakarta. Maka jika membicarakan sejarahnya, kita tak boleh lupa peran Prof. Dr. AOB Situmorang yang saat itu Direktur Dikmenjur.

Reputasi pengalamannya banyak. Dirinya pernah sebagai Kepala Biro Administrasi. diera Prof. Ani Abbas Manopo, SH, rektor pertama IKIP Medan. Prof. Dr. A.O.B. Situmorang pernah menjabat sebagai Direktur Program Pascasarjana IKIP Jakarta (1984-1987)

Prof. Dr. A.O.B. Situmorang menata karier di ranah pendidikan. Perannya, pada akhir Pelita III terdapat 274 SLTP Kejuruan yang terdiri atas 194 ST dan 80 SKKP, serta 559 SLTA Kejuruan). Merehabilitasi 64 SLTP Kejuruan Negeri dan mengkonsolidasikan 210 sekolah jenis lainnya. Mengembangkan SKK (Sekolah Keterampilan Kejuruan) 4 tahun di 10 lokasi.

Dia juga melakukan penyesuaian 11 jurusan di SLTP Kejuruan dan 61 jurusan di SLTA Kejuruan. Mengembangkan SMK yang membuka program kejuruan teknik dan non-teknik dibawah satu atap, yaitu SMK Kartini Batam, disusul dengan STM Manna di Bengkulu dan STM Dumai. Mengembangkan “pola asuh” dalam pendirian sekolah kejuruan yang melibatkan industri dan pemerintah daerah. Menjabarkan dan melaksanakan Kurikulum 1984 SMK yang menghasilkan 97 program studi. Meningkatkan daya tampung 145 STM Negeri, 277 SMEAN, 97 SMKK/SMTK, dan menambah fasilitas 23 SMT Pertanian.

Selain itu, dia juga mengemban tugas pembangunan PPPG Teknologi Medan dan Malang, PPPG Kejuruan di Jakarta, PPPG Kesenian di Yogyakarta, dan PPPG Pertanian di Cianjur. Mengangkat 10.000 guru baru untuk sekolah kejuruan, dan mengembangkan “Pola Mentawai” dalam rekrutmen calon guru dan penempatannya.  Pengalaman Prof. Dr. A.O.B. Situmorang pernah menjabat sebagai pengawas sekolah hingga kemudian menjadi Direktur Program Pascasarjana IKIP Jakarta.

Ronald Simanjuntak, S.H., M.H.


Hidup Setia Melayani, Paham BerkatNya dan Bukan Berkat

Hidup ini adalah kesempatan dan pilihan. Maka kesempatan dan pilihan itu bagaimana menjalani seturut rencanaNya. Paling itulah yang bisa meresume seluruh perbincangan dengan Ronald Simanjuntak SH MH. Pria kelahiran Desa Adian Padang, Kecamatan Sipahutar, Kabupaten Tapanuli Utara, 26 Oktober 1960. Anak kedua dari sembilan bersaudara. Delapan laki-laki dan satu perempuan. Anak dari Guru Malon Simanjuntak dan Erika boru Sianipar. Ayahnya seorang kepala sekolah, selalu mendidik mereka berpengharapan dan selalu berjuang.

“Saya masih ingat nasihat ayah, harus saling menopang di antara kakak-adik. Jika anak pertama sudah  selesai kuliah dan mendapat pekerjaan, membantu adik-adiknya, demikian selanjutnya,” kisahnya. Tenyata, dengan cara itulah kakak-beradik sembilan bersaudara ini bisa menempuh sarjana. “Gaji orangtua tak cukup. Tetapi kami bisa semua sarjana karena beliau mendidik untuk saling peduli, saling membantu.”

Masih kanak-kanak, Ronald anak cerdas dan agresif. Sejak sekolah dasar dirinya selalu mendapat rangking kelas. Tetapi, itu tadi, karena agresif, menjelang remaja di SMP sampai SMA, ada perubahan dalam dirinya. Dia sering bolos sekolah. SMA saja lima kali pindah sekolah. Orangtuanya tak mau pendidikannya gagal, maka untuk mengatasinya, Ronald dipindah-pindahkan sekolah. Ada nasihat yang tak pernah lekang di benaknya pesan ayahnya, bahwa membimbing anak-anak seperti mengikuti aliran sungai. Asal terus diikuti, maka satu saat dia akan sampai kepada tujuannya. Demikianlah ayahnya membimbing. “Beliau selalu sabar untuk mengarahkan saya termasuk mesti pindah-pindah sekolah,” terangnya.

Demikianlah kegigihan dan kesabaran memberi hasil terbaik. Setelah pindah-pindah sekolah, akhirnya dia menamatkan sekolah dari SMA Kampus FKIP Nommensen, Pematang Siantar. Di sekolah ini dia mengalami perubahan. Dirinya mulai tersadarkan, memahami tak ada yang dapat merubah dirinya, kalau bukan dari dirinya sendiri yang merubahnya. “Tak ada seseorang pintar jika bukan dirinya yang mengusahakannya pintar.” Selulus sekolah menengah atas, dia melanjutkan kuliah ke Bandung.

Disana dia mendapat beasiswa dari DIKTI. Kuliah di Sekolah Tinggi Hukum Bandung, dan menjadi mahasiswa teladan. Padahal, sembari kuliah dia juga bekerja, mencari tambahan dana, karena kiriman orangtuanya tak cukup. Jadilah Ronald sampai tiga tahun menjadi office boy. Ritmenya, pagi kerja dan siang hari kuliah. Dia dipercayakan membersihkan ruangan praktek dokter. “Kerjanya mulai pukul enam pagi, hingga pukul 12 siang. Siangnya kuliah sampai sore.” Di sela-sela waktu yang ada, jika tak bekerja dan kuliah, dia menyempatkan diri membaca ke perpustakaan.

Mengapa ke perpustakaan? “Saya tak mampu membeli buku. Saya bukan saja anggota perpustakaan di kampus, tetapi anggota perpustakaan di berbagai tempat. Anggota perpustakaan milik Pemda, British Council Library Bandung, dan termasuk rajin ke toko buku Gramedia di Jalan Merdeka, Bandung. Tentu, semangat belajar itu diasah melihat kenyataan hidup.” Dia manambahkan, “Saya melihat hidup di kampung itu sangat memprihatinkan. Saya tak mau hidup di kampung, maka harus berusaha maksimal untuk bisa survive di kota.”

Kegigihan dan usaha yang maksimal tersebut dipetiknya. Dia lulus dengan lumayan cepat dengan nilai memuaskan, lalu pindah ke Jakarta melamar kerja. Di sana diterima di perusahaan asing. Salary-nya di atas gaji standar, dan mendapat fasilitas. Luarbiasanya, baru tiga bulan bekerja di perusahaan tersebut, bosnya memberikan fasilitas, mobil. Bukan hanya itu, dirinya kerap mendapat penugasan perusahaan untuk mengikuti training ke luar negeri.  Sayang, di perusahaan asing itu dia hanya bekerja tiga tahun, sebelum kemudian membuka usaha dengan rekan-rekannya. Kariernya terakhir sebagai General Manager pada PT Yulisem Jaya Raya (1987-1990). Saat itu dirinya sudah menikah dengan gadis pujaannya yang dulu satu sekolah di Pematang Siantar dan kuliah di Bandung.

Lalu, mengapa keluar dari perusahaan? Dia ingin gaji lebih besar lagi. Saat itu teman-temannya mengajak buka usaha. Saat itu belum matang benar membuat keputusan, tetapi apa hendak dikata, perusahaan itu ditinggalkannya karena tertantang mendapatkan pendapatan lebih. Kami bersepakat mendirikan perusahaan dengan modal patungan. Tak berapa lama usaha itu bangkrut. Bersamaan waktu itu, dia ikut bisnis valuta asing. Usaha itu pun juga kolaps. Disinilah pengalaman gagal pertama dialaminya. Mobilnya disita. Tabungannya terkuras.

Namun hidup harus dijalankan terus. Tak boleh meratapi apalagi menyesali apa yang sudah terjadi. Baginya, biarlah kesalahan itu memberi pemaknaan baru, bahwa dari kegagalan ada pengetahuan baru. Dia memetik hikmat, bahwa hidup harus ditata dengan baik. Waktu harus diisi dengan sebaiknya. Itulah hidup, karena terlalu asik mengejar uang, lupa untuk pelayanan.

Di kemudian hari sebagai orang yang makin matang dari segi pengalaman dan kematangan usia, Ronald menemukan bahwa hidup perlu keseimbangan. Bekerja dan melayani. Hidup yang kita hidupi harus juga melayani. Tak seluruh hari-hari disibukkan untuk mengejar fulus. Bahwa, rezeki yang diterima tak semua diteguk sendiri. “Saya melupakan hal-hal sifatnya melayani. Saya tenggelam dalam hiruk-pikuk dunia. Hidup dalam dunia yang tak baik.”

Sebenarnya  saat masih aktif bekerja dia sudah aktif untuk menangani beberapa perkara hukum. Walau waktu itu belum mendapat kartu izin menjadi pengacara. Tahun 1993, dia menetapkan diri menjadi pengacara, namun baru di tahun 1994, dia dilantik menjadi advokat oleh Menteri Kehakiman berdasarkan rekomendasi Ketua Mahkamah Agung.

Begitu ditabalkan menjadi pengacara, Ronald membuka kantor sendiri dengan nama Ronald & Associate di Jalan Veteran nomor 2, Jakarta Pusat. Dari Jalan Veteran pindah sewa kantor di Tomang Raya No. 25, Jakarta Barat, dengan dibantu dua pengacara. Dari sana membeli ruko untuk kantor di bilangan Jatinegara. Kemudian hari membeli kantor lagi di MT Haryono Square, dan sampai sekarang dia berkantor.

Di perjalanannya sebagai pengacara di kemudian hari kuliah lagi untuk mendapatkan Master Hukum dari Universitas Pelita Harapan. Sejak menjadi pengacara dirinya aktif mengikuti berbagai Pendidikan Instruktur Penyuluhan Hukum. Aktif juga di organisasi pengacara. Pernah menjadi Pengurus DPC IKADIN Jakarta Barat, DEPINAS SOKSI bagian Hukum dan Hak Asasi Manusia dan DPP IKADIN bagian Hubungan Luar Negeri. Sekarang pun di PERADI yang terfaksi di ketiga organ, dirinya tetap diminta sebagai penyuluh untuk calon-calon pengacara muda.

Selain itu, dia juga aktif di organisasi bisnis. Pernah Sekretaris Jenderal Forum Komunikasi Perdagangan Bursa Komoditi (1989-1992). Dan pernah Managing Director PT Mita Yasa Investama (1991-2003). Aktif advokat sembari Managing Director PT Karimun Aromatics yang bergerak di bidang Perkebunan Kelapa Sawit dan Pabrik CPO dari tahun 2007 hingga sekarang. “Saya merasakan dalam bisnis bahwa latar belakang saya di bidang hukum itu sangat mendukung,” ujarnya.

Demi cinta single parent, Ronald gigih bertahan dalam prinsip oleh nilai-nilai yang ditanamkan orangtua dan dorongan atas cinta sejatinya. Ronald menikah dengan Rosmaida boru Girsang setelah berteman hampir sembilan tahun, menikah tahun 1988. “Saya sebantaran dengan istri. Namun usia kami berbeda. Saya lebih tua. Sebab, itu tadi, saya lima kali pindah-pindah sekolah di SMA,” kisahnya.

Dari pernikahan tersebut Tuhan karuniakan tiga anak. Anak pertama, Paul. Lahir tahun 1989. Lulus S1 dari UGM. Lalu mendapat gelar S2 dari dua universitas ternama; Universitas Indonesia dan Universitas Leiden, Belanda. Anak kedua, seorang perempuan. Lahir tahun 1991. Namanya Hana Chovicha boru Simanjuntak. Lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia. Sekarang hendak menempuh pendidikan spesialis sembari asisten dosen, dan bekerja di klinik kecantikan di bilangan Kepala Gading, Jakarta Utara. Anak ketiga perempuan lahir tahun 2004. Namanya Kerenhapuch boru Simanjuntak. Saat ini menempuh SMP di sekolah internasional SMP Brighton Cibubur, Jakarta Timur.

“Istri saya itu adalah seorang yang sangat sederhana. Tak banyak menuntut dan sangat percaya dengan suami. Isu apa pun tentang saya di luaran sana dia tak percaya. Selalu percaya suaminya, dan demikian saya kepadanya,” kisahnya. “Kami mengelola keluarga dengan komitmen, saling percaya. Sepanjang kami membina mahligai keluarga tak pernah bertengkar,” ujarnya.

Di tahun 2007 istrinya yang sangat dikasihinya dimuliakan Tuhan. Mereka baru tahu penyakit istrinya, kanker hati. Penyakit itu baru diketahui tiga bulan sebelum meninggal. Almarhumah istrinya pun sama sekali tak pernah mengeluhkan, tak merasakan apa-apa tentang penyakitnya. Sebagai suami dirinya tak larut dengan kesedihan, dia tetap usahakan pengobatan terbaik. Dirinya berusaha membawa ke rumah sakit terbaik, bahkan sampai berbulan dirawat di Penang, Malaysia.

Sempat lima kali menjalani kemoterapy. Dia terus setia mendampingi istrinya. Namun rencana Tuhan berbeda, istrinya meninggal setelah empat bulan berjuang dalam pengobatan. “Saat itu perjuangan dan pergumulan hidup sangat berat. Anak saya yang pertama, Paul waktu itu masih baru lulus SMA dan hendak masuk ke UGM. Putri saya kedua, baru SMP, dan Karen si bontot masih usia bayi.”

Namun, dia memilih tak menikah. Sepeninggalan istrinya, dia menutuskan single parent, mengasuh ketiga anaknya dengan sendirian, tanpa pasangan. Sebab dia merasakan getaran dari batin istrinya saat-saat sebelum dijemput ajal. Selama dalam perawatan di Penang full satu bulan dialah yang menjaganya, sebagai suami-istri, dia merasakan bahwa istrinya sangat berharap dirinya bisa menuntaskan tanggung-jawab membesarkan dan menyekolahkan anak-anak seorang diri. Dari interaksi batin itu dia memahami kemauan istrinya. Tentu istrinya tak pernah mengatakan, melarangnya menikah jika dirinya sudah meninggal. Namun dari naluriah interaksi itu dia merasakan ada pesan tersirat.

“Bahwa wujud cinta dengan istri harus saya buktikan. Saya menutuskan tak menikah melihat putri saya yang masih bayi, Karen. Usianya masih dua setengah tahun. Saya bayangkan, kalau saya menikah, bagaimana nasib anak-anak, terutama Karen, saya kira pasti terganggu psikologisnya. Saya tak mau batinnya terluka,” jelasnya memberi alasan tak menikah. Walau dari dalil dalam Alkitab bahwa yang diceraikan oleh kematian diperkenankan menikah kembali. Hanya, Alkitab tegas, tak bisa menikah lagi orang yang cerai hidup. Tetapi dia memutuskan tak menikah walau ada peluang menikah. Bahkan, dirinya sempat dibujuk keluarga untuk menikah lagi, alasan mereka tak baik laki-lagi seorang diri. Apa jawabnya?

“Saya jawab. Iya, ada benarnya. Saya merasakan sebagai duda hidup di rumah kaca. Selalu dimata-matai dan diperhatikan. Baju lusuh disebutlah kasihan karena tak ada yang merawat. Kalau berdandan parlente dikatakan genit atau ganjen. Serba salah. Maka jawaban saya untuk saran menikah, tak baik laki-laki seorang diri, bahwa saya bukan lagi sendiri. Saya dihadirkan tiga orang anak untuk sahabat saya,” ujarnya. Tentu, banyak faktor yang membuatnya tak menikah. “Tentu, sebagai laki-laki normal saya bukan munafik. Masih membutuhkan hal-hal kebutuhan biologis. Tetapi, semuanya saya perhitungkan matang. Apalagi untuk menemukan karakter seperti almarhumah jelas tak mungkin. Dan mencari yang sepadan baik dari pikiran dan sikap, apalagi sangat mencintai anak-anak sudah jelas sangat susah,” terangnya lagi.

Memang, Alkitab menyebut, lebih baik hidup sendiri, tetapi jika engkau tak mampu bertarak hendaklah menikah. Konsekwensi logis dia pilih tak menikah tentu juga mesti mau merima berbagai kerepontan mengurus rumah tangga, dan menghindari godaan. Dia menggambil peran istri sekaligus ayah. “Di awal-awal ditinggal istri, saya masih harus tidur dengan putri saya yang paling kecil beberapa tahun. Tiap malam sebelum istirahat saya harus siapkan di kamar susu bayi termasuk termos. Saya harus bangun dua kali tiap malam untuk membuat susu. Belum lagi terbangun mengganti pampers.”

Tak mau putri bungsunya ini terlantar. Di hari-hari jadwal untuk imunisasi bayi, dia sendiri yang pergi ke rumah sakit. “Saya tak mau dia telantar. Kurang mendapat kasih sayang. Kurang asupan vitamin.” Ada hal yang selalu dipikirkan bahwa batinnya dengan batin anaknya harus terkoneksi. “Ada satu hal yang saya sadari bahwa hubungan saya dengan anak-anak saya. Psikologis saya harus bisa masuk ke psikologis mereka.”

Oleh karena perhatiannya lebih pada Karen, satu waktu anaknya protes kepadanya menyebut, bahwa sebagai bapak dirinya kurang adil. Sebab, ketika anak pertama dan anak kedua di masa kanak-kanak, sering dimarahi kalau salah, sementara Karen, walau salah tak pernah dimarahi. Apa jawabannya? “Saya katakan kepada kedua anak saya. Bapa punya cara sendiri mendidik adik kalian. Saya mamanya dan saya papanya. Sedangkan kalian, dulu, masih ada mama. Kalau papa marah kalian masih dibela mama,” ujarnya menjelaskan.

Tentu, dia juga punya cara mendidik anak perempuan dibanding dengan Paul, anak laki-laki satu-satunya. Paul saat SMP, pernah dilibasnya karena bolos sekolah. Dirotannya hingga merah. Waktu itu istrinya masih hidup. Dia suruh istrinya masuk ke kamar. “Kau masuk ke kamar. Paul saya ajar dulu. Nanti kalau kau lihat, kau melarangnya. Begitu istri masuk ke kamar saya tanya Paul, dijawab iya, saya rotan untuk mengingatkannya agar tak mengulanginya.” Sementara kepada kedua anak gadisnya dia tak pernah pukul. Kalau marah tentu pernah jika mereka melakukan kesalahan.

Kepada anaknya, terutama Paul selalu berpesan untuk tetap tabah, jangan cengeng dan tak boleh sombong. “Anak laki-laki tak boleh menangis. Tak boleh mudah menyerah, mesti berjuang. Tak boleh mudah putus asa,” kalimat itu kerap didengung-dengungkannya. Sekarang,  dirinya merasakan manfaatnya. Paul dan Hana sudah bekerja, mandiri dan dewasa dalam bersikap. Paul bisa menolongnya di bisnis dan advokat. Hana bisa membantu menjaga kesehatannya sebagai seorang dokter. Jika melihat hasilnya di taraf ini dia bisa katakan, “Untung saya memilih tak menikah. Apa jadinya seandainya saya menikah, tak mungkin dekat dengan anak-anak.”

Sedia melayani

Melayani memurnikan hidup, demikianlah satu ungkapan untuk melalukan hidup dari godaan-godaan yang menjerat. Sebagai pengacara dan pebisnis, Ronald kerap berjumpa dengan banyak orang. Baik klien atau rekan bisnis. Tetapi, yang sifatnya entertain dan bertemu klien perempuan empat mata dia selalu hindari. Caranya bagaimana? Dia senantiasa mengikutkan anaknya, Paul. Tetapi sekarang ditemani berenya, keponakannya yang juga asistenya, sebab Paul sekarang sudah mandiri, membuka kantor pengacara bersama teman-temannya.

Cara untuk jangan terjerumus dalam rupa-rupa yang tak baik, Ronald telaten tiap pagi bersaat teduh. Diakuinya di masa mudahnya bukan manusia yang bersih sekali, tetapi sekarang, dia menjaga sekali hidup suci untuk berkenan dihadapanNya. Apalagi dirinya tiruan bagi anak-anak. “Saya tahu kelemahan saya. Kita jangan lupa Tuhan kerap izinkan kita dicobai melalui kelemahan kita. Kitalah yang harus berkomitmen menjauhi kelemahan. Sebab disinilah kita kerap diuji oleh komitmen. Kita harus tahu itu agar tak terjatuh dengan rupa-rupa kesalahan,” jelasnya.

Artinya, tegas dia membatasi diri dengan berbagai hal-hal yang bisa merusak reputasi yang dibangunnya. Maka dengan tegas dia tak lagi membuat atau menerima janji pertemuan di luar jam kantor. Baginya, lebih baik pulang ke rumah. Di rumah dia bisa berinteraksi dengan anak-anak, bisa  leluasa membaca buku untuk menambah pengetahuannya, kalau tidak dia menonton atau mendengarkan khotbah. Ronald juga tak lupa untuk melayani, dia sadari melayani itu memurnikan hidupnya.

Tak hanya diundang memberikan pencerahan firman Tuhan, dia juga kerap bersama rekan sepelayan ke luar kota mengadakan misi ke desa-desa terpencil, kalau tidak mengunjungi panti asuhan. Maka dia selalu siapkan waktu untuk melayani, memberi hati, termasuk membantu pelayanan yang dikelola teman-temannya. Walau pernah sekolah teologia, tetapi bukan niatnya untuk menjadi pendeta, tetapi jiwa melayani itu terus dikobarkannya. Baginya, semua profesi adalah ladang pelayanan atau “market place.

“Hidup ini sangat rentan. Saya tahu bahwa pelayanan kitalah yang memagari hidup kita. Sebab firmanNya itu bagaikan pedang bermata dua. Saat menyampaikannya, satu sisi untuk orang lain, tetapi jangan lupa satu sisi  untuk diri kita.” Tentu, pelayanan bisa dibuat topeng. Sudah tentu itu terlihat dari motivasi atau niat masing-masing. Kalau dalam istilah hukum disebut, mens rea, (sikap batin pelaku perbuatan pidana),  apa yang memotivasi dari dalam? Tentu jika motivasinya untuk dilihat orang alim, paling gampang apalagi jika hamba Tuhan.

Persoalannya niat dari dalam diri, apa? “Firman itu kita beritakan dan itu juga yang mengaca diri kita. Jadi penuntunnya adalah firman. Maka Alkitab harus menjadi sahabat kita, dibaca setiap hari. Sama seperti buku penuntun dari smartphone kita. Kita tak bisa maksimal menggunakan fungsinya jika kita tak membaca manual book-nya. Demikian juga dalam hidup ini, kita tak maksimal di kehidupan ini jika tak membaca aktif buku penuntun; Alkitab. Itu sebabnya keKristenan bukanlah sekedar agama akan tetapi jalan hidup atau “way of life.

Menurutnya, banyak orang yang salah presepsi, bahwa jika telah jadi Kristen harus diberkati secara materi, padahal bukan demikian. Berkat materi itu tersedia bagi setiap orang dan bukan saja bagi orang Kristen. “Tuhan memberikan kesempatan kepada semua orang untuk memaksimalkan potensi yang dimiliki dalam hidupnya. Mindset kita harus dirubah, bahwa kita tidak lagi fokus kepada berkat materi seperti itu. Kalau untuk hal itu, kita harus kerjakan secara bertanggung jawab, dengan bekerja keras, hidup hemat, berintegritas, maka Tuhan pasti mencukupkan. Fokus hidup orang percaya sebenarnya adalah bagaimana bisa hidup berkenan dan menyenangkan hati Tuhan.” ujar jemaat di Gereja Suara Kebenaran Injil (GSKI) Rehobot, gereja yang digembalakan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, itu.

Ronald menambahkan, bahwa perlindungan Tuhan otomatis bagi orang-orang yang mengandalkanNya. “Berkat itu bukan hanya materi. Banyak berkat Tuhan yang kita terima, perlu kita hitung-hitung temasuk kesehatan.” Banyak orang berpikir bahwa kalau sudah kaya secara materi maka hal tersebut merupakan berkat Tuhan, padahal belum tentu. Maka dia ilustrasikan, bahwa tak semua yang bersisik itu ikan,. Sebab ular juga bersisik. “Kerap orang tak bisa membedakannya. Sebab, nyatanya, banyak orang yang menyamakan ikan dengan ular, karena sama-sama bersisik.”

Dia mengisahkan, seorang pemuda di Plumpang yang kerjanya mengambil minyak dari setiap mobil tanki yang lewat di saat  jalanan macet. Setiap hari hal itu dilakukan. Minyak yang diambilnya makin banyak, tetapi di benak pemuda itu bahwa seluruh mobil tanki adalah pembawa minyak. Si pemuda tak tahu ternyata ada juga mobil tanki yang membawa tinja. Satu waktu dia mengejar mobil tanki yang tenyata membawa tinja. Begitu mobilnya berjalan pelan-pelan, dia kejar dan dibukanya. Apa yang terjadi? Tiba-tiba yang muncrat adalah tinja. Mengapa demikian? Sebab pemuda tadi tidak mengerti mana tanki tinja atau tanki minyak.  Implikasi dari ilustrasi ini Ronald hubungkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Bahwa setiap kita harus memahami mana berkat Tuhan dan mana yang bukan berkat Tuhan. Jadi, jangan maruk atau rakus dan tak boleh dipukul rata semua. Kalau materi itu berasal dari Tuhan, itulah berkat, namun juga ada materi yang bukan berasal dari Tuhan, itu bukanlah berkat dan bisa jadi laknat,” ujarnya mengakhiri. Maka, keruwetan pun bisa jadi berkat jika mampu dipahami makna tersirat di keruwetan yang ada. (Hojot Marluga)

 

Kamaruddin Simanjuntak, S.H, M.H


Advokat/Pengacara Pemberani yang Selalu Survival dengan Mengandalkan Tuhan Elohim

Satu-satunya cara untuk meraih kesuksesan hanya dengan mengandalkan Tuhan Elohim. Demikianlah tersimpul dalam perbincangan dengan Kamaruddin Simanjuntak, S.H. “Agar bisa bertahan kita harus benar-benar berserah kepada Tuhan Elohim, dan tak ada ketakutan menjalankan profesi yang kita geluti. Tentu keberhasilan hari ini ditentukan oleh apa yang sudah kita lakukan di masa lampau. Semuanya dimulai dari keberanian dan kesiapan diri menggapainya,” ujar anggota jemaat HKBP Kebun Jeruk, Jakarta Barat, ini.

Keberhasilan sebagai Advokat  tentu bukan saja hanya karena berani, tetapi juga harus pintar dan/atau menguasai hukum dan perundang-undangan, bergaul, dapat dipercaya, bekerja profesional, memiliki integritas penegak hukum dan memiliki kemampuan bicara. Satu lagi kiatnya bekerja dan bertindak seperti orang Israel yaitu bekerja dengan mempraktekkan isi Alkitab.

Penggiat sejarah Israel ini mengatakan, tindakan menyerang  dan/atau  mengutuk Israel akan mendapat balasan dari Tuhan Elohim, karena keturunan Abraham/Ishak dan Yakub/Israel telah ditetapkan sebagai saluran berkat bagi seluruh kaum dan bangsa di dunia,  sebagaimana dimaksud oleh firman Tuhan Elohim dalam kitab Mazmur 67,  Roma 11:1-2a+29-32.

Mazmur ini mengingatkan umat Israel akan pemanggilan Abraham khususnya firman Tuhan dalam Kej. 12:1-3 yang menyatakan bahwa: 12:1 Berfirmanlah Tuhan kepada Abram: “Pergilah dari negerimu  dan dari sanak saudaramu dan dari rumah  bapamu ini ke negeri  yang akan Kutunjukkan kepadamu; 12:2 Aku akan membuat engkau menjadi bangsa  yang besar, dan memberkati engkau  serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.

Baca juga Bilangan 24: 9 “Ia meniarap dan merebahkan diri sebagai singa jantan, dan sebagai singa betina; siapakah yang berani membangunkannya? Diberkatilah orang yang memberkati orang yang memberkati engkau, dan terkutuklah orang yang mengutuk engkau!”

Tentu, bukti ketertarikannya akan Israel, dia mengudate berita-berita tentang Israel setiap hari diberbagai media dan media sosial, khususnya di akun Facebook. Di ruangan kantornya begitu banyak buku tentang hal-hal yang berbauh Israel. termasuk enksiklopedia tentang Yahudi negatif versi Arab. Bahkan, dia selalu mendapat kiriman berjibun berita tentang Israel by email. Menurutnya Israel kuat dan hebat oleh karena mereka sudah teruji melewati sejarah panjang, tekanan demi tekanan dari berbagai lini peristiwa dan selalu mengandalkan Tuhan Elohim dalam semua lini kehidupannya.

Dulunya Kamaruddin Simanjuntak tak pernah bercita-cita menjadi pengacara. Tetapi itulah hidup, nyatanya jalan hidup membawanya menjadi pengacara. Setamat  SMAN I Siborong-borong tahun 1992, dia merantau ke Jakarta. Sesampainya di Jakarta dia tak punya uang untuk biaya kost, karena tak ingin menyusahkan keluarga, dia terpaksa harus tinggal di bawah kolong jembatan Pasar Klender – Jakarta Timur ketika itu. Selama kurang lebih tiga bulan hidupnya gelandangan di kolong jembatan, kalau tak disebut terlunta-lunta. Sembari berkerja serabutan untuk bisa bertahan hidup, sambil melamar pekerjaan.

Beruntung tahun 1993 dirinya diterima bekerja sebagai Customer Service di sebuah restoran Jepang. Bekerja sabar dan gigih sambil belajar itulah yang dilakukannya. Dari sana muncul jiwa berwirausaha, sempat membangun bisnis, tetapi tak berapa lama usaha itu kolap akibat unjuk rasa besar-besaran tahun 1998. Gagal satu usaha bukan berarti undur langka mencari peruntungan dari usaha lain. Dia kemudian menikung, mengambil jalan lain menjadi pengacara. Tahun 2001, dia kuliah di Fakultas Hukum Univesitas Kristen Indonesia (UKI).  Oleh karena kerasnya belajar, studi hukumnya ditempuhnya hanya 3,5 tahun dan lulus sebagai yang terbaik “Cum Laude” dan menerima piagam Penghargaan. Sejak kecil dirinya memang dididik keras oleh ayahnya.

 

Senantiasa menang

Selulus kuliah dia membuka kantor pengacara bersama rekannya dengan nama kantor “Firma Hukum “victoria.” Victoria artinya kemenangan berasal dari nama Puteri keduanya atas nama “Valencia Brightlady Victoria’. Tak ayal kantor pengacaranya telah banyak menangani berbagai kasus kecil hingga kasus besar. Bahkan pernah  ada undangan untuk menangani perkara besar, dijanjikan dana besar yang sangat  menggiurkan, namun harus ditempuh  dengan cara-cara yang tidak patut  secara hukum.

Waktu itu ada rekan-rekannya sekantor yang  mendorongnya untuk menerima tawaran honor besar guna  menangani perkara tersebut, akan tetapi Kamaruddin bertekad menolak, karena   sudah menyimpang dari nilai-nilai Kejujuran, Professionalitas dan Integritas Penegak Hukum, akibat penolakan itu, telah menyebabkan ketidaknyamanan di antara rekan sekantor, karena tidak semua rekan-rekan kuat berjuang dengan modal keprihatinan, ada juga yang berpikiran sekali-kali boleh juga diambil tawaran seperti itu, namun tetap ditolak olehnya, yang  pada akhirnya kantornya pecah kongsi.

Apa boleh buat setiap pilihan pasti ada konsekwensinya. Tak patah arang, dia kemudian membangun tim baru. Ibarat Nahkoda di kantor baru, dia memulai kembali dari nol. Berbekal relasi dan pergaulannya yang luas, bahkan  kantornya pun dipercaya menangani kasus-kasus besar kaliber nasional, bahkan perkara-perkara kakap. Ada yang sampai melibatkan pejabat nasional, tokoh politik, ketua dan bendara partai politik berkuasa. Risikonya tentu sangat besar, atas hal itu dia sering diteror, bahkan diancam untuk dibunuh. Atas semuanya itu, dia selalu menang dari maut. Paling tidak dalam pengalamannya dia tujuh kali lolos dari rencana pembunuhan terencana.

“Berkali-kali saya lolos dari rencana pembunuhan, Saya sadar itu semua karena pertolongan Tuhan Elohim,” ujar anggota jemaat HKBP Kebun Jeruk, Jakarta Barat ini. Pengalamannya, misalnya, lolos dari rencana pembunuhan karena menangani kasus-kasus yang melibatkan oknum pejabat pemerintah pusat yang paling berkuasa. Dengan sengaja  mobilnya ditabrak di parkiran hingga penyot, bahkan di jalan tol juga pernah dikejar-kejar,  bahkan di parkiran Polda Metro Jaya mobilnya ditusuk, dipecahkan kaca depannya, tetapi puji Tuhan, Kamaruddin selalu lepas dari maut diancam akan dibunuh oleh Ormas Radikal yang paling ditakuti oleh Pemerintah. Lagi atas semuanya tak menyurutkan langkahnya untuk berani menangani perkara hukum orang-orang besar. “Tentu bukan karena kepintaran saya, semua karena pertolongan Tuhan,” ujarnya. Rona-rona hidup membuatnya makin matang.

 

Ruhut: Kodok Pun Ketawa Lihat Kamaruddin (Artikel Kompas)
Akibat dirinya selalu lantang bergelut dalam berperkara. Apalagi saat membela kepentingan kliennya dia selalu total dalam pembelaan, sepertinya tak ada yang ditakutinya. Dia tak segan-segan mengadukan, melaporkan yang diduga sebagai pelaku kejahatan ke KPK RI, melapor ke Kepolisian bahkan kepada  Kejaksaan  Agung RI, jika menemukan data atau bukti yang valid secara hukum tentang adanya indikasi oknum pejabat tinggi negara melakukan dugaan tindak pidana korupsi.

Kehebatannya menggali data, mencari bukti selalu bisa mendapat data yang akurat dan otentik. Tentu untuk mendapatkannya caranya seperti cara yang dilakukan oleh intelijen Mossad sehingga praktek beracaranya tak hanya sebatas duduk di kantor. Atas keberaniannya mengungkap korupsi di kalangan pejabat tinggi Negara  itu, Ruhut Sitompul selaku Anggota DPR RI Komisi 3 sekaligus berpraktek selaku pihak yang selalu membela pejabat dimaksud, waktu itu, sebagai Humas Partai Demokrat menyebut Kamaruddin di media nasional, “kodok pun ketawa melihat Kamaruddin.”

Alih-alih dia tanpa tendeng aling-aling, berani membongkar habis kasus-kasus korupsi. Salah satunya korupsi di Wisma Atlit & Hambalang dan turunannya hingga E_KTP. Tak ayal, dia juga membongkar kasus korupsi di tubuh Partai Demokrat tahun 2011 yang akhirnya menyeret-nyeret petinggi partai berkuasa ketika itu antara lain; Anas Urbaningrum, Nazaruddin, Angelina Sondakh, Rizal Mallarangeng, Sutan Batugana, dst. Satu perkara lain yang banyak disorot oleh media nasional adalah kala dirinya menangani kasus Mindo Rosalina Manullang yang terkenal sangat panas itu, hingga kuasanya diakhiri oleh pihak lain untuk membela Mindo Rosalina Manullang, dengan berbagai ancaman pembunuhan dan fitnah.

Dalam kasus mega skandal korupsi yang berhubungan dengan Muhamad Nazarudin Eks Bendara Umum Demokrat/ Anggota DPR RI Komisi 3. Kamaruddin tahu detail aktivitas apa-apa saja yang terjadi di kantor Nazaruddin waktu itu. Atas keberaniaannya mengungkap itu, sampai sempat salah satu jenderal berbintang 3  dan kawan-kawan  selaku pengurus partai Demokrat datang menjumpainya dan memohon kepada dirinya agar jangan membawa-bawa nama Presiden RI.  Atas hal itu namanya sebagai seorang pengacara sempat menjadi sorotan berita nasional selama beberapa saat.

Jika membaca namanya, memang seperti nama seorang Arab. Nama itu pemberian ayahnya yang lama merantau di Aceh. Lelaki kelahiran 21 Mei 1974, suami dari Joanita Meroline Wenji, S.H. dan ayah dari  lima orang puteri masih terus bergairah untuk bermaksud melanjutkan pendidikan Doktor (S3). Sesungguhnya sudah ada universitas di luar negeri menawarkan beasiswa bahkan dari Negara  Israel. Walaupun  demikian atas tawaran itu urung diterima sembari menunggu waktu yang tepat mengingat Puteri-puterinya masih kecil yang tentunya sangat membutuhkan perhatian orangtua.

Sebagai seorang ayah dia ingin menjadi tiruan dan teladan  bagi putri-putrinya itu, dengan teladan dia menanamkan nilai moralitas tinggi bagi mereka. Dia sadar, sebagai orangtua yang dibutuhkan oleh putri-putrinya hanya ketauladanan, ketulusannya untuk membimbing mereka. Tentu, bukan kemewahan dan fasilitas yang mereka butuhkan, yang terpenting adalah kejujuran dalam  membimbing mereka, terutama “Takut Akan Kuasa Tuhan Elohim” guna mengantar mereka untuk mencapai  impiannya.

Sebagai seorang Kristiani, dia ingin menjadi teladan dan saksi Jesus dengan cara menjadi garam & Terang  di bidang profesinya sebagai Advokat/Pengacara. Putra dari (alm) Midian Simanjuntak dan Nurmaya Pardede ini ingin berdampak dan menjadi berkat  bagi orang lain. Sebagai seorang advokat tentu dirinya banyak membantu kliennya yang kurang beruntung secara  probono-prodeo atau dengan cara pembayaran cuma-cuma.

Baginya, menjadi bagian penegakkan hukum, dia senantiasa mengutamakan hukum sebagai landasan dalam seluruh aktivitas negara dan masyarakat. “Hukum belumlah menjadi panglima. Masih jauh panggang dari api. Diistilahkan tajam ke bawah  dan tajam  ke samping/oposisi  namun masih  tumpul ke atas (Penguasa/Elit Politik Berkuasa dan Pengusaha), itulah gambarkan kondisi penegakan hukum di Indonesia. Hukum yang seharusnya menjadi alat pembaharuan masyarakat, nyatanya penegakan hukum masih morat-marit dan carut marut.”

 

Belumlah Tergolong Makar

Ditanya soal isu makar yang lagi santer diperbincangkan di media saat ini. Pisau analisanya muncul. “Politik itu kan intinya dua hal. Pertama adalah bagaimana cara  merebut kekuasaan. Kedua, bagaimana cara mempertahankan kekuasaan tentunya secara konstitusional. Bahwa yang terjadi adalah konflik antara koalisi yang merebut kekuasaan dan koalisi yang mempertahankan kekuasaan. Kenapa kekuasaan direbut atau dipertahankan? Agar kekuasaan bisa mengendalikan anggara negara ini. Intinyakan uang dengan jumlah besar Triliunan rupiah,” katanya.

Isu makar kini menggelinding, tentu berawal dari istilah  people power yang awalnya ditiupkan Amien Rais. Kala itu, nun sebelum Pemilu 2019, Amien Rais mengatakan, akan mobilisasi rakyat untuk people power. Bola pun makin liar, isu makar makin pekat terlihat apalagi mencuatnya demo anarkis di depan Bawaslu beberapa wakti lalu.

Sebagai praktisi hukum, Kamaruddin tak saja lihai bicara hukum, tetapi lincah bercerita sejarah dan politik negeri ini. Dia berkisah, bicara people power kita bisa merujuknya kisah di Filipina, misalnya people power ketika menggulingkan Ferdinand Marcos. Marcos tumbang oleh kekuatan rakyat. Menurut analisanya, demo yang berujung anarkis di depan Bawaslu itu belumlah tergolong makar.

Baginya, makar itu adalah jika benar-benar tindakan kekerasan itu diarahkan kepada  pemerintah dalam hal ini ditujukan kepada Presiden selaku Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan untuk tujuan menggulingkan dan/atau merebut kekuasaan secara inkonstitusional.

Dia menambahkan, jika Aksi Merebut Kekuasaan dengan cara “People Power” Berjalan Lancar atau berjalan mulus itu bukan makar lagi secara hukum, tetapi Kudeta berhasil, sebagaimana tahun 1998, aksi mahasiswa itu juga seharusnya makar, akan tetapi karena berhasil menggulingkan pemerintahan Soeharto yang sah, maka bukan lagi disebut makar, walaupun faktanya pemerintahan setelahnya adalah hasil dari people power. Intinya, jika perebutan kekuasaan secara inskontitusional  gagal biasanya disebut makar,  namun bila berhasil people power itu tidak lagi disebut makar. Pelaku perebutan kekuasaan yang gagal Tentu pelakunya bisa dihukum berat seperti yang terjadi di Turki beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut, dia mengatakan, bahwa pelaku people power dapat dijerat dengan pasal makar dan permufakatan bila sudah ada bukti permulaan yang cukup untuk tujuan merebut kekuasaan secara inkonstitusional. Pelakunya dapat dijerat dengan pasal 107 KUHP dan 110 jo Pasal 87 KUHP atau Pasal 28 yat 2 jo Pasal 45 ayat 2 Undang-Undang No 19 Tahun 2016 tentang informasi dan transaksi elektronik.

Makar sendiri berasal dari bahasa Belanda, yaitu berasal dari kata Aanslag yang secara etimologis berarti menyerang, serangan, penyerangan kepada Pemerintah. “Makar juga termasuk dalam kategori Kejahatan Terhadap Keamanan Negara dalam Bab I pada Buku II (kedua) KUHP, yang pengaturannya tersebar diantaranya dalam ketentual Pasal 87 KUHP, 104 KUHP, 106 KUHP, dan 107 KUHP,” jelasnya. Tentu, ciri-ciri makar mengunakan kekerasan fisik, menggunakan senjata yang diarahkan ke pemerintahan yang sah.

 

 Ajakan move on

Tentu jika bicara tentang makar, sejak sejarah Indonesia ini ada, dari  pemerintahan Soekarno sampai sekarang pemerintahan Joko Widodo, makar itu  ada. Katakan saja misalnya, masa pemerintah Gus Dur, dimana Megawati sebagai Wakil Presiden. Saat itu Gus Dur hendak mengangkat Kapolri, akan tetapi tiba-tiba Megawati meralat dengan cara mengutus/ memilih yang lain sebagai Kapolri. Itu bentuk ketidakpatuhan “In Subordinasi” wakil presiden kepada presiden.” Selanjutnya menumbangkan atau merebut kekuasaan Presiden dari tangan Gus Dur pasca 21 bulan berkuasa.

Selanjutnya, kisah hubungan antara Megawati dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Waktu itu santer perjanjian keduanya, bahwa SBY tak akan menjadi rival bagi Megawati untuk mencalonkan diri sebagai  Calon Presiden. Tetapi, apa yang terjadi? SBY diam-diam mendirikan Partai Demokrat bersama dengan tokoh-tokoh lain. Isu SBY mendirikan partai sampai juga ke suami Megawati, (alm) Taufik Khemas, dan bertanya perihal isu itu.

Namun SBY menjawab bahwa isu tersebut tak benar. Oleh karena  Taufik Khemas mendapat informasi akurat dan yakin bahwa SBY telah mendirikan partai diam-diam, maka Taufik menyebut, “Jenderal Kok Berbohong”. Atas ucapan itu, SBY tersinggung. Dan setiap ada rapat kabinet di istana, maka  SBY tak datang. Disebutlah bahwa dirinya tak lagi diundang rapat kabinet di istana, padahal sebagai menteri seharusnya tak perlu diundang pun kalau ada rapat kabinet, SBY mesti datang rapat sebagai bawahan Presiden Megawati waktu itu.

Di berita itu justeru dijadikan untuk membangun opini lewat media. Media menyebut SBY korban dari Megawati. Saat itu terbangun opini, apalagi di kalangan ibu-ibu, disebutkan bahwa  SBY korban dari Megawati. Lalu, menjelang berakhirnya pemerintahan Mengawati, maka  SBY resmi mengundurkan diri dan mendeklarasikan diri bergabung dengan Partai Demokrat yang sebenarnya dia bentuk sendiri.

Saat itu SBY juga berhasil menjual isu identitas agama “politik Identitas”. SBY bersama dengan mantan Menteri Agama Tarmizi Taher waktu itu membuat gerakan membantu Palestina yang dianggap sebagi korban dari Israel. Padahal, masalah Palestina dengan Israel itu bukan masalah agama, tetapi masalah politik luar negeri. Pendek cerita SBY berhasil menjadi presiden RI. Namun saat itu tak terjadi terima jabatan sebagaimana sepatutnya, tak ada pisah sambut mantan presiden dengan  presiden yang baru. Tetapi saat pemakaman almarhumah Ani Yudhoyono, Megawati sudah terlihat hadir di Makam Pahlawan, Kalibata, Jakarta Selatan. Mudah-mudah berlanjut ada rekonsilisi pada keduanya.

Demikian selanjutnya, saat pemilihan presiden dan wakil presiden tahun 2009, Megawati berpasangan dengan Probowo membuat kesepakatan bahwa di tahun 2014, Probowo-lah yang maju menjadi calon presiden dari koalisi PDI Perjuangan dan Gerindra. Tetapi apa yang terjadi? Tahun 2014 PDI Perjuangan ingkar janji atas  Perjanjian Batu Tulis, sebab  PDI Perjuangan malah mencalonkan Joko Widodo sebagai calon presiden.

Bahwa memang narasi dari perembutan kekuasaan dari pengalaman sejarah Indonesia belum mulus, selalu saja ada riak-riak. Artinya kita masih perlu belajar banyak dari negara-negara yang sudah matang berdemokrasi. Disinilah masukkan bijak Kamaruddin, agar kita belajar riuh rendah dari perebutan kekuasaan pada setiap hendak berakhir masa pemerintahan. Bagi Kamaruddin tak perlu lagi ada kubu-kubuan.

“Biarlah yang menang merangkul yang kalah, dan yang kalah juga move on atau dapat menerima kekalahannya dan mengambil sikap menjadi oposisi yang konstruktif. Kita perlu guyup. Kita bangun persatuan kita kembali. Kita rajut kembali selendang yang sempat robek oleh kompetisi yang keras. Mari belajar sejarah dari penggantian pemerintahan pusat yang penuh dengan lika-liku itu,” ujarnya berfilosofi. (Hojot Marluga)

 

Dr. Lasmaida S. Gultom, SE, MBA, D.Min


Melayani Tuhan Dalam Pekerjaan Kita

Hidup ini adalah anugerah, itu sebabnya isilah dengan bermakna. “Semua karena Tuhan. Hidup ini anugerah.” Demikian dikatakan Lasmaida S Gultom. Perempuan kelahiran Simalungun, 10 April 1965 ini. Lahir dan dibesarkan di daerah Pokan Baru Hutabayu Raja, Kabupaten Simalungun dari sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA). Cita-citanya dulu ketika masih SD hanya ingin jadi doktoranda. Tetapi setelah menjadi SMP di SMP Negeri 61 Pematang Siantar cita-citanya berubah, ingin menjadi dokter.

Itu sebabnya sejak belia dia sangat bahagia menggunting kuku dari kakek dan neneknya dari pihak ibunya bernama Mangain boru Gultom dan kakeknya Mulia Samosir bahkan nenek-nenek teman neneknya yang berkunjung ke rumah orang tuanya. Kebiasaan melayani sudah membebat dijiwanya. Kesukaannya menolong, termasuk menolong orang misalnya, ada yang luka, dia dengan bahagia membersihkan dan membalut lukanya. “Kemudian cita-cita jadi dokter, ingin merawat orang tua ke desa-desa,” kisahnya lagi.

Selulus SMA, dia mencoba mengikuti test masuk perguruan tinggi negeri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ke Jakarta. Tetapi belum beruntung, dia tak lolos seleksi. Oleh karena itu, dia ingin terus kuliah, tetapi hendak mengambil jalur hukum di Universitas Kristen Indonesia (UKI), sebab fakultas hukum UKI yang dia tahu saat itu. Namun keluarga menyarankan agar jangan kuliah di UKI, sebab di UKI terlalu orang Batak. Akhirnya, dengan berbagai pertimbangan kuliah saja dulu satu tahun, sembari menunggu tahun berikutnya untuk mencoba ikut test lagi supaya masuk fakultas kedokteran UI. Maka dirinya kuliah di Univesitas Pancasila Fakultas Ekonomi yang saat itu di kampus Jalan Borobudur, Jakarta.

Di semester awal, nilainya tak begitu bagus karena memang di pikirannya masih ingin kuliah di kedokteran. Tepat di semester dua, satu waktu dia punya pengalaman rohani yang membuat cara berpikirnya berbeda. Memang sejak kecil dia sudah telaten berdoa, sebab itu ajaran orangtua, bahwa Tuhan yang tak bisa dilihat mata jasmani itu sesungguh-sungguhnya ada. Maka sedari kecil sekolah minggu di HKBP, bergereja tak pernah ditinggalkan. Termasuk setelah kuliah, di kampus dia mengikuti persekutuan doa kampus, yang dikelola oleh kakak-kakak kelasnya.

Sebenarnya, di awal dirinya kurang terlalu menikmati persekutuan kampus itu, sebab di gereja HKBP tak biasa beribadah dengan tepuk-tepuk tangan dan berdoa menangis. Maka satu waktu, ketika saat kebaktian kampus dia kerap menghindar ke perpustaakaan. Hingga kemudian satu waktu malam-malam sekitar jam 12 malam dia terbangun. Waktu itu dia tertidur, tiba-tiba terbangun dia mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Pada saat itu dia seperti mendapat penglihatan, seperti menonton film. Dalam film itu dia mendapat penglihatan dan bisa melihat kehidupannya sendiri sejak balita sampai dewasa. Diperlihatkan mulai dari merangkak sampai dewasa. Satu perkataan yang dia dengar, “Anakku engkau begitu jahat di mataKu.” Kata-kata itu terus terngiang di telinganya.

Selama ini dia tahu orang yang berjumpa dengan Tuhan, kata-kata yang sering didengarnya adalah; “Anakku, Aku mengasihiMu.” Tetapi ini malah sebaliknya. Dalam film itu terjadi interaksi antara dirinya dengan Tuhan, dan berbicara langsung. Dia menjawab Tuhan, “Tuhan, jika memang engkau ada, saya mau Tuhan pakai seturut mau dan kehendakMu.” Ternyata saat itu dia dalam keadaan berdoa. Saat mengucapkan amin, seluruh bajunya bagian depan basah karena air mata. Saat itu dia tersadar bahwa itu bukan film. Namun dia heran mengapa dalam film itu dia bisa menyaksikan dirinya berinteraksi langsung dengan Tuhan.

Dia percaya itu lawatan Tuhan. Sejak perjumpaan itu, dia berubah dengan hati yang haus dan rindu senantiasa berdoa, memuji dan menyembah Tuhan serta membaca Firman Tuhan. Mulai sejak itu mulai aktif di kampus dan melayani di persekutuan kampus, bahkan kuliah ekonomi yang dulu tak begitu disukainya mulai makin membuatnya antusias belajar ekonomi, dan dampaknya sudah tentu hasil nilai makin bagus. Bahkan, bukan saja hanya aktif di persekutuan kampus, dia menjadi koordinator persekutuan doa di Fakultas Ekonomi Universitas Pancasila hingga lulus kuliah.

Tahun 1990, dia bekerja pertama di PT Taspen. Sebelumnya sempat menjadi guru privat untuk beberapa mata pelajaran matematika, fisika dan kimia. Anak muridnya anak dari orang-orang yang berada. Sebelum bekerja di Taspen, perusahaan negara yang mengelola pensiunan. Saat masih kuliah, dia selalu berdoa jika Tuhan hendak memakaiNya, dia minta petunjuk apakah dia melayani jadi full timer atau bergelut di marketplace. Tetapi, jika Tuhan mau memakainya di marketplace dia rindu bekerja di bidang keuangan. Tak lupa diingatnya, tugasnya, di mana pun Tuhan tempatkan dia bekerja, dia merindukan ditempat dimana dia bekerja ada selalu saja ada persekutuan orang-orang yang mengasihi Tuhan Yesus sehingga dia melayani. Karenanya dia juga salah satu inisiator mendirikan persekutuan doa di kantor PT Taspen.

Istri dari Maradat Situmorang ini, menyebut, melayani di setiap kesempatan menjadi komitmennya sejak kisah di mahasiswa itu. “Saya sadar diberikan Tuhan karunia penglihatan, karunia berbahasa roh atau bahasa lidah. Termasuk diberikan Tuhan karunia kesembuhan. Tak sedikit orang yang saya doakan sembuh,” ujarnya. Tetapi dia tak mengumbarnya, sebab itu adalah pemberian Tuhan. Dia sadar bahwa dirinya hanyalah alatNya bagi kemuliaan namaNya. Namun yang jelas dia tahu bahwa di balik itu semua ada rencana Tuhan yang paling indah. Oleh karena itu, berdoa dan membaca firman Tuhan atau bersaat teduh tiap-tiap pagi selalu dilakoninya dengan hati yang rindu dan haus senantiasa bersekutu dengan Tuhan atau menikmati hadirat Tuhan.

Tetapi, kata-kata, “Anakku, engkau begitu jahat di mataKu.” Membuat dirinya terus mencari mengapa Tuhan katakan itu. Makin rajin membaca Alkitab, berdoa pribadi untuk membangun relasi yang intim dengan Tuhan. Bahkan, dirinya mulai menemukan teguran-terguran Tuhan melalui pembacaan Firman Tuhan dan berdoa. Pada akhirnya Tuhan memberikan jawaban tentang makna “AnakKu engkau jahat dimataKu, yaitu “kesombongan“. Tak sabar melihat orang yang lambat dalam segala hal.” Oleh karena itu, dia sadar hal itu jahat di mata Tuhan. Karenanya dia selalu mengingatkan diri sendiri atas teguran Tuhan, agar hidup sabar, rendah hati dan murah hati dengan belajar terus menerus melakukannya.

Dalam doa dan pelatihan mental setiap hari dia belajar bagaimana berkenan di hadapan Tuhan dengan merendahkan hati. Dia sadar bahwa semua yang ada padanya adalah dari Tuhan, bahwa apa pun pencapaiannya itu adalah karena Tuhan, dia tak ada apa-apanya tanpa Tuhan, dia sadar tak bisa berbuat apa-apa tanpa perkenanan Tuhan.

Sejak perjumpaan dengan Tuhan itu, dia mulai belajar perlahan-lahan bisa memahami orang lain dan menerima orang lain apa adanya. Termasuk belajar sabar menghadapi orang yang lambat. Selama ini dia sadar, bahwa standar ekpektasinya terlalu tinggi bagi orang lain. Jika ada orang di sekitarnya sangat lambat dia mudah marah dan berupaya mendorong orang tersebut untuk mercepat gerakan. Hal itu terjadi baik di rumah atau di kantor. Ternyata itu tak berkenan di mata Tuhan. Maka kelakuan yang demikian mulai dia kikis pelan-pelan. Makin banyak berubah dan memperbaharui budi untuk semakin hari semakin berkenan di hadapanNya.

Termasuk kesabarannya diuji tatkala hendak mencalonkan diri menjadi Deputi Direktur di Bank Indonesia sekitar tahun 2010. Ada surat kaleng sampai ke pimpinan tertinggi Bank Indonesia, saat itu dijabat Dr Darmin Nasution. Dirinya disebut menerima suap dan lain-lain dari pihak ketiga. Saat dia tahu dengan hikmat dari Tuhan bahwa yang mengirim surat kaleng tersebut justru anak buahnya. Dia berdoa dan berpuasa selama tiga bulan supaya Tuhan tolong dan mampukan tetap mengasihi dan mengampuni orang tersebut supaya tidak membencinya serta diberikan  kesabaran untuk melewati semua hal itu. Tuhan sungguh dahsyat dan luar biasa menolong dan memampukannya melakukan hal tersebut, akhirnya dia lolos sebagai Deputi Direktur di BI pada bulan Maret 2011 dan orang yang menulis surat kaleng tersebut mengaku dan minta maaf.

Kerja adalah ibadah

Kerja adalah institusi sosial yang telah ditetapkan oleh Tuhan, karena bekerja itu ibadah, demikian John Calvin pernah mengatakan. Bagi Lasmaida, bahwa memang bekerja adalah ibadah. “Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Bagaimana seharusnya sikap orang Kristen ketika bekerja, sudah tentu berkerja untuk Tuhan, serius mempersembahkan hasil pekerjaan terbaik kepada Tuhan,” ujar lulusan doktor ministri dari Sekolah Tinggi Theologi (STT) IKAT, Juni 2019 ini.

Tuhan menciptakan manusia menurut gambarNya dengan karakteristik-karakteristiknya. Dengan demikian, bila dikaitkan ke dalam dunia kerja dan profesi, maka seharusnyalah seorang Kristiani menunjukkan tempatnya bekerja harus merupakan tempat ibadah, dan tempat menaruh pelayanan. Baginya, berarti menjadi pendeta atau penginjil atau hamba Tuhan.” Kita harus memandang pekerjaan kita sebagai ibadah dan pelayanan kepadaNya. Firman Tuhan yang saya baca dan pahami bahwa kalau kita bekerja mesti dengan ihklas dan sungguh-sungguh, berkerja untuk Tuhan bukan untuk manusia. Karena itu, saya hanya takut kepada Tuhan, bukan kepada manusia. Manusia saya hormati dan hargai, tetapi bukan untuk saya takuti,” ujarnya.

“Saya sangat yakin, kalau seseorang menyebut dirinya seorang Kristen, tetapi tak melakukan saat teduh atau intim dengan Tuhan setiap hari. Tak membaca buku petunjuk, buku penuntun hidup yaitu Alkitab, nonsen seseorang itu bisa kokoh, kuat dan konsisten berjalan setiap waktu bersama Tuhan,” tambah mantan koordinator Persekutuan Doa Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Pancasila itu. Menjadi saluran berkat itulah yang selalu menjadi permohonannya. “Hari demi hari, membangun hubungan yang intim dengan Tuhan. Berdoa tentu bukan untuk meminta berkat bagi diri sendiri, tetapi meminta agar Tuhan berkenan menjadikan dirinya menjadi saluran berkat bagi banyak orang.”

Masih bening dalam ingatannya, tahun 1990 dia diterima bekerja di Bank Indonesia. Saat itu persekutuan doa kantor di sana sudah ada, dia tinggal mengikutinya terlibat dalam pelayanan. Tahun 1997 dirinya diberikan kesempatan oleh Bank Indonesia mengikuti pendidikan ke Jepang mengambil magister manajemen dengan gelar MBA. Namun sejak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berdiri, dirinya tugaskan ke OJK, sesuai Undang-Undang OJK diberikan opsi atau pilihan kembali ke Bank Indonesia atau tetap berada di OJK. Hingga sekarang dia berkarier di OJK karena memilih bergabung dengan OJK sebagai salah satu pejabat eselon 2 di OJK.

Mengapa pilih OJK? “Oleh karena saya saat itu di OJK bekerja di direktorat edukasi dan literasi keuangan. Hal ini sebagai kesempatan untuk mencerahkan masyarakat soal keuangan,” ujar Direktur Literasi dan Edukasi Keuangan di OJK tahun 2015. Berbeda ketika dia bekerja di Bank Indonesia, bekerja sebagai pengawas perbankan dan di Sumber Daya Manusia hanya bertemu dengan internal BI dan orang-orang bank (Industri Perbankan). Sementara di OJK dia berkesempatan menjumpai banyak orang termasuk masyarakat dari berbagai kalangan, maka dalam kesempatan itulah dia menunjukkan siapa dirinya. Sebagai anak Tuhan atau orang yang mengasihi Tuhan untuk menjadi garam dan terang bagi orang lain.

OJK menilai pemahaman masyarakat Indonesia terhadap sistem keuangan moderen masih sangat rendah. Hal itu tercermin dari indeks literasi keuangan Indonesia sebesar 21,8 persen pada 2013, jauh di bawah negara Asean lain seperti Singapura yang mencapai 95 persen.  Lasmaida S. Gultom, Direktur Literasi dan Keuangan OJK tahun 2015 menyatakan, kondisi ini membuat OJK gencar melakukan edukasi keuangan ke masyarakat. Antara lain dengan memperbanyak Mobil Literasi Edukasi Keuangan (siMOLEK), dari 20 unit yang saat ini tersedia menjadi 41 unit.

“Salah satu untuk meningkatkan indeks literasi keuangan (Indonesia adalah) dengan menambah siMOLEK menjadi 41 unit pada semerster II 2015 dengan program kerja literasi dan edukasi keuangan lainnya. Ada tambahan 21 unit (siMOLEK) dari saat ini 20 unit,” tutur Lasmaida. Menurut Lasmaida, banyaknya jumlah penduduk serta luasnya wilayah Indonesia menjadi kendala tersendiri bagi OJK dalam menyampaikan informasi keuangan kepada masyarakat.  Oleh karena itu, OJK menargetkan indeks literasi keuangan Indonesia dapat ditingkatkan setidaknya dua persen per tahun.

SiMOLEK merupakan unit mobil literasi edukasi keuangan yang dilengkapi dengan peralatan multimedia dengan berbagai fitur lengkap untuk memenuhi kebutuhan materi edukasi. Selain menjangkau langsung wilayah tempat tinggal masyarakat, OJK juga menyediakan mobil edukasi tersebut di kantor regional OJK yang terdapat di kota besar dan Kantor OJK.

“Saat ini OJK sudah memiliki 35 total kantor dengan 9 kantor regional dan 26 kantor OJK yang tersebar di seluruh Indonesia. Sembilan Kantor Regional ada di Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, Palembang, Bali, Makassar dan Banjarmasin. Selain itu, OJK juga memberikan edukasi keuangan kepada ibu rumah tangga, siswa dan mahasiswa, para profesional  hingga penyuluh Keluarga Berencana (KB) dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN)  agar dapat ikut menginformasikan layanan keuangan kepada masyarakat.

Menurut Lasmaida, upaya peningkatan literasi dan edukasi keuangan perlu dilakukan sebagai tindakan preventif agar masyarakat tidak mudah tertipu oleh investasi bodong yang menjanjikan imbal hasil tinggi. Selain itu, OJK konsisten mendorong serta mendukung Lembaga Jasa Keuangan (LJK) menyediakan Layanan Keuangan Mikro (Laku Mikro) sehingga dapat menjangkau masyarakat di sektor jasa keuangan, khususnya yang berpenghasilan rendah dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).

Di OJK dia bukan hanya pejabat. Tetapi yang utama mempunyai kesempatan memberikan pencerahan bagi banyak orang yang lintas batas suku, agama, bahkan termasuk bisa menjangku kaum-kaum marginal. Tugas-tugas inilah yang mendorongnya memilih bergabung dengan OJK. Tiga Tahun di OJK Institut (tahun 2016-2018) memiliki kesempatan juga mengajar di kampus-kampus melalui program kerja OJK Mengajar. Sekarang dia sebagai Analis Eksekutif Senior di Departemen Pengendalian Kualitas Pengawasan Perbankan OJK.

Beberapa tahun lalu (Agustus 2011), oleh karena sudah berumur tak bisa lagi dapat bantuan kuliah di luar negeri dari Bank Indonesia. Dia kemudian kuliah tingkat doktoral di Manajemen Bisnis Institut Pertanian Bogor (IPB) di Bogor dengan meraih gelar Doktor di Bidang Sumber Daya Manusia Desember 2015 dan semua biaya ditanggung OJK. Dia kuliah hanya setiap hari Sabtu, maka tak pernah terganggu jadwal pekerjaan di OJK. Semua pencapaian dan yang ada padanya hanya oleh karena pertolongan, kasih dan anugrah Tuhan semata. Dulu cita-citanya semasih kecil sederhana hanya menjadi doktoranda, sekarang Tuhan beri lebih dengan pendidikan formal meraih dua gelar doktor di bidang SDM dan Ministri, bahkan melebihi yang dimintanya. (Hojot Marluga)

Dr. Ir. Mombang Sihite, MM


Dr. Ir. Mombang Sihite, MM,  Presiden Direktur PT Azbil Berca Indonesia

Memacu Generasi Muda Berdaya Juang Di Era Revolusi Industri 4.0

Bersikap antusias, bersemangat dan disiplin hal itulah yang terlihat tatkala berjumpa dengan Dr. Ir Mombang Sihite MM, Presiden Direktur PT Azbil Berca Indonesia, ini. Berkarakter positif dan berdisiplin menurutnya adalah kunci utama menjadikan seseorang sukses. Soal berdisiplin sudah sejak dulu didapatnya dari kedua orangtuanya; Waldemar Juragan Sihite dan Ibunda Nursia boru Manalu.

Ayah dan ibunya yang sudah almarhum, dulu selalu menasihatkan agar kehidupannya bisa berdampak bagi orang lain, perlu ada kepedulian. Anak bungsu dari sembilan bersaudara ini melewati masa kecil hingga remaja di Kota Dolok Sanggul, Kabupaten Humbang Hasundutan. Studi SMA sempat satu semester dilaluinya di SMA Negeri 1 Dolok Sanggul. Namun, tahun 1982, hijrah ke Jakarta melanjutkan studi di SMA 54 Jatinegara Jakarta. Namun, kepindahannya ke kota Jakarta sempat mengganggu studinya dan sempat nilainya amburadul.

“Nilai saya jeblok. Saya merasakan ketidaksetaraan pendidikan antara Jakarta dan di Dolok Sanggul. Hal itu membuat saya harus bekerja keras untuk mengejar ketertinggalan studi,” ujarnya mengenang masa lalunya itu. Syukur, akhirnya dia bisa menyesuaikan diri dengan pendidikan di Jakarta. Luarbiasanya dia pun lulus dengan nilai bagus.

Selulus SMA, dia memilih program Politeknik Universitas Indonesia oleh karena ingin berkerja di dunia industri. Selulus diploma Politeknik, dia melamar ke PT Berca Indonesia.  “Setelah lulus kuliah dari Politeknik saya diterima di PT Berca Indonesia pada tahun 1990. Saya langsung ditempatkan sebagai jabatan fungsional sebagai site manager dan jabatan structural engineer. Pekerjaan itu membutuhkan kemampuan dalam memahami sistim otomatisasi industri, sangat jauh berbeda dengan otomatisasi dasar,” jelasnya.

Puji syukur dia bisa menyesuaikan diri, bekerja sembari belajar. Hal yang dia syukuri, misalnya ketika di Politeknik, selain ilmu yang didapat juga kemampuan mengelola waktu. Mengapa? Oleh karena sistem perkuliahan yang ketat dalam pengelolaan waktu, perkuliahan yang sangat padat, dan sistem paket, bukan SKS dan banyaknya tugas-tugas LAB dan Workshop membuatnya terbiasa dengan kedisplinan. Tentulah sebagai mahasiswa, jika tak bisa berdisiplin niscaya bisa mengikuti irama yang ada di kampus. “Belum lagi sistem Drop Out yang selalu diberlakukan setiap semester. Karenanya, saya harus bekerja keras untuk memenuhi standar kelulusan saya.”

Akumulasi dari pelatihan mental, jejak rekam dari latihan di masa kecilnya, dididik bekerja keras dan dilanjutkan dengan sistem pendidikan di Politeknik menuntutnya berdisiplin. Hal itu semua sangat membantu pembentukan karakternya di kemudian hari. Jelaslah, jikalau tak disiplin, bagaimana dia bisa mengerjakan bejibun pekerjaan; jadi CEO, konsultan di green building, konsutan manajemen, dosen di beberapa kampus, melayani di gereja dan masih aktif di puluhan organisasi sosial lainnya.

Di perusahaan, menurutnya, karena bukan hanya kemampuan engineering yang dituntut, tapi juga kemampuan manajemen dalam mengelola project untuk memenuhi kewajiban dalam pencapaian target. Termasuk pengelolaan anggaran sehemat mungkin, pengerjaan engineering sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan. Multi assignment project atau mengelola beberapa proyek sekaligus secara bersamaan sudah menjadi santapan hariannya.

Tentu, hal itu membuatnya merasa harus melanjutkan pendidikan guna meningkatkan kemampuan untuk bisa makin memahami manajemen dan teknik elektro lanjutan. Maka, jadilah dia kuliah sambil bekerja untuk mengambil gelar sarjana. Di tengah ketatnya waktu, sebagai kepala keluarga dia harus pintar mengelola waktu. Dia  kuliah di Universitas Jayabaya. Bertepatan saat itu Fakultas Tekniknya membuka Program Eksekutif, kuliah Sabtu-Minggu. Dia pun bisa belajar di akhir pekan tanpa mengganggu aktifitas pekerjaan di kantor, tetapi tentu mengurangi kuantitas waktu berjumpa dengan anggota keluarga. Syukur, kuliah lanjutan ini dia selesai hanya dua tahun.

Seiring perjalanan waktu, karir dan tanggung-jawabnya meningkat dan bertambah, bukan lagi hanya sebagai engineering manager, tetapi diberi tanggung jawab mengelola puluhan project baru. Selain itu, dia juga ikut melakukan pemasaran untuk mendapatkan order dari customer lama dan customer baru. “Dari pengalaman itu makin banyak network dan relationship saya dengan customer, dan kepercayaan dari customer juga meningkat, market share juga meningkat dan nilai equity perusahaan juga meningkat karena kemampuan untuk membangun reputasi perusahaan,” ujarnya.

Menurutnya, dalam mengembangkan perusahaan, satu hal yang tak boleh luput adalah membangun reputasi perusahaan dengan menuju service level customer satisfaction menjadi kunci dasar untuk mendapatkan customer loyalty dan akan menghasilkan customer retention yang sarat dengan indirect marketing positive of mouth. “Itu menjadi fundamental operasional dan service perusahaan kami,” terangnya. Peluang makin terbuka lebar, hal itu dijawabnya untuk kembali menimba ilmu, magister manajemen.

“Peluang itu harus saya sesuaikan dengan peningkatan keilmuan saya, tanpa harus mengganggu pekerjaan saya. Maka saya melanjutkan pendidikan di Universitas Pancasila program Pasca Sarjana, Marketing Manajemen di Kampus Jalan Borobudur Jakarta Pusat setiap sore dan saya memilih Kampus Universitas Pancasila karena dekat dengan kantor saya, bisa ditempuh hanya 10 menit.”

Tuhan begitu baik dalam kehidupan Mombang. Seiring waktu dan pertambahan jejang pendidikan yang disandangnya, dan makin mumpuni pengalamannya dengan mengikuti beragam pendidikan non formal, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Maka, perusahaan pun memberi tanggung- jawab dan jabatan baru. Karier terus menaik.

“Sejalan dengan pertumbuhan kinerja perusahaan, dari engineering manager meningkat menjadi General Manager setelah tanggung-jawab saya tidak hanya untuk engineering saja, tapi juga marketing dan beberapa tahun kemudian saya dipromosikan menjadi Direktur Divisi bisnis.” Perusahaannya terus bertumbuh, produk portofolio dikembangkan, area pasar yang digarap terus bertambah dan bisnis portofolio juga dibuka sehingga jumlah karyawan pun harus ditambah.

Awal tahun 2012 lalu, perusahaan Share holder dari Azbil Corporation Jepang dan Berca Indonesia sebagai pemegang saham  menilai kesetian dan reputasinya di perusahaan, maka dirinya diberi tanggung-jawab lebih besar, memimpin perusahaan sebagai Presiden Direktur. Hal ini menjadi sejarah pertama bagi Azbil Corporation Jepang memilih pimpinan cabang perusahaannya dari non-Japanese, seorang Putra Batak yang beragama Kristen pula.

Jabatan itu melecutnya untuk terus menambah pengetahuan dengan studi kembali, dia mengambil strata Doktoral. Maka filosofinya dalam berlajar, terus belajar, selagi masih ada waktu. “Kepercayaan ini sangat berat buat saya dan mengingat usia saya pada waktu itu tepat 45 tahun. Kepercayaan ini harus saya wujudnyatakan dengan terus meningkatkan kapasitas saya dalam kemampuan saya dalam manajemen, sehingga mendorong saya mengambil program Doktor,” ujar lulusan Doktor Universitas Padjadjaran, Bandung ini.

“Perkuliahan saya di Universitas Padjadjaran Bandung di program Doktor ilmu ekonomi dan bisnis dapat saya selesaikan selama tiga tahun, dengan predikat lulus cumlaude dengan IP 3.98. Nilai keilmuan kedoktoran saya adalah bagaimana membangun strategi bisnis yang berkelanjutan,” jelasnya lagi. Dalam penelitian disertasinya, Mombang menyebut, dalam membangun bisnis berkelanjutan, membutuhkan reputasi perusahaan yang memiliki nilai equitas dan nilai emotional, didukung kegiatan inovasi dan pengembangan produk portofolio, dan memiliki nilai keunggulan bersaing yang sesuai dengan kebutuhan pasar.

Hasil disertasi ini membuatnya semakin percaya diri, dan merasakan ilmu ini tak berhenti pada dirinya atau perusahaan yang dipimpinnya, tetapi harus diteruskan kepada generasi muda bangsa Indonesia, supaya setiap perusahaan besar atau perusahaan sedang menengah punya visi untuk membangun kinerja bisnis yang berkelanjutan.

“Membangun bisnis yang berkelanjutan membutuhkan komitmen pimpinan yang berjiwa kharismatik. Tak hanya berorientasi pendek menengah, tapi juga berorientasi panjang, karena perlu ada biaya yang harus dikeluarkan dalam membangun reputasi perusahaan sebagai investasi dalam membangun masa depan perusahaan, seperti pembangunan sumber daya manusia yang unggul sebagai asset perusahaan yang sulit ditiru pesaing,” jelasnya lagi.

Era Revolusi Industri 4.0

 

Di era ini setiap personal dituntut memiliki disiplin, punya atitude bagus dan memiliki pengetahuan. Masa di mana bermunculan banyak sekali inovasi-inovasi yang tak terlihat, tak disadari oleh organisasi mapan sehingga mengganggu jalannya aktivitas tatanan sistem lama, bahkan menghancurkan sistem lama tersebut.

Mombang melihat lain dan menekankan, untuk bisa eksis di era disruptif ini, seseorang mesti meninggalkan zona nyaman; dan harus kembali lincah dan gesit berkejaran dengan waktu. Selain itu fokus dan konstan pada tujuan agar persisten. Menurutnya, itulah yang membentuk mental seseorang menjadi smart.

“Di era Revolusi Industri 4.0 ini kita bertransformasi untuk memperbaiki diri. Jangan sibuk mengkritik orang lain lupa memperbaiki diri. Sebab orang yang tak menguasai teknologi dan mampu berselancar di era ini akan tertinggal.” Dia mencontohkan, budaya yang dibangun korporasi di Jepang, mereka maju dan sukses karena mereka memahami keadaan, mereka disipilin untuk terus berinovasi.

“Kita mesti mampu menghadapi tantangan pada zamannya di era Revolusi Industri 4.0 dan tak bisa menghindari tuntutan yang memaksa untuk lebih kreatif, inovatif, serta selalu melakukan pengembangan kompetensi yang dimiliki, disesuaikan dengan kebutuhan zaman. Sebab di era Revolusi Industri 4.0 memunculkan tantangan baru, di antaranya, adanya perubahan perilaku pada generasi dalam konteks pembelajaran, hal itu diakibatkan oleh potensi distrupsi yang cukup tinggi pada setiap individu, kondisi dimana seseorang menjadi sulit memahami isu, sampai tak terverifikasi. Oleh karenanya, di era Revolusi Industri 4.0, setiap kita dituntut adaptif perubahan.”

Menurutnya, orang-orang yang sukses ke depan adalah orang-orang bukan saja menguasai teknologi, tetapi menguasai data, sebagaimana pernah dikatakan Jack Ma, perlu menguasai data berbasis pada mutu dan pasar. Maka tepatlah premis yang menyebut, siapa yang tak mampu beradaptasi dengan zaman akan tersingkir. Sebaliknya yang mampu beradaptasi, berselancar di atasnya yang survival.

Bagi Mombang mesti ada strategi dalam memacu pertumbuhan. Bahwa jelas, krisis ekonomi membuat semua langkah pendekatan tersebut terhenti untuk sementara waktu, tetapi orang yang selalu adaptif terhadap perubahan akan senantiasa optimistis akan perubahan, bahkan akan memacu daya juangnya dalam setiap perubahan. Masalahnya, adalah kegagalan untuk beradaptasi.

Karenanya, dia menghimbau, satu lagi pelajaran penting yang bisa kita petik dari runtuhnya kerajaan bisnis seperti Yahoo! Misalnya, adalah: jangan terlena dengan kesuksesan yang telah diraih. Masalahnya, bagi perusahaan-perusahaan yang sudah terlanjur besar, virus yang menggerogoti penyakit lembam seperti ini bukan merupakan sesuatu yang langka. Krisis ekonomi membuat semua langkah pendekatan tersebut terhenti untuk sementara waktu, tetapi orang yang selalu adaptif terhadap perubahan akan senantiasa optimistis akan perubahan, bahkan akan memacu daya juang dalam setiap perubahan, dan untuk bisa sinambung (sustainable) dalam jangka panjang.

Di era pembangunan ekonomi kreatif seperti ini, menurutnya, generasi muda dengan pemanfaatan teknologi digital seperti e-marketing dan e-commerce untuk melahirkan pengusaha ekonomi kreatif generasi muda. Nyatanya memang banyak perusahaan besar kolap oleh karena tak siap dan tak mampu mempersiapkan diri, yang menaik justru usaha-usaha yang dirintis generasi muda berbasis teknologi informasi. Padahal, prediksi datangnya era digital ini bukan tiba-tiba muncul.

Mombang juga aktif menulis gagasan dan pemikirannya. Termasuk tulisannya mengamati fenomena yang terjadi di masyarakat. Disinilah, menurutnya faktor kepemimpinan yang kuat dan visioner itu perlu ada. Dia mencontohkan misalnya, dalam tulisannya di kompasiana.com menyebut, perusahaan Fujifilm asal Jepang itu bisa konstan berjalan, berhasil menyelamatkan diri dari distrupsi dengan mentransformasi Fujifilm lewat inisiatif-inisiatif inovasi serta diversifikasinya, dari perusahaan fotografi menjadi korporasi sains yang multi-industri.

Peduli tanah Batak

Pria kelahiran Kota Dolok Sanggul, 6 Oktober 1966 ini beruntung ditopang keluarga. Sebagai sosok yang mobilitasnya tinggi, peran istrinya Linda Boru Marpaung, sokongan semangat dari ketiga anaknya;  Naudita Olivia Sihite, Darrell Matthews Hatoguan Sihite dan Nathania Isabella Ulibasa Sihite yang membuatnya terus antusias bergerak untuk memberi setitik arti di kehidupan. Di masa hidupnya, ingin mengabdi untuk kemaslahatan, terutama demi kemajuan kampung halamannya di tanah Batak.

Tentu, dia juga mengotokritik penerapan acara adat yang terlalu berlebih, mewah dan boros. “Banyak acara adat terlalu lama dan melelahkan, oleh karena banyak tambahan di luar esensi adat. Selain itu, bersifat eksklusif, kurang membuka pintu bagi anggota di luar suku Batak. Luncunya, apa yang diterapkan tak mudah dipahami dan diwariskan kepada generasi muda.”

Karenanya, dia memberi kritikal terhadap acara adat, agar perlu penjelasan konkrit titik-titik yang disorot sehingga generasi muda paham, bukan gagal paham terhadap kritik ini. Baginya, adat adalah identitas yang harus dijaga, tetapi harus bersifat komparatif, sehingga keunikannya mempunyai nilai kebanggaan. Sebab tuntutan globalisasi tak mungkin dinafikan. Maka perlu efektifitas dan efisiensi dan setiap ada peluang perbaikan untuk mengarah efisiensi, maka akan dilakukan perbaikan secara berkelanjutan. Tentu, ada sebagai identitas tak kehilangan maknanya, karena tuntutan efisiensi dan efektifitas.

Atas perhatiannya untuk kampung halaman, dia pun sudi memberi diri bagi tanah Batak. Atas dasar ingin pengabdian lebih luas, dia mencalonkan diri, maju menjadi Calon Legislatif di DPR RI dari daerah pemilihan Suamatera Utara II. “Saya tak mencari jabatan atau pekerjaan. Murni pengabdian untuk kemajuan masyarakat di kawasan Danau Toba.”

Tak membuat janji-janji palsu untuk kampanye. Murni mengajak masyarakat untuk tercerahkan. Menurutnya, orang sudah bosan dengan tataran teori, visi-misi, yang dibutuhkan sekarang bagaimana mengaplikasikan dalam tindakan, dari gagasan dan pikiran. “Rakyat sudah bosan dengan visi-misi. Sudah bosan dengan janji-janji kampanye, sudah tak waktunya kasih-kasih sembako, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana mensubsidi pendidikan. Bahwa ke depan semangat pendidikan kita harus berubah.”

Dia melihat sekarang tak banyak lagi cendikia orang Batak dibanding etnis lain di Indonesia, padahal dulu orang Batak dikenal dengan taraf pendidikan yang mumpuni. Namun yang terjadi sekarang terlihat justru ketidakmampuan orang Batak mempertahankan kualitas pendidikan di masa lalu itu, malah cenderung melemah.

Karenanya, dia bergairah untuk menenguhkan kembali spirit, daya juang Batak untuk terus-menerus dapat ditumbuhkembangkan. “Sejujurnya, sejak dulu mental Batak dulu adalah pejuang. Orang Batak perantau daya juangnya tinggi. Siang kerja, malam bekerja. Hanya sekarang semangat juang mereka makin tergerus,” ujarnya prihatin.

Oleh karenanya, dia mengajak ada transformasi, sebagaimana slogan pemerintah Presiden Joko Widodo, revolusi mental. Maka baginya perlu juga ada semacam revolusi mental bagi orang Batak. Dia mengkritisi juga, filosofi Batak yang selama ini cenderung mengutamakan kekayaan. “Seolah-olah orang kaya itulah yang utama. Tetapi gereja juga berperan atas hal ini, hanya mengapresiasi orang yang kaya materi.”

Lalu, bagaimana memperbaiki itu? Menurutnya, yang pertama adalah mentrasformasi keluarga. “Keluarga harus ditransformasikan. Ketika keluarga tak bisa menjadi pondasi kita berpijak, membangun mental, maka susahlah untuk membangun sikap karakter tadi. Seseorang anak bisa teguh dalam daya juang tentu karena meniru keluarga. Ketika keluarga anggota keluarganya, saling menopang, sinergi terjadi.”

Hal senada dia lakukan sebagai kepala keluarga, Mombang konsisten dengan ungkapannya itu, walau harus memimpin perusahaan besar, dan di tengah-tengah kesibukan itu, masih juga memberi perhatian tugas di gereja, mengajar di beberapa kampus dan memberi perhatian ke beberapa organisasi yang juga memintanya membantu. Tetapi komunikasi dengan keluarga harus terus dibangun. Menurutnya yang penting kualitas komunikasinya, bukan kuantitas waktu berjumpa.

Lagi-lagi, ke depan, dia rindu kapasitas dan kapabilitas masyarakat Batak, terutama generasi muda makin maju pendidikan akademik dan karakternya. Karenanya, sebelum sampai ke tataran itu, dia mendorong adanya pendidikan budi pekerti, terutama karakter sejak usia dini dalam pendidikan dasar dan lanjutan itu dalam rumah, dalam keluarga.

“Intinya keluarga dan komunikasi terbangun dengan baik, agar saling memahami. Saya terapkan itu dalam rumah. Tatkala di rumah misalnya, saya ingatkan anak-anak, bahwa tugas mereka sekolah. Maka belajar itu yang nomor satu. Sementara jika kuantitas waktu dalam berjumpa dengan anggota keluarga memang sulit, saya menjelaskan dengan komunikasi. Yang penting sebenarnya kualitas berjumpa bersama dengan anggota keluarga; komunikasi suami istri bersama anak-anak dimaksimalkan. Semuanya harus terlayani dengan baik. Karena waktu yang lain harus dibagi,” ujar calon penatua di HKBP Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, ini.

Potensi Danau Toba

Sebagai putra Batak, kelahiran Dolok Sanggul, Kabupaten Humbang Hasundutan, Mombang melihat lain potensi pariwisata di lingkungan Danau Toba yang dikelilingi tujuh kabupaten, yang sekarang masuk zona Otorita Danau Toba. Baginya, keindahan alam Danau Toba tak kalah menariknya dibanding daerah lain di tanah air.

Masalahnya, selama ini jarang wisatawan melihat pemandangan Danau Toba oleh kurangnya pelayanan yang baik. Oleh karenanya, menurutnya, keindahan alam Danau Toba juga mesti ditransformasi menjadi salah satu destinasi unggul pariwisata di Sumatera Utara, khususnya di tanah Batak, dengan terlebih dahulu mentransformasikan mindset ramah untuk wisatawan.

Baginya, hal ini tentu bukan hanya impian tetapi harus diwujudkan. Benar-benar menjadi tujuan wisata unggulan di Indonesia. Betapa tidak, Danau Toba memiliki resources, sumber daya yang sarat dengan keunggulan komparatif yang tak dimiliki daerah lain. Selain itu, menurutnya, keindahan alam Danau Toba juga memiliki wisata situs-situs sejarah yang ada di hampir semua Kabupaten di kawasan Danau Toba; seperti sejarah berupa Istana Raja Sisingamagaraja di Bakkara, atau makam I.L Nommesen di Sigumpar, dan di wilayah seperti Samosir.

Maka keunggulan komparatif seperti ini mesti dikelola dengan baik sehingga ke depan kawasan Danau Toba sebagai tujuan wisata bisa memberi benefit bagi pemerintah daerah khususnya di kawasan ini. Hal itu bisa terjadi jika masyarakat juga bertransformasi menjadi masyarakat yang singap dan adaptif, ramah, tetapi identitas otentiknya tetap terpampang. Mombang memprediksi, ke depan pariwisata Danau Toba tumbuh menjadi tujuan wisata, bukan saja di Indonesia, tetapi di mancanegara. Karenanya, dia menghimbau, melihat terusnya pertumbuhan dan perkembangan menuju hal itu, masyarakat Batak juga harus siap secara mental, karena itu mesti menyiapkan diri.

“Saya berkerinduan ke depan kiranya tercipta  di era generasi mendatang, ada putra-putri Batak khususnya dari Tapanuli Raya bersaing di kancah Internasional, hal ini adalah kebanggan kita nantinya dan itu termasuk kerinduan pendahulu kita dan kita harus dorong itu untuk maju,” jelasnya, sembari menambahkan, kerinduannya dalam mengembangkan Danau Toba, dan mendirikan Universitas atau Politeknik di wilayah Tapanuli Raya.

“Saya terlahir dan berhasil dari dunia pendidikan, dan saat ini saya masih aktif di salah satu perguruan tinggi luar negeri. Pendidikan itu sangat penting, dan itu semua sudah kita tuangkan dalam rencana kita ke depan bagaimana caranya nanti ketika kita terpilih harus ada politeknik di wilayah kita, biar jangkauan pendidikan itu dekat dengan daerah kita, dan itu nanti termasuk dalam program kita, selain pengembangan pariwisata Danau Toba,” tandasnya.

Dosen Pascasarjana FEB Universitas Pancasila dan Universitas Mpu Tantular ini, juga menekankan pembangunan sarana infrastuktur menjadi kunci penting di dalam membuka isolasi daerah yang berpeluang menjadi destinasi pariwisata dunia ke depan. Selain itu, dia menyarankan, Pemerintah Daerah (Pemda) mesti juga adaptif terhadap perkembangan yang ada.

Bahkan, menurutnya, perlu membentuk team khusus untuk melakukan berbagai kajian-kajian seperti percepatan pembangunan destinasi pariwisata, termasuk mengundang investor untuk membangun fasilitas pendukung pariwisata. Oleh karena itu, perlu peningkatan pembangunan ekonomi masyarakat, dengan menggali potensi industri yang dapat menunjang pariwisata, dan memberikan fasilitas kemudahan dalam berinvestasi, melindungi masyarakat dari dominasi investor asing.

Menjadi inspirasi

Sebagaimana di atas sudah dikisahkan, menceritakan kisah  kehidupanya, sejak kecil sudah didik orangtua menjadi anak yang mandiri dan berbagai untuk sesama. “Masa kecil saya, saya sudah berdagang. Sejak kecil sudah kehilangan masa kecil. Semasa SD setiap pulang sekolah saya sudah dipercaya untuk menjaga toko. SMP saya sudah terbiasa disuruh untuk membuat cek mundur, yang tanda tangan kakak saya, karena sudah memiliki rekening di bank,” kisahnya.

Selain akar kedisiplinan ditanamkan dari keluarga, dia banyak belajar dengan budaya Jepang melatih dan menerapkan disiplin sejak masa kanak-kanak. Beruntung dia dididik dengan disiplin dari orangtua yang berjiwa wirausahawan mandiri. “Sebelum berangkat sekolah sudah harus buka toko, dan paling cepat tidur pukul sembilan malam. Itu masih kanak-kakak. Artinya, disiplin itu sudah ditanamkan oleh orangtua sejak kecil. Ketika waktu belajar pun tak ada waktu khusus, tetapi belajar sambil jaga toko. Demikian juga tatkala makan, tak ada waktu khusus, sambil makan jaga toko,” tambahnya lagi. Inilah yang membentuk karakternya. Sedari kecil sudah terlatih, maka ketika merantau pun karakter disiplin itu ditanamkan dalam sanubarinya.

Baginya, kesuksesan sesungguhnya tatkala hidupnya bermanfaat untuk orang lain. Itu sebabnya dalam kamus hidupnya, selagi hidup mengusahakan yang terbaik bagi sesama, paling tidak bisa menjadi pemberi semangat, dan menginspirasi generasi muda untuk jangan sekptis terhadap keadaan. Dia menyakini, bahwa Tuhan memberi kita masing-masing potensi, masalahnya bagaimana memunculkan potensi yang dimiliki itu untuk mampu memberi pembaharuan. Akhirnya, kerinduannya ke depan, generasi muda bangsa ini makin terus melaju, bisa berkontribusi dan berkompetisi di era ini. Tak hanya sekedar penikmat, menikmati kemajuan,  tetapi mampu memacu diri dan punya daya juang di era yang distrutif ini. (Hojot Marluga)

 

Biodata:

Nama Lengkap: Dr. Ir. Mombang Sihite, MM

Tempat/Tanggal Lahir Dolok Sanggul, Humbahas 06 Oktober 1966

Nama Bapak

Waldemar Juragan Sihite (+)

Nama Ibu

Kandung Nursia Manalu (+)

Nama Istri:

Herlina Lindawati Marpaung

Anak

  1. Naudita Olivia Sihite
  2. Darrell Matthews Hatoguan Sihite
  3. Nathania Isabella Ulibasa Sihite

Pendikan:

D3 Politeknik Universitas Indonesia Teknik Elektro, tahun 1986-1989

S1 Universitas Jayabaya Fakultas Teknik Elektro, tahun 2002-2004

S2 Universitas Pancasila Marketing Manajemen, tahun 2006 – 2009

S3 Universitas Padjadjaran Manajemen Stratejik, tahun 2014- 2017

 

Pengalaman Pekerjaan:

Tahun 2012 – Sekarang President Director PT. Azbil Berca Indonesia

Tahun 2009-2011 Director PT Azbil Berca Indonesia

Tahun 2003-2008 General Manager PT. Yamatake Berca Indonesia

Tahun 2001-2002 Senior Manager PT Yamatake Berca Indonesia

Tahun 1998-2000 Engineering Manager PT Yamatake Berca Indonesia

Tahun 1996-1997 Project Coordinator PT Yamatake Berca Indonesia

Tahun 1993-1998 Project Manager PT Berca Indonesia

Tahun 1990-1993 Project Engineer PT Berca Indonesia

Karya Ilmiah yang telah diterbitkan:

No Judul Tahun Penerbit
1 The Competitive Strategy in Green Building for Indonesia Stakeholder’s 2015 International Journal of Innovation and Technology – IJIMT
2 Business Performance Sustainability :A case of Industry of Building Automation Industry in Indonesia 2016 International Journal of Economics, Commerce and Management-United Kingdom
3 Gain Competitive through Reputation 2016 South East Asia Journal of Contemporary Business, Economics and Law
4 Corporate Sustainability Performance on Service Industry: A study of factors that Encourages Competitive Advantage for Industry Performance 2017 Sedang proses ke Scopus oleh Medwell Journal Scientific research publishing company
5 Competitive Advantage: Mediator of Diversification and Performance 2017 Sedang proses ke Scopus

Oleh 2nd Annual Applied Science and Engineering Conference – AASEC

6 Company’s Innovation and Cooperative Advantage as Sustainability Economic Support 2017 Sedang proses ke Scopus

Oleh the 1st International Conference on Research of Educational Administration and Management – ICREAM

 

 

Pdt. Banner Siburian, M.Th


Pdt. Banner Siburian, M.Th, Praeses HKBP Distrik XIX Bekasi

“Jalan Panjang Praeses Bekasi, 17 Tahun Menjadi Pendeta Pembantu”

JalanKu bukan jalanmu, rancanganmu bukan rancanganku demikian firman Tuhan, terasa pekat di jalan hidup Pdt Banner Siburian MTh. Pria kelahiran  Paranginan, 21 November 1966 ini, lahir di Desa Lumban Barat, Kecamatan Paranginan, Kabupaten Humbang Hasundutan (Paranginan sendiri kawasan di atas Danau Toba, dekat dengan Bandara Udara Silangit sekarang).

Awalnya, memang dirinya tak bercita-cita menjadi pendeta, tetapi tangan Tuhan membawanya menjadi hambaNya. Di masa kecilnya bersekolah minggu di HKBP Lumban Barat, Resort Paranginan, banyak membekali pemahaman antara mitologi budaya dan ajaran Kristen. Ada semacam dualisme. Sebelumnya, dia banyak mendapat cerita menjelang tidur tentang mistis dari neneknya yang belum melek tentang ajaran Kristen. Neneknya, selalu mengisahkan tentang sumangot (roh orang yang meninggal).

Kisah yang diceritakan neneknya sudah tentu saling berbenturan dengan yang diterimanya di sekolah minggu. Di umur sebelia itu, dia, sudah berpikir antara dualisme; pemahaman yang belum dicerahkan oleh Injil dengan spirit Injil. Namun dia beruntung, ajaran yang didapatnya di Sekolah Minggu, misalnya kisah tentang Sodom dan Gomora adalah kisah yang sangat luarbiasa memberi pesan agar jangan lagi melihat masa lalu. “Kisah itu mengajari saya, mengarahkan saya agar selalu memandang ke depan, tidak mengingat-ingat masa lalu,” ujarnya.

Sekolah Dasar dan SMP dilaluinya di Paranginan. Di SMP semangat melayani sudah makin dalam di hatinya. Lalu, di SMA dia pun aktif menjadi aktivis pemuda gereja. Namun ketika SMA dia harus pindah sekolah ke Kecamatan Siborongborong, bersekolah di SMA Negeri Siborongborong, karena di Paranginan waktu itu belum ada SMA, dia terpaksa harus indekos di Siborongborong. Sebenarnya anak dari Paranginan jarang sekolah ke Siborongborong, umumnya melanjutkan SMA ke Kecamatan Lintong Nihuta, kecamatan yang lebih dekat dengan kampungnya.

Jarak antara Paranginan ke Siborongborong lumayan jauh. Maka jadilah dirinya anak kos, tentu itu malah melatih mentalnya bertanggung jawab pada kehidupannya sendiri, termasuk harus memasak sendiri. Dia dilatih mandiri. Lagi-lagi, pengalaman indekos itu melatih kemandiriannya, dan mengajarkan sikap mandiri padanya.

Tentu, sikap kemandirian tidak bisa dibentuk instan, membutuhkan proses untuk mengasuh kesabaran, sikap dan tingkah laku. Hanya sekali dalam seminggu kembali ke kampung halaman di Paranginan. Di Siborongborong dia dekat dengan seorang guru yang sekaligus pendeta di GKPI Siborongborong, S Situmorang.

Oleh kedekatan itu, dia diajar, dan hal membawa banyak implikasi bagi pemahamannya yang makin luas. Bahkan, dirinya dipercaya menjadi ketua naposo dan pemandu lagu di GKPI Siborongborong. “Saya dipercayakan membantu tugas pendeta. Oleh hubungan kedekatan ini setidak-tidaknya membantu membetuk karakter dan mental saya untuk makin berani dalam pelayanan,” kenangnya.

Dari kisah hidup keluarga pendeta Situmorang tersebut, dia banyak mendapat bekal pemahaman rohani, terbiasa melihat dan mengamati ritme hidup keluarga pendeta. Bagimana bersaat teduh dengan anak-anaknya, bagaimana melayani dan memimpin jemaat setidak-tidaknya memberi semangat untuk dirinya untuk juga meniru karakter gurunya. Dia merasakan kehidupan rohani (spiritual life); memiliki gairah rohani. Kehidupan doa, iman, dan ibadah.

“Saya kira pembentukan jiwa seseorang dimulai dari rumah,” tambahnya lagi. Di SMA dia merasakan suasana yang bahagia oleh pertumbuhan rohani. Walau waktu itu, belum ada cita-citanya menjadi pendeta, malah yang terbetik ingin jadi dokter.

“Sebenarnya cita-cita saya ingin menjadi dokter, tentu oleh karena kisah orangtua. Bahwa seorang dokter jika sekali menghormati pasiennya bisa membiayai hidupnya minimal satu bulan,” kisahnya. Oleh karena itu, ketika lulus SMA dia langsung mendaftarkan diri ke Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

Hidup memang harus terus mengalir. Seleksi penerimaanya menyebut dia tak diterima menjadi mahasiswa kedokteran, tetapi tak membuat dirinya patah arang, dia menganti dengan mengikuti berbagai kursus bahasa Inggris dan kursus mengetik sepuluh jari. “Saya mengikuti kursus mengetik sepuluh jari, sebab dulu belum ada computer. Sebenarnya, maksudnya kalau-kalau tahun berikutnya bisa lagi test ke perguruan tinggi negeri,” tambahnya.

Di sela-sela mengikuti berbagai kursus itu, dirinya aktif di gereja HKBP Seagun Medan, Medan Barat, jauhnya hanya sepelemparan batu dari kampus. Keaktifan di gereja diteguhkan sering mengikuti kebaktian. Satu khotbah tentang; banyak yang terpanggil tetapi sedikit yang terpilih. Khotbah yang disampaikan pendeta W Silitonga, pendeta tersebut pendeta pensiunan tentara yang sangat banyak menulis lagu.

Tentu, yang membuatnya tersentuh adalah tentang penjabaran khotbah, makna menjadi pelayan. Pengkhotbah itu apik menjelaskan, begitu luas lahan tetapi hanya sedikit pekerjaan, maka masih dibutuhkan banyak pekerja yang memberi diri. “Yang membuat saya tersentuh, pendeta itu mengatakan, HKBP gerejanya sangat banyak, tetapi pendetanya sangat sedikit. Saat mengakhiri khotbahnya pendeta menantang jemaat, siapakah yang rela memberi diri untuk menambah yang sedikit ini?”

Khotbah itulah yang terus terngiang-ngiang di telinganya. Dia tersentuh, mendorong hatinya jadi pendeta, mengambil keputusan dan membulatkan tekad untuk sekolah pendeta, dan mendaftar di sekolah teologia Nommensen, Pematang Siantar. Ternyata, pendeta W Silitonga juga dosen musik gereja di STT Nommensen.

Tahun 1986 dia masuk kuliah dan lulus tahun 1991. Ditahbiskan ephorus waktu itu Pdt Dr. SAE Nababan setelah dua tahun lebih menjadi vikaris, semacam praktik lapangan sebelum ditahbiskan menjadi pendeta. Waktu itu, SAE Nababan sebagai ephorus HKBP membuat kebijakan bahwa setiap mahasiswa yang lulus dari STT Nommensen tidak boleh langsung diterima menjadi pendeta HKBP, harus diberi jeda panjang vikaris. Itu sebab, dirinya setelah lulus mesti mengikuti vikaris di HKBP Pamela di PTP IV di wilayah Lubuk Pakam lebih lama.

Setelah ditahbiskan menjadi pendeta untuk sesaat lagi menjadi pendeta di HKBP Pamela, dan kemudian dipindahkan ke HKBP Palembang menjadi pendeta mahasiswa. Saat itu, HKBP Palembang menyiapkan satu rumah diperuntukkan untuk tempat membina para mahasiswa yang kebetulan sekolah di Palembang dari wilayah lain. “Mereka tinggal bersama saya di rumah. Jadi, sudah semacam anak asuh saya, mereka misalnya tidak ada ongkos, belum datang kiriman orangtua dan macam-macam kesulitan yang dihadapi mahasiswa.”

Dia menjadi bapak pengasuh bagi mahasiswa, khususnya yang sekolah di Indrajaya dan di Universitas Sriwijaya, bahkan di Indralaya dibuat pos khusus pelayanan untuk mahasiswa. Beragam aktivitas mahasiswa digelar di sana, termasuk diskusi-diskusi internal tentang kehidupan yang dibuat di pos ini.

Dalam suasana pelayanan seperti itulah dirinya bertemu dengan perempuan tambatan hatinya, Damaris boru Siagian, yang kemudian hari menjadi istrinya. Perempuan tersebut adalah putri dari sintuanya di HKBP Kartini, Tebing Tinggi. Sebenarnya, kedua sudah pernah berjumpa, saat itu sudah ada bibit-bibit cinta, tetapi belum berani dia ungkapkan.

Si gadis waktu itu sudah guru di Sumatera Utara, hanya saja mau menjumpainya di Palembang, berhubung kakak si gadis ada di Palembang. Perjumpaan itu yang meneguhkan hati keduanya meneguhkan cinta yang dalam, komitmen mendirikan mahligai rumah tangga. Di Palembang keputusan menikah dibuat, namun pemberkatan nikah dilangsungkan di HKBP Kartini, Tebing Tinggi.  Selesai pernikahan kembali melanjutkan pelayanan di HKBP Palembang. Setahun kemudian, anak sulung diberi nama Karen Hotasi Siburian lahir.

Tak berapa lama lagi melayani di HKBP Palembang, Banner kemudian ditugaskan ke HKBP Maranatha Rawalumbu, Kota Bekasi. Saat itu, gereja ini belum menjadi resort, masih pagaran dari HKBP Rawamangun. HKBP Rawalumbu sendiri masih dalam pergumulan untuk membangun gedung yang saat itu masih berlantai tanah.

Di Rawalumbu ada banyak kisah suka duka, banyak dinamika terjadi, termasuk ada segelintir tetangga tidak setuju pembanguan gedung ibadah. Bahkan, ada satu kisah yang luar biasa, sebelumnya gereja yang sekarang, sempat dirubuhkan tetapi altar dan salibnya tak roboh.

Salah satu tugas yang dilakukannya di HKBP Rawalumbu adalah penataan administrasi jemaat. Namun, di cela-cela kesibukan pelayanan, dia juga melatih kembali menimba ilmu teologia dan mendaftar menjadi mahasiswa S2 di program magister teologia di STT Jakarta dibawah bimbingan dosen Dr Daniel Susanto.

Dalam suasana yang demikian, sebagai seorang kelapa keluarga, juga pemimpin jemaat sembari juga membagi waktu untuk kuliah untuk membekali diri. Bahkan, di tengah-tengah kesibukan yang ada dia juga tetap menambah ilmu dia, masih juga menyempatkan diri untuk menulis. Selain menulis renungan di kertas warta gereja, dia juga aktif menulis buku.

Sebenarnya, soal menulis dirinya sudah lama membebat diri menulis, bahkan berkali-kali muncul artikelnya di kolom opini koran SIB, majalah internal HKBP Immanuel dan Suara HKBP. Termasuk goresan tangannya kerap muncul di buku-buku kumpulan renungan HKBP terbitan Pematang Siantar.

Dia memahami sekali, bahwa kadang kalah khotbah bisa tertolong oleh karena sampiran dari tulisan renungan yang ada di warta. Artinya, jemaat bisa makin dilengkapi dari khotbah oleh tulisan-tulisan itu. Selain itu, menulis baginya, menolong untuk makin memperlengkapi dan lebih dalam menjelaskan firman Tuhan kepada jemaat. Selain itu, menulis baginya mengasuh cara berpikir yang struktur.

“Saya pahami bahwa menulis adalah memudahkan yang sulit menjadi mudah dipahami. Jadi, penulis yang hebat adalah jika mampu menyederhanakan yang sulit menjadi mudah dipahami. Intinya, bagaimana menyenderhanakan pokok-pokok yang berat menjadi mudah dipahami. Baginya, tugas penulis jaman ini, bahwa yang sulit dipahami jadi dibuat mudah dipahami.

Ketika melayani di HKBP Maranatha Rawalumbu Tuhan tambahkan anugerahNya, lahir anak kedua, ketiga dan si bungsu. Masing-masing anak pertama, Karen Hotasi Siburian, anak kedua, Carlos Tua Siburian, anak ketiga Kaisar Siburian dan anak ketiga Ebenezer Siburian. “Kami beri nama Ebenezer ini, karena dulu kami kira sudah hanya tiga anak saja, tetapi Tuhan tambahkan satu anak lagi.”

Memang, dia menikah sudah tergolong di umur matang, dan bersyukur diberikan Tuhan istri pendampin yang kokoh menopang tugas pelayanannya. “Saya menikah di umur 35 tahun, sementara istri sudah berumur 30 tahun. Inang sendiri sebagai seorang mantan guru memiliki kemampuan yang mendidik anak. Jadi, saya kira bahwa cara mendidik sudah pasti lebih baik dalam mendidik anak-anak,” jelasnya. Di kemudian hari istri berhenti mengajar di sekolah dan fokus mendidik anaknya.

Sebenarnya, waktu menikah, dia dan istri sepakat untuk juga tetap melayani sebagai guru, tetapi berhubung kondisi yang demikian tidak memungkinkan, mengajar sembari menjadi ibu rumah tangga, maka dirinya mempersilahkan agar istrinya untuk hanya mendidik anaknya. “Saya katakan pada istri waktu itu mendidik satu anak juga tidak kurang nilainya menjadi pendidik di sekolah dengan ratusan anak,” jelasnya.

“Kami sepakat inang kemudian berhenti untuk mengajar di lembaga pendidikan tetapi fokus mendidik anak-anak di rumah. Bahwa, mendidik anak di rumah tidak lebih rendah mendidik anak di sekolah…”

 

Dinamika melayani

Memilih jadi pelayan sudah tentu ada konsekwensi logis. Dia sendiri 17 tahun ditugaskan sebagai pendeta pembantu. Disebut tadi melayani banyak dinamikanya, banyak kisah suka dan duka dirasakannya, termasuk ketika itu, ketika pendeta resort HKBP Maranatha Rawalumbu Pendeta Hutagalung hendak emeritus, dirinya sudah mendapat promosi dari pusat untuk diposisikan menjadi pengganti sebagai pendeta resort.

Tetapi, entah apa yang terjadi penahbisannya sebagai pendeta resort tidak jadi, malah kembali ditugaskan menjadi pendeta pemuda di HKBP Rawamangun, induk sebelumnya dari HKBP Rawalumbu sebelum manjae.

Tentu, sebagai manusia dia agak kecewa, namun dia memahami yang terjadi, perubahan itu bisa terjadi karena dia tidak punya kedekatan dengan pimpinan pusat. Walau ephorus pun sebelumnya secara tersirat sudah menyampaikan agar mempersiapkan diri untuk memimpin jemaat HKBP Rawalumbu. Tetapi nyatanya tidak jadi. Dia kecewa? Dia tetap menerima apa adanya penugasan yang diberi pucuk pimpinan tersebut.

Membangun Syinantam

Pindah ke HKBP Rawamangun sebagai pendeta pembantu, tenyata dirinya disambut baik di sana. Bukan seperti informasi yang sering dia dengar, bahwa jemaat Rawamangun kritis pada pendeta yang baru. Ternyata, yang dirasakannya berkebalikan, malah dia diterima dengan baik. Sayang, di Rawamangun pun dia hanya sebentar, tidak sampai empat tahun, persisnya tiga tahun tujuh bulan. Padahal, di sana dia lagi getolnya membantu para pemuda dan komisi pendidikan untuk membangun Sekolah Minggu Syinnantam.

Belakangan, kata Syinnantam sendiri dipakai menjadi nama media informasi dan berita pelayanan HKBP Distrik XIX Bekasi.  Nama Syinnantam diambil dari Ulangan 6: 7, perintah Allah kepada umatNya. Kata Ibrani lebih bermakna sifat pengajaran yang terus-menerus, berulang-ulang sampai taraf.

Lagi-lagi disinilah kembali pergolakan batinnya “terpaksa” pindah. Hanya sebentar, tidak berapa lama melayani di HKBP Rawamangun, kemudian dia harus dipindahkan ke HKBP Dumai. Disanalah juga ada pergulatan batin, mengapa? Oleh karena sudah menjelang akhir tahun, sementara pendeta yang harus diganti pun belum pindah. “Waktu itu sudah menjelang akhir tahun, tepatnya tanggal 27 Desember. Pohon Natal waktu itu sudah dipajang. Saya tak bisa menjelaskan kepada anak-anak mengapa harus pohon Natal dicopot,” kenangnya.

Sebenarnya, dia meminta kepada praeses waktu itu, agar sudi memberi penugasan dipindahkan setelah akhir tahun. Namun, apa daya, tetap saja surat pindah tetap dikeluarkan. Menyingkapi hal itu, dia tak mau menjadi kegaduhan kedatangannya di HKBP Dumai atas penerimaan penugasan yang baru. Di tengah kondisi tak ada pelayanan beberapa bulan dia gunakan kesempatan itu untuk berkunjung ke Paranginan membawa istri dan anak-anaknya bersilaturahmi dengan orangtua dan keluarga. Di Jambi akhirnya pendeta resort setelah belasan tahun menjadi pendeta pembantu. Tetapi, itulah jalan Tuhan, baru menjadi pendeta resort dirinya dipercayakan menerima jabatan yang lebih taraf, jadi praeses, wakil ephorus satu wilayah.

Jadi praeses

Saat WTP Simarmata menjadi ephorus, dirinya dipercayakan menjadi praeses Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimatan Selatan. Tentu, melayani di Kalimatan, di sana banyak hal yang sangat baru baginya. Tantangannya adalah tempat jarak pelayanan yang sangat jauh, ada tiga provinsi harus dilayaninya dan sebagian wilayah ini masih terisolasi dan harus ditempuh dengan menggunakan kapal kecil dan perahu.

Luarbiasanya, sebagian wilayah pelayanan itu hanya bisa ditempuh menggunakan pesawat kecil yang punya baling-baling. Artinya, setiap saat nyawa bisa terancam. “Rata-rata jemaat disana didominasi oleh pekerja-pekerja tambang. Rata-rata pekerja buruh menengah, dan hanya dua orang pejabat eselon 3 dan 4 selebihnya rata-rata pekerja.”

Selain itu, di kepemimpinannya sebagai praeses semua jemaat terlayani, sebab para jemaat berkerja di tambang dan di perkebunan. Salah satu kebijakan kepemimpinannya bahwa setiap resort harus membuat satu pos pelayanan, gunanya untuk apa? Gunanya agar setiap pelayanan bisa menjangkau warga jemaat HKBP yang berkerja di pedalaman, di perkebunan dan di pertambangan.

“Jadi, saya bisa memahami jika hari-hari tentu gereja padat. Di Kalimatan khususnya yang ada di pedalaman bahwa jemaat bisa beratus kilo meter untuk bisa sampai ke gereja. Bisa dimaklumi mereka jarang ke gereja karena jarak yang sangat jauh, hanya datang jika pada hari-hari tertentu. Karenanya, dibuat ada pos pelayanan untuk menjangkau pelayanan mereka,” ujarnya lagi.

Pertama gerakan yang dibuatnya, satu resort satu pos untuk menjangkau warga jemaat pedalaman. Lalu, gerakan kedua adalah membuat pendeta zending. Karena itu, sebagai praese dia buat distrik menyediakan sepeda motor untuk pelayanan yang bisa menjangkau jarak jauh. Dan, semua pos yang ada sudah memiliki sepeda motor inventasi dari distrik untuk dipakai pos pelayanan setempat.

Selain itu, dibuat juga gerakan satu orang satu Alkitab. Dampaknya, banyak dari wilayah lain membantu mengirimkan Alkitab, termasuk sepeda motor untuk disumbangkan.

Di Kalimatan dia juga menggagas dibuat distrik center. “Saya memahami bahwa ke depan bahwa pergerakan manusia di negeri ini tidak lagi di Sumatera dan Jawa, tetapi akan ke Kalimantan. Maka HKBP perlu menyikapi dengan menyiapkan prasarana yang ada, oleh karena itu dia bertemu dengan gubernur untuk membicarakan distrik center.

Gagasan dan pemikirannya itu disampaikan kepada Gubernur Kalimantan Timur, Awang Faroek Ishak. Distrik sendiri memiliki dua lahan, masing-masing 3 hektare dan empat hektare, dan gubernur sendiri lewat pemerintahannya menyumbangkan 2 milliar rupiah untuk Distrik Center ini dan dibangun kantor dan aula.

Lagi, di kepemimpinannya di distrik Kaltimsel juga membawa efek besar pada kemajuan pelayanan. Demikian juga saat pengantian ephorus, dia juga masih dipercayakan pareses di Distrik XIX Bekasi. “Sesungguhnya saya selalu siap mental untuk melayani diberi penungasan apa pun. Sebab bagi saya melayani itu harus total dan ihklas. Tohk saya sebelumnya juga selama 17 tahun hanya sebagai pendeta pembantu, jika tetap jadi pendeta jemaat kembali saya sudah siap mental,” ujarnya.

Bersahabat

Dia selalu tekun membangun persahabatan dengan saudara lintas iman, namun baginya persahabatan tidak melupakan objektifitas. Oleh karena itu, dirinya pun siap memberi masukan yang selalu membangun, tentu dengan bahasa-bahasa yang pantas dan patut termasuk kepada pemimpin.

Setelah dipercayakan kembali sebagai praeses di Bekasi, dia merasa bahwa perbedaannya sungguh berbeda dengan praeses di Kalimantan. Sudah tentu perbedaannya ada dinamika, alam dan masyarakatnya berbeda. Di Kalimantan misalnya, amat jarang dihadapi penolakan warga, berbeda di Jawa Barat, khususnya di Bekasi bahwa dinamika itu kentara sekali.

“Saya merasakan bahwa nilai-nilai pluralistas itu lebih terjaga di Kalimantan dibandingkan dengan di Bekasi. Satu contoh misalnya, saya tidak pernah sulit untuk berjumpat dengan RT dan RW, bahkan aparatur yang paling tinggi sekali pun. Tetapi, di Bekasi kesulitan itu terasa sekali, tidak mudah untuk mendekati para aparat di bawahnya.”

Menyadari hal itu, maka dia pikir tidak mungkin diterapkan seperti yang di Kalimatan. Dia pun punya kiatnya, “Pluralitas itu sudah terbangun dengan baik, maka pembangunan gereja akan terbangun dengan sendirinya, hal ini kebutuhan mendasar bahwa hubungan ini harus intens dilakukan.”

“Saya kira memang membangun hubungan yang kokoh itu harus dimulai dari saling membantu, saling empati, membangun silaturahmi yang intens dan terus berusaha untuk kebersamaan. Untuk bisa diterima, kita harus membangun nilai-nilai saling percaya, rasa curiga itu harus disingkirkan, jangan mereka merasa terancam oleh kehadiran kita,” kiatnya lagi.

Artinya, kehadiran gereja tidak menjadi batu sandungan kepada masyarakat setempat, tetapi menjadi berkat. Tentu, tidak ada juga gunanya juga para pendeta pintar berkhotbah, padahal soal implementasi membangun hubungan dengan warga setempat nir sekali. Kuncinya adalah saling membangun kepercayaan. Bahkan, HKBP sendiri menganut moto ini; insklusif dialogis dan terbuka.

Spirit ini tentu bukan hanya slogan. Bukti konkrit yang dikatakannya, misalnya, di tempat tinggalnya di Pulo Gebang, Jakarta Timur, dia ingin menghilangkan pemikiran dari segelintir warga yang menganggap bahwa para pendeta itu tertutup.

Maka, setiap ada rapat RT di wilayahnya itu Banner selalu menyempatkan diri hadir sebagai peserta, barangkali hanya mendengar, tetapi bisa merasakan suasana batin dari pada warga, bahkan, rapat amat sering digelar di aula masjid, dan dia hadir untuk menunjukkan bahwa orang Kristen tidak alergi akan hal itu. Bahkan, dia dipilih menjadi seksi kerohanian di tempat dia berada. “Kita mau tunjukkan kepada saudara kita, sebenarnya bahwa kita juga sangat terbuka,” jelasnya.

Sebagai  Praeses HKBP Distrik XIX Bekasi, dirinya juga selalu menekankan apa yang menjadi kebijakan Pearaja Tarutung. Contohnya untuk tahun ini (tahun 2018) adalah Tahun Kesehatan dan Lingkungan yang menekankan bahwa sehat dan sakit bisa dipakai Tuhan untuk menyapa umatNya. “Tuhan bisa menyapa orang yang sakit tetapi Tuhan juga bisa menyapa orang yang sehat.”

Maka, untuk mensukseskan program HKBP 2018 di  Distrik XIX Bekasi dia mendorong gereja di Bekasi juga untuk aktif menjaga kesehatan dan memelihara lingkungan. Dia berharap agar seluruh lingkungan gereja di HKBP Distrik XIX Bekasi juga menanam pohon. Dia juga menitipkan pesan pada walikota dan bupati yang ada di kotamadya dan kabupaten Bekasi agar juga memberi perhatian pada pengurusan izin gereja HKBP di Bekasi.

“Dari 28 jemaat di HKBP Bekasi baru 11 gereja baru mendapat izin. Artinya ada 17 lagi gereja HKBP di Bekasi yang belum mendapatkan izin. Karena itu, kami berharap pemerintah daerah bupati dan walikota memberi perhatian,” harapnya.

 

 

 

 

Belajar Hidup Lir Air